Keterampilan Melakukan General Survey<br />noJenis Kegiatan1Pemeriksa duduk di depan atau di sebelah penderita2Mengamati k...
Keterampilan general examination (general survey, vital sign, kepala, leher, thorax, abdomen, genital)
Keterampilan general examination (general survey, vital sign, kepala, leher, thorax, abdomen, genital)
Keterampilan general examination (general survey, vital sign, kepala, leher, thorax, abdomen, genital)
Keterampilan general examination (general survey, vital sign, kepala, leher, thorax, abdomen, genital)
Keterampilan general examination (general survey, vital sign, kepala, leher, thorax, abdomen, genital)
Keterampilan general examination (general survey, vital sign, kepala, leher, thorax, abdomen, genital)
Keterampilan general examination (general survey, vital sign, kepala, leher, thorax, abdomen, genital)
Keterampilan general examination (general survey, vital sign, kepala, leher, thorax, abdomen, genital)
Keterampilan general examination (general survey, vital sign, kepala, leher, thorax, abdomen, genital)
Keterampilan general examination (general survey, vital sign, kepala, leher, thorax, abdomen, genital)
Keterampilan general examination (general survey, vital sign, kepala, leher, thorax, abdomen, genital)
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Keterampilan general examination (general survey, vital sign, kepala, leher, thorax, abdomen, genital)

3,379 views

Published on

Published in: Health & Medicine
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
3,379
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
173
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Keterampilan general examination (general survey, vital sign, kepala, leher, thorax, abdomen, genital)

  1. 1. Keterampilan Melakukan General Survey<br />noJenis Kegiatan1Pemeriksa duduk di depan atau di sebelah penderita2Mengamati keadaan umum pasien : tampak sakit berat, sedang, ringan. Nampak lemah, kesakitan, gelisah, dll.3Mengamati Kesadaran pasien (Compos Mentis, GCS 456, penurunan kesadaran, dll)4Mengamati tanda-tanda distress : Nafas cepat dan berat, merintih, berkeringat, kesakitan, gemetar, dll5Mengamati cara berbaring dan mobilitas (sikap berbaring aktif, pasif, sikap terpaksa karena nyeri, dll)6Mengamati postur, bentuk tubuh, dan status gizi pasien : tinggi, normal, pendek (dwarfisme), pyknicus, athleticus, asthenicus, kaheksia, dll)7Mengamati struktur wajah, dan proposional atau tidaknya dengan bentuk badan pasien (gigantisme, acromegali, cushingoid, mongoloid, bell’s palsy, dll)8Mengamati keadaan motorik dan cara berjalan pasien (korea, ataksia, parese, tic, dll)9Mengamati warna kulit (anemia, pucat, icteric, sianosis, purpura, dll)10Mengamati cara berpakian dan higiene perseorangan pasien11Mengamati perkembangan seksual sekunder pasien12Memperhatikan bau badan dan bau nafas yang khas dari pasien (bau alcohol, foetor uremikum, foetor hepatikum, foetor diabetic ketoasidosis, dll)13Mengamati pola bicara dan suara (serak, pelo, bicara cepat, dll)<br />KETRAMPILAN PEMERIKSAAN TANDA VITAL<br />J E N I S K E G I A T A NPengukuran suhu1.Mencuci tangan2.Mengibaskan termometer sampai permukaan air raksa menunjuk di bawah 35,5oC3.Menempatkan ujung termometer yang berisi air raksa pada apex fossa axilaris kiri dengan sendi bahu adduksi maksimal4.Menunggu sampai 3-5 menit, kemudian melakukan pembacaan dan melaporkan hasilnyaPengukuran nadi1.Mencuci tangan2.Meletakkan lengan yang akan diperiksa dengan keadaan rileks3.Menggunakan tiga