Kalimat dalam bahasa indonesia

51,824 views

Published on

3 Comments
6 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
51,824
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
613
Comments
3
Likes
6
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kalimat dalam bahasa indonesia

  1. 1. Oleh Isriani Hardini, M.A.
  2. 2.  Kalimat adalah satuan bahasa yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik. Kalimat ada yang terdiri atas satu kata, dua kata, tiga kata, empat kata, dan seterusnya. Contoh: Pergi! ; Itu toko, Ia mahasiswa; Ia sedang membaca.
  3. 3.  Unsur pembentuk kalimat tersebut dapat berupa kata, frasa, atau klausa. Kata adalah suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti, dan terdiri atas satu atau lebih morfem. Contoh: makan, tidur Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Contoh: kamar tidur, baju biru Klausa adalah satuan gramatik yang terdiri atas S (Subjek) P (Predikat) baik disertai O (Objek), PEL (Pelengkap), dan KET (Keterangan) atau tidak. Contoh: ia menebang pohon S P O
  4. 4.  Setiap unsur pembentuk kalimat dapat dibeda-bedakan berdasarkan kategori, fungsi, atau perannya dalam kalimat tersebut. Beberapa jenis kategori yang dapat menjadi unsur sebuah kalimat adalah nomina (kata benda), verba (kata kerja), adjektiva (kata sifat), pronomina (kata ganti), numeralia (kata bilangan), adverbial, dan kata tugas seperti preposisi (kata depan), konjungsi (kata penghubung), dan partikel seperti -kah, -lah, -tah, dan pun. Jika dilihat dari fungsinya, unsur-unsur kalimat terdiri atas subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Kalimat dikatakan sempurna jika minimal memiliki unsur subjek dan predikat. Peran semantik yang lazim terdapat dalam suatu kalimat adalah pengalam atau penanggap (experiencer), pelaku (agent), pokok, ciri, sasaran, hasil, peruntung atau pemaslahat (beneficiary), ukuran (measure), alat (instrument), tempat (place), sumber (source), jangkauan (range), penyerta, waktu, dan asal.
  5. 5. Berdasarkan unsur pembentuknya, kalimat terdiri atas sebagai berikut.1. Kalimat Berklausa: Kalimat yang terdiri atas satuan yang berupa klausa. Maksudnya, dalam kalimat ini terdiri atas S, P, disertai O, Pel, dan K atau tidak. Misalnya: Lembaga itu menerbitkan majalah sastra. S P O2. Kalimat Tidak Berklausa: Kalimat yang tidak terdiri atas klausa. Misalnya: Astaga! Selamat malam!
  6. 6.  Menurut bentuk, kalimat terdiri atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk.A. KALIMAT TUNGGAL Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa. Pola kalimatnya dibentuk oleh subjek dan predikat. Ada pula yang lebih lengkap lagi, yakni terdiri atas subjek, predikat, objek, dan atau pelengkap. Di samping itu, tidak mustahil terdapat pula unsur yang bukan inti, yaitu keterangan. Contoh: Andi sedang belajar di kelas. S P K Negara Indonesia berdasarkan Pancasila. S P Pel
  7. 7.  Berdasarkan bentuk predikatnya, pola dasar kalimat tunggal dapat dibedakan menjadi lima bagian.1. Kalimat Berpredikat Nomina Kalimat berpredikat nomina adalah kalimat yang predikatnya terdiri atas nomina (termasuk pronominal) atau frasa nominal. Kalimat ini disebut juga kalimat ekuatif. Contoh: - Laki-laki itu pencurinya. S P Pola kalimatnya: Subjek (Frase Nominal)+Predikat (Nomina)
  8. 8. 2. Kalimat Berpredikat Verba Kalimat berpredikat verba adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja (verba) atau frasa verbal. Contoh: a. Mira menulis surat kepada kakaknya. S P O K Pola kalimatnya: Subjek (Nomina)+Predikat(Verba)+Objek(Frase Nominal) Kalimat berpredikat verba dibagi menjadi 4. a. Kalimat Intransitif Kalimat yang tidak membutuhkan objek atau pelengkap. Contoh: Orang itu berlari dengan kencang.   S P Ket.cara
