Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
TATA BAHASA INDONESIA DASAR                    MORFOLOGI(PENGENALAN MORFEM, ALOMORF, PROSES MORFOLOGIS, DAN               ...
termasuk dalam kelas kata nomina (kata benda). Dari penjabaran yang dilakukandi atas, dapat disimpulkan bahwa morfologi me...
c. Dua bentuk bahasa yang berbeda, tetapi memiliki makna yang sama,  merupakan dua morfem yang berbeda. Misalnya kata ayah...
memiliki makna yang berbeda secara polisemi, tetapi tetap merupakan morfem   yang sama.   - Ibunya menjadi kepala sekolah ...
morfologis meskipun bentuk-bentuk tersebut dapat muncul dalam kalimatimperatiif.      Menurut Verhaar kalimat imperatif ad...
dan {pensil} merupakan morfem utuh. Termasuk juga sebagian morfem terikat,seperti {ter-}, {ber-}, {henti}, dan {juang}.   ...
dengan sendirinya telah dapat digunakan secara bebas dan mempunyai kedudukanyang otonom di dalam pertuturan.      Sebalikn...
Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama sepertidiuraikan di atas disebut alomorf. Dengan kata lain al...
Jadi, ada penambahan 1 fonem, yakni fonem /m/.     Untuk mempermudah penganalisisan proses morfofonemik pada satuankata, m...
/me-/ + /cari/ = /mencari/                /pe-/ + /curi/ = /pencuri/Kondisi 4   (1) Morfem afiknya: /me-/, /pe-/   (2) Ben...
Kondisi 7   (1) Morfem afiksnya: /-an/, /ke-an/, /per-an/   (2) Bentuk dasarnya: berakhiran fonem /u/, /o/   (3) Fonem yan...
ber-   + rantai             berantai       ber-   + revolusi           berevolusi       ber-   + kerja              bekerj...
peng-. Perubahan-perubahan itu tergantung pada kondisi bentuk dasar yangmengikutinya. Kaidah-kaidah perubahannya dapat dii...
meN-    + supply               mensupply     peN-    + supply               pensupply     peN-    + survey               p...
peN-     + khayal             pengkhayal     meN -    + habiskan           menghabiskan     meN-     + haruskan           ...
-i        + duduk/dudu?          Duduki/duduki/     -i        + rusak/rusa?/         rusaki/rusaki     -i        + petik/p...
identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya. Misalnya, terdapat padakata membengkak yang berkelas verba dari d...
an lebih dulu diimbuhkan pada dasar atur menjadi kata aturan; kemudian barulahprefiks ber- diimbuhkan pada aturan sehingga...
meja (dari dasar meja), reduplikasi sebagian seperti lekaki (dari dasar laki), danreduplikasi dengan perubahan bunyi, sepe...
(2) Bentuk reduplikasi yang disertai afiks, prosesnya bisa berbentuk: (a) proses    reduplikasi dan proses afiksasi terjad...
dimaksudkan untuk gabungan kata yang memiliki makna idiomatik, persis samadengan yang digunakan Alisyahbana. Sementara ist...
- bagian sehingga dapat disisipkan kata dari misalnya awal tahun, tengah    semester, suku bangsa, pangkal paha, ujung jal...
3. Komposisi Ajektival     Komposisi ajektival adalah komposisi yang pada satuan klausa, berkategoriajektiva. Misalnya :  ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Tata bahasa indonesia dasar

24,521 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Tata bahasa indonesia dasar

  1. 1. TATA BAHASA INDONESIA DASAR MORFOLOGI(PENGENALAN MORFEM, ALOMORF, PROSES MORFOLOGIS, DAN PROSES MORFOFONEMIK) OLEH: DEDI DAMHUDI1. Pendahuluan Seperti kita ketahui, bahasa merupakan media ungkap bagi manusia. Olehkarenanya, bahasa tidak bisa dilepaskan dari keseharian yang dijalankan manusiaterutama dalam berkomunikasi, bahkan sebagai media ungkap dalam setiapkonteks kehidupan. Dalam percakapan sehari-hari, kita selalu mengujarkan ataumenyimak penggunaan kalimat. Kalimat yang kita ucapkan ataukita dengarkan ituselalu terdiri dari kata atau kata-kata. Dengan kata lain, kata atau kata-katalahyang kita gunakan untuk membangun kalimat yang kita ujarkan maupun kitasimak setiap harinya. Peristiwa berbahasa yang dilakukan orang-orang di sekeliling kita tentu sajaberagam jenis dan peristiwanya. Mulai dari penggunaan kata dengan bentuksederhana, misalnya Bu, iya, di dan lain sebagainya. Bukan hanya itu, penggunaankata yang lebih kompleks juga sangat lumrah ditemukan, misalnya kita, bermain,anak-anak, dan sebagainya. Pilihan bentuk kata yang lebih bervariasi jugamerupakan hal yang lumrah kita lakukan baik sadar maupun tidak, misalnya katamain memiliki bentuk kata yang beragam seperti bermain, bermain-main,permainan, pemain, memainkan, dimainkan, dan seterusnya. Adanya aneka bentuk kata seperti tersebut di atas ternyata dibangun dariunsur-unsur yang sebagian berulang sama dan sebagian lagi berbeda-beda. Bukanhanya bentuk kata yang memiliki perbedaan, makna dari masing-masing katatersebut pun memiliki perbedaan. Kata belajar, pelajar, pelajar-pelajar,pelajaran, pengajar, pengajar-pengajar, mengajar, mengajarkan, diajar,diajarkan, dan sebagainya memiliki makna masing-masing. Dari perbedaanbentuk kata dan makna tersebut, memungkinkan terbentuknya golongan atau kelaskata yang juga berbeda. Kata belajar, mengajar, mengajarkan, diajar, dandiajarkan adalah kata-kata yang termasuk kelas kata verba (kata kerja), sedangkankata pelajar, pelajaran, pelajar-pelajar, pengajar-pengajar merupakan kata yang 1
