Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Jurnal

310 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Jurnal

  1. 1. 1 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 PENGARUH MULTIMEDIA TERHADAP AKTIFITAS BELAJAR DAN DAMPAKNYA PADA HASIL BELAJAR KEWIRAUSAHAAN DI SMK UTAMA BAKTI PALEMBANG TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Jurnal Oleh : Dian Julianti Nomor Induk Mahasiswa 2010132164 Program Studi Pendidikan Akuntansi Jurusan Pendidikan IPS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA PALEMBANG 2014
  2. 2. 2 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 ABSTRAK PENGARUH MULTIMEDIA TERHADAP AKTIFITAS BELAJAR DAN DAMPAKNYA PADA HASIL BELAJAR KEWIRAUSAHAAN DI SMK UTAMA BAKTI PALEMBANG TAHUN PELAJARAN 2013/2014 DIAN JULIANTI 2010132164 Masalah penelitian adalah Apakah terdapat pengaruh penggunaan multimedia terhadap aktifitas belajar, dan bagaimana dampaknya terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan di SMK Utama Bakti Palembang Tahun Pelajaran 2013/2014. Tujuan penelitian adalah, untuk mengetahui pengaruh penggunaan multimedia terhadap aktifitas belajar dan dampaknya pada hasil belajar siswa. Variabel penelitian adalah multimedia sebagai variabel bebas (𝑋1), dan aktifitas belajar sebagai variabel terikat (𝑋2) serta hasil belajar sebagai variabel terikat (Y). Populasi dan sampel penelitian 56 siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah hubungan sebab akibat. Teknik pengumpulan data adalah dokumentasi, observasi, dan tes. Hasil uji t tes instrumen untuk hasil belajar ternyata valid dan reliabel. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier sederhana dengan pengujian uji t tes. Hasil penelitian menunjukan “penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran kewirausahaan yang ditunjukan pada kelas eksperimen dengan skor rata – rata keaktifan belajar 79.05, hasil belajar 79,26 lebih baik bila dibandingkan dengan siswa kelas kontrol yang memproleh skor rata – rata keaktifan belajar hanya 63,95 dan skor hasil belajar 70,96. Hasil pengujian penggunaan multimedia terhadap aktifitas belajar di peroleh 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 6,997 ≥ 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 𝛼 0,05/2= 1,167, dengan koefisien regresi 0,70 berarti ada pengaruh penggunaan multimedia dengan aktifitas belajar siswa. Sedangkan pengaruh aktifitas terhadap hasil belajar siswa diperleh 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 9,949 ≥ 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 𝛼 0,05/2 = 1,167” dengan koefisien regresi sebesar 0,809. Kata Kunci : Multimedia, Aktifitas, Hasil Belajar. I. PENDAHULUAN Dalam era perkembangan IPTEK yang begitu pesat, profesionalisme guru tidak cukup hanya dengan kemampuan memberikan siswa materi saja, tetapi harus mampu mengelola informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi kegiatan belajar siswa. Pembelajaran lebih dipengaruhi oleh perkembangan teknologi untuk kebutuhan belajar, di mana siswa berperan aktif untuk dapat mengembangkan kemampuan aktifitas, wawasan, dan pengetahuan belajar secara luas. Sedangkan guru sebagai fasilitator diharap dapat memiliki kreatifitas dalam mengajar, serta menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan komunikatif sehingga mampu merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan daya serap alat indra peserta didik untuk dapat lebih proaktif dalam belajar sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih berkesan. Daryanto (2010 : 3) Mengemukakan bahwa konsep lingkungan meliputi tempat belajar, metode, media, sistem penilaian, serta sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mengemas pembelajaran dan mengatur bimbingan belajar sehingga memudahkan siswa untuk belajar. Berangkat dari konsep lingkungan yang salah satunya berupa media, sebagai suatu sarana perantara dalam proses belajar mengajar, guru yang profesional dituntut untuk mampu memilih dan menggunakan berbagai jenis media pembelajaran yang ada disekitarnya. Kehadiran media sebagai alat bantu mengajar mempunyai arti cukup penting dalam proses pembelajaran yang salah satunya berupa multimedia sebagai bagian dari media pembelajaran yang telah mengalami perkembangan konsep sejalan dengan berkembangnya teknologi pembelajaran. Ketika teknologi komputer belum dikenal, konsep multimedia sudah dikenal yakni dengan mengintegrasikan berbagai unsur media, seperti : cetak, kaset audio, video dan slide suara. Unsur- unsur tersebut dikemas dan dikombinasikan untuk menyampaikan suatu topik materi pelajaran tertentu. Meskipun definisi multimedia masih belum jelas, secara sederhana ia diartikaan sebagai “lebih dari satu media”.
