Bangkitnya Hindu Jawahttp://narayanasmrti.com/2010/01/06/bangkitnya-hindu-jawa/                                       Oleh...
masyarakat Hindu yang tinggal di dataran tinggi Tengger (Hefner 1985, 1990) di JawaTimur. orang-orang ‘Hindu’ Jawa yang di...
militer terhadap rezimnya. Tindakannya yang paling jelas tampak pada dukungannyaatas Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (...
Meskipun terdapat lebih banyak pertentangan dari kelompok Islam di Jawa Tengahdaripada di Jawa Timur, masyarakat Hindu ter...
penerapan Islam yang tak murni melalui tata cara ibadat Kejawen (Soewarno 1981).Menurut pendapat mereka, ‘kembalinya Sabda...
[2] As I am writing this, parliamentary procedures have been set into motion so as to    impeach President Abdurahman Wahi...
17. Reuter, T. 1998. ‘The Banua of CandiPucak Penulisan: A Ritual Domain in the    Highlands of Bali’. Review of Indonesia...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Bangkitnya hindu jawa

3,910 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,910
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
7
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bangkitnya hindu jawa

  1. 1. Bangkitnya Hindu Jawahttp://narayanasmrti.com/2010/01/06/bangkitnya-hindu-jawa/ Oleh Thomas Reuter Dikutip dari Blog Adhiwus dengan sedikit modifikasiHampir selama 1000 tahun, kerajaan-kerajaan Hindu tumbuh subur di pulau Jawa.Kejayaan Hindu mulai menyurut sejak runtuhnya kerajaan-kerajaan Hindu Nusantaraakibat datangnya Islam pada abad ke 15. Hampir selama 500 tahun Hindu di Indonesiadapat dikatakan hampir punah, namun pada tahun 1970-an terjadi fenomena dimanaHindu tumbuh dengan pesatnya disaat Indonesia di landa kerisis politik dan ekonomi.Risert etnografis yang dilakukan Thomas Reuter terhadap lima kelompok masyarakatpada beberapa daerah candi-candi Hindu besar di jawa diperolehlah telahan sejarahpolitik dan dinamika sosial yang mengarah kepada kesimpulan bangkitnya Hindu diJawa.Thomas Reuter menyatakan ketertarikannya pada pulau Jawa setelah 10 tahunmelakukan penelitian di Bali. Menurutnya, kebanyakan masyarakat Bali menganggapdiri mereka sebagai keturunan kaum ningrat kerajaan Hindu Jawa Majapahit yangmenaklukkan Bali di abad ke 14. Jumlah orang Bali yang bertirtayatra ke candi-candiHindu di Jawa semakin bertambah. Bahkan tidak jarang orang Bali terlibat dalampembangunan dan pelaksanaan upacara di candi/pura baru di Jawa.Dalam konteks sejarah dan politik, masih banyak orang Jawa mempertahankankepercayaan warisan tradisi Hindu selama berabad-abad sambil juga memeluk Islam.Kepercayaan ini dikenal sebagai agama Jawa (kejawen) atau Islam Jawa (Islamabangan, nama yg dipakai Geertz 1960). Beberapa kelompok masyarakat terpencilmasih tetap memeluk Hindu secara terbuka. Salah satu kelompok ini adalah
