Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

darah

45,465 views

Published on

presentasi

Published in: Education

darah

  1. 1. DARAH
  2. 2. Sel-sel darah UNIT VI
  3. 3. <ul><li>Sel-sel darah merah, anemia dan polisitemia </li></ul><ul><li>Resistensi tubuh terhadap infeksi : </li></ul><ul><li>1. Leukosit </li></ul><ul><li>2. Granulosit </li></ul><ul><li>3. Sistem Markofag-monosit </li></ul><ul><li>4. Inflamasi </li></ul>Daftar Isi
  4. 4. Bagian I Sel-sel Darah Merah, Anemia dan Polisitemia
  5. 5. Sel-sel Darah Merah (Eritrosit ) <ul><li>Produksi Sel-sel Darah Merah </li></ul><ul><li>Pembentukan Sel Darah </li></ul><ul><li>Tahap-tahap Diferensiasi Sel Darah Merah </li></ul><ul><li>Pengaturan Produksi Sel Darah Merah – Peran Eritropoietin </li></ul><ul><li>Pematangan Sel Darah Merah – Kebutuhan Vitamin B 12 (sianokobalamin) dan asam Folat </li></ul><ul><li>Pembentukan Hemoglobin </li></ul><ul><li>Penguraian Sel Darah Merah </li></ul>
  6. 6. Sel-sel Darah Merah ( Eritrosit ) <ul><li>Fungsi Utama : </li></ul><ul><li>1. Mengangkut Hemoglobin </li></ul><ul><li>2. Mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan </li></ul><ul><li>Fungsi Lain : </li></ul><ul><li>1. mengandung banyak sekali karbonik anhidrase </li></ul>
  7. 7. Besar dan Ukuran Sel - sel Darah Merah <ul><li>Sel Darah Merah Normal : </li></ul><ul><li>1. Berbentuk lempeng bikonkaf </li></ul><ul><li>2. Diameter 7,8 mikrometer </li></ul><ul><li>3. Ketebalan pada bagian yang tebal 2,5 mikrometer </li></ul><ul><li>4. pada bagian tengah kurang dari 1 mikrometer </li></ul><ul><li>5. Bentuk sel darah merah dapat berubah–ubah ketika sel berjalan melewati kapiler </li></ul>
  8. 8. Kosentrasi Sel-sel darah merah dalam darah <ul><li>Pria Normal : </li></ul><ul><li>- jumlah rata 2 per milimeter kubik </li></ul><ul><li> 5.200.000 ( ± 300.000) </li></ul><ul><li>Wanita Normal : </li></ul><ul><li>- Jumlah rata 2 per milimeter kubik </li></ul><ul><li> 4.700.000 ( ± 300.000) </li></ul><ul><li>☼ Ketinggian akan mempengaruhi jumlah sel darah merah orang yang tinggal di tempat itu </li></ul>
  9. 9. Jumlah Hemoglobin dalam sel <ul><li>Pria Normal : </li></ul><ul><li>1. 16 gram hemoglobin per desiliter </li></ul><ul><li>2. 21 mililiter oksigen dapat dibawa dalam bentuk gabungan dengan hemoglobin pada setiap disiliter darah </li></ul><ul><li>Wanita Normal : </li></ul><ul><li>1. 14 gram hemoglobin per desiliter </li></ul><ul><li>2. 19 mililiter oksigen yang dapat diangkut </li></ul>
  10. 10. Produksi sel-sel darah merah <ul><li>Minggu pertama kehidupan embrio,sel darah primitif yang berinti diproduksi dalam yolk sac. </li></ul><ul><li>Selama pertengahan trimester masa gestasi, hati sebagai organ utama untuk meproduksi sel-sel darah merah, walaupun cukup banyak di produksi juga dalam limpa dan limfonodus. </li></ul><ul><li>Pada dasarnya sumsum tulang dari semua tulang memproduksi sel darah merah sampai seseorang berusia 5 tahun; tetapi sumsum dari tulang panjang, kecuali proksimal humerus dan tibia, menjadi sangat berlemak dan tidak memproduksi lagi setelah kurang lebih berusia 20 tahun. </li></ul><ul><li>Di atas umur 20 tahun, kebanyakan sel darah merah diproduksi dalam sumsum tulang membranosa, seperti vertebra, sternum, iga dan ilium. Sehingga bertambahnya usia tulang-tulang ini sumsum menjadi kurang produktif. </li></ul>
