HUBUNGAN FREKUENSI MENYUSUI DAN STATUS GIZI IBU MENYUSUI    DENGAN KENAIKAN BERAT BADAN BAYI USIA 1-6 BULAN             DI...
BAB I                        PENDAHULUANA.    Latar Belakang          Bayi sebagai calon penerus bangsa hendaknya tumbuh d...
Bayi yang mendapat cukup air susu akan menunjukkan tanda-tandapositif, tanda yang paling dapat diketahui adalah adanya pen...
B. Rumusan Masalah  Bagaimana hubungan frekuensi menyusui dan status gizi ibu  menyusui dengan kenaikan berat badan bayi u...
BAB II                  TINJAUAN PUSTAKAA. Konsep Air Susu Ibu (ASI)    Frekuensi Menyusui       Mansjoer (2000: 322) meng...
B. Konsep Status Gizi Ibu Menyusui      Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat...
E. Hipotesis1. Ada hubungan antara frekuensi menyusui dengan kenaikan    berat badan bayi usia 1-6 bulan yang diberi ASI.2...
BAB III                                METODE PENELITIANA. Definisi Operasional                            DefinisiNo     ...
Definisi                                      SkalaNo      Variabel                          Parameter       Alat Ukur    ...
B. Rancangan PenelitianC. Populasi dan Sampel   1. Populasi       Populasinya adalah seluruh ibu yang memiliki bayi dan me...
D. Jenis Data dan Sumber DataE. Teknik dan Instrumen Pengumpulan DataF. Teknik Pengolahan dan Analisis Data   1. Teknik Pe...
b. Analisis Bivariat         Menganalisis data untuk melihat hubungan antara variabel   independen (frekuensi menyusui dan...
G. Cara Penelitian Penelitian dilakukan dengan mengajukan kuesioner kepada ibu. Selain itu melakukan pengamatan (observasi...
BAB IV                       HASIL PENELITIANA.    Gambaran Umum Lokasi Penelitian          Wilayah Kecamatan Banjarmasin ...
B. Analisis Data1. Analisis univariat    a. Gambaran frekuensi menyusui di Puskesmas Alalak        Selatan Banjarmasin Uta...
b. Gambaran status gizi ibu menyusui di Puskesmas Alalak Selatan   Banjarmasin Utara  Distribusi Frekuensi Status Gizi Ibu...
c. Gambaran kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan di   Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara  Distribusi Frekuensi...
2. Analisis bivariat         Dalam menganalisis kekuatan hubungan antara variabel tersebut    digunakan uji statistik Spre...
b. Hubungan antara status gizi ibu menyusui dengan kenaikan   berat badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan ...
C. Pembahasan    1. Gambaran frekuensi menyusui di Puskesmas Alalak Selatan       Banjarmasin Utara            Tingginya p...
2. Gambaran status gizi ibu menyusui di Puskesmas Alalak   Selatan Banjarmasin Utara         Tingginya persentase ibu yang...
3. Gambaran kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan di   Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara        Tingginya bayi...
4. Hubungan antara frekuensi menyusui dengan kenaikan berat   badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan   Banj...
5. Hubungan antara status gizi ibu menyusui dengan kenaikan   berat badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan ...
BAB V                         PENUTUPKesimpulan1.  Sebagian besar bayi di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara    me...