  2. 2. masyarakat Hindu yang tinggal di dataran tinggi Tengger (Hefner 1985, 1990) di JawaTimur. orang-orang ‘Hindu’ Jawa yang ditulis di laporan ini adalah mereka yang tadinyaMuslim dan kemudian murtad untuk memeluk agama Hindu.Laporan tahun 1999 yang tidak pernah diumumkan oleh Kantor Statistik NasionalIndonesia memperkirakan terdapat 100.000 orang Jawa yang secara resmi murtad atau‘kembali lagi’ pindah dari Islam ke Hindu dalam waktu 20 tahun terakhir. Pada saatyang bersamaan, cabang organisasi Hindu (PHDI) Jawa Timur mengatakan bahwaumatnya bertambah sampai berjumlah 76.000 di tahun ini saja. Angka ini tidaksepenuhnya dapat dipercaya, dan tidak dapat pula menggambarkan besarnyakebangkitan agama Hindu di Jawa karena ini hanya berdasarkan nama agama yangtercantum di KTP dan hanya berdasarkan laporan agama resmi. Menurut pengamatanThomas Reuter, banyak yang pindah agama tapi tidak melaporkan diri.Meskipun demikian, perhitungan jumlah orang Hindu di Jawa ternyata lebih banyakdaripada orang Hindu di Bali. Data yang dikumpulkan secara independen selamapenelitiannya di Jawa Timur menunjukkan bahwa laju proses perpindahan agamamelesat secara dramatis selama dan setelah jatuhnya Pemerintahan Rezim Suharto ditahun 1998.Sebelum tahun 1962, agama Hindu tidak diakui secara nasional sehingga orang-orangHindu tidak bisa mencantumkan agama mereka secara resmi. [1] Permohonanpengakuan Hindu sebagai agama resmi diajukan oleh organisasi agama dari Bali dandikabulkan pada tahun 1962 demi kepentingan masyarakat Bali yang mayoritas adalahHindu. Organisasi yang terbesar yakni Parisada Hindu Dharma Bali yang kemudiandiubah menjadi PHD Indonesia (PHDI) di tahun 1964, berupaya untuk memperkenalkanHindu secara nasional dan bukan hanya milik Bali saja (Ramstedt 1998).Pada awal tahun 1970-an, orang-orang Toraja Sulawesi mengambil kesempatan inidengan memeluk agama nenek moyang mereka yang banyak dipengaruhi oleh Hindu.Masyarakat Batak Karo dari Sumatra di tahun 1977 dan masyarakat Dayak Ngaju diKalimantan di tahun 1980 juga melakukan hal yang sama (Bakker 1995).Identitas agama menjadi masalah hidup-mati saat agama Hindu memperoleh statusresminya, yakni di saat terjadinya kerusuhan anti komunis di tahun 1965-1966 (Beatty1999). Orang-orang yang tidak dapat menyebutkan agamanya digolongkan sebagaiorang atheis dan dituduh komunis. Terlepas alasan politis ini, kebanyakan orangmenganut Hindu karena ingin mempertahankan agama nenek moyang dan bagimasyarakat di luar Jawa, Hindu merupakan pilihan terbaik dibandingkan Islam.Sebaliknya, kebanyakan orang Jawa tidaklah melihat Hindu sebagai agama pilihan disaat itu karena kurang adanya organisasi Hindu dan juga karena takut pembalasanorganisasi-organisasi Islam besar seperti Nahdatul Ulama (NU). Anggota-anggotamuda NU tidak hanya aktif membunuhi orang-orang komunis tapi juga unsur-unsurJawa Kejawen atau anti Islam yang banyak dianut Partai Nasionalis Islam milik Sukarnoselama tahap pertama pembunuhan masal di jaman itu (Hefner 1987). Demikeselamatan nyawanya, para pengikut Kejawen terpaksa mengumumkan diri merekasebagai Islam.Pada awal Orde Baru, Presiden Suharto tidak mengikuti paham agama apapun. Baru ditahun 1990-an, Suharto mulai mendekati organisasi-organisasi Islam. Awalnya Suhartoadalah pembela aliran Kejawen yang gigih, tapi ia lalu mengajukan tawaran-tawarankepada kelompok Islam di masa itu karena berkurangnya dukungan masyarakat dan
