Contoh proposal

33,371 views

Published on

by deep d walker

Published in: Economy & Finance, Business
0 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
33,371
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
207
Actions
Shares
0
Downloads
492
Comments
0
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Contoh proposal

  1. 1. > Privacy Policy Sitemap Disclaimer DMCA Policy About and Contact Home Berita Terkini Coretan Dijual Ebook Gratis Kata-kata Bijak Keindahan Makalah Materi Olahraga teknologi Tips dan InfoContoh Proposal Metode PenelitianFebruary 19th, 2012 by irfan99 | Posted under Makalah. Profiling Profiles Corporate social respons ibility Contoh Proposal Metode PenelitianContoh Proposal Metode Penelitian - Dalam postingan saya kali ini, saya akanmenampilkan tentang contoh proposal meteode penelitian atau disebut juga denganMetPen. Langsung saja kita menuju ke contoh yang saya berikan sebagai berikut dibawah ini:Judul Penelitian :Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR)dalam Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan High Profile (Studi Empiris pada Bursa EfekIndonesia) 1. 1. Pendahuluan1.1 Latar Belakang Masalah
  2. 2. Dalam menjaga eksistensinya, perusahaan tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat sebagailingkungan eksternalnya. Ada hubungan resiprokal (timbal balik) antara perusahaan denganmasyarakat. Perusahaan dan masyarakat adalah pasangan hidup yang saling memberi danmembutuhkan. Kontribusi dan harmonisasi keduanya akan menentukan keberhasilanpembangunan bangsa. Dua aspek penting harus diperhatikan agar tercipta kondisi sinergisantara keduanya sehingga keberadaan perusahaan membawa perubahan ke arah perbaikandan peningkatan taraf hidup masyarakat. Dari aspek ekonomi, perusahaan harus berorientasimendapatkan keuntungan dan dari aspek sosial, perusahaan harus memberikan kontribusisecara langsung kepada masyarakat. Perusahaan tidak hanya dihadapkan pada tanggungjawab dalam perolehan keuntungan semata, tetapi juga harus memperhatikan tanggung jawabsosial dan lingkungannya.Jika masyarakat menganggap perusahaan tidak memperhatikan aspek sosial danlingkungannya serta tidak merasakan kontribusi secara langsung bahkan merasakan dampaknegatif dari beroperasinya sebuah perusahaan maka kondisi itu akan menimbulkan resistensimasyarakat. Komitmen perusahaan untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa denganmemperhatikan aspek finansial atau ekonomi, sosial, dan lingkungan (triple bottom line)itulah yang menjadi isu utama dari konsep Corporate Social Responsibility (CSR) atautanggung jawab sosial perusahaan. CSR berhubungan erat dengan “pembangunanberkelanjutan“, di mana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakanaktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan,misalnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial danlingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.Perusahaan yang menjalankan aktivitas CSR akan memperhatikan dampak operasionalperusahaan terhadap kondisi sosial dan lingkungan dan berupaya agar dampaknya positif.Sehingga dengan adanya konsep CSR diharapkan kerusakan lingkungan yang terjadi didunia, mulai dari penggundulan hutan, polusi udara dan air, hingga perubahan iklim dapatdikurangi. Berbagai dampak dari keberadaan perusahaan ditengah-tengah masyarakat telahmenyadarkan masyarakat di dunia bahwa sumber daya alam adalah terbatas dan olehkarenanya pembangunan ekonomi harus dilaksanakan secara berkelanjutan, dengankonsekuensi bahwa perusahaan dalam menjalankan usahanya perlu menggunakan sumberdaya dengan efisien dan memastikan bahwa sumber daya tersebut tidak habis, sehingga tetapdapat dimanfaatkan oleh generasi di masa datang. Dengan konsep pembangunanberkelanjutan (sustainable development), maka kegiatan CSR menjadi lebih terarah, palingtidak perusahaan perlu berupaya melaksanakan konsep tersebut.Kesadaran stakeholder akan pentingnya pembangunan berkelanjutan yang dilakukan olehperusahaan mendorong perusahaan untuk mengungkapkan praktik- praktik atau kegiatanCSR yang dilakukan. Owen (2005) dalam Fahrizqi (2010) mengatakan bahwa kasus Enron diAmerika telah menyebabkan perusahaan- perusahaan lebih memberikan perhatian yang besarterhadap pelaporan sustainabilitas dan pertanggungjawaban sosial perusahaan. Inimenjelaskan isu-isu yang berkaitan dengan reputasi, manajemen risiko dan keunggulankompetitif juga menjadi kekuatan yang mendorong perusahaan untuk melakukanpengungkapan CSR.Indira dan Dini (2005) dalam Fahrizqi (2010) mengatakan semakin kuatnya tekananstakeholder dalam hal pengungkapan praktik- praktik CSR yang dilakukan oleh perusahaanmenyebabkan perlunya memasukkan unsur sosial dalam pertanggungjawaban perusahaan kedalam akuntansi. Hal ini mendorong lahirnya suatu konsep yang disebut sebagai Social
  3. 3. Accounting, Socio Economic Accounting ataupun Social Responsibility Accounting . Denganlahirnya akuntansi sosial, produk akuntansi juga dapat digunakan oleh manajemen sebagaisarana untuk mempertanggungjawabkan kinerja sosial perusahaan dan memberikan informasiyang berguna dalam pengambilan keputusan bagi stakeholders.Dalam lingkup wilayah Indonesia, standar akuntansi keuangan Indonesia belum mewajibkanperusahaan untuk mengungkapkan informasi sosial, akibatnya yang terjadi di dalam praktikperusahaan hanya dengan sukarela mengungkapkannya. Secara implisit Ikatan AkutansiIndonesia (IAI) dalam Pernyataan Standar Akutansi Keuangan (PSAK) Nomor 1 (revisi2004) paragraf 9 menyarankan untuk mengungkapkan tanggung jawab akan masalah sosialsebagai berikut : “Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporanmengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnyabagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peran penting dan bagiindustri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegangperanan penting.”Lebih jauh lagi, adanya CSR di Indonesia diatur dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun2007 tentang Perseroan Terbatas. Pasal 74 ayat 1 Undang- undang tersebut menyebutkanbahwa ”Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/ atau berkaitan dengansumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan”. DalamUndang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, pasal 15 (b) menyatakanbahwa ”setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosialperusahaan”.Adanya tuntutan yang demikian, maka ISO (International Oragnization For Standaritation)yang merupakan induk dari organisasi standar internasional, mengundang berbagai pihakyang berkaitan untuk membentuk tim yang membadani lahirnya panduan dan standarisasiuntuk tanggung jawab sosial dengan mengeluarkan ISO 26000: Guidance Standard on SocialResponsibility. ISO 26000 ini akan menyediakan standar pedoman yang bersifat sukarelamengenai tanggung jawab sosial suatu institusi yang mencakup semua sektor badan publikmaupun badan privat. Baik itu di negara yang sedang berkembang ataupun negara maju.Pedoman ini juga ditujukan pada perusahaan yang memiliki tipe high profile maupunperusahaan low profile. Dalam hal ini perusahaan harus melakukan pengungkapan tanggungjawab sosial mereka sesuai dengan peraturan dan standar yang ada. Yang