Terima Kasih
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

HUBUNGAN FREKUENSI MENYUSUI DAN STATUS GIZI IBU MENYUSUI

9,891 views

Published on

4 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
9,891
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
156
Comments
4
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

HUBUNGAN FREKUENSI MENYUSUI DAN STATUS GIZI IBU MENYUSUI

  1. 1. HUBUNGAN FREKUENSI MENYUSUI DAN STATUS GIZI IBU MENYUSUI DENGAN KENAIKAN BERAT BADAN BAYI USIA 1-6 BULAN DI PUSKESM AS ALALAK SELATAN BANJARMASIN UTARAOLEH: DEWI SETYA PARAMITHA NPM: 06090 A-S.1SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN TAHUN 2010
  2. 2. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Bayi sebagai calon penerus bangsa hendaknya tumbuh dengan sehat dan cerdas. Untuk itu hendaknya bayi mendapatkan asupan nutrisi yang optimal. Nutrisi yang baik bagi bayi adalah ASI namun tidak semua ibu mampu menyusui dengan benar. Sri Purwanti (2004: 47) mengungkapkan cara menyusui yang benar dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 1. Posisi menyusui 2. Teknik menyusui 3. Frekuensi menyusui Faktor frekuensi menyusui sebaiknya tidak terpaku pada jadwal. Penetapan frekuensi dan durasi menyusui tidak perlu dilakukan dan dapat menyebabkan kerusakan pada pertumbuhan bayi dan suplai air susu ibu. Kelancaran produksi ASI tentunya tidak lepas dari status gizi ibu. Asupan yang optimal tentunya juga akan menghasilkan produksi ASI yang optimal juga, baik secara kualitas maupun kuantitas.
  3. 3. Bayi yang mendapat cukup air susu akan menunjukkan tanda-tandapositif, tanda yang paling dapat diketahui adalah adanya peningkatan beratbadan bayi. Menurut Riskesdas 2007 prevalansi status gizi anak balita di Indonesiamenurut BB/U terdapat 5,4% balita gizi buruk, 13,0% balita gizi kurang, 77,2%balita gizi baik dan 4,3% balita gizi lebih. Provinsi Kalimantan Selatan menurut BB/U terdapat 8,4% balita giziburuk, 18,2% balita gizi kurang, 70,4% balita gizi baik dan 3,0% balita gizilebih. Pada tahun 2009 di kota Banjarmasin terdapat 119 kasus baru BGM dansebanyak 288 kasus lama BGM. Di Puskesmas Alalak Selatan jumlah bayi yang mandapat ASI sebanyak472 bayi. Dari catatan penimbangan bayi di Puskesmas Alalak Selatanterdapat 12 kasus BGM.
  4. 4. B. Rumusan Masalah Bagaimana hubungan frekuensi menyusui dan status gizi ibu menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara?C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan frekuensi menyusui dan status gizi ibu menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara.
  5. 5. BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. Konsep Air Susu Ibu (ASI) Frekuensi Menyusui Mansjoer (2000: 322) mengungkapkan sebaiknya menyusui bayi sesuai kebutuhan, jangan dijadwal. Kebutuhan bayi terpenuhi dengan menyusui tiap 2-3 jam. Setiap menyusui, lakukan pada kedua payudara secara bergantian. Romadhona (2008: 1) mengungkapkan bahwa pemberian ASI secara teratur hingga maksimal 10 menit untuk setiap sesi menghasilkan peningkatan berat badan signifikan.
  6. 6. B. Konsep Status Gizi Ibu Menyusui Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. Pengukuran Status Gizi Ibu Menyusui Berat badan (kg) IMT = Tinggi badan (m) x Tinggi badan (m)C. Konsep Berat Badan Bayi Kenaikan berat badan normal pada triwulan I adalah sekitar 700-1000 gram/bulan, pada triwulan II sekitar 500-600 gram/bulan, pada triwulan III sekitar 350-450 gram/bulan dan pada triwulan IV sekitar 250-350 gram/bulan (Nursalam, 2005: 48) .
  7. 7. E. Hipotesis1. Ada hubungan antara frekuensi menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan yang diberi ASI.2. Ada hubungan antara status gizi ibu menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan yang diberi ASI.