  3. 3. militer terhadap rezimnya. Tindakannya yang paling jelas tampak pada dukungannyaatas Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), yang anggotanya secara terbukamenginginkan negara dan masyarakat Islam Indonesia (Hefner 1997).Kekawatiran mulai tumbuh tatkala ICMI menjadi organisasi yang mendominasi birokrasinasional dan melaksanakan program-program pendidikan Islam besar-besaran danpembangunan mesjid-mesjid melalui Departemen Agama dan sekali lagi menyerangaliran dan penganut Kejawen. Pada waktu yang sama, terjadi pembunuhan-pembunuhan oleh ekstrimis Muslim atas orang-orang yang dituduh sebagai dukun yangmelakukan pengobatan tradisional Kejawen. (Ingat serentetan kasus pembunuhandukun santet oleh ‘ninja’ yang terjadi di desa-desa terpencil di Jawa?)Pengalaman-pengalaman pahit dan penindasan membuat para penganut Kejawentakut dan juga benci. Dalam wawancara yang dilakukan di tahun 1999, orang-orangyang baru saja murtad dan memeluk Hindu di Jawa Tengah dan Timur mengaku bahwamereka sebenarnya tidak keberatan dengan identitas Islam. Tapi mereka sakit hati saatharus meninggalkan tradisi Hindu Jawa dengan tidak lagi melakukan upacara-upacaratertentu yang sudah menjadi bagian hidup mereka. Untuk menyalurkan hasrat politik,banyak penganut Kejawen dan pemeluk baru agama Hindu yang menjadi anggotapartai politik Megawati Sukarnoputri. Keterangan dari kelompok ini menyatakan bahwakembalinya mereka kepada agama Majapahit (Hindu) merupakan kebanggaan nasionaldan ini diwujudkan melalui pandangan politik baru yang penuh rasa percaya diri..Dalam konteks sosial dan ekonomi, cirri-ciri umum yang tampak di masyarakat baruHindu di Jawa adalah kecenderungan untuk berkumpul di pura-pura yang baru sajadibangun atau candi-candi kuno yang dinyatakan kembali sebagai tempat ibadahmasyarakat Hindu. Satu dari pura-pura Hindu yang baru dibangun di Jawa Timuradalah, pura Mandaragiri Semeru Agung, di bukit dekat Gunung Semeru. Ketika puraini selesai dibangun pada bulan Juli 1992 dengan bantuan keuangan Bali, hanyasegelintir keluarga setempat secara resmi memeluk agama Hindu. Penelitian di bulanDesember 1999 menunjukkan masyarakat Hindu lokal berkembang menjadi lebih dari5.000 keluarga.Perpindahan agama besar-besaran yang sama juga terjadi di daerah sekitar puraAgung Blambangan yang merupakan pura baru yang dibangun di daerah sisa-sisakerajaan Blambangan, pusat kekuatan politik Hindu terakhir di Jawa. Yang tidak kalahpentingnya adalah Candi Loka Moksa Jayabaya (di desa Menang dekat Kediri), dimana raja dan petinggi Hindu, Jayabaya, dipercaya mencapai moksa.Gerakan Hindu lain yang juga mulai tampak terjadi di daerah sekitar pura Pucak Raung(di Jawa Timur) yang baru saja dibangun. Daerah ini disebut dalam sastra Bali sebagaitempat di mana Maharishi Markandeya, mengumpulkan pengikutnya untuk melakukanperjalanan ke Bali dan membawa agama Hindu ke Bali di abad 5 M.Kebangkitan agama Hindu juga tampak di daerah Candi Hindu kuno di Trowulan dekatMojokerto. Daerah ini dikenal sebagai ibukota kerajaan Hindu Majapahit. GerakanHindu setempat berusaha untuk mendapatkan ijin menggunakan candi yang baru sajadigali sebagai tempat ibadah agama Hindu. Candi ini akan dipersembahkan bagi GajahMada, perdana menteri Majapahit yang berhasil mengembangkan kerajaan Hindu kecilitu sampai meliput wilayah dari Sabang sampai Merauke.
