asas asas-kurikulum(3)

18,890 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
18,890
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
135
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

asas asas-kurikulum(3)

  1. 1. KATA PENGANTARKurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatupendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai tujuandan sasaran pendidikan yang diinginkan.Dalam sejarah pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali diadakanperubahan dan perbaikan kurikulum yang tujuannya sudah tentu untukmenyesuaikannya dengan perkembangan dan kemajuan zaman, guna mencapai hasilyang maksimal.Mengembangkan kurikulum bukanlah pekerjaan yang mudah dan sederhanakarena banyak sekali pertanyaan yang dapat dikemukakan untuk dipertimbangkan.Misalnya: Apakah yang ingin dicapai? Manusia yang bagaimana yang diharapkanakan dibentuk? Apakah yang diutamakan kebutuhan sekarang atau masa mendatang?Apakah hakikat anak harus dipertimbangkan atau diperlukan sebagai orang dewasa?Dan segudang pertanyaan lagi yang kesemuanya menyangkut asas-asas yangmendasari setiap kurikulum, yaitu asas filosotis, asas psikologis, asas sosiologis danasas organisatoris.Dengan kurikulum yang sesuai dan tepat, maka dapat diharapkan sasaran dantujuan pendidikan akan dapat tercapai secara maksimal.Buku ini penting bagi para mahasiswa, para guru dan siapa saja yang berminatdan berkecimpung di bidang pendidikan.
  2. 2. DAFTARISIKata PengantarBab 1 : Pengertian Dan Asas-Asas KurikulumBab 2 : Asas-Asas FisiologiBab 3 : Asas Psikologis AnakBab 4 : Asas Psikologis AnakBab 5 : Proses Perubahan Dan Perbaikan KurikulumBab 6 : Kurikulum Dan MasyarakatBab 7 : Organisasi KurikulumBab 8 : Menentukan Scope Dan Sequence Dalam Pembinaan KurikulumBab 9 : Mengubah KurikulumBab 10 : PenutupDaftar Buku
  3. 3. BAB1PENGERTIAN DAN ASAS-ASASKURIKULUMMasa depan bangsa terletak dalam tangan generasi muda. Mutu bangsa dikemudian hari bergantung pada pendidikan yang dikecap oleh anak-anak sekarang,terutama melalui pendidikan formal yang diterima di sekolah. Apa yang akan dicapaidi sekolah, ditentukan oleh kurikulum sekolah itu. Jadi barang siapa yang menguasaikurikulum memegang nasib bangsa dan negara. Maka dapat dipahami bahwakurikulum sebagai alat yang begitu vital bagi perkembangan bangsa dipegang olehpemerintah suatu negara. Dapat pula dipahami betapa pentingnya usahamengembangkan kurikulum itu. Oleh sebab setiap guru merupakan kunci utamadalam pelaksanaan kurikulum, maka ia harus pula memahami seluk-beluk kurikulum.Hingga batas tertentu, dalam skala mikro, guru juga seorang pengembang kurikulumbagi kelasnya.APA YANG DIMAKSUD DENGAN KURIKULUMPerkataan kurikulum dikenal sebagai suatu istilah dalam dunia pendidikansejak kurang lebih satu abad yang lampau. Perkataan ini belum terdapat dalam kamusWebster tahun 1812 dan baru timbul untuk pertama kalinya dalam kamus tahun 1856.Artinya pada waktu itu ialah: " L a race course; a place for running; a chariot. 2. acourse in general; applied particulary to the course of study in a university". Jadidengan "kurikulum" dimaksud suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari ataukereta dalam perlombaan, dari awal sampai akhir. "Kurikulum" juga berarti "chariot,"semacam kereta pacu pada zaman dulu, yakni suatu alat yang membawa seorang dari"start" sampai "finish".Di samping penggunaan "kurikulum" semula dalam bidang olah raga,kemudian dipakai dalam bidang pendidikan, yakni sejumlah mata kuliah diperguruantinggi.
  4. 4. Dalam kasus Webster tahun 1955 "kurikulum diberi arti "a. A course esp. aspecified fixed course of study, as in a school or college, as one leading to a degree, b.The whole body of courses offered in an educational institution, or departmentthereof, -. the usual sense." Di sini "kurikulum" khusus digunakan dalam pendidikandan pengajaran, yakni sejumlah mata pelajaran di sekolah atau mata kuliah diperguruan tinggi, yang harus ditempuh untuk mencapai suatu ijazah atau tingkat."Kurikulum" juga berarti keseluruhan pelajaran yang disajikan oleh suatu lembagapendidikan.Di Indonesia istilah "kurikulum" boleh dikatakan baru menjadi populer sejaktahun lima puluhan, yang dipopulerkan oleh mereka yang ,memperoleh pendidikan diAmerika Serikat. Kini istilah itu telah dikenal orang di luar pendidikan. Sebelumnyayang lazim digunakan ialah "rencana pelajaran". Pada hakikatnya kurikulum samaartinya dengan rencana pelajaran. Hilda Taba dalam bukunya CurriculumDevelopment, Theory and Practice mengartikan sebagai "a plan for learning", yaknisesuatu yang direncanakan untuk pelajaran anak.Dalam buku ini kami gunakan istilah "kurikulum," karena pengertiankurikulum banyak mengalami perkembangan, berkat pemikiran yang banyak olehtokoh-tokoh pendidikan mengenai kurikulum, sehingga dapat meliputi hal-hal yangtidak direncanakan, namun turut mengubah kelakuan anak didik. Kurikulum jugabukan lagi sekedar sejumlah mata pelajaran , akan tetapi mendapat liputan yang jauhlebih luas. Maka karena itu istilah "rencana pelajaran" rasanya terlampau sempit danterikat oleh pengertian tradisional, yang sangat terbatas pada bahan pelajaran dalambuku pelajaran.Dalam teori, tetapi juga dalam praktik, pengertian kurikulum yang lama sudahbanyak ditinggalkan. Para ahli pendidikan kebanyakan memberi arti dan isi yanglebih luas daripada semula. Selain itu pengertiannya pun senantiasa dapatberkembang dan mengalami perubahan. Perubahan itu antara lain terjadi karenaorang tak kunjung puas dengan hasil pendidikan sekolah dan selalu inginmemperbaikinya. Memang tak mungkin disusun suatu kurikulum yang baik sertamantap sepanjang zaman. Suatu kurikulum hanya mungkin baik untuk suatumasyarakat tertentu pada masa tertentu. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
  5. 5. teknologi yang mengubah masyarakat dan dengan sendirinya kurikulum pun takdapat tiada hams disesuaikan dengan tuntutan zaman.Di samping itu banyak timbul pendapat-pendapat baru tentang hakikat danperkembangan anak, caranya belajar, tentang masyarakat dan ilmu pengetahuan, danIain-lain, yang memaksa diadakannya perubahan dalam kurikulum. Pengembangankurikulum adalah proses yang tak henti-hentinya, yang harus dilakukan secarakontinu. Jika tidak, maka kurikulum menjadi usang atau ketinggalan zaman. Makincepat perubahan dalam masyarakat, makin sering diperlukan penyesuaian kurikulum.Namun, mengubah kurikulum bukanlah pekerjaan yang mudah. Praktekpendidikan di sekolah senantiasa jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan teorikurikulum. Bukan sesuatu yang aneh, bila suatu teori kurikulum baru menjadikenyataan setelah 50 sampai 75 tahun kemudian. Kelambanan ini terjadi antara lainkarena guru-guru banyak yang lebih ingin berpegang pada yang telah ada, merasalebih aman dengan praktik-praktik rutin dan tradisional daripada mencobakan hal-halbaru, yang memerlukan pemikiran dan usaha yang lebih banyak dan ada kalanyamenuntut perubahan pada diri guru itu sendiri. Itu sebabnya maka kurikulum masihbanyak diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus disampaikan kepadaanak.BEBERAPA DEFINISI KURIKULUMSeperti telah dikemukakan di atas, perubahan zaman menuntut kurikulumbaru dan sering juga pengertian baru mengenai makna kurikulum itu sendiri.Perubahan zaman memberi tugas-tugas baru kepada sekolah, di antaranya tugas-tugasyang sediakala dipikul oleh lembaga-lembaga lain seperti rumah tangga, pemerintah,petugas agama, dan Iain-lain. Misalnya, anak-anak gadis biasanya belajar memasak,menjahit, mengurus rumah, dan pekerjaan lain dari ibunya. Dunia modern seringmengharuskan ibu-ibu bekerja, dan tidak sempat lagi mendidik anaknya dalamketerampilan rumah tangga. Maka tugas ibu itu dipercayakan kepada sekolah denganmemberi pelajaran PKK. Ada pula ibu-ibu yang tak puas dan merasa bosan hanyaterikat oleh rutin rumah tangga dan ingin