  8. 8. BAB III METODE PENELITIANA. Definisi Operasional DefinisiNo Variabel Parameter Alat Ukur Skala Ukur Kategori Operasional1. Independen Jumlah waktu ibu Waktu menyusui Kuesioner Ordinal Menurut Arikunto (2006: Frekuensi menyusui dengan terbagi atas: 344) terbagi atas: menyusui tepat dalam satu 1. Jumlah 1. Kurang: Jika < 60% hari. menyusui dalam jawaban benar satu hari 2. Cukup: Jika 60%- 2. Lama waktu 75% jawaban benar dalam satu kali 3. Baik: Jika > 75%- menyusui 100% jawaban benar 3. Pengaturan waktu menyusui2. Independen Keadaan gizi ibu Status gizi menurut Observasi Ordinal Nilai IMT terbagi atas: Status gizi ibu dinilai dari nilai IMT: 1. Kurus tingkat berat: menyusui perbandingan < 17,0 BB (kg) antara berat badan = 2. Kurus tingkat TB (m) 2 dan tinggi badan ringan: 17,0-18,5 ibu menyusui. 3. Normal: > 18,5- 25,0 4. Gemuk tingkat ringan: > 25,0-27,0 5. Gemuk tingkat berat: > 27,0
  9. 9. Definisi SkalaNo Variabel Parameter Alat Ukur Kategori Operasional Ukur Dependen3. Kenaikan berat Pertambahan berat Jumlah kenaikan Observasi Ordinal Berdasarkan Triwulan. badan bayi usia badan bayi dari berat badan bayi Terbagi atas: 1-6 bulan hasil penimbangan 1. Kurang: berat badan I: < 700 gr/bln sebelumnya, II: < 500 gr/bln sesuai dengan 2. Normal: umur berdasarkan I: 700-1000 gr/bln grafik KMS. II: 500-600 gr/bln 3. Lebih: I: > 1000 gr/bln II: > 600 gr/bln
  10. 10. B. Rancangan PenelitianC. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasinya adalah seluruh ibu yang memiliki bayi dan menyusui bayinya di wilayah kerja Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara, sebanyak 511 bayi. 2. Sampel Pengambilan sampel secara nonrandom atau nonpropability sampling dengan teknik accidental sampling. Responden adalah ibu dengan kriteria memiliki bayi usia 1-6 bulan, menyusui bayinya, dalam keadaan sehat dan mempunyai KMS yang datang ke Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara, sebanyak 50 responden.
  11. 11. D. Jenis Data dan Sumber DataE. Teknik dan Instrumen Pengumpulan DataF. Teknik Pengolahan dan Analisis Data 1. Teknik Pengolahan Data Langkah pertama semua data (independen dan dependen) dikumpulkan dan diperiksa kembali kelengkapannya , selanjutnya semua jawaban yang ada dari data dikategorikan sesuai definisi operasional. Kemudian data ditabulasi dengan bantuan komputer, untuk memudahkan menganalisis. 2. Analisis Data a. Analisis Univariat Digunakan untuk menggambarkan distribusi frekuensi variabel independen (frekuensi menyusui dan status gizi ibu menyusui) dan dependen (kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan).
  12. 12. b. Analisis Bivariat Menganalisis data untuk melihat hubungan antara variabel independen (frekuensi menyusui dan status gizi ibu menyusui) dengan variabel dependen (kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan). Menggunakan uji statistik Spearman Rank Order Correlation pada = 0,05 dengan tingkat kepercayaan 95%. Kriteria hubungan variabel di tentukan olah nilai value. Apabila nilai 0,05 maka H0 ditolak dan HA diterima berarti ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Apabila > 0,05, maka H0 diterima dan HA ditolak berarti tidak ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
  13. 13. G. Cara Penelitian Penelitian dilakukan dengan mengajukan kuesioner kepada ibu. Selain itu melakukan pengamatan (observasi) terhadap nilai IMT ibu dan kenaikan berat badan bayi. Setelah data terkumpul kemudian data diolah dan dianalisis untuk mengetahui gambaran masing -masing variabel dan hubungan antara variabel independen dan dependen.
