Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Kebutuhan aktivitas (mobilisasi)

makalahnya silahkan lihat di...

  • Be the first to comment

Kebutuhan aktivitas (mobilisasi)

  1. 1. KEBUTUHAN AKTIVITAS (MOBILISASI) DISUSUN OLEH: KELOMPOK 6 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KOTA SUKABUMI Program Study S1 Keperawatan https://stikeskotasukabumi.wordpress.com
  2. 2. Definisi kebutuhan aktifitas (mobilisasi) Aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak di mana manusia memerlukannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan kegiatan dengan bebas (kosier, 1989). Kebutuhan Aktivitas (Mobilisasi) adalah kemampuan seseorang untuk berjalan bangkit berdiri dan kembali ke tempat tidur, kursi, kloset duduk, dan sebagianya disamping kemampuan mengerakkan ekstermitas atas. (Hincliff, 1999).
  3. 3. Tujuan dari mobilisasi 1. Memenuhi kebutuhan dasar manusia 2. Mencegah terjadinya trauma 3. Mempertahankan tingkat kesehatan 4. Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari ± hari 5. Mencgah hilangnya kemampuan fungsi tubuh ketahanan otot dan kekuatan otot.
  4. 4. Faktor yang mempengaruhi Mobilisasi 1. Gaya hidup 2. Prosespenyakit daninjuri 3. Kebudayaan 4. Tingkatenergy 5. Usia dan statusperkembangan
  5. 5. jenis-Jenis Mobilisasi  Mobilisasi penuh Mobilisasi penuh merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas.  Mobilisasi sebagian Mobilisasi sebagian merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan yang jelas sehingga tidak mampu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motoris dan sensoris pada area tubuhnya. Mobilisasi sebagian ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu: a. Mobilisasi sebagian temporer merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatr.ya sementara. b. Mobilisasi sebagian permanen merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya tetap.
  6. 6. Pengaturan posisi • Posisi Fowler Posisi setengah duduk atau duduk, bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan. • Posisi Sim Posisi miring ke kanan atau ke kiri. • Posisi Trendelenburg Posisi pasien berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah daripada bagian kaki.
  7. 7. continue Posisi Dorsal Recumbent Posisi berbaring terlentang dengan kedua lutut fleksi (ditarik atau direnggangkan) diatas tempat tidur. Posisi Litotomi Posisi berbaring terlentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya ke atas bagian perut. Posisi Genu Pektoral Posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada bagian atas tempat tidur.
  8. 8. SISTEM TUBUH YANG BERPERAN DALAM KEBUTUHAN AKTIVITAS  Tulang Tulang merupakan organ yang memiliki berbagai fungsi, yaitu fungsi mekanis untuk membentuk rangka dan tempat melekatnya berbagai otot, fungsi sebagai tempat penyimpanan mineral khususnya kalsium dan fosfor  Otot dan Tendom Otot memiliki kemampuan berkontraksi yang memungkinkan tubuh bergerak sesuai dengan keinginan. Otot memiliki origo dan insersi tulang, serta dihubungkan dengan tulang melalui tendon  Ligamen Ligamen merupakan bagian yang menghubungkan tulang dengan tulang.
  9. 9. Continue..  Sistem Saraf Sistem saraf terdiri atas sistem saraf pusat (otak dan modula spinalis) dan sistem saraf tepi (percabangan dari sistem saraf pusat). Setiap saraf memiliki somatic dan otonom.  Sendi Sendi merupakan tempat dua atau lebih ujung tulang bertemu. Sendi membuat segmentasi dari rangka tubuh dan memungkinkan gerakan antar segemen dan berbagai derajat pertumbuhan tulang.
  10. 10. KEBUTUHAN IMOBILITAS • Imobilitas atau imobilisasi merupakan keadaan dimana seseorang tidak dapat bergerak secara bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan (aktivitas), misalnya mengalami trauma tulang belakang, cidera otak berat disertai fraktur pada ekstremitas, dan sebagainya.