  6. 6. menentukan karirnya sendiri. Demikian pula soal kesehatan jasmani anak, keamananlalu lintas, keterampilan vokasional, pendidikan seks, pencegahan minum alkoholatau ganja, kepramukaan, pendidikan, agama, dan hal-hal lain lambat laun digesertanggung-jawab pendidikannya kepada sekolah. Dengan demikian kurikulum sekolahtidak hanya meliputi mata pelajaran tradisional, melainkan berbagai kegiatan lainyang bersifat edukatif, di dalam maupun di luar sekolah.Dengan bertambahnya tanggung jawab sekolah timbulah berbagai macamdefmisi kurikulum, sehingga semakin sukar memastikan apakah sebenarnyakurikulum itu. Akhirnya setiap pendidik, setiap guru harus menentukan sendiriapakah kurikulum itu bagi dirinya. Pengertian yang dianut oleh seseorang akanmempengaruhi kegiatan belajar-mengajar dalam kelas maupun di luar kelas.Di bawah ini kami berikan sejumlah defmisi kurikulum menurut beberapaahli kurikulum.1. J. Galen Saylor dan William M. Alexander dalam buku Curriculum Planning forBetter Teaching and Learning (1956) menjelaskan arti kurikulum sebagai berikut." The Curriculum is the sum total of schools efforts to influence learning, whetherin the clasroom, on the playground, or out of school." Jadi segala usaha sekolahuntuk mempengaruhi anak belajar, apakah dalam ruangan kelas, di halamansekolah atau di luar sekolah termasuk kurikulum. Kurikulum meliputi juga apayang disebut kegiatan ekstra-kurikuler.2. Harold B. Albertycs. dalam Reorganizing the High-School Curriculum (1965)memandang kurikulum sebagai "all of the activities that are provided for studentsby the school". Seperti halnya dengan defmisi Saylor dan Alexander, kurikulumtidak terbatas pada mata pelajaran, akan tetapi juga meliputi kegiatan-kegiatanlain, di dalam dan luar kelas, yang berada di bawah tanggung jawab sekolah.Defmisi melihat manfaat kegiatan dan pengalaman siswa di luar mata pelajarantradisional.
  7. 7. 3. B. Othanel Smith, W.O. Stanley, dan J. Harlan Shores memandang kurikulumsebagai "a sequence of potential experiences set up in the school for the purposeof disciplining children and youth in group ways of thinking and acting". Merekamelihat kurikulum sebagai sejumlah pengalaman yang secara potensial dapatdiberikan kepada anak dan pemuda, agar mereka dapat berpikir dan berbuatsesuai dengan masyarakatnya.4. William B. Ragan, dalam buku Modern Elementary Curriculum (1966)menjelaskan arti kurikulum sebagai berikut: "The tendency in recent decades hasben to use the term in a broader sense to refer to the whole life and program of theschool. The term is used ... to include all the experiences of children for which theschool accepts responsibility. It denotes the results of efferorts on the part of theadults of the community, and the nation to bring to the children the finest, mostwhole some influences that exist in the culture."Ragan mengunakan kurikulum dalam arti yang luas, yang meliputiseluruh program dan kehidupan dalam sekolah, yakni segala pengalaman anak dibawah tanggung-jawab sekolah. Kurikulum tidak hanya meliputi bahan pelajarantetapi meliputi seluruh kehidupan dalam kelas. Jadi hubungan sosial antara gurudan murid, metode mengajar, cara mengevaluasi termasuk kurikulum.5. J. Lloyd Trump dan Delmas F. Miller dalam buku Secondary Schoollmprovemant (1973) juga menganut defmisi kurikulum yang luas. Menurutmereka dalam kurikulum juga termasuk metode mengajar dan belajar, caramengevaluasi murid dan seluruh program, perubahan tenaga mengajar,bimbingan dan penyuluhan, supervisi dan administrasi dan hal-hal strukturalmengenai waktu, jumlah ruangan serta kemungkinan memilih mata pelajaran.Ketiga aspek pokok, program, manusia dan fasilitas sangat erat hubungannya,sehingga tak mungkin diadakan perbaikan kalau tidak diperhatikan ketiga-tiganya.
  8. 8. 6. Alice Miel juga menganut pendirian yang luas mengenai kurikulum. Dalambukunya Changing the Curriculum : a Social Process (1946) is mengemukakanbahwa kurikulum juga meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan,keyakinan, pengetahuan dan sikap orang-orang melayani dan dilayani sekolah,yakni anak didik, masyarakat, para pendidik dan personalia (termasuk penjagasekolah, pegawai administrasi dan orang lainnya yang ada hubungannya denganmurid-murid ). Jadi kurikulum meliputi segala pengalaman dan pengaruh yangbercorak pendidikan yang diperoleh anak di sekolah. Defmisi Miel tentangkurikulum sangat luas yang mencakup yang meliputi bukan hanya pengetahuan,kecakapan, kebiasaan-kebiasaan, sikap, apresiasi, cita-cita serta norma-norma,melainkan juga pribadi guru, kepala sekolah serta seluruh pegawai sekolah.Langeveld seorang ahli pendidikan Belanda dalam bukunya Leerboek derPedagogische Psychologie membedakan apa yang disebutnya opvoedingsmiddelendan opvoedingsfaktoren Istilah pertama berarti alat-alat pendidikan, yaitu segalasesuatu yang dengan sengaja dilakukan oleh sipendidik terhadap anak-didik gunamempengaruhi kelakuannya, seperti menjelaskan, menganjurkan, memuji, melarangatau menghukum. Istilah kedua berarti faktor-faktor pendidikan, meliputi keadaanlingkungan pendidikan seperti kebersihan ruangan, keramahan pendidik, jadi tidakmerupakan tindakan yang disengaja. Kita lihat bahwa Alice Miel mencakup kedua halitu dalam pengertian kurikulumnya yakni alat pendidikan dan faktor pendidikan.Tak semua ahli kurikulum menganut pendirian yang begitu luas. Hilda Tababerpendapat bahwa defmisi yang terlampau luas mengaburkan pengertian kurikulumsehingga menghalangi pemikiran dan pengolahan yang tajam tentang kurikulum. Jikakurikulum dirumuskan sebagai "segala usaha yang dilakukan oleh sekolah untukmemperoleh hasil yang diharapkan dalam situasi di dalam maupun di luar sekolah"atau sebagai" sejumlah pengalaman yang potensial dapat diberikan oleh sekolahdengan tujuan agar anak dan pemuda dibiasakan berpikir dan berbuat menurutkelompok atau masyarakat tempat ia hidup", maka defmisi yang luas itu membuatnyatidak fungsional. Maka Hilda Taba memilih posisi yang tidak terlampau luas dan tidakpula terlampau sempit, karena defmisi yang sempit tidak lagi diterima oleh sekolahmodern.
