Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Peran lsm kompleet thdp desa melung

1,285 views

Published on

Peran LSM dalam pembangunan di sebuah desa

Published in: Government & Nonprofit
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Peran lsm kompleet thdp desa melung

  1. 1. PERAN LSM DALAM PEMBERDAYAANMASYARAKAT (STUDI KASUS PERAN LSM KOMPLEET DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DESA MELUNG KABUPATEN BANYUMAS) Taufik Nurohman 1. Staf Pengajar Program Studi Ilmu Politik FISIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya 2. Alumni Jurusan Iimu Politik FISIP Universitas- Jenderal Soedirman Purwokerto, Tahun 2007 Abstract Retumed development of life which we see in the capital we cannot deny that simply we still see life phenomenon of public living in rural areas which still draping the life at vicinlty nature. And there then emerges a problems one of them is phenomenon 's exploitative at nature because lack of knowledge of public for the importance cf presen/ ing nature beside using it as life boom. The Institute of Self-supporting of Public/ non-govemment organitation (NGO) be party(side is following share in doing public enable ness. Intervention LSM besides doing enable ness also able to do monitoring to govemment activities, so that between govemment, NGO and public happened relationship that is in character accommodatlve. On the basis of that is research of ml tries to know role of LSM related to participation of public in the effort enable ness. Objective of this Research is to know role of NGO and participation of public in the effort enable ness in Melung village. Besides also is expected able to give contribution to de velopment of politics especiallynelated to enableness of countryside public. Method applied in this research is quelitative descriptive. This research executed in Desa Melung, District Kedung Banteng, Sub-Province Banyumas. Sampling method using purposlve sampling and data collecting technique is done by through interview at the informers, Observation and secondary data exploiting. Data validity used is trienguletion of data with analytical technique app/ les analysis model interactive. Result of research in general indicates that the NGO Kompleet to stand more to bridge between publics, govemment of countryside and Perhutani in finalizing the problems. For example, by doing discussion either in character formal and also informal. But in execution of program still many constraints faced especially related to participation of public. While constraint faced by NGO is lack of energy which move its(the programs. But can be told that participation of public Desa Melung have been good enough though has not optimal. Kata Kunci : Empowerment, NGOs role Abstrak Dibalik perkembangan kehidupan yang kita lihat di lbu kota tidak bisa kita pungkiribahwa temyata masih kita lihat fenomena kehidupan masyarakat yang hidup di daerah pedesaan yang masih menggantungkan hidupnya pada alam sekitamya. Dan' sana kemudian muncul suatu permasalahan salah satunya adalah fenomena-fenomena eksploitatif pada alam karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya melestarikan alam disamping menggunakannya sebagai penopang kehidupan. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) merupakan pihak yang ikut andil dalam melakukan pemberdayaan
  2. 2. Peran LSM Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Melung Kabupaten BanyumesXTaulik Nurohman) masyarakat. Intervensi LSM selain melakukan' pemberdayaan juga bisa melakukan monitoring atas kada-kerja pemerintah, sehingga antara pemerintah, LSM dan masyarakat terjadi hubungan yang sifatnya akomodatif. Atas dasar itulah penelitian ini berusaha untuk mengetahui peranan LSM terkait dengan partisipasi masyarakat dalam upaya pemberdayaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui peranan LSM dan partisipasi mesyarakat dalam upaya pemberdayaan di Desa Melung. Selain itu juga diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu politik terutama yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat desa. - Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskiptif-kualitatit Penelitian ini dilaksanakan dl Desa Melung, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Banyumas. Metode pengambilan sampel yang menggunakan purposive sampling dan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara pada para informan, pengamatan dan pemanfaatan data sekunder. Validitas data yang dipakai adalah trianggulasi data dengan teknik analisis menggunakan model analisis interaktif. Hasil penelitian secara umum menunjukan bahwa LSM Kompleet berperan lebih kepada penjembatan antara masyarakat, pemerintah desa dan Perhutani dalam menyelesaikan' masalah-masalahnya. Misalnya, dengan melakukan diskusi-diskusi baik yang sifatnya formal maupun informal. Tetapi dalam pelaksanakan program masih banyak kendala yang dihadapi terutama terkait dengan partisipasi masyarakat. Sedangkan kendala yang dihadapi oleh LSM ialah kurangnya tenaga yang ikut menggerakan program-programnya. Namun bisa dikatakan bahwa partisipasi masyarakat Desa Melung sudah cukup baik meskipun belum optimal. Kata Kunci : Pemberdayaan, Peran LSM A. PENDAHULUAN Pemberdayaan merupakan sarana yang digunakan untuk melihat potensi di dalam masyarakat. Pemberdayaan dilakukan oleh sekelompok orang dengan motif yang berbeda. Dalam proses pemberdayaan yang sering menjadi objek pemberdayaan adalah masyarakat pedesaan. Pasalnya masyarakat desa cenderung dianggap sekelompok orang yang masih tradisional, primitif, pendidikan rendah, dan minim kesejahteraan. Kemudian masyarakat desa masih mengandalkan alam untuk menghidupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Pemberdayaan di tingkat desa merupakan proses dan aktifitas menuju sebuah kemandirian masyarakat desa, yang di dalamnya terdapat unsur-unsur, atau komponen-komponen pembentuk desa sebagai satuan ketatanegaraan yang menghasilkan swakarsa, swakarya. dan swadaya masyarakat desa. Berbicara konsep pemberdayaan secara langsung membuka wacana tentang partisipasi masyarakat. Apapun program yang berupa pemberdayaan tidak dapat terlaksana dengan baik, apabila tidak ada partisipasi masyarakat di 82
