Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
MENTORING 13
(HOLY SPIRIT)
BMF collections - 2015
i | Holy Spirit
Table of Contents
PENDAHULUAN................................................................................
ii | Holy Spirit
Apakah bahasa roh adalah tanda seseorang dipenuhi Roh Kudus? ...............40
SIKAP YANG BENAR BERKENAAN...
iii | Holy Spirit
1 Korintus12: Bahasa Lidah di Tempat Terbawah ............................................. 87
1 Korintu...
iv | Holy Spirit
13. Analisis Teologis Terhadap Ajaran Berhentinya Karunia-karunia Roh Kudus
113
Pandangan Sessasionisme.....
v | Holy Spirit
PENDAHULUAN
Membahas tentang Roh Kudus,
pribadi ke tiga Allah Tritunggal
menjadi perdebatan dari waktu ke
...
vi | Holy Spirit
1 | H O L Y S P I R I T
1. Ciri-Ciri Orang yang Dipenuhi Roh Kudus
Bagaimanakah ciri-ciri dari seseorang yang dipenuhi ole...
2 | H O L Y S P I R I T
Hidup Kudus
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang hidupnya telah
diubah oleh pengaruh Ro...
3 | H O L Y S P I R I T
apapun. Seseorang yang dipenuhi Roh Kudus itu sangat peka. Sedikit
ketidakberesan, ketidaksucian, ...
4 | H O L Y S P I R I T
Menjunjung Tinggi Firman
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang menjunjung tinggi
Alkitab...
5 | H O L Y S P I R I T
Memberitakan Injil
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang mementingkan Injil
dan pengabar...
6 | H O L Y S P I R I T
mengunci semua pintu karena takut. Tetapi setelah mereka dipenuhi
Roh Kudus, mereka justru membong...
7 | H O L Y S P I R I T
orang Kristen. Tetapi kalau Pancasila sudah tidak berlaku, kalau
kekristenan akan dibasmi, kalau m...
8 | H O L Y S P I R I T
dalam seminggu untuk berpuasa. Dan selama berpuluh-puluh tahun,
dengan mengenakan baju putih, ia m...
9 | H O L Y S P I R I T
mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut
kerelaan-Nya." Allah yang bekerja ...
10 | H O L Y S P I R I T
2. Penuh Dengan Roh Kudus
oleh: Pdt. Budi Asali M.Div.
Kis 2:1-4 “(1) Ketika tiba hari
Pentakosta...
11 | H O L Y S P I R I T
Kis 2:38 - “Jawab Petrus kepada mereka: „Bertobatlah dan hendaklah
kamu masing-masing memberi dir...
12 | H O L Y S P I R I T
orang yang penuh dengan Roh Kudus pasti justru menunjukkan buah
Roh Kudus, dan ini antara lain ad...
13 | H O L Y S P I R I T
III) Penuh Roh Kudus dan bahasa Roh
Kebanyakan orang Kharismatik menganggap bahwa semua
orang kri...
14 | H O L Y S P I R I T
ditafsirkan seakan-akan semua orang yang piknik
sekeluarga akan mengalami kecelakaan dan mati sem...
15 | H O L Y S P I R I T
 Fil 4:4 yang berbunyi “Bersukacitalah senantiasa” adalah
bagian yang bersifat Didactic. Ini ada...
16 | H O L Y S P I R I T
3) Ayat Kitab Suci tak boleh ditafsirkan sehingga bertentangan
dengan ayat Kitab Suci yang lain. ...
17 | H O L Y S P I R I T
2) Kata perintah itu ada dalam bentuk jamak.
Jadi ini ditujukan kepada semua orang Kristen, bukan...
18 | H O L Y S P I R I T
Ro 5:1 - “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup
dalam damai sejahtera dengan Al...
19 | H O L Y S P I R I T
3. BAPTISAN DAN KEPENUHAN ROH
Penulis: Daniel Lucas, S.Th.
A. PENDAHULUAN
B. PANDANGAN ALIRAN TER...
20 | H O L Y S P I R I T
Di samping itu, akhir-akhir ini cukup banyak terdengar orang memberikan
kesaksian bahwa mereka te...
21 | H O L Y S P I R I T
B. PANDANGAN ALIRAN TERTENTU TENTANG BAPTISAN DAN
KEPENUHAN ROH
Orang yang berpandangan bahwa bap...
22 | H O L Y S P I R I T
pada saat itu sudah percaya, sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat
mereka. Jadi, jikalau kep...
23 | H O L Y S P I R I T
Secara global, orang yang berpandangan bahwa baptisan Roh merupakan "second
blessing"-nya Roh seb...
24 | H O L Y S P I R I T
Langkah-langkah seperti di atas juga perlu ditempuh pada waktu kita hendak
meneliti ajaran tentan...
25 | H O L Y S P I R I T
8:14-17 dokter Lukas tidak memakai istilah "baptisan" Roh? Apakah ia tidak
konsisten? Mengapa pul...
26 | H O L Y S P I R I T
Tetapi bagaimana kita membuktikan pernyataan terakhir
tadi?
Jawabnya terdapat di dalam Kisah 11:1...
27 | H O L Y S P I R I T
Kepenuhan, h. 15-20). Di sana telah diuraikan secara mendetail dan mengena
tentang kedua peristiw...
28 | H O L Y S P I R I T
Dipenuhi Roh berlainan dengan baptisan Roh. Baptisan Roh berlangsung atau
terjadi hanya satu kali...
29 | H O L Y S P I R I T
yang menjalankan misi Tuhan dengan kuasa untuk memenangkan jiwa. Bukti yang
paling dekat ialah ke...
30 | H O L Y S P I R I T
Paulus sendiri mengaku bahwa ia dapat berbahasa roh lebih daripada orang lain
(1 Kor. 14:18).
D. ...
31 | H O L Y S P I R I T
menganggap Alkitab terlalu kaku untuk dijadikan pedoman prinsip-prinsip dasar
kehidupan Kristen?
...
32 | H O L Y S P I R I T
Graham, Billy. The Holy Spirit. Waco: Word Books, 1978.
Marshall, Catherine. Roh Kudus Penolong K...
33 | H O L Y S P I R I T
4. ROH KUDUS, KESEMBUHAN ILAHI DAN BAHASA
ROH
Penulis: Ev. Ivone
Sejak pertengahan abad ke-20 kes...
34 | H O L Y S P I R I T
ROH KUDUS DAN KESEMBUHAN ILAHI
Bila membicarakan kesembuhan ilahi di sini, yang penulis maksud ad...
35 | H O L Y S P I R I T
serambi-serambi Betesda, hanya satu orang yang Ia sembuhkan (Yoh. 5:3-8),
pengemis di Gerbang Ind...
36 | H O L Y S P I R I T
Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini
dikerjakan oleh Roh y...
37 | H O L Y S P I R I T
bahwa pelayanan Roh Kudus dalam hal ini sudah berhenti, tidak berdasar dari
Alkitab. Kalau kita m...
38 | H O L Y S P I R I T
Kalau kita melihat kembali pelayanan Tuhan Yesus dalam hal kesembuhan
ternyata:
1. Yesus menuntut...
39 | H O L Y S P I R I T
Ada seorang wanita yang bertahun-tahun menderita lumpuh dan tidak sembuh
walaupun didoakan. Setel...
40 | H O L Y S P I R I T
manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti
bahasanya; oleh Roh ia me...
41 | H O L Y S P I R I T
semua diberi minum dari satu Roh." Dan dalam pasal yang sama ia membicarakan
tentang karunia-karu...
42 | H O L Y S P I R I T
2. Bahasa roh bukanlah karunia yang terutama, oleh karena itu jangan dibesar-
besarkan. Ingatlah ...
43 | H O L Y S P I R I T
Selain itu kita harus ingat bahwa Alkitab memberitakan tentang Allah, yang
memberikan karunia-kar...
44 | H O L Y S P I R I T
5. GERAKAN GELOMBANG KETIGA
Penulis: Pdt. Bob Jokiman
 PENDAHULUAN
 SIKAP TERHADAP KARUNIA ROH ...
45 | H O L Y S P I R I T
bidang pekerjaan, gaya hidup, etos kerja, sikap seksual, konsep-konsep hidup, tata
ekonomi dan po...
46 | H O L Y S P I R I T
Dalam wawancara pertama kali untuk memperkenalkan Gerakan Gelombang
Ketiga ini di majalah Pastora...
47 | H O L Y S P I R I T
memiliki rubrik tetap mengenai The Third Wave yang diasuh oleh Dr. Peter
Wagner, maka makin banya...
48 | H O L Y S P I R I T
hati para pembicara. Hal tersebut mendesak saya untuk melaksanakan dengan
serius Gelombang Ketiga...
49 | H O L Y S P I R I T
2. Merrill F. Unger, seorang theolog dispensasional (umumnya sering dikaitkan
dengan Dallas Theol...
50 | H O L Y S P I R I T
murid-Nya, Ia membekali mereka dengan karunia-karunia adikodrati (bandingkan
Lukas 10:9,17 dan Ma...
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Bmf 13 holy spirit
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Bmf 13 holy spirit

708 views

Published on

roh kudus, holy spirit

Published in: Spiritual
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Bmf 13 holy spirit

  1. 1. MENTORING 13 (HOLY SPIRIT) BMF collections - 2015
  2. 2. i | Holy Spirit Table of Contents PENDAHULUAN......................................................................................................... v 1. Ciri-Ciri Orang yang Dipenuhi Roh Kudus ......................................................... 1 Taat pada Roh Kudus............................................................................................ 1 Hidup Kudus.......................................................................................................... 2 Menjunjung Tinggi Firman.................................................................................... 4 Memberitakan Injil ............................................................................................... 5 Berani Menjalankan Kehendak Allah.................................................................... 5 Menghasilkan Buah Roh ....................................................................................... 8 2. Penuh Dengan Roh Kudus............................................................................... 10 I) Penuh Roh Kudus berbeda dengan dibaptis Roh Kudus. ................................ 10 II) Penuh Roh Kudus dan mabuk anggur............................................................. 11 III) Penuh Roh Kudus dan bahasa Roh................................................................ 13 IV) Hendaklah kamu penuh dengan Roh Kudus. ................................................ 16 3. BAPTISAN DAN KEPENUHAN ROH .................................................................. 19 A. PENDAHULUAN .............................................................................................. 19 B. PANDANGAN ALIRAN TERTENTU TENTANG BAPTISAN DAN KEPENUHAN ROH ............................................................................................................................ 21 C. TANGGAPAN DAN KRITIK................................................................................ 22 Tetapi bagaimana kita membuktikan pernyataan terakhir tadi?....................... 26 Mengapa kepenuhan Roh perlu ada pada setiap orang Kristen? ...................... 28 D. PENUTUP........................................................................................................ 30 DAFTAR BAHAN ACUAN...................................................................................... 31 4. ROH KUDUS, KESEMBUHAN ILAHI DAN BAHASA ROH ................................... 33 ROH KUDUS DAN KESEMBUHAN ILAHI............................................................... 34 APAKAH ORANG PASTI DISEMBUHKAN?............................................................ 37 BAHASA ROH....................................................................................................... 39 Apakah sebenarnya bahasa lidah itu?............................................................ 39
  3. 3. ii | Holy Spirit Apakah bahasa roh adalah tanda seseorang dipenuhi Roh Kudus? ...............40 SIKAP YANG BENAR BERKENAAN DENGAN GLOSSOLALIA..............................41 KESIMPULAN ...................................................................................................42 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................43 5. GERAKAN GELOMBANG KETIGA......................................................................44 PENDAHULUAN ...................................................................................................44 Gerakan Gelombang Ketiga.................................................................................45 SIKAP TERHADAP KARUNIA ROH YANG ADIKODRATI .........................................48 TANDA-TANDA KERAJAAN ALLAH.......................................................................49 PERNYATAAN-PERNYATAAN KUASA ADIKODRATI DALAM SEJARAH GEREJA.....52 SIKAP YANG SEHAT DAN POSITIF TERHADAP KARUNIA-KARUNIA ADIKODRATI 54 Kerendahan hati bagi mereka yang memiliki karunia-karunia adikodrati..........56 SEMINAR DAN LOKAKARYA KARUNIA ROHANI...................................................58 PENUTUP.............................................................................................................59 KETERANGAN PENULIS........................................................................................60 6. KEBENARAN YANG HANYA SETENGAH............................................................61 7. PERANAN ROH KUDUS DALAM PERKEMBANGAN GEREJA .............................74 KUNJUNGAN KE KOREA YANG MEMBAWA BERKAT...........................................74 APA SAJA YANG ADA DALAM KEBAKTIAN DOA?.................................................75 KEBAKTIAN DOA PUMA.......................................................................................76 TANTANGAN YANG AKHIRNYA BISA DIATASI......................................................77 BAGAIMANA SAYA MENGGABUNGKAN TEOLOGIA REFORMED DAN "GERAKAN" YANG BARU .........................................................................................................78 RENCANA PEMBINAAN JANGKA PANJANG.........................................................79 8. Bagaimana Menyikapi Bahasa Lidah (Glossolalia)?.........................................80 Bahasa Lidah: Syibolet dalam Kekristenan..........................................................80 GLOSSOLALIA: STUDI KATA .................................................................................81 PERISTIWA PENTAKOSTA DAN BAHASA LIDAH...................................................82 BAHASA LIDAH DI JEMAAT KORINTUS ................................................................84