  9. 9. Hilda Taba mengemukakan, bahwa pada hakikatnya tiap kurikulum merupakansuatu cara untuk mempersiapkan anak agar berparsitipasi sebagai anggota yangproduktif dalam masyrakatnya. Tiap kurikulum, bagaimanapun polanya, selalumempunyai komponen-komponen tertentu, yakni pernyataan tentang tujuan dansasaran, seleksi dan organisasi bahan dan isi pelajaran, bentuk dan kegiatan belajardan mengajar, dan akhirnya evaluasi hasil belajar. Perbedaan kurikulum terletak padapenekanan pada unsur-unsur tertentu.7. Edward A. Krug dalam The Secondary School Curriculum (1960) menunjukkanpendirian yang terbatas tapi realistis tentang kurikulum. Defmisinya ialah "ACurriculum Consists of the means used to achieve or carry out given purposes ofschooling". Kurikulum dilihatnya sebagai cara-cara dan usaha untuk mencapaitujuan persekolahan. la membedakan tugas sekolah mengenai perkembangananak dan tanggung jawab lembaga pendidikan lainnya seperti rumah tangga,lembaga agama, masyarakat, dan Iain-lain. la dengan sengaja menggunakanistilah "schooling" untuk menjelaskan apa sebenarnya tugas sekolah. Memborongsegala tanggung jawab atas pendidikan anak akan merupakan beban yangterlampau berat, sehingga tidak mungkin dilakukan dengan baik.Maka karena itu Krug membatasi kurikulum pada : 1. organized classroominstruction, yaitu pengajaran di dalam kelas, 2. kegiatan-kegiatan tertentu di luarpengajaran itu, seperti bimbingan dan penyuluhan, kegiatan pengabdian masyarakat,pengalaman kerja yang bertalian dengan pelajaran, dan perkemahan sekolah. Akantetapi kegiatan-kegiatan akhir masih bersifat kontroversial.Kurikulum adalah sesuatu yang direncanakan sebagai pegangan gunamencapai tujuan pendidikan. Apa yang direncanakan biasanya bersifat idea, suatucita-cita tentang manusia atau warga negara yang akan dibentuk. Kurikulum ini lazimmengandung harapan-harapan yang sering berbunyi muluk-muluk.Apa yang dapat diwujudkan dalam kenyataan disebut kurikulum yang real.Karena tak segala sesuatu yang direncanakan dapat direalisasikan, maka terdapatlahkesenjangan antara idea dan real curriculum.
  10. 10. Smith dan kawan-kawan memandang kurikulum sebagai rangkaianpengalaman yang secara potensial dapat diberikan kepada anak, jadi dapat disebutpotential curriculum. Namun apa yang benar-benar dapat diwujudkan pada anaksecara individual, misalnya bahan yang benar-benar diperolehnya, disebut actualcurriculum.Berbagai tafsiran tentang kurikulum dapat kita tinjau dari segi lain, sehinggakita peroleh penggolongan sebagai sebagai berikut:1. Kurikulum dapat dilihat sabagai produk, yakni sebagai hasil karya parapengembang kurikulum, biasanya dalam suatu panitia. Hasilnya dituangkandalam bentuk buku atau pedoman kurikulum, yang misalnya berisi sejumlah matapelajaran yang harus diajarkan.2. Kurikulum dapat pula dipandang sebagai program, yakni alat yang dilakukan olehsekolah untuk mencapai tujuannya. Ini dapat berupa mengajarkan berbagai matapelajaran tetapi dapat juga meliputi segala kegiatan yang dianggap dapatmempengaruhi perkembangan siswa misalnya perkumpulan sekolah,pertandingan, pramuka, warung sekolah dan Iain-lain.3. Kurikulum dapat pula dipandang sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajarisiswa, yakni pengetahuan, sikap, keterampilan tertentu. Apa yang diharapkanakan dipelajari tidak selalu sama dengan apa yang benar-benar dipelajari.4. Kurikulum sebagi pengalaman siswa. Ketiga pandangan diatas berkenaan denganperencanaan kurikulum sedangkan pandangan ini mengenai apa yang secaraaktual menjadi kenyataan pada tiap siswa. Ada kemungkinan, bahwa apa yangdiwujudkan pada diri anak berbeda dengan apa yang diharapkan menurutrencana.Mengenai masalah kurikulum senantiasa terdapat pendirian yangberbeda-beda, bahkan sering yang bertentangan. Ketidakpuasan dengan kurikulumyang berlaku adalah sesuatu yang biasa dan memberi dorongan mencari kurikulumbaru. Akan tetapi mengajukan kurikulum yang ekstrim sering dilakukan denganmendiskreditkan kurikulum yang lama, pada hal kurikulum itu pun mengandung
  11. 11. kebaikan, sedangkan kurikulum pasti tidak akan sempurna dan akan tampilkekurangannya setelah berjalan dalam beberapa waktu.Dalam praktiknya biasanya tidak dapat pertentangan yang begitu tajamseperti yang digambarkan dalam teorinya. Pada umumnya guru itu konservatif dancenderung berpegang pada cara-cara yang lama yang telah dikuasainya dan menurutpengalamannya memberi hasil yang baik. la tidak mudah melepaskan yang lama yangsudah terbukti kebaikannya, sebelum ia yakin bahwa yang baru itu ternyata lebih baiklagi. Juga ada kemungkinan untuk mengawinkan yang baru dengan yang lama. Makakarena itu jarang akan terdapat bahwa suatu teori tentang kurikulam dilaksanakansecara murni. Selain itu berbagai jenis kurikulum dapat hidup bersama tanpamenimbulkan konflik.Adanya berbagai tafsiran tentang kurikulum tak perlu merisaukan, karenajustru dapat memberi dorongan untuk mengadakan inovasi mencari bentuk -bentukkurikulum baru. Pandangan yang berbeda-beda itu memberi dinamika dalampemikiran tentang kurikulum secara kontinu tanpa henti-hentinya.Bila dalam buku ini kami uraikan kurikulum dalam bentuk murninya menurutteori yang mendasarinya, jadi menonjolkannya dalam bentuk yang ekstrim, perlu kitaketahui bahwa dalam praktik pendidikan sering terjadi campuran atau adanyaberbagai bentuk kurikulum yang hidup bersama secara damai.ASAS-ASAS KURIKULUMMengembangkan kurikulum bukan sesuatu yang mudah dan sederhanakarena banyak hal yang harus dipertimbangkan dan banyak pertanyaan yang dapatdiajukan untuk diperhitungkan. Misalnya : Apakah yang ingin dicapai, manusia yangbagaimana yang diharapkan akan dibentuk? Apakah akan diutamakan kebutuhananak pada saat sekarang atau masa mendatang? Apakah hakikat anak harusdipertimbangkan, ataukah ia diperlakukan sebagai orang dewasa? Apakah kebutuhananak itu? Apakah harus dipentingkan anak sebagai individu atau sebagai anggotakelompok? Apakah yang harus dipentingkan, mengajarkan kejujuran atau memberipendidikan umum? Apakah pelajaran akan didasarkan
