Successfully reported this slideshow.

Mata Kuliah Blok Forensik

14,086 views

Published on

Published in: Education
  • Be the first to comment

Mata Kuliah Blok Forensik

  1. 1. BAB IPENGANTAR & PRINSIPPEMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIKDefinisi Ilmu Kedokteran Forensik ilmu pengetahuan yang menggunakan multidisiplin ilmu dgn tujuan untuk membuat terang suatu perkara pidana dan membuktikan ada tidaknya kejahatan atau pelanggaran dgn memeriksa barang bukti (Physical Evidence) dalam perkara tersebut. Cabang spesialistik ilmu kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan. Sinonim: - Kedokteran Kehakiman - Forensic Medicine - Legal Medicine - Clinical Forensic - Medical Jurisprudenc - Pathology Forensic. Forensik tidak sama dengan Hukum Kedokteran (Medical Law)Peran Kedokteran ForensikMenentukan:1. Mengapa: Di Masyarakat kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum menyangkut tubuh manusia. Sejarah  forum2. Bagaimana: Manfaatkan ilmu secara optimal & penuh kejujuran, serta pemeriksaan KF terhadap korban hidup/mati/bagian tubuh manusia3. Untuk: Menemukan kelainan, bilamana timbul, penyebab & sebab cedera, penyebab, mekanisme, saat & cara kematian, serta identifikasi10 SUB BAB dalam Ilmu Kedokteran Forensik, yaitu:1. Autopsi Forensik, berbeda dengan autopsi anatomi2. Patologi Anatomi Forensik3. Toksikologi Forensik dan Kimiawi Forensik Misalnya : berkaitan dengan obat-obatan psikotropika yang bisa diperiksa dengan sampel urin4. Parasitologi Forensik / Entomologi Forensik Misalnya : apabila pada autopsi ditemukan larva lalat, ini harus diperiksa oleh bagian parasitologi forensik supaya bisa membantu menemukan waktu kematian5. Odontologi Forensik : pemeriksaan gigi6. Antropologi Forensik : pemeriksaan seluruh tubuh dari tulang sampai gigi7. Radiologi Forensik Termasuk disini adalah photo-photo, CT-Scan, dan USG. Alat Bantu diatas dapat dipakai sebagai alat bukti pada proses hukum.8. Traumatologi Forensik Trauma terdiri dari : trauma fisik, trauma kimia, dan balistik (senjata api), dll9. Psikiatri Forensik Pemeriksaan yang dilakukan terhadap pelaku, dimana pelaku melakukan kejahatan berdasarkan adanya gangguan jiwa dan bagian ini dilakukan oleh psikiater ataupun psikolog.10. Laboratorium Forensik Tidak hanya pemeriksaan kimiawi, PA, toksikologi tapi juga DNA yang diambil dari jaringan yang tidak cepat membusuk.Misal : rambut, percikan darah Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 1
  2. 2. Skema 1. Fungsi dokter (Attending physician dan assessing physician)Skema 2. Proses pembuatan VER Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 2
  3. 3. Proses penyidikan perkara pidanaa. menerima laporan/informasi dan atau melihat langsung terjadinya perkara, masuk Berita Acara Pemeriksaan (BAP)b. mencari informasi/memeriksa TKP dan para saksi peristiwa serta pemeriksaan para saksic. melakukan konsultasi terhadap para ahli untuk pemeriksaan barang bukti korban/terdakwa atas dasar legalitas hukumd. penyidikan lebih lanjut atas informasi/keterangan para ahlie. pemberian label terhadap barang bukti mati dan surat permintaan pemeriksaan/ konsultasi kepada yang lebih berwenangf. pengawalan langsung terhadap pengiriman/konsultasi Barang Bukti atau kasus korban/terdakwa untuk pemeriksaan tertentug. pendekatan dan penjelasan kepada keluarga korban atau korban untuk macam pemeriksaan Kedokteran Forensik dan persetujuannya (Informed Consent) ada surat permintaan penyidik ada surat persetujuan keluarga/korban/terdakwa untuk pemeriksaan legalitas hukum pengiriman Barang Bukti/korban atau terdakwa untuk pemeriksaanDalam proses pemeriksaan medis kesiapan Barang bukti/korban/terdakwa dan penyidik (termasuk keluarga bila perlu) penyidik siap melihat langsung pemeriksaan dan mengamankan lingkungan, mencatat serta membuat dokumentasi fakta pada korban/BB akibat peristiwa penyidik siap sebagai konsultan peristiwa dan penghubung keluarga sesuai kebutuhan pihak medis penyidik siap menerima BB yang lain yang terdapat pada korban/BB untuk pemeriksaan lebih lanjut atau untuk barang bukti di sidang pengadilan menyerahkan jenazah korban atau korban hidup kepada keluarga setelah pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dianggap selesai menerima hasil pemeriksaan medis, sementara atau definitif bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pemeriksaan medis (Perda, SK Direktur RS, Pasal 136 KUHAP)Dalam proses sidang pengadilan koordinasi penyidik, jaksa, hakim, terdakwa, para saksi/saksi ahli dan penasehat hukum serta keluarga korban/terdakwa pertanggunganjawab masing-masing para saksi, saksi ahli, penyidik serta terdakwa atau korban hidup yang dapat/siap di sidang pengawalan dan pengamanan lingkungan, terdakwa, korban hidup dan para saksi/saksi ahli surat panggilan para saksi/saksi ahli, korban hidup dan terdakwa kesiapan alat bukti, barang bukti untuk dipertanggungjawabkan dalam forum kesiapan forum sidang pengadilan sesuai hukum yang berlaku kesiapan para saksi ahli termasuk dokter untuk mengucapkan sumpah di forum sidang pengadilan Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 3
  4. 4. Kerahasiaan kerahasiaan hukum, medis oleh profesi masing-masing tanpa/bebas rahasia dalam forum sidang pengadilan khususnya para saksi/saksi ahli dan penyidik kerahasiaan medis dan hukum tetap terjaga di luar forum pengadilan sebelum dan sesudah perkara selesai ada sanksi terhadap para personalia pemegang rahasiaPrinsip hasil pemeriksaan medis obyektif sesuai pengamatan/pemeriksaan pihak medis berdasarkan norma atauran/standart pelayanan medis, khususnya standar pelayanan kedokteran forensik landasan utama berdasarkan ilmu kedokteran orientasi ilmu hukum dapat dipertanggungjawabkan secara medis berorientasi / tidak berorientasi dengan ilmu hukumInformed concent prinsipnya merupakan hak korban/keluarga korban untuk dilakukan pemeriksaan berdasarkan informasi dari pihak penyidik (Pasal 134 KUHAP) penyidik perlu koordinasi dengan tim medis dan keluarga korban untuk, menentukan macam pemeriksaan (PL, autopsi, TKP, penunjang, dll) penyidik memiliki Pasal 222 KUHP dalam menentukan pemeriksaan jenazah (PL, autopsi) Jadi Informed Consent : - dari pihak penyidik untuk tim medis dan penyidik berupa surat permintaan V et R - dari korban/keluarga korban – antara pihak penyidik, tim medis dan keluarga korban berupa surat persetujuan keluarga - dari keluarga korban – untuk : o pangruti jenazah (agama) o pengawetan jenazah (penundaan pemakaman dan WNA) o pengiriman/transportasi jenazah (Ambulance dan pesawat terbang)Rekam Medis Rekam medis tertuang/tertulis dalam status korban, berkaitan dengan segala macam pemeriksaan medis serta hasilnya V et R adalah merupakan laporan data dari RM murni yang sudah dianalisis dari data RM dan pertanggungjawabnya RM bersifat rahasia medis, Rumah Sakit, pribadi dan hukum (HAM, PP 10 tahun 1966 dan Pasal 170 KUHAP). Pelepasan rahasia di sidang pengadilan bebas sanksi (Pasal 48, 49, 50, 51 KUHP), bila diluar sidang sanksinya menurut hukum yang berlaku. RM dan IC berdasarkan hukum tertulis dari Permenkes RI. Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 4
  5. 5. Tabel 1. Perbedaan visum et repertum dan surat keterangan medis Perbedaan : V et R Surat Keterangan Medis Korban/penderita Merupakan barang bukti Merupakan pasien medis Pembuat Dokter Dokter atau dokter gigi Awal kontrak/ Kontrak pemeriksaan Kontrak pemeriksaan dari permintaan dari pihak berwenang pasien sendiri pemeriksaan (polisi, jaksa, hakim) Format laporan Dalam bentuk visum et Dalam bentuk surat repertum keterangan medis (misal surat keterangan sehat) Penyerahan laporan Diserahkan kepada Diserahkan hanya kepada pihak pemohon pasien Masa berlaku Sampai berakhirnya Ada batas waktu proses peradilan tertentenggang waktu tertentu) Informed consent Tidak diperlukan Harus ada Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 5
  6. 6. BAB IIVISUM ET REPERTUMPENGERTIAN Menurut bahasa: berasal dari Bahasa Latin yaitu Visum (sesuatu yang dilihat) dan Repertum (melaporkan). Menurut istilah: adalah laporan tertulis yang dibuat oleh dokter berdasarkan sumpah jabatannya terhadap apa yang dilihat dan diperiksa berdasarkan keilmuannya. Menurut Lembaran Negara (Staatsblad) 350 tahun 1937: Suatu laporan medik forensik oleh dokter atas dasar sumpah jabatan terhadap pemeriksaan barang bukti medis (hidup/mati) atau barang bukti lain, biologis (rambut, sperma, darah), non- biologis (peluru, selongsong) atas permintaan tertulis oleh penyidik ditujukan untuk peradilan.MAKSUD DAN TUJUAN PEMBUATAN VISUM ET REPERTUMMaksud pembuatan VeR adalah sebagai salah satu barang bukti (corpus delicti) yangsah di pengadilan karena barang buktinya sendiri telah berubah pada saat persidanganberlangsung. Jadi VeR merupakan barang bukti yang sah karena termasuk surat sahsesuai dengan KUHP pasal 184.Ada 5 barang bukti yang sah menurut KUHP pasal 184, yaitu:1. Keterangan saksi2. Keterangan ahli3. Keterangan terdakwa4. Surat-surat5. PetunjukAda 3 tujuan pembuatan VeR, yaitu:1. Memberikan kenyataan (barang bukti) pada hakim2. Menyimpulkan berdasarkan hubungan sebab akibat3. Memungkinkan hakim memanggil dokter ahli lainnya untuk membuat kesimpulan VeR yang lebih baruPembagian Visum et RepertumAda 3 jenis visum et repertum, yaitu:1. VeR hidup VeR hidup dibagi lagi menjadi 3, yaitu: a. VeR definitif, yaitu VeR yang dibuat seketika, dimana korban tidak memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga tidak menghalangi pekerjaan korban. Kualifikasi luka yang ditulis pada bagian kesimpulan yaitu luka derajat I atau luka golongan C. b. VeR sementara, yaitu VeR yang dibuat untuk sementara waktu, karena korban memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga menghalangi pekerjaan korban. Kualifikasi luka tidak ditentukan dan tidak ditulis pada kesimpulan. Ada 5 manfaat dibuatnya VeR sementara, yaitu Menentukan apakah ada tindak pidana atau tidak Mengarahkan penyelidikan Berpengaruh terhadap putusan untuk melakukan penahanan sementara terhadap terdakwa Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 6
