Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Laporan riset UGM untuk Gerakan Desa Membangun

1,525 views

Published on

Perkembangan media baru mengaburkan batasan antara media dengan audiens.
Keberadaan media baru memungkinkan setiap orang menjadi produsen informasi.
Produksi informasi tidak lagi dimonopoli oleh media. Hal ini membawa dampak
signifikan dalam dunia jurnalisme. Pengertian jurnalisme konvensional yang
memberikan otoritas bagi jurnalis ‘profesional’ sepertinya harus dikaji ulang. Di era
dimana setiap orang mampu membuat medianya sendiri dan memproduksi informasi
membuat jurnalis ‘profesional’ tidak lagi memegang otoritas tunggal. Hal ini
menyuburkan apa yang disebut dengan Jurnalisme Warga. Disamping itu, produksi
informasi tidak lagi dikuasai oleh kelompok masyarakat ‘terdidik’ dan ‘modern’.
Keberadaan media baru memungkinkan berbagai komunitas akar rumput memperoleh
kesempatan bicara. Termasuk Desa. Membayangkan bagaimana ketika Desa mengenal
Media Baru. Bagaimana ketika Desa mempunyai otoritas untuk mengelola informasi
dan menyuarakan dirinya kepada khalayak luas. Disinilah fenomena ini menjadi
menarik untuk dikaji lebih dalam. Gerakan Desa Membangun yang bergerak sangat
cepat di Kabupaten Banyumas menjadi satu objek kajian ilmiah yang menarik.
Masyarakat desa yang selama ini tidak banyak dilirik media tiba-tiba berubah menjadi
produsen informasi yang produktif dan membuat Desa mereka ‘terlihat’ oleh dunia.
Dalam konteks inilah kecenderungan produk jurnalisme warga menjadi penting untuk
dilihat lebih lanjut.

Published in: Government & Nonprofit
  • Login to see the comments

Laporan riset UGM untuk Gerakan Desa Membangun

  1. 1. 1 LAPORAN HIBAH RISET PRODI S2 ILMU KOMUNIKASI FISIPOL UGM T.A. 2013 Jurnalisme Warga (Desa) (Analisis Isi Kualitatif Produk Jurnalisme Warga (Desa) dalam Gerakan Desa Membangun tahun 2011-2013) Oleh: Lisa Lindawati1 Abstrak Perkembangan media baru mengaburkan batasan antara media dengan audiens. Keberadaan media baru memungkinkan setiap orang menjadi produsen informasi. Produksi informasi tidak lagi dimonopoli oleh media. Hal ini membawa dampak signifikan dalam dunia jurnalisme. Pengertian jurnalisme konvensional yang memberikan otoritas bagi jurnalis ‘profesional’ sepertinya harus dikaji ulang. Di era dimana setiap orang mampu membuat medianya sendiri dan memproduksi informasi membuat jurnalis ‘profesional’ tidak lagi memegang otoritas tunggal. Hal ini menyuburkan apa yang disebut dengan Jurnalisme Warga. Disamping itu, produksi informasi tidak lagi dikuasai oleh kelompok masyarakat ‘terdidik’ dan ‘modern’. Keberadaan media baru memungkinkan berbagai komunitas akar rumput memperoleh kesempatan bicara. Termasuk Desa. Membayangkan bagaimana ketika Desa mengenal Media Baru. Bagaimana ketika Desa mempunyai otoritas untuk mengelola informasi dan menyuarakan dirinya kepada khalayak luas. Disinilah fenomena ini menjadi menarik untuk dikaji lebih dalam. Gerakan Desa Membangun yang bergerak sangat cepat di Kabupaten Banyumas menjadi satu objek kajian ilmiah yang menarik. Masyarakat desa yang selama ini tidak banyak dilirik media tiba-tiba berubah menjadi produsen informasi yang produktif dan membuat Desa mereka ‘terlihat’ oleh dunia. Dalam konteks inilah kecenderungan produk jurnalisme warga menjadi penting untuk dilihat lebih lanjut. Kata Kunci: citizen journalism, alternative media, empowernment, rural development A. PENDAHULUAN Aktivitas bermedia baru saat ini sudah merambah hingga ke pelosok desa. Salah satunya adalah di Kabupaten Banyumas. Sebagian desa-desa di kabupaten ini sudah dapat mengakses internet sebagai jembatan masuk dalam dunia maya tersebut. Dalam konteks Desa di wilayah Banyumas, salah satu aktivitas yang dilakukan oleh warga adalah menulis berita online. Bentuk paling konkrit adalah mengelola portal desa yang 1 Asisten Dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM dibantu oleh Ruth Lasamahu, Rani Eva Dewi, Nirmala Fauzia, dan Rezha Amalia. Keempatnya adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM angkatan 2011.
  2. 2. 2 merupakan bagian dari Gerakan Desa Membangun (GDM)2 . Sejak tahun 2012, ada setidaknya 21 Desa di kawasan Banyumas yang aktif mengelola Portal Desa. Jumlah ini semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Desa-desa tersebut tersebar di enam kecamatan. Bahkan saat ini sudah merambah ke kabupaten dan provinsi lain di Indonesia. Berdasarkan data pra riset yang diperoleh, setidaknya ada 1375 berita yang mereka hasilkan dalam tiga tahun ini (2012-2013). Hal ini mengindikasikan tingginya produktivitas warga desa dalam menghasilkan informasi mengenai dirinya. Aktivitas ini seringkali mereka sebut dengan Jurnalisme Warga. Mudahnya akses media baru membuat setiap orang berkesempatan untuk menjadi produsen informasi. Hal ini mendorong berkembangnya jurnalisme warga. Jurnalisme Warga merupakan bentuk aktivitas warga untuk melaporkan kejadian disekitarnya kepada khalayak luas. Aktivitas warga ini diidentikan dengan aktivitas seorang jurnalis. Meskipun apa yang dilakukan mirip dengan apa yang dilakukan oleh seorang jurnalis, aktivitas warga ini tidak bisa serta merta disebut sebagai jurnalisme. Hal ini disebabkan pelakunya tidak mempunyai pendidikan formal ataupun pemahaman yang komprehensif mengenai nilai dan etika dari jurnalisme itu sendiri. Oleh karena itu, istilah jurnalisme warga disematkan untuk membedakan aktivitas ini dengan aktivitas yang dilakukan oleh jurnalis profesional. Meskipun sudah ada pembedaaan yang jelas mengenai aktivitas jurnalis warga dengan jurnalis profesional, pengertian mengenai Jurnalisme Warga belumlah tunggal. Bahkan ada yang tidak mengakui keberadaan jurnalisme warga. Jika menggunakan istilah jurnalisme sudah selayaknya diikuti dengan pemahaman mengenai kaidah-kaidah jurnalisme yang benar. Jika aktivitas warga yang notabene mirip dengan aktivitas jurnalis tidak diikuti dengan pemahaman akan kaidah yang benar, maka itu bukanlah jurnalisme. Namun, disamping pemahaman tersebut, muncul pula pemikiran-pemikiran 2 GDM adalah sebuah jejaring desa yang ingin mandiri dalam pembangunan. Term Desa Membangun mencoba menjadi antitesis dari term ‘Membangun Desa’ yang selama ini digaungkan. Dalam term Desa Membangun, desa ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekedar objek pasif yang harus dibantu atau dibangun. Selain landasan gerakannya yang mencoba untuk melawan mainstream pembangunan pedesaan, GDM menarik perhatian karena gerakan ini concern pada pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Berbasis pada teknologi sumber terbuka (open source), gerakan ini mengembangkan berbagai bentuk aplikasi media baru untuk mendorong pembangunan di desa-desa yang terlibat dalam gerakan ini. Salah satu aplikasi yang dikembangkan adalah Portal Desa. Sumber: Lisa Lindawati. 2013. Komunikasi Pembangunan dan Kemandirian Desa. Tesis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
  3. 3. 3 yang ‘menyelamatkan’ keberadaan jurnalisme warga. Kalangan yang mengakui keberadaan fenomena ini mencoba mengembalikan pada fungsi dasar jurnalisme. Jika dikembalikan pada hakikatnya, aktivitas jurnalisme bertujuan untuk membangun sebuah ruang publik yang demokratis, dimana setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk berpartisipasi di dalamnya. Disamping itu, jurnalisme juga mempunyai fungsi untuk membangun sebuah pemahaman kepada masyarakat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan publik. Jurnalis dalam hal ini bertugas untuk mengangkat isu yang menyangkut kepentingan publik tersebut. Sehingga, tidak lah perlu menjadi masalah siapa yang mengangkat isu tersebut. Jikalau isu itu memang mengandung visi publik, apakah itu jurnalis profesional atau jurnalis warga, memegang peranan yang sama. Pengakuan tentang keberadaan Jurnalisme Warga memang sudah cukup mendapatkan dukungan. Hanya saja pemahamannya pun belum tunggal. Perbedaan pemahaman yang cukup mencolok terkait dengan kaidah-kaidah yang mengikat jurnalisme itu sendiri. Disatu sisi ada pemahaman bahwa jika disebut dengan Jurnalisme, meskipun pelakunya adalah warga, tetap harus dibebani dengan kaidah- kaidah jurnalistik. Artinya, seorang jurnalis warga dituntut untuk memahami nilai jurnalisme seperti objektivitas, akurasi, nilai berita, dan lain sebagainya. Lebih spesifik lagi, mereka juga dituntut mengindahkan kode etik jurnalistik yang telah disepakati. Hanya saja tuntutan ini dianggap terlalu berat oleh sebagian kalangan. Jurnalis warga yang notabene tidak mempunyai dasar pendidikan formal mengenai jurnalistik tidak lah perlu untuk dibebani dengan kaidah-kaidah layaknya jurnalis profesional. Disamping itu, jika dikembalikan pada awal kemunculannya, Jurnalisme Warga muncul karena kekecewaan publik atas pemberitaan para jurnalis profesional. Jurnalisme Warga muncul sebagai counter wacana dari wacana media mainstream. Artinya, jika mereka dituntut untuk mengikuti kaidah yang sama dengan jurnalis profesional, maka tujuan ini tidak akan tercapai. Perdebatan inilah yang menarik untuk dilihat lebih lanjut dalam realitas empirik. Bagaimana jurnalisme warga dipahami oleh pelakunya dan bagaimana kecenderungan produk informasinya. Portal desa dimanfaatkan untuk meningkatkan daya tawar Desa di hadapan para pemangku kebijakan. Hal ini mengindikasikan ada perbedaan nilai antara jurnalisme profesional dengan jurnalisme warga. Jurnalisme ‘profesional’ yang selama
