Pengertian dan urgensi muhammadiyah sebagai gerakan tajdid dan purifikasi

27,151 views

Published on

1 Comment
3 Likes
Statistics
Notes
  • dalam halini saya sebagai orang awam menyatakan bahwa perbedaan pola pikir akan menjadikan sebuah kehancuran yang menyebapkan keterpurukan dalam membangun bangsa ke arah lebih baik ( mempunyai tujuan yang jelAS) . kita ketahui bersama bahwa di indonesia ada beberapa organisasi islam yang berbeda paradigma yang bertujuan ingin menguasai bangsa tapi kita lihat realita sekarang bahwa perbedaan paradikma itulah yang justru menjadikan pergerakan ini semakin terpuruk yang seharusnya saling mendukung antar satu sama lain ternyata malah iya yang saling tumpah tindih karena hanya mempertahankan ego masing masing....
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total views
27,151
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
291
Comments
1
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pengertian dan urgensi muhammadiyah sebagai gerakan tajdid dan purifikasi

  1. 1. Pengertian dan Urgensi Muhammadiyah Sebagai Gerakan Tajdid dan Purifikasi A. Pengertian Pengertian Muhammadiyah adalah organisasi gerakan Islam yang didirikan oleh kyai haji Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1303 hijrah, atau bertepatan dengan tanggal 18 November 1912 Masehi. Muhammadiyah merupakan gerakan Islam,dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid,bersumber pada Alquran dan sunnah. Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sesuai dengan gagasan dan pemikiran dahlan, Muhammadiyah merupakan organisasi sebagai alat bagi kepentingan penyebarluasan ajaran agama Islam di daerah karesidenan Yogyakarta. Dari situlah disebutkan bahwa Muhammadiyah sejak awal merupakan organisasi gerakan keagamaan. B. Latar Belakang Dua faktor yang melandasi atau yang menjadi latar belakang berdirinya Muhammadiyah yaitu faktor internal dan eksternal. Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berkaitan dengan kondisi keagamaan kaum muslimin di Indonesia sendiri yang karena berbagai sebab telah menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Faktor eksternal adalah faktor yang berkaitan dengan: (a) politik Islam Belanda terhadap kaum muslimin di Indonesia; dan (b) pengaruh ide dan gerakan pembaharuan Islam dari Timur Tengah.a. Faktor Internal Kondisi kehidupan keagamaan kaum muslimin di Indonesia secara historis tidak bisa dipisahkan dari latar belakang sejarah masuknya Islam di Indonesia. Sebelum Islam datang, terlebih dahulu di Indonesia sudah bercokol agama Hindu dan Budha, yang cukup berpengaruh juga dalam mewarnai kerohanian penduduk Indonesia, terbukti dengan berdirinya beberapa kerajaan yang berlatar belakang agama Hindu atau Budha. Kemudian Islam datang pada abad VII atau 8 Masehi. Islam masuk Indonesia dibawa oleh saudagar-saudagar dari Gujarat. Proses islamisasi berjalan tidak merata di beberapa daerah di Indonesia, tergantung apakah pengaruh Hindu-Budha di daerah itu kuat atau lemah. Perkembangan Islam di daerah tersebut tergantung dari penyesuaian diri dengan tradisi lama yang berasal dari kepercayaan asli dan pengaruh Hindu- Budha. Dalam masyarakat Jawa, kondisi kehidupan keagamaan umat Islam secara historis
