Pendidikan untuk semua

8,210 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
8,210
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
496
Actions
Shares
0
Downloads
211
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pendidikan untuk semua

  1. 1. MAKALAH "PENDIDIKAN UNTUK SEMUA DAN PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT" Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Pendidikan OLEH: KELOMPOK 2 / KM UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI Oktober 2011
  2. 2. Dalam era globalisasi saat ini, pendidikan memang harus mendapatkan prioritas. Pendidikan sangatlah penting untuk masa depan anak bangsa. Dengan adanya perhatian yang serius pada pendidikan, tentu saja sebuah bangsa akan naik derajatnya. Hal itu karena pembangunan suatu bangsa akan ditentukan oleh pendidikan. Tunas-tunas bangsalah yang akan membangun sebuah negeri. Dampak pendidikan yang matang tentu saja membawa hasil kemajuan seperti yang disebutkan di atas. Pemerintah dalam hal ini tentu saja harus benar-benar memperhatikan secara serius persoalan pendidikan. Bangsa yang maju, tidak terlepas dari kemajuan pendidikannya. Sistem pendidikan yang masih amburadul patut dibenahi oleh semua pihak yang berwenang tentu saja. Pendidikan untuk kemajuan, itulah yang harus dicanangkan. Pendidikan untuk kemajuan dalam hal ini tentu saja bukan untuk golongan atau etnis tertentu, tetapi pendidikan untuk kemajuan bersama, yaitu kemajuan bangsa dan kemajuan pendidikan itu sendiri. Pendidikan tak cukup diemban dalam waktu singkat, artinya dalam pendidikan memerlukan proses, tentu saja proses yang panjang. Proses yang panjang dalam hal ini bukan berarti sepanjang-panjangnya. Namun, pendidikan disini memerlukan suatu proses kesabaran, kesadaran. Dalam artian kesabaran, pendidikan yang memerlukan waktu, hasilnya dapat dirasakan setelah beberapa tahun. Pendidikan dilaksanakan dengan penuh kesadaran, yaitu bahwa pendidikan haruslah mendapat ruang kesadaran dari peserta pendidikan itu sendiri. Dalam hal ini, artinya kesadaran yang tinggi untuk mengenyam pendidikan tentu harus ditanamkan. Karena hal itu akan menjadi motivasi yang tinggi secara sadar untuk meningkatkan kualitas kehidupan peserta didik itu sendiri, selain untuk kemajuan bangsa. Karena selama kita hidup, tentu saja dituntut agar terus belajar. A. Pendidikan Untuk Semua Pendidikan Untuk Semua : CIVIL SOCIETY OGANIZATIONS initiative EDUCATION for ALL (CSOiEFA) adalah konsorsium organisasi sipil yang peduli akan pentingnya pendidikan untuk semua, terutama untuk perempuan dan anak-anak perempuan. Lebih dari 40 tahun yang lalu, bangsa-bangsa di dunia, berbicara melalui Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, menegaskan bahwa: "Setiap orang memiliki hak untuk pendidikan". Meskipun negara-negara di
  3. 3. seluruh dunia mengupayakan untuk menjamin hak pendidikan untuk semua, tetapi masih saja ditemukan kendala. Pada saat yang sama, dunia menghadapi masalah yang menakutkan seperti, beban utang, ancaman stagnasi dan kemunduran ekonomi, pertumbuhan penduduk yang cepat, pelebaran kesenjangan ekonomi antar bangsa, perang, pendudukan, perang saudara, kejahatan, kekerasan, kematian yang dapat dicegah jutaan anak-anak dan meluas ke kerusakan lingkungan. Masalah ini menghambat upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan belajar dasar. Masalah-masalah ini telah menyebabkan kemunduran besar dalam pendidikan dasar pada 1980-an di banyak negara sedang berkembang. Di beberapa negara lain, pertumbuhan ekonomi telah tersedia untuk membiayai perluasan pendidikan, namun meskipun demikian, banyak jutaan tetap dalam kemiskinan, tidak mampu bersekolah atau buta huruf. Di negara-negara industri tertentu juga, penghematan dalam pengeluaran pemerintah selama tahun 1980-an telah menyebabkan kemerosotan pendidikan. Akhirnya pada tanggal 5-9 Maret 1990 di Jomtien, Thailand, 115 negara dan 150 oragnisasi saling bertemu dan mengadakan Konferensi Dunia membahas Education for All (EFA) atau Pendidikan Untuk Semua (PUS). Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut, perlu koalisi yang luas dari pemerintah nasional, masyarakat sipil kelompok, dan lembaga pembangunan seperti UNESCO dan Bank Dunia. Mereka berkomitmen untuk mencapai enam tujuan pendidikan yaitu: 1. Memperluas dan meningkatkan perawatan anak usia dini yang komprehensif dan pendidikan, terutama bagi yang paling rentan dan anak-anak yang kurang beruntung. 2. Memastikan bahwa pada 2015 semua anak, khususnya anak perempuan, yang dalam keadaan sulit, dan mereka yang termasuk etnik minoritas, memiliki akses lengkap dan bebas ke wajib pendidikan dasar yang berkualitas baik. 3. Memastikan bahwa kebutuhan belajar semua pemuda dan dewasa dipenuhi melalui akses yang adil untuk pembelajaran yang tepat dan program ketrampilan hidup.