  4. 4. iii | Holy Spirit 1 Korintus12: Bahasa Lidah di Tempat Terbawah ............................................. 87 1 Korintus13: Bahasa Lidah Berakhir.................................................................. 87 1 Korintus 14: Pengaturan Bahasa Lidah............................................................ 88 Kesimpulan Bahasa Lidah di dalam 1 Korintus 12-14......................................... 90 BAGAIMANA SEBAIKNYA SIKAP KITA?................................................................ 90 9. Baptisan Roh Kudus ........................................................................................ 93 1. Tafsiran Yohanes 3:3-6................................................................................ 95 Menyimak karunia supranatural kontemporer .............................................. 98 2. Karakteristik gerakan karismatik ................................................................ 99 10. Dipenuhi Roh Allah ................................................................................... 104 11. Allah Roh Kudus........................................................................................ 105 Siapakah Roh Kudus itu ?.................................................................................. 105 Apakah buktinya bahwa Roh Kudus adalah Allah ?.......................................... 105 Roh Kudus itu dilambangkan dengan apa saja ? .............................................. 105 Kapan Roh Kudus mulai bekerja ? .................................................................... 106 Apakah pekerjaan Roh Kudus itu ?................................................................... 106 Apakah buktinya Roh Kudus itu suatu bentuk pribadi ? .................................. 106 Bagaimana seseorang dapat dipenuhi dengan Roh Kudus ?............................ 107 Apakah tanda-tanda orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus ? ..................... 107 Berapa lamakah Roh Kudus berdiam dalam diri seseorang ? .......................... 107 Apakah artinya dibaptiskan dengan Roh Kudus ? ............................................ 107 Apakah orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus harus berbahasa Roh ? ....... 108 Apakah yang perlu diketahui tentang bahasa Roh atau bahasa lidah ?........... 108 Apakah segi negatif dari bahasa Roh ?............................................................. 108 12. Analisis Teologis Terhadap Ajaran Bahasa Lidah Sebagai Bukti Fisik Baptisan Roh Kudus.............................................................................................. 109 Berikut ini fakta-fakta yang menunjukkan bahwa bahasa lidah bukanlah bukti fisik baptisan Roh:............................................................................................. 109 Footnote: .......................................................................................................... 112
  5. 5. iv | Holy Spirit 13. Analisis Teologis Terhadap Ajaran Berhentinya Karunia-karunia Roh Kudus 113 Pandangan Sessasionisme.................................................................................113 ANALISIS TEOLOGIS TERHADAP AYAT-AYAT YANG DIJADIKAN DASAR PANDANGAN SESSASIONISME ..........................................................................115 Footnote:...........................................................................................................125 PENUTUP...............................................................................................................127
  6. 6. v | Holy Spirit PENDAHULUAN Membahas tentang Roh Kudus, pribadi ke tiga Allah Tritunggal menjadi perdebatan dari waktu ke waktu.Mari belajar untuk kembali pada kebenaran Firman Tuhan. Jika masih terdapat perbedaan pendapat, lebih baik kita mengakomodasi semua dengan lapang dada. Tidak perlu memaksakan kehendak. Yang penting sudah saling sharing/berbagi dan mendengar. Ambil hal-hal positif dari setap pandangan. Ambil sikap pribadi. Hormati Allah. Hormati Roh Kudus. Hormati Tuhan Yesus dan Firman Allah. Rih Kudus memenuhi kita bukan hanya untuk kepentingan pribadi kita sendiri, tetapi untuk memperlengkapi kita bagi pelayanan, membangun Tubuh Kristus, dan memberitakan Injil. Tuhan Yesus memberkati. BMF collections - 2015
  7. 7. vi | Holy Spirit
  8. 8. 1 | H O L Y S P I R I T 1. Ciri-Ciri Orang yang Dipenuhi Roh Kudus Bagaimanakah ciri-ciri dari seseorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus? Taat pada Roh Kudus Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang taat kepada-Nya dengan sepenuh hati. Roh Kudus bukan "Coca-Cola", yang bila diisi sampai penuh akan meluap. Roh Kudus itu Tuhan, Roh Kudus itu Oknum. Hanya pada saat Oknum Allah menguasai oknum kita, kehendak-Nya menguasai kehendak kita, kebenaran-Nya menguasai pikiran kita, cinta kasih-Nya menguasai emosi kita, maka seluruh keberadaan kita akan dipenuhi oleh-Nya karena kita taat. Itulah yang disebut dipenuhi Roh Kudus. Ketika Oknum Allah sudah berada di dalam kita dan menguasai diri kita, pikiran kita tidak dibunuh. Tuhan tidak akan membuat pikiran kita tidak berfungsi, sebaliknya Dia akan memimpin kita, hingga kita menjadi begitu berpengetahuan dan bijaksana, yaitu pengetahuan dan bijaksana yang sesuai dengan firman Tuhan. Lalu, cinta kasih kita bukan lagi mencintai berdasarkan orang yang satu suku dan satu bangsa dengan kita, yang kalau bukan sesuku atau sebangsa, maka kita membencinya. Kita akan dipimpin hingga kita memunyai cinta kasih dan kebencian yang sesuai dengan emosi Tuhan. Kita mencintai yang dicintai Tuhan dan kita membenci yang dibenci-Nya. Kita tidak lagi memedulikan apa suku atau warna kulit orang itu. Kita hanya tahu yang dicintai Tuhan, itulah yang kita cintai, dan yang dibenci Tuhan, itulah yang kita benci. Emosi kita sesuai dengan Tuhan. Kehendak, pilihan, dan kemauan kita sesuai dengan arah pimpinan-Nya. Seluruh keberadaan kita taat pada Roh Kudus yang adalah Tuhan dan Pemimpin kita. Itulah yang disebut dipenuhi Roh Kudus. Jangan mengambil jalan pintas, jangan mengambil fenomena, gejala, atau jalan lain menjadi pengganti yang tidak sesuai dengan prinsip Alkitab.
  9. 9. 2 | H O L Y S P I R I T Hidup Kudus Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang hidupnya telah diubah oleh pengaruh Roh Kudus dan firman, sehingga dia menjadi orang yang suka akan kekudusan. Karena dipenuhi Roh Kudus, dengan sendirinya orang tersebut tidak menyukai hal yang palsu, yang tidak benar, yang tidak suci, dan yang menyeleweng. Semua hal yang tidak beres akan dia singkirkan. Karena Roh Kudus memenuhi dirinya, maka tidak ada sesuatu yang tidak kudus boleh berada di dalam dirinya. Hidup suci yang dimiliki oleh orang yang dipenuhi Roh Kudus tidak dapat ditiru, diimitasikan, dipalsukan, atau dibuat-buat. Suci adalah suci. "Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8) Siapakah di antara kita yang suci? Tidak ada seorang pun yang suci di hadapan Tuhan. Tetapi pada waktu Roh Kudus memenuhi hati kita, paling tidak kita memunyai keinginan untuk menjalani hidup yang suci. Sebelum kita mencapai kualitas kesucian di dalam segala aspek, kita sudah memunyai keinginan yang sempurna. Bila kita mau dibersihkan oleh Tuhan secara total, secara mutlak, dan mau menyerahkan diri kepada-Nya, maka Dia akan memberikan kesucian pada kita, hingga hidup kita memuliakan Dia. Komentar John Calvin mengenai keinginan yang sempurna itu: "Orang suci bukanlah orang yang tanpa dosa, tetapi seseorang yang memunyai kepekaan yang tinggi terhadap dosa sekecil apapun." Sungguh suatu kalimat yang sangat agung! Pada tubuh kita terdapat bagian-bagian yang sangat kebal, sehingga setelah terkena goresan atau tertusuk selama berapa detik, masih belum terasa sakitnya. Ada bagian yang bila terkena api tidak langsung terasa panas. Namun, ada juga bagian yang bila tersentuh sedikit saja sudah langsung terasa karena saraf pada bagian itu sangat peka. Bila tangan kita terkena pasir, bahkan sampai seluruh tangan kita kotor pun tidak menjadi masalah. Tapi, coba sedikit saja debu pasir masuk ke mata kita, tentu kita akan langsung berteriak. Kita tidak akan tahan karena mata merupakan bagian yang sangat peka. Orang suci adalah orang yang memunyai kepekaan besar terhadap dosa yang sekecil
  10. 10. 3 | H O L Y S P I R I T apapun. Seseorang yang dipenuhi Roh Kudus itu sangat peka. Sedikit ketidakberesan, ketidaksucian, atau motivasi yang sedikit kurang benar, akan langsung ditegurnya. Karena kita tidak mau dan hati nurani kita juga tidak menginginkan adanya pemalsuan, kecurangan, penyelewengan, atau ketidakjujuran sedikit pun. Kesucian yang disertai penyerahan total membuktikan orang itu sudah dipenuhi Roh Kudus. Namun, tidak berarti dia sudah luput dari semua dosa. Jangan percaya pada orang yang mengatakan, "Saya sudah dipenuhi Roh Kudus, sebab itu saya mencapai satu taraf di mana saya tidak mungkin berdosa lagi." Stuck datang dari Autralia ke Nongkojajar, Indonesia, untuk memberikan ajaran bahwa dirinya sudah suci, tidak bisa berdosa lagi. Sampai gurunya datang menegur dia, barulah dia bertobat dan mengaku dirinya salah. Tetapi, orang-orang di Indonesia sudah terlanjur banyak yang dipengaruhi olehnya. Sunsight, di California, berbicara banyak tentang Roh Kudus dan kedatangan Kristus. Ia mengatakan bahwa dia sudah mendapat satu pengertian, di mana wahyu Tuhan berkata kepadanya, "Yesus akan datang sebelum dia mati, sehingga dia tidak perlu mati. Dia akan langsung bertemu dengan-Nya pada waktu Dia datang dan mengangkat dirinya." Nyatanya, tak lama kemudian dia mati. Semua itu menunjukkan pengertian yang berlebihan. Mereka telah tertipu oleh setan, tetapi mungkin mereka tidak sadar. Meski mereka kelihatan rohani sekali, hebat sekali, atau suci sekali, tapi sebenarnya mereka sudah keluar dari kebenaran Alkitab. Mungkinkah manusia mencabut akar dosa sampai tidak mungkin berdosa lagi selama hidupnya? Tidak! Kita masih mungkin berbuat dosa, masih mungkin kurang suci, tetapi kita memunyai keinginan untuk sepenuhnya dikuasai oleh Tuhan yang suci. Itulah kesempurnaan di dalam motivasi kita. Itulah kesempurnaan kualitas sebelum kita mencapai kesempurnaan kuantitas, dan itulah tanda orang dipenuhi Roh Kudus.
  11. 11. 4 | H O L Y S P I R I T Menjunjung Tinggi Firman Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang menjunjung tinggi Alkitab dan tidak akan memperdebatkannya. Ketika Alkitab sudah berbicara, dia akan berhenti. Di antara pengertian yang berbeda-beda, di antara ajaran yang simpang siur, dan doktrin yang berbeda-beda tekanannya, mari kita kembali kepada Alkitab. Biarlah Alkitab yang memberikan pengertian yang seimbang dan stabil berdasarkan seluruh firman yang sudah dicetak, yang sudah diberikan kepada kita. Dengan pengertian yang harmonis itulah kita tahu ada jawaban dalam Alkitab. Lalu kita bungkam, berhenti, dan tidak mendebatnya karena Alkitab adalah otoritas tertinggi. Jangan menambahkan isi Alkitab dengan konsili-konsili, atau doktrin-doktrin, atau tradisi-tradisi yang ada di dalam buku manusia. Yesus berkata, "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." Bila pada suatu hari kita menemukan buku teologi apapun, yang mengemukakan doktrin yang memberi peluang untuk memperbaiki Alkitab, kita harus meninggalkan buku tersebut dan kembali kepada Alkitab. Bila suatu saat kita menemukan hal-hal yang belum dikatakan dengan jelas dalam khotbah yang disampaikan, bahkan oleh pengkhotbah yang kita sukai sekalipun, kembalilah kepada Alkitab, bukan kepada khotbah tersebut. Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang hatinya dipenuhi dengan firman dan segala hikmat Tuhan yang tersimpan di dalam kekayaan firman-Nya. Jadi, Roh Kudus dan firman tidak bisa dipisahkan karena Roh Kudus adalah Roh kebenaran. Orang yang menyebut diri mengabarkan kebenaran, tapi tidak menitikberatkan Roh Kudus dan pimpinan-Nya, adalah omong kosong belaka. Orang yang mengaku diri dipenuhi Roh Kudus, tetapi berita yang disampaikan tidak sesuai dengan firman, itu pun omong kosong. Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang menitikberatkan kehendak dan pimpinan Roh Kudus atas dirinya serta menyampaikan berita yang sesuai dengan Alkitab. Kedua hal ini menjadi satu. Ketika dia memberitakan, Roh mengurapi, karena itu berita yang dia sampaikan menjadi jelas sesuai dengan Alkitab.