  4. 4. 4 ini selalu dituntut untuk netral sungguh berbeda dengan tendensi warga Desa dalam aktivititas jurnalistik mereka. Apalagi disandingkan dengan semangat Kemandirian yang diusung dalam Gerakan Desa Membangun. Fenomena tersebut mendorong peneliti untuk melihat kecenderungan konten berita yang diunggah dalam Portal Desa. Lebih mendalam lagi, peneliti ingin melihat bagaimana semangat kemandirian desa direpresentasikan dalam tulisan-tulisan tersebut. Menempatkan desa sebagai subjek menjadi spirit yang seharusnya dituangkan dalam produk informasi tersebut. Hal ini sesuai dengan semangat jurnalisme warga yang berusaha mengimbangi wacana media mainstream yang dianggap tidak sesuai dengan perspektif lokal. B. KERANGKA PEMIKIRAN 1. New Media dan Jurnalisme Warga Keberadaan new media mengaburkan dikotomi antara media dan audiens. Keberadaan situs web menantang paradigma media tradisional dengan membiarkan pembaca menjadi penulis (Bentley, 2008). Internet membawa cara baru dalam mengumpulkan dan melaporkan informasi ke dalam newsroom. Dalam lingkungan new media, pembaca mempunyai peran yang signifikan dalam melakukan pertukaran dengan jurnalis. Difasilitasi dengan teknologi yang mudah, dan juga peningkatan layanan koneksi serta perkembangan mobile devices, audiens media online mempunyai alat untuk menjadi partisipan aktif dalam membuat dan menyebarkan berita dan informasi. Demistifikasi dari jurnalisme ini meruntuhkan sekat antara audiens dan produser yang kemudian mengubah nilai dan norma yang melekat pada ‘berita’. Hal ini mendorong perlunya pemahaman baru mengenai jurnalisme itu sendiri (Fenton, 2010). Salah satu implikasi yang kentara dari perubahan paradigma tersebut adalah lahirnya citizen journalism3 . Ide besar dibalik keberadaan citizen journalism adalah bahwa, orang tanpa pendidikan formal mengenai jurnalisme, dapat menggunakan teknologi modern 3 Citizen journalism sebenarnya sudah berkembang sebelum new media berkembang. Hanya saja perkembangannya terbatas dan bergantung pada media mainstream. Bentuk citizen journalism yang berkembng pada masa sebelum new media berupa partisipasi audiens untuk menyampaikan informasi melalui media mainstream. Sedangkan pada masa new media, audiens mempunyai fleksibilitas lebih tinggi untuk memilih saluran media mereka. Dalam konteks ini, konsep audiens juga menjadi kurang relevan. Keberadaan new media menguatkan posisi yang awalnya disebut audiens menjadi produsen informasi.
  5. 5. 5 terutama perkembangan internet untuk memproduksi pesan, fact check secara mandiri atau bersama-sama (sharing) dengan yang lain. Bowman & Willis (2003 dikutip oleh Jack) mendefinisikan citizen journalism sebagai keadaan dimana citizen mempunyai peran aktif dalam mengumpulkan, melaporkan, menganalisis dan mendistribusikan berita dan informasi. Jay Rosen (2006 dalam Bruns) memformulasikan bahwa citizen journalism digerakkan oleh orang-orang yang selama ini dikenal sebagai audiens, dimana sekarang berperan aktif dalam proses jurnalisme itu sendiri. Mereka mempunyai akses dalam mengkreasi dan menyebarkan pesan yang tidak lagi bergantung pada teknologi yang selama ini ‘dikuasai’ oleh media mainstream. Ada perbedaan mendasar antara citizen journalism dan professional journalism, yang membuat keberadaanya cepat berkembang. Seorang citizen journalist tidak memerlukan pekerjaan keredaksionalan, melainkan hanya mempunyai sesuatu untuk dikatakan. Seringnya, mereka ingin memberitakan sesuatu karena jurnalis profesional terlalu sibuk dengan hal besar dan melihat terlalu sedikit sesuatu yang sebenarnya sangat berarti untuk masyarakat (Bentley, 2008). Sedangkan menurut Bowman and Willis (2003), perbedaan antara citizen journalism dan professional journalism adalah jika citizen journalism secara aktif mendorong partisipasi aktif, organisasi media justru memperkuat kontrol melalui kemampuannya membentuk agenda (agenda setting), memilih partisipan, dan moderasi komunikasi. Lebih lanjut, Jack membedakan citizen journalism dan participatory journalism, dimana pada participatory journalism, citizen hanya mempunyai peran dalam memberikan feedback ataupun komentar. Sedangkan berita maupun informasi disediakan oleh media (jurnalis profesional). Namun, hal ini berbeda dengan Bowman dan Willis (2003) yang mengindentikkan citizen journalism dengan participatory journalism. Bowman dan Willis (2003) mendefinisikan Participatory journalism sebagai berikut, “The act of a citizen, or group of citizens, playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing and disseminating news and information. The intent of this participation is to provide independent, reliable, accurate, wide- ranging and relevant information that a democracy requires.” Bowman and Willis (2003) menjelaskan karakter participatory journalism dibanding dengan organisasi media konvensioanl. Media tradisional dibentuk dalam organisasi yang hierarkis, yang dibangun untuk kepentingan komersial. Fokus bisnis
  6. 6. 6 mereka adalah pada penyiaran dan juga periklanan. Mereka memberlakukan proses editing yang ketat, integritas, dan menguntungkan. Sedangkan participatory journalism dibangun dalam jaringan komunitas yang mengandalkan komunikasi, kolaborasi, kesetaraan, yang melebihi keuntungan ekonomi. Hal ini menguatkan kedekatan konsep antara participatory journalism dengan citizen journalism. Beberapa istilah lain yang merujuk/hampir sama dengan citizen journalism antara lain grassroot journalism, networked journalism, open source journalism, citizen media, participatory journalism, hyperlocal journalism, bottom up journalism, stand- alone journalism, distributed journalism (Glaser dalam Allan, 2010). Couldry (dalam Fenton, 2010) menyebut citizen journalism dengan writer gatherers, yaitu “anyone who post even one story or photo on a mainstream news site – source actor” 2. Jurnalisme Warga dan Media Alternatif Hingga saat ini, pengertian dari citizen journalism masih belum tunggal. Beberapa ahli berpendapat bahwa istilah jurnalisme hanya ditujukan bagi aktivitas yang profesional sedangkan aktivitas yang dilakukan oleh non-profesional dianggap bukan bagian dari jurnalisme, meskipun mereka melakukan kegiatan yang ‘mirip’ dengan jurnalisme. Hal ini disebabkan aktivitas jurnalistik mempunyai nilai dan etika yang hanya dipahami oleh jurnalis profesional. Namun, pendapat berbeda juga menyeruak. Tujuan utama dari jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga dapat menjadi bebas dan dapat mengatur dirinya sendiri (Bowman and Willis, 2003). Sedangkan ide yang mendasari lahirnya citizen journalism adalah berkurangnya monopoli informasi dan pengetahuan yang selama ini ada di tangan para profesional. Konsep utama yang ada di balik citizen journalism adalah bahwa media tradisional bukanlah pusat pengetahuan, justru audienslah yang secara kolektif lebih memahami dibandingkan dengan reporter yang notabene sendirian (Glaser dalam Allan, 2010 : 578). Terkait dengan kemampuannya ‘melawan’ monopoli media mainstream, studi mengenai jurnalisme warga dapat dikaitkan dengan studi mengenai media alternatif (Alternative Media). Studi media alternatif lahir sebagai jawaban atas kegelisahan akan studi media arus utama yang semakin elitis. Salah satu studi yang concern pada keberadaan media alternatif adalah apa yang disebut oleh Hamilton (2008) sebagai
  7. 7. 7 critical media studies. Titik tekan studi ini adalah mempertanyaan basis ideologi media massa. “In modern democracies, there are expectations that the media will facilitate democracy by providing pluralistic information from which informed choices can be made and debates can take place. This model, however assumes that those with significant contributions to make to the media can secure access (Cottle, 2003 dalam Hamilton, 2008:117) Sebagai konsekuensi dari model ini, seharusnya media massa mampu memberikan keberagaman informasi dan kerangka interpretasi yang mampu membantu untuk memahami kondisi masyarakat. Sayangnya, keberadaan media massa tidak lagi bisa diharapkan menjadi penguat demokrasi. Banyak kepentingan yang kemudian membuat media tidak lagi bisa secara ideal melayani masyarakat. Seperti disampaikan oleh Herman dan Chomsky (1988, dalam Atton dan Hamilton, 2008: 118) yang melihat praktik media saat ini dari kacamata ekonomi politik, dimana ada kekuatan struktural yang saat ini mempertajam praktik jurnalisme mainstream. Herman dan Chomsky berargumen bahwa saat ini berita disaring oleh (1) konsentrasi kekuasaan; (2) kepemilikan media; (3) iklan; (4) kesenangan; (5) paham anti komunis dan anti sayap kiri yang tersistematis. Dalam pandangan mereka, kekuatan media massa telah memarginalkan orang biasa (ordinary people), bukan hanya menutup akses produksi, mereka (baca: media) juga memarginalkan orang biasa dalam laporan mereka. Kondisi ini mendorong tumbuhnya media alternatif yang mencoba memberikan ruang bagi kalangan ‘biasa’ untuk mampu menjadi produsen informasi dan mempunyai kemampuan mengakses yang lebih baik terhadap informasi yang relevan dengan kepentingannya. Studi mengenai media alternatif fokus pada nilai politis, lebih spesifik lagi mengenai kemampuannya dalam memberdayakan warga. Menurut Atton & Hamilton (2008: 77), inti dari pemberdayaan adalah kesempatan bagi ‘orang biasa’ untuk bercerita tentang kisah mereka sendiri tanpa pendidikan formal atau kemampuan profesional dan juga status sebagai jurnalis mainstream. Sedangkan Clemencia Rodriguez (2001 dalam Atton & Hamilton, 2008: 122) mengatakan, ketika orang membuat media mereka sendiri, mereka akan dapat untuk merepresentasikan dirinya dan komunitasnya dengan lebih baik. Keberadaan ‘citizen media’ merupakan bentuk ‘self education’. Dengan jalan ini mereka menantang aturan sosial, melakukan validasi identitas, dan memberdayakan diri