  4. 4. 4. Mencapai 50% peningkatan dalam keaksaraan orang dewasa pada tahun 2015, khususnya bagi perempuan, dan akses ke pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa secara adil. 5. Menghilangkan perbedaan gender pada pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005, dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan dengan tahun 2015, dengan fokus pada perempuan bahwa mereka dipastikan mendapat akses penuh dan sama ke dalam pendidikan dasar dengan kualitas yang baik. 6. Meningkatkan semua aspek kualitas pendidikan dan menjamin keunggulan semua sehingga diakui dan diukur hasil pembelajaran yang dicapai oleh semua, khususnya dalam keaksaraan, berhitung dan kecakapan hidup yang esensial. Setelah satu dekade, karena lambatnya kemajuan dan banyaknya negara yang jauh dari keharusan untuk mencapai tujuan tersebut, masyarakat internasional menegaskan kembali komitmennya terhadap Pendidikan Untuk Semua di Dakar, Senegal, pada 26-28 April 2000 dan sekali lagi pada bulan September tahun itu. Pada pertemuan terakhir, 189 negara dan mitra mereka mengadopsi dua dari delapan tujuan Pendidikan Untuk Semua yang dikenal dengan nama Millenium Development Goals (MDG) yaitu MDG 2 mengenai pendidikan dasar dan universal serta MDG 3 mengenai kesetaraan jender dalam pendidikan pada tahun 2015. Dalam konferensi tersebut mereka berjanji untuk mencapai "Pendidikan untuk Semua" pada 2015. Dan untuk memenuhi tujuan tersebut perlu usaha antara lain: Menyediakan $11 miliar per tahun untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menyekolahkan 72 juta anak. Meningkatkan kualitas pendidikan dengan pelatihan dan merekrut 18 juta guru antara sekarang dan 2015, sehingga semua anak memiliki kesempatan untuk belajar di kelas yang lebih kecil (di bawah 40 anak per guru). Mendorong pemerintah untuk mendefinisikan dan mengukur standar minimal pembelajaran, sebagai tonggak utama terhadap peningkatan hasil pembelajaran dan strategi yang lebih luas untuk menjamin kualitas
  5. 5. pendidikan di sekolah-sekolah, sehingga peserta didik terus mengembangkan keahlian yang dibutuhkan untuk pekerjaan dan kontribusi untuk ekonomi produktif. Menjangkau semua anak dengan mengembangkan strategi-strategi baru untuk mencapai sulit dijangkau anak-anak dalam konflik, di daerah terpencil, dan dari kelompok-kelompok didiskriminasi. Memperluas kesempatan pendidikan pada semua tingkatan, termasuk investasi dalam perawatan anak usia dini dan pengembangan, pendidikan menengah dan penyediaan kesempatan kedua belajar bagi mereka melalui pendidikan non-formal dan program keaksaraan orang dewasa (gabungan pendanaan eksternal membutuhkan $ 5 Milyar per tahun). Menjamin bahwa anak-anak memiliki cukup untuk makan untuk belajar dan mengembangkan kesehatan melalui penyediaan makanan sekolah atau program transfer tunai kepada keluarga. Mendorong pemerintah nasional untuk mempersembahkan paling sedikit 20% dari anggaran nasional untuk