menjadi masalahsaat ini adalah, bagaimana perusahaan yang ada memahami mengenai tanggung jawab sosialmereka, bagaimana mereka mengungkapkan tanggung jawab tersebut dan bagaimana tingkatkepatuhan perusahan-perusahaan tersebut dalam pengungkapannya sesuai dengan ISO 26000yang telah terbentuk. Didalamnya erdapat tujuh cakupan mengenai tanggung jawab yangharus dipenuhi perusahaan kepada lingkungan sosial sekitar, yakni: 1) tata kelola organisasi,2) hak-hak asasi manusia, 3) praktik ketenagakerjaan, 4) lingkungan, 5) praktik operasi yangadil, 6) isu-isu konsumen, serta 7) pelibatan dan pengembangan masyarakat.Berdasar pada tujuan utama pembentukan ISO 26000 yakni menjadi standar untukpengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan, dimana dengan adanya hal ini nantinyaakan membawa pengaruh yang baik bagi perusahaan agar lebih bertanggungjawab dalammelakukan operasinya. Perusahaan yang memiliki tipe high profile akan sangat berperandalam penerapan ISO 26000. Hakston dan Milne (1996) dalam Novitasari (2011) mengatakanperusahaan umumnya terbagi dalam dua tipe, yakni tipe low profile dan tipe high profile.Perusahaan yang memiliki tipe low profile adalah perusahaan yang memiliki tingkat resikokerja yang lebih kecil, tidak memiliki sisa residu (seperti limbah) dan biasanya perusahaan
  4. 4. dengan tipe low profile ini akan lebih mendapat toleransi dari masyarakat saat terjadikegagalan dalam produksi/aktivitas kerja mereka. Tipe yang kedua adalah perusahaan highprofile dimana perusahaan tipe ini biasanya memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi terhadaplingkungan, tingkat risiko politik atau tingkat kompetisi yang ketat. Selain itu perusahaanhigh profile pada umumnya merupakan perusahaan yang memperoleh sorotan darimasyarakat karena aktivitas operasinya memiliki potensi untuk bersinggungan dengankepentingan luas. Adapun perusahaan yang tergolong dalam tipe ini adalah yang umumnyamemiliki sifat/ciri umum sebagai berikut: jumlah tenaga kerja yang besar, dalam prosesproduksinya mengeluarkan residu seperti limbah cair atau polusi, serta sensitifitas masyarakatterhadap perusahaan karena perusahaan tipe ini bila mengalami kelalaian perusahaan dalampengamanan produksi dan hasil produksi memabawa akibat fatal bagi masyarakat danlingkungan. Dalam pengungkapan tanggung jawab sosialnya terdapat hal-hal yang berbedaantara perusahaan yang memiliki tipe high profile dan low profile. Terdapat berbagai macamfaktor yang dapat mempengaruhi pengungkapan tanggung jawab sosial. Penelitian yang telahdilakukan sebelumnya mengatakan bahwa perusahaan yang masuk dalam kategori highprofile mengungkapkan informasi tanggung jawab sosialnya lebih banyak dibandingkandengan kategori low profile.Pentingnya pengungkapan CSR telah membuat banyak peneliti untuk melakukan penelitiandan diskusi mengenai praktik dan motivasi perusahaan untuk melakukan CSR. Beberapapenelitian yang terkait dengan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan telah banyakdilakukan. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Rosmasita (2007) yang meneliti mengenaifaktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan CSR. Diantara faktor-faktor yang menjadivariabel dalam penelitian tersebut adalah ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage,kepemilikan manajemen. Sulastini (2007) melakukan penilitian mengenai faktor-faktor yangmempengaruhi pengungkapan laporan sosial. Variabelnya antara lain ukuran perusahaan,profitabilitas, ukuran dewan komisaris dan profile perusahaan. Fahrizqi (2010) jugamelakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan CSR.Faktor-faktor yang menjadi variabel dalam penelitian tersebut adalah ukuran perusahaan,profitabilitas, leverage dan ukuran dewan komisaris.Penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya mengenai faktor- faktor yangmempengaruhi pengungkapan CSR menunjukkan hasil yang berbeda- beda. Pertentanganhasil penelitian tersebut dapat terjadi karena beberapa alasan seperti: perbedaan periodewaktu penelitian, interpretasi peneliti terhadap laporan keuangan perusahaan atas variabelyang digunakan maupun perbedaan metode pengujian yang ditempuh oleh peneliti. Penelitianini menarik untuk dilakukan karena untuk memverifikasi ulang hasil penelitian terdahulutentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pengungkapan Corporate SocialResponsibility (CSR) perusahaan. Penelitian ini akan menguji variabel faktor-faktor yangmempengaruhi pengungkapan CSR. Penelitian ini akan menguji pengaruh variabel ukuranperusahaan, profitabilitas, leverage dan ukuran dewan komisaris terhadap pengaruhnya dalampengungkapan CSR pada laporan keuangan tahunan perusahaan High Profile di Indonesia.1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan CSR? 2. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap pengungkapan CSR? 3. Apakah leverage berpengaruh terhadap pengungkapan CSR? 4. Apakah ukuran dewan komisaris berpengaruh terhadap pengungkapan CSR?
  5. 5. 1.3 Tujuan dan Manfaat PenelitianTujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti secara empiris terhadap hal-haltersebut diatas, antara lain :a. Untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan terhadap pengungkapan CSR.b. Untuk menguji pengaruh profitabilitas terhadap pengungkapan CSR.c. Untuk menguji pengaruh leverage terhadap pengungkapan CSR.d. Untuk menguji pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap pengungkapan CSR.Manfaat PenelitianBagi Perkembangan Kajian Akuntansia. Memberikan kontribusi pada pengembangan akuntansi keuangan, terutama mengenaibagaimana kinerja keuangan perusahaan dapat mempengaruhi pengungkapan CSRb. Memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu akuntansi manajemen, terutamamengenai bagaimana pertanggungjawaban sosial yang dilakukan perusahaan yang kemudiandiungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan.c. Memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pada akuntansi keprilakuan, terutamamengenai faktor apa yang mendorong prilaku perusahaan untuk mengungkapkan CSR dalamlaporan tahunan perusahaan.Bagi Peneliti SelanjutnyaPenelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi, masukan, dan bahanpertimbangan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian sejenis, dengan objek,variabel, ataupun periode yang berbeda. 1. 2. Tinjauan Pustaka2.1 Penelitian TerdahuluRosmasita (2007) melakukan penelitian dengan judul faktor-faktor yang mempengaruhipengungkapan sosial (social disclosure) dalam laporan keuangan tahunan perusahaanmanufaktur pada bursa efek Jakarta. Metode analisa data menggunakan regresi linierberganda, Hasil penelitian ini menunjukkan kepemilikan manajemen, leverage, ukuranperusahaan (Size), dan profitabilitas secara bersama-sama memiliki kemampuan untukmempengaruhi pengungkapan sosial dalam laporan tahunan perusahaan Manufaktur. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa secara statistis kepemilikan manajemenmempengaruhi pengungkapan pertanggungjawaban sosial dalam laporan tahunan perusahaanManufaktur. Secara statistik leverage, ukuran perusahaan (Size), profitabilitas tidakberpengaruh signifikan terhadap pengungkapan pertanggungjawaban sosial perusahaanmanufaktur.