jari (telunjuk, tengah, dan jari manis) untuk meraba a. Radialis4.Menghitung frekuensi denyut nadi minimal 15 detik, dan mengevaluasi regularitasnya5.Melaporkan hasil frekuensi nadi satu menit beserta regularitasnyaPengukuran tekanan darah1.Mencuci tangan2.Pemeriksa menempatkan diri di sebelah kanan pasien3.Memberikan penjelasan tentang pemeriksaan ini4.Menempatkan pasien dalam keadaan duduk atau berbaring dengan lengan rileks, sedikit menekuk pada siku dan bebas dari tekanan oleh pakaian5.Dapat meraba / palpasi a. brachialis di fossa cubiti sebelah medial6.Menempatkan tensimeter setinggi jantung, membuka aliran air raksa, mengecek saluran pipa, dan meletakkan manometer secara vertikal7.Memasang manset sedemikian rupa sehingga melingkari lengan atas secara rapi dan tidak terlalu ketat (2cm di atas siku) dan sejajar jantung (tidak terhalang pakaian)8.Memompa manset dengan cepat sampai 20 mmHg di atas hilangnya pulsasi nadi dengan tiga jari meraba a. brachialis dan melaporkan hasilnya9.Menurunkan tekanan manset secara perlahan sampai pulsasi arteria teraba kembali dan melaporkan hasilnya sebagai tekanan sistolik palpatoir10.Menggunakan stetoskop dengan corong bel yang terbuka pada tempat teraba pulsasi A. Brakialis11.Memompa kembali manset sampai 20mmHg di atas tekanan sistolik palpatoir12.Mendengarkan melalui stetoskop sambil menurunkan perlahan-lahan / 3 mmHg perdetik dan melaporkan saat terdengar bising pertama sebagai tekanan darah sistolik13.Melanjutkan penurunan tekanan manset sampai suara bising yang terakhir sehingga setelah itu tidak terdengar suara bising lagi, sebagai tekanan darah diastolic14.Melaporkan hasil tekanan darah sistolik dan diastolik15.Melepaskan manset dan mengembalikan pada tempatnyaPengukuran frekuensi nafas1.Meletakkan pasien dalam posisi berbaring atau duduk dengan tenang dan dibuka bajunya di bagian dada2.Menghitung frekuensi gerakan pernafasan dengan inspeksi atau palpasi, atau suara nafas inspirasi dengan stetoskop selama 1 menit3.Melaporkan hasil frekuensi nafas selama 1 menit<br />KETRAMPILAN PEMERIKSAAN KEPALA & LEHER<br />J E N I S K E G I A T A NPEMERIKSAAN KEPALA1.Menjelaskan kepada pasien tujuan dan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan2.Mencuci tanganInspeksi1.Melihat bentuk kepala (normal, hidrosefalus, mikrosefali, anensefali, dll)2.Melihat adakah simetri / asimetri3.Melihat rambut: warna, ikal / lurus, alopesia4.Melihat adakah tumor / benjolan lain yang seharusnya tidak ada5.Melihat adakah luka atau bekas operasi6.Melihat adakah deformitas / kelainan bentuk wajah, mata, hidung, telinga, mulutPalpasiMeraba adakah daerah yang nyeri tekan, krepitasi, false movementPerkusiMelakukan perkusi pada daerah sinus adakah nyeri pada perkusiAuskultasiMendengarkan adakah bruit pada mata (AVM)PEMERIKSAAN LEHERInspeksi1.Melihat bentuk leher (normal, torticoli, leher pendek, dll)2.Melihat adakah simetri / asimetri3.Melihat adakah luka atau bekas operasi4.Melihat apakah trakea terletak di tengah5.Melihat adakah tumor / benjolan lain yang seharusnya tidak adaPalpasi1.Meraba adakah daerah yang nyeri tekan, krepitasi2.Melihat adakah tumor / benjolan lain yang seharusnya tidak adaPEMERIKSAAN KELENJAR TIROIDInspeksi1.Melihat warna kulit pada benjolan (normal, kemerahan, kebiruan, pucat)2.Melihat keadaan kulit di atas benjolan (luka, krusta, venektasi, punctat)3.Melihat apakah kelenjar tiroid membesar dan dapat dilihat4.Melihat apakah terdapat pulsasi pada kelenjar tiroid5.Melihat apakah kelenjar tiroid ikut