Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

9. penalaran dalam karangan

3,296 views

Published on

  • Be the first to comment

9. penalaran dalam karangan

  1. 1. Penalaran Karangan Dra. Siti Sahara Alat Musik Tradisional Cina
  2. 2. Definisi Penalaran Penalara n 1. cara (perihal) menggunakan nalar; pemikiran atau cara berpikir logis; jangkauan pemikiran: kepercayaan takhayul serta ~ yang tidak logis haruslah dikikis habis; 2. hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dng nalar dan bukan dng perasaan atau pengalaman; 3. proses mental dl mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip  Bernalar yaitu proses berpikir yang menghasilkan suatu pengertian dalam pembahasan suatu masalah yang dilakukan secara logis, sistematis, terorgani-sasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan kesimpulan. Selain itu Penalaran dapat diartikan menghubung-hubungkan fakta atau data, menganalisis suatu topik yang menghasilkan suatu pengertian sampai dengan suatu kesimpulan
  3. 3. Penalaran i. .
  4. 4. Logika i. .  Konsep dalam Logika menyatakan bahwa validitas sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan atau biasa kita sebut premis.
  5. 5. Penalaran  Deduktif Induktif i. . Penalaran Deduktif - Jika semua premis benar maka kesimpulan pasti benar - Semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah ada, sekurangnya secara implisit, dalam premis. Penalaran Induktif - Jika premis benar, kesimpulan mungkin benar, tapi tak pasti benar. - Kesimpulan memuat informasi yang tak ada, bahkan secara implisit, dalam premis.
  6. 6. Penalaran: Prinsip & Unsurnya i. . 1. Penalaran sebagai proses pemikiran untuk memperoleh kesimpulan yang logis berdasarkan atas evidensi yang relevan. 2. Penaran adalah proses penafsiran fakta sebagai dasar untuk menarik suatu kesimpulan. 3. Proses Penalaran dapat sampai kepada kesimpulan yang mungkin berupa asumsi, hipotesis, teori, atau keputusan lainnya. 4. Prinsip-prinsip penalaran penarikan kesimpulan yang sah serta mengenal kriteria untuk menilai kesahihan penarikan kesimpulan dalam tulisan yang dibaca.
  7. 7. Lanjut  Unsur dasar penalaran ilmiah ialah fakta. Fakta ialah: 1. Klasifikasi 2. Jenis Klasifikasi 3. Persyaratan Klasifikasi 4. Guna Klasifikasi 5. Pengamatan 6. Proposisi
  8. 8. Jenis-Jenis Penalaran  Penalaran Induktif 1. Generalisasi 2. Analogi 3. Hubungan Sebab Akibat 4. Pengetesan Hubungan Sebab Akibat  Penalaran Deduktif 1. Silogisme 2. Entimen
  9. 9. Lanjut  Pola induktif adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus. Penalaran induktif dapat berbentuk generalisasi, analogi, atau hubungan sebab akibat. 1) Generalisasi adalah proses berpikir berdasarkan hasil pengamatan atas sejumlah gejala dan fakta dengan sifat-sifat tertentu mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. 2) Analogi merupakan cara menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan terhadap sejumlah gejala khusus yang bersamaan. 3) Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat sebab, dan akibat-akibat.
  10. 10. Lanjut  Pola deduktif adalah cara berpikir dengan berdasarkan suatu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Pernyataan tersebut merupakan premis, sedangkan kesimpulan merupakan implikasi pernyataan dasar tersebut. Artinya, apa yang dikemukakan dalam kesimpulan sudah tersirat dalam premisnya. Jadi, proses deduksi sebenarnya tidak menghasilkan suatu konsep baru, melainkan pernyataan atau kesimpulan yang muncul sebagai konsistensi premis- premisnya. Maka, deduksi merupakan proses berpikir dari pengetahuan universal atau individual.
  11. 11. Salah Nalar 1. Klasifikasi Induktif 2. Klasifikasi Deduktif
  12. 12. Salah Nalar  Salah nalar adalan gagasan, pikiran, kepercayaan dan simpulan yang salah, keliru atau cacat. Salah nalar disebabkan oleh ketidaktepatan mengikuti tata cara pikiran. Apabila diperhatikan beberapa kalimat dalam bahasa Indonesia secara cermat, kadang-kadang ditemukan beberapa pernyataan atau premis tidak masuk akal, kalimat-kalimat yang seperti itu disebut kalimat dari hasil salah nalar.