  2. 2. dipengaruhi oleh budaya keagamaan sebelumnya. Agama Hindu dan Budha adalah warisan budaya yang sangat kuat di masyarakat Jawa. Perilaku keagamaan Jawa, khususnya di daerah pedalaman masih kental dengan budaya sinkritisme, yakni pencampuradukan dari berbagai unsur nilai agama. Lebih-lebih, ada sebagian masyarakat Jawa masih memistikkan sesuatu (tahayyul dan khurafat) yang dianggap memiliki kekuatan supranatual. Di samping itu, sebagain umat Islam juga sering menambah-nambahi dalam masalah ibadah atau yang disebut bidah, yakni praktek keagamaan yang tidak ada dasarnya yang jelas baik dari al-quran maupun as- sunnah. Keyakinan inilah yang membuat Muhammadiyah benar-benar tertantang untuk melakukan pemahaman keagamaan yang lurus dan benar sesuai doktrin Islam yang sesungguhnya. b. Faktor Eksternali. Politik Islam Belanda terhadap Kaum Muslimin di Indonesia Politik Islam belanda yang didasarkan pada konsep Snouck Hurgronje sangat bermusuhan kepada Islam dan umat Islam Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda berpendapat bahwa gerakan Islam sangat membahayakan dirinya. Adapun realisasi politik Islam Belanda antara lain dalam bentuk pembatasan-pembatasan kepada setiap aktivitas- aktivitas kaum muslimin, seperti dilarangnya kaum muslimin mendirikan organisasi politik, disensornya penerbitan yang datang dari luar, dan dibatasinya jama’ah haji indonesia ketanah suci. Tetapi pembatasan – pembatasan dalam politik Islam belanda ini tidak ada gunanya.ii. Pengaruh ide dan gerakan pembaharuan Diantara faktor eksternal, pengaruh ide dan gerakan pembaharuan Islam di Indonesia dari Timur Tengah sangat penting, yaitu yang berasal dari Mekah dan kairo. Pengaruh Mekah masuk ke Indonesia melalui orang-orang Indonesia yang naik haji. Selama mereka di Mekah, mereka mempelajari Islam dengan memperdalam beberapa aspek ajaran Islam terutama fikih. Jadi mereka biasanya tinggal selama beberapa tahun lamanya. Khususnya tentang hajinya K.H Ahmad Dahlan ke tanah suci dan tinggal disana untuk studi Islam beberapa tahun, menjadikan beliau terbiasa dengan ide pembaharuan. Pengamatan langsung terhadap daerah pusat Islam, yaitu Mekah, akhirnya mendorong K.H Ahmad Dahlan untuk mendirikan gerakan pembaharuan Islam Indonesia, yaitu Muhammadiyah. Secara umum ciri suatu gerakan keagamaan terletak motivasi utama yang mendorong munculnya pergerakan melalui diri pemimpinnya. Gerakan
  3. 3. Islam yang bercorak pembaharuan pada umumnya akan selalu menyatakan bahwa sumber utama motivasi adalah pemahaman. C. Pembaharuan (tajdid) dan Pemurnian (purifikasi) Ajaran Agamaa. Gagasan Pembaharuan (tajdid) Islam Satu ciri yang cukup menonjol dalam gerakan Muhammadiyah adalah gerakan purifikasi (pemurnian) dan modernisasi ( pembaharuan) atau dalam bahasa arab “tajdid” keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Pada mulanya, Muhammadiyah dikenal dengan gerakan purifikasi, yaitu kembali kepada semangat dan ajaran Islam yang murni dan membebaskan umat Islam dari Tahayul, Bidah dan Khurafat. Cita-cita dan gerakan pembaharuan yang dipelopori Muhammadiyah sendiri sebenarnya menghadapi konteks kehidupan keagamaan yang bercorak ganda, sinkretik dan tradisional. Sebagai sebuah gerakan sosial keagamaan, Muhammadiyah mempunyai ciri khusus dengan yang lain, tetapi ciri tersebut dibuat bukan atas dasar teoritik belaka, melainkan berpijak pada proses yang sesuai dengan lingkungan dan budaya masyarakat. Meskipun Muhammadiyah melakukan purifikasi keagaaman, namun