  2. 2. termasuk dalam kelas kata nomina (kata benda). Dari penjabaran yang dilakukandi atas, dapat disimpulkan bahwa morfologi merupakan cabang ilmu bahasa(linguistik) yang menyelidiki seluk beluk struktur kata yang berbeda-beda, disamping juga menyelidiki kemungkinan adanya perubahan golongan kata dan artikata akibat perubahan struktur kata.2. Pengenalan Morfem Morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai maknasecara relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil(KBBI, 2008:929). Dengan kata lain morfem merupakan satuan gramatikalterkecil yang memiliki makna. Dikatakan terkecil artinya tidak dapat dianalisislagi menjadi lebih kecil tanpa merusak maknanya. Misalnya bentuk kata membelidapat dianalisis menjadi dua bentuk terkecil yaitu {me-} dan {beli}. Bentuk {me}adalah sebuah morfem, yakni morfem afiks yang secara gramatikal memilikisebuah makna; dan bentuk {beli} juga morfem, yakni morfem dasar yang secaraleksikal memiliki makna. Kalau kata beli dianalisis menjadi lebih kecil lagimenjadi be- dan li, jelas keduanya tidak memiliki makna apa-apa. Jadi keduanyabukan morfem. Untuk menetapkan sebuah bentuk bahasa adalah morfem atau bukandidasarkan pada kreteria bentuk dan makna itu sendiri, seperti diuraikan di bawahberikut ini.a. Dua bentuk bahasa yang sama atau lebih memiliki makna yang sama merupakan sebuah morfem. Contoh kata bulan pada ketiga kalimat berikut adalah sebuah morfem yang sama. - Bulan depan dia akan menikah. - Sudah tiga bulan dia belum bayar uang SPP. - Bulan November lamanya 30 hari.b. Dua bentuk bahasa yang sama atau lebih memiliki makna yang berbeda merupakan dua morfem yang berbeda. Misalnya kata bunga pada kedua kalimat berikut adalah dua buah morfem yang berbeda. - Bank Indonesia memberi bunga 5 persen pertahun. - Dia datang membawa bunga. 2
  3. 3. c. Dua bentuk bahasa yang berbeda, tetapi memiliki makna yang sama, merupakan dua morfem yang berbeda. Misalnya kata ayah dan bapak pada kedua kalimat berikut adalah dua morfem yang berbeda. - Ayah pergi ke Medan. - Bapak baru pulang dari Medan.d. Bentuk-bentuk bahasa yang mirip (berbeda sedikit) tetapi maknanya sama adalah sebuah morfem yang sama, asal perbedaan bentuk itu dijelaskan secara fonologis. Misalnya bentuk me-, mem-, men-, meny-, meng-, dan menge- pada kata-kata berikut adalah sebuah morfem yang sama. - Melihat {me-} - Membina {mem-} - Mendengar {men-} - Menyusul {meny-} - Mengambil {meng-} - Mengecat {menge-}e. Bentuk bahasa yang hanya muncul dengan pasangan satu-satunya juga disebut sebagai morfem. Misalnya bentuk renta pada konstruksi tua renta, dan bentuk kuyup pada konstruksi basah kuyup adalah juga morfem.f. Bentuk bahasa yang muncul berulang-ulang pada satuan yang lebih besar apabila memiliki makna yang sama merupakan morfem yang sama. Misalnya bentuk baca pada kata-kata berikut adalah sebuah morfem yang sama. - Membaca - Pembaca - Pembacaan - Bacaan - Terbaca - Keterbacaang. Bentuk yang muncul berulang-ulang pada satuan bahasa yang lebih besar (klausa, kalimat) apabila maknanya berbeda secara polisemi merupakan morfem yang sama. Misalnya kata kepala pada kalimat-kalimat berikut 3
  4. 4. memiliki makna yang berbeda secara polisemi, tetapi tetap merupakan morfem yang sama. - Ibunya menjadi kepala sekolah di Palembang. - Nomor teleponnya tertera pada kepala surat itu. - Kepala jarum itu terbuat dari plastik. - Setiap kepala mendapat bantuan sepuluh ribu rupiah. - Tubuhnya memang besar tetapi sayang kepalanya kosong.3. Klasifikasi morfem Chaer (2003:151—157) menjelaskan bahwa morfem terbagi menjadi empatjenis, seperti terurai di bawah ini.a. Morfem bebas dan morfem terikat Yang dimaksud morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiranmorfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Dalam bahasa Indonesia, misalnyabentuk pulang, makan, rumah, dan bagus termasuk morfem bebas. Kita dapatmenggunakan morfem-morfem tersebut tanpa harus terlebih dahulumenggabungkannya dengan morfem lain. Sementara itu, yang dimaksud dengan morfem terikat adalah morfem yangtanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat, begitu juga morfempenanda jamak dalam bahasa inggris. Berkaitan dengan morfem terikat, ada beberapa hal yang perludikemukakan. Pertama, bentuk-bentuk seperti juang, henti, gaul, dan baur jugamerupakan morfem terikat, karena bentuk-bentuk tersebut meskipun bukan afiks,namun tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalamiproses morfologi seperti afikasasi, reduplikasi, dan komposisi. Bentuk-bentukseperti ini biasa disebut bentuk prakategorial. Kedua, sehubungan dengan praktagorial di atas, menurut Verhaar (dalamChaer, 2003:152) bentuk-bentuk seperti baca, tulis dan tendang juga termasukbentuk prakategorial karena bentuk-bentuk tersebut baru merupakan ―pangkal‖kata, sehingga baru bisa muncul dalam pertuturan sesudah mengalami proses 4