bergerak saat menelanAuskultasiMendengarkan adakah bruit pada tiroid<br />J E N I S K E G I A T A NPalpasi1.Palpasi dilakukan dengan penderita duduk dan pemeriksa berdiri di belakang pasien. Kedua tangan pemeriksa mencengkam leher pasien dari belakang, ibu jari di belakang leher, keempat jari di depan leher2.Meraba apakah tiroid teraba: batas tegas / tidak dan diukur diameternya3.Bila teraba konsistensinya: keras, kenyal, lunak, padat, kistik4.Bila kelenjar tiroid teraba membesar pemeriksaan dilanjutkan sebagai pemeriksaan tumor / benjolanPEMERIKSAAN BENJOLAN / TUMORMenentukan lokasi tumor sesuai regio anatomis1.Menentukan lokasi tumor kepala sesuai regio anatomi2.Menentukan lokasi tumor leher sesuai trigonum coliInspeksi1.Melihat warna kulit pada benjolan (normal, kemerahan, kebiruan, pucat)2.Melihat keadaan kulit di atas benjolan (luka, krusta, venektasi, punctat)3.Melihat sekitar tumor adakah benjolan lain sekitar tumorAuskultasiMendengarkan adakah bruit pada tumorPalpasi1.Meraba dan menentukan jumlah dan ukuran tumor2.Meraba apakah tumor berbatas tegas atau tidak3.Meraba apakah tumor lebih panas dari jaringan sekitarnya4.Meraba konsistensi tumor: keras, kenyal, lunak, padat, kistik5.Meraba apakah tumor mobil atau melekat pada kulit atau melekat dasar6.Menekan tumor apakah compressiblePemeriksaan tambahan untuk tumor di daerah leher1.Meraba apakah tumor bergerak saat menjulurkan lidah2.Meraba apakah tumor bergerak saat menelanPemeriksaan tambahan mencari benjolan kelenjar getah bening1.Mencari benjolan di daerah ketiak dan dideskripsikan2.Mencari benjolan di daerah supra / infra clavicula dan mamaria interna3.Mencari benjolan lain di leher<br />KETRAMPILAN PEMERIKSAAN THORAX<br />J E N I S K E G I A T A NPEMERIKSAAN JANTUNG1.Mencuci tangan2.Pemeriksa menempatkan diri di sebelah kanan pasien3.Memberikan penjelasan tentang pemeriksaan ini4.Mempersilahkan pasien melepas baju5.Menempatkan pasien dalam keadaan berbaring dengan posisi semi supine, dengan sudut 45% sedemikian rupa sehingga pasien merasa nyaman dengan pasien tersebutInspeksi6.Melihat dan menilai bentuk dada7.Melihat adakah simetri / asimetri, bekas operasi, dll8.Melihat adakah tumor / benjolan lain yang seharusnya tidak ada9.Melihat iktus kordis tampak atau tidak tampakPalpasi10.Melakukan palpasi apex cordis11.Menilai adanya kuat angkat atau tidak kuat angkat12.Menilai ada tidaknya thrillPerkusi13.Memeriksa batas jantung kanan dan melaporkan hasilnya14.Memeriksa batas jantung kiri dan melaporkan hasilnya15.Memeriksa pinggang jantung dan melaporkan hasilnyaAuskultasi16.Menentukan proyeksi katub-katub jantung17.Memeriksa ada tidaknya murmur18.Mendeskripsikan jenis murmur yang ditemukan (bila ada murmur)PEMERIKSAAN JANTUNG19.Menempatkan pasien dalam posisi ½ duduk (45o)20.Meminta pasien menoleh ke kiri lebih kurang 30 – 45 o21.Menentukan titik R22.Menentukan tinggi bendungan vena jugularis23.Mengukur proyeksi bendungan vena jugularis pada posisi tegak lurus24.Mencatat dan melaporkan hasilnyaPEMERIKSAAN RESPIRASIInspeksi25.Menempatkan pasien dalam posisi duduk ditepi tempat tidur pemeriksaan26.Mengamati dan melaporkan abnormalitas yang ditemukan27.Melihat adakah simetri / asimetri dan melaporkan abnormalitas yang ditemukanPalpasi28.Memeriksa ekspansi dada muka dan belakang dan melaporkan hasilnya29.Memeriksa stem fremitus dan melaporkan hasilnyaPerkusi30.Melakukan perkusi dada bagian depan pada tempat yang telah ditentukan dan melaporkan hasilnya31.Melakukan perkusi dada bagian belakang pada