  3. 3. 2 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 Multimedia bisa berupa kombinasi antara teks, grafik, animasi, suara dan gambar. Namun pada bagian ini perpaduan dan kombinasi dua atau lebih jenis media ditekankan kepada kendali komputer sebagai penggerak keseluruhan gabungan media ini. Dengan demikian arti multimedia yang umumnya dikenal dewasa ini adalah berbagai macam kombinasi grafik, teks, suara, video, dan animasi. Penggabungan ini merupakan suatu kesatuan yang secara bersama-sama menampilkan informasi, pesan atau isi pelajaran (Arsyad, 2011:170,96). II. LANDASAN TEORI 2.1. Media Pembelajaran 2.1.1. Pengertian Media Pembelajaran Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harafiah berati Tengah perantara atau pengantar. Dalam bahasa arab, media adalah Perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan (Arsyad,2010:3). “Media adalah Alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pembelajaran” (Arsyad, 2011 : 4). Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan Criticos, dalam Daryanto ( 2010 : 4 ). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa “Media pembelajaran adalah suatu alat atau bahan apapun, yang dapat digunakan sebagai perantara dalam kegiatan belajar mengajar yang dapat menyalurkan pesan, pikiran, dan perasaan sehingga proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan peserta didik berlangsung secara efektif dan efisien dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu”, dengan kata lain siswa akan lebih mudah memahami materi pembelajaran yang disajikan oleh guru jika dibantu dengan penggunaan media pembelajaran. 2.1.2. Jenis - Jenis Media Pembelajaran Fathurrohman dalam Dwikalara, (2012 : 7) Mengemukakan jenis dan bentuk media saat ini cukup bermacam- macam, mulai dari yang sederhana sampai yang berteknologi tinggi, dari yang mudah dan susah, ada yang secara natural sampai yang manual di rancang sendiri oleh guru. 1. Media Audio / Auditif Media audio / auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti : (tape recorder, radio, piringan hitam). 2. Media Visual Media berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar, media visual adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan panca indra penglihatan”. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai), foto, gambar, lukisan, cetakan, kartu bergambar. Ada pula media visual yang menampilkan gambar, simbol yang bergerak, seperti : animasi, film bisu, film kartun. 3. Media Audio Visual Media audio visual adalah sebuah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar”. Media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media audio dan visual, media ini dibagi kedalam : a) Media audio visual diam, yaitu media yang menampilakan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides), film rangkai dan cetak suara. b) Media audio visual gerak, yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan vidio cassatte. Pembagian lain dalam media audio visual ini adalah : Audio visual murni, yaitu baik unsur suara dan unsur gambar berasal dari satu sumber seprti film video- cassaete, dan Audio visual tidak murni, yaitu unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari slides proyektor dan unsur suaranya bersumber dari tape recorder. Contoh lainya adalah film strip suara dan cetak suara. Dalam penelitian ini, multimedia yang digunakan yaitu beberapa penggabungan unsur – unsur dari media pembelajaran yaitu : 1). media visual diam, 2). visual bergerak, dan 3). audio visual . 2.2. Multimedia 2.2.1. Pengertian Multimedia Menurut Daryanto, (2010 : 53) Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu multimedia linier dan multimedia interaktif.
  4. 4. 3 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 a) Multimedia linier adalah, suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioprasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekuensial ( berurutan ), contohnya : TV dan Filem. b) Multimedia interaktif adalah, suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioprasikan oleh pengguna sehingga pengguna dapat mengoprasikan dan memilih apa yang dikehendaki untuk diproses selanjutnya. Contoh : Pembelajran interaktif dan aplikasi game. Fahmi,2013.pengertian- multimedia,(online).diakses tanggal 20/03/2014. Multi- media diambil dari kata multi dan media. Multi berarti banyak dan media berarti media atau perantara. Multimedia adalah sebuah media dan konten yang menggunakan kombinasi bentuk konten yang berbeda. Definisi Multimedia secara sederhana dapat diartikan sebagai lebih dari satu penggunaan media, ia bisa berupa kombinasi antara teks, grafik, animasi, suara, dan video yang lebih ditekankankan pada pengendalian komputer sebagai penggerak keseluruhan secara bersama – sama menampilkan informasi, pesan, atau isi pelajaran. Arsyad, (2011:170,96). Dari pendapat – pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa multimedia adalah penggunaan lebih dari satu media pembelajaran yang menghubungkan dua unsur atau lebih media berupa teks, grafis, gambar, foto, audio, video dan animasi yang bersifat interaktif dan lebih ditekankankan pada pengendalian komputer sebagai penggerak keseluruhan secara bersama – sama menampilkan informasi, pesan, atau isi pelajaran. Dalam penelitian ini, multimedia yang digunakan yaitu beberapa penggabungan unsur – unsur media pembelajaran yaitu : 1). media visual diam, berupa gambar, fhoto, grafik; 2). visual bergerak, berupa animasi dan 3). audio visual berupa, vidio yang ditampilkan menggunakan microsoft powerpoint kemudian diproyeksikan dengan bantuan LCD/Infokus. Mutimedia baik untuk digunakan dalam proses pembelajaran karna, dengan multimedia banyak panca indra yang dapat dirangsang menggunakan multimedia untuk meningkatkan aktifitas belajar dan hasil belajar siswa. 