  5. 5. morfologis meskipun bentuk-bentuk tersebut dapat muncul dalam kalimatimperatiif. Menurut Verhaar kalimat imperatif adalah kalimat ubahan dari kalimatdeklaratif. Dalam kalimat deklaratif aktif harus digunakan prefiks inflektif me-,dalam kalimat deklaratif pasif harus digunakan prefiks inflektif di- atau ter-;sedangkan dalam kalimat imperatif, juga dalam kalimat partisif, harus digunakanprefiks inflektif 0. Ketiga, bentuk renta (yang hanya muncul dalam bentuk tua renta),kerontang (dalam bentuk kering kerontang), dan bugar (dalam bentuk segarbugar) juga termasuk morfem terikat, karena hanya muncul dalam pasangantertentu, maka bentuk-bentuk tersebut disebut juga morfem unik. Keempat, bentu-bentuk yang termasuk preposisi dan konjung, seperti ke,dari, pada, dan, kalau, dan atau secara morfologis termasuk morfem bebas, tetapisecara sintaksis marupakan bentuk terikat. Kelima, yang disebut klitika merupakan morfem yang agak sukar untukditentukan statusnya; apakah terikat atau bebas. Klitika adalah bentuk-bentuksingkat, biasanya hanya satu silabel, secara fonologis tidak mendapat tekanan,kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat pada bentuk lain, tetapi dapatdipisahkan. Misalnya klitika –lah pada kalimat Ayahlah yang akan datang dapatdipisahkam menjadi Ayahmulah yang akan datang. Begitu juga dengan klitika –ku dalam konstruksi bukuku dapat dipisahkan menjadi buku baruku. Menurut posisinya, klitika dapat dibedakan atas proklitika dan enklitika.Proklitika adalah klitika yang berposisi di muka kata yang diikuti, seperti ku- dankau. Sedangkan enklitika adalah klitika yang berposisi di belakang kata yangdilekati, seperti –lah, –nya, dan –ku.b. Morfem utuh dan morfem terbagi Perbedaan morfem utuh dan morfem terbagi berdasarkan bentuk formalyang dimiliki morfem tersebut. Apakah merupakan satu kesatuah yang utuh ataumerupakan dua bagian yang terpisah karena disisipi oleh morfem lain. Semuamorfem bebas yang dibicarakan di atas seperti {meja}, {kursi}, {kecil}, {laut}, 5
  6. 6. dan {pensil} merupakan morfem utuh. Termasuk juga sebagian morfem terikat,seperti {ter-}, {ber-}, {henti}, dan {juang}. Sementara itu, morfem terbagi adalah morfem yang terdiri dari dua bagianyang terpisah, seperti kata kesatuan. Pada kata kesatuan terdapat satu morfemutuh yakni {satu} dan satu morfem terbagi, yakni {ke-/-an}, begitu juga pada kataperbuatan yang terdiri dari morfem utuh {buat} dan morfem terbagi {per-/-an}. Sehubungan dengan morfem terbagi, Chaer (2003:154) mengemukakanbahwa semua afiks yang disebut konfiks seperti {ke-/-an}, {ber-/-an}, {per-/-an},dan {pe-/-an} adalah morfem terbagi. Namun bentuk {ber-/-an} bisa merupakankonfiks, seperti pada bentuk bermunculan (banyak yang tiba-tiba muncul) danbentuk bermusuhan (saling memusuhi). Tetapi bisa juga bukan merupakankonfiks seperti pada bentuk beraturan (mempunyai aturan) dan berpakaian(mengenakan pakaian). Untuk menentukan apakah bentuk {ber-/-an} konfiks ataubukan, harus diperhatikan makna gramatikal yang disandangnya.c. Morfem segmental dan suprasegmental Perbedaan morfem segmental dan morfem suprasegmental berdasarkan jenisfonem yang membentuknya. Morfem segmental adalah morfem yang dibentukoleh fonem-fonem segmental, seperti morfem {lihat}, {lah}, {sikat}, dan {ber}.Jadi, morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sementara morfemsuprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmentalseperti, tekanan, nada, durasi, intonasi, dan sebagainya.d. Mofem beralomorf zero Dalam linguistik deskriptif ada konsep mengenai morfem beralomorf zeroatau nol (lambangnya berupa Ø), yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidakberwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental),melainkan berupa kekosongan.e. Morfem bermakna leksikal dan morfem tidak bermakna leksikal Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inherentelah memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dulu denganmorfem lain. Misalnya morfem {kuda}, {pergi}, {lari}, dan {merah} adalahmorfem bermakna leksikal. Hal ini disebabkan karena morfem-morfem tersebut 6