  12. 12. atas disiplin ilmu ataukah dipusatkan pada masalah sosial dan pribadi? Apakahsemua anak harus mengikuti pelajaran yang samataukah is diizinkan memilih pelajaran sesuai dengan minatnya? Apakahseluruh kurikulum sama bagi semua sekolah secara uniform, atau diberi kelonggaranuntuk menyesuaikannya dengan keadaan daerah? Apakah hasil belajar anak akandiuji secara uniform ataukah diserahkan pada penilaian guru yang dapat mempelajarianak itu dalam segala aspek selama waktu yang panjang ?Semua pertanyaan itu menyangkut asas-asas yang mendasari setiapkurikulum, yakni :1. Asas filosofis yang berkenaan dengan tujuan pendidikan yang sesuai denganfilsafat negara.2. Asas psikologis yang memperhitungkan faktor anak dalam kurikulum yakni a.psikologi anak, perkembangan anak, b. psikologi belajar, bagaimana prosesbelajar anak.3. Asas sosiologis, yaitu keadaan masyarakat, perkembangan dan perubahannya,kebudayaan manusia, hasil kerja manusia herupa pengetahuan, dan Iain-lain.4. Asas organisatoris yang mempertimbangkan bentuk dan organisasi bahanpelajaran yang disajikan.Walaupun dalam buku ini keempat asas itu akan dipaparkan lebih lanjut,dirasa perlu memberikannya lebih dahulu secara singkat.1. Asas FilosofisSekolah bertujuan mendidik anak agar menjadi manusia yang "baik". Apakahyang dimaksud dengan "balk" pada hakikatnya ditentukan oleh nilai-nilai, cita-citaatau filsafat yang dianut negara, tapi juga guru, orang tua, masyarakat bahkan dunia.Perbedaan filsafat dengan sendirinya akan menimbulkan perbedaan dalam tujuanpendidikan, jadi juga bahan pelajaran yang disajikan, mungkin juga cara mengajardan menilainya. Pendidikan di negara otokratis akan berbeda dengan negara yangdemokratis, pendidikan di negara yang menganut agama Budha akan berlainandenagan pendidikan di negara yang memeluk agama Islam
  13. 13. atau Kristen. Kurikulum tak dapat tiada mempunyai hubungan yang erat denganfilsafat bangsa dan negara terutama dalam menentukan manusia yang dicita-citakansebagai tujuan yang harus dicapai melalui pendidikan formal.2. Asas Psikologisa. Psikologi anakSekolah didirikan untuk anak, untuk kepentingan anak, yakni menciptakansituasi-situasi di mana anak dapat belajar untuk mengembangkan bakatnya. Selamaberabad-abad anak tidak dipandang sebagai manusia yang lain daripada orang dewasadan karena itu mempunyai kebutuhan sendiri sesuai dengan perkembangannya. Barusetelah Rousseau anak itu dikenal sebagai anak, dan dilakukan penelitian ilmiahuntuk lebih mengenalnya, dan sejak permulaan abad ke-20 anak kian mendapatperhatian menjadi salah satu asas dalam pengembangan kurikulum. Timbullah aliranyang disebut progresif, bahkan kurikulum yang semata-mata didasarkan atas minatdan perkembangan anak, yaitu "Child centered curriculum". Kurikulum ini dapatdipandang sebagai reaksi terhadap kurikulum yang ditentukan oleh orang dewasatanpa menghiraukan kebutuhan dan minat anak. Tentu saja kurikulum yang begituekstrim mengutamakan salah satu dasar akan mempunyai kekurangan-kekurangan.Namun gerakan ini tak dapat tiada menarik perhatian para pendidik, khususnya parapengembang kurikulum, untuk selalu menjadikan anak sebagai salah satu pokokpemikiran.b. Psikologi belajarPendidikan di sekolah diberikan dengan kepercayaan dan keyakinan bahwaanak-anak dapat dididik, dapat dipengaruhi kelakuannya. Anak-anak dapat belajar,dapat menguasai sejumlah pengetahuan, dapat mengubah sikapnya, dapat menerimanorma-norma, dapat menguasai sejumlah keterampilan. Soal yang penting ialah :bagaimanakah anak itu belajar? Kalau kita tahu betul, bagaimana proses belajar ituberlangsung, dalam keadaan yang bagaimana belajar itu memberi hasil yangsebaik-baiknya, maka kurikulum dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan carayang seefektif-efektifnya.
  14. 14. Oleh sebab belajar itu ternyata suatu proses yang pelik dan kompleks, makatimbullah berbagai teori belajar yang menunjukkan ketidaksesuaian satu sama lain.Penelitian dilakukan untuk lebih mendalam memahami proses belajar ini, banyak diantaranya dengan melakukan eksperimen.Pada umumnya dapat dikatakan, bahwa tiap teori itu mengandung kebenaran,akan tetapi tidak memberikan gambaran tentang keseluruhan proses belajar itu, jadiyang mencakup segala gejala belajar, dari yang sederhana sampai yang paling pelik.Teori belajar dijadikan dasar bagi proses belajar-mengajar. Dengan demikianada hubungan yang erat antara kurikulum dan psikologi belajar dan psikologi anak.Karena hubungan yang sangat erat itu maka psikologi menjadi salah satu dasarkurikulum.3. Asas SosiologisAnak tidak hidup sendiri terisolasi dari manusia lainnya, ia selalu hidup dalamsuatu masyarakat. Di situ ia harus memenuhi tugas-tugas yang harus dilakukannyadengan penuh tanggung-jawab, baik sebagai anak, maupun sebagai orang dewasakelak. Ia banyak menerima jasa dari masyarakat dan ia sebaliknya harusmenyumbangkan baktinya bagi kemajuan masyarakat. Tuntutan masyarakat tak dapatdiabaikannya.Tiap masyarakat mempunyai norma-norma, adat kebiasaan yang tak dapattiada harus dikenal dan diwujudkan anak dalam pribadinya lalu dinyatakannya dalamkelakuannya. Tiap masyarakat berlainan corak nilai-nilai yang dianutnya. Tiap anakakan berbeda latar belakang kebudayaannya. Perbedaan ini harus di-pertimbangkandalam kurikulum. Juga perubahan masyarakat akibat perkembangan ilmupengetahuan dan teknologi merupakan faktor pertimbangan dalam kurikulum.Oleh sebab masyarakat suatu faktor yang begitu penting dalampengembangan kurikulum, maka masyarakat dijadikan salah satu asas. Dalam hal inipun harus kita jaga, agar asas ini jangan terlampau mendominasi sehingga