  8. 8. 8 mereka dan komunitas mereka sendiri. Hal ini senada dengan istilah radical democracy dari Chantal Mouffe dimana kekuatan alternatif media terletak bukan hanya pada kemampuannya untuk mengkonter informasi tetapi juga memberikan kesempatan untuk orang biasa bercerita tentang cerita mereka sendiri, merekonstruksi budaya dan identitas mereka dengan menggunakan simbol, tanda, dan bahasa mereka sendiri. Salah satu studi dilakukan oleh Paschal Preston (2001 dalam Atton & Hamilton, 2008: 119-120) terkait dengan konsep Masyarakat Informasi. Dalam studinya, Preston pesimis dengan konsep tersebut tetapi dia yakin akan adanya perubahan yang didorong oleh munculnya gerakan sosial baru. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang digadang-gadang membentuk Masyarakat Informasi justru melahirkan apa yang disebut dengan information rich-information poor. Kondisi tersebut mendorong terjadinya gap terhadap kemampuan akses berbagai fasilitas pelayanan publik. Yang justru terjadi adalah inequalities. Di balik pesimisme tersebut, Preston melihat ada peluang untuk mewujudkan kondisi yang lebih demokratis. Keberadaan teknologi komunikasi dianggap memberi peluang bagi berbagai gerakan sosial untuk mewujudkan kondisi masyarakat yang lebih egaliter. Berdasarkan prinsip kesetaraan, inklusif, keadilan sosial, dan demokrasi radikal, gerakan sosial baru memanfaatkan kemungkinan terjadinya transformasi kemampuan produksi dan konsumsi melalui teknologi komunikasi. Untuk mewujudkan kondisi ini, media sendiri bukanlah fokus utama melainkan demokratisasi akses media untuk berkomunikasi, dimana akses dan partisipasi menjadi kunci utama. Dalam tulisan pendahulunya, Hamilton (2000) menyampaikan setidaknya tiga prinsip media alternatif, yaitu (1) deprofessionalization; (2) decapitalization; dan (3) deinstitutionalization. Senada dengan yang disampaikan Hamilton, Enzensberger (1976) mencirikan media alternatif dengan tiga karakter. (1) interaktivitas antara audiens dengan kreator; (2) produksi kolektif; (3) fokus pada aktivitas dan kebutuhan sehari- hari. Hal ini juga selaras dengan pendapat McQuail (1994: 132) yang mencirikan media alternatif ke dalam tiga karakter pula. (1) Terbatas pada seting komunitas, kelompok kepentingan, dan subkultur; (2) pola interaksi horizontal; (3) partisipasi dan interaksi.
  9. 9. 9 3. Karakter Jurnalisme Alternatif Lebih spesifik pada pemahaman mengenai alternative journalism, perlu ada pemikiran ulang mengenai format jurnalisme yang saat ini dipahami, terutama terkait dengan objektivitas dan nilai berita. Menurut Couldry (2000 dalam Atton dan Hamilton, 2008: 124) menyampaikan bahwa keberadaan media alternatif menghasilkan sebuah upaya de-naturalisasi ruang media mainstream. Dengan kata lain, praktik jurnalisme mainstream selama ini terutama terkait dengan bagaimana nilai berita itu dipahami, bagaimana cerita itu dibingkai, dan bagaimana subjek berita direpresentasi, seakan-akan sudah diterima begitu saja. Seakan-akan tidak ada cara lain untuk melakukan praktik jurnalisme. Menurut Couldry sangat mungkin membayangkan cara lain untuk melakukan jurnalisme dibalik pemahaman yang sudah ada selama ini. Melalui praktik yang lebih inklusif dan bentuk yang lebih demokratis pada produksi media, jurnalisme alternatif menunjukkan bahwa kekuatan media tidak sepenuhnya berada ditangan jurnalis profesional. Mereka (alternative journalist) mempunyai kekuatan untuk mengimbangi. Ada beberapa karakter yang disematkan Atton terkait dengan keberadaan alternative journalism. (1) Keberadaan media alternatif sebagai media yang digunakan oleh jurnalis alternatif harus otonom dari kepentingan kapital maupun kepentingan negara. (2) Media alternatif bertujuan untuk membuat perubahan politis. (3) Mempromosikan komunikasi horizontal antar anggota dari kelompok marginal ataupun antar kelompok. Yang menjadi kunci adalah bagaimana mentransformasikan audiens menjadi produsen pesan. Dalam konteks ini, Atton menekankan terjadinya self- reflexivity dan self-education. Adapun beberapa elemen yang menjadi pembeda dalam kajian alternatif media adalah sebagai berikut. Pertama, objektivitas. Dalam konteks jurnalisme (mainstream), objektivitas dianggap sebagai kunci etis dari suatu produk berita. Namun, dalam konteks jurnalisme alternatif, objektivitas tidak relevan dengan tujuan utama keberadaan media alternatif. Para pegiat jurnalisme alternatif mencoba untuk melakukan demistifikasi objektivitas. Bahkan menurut Atton & Hamilton (2008: 86), dapat dikatakan secara tegas bahwa media alternatif secara penuh partisan. Dengan kata lain, media alternatif jelas bias dan tidak mempunyai tendensi untuk membuat reportase yang
  10. 10. 10 berimbang. Yang dilakukan oleh seorang jurnalis alternatif adalah, menurut Chomsky (dalam Atton dan Hamilton, 2008: 85) menyelesaikan cerita dan menyuarakannya. Adapun dua argumen moral yang mendasari pilihan nilai dari alternatif media. (1) Media alternatif bertujuan untuk mengimbangi wacana mainstream. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa pada dasarnya jurnalisme tidak dapat objektif. Sebab, berita itu sendiri merupakan hasil interpretasi dari suatu peristiwa. (2) Jurnalisme alternatif bertendensi untuk membalik hirarki akses. Media mainstream lebih mengutamakan sumber berita elit, sedangkan media alternatif lebih mendengarkan perspektif orang biasa. Kedua argumen tadi menjadi pertimbangan mengapa kemudian jurnalis alternatif tidak dibebani dengan nilai objektivitas. Hal ini menurut Harcup (2002: 103 dalam Atton & Hamilton, 2008: 87) disebut sebagai loyalitas seorang warga negara yang berlaku sebagai jurnalis kepada warga negara lainnya. Elemen kedua adalah Sumber. Dalam pemahaman media mainstream, sumber berita adalah kelompok masyarakat yang dianggap kompeten. Dalam konteks jurnalisme alternatif, sumber yang digunakan media mainstream cenderung elitis. Oleh karena itu, sebagai media alternatif, sumber-sumber yang digunakan lebih mengutamakan sumber-sumber dari kalangan masyarakat biasa. Hal ini senada dengan tujuan besarnya bahwa media alternatif ingin memberikan ruang bagi ‘ordinary people’ untuk bercerita tentang dirinya. Elemen ketiga adalah Representasi. Hal ini terkait dengan elemen kedua, dimana sumber dalam jurnalisme alternatif lebih memberikan ruang pada orang biasa untuk bercerita tentang dirinya. Oleh karena itu, tidak relevan jika media alternatif dituntut untuk merepresentasikan keberagaman perspektif. Sudah sangat tegas bahwa jurnalisme alternatif bersifat partisan. Dan dia mengutamakan sumber yang menjadi pelaku langsung dalam peristiwa tersebut. Bercerita dari perspektif mereka sendiri. Bahkan menjadi sulit dibedakan antara jurnalis dengan narasumber. Bisa jadi narasumber dari suatu berita adalah jurnalis itu sendiri. Elemen keempat adalah kredibilitas dan reliabilitas. Dalam konteks jurnalisme alternatif, ukuran kredibilitas tidak bisa disamakan dengan media mainstream. Tidak ada yang mengharapkan sebuah blog ataupun produk jurnalisme alternatif lain, benar sepenuhnya. Yang menjadi poin penting dalam praktik jurnalisme alternatif adalah
  11. 11. 11 bagaimana perspektif yang berbeda ditampilkan, dan bagaimana antara audiens dengan produsen pesan bisa membangun makna bersama. C. METODE PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk menggali kecenderungan konten informasi yang terdapat dalam Portal Desa terkait dengan fungsinya sebagai suara warga. Sesuai dengan tujuan tersebut, peneliti memilih Analisis Isi Kualitatif sebagai metode primernya. Metode ini merupakan adaptasi metode Analisis Isi (kuantitatuf) dalam kerangka yang lebih interpretif. Titik tekan metode Analisis Isi (kuantitatif) sendiri adalah pada pesan komunikasi yang cenderung manifes. Disamping itu, metode ini memungkinkan peneliti memetakan kecenderungan pesan komunikasi ke dalam kerangka yang objektif dan sistematis. Sedangkan sifat kualitatifnya memungkinkan peneliti melihat dengan lebih dalam terkait konten pesan yang tersirat dalam teks, dengan tetap berusaha mempertahankan kerangka sistematis yang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa konten informasi dalam kerangka Jurnalisme Warga tidak mampu dipahami hanya sebatas kata dan kalimat tersurat melainkan lebih pada makna tersirat dan kecenderungan teks secara keseluruhan. Disamping analisis konten, peneliti juga melakukan wawancara mendalam dengan Jurnalis Warga untuk mendapatkan konfirmasi terkait dengan hasil temuan yang diperoleh dari analisis isi. Dengan demikian, informasi yang diperoleh menjadi lebih komprehensif dan dapat memotret fenomena dengan lebih tajam dan tepat. Dari hasil elaborasi kerangka pemikiran, penelitian ini akan menggunakan beberapa konsep kunci. Ada empat elemen yang telah dielaborasi. 1. Tema berita, yaitu kecenderungan permasalahan yang diangkat. 2. Sumber berita, yaitu siapa saja yang menjadi narasumber suatu peristiwa yang diangkat, apakah orang biasa atau cenderung elitis. 3. Representasi, yaitu siapa saja yang ditampilkan dalam pemberitaan tersebut, apakah warga atau cenderung elitis 4. Tujuan Berita, yaitu arah pemberitaan yang ditulis, apakah mengarah pada bentuk advokasi terhadap isu tertentu atau hanya sekedar mengabarkan suatu informasi.