  12. 12. 5 | H O L Y S P I R I T Memberitakan Injil Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang mementingkan Injil dan pengabarannya. Untuk itulah Roh Kudus diturunkan ke dunia. Roh Kudus diberikan untuk memuliakan Kristus. Bapa mengirim Roh Kudus untuk memuliakan Anak, karena Anak pernah dipermalukan, dihina, diejek, difitnah, diumpat, dijual, dihakimi secara tidak adil, bahkan akhirnya dipaku di kayu salib. Keadaan pernah dipermalukan itu perlu dinormalisasi, dipulihkan kembali, karena semua itu tidak seharusnya diterima oleh Anak. Siapa yang mengerjakan semua itu? Roh Kudus. Roh Kudus akan membawa Anak kembali pada kemuliaan asli yang ada pada-Nya; mengembalikan kemuliaan Kristus. Yesus berkata, "Dengan sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika Aku tidak pergi, maka Penghibur itu tidak akan datang kepadamu. Jika Roh Kudus datang, Dia akan memuliakan Aku" (Yohanes 16:13-14). Jadi, Roh Kuduslah yang akan mempermuliakan Kristus. Bagaimana kita mengetahui Roh Kudus bekerja dengan hebat di dalam satu kebaktian? Tatkala Yesus ditinggikan, dosa dinyatakan, dan orang mulai ditegur dosanya, lalu bertobat dan kembali kepada Kristus. Saat itulah kita melihat Roh Kudus bekerja. Yang membuat semua kemungkinan ini terjadi adalah bila pengkhotbahnya mengutamakan kematian dan kebangkitan Kristus, meninggikan Kristus, dan memberitakan Injil-Nya. Ketaatan pengkhotbah itulah yang membuat Roh Kudus mengurapi, mendampingi, menyertai, dan memenuhi kebaktian yang dipimpinnya. Itu yang disebut kepenuhan Roh Kudus. Dengan motivasi memuliakan Kristus, menjunjung tinggi Kristus yang pernah dihina, disalib, dan akhirnya dibangkitkan kembali, Roh Kudus pasti mengurapi dan memimpin kebaktian yang dipimpinnya. Kalau seseorang menjunjung tinggi Kristus dalam sepanjang hidupnya, berarti dia terus-menerus menyatakan diri dipenuhi Roh Kudus, dan saat dirinya dipenuhi Roh Kudus, dia kembali meninggikan Kristus. Berani Menjalankan Kehendak Allah Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang berani, yang tidak takut menjalankan kehendak Allah. Sebelum seseorang dipenuhi Roh Kudus, dia merasa terkejut dan takut ketika melihat penganiaya- penganiaya mendekati dirinya. Seperti murid-murid Yesus Kristus yang
  13. 13. 6 | H O L Y S P I R I T mengunci semua pintu karena takut. Tetapi setelah mereka dipenuhi Roh Kudus, mereka justru membongkar pintu, membuang kunci, dan pergi ke mana saja, tanpa merisaukan apakah masih dapat pulang atau tidak. Kira-kira 26 tahun yang lalu, saya pernah mendengar kalimat senada dari seseorang, "Saya sering pergi ke Eropa Timur. Pada waktu itu, komunisme di Rusia begitu kejam, KGB menangkap dan menganiaya semua orang yang mengabarkan Injil." Ketika saya berada di Rusia, seorang pendeta bercerita bahwa mereka yang berada di kota Minsk ini mendapat penganiayaan secara halus. Maksudnya, KGB selalu menyiarkan di TV, bahwa orang Kristen Injili bukanlah orang yang beragama Kristen. Mereka adalah bidat di dalam kekristenan, kadang-kadang mereka membunuh anak-anak kecil. Jadi, penganiayaan tidak dijalankan dengan menangkap, memukul, dan memenjarakan hamba-hamba Tuhan. Penganiayaan dilakukan dengan memberikan topi dan kalimat-kalimat yang membuat rakyat membenci dan meninggalkan orang Kristen. Mereka diisukan sebagai orang yang paling kejam, tidak berperikemanusiaan, bahkan sampai membunuh anak-anak, dan diisukan bukan sebagai orang Kristen yang sejati. Sebab itu, sulit sekali bagi mereka untuk mengabarkan Injil karena orang-orang tidak percaya. Itulah yang dimaksud dengan penganiayaan secara halus. Orang yang dipenuhi Roh Kudus memunyai keberanian. Yang tadinya takut mati sekarang tidak, yang tadinya malu sekarang tidak, yang tadinya takut dilawan sekarang tidak, yang tadinya takut kehilangan pangsa pasar sekarang tidak. Dia tahu bahwa dia sedang menjalankan kebenaran. Petrus pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali dengan berkata, "Aku tidak mengenal Dia." Itulah mulut manusia, mulut yang baru saja mengaku, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang Hidup." Mengapa kalimat seperti itu bisa keluar dari Petrus? Bukankah dia pendeta besar, rasul yang paling penting, bahkan kepala rasul, kardinal, dan uskup dari kedua belas rasul? Mengapa Petrus sampai berani mengatakan ia tidak mengenal Kristus? Itulah manusia. Kalau untuk mendapat untung, dia pasti segera mengatakan "ya". Tetapi, kalau rugi, pasti menjawab "tidak". Pada saat keadaan kebebasan beragama dijamin, maka orang akan mengumumkan dirinya sebagai
  14. 14. 7 | H O L Y S P I R I T orang Kristen. Tetapi kalau Pancasila sudah tidak berlaku, kalau kekristenan akan dibasmi, kalau musuh orang Kristen datang untuk menangkap semua orang Kristen, mereka segera beralih mengaku diri sebagai orang yang memeluk agama lain, bukan orang Kristen. Itulah manusia, tak peduli apakah dia adalah uskup dunia. Petrus adalah kepala rasul atau pemimpin agama. Waktu keuntungan datang, semua mengikut Yesus. Waktu kerugian datang, salib dibuang, Alkitab dibuang, berubah menjadi orang yang tidak berani mengaku dirinya sebagai orang yang mengenal Yesus. Yesus tidak menegur Petrus, tetapi memandangnya dengan pandangan yang penuh kemurahan, seolah berkata, "Ingatlah, Aku sudah tahu semua tentang hidupmu, tentang dagingmu yang lemah, karena kau belum dipenuhi Roh Kudus." Setelah dipenuhi Roh Kudus, Petrus berubah. Ketika dia ditangkap dan diancam akan dianiaya, ketika dia disuruh berhenti dan dilarang mengabarkan Injil, dia menjawab, "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah? Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata- kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." Keberanian yang sekarang Petrus miliki adalah keberanian demi Injil, dia tidak lagi memperhitungkan untung rugi dan mati hidup dirinya sendiri. Saya mengenal banyak orang Kristen yang tadinya sangat pemalu dan penakut. Tapi sekarang, tiap-tiap hari mereka membagikan traktat dan mendoakan orang sakit. Saya tahu orang seperti itu telah dipenuhi Roh Kudus. Saya percaya orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang memunyai keberanian, cinta kasih, kesungguhan untuk melayani, dan selalu siap memuliakan Allah. Meskipun dia begitu sibuk, dia tetap bisa melayani karena telah dipenuhi Roh Kudus. Oleh sebab itu, dia tidak merasa malu. Diejek pun tidak menjadi masalah baginya. Ibu saya menjadi janda pada umur 33 tahun. Saat itu dia berlutut dan berdoa, berjanji seumur hidup tidak akan menikah lagi. Ia bertekad membesarkan kedelapan anak yang telah Tuhan berikan kepadanya. Pada zaman Jepang menjajah Indonesia, sangat tidak gampang mencari makan. Selain menjadi ibu, ia harus merangkap menjadi bapak. Memang berat baginya, tetapi dia masih memunyai waktu 1 hari
  15. 15. 8 | H O L Y S P I R I T dalam seminggu untuk berpuasa. Dan selama berpuluh-puluh tahun, dengan mengenakan baju putih, ia menyisihkan 1 hari dalam seminggu, meninggalkan semua pekerjaan dan keluarganya untuk pergi mengabarkan Injil. "Mengapa setiap pergi Ibu selalu membawa bungkusan?" Saya bertanya karena saya merasa keluarga kami sendiri kekurangan. Jawabnya, "Ketika saya membesuk, saya menemukan banyak orang yang lebih miskin dari kita, maka saya memberikan sedikit beras dan gula kepada mereka." Orang yang dipenuhi Roh Kudus dipenuhi oleh keberanian dan cinta kasih terhadap sesama. Menghasilkan Buah Roh Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang menghasilkan buah Roh. Menghasilkan buah Roh Kudus adalah bukti atau fakta yang tidak bisa dipalsukan. Alkitab mengatakan, "... dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" (Matius 7:20). Kalau sebatang pohon disebut pohon ara, tentunya tidak akan membuahkan semak duri, bukan? Bisakah kita menemukan buah ara di semak duri, bisakah kita menemukan buah anggur di atas semak? Tidak mungkin. Semak menghasilkan semak, durian menghasilkan durian, semangka menghasilkan semangka, anggur menghasilkan anggur, tetapi semak duri tidak akan menghasilkan buah mangga. Roh Kudus memenuhi seseorang, maka orang itu akan menyatakan hidup dengan etika yang baru, yaitu etika dari Roh Kudus. Hal ini tidak bisa dipalsukan. Bukan saja demikian, orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang penuh dengan cinta kasih Allah. Dengan cinta kasih yang memenuhi hatinya itulah dia tahu bagaimana membagi-bagikan anugerah surgawi, anugerah untuk hidup di dunia, dan anugerah yang cukup untuk tiap- tiap hari kepada orang lain. Orang yang dipenuhi Roh Kudus, tidak akan melalui hidupnya dengan hanya memikirkan dirinya sendiri. Roh Kudus akan menolong dia meninggalkan hidup yang berpusat pada diri sendiri dan menerima hidup yang berpusat pada kemuliaan Tuhan. Roh Kudus tidak akan memperbolehkan seseorang hidup bagi dirinya sendiri, karena kasih Kristus akan mendorongnya, sehingga dia mau hidup bagi Dia yang sudah mati dan bangkit baginya. Siapakah yang melakukan hal itu? Roh Kudus. Paulus di dalam Filipi 2:13 berkata, "karena Allahlah yang
  16. 16. 9 | H O L Y S P I R I T mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya." Allah yang bekerja di dalam diri kita adalah Allah Oknum ketiga Tritunggal, Roh Kudus. Dia berada dalam diri seseorang dan membuat cinta kasih yang tadinya tidak mungkin kita miliki, menjadi mungkin. Kasih memenuhi hati kita. Bukan saja demikian, Roma 5:5-6 mengatakan bahwa pada waktu kita berada dalam sengsara dan penderitaan, Roh Kudus mencurahkan sesuatu secara merata dalam hati kita. Apa yang dicurahkan? Cinta kasih Allah. Ketika Roh memenuhi seseorang, maka cinta kasih Allah akan memenuhi hatinya. Tatkala Roh memenuhi seseorang, dia tidak akan digoyahkan oleh penderitaan, siksaan, sengsara, kematian, dan kesulitan duniawi karena cinta kasih Allah dicurahkan merata di dalam hatinya. Dengan cinta kasih itulah dia mengatasi segala penderitaan dan kesulitan. Itulah ciri-ciri orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Alkitab memberikan prinsip-prinsip yang jauh berbeda dari apa yang sering dikumandangkan pada zaman ini. Hendaknya kita lebih waspada dan cermat menguji setiap roh, sehingga kita tidak terjerumus ke dalam ajaran-ajaran yang tidak benar. Diambil dan disunting seperlunya dari: Judul buku : Roh Kudus, Doa, dan Kebangunan Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta 1995 Halaman : 99 -- 110
  17. 17. 10 | H O L Y S P I R I T 2. Penuh Dengan Roh Kudus oleh: Pdt. Budi Asali M.Div. Kis 2:1-4 “(1) Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. (2) Tiba- tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; (3) dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. (4) Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya”. Ef 5:18 “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh”. I) Penuh Roh Kudus berbeda dengan dibaptis Roh Kudus. 1) Baptisan Roh Kudus adalah penerimaan Roh Kudus. Ini hanya terjadi sekali saja, karena sekali Roh Kudus itu masuk, Ia tidak akan keluar selama-lamanya. Dalam Yoh 14:16 Yesus berkata: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya”. Tetapi kepenuhan Roh Kudus bisa terjadi berulang-ulang. Ini terlihat dari fakta Kitab Suci bahwa Petrus mengalami kepenuhan Roh Kudus berulang-ulang (Kis 2:4 Kis 4:8 Kis 4:31). 2) Baptisan Roh Kudus terjadi pada saat percaya (Kis 2:38 Ef 1:13), kepenuhan Roh Kudus belum tentu terjadi pada saat percaya.
  18. 18. 11 | H O L Y S P I R I T Kis 2:38 - “Jawab Petrus kepada mereka: „Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Kata-kata ‘karunia Roh Kudus’ tidak berarti ‘karunia dari Roh Kudus’, tetapi ‘karunia berupa Roh Kudus’. Ef 1:13 - “Di dalam Dia kamu juga - karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu - di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu”. Memang dalam Kis 2:4 orang-orang yang menerima baptisan Roh Kudus itu langsung dipenuhi dengan Roh Kudus. Tetapi tidak selalu terjadi seperti itu. Jaman sekarang dalam kalangan Pentakosta / Kharismatik, orang- orang mencari baptisan Roh Kudus. Tetapi Kitab Suci tidak pernah memerintahkan kita untuk mencai baptisan Roh Kudus, atau memerintahkanh kita untuk dibaptis Roh Kudus. Kitab Suci hanya memerintahkan kita untuk percaya kepada Yesus Kristus. Mengapa? Karena kalau kita percaya kepada Yesus Kristus, maka kita pasti akan dibaptis Roh Kudus / menerima Roh Kudus. Tak perlu dicari lagi! II) Penuh Roh Kudus dan mabuk anggur. Persamaan antara penuh Roh Kudus dan mabuk oleh anggur: sama- sama dipengaruhi (under the influence). Perbedaannya: kalau penuh Roh Kudus ada ‘self-control’ (= penguasaan diri); sedangkan kalau mabuk justru kehilangan penguasaan diri. Perhatikan kata-kata ‘anggur menimbulkan hawa nafsu’. Banyak gadis yang kehilangan kegadisannya karena pengaruh minuman keras. Banyak orang yang dalam keadaan mabuk melakukan hal-hal, yang dalam keadaan waras pasti tidak dilakukannya. Jadi orang kehilangan penguasaan dirinya kalau sedang mabuk. Tetapi
  19. 19. 12 | H O L Y S P I R I T orang yang penuh dengan Roh Kudus pasti justru menunjukkan buah Roh Kudus, dan ini antara lain adalah penguasaan diri. Dalam Kis 2 orang-orang penuh Roh Kudus dan lalu berbahasa Roh. Kis 2:13 - “Tetapi orang lain menyindir: „Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.‟”. Mereka dikatai sebagai mabuk anggur, tetapi ini hanya ‘menyindir’. NIV: ‘made fun of them’ (= mempermainkan mereka); NASB: ‘mocking’ (= mengejek). Kis 2:14-15 - “Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: „Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan”. Dalam Kis 2:14-15 Petrus menyangkal tuduhan mabuk itu. Jadi jelas bahwa ‘mabuk’ berbeda dengan ‘penuh Roh Kudus’. Tetapi ‘orang-orang yang mengaku penuh Roh Kudus’ pada jaman ini seperti ‘orang mabuk’. Misalnya: nggeblak, berguling-guling di lantai, histeris, tertawa terbahak-bahak dan sebagainya. Tetapi bdk. 1Kor 14:23 - “Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?”. Mengapa Paulus mengatakan seperti ini? Apakah memang kalau orang- orang kristen berbahasa roh mereka terlihat seperti orang gila? Saya berpendapat: kalau bahasa Rohnya benar, seperti dalam Kis 2, maka tidak demikian. Tetapi bahasa Roh dari orang-orang Kristen di Korintus sama seperti bahasa Roh jaman sekarang. Yang ini memang terlihat seperti orang gila / mabuk!