  11. 11. Pembentukan sel darah <ul><li>Sel stem Hemopoietik Pluripoten, penginduksi pertumbuhan dan penginguksi diferensiasi. </li></ul><ul><li>Sel stem hemopoietik pluripoten merupakan asal dari seluruh sel-sel dalam darah sirkulasi. </li></ul>
  12. 12. Tahap-tahap diferensiasi sel darah merah <ul><li> Sel pertama yang dapat dikenali sebagai bagian dari rangkaian sel darah merah </li></ul><ul><li> Sel-sel generasi pertama yang terbentuk banyak sel darah merah yang matur dari pembelahan beberapa kali sebab dapat dipulas dengan zat warna basa </li></ul><ul><li> Retikulum endoplasma direabsorbsi karena masih mengandung sedikit bahan basofilik;terdiri dari golgi, mitokondria dan sedikit organel sitoplamik. </li></ul><ul><li> Bahan basolfilik yang tersisa sedikit demi sedikit akan menghilang dalam 1 sampai 2 hari dalam retikulosit normalnya </li></ul>Proeritroblas Basofil eritroblas Retikulosit Eritrosit
  13. 13. Pengaturan Produksi sel Darah merah Peran Eritropoietin <ul><li>Oksigenasi jaringan sebagai pengatur dasar dari produksi sel darah merah </li></ul><ul><li>Eritropoietin berfungsi untuk merangsang produksi sel darah merah dan bentuknya sebagai respons terhadap hipoksia </li></ul><ul><li>Peran ginjal dalam pembentukan eritropoietin </li></ul><ul><li>Pengaruh eritropoietin terhadap pembentukan sel-sel darah merah </li></ul>
  14. 14. Pematangan Sel darah merah <ul><li>2 vitamin yang penting : </li></ul><ul><ul><li>B 12 </li></ul></ul><ul><ul><li>Asam folat </li></ul></ul><ul><li>☼ keduanya bersifat penting untuk sintesis DNA karena masing-masing dalam cara yang berbeda dibutuhkan untuk pembentukan timidin trifosfat, yaitu salah satu blok pembangun penting dari DNA. </li></ul>
  15. 15. Kegagalan pematangan sel darah merah, akibat : <ul><li>Kegagalan pematangan sel akibat buruknya absorpsi vitamin B 12 – Anemia Pernisiosa </li></ul><ul><li>Kegagalan pematangan yang disebabkan oleh Defisiensi Asam Folat ( asam Pteroilglutamat) </li></ul>
  16. 16. Pembentukan Hemoglobin <ul><li>Di mulai dalam proeritroblas dan kemudian dilanjutkan sedikit dalam stadium retikulosit, karena ketika retikulosit meninggalkan sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah, maka retikulosit tetap membentuk sedikit hemoglobin selama beberapa hari berikutnya </li></ul>
  17. 17. Kombinasi Hemoglobin dengan oksigen <ul><li>Gambaran yang paling penting dari molekul hemoglobin adalah kemampuannya untuk dapat berikatan secara longgar dan reversibel dengan oksigen. </li></ul><ul><li>Fungsi utama hemoglobin dalam tubuh bergantung pada kemampuannya untuk bergabung dengan oksigen dalam paru-paru dan kemudian melepaskan oksigen ini dalam kapiler jaringan di mana tekanan gas oksigen jauh lebih rendah dari pada paru-paru. </li></ul>