tempat yang telah ditentukan dan melaporkan hasilnyaAuskultasi32.Memeriksa suara nafas dan melaporkan hasilnya33.Memeriksa ada tidaknya perubahan intensitas suara nafas dan melaporkan hasilnya34.Memeriksa ada tidaknya suara nafas tambahan (ronchi, wheezing, dll) dan melaporkan hasilnya<br />KETRAMPILAN PEMERIKSAAN ABDOMEN<br />J E N I S K E G I A T A NPEMERIKSAAN ABDOMEN1.Memperkenalkan diri dan menjelaskan kepada pasien tujuan dan prodesur pemeriksaan yang akan dilakukan2.Menjelaskan kepada pasien untuk mengikuti perintah yang akan diberikan3.Memberitahukan kepada pasien untuk mengosongkan kandung kencing dulu (meminta untuk miksi atau membuka aliran kateter)4.Meminta pasien berbaring supine dengan nyaman dan meletakkan bantal dibawah kepala5.Tangan pasien diletakkan disisi badan atau diletakkan diatas dada6.Mencuci tangan7.Selama melakukan pemeriksaan, wajah pasien diperhatikan adanya tanda kesakitan pada pemeriksaan tertentuInspeksi abdomen1.Pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien2.Melihat kulit abdomen dan diperhatikan adanya jaringan parut (bentuk dan lokasi), striae, dilatasi vena, rash, dan lesi lain3.Melihat umbilicus, kontur dan lokasi, tanda-tanda inflamasi dan adanya hernia4.Melihat kontur abdomen: flat, rounded, protuberant, atau scaphoid. Apakah abdomen simetris. Apakah ada benjolan pada flank atau benjolan ditempat lain5.Melihat adakah gambaran peristaltik atau pulsasiAuskultasi abdomen1.Meletakkan diafragma stetoskop secara hati-hati pada abdomen2.Mendengarkan suara usus dan mencatat frekuensi dan karakternya3.Bila ada pasien mempunyai tekanan darah yang tinggi, dengarkan pada epigastrium dan pada kuadran lain pada abdomen kemungkinan adanya bruit4.Bila mencurigai adanya insufisiensi pada ekstremitas bawah, dengarkan adanya brit pada aorta, arteria iliaca dan arteri femoralis5.Bila mencurigai adanya tumor hepar, infeksi pada hepar atau infark spleknikum, dengarkan di atas hepar dan lien adanya friction rubPerkusi abdomen1.Melakukan perkusi pada keempat kuadran untuk menilai distribusi timpani dan dullness2.Melakukan perkusi secara seksama daerah dada anterior bagian bawah. Pada sisi kanan akan terdapat pekak hepar, terdapat timpani akibat udara gaster dan fleksura coli sinistra3.Perhatikan peralihan daerah timpani menjadi redup pada setiap penonjolan daerah abdomenPerkusi Hepar1.Identifikasi ukuran hepar dengan melakukan perkusi. Mulai pada Linea Medioclaviculer kanan setinggi sedikit di bawah umbilicus. Dengan ringan dilakukan perkusi ke arah atas. Identifikasi batas bawah pekak hepar2.Identifikasi batas atas hepar dengan melakukan perkusi pada garis Linea Medioclaviculer kanan mulai batas paru ke arah bawah. Normal batas atas dan bawah hepar sepanjang 6-12 cmPalpasiPalpasi Ringan1.Letakkan tangan dan lengan bawah pada bidang yang sejajar (rata), dengan jari rata terletak pada permukaan abdomen2.Palpasi permukaan abdomen dengan gerakan ringan dan lembut. Saat menggerakkan tangan dari satu tempat ke tempat lain, angkat sedikit saja dari kulit. Bergerak dengan lembut dan rasakan pada semua kuadran3.Identifikasi adanya organ superfisial atau adanya masa dan adanya daerah yang nyeri atau memberikan “resistensi” terhadap tekanan tangan. Bila didapatkan resistensi coba bedakan apakah ini merupakan gerakan “voluntary guarding” ataukah “involuntary muscular spasm”Palpasi Dalam1.Pergunakan permukaan palmar dari jari, rasakan pada keempat kuadran2.Identifikasi adanya masa dan catat lokasi, ukuran, bentuk, konsistensi, nyeri