Muhammadiyah dalam waktu yang bersamaan sangat menyadari ketergantungan pada lingkungan sosial-budaya di tempat Muhammadiyah berada. Muhammadiyah tercermin dari 2 hal yaitu : 1) bentuk keteladanan seorang pemimpin yang simpatik, 2) pemikiran pembaharuan Islam yang disebarluaskan oleh Muhammadiyah dalam bentuk amal nyata dengan tindakan yang moderat. Dalam Muhammadiyah, purifikasi adalah gerakan pembaharuan untuk memurnikan agama dari syirk yang pada dasarnya merupakan rasionalisasi yang berhubungan dengan ide mengenai transformasi sosial dari masyarakat agraris ke masyarakat industrial, atau masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Dilihat dari segi ini sangat jelas bahwa Muhammadiyah telah memberikan suatu ideologi baru dengan suatu pembenaran teologi industrial, dan modern. Tampaknya Muhammadiyah memang mengidentifikasi diri untuk cita-cita semacam itu. Upaya Muhammadiyah untuk melakukan persiapan ke arah transformasi itu misalnya adalah dengan melepaskan beban-beban kultural yang sampai sejauh itu dianggap dapat menghambat kemajuan. Usaha pemurnian agama untuk membersihkan Islam dari praktek-praktek syirk, takhayul, bidah dan khurafat, merupakan bukti yang menjelaskan itu.Muhammadiyah berusaha mendongkel budaya Islam sinkritik dan Islam tradisional sekaligus, dengan menawarkan sikap keagamaan. Gerakan "pemurnian" (purifikasi) berarti rasionalisasi yang menghapus sumber-sumber budaya lama untuk digantikan budaya
  4. 4. baru, atau menggantikan tradisi lama dengan etos yang baru. Muhammadiyah tampak sekalidengan sadar melakukan berbagai upaya pembaharuan demi mencapai cita-cita transformasisosialnya. Perlu digaris bawahi terlebih dahulu di sini bahwa program purifikasi adalah ciri yangcukup menonjol dari Persyarikatan Muhammadiyah generasi awal, dan hingga sampai saatsekarang ini. Namun harus disadari pula bahwa program purifikasi memang lebih terfokus padaaspek aqidah. Pemberantasan TBC (Takhayul, Bidah dan Churafat) merupakan respon konkritMuhammadiyah terhadap Budaya setempat yang dianggap menyimpang dari aturan aqidahislamiyah. Bahwa sesuatu yang berbau mistik harus dijauhkan dari sikap umat Islam kesehariandengan cara mengubah sesuatu yang berasal dari sufisme menjadi akhlak. Gerakan purifikasiMuhammadiyah sampai saat ini masih melakukan penguatan dan penyadaran terhadap polakehidupan manusia. Gerakan yang tidak kalah pentingnya adalah penajaman tauhid. Karenaformulasi tauhid adalah terletak pada realitas sosial. Apapun bentuknya, tauhid menjadi titiksentral dalam melandasi dan mendasari aktivitas. Tauhid harus diterjemahkan ke dalamrealitas historis-empiris. Ajaran agama harus diberi tafsir baru yang lebih konstektual danelaboratif sesuai dengan konteks ruang dan waktu. Tauhid harusnya dapat menjawab semuaproblematika kehidupan modernitas, dan merupakan senjata pamungkas yang mampumemberikan alternatif baru yang lebih anggun dan segar. Jadi, tujuannya adalah memberikanperubahan terhadap masyarakatnya. Perubahan itu didasarkan pada cita-cita profetik yangdiderivasikan dari misi historis sebagaimana tertera dalam surat Ali Imran ayat 110, Engkauadalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegahkemungkaran dan beriman kepada Allah. Gerakan di atas jelas nyata-nyata menjadi bidang garapMuhammadiyah, lebih-lebih dalam mengahadapi tantangan era global. Arus budaya