  15. 15. timbul kurikulum yang berpusat pada masyarakat atau"society-centered curriculum".4. Asas OrganisatorisAsas ini herkenaan dengan masalah, dalam bentuk yang bagaimana bahanpelajaran akan disajikan? Apakah dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-pisah,ataukah diusahakan adanya hubungan antara pelajaran yang diberikan, misalnyadalam bentuk broad-field atau bidang studi seperti IP A, IPS, Bahasa, dan Iain-lain.Ataukah diusahakan hubungan secara lebih mendalam dengan menghapuskan segalabatas-batas mata pelajaran, jadi dalam bentuk kurikulum yang terpadu. Ilmu jiwaasosiasi yang berpendirian bahwa keseluruhan sama dengan jumlah bagianbagiannyacenderung memilih kurikulum yang subject-centered, atau yang berpusat pada matapelajaran, yang dengan sendirinya akan terpisah-pisah. Sebaliknya ilmu jiwa Gestaltlebih mengutamakan keseluruhan, karena keseluruhan itu bermakna dan lebih relevandengan kebutuhan anak dan masyarakat. Aliran psikologi ini lebih cenderungmemilih kurikulum terpadu atau integrated kurikulum.Kembali perlu di ingatkan, bahwa tidak ada kurikulum yang baik dan tidakbaik. Setiap organisasi kurikulum mempunyai kebaikan akan tetapi tidak lepas darikektirangan ditinjau dari segi-segi tertentu. Selain itu, bermacam-macam organisasikurikulum dapat dijalankan secara bersama di satu sekolah, bahkan yang satu dapatmembantu atau melengkapi yang satu lagi.Kurikulum yang bagaimana yang harus dipilih? Pertanyaan itu diajukankarena macamnya kemungkinan. Dalam mengembangkan kurikulum harus diadakanpilihan, jadi selalu hasil semacam kompromi antara anggota panitia kurikulum.Sering dikatakan bahwa "curriculum is a matter of choice", kurikulurri adalah soalpilihan. Dalam hal ini pilihan banyak bergantung pada pendirian atau sikap seseorangtentang pendidikan. Pada umumnya dapat dibedakan dua pendirian utama, yakniyang tradisional dan yang progresif.KURIKULUM TRDISIONAL ATAU PROGRESIF
  16. 16. Kurikulum tradisional yang ingin mengawetkan yang lama tidak dengansendirinya buruk dan merugikan, oleh sebab apa yang diawetkan, selalu yang baik,apakah itu nilai-nilai, barang seni, benda, dan sebagainya. Namun dalam masaperubahan yang serba dinamis ini, menutup mata bagi perubahan akan merugikan dirisendiri. Sebaliknya kurikulum modern - progresif juga tidak dengan sendirinya baikdan luput dari, berbagai kekurangan.Menjalankan kurikulum progresif akan banyak mendapat tentangan, antaralain dari pihak guru yang terkenal karena sikap konservatifnya, juga orangitua yangtelah mengecap pendidikan tradisional dan merasakan manfaatnya. Kesulitan yangdihadapi kurikulum progresif ialah, bahwa orang mengharapkan hasil-hasiltradisional dari sekolah yang progresif. Sekolah progresif misalnya mementingkankemampuan memecahkan masalah dan menggunakan pengetahuan secara fungsionaluntuk memecahkan masalah itu. Tidak diharapkan siswa mempunyai pengetahuanyang uniform. Namun orang tua masih mengharapkan agar murid-murid hafal akannama-nama geografis, tahun-tahun dan tokoh-tokoh sejarah, terampil dalam hitungandi luar kepala, dan Iain-lain. Sekolah progresif harus dinilai berdasarkanprinsip-prinsip sekolah itu. Kita inginkan agar anak-anak kreatif, sanggup berpikirsendiri, walaupun kesimpulannya lain dari yang lain, kita ingin agar anak sanggupmengadakan penelitian dan penemun, namun kita mengadakan ujian nasional yanguniform yang tidak menghiraukan perbedaan individual, dan terutama menonjolkanhafalan, tidak mengizinkan perbedaan pendapat, menentukan lebih dahulu mana yangbenar yang dicoba anak mencari atau menerkanya bila menghadapi ujian bercorakobjektifDi bawah ini kami cantumkan beberapa perbedaan antara pendiriantradisional dan progresif.Penganut kurikulum tradisional berpegang pada kurikulum yang didasarkanatas subjek atau mata pelajaran, yang biasanya diberikan secara terpisah-pisah. Bahanmata pelajaran diambil dari berbagai disiplin ilmu yang dibina dan senantiasadikembangkan para ilmuwan dan karena itu mendapat penghargaan tinggi darimasyarakat. Kurikulum tradisional ini telah bertahan selama beberapa abad dandiduga akan bertahan terus sepanjang masa. Dianggap
  17. 17. bahwa ilmu mempunyai nilai tersendiri dan karena itu dapat dipelajari demi ilmu itusendiri. Selain itu mempelajari ilmu akan mengembangkan kemampuan intelektualanak.Penganut kurikulum progresif atau modern tidak menolak ilmu, akan tetapitidak dipelajari demi ilmu sendiri, akan tetapi untuk digunakan dalam memecahkansuatu masalah. Sambil memecahkan masalah siswa mengumpulkan ilmu yangdiperlukan. Mengumpulkan ilmu demi ilmu yang tidak fungsional hanya membebaniotak dengan hal-hal yang mubazir. Tujuan pendidikan bukan hanya mengembangkanaspek intelektual saja melainkan keseluruhan pribadi anak dalam segala aspek.Dalam kurikulum tradisional diperlukan pengarahan, pengawasan, kontroldan disiplin yang ketat, agar siswa mempelajari bahan yang sama dan mencapaitingkat penguasaan yang sama. Sebaliknya kurikulum yang progresif lebih banyakmemberi kebebasan kepada siswa untuk menentukan apa yang akan dipelajarinya,sesuai dengan minat dan kesanggupannya dalam suasana yang mengizinkankebebasan.Apa yang dipelajari dalam kurikulum tradisional dianggap akan bergunakelak di kemudian hari anak, karena banyak pelajaran yang sebenarnya tidak adakaitannya dengan kehidupan anak dalam masyarakat. Di lain pihak, kurikulumprogresif memilih masalahmasalah yang nyata dalam kehidupan anak danmasyarakat.Kurikulum tradisional menyamaratakan semua siswa baik mengenai bahan,metode belajar-mengajar, maupun evaluasi. Kurikulum progresif memperhatikanbahkan membantuperkembangan keunikan individu.Kurikulum tradisional menerima kenyataan dalam masyarakat sebagaimanaadanya, sedangkan kurikulum progresif berusaha untuk mengubah lingkungan untukmembentuk dunia yang lebih baik.Kalau diteliti lebih lanjut dapat lagi kita temui perbedaan lain antara keduapendekatan dalam pengembangan kurikulum. Dapat kita katakan, bahwa kurikulumprogresif merupakan reaksi dalam berbagai bentuk terhadap