  20. 20. 13 | H O L Y S P I R I T III) Penuh Roh Kudus dan bahasa Roh Kebanyakan orang Kharismatik menganggap bahwa semua orang kristen yang dibaptis Roh Kudus, apalagi yang penuh Roh Kudus, pasti berbicara dalam bahasa Roh. Dasar Kitab Suci yang sering dipakai adalah Kis 2:1-4 - “(1) Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. (2) Tiba- tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; (3) dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. (4) Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya”. Dalam menafsirkan bagian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) Dalam Kitab Suci ada bagian yang bersifat Descriptive dan Didactic. a) Bagian Kitab Suci yang bersifat Descriptive (= bersifat menggambarkan). Bagian yang bersifat Descriptive adalah bagian yang berupa cerita yang terjadi sungguh-sungguh dan bersifat menggambarkan apa yang terjadi pada saat itu. Ini tidak boleh dipakai sebagai rumus / hukum / norma! Illustrasi: Dalam hal ini, membaca dan menafsirkan Kitab Suci mempunyai persamaan dengan membaca dan menafsirkan surat kabar. Kalau saudara membaca surat kabar, dan di sana diceritakan tentang adanya orang yang terkena serangan jantung pada waktu nonton TV, maka hal ini tentu bukan norma / hukum. Cerita ini tentu tidak boleh ditafsirkan seakan-akan semua orang yang nonton TV pasti terkena serangan jantung. Juga kalau di surat kabar diceritakan adanya satu keluarga yang piknik ke Tretes dan lalu mengalami kecelakaan, sehingga mati semua. Ini tentu tidak boleh
  21. 21. 14 | H O L Y S P I R I T ditafsirkan seakan-akan semua orang yang piknik sekeluarga akan mengalami kecelakaan dan mati semua. Contoh:  Kel 14, yang menceritakan peristiwa dimana Allah membelah Laut Teberau sehingga bangsa Israel bisa menyeberang di tanah kering, adalah suatu bagian yang bersifatDescriptive (menggambarkan apa yang terjadi pada saat itu). Ini bukan rumus / norma / hukum, artinya, kita tidak diperintahkan untuk menyeberangi laut dengan cara seperti itu!  Yos 6 yang menceritakan robohnya tembok Yerikho setelah dikelilingi selama 7 hari juga merupakan bagian yang bersifat Descriptive, sehingga tidak boleh dijadikan hukum / norma dalam peperangan.  Kel 16:13-16 yang menceritakan pemberian manna kepada bangsa Israel di padang gurun, jelas juga merupakan bagian yang bersifat Descriptive, sehingga tidak boleh dijadikan sebagai rumus / norma dalam kehidupan orang kristen di padang gurun. b) Bagian Kitab Suci yang bersifat Didactic (= bersifat pengajaran). Bagian yang bersifat Didactic adalah bagian yang bersifat pengajaran (Yunani: DIDACHE), dan bisa berbentuk suatu pernyataan, janji, perintah atau larangan. Ini adalah rumus / hukum / norma bagi kita. Contoh:  Kis 16:31 yang berbunyi “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat” adalah bagian yang bersifat Didactic. Karena itu, ini merupakan hukum / norma, artinya setiap orang yang percaya kepada Yesus pasti selamat.
  22. 22. 15 | H O L Y S P I R I T  Fil 4:4 yang berbunyi “Bersukacitalah senantiasa” adalah bagian yang bersifat Didactic. Ini adalah hukum / norma bagi kita, yang menyuruh kita bersukacita senantiasa.  10 Hukum Tuhan dalam Kel 20:3-17 merupakan bagian yang bersifat Didactic, sehingga merupakan Hukum / Norma bagi kita semua. Jadi, pada waktu mendengar suatu khotbah / ajaran, telitilah apakah text yang dipakai sebagai dasar itu adalah text yang bersifat descriptive atau didactic! Ini bisa menghindarkan saudara dari ajaran-ajaran yang salah / sesat! Jaman sekarang, khususnya dalam kalangan Pentakosta / Kharismatik, karena kurangnya / tidak adanya pengertian tentang Hermeneutics, yang menyebabkan mereka tidak membedakan antara bagian yang bersifat Descriptive dan bagian yang bersifat Didactic, maka ada banyak pengajaran salah yang ditimbulkan karena mereka menggunakan bagian yang bersifat descriptive sebagai rumus / hukum / norma, seolah-olah itu adalah bagian yang bersifat didactic. Kis 2:1-4 menceritakan apa yang terjadi pada hari Pentakosta dimana rasul-rasul kepenuhan Roh Kudus lalu berbahasa Roh / lidah. Ini adalah bagian yang bersifat Descriptive, tetapi banyak orang yang lalu menjadikan hal ini sebagai rumus / hukum / norma dan mereka mengajar bahwa orang yang menerima / dipenuhi Roh Kudus harus berbahasa Roh / lidah. Ini jelas salah, karena mereka menggunakan bagian yang bersfat descriptive sebagai rumus / norma, seakan-akan itu adalah bagian yang bersifat didactic. 2) Ajaran tersebut tidak konsekwen karena mereka mengharuskan bahasa Rohnya saja, tetapi tidak mengharuskan adanya tiupan angin yang keras dan lidah-lidah api, yang jelas juga ada dalam bacaan itu (Kis 2:2-3). Memang bahasa rohnya gampang dipalsukan, tetapi tiupan angin dan lidah api sukar / tidak dapat dipalsukan!
  23. 23. 16 | H O L Y S P I R I T 3) Ayat Kitab Suci tak boleh ditafsirkan sehingga bertentangan dengan ayat Kitab Suci yang lain. Kalau Kis 2:1-4 ditafsirkan bahwa semua orang Kristen harus berbahasa roh, maka itu bertentangan dengan 1Kor 12:7-11,28-30. 1Kor 12:7-11,28-30 - “(7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (8) Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (11) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya. ... (28) Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. (29) Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, (30) atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?”. 1Kor 12:7-11,28-30 ini bersifat didactic dan mengajarkan bahwa hanya sebagian orang kristen yang menerima karunia bahasa Roh. Karena 1Kor 12:7-11,28-30 bersifat didacticmaka bagian inilah yang harus dianggap sebagai norma / hukum / rumus! IV) Hendaklah kamu penuh dengan Roh Kudus. 1) Kata-kata ini merupakan suatu perintah!
  24. 24. 17 | H O L Y S P I R I T 2) Kata perintah itu ada dalam bentuk jamak. Jadi ini ditujukan kepada semua orang Kristen, bukan orang Kristen tertentu saja. Juga kepenuhan Roh Kudus tersedia bagi semua orang Kristen. 3) Kata perintah itu ada dalam bentuk pasif. Jadi Roh Kudus yang memenuhi, kita dipenuhi. Ini tidak berarti bahwa kita harus diam saja (pasif). Kita harus taat Firman Tuhan / membuang dosa, maka Roh Kudus akan memenuhi kita. Ilustrasi: saya jadi tamu di rumah saudara. Saudara hanya ijinkan saya di ruang tamu, atau serahkan kekuasaan atas seluruh rumah kepada saya. Bagaimana kalau saudara suatu saat berbuat dosa dengan sengaja? Kepenuhannya berkurang. Tetapi apakah Roh Kudus keluar lagi dari diri saudara? Ada orang-orang yang mengajar demikian. Sehingga kita harus mengundang Yesus lagi, lalu Roh Kudus masuk lagi dan sebagainya. Tetapi di atas saya sudah menunjukkan bahwa itu tidak mungkin. Roh Kudus diberikan satu kali untuk selama-lamanya. Dalam Yoh 14:16 Yesus berkata: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya”. Ibr 13:5 - “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: „Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau danAku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.‟”. Di atas kayu salib Yesus sudah terpisah dari BapaNya, yaitu pada saat Ia berteriak ‘AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’ (Mat 27:46). Ini menyebabkan, kalau kita percaya kepada Dia, kita didamaikan dengan Allah (Ro 5:1), dan kita tidak mungkin bisa pisah dengan Allah lagi.
  25. 25. 18 | H O L Y S P I R I T Ro 5:1 - “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus”. Jadi kalau kita dosa, kepenuhan Roh Kudus bisa berkurang, tetapi Roh Kudus tidak keluar dari diri kita. Yang harus dilakukan hanyalah bertobat dari dosa, maka Roh Kudus akankembali memenuhi kita. 4) Kata perintah ini ada dalam bentuk present. Dalam bahasa Yunani ada 2 macam kata perintah:  Aorist Imperative (= kata perintah bentuk lampau). Ini digunakan bila orang yang memerintah itu menginginkan perintahnya dilakukan satu kali saja. Contoh: kata ‘percayalah’ dalam Kis 16:31, kata ‘bertobatlah’ dan‘hendaklah kamu memberi dirimu dibaptis’ dalam Kis 2:38.  Present Imperative (= kata perintah bentuk present). Ini digunakan bila orang yang memerintah itu menginginkan perintahnya dilakukan terus menerus. Contohnya adalah perintah untuk dipenuhi oleh Roh Kudus dalam Ef 5:18b. Jadi, berusahalah untuk terus menerus taat kepada Tuhan, supaya saudara terus dipenuhi dengan Roh Kudus.
  26. 26. 19 | H O L Y S P I R I T 3. BAPTISAN DAN KEPENUHAN ROH Penulis: Daniel Lucas, S.Th. A. PENDAHULUAN B. PANDANGAN ALIRAN TERTENTU TENTANG BAPTISAN DAN KEPENUHAN ROH C. TANGGAPAN DAN KRITIK D. PENUTUP DAFTAR BAHAN ACUAN A. PENDAHULUAN Tema-tema sekitar Roh Kudus dan pekerjaan-Nya agaknya masih tetap relevan dan tetap hangat untuk diperbincangkan sampai akhir abad ini. Fakta demikian perlu kita syukuri bersama. Hal tersebut tidak lain merupakan pertanda adanya kepekaan di kalangan pimpinan gereja untuk mengangkat topik ini ke permukaan. Kita menyaksikan bahwa banyak berkat sungguh-sungguh diperoleh, bukan semata-mata karena topik itu dibicarakan, tetapi saya percaya hal ini juga merupakan berkat tersendiri dari Pribadi Roh Kudus.
  27. 27. 20 | H O L Y S P I R I T Di samping itu, akhir-akhir ini cukup banyak terdengar orang memberikan kesaksian bahwa mereka telah mengalami kelepasan yang baru, mendapatkan sukacita yang tak terhingga setelah mereka merasakan "pengalaman kedua", "berkat tambahan" di luar pengalaman kelahiran baru ketika menerima Kristus sebagai Juruselamat. Tuhan menjadi lebih dekat dan lebih nyata, kedamaian yang dirasakan datang berlipat ganda, kuasa dan kemenangan selalu menjadi berita yang hangat setelah mendapatkan sentuhan dari Roh Kudus, demikian pengakuan mereka. Pengalaman tersebut menjadi lebih kontras apabila dibandingkan dengan sebagian gereja yang mengalami kelesuan, kekuranggairahan, lunturnya kasih jemaat, kehilangan kuasa dan kemenangan, dan sebagainya. Dari sisi lain boleh di kata bahwa sebenarnya pengalaman mistis ini juga secara langsung merupakan reaksi internal terhadap gejala formalisme, dogmatisme, hirarkisme, tradisionalisme serta institusionalisme yang memang kerapkali sedikit banyak dapat kita jumpai di dalam gereja. Sekali lagi, kita perlu mengucap syukur apabila ke alamat gereja datang berbagai koreksi, kritik, atau usaha penyadaran. Sebab ini merupakan pertanda akan adanya kemajuan, kedewasaan dan keterbukaan, - serta kalau perlu pembaruan. Tetapi, bersamaan dengan itu, harus pula secepatnya kita bertanya: Apakah dasar yang melatarbelakangi kritik atau koreksi itu benar dan alkitabiah? Apakah reaksi atau gejala 'counter' tersebut bisa dipertanggungjawabkan seluruhnya di bawah terang prinsip firman Tuhan? Dari sudut inilah saya mengajak kita melihat secara ringkas pengertian tentang baptisan dan kepenuhan Roh.
  28. 28. 21 | H O L Y S P I R I T B. PANDANGAN ALIRAN TERTENTU TENTANG BAPTISAN DAN KEPENUHAN ROH Orang yang berpandangan bahwa baptisan Roh merupakan "second blessing" (berkat kedua) umumnya menganggap kelahiran baru di dalam Kristus, atau pertobatan orang Kristen, atau percaya dan menerima Kristus sebagai Juruselamat belumlah cukup apabila orang Kristen itu belum mengalami baptisan Roh yang manifestasinya terlihat di dalam karunia-karunia tertentu yang spektakuler, seperti misalnya berbahasa lidah, bernubuat atau berkarunia penyembuhan. Manifestasi itu merupakan akibat atau hasil dari baptisan Roh, yaitu yang disebut dengan istilah "kepenuhan Roh." Sekalipun demikian, kebanyakan mereka menyamakan istilah "baptisan" itu dengan istilah-istilah: "dipenuhi" atau "penuh" (Kis. 2:4), "menerima" (Kis. 2:38), "dimeteraikan" (Ef. 1:13), atau "diurapi" (2 Kor. 1:21). Dalam hal ini - untuk membedakannya dengan istilah kelahiran baru - mereka menjelaskan lebih lanjut bahwa "Di dalam kelahiran baru Roh Kuduslah yang bekerja aktif, sarananya adalah darah penebusan, hasilnya kelahiran baru; tetapi di dalam baptisan Roh, Kristuslah yang bekerja aktif, sarananya adalah Roh, hasilnya adalah mendapatkan kuasa (dari atas)" (Bruner, A Theology of the Holy Spirit, h. 60). Pandangan kompleks seperti di atas bisa timbul karena mereka menganggap semua ayat di dalam Matius 3:11, Markus 1:7-8, Lukas 3:16, Yohanes 1:33; dan Kisah 1:5 ditujukan (atau diucapkan) kepada orang-orang atau murid-murid yang
  29. 29. 22 | H O L Y S P I R I T pada saat itu sudah percaya, sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka. Jadi, jikalau kepada orang Kristen pertama dan murid-murid yang sudah percaya itu masih perlu ditambahkan pengalaman baptisan Roh, itu berarti sebelum mereka dibaptis oleh Roh mereka adalah orang Kristen yang masih "kekurangan" sesuatu. Fakta lain yang mereka ambil sebagai contoh adalah kasus-kasus yang cukup menyolok di dalam kitab Kisah Para Rasul. Peristiwa di dalam Kisah 2:4; 2:38; 8:4- 25; 19:1-7 dianggap sebagai materi yang sangat kuat untuk menarik kesimpulan bahwa semua orang Kristen yang sudah bertobat atau menerima Kristus belum menjadi orang Kristen yang lengkap, utuh dan berkuasa. Kenyataan itu membuktikan bahwa mereka masih kekurangan sesuatu, dan oleh karena itu perlu mengalami baptisan Roh sesudah pertobatan. Yang dimaksud dengan "masih kekurangan sesuatu" adalah absennya pola hidup yang berkemenangan, penuh sukacita, keberanian bersaksi yang berlipat ganda, kuasa untuk melayani serta karunia-karunia spektakuler lainnya. Tetapi umumnya tekanan yang dimasukkan adalah pada kuasa yang dinamis untuk melayani, terutama seperti yang disebutkan dalam Kisah 1:8. Dalam hal-hal seperti inilah saya rasa di kalangan mereka secara obyektif kita dapat menyaksikan buah serta realitanya. Mudah-mudahan ini merupakan koreksi atau kritik mereka yang ikut membangun gereja kita jikalau di dalamnya betul-betul nampak "kekurangan" sesuatu. C. TANGGAPAN DAN KRITIK Sekalipun kita melihat dan mengakui bahwa di dalam koreksi dan kritik mereka yang menekankan perlunya pengalaman baptisan Roh ada obyektif serta realitanya, kita tetap perlu menyatakan ketidaksetujuan dan kritik atas sebagian pandangan mereka.