  7. 7. Menentukan tuntutan jaksa Medical record c. VeR lanjutan, yaitu VeR yang dibuat dimana luka korban telah dinyatakan sembuh atau pindah rumah sakit atau pindah dokter atau pulang paksa. Bila korban meninggal, maka dokter membuat VeR jenazah. Dokter menulis kualifikasi luka pada bagian kesimpulan VeR.2. VeR jenazah, yaitu VeR yang dibuat terhadap korban yang meninggal. Tujuan pembuatan VeR ini adalah untuk menentukan sebab, cara, dan mekanisme kematian.3. Ekspertise, yaitu VeR khusus yang melaporkan keadaan benda atau bagian tubuh korban, misalnya darah, mani, liur, jaringan tubuh, tulang, rambut, dan lain-lain. Ada sebagian pihak yang menyatakan bahwa ekspertise bukan merupakan VeR. KLASIFIKASI VISUM VISUM HIDUP VISUM MATI EKSPERTISE DEFINITIF SEMENTARA LANJUTAN menentukan SEBAGIAN MENYATAKAN sebab, cara, BUKAN VISUM. dan mekanisme kematian melaporkan keadaan Pada Pasien sembuh, Tidak terdapat benda atau bagian tubuh kesimpulan pindah dokter, kualifikasi luka korban terdapat pinadah RS, Kualifikasi luka pulang paksa atau meninggal Pada kesimpulan terdapat kualifikasiSkema 3. Klasifikasi visumPembagian lain visum et repertum:1. menurut peristiwa: a. VeR perlukaaan b. VeR kejahatan seksual c. VeR psikiatrik d. VeR jenazah2. menurut barang bukti: a. VeR hidup b. VeR mati3. menurut sifat : a. VeR sementara, lanjutan, definitif b. VeR barang bukti benda, ekshumasi, TKPSusunan Visum et RepertumAda 5 bagian visum et repertum, yaitu:1. Pembukaan Ditulis ‗pro justicia‘ yang berarti demi keadilan dan ditulis di kiri atas sebagai pengganti materai.2. Pendahuluan Bagian pendahuluan berisi: Identitas tempat pembuatan visum berdasarkan surat permohonan mengenai jam, tanggal, dan tempat Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 7
  8. 8. Pernyataan dokter, identitas dokter Identitas peminta visum Wilayah Identitas korban Identitas tempat perkara3. Pemberitaan Pemberitaan memuat hasil pemeriksaan, berupa: Apa yang dilihat, yang ditemukan sepanjang pengetahuan kedokteran Hasil konsultasi dengan teman sejawat lain Untuk ahli bedah yang mengoperasi  dimintai keterangan apa yang diperoleh. Jika diopname  tulis diopname, jika pulang  tulis pulang Tidak dibenarkan menulis dengan kata-kata latin Tidak dibenarkan menulis dengan angka, harus dengan huruf untuk mencegah pemalsuan. Tidak dibenarkan menulis diagnosis, melainkan hanya menulis ciri-ciri, sifat, dan keadaan luka.4. Kesimpulan Bagian kesimpulan memuat pendapat pribadi dokter tentang hubungan sebab akibat antara apa yang dilihat dan ditemukan dokter dengan penyebabnya. Misalnya jenis luka, kualifikasi luka, atau bila korban mati maka dokter menulis sebab kematiannya.5. Penutup Bagian penutup memuat sumpah atau janji, tanda tangan, dan nama terang dokter yang membuat. Sumpah atau janji dokter dibuat sesuai dengan sumpah jabatan atau pekerjaan dokter.Kualifikasi LukaAda 3 kualifikasi luka pada korban hidup, yaitu:1. Luka ringan / luka derajat I/ luka golongan C Luka derajat I adalah apabila luka tersebut tidak menimbulkan penyakit atau tidak menghalangi pekerjaan korban. Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal 352 ayat 1.2. Luka sedang / luka derajat II / luka golongan B Luka derajat II adalah apabila luka tersebut menyebabkan penyakit atau menghalangi pekerjaan korban untuk sementara waktu. Hukuman bagi3. Luka berat / luka derajat III / luka golongan A Luka derajat III menurut KUHP pasal 90 ada 6, yaitu: - Luka atau penyakit yang tidak dapat sembuh atau membawa bahaya maut (NB : semua luka tembus yang mengenai kepala, dada atau perut dianggap membawa bahaya maut) - Luka atau penyakit yang menghalangi pekerjaan korban selamanya - Hilangnya salah satu panca indra korban - Cacat besar - Terganggunya akan selama > 4 minggu - Gugur atau matinya janin dalam kandungan ibuProsedur Permintaan, Penerimaan, dan Penyerahan Visum et RepertumPihak yang berhak meminta VeR1. Penyidik, sesuai dengan pasal I ayat 1, yaitu pihak kepolisian yang diangkat negara untuk menjalankan undang-undang.2. Di wilayah sendiri, kecuali ada permintaan dari Pemda Tk II.3. Tidak dibenarkan meminta visum pada perkara yang telah lewat. Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 8
  9. 9. 4. Pada mayat harus diberi label, sesuai KUHP 133 ayat C.Syarat pembuat: Harus seorang dokter (dokter gigi hanya terbatas pada gigi dan mulut) Di wilayah sendiri Memiliki SIP Kesehatan baikAda 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untukmembuat VeR korban hidup, yaitu:1. Harus tertulis, tidak boleh secara lisan.2. Langsung menyerahkannya kepada dokter, tidak boleh dititip melalui korban atau keluarganya. Juga tidak boleh melalui jasa pos.3. Bukan kejadian yang sudah lewat sebab termasuk rahasia jabatan dokter.4. Ada alasan mengapa korban dibawa kepada dokter.5. Ada identitas korban.6. Ada identitas pemintanya.7. Mencantumkan tanggal permintaan.8. Korban diantar oleh polisi atau jaksa.Ada 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untukmembuat VeR jenazah, yaitu:1. Harus tertulis, tidak boleh secara lisan.2. Harus sedini mungkin.3. Tidak bisa permintaannya hanya untuk pemeriksaan luar.4. Ada keterangan terjadinya kejahatan.5. Memberikan label dan segel pada salah satu ibu jari kaki.6. Ada identitas pemintanya.7. Mencantumkan tanggal permintaan.8. Korban diantar oleh polisi.Saat menerima permintaan membuat VeR, dokter harus mencatat tanggal dan jam,penerimaan surat permintaan, dan mencatat nama petugas yang mengantar korban.Batas waktu bagi dokter untuk menyerahkan hasil VeR kepada penyidik selama 20 hari.Bila belum selesai, batas waktunya menjadi 40 hari dan atas persetujuan penuntutumum.Lampiran visum Fotografi forensik Identitas, kelainan-kelainan pada gambar tersebut Penjelasan  istilah kedokteran Hasil pemeriksaan lab forensik (toksikologi, patologi, sitologi, mikrobiologi)Catatan dr Iwan Aflanie, Sp.F, M.Kes :- Penyidik yang boleh meminta dilakukan visum minimal berpangkat AIPDA.- Pangkat polisi dari yang paling bawah (  = setara dengan/nama dulu) : i. BRIPDA  SERDA ii. BRIPTU  SERSU iii. BRIPKA  SERKA iv. BRIGADIR  SERSAN MAYOR v. AIPDA  PELDA Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 9
  10. 10. vi. AIPTU  PELTU vii. IPDA  LETDA viii. IPTU  LETTU ix. AKP  KAPTEN x. KOMPOL  MAYOR xi. AKBP  LETKOL xii. KOMBES  KOLONEL- Paragraf dalam visum tidak boleh terpotong.- Pemberitaan = objektif medis- Kesimpulan = subjektif medis karena berupa pendapat dari penulis visum- Pada kesimpulan, penulisan harus didahulukan yang paling berat lukanya, bahkan luka yang paling ringan kadang tidak ditulis.- Pada kesimpulan harus ditulis poin2, misal : terdapat luka tusuk akibat persentuhan benda tajam (I.9,10) saat kematian kurang dari dua jam dari saat pemeriksaan (I.3,4,5)- CARA PEMBUATAN VISUM Penulisan visum menyangkut 4 hal dibawah ini : 1. lokasi luka 2. koordinat luka (x,y) o kepala, badan, kemaluan  x = sumbu tubuh (yang di ambil dari potongan sagital tubuh) o ekstremitas  x = garis tengah ekstremitas o y = titik anatomis terdekat 3. jenis luka a. luka tertutup  Langsung disebut namanya, misal luka memar, luka lecet geser, luka lecet tekan b. luka terbuka - benda tajam Tepi luka rata Sudut keduanya tajam atau salah satu sudutnya tajam (luka tusuk  keduanya tajam, luka iris  salah satunya tajam) Tidak terdapat jembatan jaringan (jarinngan yang terputus tidak sempurna) Bila melewati daerah berambut, maka rambutnya akan terpotong Termasuk didalamnya : luka tusuk, luka iris, luka bacok - benda tumpul  Tepi luka rata  Sudut keduanya tumpul  Terdapat jembatan jaringan  Bila melewati daerah berambut, maka rambutnya tidak terpotong  Termasuk didalamnya : luka robek, patah tulang terbuka  Luka robek terjadi karena gaya yang datang lebih besar daripada gaya elastisitas jaringan kulit dan jaringan tulang dibawahnya. 4. ukuran luka - luka terbuka  panjang x lebar x dalam - luka tertutup  panjang x lebar - untuk luka yang tidak ada ujungnya misal berbentuk bulat, maka tentukan diameternya dengan mencari titik tengah dari luka tersebut, luka lecet geser juga harus dicari titik tengahnya untuk menentukan ukurannya. Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 10
  11. 11. BAB IIICARA, SEBAB, DAN MEKANISME KEMATIANCara kematian = macam kejadian yang bertanggung jawab terhadap kematianCara Kematian :1. Wajar : karena penyakit2. Tidak wajar : pembunuhan, bunuh diri, kecelakaanKECELAKAAN, BUNUH DIRI ATAU PEMBUNUHAN ? Kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan merupakan permasalahan yang harusdapat dijawab, dibuat terang dan jelas oleh dokter dan khususnya oleh penyidik, karenabaik kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan membawa implikasi yang berbeda-beda,baik ditinjau dari sudut penyidikan maupun proses peradilan.1. Kematian karena kecelakaan Kematian karena kecelakaan (accidental death) masih merupakan kasus yangmasuk didalam ruang lingkup penyidikan. Dalam kasus kecelakaan ini penyidik seringdihadapkan dengan kasus dimana tanda-tanda kekerasan jelas terlihat akan tetapi tidakada satu petunjuk pun atau tanda-tanda yang mengarah akan adanya unsur-unsurkriminal sebagai penyebab kecelakaan itu sendiri. Yang termasuk didalam pengertiankecelakaan disini adalah : Kematian yang terjadi sewaktu seseorang penderita kelainan didalam kehidupanseksualnya, dan melampiaskan hasrat seksual yang tidak wajar tersebut dengan cara-cara yang tidak wajar pula. Kematian disini dikenal dengan autoerotic death. Kematian karena tergantung atau accidental hanging death, biasa terjadi pada anak-anak; dimana anak-anak tersebut tersangkut lehernya dipinggir tempat tidur yangmempunyai jaruji, atau tersangkut lehernya pada percabangan pohon yang berbentuk V. Kematian karena tersumbatnya jalan udara pernafasan oleh sesuatu benda (Chockingdeath). Hal ini sering terjadi pada orang-orang jompo, dimana gigi palsunya tertelanatau gumpalan daging yang menyumbat jalan udara pernafasan secara tidak langsung. Kematian karena tubuh mendapat tekanan yang sangat hebat (Crushing death),sehingga dinding dada tidak dapat berkembang dengan demikian berarti pernafasanakan terhenti. Kematian karena arus listrik atau electrical shock deaths sering terjadi pada waktumusim hujan dan orang menutupi kebocoran-kebocoran yang ada akan tetapi dengantidak disadari terpegang kabel beraliran listrik yang isolatornya tidak baik, atau korbanmemegang atap seng yang bersentuhan dengan kabel listrik tadi. Kematian karena tenggelam seringkali terjadi terutama dimusim hujan yangmenyebabkan banjir. Pada umumnya kematian karena tenggelam bersifat kecelakaan,non-kriminal sehingga pembedahan mayat pada kasus tenggelam sering tidakdiperlukan. Namun kemungkinan adanya unsur kriminal tetap harus difikirkan terutamajika ada petunjuk-petunjuk kearah itu. Dalam kasus-kasus kematian karena kecelakaan seperti yang diuraikan, Penyidik,dokter atau bahkan orang awam dengan mudah dapat melihat dan menemukan tanda-tanda kekerasan yang dapat diklasifikasikan sebagai luka lecet, luka memar, luka bakarkarena arus listrik, tanda-tanda tergantung yang jelas dan tanda-tanda mati lemas. Akan tetapi dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh penyidik ternyata tidakada unsur kriminalnya. Dalam kasus seperti ini tentu penyidik dihadapkan padapermasalahan apakah korban perlu dilakukan bedah mayat atau cukup hanyapemeriksaan luar saja. Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 11