  14. 14. BAB IV HASIL PENELITIANA. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Wilayah Kecamatan Banjarmasin Utara sendiri memiliki empat Puskesmas yaitu Puskesmas Kayu Tangi, Puskesmas Alalak Selatan, Puskesmas Alalak Tengah dan Puskesmas Sungai Jingah. Puskesmas Alalak Selatan yang terletak di Kecamatan Banjarmasin Utara memiliki luas wilayah kerja seluas 393,25 Ha. Cakupan wilayah kerja Puskesmas Alalak Selatan meliputi Kelurahan Alalak Selatan, Kelurahan Kuin Utara dan Kelurahan Pangeran. Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Alalak Selatan pada tahun 2009 berjumlah 28.204 jiwa.
  15. 15. B. Analisis Data1. Analisis univariat a. Gambaran frekuensi menyusui di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara Distribusi Frekuensi Ibu Menyusui Bayinya di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara No. Frekuensi Menyusui Frekuensi Persentase (%) 1. Kurang 2 4,0 2. Cukup 9 18,0 3. Baik 39 78,0 Total 50 100,0
  16. 16. b. Gambaran status gizi ibu menyusui di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara Distribusi Frekuensi Status Gizi Ibu Menyusui di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara No. Status Gizi Ibu Menyusui Frekuensi Persentase (%) 1. Kurus tingkat berat 0 0 2. Kurus tingkat ringan 3 6,0 3. Normal 43 86,0 4. Gemuk tingkat ringan 4 8,0 5. Gemuk tingkat berat 0 0 Total 50 100,0
  17. 17. c. Gambaran kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara Distribusi Frekuensi Kenaikan Berat Badan Bayi Usia 1-6 Bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara No. Kenaikan Berat Badan Bayi Frekuensi Persentase (%) 1. Kurang 10 20,0 2. Normal 31 62,0 3. Lebih 9 18,0 Total 50 100,0
  18. 18. 2. Analisis bivariat Dalam menganalisis kekuatan hubungan antara variabel tersebut digunakan uji statistik Sprearman Rank Order Correlation pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05).a. Hubungan antara frekuensi menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara Kenaikan Berat Badan Bayi Frekuensi Total No. Kurang Normal Lebih Menyusui N % N % N % N % 1. Kurang 1 50,0 1 50,0 0 0 2 100 2. Cukup 4 44,4 5 55,6 0 0 9 100 3. Baik 5 12,8 25 64,1 9 23,1 39 100 Total 10 20,0 31 62,0 9 18,0 50 100 Nilai Correlation Coefficient = 0,375 dan nilai = 0,007 Hasil analisis uji satistik Spearman Rank Order Correlation menunjukkan Correlation Coefficient sebesar 0,375 dan nilai (0,05), sehingga dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara frekuensi menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan.
  19. 19. b. Hubungan antara status gizi ibu menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara Kenaikan Berat Badan Bayi Status Gizi Ibu Total No. Kurang Normal Lebih Menyusui N % N % N % N % 1. Kurus tingkat berat 0 0 0 0 0 0 0 0 2. Kurus tingkat ringan 1 33,3 2 66,7 0 0 3 100 3. Normal 8 18,6 28 65,1 7 16,3 43 100 4. Gemuk tingkat ringan 1 25,0 1 25,0 2 50,0 4 100 5. Gemuk tingkat berat 0 0 0 0 0 0 0 0 Total 10 20,0 31 62,0 9 18,0 50 100 Nilai Correlation Coefficient = 0,174 dan nilai = 0,228 Hasil analisis uji Spearman Rank Order Correlation menunjukkan > (0,05), jadi dapat dikatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara status gizi ibu menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan.