  18. 18. Penguraian sel darah merah <ul><li>NADPH melayani sel darah merah dalam beberapa hal penting : </li></ul><ul><li>1. Mempertahankan kelenturan membran sel </li></ul><ul><li>2. mempertahankan pengangkutan ion-ion melalui membran </li></ul><ul><li>3. Mempertahankan besi hemoglobin sel agar tetap dalam bentuknya </li></ul><ul><li>4. mencegah oksidasi protein dalam sel darah merah </li></ul>
  19. 19. Anemia <ul><li>Tipe Anemia : </li></ul><ul><li>1. Anemia Akibat Kehilangan Darah </li></ul><ul><li>2. Anemia Aplastik </li></ul><ul><li>3. Anemia Megaloblastik </li></ul><ul><li>4. Anemia Hemolitik : </li></ul><ul><li>a. Sferostosis herediter </li></ul><ul><li>b. Anemia sel sabit </li></ul><ul><li>c. Eritroblastosis fetalis </li></ul>
  20. 20. Polisitemia <ul><li>2 jenis : </li></ul><ul><li>1. Polisitemia Sekunder </li></ul><ul><li>2. Polisitemia Vera ( eritremia ) </li></ul>
  21. 21. 1. Polisitemia Sekunder <ul><li>Jaringan yang mengalami hipoksia akibat terlalu sedikitnya oksigen dalam atmosfer, akibat gagalnya pengiriman oksigen ke jaringan seperti yang terjadi pada gagal jantung. Maka organ – organ pembentuk darah secara otomatis akan memproduksi sejumlah besar sel darah merah </li></ul>
  22. 22. 2. Polisitemia Vera ( eritremia ) <ul><li>Dimana jumlah sel darah merah dapat mencapai 7 sampai 8 juta dan hematokritnya 60 – 70 % </li></ul><ul><li>Disebabkan oleh penyimpangan gen yang terjadi pada jalur sel hemositoblastik yang memproduksi sel – sel darah </li></ul>
  23. 23. Bagian II
  24. 24. Resistensi Tubuh terhadap infeksi : <ul><li>Leukosit </li></ul><ul><li>Sifat Pertahanan Netrofil dan makrofag </li></ul><ul><li>Fagositosis </li></ul><ul><li>Sistem makrofag-monosit </li></ul><ul><li>Peradangan serta fungsi netrofil dan makrofag </li></ul><ul><li>Eosinofil </li></ul><ul><li>Basofil </li></ul><ul><li>Leukopenia </li></ul><ul><li>Leukemia </li></ul>
  25. 25. Sel Darah Putih ( Leukosit ) <ul><li>Sifat-sifat umum Leukosit </li></ul><ul><li>Pembentukan Leukosit </li></ul><ul><li>Masa Hidup Sel Darah Putih </li></ul>
  26. 26. Sel Darah Putih ( Leukosit ) <ul><li>Pengertian : </li></ul><ul><li>Unit yang mobil / aktif dari sistem pertahanan tubuh, yang dibentuk di sumsum tulang dan sebagiannya lagi di jaringan limfe. </li></ul>
  27. 27. Sifat-sifat umum Leukosit <ul><li>Macam-macam sel darah putih </li></ul><ul><li>Konsentrasi bermacam-macam sel darah putih dalam darah </li></ul>
  28. 28. 6 macam sel darah putih <ul><li>Netrofil polimorfonuklir </li></ul><ul><li>Eosinofil polimorfonuklir </li></ul><ul><li>Basofil polimorfonuklir </li></ul><ul><li>Monosit </li></ul><ul><li>Limfosit </li></ul><ul><li>Sel plasma </li></ul>
  29. 29. Konsentrasi bermacam-macam sel darah putih dalam darah <ul><li>Presentase normal dari sel darah putih : </li></ul><ul><li>1. Netrofil polimorfonuklir 62,0 % </li></ul><ul><li>2. Eosinofil polimorfonuklir 2,3 % </li></ul><ul><li>3. Basofil polimorfonuklir 0,4 % </li></ul><ul><li>4. Monosit 5,3 % </li></ul><ul><li>5. Limfosit 30,0 % </li></ul><ul><li>☼ Jumlah trombosit yang hanya merupakan fragmen-fragmen sel dalam keadaan normal jumlahnya kira-kira 300.000 per mikroliter darah. </li></ul>