  9. 9. b. Kalimat Ekatransitif Kalimat ini terdiri atas tiga unsur inti, yaitu S, P, O. Unsur bukan intinya Keterangan. Misalnya: Polisi sedang mengejar tersangka. S P Oc. Kalimat Dwitransitif Unsur inti terdiri atas S, P, O, dan Pel. Kalimat ini memiliki makna benefaktif, bersangkutan dengan verba yang dilakukan untuk orang lain. Contoh: Ibu membelikan adik sepeda baru. S P O1 Pel
  10. 10. d. Kalimat Semitransitif Kalimat ini terdiri atas S, P, dan Pel. Contoh: Dina kehilangan tas. S P Pel
  11. 11. 3. Kalimat Berpredikat Adjektiva Kalimat berpredikat adjektiva adalah kalimat yang predikatnya berupa kata sifat (adjektiva) atau frasa adjektival. Contoh: Adiknya sakit. S P Pola kalimatnya: Subjek (Nomina)+Predikat (Adjektiva) Rumah Sari sangat besar. S P Pola kalimatnya: Subjek (Frasa Nomina)+Predikat (Frasa Adjektival)
  12. 12. 4 。 Kalimat Berpredikat Numeralia Kalimat berpredikat numeralia adalah kalimat yang predikatnya berupa kata bilangan atau frasa bilangan. Contoh : Uangnya banyak. S P Pola kalimatnya: Subjek (Nomina)+Predikat (Kata bilangan) Panjang mobil itu dua meter. S P Pola kalimatnya: Subjek (Frasa nominal)+Predikat (Frasa Bilangan) 
  13. 13. 5 。 Kalimat Berpredikat Frasa Preposisional Kalimat berpredikat frasa preposisional adalah kalimat yang predikatnya berupa frasa preposisional, yaitu frasa keterangan. Contoh : - Ibu sedang ke apotek. S P Pola kalimatnya: Subj ek (Nomina)+Pr edikat (Fr asa Pr eposisional/ Fr asa Ket er angan)  
  14. 14. B. KALIMAT MAJEMUK Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua pola kalimat atau dua klausa atau lebih. Kalimat majemuk dapat dibentuk dari beberapa buah kalimat tunggal. Ada beberapa jenis kalimat majemuk di antaranya adalah kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran. 1. Kalimat Majemuk Setara Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang terdiri atas dua kalimat tunggal atau lebih yang digabungkan dengan kata penghubung yang menunjukkan kesetaraan atau sederajat. Dalam kalimat majemuk setara tidak mempunyai anak kalimat. Kalimat majemuk setara ditandai oleh kata penghubung lalu, dan, kemudian, atau, tetapi, namun, sedangkan, dan melainkan. Contoh: Ayah membaca buku dan ibu menyapu lantai. Saya bingung akan melanjutkan ke UT atau kuliah di perguruan tinggi. Adikku belum bersekolah, tetapi dia sudah dapat membaca.
  15. 15. 2. Kalimat Majemuk Bertingkat Kalimat mejemuk bertingkat, yakni kalimat yang terbentuk apabila hubungan kedua kalimat itu tidak sederajat. Artinya, salah satu bagian kalimatnya menduduki fungsi yang lebih tinggi. Bagian yang lebih tinggi disebut induk kalimat, sedangkan bagian yang lebih rendah disebut anak kalimat. Kalimat majemuk bertingkat ditandai oleh kata penghubung antara lain ketika, sejak, setelah, jika, seandainya, agar, supaya, meskipun, walaupun, seperti, bahwa, karena, dan sehingga. Contoh: 1. a. Hari ini tidak hujan. b. Ia akan datang ke pesta itu. Jika hari ini tidak hujan, ia akan datang ke pesta itu. Anak kalimat induk kalimat  2. Ketika kami sedang pergi ke supermarket, paman datang. anak kalimat induk kalimat 
  16. 16. 3. Kalimat Majemuk Campuran Kalimat majemuk campuran adalah gabungan antara kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat. Dalam kalimat majemuk campuran sekurang-kurangnya terdapat tiga inti kalimat atau tiga klausa. Contohnya adalah sebagai berikut.  Pekerjaan itu telah selesai ketika kakak datang dan ibu selesai memasak. Induk kalimat (Klausa inti): Pekerjaan itu telah selesai Anak kalimat 1(klausa bawahan): kakak datang Anak kalimat 2(klausa bawahan): ibu selesai memasak 
  17. 17.  B. Kalimat Menurut Fungsi Berdasarkan fungsinya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita, kalimat pertanyaan, kalimat perintah, kalimat seru, dan kalimat emfatik. 1. Kalimat Berita Kalimat berita (deklaratif/pernyataan) adalah kalimat yang isinya memberitakan sesuatu kepada pembaca atau pendengar. Pada ragam bahasa lisan, bagian akhir kalimat berita ditandai dengan nada menurun. Sementara itu, pada ragam bahasa tulis, bagian akhir kalimatnya ditandai dengan tanda titik.