  6. 6. Sulastini (2007) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Karakteristik PerusahaanTerhadap Social Disclosure pada Perusahaan Manufaktur Yang Telah Go Public pada tahun2006. Metode analisa data menggunakan analisis regresi linear berganda, menggunakanprogram SPSS for window release 11.5. hasil penelitian menunjukkan secara simultan adapengaruh yang signifikan faktor-faktor size perusahaan, profitabilitas, ukuran dewankomisaris dan profile perusahaan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaanmanufaktur. Secara parsial hanya profitabilitas yang tidak berpengaruh secara signifikannamun hasil penelitian berhasil menemukan arah hubungan negatif antara profitabilitas danpengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.Fahrizqi (2010) melakukan penelitian dengan judul faktor-faktor yang empengaruhipengungkapan corporate social responsibility (csr) dalam laporan tahunan perusahaan padaperusahaan manufaktur yang terdaftar dalam bursa efek indonesia selama tahun 2005 – 2008.Content analysis dilakukan dengan metode check list terhadap item-item pengungkapansosial dalam laporan tahunan perusahaan Dan secara parsial ukuran perusahaan danprofitabilitas berpengaruh terhadap pengungkapan CSR dengan arah positif. Secara parsialleverage dan ukuran komisaris tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR.Junaedi (2011) melakukan penelitian dengan judul pengaruh karakteristik perusahaanterhadap nilai perusahaan yang menerapkan ISO 26000 pada perusahaan high profile dan lowprofil LQ-45 BEI. Metode analisa data mengunakan analisis regresi berganda menggunakanSPSS versi 17. Hasil penelitian uji F menunjukkan bahwa semua variabel independen secarasimultan tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Sedangkan hasil uji tmenunjukkan bahwa semua variabel independen secara parsial juga tidak berpengaruhsignifikan terhadap pengungkapan nilai perusahaan.2.2 Kajian Pustaka2.2.1 Teori StakeholderStakeholder merupakan individu, sekelompok manusia, komunitas atau masyarakat baiksecara keseluruhan maupun secara parsial yang memiliki hubungan serta kepentinganterhadap perusahaan. Individu, kelompok, maupun komunitas dan masyarakat dapatdikatakan sebagai stakeholder jika memiliki karakteristik seperti mempunyai kekuasaan,legitimasi, dan kepentingan terhadap perusahaan.Jika diperhatikan secara seksama dari definisi diatas maka telah terjadi perubahan mengenaisiapa saja yang termasuk dalam pengertian stakeholder perusahaan. Sekarang ini perusahaansudah tidak memandang bahwa stakeholder mereka hanya investor dan kreditor saja. Konsepyang mendasari mengenai siapa saja yang termasuk dalam stakeholder perusahaan sekarangini telah berkembang mengikuti perubahan lingkungan bisnis dan kompleksnya aktivitasbisnis perusahaan.Dengan menggunakan definisi diatas, pemerintah bisa saja dikatakan sebagai stakeholderbagi perusahaan karena pemerintah mempunyai kepentingan atas aktivitas perusahaan dankeberadaan perusahaan sebagai salah satu elemen sistem sosial dalam sebuah negara olehkerena itu, perusahaan tidak bisa mengabaikan eksistensi pemerintah dalam melakukanoperasinya. Terdapatnya birokrasi yang mengatur jalanya perusahaan dalam sebuah negara
  7. 7. yang harus ditaati oleh perusahaan melaui kepatuhan terhadap peraturan pemerintahmenjadikan terciptanya sebuah hubungan antara perusahaan dengan pemerintah. Hal tersebutberlaku sama bagi komunitas lokal, karyawan, pemasok, pelanggan, investor dan kreditoryang masing-masing elemen stakeholder tersebut memiliki kekuasaan, legitimasi, dankepentingan sehinga masing-masing elemen tersebut membuat sebuah hubungan fungsionaldengan perusahaan untuk bisa memenuhi kebutuhannya masing-masing.Di dalam kehidupan bisnis, kata stakeholder tidak akan bisa dilepaskan karena merupakanbagian penting yang terdapat di dalamnya. Stakeholder sendiri memiliki bermacam-macamdefinisi yang kesemuanya memiliki kesamaan. Hanya saja, fokus dan penekanan yangberbeda memberikan ruang perdebatan mengenai apa itu stakeholder. Definisi stakeholderdalam beberapa literatur adalah sebagai berikut,“Segenap pihak yang terkait dengan isu dan permasalahan yang sedang diangkat.”“A person having in his/her possession (holding) money or property in which he/she has nointerest, right or title, awaiting the outcome of a dispute between two or more claimants tothe money or property. The stakeholder has a duty to deliver to the owner or owners themoney or assets once the right to legal possession is established by judgment or agreement.”“Person, group, or organization that has direct or indirect stake in an organization becauseit can affect or be affected by the organization’s actions, objectives, and policies.”Dari ketiga difinisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa stakeholder sangat terkaitdengan kepentingan. Artinya semua yang melandasi suatu pihak menjadi stakeholder adalahada atau tidaknya kepentingan darinya yang terkait. Stakeholder bermacam-macam,tergantung situasi dan kondisi.2.2.2 Teori AgensiTeori keagenan (Agency theory) merupakan basis teori yang mendasari praktik bisnisperusahaan yang dipakai selama ini. Teori tersebut berakar dari sinergi teori ekonomi, teorikeputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Prinsip utama teori ini menyatakan adanyahubungan kerja antara pihak yang memberi wewenang (prinsipal) yaitu investor denganpihak yang menerima wewenang (agensi) yaitu manajer, dalam bentuk kontrak kerja samayang disebut ”nexus of contract”.Perbedaan “kepentingan ekonomis” ini bisa saja disebabkan ataupun menyebabkan timbulnyainformasi asymmetri (Kesenjangan informasi) antara Pemegang Saham (Stakeholders) danorganisasi. Diskripsi bahwa manajer adalah agen bagi para pemegang saham atau dewandireksi adalah benar sesuai teori agensi.Teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu bertindak atas kepentingan merekasendiri. Pemegang saham sebagai principal diasumsikan hanya tertarik kepada hasil keuanganyang bertambah atau investasi mereka di dalam perusahaan. Sedang para agen disumsikanmenerima kepuasan berupa kompensasi keuangan dan syarat-syarat yang menyertai dalamhubungan tersebut.Dalam hubungan agensi tersebut, terdapat 3 faktor yang mempengaruhi pengungkapantanggung jawab sosial perusahaan yaitu biaya pengawasan (monitoring costs), biaya kontrak
  8. 8. (contracting costs), dan visibilitas politis. Perusahaan yang melakukan pengungkapaninformasi tanggung jawab sosial dengan tujuan untuk membangun image pada perusahaandan mendapatkan perhatian dari masyarakat. Perusahaan memerlukan biaya dalam rangkauntuk memberikan informasi pertanggungjawaban sosial, sehingga laba yang dilaporkandalam tahun berjalan menjadi lebih rendah. Ketika perusahaan menghadapi biaya kontrak danbiaya pengawasan yang rendah dan visibilitas politis yang tinggi akan cenderung untukmengungkapkan informasi pertanggungjawaban sosial. Jadi pengungkapan informasipertanggungjawaban sosial berhubungan positif dengan kinerja sosial, kinerja ekonomi danvisibilitas politis dan berhubungan negatif dengan biaya kontrak dan pengawasan (biayakeagenen) dalam Fahrizqi (2010).2.2.3 Corporate Social Responsibility (CSR)Tanggung Jawab Sosial Korporasi (Corporate Social Responsibility) telah menjadi pemikiranpara pembuat kebijakan sejak lama. Bahkan dalam Kode Hammurabi (1700-an SM) yangberisi 282 hukum telah memuat sanksi bagi para pengusaha yang lalai dalam menjagakenyamanan warga atau menyebabkan kematian bagi pelanggannya. Dalam KodeHammurabi disebutkan bahwa hukuman mati diberikan kepada orang-orang yangmenyalahgunakan ijin penjualan minuman, pelayanan yang buruk dan melakukanpembangunan gedung di bawah standar sehingga menyebabkan kematian orang