pendidikan dan untuk menghapuskan biaya yang mencegah begitu banyak anak-anak pergi ke sekolah. Menganjurkan bahwa pemerintah memiliki strategi untuk menjangkau anak-anak yang paling terpinggirkan, dan bahwa mereka menghadapi diskriminasi terhadap minoritas dan kelompok-kelompok dikecualikan lainnya. Selain konferensi tersebut, ada kegiatan penunjang yang mendukung Pendidikan Untuk Semua. Kegiatan tersebut antara lain: 1. Global Coordination (Koordinasi Global) Pada tingkat global, regional dan tingkat nasional, UNESCO memperdalam kemitraan dan aliansi, membangun konsensus dan menyelaraskan mitra kontribusi dan partisipasi. Mitra PUS dalam upaya terkoordinasi ini termasuk pemerintah, organisasi internasional, donor bilateral dan multilateral, masyarakat sipil dan sektor swasta. 2. The High-Level Group (Perkumpulan Tingkat Tinggi ) Diselenggarakan setiap tahun oleh Direktur Jenderal UNESCO, dengan diikuti oleh sekitar tiga puluh Menteri Pendidikan dan Kerjasama Internasional,
  6. 6. kepala badan-badan pembangunan dan perwakilan dari masyarakat sipil maupun sektor swasta. Perannya adalah untuk mempertahankan dan mempercepat momentum politik yang diciptakan pada Forum Pendidikan Dunia dan berfungsi sebagai tuas untuk mobilisasi sumberdaya. 3. The Working Group on Education for All (Kelompok Kerja PUS) Kelompok Kerja Pendidikan Untuk Semua memberikan bimbingan teknis dan mempromosikan pertukaran informasi antara semua mitra dalam Pendidikan Untuk Semua. Kelompok ini terdiri dari wakil-wakil dari semua pemangku kepentingan kunci PUS. 4. The Global Action Plan (Rencana Aksi Global) Rencana Aksi Global adalah strategi global yang dikembangkan untuk memperbaiki koordinasi tingkat negara yang menuju Pendidikan Untuk Semua. Rencana ini bertujuan untuk menjelaskan peran dari lima lembaga internasional menjadi ujung tombak gerakan EFA global (UNDP, UNESCO, UNFPA, UNICEF dan Bank Dunia) dan memastikan mereka terkoordinasi pada aksi bersama di tingkat global. Pada akhirnya, hal itu bertujuan untuk mencapai lebih baik dan lebih bertarget di lapangan maupun di tingkat negara. 5. The EFA Global Monitoring Report (Laporan Pengawasan Global PUS) Laporan Pengawasan Global tahunan adalah laporan mengenai kemajuan negara-negara dan lembaga membuat arah tujuan PUS dengan cara menyediakan data terbaru yang tersedia bersama dengan analisis mendalam. Laporan ini mencakup Indeks Pembangunan PUS yang mengukur sejauh mana pertemuan negara-negara tujuan PUS khususnya di pendidikan dasar, keaksaraan dewasa, paritas gender dan kualitas. 6. EFA Global Action Week (Minggu Aksi Global PUS) Sebuah kampanye advokasi di seluruh dunia yang diselenggarakan setiap tahun pada akhir April untuk merayakan ulang tahun Forum Pendidikan Dunia yang diselenggarakan pada tahun 2000 di Dakar. Ini bertujuan untuk memobilisasi pemerintah dan masyarakat internasional untuk memenuhi janji mereka untuk mencapai Pendidikan Untuk Semua pada tahun 2015.
