Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Pelajaran sekolah sabat ke-12 triwulan III 2018

5,915 views

Published on

Pelajaran sekolah sabat ke-12 triwulan III 2018

Published in: Spiritual
  • Be the first to comment

Pelajaran sekolah sabat ke-12 triwulan III 2018

  1. 1. TAHANAN DI KAISAREA Pelajaran 12 untuk 22 September 2018 Diadaptasi dari www.fustero.es www.gmahktanjungpinang.org Kisah Para Rasul 26:29 “‘Aku mau berdoa kepada Allah, supaya segera atau lama-kelamaan bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini’”
  2. 2. Paulus ditahan di Kaisarea demi keselamatannya sendiri. Dia berada di bawah yurisdiksi Romawi. Setiap orang yang telah menginterogasi Paulus mengerti bahwa dia tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Namun demikian, Paulus harus mengajukan banding kepada kaisar agar tidak ditahan oleh orang Yahudi. DI HADAPAN FELIKS. Kisah 24. • Tuduhan dan Pembelaan DI HADAPAN FESTUS. Kisah 25:1-12. • Isu-isu Politik DI HADAPAN AGRIPPA. Kisah 25:13-26:32. • Raja Agripa dan Bernike • Pidato Paulus • Respon Agripa
  3. 3. DI HADAPAN FELIKS “Tetapi aku mengakui kepadamu, bahwa aku berbakti kepada Allah nenek moyang kami dengan menganut Jalan Tuhan, yaitu Jalan yang mereka sebut sekte. Aku percaya kepada segala sesuatu yang ada tertulis dalam hukum Taurat dan dalam kitab nabi-nabi.” (Kisah 24:14) Imam Besar Ananias menyewa seorang pengacara, Tertulus, untuk menuduh Paulus di hadapan Feliks. Tudahan tersebut adalah: 1. Paulus mendorong pemberontakan di antara orang Yahudi. [TIDAK] 2. Dia adalah pemimpin sekte Nasrani. [YA] 3. Dia telah mencoba melanggar kekudusan Bait Allah. [TIDAK] Paulus hanya menerima "tuduhan" yang kedua, meskipun agama Kristen tidak ilegal pada waktu itu. Dia menjelaskan bahwa dia dituduh menerima kebangkitan Yesus. Dia mencoba untuk hidup dengan berbelas kasih di hadapan TUHAN dan manusia. Respons Feliks (Kis. 24:24-27) menunjukkan banyak tentang tabiatnya: ia menunda-nunda, dapat disogok, dan seorang oportunis. Paulus punya sedikit kemungkinan mendapat persidangan yang adil dengan seorang seperti Feliks.
  4. 4. DI HADAPAN FESTUS Festus menggantikan Feliks sebagai gubernur Yudea pada AD. 60. Orang Yahudi berusaha membawa Paulus ke Yerusalem untuk membunuhnya selama pemindahan. Festus menolak permintaan mereka, sehingga orang-orang Yahudi pergi ke Kaisarea untuk menuduh Paulus lagi tentang hal-hal "yang tidak dapat mereka buktikan." “Tetapi Festus yang hendak mengambil hati orang Yahudi, menjawab Paulus, katanya: "Apakah engkau bersedia pergi ke Yerusalem, supaya engkau dihakimi di sana di hadapanku tentang perkara ini?’” (Kisah 25:9) Festus menawarkan kepada Paulus untuk dihakimi dengan penghakiman Yahudi. Ini adalah langkah politik yang menguntungkan orang Yahudi. Paulus mengajukan banding ke pengadilan Romawi tertinggi: Kaisar Nero. Paulus membela dirinya dengan sederhana: “Aku sedikit pun tidak bersalah, baik terhadap hukum Taurat orang Yahudi maupun terhadap Bait Allah atau terhadap Kaisar” (Kis. 25:8)