  18. 18. kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam kurikulum tradisional. Namunbetapapun kritik terhadap kurikulum tradisional, kurikulum ini tetap bertahan.Juga kurikulum progresif tidak bebas dari kritik yang tajam dari berbagaipihak. Yang paling berpengaruh ialah kritik bahwa kurikulum ini kurangmengembangkan kemampuan intelektual anak, sehingga setelah peluncuran Sputnik,aliran progresif mengalami pukulan hebat, dengan ditonjolkannya kembali kurikulumyang berdasarkan disiplin ilmu, akan tetapi akibatnya ialah, bahwa faktor anakkembali dianaktirikan.KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUMRalph W.Tyler dalam bukunya Basic Principles of Curriculum andInstruction (1949), salah satu buku yang paling berpengaruh dalam pengembangankurikulum, mengajukan 4 pertanyaan pokok, yakni :1. Tujuan apa yang harus dicapai sekolah?2. Bagaimanakah memilih bahan pelajaran guna mencapai tujuan itu?3. Bagaimanakah bahan disajikan agar efektif diajarkan?4. Bagaimanakah efektivitas belajar dapat dinilai?Berdasarkan pertanyaan itu, maka diperoleh keempat komponen kurikulumyakni, (1) tujuan, (2) bahan pelajaran, (3) proses belajar-mengajar, (4) evaluasi ataupenilaian. Keempat komponen itu dapat kita gambarkan dalam bagan sebagai berikut:„ TUJUANi,EVALUASI BAHAN^ *^-~ PBMKeempat komponen itu saling berhubungan. Setiap komponen bertalian eratdengan ketiga komponen lainnya. Tujuan menentukan bahan apa yang akandipelajari, bagaimana proses belajarnya, dan apa yang harus dinilai. Demikian pula
  19. 19. penilaian dapat mempengaruhi komponen lainnya. Pada saat dipentingkan-
  20. 20. nya evaluasi dalam bentuk ujian, misalnya Ebtanas, UMPTN, maka timbulkecenderungan untuk menjadikan bahan ujian sebagai tujuan kurikulum, prosesbelajar-mengajar cenderung mengutamakan latihan dan hafalan.Bila salah satu komponen berubah, misalnya ditonjolkannya tujuan yang baru,atau proses belajar-mengajar, misalnya metode baru, atau cara penilaian, maka semuakomponen lainnya turut mengalami perubahan. Kalau tujuannya jelas, maka bahanpelajaran, PBM, maupun evaluasi pun lebih jelas.Pola kurikulum yang dikemukakan oleh Tyler ini tampaknya sangatsederhana, namun dalam kenyataannya lebih kompleks daripada yang diduga. Takmudah menentukan tujuan pendidikan atau pelajaran, tak mudah pula menentukanbahan yang tepat guna mencapai tujuan itu, misalnya bahan untuk mendidik anak agarmenjadi manusia pembangun, jujur, kerja keras, dan sebagainya. Menentukan PBMyang efektif tak kurang sulitnya, karena keberhaslannya baru diketahui setelah dinilai.Konsep tayle tentang komposisi kurikulum tentu mendapat kritik, namunmasih dipertimbangkan hingga sekarang.RANGKUMAN1. Kurikulum yang semula berarti jarak yang harus ditempuh, kemudian menjadisejumlah mata pelajaran yang harus dilalui untuk mendapat ijazah.2. Para ahli kurikulum "modern" cenderung memberikan pengertian yang lebih luas,sehingga meliputi kegiatan di luar kelas, bahkan juga mencakup segala sesuatuyang dapat mempengaruhi kelakuan siswa, termasuk kebersihan kelas, pribadiguru, sikap petugas sekolah, dan Iain-lain.3. Kurikulum dapat dipandang dari berbagai segi, yakni, curriculum as a product, asa program, as intended learnings, as the experiences of the learner. Dapat pula kitamemandangnya sebagai formal curriculum, ideal, real, actual curriculum ataupotential learning experiences.
  21. 21. 4. Ada kebaikan dan kelemahan pengertian kurikulum yang terlampau luas atauterlampau sempit. Hilda Taba memandang kurikulum sebagai "a plan forlearning".5. Ada kecenderungan pengertian kurikulum meluas, karena banyak tugas yangsedianya oleh rumah tangga dan lembaga informal lainnya dibebankan kepadasekolah.6. Kurikulum senantiasa harus diubah karena perubahan masyarakat akibatkemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan kurikulum berjalankontinu kalau tidak mau ketinggalan zaman.7. Karena adanya macam-macam defmisi kurikulum, tiap guru harus menentukantafsirannya sendiri. Pilihannya itu akan mempengaruhi konsepsinya tentangtugasnya sebagai pendidik. la dapat menganut pendirian yaang tradisional atauprogresif.PERTANYAAN DAN TUGAS1. Jelaskan perkembangan pengertian kurikulum.2. Jelaskan arti kurikulum sebagai product, program, intended learnings, theexperiences of the learner. Juga pengertian kurikulum formal, real, ideal,potential, actual.3. Bandingkan berbagai defmisi yang tercantum dalam pelajaran, antara lainmengenai luas cakupannya.4. Bagaimanakah pengertian kurikulum di sekolah kita?5. Dikatakan, bahwa praktik kurikulum jauh ketinggalan bila dibandingkan denganteorinya. Jelaskan.6. Sebutkan asas-asas kurikulum. Selidiki azas-azas itu pada kurikulum yangberlaku di sekolah kita.7. Menurut Saudara siapakah yang mengembangkan kurikulum? Apakah orangtua,begitu juga murid harus tout dalam pengembangan kurikulum?8. Bagaimana pendapat Saudara tentang guru sebagai pengembang kurikulum?9. Di antara asas-asas kurikulum, asas manakah yang paling banyak mengalamiperubahan? Mana yang paling sedikit atau tidak berubah?10. Perbedaan apakah yang mungkin timbul di antara anggota panitia pengembangankurikulum?
  22. 22. 11. Bila dibandingkan kurikulum sebelum dan sesudah kita merdeka perbedaanapakah kiranya yang kita dapati?12. Jelaskan adanya hubungan yang erat di antara komponenkomponen kurikulum.Jelaskan bahwa perubahan dalam satu komponen mempengaruhi komponenlainnya.13. Ada kurikulum yang tidak direncanakan, yakni "hidden curriculum" ataukurikulum yang tersembunyi. Tahukah Saudara apa maksudnya dan memberibeberapa contoh?