  30. 30. Pembentukan Leukosit <ul><li>1. Mieloblas 12. Basofil Polimorfonuklir </li></ul><ul><li>2. Promielosit 13–16.Tahap 2 pembentukan </li></ul><ul><li>3. Magakariosit Monosit </li></ul><ul><li>4. Mielosit Netrofil </li></ul><ul><li>5. Metamielosit Netrofil muda </li></ul><ul><li>6. Metamielosit Netrofil “Pita” </li></ul><ul><li>7. Netrofil Polimorfonuklir </li></ul><ul><li>8. Mielosit Eosinofil </li></ul><ul><li>9. Metamielosit Eosinofil </li></ul><ul><li>10. Eosinofil Polimorfonuklir </li></ul><ul><li>11. Mielosit Basofil </li></ul>
  31. 31. Masa Hidup Sel Darah Putih <ul><li> sesudah di lepaskan dari sumsum tulang normalnya 4 sampai 8 jam dalam darah sirkulasi </li></ul><ul><li> 4 sampai 5 hari berikutnya dalam jaringan </li></ul>
  32. 32. Sifat Pertahanan Netrofil dan makrofag <ul><li>Sel darah putih memasuki ruang jaringan dengan cara Diapedesis </li></ul><ul><li>Sel darah putih bergerak melewati ruang jaringan dengan gerakan Ameboid </li></ul><ul><li>Sel darah putih tertarik ke arah area jaringan yang meradang dengan cara Kemotaksis </li></ul>
  33. 33. Fagositosis <ul><li>Pencernaan selular terhadap bahan yang mengganggu </li></ul><ul><li>Misalnya : </li></ul><ul><li>Fagositosis oleh netrofil </li></ul><ul><li>Fagositosis oleh makrofag </li></ul>
  34. 34. 1. Fagositosis oleh netrofil <ul><li>Netrofil sewaktu memasuki jaringan sudah merupakan sel – sel matur yang dapat memulai fagositosis, 5 sampai 20 bakteri sebelum sel netrofil itu sendiri menjadi inaktif dan mati </li></ul>
  35. 35. 2. Fagositosis oleh makrofag <ul><li>Makrofag bila diaktifkan oleh sistem imun merupakan sel fagosit yang jauh lebih kuat daripada nerofil dan mampu memfagositosis sampai 100 bakteri </li></ul>
  36. 36. Sistem makrofag-monosit ( Sistem Retikuloendotelial ) <ul><li>Makrofag jaringan dalam kulit dan jaringan Subkutan (Histiosit) </li></ul><ul><li>Makrofag dalam Nodus Limfe </li></ul><ul><li>Makrofag Alveolus dalam paru-paru </li></ul><ul><li>Makrofag dalam sinus hati (Sel Kupffer) </li></ul><ul><li>Makrofag dalam limpa dan sumsum tulang </li></ul>
  37. 37. Peradangan serta fungsi netrofil dan makrofag <ul><li>Peradangan </li></ul><ul><li>Respons makrofag dan netrofil selama peradangan </li></ul><ul><li>Pengaturan umpan balik respons makrofag dan netrofil </li></ul><ul><li>Pembentukan nanah </li></ul>
  38. 38. 1. Peradangan <ul><li>Ditandai : </li></ul><ul><li>Vasodilatasi pembuluh darah lokal yang mengakibatkan terjadinya aliran darah setempat yang berlebihan </li></ul><ul><li>Kenaikan permeabilitas kapiler disertai dengan kebocoran banyak sekali cairan ke dalam ruang interstisial </li></ul><ul><li>Seringkali pembekuan cairan dalam ruang interstisial yang disebabkan oleh fibrinogen dan protein lainnyayang bocor dari kapiler dalam jumlah berlebihan </li></ul><ul><li>Migrasi sejumlah besar granulosit dan monosit ke dalam jaringan </li></ul><ul><li>Pembengkakan sel jaringan </li></ul>