  3. 3. .. .un ---u . yang a n vuuavruuluuu Ivluululuruna (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Melung Kabupaten BanyumesXTaufik Nurohman) dalamnya. Peran partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan negara telah begitu sering didengungkan baik oleh pemerintah maupun kelompok lainnnya. Akan tetapi, selama ini makna partisipasi lebih banyak dimaknai sebagai berapa besar swadaya masyarakat yang diberikan dalam kegiatan pembangunan. Mendiskusikan konsep partisipasi akan lebih mudah jika melihat dari sudut pandang kepentingan. Artinya, semakin besar kepentingan masyarakat terhadap suatu program pembangunan. maka secara otomatis pula tingkat partisipasi yang akan muncul. Tingkat partisipasi masyarakat akan sangat menentukan keberhasilan suatu pembangunan. Semakin tinggi partisipasi masyarakat, keberhasilan pembangunan juga akan lebih optimal. Sebaliknya. jika tidak ada partisipasi dari masyarakat, maka tingkat keberhasilan pembangunan pun akan rendah. Salah satu aktor yang turut terlibat daiam proses pemberdayaan masyarakat desa yakni Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). intervensi LSM selain melakukan pemberdayaan juga bisa melakukan monitoring atas kerja- kerja pemerintah. Sehingga peran pemerintah. LSM. maupun masyarakat akan terjadi suatu hubungan yang akomodatif. Hadirnya pergolakan wacana globalisasi telah membawa implikasi terhadap masyarakat desa. Posisi masyarakat yang belum begitu siap untuk menerima konsep globalisasi ekonomi dan politik, telah memaksakan posisi masyarakat untuk terlibat secara aktif dalam berpartisipasi melakukan proses pembangunan di wilayahnya. Partisipasi masyarakat tersebut secara positif mendorong masyarakat agar lebih percaya diri dalam memberikan perannya dalam pembangunan. Peran tersebut dapat diartikan mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan. monitoring, serta evaluasi kinerja. _ Menanggapi konsep pemberdayaan diatasfpenulis akan mengkaitkan wacana tersebut di salah satu desa di Puwvokerto Banyumas Jawa Tengah, yakni Desa Melung sebagai desa yang yang dijadikan percontohan program pemberdayaan yang dilakukan LSM. Mayoritas masyarakat di desa ini bermata pencaharian sebagai petani. Meskipun jumlah petani cukup dominan secara sosial dan politik, namun posisi tawar mereka masih tergolong lemah. Sehingga dibutuhkan lembaga atau organisasi yang mampu mengerakan dan mengakomodasi kepentingan masyarakat desa. LSM salah satu wadah yang mampu menggerakan masyarakat dalam mengakomodasi kepentingan dan kebutuhannya melalui program-program pemberdayaan. 83
  4. 4. Peran LSM Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Melung Kabupaten Banyumas)(Taulik Nurohman) LSM yang melaksanakan program tersebut di Desa Melung adalah LSM Kompleet. LSM yang bergerak di bidang konservasi hutan. dan melaksanakan program-program pemberdayaan lainnya bagi masyarakat hutan dl desa-desa yang berada di kaki Gunung Slamet. LSM Komplet ini berperan sebagai fasilitator dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat di desa tersebut. Program-program LSM Kompleet di Desa Melung lebih terfokus pada pengelolaan SDA hutan. Program itu bertujuan agar masyarakat tidak hanya dapat mengelola SDA, namun lebih ditujukan agar masyarakat di desa tersebut mendapatkan kesejahteraan secara adil dan berkelanjutan. Sementara itu, di dalam penelitian ini penulis akan membahas tentang bagaimanakah peranan LSM Kompleet dan partisipasi masyarakat dalam usa pemberdayaan di Desa Melung Kecamatan Kedung Banteng Kabupaten Banyumas. B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Desa sebagai Masyarakat Hukum Dalam pengertian ekonomi, desa diartikan sebagai tempat hidup dalam ikatan keluarga di suatu kelompok perumahan dengan saling ketergantungan yang besar di bidang sosial dan ekonomi. Desa terdiri dari rumah tangga petani dengan kegiatan produksi, konsumsi, dan investasi sebagai hasil keputusan keluarga secara bersama. ” . . Lahirnya Undang-Undang (UU) No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang di revisi ke dalam UU No. 32 tahun 2004, merupakan pengganti UU No. 5 tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, dan UU No. 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Dalam UU No. 22 tahun 1999 dan UU No. 32 tahun 2004 dijelaskan pengertian desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem nasional yang berada di daerah kabupaten. Munculnya otoritas politik di dalam suatu komunitas yang disebut desa. secara internal mudah dipahami dengan melihat sejarah perkembangannya. Secara faktual jumlah penduduk bertambah dan masalah-masalah terkait dengan ' i-iayaml Yujiro dan Masao Klkuchi. Dilema Ekonomi Desa: Suatu Pendekatan Ekonomi Terhadap Pembahan Kelembagaan di Asia, (Yogyakarta: Yoi. 1987), hai. 11 84
  5. 5. (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Melung Kabupaten BanyumasXTaufIk Nurohman) kepentingan masyarakat juga bertambah. ? Kenyataan tersebut sudah barang tentu mendorong munculnya suatu otoritas yang diharapkan dapat mengatasi berbagai persoalan, dan merealisasi aspirasi yang berkembang. Dari konsep itulah lahir kesatuan masyarakat hukum yang mandiri. dan pemimpin mereka biasanya yang sudah dianggap tertua. atau yang memiliki kemampuan paling tinggi diantara mereka (Maschab, 1992). Dari beberapa pengertian tersebut. dapat ditarik beberapa ciri umum desa: a. Desa umumnya terletak di. atau sangat dekat dengan pusat wilayah usaha tani. b. Dalm wilayah itu pertanian merupakan kegiatan ekonomi dominan. c. Faktor penguasaan tanah menentukan corak kehidupan masyarakatnya. d. Tidak seperti di kota ataupun kota besar yang penduduknya sebagian besar merupakan pendatang, populasi penduduk desa lebih bersifat “terganti dari dirinya sendiri'. e. Kontrol sosial lebih bersifat informal. dan interaksi antara warga desa lebih bersifat personal dalam bentuk tatap muka. f. Mempunyai tingkat heterogenitas yang relatif tinggi dan ikatan sosial yang relatif lebih ketat daripada kota. (wiradi, 1988) 2. NGO/ LSM (Lembaga Sosial Masyarakat) LSM atau yang umum dikenai dengan organisasi non pemerintah nirlaba y (non govemment Organizational), merupakan organisasi yang dibentuk oleh kalangan yang bersifat mandiri. Organisasi seperti ini tidak menggantungkan pada pemerintah atau negara. terutama mencari dukungan finansial atau sarana prasarana sebagai fasilitas bagi LSM tersebut. NGO dibentuk sebagai penivujudan dari komitmen sejumlah warga negara yang mempunyai kepedulian terhadap persoalan-persoalan yang muncul, baik di bidang ekonomi. sosial maupun politik. Kehadiran NGO dalam sebuah masyarakat merupakan kenyataan yang tidak dapat dinañkan. Hal itu akibat kapasitas dan pelayanan pemerintah terhadap warganya masih sangat terbatas. Tidak semua kebutuhan warga dapat 2 Suhartono, Politik Lokal Parlemen Desa: Awal kemerdekaan Sampai jaman Otonomi Daerah, (Lapera Pustaka Utama: Yogyakarta, 2001), hai 14. 85