2.2.2. Karakteristik dan Fungsi Multimedia Pembelajaran Daryanto, (2010 : 55) Mengemukakan karakteristik multimedia pembelajaran adalah sebagai berikut : a) Memiliki lebih dari satu media konvergen, misalnya menggabungkan dari unsur audio dan visual. b) Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk mengakomodasi respon pengguna. c) Bersifat mandiri, dalam pengertian memberi kemudahan dan kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga pengguna dapat menggunakan tanpa bimbingan orang lain. Selain memenuhi ketiga karakteristik tersebut, multimedia pembelajaran sebaiknya juga memenuhi fungsi sebagai berikut : a) Mampu memperkuat respon pengguna secepatnya dan sesering mungkin. b) Mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengontrol laju kecepatan belajarnya sendiri. c) Memperhatikan bahwa siswa mengikuti suatu urutan yang jelas dan terkendalikan. d) Mampu membarikan kesempatan bahwa adanya partisipasi dari pengguna dalam bentuk respon, baik berupa jawaban, pemilihan, keputusan, maupun percobaan. 2.2.3. Perlunya Multimedia Dalam Pembelajaran Pembelajaran diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Jadi dalam pembelajaran yang utama adalah bagaimana siswa belajar. Belajar dalam pengertian aktifitas mental siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku yang bersifat relatif konstan. Dengan demikian aspek yang menjadi penting dalam aktifitas belajar salah satunya adalah aspek lingkungan. Bagaimana lingkungan ini diciptakan dengan menata unsur-unsurnya sehingga dapat mengubah perilaku siswa. Rahmahfauziah, 2013. multimedia dalam pembelajaran online journals,
  5. 5. 4 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 (online), diakses tanggal 20/03/2014). Tujuan dasar penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran antara lain untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan belajar sehingga secara sengaja proses belajar terjadi, bertujuan dan terkendali. Dari uraian di atas, multimedia pembelajaran dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan dalam proses pembelajaran, dengan kata lain untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan yang belajar sehingga secara sengaja proses belajar terjadi, bertujuan dan terkendali. Sehingga dapat disimpulkan bahwa multimedia menjadi alternatif sebagai media dalam proses pembelajaran di sekolah yang diharapkan dapat menumbuhkan rasa ketertarikan dan minat siswa dalam mengikuti pelajaran dan juga dalam mencapai hasil dan tujuan yang maksimal dengan merangsang seluruh alat indra yang ada pada diri siswa tersebut. 2.2.4. Kelebihan dan Kekurangan Multimedia Dalam Pembelajaran Menurut Daryanto, (2010:54) Apabila Multimedia dipilih, dikembangkan, dan digunakan secara tepat dan baik, akan memberi manfaat yang sangat besar bagi guru dan siswa. Secara umum, manfaat yang diperoleh adalah proses pembelajaran yang menarik, lebih interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan dan proses belajar mengajar. dapat dilakukan dimana dan kapan saja serta sikap belajar siswa dapat ditingkatakan. Riandhaputri, 2013.kelebihan-dan- kekurangan-multimedia,(online),diakses tanggal 20/03/2014. Kelebihan multimedia dalam pendidikan yaitu, sebagai berikut : a) Sistem pembelajaran lebih inovatif dan interaktif b) Mampu menimbulkan rasa senang selama proses pembelajaran berlangsung sehingga akan menambah motivasi siswa. c) Mampu menggabungkan antara teks, gambar, audio, musik, animasi gambar atau video dalam satu kesatuan yang saling mendukung sehingga tercapai tujuan pembelajaran. d) Mampu menvisualisasikan materi yang abstrak. e) Media penyimpanan yang relative gampang dan fleksibel f) Membawa obyek yang sukar didapat atau berbahaya ke dalam lingkungan belajar g) Menampilkan obyek yang terlalu besar kedalam kelas h) Menampilkan obyek yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Kekurangan Multimedia dalam pendidikan yaitu sebagai berikut : Biaya relative mahal untuk tahap awal, kemampuan SDM dalam penggunaan multimedia masih perlu ditingkatkan, belum memadainya perhatian dari pemerintah, belum memadainya infrastruktur untuk daerah tertentu. 2.3. Aktifitas Belajar Dan Hasil Belajar 2.3.1. Pengertian Aktifitas Belajar Menurut Hamalik, (2008 : 172) Aktifitas belajar adalah, anak (siswa) belajar sambil bekerja. Dengan bekerja mereka memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan aspek-aspek tingkah laku lainya, serta mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat. Aktifitas belajar, lebih ditonjolkan melalui suatu progam unit activity, sehingga kegiatan belajar siswa menjadi dasar untuk mencapai tujuan dan hasil belajar yang lebih memadai. Berdasarkan pengertian di atas, peneliti menarik kesimpulan bahwa, aktifitas merupakan suatu kegiatan yang di lakukan siswa untuk memperoleh pengetahuan, pemahaman, pengembangan dan aspek tingkah laku lainya dalam mencapai tujuan dan hasil belajar yang lebih baik. 2.3.2. Jenis – Jenis Aktifitas Dalam belajar di perlukan aktifitas siswa untuk dapat mengikuti proses belajar mengajar yang baik, karena hasil belajar timbul berdasarkan adanya aktifitas belajar siswa. Aktifitas belajar itu banyak sekali macamnya, maka para ahli mengadakan klasifikasi atas macam- macam aktifitas tersebut. Menurut Dierich (dalam Hamalik, 2008:172) Membagi kegiatan aktifitas belajar ke dalam delapan kelompok, sebagai berikut :