lain.CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu tindakan atau konsep yangdilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuktanggungjawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan ituberada. Contoh bentuk tanggungjawab itu bermacam-macam, mulai dari melakukankegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikanlingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dana untukpemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang bersifatsosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada disekitar perusahaan tersebut berada. CSR (Corporate Social Responsibility) merupakanfenomena strategi perusahaan yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentinganstakeholder-nya. CSR timbul sejak era dimana kesadaran akan sustainabilityperusahaan jangka panjang adalah lebih penting daripada sekedar profitability.Tujuan dan manfaat akuntansi pertanggungjawaban sosial perusahaan.Tujuan akuntansi pertanggungjawaban sosial adalah: 1. Untuk meningkatkan citra perusahaan dan untuk mempertahankan biasanya secara implisit, asumsi bahwa perilaku perusahaan secara fundamental adalah baik. 2. Untuk membebaskan akuntabilitas organisasi atas dasar asumsi adanya kotrak sosial diantara organnisasi dan masyarakat. Keberadaan kontrak sosial ini menuntut dibebaskannya akuntabilitas sosial. 3. Sebagai perpanjangan dari pelaporan keuangan tradisional dan tujuannya memberikan informasi kepada investor.2.2.4 Pengungkapan Tanggungjawab Sosial Perusahaan
  9. 9. Dalam Novitasari (2011) ada 2 jenis ungkapan dalam pelaporan keuangan yang telahditetapkan oleh badan yang dimiliki otoritas di pasar modal. Kedua jenis pelaporan tersebutadalah sebagai berikut: 1. Ungkapan Wajib (Mandatory Disclosure)Dalam laporan ini berisi mengenai informasi yang harus diungkapkan oleh emiten yangdiatur oleh peraturan pasar modal disuatu negara. Dimana laporan ini biasanya berbentuklaporan keuangan, yang diatur oleh standar yang berlaku, wajib dikeluarkan tiap akhirperiode, serta wajib untuk di audit. 1. Ungkapan Sukarela (Voluntary Disclosure)Laporan ini merupakan laporan yang dilakukan dan dibuat secara sukarela oleh perusahaantanpa diharuskan oleh standar yang ada. Pengungkapan sosial yang diungkapkan perusahaansifatnya adalah sukarela dan unaudited.Standar pelaporan pertanggungjawaban sampai saat ini belum memiliki standar yang baku.Hal ini dikarenakan adanya permasalahan yang berhubungan dengan biaya dan manfaatsosial. Perusahaan dapat membuat sendiri model pelaporan dan pertanggungjawabansosialnya.Rosmasita (2007) menyatakan bahwa dalam penyusunan dan pengungkapan informasitentang aktivitas pertanggungjawaban sosial perusahaan, mengidentifikasi hal-hal yangberkaitan dengan pelaporan sosial perusahaan, yaitu sebagai berikut: 1. Lingkungan, bidang ini meliputi aktivitas pengendalian pencemaran dan pelestarian lingkungan hidup. 2. Energi, bidang ini meliputi aktivitas dalam penggunaaan energi dalam hubungannya dengan operasi perusahaan dan peningkatan efisiensi terhadap produk perusahaan. 3. Praktik bisnis yang wajar, meliputi pemberdayaan terhadap minoritas dan perempuan, dukungan terhadap usaha minoritas, tanggung jawab sosial. 4. Sumber Daya Manusia, bidang ini meliputi aktivitas untuk kepentingan karyawan sebagai sumber daya manusia bagi perusahaan maupun aktivitas didalam suatu komunitas. 5. Produk, meliputi keamanan, pengurangan polusi, dan lain-lain.CSR harus dimaknai bukan lagi hanya sekedar responsibility karena bersifat voluntary,tetapi harus dilakukan sebagai mandatory dalam makna liability karena disertai dengansanksi. Penanam modal baik dalam maupun asing tidak dibenarkan hanya mencapaikeuntungan dengan pengorbankan kepentingan-kepentingan pihak lain yang terkait danharus tunduk dan mentaati ketentuan CSR sebagai kewajiban hukum jika ingin menanamkanmodalnya di Indonesia. Komitmen bersama untuk mewujudkan pembangunanberkelanjutan dan menciptakan iklim investasi bagi penanam modal untuk mewujudkankesejahteraan masyarakat dapat tercapai melalui pelaksanaan CSR. CSR dalam kontekspenanaman modal harus dimaknai sebagai instrumen untuk mengurangi praktek bisnisyang tidak etis.2.2.5 Perusahaan High Profile dan Low Profile
  10. 10. Ada dua tipe perusahaan yang berhubungan dengan pengungkapan tanggung jawab sosial.Dimana tipe pertama adalah tipe perusahaan High Profile. Wahyuni (2005) perusahaan yangbertipe high profile adalah perusahaan yang mempunyai sensivitas tinggi terhadaplingkungan. Perusahaan ini cepat memperoleh sorotan dari masyarakat karena aktivitasoperasinya memiliki potensi tinggi untuk bersinggungan dengan kepentingan masyarakatluas. Contoh perusahaan high profile antara lain perusahaan pertambangan, agribisnis,industri kimia, produk makanan dan minuman, penerbangan dan komunikasi. Sedangkanperusahaan yang bertipe low profile merupakan perusahaan yang aktivitas produksinya dapatditolerir oleh masyarakat. Perusahaan yang termasuk dalam tipe ini antara lain : perusahaankontraktor, jasa dan perdagangan, tekstil dan produk tekstil, produk alat rumah tangga, danperbankan.Latifah (2005) perusahaan high profile pada umumnya merupakan perusahaan yangmemperoleh sorotan dari masyarakat karena aktivitas operasinya memiliki potensi untukbersinggungan dengan kepentingan luas. Masyarakat pada umumnya lebih sensitif terhadaptipe ini kaena kelalaian perusahaan dalam pengamanan proses produksi dan hasil produksidapat membawa akibat fatal bagi masyarakat. Perusahaan high profile lebih sensitif terhadapkonsumen atau pihak lain yang berkepentingan terhadap produknya. Adapun perusahaanyang tergolong dalam high profile umumnya mempunyai sifat : jumlah tenaga kerja yangbesar, dalam produksinya mengeluarkan residu, seperti limbah cair atau polusi udara. Contohperusahaan yang termasuk tipe ini adalah : perusahaan perminyakan dan pertambangan,kimia, hutan, kertas, otomotif, penerbangan, agribisnis, tembakau, rokok, makanan danminuman, media dan komunikasi, energi(listrik), engineering, kesehatan serta tranportasi danpariwisata. Sedangkan yang termasuk low profile antara lain : perusahaan bangunan,keuangan, perbankan, supplier peralatan medis, properti, retailer, tekstil dan produk tekstil,produk personal dan rumah tangga.Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang termasuk dalamtipe high profile adalah perusahaan yang memiliki tingkat sensitifitas tinggi terhadaplingkungan, tingkat risiko politik atau tingkat kompetisi yang ketat. Yang dimaksudsensitivitas tinggi adalah apabila perusahaan melakukan kelalaian dalam pengamanan hasilproduksi akan membawa akibat fatal bagi lingkungan dan masyarakat, sedangkan tingkatresiko politik atau tingkat kompetisi yang ketat adalah keberadaan stakeholders yang dimilikiperusahaan antara lain konsumen, pesaing dan pihak-pihak lain yang dapat melakukantekanan politik menjadi penentu utama kelangsungan hidup perusahaan. Oleh karena itukepentingan dan kemauan kelompok stakeholders perlu didengarkan dan diakomodasikandalam suatu bentuk kebijaksanaan perusahaan untuk menjaga kelangsungan hidupperusahaan. Perusahaan high profile umumnya perusahaan yang memperoleh sorotan darimasyarakat karena aktivitasnya memiliki potensi untuk bersinggungan dengan masyarakatluas. Adapun perusahaan yang tergolong tipe ini umumnya memiliki ciri sebagai berikut : 1. Jumlah tenaga kerja yang besar 2. Dalam proses produksinya mengeluarakan nilai residu/limbah 3. Memiliki resiko kerja yang tinggi 4. Cakupan sosial yang luas.Perusahaan yang termasuk dalam kategori high profile adalah perusahaan yang bergerakdalam perminyakan dan pertambangan, kimia, hutan, kertas, otomotif, agribisnis, tembakaudan rokok, produk makanan dan minuman, media dan komunikasi kesehatan sertatransportasi dan pariwisata.