  30. 30. 23 | H O L Y S P I R I T Secara global, orang yang berpandangan bahwa baptisan Roh merupakan "second blessing"-nya Roh sebenarnya paling sedikit keliru dalam dua segi. Pertama, kekeliruan historis, yaitu keliru di dalam melihat dan mengartikan pengalaman para Rasul khususnya dan sejarah Gereja pada umumnya. Sebab apabila kita menyelidiki dengan teliti pengalaman para Rasul, Bapa-bapa Gereja dan sejarah Gereja pada umumnya boleh di kata hampir tidak ada yang berpandangan ekstrim tentang baptisan Roh, kecuali beberapa gerakan sektaris atau separatis yang memisahkan diri dari gereja induk (untuk bagian historisnya tidak saya ketengahkan di dalam makalah ini). Kekeliruan kedua adalah kekeliruan eksegetikal dan hermeneutikal, yaitu keliru di dalam menetapkan arti yang tepat dari pernyataan firman Tuhan serta keliru di dalam membangun prinsip-prinsip penafsirannya. Misalnya, salah satu prinsip umum di dalam menafsirkan firman Tuhan adalah "tafsirkanlah setiap nas sesuai dengan ajaran Alkitab secara menyeluruh". Langkah-langkahnya adalah kita harus membandingkan suatu nas dengan nas-nas lain dalam kitab yang sama, kemudian dengan nas-nas lain dalam kitab yang ditulis oleh penulis yang sama, selanjutnya dengan nas-nas lain dalam Perjanjian yang sama, sampai ke seluruh isi Alkitab. Patokannya adalah: nas yang jelas menafsirkan nas yang kurang jelas atau lebih rumit. Contohnya, apabila kita membaca Kisah 2:38 dapat timbul kesan seakan- akan sesudah dibaptislah baru seseorang mendapatkan pengampunan dosa. Namun dari kitab yang sama (Kisah 10:43) dikatakan bahwa "barangsiapa percaya kepada Kristus, ia akan mendapat pengampunan dosa." Selanjutnya penulis yang sama, yaitu Lukas, dalam bagian yang lain dari tulisannya (Lukas 24:46-48) tidak menyebutkan syarat baptisan untuk mendapatkan pengampunan dosa. Jadi, kita kembali lagi kepada nas yang semula, yaitu Kisah 2:38. Kita selidiki kembali. Ternyata, melalui penyelidikan bahasa aslinya, kata "untuk" di sana lebih tepat digantikan dengan kata "karena (pengampunan dosamu)." Sehingga ketidakjelasan ayat dalam Kisah 2:38 menjadi terpecahkan.
  31. 31. 24 | H O L Y S P I R I T Langkah-langkah seperti di atas juga perlu ditempuh pada waktu kita hendak meneliti ajaran tentang baptisan dan kepenuhan Roh. Ketika muncul istilah "...kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus", kita perlu bertanya: Apa artinya "dibaptis dengan Roh Kudus" di sini? Apakah ada hubungannya dengan istilah "...penuhlah mereka dengan Roh Kudus" dalam Kisah 2:4? Bila ada hubungan, hubungan yang bagaimana? Apakah kedua istilah itu sama artinya? Bila sama, mengapa dikatakan bahwa Paulus pernah dua kali tercatat "penuh dengan Roh Kudus" (Kisah 9:17; 13:9), demikian pula Petrus (Kisah 2:4; 4:8)? Apakah ini juga berarti kedua Rasul itu pada saat itu juga dibaptis oleh Roh Kudus dua kali? Bukankah peristiwa baptisan Roh merupakan kejadian yang satu kali untuk selamanya pada diri seseorang (an unrepeated operation, a completed past action, once and for all); jelas pula, apabila kita bandingkan dengan 1 Korintus 12:13 yang memberikan indikasi kuat bahwa baptisan Roh merupakan peristiwa yang terjadi satu kali untuk selamanya dalam diri orang percaya. Lihat bentuk "aorist tense" pada kata-kata "telah dibaptis". Bukankah kepenuhan Roh merupakan suatu keadaan yang dapat terjadi secara berulang-ulang dalam diri seseorang (perhatikan kejadian yang dicatat pada diri Paulus dan Petrus tadi; bandingkan juga dengan Efesus 5:18 yang dicatat dalam bentuk "present tense, imperative, passive" yang mengindikasikan adanya suatu perintah atau tuntutan yang harus terjadi terus-menerus serta berulang-ulang dengan dorongan pribadi Roh yang bekerja di belakangnya)? Pernyataan di atas sudah merupakan bukti pertama bahwa pernyataan yang mengatakan istilah "baptisan" sama dengan istilah "kepenuhan" tidak sesuai lagi dengan prinsip firman Tuhan. Sekarang kita meninjau bukti kedua. Apakah di dalam Kisah Para Rasul dokter Lukas juga mencatat mengenai baptisan Roh sebagai syarat orang Kristen mendapat kuasa setelah mereka menjadi percaya? Apakah kejadian atau peristiwa satu-satunya di dalam Kisah 19:1-7 (di mana istilah baptisan disebutkan dalam ayat 3-5) boleh kita ambil sebagai prinsip universal yang berlaku bagi semua jemaat di segala abad dan tempat? Mengapa di dalam peristiwa Kisah
  32. 32. 25 | H O L Y S P I R I T 8:14-17 dokter Lukas tidak memakai istilah "baptisan" Roh? Apakah ia tidak konsisten? Mengapa pula ada orang yang langsung menyamakan istilah "menerima" Roh Kudus dengan istilah "baptisan" Roh? Jikalau baptisan Roh merupakan "second blessing" yang tentunya perlu dan penting bagi semua orang yang telah percaya, mengapa pengalaman itu tidak nampak dan tidak disebutkan terjadi pada diri sida-sida dari Etiopia yang telah menjadi percaya itu (Kisah 8:26- 40), dan juga tidak ada pengalaman "berkat kedua" yang terjadi pada diri Paulus sesudah ia percaya kepada Kristus (Kisah 9:1-30 band. 11:19-30 dst.)? Apakah kita boleh mengatakan bahwa "tidak disebutkan (di dalam Alkitab) belum tentu tidak ada," sambil kita meragukan kelengkapan Alkitab sebagai firman Allah? Jikalau demikian bagaimanakah kita mulai menjelaskan Kisah 2:4, apakah ini merupakan peristiwa "second blessing" yang juga berlaku bagi semua orang Kristen di segala abad? Untuk menjawab ini saya ingin mengajak kita melihat apa yang dijelaskan oleh John Stott (Baptisan dan Kepenuhan, h. 12-15) yang intinya adalah sebagai berikut: dalam Kisah 2 terdapat dua kelompok manusia, yakni 120 orang yang sudah percaya (bnd. Kisah 1:15) dan 3000 orang yang pada saat itu baru mau percaya (2:41). Ke-120 orang menerima kepenuhan Roh pada saat itu, demikian pula ke-3000 orang menerima pengampunan dosa serta karunia Roh pada waktu itu juga (2:38-40). Orang Kristen zaman sekarang tentu saja tidak boleh menyamakan diri dengan kelompok pertama yaitu ke-120 orang itu. Pengalaman mereka sebagai murid- murid pertama adalah pengalaman yang unik dan khusus. Orang Kristen zaman sekarang harus melihat kepada pengalaman ke-3000 orang itu karena situasi historis seperti yang dialami ke-120 orang itu telah lama berhenti.
  33. 33. 26 | H O L Y S P I R I T Tetapi bagaimana kita membuktikan pernyataan terakhir tadi? Jawabnya terdapat di dalam Kisah 11:15-17. Inilah bukti Alkitab menjelaskan Alkitab! Pada waktu itu Petrus sedang mempertanggungjawabkan keberaniannya untuk menginjil atau bertemu dengan bangsa kafir (di luar orang Israel). Ia menjelaskan bagaimana Kornelius sekeluarga (yang sebelumnya bukan orang Kristen) juga telah menerima Kristus sebagai Juruselamat dan Roh Kudus telah turun ke atas mereka (10:34-48). Tetapi yang menarik adalah Petrus mengatakan bahwa pengalaman Kornelius sekeluarga "sama seperti dahulu ke atas kita", yaitu ke-120 orang itu! Pernyataan seperti itu diulang kembali pada ayat ke-17. Jadi bagi Petrus, janji tentang baptisan Roh juga direalisasikan pada waktu Kornelius sekeluarga menjadi percaya, ketika menerima Kristus sebagai Juruselamat ketika itulah mereka dibaptis oleh Roh. Apabila kita membandingkan hal ini dengan 1 Korintus 12:13 maka terlihatlah apa yang dicatat oleh Lukas sama sekali tidak bertentangan dengan pandangan rasul Paulus. Bentuk "aorist tense" (bentuk masa lampau bagi peristiwa yang terjadi satu kali saja) pada 1 Korintus 12:13 memperkuat apa yang telah disebut di atas. Baptisan Roh terjadi satu kali saja yakni pada saat seseorang menerima Kristus sebagai Juruselamat. Paulus, kepada orang Korintus yang pada saat itu hidup dalam daging serta kekacauan lainnya, mengatakan bahwa mereka (dahulu pada waktu percaya) telah dibaptis oleh Roh. Jadi; baptisan Roh berhubungan dengan status dan posisi kita di hadapan Tuhan pada saat kita menjadi percaya, bukan berhubungan dengan keadaan kita dalam kehidupan sehari-hari atau pengalaman kita. Lalu, bagaimana menjelaskan peristiwa di dalam Kisah 8:5-17 dan 19:1-7? Karena kedua peristiwa itu merupakan kasus khusus, dan juga karena keterbatasan ruang, saya menganjurkan para pembaca menyimak buku John R. Stott (Baptisan dan
  34. 34. 27 | H O L Y S P I R I T Kepenuhan, h. 15-20). Di sana telah diuraikan secara mendetail dan mengena tentang kedua peristiwa tersebut. Sebagai kelanjutannya, kita akan memaparkan bukti yang ketiga. Ini berhubungan dengan pernyataan bahwa orang yang menerima baptisan Roh atau kepenuhan Roh akan menampakkan tanda-tanda, di antaranya yang paling dominan adalah kemampuan berbahasa lidah (glosolalia). Apakah betul ada hubungan yang erat antara baptisan Roh dengan glosolalia? Apakah Tuhan Yesus pernah mengajarkan kepada murid-murid-Nya tentang glosolalia? Apakah para rasul pernah menuntut jemaat mula-mula dengan keharusan glosolalia sebagai bukti bahwa Roh Kudus telah diterima? Apabila kita melihat ke dalam Kisah 2 di sana tidak akan ditemukan indikasi bahwa ke-3000 orang yang percaya itu (2:41) berkata-kata dalam bahasa lidah, sekalipun jelas mereka telah menerima Roh Kudus. Hal yang sama juga terjadi pada orang lumpuh dalam Kisah 3, pada ke-5000 orang yang percaya dalam Kisah 4, pada sida-sida dari Etiopia dalam Kisah 8, dalam Kisah 11 pada orang percaya di Antiokhia, pada orang-orang percaya lainnya di dalam Kisah 13, 14, 16. Di dalam semua peristiwa itu tidak tercatat bahwa mereka berglosolalia. Yang ada hanya laporan bahwa sebagian besar mereka dibaptis dengan air. Sebelum kita meneruskan fakta lainnya, ada baiknya kita melihat arti dari "kepenuhan", "penuh dengan", atau "dipenuhi oleh" Roh. Secara umum dipenuhi oleh Roh berarti dikuasai dan didominasi oleh hadirnya Pribadi dan kuasa Roh dalam diri orang percaya. Bila dibandingkan dengan konteks Efesus 5:18, dipenuhi Roh dapat berarti "berada di bawah pengaruh Roh" (bandingkan dengan "mabuk anggur" yang artinya "di bawah pengaruh anggur"), dalam pengertian yang kontinyu dan (bisa) berulang kali (perhatikan bentuk present tense). Dalam satu kalimat dapat dikatakan bahwa pemenuhan Roh merupakan suatu tuntutan yang seharusnya ada di dalam diri orang Kristen secara terus-menerus dan nyata terlihat dari luar oleh orang lain.