  18. 18.  Bentuk kalimat berita bermacam-macam, bisa berupa kalimat aktif atau pasif, langsung atau tidak langsung, tunggal atau majemuk, dan sebagainya. Kalimat berita dapat berbentuk apa saja, asalkan isinya merupakan pemberitahuan. Dalam penggunaannya, kalimat berita memiliki beragam tujuan antara lain menyatakan pemberitahuan, laporan, pengharapan, permohonan, perkenalan, undangan, dan sebagainya.
  19. 19. a. Pemberitahuan Contoh: - Minggu ini di desa kita akan diadakan kerja bakti.b. Laporan Contoh: - Kami telah melaksanakan tugas tersebut dengan sebaik- baiknya.c. Pengharapan Contoh: - Saya sangat berharap kamu dapat lulus ujian lisan nanti.d. Permohonan Contoh: - Saya mohon Anda dapat mematuhi peraturan di perusahaan.e. Perkenalan Contoh: - Perkenalkan, saya siswa baru di sekolah ini. - Saya Sari, putri bungsu Pak Aldi. f. Undangan Contoh: - Kami mengundang Saudara untuk hadir dalam acara pernikahan putri kami.
  20. 20. 2. Kalimat Pertanyaan Kalimat pertanyaan (interogatif) adalah kalimat yang isinya menanyakan sesuatu atau seseorang. Kalimat pertanyaan berfungsi untuk menanyakan sesuatu. Kalimat ini memiliki pola intonasi yang berbeda dengan kalimat berita. Perbedaannya terletak pada nada akhirnya. Pola intonasi kalimat berita bernada akhir turun, sedangkan pola intonasi kalimat tanya bernada akhir naik.
  21. 21.  Pertanyaan atau kalimat tanya dapat dibentuk dengan berbagai cara. Caranya adalah dengan menggunakan kata tanya, seperti apa, siapa, di mana, ke mana, dari mana, mana, berapa, bagaimana, dan mengapa. a. Apa : untuk menanyakan benda atau, sesuatu, atau kegiatan b. Siapa : untuk menanyakan orang c. Di mana, ke mana, mana: untuk menanyakan arah, letak, atau tempat d. Berapa : untuk menanyakan jumlah e. Bagaimana: untuk menanyakan keadaan atau proses f. Mengapa: untuk menanyakan alasan atau sebab g. Kapan, bilamana, bila: untuk menanyakan waktu
  22. 22. Contoh kalimat tanya:1. Apa yang kamu bawa?2. Siapa penemu telepon?3. Di mana kamu membeli baju itu?4. Ke mana kamu akan pergi?5. Mengapa kamu datang terlambat?6. Bagaimana keadaan ibumu sekarang?7. Kapan ayah pergi ke Amerika?8. Bilamana karyawan itu akan menyelesaikan pekerjaannya?9. Bila Ibu akan pulang dari pasar?
  23. 23. 3.Kalimat Perintah Kalimat perintah (imperatif) adalah kalimat yang maknanya memberikan perintah untuk melakukan sesuatu. Kalimat perintah dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang melakukan (berbuat) sesuatu. Dalam bentuk tulis, kalimat perintah seringkali dengan tanda seru meskipun tanda titik bisa pula dipakai. Dalam bentuk lisan, nadanya naik pada akhir kalimat.
  24. 24.  Berdasarkan struktur kalimatnya, kalimat perintah atau disebut juga kalimat suruh dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu sebagai berikut. 1. Kalimat Suruh yang Sebenarnya Kalimat suruh yang sebenarnya ditandai oleh pola intonasi suruh. Apabila P-nya terdiri atas verba yang tidak membutuhkan objek (kata verbal intransitif), bentuk kata verbal itu tetap, hanya partikel –lah dapat ditambahkan pada kata verbal itu untuk menghaluskan perintah.S-nya yang berupa orang kedua boleh dilesapkan boleh tidak. Contoh:  Duduk!  Datanglah engkau ke rumahku!  Berangkatlah sekarang juga!
  25. 25.  Untuk memperhalus suruhan, di samping menambah partikel –lah, kata tolong dapat dipakai di depan kata kerja yang benefaktif, yaitu kata kerja yang menyatakan tindakan yang dimaksudkan bukan untuk kepentingan pelakunya. Contohnya adalah sebagai berikut.  Tolong ambilkan buku itu!  Tolong belikan gula setengah kilo di warung!