  6. 6. Peran LSM Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Melung Kabupaten BanyumasXTaulik Nurohman) dipenuhi oleh pemerintah, apalagi di negara-negara yang' sedang membangun seperti Indonesia. NGO memainkan peranan dalam proses pembangunan sebuah negara. Noeleen Heyzer (dalam Heyzer, Ryker and Quizon, 1995: 8) mengidentifikasikan tiga jenis peranan NGO, yaitu: (1) Mendukung dan memberdayakan masyarakat pada tingkat grassroot (akar rumput), yang sangat esensial dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan, (2) Meningkatkan pengaruh politik secara meluas, melalui jaringan kerjasama, baik dalam negara ataupun dalam lembaga-lembaga internasional lainnya (3) ikut "mengambil bagian dalam menentukan arah dan agenda pembangunan. Mengacu pendapat Heyzer, maka dapat digolongkan peranan NGO ke dalam dua kelompok besar: pertama, peranan dalam bidang non politik, yaitu memberdayakan masyarakat dalam bidang sosial ekonomi, dan kedua dalam bidang politik yaitu sebagai. wahana untuk menjembatani warga masyarakat dengan negara atau pemerintah. Mengingat peranan NGO sangat besar dalam kehidupan masyarakat, tidak jarang kalangan elit politik dan akademik melihat NGO sebagai alternatif untuk mewujudkan civil society (masyarakat sipil), yang akhirnya akan menjadi lokomotif demokratisasi di negara-negara dunia ketiga. ” Menurut James Ryker. ada lima hubungan antara NGO dengan pemerintah: 1. Autonomus/ Benlgn Neglect. Dalam konteks hubungan seperti ini pemerintah tidak menganggap NGO sebagai ancaman, karena itu membiarkan NGO bekerja secara independen atau mandiri. 2. Facllltatlon/ Promotlon. Pemerintah menganggap kegiatan NGO sebagai sesuatu yang bersifat komplementer. Pemerlntahiah yang menyiapkan suasana yang mendukung NGO untuk beroperasi. 3. Colaboratlon/ cooperatlon. Pemerintah menganggap, bahwa bekerja sama dengan kalangan NGO merupakan sesuatu yang menguntungkan. Karena dengan bekerjasama semua potensi dapat disatukan guna mencapai suatu tujuan bersama. ° Affan Gaffar, Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi, (Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 2002), hal. 206. 86
  7. 7. (Studi Kasus Peran ; sir 763.33& 53:33; #SLSSSESIIZEH 5333355232 DI Desa Melung Kabupaten BanyumasXTautik Nurohman) 4. Cooptation/ Absorption. Pemerintah mencoba menjaring dan mengarahkan kegiatan NGO dengan mengatur segala aktivitas mereka. Untuk itu NGO harus" memenuhi ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah. 5. ContaInment/ Sabotega/ Disalurkan. Pemerintah melihat NGO sebagai tantangan bahkan ancaman. Pemerintah pun mengambil langkah untuk membatasi ruang gerak NGO. 3. Konsep Pemberdayaan Masyarakat Konsep pemberdayaan (empowennent) menurut Merriam Webster dan Oxford English Dictionary, mempunyai pengertian to give power or authority (memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan kepihak lain) dan to give ability to or enable (upaya untuk memberi kemampuan atau Keberdayaan# Pemberdayaan merupakan wujud dari pengembangan kapasitas (capacity building). inti dan' pemberdayaan masyarakat adalah membangkitkan dan memusatkan daya masyarakat. Pemberdayaan tidak berarti memberikan kekuatan kepada masyarakat, melainkan mengelola potensi yang sudah dimiliki tetapi belum diberdayakan untuk menjadi suatu kekuatan sehingga dapat tercapai hasil yang dapat dicapai. Jadi pemberdayaan masyarakat desa mempunyai pengertian diantaranya: * 1. Proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau kemampuan pemerintah kepada masyarakat desa agar lebih berdaya dengan memberikan bantuan teknis dan material guna mendukung kemampuan melalui organisasi. 2. Proses menstimulasi atau mendorong atau memotivasi agar individu (personal), komunitas dan institusi desa mempunyai kemampuan atau Keberdayaan untuk menentukan pilihan kebutuhannya melalui proses dialog dan pendampingan. Alasan-alasan perlu dilakukan pemberdayaan pertama, karena wilayah negara Indonesia sebagian besar terdiri dari wilayah pedesaan dimana masyarakat masih bersifat tradisional. Untuk itu harus disesuaikan dengan sifat dan arah perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga “ Bambang Kuncoro, Diklat Kuliah Pemberdayaan Masyarakat Desa, (Purwokerto: Fisipol Unsoed. 2004) ° Bambang Kuncoro, Ibid. 87
  8. 8. Peran LSM Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Melung Kabupaten BanyumasXTeuñk Nurohman) masyarakat desa mengenal proses industrialisasi yang ' berada di wilayah perkotaan. Kedua, kondisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan yang masih memprihatinkan. Kesenjangan dan kemiskinan serta ketimpangan-ketimpangan sosial masih banyak terjadi di desa, hal ini karena sumber daya manusia di desa relatif masih rendah. Kondisi-kondisi di atas merupakan alasan yang memicu alasan adanya pemberdayaan terhadap masyarakat desa. Keterbelakangan (underdevelopment) yang terjadi di desa menyebabkan kesenjangan dan kemiskinan antar masyarakat. Kemudian ada budaya di masyarakat desa bahwa kekayaan cenderung lebih dihormati dan dihargai. selain itu mempunyai kekuasaan besar yang dapat memainkan kehidupan di desa tersebut. Selain itu adanya kecenderungan adanya monopoli terhadap penguasa. Adapun tujuan dari pemberdayaan masyarakat desa adalah? 1. Mengembangkan dan memperkokoh proses pelaksanaan desentralisasi pemerintahan serta membantu percepatan pemulihan dampak krisis. 2. Memberdayakan masyarakat desa untuk dapat berperan aktif dalam pembangunan daerah. 3. Meningkatkan prosedur-prosedur transparasi, ketataprajaan, pengawasan. akuntansi dan pelaporan pada tingkat kabupaten. 4. Mengentaskan kemiskinan melalui peningkatan akses masyarakat miskin terhadap layanan umum dasar. 5. Menciptakan lapangan kerja dan mendorong aktivitas ekonomi pada tingkat lokal. 6. Meningkatkan fungsi sarana dan prasarana dasar. Dari definisi pemberdayaan tersebut maka mengnadung dua elemen yaitu pemberdaya (pemerintah atau LSM) dan yang diberdayakan (masyarakat). Pemberdayaan masyarakat akan terjadi bila kedua elemen tersebut mempunyai potensi atau kapasitas (capacity). Pemberdaya harus mempunyai kapasitas dan mengetahui cara memberdayakan potensi yang ada pada masyarakat, sebaliknya masyarakat harus mempunyai cukup pengetahuan. pengalaman dan motivasi yang dapat dibebaskan, disatukan dan diarahkan bagi kepentingan pembangunan. ° Bambang Kuncoro, Ibid, 88