  23. 23. BAB 2ASAS-ASAS FILOSOFISFilsafat sangat penting karena harus dipertimbangkan dalam mengambilkeputusan tentang setiap aspek kurikulum. Untuk tiap keputusan harus ada dasarnya.Filsafat adalah cara berpikir yang sedalam-dalamnya, yakni sampai akarnya tentanghakikat sesuatu.Ada orang yang berpendapat bahwa guru tak perlu mempelajari filsafat,karena sangat abstrak dan karena itu tak praktis dan tidak ada manfaatnya bagipekerjaannya. Pendirian itu terlampau picik, karena apa yang dilakukan guru harusdidasarkan pada apa yang dipercayai, diyakininya sebagai benar dan baik. Filsafat ituantara lain menentukan kepercayaan kita tentang : apakah hakikat manusia,khususnya hakikat anak dan sifat-sifatnya, apakah sumber kebenaran dan nilai-nilaiyang hendaknya menjadi pegangan hidup kita, tentang apakah yang baik, apakahhidup yang baik, apakah yang sebaiknya diajarkan kepada anak-didik, apakahperanan sekolah dalam masyarakat, apakah peranan guru dalam proses belajarmengajar, dan Iain-lain.Para pengembang kurikulum harus mempunyai filsafat yang jelas tentang apayang mereka junjung tinggi. Filsafat yang kabur akan menimbulkan kurikulum yangtidak menentu arahnya. Kini terdapat berbagai aliran filsafat, masing-masing dengandasar pemikiran tersendiri. Di sini akan kami bicarakan dengan singkat beberapabuah yakni :1. Aliran PerennialismeAliran ini bertujuan mengembangkan kemampuan intelektual anak melaluipengetahuan yang "abadi, universal dan absolut" atau "perennial" yang ditemukandan diciptakan para pemikir unggul sepanjang masa, yang dihimpun dalam "the GreatBooks" atau "Buku Agung". Kebenaran dalam buku itu bertahan teguh terhadapsegala perubahan zaman.Kurikulum yang diinginkan oleh aliran ini terdiri atas subject atau matapelajaran yang terpisah sebagai disiplin ilmu dengan menolak penggabungan
  24. 24. seperti IPA atau IPS. Hanya mata pelajaran yang sungguh mereka anggap dapatmengembangkan kemampuan intelektual seperti matematika, fisika, kimia, biologiyang diajarkan, sedangkan yang berkenaan emosi dan jasmani seperti seni rupa, olahraga sebaiknya dikesampingkan. Pelajaran yang diberikan termasuk pelajaran yangsulit karena memerlukan inteligensi tinggi. Kurikulum ini memberi persiapan yangsungguhsungguh bagi studi di perguruan tinggi.2. Aliran IdealismeFilsafat ini berpendapat bahwa kebenaran itu berasal dari "atas", dari duniasupranatural dari Tuhan. Boleh dikatakan hampir semua agama menganut filsafatidialisme. Kebenaran dipercayai datangnya dari Tuhan yang diterima melalui wahyu.Kebenaran ini, termasuk dogma dan norma-normanya bersifat mutlak. Apa yangdatang dari Tuhan baik dan benar. Tujuan hidup ialah memenuhi kehendak Tuhan.Filsafat ini umumnya diterapkan di sekolah yang berorientasi religius. Semuasiswa diharuskan mengikuti pelajaran agama, menghadiri khotbah dan membacaKitab Suci. Biasanya disiplin termasuk ketat, pelanggaran diberi hukuman yangsetimpal bahkan dapat dikeluarkan dari sekolah. Namun pendidikan intelektual jugasangat diutamakan dengan menentukan standar mutu yang tinggi.3. Aliran RealismeFilsafat realisme mencari kebenaran di dunia ini sendiri. Melalui pengamatandan penelitian ilmiah dapat ditemukan hukumhukum alam. Mutu kehidupan senatiasadapat ditingkatkan melalui kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuanhidup ialah memperbaiki kehidupan melalui penelitian ilmiah.Sekolah yang beraliran realisme mengutamakan pengetahuan yang sudahmantap sebagai hasil penelitian ilmiah yang dituangkan secara sistemetis dalamberbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran. Di sekolah akan dimulai dengan teori-teoridan prinsip-prinsip yang fundamental, kemudian praktik dan aplikasinya.
  25. 25. Karena mengutamakan pengetahuan yang esensial, maka pelajaran"embel-embel" seperti keterampilan dan kesenian dianggap tidak perlu.Kurikulum ini tidak memperhatikan minat anak, namun diharapkan agarmenaruh minat terhadap pelajaran akademis. la harus sungguh-sungguh mempelajaribuku-buku berbagai disiplin ilmu. Penguasaan ilmu yang banyak berkat studi yangintensif adalah persiapan yang sebaik-baiknya bagi lanjutan studi dan kehidupandalam masyarakat. Dapat dibayangkan banyaknya murid yang tidak mampumengikuti studi akademis serupa ini.4. Aliran Pragmatisme"Aliran ini juga disebut aliran instrumentalisme atau utilitarianisme danberpendapat bahwa kebenaran adalah buatan manusia berdasarkan pengalamannya.Tidak ada kebenaran mutlak, kebenaran adalah tentatif dan dapat berubah. Yang baik,ialah yang berakibat baik bagi masyarakat. Tujuan hidup ialah mengabdi kepadamasyarakat dengan peningkatan kesejahteraan manusia.Tugas guru bukan mengajar dalam arti menyampaikan pengetahuan,melainkan memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan berbagai kegiatanguna memecahkan masalah, atas dasar kepercayaan bahwa belajar itu hanya dapat dilakukan oleh anak sendiri, bukan karena "dipompakan ke dalam otaknya". Yangpenting ialah bukan "what to think" melainkan "how to think" yakni melaluipemecahan masalah. Pengetahuan diperoleh bukan dengan mempelajari matapelajaran, melainkan karena digunakan secara fungsional dalam memecahkanmasalah.Aliran pragmatisme sering sejalan dengan aliran rekonstruksionisme yangberpendirian bahwa sekolah harus berada pada garis depan pembangunan danperubahan masyarakat. Sekolah ini menjauhi indoktrinasi dan mengajak siswa secarakritis menganalisis isu-isu sosial.Dalam perencanaan kurikulum orangtua dan masyarakat sering dilibatkanagar dapat memadukan sumber-sumber pendidikan formal dengan sumber sosial,
  26. 26. politik dan ekonomi guna memperbaiki ekonomi kondisi hidup manusia. Banyak diantara penganut aliran ini memandang sekolah sebagai masyarakat kecil.5. Aliran EksistensialismeFilsafat ini mengutamakan individu sebagai faktor dalam menentukan apayang baik dan benar. Norma-norma hidup berbeda secara individual dan ditentukanmasing-masing secara bebas, namun dengan pertimbangan jangan menyinggungperasaan orang lain. Tujuan hidup adalah menyempurnakan diri, merealisasikan diri.Sekolah yang berdasarkan eksistensialisme mendidik anak agar ismenentukan pilihan dan keputusan sendiri dengan menolak otoritas orang lain. la hrusbebas berpikir dan mengambil keputusan sendiri secara bertanggungjawab. Sekolahini menolak segala kurikulum, pedoman, instruksi, buku wajib, dan Iain-lain daripihak luar. Anak harus mencari identitasnya sendiri, menentukan standardnya sendiridan kurikulumnya sendiri. Dengan sendirinya mereka tidak dipersiapkan untukmenempuh ujian nasional.Dari segala mata pelajaran, mungkin ilmu-ilmu sosial yang paling menarikmereka Pendidikan moral tidak diajarkan kepada mereka, juga tidak ditetapkanaturan-aturan yang harus mereka patuhi. Bimbingan yang diberikan sering bersifatnon-directive, di mana guru banyak mendengarkan dan mengajukan pertanyaan tanpamengingatkan apa yang harus dilakukan anak.Cicero memandang filsafat sebagai ilmu tentang hal-hal yangsemuluk-muluknya. Filsafat ialah "induk segala ilmu". Tujuan filsafat ialahmembentuk suatu pandangan yang sistematis tantang keseluruhan ilmu. Ini berartibahwa seorang ahli filsafat harus dapat mencernakannya dan mengasimilasikannyaberkat proses yang disebut berpikir. Pekerjaan ini sangat sulit dan tak mungkindilakukan oleh setiap orang biasa. Ilmu pengetahuan dewasa ini sangat luas dan pelikdan tak mungkin lagi bagi seorang untuk menguasainya, bahkan satu cabang disiplinilmu sekalipun sulit dikuasai sepenuhnya. Dalam arti ini, tak mungkin setiap orangmempunyai filsafat. Dan bila dikatakan bahwa tiap guru harus mempunyai filsafat,maka kata itu digunakan dalam arti yang berlainan, yakni
  27. 27. sebagai "suatu sistem nilai-nilai", suatu pandangan hidup. Manusia telah menemukantenaga atom berkat kemajuan ilmu pengetahuan, akan tetapi bila ditanya, untukapakah tenaga itu digunakan, untuk perang yang dapat menghancurkan umat manusiaatau untuk peningkatan kehidupan manusia, maka kita memasuki lapangan nilai-nilaiatau filsafat. Ilmu menemukan pengetahuan dan teknologi, akan tetapipenggunaannya ditentukan oleh filsafat atau nilai-nilai.Kalau filsafat di tafsirkan sebagai sistem nila-nilai, apakah setiap orang dapatmempunyai suatu filsafat sendiri? Filsafat dengan pengertian ini telah ada sejak adamanusia di bumi ini, sejak Adam dan Hawa. Dalam arti ini filsafat bukanlah sesuatuyang maha-sulit dan pelik, melainkan sesuatu yang biasa yang dapat dimiliki setiaporang yang berpikir dan mencoba menafsirkan makna dan nilai hidup bagi dirinya,dan mencari suatu sistem nilai-nilai yang menjadi pegangannya dalam menghadapimasalah-masalah dalam hidupnya dan dengan demikian memberi corak tertentukepada kelakuannya. Filsafat ialah pendapat yang sejujur-jujurnya tentang maknahidup baginya.Walaupun tiap orang pernah berpikir tentang apa arti hidup ini baginya,belum tentulis dikatakan mempunyai suatu filsafat hidup. Sering seorang kurangsadar dan kurang jelas mengetahui nilai-nilai apa yang dianutnya. Pandangan hidupkabur, tak konsisten, tak berakar prinsip-prinsip yang jelas. Kelakuannya tidakmenunjukkan corak tertentu.Filsafat ialah sesuatu yang menunjukan suatu sistem, yang dapat menentukanarah hidup dan serta menggambarkan nilai-nilai apa yang paling dihargai dalam hidupseseorang. Filsafat serupa inilah yang harus dimiliki setiap guru, setiap pendidik, agardapat membantu anak membentuk pandangan hidup yang sehat. Dalam filsafatgurulah terkandung gambaran tentang masyarakat yang akan dibangun, manusiaapakah yang harus dibentuk, kurikulum apakah yang akan digunakan. Tujuan,metode, alat pendidikan, pandangan tentang anak, ditentukan oleh filsafat yangdianutnya. Pendidikan yang diberikan berdasarkan filsafat tidak merupakanrangkaian perbuatan mekanis yang lepas-lepas akan tetapi merupakan suatukebulatan mengarah kepada tujuan tertentu.