  11. 11. Jenis Imobilitas • Imobiltas fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan • Imobilitas intelektual, merupakan keadaan dimana mengalami keterbatasan berpikir • Imobilitas emosional, yakni keadaan ketika mengalami pembatasan secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri.
  12. 12. Perubahan Sistem Tubuh Akibat Imobilitas Perubahan Metabolisme Secara umum imobilitas dapat mengganggu metabolisme secara normal. Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit Terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sebagai dampak dari imobilitas akan mengakibatkan persediaan protein menurun dan konsentrasi protein serum berkurang Gangguan Pengubahan Zat Gizi Terjadinya gangguan zat gizi yang disebabkan oleh menurunnya pemasukan protein dan kalori dapat mengkibatkan pengubahan zat-zat makanan pada tingkat sel menurun.
  13. 13. Continue... Gangguan Fungsi Gastrointestinal Imobilitas Imobilitas dapat menyebabkan gangguan fungsi gastrointestinal. Hal ini desebabkan imobilitas dapat menurunkan hasil makanan yang dicerna Perubahan Sistem Pernafasan Akibat imobilitas, kadar hemoglobin menurun, ekspansi paru menurun, dan terjadinya lemah otot yang dapat menyebabkan proses metabolisme terganggu. Perubahan Kardiovaskuler Perubahan sistem ini akibat imobilitas antara lain dapat berupa hipotensi ortostatik, meningkatnya kerja jantung dan terjadinya pembentukan trombus.
  14. 14. Continue... Perubahan Sistem Muskuloskeletal Gangguan Muskular. Yakni menurunnya massa otot sebagai dampak imobilitas secara langsung. Perubahan Sistem Integumen Hal ini terjadi berupa penurunan elastisitas kulit karena menurunnya sirkulasi darah Perubahan Eliminasi Misalnya penurunan jumlah urine yang mungkin disebabkan kurangnya asupan dan penurunan curah jantung, sehingga aliran darah renal dan urine berkurang. Perubahan Perilaku Perubahan perilaku sebagai akibat imobilitas antara lain, timbulnya rasa bermusuhan, bingung, cemas, emosional tinggi, depresi, perubaha siklus tidur dan menurunnya koping mekanisme.
  15. 15. POSTUR TUBUH Bayi: sistem muskuloskeletal bayi bersifat fleksibel. Ekstremitas lentur dan persendian memiliki ROM lengkap. Posturnya kaku karena kepala dan tubuh bagian atas dibawa ke depan dan tidak seimbang sehingga mudah terjatuh. Batita: kekakuan postur tampak berkurang, garis pada tulang belakang servikal dan lumbal lebih nyata Balita dan anak sekolah: tulang-tulang panjang pada lengan dan tungkai tumbuh. Otot ,ligamen, dan tendon menjadi lebih kuat, berakibat pada perkembangan postur dan peningkatan kekuatan otot. Koordinasi yang lebih baik memungkinkan anak melakukan tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan motorik yang baik
  16. 16. Continue... Remaja: remaja putri biasanya tumbuh dan berkembang lebih dulu dibanding yang laki-laki. Pinggul membesar, lemak disimpan di lengan atas, paha, dan bokong. Perubahan laki-laki pada bentuk biasanya menghasilkan pertumbuhan tulang panjang dan meningkatnya massa otot. Tungkai menjadi lebih panjang dan pinggul menjadi lebih sempit Perkembangan otot meningkat di dada, lengan, bahu, dan tungkai atas. Dewasa: postur dan kesegarisan tubuh lebih baik. Perubahan normal pada tubuh dan kesegarisan tubuh pada orang dewasa terjadi terutama pada wanita hamil. Perubahan ini akibat dari respon adaptif tubuh terhadap penambahan berat dan pertumbuhan fetus. Pusat gravitasi berpindah ke bagian depan. Wanita hamil bersandar ke belakang dan agak berpunggung lengkung. Dia biasanya mengeluh sakit punggung. Lansia: kehilangan progresif pada massa tulang total terjadi pada orangtua.
  17. 17. KEBUTUHAN MEKANIKA TUBUH DAN AMBULASI Mekanika tubuh adalah usaha koordinasi dari muskuskeletal dan sistem saraf untuk mempertahankan keseimbangan yang tepat. Prinsip Mekanika Tubuh 1. Gravitasi. Memandang gravitasi sebagai sumbu dalam pergerakan tubuh. 2. Keseimbangan. Keseimbangan dicapai dengan mempertahankan posisi garis gravitasi diantara garis gravitasi dan pusat tumpuan.