  12. 12. Perlu tidaknya suatu tindakan atau langkah yang harus diambil tergantungsepenuhnya pada Penyidik sebagai pimpinan penyidikan jika menurut Penyidikmemang tidak ada unsur kriminal maka pemeriksaan luar saja cukup dan dapatdipertanggung jawabkan serta tidak bertentangan dengan peraturan (H.A.P.) yangberlaku. Akan tetapi bila penyidik berkesimpulan akan adanya unsur memerintahkandokter untuk melakukan pembedahan mayat demi kelengkapan alat bukti dipersidangan.2. Bunuh diri atau pembunuhan ? Bunuh diri atau pembunuhan dapat diketahui dari pemeriksaan di TKP,pemeriksaan mayat, pemeriksaan benda-benda bukti lainnya, informasi para saksi danlain sebagainya. Pemeriksaan di TKP Pada bunuh diri, tempat yang dipilih biasanya tersembunyi, pintu dikunci dari dalam, keadaan ruangan tenang dan teratur rapih, alat yang sering dipakai biasanya alat yang ada di dalam ruangan itu sendiri, alat tersebut biasanya masih ada, sering didapatkan surat-surat peninggalan yang isinya berkisar pada keputus-asaan atau merasa bersalah; korban berpakaian rapih dan dalam keadaan baik. Pada pembunuhan, tidak ada tempat yang tertentu, keadaan ruang kacau balau dan sering ada barang yang hilang, alat yang dipakai biasanya alat yang dibawa/dipersiapkan oleh pembunuh sehingga biasanya alat tersebut tidak ditemukan di tempat kejadian, pakaian korban tidak beraturan dan sering terdapat robekan dan mungkin pula dapat ditemukan surat yang bernada ancaman. Keadaan bercak darah, pada bunuh diri darah berkumpul pada satu tempat/tergenang, bercak yang terdapat pada pakaian distribusinya teratur mencari tempat yang terendah tergantung dari tempat luka yang mengeluarkan darah. Pada kasus pembunuhan, bercak atau genangan darah tidak beraturan menunjukkan arah pergerakan dari korban sewaktu korban berusaha menghindar, dapat tampak bercak darah yang menunjukkan bahwa korban diseret, bercak darah juga sering tampak mengotori dinding terutama jika korban tersudut pada dinding. Pemeriksaan mayat Pada kasus dengan menggunakan senjata tajam Pada bunuh diri daerah yang dipilih adalah daerah leher, dada, perut bagian atas atau pergelangan tangan, sering ditemukan luka-luka percobaan yang berjalan sejajar baik disekitar luka yang fatal maupun pada bagian tubuh lain. Pada pembunuhan tidak ada tempat khusus, jumlah luka sering lebih dari satu, adanya luka pada bagian belakang merupakan ciri khas pembunuh, pada lengan dan telapak tangan sering didapatkan luka-luka tangkis; pada beberapa kasus kadang-kadang korban selain ditusuk juga dihantam dengan bagian tumpul dari senjata sehingga selain luka akibat benda tajam didapatkan luka akibat benda tumpul.Mutilasi Pada beberapa kasus pembunuhan, tidak jarang tubuh korban setelah meninggaldunia dirusak, dipotong-potong menjadi beberapa bagian; tindakan tersebut dikenaldengan sebutan mutilasi. Mutilasi serta perusakan tubuh korban yang telah menjadimayat dimaksudkan pula untuk menghilangkan identitas korban, dengan demikian Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 12
  13. 13. penyidikan akan menjadi sulit; dan tindakan tersebut memang ditujukan untukmenghilangkan jejak si pembunuh. Di dalam kasus mutilasi terdapat 4 masalah pokok yang harus diperolehkejelasannya baik bagi dokter yang membuat Visum et Repertum dan khususnya bagipenyidik dalam usaha untuk mendapatkan kelengkapan barang bukti sehingga prosespenyidikan dan peradilan dapat berjalan dengan lancar. Masalah pokok tersebut adalah : 1. Apakah bagian-bagian ―tubuh‖ itu memang berasal dari tubuh manusia ? 2. Jika bagian-bagian tubuh tersebut memang berasal dari manusia, apakah berasal dari orang yang sama/satu individu ? 3. Identitasnya ? 4. Apa yang menyebabkan kematian ? Masalah pokok yang pertama penting harus diperoleh kejelasannya, yaitu bilatubuh korban dipotong-potong menjadi bagian yang kecil-kecil, sehingga denganpemeriksaan visual sukar dipastikan, maka perlu di lakukan pemeriksaan secaraserologis, yaitu test precipitin. Masalah pokok yang kedua tidak sulit untuk diselesaikan bila tubuh korban tidakterlalu banyak dipotong-potong, yaitu dengan melakukan pemeriksaan yang teliti daritepi/pinggir potongan tubuh dan dibandingkan dengan tepi/pinggir potongan tubuhlainya, apakah cocok atau tidak, bila memang berasal dari satu orang maka didalammelakukan rekonstruksi tersebut akan didapat bentuk yang sesuai. Penentuan identitas tidak sulit bila tubuh korban dalam keadaan cukup baik,didalam hal ini maka pemeriksaan sidik jari, gigi, medis serta pemeriksaan perhiasansangat bermanfaat bila dilakukan denga cermat, tepat dan teliti. Penyebab kematian korban dapat diketahui bila keadaan tubuh yang terpotong-potong tersebut masih lengkap dan dalam penentuan penyebab kematian inipemeriksaan toksikologis serta pemeriksaan laboratoris lainnya harus dilakukan.Contoh kesimpulan Visum et Repertum pada kasus mutilasi Ke-tujuh potong bagian-bagian tubuh yang diperiksa ternyata merupakan satukesatuan yaitu dari tubuh laki-laki dewasa. Luka-luka terbuka dan patah tulang padakepala disebabkan karena kekerasan benda tajam dan tumpul. Adapun kekerasan tajamlainnya yang menjadikan tubuh korban menjadi tujuh potongan dilakukan setelahkorban meninggal dunia. Sebab matinya orang ini agaknya karena kekerasan tumpulpada kepala. Melihat sifat dari ujung-ujung tulang yang terpotong agaknya pemotongandilakukan dengan gergaji dan penggergajian dilakukan pada posisi tubuh korbanterlentang. Dari kesimpulan Visum et Repertum seperti di atas telah tercakup empatmasalah pokok yang harus dapat diperoleh kejelasannya didalam melakukanpemeriksaan kasus mutilasi, dengan demikian proses penyidikan (termasuk interogasidan rekonstruksi), serta proses peradilan dapat berjalan dengan lancar.Tabel. Cara Kematian Akibat Senjata Tajam Faktor Pembunuhan Bunuh diriTKP Lokasi Variabel Tersembunyi Kondisi Tidak teratur Teratur Pakaian Tertembus Terbuka, luka tampak jelas Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 13
  14. 14. Senjata Tidak ada Ada Surat peninggalan Tidak ada Ada (seringkali)Luka Titik anatomis Variabel Tertentu Jumlah (fatal) Satu atau lebih Biasanya Satu Luka percobaan Tidak ada Ada Luka tangkis Ada (biasanya) Tidak ada Tanda pergulatan Ada (biasanya) Tidak ada Mutilasi* Ada (dapat) Tidak ada Arah irisan Variabel Sejajar *) Mutilasi adalah memotong tubuh korban menjadi beberapa bagian yang dilakukan setelah korban mati, dengan maksud untuk menghilangkan identitas korban dan memudahkan si-pelaku kejahatan menyembunyikan membuang tubuh korban.Pada kasus dengan menggunakan benda tumpul Benda tumpul seperti batu, tongkat, batang pohon, kursi atau kepalan tanganhampir selalu dapat dipastikan hanya digunakan pada kasus pembunuhan, bunuh diridengan benda tumpul sangat jarang, karena biasanya akan mendatangkan rasa nyeriyang hebat dan perlu waktu yang lama.Pada kasus dengan menggunakan senjata api Pada bunuh diri dengan senjata api, daerah yang dipilih adalah pelipis, dahi,mulut dan dada. Letak serta arah dari luka itu sendiri tergantung dari keadaan korban,kidal atau tidak. Pada pembunuhan tidak ada tempat khusus untuk dijadikan sasaran tembaknyaluka tembak masuk yang terdapat pada bagian belakang menunjukkan kasuspembunuhan. Pada kasus kecelakaan tidak ada ciri khusus, dalam hal ini pemeriksaan diTKP serta informasi para saksi penting. Bila didalam tubuh korban ditemukan anak peluru maka anak peluru tersebutperlu dicatat dan dilaporkan dengan jelas perihal ukuran panjang, garis tengah/kaliber,warna logam, jumlah dan arah galangan serta berat dari anak peluru dan cacat yang ada.Pemberian tanda pada bagian dasar dan atau bagian hidung anak peluru harus dibuat,hal mana untuk memudahkan untuk mengingat kembali dipersidangan dan untukmenghindari kemungkinan tertukarnya barang bukti yang penting tersebut.Apakah korban seorang kidal ? Untuk dapat mengetahui apakah seorang korban itu kidal atau tidak dapatdilakukan dengan pemeriksaan yang sederhana, pemeriksaan tersebut adalah sebagaiberikut : Pertama-tama ditentukan titik-titik yang sama letaknya pada kedua lengankorban, misalnya titik-titik tersebut letaknya 10 sentimeter dari siku. Kemudian denganalat pengukur atau jika tidak ada dapat dipakai benang, diukur lingkaran lengan atas kiridan kanan pada ketinggian sesuai dengan titik yang sudah ditentukan. Jika ternyata lingkaran lengan kanan lebih besar dari lingkaran lengan kiri, iniberarti korban sehari-hari lebih sering/lebih aktif menggunakan tangan kanannya. Bilalingkaran pada lengan kiri lebih besar dari lingkaran lengan kanan, ini berarti korbanadalah seorang yang kidal.Pada kasus dengan menggunakan alat penjerat Pada penggantungan jika kasusnya bunuh diri, maka alat penjerat yang terdapatpada leher berjalan dengan letak simpul pada sebelah atas, jumlah lilitan sekali atausering berulang kali, simpulnya simpul hidup, jejas jerat yang sebenarnya merupakanluka lecet tekan berwarna merah coklat dengan perabaan seperti perkamen dan letaknya Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 14