  35. 35. 28 | H O L Y S P I R I T Dipenuhi Roh berlainan dengan baptisan Roh. Baptisan Roh berlangsung atau terjadi hanya satu kali yaitu ketika seseorang menerima Kristus sebagai Juruselamat. Ia diyakinkan oleh Roh tentang keselamatan, dilahirbarukan, dimeteraikan, dan dibaptis oleh Roh (bnd. 1 Kor 12:13). Barulah setelah itu orang tersebut bisa atau tidak dipenuhi Roh tergantung kepada kadar imannya serta penyerahannya di hadapan Tuhan. Maka jelaslah bahwa seorang Kristen yang tidak dipenuhi Roh adalah seorang Kristen yang "kering". Hal ini akan terlihat dalam seringnya ia gagal dalam menghadapi pencobaan, tidak tampak buah Roh (kasih, sukacita, damai sejahtera, ...penguasaan diri), tidak mampu dan tidak mau bersaksi, tidak ada kemajuan dalam pelayanan, tidak ada kuasa, dan sebagainya. Tetapi sebaliknya, ada satu catatan yang menarik yang dapat kita lihat di dalam Alkitab tentang orang yang dipenuhi Roh; yaitu bahwa orang yang dipenuhi Roh tidak pernah mengatakan bahwa dirinya dipenuhi Roh. Orang lain yang melihat dan menyaksikan bahwa ia dipenuhi Roh. Mereka menyaksikan ada buah Roh dan buah pelayanan di dalam kehidupannya. Sebab itu kepenuhan Roh adalah suatu keharusan, sesuatu yang normal bagi kehidupan setiap orang Kristen. Kepenuhan Roh tidak boleh dianggap sebagai sesuatu keanehan, kelainan, sesuatu yang luar biasa, dan hanya sedikit orang saja yang dipenuhi; Billy Graham mengatakan: "It is intended for all, needed by all, and available to all." Mengapa kepenuhan Roh perlu ada pada setiap orang Kristen? Dari Kisah 1:8 kita mendapatkan satu ajaran yang sangat penting, yaitu bahwa kepenuhan Roh mempunyai tujuan menjadikan murid Tuhan sebagai seseorang
  36. 36. 29 | H O L Y S P I R I T yang menjalankan misi Tuhan dengan kuasa untuk memenangkan jiwa. Bukti yang paling dekat ialah ketika Petrus dan orang Kristen mula-mula itu dipenuhi Roh mereka langsung menjadi saksi Tuhan yang berkuasa sehingga hasilnya adalah 3000 orang bertobat (Kisah 2:4, 11, 41). Sedangkan apabila kita menarik konteks pasal 4:31, terlihatlah bahwa murid- murid itu dipenuhi Roh dengan satu maksud, yaitu memberitakan firman Allah. Inilah yang seharusnya menjadi "acid test" (tes investigasi) pada masa kini. Apakah sebenarnya motivasi orang-orang yang mencari-cari kuasa melalui baptisan atau kepenuhan Roh? Apakah itu untuk kepuasan dan kesenangan diri sendiri? Untuk pameran? Untuk peningkatan harga diri rohani? Atau sebaliknya, supaya Kristus dipermuliakan? Sungguh sangat disayangkan kenyataannya, dewasa ini ada sejenis gerakan yang ultra-ekstrim menutup mata terhadap fakta-fakta yang telah dipaparkan di atas. Bahkan secara blunder, mereka berani mengajarkan bahwa orang yang belum mengalami baptisan dan kepenuhan Roh adalah orang yang tidak akan Tuhan selamatkan. Padahal aliran induk mereka sendiri, yang lahir kira-kira tahun 1900, dewasa ini mengharamkan ajaran "absurd" tersebut (lih, bagian B tentang Pandangan Aliran Tertentu). Apabila sesudah uraian panjang lebar di atas masih terdapat orang yang mengatakan bahwa ciri satu-satunya dari kepenuhan Roh adalah glosolalia, maka sekali lagi bukti dari Alkitablah yang seharusnya diteliti dengan seksama. Misalnya, jelas bahwa Petrus dua kali disebut sebagai orang yang penuh dengan Roh (Kisah 2:4; 4:8), namun ia tidak berbahasa lidah. Stefanus juga dua kali disebut demikian (6:5; 7:55) dan ia sama sekali tidak berbahasa Roh. Barnabas, yang menjadi rekan pembimbing Paulus yang mula-mula sekali, juga adalah orang yang dipenuhi Roh tanpa glosolalia (11:24). Jemaat Kristen awal juga demikian (4:31). Akan halnya Paulus dua kali ia dicatat "penuh dengan Roh Kudus" tetapi tidak langsung disambung dengan catatan bahwa ia berbahasa lidah (9:17; 13:9), walaupun
  37. 37. 30 | H O L Y S P I R I T Paulus sendiri mengaku bahwa ia dapat berbahasa roh lebih daripada orang lain (1 Kor. 14:18). D. PENUTUP Setelah dipaparkan tentang kekeliruan eksegetikal dan hermeneutikal dalam tafsiran atau praanggapan pandangan tertentu tentang baptisan dan kepenuhan Roh, mungkin timbul keberatan dari sementara fihak yang mengatakan bahwa cara pembuktian eksegetikal dan hermeneutikal tersebut merupakan cara yang dogmatis kaku, membatasi lingkup atau kebebasan karya Roh. Kita tidak boleh terpaku pada "huruf-huruf yang mati" apalagi bahasa asli dari Alkitab. Bukankah "...hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan" (2 Kor 3:6)? Apabila yang dimaksud adalah Alkitab tidak perlu terlalu menjadi ukuran atau patokan ini itu dalam urusan rohani gereja, maka harus dipertanyakan dengan patokan apakah gereja hidup di tengah-tengah segala - rupa angin pengajaran palsu? Bagaimanakah seseorang menghindarkan dirinya dari prasuposisi subyektif di dalam mendekati segala sesuatu? Siapakah di antara para pemimpin gereja dewasa ini yang berani mengatakan "Thus saith the Lord to me" dengan isi yang lain dari keseluruhan isi Alkitab, "sui generis", hingga perkataannya berbobot sama setara dengan isi Alkitab? Jikalau kita menemukan tokoh seperti itu, maka ia boleh disebut sebagai nabi atau rasul, entah ia berasal dari Korea, Amerika Serikat, Surabaya, Jakarta, Semarang atau Depok (Bogor). Seharusnyalah setiap orang percaya dibangun di atas kebenaran firman Tuhan, karena dari sanalah bersumber segala sistem iman Kristen. Namun, tanpa pretensi apapun, kita harus mengakui bahwa "Exegesis without presupposition is impossible". Tinggal yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana bentuk prasuposisi seseorang pada saat ia mendekati firman Tuhan? Apakah sudah terdapat kecurigaan kita bahwa Alkitab itu penuh dengan kesalahan? Apakah kita
  38. 38. 31 | H O L Y S P I R I T menganggap Alkitab terlalu kaku untuk dijadikan pedoman prinsip-prinsip dasar kehidupan Kristen? Setelah tanggapan dan kritik, kiranya perlu diberikan beberapa segi positif yang timbul dari aliran yang menekankan baptisan dan kepenuhan Roh. Segi positif yang memang merupakan "blessing in disguise" ini disampaikan bukan dengan tujuan sekedar basa-basi, tetapi merupakan kenyataan yang sesungguhnya. Pertama, situasi jemaat Kristen yang mengalami kelesuan, kehilangan kuasa dan kasih menjadi dingin, seyogyanya merupakan tantangan bagi kita semua. Apakah jemaat kita telah betul-betul menghayati soal peranan pribadi Roh Kudus di dalam kehidupan individual mereka? Apakah para aktivis jemaat kita merupakan orang- orang yang penuh dengan Roh? Kedua, permasalahan di atas seharusnya membangkitkan visi kita untuk memikirkan pola pembinaan warga jemaat kita dengan pengajaran alkitabiah. Sudah seberapa jauh mereka mengenal pribadi dan pengajaran tentang Roh Kudus? Memang betul ada aliran yang terlalu ekstrim menekankan soal peranan Roh, tetapi bukankah sebaliknya cukup banyak gereja dewasa ini yang terlalu meremehkan peranan Roh di dalam kehidupan jemaat baik secara sadar maupun tidak? Biarlah kalimat-kalimat di atas menjadi "sepotong tebu manis" yang kita cicipi di tengah kekeringan tenggorokan kita. Sesudah itu, dengan semangat yang lebih baru dan positif, kita isi hari depan gereja dengan sejarah yang lebih indah lagi. DAFTAR BAHAN ACUAN Abineno, JL. Ch. Roh Kudus dan Pekerjaan Nya. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1975. Bridge, Donald & David Phypers. Karunia-karunia Roh dan Jemaat. Bandung: Kalam Hidup. Bruner, Frederick Dale. A Theology of the Holy Spirit. Grand Rapids: Eerdmans, 1982. Coleman, Robert E. Roh dan Firman. Bandung: Kalam Hidup.
  39. 39. 32 | H O L Y S P I R I T Graham, Billy. The Holy Spirit. Waco: Word Books, 1978. Marshall, Catherine. Roh Kudus Penolong Kita. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983. Stott, John R.W. Baptisan dan Kepenuhan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1984. White, R.E,O. Jawabnya adalah Roh. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986.
  40. 40. 33 | H O L Y S P I R I T 4. ROH KUDUS, KESEMBUHAN ILAHI DAN BAHASA ROH Penulis: Ev. Ivone Sejak pertengahan abad ke-20 kesembuhan ilahi dan bahasa roh menimbulkan banyak pertentangan di kalangan orang-orang Kristen berhubung dengan adanya golongan yang mengatakan bahwa kita bisa mengalami kesembuhan-kesembuhan yang luar biasa seperti pada zaman Tuhan Yesus dan Rasul-rasul, karena Roh Kudus masih tetap memberikan karunia-karunia-Nya dan mengerjakan mujizat- mujizat. Begitu juga bahasa Roh diberikan kepada setiap orang yang dibaptis dengan Roh Kudus. Di pihak lain ada yang mengatakan bahwa karunia-karunia itu berhenti pada zaman Rasul-rasul. Sebenarnya di antara kedua pendapat ini manakah yang benar? Apakah yang harus kita percayai? Melalui makalah ini penulis hendak berusaha memberikan suatu pandangan yang obyektif, yang Alkitabiah. ROH KUDUS DAN KESEMBUHAN ILAHI APAKAH ORANG PASTI DISEMBUHKAN? BAHASA ROH SIKAP YANG BENAR BERKENAAN DENGAN GLOSSOLALIA KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA ----
  41. 41. 34 | H O L Y S P I R I T ROH KUDUS DAN KESEMBUHAN ILAHI Bila membicarakan kesembuhan ilahi di sini, yang penulis maksud adalah kesembuhan yang terjadi secara luar biasa, di luar ilmu pengobatan, baik kesembuhan itu diterima secara langsung dari Tuhan ataupun melalui doa orang lain. Dalam pelayanan Yesus ketika Ia masih hidup di dunia ini kita bisa melihat betapa Ia banyak menyembuhkan orang. Bahkan ketika Ia mengutus keduabelas rasul- Nya untuk memberitakan tentang Kerajaan Sorga yang sudah dekat, Ia memerintahkan: "Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan" (Matius 10:7-8a). Namun salahlah kita kalau berdasarkan ini kita lalu berpendapat bahwa menyembuhkan orang merupakan tujuan utama dari Tuhan Yesus, tujuan utama dari penginjilan pada zaman kita ini. Tujuan utama dari Tuhan Yesus adalah mengajar dan memberitakan Injil. Kalau Ia banyak menyembuhkan orang, ini adalah karena Ia berbelas kasihan kepada mereka, dan juga menjadi tanda bahwa Dialah Mesias yang dijanjikan itu. Menjawab pertanyaan Yohanes Pembaptis apakah Dialah Mesias itu? Yesus berkata: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu danger dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik" (Matius 11:4-5). Mengapa Yesus menjawab dengan menunjuk kepada semua pekerjaan baik yang Ia lakukan itu? Karena Yohanes Pembaptis tahu dari nubuat nabi Yesaya bahwa itulah ciri-ciri dari Mesias (Yesaya 35: 5-6). Begitu juga Rasul Yohanes menyebut pekerjaan Yesus itu sebagai "tanda" (sign) (Yoh. 20:30), yaitu tanda bahwa Yesuslah Mesias, yang datang dari Allah. Seandainya Yesus datang hanya untuk menyembuhkan orang, Dia tidak akan menyingkir ke kota lain ketika orang banyak mencari Dia untuk minta disembuhkan (Markus 1:38), dan Ia juga tidak akan melarang orang kusta yang sudah Ia sembuhkan itu untuk menceritakan hal ini (Markus 1:44). Yesus juga tidak menyembuhkan semua orang. Dari antara sekian banyak orang yang sakit di
  42. 42. 35 | H O L Y S P I R I T serambi-serambi Betesda, hanya satu orang yang Ia sembuhkan (Yoh. 5:3-8), pengemis di Gerbang Indah harus menunggu Petrus dan Yohanes yang menyembuhkannya (Kis. 3:1-8). Setelah Yesus naik ke Sorga, Roh Kudus dicurahkan ke atas murid-murid-Nya pada hari Pentakosta. Dan jadilah mereka saksi-saksi Kristus yang gagah berani, yang mengadakan banyak mujizat dan tanda (Kis 2:43; 5:12) dan Tuhan memang menguatkan berita tentang kasih karunia-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat (Kis. 14:3c). Jadi sekarang Roh Kudus yang bekerja selalu murid-murid Yesus untuk menunjukkan bahwa berita Injil itu benar. Rasul Paulus juga berkata dalam 1 Korintus 12:7-11: "Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain
  43. 43. 36 | H O L Y S P I R I T Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya." dan selanjutnya dalam 1 Korintus 12:28-30 ia berkata: "Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?" Dari ayat-ayat di atas kita dapat menarik beberapa kesimpulan: 1. Roh Kudus memang memberikan karunia-karunia kepada manusia seperti yang dikehendaki-Nya. Jadi Roh Kudus yang berdaulat penuh. Ada tidaknya suatu karunia pada seseorang tidak menunjukkan ataupun menjamin taraf kerohaniannya; oleh karena itu tidaklah menjadi alasan untuk berbangga ataupun bersedih. Bahkan jemaat Korintus yang berlimpah-limpah dengan karunia Roh Kudus masih ditegur oleh Rasul Paulus sebagai "manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus" (I Kor. 3:1). 2. Tidak ada disebutkan bahwa Roh Kudus memberikan karunia- karunia itu hanya pada zaman Rasul-rasul saja. Oleh karena itu pendapat yang mengatakan
  44. 44. 37 | H O L Y S P I R I T bahwa pelayanan Roh Kudus dalam hal ini sudah berhenti, tidak berdasar dari Alkitab. Kalau kita mengakui bahwa karunia berkata-kata dengan hikmat, karunia iman, karunia untuk membeda-bedakan roh, karunia untuk melayani, karunia untuk memimpin, dst. masih tetap diberikan kepada Jemaat, mengapa kita harus mengecualikan karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk mengadakan mujizat, karunia untuk berbahasa roh? Padahal semuanya disebutkan bersama- sama. Janganlah kita tertutup untuk pekerjaan Roh Kudus hanya karena kita tidak biasa atau karena logika manusia tidak dapat menerimanya, karena bukankah penolakan kita berarti kita memadamkan Roh dan kehidupan Gereja menjadi terancam juga? 3. Karunia-karunia itu diberikan Roh Kudus untuk kepentingan bersama, untuk pertumbuhan dan pembangunan Jemaat (1 Kor. 12:7; 14:5, 12); bukan untuk kesenangan atau kebanggaan perorangan. Jadi dapat kita simpulkan bahwa dalam hal kesembuhan ilahi; terhadap orang di luar Kristus ia berfungsi sebagai tanda bahwa berita Injil itu benar dan bahwa Yesus adalah benar-benar Tuhan dan Juruselamat; dan terhadap Jemaat ia berguna untuk membangun iman dan kerohanian mereka. 4. Karunia-karunia itu dibagikan: jadi tidak ada orang yang mempunyai semua karunia, dan juga bukan keharusan bahwa salah satu karunia harus dimiliki oleh semua orang. Sebagaimana tubuh itu membutuhkan banyak anggota dengan fungsi masing-masing, demikian juga Jemaat membutuhkan anggota-anggota yang bekerja sama dengan karunia masing-masing supaya ia dapat menjadi Tubuh Kristus yang sehat. 5. Ada karunia-karunia yang menarik perhatian, spektakuler, ada yang tidak. Namun semua karunia itu sama pentingnya (bnd. 1 Kor. 12:21-27). APAKAH ORANG PASTI DISEMBUHKAN? Setelah menarik kesimpulan bahwa Roh Kudus tidak menghentikan pemberian karuniaNya, apakah kita lalu harus menganggap bahwa setiap orang pasti bisa memperoleh kesembuhan ilahi?