  12. 12. 12 Kecenderungan dalam keempat elemen tersebut menjadi dasar penarikan kesimpulan tentang kecenderungan produk Jurnalisme Warga dalam Portal Desa. Adapun tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, peneliti melakukan dokumentasi keseluruhan berita yang terunggah di 21 Portal Desa. Dari hasil pendataan tersebut diperoleh konten terunggah sejumlah 1371 berita. Dari data tersebut peneliti melakukan seleksi pada Portal Desa dengan jumlah berita terbanyak dan diperbarui secara teratur. Tabel 1 Hasil Seleksi Portal Desa No Nama Desa Jumlah Posting Keseluruhan Jumlah Posting yang diteliti 1 Dermaji 127 127 2 Ajibarang Wetan 94 91 3 Darmakradenan 87 84 4 Pancasan 176 169 5 Karangnangka 144 139 6 Melung 374 338 JUMLAH 1006 950 Dari hasil seleksi tersebut, peneliti memilih enam desa dengan peringkat jumlah berita teratas. Dari enam Desa tersebut diperoleh jumlah konten terunggah sebanyak 1006 berita. Hanya saja tidak semua konten informasi terunggah berbentuk berita teks. Ada beberapa konten yang hanya berisi berita foto ataupun link untuk masuk ke konten informasi lainnya. Konten-konten yang tidak berisi teks tersurat diseleksi lagi. Dari hasil seleksi tersebut peneliti memilih 950 berita yang akan dilihat lebih lanjut dalam penelitian ini. D. PEMBAHASAN 1. Konsistensi Tulisan dalam Portal Desa Gerakan Desa Membangun dideklarasikan pada akhir Desember 2011 di Desa Melung Kec. Kedungbanteng Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun itu, baru Desa Melung yang sudah secara kontinyu mengelola Portal Desa. Sedangkan tiga desa lain yang menjadi pencetus gerakan ini baru saja memiliki Portal Desa. Hal ini menyebabkan jumlah berita akumulatif di tahun 2011 tidak signifikan.
  13. 13. 13 Figur 1 Jumlah Berita per Tahun Kuantitas berita dalam enam Portal Desa meningkat secara signifikan pada tahun 2012. Berdasarkan hasil wawancara dengan para Jurnalis Warga, tahun 2012 merupakan tahun euforia bagi Gerakan Desa Membangun. Sepanjang tahun 2012, diselenggarakan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk menguatkan ‘greget’ desa untuk mengelola portalnya. Disamping itu, setiap desa juga dituntut untuk memenuhi target minimal berita per bulan. Hal ini menjadi prasyarat untuk mendapatkan aplikasi Sistem Mitra Desa yang sangat dibutuhkan oleh Desa. Tanpa pengelolaan Portal Desa yang baik, Desa tidak diperkenankan untuk memanfaatkan aplikasi tersebut. Berbagai kondisi ini mendorong Desa lebih produktif untuk menulis berita. Dari keenam Desa yang diteliti, Melung ada di peringkat pertama dari segi kuantitas berita. Selain karena kemunculannya yang lebih dulu dari kelima Desa lain, menurut keterangan para Jurnalis Warga, Melung mempunyai tim redaksi yang lebih solid dan penulis yang lebih banyak dibandingkan dengan Desa lain. Melung mempunyai setidaknya 8 orang jurnalis warga yang secara kontinyu mengunggah berita ke Portal Desa. Sedangkan desa lain rata-rata hanya ada 1 Jurnalis warga yang konsisten
  14. 14. 14 menulis. Sebut saja Karangnangka, hanya ada satu penulis yang secara konsisten rutin menulis dalam Portal Desa, yaitu Kodirin (Kepala Dukuh). Kodirin mengaku dibantu oleh beberapa pemuda meskipun belum secara rutin menulis. Hal serupa terjadi di Pancasan dan Dermaji. Di kedua desa ini, justru Kepala Desa yang menjadi penulis utama dalam Portal Desa. Tabel 2 Jumlah Berita per Desa Asal Desa Tahun Posting Total 2011 2012 2013 Dermaji 0 72 55 127 Ajibarang Wetan 0 55 36 91 Darmakradenan 0 49 37 86 Pancasan 0 135 34 169 Karangnangka 0 81 58 139 Melung 20 223 95 338 Total 20 615 315 950 Kondisi redaksional masing-masing Portal Desa mempengaruhi kuantitas dan konsistensi pemberitaan dalam Portal Desa. Hanya saja pengaruhnya kurang signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan tidak seimbangnya rata-rata jumlah berita yang dihasilkan oleh masing-masing Jurnalis Warga. Sebut saja Desa Melung yang notabene mempunyai 8 jurnalis warga. Jika dirata-rata, masing-masing Jurnalis Warga dari Melung menulis 42-43 berita selama tiga tahun ini. Sedangkan jika kita melihat Karangnangka, yang notabene mempunyai setidaknya 2 jurnalis, mampu menghasilkan 69-70 berita per orang. Begitu juga dengan Pancasan yang justru hanya dikelola oleh 1 jurnalis saja. Ada 139 berita yang dihasilkan oleh 1 jurnalis di Pancasan. Artinya, jumlah Jurnalis Warga di setiap Desa memang mempengaruhi kuantitas berita secara keseluruhan. Hanya saja dampaknya tidak signifikan. Memasuki tahun 2013, dari grafik di figur 1 terlihat sangat kentara penurunan jumlah berita terunggah. Dari yang awalnya mencapai 615 berita di tahun 2012 menurun secara drastis menjadi 315 berita di tahun 2013. Memang penelitian ini belum melihat jumlah berita hingga akhir tahun 2013 melainkan berhenti pada bulan September 2013. Hanya saja jika kita melihat rata-rata jumlah berita per bulan tetap tidak seimbang. Pada tahun 2012, setidaknya setiap bulan ada 51-52 berita per bulan (615 berita dibagi 12 bulan). Sedangkan pada tahun 2012, hanya ada 35 berita per
  15. 15. 15 bulan. Kondisi ini kemudian mendorong peneliti untuk melakukan konfirmasi data kepada para Jurnalis Warga. Berdasarkan hasil wawancara dengan para Jurnalis Warga, ada beberapa kondisi yang menyebabkan penurunan produktivitas mereka. Pertama, kurangnya sumber daya manusia di setiap desa. Hal ini disebabkan sulitnya proses regenerasi dan rekruitmen jurnalis warga baru. Hingga akhir tahun 2013, tidak terjadi penambahan jurnalis warga yang dapat dipertanggungjawabkan loyalitasnya. Berdasarkan analisis peneliti, hal ini disebabkan prinsip voluntary yang menjadi dasar dari gerakan ini. Artinya, tidak ada paksaan dan tidak ada mekanisme reward punishment dalam pengelolaan Portal Desa. Keredaksionalannya murni berdasarkan kesadaran dan kerelaan para Jurnalis Warga. Di satu sisi, hal ini menguatkan independensi Portal Desa sebagai media Jurnalisme Warga. Disisi lain, hal ini mengganggu stabilitas Portal Desa sebagai media Desa untuk bersuara. Kedua, adanya momen Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang dilaksanakan serentak di wilayah Kabupaten Banyumas. Hal ini menyebabkan energi para pamong desa ataupun Kepala Desa yang selama ini menjadi ujung tombak pengelolaan menjadi tersita. Disamping itu, peristiwa-peristiwa yang terjadi di Desa lebih banyak yang bernuansa politik. Sedangkan para Jurnalis Warga sudah sepakat untuk meminimalisir konten bernuansa politik dalam Portal Desa4 . Alhasil, para Jurnalis Warga minim ide untuk menulis berita. Melihat kondisi tersebut, dapat diambil kesimpulan sementara bahwa konsistensi tulisan dalam Portal Desa masih kurang. Hanya saja memang kuantitas tidak selalu berkorelasi positif dengan kualitas berita. Berikut analisis lebih lanjut mengenai kecenderungan informasi dalam Portal Desa. 2. Mengabaikan Masalah, Mengoptimalkan Potensi Keberadaan Portal Desa didorong oleh kekecewaan atas kecenderungan media mainstream yang dianggap tidak lagi mampu mengakomodir kebutuhan informasi masyarakat Desa. Menurut para Jurnalis Warga, media mainstream saat ini cenderung ‘Jakartasentris’. Seakan semua peristiwa yang terjadi di Ibu Kota negara ini patut menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat. Padahal, banyak yang tidak relevan 4 Penjelasan mengenai kesepakatan ini dapat dilihat pada pembahasan mengenai aspek berita di poin 4
  16. 16. 16 dengan kebutuhan masyarakat lokal, terutama Desa. Disamping itu, media mainstream selama ini juga minim memberikan ruang bagi Desa untuk bersuara. Jikalau meliput tentang Desa, hal yang menjadi perhatian adalah hal-hal negatif seperti kemiskinan, kriminalitas, atau bencana alam. Padahal, dibalik ketiga hal tersebut, Desa menyimpan banyak potensi, nilai, ide, dan berbagai peristiwa menarik yang lebih positif untuk diberitakan. Kondisi ini mendorong para Jurnalis Warga untuk bersuara dari perspektif Desa. Harapannya, suara Desa dapat didengar oleh kalangan yang lebih luas. Untuk melihat konsepsi tersebut, peneliti memetakan kecenderungan konten berita dalam enam portal Desa yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini. Peneliti membedakannya menjadi dua macam, yaitu potensi dan masalah. Potensi disini merujuk pada berita yang bernada positif dan lebih banyak bercerita tentang hal positif terkait dengan desa dibandingkan dengan masalah. Sedangkan berita dikategorikan menampilkan masalah jika lebih banyak mengandung keluhan dibandingkan dengan menawarkan solusi. Figur 2 Kecenderungan Konten Berita 17.26% Masah 82.74% Potensi Konten Berita