tekan, pulsasi, dan mobilitas (mobilitas saat respirasi atau saat digerakkan dengan tangan)3.Bila palpasi dalam sulit dilakukan (misalnya pada obesitas), digunakan dua tangan, satu tangan di atas yang lain. Berikan tekanan melalui tangan yang di atas dan konsentrasikan sensasi perabaan pada tangan yang di bawah4.Hubungkan hasil pemeriksaan perkusi dengan palpasiPalpasi Hepar1.Letakkan tangan kanan pada abdomen pasien, tepat di bawah level umbilikus dan sejajar (paralel) dengan otot rectus2.Sambil melakukan palpasi, pasien diminta menarik nafas dalam3.Bila tidak teraba tepi hepar, pindahkan ujung jari tepat di bawah arcus costa kanan sambil pasien diminta untuk menarik nafas dalam4.Pemeriksaan ini perlu diulang beberapa kali sampai teraba tepi bawah hepar saat inspirasi. Catat lokasi, permukaan (rata atau benjolan/noduler), konsistensi, dan adanya nyeri tekan. Pada beberapa pasien hepar tidak dapat dipalpasiPalpasi Lien1.Letakkan tangan kiri di belakang pinggang kiri pasien, tarik ke atas dan mendekat ke pemeriksa2.Letakkan tangan kanan tepat di bawah level umbilikus dan sejajar (paralel) dengan otot rectus3.Sambil melakukan palpasi, pasien diminta menarik nafas dalam4.Pemeriksaan ini perlu diulang beberapa kali sampai teraba ujung lien saat inspirasi. Bila teraba ujung lien, kemungkinan lien membesar<br />KETRAMPILAN PEMERIKSAAN UROGENITAL<br />J E N I S K E G I A T A NPEMERIKSAAN GINJALPalpasi Ginjal1.Pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien (bagi yang bukan kidal)2.Menjelaskan kepada pasien tujuan dan prodesur pemeriksaan yang akan dilakukan3.Menjelaskan kepada pasien untuk mengikuti perintah yang diberikan4.Meminta pasien berbaring supine dengan nyaman dan meletakkan bantal di bawah kepala5.Meminta pasien untuk meletakkan tangan disisi badan atau di atas kepalaPalpasi Ginjal Kanan1.Meletakkan telapak tangan kiri dibelakang pinggang kanan pasien, sejajar costa XII2.Mengangkat tangan kiri, mencoba untuk mengangkat ginjal kanan kearah anterior3.Meletakkan telapak tangan kanan secara lembut di atas daerah kuadran kanan atas, sejajar otot rectus4.Mempersilahkan pasien untuk menarik nafas dalam5.Mencoba memegang ginjal di antara kedua telapak tangan6.Mempersilahkan pasien menghembuskan nafas dan berhenti bernafas sementara7.Melepaskan secara perlahan-lahan tekanan tangan kanan8.Jika ginjal teraba, menanyakan adanya rasa nyeriPalpasi Ginjal Kiri1.Pemeriksa tetap berada disebelah kanan pasien2.Mempergunakan tangan kiri untuk mengangkat pinggang kiri dan mempergunakan tangan kanan untuk meraba (palpasi dalam) pada kuadran kiri atas (kedua tangan melintasi abdomen pasien).3.Melakukan prosedur seperti pada pemeriksaan ginjal kananMenilai Nyeri Ketok Ginjal1.Mempersilahkan pasien duduk2.Pergunakan ujung jari, untuk menimbulkan rasa nyeri dengan menekan sudut costovertebra XII3.Jika tidak terasa nyeri, letakkan kepalan tangan kiri pada sudut costovertebra, pukul menggunakan permukaan ulnar tangan kanan. Tenaga yang digunakan secukupnya sehingga dapat dirasakan pasien namun tidak menimbulkan nyeri pada pasien normal4.Mencuci tanganPEMERIKSAAN KANDUNG KEMIH1.Menjelaskan kepada pasien tujuan dan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan2.Menjelaskan kepada pasien untuk mengikuti perintah yang diberikan3.Mempersilahkan pasien untuk kencing atau mengosongkan kandung kemih4.Menempatkan pasien pada ruangan yang terpisah dengan tirai/tabir5.Mengenakan sarung tangan bersih6.Mempersilahkan pasien tidur telentang di meja pemeriksaan dan