  4. 4. Meskipun terdapat lebih banyak pertentangan dari kelompok Islam di Jawa Tengahdaripada di Jawa Timur, masyarakat Hindu ternyata juga berkembang di Jawa Tengah(Lyon 1980). Contohnya adalah di Klaten di dekat Candi Prambanan.Selain itu candi-candi besar Hindu juga dapat mendatangkan kemakmuran baru bagimasyarakat setempat. Selain sumber penghasilan bagi pekerja pelebaran danperbaikan candi itu sendiri, mengalirnya peziarah Bali yang terus menerus ke candi-candi nasional itu menciptakan industri baru bagi penduduk setempat. Di sepanjangjalan utama menuju Candi Semeru terdapat sederetan hotel dan took-toko yangmenawarkan sesajen siap pakai, angkutan, dan makanan bagi para pendatang. Padahari-hari raya besar, puluhan ribu peziarah akan datang setiap hari. Peziarah yangmemberi sumbangan dana besar bagi candi besar itu juga ternyata menarik perhatianpenduduk setempat. Kemakmuran ekonomi orang-orang Bali juga membuat penduduksetempat berpendapat bahwa budaya Hindu ternyata lebih banyak mendatangkankeberhasilan pariwisata internasional dibandingkan budaya Islam.Pihak pendukung atau penentang Hindu biasanya menghubungkan bangkitnya agamaHindu secara tiba-tiba di Jawa dengan ramalan terkenal Sabdapalon dan Jayabaya.Dalam ramalan itu dinyatakan beberapa ciri dan bencana alam dahsyat, meskipunpengertian akan ramalan ini berbeda antara kedua pihak. Harapan terpenuhinyaramalan itu merupakan cermin ketidakpuasan yang semakin membesar atasPemerintahan Suharto yang korup dan tangan besi di tahun 1990-an sampai berakhir ditahun 1998, yang diikuti dengan demonstrasi mahasiswa di berbagai kota di Jawasejalan dengan krisis ekonomi Asia. Krisis politik dan ekonomi yang lebih besar yangterus berlangsung di Indonesia saat ini juga semakin menumbuhkan harapan itu.Abdurahman Wahid, presiden Indonesia pertama yang terpilih secara demokratis,ternyata mengundang banyak kritik karena pada masanya terjadi pertentangan agama,pemberontakan di Aceh dan Papua Barat dan skandal korupsi diPemerintahan.[2] Masyarakat luas menduga ketidakstabilan politik di bawahPemerintahan Megawati Sukarnoputri (sejak tanggal 23 Juli 2001) akan terusberlangsung. Selain itu dikhawatirkan penindasan seperti yang terjadi di jaman Suhartoakan terulang lagi. Menurut penentang dan pendukung gerakan baru agama Hindu,keadaan politik yang tak menentu saat ini sesuai dengan ramalan Sabdapalon danJayabaya.Menurut legenda, Sabdapalon adalah pendeta dan penasehat Brawijaya V, raja terakhirkerajaan Hindu Majapahit. Dikisahkan pula bahwa Sabdapalon mengutuk rajanya yangmeninggalkan agama Hindu untuk memeluk agama Islam di tahun 1478. Sabdapalonlalu berjanji untuk kembali setelah waktu 500 tahun berlalu di masa merajalelanyakorupsi politik dan bencana-bencana alam besar, untuk mengenyahkan Islam dari pulauJawa dan membangkitkan kembali agama dan masyarakat Hindu Jawa.Beberapa tempat suci Hindu baru yang pertama dibangun di Jawa memang selesaidibangun sekitar tahun 1978, misalnya Pura Blambangan di daerah Banyuwangi.Sesuai dengan ramalan, Gunung Semeru meledak di waktu itu pula. Semua inidianggap sebagai bukti tepatnya ramalan Sabdapalon. Pihak penentang Hindu dariagama Islam menerima prinsip ramalan itu, meskipun menafsirkannya secara berbeda.Beberapa kalangan Islam menganggap murtadin yang memeluk Hindu disebabkankarena kelemahan sesaat dalam masyarakat Islam itu sendiri, dengan menyalahkansifat materialisme di dunia modern dan turunnya nilai-nilai Islami atau karena