  17. 17. 17 Dari hasil kajian 950 berita yang terdapat dalam 6 portal desa, 82.74% berita bercerita tentang potensi. Hal ini mengindikasikan bahwa para Jurnalis Warga memang secara konsisten ingin menampilkan sisi positif Desa dibanding dengan permasalahannya. Meskipun demikian, bukan berarti Desa tidak ditunjukkan mempunyai masalah. Ada berbagai berita yang berisi tentang permasalahan Desa. Hanya saja dalam nada pemberitaannya cenderung mengandung optimisme ataupun menawarkan solusi atas permasalahan tersebut. Jika dilihat per Desa, lima diantaranya mempunyai persentase potensi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan masalah. Hanya ada satu Desa yang mempunyai porsi potensi dan masalah cenderung seimbang, yaitu Desa Darmakradenan. Berdasarkan hasil wawancara dengan para Jurnalis Warga, kondisi ini dipengaruhi tingkat pemahaman para kontributor Portal Desa dalam melakukan pembingkaian berita. Dalam konteks Gerakan Desa Membangun, keberadaan Portal Desa secara tegas diperuntukkan untuk menunjukkan kekuatan Desa, bukan kelemahan Desa. Disamping itu, sebagai bentuk counter wacana media mainstream, sudah selayaknya keberadaan para Jurnalis Warga membangun optimisme Desa, bukan pesimisme seperti yang selama ini dibangun oleh media mainstream. Figur 3 Kecenderungan Konten Desa per Desa MelungKarangnangkaPancasanDarmakraden an Ajibarang Wetan Dermaji Asal Desa 300 250 200 150 100 50 0 Count 61 1418 44 20 7 277 125 151 42 71 120 Masalah Potensi Konten Berita Bar Chart
  18. 18. 18 Terkait dengan relasinya dengan media mainstream, saat ini keberadaan Portal Desa mendapat perhatian dari para wartawan media lokal yang ada di wilayah Banyumas. Konten berita dalam Portal Desa yang notabene berisi informasi mengenai potensi Desa kerap kali menjadi inspirasi pemberitaan media mainstream. Berdasarkan wawancara dengan para Jurnalis warga, ada beberapa cara wartawan media lokal mengambil informasi dari Portal Desa. Pertama, mengambil informasi dalam Portal Desa secara keseluruhan untuk kemudian dimuat dalam media. Kedua, mengambil informasi dalam Portal Desa sebagai bahan dasar untuk kemudian digali dengan lebih mendalam. Hal ini menunjukkan mulai diperhatikannya isu Desa yang notabene lebih positif. Artinya, informasi mengenai Desa di media mainstream tidak lagi hanya sekedar bencana, kemiskinan, dan kriminalitas. Kembali pada semangat Jurnalisme Warga, relasi antara media warga dengan media mainstream mempunyai dua sisi yang berbeda. Disisi pertama, hal ini dapat dianggap sebagai suatu keberhasilan media warga dalam mempengaruhi agenda setting. Namun, disisi lain hal ini mengaburkan peran media warga sebagai counter wacana mainstream. Ditataran yang lebih jauh, dikhawatirkan akan membuat Portal Desa mengikuti selera media mainstream. Hal ini perlu dikaji lebih lanjut. 3. Good Governance sebagai Isu Utama Penelitian ini mencoba untuk memetakan kecenderungan isu strategis yang diangkat oleh para Jurnalis Warga. Peneliti melihatnya dari isu strategis pembangunan yang tertuang dalam MGD’s (Millenium Development Goals). Ada setidaknya enam isu yang tertuang di dalamnya, yaitu (1) kemiskinan; (2) kelaparan dan ketahanan pangan; (3) pendidikan; (4) kesehatan; (5) lingkungan; dan (6) kemitraan global. Dengan mempertimbangkan potensi desa dan kecenderungan gerakan, peneliti menambahkan dua isu lain yaitu (7) good governance; dan (8) energi. Berdasarkan hasil olah data, 32.21% berita dalam portal Desa memuat mengenai isu good governance. Sedangkan ketujuh isu lainnya tidak mendapat porsi yang signifikan. Dari tujuh isu lainnya, Pendidikan (8.95%) dan Lingkungan (8.84%) yang cukup mendapat perhatian. Setelah dua isu tersebut, isu terkait dengan kemitraan (8%) juga mendapat porsi yang cukup besar. Sedangkan masalah kemiskinan, kelaparan, ketahanan pangan, dan energi hanya mendapat porsi di bawah 5%. Hal ini
  19. 19. 19 mengindikasikan bahwa Jurnalis Warga masih sibuk dengan isu tata kelola dan belum memperhatikan dengan cukup serius isu-isu strategis yang berkaitan dengan pembangunan. Bahkan, 31.89% berita justru membahas permasalahan di luar isu-isu strategis tersebut. Figur 4 Kecenderungan Isu yang diangkat Melihat kecenderungan pemberitaan yang condong pada isu good governance dan memberikan perhatian yang minim terhadap isu lainnya, peneliti mencoba untuk melakukan konfirmasi kepada para Jurnalis Warga. Disamping itu, peneliti juga melihat kecederungan dasar berita yang diangkat oleh para Jurnalis Warga tersebut. Portal Desa yang berkembang di desa-desa Banyumas merupakan bagian dari Gerakan Desa Membangun. Seperti telah dipaparkan dalam pendahuluan, gerakan ini merupakan jejaring desa yang ingin mandiri menentukan arah pembangunan. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Mereka secara komunal mengembangkan berbagai aplikasi berbasis web. Disamping portal Desa, gerakan ini juga mengembangkan apa yang disebut dengan Sistem Mitra Desa. Sistem ini secara online terkoneksi dengan Portal Desa. Sistem ini lainnya 31.89% energi 1.26% good governance 32.21% kemitraan 8.0% lingkungan 8.84% kesehatan 1.89% pendidikan 8.95% kelaparan/pangan 2.53% kemiskinan 4.42% Isu Strategis
  20. 20. 20 merupakan sebuah aplikasi untuk memudahkan Desa (baca: pemerintah Desa) untuk mengelola informasi tentang Desanya. Pada awal pengembangannya, sistem ini dikembangkan untuk membantu Desa mengelola data kependudukan. Mereka menyebutnya sebagai Badan Statistik tingkat Desa. Sistem ini memungkinkan Desa untuk input data kependudukan dan mengelolanya secara digital. Hal ini berdasar pada kegelisahan Desa akan ‘semrawutnya’ data di tingkat desa. Berbagai pendataan kependudukan seringkali dilakukan tetapi data diambil oleh pusat dan Desa tidak pernah mendapatkan salinannya. Padahal, pelaku pendataan adalah masyarakat desa sendiri. Hal ini kemudian mendorong jejaring Desa tersebut untuk mempunyai aplikasi yang memudahkan mereka melakukan pendataan, validasi, dan pengelolaan. Disamping data kependudukan, aplikasi Sistem Mitra Desa membantu Desa dalam masalah surat-menyurat. Hal ini terkait pula dengan data kependudukan yang menjadi acuan dalam surat menyurat. Dengan aplikasi ini, Pemdes mampu memberikan pelayanan yang tepat dan cepat. Bahkan Desa Melung berani mengatakan mampu melayani surat menyurat dalam waktu lima menit. Jika lebih dari itu maka penduduk terkait boleh melakukan ‘protes’. Dalam perkembangannya, Sistem Mitra Desa dilengkapi pula dengan fitur pengelolaan data potensi Desa. Fitur ini membantu desa untuk melaukan pemetaan kondisi desa dan membuat sebuah profil desa. Untuk fitur ini baru dikembangkan sepanjang tahun 2013. Berdasarkan wawancara dengan para Jurnalis Warga dan para pengembang aplikasi, keberadaan Sistem ini bertujuan untuk membangun tata kelola yang baik di tingkat Desa. Tata kelola pemerintahan yang baik dianggap menjadi modal utama untuk mampu merencanakan pembangunan secara mandiri. Tanpa adanya pengelolaan yang baik di level pemerintah Desa, akan sulit untuk mampu untuk mandiri. Hal ini menjadikan isu good governance menjadi isu sentral sepanjang gerakan ini. Kondisi ini diperkuat dengan hasil olah data terkait dengan analisis konten berita mengenai dasar berita. Dasar berita disini merujuk pada kecenderungan Jurnalis Warga dalam menentukan tema pemberitaan. Peneliti membedakan dasar berita ini menjadi dua, yaitu (1) peristiwa dan (2) ide. Peristiwa dipilih jika suatu berita dibuat berdasarkan suatu peristiwa tertentu. Sedangkan Ide dipilih jika berita tersebut dibuat tanpa ada