  7. 7. dengan sendirinya telah dapat digunakan secara bebas dan mempunyai kedudukanyang otonom di dalam pertuturan. Sebaliknya, morfem tak bermakna leksikal tidak memiliki makna apa-apapada dirinya sendiri. Morfem ini baru mempunyai makna dalam gabungannyadengan morfem lain dalam suatu proses morfologi, misalnya morfem-morfemafiks, seperti {ber-}, {me-}, dan {ter-}.4. Alomorf Alomorf adalah anggota morfem yang sama, yang variasi bentuknyadisebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya (KBBI, 2008:43).Misalnya morfem ber- memnyunyai alomorf ber-, be-, dan bel-. Agar terlihat lebih jelas, alomorf dapat dilihat pada deretan bentuk bahasaberikut:(1) melihat(2) merasa(3) membawa(4) membantu(5) mendengar(6) menduda(7) menyanyi(8) menyikat(9) menggali(10) menggoda(11) mengelas(12) mengetik Dari deretan bentuk di atas, terlihat bentuk yang hampir sama, bukan hanyaitu, makna dari deretan bentuk tersebut juga sama. Bentuk-bentuk tersebut adalahme- pada melihat dan merasa, mem- pada membawa dan membantu, men- padamendengar dan menduda, meny- pada menyanyi dan menyikat, meng- padamenggali dan menggoda, dan menge- pada mengelas dan mengetik. Bentuk me-,mem-, men-, meny-, meng-, dan menge- merupakan sebuah morfem yang sama. 7
  8. 8. Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama sepertidiuraikan di atas disebut alomorf. Dengan kata lain alomorf adalah perwujudankonkret (di dalam pertuturan) dari sebuah morfem. Jadi, setiap morfem memilikialomorf, entah satu alomorf, dua alomorf atau enam alomorf seperti dijelaskan diatas.5. Proses Morfofonemik Morfofonemis adalah perubahan-perubahan fonem yang terjadi sebagaiakibat pertemuan (hubungan) morfem dengan morfem lain (Ramlan, 1987:83).Selain itu, Kridalaksana (dalam Sutarna, 1989:4) mengungkapkan bahwamorfofonemik adalah subsistem yang menghubungkan morfologi dan fonologi.Seperti diketahui morfologi adalah cabang linguistik yang membahas hal tentangpembentukan kata, sedangkan fonologi membicarakan seluk beluk bunyi bahasadan fonem. Adapun yang dibahas dalam morfofonemik ialah terjadinyaperubahan-perubahan fonem sebagai akibat bertemunya morfem yang satu denganmorfem yang lain (proses morfologis). Proses berubahnya fonem (-fonem)sebagai akibat proses morfologis tersebutlah yang disebut sebagai prosesmorfofonemik. Dalam bahasa Indonesia proses morfofonemik hanya terjadi padapertemuan mortem dasar dengan morfem afiks, baik prefiks (awalan), infiks(sisipan), sufiks (akhiran), maupun konfiks (afiks terbelah atau terbagi). Proses morfofonemik terbagi menjadi tiga, seperti diuraikan di bawah ini.a. Proses morfofonemik jenis penambahan fonem Dalam bahasa Indonesia cukup banyak morfem prefiks, infiks, sufiks, dankonfiks yang di dalam proses pembentukan kata mungkin menyebabkanmunculnya fonem baru. Untuk mengetahui ada atau tidaknya proses penambahanfonem pada proses pembentukan kata bisa dilakukan dengan cara menghitungjumlah fonem morfem-morfem yang bertemu dan jumlah fonem kata yangdihasilkannya. Jika jumlah fonem kata jadiannya lebih banyak, jelas terjadipenambahan fonem. Perhatikan contoh di bawah ini. Morfem yang bertemu: /me-/ + /baca/, jumlah fonemnya 6 buah Kata bentukannya: /membaca/, jumlah fonemnya 7 buah Selisihnya: 7-6 = 1 buah 8
  9. 9. Jadi, ada penambahan 1 fonem, yakni fonem /m/. Untuk mempermudah penganalisisan proses morfofonemik pada satuankata, maka proses perubahan fonem didasarkan atas kondisi tertentu denganurutan sebagai berikut.(1) (Wujud) morfem afiksnya;(2) bentuk dasarnya;(3) fonem yang ditambahkan atau yang muncul; dan(4) contoh konkretnya.Kondisi 1 (1) Morfem afiksnya: /me-/, /pe-/ (2) Bentuk dasarnya: berfonem awal: /b/, /f/, /p/ tak luluh (3) Fonem yang ditambahkan (muncul): /m/ (4) Contoh : /me-/ + /bawa/ = /membawa/ /me-/ + /fitnah/ = /memfitnah/ /me-/ + /produksi/ = /memproduksi/ /me-/ + /perkara/ + /kan/ = /memperkarakan/ /pe-/ + /buat/ = /pembuat/Kondisi 2 (1) Morfem afiksnya: /me/, /pe-/ (2) Bentuk dasarnya: berfonem awal: /d/, /s/, /t/ tak luluh (3) Fonem yang muncul: /n/ (4) Contoh: /me-/ + /duga/ = /menduga/ /me-/ + /traktir/ = /mentraktir/ /pe-/ + /duduk/ = /penduduk/Kondisi 3 (1) Morfem afiksnya: /me-/, /pe-/ (2) Bentuk dasarnya: berfonem awal: /c/, /j/ (3) Fonem yang muncul: /n/ (4) Contoh: /me-/ + /jauh/ = /menjauh/ /me-/ + /jarring/ = /menjaring/ /pe-/ + /jajah/ = /penjajah/ 9
  10. 10. /me-/ + /cari/ = /mencari/ /pe-/ + /curi/ = /pencuri/Kondisi 4 (1) Morfem afiknya: /me-/, /pe-/ (2) Bentuk dasarnya: berfonem awal: /g/, /h/, /x/, /vocal/, /k/ tak luluh (3) Fonem yang muncul: /ng/ (4) Contoh: /me-/ + / gelar/ = /menggelar/ /me-/ + /xayal/ = /mengxayal/ /me-/ + /aku/ = /mengaku/ /me-/ + /hemat/ = /menghemat/ /me-/ + /kaji/ = /mengkaji/ /pe-/ + /ganggu/ = /pengganggu/ /pe-/ + /ikut/ = /pengikut/Kondisi 5 (1) Morfem afiksnya: /me-/, /pe-/ (2) Bentuk dasarnya: satu suku kata (eka suku) (3) Fonem yang muncul: /nge/ (4) Contoh: /me-/ + /bom/ = /mengebom/ /me-/ + /cat/ = /mengecat/ /pe-/ + /bor/ = /pengebor/ /pe-/ + /las/ = /pengelas/Kondisi 6 (1) Morfem afiksnya: /-an/, /ke-an/, /pe-an/, /per-an/, /ber-an/ (2) Bentuk dasarnya: berakhir dengan /n/ (3) Fonem yang muncul: bunyi luncuran /y/ (4) Contoh: /tepi/ + /-an/ = /tepiyan/ /gali/ + /-an/ = /galiyan/ /ke-an/ + /seni/ = /keseniyan/ /pe-an/ + /lari/ = /pelariyan/ /per-an/ + /wali/ = /perwaliyan/ /ber-an/ + /lari/ = /berlariyan/ 10