  5. 5. penerapan Islam yang tak murni melalui tata cara ibadat Kejawen (Soewarno 1981).Menurut pendapat mereka, ‘kembalinya Sabdapalon’ berarti ujian bagi Islam danperlunya memurnikan dan membangkitkan kembali iman Islam.Ramalan yang lain yang juga terkenal di seluruh Jawa dan Indonesia adalah ramalanJayabaya. Buku tentang ramalan ini yang ditulis oleh Soesetro & Arief (1999) telah jadibest seller nasional. Ramalan Jayabaya juga seringkali didiskusikan di Koran-koran.Ramalan-ramalan kuno ini memang bagian dari percakapan dan diskusi sehari-haridalam masyarakat Indonesia.Tokoh legendaris Sri Mapanji Jayabaya berkuasa di kerajaan Kediri di Jawa Timur daritahun 1135 sampai 1157 Masehi (Buchari 1968:19). Dia terkenal atas usahanyamenyatukan kembali Jawa setelah pecah karena kematian raja sebelumnya, Airlangga.Jayabaya juga terkenal karena keadilan dan kemakmuran kerajaannya dan karenapengabdiannya bagi kesejahteraan rakyatnya. Jayabaya dikenal sebagai titisan dewaWishnu dan dianggap sebagai ‘ratu adil’ yakni raja yang bijaksana yang muncul dijaman edan di akhir putaran tatasurya untuk menegakkan kembali keadilan sosial,keteraturan dan keseimbangan di dunia. Banyak yang percaya waktu datangnya sangratu adil yang baru telah dekat (seperti yang disebutkan dalam ramalan itu, “jikakendaraan-kendaraan besi bergerak sendiri tanpa kuda-kuda dan kapal-kapal berlayarmenembus langit“), dan ia akan datang untuk menyelamatkan dan menyatukannusantara kembali setelah krisis hebat yang mengantarkan kepada awal jamankeemasan yang baru.Orang-orang Hindu Jawa mengenang Sabdapalon dan Jayabaya dengan penuhkebanggaan karena mewakili jaman keemasan sebelum Islam. Kalangan Islam sendirisebaliknya percaya bahwa Jayabaya itu sebetulnya adalah seorang Muslim danSabdapalon tidak mau masuk Islam karena saat itu dia berhadapan dengan bentukIslam yang salah dan tidak murni lagi (Soewarno 1981). Meskipun begitu, parapenelaah ramalan dari pihak Muslim dan Hindu setuju bahwa sekaranglah masaterjadinya bencana hebat. Mungkin dalam bentuk reformasi politik besar-besaran danmungkin pula sebuah revolusi. Kedua belah pihak juga setuju bahwa sistempemerintahan demokrasi yang murni hanya dapat terlaksana dengan adanya pemimpinyang bermoral sangat tinggi yang mencampurkan kesadaran demokrasi moderndengan karisma kepemimpinan tradisional.Pengaruh ramalan Jayabaya tampak nyata pada diri masyarakat Indonesia dariberbagai kalangan dan ini tampak pula dengan kunjungan-kunjungan rahasia yangdilakukan Presiden Abdurahman Wahid (sekali sebelum dia dicalonkan untuk jadipresiden dan sekali lagi sebelum dia terpilih) sewaktu menjabat ketua NU ke candikeramat Raja Jayabaya di Bali, Pura Pucak Penulisan. [3] Setelah kunjungan pribadimalam hari di pura Hindu kuno ini, demikian menurut pengakuan pendeta-pendetaHindu setempat, Gus Dur berbicara dengan mereka untuk waktu lama tentang ramalan-ramalan Jayabaya dan kedatangan kembali ratu adil.Catatan Kaki:[1] The other four state-recognized religions (agama) are Islam, Catholicism,Protestantism, and Buddhism (mainly Indonesians of Chinese ethnicity). Unrecognizedreligions are categorized by the state as minor ‘streams of belief’ (aliran kepercayaan)or are simply treated as a part of different local ‘customs and traditions’ (adat).