  5. 5. DI HADAPAN AGRIPA Percaya akan kebangkitan Yesus adalah sesuatu yang tidak masuk di akal bagi Festus, tetapi bukan suatu kejahatan. Apa yang seharusnya menjadi tuduhan terhadap Paulus di hadapan Nero? Herodes Agrippa II dan Bernike datang, lalu Festus meminta saran mereka. Mereka datang dengan kemegahan besar, menyembunyikan hubungan yang bermasalah antara keluarga mereka dengan Yesus. • Kakeknya mencoba membunuh Yesus ketika dia masih kecil. • Paman buyutnya telah membunuh Yohanes Pembaptis dan telah menghakimi Yesus. • Ayahnya telah membunuh rasul Yakobus. “Pada keesokan harinya datanglah Agripa dan Bernike dengan segala kebesaran dan sesudah mereka masuk ruang pengadilan bersama-sama dengan kepala-kepala pasukan dan orang-orang yang terkemuka dari kota itu, Festus memberi perintah, supaya Paulus dihadapkan.” (Kisah 25:23)
  6. 6. PEMBELAAN PAULUS Paulus tahu bahwa Agrippa dapat memahami pidatonya, karena ia adalah orang Yahudi dan tahu kisah tentang Yesus.Pidato Paulus lebih dari sekadar pidato pembelaan, tetapi kesaksian dan panggilan. Dia menyangkal telah melanggar hukum Yahudi, dan dia memperkenalkan Mesias (26:19-23) Dia menceritakan kisahnya sebagai seorang Farisi yang bersemangat menganiaya Gereja Kristen (26:4-11) Dia menceritakan pertobatannya dan misi yang Yesus perintahkan agar ia jalankan (26:12-18) “Ya raja Agripa, aku merasa berbahagia, karena pada hari ini aku diperkenankan untuk memberi pertanggungan jawab di hadapanmu terhadap segala tuduhan yang diajukan orang-orang Yahudi terhadap diriku.” (Kisah 26:2)
  7. 7. PAULUS DI HADAPAN PARA PEMIMPIN Festus menyela Paul. Kemudian ia mencoba menyentuh hati nurani Agrippa. Paulus tidak mengkhawatirkan tangannya yang dirantai. Dia ingin melepaskan pendengarnya dari rantai dosa. Semangat misionaris Paulus sangat melampaui perhatiannya untuk keselamatannya sendiri. Kesombongan? Arogansi? Takut kehilangan jabatannya? Hampir diselamatkan! ... tapi hilang. “‘Percayakah engkau, raja Agripa, kepada para nabi? Aku tahu, bahwa engkau percaya kepada mereka.“ Jawab Agripa: "Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!’” (Kisah 26:27-28) Jangan biarkan apa pun menghentikan kita dari menyerahkan hidup kita kepada Yesus.
  8. 8. Ada suatu pelajaran bagi kita dalam pengalaman Paulus ini, karena hal itu menyatakan jalan Allah untuk bekerja. TUHAN dapat memberikan kemenangan yang nampaknya kepada kita boleh jadi penaklukan dan kekalahan. Kita ada dalam bahaya melupakan TUHAN, melihat pada perkara-perkara yang kelihatan, gantinya memandang dengan mata iman perkara-perkara yang tidak kelihatan. Bila kemalangan atau malapetaka datang, kita bersedia untuk membebankan kepada TUHAN dengan kelalaian dan kebengisan. Jika Ia melihat cocok untuk memotong kegunaan kita dalam beberapa bagian, kita bersusah, tidak memikirkan bahwa dengan berbuat demikian TUHAN boleh mengerjakan untuk kebaikan kita. Kita perlu belajar bahwa hukuman adalah sebagian dari rencana TUHAN yang besar dan di bawah cambuk kesusahan, orang Kristen kadang-kadang boleh berbuat lebih banyak untuk TUHAN dari pada bila ia giat bekerja. E.G.W. (The Acts of the Apostles, cp. 45, p. 481)

×