  7. 7. Pendidikan Untuk Semua di Indonesia Indonesia telah mengalami kemajuan di bidang pendidikan dasar dalam 20 tahun terakhir ini. Terbukti rasio bersih anak usia 7-12 tahun yang bersekolah mencapai 94 persen. Tapi Indonesia tetap belum berhasil memberikan jaminan hak atas pendidikan bagi semua anak. Apalagi, masih banyak masalah yang harus dihadapi, masalah tersebut antara lain: - Anak yang putus sekolah diperkirakan masih ada dua juta anak. - Kualifikasi guru yang masih kurang. - Metode pengajaran yang tidak efektif. Yaitu masih berorientasi kepada guru dan anak didik tidak diberi kesempatan memahami sendiri. - Manajemen sekolah yang buruk - Kurangnya keterlibatan masyarakat. - Kurangnya akses pengembangan dan pembelajaran usia dini bagi sebagian besar anak usia 3 sampai 6 tahun terutama anak-anak yang tinggal di pedalaman dan pedesaan. - Alokasi anggaran dari pemerintah daerah dan pusat yang tidak memadai. - Biaya pendidikan yang tinggi. Untuk mencapai tujuan Pendidikan Untuk Semua, pemerintah Indonesia dibantu oleh UNICEF dan UNESCO melakukan kegiatan-kegiatan antara lain: 1. Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Masyarakat UNICEF mendukung langkah-langkah pemerintah Indonesia untuk meningkatkan akses pendidikan dasar melalui Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Masyarakat. Sistem ini memungkinkan penelusuran semua anak usia di bawah 18 tahun yang tidak bersekolah. 2. Program Wajib Belajar 9 tahun Dalam upayanya mencapai tujuan “Pendidikan untuk Semua” pada 2015, pemerintah Indonesia saat ini menekankan pelaksanaan program wajib belajar sembilan tahun bagi seluruh anak Indonesia usia 6 sampai 15 tahun. Dalam hal ini, UNICEF dan UNESCO memberi dukungan teknis dan dana. 3. Program Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidikan Anak (CLCC). Bersama dengan pemerintah daerah, masyarakat dan anak-anak di delapan propinsi di Indonesia, UNICEF mendukung program Menciptakan Masyarakat
  8. 8. Peduli Pendidikan Anak (CLCC). Proyek ini berkembang pesat dari 1.326 sekolah pada 2004 menjadi 1.496 pada 2005. Kondisi ini membantu 45.454 guru dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih menantang bagi sekitar 275.078 siswa. B. Pendidikan Sepanjang Hayat Pendidikan sepanjang hayat mulai aktual saat topik itu dilontarkan oleh UNESCO sebagai pandangan tentang pendidikan yang mengantisipasi perubahan- perubahan yang ada di masyarakat seluruh dunia dan negara berkembang, UNESCO dan lembaga internasional lainnya mulai melihat problem-problem ketertinggalan, kemiskinan hanya dapat diatasi dengan pendidikan dalam format yang menyesuaikan kebutuhan dan dikenakan pada berbagai kelompok umur termasuk orang dewasa. UNESCO Institute for Education (UIE Hamburg) menetapkan suatu definisi kerja yakni pendidikan seumur hidup adalah pendidikan yang harus: 1)Meliputi seluruh hidup setiap individu 2)Mengarah kepada pembentukan, pembaharuan, peningkatan, dan penyempurnaan secara sistematis pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang dapat meningkatkan kondisi hidupnya. 3)Tujuan akhirnya adalah mengembangkan penyadaran diri (self fulfilment) setiap individu. 4)Meningkatkan kemampuan dan motivasi untuk belajar mandiri. 5)Mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkin terjadi, termasuk yang formal, non-formal dan informal. Dalam latar pendidikan seumur hidup, proses belajar-mengajar di sekolah seyogyanya mengemban sekurang-kurangnya dua misi, yakni membelajarkan peserta didik dengan efisien dan efektif, dan serantak dengan itu, meningkatkan kemauan dan kemampuan belajar mandiri sebagai basis dari belajar sepanjang hayat. Kurikulum yang dapat mendukung terwujudnya belajar sepanjang hayat harus dirancang dan diimplementasi dengan memperhatikan dua dimensi (Hameyer, 1979:67-81; Sulo Lipu La Sulo, 1990:28-30) sebagai berikut:
  9. 9. a. Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah yang meliputi: Di samping keterkaitan dan kesinambungan antartingkatan persekolahan, harus pula terkait dengan kehidupan peserta didik di masa depan. Termasuk dalam dimensi vertikal itu antara lain pengkajian tentang: 1) Keterkaitan antara kurikulum dengan masa depan peserta didik , termasuk relevansi bahan ajaran dengan masa depan dan pengintegrasian masalah kehidupan nyata ke dalam kurikulum. 2) Kurikulum dan perubahan sosial-kebudayaan: kurikulum seyogyanya memungkinkan antisipasi terhadap perubahan sosial-kebudayaan itu karena peserta didik justru akan hidup dalam sosial-kebudayaan yang telah berubah setelah menamatkan sekolahnya. 3) “The forecasting curriculum” yakni perangcangan kurikulum berdasarka suatu prognosi, baik tentang perilaku peserta didik pada saat menamatkan sekolahnya, pada saat hidup ia dalam sistem yang sedang berlaku, maupun pada saat ia hidup dalam sistem yang telah berubah di masa depan. 4) Keterpaduan bahan ajaran dan pengorganisasian pengetahuan, terutama dalam kaitannya dengan struktur pengetahuan yang sedang dipelajari dengan penguasaan kerangka dasar untuk memperoleh keterpaduan ide bidang studi itu. 5) Penyiapan untuk memikul tanggung jawab, baik tentang dirinya sendiri maupun dalam bidang sosial/pekerjaan, agar kelak dapat membangun dirinya sendiri dan bersama-sama membangun masyarakatnya. 6) Pengintegrasian dengan pengalaman yang telah dimiliki peserta didik, yakni pengalaman di keluarga untuk pendidikan dasar, dan demikian seterusnya. 7) Untuk mempertahankan motivasi belajar secara permanen, peserta didik harus dapat melihat kemanfaatan yang akan didapatnya dengan tetap mengikuti pendidikan itu, seperti kesempatan yang terbuka baginya, mobilitas pekerjaan, pengembangan kepribadian, dan sebagainya.