  11. 11. Kondisi 7 (1) Morfem afiksnya: /-an/, /ke-an/, /per-an/ (2) Bentuk dasarnya: berakhiran fonem /u/, /o/ (3) Fonem yang muncul: bunyi luncuran /w/ (4) Contoh:b. Proses morfofonemik jenis penghilangan fonem Proses penghilangan fonem /N/ pada meN- dan peN- terjadi sebagai akibatpertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal denganfonem /l, r, y, w, dan nasal/. Terlihat seperti contoh di bawah ini. meN- + lerai melerai meN- + lupaakan melupakan meN- + lestarikan melestarikan meN- + ramalkan meramalkan meN + rusakkan merusakkan meN + resahkan meresahkan meN + yakinkan meyakinkan meN + wajibkan mewajibkan meN- + wahyukan mewahyukan meN- + wakili mewakili meN- + warisi mewarisi meN- + warnai mewarnai meN- + nyanyi menyanyi meN- + nganga menganga meN- + merahi memerahi meN- + nalarkan menalarkan peN- + lerai pelerai peN- + lupa pelupa Fonem /r/ pada morfem ber-, per-, dan ter- hilang sebagai akibat pertemuanmorfem-morfem itu dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/ danbentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /er/ misalnya; 11
  12. 12. ber- + rantai berantai ber- + revolusi berevolusi ber- + kerja bekerja ber- + serta beserta per- + ragakan peragaan per- + ramping peramping ter- + rasa terasa ter- + rekam terekam Fonem-fonem /p, t, s, k/ pada awal morfem hilang akibat pertemuan morfemmeN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem-fonem itu.Seperti contoh di bawah ini. meN- + paksa memaksa meN- + tulis menulis meN- + sapu menyapu meN- + karang mengarang peN- + pangkas pemangkas peN- + tulis penulis peN- + sapu penyapu peN- + karang pengarang Pada kata memperagakan dan menertawakan fonem /p/ dan /t/ yangmerupakan fonem awal bentuk dasar kata itu tidak hilang kaena fonem-fonem itumerupakan fonem awal afiks, ialah afiks per- dan ter-, demikian juga pada kata-kata menterjemahkan, mensuply, mengkoordinir, penterjemah, pensurvey, fonem-fonem /t, s, k/ yang merupakan fonem awal bentuk dasar kata itu tidak hilangkarena bentuk dasar kata-kata itu berasal dari kata asing yang masihdipertahankan keasingannya.c. Proses morfofonemik jenis penggantian fonem Proses perubahan fonem, misalnya terjadi akibat pertemuan morfem meN-dan peN- dengan bentuk dasarnya. Fonem /N/ pada kedua morfem itu berubahmenjadi /m, n, n, n/ hingga morfem meN- berubah menjadi mem-, men-, meny-,dan meng-. Sementara itu, morfem peN- berubah menjadi pem-, pen-, peny-, dan 12
  13. 13. peng-. Perubahan-perubahan itu tergantung pada kondisi bentuk dasar yangmengikutinya. Kaidah-kaidah perubahannya dapat diikhtisarkan sebagai berikut.1. Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi fonem/m/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan /p, b, f/. meN- + paksa memaksa meN- + periksa memeriksa meN- + pukul memukul peN- + periksa pemeriksa peN- + pukul pemukul peN- + perkosa pemerkosa meN- + bantu membantu meN- + buru memburu meN- + bangun membangun peN- + bantu pembantu peN- + buru pemburu meN- + fitnah memfitnah meN- + fatwakan memfatwakan peN- + fitnah pemfitnah2. Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi fonem /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawala dengan fonem /t, d, s,/. Fonem /s/ di sini hanya khusus bagi beberapa bentuk dasar yang berasal dari bahasa asing yang masih mempertahankan keasingannya. Misalnya : meN- + tulis menulis meN- + tarik menarik peN- + tulis penulis peN- + tarik penarik meN- + datangkan mendatangkan meN- + duga menduga peN- + datang pendatang peN- + dapat pendapat meN- + support mensuport 13
  14. 14. meN- + supply mensupply peN- + supply pensupply peN- + survey pensurvey3. Fonem /n/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan / s,s,c,j/. Misalnya: meN- + sapu menyapu meN- + sangkal menyangkal peN- + suluh penyuluh peN- + sumpah penyumpah meN- + syaratkan mensyaratkan meN- + syukuri mensyukuri meN- + cari mencari meN- + coba mencoba peN- + cukur pencukur peN- + cemas pencemas meN- + jadi menjadi meN- + jaga menjaga peN- + judi penjudi4. Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi /n,/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem/ k, g, x, h, dan vocal/. Misalnya : meN- + kacau mengacau meN- + kutip mengutip peN- + kacau pengacau peN- + karang pengarang meN- + garis menggaris meN- + giatkan menggiatkan peN- + garis penggaris peN- + gerak penggerak meN- + khayalkan mengkhayalkan meN- + khitankan mengkhitankan peN- + khianat pengkhianat 14
  15. 15. peN- + khayal pengkhayal meN - + habiskan menghabiskan meN- + haruskan mengharuskan peN- + hias penghias peN- + halau penghalau meN- + angkut mengangkut meN- + edarkan mengedarkan meN- + ikat mengikat peN- + angkut pengangkut peN- + edar pengedar5. Pada kata mengebom, mengecat, mengelas, mengebur, pengebom, pengecat, juga terdapat proses morfofonemik yang berupa perubahan, ialah perubahan fonem /N/ menjadi /n,/: meN- + bom mengebom meN- + las mengelas peN- + bom pengebom peN- + cat pengecat Di samping proses perubahan, pada kata-kata itu terjadi juga prosespenambahan, ialah penambahan fonem/ e/.6. Fonem /r/ pada morfem ber- dan per- mengalami perubahan menjadi /l/ sebagai akibat pertemuan morfem tersebut dengan bentuk dasarnya yang berupa morfem ajar : Ber- + ajar belajar Per- + ajar pelajar7. Fonem /?/ pada morfem-morfem duduk /dudu?/, rusak /rusa?/, petik /, peti?, dan sebagainya, berubah menjadi /k/ sebagai akibat pertemuan morfem- morfem itu dengan morfem ke- an, peN-an, dan –i. seperti contoh di bawah ini. Ke-an + duduk/dudu?/ kedudukan/kedudukan/ Ke-an + rusak /rusa?/ kerusakan/kᵊrusakan / peN- an + duduk/dudu?/ pendudukan/pendudukan peN- an + petik/peti?/ pemetikan/ 15
