#Save publicdomain; merawat kebebasan di internet

160 views

Published on

#savepublicdomain

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
160
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
4
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

#Save publicdomain; merawat kebebasan di internet

  1. 1. #SavePublicDomain: Merawat Kebebasan di Internet Oleh: Yayasan SatuDunia Keterangan: Sumber gambar; http://damepunk.50webs.com/arch/Medios%20de%20Comunicacion%20Independientes.htm Seiring dengan perkembangan TIK pula, kini para pengguna internet bukan lagi hanya menjadi konsumen informasi dan pengetahuan, namun bisa sekaligus menjadi produsennya. Kita dapat membagi informasi dan pengetahuan kita dengan bebas, cepat dan mudah di internet. Berbagai macam pelarangan yang dilakukan oleh penguasa di ranah offline, dengan mudah diterobos. Beberapa tahun yang lalu misalnya, buku dengan judul,’Dalih Pembunuhan Massa Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto,’ yang ditulis John Rosa dilarang oleh pemerintah. Namun, dalam waktu yang tidak lama, buku (versi e-book) tersebut dengan mudah diunduh (download) melalui internet. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, rupanya ada beberapa pihak yang terganggu dengan kebebasan di internet itu. Menurut mereka yang saat ini kepentingan terganggu oleh kebebasan internet, kini kebebasan di internet mulai mengancam pergerakan modal, sehingga harus dibatasi. Salah satu ancaman itu adalah munculnya pengaturan hak cipta (copyright) secara represif. Pengaturan copyright secara represif itu seiring dengan makin kuatnya desakan lembaga-lembaga internasional kepada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk meliberalisasi sistem ekonominya. Kini, pemerintah telah menyiapkan Rancangan Undang Undang (RUU) Revisi UU Hak Cipta. Di sisi lain, perkembangan pesat internet dinilai menjadi ancaman besar bagi tersebarnya konten-konten yang melanggar hak cipta. Oleh karena itu, para pendukung copyright merasa perlu memasukan pasal-pasal represif di ranah internet dalam RUU Revisi UU Hak Cipta di Indonesia. Dalam pasal 38 di RUU Revisi UU tentang Hak Cipta itu misalnya menyebutkan bahwa seorang Menteri yang tugas dan fungsinya dibidang telekomunikasi dan informatika dapat menutup atau menghentikan layanan sistem elektronik atau konten tertentu dalam sistem elektronik dimaksud jika terdapat bukti-bukti awal pelanggaran Hak Cipta. Artinya, jika RUU ini disahkan pemblokiran website menjadi legal dengan alasan melanggar copyright. Celakanya, menurut RUU Revisi UU Hak Cipta ini pula disebutkan bahwa, pelaksanaan penutupan dan penghentian layanan sistem elektronik sebagaimana dimaksud dapat dituntut secara perdata, pidana dan/atau administrasi. Ini artinya, bila kemudian keputusan pemblokiran website itu ternyata salah, misalnya dikemudian hari tidak terbukti melanggar hak cipta, maka hal itu tidak dapat digugat oleh masyarakat secara pidana, perdata maupun administratif (PTUN). Adalah tantangan berat bagi kita semua untuk merawat kebebasan di internet. Banyak sekali ranjau-ranjau yang bisa meluluhlantakan kebebasan di internet. Ranjau-ranjau itu salah satunya bernama pengaturan copyright di internet. Ironisnya, di Indonesia pengaturan di ranah internet ini seringkali tidak melibatkan konsultasi publik secara luas sehingga berpotensi melanggar hak-hak penggunanya. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita, sebagai pengguna internet, untuk bergerak. Kita tidak bisa berpangku tangan menunggu niat baik pemerintah untuk mencabut pasal represif di RUU Revisi UU Hak Cipta. Sebagai langkah awal SatuDunia (www.satudunia.net), sebagai organisasi yang concern pada penguatan masyarakat sipil dalam informasi, pengetahuan dan teknologi mengajak kita semua bergabung dalam petisi online #SavePublicDomain1 yang dapat dilihat di http://www.change.org/id/petisi/dirjen-hki- savepublicdomain-cabut-pasal-pemblokiran-website-atas-nama- copyright-dalam-ruu-revisi-uu-tentang-hak-cipta 1 Public Domain atau ranah publik (bahasa Inggris: public domain) terdiri dari pekerjaan kreatif dan pengetahuan lainnya; tulisan, hasil seni, musik, sains, penemuan, dan lainnya; yang tidak ada seseorang atau suatu organisasi memiliki minat proprietari. (minat proprietary biasanya dilakukan dengan sebuah hak cipta atau paten.) ~ http://id.wikipedia.org/wiki/Domain_publik

×