membuka celana / baju bawahInspeksi1.Pemeriksa menempatkan diri di sebelah kanan pasien2.Memperhatikan daerah suprapubik, keadaan dan warna kulit, adanya jaringan parut, benjolan. Bila terdapat benjolan dilanjutkan dengan pemeriksaan benjolanPalpasi1.Menggunakan ujung jari II, III dan IV tangan kanan untuk melakukan palpasi pada daerah supra pubik.2.Merasakan apakah teraba massa, kistik atau padat. Bila teraba massa lakukan pemeriksaan benjolanPerkusi1.Melakukan perkusi menggunakan jari tengah tangan kiri sebagai landasan dan jari telunjuk/jari tengah tangan kanan sebagai perkusor2.Melakukan perkusi secara sistematis mulai dari umbilicus menuju simpisis pubis (cranial ke caudal). Menilai apakah terdapat perubahan suara perkusi3.Bila terdapat perubahan perkusi dari timpani ke redup, tentukan batas-batasnyaPEMERIKSAAN GENITALIA PRIA1.Menjelaskan kepada pasien tujuan dan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan2.Menjelaskan kepada pasien untuk mengikuti perintah yang diberikan3.Menempatkan pasien pada ruangan yang terpisah dengan tirai/tabir4.Mengenakan sarung tangan bersihPemeriksaan penis1.Melakukan Inspeksi penis mencakup kulit dan prepusium2.Memperhatikan apakah sudah dilakukan sirkumsisi atau belum. Bila belum/tidak sirkumsisi, meretraksikan prepusium atau meminta pasien untuk meretraksikan preputium3.Memperhatikan glans penis, adakah ulkus, jaringan parut, nodul atau tanda inflamasi4.Melakukan palpasi korpus penis dengan diantara ibu jari dengan jari II dan Jari III, untuk mencari adanya ketidaknormalan penis (nodul, nyeri atau indurasi)5.Melakukan palpasi korpus spongiosum adakah teraba penebalan, fibrosis atau teraba tumor/batu6.Jika pasien menyatakan terdapat discharge namun tidak tampak pada inspeksi, mintalah pasien untuk mengurut penis mulai dari pangkal ke ujung glans penisPemeriksaan skrotum1.Melakukan inspeksi skrotum mencakup kulit, dan mengangkat skrotum sehingga bagian posterior skrotum terlihat untuk dilakukan inspeksi2.Memperhatikan kontur skrotum, perhatikan adanya edema, venektasi, fistula, radang3.Melakukan palpasi masing-masing testis dan epididimis di antara ibu jari dan jari ll-lll. Catat ukuran, bentuk, konsistensi, dan adanya nyeri. Rasakan kemungkinan adanya nodul/benjolan. Bila terdapat benjolan dilanjutkan sebagai pemeriksaan benjolan4.Melakukan palpasi masing-masing funikulus spermatikus termasuk vas deferens di antara ibu jari dengan jari II dan III mulai dari epididimis sampai anulus inguinalis externus. Catat adanya pelebaran pleksus pampiniformis atau benjolan. Bila terdapat benjolan dilanjutkan sebagai pemeriksaan benjolanTransiluminasi (Diaphanoskopi)1.Mengenakan sarung tangan bersih2.Melakukan pemeriksaan di ruangan yang redup/gelap3.Meminta pasien tidur telentang diatas meja pemeriksaan, sementara pemeriksa berada disisi scrotum yang akan diperiksa4.Meletakkan senter / flash light menempel pada sisi medial scrotum yang akan diperiksa5.Meletakkan tabung gelap (kertas gelap / film rontgen yang digulung membentuk teropong, menempel pada kulit scrotum sisi berlawanan dengan senter / flash light6.Meneropong melalui gulungan kertas gelap / film rontgen, melihat scrotum7.Nyalakan senter / flash light. Perhatikan perubahan yang terjadi melalui teropong kertas / film rontgen8.Transiluminasi (+) bila tampak bayangan merah terang melalui teropong yang berarti massa pada scrotum berisi cairan. Sebaliknya bila tetap gelap transiluminasi (-) yang berarti massa pada scrotum adalah masa padat.9.Mencuci tangan<br />

×