  16. 16. -i + duduk/dudu? Duduki/duduki/ -i + rusak/rusa?/ rusaki/rusaki -i + petik/peti? Petiki/petiki/6. Proses Morfologis Proses morfologis pada dasarnya adalah proses pembentukan kata darisebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks (dalam proses atiksasi),pengulangan (dalam proses reduplikasi), penggabungan (dalam proseskomposisi), pemendekan (dalam proses akronimisasi), dan pengubahan status(dalam proses konversi) (Chaer, 2008:25).a. Afiksasi Afiksasi adalah proses perubahan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.Dalam proses ini terlibat unsur-unsur sebagai berikut, (1) dasar atau bentuk dasar,(2) afiks, dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan. Proses ini dapat bersifatinflektif (perubahan bentuk kata yang menunjukkan berbagai hubungangramatikal) dan dapat pula derivatif (pengimbuhan afiks yang tidak bersifatinfleksi pada bentuk dasar untuk membentuk kata). Bentuk dasar atau dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapatberupa akar, yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi,misalnya meja, beli, makan, dan sikat. Dapat pula berupa bentuk kompleks,seperti terbelakang pada lata keterbelakangan, berlaku pada kata memberlakukan,dan aturan pada kata beraturan. Selain itu, afiksasi dapat berupa frase seperti ikutserta pada kata keikutsertaan, dan lain sebagainya. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat yangdiimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Sesuai dengansifat kata yang dibentuknya, dibedakan adanaya dua jenis afiks, yakni afiksinflektif dan afiks derivatif. Yang dimaksud dengan afiks inflektif adalah afiksyang digunakan dalam pembentukan kata inflektif atau paradigma infleksional.Dalam bahasa Indonesia dibedakan adanya prefiks me- yang inflektif dan prefiksme- yang dirivatif. Sebagai afiks inflektif, prefiks me- menandai bentuk kalimatindikatif aktif, sebagai kebalikan dari prefiks di- yang menandai bentuk indikatifpasif. Sebagai afiks derivatif, prefiks me- membentuk kata baru, yaitu kata yang 16
  17. 17. identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya. Misalnya, terdapat padakata membengkak yang berkelas verba dari dasar ajektifa atau pada katamematung yang berkelas verba dari dasar nomina. Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar biasanya dibedakanmenjadi prefiks, infiks, sufiks, konfiks, interfiks, dan transfiks. Agar lebih jelasakan dijabarkan seperti di bawah ini.(1) Prefiks Prefiks adalah afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar, seperti me-pada kata menghibur. Prefiks dapat muncul bersama dengan sufiks atau ariks lain.Misalnya, prefiks ber- bersama sufiks –kan pada kata berdasarkan.(2) Infiks Infiks ialah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar. Misalnya infiks–el- pada kata telunjuk dan lain sebagainya.(3) Sufiks Sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar.Misalnya, sufiks –an pada kata bagian, sufiks –kan pada kata bagikan, dan lainsebagainya.(4) Konfiks Konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertamaberposisi pada awal bentuk dasar dan bagian yang kedua berposisi pada akhirbentuk dasar. Karena konfiks ini merupakan morfem terbagi, maka kedua bagiandari afiks itu dianggap sebagai satu kesatuan dan pengimbuhannya dilakukansekaligus. Dalam bahasa Indonesia ada konfiks per-/-an seperti terdapat pada katapertemuan, konfiks ke-/-an pada kata keterangan, dan konfiks ber-/-an sepertipada kata berciuman. Dalam penggunaan konfiks dalam bahasa Indonesia, ada dua hal yang perludiperhatikan. Pertama, untuk menentukan dua buah afiks (prefiks dan sufiks)adalah konfiks atau bukan harus dilihat makna gramatikalnya yang terjadi dalamproses afiksasi. Misal, bentuk ber-/-an pada kata beraturan bukanlah konfiks,sebab maknanya adalah mempunyai aturan atau ada aturannya. Jadi jelas sufiks – 17