  26. 26. 2.Kalimat Persilakan Selain ditandai oleh pola intonasi suruh, kalimat persilakan ditandai juga oleh penambahan kata silakan yang diletakkan di awal kalimat. S kalimat boleh dilesapkan boleh juga tidak. Contohnya adalah sebagai berikut.  Silakan Bapak duduk di sini!  Silakan datang ke rumahku!  Silakan beristirahat!
  27. 27. 3.Kalimat Ajakan Kalimat ajakan ini, berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, juga mengharapkan suatu tanggapan yang berupa tindakan. Perbedaannya, tindakan itu bukan hanya dilakukan oleh orang yang diajak berbicara, melainkan juga oleh orang yang berbicara atau penuturnya. Dengan kata lain, tindakan itu dilakukan oleh kita. Di samping ditandai oleh pola intonasi suruh, kalimat ini ditandai juga oleh adanya kata-kata ajakan, yaitu kata mari dan ayo yang diletakkan di awal kalimat. Partikel –lah dapat ditambahkan pada kedua kata itu menjadi marilah dan ayolah. S kalimat boleh dilesapkan boleh tidak. Contohnya adalah sebagai berikut.  Mari kita berangkat sekarang!  Ayo kita bermain sepeda!  
  28. 28. 4.Kalimat Larangan Kalimat larangan ditandai oleh adanya kata jangan di awal kalimat. Partikel –lah dapat ditambahkan pada kata tersebut untuk memperhalus larangan. S kalimat boleh dilesapkan boleh tidak. Contohnya adalah sebagai berikut.  Jangan kamu berangkat sendiri!  Jangan suka menjahili orang!  
  29. 29. 4.Kalimat Seru Kalimat seru (interjektif) adalah kalimat yang mengungkapkan perasaan kagum. Kalimat seru juga digunakan jika penutur ingin mengungkapkan perasaan yang kuat atau hal yang mendadak. Kata seru yang digunakan antara lain adalah wah, aduh, alangkah, dan aduhai. Contoh:  Alangkah indahnya pemandangan ini!  Wah, rumahmu bagus sekali!  Aduhai merdu sekali suaramu!  Aduh, sakit sekali perutku!  
  30. 30. 5. Kalimat Emfatik Kalimat yang memberikan penegasan khusus kepada S. Penegasan itu dilakukan dengan: - menambahkan partikel –lah pada S; -menambahkan konjungsi yang ada di belakang S. Dengan penegasan pada S, ada pergeseran makna dan fungsi sintaktik. Contoh: (1) Dia mengambil majalah itu. S P O (2) Dialah yang mengambil majalah itu. P S
  31. 31.  Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Agar kalimat menjadi efektif, kalimat tersebut harus memenuhi syarat-syarat berikut.  Kalimat efektif harus memiliki kesatuan gagasan. Artinya kalimat tersebut memiliki satu ide pokok. Contoh: Keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang membantu keselamatan umum.
  32. 32.  Kalimat efektif harus memenuhi syarat kesejajaran. Maksudnya, penggunaan bentuk kata atau frase imbuhan yang memiliki kesamaan, baik dalam fungsi maupun bentuknya. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan –di, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan –di pula. Contoh: Setelah dimarahi, Andi dipukuli oleh orang itu.
  33. 33.  Kalimat efektif harus menggunakan kata dengan hemat. Contoh: Angkutan-angkutan umum kereta api, bus, dan pesawat selalu dipadati penumpang di saat libur sekolah. Contoh di atas tidak efektif, semestinya, Angkutan umum selalu dipadati penumpang di saat libur sekolah. atau, Kereta api, bus, dan pesawat selalu dipadati penumpang di saat libur sekolah.
  34. 34.  Kalimat efektif harus logis dan dapat diterima oleh akal sehat. Contoh: *Kambing sedang main hujan.-Kalimat tersebut tidak logis karena kambingtakut air. Jadi, tidak mungkin kambing mainhujan. Pada kalimat efektif, kata penghubung dan, sedangkan, atau, karena, sehingga tidak boleh diletakkan di awal kalimat. Contoh: Dan Saya akan pergi ke kota itu sendirian.
  35. 35.  Jika keterangan diletakkan di posisi awal, sesudah keterangan tersebut diberi tanda baca koma (,). Contoh: Minggu lalu, saya dan ayah pergi ke kota.

×