  21. 21. 21 peristiwa yang spesifik menyertainya. Artinya, ada satu wacana atau ide yang ingin disampaikan meskipun tidak ada peristiwa yang memuat ide tersebut. Dari hasil analisis data diperoleh data sebagai berikut. Dari 950 berita yang dianalisis, 63.66% berdasarkan pada suatu peristiwa, sedangkan sisanya berdasarkan ide. Hal ini memberikan jawaban mengapa isu good governance mendapat porsi yang sangat signifikan dalam pemberitaan. Peristiwa-peristiwa desa yang berada dalam Jejaring Desa Membangun lebih banyak belajar mengenai tata kelola pemerintahan. Lebih spesifik adalah mempelajari aplikasi pemanfaatan Sistem Mitra Desa. Gerakan ini sering mengadakan Lokakarya Desa Membangun yang bertujuan untuk menyebarkan ide-ide gerakan dan mendorong motivasi belajar dari Desa-desa. Tujuannya adalah Desa mempunyai semangat untuk Mandiri. Sedangkan pemanfaatan Aplikasi TIK hanyalah sebagai alat yang membantu desa untuk mencapai tujuan tersebut. Disamping Lokakarya, gerakan ini juga kerap kali mengadakan pertemuan informal untuk membahas permasalahan desa, terutama isu terkait dengan kebijakan Desa. Pertemuan tersebut terjadi dalam ruang fisik maupun maya. Para pegiat Gerakan Desa Membangun membangun sebuah ‘rumah’ yang berfungsi sebagai tempat bertanya bagi Desa. Mereka menyebutnya dengan RDI (Rumah Desa Indonesia). Disamping itu, para pegiat gerakan ini juga secara intens berkomunikasi melalui media sosial online, terutama melalui twitter dan facebook. Figur 5 Kecenderungan Dasar Berita Ide 36.32% Peristiwa 63.68% Dasar Berita
  22. 22. 22 Kondisi ini mendorong terjadinya peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan good governance. Peristiwa inilah yang kemudian banyak menjadi dasar berita bagi para Jurnalis Warga. Sedangkan ide-ide yang diharapkan menjadi wacana di luar isu tata kelola yang baik belum mendapat perhatian serius dari para Jurnalis Warga. Lebih jauh lagi mengenai kondisi ini, peneliti mencoba menggali informasi dari para pegiat. Pertanyaannya sederhana, apakah kondisi dominasi isu good governance merupakan kondisi yang memang ingin dibentuk, sudah sesuai dengan keinginan, atau justru keluar dari harapan. Berdasarkan wawancana dengan para pegiat, kondisi ini memang dianggap sesuai dengan tujuan dari gerakan ini. Bagaimana desa kemudian menyadari pentingnya tata kelola pemerintahan yang baik. Terlebih sebagai modal dasar untuk mewujudkan kemandirian dalam menentukan arah pembangunan. Namun, gerakan ini bukan semata-mata mengangkat masalah tata kelola. Lebih jauh lagi, gerakan ini juga mendorong desa untuk bersuara. Konsep Desa bersuara muncul dari para pendamping Gerakan Desa Membangun. Pendamping gerakan ini berasal dari berbagai lembaga dan komunitas. Desa Bersuara merupakan kondisi ketika Desa bisa mengelola informasi mengenai dirinya dan mengabarkannya kepada khalayak luas. Dengan kemampuan ini, Desa mampu mempromosikan potensi desanya sekaligus menyuarakan permasalahan yang dihadapi. Harapnnya, Desa mendapat perhatian lebih dari para stakeholder. Dengan perhatian ini diharapkan Desa mendapat tambahan energi untuk mengatasi masalahnya dan mengoptimalkan potensinya. Hanya saja bukan berarti kemudian Desa ditempatkan sebagai ‘penerima bantuan’ yang cenderung inferior, melainkan mempunyai posisi sebagai pemegang kendali arah pembangunan yang didukung oleh berbagai pihak. Melihat kecenderungan isu yang diangkat Desa, para pendamping memberikan pendapat bahwa kondisi ini belum dapat dikatakan ideal. Isu good governance memang sudah selayaknya mendapat perhatian. Hanya saja seharusnya tidak hanya isu tersebut. Banyak isu lain yang seharusnya disuarakan oleh Desa. Menurut para pendamping GDM, Desa seharusnya juga lebih banyak memberitakan mengenai potensi yang ada di dalam dirinya, baik potensi alam, manusia, seni budaya, dan berbagai potensi lainnya. Hanya saja memang selama ini Desa belum cukup optimal mengolah isu potensi tersebut.
  23. 23. 23 Sebagai contoh adalah isu perikanan. Jika dilihat dalam pemetaan yang lebih detail, dari isu Sumber Daya Alam (SDA), isu perikanan mendapat porsi yang rendah. Pertanian menjadi isu yang mendominasi. Padahal, jika dilihat dari segi kewilayahan, beberapa Desa merupakan minapolitan. Sebut saja Karangnangka. Jika melihat data yang lebih detail lagi, dari 139 berita, hanya 6 berita yang mengangkat isu perikanan. Begitu juga dengan isu Kehutanan. Melung yang menghasilkan jumlah berita tertinggi merupakan Desa Hutan. Hanya saja porsi berita untuk mengangkat isu Kehutanan juga masih minim. Begitu juga dengan Dermaji yang saat ini mendapat perhatian dari Dewan Kehutanan Nasional. Dari 338 berita dari Portal Desa Melung, hanya 18 berita yang mengangkat isu tersebut. Sedangkan Dermaji, dari 127 berita, hanya 2 berita yang mengangkat permasalahan hutan. Kondisi ini menunjukkan pengelolaan isu yang belum optimal. Hal ini menjadi perhatian tersediri dari para pelaku. Tabel 3 Kecenderungan Bidang Berita No Bidang Berita Frekuensi % 1 Pertanian 62 6.5 2 Kehutanan 21 2.2 3 Pertambangan 3 .3 4 Perikanan 9 .9 5 Perindustrian 30 3.2 6 SDA lain 67 7.1 7 Lapangan kerja 38 4.0 8 Kependudukan 34 3.6 9 Pendidikan 80 8.4 10 Kesehatan 27 2.8 11 Kesenian 18 1.9 12 Nilai Budaya 147 15.5 13 SDM lainnya 79 8.3 14 Tata Kelola 100 10.5 15 Kebijakan 20 2.1 16 Anggaran 18 1.9 17 Rencana dan Program Pembangunan 99 10.4 18 Pemerintahan lainnya 31 3.3 19 TIK 63 6.6 20 TTG 3 .3 21 Teknologi lainnya 1 .1 Total 950 100.0
  24. 24. 24 Lebih jauh terkait dengan pengelolaan isu, peneliti berdiskusi dengan para Jurnalis Warga. Dari hasil diskusi tersebut diperoleh informasi mengenai strategi pengelolaan isu yang diangkat dalam Portal Desa. Ada dua hal yang dianggap masih perlu diperbaiki. Pertama, selama ini, setiap Desa mempunyai kebijakan masing-masing dalam menentukan isu yang diangkat dalam berita. Kecenderungannya, Desa belum mempunyai agenda yang jelas mengenai isu apa yang akan diangkat. Sehingga kebanyakan suatu isu hanya diangkat sekali sampai dua kali kemudian hilang. Kedua, belum ada koordinasi antar desa dalam mengelola isu atau permasalahan yang sebenarnya bersinggungan. Padahal, koordinasi tersebut sangat dibutuhkan untuk ‘mengencangkan’ suara Desa. Kecenderungan tersebut membuat isu-isu yang diangkat tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk mempengaruhi kebijakan. 4. Aspek Sosial menjadi Kekuatan Berita Aspek keempat yang menjadi perhatian peneliti terkait dengan konten berita dalam Portal Desa adalah mengenai aspek yang diangkat dalam setiap berita. Dalam konteks ini peneliti membaginya dalam empat kategori, yaitu berita yang menyinggung aspek (1) politik, (2) sosial, (3) budaya, dan (4) ekonomi. Kategori ini berdasarkan pada pilihan para Jurnalis Warga dalam membahas suatu potensi atau permasalahan. Apakah mereka cenderung melihatnya dari sisi politik, sosial, budaya, atau nilai ekonominya. Berikut hasil olah data terkait dengan aspek dalam berita. Figur 6 Kecenderungan Aspek Berita Politik 7.68% Budaya 18.21% Sosial 50.95% Ekonomi 23.16% Aspek Berita
  25. 25. 25 Dari diagram berikut ini dapat dilihat bahwa sebagian besar Jurnalis Warga mendekati suatu potensi atau permasalahan dari aspek sosialnya. Hal ini selaras dengan kesepakatan tidak tertulis diantara para jurnalis warga. Dalam GDM, mereka berkomitmen untuk tidak terlalu banyak menonjolkan unsur politis. Pilihan ini diambil untuk mengimbangi sudut pandang media mainstream yang lebih kuat di jalur politik. Setiap permasalahan seringkali dikaitkan dengan isu politik. Bahkan, para jurnalis warga cenderung menghindari isu bernuansa politik. Sebagai contoh adalah pada momen pemilihan Kepala Desa. Telah disinggung pada poin pertama, terjadi penurunan kuantitas berita secara signifikan di tahun 2013. Hal ini disebabkan banyaknya Desa yang menyelenggarakan pemilihan. Sehingga berbagai peristiwa yang berlangsung di Desa kebanyakan terkait dengan permasalahan tersebut. Mulai dari proses kampanye, pencalonan, pemilih, hingga hasil dari Pilkades. Dalam konteks ini ada dua hal yang menjadi alasan mengapa momen-momen tersebut tidak banyak diunggah dalam Portal Desa. Pertama, sejak awal sudah ada komitmen untuk meminimalisir konten politik. Kedua, menjaga independensi Portal Desa dari kepentingan politik lokal. 5. Pengalaman Lapangan sebagai Sumber Berita Utama Hal menarik yang menjadi temuan dalam penelitian ini adalah mengenai sumber berita yang digunakan sebagai bahan menulis berita. Dalam konteks ini peneliti mengkategorikan sumber berita menjadi tiga, yaitu (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) dokumen. Pengkategorian ini berdasarkan pada data yang digunakan oleh para jurnalis. Observasi, jika berdasarkan pengamatan lapangan yang ditandai dengan deskripsi peristiwa secara langsung (eyewitness report). Wawancara, jika ada tokoh atau narasumber yang menjadi rujukan tertulis dalam berita. Hal ini ditandai dengan adanya kutipan langsung ataupun tidak langsung dan menyebut nama atau jabatan narasumber. Sedangkan dokumen dapat dilihat apakah memang ada data yang merujuk pada dokumen tertentu.