  18. 18. an lebih dulu diimbuhkan pada dasar atur menjadi kata aturan; kemudian barulahprefiks ber- diimbuhkan pada aturan sehingga terbentuklah kata beraturan. Berbeda dengan bentuk ber-/-an pada kata bermunculan, kedua bentuk padakata ini disebut sebagai konfiks karena makna kata bermunculan adalah banyakyang muncul dan tak beraturan. Jadi ber-/-an pada kata bermunculan diimbuhkansecara bersamaan pada bentuk dasar muncul menjadi bermunculan. Masalah kedua yang perlu diperhatikan mengenai konfiks dalam bahasaIndonesia adalah mengenai bentuk me-/-i dan me-/-kan. Ada yang mengatakankedua bentuk ini merupakan sebuah konfiks, namun ada pula yang mengatakanbahwa kedua bentuk tersebut bukanlah konfiks. Yang mengatakan kedua bentukitu bukan konfiks beralasan, bahwa sufiks –i dan sufiks –kan adalah afiks derivatifatau afik pembentuk kata. Umpamanya kata melewati dan melewatkanmempunyai proses pembentukan sebagai berikut: mula-mula pada akar lewatdiimbuhkan afiks derivatif –i dan –kan sehingga menjadi lewati dan lewatkan.Setelah itu baru diimbuhkan prefiks me- pada lewati dan lewatkan sehinggamenjadi melewati dan lewatkan. Jadi prefiks me- pada kata melewati danmelewatkan adalah sebuah afiks inflektif (bisa saja diganti dengan prefiks di-, ter-, ku-)(5) Interfiks Interfiks adalah sejenis infiks atau elemen penyambung yang muncul dalamproses penggabungan dua buah unsur. Interfiks banyak kita jumpai dalam bahasa-bahasa Indo German.(6) Transfiks Transfiks adalah afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan padakeseluruhan dasar. Transfiks ini kita dapati dalam bahasa Semit (Arab dan Ibrani).Dalam bahasa-bahasa ini dasar biasanya berupa konsonan-konsonan, biasanyatiga konsonan, seperti k-t-bb. Reduplikasi Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baiksecara keseluruhan, sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi (Chaer,2003:183). Oleh karenanya, lazim dibedakan ada reduplikasi penuh, seperti meja- 18
  19. 19. meja (dari dasar meja), reduplikasi sebagian seperti lekaki (dari dasar laki), danreduplikasi dengan perubahan bunyi, seperti bolak-balik (dari dasar balik). Dalam linguistik Indonesia sudah lazim digunakan sejumlah istilahsehubungan dengan reduplikasi dalam bahasa Jawa dan Sunda, seperti istilah-istilah berikut.(1) Reduplikasi dwilingga, yakni pengulangan morfem dasar, seperti aki-aki, kursi-kursi, dan sebagainya.(2) Reduplikasi dwilingga salin suara, yakni pengulangan morfem dasar dengan perubahan vokal dan fonem lainnya, seperti bolak-balik, mondar-mandir, dan sebagainya.(3) Reduplikasi dwipurwa, yakni pengulangan silabel pertama, seperti lekaki, pepatah, dan lain sebagainya.(4) Reduplikasi dwiwasana, yakni pengulangan pada akhir kata, seperti cengengesan.(5) Reduplikasi trilingga, yakni pengulangan morfem dasar sampai dua kali, seperti dag-dig-dug, cas-cis-cus, dan ngak-ngik-ngok. Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatis (infleksional) dan dapat pulabersifat derivasional. Reduplikasi yang paradigmatis tidak mengubah identitasleksikal, tetapi hanya memberi makna gramatikal. Misalnya, meja-meja berartibanyak meja dan kecil-kecil berarti banyak yang kecil. Sementara itu, yangbersifat derivasional membentuk kata baru atau kata yang identitas leksikalnyaberbeda dengan bentuk dasarnya. Misalnya, kata laba-laba dari bentuk dasar labadan pura-pura dari bentuk dasar pura. Chaer (2003:184) mengungkapkan ada beberapa catatan yang harusdiperhatikan mengenai reduplikasi, seperti berikut ini.(1) Bentuk dasar reduplikasi dalam bahasa Indonesia dapat berupa morfem dasar seperti meja yang menjadi meja-meja, bentuk berimbuhan seperti pembangunan menjadi pembangunan-pembangunan, dan bentuk gabungan kata seperti surat kabar menjadi surat-surat kabar atau surat kabar-surat kabar. 19
  20. 20. (2) Bentuk reduplikasi yang disertai afiks, prosesnya bisa berbentuk: (a) proses reduplikasi dan proses afiksasi terjadi bersamaan seperti pada bentuk berton- ton dan bermeter-meter; (b) proses reduplikasi terjadi terlebih dahulu, baru disusul oleh proses afiksasi, seperti pada bentuk berlari-lari dan mengingat- ingat (dasarnya lari-lari dan ingat-ingat); (c) proses afiksasi terjadi terlebih dahulu, baru kemudian diikuti oleh proses reduplikas, seperti pada kesatuan- kesatuan dan memukul-memukul (dasarnya kesatuan dan memukul).(3) Pada dasar yang berupa gabungan kata, proses reduplikasi mungkin harus berupa reduplikasi parsial. Misalnya, ayam itik-ayam itik dan sawah ladang- sawah ladang (dasarnya ayam itik dan sawah ladang) untuk reduplikasi penuh. Untuk reduplikasi persial seperti pada kata surat-surat kabar dan rumah-rumah sakit.(4) Banyak orang menyangka bahwa reduplikasi dalam bahasa Indonesia hanya bersifat paradigmatis dan hanya memberi makna jamak atau kevariasian. Namun, sebenarnya reduplikasi dalam bahasa Indonesia juga bersifat derivasional. Oleh karenanya, muncul bentuk-bentuk seperti mereka-mereka, kita-kita, kamu-kamu dan dia-dia tidak dapat dianggap menyalahi kaidah bahasa Indonesia.(5) Ada pakar yang menambahkan adanya reduplikasi semantic, yakni dua buah kata yang maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan gramatikal. Misalnya, ilmu pengetahuan, hancur luluh, dan alim ulama.c. Komposisi Menurut Chair (2008:209) komposisi adalah proses penggabungan dasardengan dasar (biasanya berupa akar maupun bentuk berimbuhan) untuk mewadahisuatu ―konsep‖ yang belum tertampung dalam sebuah kata. Seperti kita ketahuikonsep-konsep dalam kehidupan kita banyak sekali, sedangkan jumlah kosakataterbatas. Oleh karena itu, proses komposisi ini dalam bahasa Indonesia merupakansuatu mekanisme yang cukup penting dalam pembentukan dan pengayaankosakata. Dalam pembicaraan komposisi C.A. Mees (dalam Chaer, 2008:209)menggunakan istilah kata majemuk dan aneksi. Dengan istilah kata majemuk 20