  11. 11. Tipe kedua adalah perusahaan low profile, adalah perusahaan yang tidak terlalu mendapatsorotan dari masyarakat manakala operasi mereka mengalami kegagalan atau kesalahan padaaspek tertentu. Perusahaan dengan tipe ini biasanya akan lebih ditoleransi oleh masyarakat.Yang tergolong perusahaan low profile antara lain : bangunan, keuangan dan perbankan,suplier peralatan medis, retailer, tekstil dan produk tekstil, produk personal dan produk rumahtangga.2.2.6 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan2.2.6.1 Ukuran Perusahaan (Size)Ukuran suatu perusahaan dapat mempengaruhi luas pengungkapan informasi dalam laporankeuangan mereka. Secara umum perusahaan besar akan mengungkapkan informasi lebihbanyak daripada perusahaan kecil. Teori agensi menyatakan bahwa perusahaan besarmemiliki biaya keagenan yang lebih besar daripada perusahaan kecil (Marwata, 2001 dalamFahrizqi (2010)). Oleh karena itu perusahaan besar akan mengungkapkan informasi yanglebih banyak sebagai upaya untuk mengurangi biaya keagenan tersebut.Perusahaan besar juga akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada perusahaankecil, karena perusahaan besar akan menghadapi resiko politis yang lebih besar dibandingperusahaan kecil. Secara teoritis perusahaan besar tidak akan lepas dari tekanan politis, yaitutekanan untuk melakukan pertanggungjawaban sosial. Pengungkapan sosial yang lebih besarmerupakan pengurangan biaya politis bagi perusahaan (Hasibuan, 2001 dalam Fahrizqi(2010)). Dengan mengungkapkan kepedulian pada lingkungan melalui laporan keuangan,maka perusahaan dalam jangka waktu panjang bisa terhindar dari biaya yang sangat besarakibat dari tuntutan masyarakat.Penjelasan lain yang juga sering diajukan adalah perusahaan besar memiliki sumber dayayang besar, sehingga perusahaan perlu dan mampu untuk membiayai penyediaan informasiuntuk keperluan internal. Informasi tersebut sekaligus menjadi bahan untuk keperluanpengungkapan informasi kepada pihak eksternal, sehingga tidak perlu ada tambahan biayayang besar untuk dapat melakukan pengungkapan dengan lebih lengkap.Sebaliknya, perusahaan dengan sumber daya yang relatif kecil mungkin tidak memilikiinformasi siap saji sebagaimana perusahaan besar, sehingga perlu ada tambahan biaya yangrelatif besar untuk dapat melakukan pengungkapan selengkap yang dilakukan perusahaanbesar. Perusahaan kecil umumnya berada pada situasi persaingan yang ketat denganperusahaan yang lain. Mengungkapkan terlalu banyak tentang jati dirinya kepada pihakeksternal dapat membahayakan posisinya dalam persaingan sehingga perusahaan kecilcenderung tidak melakukan pengungkapan selengkap perusahaan besar (Singhvi danDesai,1971; Buzby,1975 dalam Fahrizqi (2010)).H1 : Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan CSR2.2.6.2 ProfitabilitasHubungan antara pengungkapan CSR dan profitabilitas perusahaan telah dipostulasikanuntuk merefleksikan pandangan bahwa kepekaan sosial membutuhkan gaya managerial yangsama sebagaimana yang diperlukan untuk dapat membuat perusahaan menguntungkan(profitable) Bowman dan Haire (1976) dalam Fahrizqi (2010). Pengungkapan CSR
  12. 12. merupakan cerminan suatu pendekatan manajemen dalam menghadapi lingkungan yangdinamis dan multidimensional serta kemampuan untuk mempertemukan tekanan sosialdengan reaksi kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, ketrampilan manajemen perludipertimbangkan untuk survive dalam lingkungan perusahaan masa kini (Cowen et al., 1987)dalam Fahrizqi (2010).Heinze (1976) dalam Fahrizqi (2010) menyatakan bahwa profitabilitas merupakan faktoryang memberikan kebebasan dan fleksibilitas kepada manajemen untuk mengungkapkanpertanggungjawaban sosial kepada pemegang saham. Hal ini berarti semakin tinggi tingkatprofitabilitas perusahaan maka semakin besar pengungkapan informasi sosial yang dilakukanoleh perusahan.H2 : Profitabilitas berpengaruh terhadap pengungkapan CSR2.2.6.3 LeverageRasio leverage merupakan proporsi total hutang terhadap rata-rata ekuitas pemegang saham.Rasio tersebut digunakan untuk memberikan gambaran mengenai struktur modal yangdimiliki perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat resiko tak tertagihnya suatu utang.Scott (2000) dalam Fahrizqi (2010) menyampaikan pendapat yang mengatakan bahwasemakin tinggi leverage kemungkinan besar perusahaan akan mengalami pelanggaranterhadap kontrak utang, maka manajer akan berusaha untuk melaporkan laba sekarang lebihtinggi dibandingkan laba dimasa depan. Dengan laba yang dilaporkan lebih tinggi akanmengurangi kemungkinan perusahaan melanggar perjanjian utang. Manajer akan memilihmetode akuntansi yang akan memaksimalkan laba sekarang.Menurut Belkaoui dan Karpik (1989) dalam Fahrizqi (2010) keputusan untukmengungkapkan CSR akan mengikuti suatu pengeluaran untuk pengungkapan yangmenurunkan pendapatan. Perusahaan dengan rasio leverage yang tinggi mengakibatkanpengawasan yang tinggi dilakukan oleh debtholder terhadap aktivitas perusahaan. Sesuaidengan teori agensi maka manajemen perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi akanmengurangi pengungkapan tanggung jawab sosial yang dibuatnya agar tidak menjadi sorotandari para debtholders.H3 : Leverage berpengaruh terhadap pengungkapan CSR2.2.6.4 Ukuran Dewan KomisarisDewan komisaris adalah banyaknya jumlah anggota dewan komisaris dalam suatuperusahaan, dewan komisaris merupakan wakil shareholder dalam perusahaan yang berbadanhukum perseroan terbatas yang berfungsi mengawasi pengelolaan perusahaan yangdilaksanakan oleh manajemen (direksi), dan bertanggung jawab untuk menentukan apakahmanajemen memenuhi tanggung jawab mereka dalam mengembangkan danmenyelenggarakan pengendalian intern perusahaan (Mulyadi, 2002). Sebagai wakil dariprinsipal di perusahaan dewan komisaris dapat mempengaruhi luasnya pengungkapantanggung jawab sosial adalah karena dewan komisaris merupakan pelaksana tertinggi dalamperusahaan.