  39. 39. 2. Respons makrofag dan netrofil selama peradangan <ul><li>Makrofag jarngan sebagai garis pertahanan pertama untuk melawan infeksi </li></ul><ul><li>Penyerbuan netrofil ke tempat yang mengalami radang merupakan garis pertahanan kedua </li></ul><ul><li>Peningkatan netrofil dalam darah yang berlangsung akut – “Netrofilia” </li></ul><ul><li>Invasi Makrofag yang kedua pada jaringan yang meradang adalah garis pertahanan yang ketiga </li></ul><ul><li>Peningkatan produksi granulosit dan monosit oleh sumsum tuang adalah garis pertahanan tubuh yang keempat </li></ul>
  40. 40. 3. Pengaturan umpan balik respons makrofag dan netrofil <ul><li>Faktor nekrosis tumor ( TNF ) </li></ul><ul><li>Interleukin 1 ( IL-1 ) </li></ul><ul><li>Faktor perangsang koloni granulosit-monosit (GM-CSF) </li></ul><ul><li>Faktor perangsang koloni granulosit ( G-CSF ) </li></ul><ul><li>Faktor perangsang koloni monosit ( M-CSF ) </li></ul>
  41. 41. 4. Pembentukan Nanah <ul><li>Pengertian : </li></ul><ul><li>Campuran yang terdapat dalam jaringan yang meradang akan terdapat rongga yang mengandung berbagai bagian jaringan nekrotik, netrofil mati, makrofag mati dan cairan jaringan. </li></ul><ul><li>Apabila netrofil dan makrofag menelan sejumlah besar bakteri dan jaringan nekrotik, maka semua netrofil dan kebanyakan makrofag akhirnya akan mati </li></ul>
  42. 42. Eosinofil  Sel fagosit yang lemah dan menunjukan kemotaksis.mendetoksifikasi beberapa substansi pencetus peradangan yang di lepaskan oleh sel mast dan basofil dan juga memfagositosis dan menghancurkan kompleks antibodi-alergen, jadi mencegah penyebaran proses peradangan setempat.
  43. 43. Basofil - Basofil melepaskan heparin ke dalam darah :  suatu bahan yang dapat mencegah pembekuan darah dan dapat mempercepat perpindahan partikel lemak dari darah sesudah makan makanan berlemak
  44. 44. Leukopenia  Keadaan di mana sumsum tulang menghentikan produksi sel darah putihny, sehingga tubuh tidak terlindung terhadap bakteri dan agen lain yang mungkin masuk menyerbu jaringan.
  45. 45. Leukemia <ul><li> Produksi sel darah putih yang tidak terkontrol di sebabkan oleh mutasi yang menjurus pada kanker sel mielogenosa atau sel limfogenosa. </li></ul>
  46. 46. Tipe Leukemia <ul><li>Leukemia limfogenosa </li></ul><ul><li>Leukemia mielogenosa </li></ul>
  47. 47. Leukemia limfogenosa <ul><li> Disebabkan oleh produksi sel limfoid yang bersifat kanker, biasanya dimulai dimulai dalam nodus limfe atau jaringan limfogenosa lain dan selanjutnya menyebar ke area tubuh lainnya, </li></ul>
  48. 48. Leukemia mielogenosa <ul><li> Dimulai dengan produksi sel mielogenosa muda yang bersifat kanker di sumsum tulang dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh, sehingga sel darah putih diproduksi di berbagai organ ekstramedular terutama di nodus limfe, limpa dan hati </li></ul>
  49. 49. Pengaruh leukimia pada tubuh <ul><li>Pengaruh Pertama : </li></ul><ul><li>Pertumbuhan metastatik dari sel leukemik pada tempat yang abnormal dalam tubuh </li></ul>

×