  13. 13. Beberapa kesalah bernalar 1) Deduksi yang Salah Salah nalar yang disebabkan oleh deduksi terjadi karena salah mengambil simpulan dari satu silogisme dengan diawali oleh premis yang salah atau tidak memenuhi syarat. Contoh: a. Pak Ruslan tidak dapat dipilih sebagai lurah di sini karena dia miskin b. Bunga anggrek sebetulnya tidak perlu dipelihara karena bunga anggrek banyak ditemukan dalam hutan. c. Dia pasti cepat mati karena dia menderita penyakit jantung.
  14. 14. Lanjut 2) Generalisasi Terlalu Luas Salah nalar jenis ini disebebkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi itu, sehingga simpulan yang diambil menjadi salah. Contoh: a. Gadis Bandung cantik-cantik. b. Kuli pelabuhan jiwanya kasar. c. Orang Makassar pandai berdayung.
  15. 15. Lanjut 3) Pemilihan terbatas pada dua Alternatif Salah nalar ini dilandasi oleh tidak tepat memilihan “itu” atau “ini” Contoh: a. Engkau harus mengikuti kehendak ayah, atau engkau harus berangkat dari rumah itu. b. Dia membakar rumahnya agar kejahatannya tidak diketahui orang. c. Engkau harus memilih antara hidup di Jakarta dengan serba kekurangan dan hidup di kampung dengan menanggung malu.
  16. 16. Lanjut 4) Penyebab yang Salah Nalar Salah nalar disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadi pergeseran maksud. Tidak menyadari bahwa yang dikatakan salah. Contoh: a. Matanya buta sejak beberapa waktu yang lalu. Itu tandanya dia melihat gerhana matahari total. b. Sejak ia memperhatikan dan membersihkan kuburan para leluurnya, dia hamil. c. Kalau ingin dikenal orang, kita harus memakai kacamata.
  17. 17. Lanjut 5) Analogi yang Salah Salah nalar menganalogikan sesuatu dengan yang lain, yaitu dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain. Contoh: a. Evania , seorang alumni MAN 4, dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Oleh sebab itu, Khalisa, seorang alumni MAN 4, tentu dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. b. Pada hari Senin, langit sebelah barat menghitam, angin bertiup kencang, dan tidak lama kemudian turun hujan. Pada hari Selasa, langit sebelah barat menghitam, angin bertiup kencang, dan tidak lama kemudian turun hujan. Pada hari Rabu, langit sebelah barat menghitam, angin bertiup kencang. Hal ini menandakan bahwa tidak lama lagi akan turun hujan.
  18. 18. Lanjut 6) Argumentasi Salah nalar yang disebabkan olwh yaitu, sikap menghu- bungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya. Dengan kata lain, sesuatu itu selalu dihubungkan dengan orangnya. Contoh: a. Program keluarga berencana tidak dapat berjalan di desa kami karena petugas keluarga berencana itu mempunyai anak enam orang. b. Kamu tidak boleh kawin dengan Verdo karena orang tua Verdo itu bekas penjahat. c. Dapatkah dia memimpin kita sementara dia sendiri belum lama bercerai dengan istrinya?
  19. 19. Lanjut 7) Meniru-niru yang Sudah Ada: Salah nalar yang berhubungan dengan anggapan bahwa sesuatu itu dapat dilakukan kalau atasan melakukan hal itu. Contoh: a. Peserta penataran boleh pulang sebelum waktunya karena para undangan yang menghadiri acara pembukaan pun sudah pulang semua. b. Siswa SMA seharusnya dibenarkan mempergunakan kalkulator ketika menyelesaikan soal matematika sebab profesor pun menggunakan kalkulator ketika menyelesaikan soal matematika.
  20. 20. Lanjut 8) Penyamarataan Para Ahli: Salah nalar disebabkan oleh anggapan orang tentang berbagai ilmu dengan pandangan yang sama. Hal ini akan mengakibatkan kekeliruan mengambil kesimpulan. Contoh: a. Perkembangan sistem pelayaran kita dapat dibahas secara panjang lebar oleh Ahmad Panu, seorang tukang kayu yang terkenal itu. b. Pembangunan pasar swalayan itu sesuai dengan saran Toto, seorang ahli bidang perikanan.