  6. 6. [2] As I am writing this, parliamentary procedures have been set into motion so as to impeach President Abdurahman Wahid on allegations of his involvement in corruption scandals. [3] Pura Pucak Penulisan is still an important regional temple, and was a state temple of Balinese kings from the eighth century AD (Reuter 1998). Many statues of Balinese kings are still found in its inner sanctum, including one depicting Airlangga’s younger brother Anak Wungsu. Literary sources suggest that intimate ties of kinship connected the royal families of Bali with the dynasties of Eastern Javanese kingdoms, including Kediri. Jayabaya’s predecessor Airlannga, for example, was a Balinese prince. Referensi:1. Adorno, T. W. 1978. ‘Freudian Theory and the Pattern of Fascist Propaganda‘. In A. Arato & E. Gebhardt (eds), The Essential Frankfurt School Reader. Oxford: Basil Blackwell.2. Bakker, F. 1995. Bali in the Indonesian State in the 1990s: The religious aspect. Paper presented at the Third International Bali Studies Workshop, 3-7 July 1995.3. Beatty, A. 1999. Varieties of Javanese Religion. Cambridge: Cambridge University Press.4. Buchari 1968. ‘Sri Maharaja Mapanji Garasakan’. Madjalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, 1968(4):1-26.5. Ellingsen, P. 1999. ‘Silence on Campus: How academics are being gagged as universities toe the corporate line‘. Melbourne: The Age Magazine, 11.12.1999:26-32.6. Fox, J. & Sathers, C. (eds) 1996. Origins, Ancestry and Alliance: Explorations in Austronesian Ethnography. Canberra: Department of Anthropology, Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University.7. Geertz, C. 1960. The Religion of Java. Chicago: The University of Chicago Press.8. Hefner, R. 1985. Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Princeton: Princeton University Press.9. Hefner, R. 1987. ‘The Political Economy of Islamic Conversion in Modern East Java‘. In W. Roff (ed.), Islam and the Political Economy of Meaning. London: Croom Helm.10. Hefner, R. 1990. The Political Economy of Mountain Java. Berkeley: University of California Press.11. Hefner, R. 1997. ‘Islamization and Democratization in Indonesia’. In R. Hefner & P. Horvatich (eds), Islam in an Era of Nation States: Politics and Religious Renewal in Muslim Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press.12. Kaplan, M. 1995. Neither Cargo nor Cult: Ritual Politics and the Colonial Imagination in Fiji. Durham (NC): Duke University Press.13. Lee, K. 1999. A Fragile Nation: The Indonesian Crisis. River Edge (N.J.): World Scientific.14. Lindstrom, L. 1993. Cargo Cult: Strange Stories of Desire from Melanesia and Beyond. Honolulu: University of Hawaii Press.15. Lyon, M. 1980. ‘The Hindu Revival in Java”. In J. Fox (ed.), Indonesia: The making of a Culture. Canberra: Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University.16. Ramstedt, M. 1998. ‘Negotiating Identity: ‘Hinduism’ in Modern Indonesia‘. Leiden: IIAS Newsletter, 17:50.
  7. 7. 17. Reuter, T. 1998. ‘The Banua of CandiPucak Penulisan: A Ritual Domain in the Highlands of Bali’. Review of Indonesian and Malaysian Affairs, 32 (1):55-109.18. Schwartz, H. 1987. ‘Millenarianism: An overview’. In M. Eliade (ed.), The Encyclopedia of Religion, Vol. 9:521-532. New York: MacMillan.19. Smelser, J. 1962. Theory of Collective Behavior. London: Routledge and Kegan Paul.20. Soesetro, D. & Arief, Z. 1999. Ramalan Jayabaya di Era Reformasi. Yogyakarta: Media Pressindo.21. Soewarna, M. 1981. Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon. Jakarta: P.T Yudha Gama.22. Stewart, K. & Harding, S. 1999. ‘Bad Endings: American Apocalypsis‘. Annual Review of Anthropology 28:285-310.23. Stewart, P.J. 2000. ‘Introduction: Latencies and realizations in millennial practices‘. Ethnohistory 47(1):3-27. [Special Issue on Millenarian Movements.]24. Timmer, J. 2000. ‘The return of the kingdom: Agama and the millennium among the Imyan of Irian Jaya, Indonesia’. . Ethnohistory 47(1):29-65. Catatan: Dr Thomas Reuteradalah peneliti di Queen Elizabeth II, University of Melbourne’s School pada program studi Antropologi, lingkungan dan geografi. Artikel yang memuat hasil penelitian beliau yang dipublikasi oleh Australian Journal of Anthropology dapat di baca di link ini. Read more http://narayanasmrti.com/2010/01/06/bangkitnya-hindu-jawa/

×