  20. 20. C. Pembahasan 1. Gambaran frekuensi menyusui di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara Tingginya persentase bayi yang frekuensi menyusunya dalam kategori baik menunjukkan tingginya jumlah berapa kali bayi menyusu dalam satu hari. Ini dikarenakan setiap bayi memiliki refleks mengisap untuk menelan ASI dari payudara ibunya. Hal ini karena bayi yang refleks mengisapnya kuat akan lebih mudah mengosongkan isi payudara. seperti yang diungkapkan oleh Coad (2006: 346) bahwa pendapat bahwa bayi yang menentukan produksi susu melalui kontrol lokal ditunjang oleh korelasi erat antara derajat pengosongan payudara dan kecepatan pembentukan susu .
  21. 21. 2. Gambaran status gizi ibu menyusui di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara Tingginya persentase ibu yang memiliki status gizi normal menunjukkan bahwa keadaan ibu menyusui di daerah tersebut dinilai dari angka antropometri berada dalam keadaan baik. Menurut Dudek (2001) dalam Paath (2004: 39) bahwa ibu yang bertambah berat badannya secara tepat selama hamil harus meningkatkan asupan kalorinya 500 kal/hari baik selama 6 bulan pertama atau kedua menyusui. Karena lebih dari 500 kal/hari secara aktual digunakan untuk menghasilkan susu . Namun menurut Soetjiningsih (1997: 120) pada ibu-ibu yang malnutrisi, produksi ASI lebih sedikit dari pada ibu yang gizinya baik. Dengan suplementasi makanan, maka produksi ASI bisa ditingkatkan .
  22. 22. 3. Gambaran kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara Tingginya bayi yang kenaikan berat badannya dalam ketegori normal menunjukkan bahwa bayi sudah mendapat asupan nutrisi yang optimal. Seperti yang diungkapkan oleh Siregar (2004: 11) bahwa ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi akan energi dan gizi selama 4-6 bulan pertama kehidupannya, sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal .
  23. 23. 4. Hubungan antara frekuensi menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara Uji statistik Spearman Rank Order Correlation pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05) didapatkan nilai = 0,007. Ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan HA diterima karena nilai 0,05. Artinya ada hubungan yang bermakna antara frekuensi menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara. Ini disebabkan karena tanda bayi yang mendapat cukup ASI akan memiliki pertambahan berat badan yang baik. Hal ini diungkapkan oleh Soetjiningsih (1997: 112) bahwa pada bayi yang dalam masa pertumbuhan, pada masa ini mereka menyusu lebih sering dari biasa untuk mendapatkan lebih banyak ASI untuk memenuhi kebutuhannya .
  24. 24. 5. Hubungan antara status gizi ibu menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara Hasil uji statistik Spearman Rank Order Correlation menunjukkan nilai = 0,228 pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05). Hal ini berarti H0 diterima dan HA ditolak karena nilai > (0,05). Ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara status gizi ibu menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan. Karena ibu dengan status gizi normal juga dapat memberikan frekuensi menyusu yang cukup atau kurang kepada bayinya. Seperti dikemukakan oleh Hambraeus & Sjolin (1970) dikutip oleh Arisman (2004: 37) bahwa status gizi tidak bepengaruh besar terhadap mutu (kecuali volume) ASI, meskipun kadar vitamin dan mineralnya sedikit lebih rendah . Sehingga seorang ibu mungkin saja menghasilkan volume ASI yang kurang namun mutu ASI tersebut tetap sama saja dengan mutu ASI kebanyakan lainnya. Maka mungkin saja bayi tersebut memiliki kenaikan berat badan yang normal.
  25. 25. BAB V PENUTUPKesimpulan1. Sebagian besar bayi di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara mendapat frekuensi menyusu dengan baik.2. Sebagian besar ibu menyusui yang memiliki bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara meliliki status gizi dalam kategori normal.3. Sebagian besar bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara yang ditimbang memiliki kenaikan berat badan dalam kategori normal.4. Ada hubungan antara frekuensi menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara.5. Tidak ada hubungan antara status gizi ibu menyusui dengan kenaikan berat badan bayi usia 1-6 bulan di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin Utara.
  26. 26. Terima Kasih

×