Poster Competition 5th DSM (fkg unej)

2,764 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,764
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1,485
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Poster Competition 5th DSM (fkg unej)

  1. 1. KAJIAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN STETOSKOP MODIFIKASI PADA DETEKSI KELAINAN SENDI TEMPOROMANDIBULA Mellyna Trismi Utami, Ali Taqwim, Puteri Kharisma Dewi FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember UNIVERSITAS JEMBER Jember- Jawa Timur 2011PENDAHULUAN METODE PENELITIANPemeriksaan auskultasi pada sendi temoromandibula (STM) merupakan salah satu pemeriksaan fisik yang tidak I. Persiapan Penelitiandapat ditinggalkan begitu saja dalam perawatan di bidang kedokteran gigi. Pemeriksaan auskultasi pada kelainan a. Penderita Kelainan STM dan Subjek PenelitianSTM umumnya dilakukan dengan menggunakan stetoskop konvensional yang memiliki dua bagian pada chestpiece Penderita kelainan STM pada penelitian ini merupakan pasien RSGM FKG UNEJ yang memiliki kelainan STM(diafragma dan bel). Penggunaan stetoskop modifikasi menjadi salah satu alat alternatif pada pemeriksaan bunyi dengan gejala bunyi dan bersedia mengisi informed consent untuk mengikuti penelitian. Sedangkan subjekSTM. Stetoskop modifikasi merupakan stetoskop yang diperkenalkan Leknius dan Kenyon (2004) untuk mendeteksi penelitian (30 subjek) berperan sebagai pemeriksa yang dipilih berdasarkan kriteria sebagai berikut: mahasiswabunyi STM. Stetoskop ini dimodifikasi pada bagian chestpiece dengan tip saliva ejector dan panjang pipa dibuat profesi di RSGM FKG UNEJ, sehat dan tidak memiliki ganggguan pendengaran.lebih pendek. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas penggunaan stetoskop modifikasi dibandingstetoskop konvensional (diafragma dan bel) dalam mendeteksi kelainan STM. b. Pembuatan Stetoskop Modifikasi Persiapan untuk menciptakan stetoskop modifikasi yaitu panjang pipa stetoskop dipotong menjadi 15 inchi, bagian chestpiece diganti dengan tip saliva ejector yang sebelumnya telah dipotong sekat hubung pada bagian tengahnya dan telah dipotong dari pipa saliva ejector menjadi 10mm (∑ panjang tip dan pipa saliva ejector = 1,5 cm) untuk dimasukkan pada pipa stetoskop. II. Pengukuran Kekuatan Bunyi STM Penelitian ini dilakukan dengan cara pengukuran subyektif yaitu menilai kekuatan bunyi sendi STM yang berasal dari pemeriksaan ketiga penderita kelainan STM. Pengukuran kekuatan bunyi dilakukan tiga kali pada tiap penderita dengan media diagnostik yang berbeda yaitu stetoskop modifikasi, stetoskop konvensional-diagframa, dan stetoskop konvensional-bel. Pemeriksa mengukur kekuatan bunyi STM melalui stetoskop (konvensional dan modifikasi) kemudian hasilnya Gambar 1 diwujudkan dalam bentuk skor (0=tidak terdengar, 1=sangat pelan, 2=pelan, 3=sedang, 4=keras, dan 5=sangat Pembuatan stetoskop modifikasi keras) pada skala pengukuran yang batas frekuensinya diinterpetasikan melalui frekuensi dasar harmonik pada garpu tala set (288, 341, 426 dan 512 Hz). III. Analisis Statistik Data penelitian yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan uji statistik non parametrik yaitu uji Kruskal- Wallis dan uji Mann-Whitney dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan bahwa stetoskop modifikasi mempunyai rata-rata nilai ukur bunyi paling tinggi daripada stetoskop konvensional (diafragma dan bel). Penggunaan stetoskop modifikasi paling efektif digunakan dalam   menangkap bunyi STM dibandingkan stetoskop konvensional (diafragma dan bel). Kepekaan stetoskop modifikasi dalam menangkap bunyi STM ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :    Bahan dan bentuk alat pengukur. Tip saliva ejector tersusun dari bahan soft polymeric material yang dapat menghantarkan getaran gelombang bunyi seperti bahan dasar dari diafragma pada stetoskop konvensional.  Letak alat periksa dan konduksi bunyi pada organ tubuh di sekitar STM. Peletakkan tip saliva ejector pada stetoskop modifikasi ke lubang telinga mendukung kepekaan stetoskop terhadap bunyi karena pada lubang telinga atau meatus akustikus eksternus merupakan organ yang terdekat dengan struktur anatomi STM.  Panjang pipa stetoskop. Panjang pipa stetoskop modifikasi yang lebih pendek (15 inchi) mendukung kepekaan stetoskop karena frekuensi bunyi yang didengar akan lebih besar daripada stetoskop konvensional karena semakin panjang pipa stetoskop maka frekuensi bunyi yang dihasilkan semakin rendah. Gambar 2 Pengukuran kekuatan bunyi STMHASIL (a) (c) (b) Gambar 4 (a) Tip saliva ejector, (b) anatomi sendi temporomandibular, (c) pipa stetoskop modifikasi Gambar 3 Rata-rata nilai kekuatan bunyi sendi temporomandibula berdasarkan skala pengukuranBerdasarkan uji statistik Kruskal-Wallis (p≤0,05) didapatkan hasil yang signifikan (p=0,000), hal ini menunjukkan KESIMPULANbahwa terdapat perbedaan bermakna kekuatan bunyi dari ketiga alat pengukur bunyi. Selanjutnya, data dianalisis Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan keefektifan penggunaan stetoskopmenggunakan uji statistik Mann-Whitney (p≤0,05), hasilnya ditunjukkan pada Tabel 1. konvensional (diafragma dan bel) dengan stetoskop modifikasi dalam mendeteksi kelainan sendi temporomandibula berdasarkan adanya bunyi STM. Penggunaan stetoskop modifikasi lebih efektif dibanding penggunaan stetoskopTabel 1. Hasil uji statistik Mann-Whitney mengenai perbedaan kekuatan bunyi pada penggunaan stetoskop konvensional baik itu pada bagian diafragma maupun bel, karena stetoskop modifikasi dapat menangkap bunyi konvensional (diafragma dan bel) dan stetoskop modifikasi STM yang lebih jelas dibanding stetoskop konvensional. REFERENSI (1) Leknius, C. Kenyon, BJ. 2004. Simple Instrument for Auscultation The Temporomandibular Joint Sound. The Journal of Prosthetic Dentistry. 6 (92) : 604. (2) McNeill, C. 1993. Kelainan Kraniomandibula: Pedoman Bagi Evaluasi, Diagnosis dan Penatalaksanaan. Alih Bahasa : Haryanto AG. Jakarta : Widya Medika. (3) Rajender, DS. Pakhan, T. Bhovar. 2006. Modified Stethoscope for Auscultation of Temporomandibular Joint Sounds. Journal of Indian Prosthodontic Soc. 1 (6): 29-32.Berdasarkan Tabel 1 di atas, terlihat bahwa pengukuran kekuatan bunyi melalui stetoskop modifikasi mempunyai (4) Widmalm, SE. Williams, WJ. Djurdjanovic, D. Mckay, DC. 2003. The Frequency Range of TMJ Sound.perbedaan yang nyata jika dibandingkan dengan stetoskop konvensional (diafragma dan bel). Journal of Oral Rehabillitation. (30):335-346

×