yangdihadapi Muhammadiyah tempo dulu dengan sekarang jauh lebih berbeda. Sehingga tantanganyang harus dihadapi sekarang adalah memperkuat basis keagamaan yang didukung oleh nilai-nilai sosial-religius.Salah satu tantangan global adalah tingginya tingkat kompetitif (persaingan) disemua sisikehidupan. Untuk itu Muhammadiyah perlu memperkokoh basis iptek dan imtaknya.Sebagaimana sejak awal Muhammadiyah sangat getol dengan dunia pendidikan. Letak semangatpurifikasinya adalah meluruskan iptek yang sesuai dengan cita-cita dan misi Muhammadiyahkhususnya, dan umat manusia pada umumnya. Kerja keras dan etos keilmuan wargapersyarikatan yang menyatu dalam etos keagamaan umat sangat diperlukan. Pencapaian
  5. 5. kemampuan iptek yang membutuhkan sikap mental dan pandangan hidup yang menggaris bawahi kenyataan bahwa aktivitas keilmuan bukannya berada di luar kesadaran keagamaan.b. Gagasan Pemurnian (purifikasi) Islam Gagasan dasar berdirinya Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari tumbuhnya pemahaman untuk melaksanakan ajaran Islam menurut ajaran nabi Muhammad pada diri Dahlan. Karena itu maka Dahlan dengan Muhammadiyah berusaha mengembalikan pelaksanaan agama Islam sesuai dengan contoh nabi dengan cara ittiba’. Dengan gagasan demikian, maka Muhammadiyah melakukan usaha purifikasi keagamaan. Menurut keyakinan Muhammadiyah, Islam yang murni adalah keyakinan dan amal keagamaan yang hanya berdasarkan Al-quran dan sunah nabi. Selain kedua sumber itu, maka tidak lagi ada sumber lain yang diterima, karena penerimaan atau pengakuan akan amal beragama dengan sumber tambahan akan menjerumuskan umat kedalam kegiatan bid’ah,khurafat atau mungkin terperosok kedalam perbuatan syirik. Usaha Muhammadiyah bagi pemurniaan Islam itu menggunakan alat organisasi dan kepemimpinan yang mementingkan keutamaan, keikhlasan, dan pertanggung jawaban dunia akhirat. Pentingnya organisasi dan kepemimpinan itu karena tidak ada lagi nabi penyiar agama sesudah kenabian Muhammad. Jadi dengan demikian karena nabi Muhammad diyakini sebagai nabi penghabisan, maka untuk mencapai terwujudnya masyarakat yang dicita-citakan oleh diturunkannya agama Islam yang murni hanya akan diwujudkan dengan adanya beberapa persyaratan antara lain adanya “ pimpinan dengan pengorganisasian yang rapi ”. dengan adanya 2 hal tersebut purifikasi dan kepimpinan organisasi, maka dalam pembaharuan gagasan- gagasannya tentang keagamaan Muhammadiyah mempunyai spesifikasi karena dalam tema idenya mempunyai dua elemen: pertama, persepsi bahwa kebanyakan umat Islam masih belum menyadari kebenaran arti dan nilai ajaran Islam, apalagi menjalankan kewajibannya; kedua, didorong oleh persepsi tersebut, maka muncul keyakinan bahwa menegakkan Islam merupakan suatu panggilan, dan Muhammadiyah menjawab panggilan tersebut secara kolektif. Daftar Pustaka Arifin, MT. 1987. Gagasan Pembaharuan Muhammadiyah dalam Pendidikan. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
  6. 6. Tatapangarsa, Humaidi, H, Drs. 2000. Pembaharuan Islam Konsep, Pemikiran, dan Gerakan. Malang: Bagian Pengajaran AIK UMM.Mujtahid. “Gerakan Pemikiran Muhammadiyah: antara Purifikasi dan Modernisasi”.http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2391:ge akan-pemikiran-muhammadiyah-antara-purifikasi-dan-modernisasi&catid=35:artikel-dosen&Itemid=210 (diakses tanggal 27 Oktober 2011).

×