  10. 10. b. Dimensi horizontal dari kurikulum sekolah yakni keterkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah. Termasuk dalam dimensi horizontal antara lain: 1) Kurikulum sekolah merefleksi kehidupan di luar sekolah; kehidupan di luar sekolah menjadi obyek refleksi teoritis di dalam bahan ajaran di sekolah, sehingga peserta didik lebih memahami persoalan-persoalan pokok yang terdapat di luar sekolah. 2) Memperluas kegiatan belajar ke luar sekolah: kehidupan di luar sekolah dijadikan tempat kajian empiris, sehingga kegiatan belajar-mengajar terjadi di dalam dan di luar sekolah. 3) Melibatkan orang tua dan masyarakat dalam kegiatan belajar-mengajar, baik sebagai narasumber dalam kegiatan belajar di sekolah maupun dalam kegiatan belajar di luar sekolah. Saat negara-negara berkembang mulai menerapkan pendidikan dasar (basic education) yang perwujudannya adalah wajib belajar, maka mulai terasa bahwa untuk kelompok masyarakat yang kurang beruntung perlu dibantu dengan format pendidikan sepanjang hayat. Arti luas pendidikan sepanjang hayat (Lifelong Education) adalah bahwa pendidikan tidak berhenti hingga individu menjadi dewasa, tetapi tetap berlanjut sepanjang hidupnya. Pendidikan sepanjang hayat menjadi semakin tinggi urgensinya pada saat ini karena, manusia perlu terus menerus menyesuaikan diri supaya dapat tetap hidup secara wajar dalam lingkungan masyarakatnya yang selalu berubah. Di Indonesia perwujudan belajar sepanjang hayat telah dijamin dalam undang-undang. Hal tersebut tertuang pada pasal 4 UU No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal tersebut disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia, nilai keagamaan dan nilai kultural dan kemajemukan bangsa (ayat 1), pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna (ayat 2), pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat (pasal 3).
  11. 11. Sekolah Sebagai Pusat Belajar Sepanjang Hayat Untuk Semua Peran sekolah dalam mewujudkan belajar sepanjang hayat. Hal ini dilakukan melalui pengembangan kerja sama antara sekolah dengan lembaga keluarga, lembaga bisnis, lembaga lain dalam masyarakat dan masyarakat itu sendiri. Kaitannya belajar sepanjang hayat, wajib belajar harus ditujukan pada provisi berbasis pengetahuan, dan pengembangan meta skill untuk belajar. Oleh karena itu wajib belajar harus memberikan pengetahuan umum untuk pengembangan kemampuan kognitif, afektif dan perolehan keterampilan belajar yang diperlukan untuk belajar sepanjang hayat. Sementara itu lembaga keluarga dapat berfungsi sebagai dukungan dan stimulus untuk meningkatkan pemahaman makna dan nilai belajar sepanjang hayat. Sebagai contoh, mengembangkan harapan tinggi pada anak, impian masa depan, penghargaan terhadap kerja keras sebagai kunci keberhasilan, ketaatan pada aturan rumah tangga, menjalin komunikasi dengan sekolah. Selain itu sekolah dapat menumbuhkan kesempatan belajar sepanjang hayat melalui kerja sama dengan keluarga. Hal lain yang dipandang penting untuk dikembangkan adalah kerjasama dengan dunia bisnis. Kerjasama ini dapat dikembangkan pada tingkat pengambilan kebijakan, managemen sekolah, pelatihan para guru, pengiriman anak pada lembaga kerja, dan pembelajaran di kelas. Untuk lebih mengoptimalkan perwujudan belajar sepanjang hayat, disamping kerjasama seperti dikemukakan di atas, lembaga sekolah juga perlu membuka diri untuk menjalin kerjasama dengan berbagai potensi budaya masyarakat yang sangat beragam, dan lembaga-lembaga lain yang ada dimasyarakat untuk secara