  15. 15. sesuai dengan letak alat penjerat menekan leher, di sekitar jejas jerat dapat ditemukangelembung-gelembung dan pelebaran pembuluh darah yang merupakan tanda intra vital. Tanda-tanda asfiksia/mati lemas yaitu bintik-bintik pendarahan pada mata, mukadapat dilihat. Jika korban lama dalam keadaan tergantung lebam mayat pada ujung-ujung anggota gerak akan tampak. Muka korban tampak sembab, lebih gelap, matadapat menonjol keluar demikian pula halnya dengan lidah. Pada pembunuhan alat penjerat berjalan mendatar, biasanya satu lilitan dengansimpul mati dan letak alat penjerat umumnya lebih kebawah, menjauhi rahang bawahdan kelenjar gondok, pada daerah leher mungkin terdapat tanda-tanda bekas pencekikanyang berbentuk luka lecet seperti bulan sabit atau luka memar, pada keadaan yangdemikian tulang lidah korban dapat patah. Selain karena mati lemas/asfiksia, kematian pada kasus penjeratan dapat olehkarena hal lain/mekanisme kematian lain, seperti reflek vagal yang menyebabkanterhentinya denyut jantung, otak tidak mendapat oksigen cukup oleh karena jeratannyasangat kuat menekan semua pembuluh darah yang menuju ke otak atau karenaterjadinya patah atau diskolasi ruas tulang leher yang berakibat putusnya sumsum tulangbelakang.Penjeratan dengan tangan (manual strangulation) Penjeratan dengan mempergunakan tangan sendiri adalah hal yang tidakmungkin, oleh karena dengan adanya tekanan pada leher akan menyebabkan terjadinyakehilangan kesadaran dan dengan sendirinya tekanan pada leher tersebut akan terhenti.Dengan demikian penjeratan dengan tangan atau pencekikan selalu merupakan kasuspembunuhan. Kelainan yang didapatkan pada korban adalah adanya jejas kuku (luka lecettekan berbentuk garis lengkung), yang sering pula disertai dengan adanya memar didaerah tersebut. Jika pencekikan dilakukan dengan mempergunakan satu tangan yaitutangan kanan maka jejas kuku ataupun memar akan tampak lebih banyak pada daerahleher sebelah kiri (akibat tekanan dari empat jari), sedangkan pada sebelah kanan hanyasedikit (akibat tekanan dari ibu jari). Kelainan akan tampak lebih jelas dan luas khususnya pada orang-orang tuadimana jaringan di daerah leher sudah sedemikian longgarnya. Pada pemeriksaan dalamakan tampak adanya pendarahan pada jaringan dibawah kulit dan otot yang sesuaidengan jejas kuku; patahnya tulang lidah, rawan gondok sering ditemukan pada kasuspencekikan. Pada kasus pencekikan dimana tersangka pelakunya dengan segera dapatditangkap, maka pemeriksaan kuku dari si tersangka tersebut (dengan mengerok kukubagian dalam), harus dikerjakan dengan tujuan mencari jaringan kulit atau darah darikorban yang terbawa pada kuku si tersangka pelaku pencekikan tersebut; demikian pulapemeriksaan zakar untuk mencari sel-sel epitel dinding vagina bila motif seksualmerupakan alasan untuk melakukan pencekikan korban tersebut.Tabel. Cara Kematian Pada Penggantungan Faktor Pembunuhan Bunuh diriTKP Lokasi Variabel Tersembunyi Kondisi Tidak teratur Teratur Pakaian Variabel Rapih dan baik Alat Berasal dari si Berasal dari alat yang pembunuh tersedia di tempat Surat/catatan peninggalan Tidak ada Ada (seringkali) Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 15
  16. 16. Kamar Variabel, bila Terkunci dari dalam terkunci dikunci dari luarAlat penjerat Simpul Mati (biasanya) Hidup Lilitan Hanya sekali Sekali tapi sering berulang kali Arah Mendatar Serong keatas Jarak simpul dengan tumpuan Lebih dekat JauhKorban Jejas jerat Jejas berjalan Jejas, merah coklat mendatar seperti perkamen; serong Perlawanan Ada (biasanya) Tidak ada Luka-luka lain Ada (sering Tidak ada didaerah leher) (biasanya) Luka percobaan dapat Jarak dengan Jauh ditemukan lantai Dekat, seringkali masih menempel * dijerat kemudian digantung3. Penyidikan pada kasus kematian karena terbenam Kematian karena terbenam atau tenggelam adalah salah satu bentuk dari matilemas/asfiksia, dimana asfiksia tersebut dapat disebabkan karena korban terbenamseluruhnya atau sebagian terbenam didalam benda cair. Penyidikan pada kasus-kasus tersebut perlu dilakukan dengan baik. Penyidikanditujukan terutama untuk mendapat kejelasan apakah korban masih hidup sewaktuterbenam ataukah sudah menjadi mayat sewaktu dibenamkan, juga untuk penentuanapakah kasus terbenam itu kasus kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan. Tanda-tanda pada pemeriksaan luar - Tubuh korban tampak pucat, teraba dingin dimana proses penurunan suhu mayat dalam hal ini kira-kira dua kali lebih cepat, dengan penurunan suhu rata-rata 5F per jam dan biasanya suhu mayat akan sama dengan suhu lingkungan salam waktu sekitar 5-6 jam. - Lebam mayat berwarna merah terang seperti halnya pada kasus keracunan gas CO, lebam mayat terdapat di daerah kepala, leher dan bagian depan dada. - Dari lubang dan mulut keluar busa halus berwarna putih, ini merupakan petunjuk bahwa korban memang mati terbenam atau mati karena asfiksia pada umumnya. Busa tersebut lama-lama akan berwarna kemerahan dan bila dihilangkan busa tersebut akan keluar lagi khususnya bila dada korban ditekan. - Mata tampak kongestif dan terdapat bintik-bintik perdarahan. - Pada tangan korban dapat ditemukan sedang menggenggam benda-benda pasir, dahan atau rumput (ingat cadaveric spasm), bila keadaan ini didapatkan pada kasus hal tersebut merupakan petunjuk kuat bahwa kematian korban karena terbenam atau menunjukkan intravitalitas. Tanda-tanda pada pemeriksaan dalam/bedah mayat - Busa halus dan benda-benda yang terdapat didalam air (pasir, tumbuhan dsb) akan dapat ditemukan dalam saluran pernafasan/batang tenggorok dan Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 16
  17. 17. cabang-cabangnya. Diatomae yaitu ganggang bersel satu dapat ditemukan dalam paru-paru dan organ tubuh lainnya. - Pada terbenam di air tawar (fres water drowning), paru-paru sangat mengembang, pucat, berat dan bila ditekan akan mencekung, keadaan mana dikenal dengan nama emphysema aquasum, teraba krepitasi dan paru-paru tersebut akan tetap bentuknya bila dikeluarkan dari rongga dada, dan pada pengirisan setiap potongan akan mempertahankan bentuknya, pada pemijitan keluar sedikit busa dan sedikit cairan. - Pada kasus yang terbenam dalam air seni (salt waterdrowning), paru-paru berat, penuh berisi air, perabaan memberi kesan seperti meraba jelly dan bila dikeluarkan dari rongga dada bentuknya tidak akan bertahan sedangkan pada pengirisan tampak banyak cairan yang keluar. Jika pada pemeriksaan ditemukan keadaan yang berbeda dengan keadaan di atas hal ini masih mungkin, dimana kematian bukan karena mati lemas akan tetapi oleh karena hal-hal lain; misalnya karena hiperventilasi (pada perenang yang pandai oleh karena terlalu di forsir sebelum berenang, hal ini akan menyebabkan korban akan kehilangan kesadaran akibat kekurangan oksigen sebelum timbul impuls untuk bernafas. Reflek juga dapat menyebabkan kematian pada kasus terbenam, perangsangan pada reseptor dalam paru-paru akan menimbulkan spasme/kekejangan pada pangkal tenggorok dan terhentinya pernafasan. Inhibili atau penghambatan jantung oleh karena stimulasi vagal juga dapat menyebabkan kematian, didalam hal ini masuknya air secara tiba-tiba kedalam pangkal hidung dan pangkal tenggorok (naso faring dan laring). - Dalam lambung dan organ-organ dalam tubuh serta sumsum tulang dapat ditemukan pula benda-benda asing yang berasal dari dalam air, seperti Lumpur, tumbuhan dan secara mikroskopis dapat dilihat adanya ganggang. Pada setiap kasus terbenam bedah mayat perlu dilakukan terutama bila penyidik mempunyai dugaan adanya unsur kriminal pada kasus yang bersangkutan. Diagnosa kasus kematian karena terendam dapat ditegakkan terutama bila ada tanda-tanda yang menunjang diagnosa tersebut, yaitu: tangan menggenggam erat sesuatu benda, adanya busa halus dalam saluran pernapasan/pipa udara, adanya air (dengan isinya bila ada) dalam lambung, gambaran paru-paru yang khas serta ditemukannya diatomae didalam alat-alat dalam tubuh dan sumsum tulang.Hipoksia dan asfiksia Hipoksia adalah suatu keadaan dimana sel gagal untuk melangsungkanmetabolisme secara efisien. Istilah hipoksia lebih tepat bila dibandingkan dengan istilahanoksia, yang banyak dipakai pada masa-masa lalu. Hipoksia dapat dibagi menjadi 4 grup, yaitu : (1) anoksik atau hipoksia, dimanaoksigen tidak dapat masuk ke dalam aliran darah; (2) anemik, dimana darah tidak dapatmembawa oksigen yang cukup untuk jaringan; (3) stagnan, dimana oleh karena sesuatusebab terjadi kegagalan sirkulasi; (4) histotoksik, dimana oksigen yang terdapat didalam darah tidak dapat dipakai oleh jaringan. Histotoksik-hipoksia sendiri dapat dibagi 4 kelompok, yaitu : (1) Histotoksik-hipoksia ekstraselular, dimana enzim pernafasan jaringan keracunan, misalnya padakeracunan sianida, sedangkan pada kebanyakan golongan hipnotika/obat tidur dan obatbius aktivitas enzim tersebut ditekan; (2) Histotoksik-hipoksia periselular, dimanaoksigen tidak dapat masuk sel oleh karena permeabilitas membran sel menurun, sepertiyang terjadi pada keracunan eter atau khloroform; (3) Substrate histotoxic hyoixia, Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 17
  18. 18. dimana tidak tersedia dengan cukup bahan makanan untuk metabolisme yang efisien;(4) Metabolite histotoxic hypoxia, dimana endproducts dari pernafasan seluler tidakdapat dibuang, sehingga metabolisme selanjutnya tidak berlangsung, seperti padakeadaan uremia dan keracunan gas karbon dioksida. Asfiksia dapat diberi batasan secara umum sebagai pelbagai macam keadaandimana pertukaran udara pernafasan yang normal terganggu. Dua penyebab utama dariasfiksia, yaitu oleh karena terjadinya obstruksi pada saluran pernafasan (dikenal jugadengan istilah asfiksia mekanik), dan oleh karena terhentinya sirkulasi; pada keduakeadaan tersebut terjadi reduksi oksigen dalam darah (hipoksia), dan elevasi karbondioksida (hypercapnoea). Pemeriksaan post-mortal pada kasus-kasus yang meninggal karena mengalamipenekanan pada daerah leher dan obstruksi saluran pernafasan adalah sebagaiberikut ;SianosisYang mudah dilihat pada pembuluh darah kapiler, seperti pada ujung-ujung jari danbibir dimana penilaiannya harus hati-hati oleh karena variabelnya cukup besar. Setelah24 jam post-mortal sianosis yang ada biasanya merupakan perubahan post-mortal, tidakadanya sianosis tidak berarti bahwa korban tidak terjadi sianosis.KongestiKongesti sistemik dan kongesti pada paru-paru serta dilatasi jantung kanan adalahmerupakan tanda klasik pada kematian karena asfiksia.Darah tetap cairMerupakan salah satu indikasi adanya asfiksia, walaupun validitasnya masihdiperdebatkan dan sering diperdebatkan dengan aktifitas fibrinolisin.Edema paru-paruUntuk itu perlu paru-paru ditimbang untuk mengetahui beratnya, walaupun hanyamempunyai arti sedikit didalam hal penentuan kematian karena obstruksi saluranpernafasan, dan sering dijumpai pada kasus-kasus yang lain.Perdarahan berbintik (petechial haemorrhages)Yang mudah dilihat pada kulit dan alat-alat dalam, seperti pada permukaan jantung,permukaan paru-paru, daerah katup pangkal tenggorok (epiglotis), biji mata dan kelopakmata.Pendarahan bintik-bintik ini disebabkan karena terjadinya perubahan permeabilitaskapiler sebagai akibat langsung dari hipoksia dank arena peningkatan tekananintrakapiler.Patahnya tulang lidah dan tulang rawan gondokTulang lidah dapat patah oleh karena mengalami tekanan atau kompresi langsung darisamping (lateral), ataupun karena tekanan yang tidak langsung. Tekanan yang langsungterjadi misalnya pada kasus pencekikan, sedangkan tekanan yang tidak langsungdimungkinkan oleh karena adanya tekanan kebawah kesamping dari tulang rawangondok atau tekanan pada daerah antara tulang lidah dan tulang rawan gondok.Patahnya tulang lidah karena tekanan yang tidak langsung tersebut dimungkinkan olehkarena tulang lidah terfiksasi dengan kuat oleh otot-otot pada permukaan atas danpermukaan depan.Tulang rawan gondok sering patah pada bagian cornusuperior, yang dimungkinkankarena adanya traksi pada jaringan ikat yang menghubungkan tulang lidah dan tulangrawan gondok (thyrohyoid ligament).Pada kasus dengan menggunakan racun Jika racun yang dipakai itu mempunyai bau atau mempunyai sifat korosif sepertihalnya asam sulfat pekat, maka pada umumnya kasusnya adalah kasus bunuh diri; halini akan lebih ditunjang bila racun yang bersifat korosif tadi menyebabkan luka bakar Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 18