  9. 9. (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Dasa Melung Kabupaten Banyumas) (Taufik Nurohman) Dimensi pemberdayaan yang harus ada dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa adalah :7 1. Kekuasaan sosial (sosial power), akses yang ada dalam dimensi adalah kelompok-kelompok atau perkumpulan-perkumpulan yang ada di desa, misalnya rumah tangga, serikat buruh ataupun koperasi rakyat. Jika dalam desa tersebut kelompok basis meningkat aksesnya, maka kemampuan untuk merancang dan mencapai tujuan dari pemberdayaan itu meningkat. 2. Kekuasaan politik (political power). akses dari kekuasaan politik ini merupakan akses kelompok basis dan anggota-anggota individu desa ke proses pengambilan keputusan masa depan. mereka sendiri, 3. Kekuasaan psikologis (Psychological power), adanya kesadaran dari dalam individu itu sendiri untuk berpikir lebih maju terhadap masa depan dan mampu menguak kekuatan hegemoni negara yang menjadikan percaya diri. Strategi-strategi pemberdayaan itu dapat melalui: ° 1. Pembangunan pertanian (agricultural development), memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat desa dengan cara meningkatkan output, dan pendapatan masyarakat desa yang difokuskan pada peningkatan produksi pangan dan hasil pertanian. 2. Industrialisasi pedesaan (rural industrialitation), mengembangkan industri kecil dan kerajinan yang ada pada masyarakat desa. Peningkatan usaha rumah tangga ini diberdayakan dengan meningkatkan keterampilan tenaga kerja yang ada di desa. berusaha untuk menggunakan bahan baku yang mudah didapatkan untuk bahan industri. Kemudian industri ini sebagai mata pencaharian yang bersifat kompiementer di samping mata pencaharian utamanya bertani. Industri ini dijadikan alternatif bagi masyarakat yang tidak mempunyai lahan untuk pertanian. 3. Pembangunan masyarakat desa terpadu (intergrated rural development), strategi ini dimaksudkan untuk meningkatkan 7 Bambang Kuncoro. Ibid ° dalam Onny S. Priyono, Pemberdayaan Konsep Kebijakan Dan Implementasi, (Jakartan 996). 89
  10. 10. Peran LSM Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Melung Kabupaten BanyumasXTaufik Nurohman) b. Metode-Model Pendekatan Partisipatoris ' Konsep partisipasi bisa saja menjadi sebuah kata slogan tanpa makna yang nyata. Partisipasi 'yang asli' datang dari inisiatif masyarakat sendiri, merupakan tujuan dalam proses demokrasi. Namun sedikit saja masyarakat yang mau memakai pendekatan sukarela untuk mengajak anggota-anggotanya agar aktif dalam kegiatan pembang`unan. Motivasi yang bersifat memaksa dan yang positif merupakan dua pendekatan yang sangat berbeda, akan tetapi dalam literatur keduanya digunakan untuk menunjukan metode-metode partisipatoris. Dua model logika yang mendasari strategi partisipatoris itu adalah strategi efisiensi dan strategi pemberdayaan. Dalam' strategi efisiensi pembangunan melalui kemitraan top down dengan masyarakat (jangkauan ke bawah yang inklusif). Asumsi normatif dari dalam strategi efisiensi ini masyarakat miskin harus dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti yang ditentukan oleh negara. Sedangkan asumsi deduktif dari strategi efisiensi ini mensyaratkan sebelumnya partisipasi dalam program pembangunan. Karena itu mereka harus dibuat mampu untuk lebih berpartisipasi lagi. Asumsi teoritis sebab akibat dari strategi ini; (1) tujuan pembangunan dapat dicapai secara harmonis dan konflik diantara kelompok-kelompok sosial dapat diredam melalui pola demokrasi setempat. Karena itu partisipasi masyarakat setempat adalah mungkin. (2) partisipasi masyarakat berdampak positif terhadap pembangunan, (3) partisipasi masyarakat merupakan alat efektif untuk memoblitasl sumber-sumber setempat (manusia dan alam) dengan tujuan melaksanakan program pembangunan tertentu. (4) kurangnya partisipasi - merupakan suatu ekspresi dari ketidakmampuan untuk berpartisipasi akibat kurangnya dana, pendidikan. dan sumber-sumber lain, serta tingkat organisasinya rendah, atau bisa juga berarti bahwa rancangan program kurang disesuaikan pada kebutuhan kelompok sasaran. Dalam strategi pemberdayaan pembangunan alternatif yang dirumuskan oleh masyarakat dan organisasi setempat, (jangkauan ke atas yang integratif ). Asumsi nonnatif pada strategi ini adalah masyarakat miskin» harus memperoleh proyek pembangunan yang mereka sendiri tentukan. Asumsi deduktifnya, ini mengandung arti bahwa masyarakat memiliki kemampuan dan hak untuk menyatakan pikiran serta kehendak mereka. Asumsi teoritik sebab akibatnya adalah (1) tujuan pembangunan dapat dicapai secara harmonis dan konflik antar kelompok-kelompok masyarakat diredam melalui pola demokrasi setempat. 90
  11. 11. u. " lunar: u- a u: n uuvvnvwluun (Studi Kasus Peran LSM komp/ set : :S/ Em Pemberdayaan Di Desa Melung Kabupaten BanyumasXTaufik Nurohman) Konsep partisipasi bisa saja menjadi sebuah kata slogan tanpa makna yang nyata. Partisipasi 'yang asli' datang' dari inisiatif masyarakat sendiri. merupakan tujuan dalam proses demokrasi. Namun sedikit saja masyarakat yang mau memakai pendekatan sukarela untuk mengajak anggota-anggotanya agar aktif dalam kegiatan pembangunan. Motivasi yang bersifat memaksa dan yang positif merupakan dua pendekatan yang sangat berbeda. akan tetapi dalam literatur keduanya digunakan untuk menunjukan metode-metode partisipatoris. Dua model logika yang mendasari strategi partisipatoris itu adalah strategi efisiensi dan strategi pemberdayaan. Dalam strategi efisiensi pembangunan melalui kemitraan top down dengan mesyarakat (jangkauan ke bawah yang inkluslf). Asumsi normatif dari dalam strategi efisiensi ini masyarakat miskin harus dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti yang ditentukan oleh negara. Sedangkan asumsi deduktif dari strategi efisiensi ini mensyaratkan sebelumnya partisipasi dalam program pembangunan. Karena itu mereka harus dibuat mampu untuk