  45. 45. 38 | H O L Y S P I R I T Kalau kita melihat kembali pelayanan Tuhan Yesus dalam hal kesembuhan ternyata: 1. Yesus menuntut supaya orang itu percaya bahwa Dia sanggup menyembuhkan, misalnya ketika Ia menyembuhkan anak Yairus (Markus 5:36-42); ketika Ia menyembuhkan 2 orang buta (Matius 9:28). Bahkan ketika Ia menyembuhkan anak yang dirasuk setan, Ia menuntut supaya ayahnya percaya akan kesanggupan/kemampuan Yesus (Markus 9:23). Dan Matius mencatat bahwa Yesus tidak dapat berbuat banyak mujizat di Nazaret karena mereka tidak percaya (Matius 13:58). 2. Yesus menyembuhkan menurut kehendakNya sendiri. Misalnya ketika Ia menyembuhkan orang lumpuh di kolam Betesda (Yoh. 5:6-9); ketika Ia membebaskan orang yang kerasukan roh jahat (Markus 1:23-25; Matius 8:28-32); dan ketika Ia membangkitkan anak muda di Nain (Lukas 7:12-15). Jadi kita lihat di sini bahwa kepercayaan kepada Tuhan untuk menyembuhkan memang perlu, tetapi kita tidak dapat memaksa Tuhan. Tuhan tetap berdaulat, dan Ia yang tahu apa yang sebaiknya bagi kita (Rom. 8:28). Tuhan memang tidak menginginkan supaya kita sengsara, tetapi ada kalanya Ia harus mengijinkannya "karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." (Ibrani 12:6). Rasul Paulus yang mendapat karunia untuk menyembuhkan yang begitu besar sehingga bahkan saputangan atau kain yang pernah dipakainya bila diletakkan atas orang sakit maka orang itu kemudian sembuh (Kis 19:11-12), tidak berdaya menyembuhkan rekan-rekannya (1 Tim. 5:23; 2 Tim. 4:20). Yakobus mengajarkan bahwa bila ada di antara anggota jemaat yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat untuk mendoakan raja; dan bahwa jemaat harus saling mendoakan supaya sembuh. Memang ilmu kedokteran semakin banyak menemukan penyakit-penyakit yang bersifat psychosomatis. Bahkan kanker pun diperkirakan banyak disebabkan oleh keadaan jiwa seseorang. Nah, bilamana sesuatu penyakit disebabkan oleh keadaan jiwa yang sakit, yang hubungannya dengan Allah atau pun hubungannya dengan manusia rusak; maka bila ada pengampunan dan hubungan itu pulih kembali, penyakitnya pun hilang.
  46. 46. 39 | H O L Y S P I R I T Ada seorang wanita yang bertahun-tahun menderita lumpuh dan tidak sembuh walaupun didoakan. Setelah diselidiki ternyata wanita ini memendam sakit hati terhadap saudaranya dan bertahun-tahun mereka tidak saling bertemu. Sesudah masalah ini dibereskan, mereka berdamai dan saling mengampuni, maka secara tiba-tiba wanita itu sudah dapat berjalan kembali. Demikianlah kita dapat menyimpulkan bahwa kesembuhan ilahi dapat saja terjadi di tiap zaman karena Allah kita adalah Allah yang Mahabesar dan Mahakuasa. Dan dalam menghadapi penyakit kita harus introspeksi dulu apakah hubungan kita dengan Tuhan dan sesama kita beres, dan apakah kita mempunyai kepercayaan yang benar terhadap Allah kita. Bila semuanya benar, maka dapatlah kita berdoa untuk kesembuhan. Namun kita harus tunduk kepada keputusan Tuhan, karena mungkin saja Ia menjawab "tidak" demi kebaikan kita, atau mungkin juga Ia menjawab "ya" melalui ilmu kedokteran dan pengobatan. BAHASA ROH "Glossolalia" atau berbicara dalam bahasa lidah yang dahulunya terbatas pada Gereja Pantekosta, sejak pertengahan abad ke-20 sudah memasuki Gereja Protestan bahkan juga Gereja Katolik. Oleh karena itulah bahasa lidah sekarang ini banyak dibicarakan orang. Apakah sebenarnya bahasa lidah itu? Dalam Kisah Para Rasul diceritakan bahwa pada hari Pentakosta, ketika murid- murid Yesus berkumpul di suatu tempat, tiba-tiba mereka dipenuhi Roh Kudus dan mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain. Bahasa-bahasa lain itu ternyata adalah bahasa manusia, bahasa dari orang-orang Yahudi yang datang dari berbagai-bagai tempat di dunia dan yang pada waktu itu berada di Yerusalem (Kis 2:1-11). Hal yang serupa terjadi ketika Roh Kudus turun ke atas Kornelius beserta sanak saudara dan sahabat-sahabatnya (Kis 10:45-46), dan ketika di Efesus Rasul Paulus menumpangkan tangan atas bekas murid-murid Yohanes Pembaptis (Kis 19:5-6). Tetapi ketika Rasul Paulus berbicara mengenai bahasa lidah atau bahasa roh dalam 1 Korintus 12-14, rupanya bahasa ini lain dengan yang di atas karena ia berkata: "Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada
  47. 47. 40 | H O L Y S P I R I T manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia" (1 Kor. 14:2). Oleh karena itu dapat kita katakan bahwa bahasa lidah atau bahasa roh itu ada 2 macam: 1. Bahasa yang tidak dikenal dan tidak pernah dipelajari oleh si pembicara, tetapi adalah bahasa manusia yang dapat dimengerti oleh orang lain yang mengenal bahasa itu. 2. Bahasa yang tidak dimengerti, baik oleh si pembicara maupun oleh orang lain. Michael Green dalam bukunya "I Believe in the Holy Spirit" melukiskannya sebagai "curahan perasaan hati yang terdalam, yang diutarakan Roh Kudus dalam doa, pujian, atau nyanyian." Apakah bahasa roh adalah tanda seseorang dipenuhi Roh Kudus? Berdasarkan kejadian-kejadian yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul 2; 10; 19 tersebut di atas, ada yang berargumentasi bahwa orang yang dibaptis atau dipenuhi Roh Kudus harus mempunyai tanda berbahasa lidah. Namun kalau kita selidiki Kisah Para Rasul, ternyata ada sembilan pembicaraan lain mengenai orang yang dipenuhi Roh Kudus tetapi tidak ada disebut-sebut mengenai bahasa lidah (4:8; 4:31; 6:3; 6:5; 7:55; 9:17; 11:24; 13:9; 13:52). Begitu juga Rasul Paulus berkata: "Dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita
  48. 48. 41 | H O L Y S P I R I T semua diberi minum dari satu Roh." Dan dalam pasal yang sama ia membicarakan tentang karunia-karunia Roh yang dibagi-bagikan untuk kepentingan jemaat, dan tidak semua orang memiliki karunia yang sama. Jadi kita tidak dapat mengatakan bahwa bahasa roh adalah tanda dari orang yang dibaptis dengan Roh, atau yang penuh dengan Roh. Bahkan bila berdasarkan 3 kejadian dalam Kisah Para Rasul itu dituntut bahwa setiap orang yang dipenuhi Roh Kudus berbahasa roh, mengapa tidak dituntut bahwa bahasa itu harus dimengerti manusia? Karena kalau kita perhatikan, bahasa lidah mereka adalah bahasa yang bisa dimengerti manusia, yang diketahui berisi pujian kepada Allah, dan nubuat. Padahal yang dimaksud dengan tanda bahasa lidah pada umumnya adalah bahasa yang tidak dimengerti seorang pun. Rasul Paulus menyebut bahasa roh yang tidak dimengerti seorang pun itu sebagai karunia dari Roh Kudus untuk berkata-kata dengan Allah, yang berguna untuk membangun dirinya sendiri (1 Korintus 14:2-4). Di 1 Kor. 12:30 sudah kita lihat bahwa karunia untuk berkata-kata dalam bahasa roh ini tidak dimiliki oleh semua orang percaya. Ia juga tidak menganjurkan supaya semua orang mencari karunia bahasa roh, karena karunia saja tanpa disertai kasih adalah tidak berguna. "Kasih itu tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap" (1 Kor. 13:8). Oleh karena itu, jika mencari karunia, usahakanlah memperoleh karunia yang berguna untuk membangun Jemaat (1 Kor. 14:12). Itu pula sebabnya karunia untuk bernubuat lebih berguna daripada karunia berbahasa roh, karena nubuat itu berguna untuk membangun Jemaat sedangkan bahasa roh hanya berguna untuk membangun diri sendiri, kecuali kalau diterjemahkan. SIKAP YANG BENAR BERKENAAN DENGAN GLOSSOLALIA 1. Alkitab jelas menyebutkan bahwa bahasa roh ini adalah salah satu dari karunia- karunia Roh Kudus, oleh karena itu janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh (1 Kor 14:39); dan jangan pula terlalu cepat menyebutnya dari setan, karena dengan berbuat demikian kita berada dalam bahaya menghujat Roh Kudus.
  49. 49. 42 | H O L Y S P I R I T 2. Bahasa roh bukanlah karunia yang terutama, oleh karena itu jangan dibesar- besarkan. Ingatlah bahwa dalam agama Budha dan agama-agama mistik lainnya juga ada penggunaan bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia. 3. Bila berdoa sendiri pakailah bahasa roh itu sebebasnya, karena ini memang berguna untuk membangun diri sendiri. 4. Dalam pertemuan Jemaat, berdiamlah diri, kecuali kalau ada orang yang bisa menafsirkan bahasa roh itu (1 Kor. 14:28). 5. Jika ada yang menafsirkan maka bahasa roh itu dapat berguna untuk membangun Jemaat, namun hendaklah dilakukan dengan tertib: seorang demi seorang, dan sebanyak-banyaknya 3 orang dalam 1 session (1 Kor. 14:27). KESIMPULAN Karunia-karunia Roh Kudus memang masih tetap diberikan kepada Gereja, dan kita tidak usah heran bila mendengar tentang mujizat dan kesembuhan ilahi. Namun kita harus waspada, karena dalam zaman akhir ini akan muncul Mesias- mesias palsu dan nabi-nabi palsu yang akan mengadakan banyak tanda dahsyat dan mujizat-mujizat sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang- orang pilihan juga (Matius 24:24).
  50. 50. 43 | H O L Y S P I R I T Selain itu kita harus ingat bahwa Alkitab memberitakan tentang Allah, yang memberikan karunia-karunia itu, dan bukan memusatkan perhatian pada karunia- karunia itu sendiri. Apapun karunianya, yang diutamakan adalah kemuliaan Allah dan pembangunan Gereja. Ev. Ivone mendapatkan gelar B. Th. dari Singapore Bible College, dan M. Th. dari International Bible Institute and Seminary. Beliau melayani sebagai Penginjil part time di GKA Trinitas Surabaya; dosen pada Institut Kristen Bethany. DAFTAR PUSTAKA Erickson, Millard J. Christian Theology. Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1987. Fee, Gordon D. The First Epistle to the Corinthians., Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1987. James, Maynard. I Belive In the Holy Ghost London: Oliphants 1969. Koole, J.L. De Boodschap der Genezing J.H. Kok N.V. Kampen, 1955. Pache, Rene. The Person and Work of the Holy Spirit. Chicago: Moody Press, 1980. Tenney, Merrill C. (gen. ed.). The Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible. Vols. III, IV. Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1976.
  51. 51. 44 | H O L Y S P I R I T 5. GERAKAN GELOMBANG KETIGA Penulis: Pdt. Bob Jokiman  PENDAHULUAN  SIKAP TERHADAP KARUNIA ROH YANG ADIKODRATI  TANDA-TANDA KERAJAAN ALLAH  PERNYATAAN-PERNYATAAN KUASA ADIKODRATI DALAM SEJARAH GEREJA  SIKAP YANG SEHAT DAN POSITIF TERHADAP, KARUNIA-KARUNIA ADIKODRATI  SEMINAR DAN LOKAKARYA KARUNIA ROHANI  PENUTUP  KETERANGAN PENULIS --- PENDAHULUAN Pada tahun 1980, Alvin Toffler, pengarang buku future Shock yang menggemparkan itu, menulis kembali sebuah buku yang kemudian menjadi best seller juga dengan judul The Third Wave (Gelombang Ketiga). Dalam buku tersebut Toffler membahas tentang Revolusi Ketiga yang terjadi dalam sejarah dunia setelah Revolusi Pertanian dan Revolusi Industri. Third Wave-nya Toffler menguraikan terjadinya Revolusi budaya dalam kehidupan manusia di bidang-
  52. 52. 45 | H O L Y S P I R I T bidang pekerjaan, gaya hidup, etos kerja, sikap seksual, konsep-konsep hidup, tata ekonomi dan politik, dan nilai-nilai baru. Isu yang akan dibahas dalam tulisan ini hanya mengadaptasi istilah tersebut tanpa ada hubungan konsepsi. Gerakan Gelombang Ketiga adalah suatu gerakan yang. baru dikenal pada lima tahun terakhir ini, namun telah menarik perhatian banyak pemimpin gereja/pendeta di dunia Barat. Majalah beken Christianity Today edisi bulan Mei 1986, mengutip C. Peter Wagner, tokoh Gerakan Gelombang Ketiga: "Gerakan Gelombang Ketiga melayani gereja-gereja dengan tradisi theologia Reformed, namun tidak terlibat dalam pelayanan adikodrati. Kami mengajarkan bagaimana pelayanan tersebut dilakukan dalam gereja-gereja non karismatik tanpa menimbulkan perpecahan. Kami tidak menekankan bahasa lidah."32 Dengan kata lain, Gerakan Gelombang Ketiga ini adalah suatu usaha untuk mendorong gereja-gereja Injili, Reformed, dan Tradisional melibatkan kuasa adikodrati Allah dalam pelayanan dan kehidupan jemaat, bukan saja di dunia Barat tetapi juga di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Gerakan Gelombang Ketiga Sekitar tahun 1983, sejumlah pemimpin Kristen di Amerika membicarakan tentang Gerakan Gelombang Ketiga (The Third Wave Movement). Gerakan Gelombang Ketiga ini merupakan kelanjutan dari Kebangunan Rohani di Azusa Street, Los Angeles - pada tahun 1906 yang dikenal sebagai Gerakan Pentakosta Modern - dan Gerakan Karismatik yang terjadi sekitar tahun 1950 yang dikenal juga sebagai Gerakan Pentakosta Baru. Gerakan Gelombang Ketiga adalah gerakan yang terjadi dalam gereja-gereja Injili, Reformed dan Tradisional yang mengakui dan memanfaatkan karunia-karunia adikodrati tanpa mengindentifikasikan diri dengan Gerakan Pentakosta atau Karismatik. Dr, Peter Wagner, dosen Pertumbuhan Gereja pada Fuller Theological Seminary dan merupakan ahli serta pelanjut Gerakan Pertumbuhan Gereja yang dipelopori oleh Dr. Donald McGavran (Bapak Gerakan Pertumbuhan Gereja), adalah salah seorang pelopor Gerakan Gelombang Ketiga ini.