  21. 21. Penalaran dalam Karangan  Menulis Sebagai Proses Penalaran 1. Berfikir dan Bernalar 2. Berfikir Induktif 3. Berpikir Deduktif  Penalaran dalam Karangan Urutan Logis: 1. Urutan Waktu (kronologis) 2. Urutan Ruang (spesial) 3. Urutan Alur penalaran 4. Urutan Kepentingan
  22. 22. Lanjut  Dalam praktik, proses penalaran tidak dapat terpisahkan dengan proses pemikiran. Tulisan merupakan perwujudan hasil kinerja proses berpikir. Tulisan yang baik, sistematis, dan logis mencermtnkan proses berpikir yang baik juga. Begitu juga sebaliknya, tulisan yang kacau mencerminkan proses dan kinerja berpikir yang kacau pula. Karena itu pelatihan keterampilan menulis pada hakikatnya merupakan hal pembiasaan berpikir-bernalar secara tertib dalam bahasa yang tertib pula.
  23. 23. Lanjut  Suatu karya tulis merupakan hasil proses berpikir deduktif, induktif, atau gabungan di antara keduanya. Suatu tulisan yang bersifat deduktif dibuka dengan pernyataan umum berupa kaidah, teori, peraturan, atau pernyataan lainnya. Selanjutnya pernyataan tersebut dikembangkan dengan pernyataan- pernyataan atau rincian-rincian khusus.  Karya tulis yang induktif dibuka dengan rincian-rincian khusus dan diakhiri dengan suatu kesimpulan umum atau generalisasi. Gabungan antara keduanya dimulai dengan pernyataan umum, diikuti dengan rincian-rincian dan diakhiri dengan pengulangan pernyataan umum yang dikemukakan sebelumnya.
  24. 24. Lanjut  Proses penalaran deduktif dan induktif dikembangkan dalam bentuk paragraf. Perlu diperhatikan adalah arah atau alur penalaran dan cara pewujudannya dalam karya tulis. Hal tersebut sangat berhubungan dengan urutan pengembangkan dan isi karangan.  Pola pengembangan gagasan dapat dilakukan: 1) urutan kronologis 2) urutan spasial 3) urutan alur penalaran 4) urutan kepentingan.  Urutan kronologis ditandai dengan penggunaan kata-kata seperti: dewasa ini, sekarang, bila, sebelum, sementara itu, sejak saat itu, selanjutnya, dalam pada itu, mula-mula.  Bentuk tulisan ini biasanya dipergunakan untuk memaparkan sejarah, proses, asal-usul, dan biografi atau riwayat hidup.
  25. 25. Lanjut  Urutan waktu spasial digunakan untuk menyatakan tempat atau hubungan dengan ruang. Pola ini biasanya menggunakan kata-kata: di sini, di situ, di, pada, di bawah, di atas, di tengah, berhadapan, bertolak belakang, berseberangan, dll.  Urutan penalaran menghasilkan paragraf deduktif dan induktif. Sedangkan urutan kepentingan dikembangkan berdasarkan skala prioritas gagasan yang dikemukakan., dari yang paling penting, menuju yang penting, ke yang kurang penting.
  26. 26. Penalaran yang Formal  Silogisme: Penalaran yang formal  Premis: 1. Merupakan pernyataan dasar umum disebut premis mayor, peredikatnya disebut term mayor. 2. Merupakan pernyataan dasar khusus disebut premis minor, predikatnya disebut term minor.
  27. 27.  Silogisme merupakan suatu proses penarikan kesimpulan yang didasarkan atas pernyataan- pernyataan (proposisi -> yang kemudian disebut premis) sebagai antesedens (pengetahuan yang sudah dipahami) hingga akhirnya membentuk suatu kesimpulan (keputusan baru) sebagai konsekuensi logis. Keputusan baru tersebut selalu berkaitan dengan proposisi yang digunakan sebagai dasar atau dikemukakanse belumnya. Oleh karena hal-hal teknis berkaitan dengan silogisme sehingga penalaran benar dan dapat diterima nalar. Silogisme Bentuk Hasil Penalaran Deduktif
  28. 28. Premis dan Term  Premis: 1. Pernyataan yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan atau 2. Merupakan kesimpulan yang ditarik berdasarkan premis mayor dan premis minor. Dan subjek (S) pada kesimpulan itu merupakan term minor.  Term: - Kata atau kelompok yaitu, kata yang menempati fungsi Subyek (S) atau Predikat (P) di dalam kalimat logika
  29. 29. Proposisi, Silogisme & Entimen  Proposisi:  Proposisi pembenaran (positip).  Proposisi pengingkaran (negatip).  Proposisi menurut bentuk tunggal dan majemuk.  Silogisme dan Entimen  Bedanya di dalam entimen salah satu premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan, karena sudah sama-sama diketahui.