lebih berpartisipasi lagi. Asumsi teoritis sebab akibat dari strategi ini; (1) tujuan pembangunan dapat dicapai secara harmonis dan konflik diantara kelompok-kelompok sosial dapat diredam melalui pola demokrasi setempat. Karena itu partisipasi masyarakat setempat adalah mungkin, (2) partisipasi masyarakat berdampak positif terhadap pembangunan, (3) partisipasi masyarakat merupakan alat efektif untuk memoblitasi sumber-sumber setempat (manusia dan alam) dengan tujuan melaksanakan program pembangunan tertentu, (4) kurangnya partisipasi merupakan suatu ekspresi dari ketidakmampuan untuk berpartisipasi akibat kurangnya dana, pendidikan, dan sumber-sumber lain, serta tingkat organisasinya rendah. atau bisa juga berarti bahwa rancangan program kurang disesuaikan pada kebutuhan kelompok sasaran. Dalam strategi pemberdayaan pembangunan alternatif yang dirumuskan oleh masyarakat dan organisasi setempat. (jangkauan ke atas yang integratif ). Asumsi normatif pada strategi ini adalah masyarakat miskin harus memperoleh proyek pembangunan yang mereka sendiri tentukan. Asumsi deduktifnya, ini mengandung arti bahwa masyarakat memiliki kemampuan dan hak untuk menyatakan pikiran serta kehendak mereka. Asumsi teoritik sebab akibatnya adalah (1) tujuan pembangunan dapat dicapai secara harmonis dan konflik antar kelompok-kelompok masyarakat diredam melalui pola demokrasi setempat. 91
  12. 12. Peran LSM Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Melung Kabupaten Banyumas)(Tauñk Nurohman) Karena itu partisipasi masyarakat adalah mungkin. (2) pembangunan menjadi positif bila ada partisipasi masyarakat, (3) pemberdayaan masyarakat merupakan hal yang mutlak perlu untuk mendapatkan partisipasinya karena pemerintah tidak D akan mengeluarkan biaya untuk pembangunan kesejahteraan yang ditetapkan oleh masyarakat, kecuali masyarakat itu sendiri memiliki kemampuan untuk memaksa pemerintahnya. _ Kurangnya partisipasi masyarakat dalam program pembangunan berarti penolakan (secara intemal di kalangan anggota masyarakat itu dan secara e_kstemaI terhadap pemerintah atau pelaksana proyek). Hal ini menunjukan adanya struktur sosial yang tidak memungkinkan masyarakat untuk berpartisipasi (hambatan struktural untuk berpartisipasi) jadi hal ini merupakan konflik sosial yang harus diatasi melalui musyawarah mufakat atau kompromi atas kebijakan yang bertentangan itu (menurut Lund. S. 1990: 178-179 dalam Britha Mikkelsen, 2001: 66-68 C. METODE PENELITIAN DAN ALAT ANALISIS Sasaran utama dari penelitan ini adalah LSM Kompleet, Aparat pemerintahan desa dan masyarakat Desa Melung. Lokasi penelitian ini adalah Desa Melung Kecamatan Kedung Banteng Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengambilan sample purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah menggunakan metode analisis interaktif dan validitas data dengan menggunakan teknik trianggulasi. D. HASIL DAN' PEMBAHASAN D.1. HASIL PENELITIAN 'l. Deskripsi Lokasi Penelitian Desa Melung terletak di sebelah barat lereng selatan Gunung Slamet. Dengan topografi berbukit dengan ketinggian rata-rata 600 m dpl, dan curah hujan yang cukup besar berkisar antara 2500 - 3000 mm per tahun. Secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Kedung Banteng Kabupaten Banyumas. Desa Melung memiliki 4 (empat) grumbul, yakni Depok, Selarendeng, 92
  13. 13. (Studi Kasus Peran LSM kami& 593rb Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Melung Kabupaten BsnyumasXTaufik Nurohman) Kaliputra. dan Melung. Dari empat grumbul masuk dalam wilayah yang berbatas langsung dengan hutan damar milik Perum Perhutani. Desa Melung merupakan desa tepi hutan yang berbasis pertanian. Dengan luas lahan pertanian (sawah dan perkebunan) hanya 86.525 hektar (ha) atau 34,61%, sumber daya lahan ini harus menghidupi 751 orang pekerja tani 68,04%) dari total tenaga kerja di Desa Melung. Ini berarti tingkat kepemilikan' lahan atau luas lahan garapan per tenaga kerja pertanian rata-rata sangat rendah hanya sekitar 0.15 ha. Dengan beban tenaga kerja yang bergantung pada lahan pertanian yang sempit ini, wajar jika tingkat ekonomi warga rendah. Terbukti dengan jumlah «. keluarga pra sejahtera di Desa Melung mencapai 68,89%. Kondisi demikian ; salah satu penyebab sebagian warga menggantungkan hidupnya kepada hutan. Luas wilayah Desa Melung seluas 250 hektar (ha) terdiri dari sebagian besar tanah pemukiman seluas 157.29 ha. tanah sawah 61.25 ha. Sisanya difungsikan untuk perkantoran. sekolah. tempat peribadatan, perkebunan dan sebagainya. Jumlah penduduk di Desa Melung sebanyak 2041 orang yang terdiri dari laki-laki sebanyak 1054 jiwa dan perempuan sebanyak 987 jiwa. Sementara dari segi mate pencaharian masyarakatnya terbanyak adalah buruh tani sebanyak 511 orang. kemudian disusul petani 240 orang. sisanya bermata pencaharian sebagai pedagang. dan buruh. Sementara PNS hanya sebanyak 5 orang. dan 4 TNI/ Polri sebanyak 2 orang. Sedangkan untuk jumlah penduduk menurut ` pendidikan masyarakat Desa Melung memang cukup rendah, karena yang tidak ' tamat SD paling besar jumlahnya sekitar 644 jiwa, disusul pendidikan yang hanya tamat SD sebanyak 615 jiwa, tamat SLTP sebanyak 178 jiwa, sementara sisanya lulus SMU/ SMK dan perguruan tinggi masing-masing sebanyak 50 dan 1 jiwa saja. 2. Profil LSM Kompleet Sementara itu. LSM yang melakukan pemberdayaan dl Desa Melung merupakan Komunitas Peduli Slamet yang didirikan tahun 2001 sebagai bentuk konsorsium, sebagai tindak lanjut dari Studi Biodiversity dan Sosial Masyarakat yang dilaksanakan oleh tiga lembaga yaitu Kappala indonesia, Kutilang Indonesian Bird Club. serta Forum Dinamika Kepencintaalaman Purwokerto (FORDIK) pada tahun 2000. 93