  13. 13. Dewan komisaris memiliki wewenang untuk mengawasi dan memberikan petunjuk danarahan pada pengelola perusahaan. Dengan wewenang yang dimiliki, dewan komisaris dapatmemberikan pengaruh yang cukup kuat untuk menekan manajemen untuk mengungkapkanCSR. Dengan mengungkapkan informasi sosial perusahaan, image perusahaan akan semakinbaik (Gray et al., 1988 dalam Fahrizqi (2010)).H4 : Ukuran dewan komisaris berpengaruh terhadap pengungkapan CSR2.3 Rerangka Penelitian Ukuran Perusahaan/SIZE Profitabilitas Pengungkapan Tanggungjawab Sosial Leverage Ukuran Dewan Komisaris 1. 3. Metode Penelitian3.1 Jenis PenelitianJenis penelitian ini adalah penelitian kausalitas / asosiatif. Penelitian kausalitas merupakanpenelitian yang memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan antara variabel satu denganvariabel yang lain atau bagaimana suatu variabel dapat mempengaruhi variabel yang lainnya.Dalam hal ini peneliti ingin menjelaskan tentang faktor-faktor yang mempengaruhipengungkapan corporate social responsibility dalam laporan tahunan perusahaan highprofile.
  14. 14. 3.2 Variabel dan Definisi Operasional Variabel3.2.1 Variabel DependenVariabel dependen yang diteliti dalam penelitian ini adalah pengungkapan tanggungjawabsosial dalam laporan tahunan perusahaan high profile yang terdaftar di BEI. Perusahaan yangtermasuk kategori high profile dalam penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak dalamperminyakan dan pertambangan, kimia, hutan, kertas, otomotif, agribisnis, tembakau danrokok, produk makanan dan minuman, media dan komunikasi kesehatan serta transportasidan pariwisata.Pengungkapan CSRVariabel pengungkapan sosial perusahaan diukur dengan metode content analysis. Contentanalysis adalah suatu metode pengkodifikasian teks dari ciri-ciri yang sama untuk ditulisdalam berbagai kelompok (kategori) tergantung pada kriteria yang ditentukan. Agar contentanalysis dapat dilaksanakan dengan cara yang replicable maka dapat dilakukan salah satunyadengan cara checklist.Checklist dilakukan dengan melihat pengungkapan sosial perusahaan dalam 7 kategori yaitu :lingkungan, energi, kesehatan dan keselamatan tenaga kerja, lain-lain tenaga kerja, produk,keterlibatan masyarakat dan umum. Berdasarkan peraturan Bapepam No. VIII.G.2 tentanglaporan tahunan ada 12 item dari 90 item pengungkapan yang tidak sesuai untuk diterapkandengan kondisi di Indonesia. Selanjutnya dilakukan penyesuaian dengan cara menghapuskan12 item pengungkapan tersebut, sehingga secara total tersisa 78 item pengungkapan. Itempengungkapan dalam penelitian ini kemudian dinyatakan dalam bentuk indeks pengungkapansosial. Apabila item pengungkapan tersebut ada dalam laporan tahunan perusahaan makadiberi skor 1, dan jika item pengungkapan tersebut tidak ada dalam laporan tahunanperusahaan maka diberi skor 0.3.2.2 Variabel Independen3.2.2.1 Ukuran Perusahaan (Size)Ukuran perusahaan dapat diukur dengan jumlah karyawan, total nilai aset, volume penjualan,atau peringkat indeks. Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan untuk mengukurtingkat ukuran perusahaan adalah total aktiva. Dalam peneltian ini variabel ukuranperusahaan disajikan dalam bentuk logaritma, karena nilai dan sebarannya yang besardibandingkan variabel yang lain. Adapun pengukurannya dengan menggunakan rumus :Size = Total Aktiva Perusahaan3.2.2.2 ProfitabilitasProfitabilitas diartikan sebagai kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba atau profitdalam upaya meningkatkan nilai pemegang saham. Terdapat beberapa ukuran untukmenentukan profitabilitas perusahaan, yaitu : return of equity, return on assets, earning pershare, net profit margin. Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan untuk mengukurtingkat ukuran perusahaan ini adalah Return on Asset (ROA). Return on asset (ROA)
  15. 15. merupakan ukuran efektifitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan denganmemanfaatkan aktiva yang dimilikinya.Adapun pengukurannya dengan menggunakan rumus :3.2.2.3 LeverageLeverage dapat diartikan sebagai tingkat ketergantungan perusahaan terhadap hutang dalammembiayai kegiatan operasinya, dengan demikian leverage juga mencerminkan tingkat resikokeuangan perusahaan. Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan untuk mengukurtingkat leverage adalah Debt To Equity Ratio (DER).Adapun pengukurannya dengan menggunakan rumus :3.2.2.4 Ukuran Dewan KomisarisUkuran dewan komisaris (UDK) yang dimaksud di sini adalah banyaknya jumlah anggotadewan komisaris dalam suatu perusahaan. Ukuran dewan komisaris dalam penelitian iniadalah konsisten dengan Fahrizqi (2010) yaitu dilihat dari banyaknya jumlah anggota dewankomisaris perusahaan.Adapun pengukurannya dengan menggunakan rumus :3.3 Populasi dan Sampel3.3.1 PopulasiPopulasi mengacu pada keseluruhan kelompok orang, kejadian, atau hal minat yang inginpeneliti investigasi. Populasi yang digunakan untuk penelitian ini adalah perusahaan yangmemiliki tipe high profile dengan ketentuan yaitu perusahaan yang memiliki tenaga kerjabesar, memiliki nilai residu serta memiliki sensitifitas yang tinggi dengan lingkungan sekitar.Dipilihnya satu tipe perusahaan yaitu perusahaan dengan tipe yakni tipe high profile sebagaipopulasi dimaksudkan untuk menghindari bias.3.3.2 SampelSampel adalah subkelompok atau bagian dari populasi. Sampel terdiri atas sejumlah anggotayang dipilih dari populasi. Metoda pengambilan sampel yang akan digunakan dalampenelitian ini adalah metode jugdement sampling yang termasuk salah satu bentuk purposivesampling. Cara ini dilakukan dengan mengambil sampel yang telah ditentukan sebelumnyaberdasarkan maksud dan tujuan penelitian.