  21. 21. dimaksudkan untuk gabungan kata yang memiliki makna idiomatik, persis samadengan yang digunakan Alisyahbana. Sementara istilah aneksi dimaksudkanuntuk menyebut gabungan kata yang maknanya masih dapat ditelusuri secaragramatikal, seperti lukisan Yusuf memiliki makna ‗ lukisan milik Yusuf‘ ataulukisan buatan Yusuf; dan meja tulis bermakna meja tempat menulis. Jadi C.AMees menggunakan istilah kata majemuk untuk komposisi yang bermaknaidiomatik, dan aneksi untuk komposisi yang bukan bermakna idiomatikal. Kridalaksana (dalam Chaer, 2008:210) menyamakan istilah komposisi samadengan paerpaduan atau pemajemukan, yaitu proses penggabungan dua leksematau lebih yang membentuk kata. Hasil proses itu disebut paduan leksem ataukompositum, yang menjadi calon kata majemuk yang berasal dari paduan katadengan kata, bukan leksem dengan leksem. Jadi dengan kata lain kalau komposisiadalah masalah morfologi, maka frase adalah masalah sintaksis. Oleh karena itu,ada kemungkinan adanya sebuah data kebahasaan apabila dilihat adari segimorfologi sebagai sebuah komposisi, tetapi kalau dilihat dari segi sintaksissebagai sebuah frase.1. Komposisi Nominal Komposisi nominal adalah komposisi yang pada satuan klausa berkategorinomina. Dalam kaitannya dengan masalah semantik dapat dibedakan adanya limamacam komposisi nomina, seperti dijabarkan di bawah ini.a. Komposisi bermakna gramatikal Makna gramatikal adalah makna yang muncul dalam proses penggabungandasar dengan dasar dalam pembentukan sebuah komposisi nominal, antara lainadalah makna yang menyatakan hal-hal sebagai berikut.1) Gabungan biasa, sehingga diantara keduanya dapat disisipkan kata dan makna gramatikal gabungan biasa ini akan terjadi apabila keduanya memiliki komponen; - pasangan antonim relasional misalnya: ayah ibu, murid guru, suami istri, adik kakak, penjual pembeli, pembaca penulis dan sebagainya; - anggota dari suatu medan makna misalnya topan badai, sawah ladang, kampung halaman, piring mangkuk, cabai bawang dan sebagainya. 21
  22. 22. - bagian sehingga dapat disisipkan kata dari misalnya awal tahun, tengah semester, suku bangsa, pangkal paha, ujung jalan dan sebagainya. - kepunyaan atau memiliki, sehingga dapat disisipkan kata milik misalnya sepatu adaik, rumah nenek, tanah Negara, mobil direktur dan sebagainya. - asal bahan, sehingga dapat disisipkan kata terbuat dari misalnya kursi rotan, uang logam, jendela kaca, map plastic, dan sebagainya.2) Komposisi bermakna idiomatik Artinya seluruh komposisi itu memiliki makna yang tidak dapat diprediksisecara leksikal maupun gramatikal. Misalnya: orang tua dalam arti ‗ayah dan ibu‘. meja hijau dalam arti ‗pengadilan‘.3) Komposisi nominal metaforis Artinya dengan mengambil salah satu komponen makna yang dimiliki olehunsur tersebut. - Kaki mobil - daun jendela - Kepala surat - daun telinga4) Komposisi Nomial nama dan istilah Contoh: Nama : Hotel Indonesia, Jalan Jagorawi, Kampung Bali, dan sebagainya. Istilah : buku ajar, lepas landas, suku cadang, dan sebagainya.5) Komposisi Nominal dengan Adverbia Misalnya : sedikit air, banyak hujan, beberapa siswa, kurang semen dan sebagainya.2. Komposisi Verbal Komposisi verbal adalah komposisi yang pada satuan klausa berkategoriverbal. Misalnya : - Mereka menyanyi menari sepanjang malam. - Dia datang menghadap kepala sekolah. 22
  23. 23. 3. Komposisi Ajektival Komposisi ajektival adalah komposisi yang pada satuan klausa, berkategoriajektiva. Misalnya : - Gadis cantik molek itu termenung. - Kaya miskin di hadapan Allah sama saja.7. Penutup Penggunaan media bahasa dalam komunikasi sehari-hari memangmemungkinkan bagi berbagai bidang ilmu terutama morfologi untuk menelaahpenggunaan bahasa tersebut. Morfologi sebagai bagian dari ilmu linguistikmenjadikan bahasa yakni kata dan pembentukan kata menjadi bidang kajiannya.Dengan kata lain, morfologi adalah bidang ilmu lingustik yang membicarakanmasalah bentuk-bentuk dan pembentukan kata, maka semua satuan bentuksebelum menjadi kata dengan segala bentuk dan jenisnya. Melalui pembahasanyang dilakukan dalam sajian makalah ini, diharapkan mampu mengantarpengenalan terhadap ilmu morfologi.DAFTAR RUJUKANChaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: PT. Rineka Cipta.Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta.Ramlan, M. 1987. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV. Karyono.Tim redaksi. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia-Edisi Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 23

×