  14. 14. Peran LSM Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Melung Kabupaten BanyumasXTauñk Nurohman) Komunitas Peduli Slamet (Kompleet) berkedudukan di Kabupaten Banyumas sudah melakukan ` program-program seperti studi potensi keanekaragaman hayati kawasan Gunung Slamet di Tahun 2000 di Dukuh Kalipagu Desa Ketenger Baturaden Kabupaten Banyumas; Dukuh Kaligua Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, serta Dukuh Liwung Desa Kedawung Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal. Yang bekerjasama dengan Fordik, Kappala lndonesia, Kutilang-IBC (anggota konsorsium Kompleet) didukung oleh Birdlife international. Kemudian melakukan pameran foto dan diskusi publik keragaman hayati gunung slamet pada tahun 2001, untuk melakukan kampanye penyelamatan keragaman hayati di sekitar gunung slamet. Serta presentasi rencana strategis pengelolaan kawasan gunung slamet untuk menyosialisasikan rencana strategis dalam upaya perwujudan pengelolaan kawasan gunung slamet yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat kepada pemerintah kabupaten. Selanjutnya LSM Kompleet juga melakukan pelatihan pertanian organik untuk mengaplikasikan pola pertanian tradisional untuk pelestarian lingkungan. Sehingga petani mampu melakukan pengurangan biaya produksi untuk meningkatkan laba. Serta program konservasi tanaman umbi-umbian untuk pelestarian keragaman hayati khususnya umbi-umbian. agar penggalian usaha produktif masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal. B.2. PEMBAHASAN Wilayah ini masuk secara administratif terletak di lima. kabupaten yaitu Banyumas. Brebes. Tegal, Purbalingga dan Pemalang. Secara umum, hutan di sekitar gunung Slamet lebih mlrlp tipe hutan di jawa bagian barat. Keragaman habitat yang tinggi mempengaruhi satwa yang ada di kawasan hutan tersebut. Curah hujan yng tinggi menyebabkan ekosistem khas langka. Masyarakat desa yang tinggal di sekitar gunung slamet memiliki pola interaksi yang khas karena cenderung mengelompok dan ada hai-hal yang dianggap tabu, ketika hutan dibuka untuk daerah pemukiman. Adapun pemanfaatan sumber daya alam terutama kayu digunakan hanya untuk memenuhi kepentingannya sendiri dan pantang untuk memperjual-belikannya. Pentingnya perawatan dan pengelolaan hutan sebagai tujuan untuk menjaga kelestarian serta upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
  15. 15. (Studi Kasus Peran Ls/ ir PSMS/ ZS? BSE? ?? 553353333)? 'Iir33}3}3i5i Di Desa Melung Kabupaten BanyumasXTaufik Nurohman) Beberapa desa yang terletak di daerah atau kawasan gunung slamet adalah Desa Guci, Pandansari, Kalikidang. Binangun. Sunyaiangu, Melung. 'i. Hubungan Perhutani. Masyarakat dan Pemerintah Desa Melung Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani yang bekerja di sawah. dan menggarap lahan yang dikelola oleh Perhutani. Desa Melung berbatasan dengan hutan namun keberadaan hutan kurang begitu dirasakan manfaatnya karena pemanfaatannya terbatas pada hutan damar yang dikelola Perhutani. Sedangkan untuk hutan-hutan yang tidak ditanami pohon damar kurang begitu diperhatikan. Perhutani lebih memperhatikan tanaman ini untuk kepentingan bisnisnya. Namun masyarakat menganggap tanaman damar terlalu menyerap banyak air. Masyarakat berharap ada tanaman buah atau tanaman lain yang jua dikelola dengan bik. Manfaat hutan yang begitu luas kurang begitu dirasakan oleh warga masyarakat desa terutama dalam peningkatan kesejahteraan. Karena tanaman damar yang diperintahkan Perhutani biaya penanamannya ditanggung warga. namun keuntungannya tidak dibagikan Perhutani kepada masyarakat. Permasalahan tersebut Perhutani hanya memanfatkan warga Desa Melung tanpa diberi hak dan keuntungan dari bisnisnya tersebut sebagai pihak Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Padahal jika dikelola dengan baik desa yang kaya dengan sumber daya alam dan dikenal sebagai kawasan argowisata, mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehingga diperlukan hubungan yang akomodatif antara ketiganya dalam upaya pemanfaatan dan pelestarian hutan. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan tidak begitu bermasalah karena sampai sekarang adanya kerusakan hutan bukan disebabkan oleh masyarakat tapi lebih didominasi oleh kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Desa Melung mengalami beberapa permasalahan diantaranya terjadinya perubahan sistem tanam tradisional ke arah yang lebih modern. pemanfaatan hutan hanya pada hutan produksi. Ada beberapa hal yang sifatnya kontradiktif. hutan damar yang tersisa hanya di daerah Cendana dan sekitar pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Hutan produksi keadaannya memprihatinkan karena sering ditebang sehingga terjadi penggundulan hutan. 95
  16. 16. Peran LSM Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Melung Kabupaten BanyumasXTaufik Nurohman) Situasi yang kontradiktif dianggap sebagai "permainan" yang dilakukan pihak yang berkepentingan, karena pengelolaan hutan damar yang dilakukan oleh masyarakat dianggap tidak menguntungkan. Sehingga masyarakat berinisiatif untuk mengganti tanaman damar tersebut dengan tanaman lain yang tidak mengurangi debit air tanah. Penggantian tanaman sudah dilakukan bersama pihak Perhutani pada awal Agustus 2004. Dalam dialog tersebut diperoleh beberapa kesepakatan namun ada yang belum disepakati yaitu tentang peraturan jarak tanam. Ada keinginan dari masyarakat terutama tentang hak waris pengelolaan lahan kontrakan. Hal tersebut dilakukan agar menghindari terjadinya pola jual beli hak garap secara illegal oleh beberapa oknum petani hutan dan bisa untuk segera ditindaklanjuti. Adapun usulan jarak taman yang diinginkan oleh petani adalah 6 x 12 meter namun usulan ini ditolak oleh perhutani. Pihak Perhutani pernah mengajak masyarakat Desa Melung unutk menyepakati program PSHD, akan tetapi program tersebut hanya disinyalir sebagai fonnalitas atau kewajiban administratif Perhutani yang merupakan penawaran proyek saja. Selain permasalahan diatas, di Desa Melung terdapat areal persawahan yang luasnya sekitar 5 ha adalah tanah yang terletak di sekitar PLTA namun tanah ini tidak dimanfaatkan. Sebagian masyarakat ada yang dirugikan dengan adanya perubahan fungsi dari lahan basah ke lahan kering. Adanya penggunaan areal sawah yang dijadikan PLTA mengakibatkan daerah tersebut mengering. Adanya PLTA telah mengurangi pendapatan ~ petani karena selain lahannya mengering sebagian masyarakat belum bisa menikmati jaringan. llstrik. Selain terganggu oleh PLTA, masyarakat terganggu oleh pembangunan bendungan Watupala. Bendungan ini terletak di sungai Banjaran, Grumbul Selarendeng, Melung. Adanya manfaat dari bendungan bukan dinikmati oleh warga Melung tetapi daerah dl bawahnya seperti Desa Kutallman, Kenlten, Beji. Kebesaran. dan Kedung Banteng. Warga Melung sangat membutuhkan bendungan terkait dengan kondisi pertanian desa mengandalkan sawah tadah hujan. 21 Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Di Desa Melung LSM Kompleet aktif dalam kegiatan pemberdayaan terutama pada masyarakat yang berada di sekitar gunung slamet. Pemberdayaan masyarakat oleh LSM lni merupakan cara untuk membangkitkan dan memusatkan daya 96