  26. 26. 26 Tabel 4 Kecenderungan Sumber Berita No Sumber Berita Frekuensi % 1 Observasi 281 29.6 2 Wawancara 63 6.6 3 Dokumen 33 3.5 4 Observasi Wawancara 540 56.8 5 Observasi Dokumen 20 2.1 6 Wawancara Dokumen 3 .3 7 Observasi, Wawancara, Dokumen 10 1.1 Total 950 100.0 Berdasarkan hasil olah data, metode observasi mendominasi strategi para jurnalis warga. Berita yang menggunakan metode ini berkisar 87.5%. Artinya hampir semua jurnalis warga menggunakan metode ini untuk menuliskan berita. Hanya saja memang metode ini tidak berdiri sendiri. Sebagian besar (57.9%) dibarengi dengan metode wawancara sebagai pelengkap. Sedangkan yang disertai dengan dokumen hanya 4.6% saja. Untuk metode yang lain, baik itu wawancara maupun dokumen sangat jarang digunakan sebagai metode yang berdiri sendiri. Dalam konteks Jurnalisme Warga, data tersebut menunjukkan kuatnya keterlibatan jurnalis warga dalam isu yang diangkatnya. Pengalaman lapangan menjadi sumber utama jurnalis dalam menulis. Kedekatan ini menjadi satu modal untuk membangun perspektif lokal. Hal ini konsisten dengan pemetaan perspektif yang dilakukan pada poin berikutnya. 6. Sudut Pandang ‘Orang Biasa’ Keberadaan Jurnalisme Warga merupakan bentuk kekecewaan masyarakat biasa akan pemberitaan media mainstream yang cenderung memarginalkan mereka. Hal ini senada dengan yang dirasakan oleh masyarakat Desa yang kemudian belajar menjadi Jurnalis Warga. Mereka beranggapan bahwa media mainstream cenderung elitis dalam pemberitaannya. Elitis disini merujuk pada beberapa kondisi. Pertama, elitis terkait dengan isu yang diangkat. Media mainstream selama ini terjebak untuk memberitakan berbagai hal besar yang seringkali justru tidak menyentuh kebutuhan masyarakat secara
  27. 27. 27 langsung. Kedua, elitis disini terkait dengan narasumber yang digunakan sebagai rujukan berita. Seringkali, bahkan selalu, media mainstream hanya menggunakan narasumber dari kalangan elit. Dalam konteks Desa, hanya yang mempunyai jabatan atau posisi strategis saja. Sedangkan masyarakat yang notabene ‘orang biasa’ jarang mendapatkan kesempatan untuk menjadi rujukan. Bahkan ‘orang biasa’ dianggap bukanlah narasumber yang kompeten. Dengan berdasar prinsip validitas dan kredibilitas, akhirnya suara ‘orang biasa’ secara sistemik terpinggirkan. Tabel 5 Kecenderungan Pemilihan Narasumber N o Narasumber Frekuensi % 1 Penulis 157 16.5 2 Pemerintah Supradesa 41 4.3 3 Lembaga Desa 146 15.4 4 Masyarakat 121 12.7 5 NGO 20 2.1 6 Akademisi 26 2.7 7 Lainnya 7 .7 8 penulis dan pemerintah supra desa 7 .7 9 penulis dan lembaga desa 49 5.2 10 penulis dan masyarakat 55 5.8 11 penulis dan NGO 4 .4 12 penulis dan akademisi 17 1.8 13 pemerintah supradesa dan lembaga desa 57 6.0 14 pemerintah supra desa dan masyarakat 16 1.7 15 pemerintah supradesa dan NGO 4 .4 16 pemerintah supra desa dan akademisi 5 .5 17 pemerintah supradesa dan lainnya 2 .2 18 lembaga desa dan masyarakat 74 7.8 19 lembaga desa dan NGO 19 2.0 20 lembaga desa dan akademisi 14 1.5 21 lembaga desa dan lainnya 4 .4
  28. 28. 28 22 masyarakat dan NGO 10 1.1 23 masyarakat dan akademisi 15 1.6 24 masyarakat dan lainnya 3 .3 25 NGO dan akademisi 2 .2 26 3 narasumber 71 7.5 27 lebih dari 3 narasumber 4 .4 Total 950 100.0 Dalam kondisi tersebut, jurnalisme warga dianggap mempunyai kesempatan untuk mengimbangi wacana yang selama ini dibentuk oleh media mainstream. Setidaknya ada dua strategi untuk mengatasi kedua kecenderungan media mainstream diatas. Pertama, untuk mengimbangi minimnya isu elitis yang diangkat, Jurnalisme warga berusaha untuk mengangkat isu-isu lokal. Kedua, untuk mengimbangi narasumber yang cenderung diambil dari kalangan elit, jurnalisme warga memilih ‘orang biasa’ sebagai sumber beritanya. Bahkan, jika diperlukan, jurnalis sendiri yang kemudian menggunakan pengetahuannya sebagai sumber berita. Hal ini senada dengan kecenderungan bahwa pengalaman lapangan menjadi metode utama dalam pencarian berita. Hal ini terlihat jelas pada pemberitaan di portal Desa. Seperti telah disinggung sebelumnya, para Jurnalis Warga memilih observasi sebagai metode utama dalam penulisan berita. Artinya, sudut pandang jurnalis menjadi dominan dalam pemberitaan Portal Desa. Kecenderungan ini dipertegas dengan hasil pemetaan mengenai narasumber yang dipilih oleh para jurnalis warga di desa-desa yang terlibat dalam GDM. Dalam pemetaan narasumber, penulis membedakannya menjadi enam elemen yaitu (1) penulis, (2) pemerintah supra desa, (3) lembaga desa, (4) masyarakat, (5) NGO, dan (6) Akademisi. Dari hasil olah data dapat dilihat bahwa yang paling dominan adalah penulis, lembaga desa, dan masyarakat. Penulis dalam konteks ini maksudnya adalah dominasi metode observasi sebagai rujukan. Pengamatan langsung dari penulis menjadi sumber utama dalam berita. Lembaga desa adalah berbagai stakeholder yang ada di tingkat desa. Elemen ini dibedakan dengan lembaga supradesa yang berasal dari level birokrasi di atas desa. Sedangkan masyarakat adalah seseorang atau sekelompok orang yang dijadikan narasumber atas nama pribadi, bukan karena jabatannya dalam lembaga desa. Hal ini menunjukkan kuatnya ‘ordinary people’ atau setidaknya lembaga lokal desa dalam pemberitaan di Portal Desa.
  29. 29. 29 Kecenderungan ini dipertegas dengan hasil pemetaan mengenai sudut pandang berita. Sudut pandang berita disini merujuk pada interpretasi peneliti terkait dengan kecenderungan sudut pandang penulisan. Sudut pandang merupakan pilihan penulis untuk melihat suatu peristiwa atau ide sebagai apa, apakah (1) Lembaga desa, yaitu menjadi bagian dari lembaga tersebut, (2) Pemerintah supradesa, yaitu menjadi bagian dari lembaga diatas desa, atau (3) Masyarakat, yaitu jika penulis memposisikan dirinya sebagai orang biasa/warga masyarakat. Tabel 6 Kecenderungan Sudut Pandang Berita No Sudut Pandang Berita Frekuensi % 1 Lembaga Desa 342 36.0 2 Pemerintah Supradesa 25 2.6 3 Masyarakat 535 56.3 4 lainnya 48 5.1 Total 950 100.0 Dari hasil olah data dapat dilihat bahwa lebih dari separuh tulisan dalam portal Desa merupakan ditulis dari perspektif masyarakat. Hanya 2.6 % yang ditulis dari sudut pandang pemerintah supradesa. Diperingkat kedua adalah ditulis dari sudut pandang lembaga desa. Data ini menunjukkan kuatnya perspektif lokal dalam berita-berita tersebut. 7. Komunitas Desa sebagai Objek Berita Untuk menegaskan kecenderungan produk jurnalisme warga yang ‘membela’ suara ‘orang biasa’, peneliti juga memetakan mengenai representasi dalam berita. Representasi merupakan penghadiran berbagai komponen di dalam suatu berita. Dalam konteks ini penulis membedakannya menjadi tiga elemen, yaitu (1) lembaga desa, (2) pemerintah supradesa, dan (3) masyarakat. Berikut hasil pemetaannya. Dari data dibawah ini terlihat bahwa elemen masyarakat menjadi tokoh utama dalam berita-berita Portal Desa. Setelah itu yang menjadi favorit adalah Lembaga Desa. Terlihat sangat kuat bahwa Komunitas desa, baik pemerintah lokalnya maupun masyarakat mendapat ruang yang sangat signifikan. Sedangkan elemen di luar desa mendapat porsi yang sangat minim. Hal ini menunjukkan kuatnya representasi elemen
  30. 30. 30 lokal dalam produk jurnalisme warga (desa). Kecenderungan ini mempertegas poin-poin sebelumnya, dimana portal desa berusaha untuk mengunggah dan lebih menyuarakan perspektif lokal dibandingkan hanya mengutip dan menyuarakan kembali perspektif elemen supradesa. Tabel 7 Representasi dalam Berita No Representasi Frekuensi % 1 Lembaga Desa 50 5.3 2 Pemerintah Supradesa 17 1.8 3 Masyarakat 242 25.5 4 Lainnya 17 1.8 5 Lembaga Desa dan Pemerintah Supradesa 117 12.3 6 Lembaga Desa dan Masyarakat 280 29.5 7 Lembaga desa dan lainnya 26 2.7 8 Pemerintah Supradesa dan masyarakat 49 5.2 9 Pemerintah Supradesa dan lainnya 5 .5 10 Masyarakat dan lainnya 27 2.8 11 Lembaga desa, pemerintah supradesa, dan masyarakat 120 12.6 Total 950 100.0 8. Mendahulukan Informasi dibandingkan dengan Advokasi Poin menarik yang menjadi temuan dalam penelitian ini adalah mengenai konten advokasi dalam portal desa. Merujuk pada konsep Jurnalisme Alternatif yang menjadi ‘roh’ dalam Jurnalisme warga yang dipraktikan oleh para pegiat Gerakan Desa Membangun, keberadaan informasi yang diproduksi bertujuan untuk memberdayakan masyarakat. Hal ini merujuk pada semangat untuk melakukan suatu perubahan sosial yang dilakukan secara sistematis dan berlandaskan pada kesadaran masyarakat dalam komunitas tersebut. Konsekuensi dari ‘jiwa’ jurnalisme alternatif ini berdampak pada tujuan dari konten informasi. Jika merujuk pada konsep ini, informasi yang diproduksi oleh para jurnalis warga selayaknya mengadung unsur advokasi. Pemilihan model
