Matematika

3,127 views

Published on

masalah matematika

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,127
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
88
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Matematika

  1. 1. HYPERLINK "http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=77/" Foto Kegiatan   <br />http://bsnp-indonesia.org/id/?cat=8/<br />Tentang BSNP<br />Ketua & Sekretaris<br />Anggota<br />Kontak Kami<br />Gedung D Lt.2 MandikdasmenJl. RS Fatmawati,Cipete Jakarta SelatanTelp. +62-21-7668590Faks. +62-21-7668591Email. info[at]bsnp-indonesia.org<br />Matematika Paling Menyulitkan dalam UASBN<br />Oleh admin pada 5/20/09 • Rubrik Kliping<br />LAMPUNG — Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) untuk siswa kelas enam sekolah dasar (SD) berakhir kemarin. Dari tiga mata pelajaran yang diujikan selama tiga hari, sejak Senin (8/5), umumnya peserta merasakan soal matematika–di samping Bahasa Indonesia dan IPA–menjadi momok yang paling menyulitkan.<br />Sejumlah peserta UASBN di Bandar Lampung merasakan kesulitan soal Matematika yang diberikan pada hari kedua kendati berjumlah 40 soal yang semuanya berupa pilihan berganda.<br />Meski tidak terdapat soal isian, mereka harus mengerjakannya dengan cara menghitung di kertas. Yang merepotkan, materi soal banyak yang tidak bersesuaian dengan pelajaran sekolah.<br />”Semua soal terisi karena pilihan ganda. Tapi, saya tidak tahu isiannya benar atau salah. Yang jelas, soalnya sulit, harus dihitung semua,” ungkap Nuning, siswa kelas 6 SDN 1 Beringin Raya, Bandar Lampung, yang sempat mengikuti bimbingan belajar.<br />Tadinya, ia berharap, jumlah soalnya sedikit, namun bobotnya lebih tinggi sehingga waktu yang tersedia cukup efektif. ”Kalau soal banyak, jelas isinya pasti ada yang cuma nebak-nebak karena waktu akan habis untuk mengerjakan soal saja, belum tentu hasilnya benar,” ujar Nuning.<br />Bagus, siswa kelas 6 SDN di Rawa Laut, ikut mengeluh. Menurut dia, soal matematika terlalu rumit dan sulit serta soalnya banyak. ”Seharusnya, kualitas soal yang dipentingkan,” katanya.<br />Optimistis lulusKesulitan soal matematika juga dirasakan peserta UASBN di DKI Jakarta.”Ya, matematika paling sulit,” ungkap Alicia Amanda Putri, murid SD Negeri Pasar Baru 11, Jakarta Pusat.<br />Namun, dia optimistis lulus karena telah mengikuti bimbingan belajar serta try out sebanyak lima kali sejak Januari lalu. ”Soal-soal ujian hampir sama saat latihan mengerjakan soal-soal yang akan diujikan (try out) di sekolah. Jadi, saya dapat menjawab semua soal ujian yang diberikan,” kata Alicia.<br />Bahkan, dia yakin nilai mata pelajaran yang diujikan, yakni matematika, mendapatkan nilai 7, bahasa Indonesia 8, dan IPA 8. Menurutnya, try out tidak hanya diberikan sekolah, tetapi dari Suku Dinas Pendidikan Dasar dan Dinas Pendidikan setempat.<br />Miftah Rizqullah, siswa peserta ujian lainnya ,juga menyatakan optimisme. ”Semua mata pelajaran yang diujikan dapat dijawab dan saya yakin lulus,” ujarnya.<br />Kepala Sekolah SDN Pasar Baru 11, Sumarno, mengatakan, siswa yang mengikuti UASBN 2009 sebanyak 28 orang. Ditetapkan bahwa nilai standar kelulusan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia 4,00; Matematika 2,8; dan IPA 3,20. ”Saya yakin semua lulus seperti tahun sebelumnya,” ujarnya. mur/ant<br />Sumber: Republika.co.id<br />8 desember 2010<br />http://www.topix.com/forum/world/malaysia/TPKMP1F380BEBFJGS<br />parakangKuala Lumpur, Malaysia Jan 29, 2008Rendah, Prestasi Matematika IndonesiaJumlah Jam Pelajaran dan Prestasi tak SebandingBANDUNG,2007(PR).-Mutu pendidikan Indonesia, terutama dalam mata pelajaran matematika, masih rendah. Data UNESCO menunjukkan, peringkat matematika Indonesia berada di deretan 34 dari 38 negara. Sejauh ini, Indonesia masih belum mampu lepas dari deretan penghuni papan bawah.Hasil penelitian tim Programme of International Student Assessment (PISA) 2001 menunjukkan, Indonesia menempati peringkat ke-9 dari 41 negara pada kategori literatur matematika. Sementara itu, menurut penelitian Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMS) 1999, matematika Indonesia berada di peringkat ke-34 dari 38 negara (data UNESCO).Hal itu terungkap dalam konferensi pers The First Symposium on Realistic Teaching in Mathematics di Majelis Guru Besar (MGB) ITB, Jln. Surapati No. 1, Bandung, Senin (16/1). "Peringkat Indonesia berada