  19. 19. yang teratur mulai dari mulut, mengalir kedagu, leher bagian depan dan dada padabagian tengah. Pada kasus keracunan pembedahan mayat dan pemeriksaan toksikologis untukmendapatkan racun pada tubuh korban mutlak harus dilakukan, oleh karena dari hasilpemeriksaan tersebut akan dapat diketahui apakah sebab matinya korban karenakeracunan atau karena hal lain misalnya di bekap dan racunnya dituangkan kemulutkorban setelah korban mati. Pembunuhan dengan racun biasanya memerlukan persiapan yang teliti dengandibekali pengetahuan yang memadai pula. Jika yang dipakai adalah racun yang bersifatkorosif pembunuhan dapat dengan mudah diketahui, oleh karena pelaku kejahatanbiasanya menyiram korbannya, dengan demikian bercak ―luka bakar‖ pada korbansangat tidak beraturan. Pada keracunan morfin kematian pada umumnya bersifat kecelakaan, oleh karenakorban tidak mengetahui dengan tepat berapa dosis morfin yang masuk kedalamtubuhnya. Pembunuhan dengan menyuntik morfin dapat pula terjadi, yang biasanyadilakukan oleh para pengedar morfin yang takut korban membuka cara operasipengedaran morfin.4. Penyidikan pada kasus penembakan Dalam menghadapi kasus penembakan khususnya yang berakibat fatal, penyidikanharus dapat memperoleh kejelasan dari permasalahan sebagai berikut :- Apakah luka yang diperiksa memang benar luka tembak,- Apakah luka tembak tersebut luka tembak masuk atau luka tembak keluar,- Termasuk jenis apa senjata yang menyebabkan luka,- Pada jarak berapa penembakan dilakukan,- Dari arah mana penembakan dilakukan,- Bagaimana posisi korban dan posisi penembak,- Apakah penembakan tersebut yang menyebabkan kematian, dan- Berapa kali korban terkena tembakan. Untuk dapat memperoleh kejelasan tersebut perlu diketahui : Luka masuk, sebab akibat yang ditimbulkan. a. Akibat api (flame effect) : Luka bakar, dimana kulit yang terbakar tampak kering, hangus dan kaku pada perabaan. b. Akibat asap (smoke effect) : Jelaga, dimana kelim jelaga akan tampak sebagai suatu lapisan berwarna kelabu kehitaman disekitar lubang luka mudah dihilangkan dengan cara dihapus. c. Akibat butir-butir mesiu (gun powder effect): tatto/stippling, dimana kelim tatto akan tampak sebagai bintik-bintik hitam yang bercampur dengan luka lecet dan pendarahan, dan tidak dapat dihilangkan bila dihapus oleh karena butir-butir mesiu tersebut masuk kedalam kulit. d. Akibat anak peluru (bullet effect): luka terbuka yang dikelilingi oleh kelim lecet; dan bila senjata yang dipakai itu sering dibersihkan maka pada dinding luka dan kelim lecet akan didapatkan pula kelim kesat/kelim lemak. e. Akibat partikel logam (metal effect): ―fouling‖, yang tampak sebagai luka-luka lecet atau luka-luka robek kecil-kecil disekitar lubang luka; hal ini disebabkan oleh partikel-partikel logam yang terbentuk akibat goresan antara anak peluru dengan laras yang beralur, partikel logam tersebut dapat masuk kedalam kulit atau menempel pada pakaian. f. Akibat moncong senjata (muzzle effect): Jejas laras, hal ini dapat terjadi pada kasus luka tembak temple dan tampak sebagai suatu luka lecet tekan atau memar yang bentuknya sesuai dengan moncong senjata. Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 19
  20. 20. g. Kelainan pada tulang, yang akan tampak jelas pada tulang yang berbentuk pipih misalnya tengkorak, dimana kerusakan pada permukaan tulang bagian luar (tabula externa) akan lebih kecil bila dibandingkan dengan kerusakan pada bagian dalam (tabula interna), ini akan memberikan gambaran lubang yang berbentuk corong. Pada luka tembak keluar terjadi keadaan yang sebaliknya.Luka tembak keluar, dimana dapat memberikan informasi dalam beberapa hal, yaitu : - Arah tembakan, - Sikap dari korban pada saat penembakan, dan - Jumlah peluru yang masih terdapat pada tubuh korban. Pada umumnya luka tembak masuk dan luka tembak keluar tidak mempunyai kelim lecet. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam terjadinya perbedaan besarnya luka tembak keluar tersebut antara lain ; - Velocity (kecepatan) dari anak peluru sewaktu keluar, - Luasnya permukaan anak peluru pada tempat keluar, - Yawing & tumbling of the bullet (pergerakan anak peluru yang tidak beraturan dalam tubuh dan pergerakan berputar menurut poros memanjang (end to end)) - Ada tidaknya fragmen-fragmen tulang yang ikut keluar, - Ada tidaknya tulang dibawah kulit tempat luka tembak keluar, dan - Ada tidaknya benda yang menekan kulit pada tempat keluarnya anak peluru.Luka tembak masuk akibat senjata api yang tidak beralur (Entrance Shotgun Wound); akan tampak kelainan yang disebabkan oleh komponen-komponen yang keluar sewaktu penembakan, yaitu : mesiu, api, asap, pellet dan sumbat peluru (wad).Luka tembak keluar akibat senjata api yang tidak beralur dapat membantu didalam menentukan arah tembakan dan sikap korban sewaktu penembakan, yang pada umumnya akan memberikan gambaran yang variabel akan tetapi pada umumnya lukanya berbentuk bundar atau oval dengan tepi yang terangkat keluar (everted margins).Pemeriksaan mikroskopis dari luka tembak masuk. Pemeriksaan ini diperlukan pada kasus-kasus yang meragukan, kelainan yang didapatkan pada dasarnya merupakan akibat dari trauma mekanis dan thermis. Kompresi dari epithel, elongasi, distorsi dan tampaknya perdarahan serta butir- butir mesiu, nekrosis koagulatip dan sembabnya epithel dan vakuolisasi sel-sel basal, demikian pula menjadi piknotiknya inti sel dan pada pewarnaan dengan H.E> akan lebih banyak mengambil warna biru (basophilic staining), adalah merupakan kelainan yang dapat ditemukan pada pemeriksaan mikroskopis.Pemeriksaan kimiawi dari luka tembak masuk Prinsipnya adalah dapat dideteksinya unsur-unsur yang terdapat dalam mesiu, misalnya: pada smokeless goundpowder dapat dideteksi nitrit dan cellulosa nitrate; sedangkan pada black powder black gunpowder yang dapat dideteksi adalah karbon, nitrit, sulfid, sulfat, karbonat, tiosianat dan tiosulfat; sedangkan pada senjata yang lebih modern timah hitam, antimon dan merkuri.Pemeriksaan secara radiologis Pemeriksaan dengan sinar-X ini dapat banyak membantu didalam hal mencari anak peluru dan partikel logam dalam tubuh korban, menentukan apakah korban merupakan korban penembakan dengan senjata api yang tidak beralur dan pada kasus khusus, yaitu dimana jumlah anak peluru lebih banyak dari Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 20
  21. 21. jumlah luka tembak pada penembakan dengan senjata api yang beralur (tandem bullet injury). Internal ricochet Internal ricochet dapat terjadi bila kekuatan anak peluru tidak cukup untuk dapat menembus dari jaringan tubuh, misalnya pada kasus dimana anak peluru mengenai kepala. Dengan demikian dapat terjadi variasi dari perjalanan anak peluru didalam kepala yang perlu diketahui, yaitu : Single- ricochet, double- ricochet, inner tangential at contralateral side, inner tangential at contra lateral side and ricochet dan inner tangential at entrance side.5. Penyidikan pada kasus kematian karena terbakar Didalam melakukan pemeriksaan korban yang terbakar, dokter harus dapatmemberikan kejelasan kepada penyidik dalam hal:- Apakah korban dalam keadaan hidup atau mati sewaktu kebakaran itu mulai terjadi?- Penyebab kematian.- Identitas korban.- Perlukaan yang diakibatkan secara langsung oleh api.- Adanya racun, obat-obatan dan alkohol didalam tubuh korban.- Cara kematian, kecelakaan atau pembunuhan. Untuk dapat menentukan apakah korban dalam keadaan hidup atau mati sewaktu kebakaran itu mulai terjadi mutlak harus dilakukan pembedahan mayat dan pemeriksaan toksikologis. Pada korban yang masih hidup sewaktu kebakaran itu mulai berlangsung, pada pembedahan mayat akan ditemukan adanya pengumpulan dari jelaga didalam saluran pernafasan serta adanya pembengkakan pada daerah tersebut khususnya katup pangkal tenggorok (epiglotis), serta pita suara dan daerah sekitarnya. Pada pemeriksaan toksikologis akan dapat diketahui bahwa didalam darah korban mengandung gas karbon-monoksida (CO), dalam bentuk COHb dengan saturasi diatas 10%. Bila didalam peristiwa kebakaran itu banyak terbentuk asap yang mengandung gas CO, maka kematian dapat disebabkan karena keracunan gas tersebut; dan ini dapat diketahui antara lain dari lebam mayat yang berwarna merah bata (cherry red), serta alat-alat dalam tubuh yang juga berwarna merah bata, warna tersebut disebabkan oleh karboksihemoglobin (COHb). Pada tubuh korban juga dapat ditemukan gelembung-gelembung (skin blisters), dimana gelembung pada orang yang mati terbakar akan tampak kemerahan pada dasarnya, cairannya banyak mengandung protein dan pada pemeriksaan mikroskopis menunjukkan adanya reaksi vital, yaitu sel-sel radang; dimana semua keadaan tadi tidak akan dijumpai pada orang yang sudah mati pada saat kebakaran itu mulai berlangsung. Penyebab kematian pada kasus kebakaran dapat dikarenakan oleh pelbagai hal, diantaranya : - Panas yang tinggi sekali yang dapat berakhir dengan serangan jantung yang fatal. - Keracunan gas CO, dimana dalam darah korban akan didapatkan saturasi COHb diatas 60%. - Shock sebagai akibat dari luka-luka yang diderita serta akibat uap gas yang panas. - Luka-luka yang fatal akibat tertimpa dinding atau atap yang roboh. - Pembengkakan paru-paru (pulmonary edema), akibat panas yang mengiritasi paru-paru. Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 21