  6. 6. 5 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 a. Kegiatan-kegiatan visual : Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain. b. Kegiatan-kegiatan lisan (Oral) : Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan intruksi. c. Kegiatan-kegiatan mendengarkan : Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapanatau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio. d. Kegiatan-kegiatan menulis : Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan- bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket. e. Kegiatan-kegiatan menggambar : Menggambar, membuat grafik, chart, diagram peta, dan pola. f. Kegiatan-kegiatan metrik : Melakukan percobaan, memilih alat-alat melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarkan permainan, menari dan berkebun. g. Kegiatan-kegiatan mental : Menganalisis, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat, hubungan- hubungan, dan membuat keputusan. h. Kegiatan-kegiatan emosional : Minat, membedakan, berani, tenang, dan laian-lain. Kegitan-kegiatan dalam kelompok ini terdapat dalam semua jenis kegiatan dan overlap satu sama lain. Jika dihubungkan dengan media pembelajaran, di harapkan aktifitas belajar siswa akan lebih berminat, lebih tekun, dan termotivasi belajarnya, sehingga siswa akan lebih aktif belajarnya. Berdasarkan uraian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa, dalam belajar aktifitas adalah penting karena unsur-unsur atau jenis aktifitas tersebut telah meliputi seluruh kegiatan dalam proses pembelajaran. Bila seorang siswa aktif, diharapkan hasil belajar akan lebih baik di bandingkan dengan siswa yang tidak aktif. Sehubungan dengan hal tersebut, pembelajaran haruslah membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran, sehingga mereka bisa mencari pengetahuan lebih banyak lagi. 2.3.3. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Aktfitas Belajar Menurut Slameto (2010:2), faktor- faktor yang mempengaruhi aktifitas belajar antara lain, yaitu: 1) Faktor Intern Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu yang sedang belajar yang meliputi : a. Faktor jasmaniah meliputi faktor kesehatan, cacat tubuh b. Faktor psikologis meliputi, faktor inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan. c. Faktor kelelahan meliputi, faktor jasmani dan rohani berupa lemahnya tubuh dan timbul keecenderungan untuk membaringkan tubuh dan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. 2) Faktor Ekstern Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu dan dapat berpengaruh terhadap hasil belajar yang meliputi : a. Faktor keluarga, meliputi dengan cara orang tua mendidik, hubungan antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan. b. Faktor sekolah, meliputi faktor metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dengan siswa, disiplin sekolah, alat pengajaran, waktu sekolah, standar pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah. c. Faktor masyarakat, meliputi faktor kegiatan siswa dalam masyarakat, media masa, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi aktifitas belajar siswa terdiri atas faktor internal yang meliputi kesehatan, jasmani dan rohani, inteligensi, minat, bakat, motivasi serta faktor eksternal yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. 2.3.4. Belajar Dan Hasil Belajar Menurut Hamalik, (2007:27-28) Mengemukakan dua pengertian belajar yaitu : 1) belajar adalah modifikasi atau
  7. 7. 6 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 memperteguh kelakuan melalui pengalaman, maksutnya belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, tetapi lebih dari itu, yakni mengalami; 2) Belajar adalah suatu pross perubahan tingkah lakuindividu melalui interaksi dengan lingkungan. Selanjutnya Hamalik, (2007:29) Mengemukakan “Belajar adalah suatu proses, belajar bukan suatu tujuan tetapi merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan. Jadi , merupakan langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh”. Geoch dalam Jufri, (2013 : 38). Belajar adalah, perubahan kemampuan dan keterampilan sebagai hasil dari praktik yang dilakukan. Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah sebuah proses yang bukan hanya mengingat tetapi lebih pada perubahan kemampuan dan keterampilan di dalam diri manusia melalui pengalaman. 2.3.5. Pengertian Hasil Belajar Setiap proses belajar yang dilaksanakan peserta didik akan menghasilakan hasil belajar. Hasil belajar yang baik hanya bisa dicapai melalui proses belajar yang baik, jika proses belajar tidak optimal maka sangat sulit terjadinya hasil belajar yang baik. Gagne dalam Jufri, (2013 : 58) Menyatakan hasil belajar adalah kemampuan (performance) yang dapat teramati dalam diri seseorang dan disebut dengan kapabilitas. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang dicapai peserta didik setelah menerima pengalaman belajarnya dan hasil belajar adalah suatu bukti keberhasilan seseorang dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk nilai yang diperoleh dari hasil belajar yaitu hasil tes. Biasanya nilai dari hasil belajar itu dinyatakan dalam bentuk angka, huruf, atau kata-kata tinggi, sedang atau rendah. 2.4. Pengaruh Multimedia Terhadap Aktifitas Menurut Daryanto,(2012 : 53) multimedia pembelajaran dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan dalam proses pembalajaran. Dengan kata lain, multimedia pembelajaran berguna untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga secara sengaja proses belajar terjadi, bertujuan dan terkendali. Multimedia pembelajaran akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi para guru dan siswa, apabila multimedia pembelajaran dipilih, dikembangkan, dan digunakan secara tepat dan baik. Secara umum manfaat yang bisa di peroleh adalah proses pembelajaran lebih menarik, lebih interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar sisiwa dapat ditingkatkan, serta sikap belajar siswa dapat ditingkatkan. Berdasarkan uraian tersebut, multimedia dalam proses pembelajaran berguna untuk memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbal yang hanya dengan kata-kata tertulis dan penjelasan lisan, mengatasi keterbatasan ruang dan waktu serta daya indera, membuat siswa lebih aktif dan mengurangi sifat pasifnya, mengakomodir perbedaan individu siswa, dan membuat pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan. Jika dihubungkan dengan media pembelajaran, di harapkan aktifitas belajar siswa akan lebih berminat, lebih tekun, dan termotivasi belajarnya, sehingga siswa akan lebih aktif belajarnya. 2.5. Pengaruh Aktifitas Belajar Terhadap Hasil Belajar Menurut Hamalik, (2008 : 172) Aktifitas belajar adalah, anak (siswa) belajar sambil bekerja. Dengan bekerja mereka memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan aspek-aspek tingkah laku lainya, serta mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat. Aktifitas belajar, lebih ditonjolkan melalui suatu progam unit activity, sehingga kegiatan belajar siswa menjadi dasar untuk mencapai tujuan dan hasil belajar yang lebih memadai. Berdasarkan uraian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa, dalam belajar aktifitas adalah penting karena unsur- unsur atau jenis aktifitas tersebut telah meliputi seluruh kegiatan dalam proses pembelajaran. Bila seorang siswa aktif, diharapkan hasil belajar akan lebih baik di bandingkan dengan siswa yang tidak aktif. 2.6. Materi Pelajaran Yang Diteliti