  17. 17. (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat DI Desa Melung Kabupaten BenyumeeMTauf/ k Nurohman) masyarakat. Pemberdayaan tidak berarti memberikan kekuatan kepada masyarakat, melainkan mengelola potensi yang sudah dimiliki tetapi belum diberdayakan menjadi kekuatan sehingga dapat tercapainya hasil yang diinginkan. LSM Kompleet aktif berdikusi dengn masyarakat terutama dengan melakukan program-program pendampingan bersama masyarakat karena LSM ini sifatnya menjembatani hubungan antara masyarakat, Perhutani, dan pemerintah desa. Sebelum turun ke masyarakat, LSM berdiskusi untuk proses awal dalam perencanaan. Karena dalam pemberdayaan yang terkadang identik dengan pembangunan akan melalui tahap-tahap perencanaan, implementasi, monitoring, serta sasaran yang menjadi objek pemberdayaan dengan melakukan analisa- analisa terutama metode yang akan digunakan dalam proses pemberdayaan. Metode itu sering kali dengan melakukan metode SWOT. Dengan metode ini akan terlihat upaya yang dilakukan untuk merubah kelemahan menjadi kekuatan : (1) mengubah pemahaman perspektif kultural (senioritas). melalui capacity building, (2) ada mekanisme yang jelas, melalui penjadwalan dan komunikasi, (3) renstra diperjelas dan dipersempit, dengan menyesuaikan kondisi objektif. (4) membuat fund raising (usaha-usaha mandiri) dengan menciptakan usaha-usaha mandiri, (5) menyusun pola relasi dengan FORDIK yang jelas dengan turut mendinamiskan kegiatan-kegiatan FORDIK, melalui konsolisasi, (6) menyusun mekanisme yang jelas. melalui konsolidasi. (7) Membuka akses melalui konsolidasi, (8) membuat sebuah sistem kaderisasi dan regenerasi yang jelas, dengan diawali melakukan upaya konsolidasi, (9) menambah SDM melalui pola- pola kaderisasi, (10) membuat sistem dokumentasi, dengan membuat sistem dokumentasi yang jelas, capacity building, (11) pembuatan sistem monitoring dan evaluasi melalui konsoIidasi. ,__-(12) menyusun Renstra lembaga, (13) peningkatan kapasitas SDM secara mtimmelalui pelatihan Upaya yang dilakukan untuk merubah ancaman menjadi peluang seperti memperjelas status lembaga dengan menyusun mekanisme dan status kelembagaan yang jelas, dan menjaga hubungan dengan tetap menegakan posisi, melalui komunikasi Ternyata yang tertarik dengan program pemberdayaan oleh Kompleet hanya sebagian kecil masyarakat, karena masyarakat lebih menyukai hiburan di rumah, sementara budaya bermusyarawah di kalangan masyarakat sudah luntur. 97
  18. 18. Peran LSM Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Dasa Melung Kabupaten BanyumasXTauñk Nurohman) Dalam tataran implementasi program. Kompleet sering mengadakan diskusi secara kultural. Program tersebut, merupakan program yang tertulis dan berhasil diimplementasikan. Program Kompleet hampir sebagian besar bentuknya diskusi bukan penyuluhan, untuk meningkatkan kapasitas masyarakat. Namun upaya ini dirasakan lebih efektif dibandingkan penyuluhan. Bahkan Kompleet memfasilitasi diskusi publik antara masyarakat yang berada di sekitar gunung slamet Stakeholder (pemegang kebijakan). Diskusi ini dilakukan untuk melihat posisi tawar masyarakat desa dalam pembangunan daerah menuju kemandirian desa. Upaya semacam ini mampu memberikan pendidikan kepada masyarakat serta mencoba melakukan komunikasi dengan pemerintah karena diskusi tersebut, setidaknya dihadiri oleh para anggota DPRD dan LSM-LSM lainnya sehingga aspirasi masyarakat bisa terrealisasikan karena ada komunikasi dengan pemerintah. Dalam implementasi program-program yang sudah ada, maka diperlukan partisipasi masyarakat. Menyangkut partisipasi akan berkaitan erat dengan kepentingan masyarakat terhadap suatu program pembangunan, maka akan semakin besar pula tingkat partisipasi yang muncul. Sebagai salah satu penlvujudan untuk mengakomodasi kepentingan para petani maka dibuatlah semacam kelompok paguyuban. Paguyuban di Desa Melung tersebut bernama Pager Gunung. Ruang geraknya berkecimpung di sekitar pertanian khususnya hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan hutan. Munculnya kata Pager Gunung merupakan semangat dari warga masyarakat Melung yang ingin melestarikan sumber daya hutan sebagai sumber penghidupan dan menjaga dari gangguan dari oknum-oknum yang tidak _ bertanggung jawab. LSM Kompleet perannya sangat besar dengan membangun paguyuban tersebut. agar masyarakat diberi penyadaran untuk melestarikan hutan. Tujuan atau hasil akhir (output) pemberdayaan adalah kemandirian masyarakat. kemudian proses pemberdayaan berakar pada individu yang kemudian meluas ke keluarga. kelompok masyarakat, baik di tingkat lokal maupun nasional. Seperti halnya LSM-LSM lainnya yang melakukan pemberdayaan dl dalam masyarakat sering menghadapi kesulitan. _Kurangnya SDM Kompleet yang terlibat menjadi keterbatasan untuk melakukan pemberdayaan secara penuh, kemudian keterbatasan dana menjadi masalah utama yang dihadapi LSM ini. Rendahnya imbalan yang diterima dan sedikitnya tenaga sukarela dapat 98
  19. 19. (smu: Kasus Peran 1.3M ; aang/ ai 53/35& bêhlêêiéêyêêñ paggasa. ; Di Desa Melung Kabupaten BanyumasXTaufik Nurohman) mengakibatkan lemahnya kontrol dan berkurangnya disiplin dan etos kerja. Hal ini menjadi masalah intern organisasi. 3. Partisipasi Masyarakat Desa Melung Dalam Program Pemberdayaan Partisipasi masyarakat Desa Melung dalam pembangunan telah dijamin melalui ketetapan UU No. 