  22. 22. - Pembengkakan saluran pernafasan bagian atas yang mengakibatkan obstruksi saluran pernafasan sehingga korban tidak dapat bernafas. Penentuan identitas pada kasus yang mati terbakar amat penting, khususnya bila kasus yang dihadapi merupakan kasus pembunuhan. Bila tubuh korban terbakar dengan sempurna maka penentuan identitas tidak mungkin. Akan tetapi pada kebanyakan kasus pembakaran tersebut tidak sempurna, didalam kasus seperti ini maka penentuan identitas dapat dilakukan, terutama penentuan identitas dari gigi, perhiasan logam dan kelainan didalam tubuh korban seperti adanya tumor pada rahim, adanya pen besi penyambung tulang, sebagian pakaian dan lain sebagainya yang sukar hancur bila dibakar. Pada tubuh yang terbakar (mayat atau orang hidup), kulit akan dapat pecah berbentuk celah hingga dapat disangka sebagai akibat dari benda tajam, demikian pula dengan pecahnya tulang-tulang yang kesemuanya itu dapat diketahui dan dibedakan dengan luka-luka atau kelainan yang didapat sewaktu korban masih hidup, diantaranya dengan ada tidaknya perdarahan serta reaksi intra vital lainnya. Pemeriksaan toksikologis pada korban harus dilakukan dalam hubungannya untuk mencari kejelasan dan pengarahan penyidikan. Para pecandu alkohol, narkotika obat tidur serta obat bius lainnya oleh karena kesadarannya terganggu seringkali mati terbakar oleh karena mereka lupa mematikan rokok, kompor, lampu dan lain sebagainya. Jika dari hasil penyidikan dapat diketahui bahwa mereka itu memang para pecandu dan menyalah gunakan obat (drug abuser), maka kematian korban bersifat kecelakaan; akan tetapi bila penyidikan tersebut tidak memberi hasil seperti tersebut diatas maka kemungkinan kasus pembunuhan haruslah dipikirkan. Pada umumnya kematian karena terbakar bersifat kecelakaan, akan tetapi bila pada pemeriksaan mayat dan dari hasil penyidikan didapatkan keadaan-keadaan yang menentangkan kecurigaan seperti yang telah disinggung pada 5.1.; 5.2.; 5.3.; 5.4.; dan 5.5., maka pembunuhan sebagai perbuatan orang lain haruslah dijadikan pedoman utama didalam penyidikan sampai didapat hasil yang baik.6. Anggapan yang tidak tepat dalam penyidikan kasus pembunuhan Dalam zaman yang sudah maju dan modern seperti sekarang masih tetap hidupdikalangan masyarakat termasuk dalam kalangan penyidik sendiri anggapan-anggapanyang keliru dan tidak tepat mengenai kasus pembunuhan. Anggapan-anggapan tersebutterdapat di negara-negara yang sudah maju. Berikut ini tertera beberapa anggapan yangperlu mendapatkan perhatian khusus, yaitu : Pembunuhan akan selalu dapat segera diketahui. Si-pembunuh akan selalu kembali ke tempat dimana kejahatan itu dilakukan. Arah mata dari korban atau posisi lengan korban merupakan petunjuk ke arah mana si-pembunuh melarikan diri. Ekspresi wajah korban, terkejut atau ketakutan akan selalu menetap tidak berubah. Tubuh yang telah tidak bernyawa tidak dapat memberikan keterangan apa-apa. Rambut dan kuku akan terus tumbuh walaupun korban telah tewas.7. Kematian mendadak yang disebabkan oleh penyakit Kematian mendadak yang disebabkan oleh penyakit (Unexpected Death due toNatural Disease), pada seseorang terutama bila kematian tersebut terjadi di tempatumum, seperti di hotel dan khususnya bila terjadi pada seorang tersangka pelakukejahatan atau seorang tahanan; merupakan peristiwa yang sensitif sehingga perludiselesaikan secara tuntas dan cepat. Adapun penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan kematian secara mendadakadalah : Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 22
  23. 23. Penyakit pada susunan saraf pusat, yang sering adalah perdarahan spontan yang disebabkan karena korban menderita penyakit darah tinggi, atau perdarahan karena penyakit pengerasan pembuluh darah (arteriosklerosis). Perdarahan spontan yang diakibatkan kedua keadaan tersebut terjadi didalam otak/intra selebral. Kematian dapat juga disebabkan karena terjadinya perdarahan di bawah selaput lunak otak (perdarahan sub-arachnoid), secara spontan, oleh karena pembuluh nadi menggembung setempat dan dapat pecah sewaktu-waktu, khususnya bila korban melakukan aktivitas fisik yang berlebihan. Penyakit ini biasanya menyerang anak muda, merupakan penyakit bawaan dan dikenal dengan nama aneurysma berry.Penyakit pada sistem kardio-vaskuler, merupakan penyebab kematian mendadak yang tersering, khususnya penyakit pada pembuluh darah koroner, baik hanya berupa penyempitan maupun penyumbatan. Penyakit jantung yang juga dapat menyebabkan kematian mendadak adalah : peradangan, penyakit pada katup serta pecahnya batang nadi tubuh (aorta) dimana pecahnya aorta sering dihubungkan dengan penyakit pada pembuluh nadi jantung (miocard infark).Penyakit pada sistem pernafasan, yang tersering di Indonesia adalah perdarahan akibat penyakit tuberkulosa/TBC, dimana darah tersebut menyumbat saluran pernafasan. Oleh karena adanya perdarahan tersebut sering terjadi kesalahan penafsiran, yaitu dikaitkan dengan adanya kekerasan. Penyakit paru-paru lainnya yang juga dapat menyebabkan kematian mendadak antara lain ialah : infeksi (pneumonia) asma bronkhiale, bronkhiektasis serta penyakit diphteria.Penyakit pada sistim gastrointestinal dan sistim uro-genitalis, penyakit pada sistim gastrointestinal atau sistim pencernaan yang tersering menyebabkan kematian mendadak adalah penyakit tukak lambung (maag), dimana manifestasinya adalah muntah darah. Penyakit hati yang kronis (sirosis hepatis) juga dapat menyebabkan perdarahan di lambung oleh karena terjadi perbendungan pembuluh balik, dan kemudian pecah ke dalam lambung dan akhirnya dimuntahkan.Yang perlu diingat oleh dokter, dalam menghadapi kasus kematian mendadak, terutama bila dokter tidak pernah merawat korban, maka sebaiknya dokter jangan membuatkan surat keterangan kematian; kecuali jika ia yakin bahwa kematian korban menurut pengetahuannya tidak disebabkan oleh tindakan kekerasan. Pada kasus kecelakaan, yang berarti merupakan kematian yang tidak wajar dan mungkin akan ada penuntutan, dokter jangan membuat surat keterangan kematian. Untuk itu dokter harus melakukan pemeriksaan tubuh mayat dengan teliti sekali. Jika ada kecurigaan setelah ia melakukan pemeriksaan, maka pihak keluarga dianjurkan melapor kepada polisi dan kemudian dibuatkan visum et repertumnya.Sikap penyidik dalam kasus mati mendadak, penyidik harus melakukan tindakan- tindakan sebagai berikut : 1. Jangan mengajukan pertanyaan yang mendatangkan syok. 2. Tentukan keadaan sekitar korban dan memperkenalkan diri dengan semua anggota keluarga. 3. Berusaha untuk mendapatkan informasi baik di dalam hal penyakit atau perlukaan dari korban sebelum korban meninggal dunia. 4. Perhatikan tubuh korban : - Adakah tanda-tanda kekerasan atau perlawanan. - Adakah tanda-tanda keracunan. Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 23
  24. 24. - Adakah tanda-tanda bahwa korban pernah mendapatkan perawatan atau pengobatan.Sebab Kematian = penyakit atau cedera/luka yang bertanggung jawab terhadaptimbulnya kematianSebab kematian :1. Penyakit : gangguan SCV, SSP, respirasi, GIT, urogenital2. Trauma : a. mekanik : - tajam : iris, tusuk, bacok - tumpul : memar, lecet, robek, patah - senjata api (balistik) - bahan peledak/bom b. fisik : - suhu : dingin, panas - listrik/petir c. kimiawi : - asam - basa - intoksikasiMekanisme Kematian = gangguan/kelainan fisiologik dan atau biokimia yangbertanggung jawab terhadap timbulnya kematianMekanisme kematian : 1. Mati lemas (asfiksia) 2. Perdarahan 3. Kerusakan organ vital 4. Refleks vagal 5. Emboli, dllMekanisme kematian bisa kombinasi beberapa mekanisme Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 24
  25. 25. BAB IVIDENTIFIKASI FORENSIKDefinisi : Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati, berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan.Tujuan Identifikasi forensik :1. Kebutuhan etis & kemanusiaan2. Pemastian kematian seseorang secara resmi & yuridis3. Pencatatan identitas untuk keperluan administratif & pemakaman4. Pengurusan klaim di bidang hukum publik dan perdata5. Pembuktian klaim asuransi, pensiun dll6. Upaya awal dalam suatu penyelidikan kriminal (bila ada)Peran Identifikasi :1. Pada Orang Hidup o semua kasus medikolegal o penjahat atau prajurit militer yang melarikan diri o orang yang didakwa pelaku pembunuhan o orang yang diakwa pelaku pemerkosaan o identitas bayi baru lahir yang tertukar, untuk menentukan siapa orang tuanya o anak hilang o orang dewasa yang karena sesuatu hal kehilangan uangnya o tuntutan hak milik o untuk kepentingan asuransi o tuntutan hak pensiun2. Pada jenazah, dilakukan pada keadaan; o kasus peledakan o kasus kebakaran o kecelakaan kereta api atau pesawat terbang o banjir o kasus kematian yang dicurigai melanggar hukumAda dua metode, yaitu ; a. Identifikasi Komparatif - Dalam komunitas terbatas - Data antemortem & postmoterm tersedia b. Identifikasi Rekonstruktif - Komunitas korban tidak terbatas - Data antemortem tidak tersediaCara Identifikasi yang biasa dilakukan :1. Secara visual  keluarga/rekan memperhatikan korban (terutama wajah). Syarat : korban dalam keadaan utuh. Kelemahan : sangat dipengaruhi faktor sugesti dan emosi2. Pengamatan pakaian  catat: model, bahan, ukuran, inisial nama & tulisan pada pakaian. Sebaiknya : simpan pakaian atau potongan pakaian (20x10 cm), foto pakaian Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 25
  26. 26. 3. Pengamatan perhiasan  catat : jenis (anting, kalung, gelang, cincin dll), bahan (emas,perak, kuningan dll), inisial nama. Sebaiknya : simpan perhiasan dengan baik4. Dokumen : KTP, SIM, kartu golongan darah, dll5. Medis  pemeriksaan fisik : tinggi & berat badan, warna tirai mata, adanya luka bekas operasi, tato6. Odontologi  bentuk gigi & rahang : khas, sangat penting bila jenazah dalam keadaan rusak/membusuk, perlu diingat : dental record di Indonesia masih sangat terbatas7. Sidik jari  tidak ada dua orang yang memiliki sidik jari yang sama mudah dan murah8. Serologi  menentukan golongan darah (memeriksa darah dan cairan tubuh korban) Ada 2 tipe orang dalam menentukan golongan darah - Sekretor: gol.darah dapat ditentukan dari px. darah, air mani, dan cairan tubuh lain - Non sekretor: gol.darah hanya dapat ditentukan dari px. darah9. DNA  sangat akurat,t tapi mahal10. Ekslusi  biasanya digunakan pada korban kecelakaan masal, menggunakan data/daftar penumpangMetode pemeriksaan terbagi menjadi dua macam, yaitu :1. Identifikasi primer : Merupakan identifikasi yang dapat berdiri sendiri tanpa perlu dibantu oleh kriteria identifikasi lain. DNA : memerlukan keahlian dan kondisi khusus. Sidik Jari : sukar dilakukan pada kondisi jenazah yg membusuk. Odontologi : dental record di Indonesia masih terbatas. Pada jenazah yang rusak/busuk untuk menjamin keakuratan dilakukan 2-3 metode pemeriksaan dengan hasil (+).2. Identifikasi sekunder Tidak dapat berdiri sendiri, perlu didukung kriteria identifikasi yang lain. Cara sederhana : melihat langsung ciri seseorang dengan memperhatikan perhiasan, pakaian dan kartu identitas yang ditemukan. Cara Ilmiah : melalui teknik keilmuan tertentu seperti medis dll. Pada jenazah yang telah membusuk ditentukan : Ras Jenis Kelamin Perkiraan umur Tinggi badan Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 26