  8. 8. 7 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 Materi pembelajaran kewirausahaan yang di teliti dalam penelitian ini adalah tentang : “MENGAMBIL RISIKO USAHA”. 1) Prinsip Dasar Risiko a) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuata atau tindakan. b) Menurut M.H Richard adalah, suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu. c) Menurut A.Abas Salim adalah, ketidak tentuan (uncertainly) yang mungkin melahirkan peristiwa kerugian (loss). d) Menurut Soekarto adalah ketidak pastian atas terjadinya suatu peristiwa. e) Menurut Herman Darmawi adalah probalitas suatu hasil yang berbeda dengan yang di harapkan. Kesimpulannya : Risiko adalah : Sesuatu yang selalu dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya sesuatu yang merugikan yang tidak terduga dan tidak diharapkan. 2) Macam dan jenis-jenis risiko Macam – macam risiko ada dua, yaitu : a) Risiko spekulatif adalah risiko yang terjadi akibat penyimpangan baik menguntungkan maupun merugikan. risiko yang biasanya tidak dapat diansuransikan. b) Risiko murni adalah yang bergerak ke satu arah. Artinya hanya ada kemungkinan kerugian bagi pelakunya dan tidak ada kemunginan keuntungan. Risiko murni ini dapat di ansuransikan. Risiko murni yang dihadapi oleh para wirausaha dapat digolongkan menjadi : Risiko pribadi, adalah risiko yang mungkin menimpa orang itu sendiri (kematian, cacat), risiko harta, adalah risiko atas harta. (pencurian,perampokan, dan kebakaran), risiko tanggung gugat/ tanggung jawab, adalah kemungkinan risiko wirausaha dituntut bertanggung jawabsecara hukum, untuk membayar kerusakanterhadap orang atau barang orang lain. Menurut sifatnya risiko dapat di golongkan menjadi : a) Fundamental, yaitu risiko yang penyebabnya tidak dapat dilimpahkan kepadaseseorang karena penderitanya cukup banyak. (banjir, dan angin topan) b) Risiko khusus, yaitu risikoyang bersumber pada peristiwa yang mandiri dan umumnya mudah diketahui. (kapal kandas, dan pesawat terbang jatuh). c) Risiko dinamis, yaitu risiko yang timbul karena perkembangan dan kemajuan masyarakat di bidang kewirausahaan, dan teknologi. (risiko penerbangan luar angkasa). Risiko juga adapat dikelompokan berdasarkan dapat tidaknya risiko dialihkan kepada pihak lain. Jenis risiko pada kelompok tersebut meliputi : Risiko yang dapat dilaihkan pada pihak lain dengan mempertanggungkan suatu objek yang akan terkena risiko pada perusahaan ansuransi, risiko yang tidak dapat dialihkan pada pihak lain. Menurut sumber atau faktor penyebab munculnya risiko itu pada umumnya berasal dari dua sumber, yakni sumber interen dan eksteren : a) Sumber interen umumnya memiliki risiko yang lebih kecil. Hal ini dapat terjadi karena masalah interen itu umumnya lebih mudah untuk dikendalikan dan bersifat pasti. Artinya, hampir semua fakta atau data lengkap tersedia sehingga tingkat kelayakan lebih tinggi. b) Sumber eksteren umumnya jauh di luar kendali sipembuat keputusan, antara lain muncul dari pasar, kewirausahaan, politik, suatu negara, perkembangan tehknologi, perubahan sosial budaya, suatu daerah, atau negara, kondisi suplai atau pemasok, kondisi geografi dan kependudukan, serta perubahan lingkungan dimana perusahaan itu didirikan. Dalam berwirausaha, terdapat tiga risiko yang dapat dievaluasi yaitu : a) Risiko pasar atau persaingan, yaitu risiko yang terjadiaibat tidak adanya kepastian pasar. Hal ini terjadi karena berbagai faktor seperti lingkungan kewirausahaan, teknologi, demografi, dan sosial politik. b) Risiko finansial, yaitu risiko yang terjadi akibat rendahnya hasil penjualan di bandingkan dengan tingginya biaya produksi.
  9. 9. 8 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 c) Risiko teknik, yaitu risiko yan terjadi akibat kegagalan teknik. Pada dasarnya ada dua risiko yang dihadapi oleh para wirausahawan ketika diberikan kesempatan untuk mengembangkan usahanya. Kedua risiko tersebut adalah: a. Risiko Rill Risiko rill adalah risiko yang terlihat, bisa dihitung, bisa diantisipasi dan bisa dihindari. Termasuk dalam risiko ini adalah : a) Kehilangan modal, baik yang sudah ditanam dan akan ditanamkan kedalam perusahaan. b) Kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan, dimasa sekarang ataupun dimasa depan. c) Kehilangan mata pencarian untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, d) Kehilangan kendali atas kekuasaan yang selama ini dimilikinya (dicision- making) karena ada pengalihan gaya bisnis profesional. b. Risiko Phisikologis Risiko phisikologis, adalah risiko yang tidak terlihat, tidak bisa dihitung, bisa di antisipasi, tetapi belum tentu di hindarkan. Termasuk dalam risiko ini adalah : a) Kehilangan reputasi (Hilang muka, nama besar) dan risiko menanggung malu. b) Kehilangan kepercayaan, pada diri sendiri dan pada orang lain (menjadi paranoid, atau blind –depondency) c) Kehilangan perasaan,”potent” atau mampu yang akan menyebabkan hilangnya rasa percaya diri. d) Kehilangan jatidiri, (terutama bagi mereka yang sudah menganggap keberadaan perusahaan sebagai keberadaan dirinya sendiri); dan e) Kehilangan motivasi untuk berjuang. 