di bawah Malaysia dan Singapura," ujar Drs. Firman Syah Noor, M.Pd., Ketua Asosiasi Guru Matematika Indonesia (AGMI).Padahal, berdasarkan hasil penelitian TIMMS yang dilakukan oleh Frederick K. S. Leung pada 2003, jumlah jam pengajaran matematika di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan Malaysia dan Singapura. Dalam satu tahun, siswa kelas 8 di Indonesia rata-rata mendapat 169 jam pelajaran matematika. Sementara di Malaysia hanya mendapat 120 jam dan Singapura 112 jam.Namun, hasil penelitian yang dipublikasikan di Jakarta pada 21 Desember 2006 itu menyebutkan, prestasi Indonesia berada jauh di bawah kedua negara tersebut. Prestasi matematika siswa Indonesia hanya menembus skor rata-rata 411. Sementara itu, Malaysia mencapai 508 dan Singapura 605 (400 = rendah, 475 = menengah, 550 = tinggi, dan 625 = tingkat lanjut). "Waktu yang dihabiskan siswa Indonesia di sekolah tidak sebanding dengan prestasi yang diraih. Itu artinya, ada sesuatu dengan metode pengajaran matematika di negara ini, seperti yang ditemukan dalam penelitian Frederick dari TIMMS," tutur Firman.Dalam penelitian itu, Frederick yang berasal dari The University of Hongkong menyebutkan, mayoritas soal yang diberikan guru matematika di Indonesia terlalu kaku. Umumnya, siswa di Indonesia lebih banyak mengerjakan soal yang diekspresikan dalam bahasa dan simbol matematika yang diset dalam konteks yang jauh dari realitas kehidupan sehari-hari."Akibatnya, siswa sering kali merasa bosan dan menganggap matematika sebagai pelajaran yang tidak menyenangkan. Mereka pun tidak mampu menerapkan teori di sekolah untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari," ujar Firman. bhembeJakarta, Indonesia Jan 29, 2008 Indonesia Juara Olimpiade Matematika dan Sains Internasional Jakarta – Anak Indonesia kembali menunjukkan prestasi cemerlang dalam kompetisi ilmiah internasional. Dalam Olimpiade Matematika dan Sains Internasional (International Mathematics and Science Olympiad/IMSO) tingkat SD yang ditutup di Jakarta, Jumat (18/11), Indonesia berhasil menempati peringkat perolehan emas kedua dengan perolehan tiga medali emas.Medali emas terbanyak diraih oleh peserta dari Singapura yang memperoleh lima medali emas dan trofi the best overall untuk kedua mata pelajaran yang diujikan.Dua siswa Indonesia, yakni Andhika Tangguh (SD Al Azhar 17 Bintaro, Jakarta) dan Tobi Moektijono (SD Santa Maria, Jakarta) meraih the best theory masing-masing untuk bidang matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam olimpiade itu.Tobi juga memperoleh medali emas untuk matematika, sedangkan dua medali emas untuk IPA diperoleh Harun Reza Sugito (SDK II BPK Penabur, Jakarta) dan Restiana Ramdani (SD Vidatra Bontang, Kalimantan Timur). Selain itu, tim Indonesia juga memperoleh delapan medali perak dan tujuh medali perunggu.Dalam acara itu, hadir seluruh 97 peserta IMSO 2005 dari Indonesia dan 11 negara lainnya yakni Azerbaijan, Brunei Darussalam, India, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, China Taipei, Ukraina, Thailand, dan Srilanka.(ruth hesti utami) KAGHIJakarta, Indonesia Jan 29, 2008 TEMPO Interaktif, Jakarta:Wakil Indonesia meraih dua emas, satu perak dan satu perunggu untuk kompetisi individual dan satu emas untuk kompetisi tim dalam 1st Wizard of Mathematics International Competition (WIZMIC) 2007 di Lucknow, India pada 28-31 Oktober lalu.Kompetisi internasional untuk siswa berumur di bawah 14 tahun ini diikuti oleh 26 tim dari 8 negara, yaitu Bulgaria, India, Indonesia, Iran, Nepal, Thailand, Taiwan dan Filipina.Peraih emas adalah Laila Muhibah, siswa SMPN 1 Bogor dan Atika Almira, siswa SMPIT Ummul Quro Bogor. Perak dan perunggu masing-masing diraih Firstio Ahmad Sepriadi dari SMPI Al-Azhar 8 Kemang Pratama Bekasi dan Ghiffari Haekalnoor Tujuanto dari SMPN 115 Jakarta.Keempat siswa itu dibina oleh Ridwan Hasan Saputra, Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA yang juga pembina nasional International Mathematic and Science Olimpiade (IMSO) bidang Matematika selama 2 bulan sejak Agustus."Saingan terberat berasal dari Bulgaria . Namun, tim juri memberikan pujian untuk hasil tim yang sangat baik dan hampir sama dengan Bulgaria ," kata Ridwan saat ditemui usai acara ramah-tamah tim olimpiade di Jakarta, kemarin.Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional Professor Suyanto menyatakan rasa bangga dengan prestasi tersebut. Siswa pemenang olimpiade diberikan kesempatan untuk memilih Sekolah Lanjutan Atas yang dikehendaki. "Tiap siswa akan mendapatkan beasiswa," ujarnya.Reh Atemalem Susanti <br />Mei 14, 2007 • 6:07 am <br />http://zainurie.wordpress.com/2007/05/14/pakar-matematika-bicara-tentang-prestasi-pendidikan-matematika-indonesia/<br />“Pakar Matematika” Bicara Tentang, Prestasi Pendidikan Matematika Indonesia<br />Banyak orang Bilang “Mutu pendidikan Indonesia”, terutama dalam mata pelajaran matematika, masih rendah. Banyak data yang menukung opini ini, seperti:<br />Data UNESCO menunjukkan, peringkat matematika Indonesia berada di deretan 34 dari 38 negara. Sejauh ini, Indonesia masih belum mampu lepas dari deretan penghuni papan bawah.<br />Hasil penelitian tim Programme of International Student Assessment (PISA) menunjukkan, Indonesia menempati peringkat ke-9 dari 41 negara pada kategori literatur matematika. Sementara itu, menurut penelitian Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMS) yang sudah agak lawas yaitu tahun 1999, matematika Indonesia berada di peringkat ke-34 dari 38 negara (data UNESCO).<br />Padahal kalau kita tilik lebih dalam lagi, berdasarkan penelitian yang juga dilakukan oleh TIMMS yang di publikasikan 26 Desember 2006, jumlah jam pengajaran matematika di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan Malaysia dan Singapura. Dalam satu tahun, siswa kelas 8 di Indonesia rata-rata mendapat 169 jam pelajaran matematika. Sementara di Malaysia hanya mendapat 120 jam dan Singapura 112 jam. <br />Tapi kenyataannya, prestasi Indonesia berada jauh di bawah kedua negara tersebut. Prestasi matematika siswa Indonesia hanya menembus skor rata-rata 411. Sementara itu, Malaysia mencapai 508 dan Singapura 605 (400 = rendah, 475 = menengah, 550 = tinggi, dan 625 = tingkat lanjut). Artinya “Waktu yang dihabiskan siswa Indonesia di sekolah tidak sebanding dengan prestasi yang diraih. <br />Memang kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, tapi yang jelas banyak faktor yang berpengaruh dalam rendahnya prestasi belajar matematika. Salah satunya tantang mayoritas Soal yang diberikan guru matematika di Indonesia terlalu kaku. Umumnya, siswa di Indonesia lebih banyak mengerjakan soal yang diekspresikan dalam bahasa dan simbol matematika yang diset dalam konteks yang jauh dari realitas kehidupan sehari-hari.<br />Akibatnya, siswa sering kali merasa bosan dan menganggap matematika sebagai pelajaran yang tidak menyenangkan. Mereka pun tidak mampu menerapkan teori di sekolah untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. <br />Bukannya di sini saya ingin menjadi seorang pakar pendidikan matematika, tapi sudah saatnya guru matematika membuka paradigma baru dalam pola pengajaran matematika di kelas. Artinya pendidikan matematika akan lebih baik jika matematika itu diberikan dengan pendekatan realita<br />Dengan menggunakan contoh kasus sehari-hari diharapkan bisa memunculkan kesadaran siswa akan pentingnya matematika dalam kehidupan. Sehingga kelak bisa mendorong untuk meningkatkan motivasi siswa untuk belajar matematika.<br />Dan yang terpenting, sudah saatnya guru menyadarkan siswa akan pentingnya matematika dalam kehidupan. Kalau boleh dikata”Matematika itu penting. Tanpa matematika, dunia akan hancur. Matematika bisa digunakan untuk memakmurkan negeri ini dan bisa membantu Indonesia keluar dari kondisi krisis, termasuk dalam persoalan lingkungan.<br />Namun, kuncinya, matematika jangan hanya digunakan sebagai alat untuk menghitung. Matematika harus digunakan sedemikian rupa agar bisa benar-benar bermanfaat untuk kehidupan dan itu harus ditanamkan dalam benak siswa sejak awal.<br />Sehingga jangan sampai, generasi siswa takut matematika terus berulang. “Bagaimanapun juga, di samping penting untuk meningkatkan prestasi matematika di negeri yang terpuruk ini, kecintaan siswa terhadap matematika juga penting untuk mengantarkan negeri ini menuju masa depan yang lebih baik”.<br />Selain itu, siswa juga harus diantarkan untuk menilik keindahan rumus-rumus matematika. Sehingga, ke depannya siswa tidak hanya terdorong untuk menghafal rumus, seperti yang terjadi saat ini.<br />“Jika siswa telah memahami the beauty of mathematics, dengan sendirinya siswa akan mencintai matematika. Bukan tidak mungkin, kebiasaan Indonesia sebagai follower dalam dunia matematika bergeser menjadi pembuat”.<br />

×