  16. 16. Adapun kriteria yang digunakan dalam penelitian sampel adalah sebagai berikut: 1. Perusahaan yang terdaftar di BEI dan sahamnya aktif diperdagangkan selama tahun 2009. 2. Tergolong dalam LQ-45 (konsisten 2 periode tahun 2009) dan 50 Biggest Market Capitalization. 3. Perusahaan publik dengan skala proritas high profile. Dengan ketentuan yakni memiliki jumlah tenaga kerja yang besar, dalam proses produksinya mengeluarakan nilai residu/limbah, memiliki risiko kerja yang tinggi, serta cakupan sosial yang luas. Perusahaan yang termasuk dalam kategori high profile adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perminyakan dan pertambangan, kimia, hutan, kertas, otomotif, agro bisnis, tembakau dan rokok, produk makanan dan minuman, media dan komunikasi, kesehatan serta transportasi dan pariwisata. 4. Tidak termasuk usaha bank atau lembaga keuangan lainnya. 5. Perusahaan yang menyerahkan laporan keuangan mereka dan mengeluarkan annual report periode tahun 2009.Perusahaan yang listing di BEI tahun 2009 adalah sebanyak 343 perusahaan. 1. 4. Jenis dan Sumber DataJenis data yang digunakan adalah data sekunder. Data ini berupa annual report perusahaansampel. Dimana dalam annual report tersebut terdapat informasi kegiatan operasi yangdilakukan perusahaan, baik itu kegiatan yang sehubungan dengan kinerja keuangan maupunkinerja sosial mereka. Annual report merupakan laporan yang diterbitkan perusahaan yangbelum tentu semua perusahaan mengungkapkan atau menerbitkan laporan ini. 1. 5. Teknik Pengumpulan DataData dikumpulkan dengan cara mendokumentasi laporan yang diperlukan dari masing-masing perusahaan. Perusahaan yang diambil datanya dipilih secara acak sesuai dengankriteria yang telah disebut diatas. Proses dokumentasi ini bisa dengan cara mendownloadmaupun mengutip dokumen yang diperlukan.Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari : 1. ICMD (Indonesian Capital Market Directory). 1. Database pasar modal, pojok BEI fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang, tahun 2009. Untuk mengetahui informasi pengungkapan sosial yang diungkapkan. 2. 6. Teknik Analisis Data6.1 Tahapan Analisis Data 1. Mengklasifikasikan tipe perusahaan high profile. Perusahaan yang termasuk kategori high profile dalam penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak dalam perminyakan dan pertambangan, kimia, hutan, kertas, otomotif, agribisnis, tembakau dan rokok, produk makanan dan minuman, media dan komunikasi kesehatan serta transportasi dan pariwisata.
  17. 17. 2. Mengidentifikasi tiap perusahaan sampel apakah perusahaan memenuhi kriteria untuk dijadikan sampel penelitian atau tidak serta perusahaan tersebut konsisten atau tidak dari indeks LQ 45 dan termasuk 50 Biggest Market Capitalization. 3. Memberi tanda checklist pada item-item pengungkapan CSR dan memberi skor untuk setiap item pengungkapan. Pengukuran dengan menggunakan skala dummy, yaitu apabila item tersebut diungkapkan maka diberi skor 1. Namun, apabila item tersebut tidak diungkapkan maka diberi skor 0. 4. Tabulasi data :- Mentabulasi data yang merupakan hasil perhitungan dari ukuran perusahaan denganmenggunakan total aktiva perusahaan.- mentabulasi data berdasarkan hasil perhitungan dari profitabilitas perusaaan denganmenggunakan ROA yaitu laba bersih setelah pajak dibagi dengan total aktiva.- mentabulasi data berdasarkan hasil perhitungan dari leverage perusahaan denganmenggunakan DER yaitu total kewajiban dibagi ekuitas pemegang saham.- Mentabulasi berdasarkan hasil perhitungan dari ukuran dewan komisaris denganmenggunakan jumlah dewan komisaris perusahaan. 1. Data yang telah dikumpul kemudian diproses dan dianalisis dengan menggunakan alat bantu SPSS 17.6.2 Uji NormalitasUji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel penggangguatau residual mempunyai distribusi normal. Model regresi yang baik adalah data yangberdistribusi normal atau mendekati normal. Sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih duludilakukan uji normalitas data. Uji normalitas data dilakukan dengan uji perbandingan antaraskewness dengan standard eror of skewness atau dapat juga dilakukan dengan caramembandingkan kurtosis dengan standard eror of kurtosis. Data dikatakan normal jikatingkat signifikansinya lebih besar dari tingkat alpha yang ditentukan, yaitu 5% atau nilairasio datanya terletak antara -2 sampai 2.6.3 Uji MultikoliniearitasMenyebutkan uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukanadanya kolerasi antara variabel bebas (independen). Untuk menguji adanya multikolinearitasdapat dilakukan dengan menganalisis korelasi antar variabel dan perhitungan nilai toleranceserta variance inflation factor (VIF). Multikolinearitas terjadi jika nilai tolerance lebih kecildari 0,1 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen yang nilainya lebih dari95% . Dan nilai VIF lebih besar dari 10, apabila VIF kurang dari 10 dapat dikatakan bahwavariabel independen yang digunakan dalam model adalah dapat dipercaya dan objektif.6.4 HeteroskedastisitasUji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaanvariance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi dikatakanbaik jika tidak mengandung heteroskedastisitas. Untuk mengetahui ada tidaknya
  18. 18. heterokedastisitas, bisa dilakukan dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabelterikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Ada tidaknyaheteroskedastisitas dilihat dari ada atau tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antaraSRESID dan ZPRED. Dasar analisis yang digunakan adalah jika terbentuk pola tertentu,seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebarkemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Jika tidak adapola yang jelas dan titik-titiknya menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y,maka tidak terjadi heteroskedastisitas.6.5 Uji HipotesisPengujian terhadap hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan dengan carasebagai berikut :6.5.1 Uji t (Uji Parsial)Uji stastistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independensecara individual dalam menerangkan variabel dependen. Pengujian dilakukan denganmenggunakan significance level 0,05 (α=5%). Penerimaan atau penolakan hipotesisdilakukan dengan kriteria sebagai berikut :1. Jika nilai signifikan > 0,05 maka hipotesis ditolak (koefisien regresi tidak signifikan). Iniberarti bahwa secara parsial variabel independen tersebut tidak mempunyai pengaruh yangsignifikan terhadap variabel dependen.2. Jika nilai signifikan ≤ 0,05 maka hipotesis diterima (koefisien regresi signifikan). Iniberarti secara parsial variabel independen tersebut mempunyai pengaruh yang signifikanterhadap variabel dependen.6.5.2 Uji F (Uji Simultan)Uji stastistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimaksudkandalam model mempunyai pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen. Pengujiandilakukan dengan menggunakan significance level 0,05 (α=5%). Ketentuan peneriman ataupenolakan hipotesis adalah sebagi berikut :a. Jika nilai signifikan > 0,05 maka hipotesis diterima (koefisien regresi tidak signifikan). Iniberarti bahwa secara simultan keempat variabel independen tersebut tidak mempunyaipengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.b. Jika nilai signifikan ≤ 0,05 maka hipotesis ditolak (koefisien regresi signifikan). Ini berartisecara simultan keempat variabel independen tersebut mempunyai pengaruh yang signifikanterhadap variabel dependen.6.5.3 Koefisien DeterminasiKoefisien determinasi ( R2 ) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalammenerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi berada di antara 0 dan 1.Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel–variabel independen dalam menjelaskanvariabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati 1 berarti variabel-varibel
  19. 19. independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksivariasi variabel dependen.6.5.4 Analisis Regresi BergandaAnalisis regresi berganda digunakan untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabelindependen terhadap variabel dependen. Variabel independen dalam penelitian ini adalahukuran perusahaan, profitabilitas, leverage dan ukuran dewan komisaris. Sedangkan variabelindependennya adalah indeks pengungkapan CSR. Adapun persamaan untuk mengujihipotesis secara keseluruhan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :Keterangan :Y : Indeks pengungkapan CSRα0 : KonstantX1 : Ukuran perusahaanX2 : ProfitabilitasX3 : LaverageX4 : Ukuran dewan komisarisβ 1…β4 : Koefisien X1…X4εt : Error Daftar PustakaBrigham, Eugene, F and Joel, F Houston,. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Buku 1.Edisi 10. Terjemahan oleh Ali Akbar Yulianto, 2006. Jakarta: Salemba Empat.Elqorni, Ahmad. 2009. “THE MANAGEMENT LECTURE RESUME” Mengenal teorikeagenan, http://elqorni.wordpress.com/2009/02/26/mengenal-teori-keagenan/ diaksestanggal 14 Maret 2011.Fahrizqi, Anggara.. 2010. “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan CorporateSosial Responsibility (CSR) Dalam Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan (Studi Empiris
  20. 20. pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia)”. SkripsiDipublikasikan. Universitas Diponegoro Semarang.Ghozali, Imam, 2007. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Badan PenelitiUniversitas Diponegoro. Semarang.Hendi. 2009. “CSR : Sekilas Sejarah dan Konsep” http://ngenyiz.blogspot.com/2009/02/csr-sekilas-sejarah-dan-konsep.html. diakses tanggal 2 April 2011.IAI. 2004. Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Salemba Empat. Jakarta.Irawan,Irwan. 2009. Triple Buttom Line, Teori Stakeholderhttp://irwanirawan.wordpress.com/2009/06/08/teori-stakeholder/ diakses tanggal 14 Maret2011.Jalal. 2011. “Memperkenalkan ISO 26000 Petunjuk Tanggung Jawab Sosial Paling Pentingdalam Dekade 2011-2020”.http://www.csrindonesia.com/data/articles/20110307132726-a.pdf. diakses tanggal 15 maret2011.Jaringan Usaha Kecil Indonesia. “Pengertian / Definisi Csr – Corporate Social Responsibilty”http://www.usaha-kecil.com/pengertian_csr.html. diakses tanggal 2 April 2011.Junaedi. 2011. “Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan YangMenerapkan ISO 26000 (Studi Pada Perusahaan High Profile Dan Low Profil LQ-45 BEI)”.Skripsi Tidak Dipublikasikan. Universitas Muhammadiyah Malang.Kurniawan, Nova. 2010. Kemungkinan Perubahan Pada Stakeholder UtamaAkuntansi Keuangan http://ib4n3z10nova.wordpress.com/2010/05/24/kemungkinan-perubahan-pada-stakeholder-utama-akuntansi-keuangan/. diakses tanggal 7 April 2011.
  21. 21. Latifah, Sri Wahyuni. 2005. “Analisis Kinerja Keuangan, Kinerja Sosial dan PengungkapanTanggung Jawab Sosial (Studi pada Perusahaan yang termasuk dalam Indeks LQ-45)”.Penelitian Tidak Dipublikasikan. Universitas Muhammadiyah Malang.Mulyadi. 2002. Auditing Jilid 1 Edisi Enam. Salemba Empat. Jakarta.Novitasari, Linanda. 2011. “Analisis Tingkat Kepatuhan Perusahaan High Profile pada ISO26000 Dalam Pengungkapan Corporate Social Responsibility ( Studi Empiris PadaPerusahaan Yang Listing di BEI)”. Skripsi Tidak Dipublikasikan. UniversitasMuhammadiyah Malang.Priyatno, Duwi. 2009. 5 Jam Belajar Olah Data dengan SPSS 17. C.V Andi Offset.Yogyakarta.Rosmasita, Hardhina. 2007. “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Sosial(Social Disclosure) Dalam Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan Manufaktur Di BursaEfek Jakarta”. Skripsi Dipublikasikan. Universitas Islam Indonesia.Sekaran, Uma. 2006. Research Methods For Business Metodologi Penelitian untuk Bisnis.Buku 2 Edisi 4. Salemba Empat. Jakarta.Sulastini, Sri. 2007. “Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Social DisclosurePerusahaan Manufaktur Yang Telah Go Public”. Skripsi Dipublikasikan. Universitas NegeriSemarang.Wahyuni, Endang Dwi. 2005. “Perbandingan Produktivitas Perusahaan Yang BersertifikatISO 9000 (Studi pada Perusahaan yang Bertipe High Profile dan Low Profile)”. PenelitianTidak Dipublikasikan. Universitas Muhammadiyah Malang.Wikipedia. 2010. “Tanggung Jawab Sosial Perusahaan”.
  22. 22. http://id.wikipedia.org/wiki/Tanggung_jawab_sosial_perusahaan. diakses tanggal 2 April2011.Itulah salah satu contoh Proposal Metode penelitian yang bisa saya informasikan kepadaanda semua. Semoga bermanfaat.
  23. 23. Related Posts: Prinsip-Prinsip Akuntansi Dasar Dalil-Dalil Akuntansi Contoh Makalah Teori Akuntansi Contoh Makalah Akuntansi Cara Memahami Matriks BCG Akuntansi Corporate bond fund s Do y ou have Social networ king s iteTags: contoh laporan metode penelitian, contoh proposal, Contoh Proposal MetodePenelitian, contoh proposan metpenTag Cloud Posted Corporate social responsibility Profiling Profiles Corporate bond funds Proposal AmerikasDo you have any comments on Contoh Proposal Metode Penelitian ? Name (required) Mail (will not be published) (required)
  24. 24. Website Centang Dulu Teman!!!© webinar Tombol Suka Facebook Recent Posts o Menghilangkan Bau Kaki Dengan Mudah o Manfaat Minyak Zaitun o Cara Menaklukkan Hati Wanita o Khasiat Buah Naga o Khasiat Buah Alpukat o Manfaat Bengkoang untuk Kulit o Manfaat Madu untuk Kesehatan dan Kecantikan o Cara Menjadi Orang Sukses o Cara Menambah Tinggi Badan Secara Cepat dan Alami o Cara Menambah Berat Badan Secara Alami Categories o Berita Terkini o Coretan o Dijual o Ebook Gratis o Kata-kata Bijak o Keindahan o Makalah o Materi o Olahraga o teknologi o Tips dan Info Blog Sahabat!!! Paijah.com Thelifestory.info
  25. 25. Kumpulan TnT (Tips & Trick) Teknologi, Kesehatan, Motivasi. Endramaulana.com DMCA PROTECTED2011 · Masirfa.com · Supported by Linda Agustina ·

×