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Dalam pasal 8 disebutkan peran masyarakat dalam penyelenggaraan negara merupakan hak dan tanggung jawab masyarakat untuk ikut mewujudkan penyelenggaraan negara yan bersih. Partisipasi biasanya diidentikkan dengan kepentingan. Artinya, semakin tinggi atau besar kepentingan masyarakat terhadap suatu program maka akan semakin tinggi pula partisipasi masyarakat. Hingga saat ini partisipasi hanya dimaknai sebatas seberapa besar masyarakat ikut andil dalam hal pembiayaan pembangunan tanpa adanya pelibatan masyarakat dalam perencanaan. pengawasan. serta evaluasi pembangunan. Meski adanya anggapan bahwa warga desa memiliki pengetahuan dan pendidikan rendah, namun bukan berarti tidak adanya partisipasi masyarakat. Swadaya dari masyarakat sangat penting, karena pemerintah daerah tidak terlalu memperhatikan kondisi ekonomi desa dan selalu menyamaratakan seluruh desa di Banyumas, ketika akan mendapatkan bantuan pembangunan desa. Sebaiknya pemerintah harus melalui pertimbangan dan perencanaan yang jelas terhadap desa-desa yang perekonomian masyarakatnya lemah. Padahal aturan ini sudah diperjelas dalam Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1999 yang menjamin masyarakat akan akses infomasi apapun seringkali membuat perencanaan pemerintah dalam penyerapan partisipasi masyarakat gagal diwujudkan. Untuk melihat sejauh mana masyarakat desa yang berada di kawasan sekitar gunung slamet. , Dengan adanya LSM Kompleet dengan mengadakan pelatihan PRA (Partlsipetory Rural Approach). Setidaknya kegiatan tersebut bisa menyerap aspirasi masyarakat, karena secara tidak langsung masyarakatlah yang menjadi pelaku dalam menggali potensi yang ada pada diri mereka. Rembugan, rerasan atau gendhu-gendhu rasa adalah salah satu contoh perwujudan yang membudaya di Banyumas, bagaimana masyarakat desa menyampaikan aspirasinya. Budaya-budaya seperti ini perlu terus ditingkatkan 99
  20. 20. Peran LSM Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Melung Kabupaten BanyumesXTaufik Nurohman) melalui forum-forum kultural. Apalagi budaya masyarakat desa masih terkenal dengan guyub rukun maka akan semakin memudahkan pihak-pihak yang akan melakukan pemberdayaan. Adapun pihak dan' masyarakat sendiri masih ada beberapa hambatan dalam keikutsertaannya dalam kegiatan. Hai inilah yang menjadi evaluasi dari program-program yang implementasinya tidak bisa berjalan. Adapun hambatan hambatan tersebut antara lain : ' 1. Kurangnya wawasan dan pendidikan masyarakat akibat minimnya akses informasi serta kebiasaan pembangunan daerah yang tidak melibatkan warga masyarakat. 2. Kelembagaan masyarakat yang masih lemah seperti organisasi kepemimpinan meskipun organisasi-organisasi kelembagaan sudah ada. namun keberadaannya belum mampu menyentuh peran partisipasi pada level masyarakat yang paling bawah. E. PENUTUP Desa Melung yang secara geografis terletak di dekat hutan sehingga masyarakat desa tersebut disebut sebagai masyarakat desa hutan. Desa Melung sebagian besar masyarakatnya bennata pencaharian sebagai petani khususnya petani hutan. Dalam melakukan pemberdayaan selain dilakukan oleh pemerintah desa juga dilakukan oleh LSM Kompleet ( Komunitas Peduli Slamet). Kompleet sendiri berperan lebih kepada penjembatan antara masyarakat, pemerintah desa dan Perhutani dalam menyelesaikan masalah-masalahnya misalnya dengan melakukan diskusi-diskusi baik yang sifatnya formal maupun infonnal yang lebih lepada forum-forum kultural. Namun dalam pelaksanaan program masih banyak kendala yang dihadapi terutama terkait dengan partisipasi masyarakat. Memang banyak masyarakat Desa Melung yang hadir sering hadir dalam forum-forum diskusi atau pada saat pelaksanaan program namun kecenderungan dari mereka sedikit yang mengemukakan aspirasinya. kebanyakan mereka hanya datang sebagai pendengar. Hal inilah yang sangat perlu dioptomalkan agar pendidikan yang sifatnya partisipatoris bisa terwujud dan diharapkan diawali dari masyarakat bawah. Antara pemerintah desa dan warga Desa Melung sudah ada hubungan yang akomodatif sehingga ini menjadi nilai lebih dan kemudahan dalam mewujudkan hubungan yang sinergis dalam pemberdayaan. 100
  21. 21. (Studi Kasus Peran LSM Kamirééi 53235; héiiilaéiéizéêh Mséizéirékéi Di Desa Melung Kabupaten BanyumasXTaufik Nurohman) Kendala yang dihadapi oleh LSM karena kurangnya tenaga yan ikut menggerakkan program-programnya. Namun partisipasi masyarakat Desa Melung sudah bisa dikatakan cukup baik meskipun belum optimal. 101
  22. 22. Peran LSM Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus Peran LSM Kompleet Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Melung Kabupaten Banyumas)(Taulik Nurohman) DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Clark, John. 1995. NGO Dan Pembangunan Demokrasi. Yogyakarta: Tiara Wacana. Gaffar, Affan. 2002. Politik Indonesia Transisi Menuju Demokratisasi. Yogyakarta: Pustaka Utama. _ Heyzeett Noeleen, James Ryker and Antonio B. Quizon. Ed. 1995. Govemment- NGO Relations in Asia, Prospects and Challenges For People Centered Development. Kuala Lumpur: Asian Pasitic Development Center. Maschab. Mashuri. 1992. Pemerintahan Desa Di Indonesia. PAU Studi Sosial. Yogyakarta: UGM Press. h Mikkelsen, Britha. 2001. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan. JakartazYayasan Obor Indonesia Milles, Matthew dan Huberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI-Press. Moleong, Lexi J. 1994. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remadja Rosda Karya. Prijono, Onny S. dan Pranarka. A. M.W. 1996. Pemberdayaan Konsep, Kebijakan Dan Implementasi. Jakarta. Rahardjo. 1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan Dan Pertanian. Yogyakarta: UGM Press. James, Ryker V. 1995. “Contendlng Perspectives for lnterpreting Government- NGO Relations in South and Southeast Asia: constraint, Challenges and the Search for Common Ground in Rural Development". In Noleen Heyzer, James V. Ryker and Antonio B. Quizon, Government-NGO Relations in Asia (Kuala Lumpur. Malaysia APDC) Surianingrat, Bayu. 1976. Tata Pemerintahan Desa Dan Kelurahan. Bandung: Aksara Baru. Surbakti, A. Ramlan. Himpunan Teori-Teori Politik. Untuk Kalangan sendiri (FISIP Unair: Surabaya). Widjaja. HAW. 2003. Pemerintahan Desa l Marga Berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999. Tentang Pemerintahan Daerah. Jakarta: RajaGraflndo Persada. 102
  23. 23. (Studi Kasus Peran LSM ? (3515133) 593rb paassaasçasa 19333135123? DI Desa Melung Kabupaten BanyumasXTauñk Nurohman) wiradi. Gunawan. 1988. “Mengenal Desa Dan Perkembangannya secara Selayang Pandang”. Makalah Pada Seminar Desa Dalam Perspektif Sejarah-Diselenggarakan oleh PAU Studi Sosial UGM. 10-11 Februari 1988. Yogyakarta. Yujiro, Hayami Dan Masao Klhuchl. 1987. Dilema Ekonomi Desa : Suatu Pendekatan Ekonomi Terhadap Perubahan Kelembagaan Di Asia. Yogyakarta: YOI Sumber Lain: Kuncoro, Bambang. 2004. Diktat Kuliah Pemberdayaan Masyarakat Desa. Purwokerto. Fisip UNSOED . 2005. Catatan Proses : Penyusunan Rencana Strategis Program Pengelolaan Kawasan Hutan Gunung Slamet. Kompleet. Purwokerto Pinggir Alas. Edisi ketiga Tahun 2005. 103

×