3) Ada 2 karakteristik risiko: a) Ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa b) Ketidakpastian yang bila terjadi akan menimbulkan kerugian 4) Faktor dan sumber penyebab timbulnya risiko Sumber penyebab risiko (kerugian) dapat diklasifikasikan sebagai : a) Sumber risiko sosial, adalah tindakan orang-orang yang menciptakan kejadian yang merugikan (pencurian, perusakan, demonstrasi dan pemogokkan). b) Sumber risiko fisik, adalah fenomena alam (banjir, badai, gempa bumi, tanah longsor) c) Sumber risiko kewirausahaan, adalah fenomena kewirausahaan (inflasi, ketidak stabilan perusahaan individu) d) sumber risiko teknis, ketidak mampuan wirausaha dalam mengambil keputusan. 1) Manajemen risiko Manajeman risiko merupakan suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis, serta mengendalikan risiko dalam kegiatan usaha untuk memeperoleh efektivitas dan efisiensi kerja yang lebih tinggi. Langkah manajemen risiko : a) Identifikasi risiko, yaitu harus menegetahui adanya risiko dalam menjalankan usaha, artinya anda harus mengerti sifat – sifat risiko yang dihadapi serta dampaknya bagi usaha. b) Klasifikasi kerugian yaitu kerugian dapat berupa krugian hak milik, berkewajiban mengganti kerugian yang dialami orang lain dan kerugian personalia :Kerugian hak milik berupa kerugian langsung (kehilangan, kerusakan harta) kerugian tidak langsung (biaya pembersihan sisa kerugian langsung dan kerugian pendapatan).Kewajiban mengganti kerugian yang dialami oleh orang lain (kerusakan milik orang lain).Kerugian personalia, (kematian, cacat) Pengukuran risiko. Risiko perlu di ukur untuk menentukan tingkat kepentingannya. Selain itu pengukuran diperlukan untuk memperoleh informasi guna menentukan cara menangani risiko. Aspek yang diukur adalah, frekuensi atau jumlah kerugian yang akan terjadi, serta tingkat keparahan kerugian. c) Pengendalian risiko dilakukan dengan cara : Menghindari risiko, mengendaliakan kerugian, pemisahan, pemindahan risiko. 2) Analisis Risiko Usaha Risiko perlu dianalisis, yaitu dengan memakai tolak ukur untuk mengukur besarnya risiko atas suatu alternatif, dengan tujuan untuk memperoleh alternatif dengan risiko yang
  10. 10. 9 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 dapat ditanggung. Analisis ini sangat penting untuk menentukan modal yang di anggarkan dalam kegiatan usaha. Pada dasarnya semua risiko dapat dicegah atau diperkecil, kecuali risiko alam yang probalitasnya sangat kecil dilakukan dan dapat diabaikan. Bagi seorang wirausaha, menghadapi risiko adalah tantangan karena mengambil risiko berkaitan dengan kreatifitas dan inovasi serta merupakan bagian penting dalam mengubah ide menjadi kenyataan. Seorang wirausaha, harus mau dan mampu mengatasi dan memperkecil risiko usahanya yang telah diperhitungkan dengan matang dan menyukai tantangan dengan risiko yang masuk akal. Karena itu seorang wirausaha haruslah kreatif dan produktif. Untuk memperkecil risiko usaha yang harus di lakukan adalah : Menganalisis kelayakan usaha, pembahasan mengenai aspek keuangan untuk mengetahui seberapa besar keuntungan atau kerugian yang dapat dihasilkan.Tipe pengambil risiko sedikit banyak dipengaruhi oleh : pengalaman masa lalu, tingkat kepercayaan pada diri sendiri, situasi yang dihadapi, harapan terhadap masa depan. Cara menganalisis risiko, perkiraan risiko, apakah ada kerugian dari suatu keputusan yang diambil, tujuan dan sasaran, mempertimbangkan kebijakan dan sasaran perusahaan, mencermati alternatif, alternatif – alternatif yang ada harus secara terperinci sehibgga semua biaya yang diperlukan dapat ditelaah secara objektif : 1). Pengumpulan informasi dan pengukuran alternatif, informasi yang akurat akan dapat membuat penaksiran yang realistis, 2).Minimalisasi risiko, dengan cara : kesadaran yang jelas tentang kemampuan dan kekuatan perusahaan, kreatifitas dalam mengubah keadaan untuk keuntungan perusahaan, kemampuan untuk merencanakan tujuan dan strategi untuk mewujudkan, dorongan, tenaga, dan antusias untuk melaksanakan sterategi. Perencanaan dan pelaksanaan sebuah alternatif, yaitu berupa jadwal waktu, rumusan tujuan, yang jelas, alternatif rencana untuk hasil yang mungkin terjadi dan sebuah umpan yang baik. 3) Memperkecil / mengatasi risiko usaha Cara memperkecil / mengatasi Risiko adalah : a. Risiko Teknis Risiko ini terjadi akibat kurangnya kemampuan wirausaha / manajer dalam mengambil keputusan. Faktor penyebab : a) Biaya produksi yang tinggi b) Pemakaian SDM yang tidak seimbang ( tenaga kerja terlalu banyak ) c) Terjadi kebakaran akibat keteledoran dan kurang cermat d) Terjadi pencurian akibat pengawasan yang kurang baik e) Terus menerus rugi karena biaya yang terus membengkak f) Penempatan tenaga kerja yang kurang tepat sehingga produktifitas kerja yang menurun g) Perencanaan dan desian yang salah sehingga sulit di oprasionalkan. Upaya untuk mengatasi/menghindari risiko tersebut di atas: a) Manajer atau wirausaha menambah pengetahuan tentang: Keterampilan teknis, terutama yang berkaitan dengan proses produksi yang dihasilkan. Misalkan yang semula dengan teknologi tradisional diganti dengan teknologi tepat guna/modern. ketrampilan mengorganisasi yaitu ke mampuan meramu yang tepat dari fak tor produksi dalam usaha mencakup SDM, SDA, modal . Ibaratmembuat k ue, bagaimana agar rasanya enak, m urah dan disenangi pembeli, ketrampilan memimpin yaitu kemampuan untuk mencapai tujuan usaha dikerjakan dengan baik dan serasi oleh semua orang yang ada pada organisasi. Untuk itu setiap pimpinan dituntut membuat konsep kerja yang baik. b) Membuat strategi usaha yang terarah untuk masa depan, yang meliputi strategi produksi, strategi keuangan, strategi SDM, strategi operasional, strategi pemasaran, strategi penelitian dan pengembangan c) Mengalihkan kerugian pada perusahaan asuransi, dengan konsekuensi setiap saat harus membayar premi yang merupakan pengeluaran tetap b. Risiko Pasar Risiko ini terjadi akibat produk yang dihasilkan kurang laku atau tidak laku di pasaran.