  18. 18. Pergerakan Dasar dalam Mekanika Tubuh Gerakan ( ambulating ). Gerakan yang benar dapat membantu mempertahankan keseimbangan tubuh. Menahan ( squatting ). Dalam melakukan pergantian, posisi menahan selalu berubah. Menarik ( pulling ).menarik dengan benar akan memudahkan untuk memindahkan benda. Mengangkat ( lifting ). Mengangkat merupakan pergerakan daya tarik. Memutar ( Pivoting ) merupakan gerakan untuk memutar anggota tubuh dan bertumpu pada tulang belakang.
  19. 19. Faktor –faktor yang Mempengaruhi Mekanika Tubuh  Status Kesehatan. Terjadi penurunan koordinasi yang disebabkan oleh penyakit berupa berkurangya melakukan aktifitas sehari-hari.  Nutrisi. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan kelemahan otot dan memudahkan terjadi penyakit.contoh: tubuh yang kekurangan kalsium akan lebih mudah fraktur.  Emosi. Kondisi psikologi seseorang dapat mudah memudahkan perubahan perilaku yang dapat menurunkan kemampuan mekanika tubuh dan ambulasi yang baik.  Situasi dan Kebiasaan. Situasi dan kebiasaan yang dilakukan sesorang misalnya sering mengangkat benda-benda yang berat.  Gaya Hidup. Perubahan pola hidup seseorang dapat menyebabkan stress dan kemungkinan besar akan menyebabkan kecerobohan dalam beraktifitas.  Pengetahuan. Pengetahuan yang baik dalam pengguanaan mekanika tubuh akan mendorong seseorang untuk mempergunakannya dengan benar, sehingga mengurangi tenaga yang dikeluarkan
  20. 20. Dampak Mekanik Tubuh yang Salah • Terjadi ketegangan sehingga memudahkan timbulnya kelelahan dan gangguan dalam system muskuloskletal • Resiko terjadi kecelakaan pada system musculoskeletal. Seseorang salah berjongkok atau berdiri akan mudah terjadi kelainan pada tulang veterbra.
  21. 21. MASALAH-MASALAH PADA KEBUTUHAN MOBILISASI a) Masalah muskuloskeletal Menurunnya kekuatan dan kemampuan otot, atropi, kontraktur, penurunan mineral, tulang dan kerusakan kulit. b) Masalah urinari Terjadi statis urine pada pelvis ginjal, pengapuran infeksi saluran kemih dan inkontinentia urine. c) Masalah gastrointestinal Terjadinya anoreksia / penurunan nafsu makan diarrhoe dan konstipasi. d) Masalah respirai Penurunan ekspansi paru, tertumpuknya sekret dalam saluran nafas, ketidak seimbangan asam basa (CO2 O2). e) Masalah kardiofaskuler Terjadinya hipotensi orthostatic, pembentukan trombus.
  22. 22. Upaya mencegahkan terjadinya masalah akibat kurangnya mobilisasi antara lain :1. Perbaikan status gisi 2. Memperbaiki kemampuan monilisasi 3. Melaksanakan latihan pasif dan aktif 4. Mempertahankan posisi tubuh dengan benar sesuai dengan bady aligmen (Struktur tubuh). 5. Melakukan perubahan posisi tubuh secara periodik (mobilisasi untuk menghindari terjadinya dekubitus / pressure area akibat tekanan yang menetap pada bagian tubuh.
  23. 23. PROSES KEPERAWATAN pengkajian ekstremitas • Tanyakan klien tentang • persepsinya terhadap nyeri • Tanyakan klien tentang daya • tahan dan toleransi aktivitas diagnosa Intoleransi aktivitas berhubungan dengan: • - Kesegarisan tubuh yang buruk • - Penurunan mobilisasi
  24. 24. Continue... perencanaan • Klien akan mencapai ROM normal (fleksi dan ekstensi 1800) bahu kiri dalam 4 bulan • Hasil yang diharapkan: • Klien akan ROM pada kesatuan ekstremitas atas • Klien akan menunjukkan aktivitas perawatan diri menggunakan lengan kiri dalam 2 hari • Klien akan mengikuti program latihan secara teratur pada saat pulang
  25. 25. Continue.. implementasi Kriteria dasar cara mengangkat berikut ini: 1. Posisi berat. Berat yang akan diangkat sebaiknya sedekat mungkin dengan pengangkat. Tempatkan obyek sedemikian rupa sehingga menggunakan kekuatan mengangkat yang dimilikiperawat 2. Tinggi obyek. Tinggi yang paling baik untuk diangkat sebaiknya vertikal yaitu sedikit di atas EVALUASI Evaluasi yang diharapkan dari hasil tindakan keperawatan untuk mengatasi gangguan postur tubuh adalah tidak terjadi erubahan atau kesalahan dalam postur tubuh, dan pasien mampuberaktivitas dengan mudah serta tidak merasakan kelemahan.
  26. 26. TERIMAKASIH

×