  31. 31. 31 tulisan advokatif memberikan kekuatan bagi para pegiat untuk mampu mendorong dan mempengaruhi suatu kebijakan yang menyangkut tentang diri mereka. Berdasarkan pada konsep tersebut, peneliti mencoba untuk memetakan kecenderungan tujuan berita yang ada dalam enam portal desa tersebut. Tujuan Berita merupakan arah berita yang dapat dilihat pada isu yang diangkat maupun kalimat penutup. Penulis membedakannya menjadi dua macam tujuan. Pertama, Informasi, jika isu yang diangkat bukanlah isu sensitif yang terkait dengan hak dan kewajiban suatu entitas. Selain itu, tidak ada closing statement yang berisi himbauan atau ajakan untuk mengubah keadaan, terutama terkait dengan kebijakan. Kedua, Advokasi, jika isu yang diangkat adalah isu sensitif yang terkait dengan hak dan kewajiban suatu entitas. Selain itu, tersirat upaya untuk mempengaruhi kebijakan dalam bidang tersebut. Semakin kuat jika ada closing statement yang mengajak untuk mengubah keadaan. Figur 7 Tujuan Berita Dari hasil olah data yang dilakukan, ditemukan bahwa sebagian besar berita dalam portal-portal desa tersebut bersifat informatif saja. Artinya, konten di dalamnya cenderung memaparkan atau mendeskripsikan peristiwa atau ide, tanpa ada arah advokasi yang jelas. Kondisi ini bertolak belakang dari yang peneliti asumsikan mengenai produk jurnalisme warga. Apalagi target dari gerakan Desa Membangun sendiri adalah untuk mempengaruhi kebijakan yang menyangkut tentang desa. Pertanyaan ini kemudian peneliti konfirmasi dengan para pegiatnya. Advokasi 11.05% Informasi 88.95% Tujuan Berita
  32. 32. 32 Sebelum menggali argumen dari para pegiat, setidaknya ada dua asumsi yang ada di benak peneliti terkait dengan kondisi diatas. Pertama, ada ketakutan desa untuk bersuara lantang. Sehingga, dalam menuliskan atau mengangkat suatu isu cenderung memilih jalan ‘aman’. Kemungkinan kedua, ada pengaruh nilai etika media mainstream yang mengagungkan nilai objektivitas. Untuk mengimbangi hal tersebut, jurnalis warga mencoba untuk menjaga agar berita yang dihasilkan dapat objektif, minimal mendekati objektif. Dua kemungkinan diatas peneliti konfirmasi dengan para jurnalis warga. Berdasarkan hasil wawancara, dua kemungkinan tersebut terjadi dalam proses penulisan berita. Disatu sisi, tidak dapat dipungkiri bahwa memang masih ada ketakutan untuk bersuara ekstrim atau menulis dalam gaya yang mereka anggap provokatif. Hal ini menghindari ketersinggungan pihak lain yang akan menyulitkan desa ke depannya. Kedua, masih terjadi kebimbangan dalam hati para jurnalis warga terkait dengan etika jurnalistik. Dalam beberapa waktu terakhir mereka banyak berelasi dengan para wartawan profesional. Para wartawan tersebut menuntut para jurnalis warga untuk tetap mematuhi kode etik atau setidaknya beriktikad baik untuk mematuhinya. Pengaruh ini kemudian membuat para jurnalis warga mencoba untuk tetap menjaga objektivitasnya. Alhasil tulisan yang dihasilkan hanya sekedar menginformasikan dan minim unsur advokasi. E. SIMPULAN Dari serangkaian penelitian yang dilakukan, peneliti mendapatkan berbagai kecenderungan menarik. Pertama, meskipun secara akumulatif jumlah konten berita cukup signifikan, konsistensinya belum cukup baik. Kedua, konten berita lebih banyak berbicara potensi desa dibandingkan dengan masalah. Artinya, ada optimisme yang ingin dihadirkan melalui media warga ini. Ketiga, isu good governance mendominasi wacana dalam Portal Desa. Isu ini mendapat porsi yang cukup signifikan karena dianggap menjadi modal utama untuk mencapai kemandirian. Keempat, Aspek sosial lebih banyak disentuh dibandingkan dengan aspek budaya, ekonomi, apalagi politik. Hal ini didorong oleh semangat independensi Desa dari berbagai kepentingan. Kelima, Pengalaman lapangan menjadi sumber berita utama bagi para jurnalis. Artinya eyewitness report sangat kuat dalam praktik Jurnalisme Warga. Keenam,
  33. 33. 33 konten berita dalam Portal Desa menghadirkan sudut pandang ‘ordinary people’ yang membedakan dengan media mainstream. Ketujuh, masyarakat desa mendapat tempat yang dominan dan cenderung menghindari representasi elemen supradesa. Hal ini menunjukkan kuatnya Desa sebagai komunitas yang ingin eksis. Kedelapan, meskipun memilih jalur jurnalisme alternatif, bukan berarti kontennya bersifat provokatif. Para Jurnalis warga dalam gerakan ini mencoba untuk tetap bersikap objektif tanpa kemudian mengabaikan fungsi advokasinya. Kecenderungan tersebut menjadi satu bentuk empirik keberadaan jurnalisme warga di Indonesia. Lebih spesifik adalah di wilayah pedesaan. Realitas ini juga menjadi jawaban keingintahuan ketika desa mengenal media baru. Keberadaan media baru secara nyata menggeser otoritas tunggal media mainstream sebagai produsen informasi. Setiap orang, setiap elemen, setiap lapisan mempunyai kemampuan yang sama untuk memproduksi informasi. Disamping itu, media mainstream juga tidak lagi bisa menjadi aktor tunggal untuk menentukan wacana yang berkembang. Desa yang notabene selama ini dalam jagad informasi diabaikan, menunjukkan eksistensinya. Bahwa mereka ada, mereka bersuara, dan mereka mampu. Jika dikembalikan pada perdebatan mengenai keberadaan jurnalisme warga, kiranya kita perlu mengembalikan pada hakikat dari jurnalisme itu sendiri. Melihat realitas dalam Gerakan Desa Membangun, penulis lebih mantap menganggap bahwa bagaimanapun cara untuk melakukan jurnalisme, jika itu mampu memperbaiki kualitas informasi dan wacana yang berkembang dalam masyarakat, itu tetaplah jurnalisme. Apakah dilakukan oleh seorang profesional ataukah warga yang dianggap amatir, jika mampu memberikan kontribusi dalam membangun wacana yang sehat maka mereka layak disebut jurnalis. Dan apakah mereka memahami kode etik maupun nilai-nilai jurnalisme lainnya atau tidak, jika pemahaman terhadap ruang publik yang demokratis melekat dalam setiap praktik pelaporannya, laporan mereka tetap layak disebut dengan berita.
  34. 34. 34 F. DAFTAR PUSTAKA Buku Allan, Stuart (ed). 2010. The Routledge Companion to News and Journalism. New York: Routledge. Fenton, Natalie (ed). 2010. New Media, Old News: Journalism & Democracy in the Digital Age. Los Angeles: Sage. Gunter, Barrie. 2003. News and The Net. London: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. Howley, Kevin (Ed). (2010). Understanding Community Media. New York: Sage Publications. Melkote, Srinivas R., Steeves, H. Leslie. (2001). Communication for Development in the Third World: Theory and Practice for Empowernment. New Delhi: Sage Publications. Pavlik, John V. (2001). Journalism and New Media. New York: Columbia University Press. Rogers, Everett N. (1986). Communication Technology: The New media in Society. New York: The Free Press. Suparjan dan Suyatno, Hempri. (2003). Pengembangan Masyarakat: dari Pembangunan sampai Pemberdayaan. Yogyakarta: Aditya Media. Van Dijk, Jan. (2006). The Network Society. 2nd edition. London: Sage Publications. Jurnal Chia, Jeremy; Smith, Tracy; Tam, Eric. Distorted Boundaries: An Inquiry Into the Effect of Internet Use On Social Skills. Diunduh dari http://socserv2.mcmaster.ca/soc/courses/stpp4C03/ClassEssay/socialskills.htm. Pada tanggal 24 Desember 2012 pukul 15.40 WIB. Bentley, Clyde H., Ph.D. 2008. Citizen Journalism: Back to the Future? http://citizenjournalism.missouri.edu/researchpapers/bentley_cj_carnegie.pdf Diunduh tanggal 3 Juli 2011. Bowman, Shayne and Willis, Chris. 2003. We Media: How audiences are shaping the future of news and information. http://www.hypergene.net/wemedia/download/we_media.pdf. Diunduh tanggal 3 Juli 2011.
  35. 35. 35 Bruns, Axel. News Produsage in a Pro-Am Mediasphere: Why Citizen Journalism Matters. http://snurb.info/files/2010/News%20Produsage%20in%20a%20Pro- Am%20Mediasphere.pdf. Diunduh tanggal 3 Juli 2011. Jack, Martha. The Social Evolution of Citizen Journalism. http://cjms.fims.uwo.ca/issues/06-01/jack.pdf. Diunduh tanggal 3 Juli 2011. James, Barry. New Media The Press Freedom Dimension Challenges and Opportunities of New Media for Press Freedom. 2007. http://unesco.org.pk/ci/documents/publications/New%20Media.pdf. Diunduh tanggal 3 Juli 2011. Livingstone, Sonia. 1999. New Media New Audiences?. http://www.sagepub.co.uk/journal.aspx?pid=105720. Diunduh tanggal 1 Juli 2011. Merrin, William. 2009. Media Studies 2.0 : Upgrading and Open-sourcing the discipline. http://www.atypon-link.com/INT/doi/abs/10.1386/iscc.1.1.17_1. Diunduh tanggal 1 Juli 2011. Napoli, Philip M.. 2008. Revisiting Mass Communication and The Work of The Audience in The New Media Environment. http://www.fordham.edu/images/undergraduate/communications/revisiting%20 mass%20communication.pdf. Diunduh tanggal 1 Juli 2011. Napoli, Philip M.. 2008. Toward A Model of Audience Evolution : New Technologies and The Transformation of Media Audiences. http://www.fordham.edu/images/undergraduate/communications/audience%20e volution.pdf. Diunduh tanggal 1 Juli 2011. Pavlenko, Tatjana. Interactive Media and Knowledge Environment. http://tpke.files.wordpress.com/2011/01/tatjana-pavlenko-initial-literature- review.pdf. Diunduh tanggal 1 Juli 2011.

×