  11. 11. 10 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 Faktor penyebab : a) Kesalahan dalam mengidentifikasi pasar b) Kesalahan dalam mengetahui kebutuhan pelangan dalam pasar yang dipilih c) Kegagalan dalam memprediksi perubahan pasar d) Kesalahan dalam memperhitungkan secara makro e) Kegagalan dalam memprediksi siklus pasar Upaya yang ditempuh: a) Mengadakan inovasi yaitu membuat desain baru dari produk yang disenangi calon pembeli. Misal budidaya lele dumbo b) Mengadakan penelitian pasar dan memperoleh informasi pasar secara berkesinambungan. c. Risiko Kredit Risiko yang ditanggung kreditor akibat debitor tidak membayar pinjaman sesuai waktu yang telah disepakati. Faktor penyebab: a) Sering terjadi produsen menaruh prod uknya terlebih dahulu dan dibayar ke mudian b) Deditor meminjam uang untuk usaha tetapi usahanya gagal akibatnya timbul kredit macet. Upaya yang ditempuh: 1) Berikan kredit pada seseorang yang minimal memenuhi syarat sebagai berikut: Dapat dipercaya yaitu watak dan reputasinya, kemampuan untuk membayar, hal ini dapat dilihat dari kemampuan/hasil yang diperoleh dari usahanya, kemampuan modal sendiri yang ditempatkan dalam usaha sehingga merupakan net personal asets, keadaan usahanya selama ini apakah menunjukkan trend naik atau turun. 2) Jangan memberikan pinjaman yang terlalu besar sambil mengevaluasi kredibilitas debitor. 3) Memperlihatkan pengelolaan dana de bitor bila yang bersangkutan memiliki perusahan d. Risiko Alam Risiko ini terjadi diluar pengetahuan dan kemampuan manusia, misalnya gempa bumi,banjir,angin puting beliung, kemarau panjang. Karena peristiwa ini kemungkinan sangat kecil Risikonya dapat dianggap tidak ada, tetapi bila takut menghadapi Risiko tersebut, ada perusahaan asuransi yang berani menanggung Risiko tersebut. 4) Evaluasi risiko Pengambilan keputusan mengajarkan hal – hal penting dalam pertumbuhan kepribadian wirausaha yang bersedia bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan niscaya tidak akan bergantung pada orang/pihak lain. Wirausaha harus mempertimbangkan hal-hal berikut mengambil risiko pribadi : Pengalaman pribadi dalam mengambil risiko terkait dengan orang terdekat, dalam beberapa hal, perlu menggunakan intuisi untuk menilai tindakan yang mengandung risiko.kerna intuisi akan menghitungkan sejauh mana risiko dan hasil-hasil yang mungkin akan di peroleh, bertanggung jawab atas segala sesuatu dalam hidup anda, ini termasuk dalam kesuksesan dan kegagalan anda sendiri. Namun suskses akan diperoleh jika anda bersedia dan mampu mengambil risiko yang perlu dengan penuh perhitungan. Ada beberapa pertanyaan sebelum mengambil keputusan yang mengandung risiko yaitu: a) Apakah risiko tersebut sepadan dengan hasil usah b) Bagaimana risiko dapat dikurangi? c) Bagaimana kriteria personalia yang dapat mengu risiko ? d) Apakah anda takut dalam mengambil risiko? e) Apa persiapan-persiapan yang perlu anda lak sebelum mengambil risiko? III. PROSEDUR PENELITIAN Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. “Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitianya” (Sugiyono, 2013:2). Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode Eksperimen atau ekspremental. “Metode Eksperimen adalah, sutu metode penelitian yang digunakan untuk mencari perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan” Sugiyono, (2011 : 72). Metode penelitian ini menggunakan desain eksperimen posttest-only kontrol desain dengan format dalam gambar atau bagan metode eksperimen yang di gunakan dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
  12. 12. 11 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 R1 - X - O1 R2 O2 Gambar 2. Bagan Metode Eksperimen Keterangan : R1 = Sampel Kelas Eksperimen R2 = Sampel Kelas Kontrol X = Perlakuan Penggunaan Multimedia O1 = Hasil Tes atau Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen O2 = Hasil Tes atau Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol Untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana pengaruh penggunaan multimedia dalam proses pengajaran dikelas terhadap hasil belajar siswa di SMK Utama Bakti Palembang, maka teknik yang digunakan untuk pengumpulan data sebagai berikut : Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapat, lengger, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2010 : 274) Metode ini hanya digunakan untuk mendapatkan data yang sudah terdokumentasi, seperti jumlah siswa, keadaan sekolah, data jumlah guru, dan data jumlah siswa SMK Utama Bakti Tahun Pelajaran 2013/2014. Observasi atau disebut juga dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dangan menggunakan seluruh alat indra (Arikunto, 2010:199). Observasi dalam penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran aktifitas belajar siswa selama proses pembelajaran di kelas dengan penggunaan multimedia pada siswa kelas eksperimen, maupun siswa kelas kontrol yang tidak menggunkan multimedia. IV. PEMBAHASAN Dalam penelitian ini, Observasi dilakukan untuk mengetahui keaktifan siswa pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Keaktifan ini dapat dilihat dari jumlah skor yang diperoleh dari hasil observasi pada lembar observasi yang memuat 4 indikator dan 4 deskriptor , masing – masing indikator terdiri dari aktifitas visual, aktifitas lisan / mendengarkan, aktifitas menulis, aktifitas mental / emosional. Data hasil observasi yang dilakukan peneliti dibantu dengan seorang rekan sebagai obsever dan di pantau oleh guru mata pelajaran kewirausahaan pada siswa kelas X.TKJ 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X.TKJ 2 sebagai kelas kontrol di SMK Utama Bakti Palembang selama 2x pertemuan. Hasil penelitian observasi untuk melihat keaktifan belajar siswa didalam