  27. 27. PENENTUAN JENIS KELAMINTabel. Penentuan jenis kelaminPenentuan secara umumwajah, potongan tubuh, bentuk rambut, pakaian, ciri-ciri seks, buah dadaPemeriksaan mikroskopik dari ovarium dan testisPemeriksaan histologis/kromosom.Prinsip: berdasarkan pada kromosomBahan pemeriksaan: kulit, leukosit, sel-sel selapu lendir pipi bagian dalam, sel-selrawan, korteks kelenjar suprarenalis, dan cairan amnionMetode- Px. Kromosom dari biopsi kulit dengan fiksasi merkuri-klorida setengah jenuh dlm 15 % formol saline- Px. Sel PMN leukosit melihat drumstick Kemungkinan dijumpai drumstick pada wanita lebih banyak bila dibanding pria- Px. Struktur inti darah putih dan dari kulit (ketepatan 100%)Penentuan dengan rangkaPembeda Laki-laki PerempuanUkuran secara Besar KecilumumArsitektur lebih kasar lebih halus indeks iscium-pubis lebih kecil indeks iscium-pubis lebih besar15%Tulang panggul Indeks tersebut diukur dari ischium dan pubis dari titik dimana mereka bertemu pada acetabulumTengkorak Glabela bony Glabela datar Margin supraorbita melingkar Margin supraorbita tajam Luas perluasan processus Luas perluasan processus mastoideus lebih besar mastoideus lebih kecil Platum besar, membentuk Palatum kecil, membentuk parabola huruf U Occipital condylus besar Occipital condylus kecil Dibedakan atas ciri-ciri: tonjolan di atas orbita (supra orbita ridges), processus mastoideus, palatum, bentuk rongga mata dan rahang bawah. Ciri tersebut tamapk jelas pada usia 14-16 tahunTulang Panjang lebih panjang, lebih berat, lebih pendek, lebih ringan, lebih lebih kasar, dan impressio-nya halus, dan impressio-nya lebih lebih banyak sedikitTulang Dada manubrium sterni wanita separuh panjang corpus sterni Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 27
  28. 28. PENENTUAN UMUR- Bayi baru lahir Penentuan umur kehamilan, viabilitas, berat badan, panjang badan, pusat penulangan (bermakna pada bagian distal os femoris), tinggi badan (jarak antara kepala sampai ke tumit/crown-heel, jarak antara kepala ke tulang ekor/crown-rup) Px. Penunjang radiologis (sinar X)  menilai timbulnya epiphyse dan fusinya dengan diaphyses.- Anak-anak & dewasa < 30 thn Persambungan spheno-occipital terjadi dalam umur 17-25 thn (pada wanita 17-20 thn), unifikasi tulang selangka mulai umur 18-25 thn & menjadi lengkap usia 31 thn ke atas, corpus vertebrae sblm usia 30 thn menunjukkan alur-alur yang berjalan radier pada bagian permukaan atas & bawah- Dewasa > 30 thn Perkiraan dengan memeriksa tengkorak, yaitu sutura-suturanya. Sutura sagittalis, coronaria, dan lamboidea mulai menutup pada usia 20-30 thn, sutura parietomastoidea dan sutura squamosa menutup usia lima tahun kemudian – 60 thn, sutura sphenoparietale menutup usia 70 thn.PENENTUAN TINGGI BADANMelalui pengukuran tulang panjang :o femur 27% dari tinggi badano tibia 22% dari tinggi badano humerus 35% dari tinggi badano tulang belakang dari tinggi badanFormula STEVENSON :o TB = 61,7207 + (2,4378 x panjang Femur) + 2,1756o TB = 81,5115 + (2,8131 x panjang Humerus) + 2,8903o TB = 59,2256 + (3,0263 x panjang Tibia) + 1,8916o TB = 80,0276 + (3,7384 x panjang Radius) + 2,6791Formula TROTTER dan GLESER :o TB = 70,37 + 1,22 (panjang Femur + pjg Tibia) + 3,24Pengukuran dengan osteometric board & tulang harus keringMelakukan identifikasi jenazah kepada : Jenazah tidak dikenal Jenazah yang membusuk atau kerangka Kasus penculikan anak Kasus bayi tertukar Keraguan siapa orang tua anakIdentifikasi korban bencana massal : Organisasi Interpol Secara internasional identifikasi korban massal adalah tanggung jawab polisi Interpol Disaster Victim Identification Standing Comittee yang beranggotakan 114 negara di dunia dan bersidang setahun sekali di Lyon, Prancis.Yang harus dilakukan :Fase I :Unit Penanganan di TKP (Tempat Kejadian Peristiwa), Kegiatan: Membuat sektor-sektor/zona pada TKP dengan ukuran 5 x 5 m. Memberi tanda setiap sektor. Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 28
  29. 29. Memberikan label pandang dan label oranye pada jenazah dan potongan jenazah diikat pada tubuh/ibu jari kaki korban. Memberikan label putih pada barang-barang pemilik tercecer. Membuat sketsa dan foto tiap sektor Evakuasi dan transportasi jenazah dan barang, dengan : - Memasukkan jenazah dan potongan jenazah dalam karung plastik dan diberi label sesuai nomor jenazah. - Memasukkan barang-barang yang terlepas dari tubuh korban dan diberi label sesuai nomor jenazah. - Diangkut ketempat pemeriksaan dan penyimpanan jenazah dan dibuat berita acara penyerahan kolektif.Fase II : Unit postmortem : Menerima jenazah/potongan jenazah dan barang dari unit TKP. Registrasi ulang dan pengelompokan kiriman tersebut berdasarkan jenazah utuh, tidak utuh potongan jenazah dan barang-barang. Membuat foto jenazah. Mencatat semua ciri-ciri korban sesuai formulir interpol Mengambil sidik jari korban dan golongan darah (Ident/Labfor). Mencatat gigi-gigi korban (Odontogram). Membuat Ro. Foto jika perlu. Melakukan autopsi. Mengambil data-data ke unit pembanding.Fase III : Unit ante mortem Mengumpulkan data-data nama korban dari daftar penumpang serta data semasa hidup seperti foto dan lain-lain yang dikumpulkan dari instansi tempat korban bekerja, keluarga/kenalan, dokter-dokter gigi pribadi, polisi (sidik jari). Memasukkan data-data yang masuk dalam formulir yang tersedia formulir AM Kuning. Mengelompokkan data-data Ante Mortem.berdasarkan : o Jenis kelamin o Umur o Kewarganegaraan Mengirimkan data-data yang telah diperoleh ke unit pembanding dataFase IVUnit pembanding data (rekonsiliasi) Cek dan recek hasil unit pembanding data. Mengumpulkan hasil identifikasi korban. Membuat surat keterangan kematian untuk korban yang dikenal dan surat-surat lain yang diperlukan. Menerima keluarga korban. Publikasi yang benar dan terarah oleh komisi identifikasi sangat membantu masyarakat mendapat informasi yang terbaru dan akurat.Fase V Dilakukan EvaluasiDilakukan evaluasi yang komprehensif terhadap masing-masing fase Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 29
  30. 30. BAB VTEMPAT KEJADIAN PERKARA (TKP)Definisi :Suatu tempat penemuan barang bukti atau tempat terjadinya peristiwa tindak pidanaatau kecurigaan suatu tindak pidana, merupakan suatu persaksian.Penyidik:1. melakukan pengamatan/observasi TKP2. membuat sketsa/foto3. penanganan korban4. penanganan terhadap pelaku/kerugian lain5. penanganan terhadap barang buktiKUHP pasal 20  minta bantuan dokter, apakah kasus pidana atau tidakJika dokter tidak mau  sanksi KUHP pasal 24Bantuan dokter dapat berupa:1. persiapan  permintaan tertulis atau tidak, catat tanggal permintaan, siapa peminta, lokasi dimana, dan alat pemeriksa TKP2. biaya  ditanggung yang meminta3. jika korban masih hidup  identifikasi secara visual: pakaian secara visual terhadap perhiasan, dokumen, kartu pengenal lainnya identifikasi medik  dari ujung rambut sampai kaki termasuk gigi dan identifikasi sidik jari4. jika korban mati  buat sketsa foto  situasi ruangan, lihat TKP (porak-poranda atau tenang): identifikasi  lihat bab identifikasi lihat tanatologi  suhu rektal, lebam mayat, kaku mayat. (1. kulit pucat, 2. relaksasi otot, 3. penurunan suhu, 4. perubahan mata, 5. lebam mayat, 6. kaku mayat, 7. pembusukan) lihat lukanya  lokasi luka, garis tengah luka, banyak luka, ukuran luka (cm ditulis sentimeter), sifat luka: o tepi luka (jika ditautkan berbentuk garis atau tidak) o sudut luka (tumpul atau tidak) o jembatan jaringan (terpotong atau tidak) o ada lecet atau memar di sekitar luka o tanda: fraktur atau krepitasi tulang o dasar luka (bersih atau tidak) o koordinat luka Kesan: luka akibat benda tajam/tumpul, dll darah o warna merah/tidak o tetesan, genangan, atau garis o melihat bentuk/sifat darah  dapat diperkirakan sumber darah  darah bundar tepi kecil  darah jatuh vertikal jarak = 60 cm  darah bundar, tepi seperti jarum  darah jath vertikal jarak 60-120 cm  darah bundar, tepi garis seperti roda  darah jatuh secara vertikal jarak > 120 cm  darah bulat lonjong  darah jatuh arahnya miring o distribusi darah Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 30
  31. 31.  dari dada ke kaki  bentuk genangan (bunuh diri), morat marit (pembunuhan) o sumber  dari arteri (pancaran lebih jauh dan warna lebih terang)  darah merah berbuih  dari saluran respirasi  darah coklat hitam  dari saluran cernaTabel. Bentuk dari bercak darahBentuk Bercak Arah Jatuhnya dan Deskripsinya Jarknya Vertikal Sampai 60 Bercak bundar dengan tepi rata Bercak bundar dengan tepi terdapat bundaran kecil-kecil Vertikal 60-120 cm Bercak bundar dengan tepi terdapat tonjolan-tonjolan seperti jarum Vertikal Diatas 120 cm Bercak bundar dengan tepi bergerigi seperti roda pedati Miring Bervariasi dengan Bentuk lonjong seperti kecepatan jatuhnya tanda seru atau seperti bowling5. identifikasi lanjutan ada sperma atau tidak pengambilan darah : jika di dinding kering  dikerok, jika pada pakaian  digunting darah basah/segar  masukan termos es  kirim ke lab kriminologi6. identifikasi lanjutan rambut sperma kering atau tidak secara visual  sinar UV air ludah, bekas gigitan  bisa ditentukan golongan darah7. membuat kesimpulan di TKP mati wajar atau tidak bunuh diri  genangan darah, TKP tengang tidak morat-marit, ada luka percobaan, luka mudah dicapai oleh korban, tidak ada luka tangkisan, pakaian masih baik Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 31
  32. 32. pembunuhan  TKP morat marit, luka multipel, ada luka yang mudah dicapai ada yang tidak, luka di sembarang tempat, pakaian robek, ada luka tangkisan karena perlawanan kecelakaan mati wajar  karena penyakitDengan melihat keadaan TKP lakukan :1. penentuan mati wajar atau tidak2. menentukan saat kematian3. menentukan cara kematian/menentukan diagnosis matiTugas dokter di TKP  untuk membantu visum dan autopsi apakah sesuai dengan TKPatau tidak.KesimpulanKesimpulan pada visum TKP harus berisi:1. Perkiraan saat kematian Ditentukan berdasarkan : a. Lebam mayat (livor mortis) b. Kaku mayat (rigor mortis) c. Penurunan suhu tubuh (algor mortis) d. Pembusukan (decomposition) e. Umur larva lalat yang ditemukan dalam jenazah.2. Sebab akibat luka Dari pemeriksaan luka dapat disimpulkan benda yang mengakibatkan luka: Karena persentuhan benda tumpul Karena persentuhan benda tajam Karena tembakan Ledakan granat dsb Sebab kematian (cause of death) hanya dapat ditentukan secara pasti dengan pemeriksaan luar dan dalam, jadi tubuh mayat mutlak harus diotopsi.3. Cara Kematian (manner of death)Gambar. Sketsa TKP yang salah Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 32
