Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

PERGAULAN BEBAS PADA REMAJA

200 views

Published on

MENGATASI PERGAULAN BEBAS PADA REMAJA DENGAN MEREBUT CINTA ANAK KEMBALI

(Presentasi Kelompok 9 Game Level 11 Kelas Bunda Sayang IIP Tangerang Kota - Mei 2018)

Published in: Education
  • Be the first to comment

PERGAULAN BEBAS PADA REMAJA

  1. 1. Oleh Kelompok 9: • Laila Arifiyani • Ayu Lulu ul Musyoyyaroh • Fera Marentika ~ MEREBUT CINTAMU KEMBALI ~
  2. 2. MASALAH PERGAULAN BEBAS YANG TERJADI DI SEKITAR  Pacaran dan saling memanggil dengan sebutan yang harusnya di pakai untuk pasutri (mamah, papah, cintah^^)  Berhubungan secara fisik di depan umum (bergandengan, berpelukan, berciuman, bermesraan)  Membuktikan cinta dengan menyerahkan kehormatan  Mengikuti kegiatan yang mempertontonkan aurat di depan umum  Melakukan sexting  Maraknya LGBT  Pesta sex dan kumpul kebo  Narkoba dan Miras
  3. 3. APA PENYEBABNYA?  Fitrah seksualitas yang tidak tumbuh sempurna sesuai fasenya  Kurang curahan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya  Kurangnya bekal pengetahuan tentang sex education  Penguasaan gadget yang terlalu bebas  Pencarian jati diri yang salah arah/ tidak terarah  Lingkungan pergaulan yang lepas dari pengawasan dan kontrol orang tua  Sudut pandang orang tua yang salah kepada anak
  4. 4. TIDAK TERJADI
  5. 5. LALU BAGAIMANA CARA MENCEGAH PERGAULAN BEBAS?
  6. 6. ORANG TUA KEMBALI KE PERANNYA MASING- MASING SESUAI DENGAN FITRAHNYA Anak adalah amanah dari Allah.Tapi kenyataannya, banyak orang tua yang lalai, tugas mendidik diserahkan kepada sekolah/ tempat les atau guru ngaji. Orang tua hanya menerima hasil dari apa yang mereka bayar.Tujuan menikah pun bergeser, hanya untuk mendapatkan keturunan saja. Banyak anak yang lepas kontrol (sex bebas, narkoba) karena orang tua yang terlalu sibuk dengan aktivitas di luar rumah. Mungkin mereka lupa bahwa seharusnya: “pendidikan utama dan pertama ada di tangan orang tua.” Bekerja boleh, tapi jangan lupakan peran masing-masing dan kewajibannya di dalam keluarga.
  7. 7. MEMBERIKAN PERHATIAN SEUTUHNYA KEPADA ANAK Usia remaja (7-10th) atau kita sebut fase pre-aqil baligh 1, anak harus dekat dengan kedua orang tuanya sesuai gender. Anak diajarkan hal yang berkaitan dengan jenis kelaminnya:  Laki-laki dengan ayah: Sudah harus mengerti tentang mimpi basah, mandi wajib, kewajiban (sholat) dan kegiatan maskulin lainnya (main bola, basket, bowling, bersepeda, cuci mobil, dll.)  Perempuan dengan ibu: Sudah harus mengerti tentang haidh, mandi wajib, kewajiban beribadah, kewajiban menutup aurat, serta membekali dengan keterampilan kewanitaan (memasak, menjahit, membersihkan dan menata rumah, dll.)
  8. 8. MENGAWASI DAN MENJADI TEMAN DALAM BERSOSIAL MEDIA Banyak sekarang orang tua memberikan gadget terbaru dan terbaik agar anaknya terlihat up-to-date, tapi ternyata gadget itu malah menjadi boomerang bagi orang tuanya. Beberapa cara mengawasi anak dalam bergadget:  Berikan wawasan anak tentang efek positif dan negatif dari penggunaan internet  Pantau gadget anak secara berkala (cek yang mereka follow, cek history youtube atau socmed lainnya)  Install aplikasi untuk mengawasi anak
  9. 9. TIDAK MEMBERIKAN KEBEBASAN DALAM HAL FINANSIAL ATAUPUN PERGAULAN  Tidak memasang wifi secara unlimited  Beri kuota terbatas pada gadget anak  Memilihkan lingkungan yang positif kepada anak, misal dengan memilih sekolah yang bagus  Menganjurkan anak untuk mengikuti kegiatan positif (ekstrakulikuler sesuai hobi, kursus/ les, dll.) di waktu luangnya  Membatasi waktu bermain dan meminta anak untuk berikan info detail (dengan siapa, dimana, berapa lama)  Mengetahui jelas keluarga teman bermain anak (nama orang tua, alamat rumah, no tlp rumah, no tlp orang tua)
  10. 10. MENJADI ORANG TUA “TETASYIK” Menjadi orang tua “tetasyik” (tegas tapi asyik). Banyak anak menganggap orang tua yang tegas itu kaku, kuno, ga gaul, semua serba terbatas, ini ga boleh itu ga boleh. Ortu zaman old banget deh! Nah, agar kita lebih asyik kita harus mengikuti cara bergaul anak, tapi tatap dengan prinsip kita. Pada fase pre-aqil baligh 2 (10-14th) anak mulai di dekatkan dengan lawan jenis. Ayah dengan anak perempuan dan ibu dengan anak laki-lakinya, agar anak dapat mengerti perasaan dan keadaan lawan jenisnya (persiapan masa aqil baligh/menikah).
  11. 11. CONTOH Ayah ketat dengan pergaulan anak perempuannya (tidak boleh pergi sendiri/ tidak pergi dengan lawan jenis), tapi ayah menggantikan rasa penasaran anak terhadap lawan jenisnya dengan menjadi “first love & hero” bagi anak perempuannya. Anak perempuan yang biasa mendapatkan cinta kasih seutuhnya dari ayahnya tidak akan mudah jatuh cinta, tidak mudah klepek-klepek dengan laki-laki lain atau bahkan menyerahkan kehormatannya karena sudah didapatkannya dari sosok Ayah “first love”. Dan anak perempuan tidak mudah meminta bantuan/ tergantung dengan laki-laki lain karena belajar menjadi tangguh dan mandiri dari sosok ayah “hero”.
  12. 12. CONTOH Begitu juga anak laki-laki, anak laki-laki akan belajar arti sebuah dari kehormatan wanita yang sangat dijaga dari sosok seorang ibu, sehingga ia akan berfikir tidak akan menyakiti seorang perempuan dengan merenggut kehormatannya. Dan yang lebih penting adalah ayah dan ibu harus menjadi tempat menumpahkan segala keluh kesah anak dan menjadi teman, sahabat tanpa syarat.
  13. 13. REFERENSI  Buku Bunda Sayang,Institut Ibu Profesional  http://www.artikelsiana.com/2015/09/pengertian-pergaulan-bebas- penyebab.html  https://ekoharsono.wordpress.com/2017/08/07/mendidik-fitrah- seksualitas/
  14. 14. TERIMAKASIH..

×