kelas, sehingga diperoleh rata – rata keaktifan belajar siswa pada kelas eksperimen yang menggunakan mutimedia sebagai media dalam proses pembelajaran sebesar 79,07 tergolong kriteria “Sangat Aktif” sedangkan rata – rata keaktifan belajar siswa kelas kontrol yang tidak menggunkan multimedia yaitu hanya 63,95 dengan kriteria “Cukup Aktif” Dilihat dari distribusi keaktifan belajar siswa yang diajar dengan menggunakan multimedia sebagian besar terletak pada kriteria aktif sebesar 56 %, sedangkan siswa pada kelas kontrol sebagian besar siswa terletak pada kriteria cukup aktif yaitu sebesar 46%. Maka rata – rata skor persentase keaktifan belajar siswa kelas eksperimen yang menggunakan multimedia lebih tinggi keaktifannya dibandingkan dengan keaktifan belajar siswa pada kelas kontrol yang tidak menggunakan multimedia dalam proses pembelajaran. Hasil belajar siswa pada kelas eksperimen yang menggunakan multimedia sebagai media pembelajaran sebesar 79,26 angka ini tergolong kriteria”Baik”, sedangkan kelas kontrol yang tidak menggunakan multimedia sebesar 70,96 dengan kriteria “Cukup Baik” dan jika dilihat dari distribusi hasil belajar siswa ternyata siswa kelas eksperimen sebagian besar (81,5 %) memperoleh hasil belajar kriteria baik, sedangkan pada kelas kontrol hanya (61,5 %) yang memperoleh kriteria cukup baik. Dari analisis data observasi keaktifan belajar siswa diperoleh koefisien regresi antara penggunaan multimedia terhadap keaktifan belajar siswa sebesar 0,70 yang berada pada kriteria “Kuat”, hal ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara multimedia dan aktifitas belajar siswa, dan koefisien regresi aktifitas dengan hasil belajar siswa sebesar 0,809 yang berada pada kriteria “Kuat”. Pengujian hipotesis penggunan multimedia dengan keaktifan belajar siswa
  13. 13. 12 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 melalui uji t “tes” diperoleh 6,9970 > 0,05/2=1,167 Maka tolak Ho terima Ha, hal ini menunjukan adanya pengaruh yang signifikan antara pengaruh multimedia terhadap aktifitas belajar siswa. Pengujian keaktifan belajar dengan hasil belajar siswa melalui t “tes” diperoleh 6,9970 > 0,05/2=1,167 maka tolak Ho terima Ha, hal ini menunjukan adanya pengaruh yang signifikan antara pengaruh aktifitas belajar dengan hasil belajar Hasil penelitian ternyata menunjukan “penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran kewirausahaan yang ditunjukan pada kelas eksperimen dengan skor rata – rata keaktifan belajar 79.05, hasil belajar 79,26 lebih baik bila dibandingkan dengan siswa kelas kontrol yang memproleh skor rata – rata keaktifan belajar hanya 63,95 dan skor hasil belajar 70,96. Hasil pengujian penggunaan multimedia terhadap aktifitas belajar di peroleh 6,9970 > 0,05/2=1,167 dengan koefisien regresi 0,70 berarti ada pengaruh penggunaan multimedia dengan aktifitas belajar siswa. Sedangkan pengaruh aktifitas terhadap hasil belajar siswa diperleh dengan koefisien regresi sebesar 0,809. V. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian melalui analisis data dan pembahasan bahwa ada pengaruh multimedia terhadap aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan di SMK Utama Bakti Palembang, hal ini terlihat pada : a. Aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, siswa kelas eksperimen lebih aktif dibandingkan kelas kontrol dengan rata-rata keaktifan pada kelas eksperimen sebesar 79,07 yang tergolong kriteria “sangat aktif” sedangkan rata – rata keaktifan belajar siswa kelas kontrol yang tidak diajar dengan menggunkan multimedia yaitu hanya 63,95 dengan kriteria “cukup aktif”. Hasil pengujian hipotesis yaitu : Terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunan multimedia dengan keaktifan belajar siswa melalui t “tes” diperoleh 6,9970 > 0,05/2=1,167 yaitu berada pada kriteria “Kuat”. b. Nilai hasil belajar siswa kelas eksperimen yang menggunakan multimedia sebagai media pembelajaran lebih baik dari pada hasil belajar siswa pada kelas kontrol yang tidak menggunakan multimedia sebagai media pembelajaran. Rata – rata hasil belajar siswa kelas eksperimen sebesar 79,26 dengan kriteria “Baik” di banding kelas kontrol sebesar 70,96 dengan kriteria “Cukup Baik”. Hasil pengujian hipotesis yaitu terdapat pengaruh yang signifikan antara keaktifan belajar dengan hasil belajar siswa melalui t “tes” diperoleh 6,9970 > 0,05/2=1,167 berada pada kriteria “Kuat”. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:PT. Rineka cipta. Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Daryanto.2010.Media Pembelajaran. Bandung : PT. Sarana Tutorial Nurani Sejahtera. Fahmi,2013.pengertian multimedia,(online). (http://elektroengineering.blogspot.com/20 13/03/pengertianmultimedia.html diakses tanggal 20/03/2014) Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Jufri, Wahab.2013. Belajar dan Pembelajaran SAINS. Bandung. Pustaka Reka Cipta Rahayu,2013.kelebihan dan kekurangan multimedia, (online), (http://research.amikom.ac.id/index.php/ka ryailmiahdosen/article/view/1672 diakses 26/03/2014) Riandhaputrii, 2013. kelebihan dan kekurangan multimedia,(online), (http://riandhaputri.blogspot.com/2013/11/k elebihan-dan-kekurangan- multimedia.html diakses tanggal 20/03/2014) Rahmahfauziah,2013.multimedia dalam pembelajaran online journals, (online),
  14. 14. 13 | J u r n a l P G R I 2 0 1 4 (http://rahmahfauziah.blog.upi.edu/2013/10 /31/multimedia-dalam- pembelajaran/ diakses tanggal 20/03/2014) Sadiman, dkk. 2006. Media Pendidikan. Jakarta: Grafindo Persada. Supranto.2009. Statistik Tori Dan Aplikasi. Jakarta.Erlangga. Sugiyono.2012. Statiska Untuk Penelitian.Bandung.CV. Alfabeta. Tim Penyusun. 2014. Pedoman Penulisan Skripsi. Palembang : FKIP Universitas PGRI Palembang.

×