  53. 53. 46 | H O L Y S P I R I T Dalam wawancara pertama kali untuk memperkenalkan Gerakan Gelombang Ketiga ini di majalah Pastoral Renewal edisi Juli - Agustus 1983, Dr. Wagner mengatakan bahwa ia melihat tahun delapan puluhan merupakan awal keterbukaan kaum Injili dan Kristen lainnya terhadap karya adikodrati Roh Kudus, yang telah dialami oleh kalangan Pentakosta dan Karismatik, namun tanpa menjadi Pentakosta atau Kar Dengan menggunakan pengalamannya sendiri, Dr. Wagner mengatakan bahwa meskipun ia memiliki karunia adikodrati namun ia bukanlah seorang Karismatik atau Pentakosta. Ia adalah anggota Jemaat Lake Avenue Congregational Church (LACC) di Pasadena, karenanya ia menyebut diri adalah Congregationalist. LACC adalah Gereja yang paling bertumbuh di daerah San Gabriel Valley. California Selatan. Anggota jemaatnya 4.000 orang. Sepertiga anggaran mereka digunakan untuk misi dan dua tahun lalu telah dimulai kebaktian dengan bahasa Indonesia untuk melayani para mahasiswa serta pendatang dari Indonesia (sekarang memakai nama Gereja Kristen Indonesia Lake Avenue). Namun demikian LACC terbuka terhadap gerakan Roh Kudus sebagaimana yang telah terjadi di kalangan Karismatik. Sebagai contoh, ia mengatakan bahwa pada tiap akhir kebaktian umum hari Minggu - ada tiga kali kebaktian umum yang dihadiri masing-masing lebih dari 1.000 orang - gembala sidang mereka mengundang setiap orang yang membutuhkan kesembuhan jasmani dan batin untuk maju ke depan dan menuju ke kamar doa untuk didoakan dan diberikan pengurapan minyak. Mereka juga mempunyai tim yang terdiri dari anggota-anggota yang tahu bagaimana berdoa untuk orang sakit. Dr. Wagner menguraikan bahwa Jemaat LACC berpikir dan bertindak menurut Cara Congregationalist, bukan cara Karismatik, namun membawa hasil yang sama! Ia sendiri mempunyai beberapa perbedaan dasar dalam theologia dengan kalangan Pentakosta dan Karismatik, namun hal tersebut tidak merusak sedikit juga pelayanan mereka yang membawa manfaat dan tidak menyebutkan diri sendiri sebagai Karismatik.33 Sejak dipopulerkannya Gerakan Gelombang Ketiga pada awal tahun delapan puluhan melalui berbagai media Kristen, khususnya majalah Christian Life yang
  54. 54. 47 | H O L Y S P I R I T memiliki rubrik tetap mengenai The Third Wave yang diasuh oleh Dr. Peter Wagner, maka makin banyaklah gereja-gereja Injili, Reformed dan Tradisional menyambut dengan positif masuknya Gerakan Gelombang Ketiga ini ke dalam gereja mereka yang pada mulanya sangat tertutup, khususnya para pendeta yang mengambil program Doctor of Ministry (D.Min.) di Fuller, sebagaimana pepatah mengatakan "tak kenal maka tak sayang, setelah dikenal makin disayang." Sebagai kelanjutan penggalakkan Gerakan Gelombang Ketiga di antara gereja- gereja Injili, Reformed, dan Tradisional, maka pada tanggal 27 - 30 Mei 1986 di Orlando, Florida, telah diselenggarakan Konferensi dengan tema, Gelombang Ketiga: Kesembuhan Adikodrati dalam Gereja Lokal, yang diikuti oleh 102 pemimpin/pendeta yang mewakili 30 denominasi, antara lain dari: Christian and Missionary Alliance (Kemah Injil di Indonesia), Mennonite (Gereja Kristen Muria di Indonesia), Gereja-gereja Baptis dengan berbagai cabangnya, Gereja Lutheran, Christian Reformed, Presbyterian Church (sealiran dengan G.K.I. atau G.K.T. di Indonesia), Gereja Methodist dan sebagainya. Seorang partisipan memberi komentar: "Suatu pengalaman yang sangat indah dalam Konferensi ini adalah mendalamnya rasa persatuan yang mengatasi keanekaragaman tersebut."34 Dalam Konferensi tersebut, Dr. Peter Wagner menekankan bahwa Konferensi tersebut terpanggil untuk menolong para pemimpin gereja tersebut untuk mengerti dan menginisiatifkan pelayanan-pelayanan yang mengikutsertakan kuasa adikodrati Allah dalam jemaat-jemaat mereka.35 Dalam Konferensi tersebut diadakan pula lokakarya yang dipimpin oleh Pdt. Robert Wise, Gembala Sidang Gereja Reformed di Oklahoma, Pdt. Fred Luthy, Gembala Sidang Gereja Lutheran di Big Rapids, Michigan dan Cathy Schaller serta Georga Eckart, keduanya pendeta awam (lay minister) dari LACC. Keempat hamba Tuhan tersebut telah membuktikan bahwa kuasa adikodrati Allah dapat dan sungguh terjadi di dalam gereja-gereja Injili, Reformed dan Tradisional, dengan terjadinya berbagai kesembuhan Ilahi dalam Konferensi tersebut. Seorang pendeta Presbyterian U.S.A. berkomentar: "Saya pikir Konferensi ini sangat berhasil. Hal tersebut meneguhkan apa yang telah saya percaya. Saya sungguh menghargai roh Konferensi tersebut, kasih dan kesatuan peserta dan kerendahan
  55. 55. 48 | H O L Y S P I R I T hati para pembicara. Hal tersebut mendesak saya untuk melaksanakan dengan serius Gelombang Ketiga ini dan berperan di dalamnya." Seorang pendeta dari Southern Baptist (sealiran dengan Seminari Baptis di Semarang) memberikan kesan: "Saya menghargai keseimbangan antara teori dan praktek. Saya merasa itu adalah Konferensi terbaik yang saya ikuti dalam 25 tahun ini. Hal tersebut telah mengesahkan kesembuhan Kristen untuk gereja Injili pada hari ini."36 Dalam Konferensi tersebut Dr. Wagner menegaskan bahwa Gelombang Ketiga merupakan kesinambungan pencurahan Roh Kudus yang terjadi pada Gelombang Pertama dan Kedua ke dalam gereja-gereja Injili tanpa menjadi Pentakosta atau Karismatik, dengan pengalaman kehadiran Roh Kudus dalam kesembuhan dan pelayanan adikodrati lainnya.37 SIKAP TERHADAP KARUNIA ROH YANG ADIKODRATI Dalam dunia kekristenan kita mengenal ada tiga aliran yang berpengaruh dalam hal sikap mereka terhadap karunia-karunia roh yang adikodrati. Yang pertama disebut The Positive School, yang mengakui bahwa karunia-karunia tersebut masih berlaku dan terjadi hingga masa kini. Karunia-karunia adikodrati merupakan pernyataan dibaptisnya seorang percaya oleh Roh Kudus, khususnya dengan berbahasa lidah (glossolalia). Mereka yang menerima sikap ini umumnya kalangan Pentakosta dan sebagian besar Karismatik. Golongan kedua dikenal dengan sebutan The Negative School. Umumnya mereka berpendapat bahwa karunia-karunia adikodrati telah berhenti pada akhir masa para rasul dan sebagian beranggapan bahwa karunia-karunia tersebut berangsur- angsur lenyap dan berakhir pada abad keempat. Pendukung golongan ini antara lain: 1. Benyamin B. Warfield (1851 - 1921), seorang theolog konservatif yang kukuh mempertahankan ajaran Kalvinis di Seminar! Princeton pada pertukaran abad ini. Beliau mengatakan bahwa bahasa lidah (glossolalia) adalah satu di antara karunia- karunia tanda (sign gifts), yang dimaksudkan untuk meneguhkan pemberitaan para rasul. Oleh karena itu setelah berita Perjanjian Baru lengkap, maka tanda- tanda tersebut tidak dibutuhkan lagi.
  56. 56. 49 | H O L Y S P I R I T 2. Merrill F. Unger, seorang theolog dispensasional (umumnya sering dikaitkan dengan Dallas Theological Seminary di Texas), yang salah satu Bible Dictionary-nya cukup dikenal di kalangan mahasiswa theologia di Indonesia, berpendapat bahwa yang disebut "sempurna" dalam I Korintus 13:10 adalah kanon Alkitab, yang merupakan akhir dari kanon "lidah". Golongan ketiga dikenal sebagai The Middle Position - yang dipelopori oleh A.B. Simpson pendiri Christian and Missionary Alliance (Kemah Injil di Indonesia) - mengambil jalan tengah. Khusus mengenai bahasa lidah, beliau mengatakan bahwa karunia tersebut merupakan salah satu dari banyak karunia dan diberikan kepada sejumlah orang untuk kebaikan seluruh jemaat. Sikap sebaiknya adalah "Jangan dicari, jangan pula dilarang" (Seek not, forbid not). Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa karunia-karunia adikodrati masih berlaku hingga saat ini, namun karunia-karunia tersebut, khususnya bahasa lidah, bukanlah "tanda" seseorang dibaptiskan oleh Roh Kudus.38 Bagaimana dengan sikap kita sendiri? Tentu saja kunci terbaik adalah mempelajari sikap Tuhan Yesus yang melebihi theolog/tokoh gereja. Oleh karena itu sebaiknya kita menelaah sebagian isi Alkitab yang membicarakan pelayanan adikodrati Tuhan serta kenyataan yang terjadi abad ini. TANDA-TANDA KERAJAAN ALLAH Ketika Yohanes Pembaptis berada dalam penjara, ia mengutus murid-muridnya bertanya kepada Tuhan Yesus: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" Bagaimana jawab Tuhan? Ia berkata: "Pergilah dan katakan kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan lihat: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik" (Matius 11:2- 5). Jelas dari jawaban Tuhan di atas Ia ingin menekankan bahwa tanda-tanda tersebut adalah tanda-tanda ke-Mesiasan-Nya, tanda-tanda di mana kuasa Allah dinyatakan. Tanda-tanda tersebut berulang kali dinyatakan Tuhan, misalnya ketika Ia telah mengusir dari seseorang setan yang membisukan, Ia berkata: "...jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang padamu." (Lukas 11:20). Demikian pula tatkala Tuhan mengutus murid-
  57. 57. 50 | H O L Y S P I R I T murid-Nya, Ia membekali mereka dengan karunia-karunia adikodrati (bandingkan Lukas 10:9,17 dan Markus 16:17-18 dengan I Korintus 12:9-10). Dalam bagian- bagian Alkitab tersebut terlihat bahwa tanda-tanda adikodrati sangat ditekankan oleh Tuhan dalam pelayanan murid-murid-Nya. Namun sayang sekali banyak hamba/anak Tuhan pada masa kini yang meremehkan tanda-tanda tersebut. Kita perlu menyadari bahwa tanda-tanda adikodrati bukanlah tujuan pelayanan kita, melainkan alat untuk mendorong orang-orang yang belum percaya datang kepada Tuhan Yesus. Khusus bagi mereka yang berada di Dunia Ketiga, bahkan juga di negara adikuasa seperti Amerika, tanda-tanda kuasa Allah tersebut perlu dinyatakan untuk membuktikan bahwa Allah yang kita percaya dan sembah jauh lebih berkuasa daripada allah yang mereka percaya. Di dalam pertumbuhan gereja masa kini, akibat terjadinya banyak pernyataan- pernyataan karunia-karunia adikodrati yang dilakukan oleh para hamba/anak Tuhan di berbagai belahan bumi ini, gereja-gereja Tuhan bertumbuh dengan luar biasa. Di Korea Selatan, di mana terdapat sebuah gereja yang terbesar di dunia dengan jumlah anggota 500.000 orang, gereja bertumbuh dengan luar biasa. Kuasa-kuasa ilahi dinyatakan bukan saja dalam gereja-gereja Pentakosta, seperti Full Gospel Central Church yang digembalakan oleh Pdt. Paul Cho Yonggi dengan anggota setengah jute itu, tetapi juga dalam pelayanan-pelayanan gereja-gereja non-Pentakosta dan non-Karismatik. Jonathan Chao, direktur Chinese Church Research Center di Hong Kong, dalam salah satu ceramahnya di Fuller, mengatakan bahwa orang-orang Kristen di Tiongkok selama kurang lebih 35 tahun di bawah penguasa komunis, telah bertumbuh dari 1 juta menjadi kurang lebih 50 - 70 juta! Apa yang menyebabkan pertumbuhan yang demikian fantastis dalam sejarah Kekristenan sepanjang abad? Salah satu penyebabnya adalah karena terjadinya banyak tanda ajaib melalui karunia-karunia adikodrati yang dilakukan para hamba/anak Tuhan di sana. Pada masa kini kita tak dapat menyangkal bahwa pelayanan-pelayanan karunia adikodrati adalah yang paling efektif dalam penginjilan dan pertumbuhan gereja. Oleh karena itu sangat disayangkan apabila gereja-gereja Injili, Reformed, dan

×