bersama-sama memberi kesempatan belajar bagi semua peserta didik dan masyarakat. Kontribusi SMP Terbuka terhadap belajar sepanjang hayat Di Indonesia SMP Terbuka merupakan bagian dari sistem pendidikan formal yang ditujukan bagi anak didik usia sekolah SMP yang oleh karena sesuatu hal tidak dapat menempuh pendidikannya. Penyelenggaraan program ini didasarkan pada satu premise bahwa untuk mencapai hasil yang sama pada peserta didik yang kondisi berbeda maka diperlukan perlakuan yang berbeda pula. SMP Terbuka ini memiliki beberapa keuntungan :
  12. 12. a. Mengatasi hambatan geografis b. Mengoptimalkan sumber belajar lokal c. Mengatasi kekurangan ruang kelas dan guru d. Inklusif e. Mengembangkan kemampuan belajar mandiri f. Mengembangkan konsep belajar sepanjang hayat Perkembangan belajar sepanjang hayat tidak terlepas dari perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, untuk memahami dinamika belajar sepanjang hayat harus diletakkan dalam konteks sosio-kultural-ekonomi-politik dan demogratif. Dilihat dari segi sosio-ekonomi, secara kasar negara anggota APEC dapat kita klasifikasi menjadi 3, yaitu negara maju (Amerika, Kanada, dan Australia), negara maju baru (Taiwan, Hongkong, Korea, Singapura, Malaysia, Cina, New Zealand), dan negara sedang berkembang (Indonesia, Philipina, Thailand). Terlepas dari perbedaan yang ada, negara-negara APEC memiliki visi, dan komitmen yang sama. Mereka berupaya untuk mewujudkan belajar sepanjang hayat. Hal ini dapat dilihat dari kebijakan yang ditempuh, walaupun dengan kondisi yang berbeda, semua negara berupaya untuk mewujudkan pendidikan yang demokratis, terbuka, untuk memenuhi kebutuhan belajar bagi siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Secara interpretatif, melihat bahwa kebijakan atau program belajar sepanjang hayat belum memadai mengingat tantangan ke depan yang semakin kompleks. Untuk mewujudkan belajar sepanjang hayat, secara spekulatif ada beberapa pemikiran yang harus diperhatikan diantaranya adalah : a. Pengakuan pengalaman belajar melalui proses akreditasi dan transfer. Sebagaimana bahwa hasil belajar tidak terbatasi oleh tempat dan waktu kegiatan belajar dilaksanakan. Di samping itu pengakuan terhadap pengalaman belajar akan dapat meningkatkan harga dan kepercayaan diri, meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses belajar. Cara ini nampaknya patut dipertimbangkan bahkan mungkin segera untuk ditindaklanjuti. b. Penyelenggaraan program belajar sepanjang hayat secara regional. Bahwa untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam pengembangan sumber daya manusianya, perusahaan multinasional sebaiknya melakukannya secara
  13. 13. regional. Walaupun ide dasarnya adalah untuk memberikan pelatihan tenaga kerja di sektor industri, hal ini dapat dikembangkan untuk pemenuhan kebutuhan belajar secara luas. Cara ini nampaknya perlu mendapat perhatian. Di samping aspek ekonomis, asebilitas, fleksibilitas, avaliabilitas adalah aspek lain yang patut dipertimbangkan. c. Pengembangan kerjasama sekolah-masyarakat dan keluarga. Perlunya sekolah menjadi pusat pengembangan. Walaupun dengan dimensi yang berbeda memandang perlu adanya keterpaduan antara lembaga sekolah, keluarga dan masyarakat. d. Penggunaan teknologi informasi dan multimedia. Seiring dengan kemajuan IPTEKS, berkembangnya kebutuhan dan motivasi belajar, dan keterjangkauan geografis, media ini dipandang sangat relevan. Media ini akan semakin membuka kesempatan dan askes belajar bagi semua lapisan masyarakat.

×