  30. 30. Latihan Yuk! Penalaran dalam Karangan
  31. 31. Tariklah kesimpulan dari premis-premis berikut jika mungkin! 1. My : Tidak ada mahasiswa yang berumur kurang dari 17 tahun. Mn : Anak TK berumur kurang dari 17 tahun. K : .......................................................................... 2. My : Tidak ada benda cair yang mengalir ke tempat yang lebih tinggi. Mn : Batu bukan benda cair. K : ........................................................................... Soal 3. My : Beberapa nelayan mempunyai perahu motor. Mn : Beberapa tengkulak mempunyai perahu motor. K : ....................................................................................
  32. 32. Ubalah silogisme berikut menjadi entimen! 1. My : Semua manusia berakal budi. Mn : Mahasiswa adalah manusia. K : ........................................................................................ ........................................................................................ 2. My : Tidak ada manusia yang kekal. Mn : Sacrotes adalah manusia. K : ........................................................................................ ........................................................................................ Soal 3. My : Demam berdarah disebabkan oleh virus. Mn : Penyakit yang disebabkan oleh virus sulit diobati. K : ......................................................................................... .........................................................................................
  33. 33. B a. bus antarkota b. becak c. laut d. alat transportasi e. udarah f. antarkota g. bus kota h. delman i. bemo j. dalam kota k. darat l. kereta api Penalaran: Prinsip dan Unsurnya Klasifikasi menurut prinsip yang benar 1 432 65 7 8 9 10 11 12 A Soal
  34. 34. . Penalaran: Prinsip dan Unsurnya Klasifikasi kesalahan pernyataan induktif dan deduktif Berikan tanda silang (x)pada kolom untuk kesalahan yang terdapat pada pernyataan berikut:  Induktif I : Generalisasi terlalu luas. II : Kesalahan analogi. III : Penilaian sebab-akibat yang salah.  Deduktif IV : 2 premis negatif. V : Mayor I dan minor A. VI : Mayor tidak dibatasi. VII : Tidak ada term tengah yang distributif. VIII : Mayor partikuler dan minor negatif.
  35. 35. . No Kesalahan Pernyataan Induktif Deduktif I II III IV V VI VII VIII 1. My: Sebagian tanaman tidak berbuah. Mn: Bambu adalah tanaman. K : Bambu tidak berbuah. 2. My: Beberapa mahasiswa jenius. Mn: Tidak ada balita yang jadi maha- siswa yang jenius. K : Tidak ada balita yang jenius 3. My: Penyebab kejahatan adalah kemiskinan. Mn: Orang yang di penjara adalah orang jahat. K : Orang yang di penjara orang miskin. 4. My: Beberapa orang Asia adalah kaisar. Mn: Orang Indonesia adalah orang Asia. K : Orang Indonesia adalah
  36. 36. . Klasifikasikan fakta tentang penduduk dewasa kelurahan X berikut menurut umur, jenis kelamin, dan taraf pendidikannya. Buat dalam bentuk tabel. TK: 450; 100 pria di bawah 50, 50 pria di atas 50, 150 wanita di bawah 50, 150 wanita di atas 50. SD: 600; 250 pria di bawah 50, 100 pria di atas 50, dan 150 wanita di bawah 50, dan 100 wanita di atas 50. SLTP: 400; 100 pria di bawah 50, 100 pria di atas 50, dan 150 wanita di bawah 50, dan 50 wanita di atas 50. SLTA: 100; 25 pria di bawah 50, 25 pria di atas 50, dan 35 wanita di bawah 50, dan 15 wanita di atas 50. Soal
  37. 37. A. Gani, Ramlan dan Mahmudah Fitriyah ZA. Gemar Berbahasa Indonesia. Jakarta: FITK Press, 2010. Akhadiah, Sabarti dan Sakura Ridwan. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga, 1999. Arifin, Zaenal. Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Presindo, 2010. Keraf, Gorys. Komposisi. Ende, Flores: Nusa Indah, 1995. Razak, Abdul. Kalimat Efektif Setruktu, Gaya, dan Variasi, Jakarta: PT Gramedia, 1985 Buku Sumber
  38. 38. .

×