  33. 33. Gambar. Sketsa TKP yang benar Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 33
  34. 34. BAB VITANATOLOGIPengertiano Thanatos : yang berhubungan dengan kematiano Logos : ilmuAdalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mempelajari kematian dan perubahanyang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. AtauIlmu yang mempelajari tentang mati dan diagnostik mati dan perubahan postmortemdan faktor-faktor yang mempengaruhi serta kegunaan apa saja.Fungsi Tanatologi :o Menegakkan diagnosis matio Memperkirakan saat kematiano Untuk menentukan proses cara kematiano Untuk mengetahui sebab kematianPenentuan MatiDicetuskan DECLARATION OF SYDNEY pada tahun 1968o Penentuan seseorang telah meninggal harus berdasarkanatas pemeriksaan klinis, dan bila perlu dibantu denganpemeriksaan laboratoris.o Apabila hendak dilakukan transplantasi jaringan, makapenentuan bahwa seseorang telah meninggal harusdilakukan oleh 2 orang dokter atau lebih, dan dokter ini bukanlah dokter yang akan mengerjakan transplantasi nanti Definisi Mati Berhentinya ketiga sistem yaitu kardiovaskular, respirasi , dan sistem saraf pusat, yang merupakan satu unit kesatuan dan tidak terkonsumsinya oksigen.Istilah Mati :o Mati somatis/mati klinis : 3 sistem (SSP, SCV, Sist.respiratory) mati  ireversibel/menetap, tetapi beberapa organ & jaringan masih bisa berfungsi sementara  memungkinkan untuk transplantasi. Aktivitas otak dinyatakan berhenti bila : EEG mendatar selama 5 mnto Mati seluler/molekuler : kematian organ & jaringan, sesaat setelah kematian somatis ( otak & jar.saraf +5 menit setelah mati klinis, otot +4 jam setelah mati klinis, kornea +6 jam setelah mati klinis). Dapat dikemukakan bahwa susunan saraf pusat mengalami mati seluler dalam waktu 4 menit; otot masih dapat dirangsang (listrik) sampai kira-kira 2 jam pasca mati, dan mengalami mati seluler setelah 4 jam; dilatasi pupil masih terjadi pada pemberian adrenalin 0,1% atau penyuntikan sulfat atropin 1% ke dalam kamera okuli anterior, pemberian pilokarpin 1% atau fisostigmin 0,5% akan mengakibatkan miosis hingga 20 jam pasca mati. Kulit masih dapat berkeringat sampai lebih dari 8 jam pasca mati dengan cara menyuntikkan subkutan pilokarpin 2% atau asetilkolin 20%; spermatozoa masih bertahan hidup beberapa hari dalam epididimis; kornea masih dapat ditransplantasikan dan darah masih dapat dipakai untuk transfusi sampai 6 jam pasca mati.o Mati suri : Dalam stadium somatic death perlu diketahui suatu keadaan yang dikenal dengan istilah mati suri atau apparent death. Mati suri ini terjadi karena proses vital dalam tubuh menurun sampai taraf minimum untuk kehidupan, sehingga secara klinis sama dengan orang mati. Dalam literatur lain mati suri adalah terhentinya ketiga sistem kehidupan yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 34
  35. 35. peralatan kedokteran canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur (barbiturat), tersengat aliran listrik, kedinginan, mengalami anestesi yang dalam, mengalami acute heart failure, mengalami neonatal anoxia, menderita catalepsy dan tenggelam.o Mati serebral : kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversibel, kecuali batang otak dan serebelum (SCV dan respirasi masih berfungsi)o Mati otak/batang otak : kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang irreversibel, termasuk batang otak dan serebelum Diagnosis mati Hilangnya seluruh ataupun pergerakan/aktivitas refleks hilangAda 5 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem respirasi :1. Tidak ada gerak napas pada inspeksi dan palpasi.2. Tidak ada bising napas pada auskultasi.3. Tidak ada gerakan permukaan air dalam gelas yang kita taruh diatas perut korban pada tes Winslow.4. Tidak ada uap air pada cermin yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut korban.5. Tidak ada gerakan bulu burung yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut korban.Ada 5 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem saraf :1. Areflex2. Relaksasi3. Pergerakan tidak ada4. Tonus tidak ada5. Elektoensefalografi (EEG) mendatar/flat selama 5 menitAda 6 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem kardiovaskuler :1. Denyut nadi berhenti pada palpasi.2. Detak jantung berhenti selama 5-10 menit pada auskultasi.3. Elektro Kardiografi (EKG) mendatar/flat.4. Tes magnus : tidak adanya tanda sianotik pada ujung jari tangan setelah jari tangan korban kita ikat.5. Tes Icard : daerah sekitar tempat penyuntikan larutan Icard subkutan tidak berwarna kuning kehijauan.6. Tidak keluarnya darah dengan pulsasi pada insisi arteri radialis.Tanda Kematian Tidak pasti : Pernafasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit Kulit pucat Tonus otot menghilang dan relaksasi Pembuluh darah retina mengalami segmentasi bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 35
  36. 36. Tanda Kematian Pasti : Lebam mayat (livor mortis) Kaku mayat (rigor mortis) Penurunan suhu tubuh (algor mortis) Pembusukan (decomposition, putrefaction) Adiposera atau lilin mayat Mumifikasi Terjadinya adipocere dan mummifikasi dapat dikatakan jarang dijumpai oleh karena memerlukan berbagai factor, kondisi yang tidak selamanya ada, khususnya di Indonesia.Perubahan post mortem : Kulit wajah pucat : krn sirkulasi berhenti, darah mengendap terutama pembuluh darah besar Relaksasi primer : krn tonus otot tidak ada → rahang bawah melorot Perubahan pada mata : pandangan mata kosong, refleks (-) 10-12 jam → keruh kornea Penurunan suhu mayat (algor mortis): karena perpindahan panas ke dingin melalui konduksi, konveksi dan radiasi serta evaporasi Penurunan suhu = 10x(37-temperatur rektal) = ..... jam 8 Saat kematian (dalam jam) dapat dihitung rumus Post Mortem Interval (PMI) oleh Glaister dan Rentoul : - Formula untuk suhu dalam derajat Celcius PMI = 37 o C - RT o C +3 - Formula untuk suhu dalam derajat Fahrenheit PMI = 98,6 o F - RT o F 1,5 Faktor-Faktor yang mempengaruhi penurunan suhu mayat: 1. Faktor Lingkungan, semakin besar perbedaan antara suhu tubuh dengan suhu lingkungan semakin cepat penurunan suhu mayat. 2. Suhu Tubub sebelum kematian, kematian karena perdarahan otak, kerusakan jaringan oatak, penjeratan dan infeksi akan selalu didahului dgn peningkatan suhumempengaruhi penafsiran dari perkiraan saat kematian. 3. Intensitas dan kuantitas aliran atau pergerakan udara 4. Keadaan tubuh dan pakaian yang menutupi, yaitu lemak tubuh, tebalnya otot serta tebalnya pakaian. Perubahan biokimia Ada 3 contoh perubahan biokimia pada fase lanjut post mortem, yaitu : 1. Perubahan plasma, yaitu peningkatan kadar kalium, pospor, CO & asam laktat dan penurunan kadar glukosa & pH. 2. Perubahan humor vitreus yang berupa peningkatan kadar kalium yang terjadi antara 24 sampai 100 jam post mortem. 3. Perubahan jantung berupa adanya chicken fat clot (bekuan lemak ayam) yaitu bekuan darah post mortem menyerupai lemak ayam yang berwarna merah kekuningan. Bekuan ini biasanya kita temukan pada jantung mayat yang mati dengan proses kematian lama. Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 36
  37. 37. Perubahan pada kulit :Lebam mayat (livor mortis, post mortum lividity, post mortum suggilation, postmortum hypostasis) : terjadi karena pengendapan butir-butir ertirosit karena adanyagaya gravitasi sesuai dengan tubuh, berwarna biru ungu tetapi masih dalampembuluh darah. Timbul 20-30 menit dan setelah 6-8 jam lebam mayat masih bisaditekan dan masih bisa berpindah tempat. Suhu tubuh yang tinggi dapatmempercepat timbulnya lebam mayat.Terbentuknya lebam mayat terjadi karena kegagalan sirkulasi, dan aliran balik venagagal mempertahankan darah mengalir melalui saluran pembuluh darah kapilerakibatnya butir sel darahnya saling tumpuk memenuhi saluran tersebut dan sukardialirkan di tempat lain (fenomena kopi tubruk). Gaya gravitasi meyebabkan darahyang terhenti tersebut mengalir ke area terendah.Korban meninggal  peredaran darah berhenti  stagnasi  akibat gravitasi darah mencari tempat yang terendah  terlihat bintik-bintik merah kebiruan.Timbul : 30 menit setelah kematian somatis dan intensitas maksimal (menjadilengkap) setelah 8-12 jam post mortal. Sebelum waktu ini, lebam mayat masihdapat berpindah-pindah, jika posisi mayat diubah, misalnya dari terlentang menjaditengkurap. Namun setelahnya, lebam mayat sudah tidak dapat hilang (fenomenakopi tubruk).Tidak hilangnya lebam mayat pada saat itu, dikarenakan telah terjadinyaperembesan darah kedalam jaringan sekitar akibat rusaknya pembuluh darah akibattertimbunnya sel – sel darah dalam jumlah yang banyak, adanya proses hemolisasel-sel darah dan kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah. Dengan demikianpenekanan pada daerah lebam yang dilakukan setelah 8 – 12 jam tidak akanmenghilang. Hilangnya lebam pada penekanan dengan ibu jari dapat memberiindikasi bahwa suatu lebam belum terfiksasi secara sempurna. Atas dasar keadaantersebut, maka dari sifat-sifat serta distribusi lebam mayat dapat diperkirakanapakah pada tubuh korban telah terjadi manipulasi merubah posisi korban.Lokalisasi : tempat yang terendahKecuali : bagian tubuh yang- tertekan dasar- tertekan pakaianPerbedaan antara lebam mayat & hematom lihat bab traumatologi letak lebam mayat tidak berubah, bila posisi mayat tidak diubah.Warna lebam mayat:- Normal : Merah kebiruan- Keracunan CO : Cherry red- Keracunan CN : Bright red- Keracunan nitrobenzena : Chocolate brown- Asfiksia : Dark redWarna Lebam MayatLebam mayat sering berwarna merah kebiru-biruan, tetapi bervariasi, tergantungoksigenasi sewaktu korban meninggal. Bila terjadi bendungan, hipoksia, mayatmemiliki warna lebam yang lebih gelap karena adanya hemoglobin tereduksi dalampembuluh darah kulit. Lebam mayat merupakan indikator kurang akurat dalammenentukan mekanisme kematian, dimana tidak ada hubungan antara tingkatkegelapan lebam mayat dengan kematian yang disebabkan asfiksia. Sering Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso 37

×