  28. 28. Sekolah tanpa filsafat laksana kapal tanpa kemudi. Filsafat yang berbeda ataubertentangan di kalangan pendidik tak akan membawa bahtera pendidikan kearahtujuantertentu.Segala keputusan yang diambil mengenai pendidikan atau kurikulum, biladitelusuri secara lebih mendalam, mempunyai dasar filosofis. Sering filsafat yangmendasarinya tidak dinyatakan secara eksplisit. Keputusan tentang PPSI, CBSA,muatan lokal, pendidikan dasar 9 tahun, tentu ada dasar falsafahnya. Demikian pula didalam kelas, bila guru menghukum atau memuji anak, menjalankan disiplin kerasatau lunak, mendorong atau melarang anak menjadi penyanyi, membolehkananak-anak bekerja sama, menyuruh anak mencari data dari lapangan, di belakangtindakan itu ada falsafahnya. Tentu diharapkan agar tindakan itu mempunyai dasarfilosofis yang konsisten.APAKAH GUNA FILSAFAT PENDIDIKAN?Pentingnya filsafat bagi pendidikan nyata bila kita ketahui besar manfaatnyabagi kurikulum yakni :1. Filsafat pendidikan menentukan arah ke mana anak-anak harus dibimbing.Sekolah ialah suatu lembaga yang didirikan oleh masyarakat untuk mendidikanak menjadi manusia dan warga negara yang dicita-citakan oleh masyarakat itu.Jadi filsafat menentukan tujuan pendidikan.2. Dengan adanya tujuan pendidikan ada gambaran yang jelas tentang hasilpendidikan yang harus dicapai, manusia yang bagaimana yang harus dibentuk.3. Filsafat juga menentukan cara dan proses yang harus dijalankan untuk mencapaitujuan itu.4. Filsafat memberi kebulatan kepada usaha pendidikan, sehingga tidak lepas-lepas.Dengan demikian terdapat kontinuitas dalam perkembangan anak.5. Tujuan pendidikan memberi petunjuk apa yang harus dinilai dan hingga manatujuan itu telah tercapai.6. Tujuan pendidikan memberi motivasi dalam proses belajar mengajar, bila jelasdiketahui apa yang ingin dicapai.FILSAFAT PENDIDIKAN DI INDONESIA
  29. 29. Tujuan pendidikan, yang ingin dicapai dengan pendidikan ditentukan olehfilsafat yang dianut oleh pemerintah, atau penguasa dalam suatu negara. Kalaupemerintahan bertukar, dengan sendirinya tujuan pendidikan pun berubah samasekali.Pemerintah Belanda yang menguasai Indonesia selama tiga setengah abadmenganut paham imperialisme dan kolonialisme yang bertujuan untukmempertahankan agar lebih lama dapat memperoleh keuntungan dari tanahjajahannya antara lain dengan menghalangi, memperlambat, atau sangat membatasipendidikan bagi orang Indonesia. Kebanyakan anak yang bersekolah hanya di sekolahdesa yang boleh dikatakan tak mendapat kesempatan untuk melanjutkan pelajaran.Segelintir anak dibolehkan memasuki sekolah yang berbahasa Belanda akan tetapijalan ke sekolah lanjutan sangat dipersempit. Bahasa Belanda digunakan untukmenahan orang lolos ke sekolah yang lebih tinggi. Adanya sekolah lanjutan hanyakarena keperluan mereka akan pegawai di kantor pemerintah atau swasta. Kurikulumdi sekolah yang berbahasa Belanda sama dengan yang apa yang berlaku di negeriBelanda sendiri. Untung masih bisa lolos beberapa anak Indonesia untuk mengecappendidikan tinggi, antara lain Soekarno, Hatta dan Iain-lain yang berhasilmenghentikan penjajahan dari bumi Indonesia ini.Jepang yang kemudian menduduki negara kita, segera menghapus segalasisa-sisa pendidikan yang berbau Belanda. Bahasa Jepang di ajarkan sebagaipengganti bahasa Belanda dan mujurnya bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantardi semua tingkatan sekolah. Latihan militer diberikan untuk membantu mereka dalammempertahankan jajahannya. Hormat terhadap kaisar Jepang di tanamkan dalamupacara-upacara.Kemerdekaan Indonesia yang kita rebut dari tangan penjajah, merombaksistem pendidikan secara radikal dengan mendasarkannya atas filsafat bangsa kita,yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Garis-garis Besar Haluan Negara.PANCASILA SEBAGAI DASAR PENDIDIKAN
  30. 30. Pancasila yang kita akui dan terima sebagai filsafat dan pandangan hidupbangsa kita, yang dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, dijadikan pulafilsafat pendidikan kita.Seperti dinyatakan dalam ketetapan MPR No. II/MPR/1968, Pancasila adalahjiwa seluruh rakyat Indonesia dan negara kita. Di samping itu, bagi kita Pancasilasekaligus menjadi tujuan hidup bangsa Indonesia. Kesadaran dan cita-cita moralPancasila sudah berurat berakar dalam kebudayaan bangsa Indonesia, yangmengajarkan bahwa hidup manusia akan mencapai kebahagiaan, jika dapatdikembangkan keselarasan dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia secarapribadi, dalam hubungan dengan alam, dalam hubungan manusia dengan Tuhannya,maupun dalam mengejar kemajuan lahiriah, dan kebahagiaan rohaniah.Seperti kita ketahui, Pancasila terdiri atas :1. Ketuhanan yang Maha Esa.2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.3. Persatuan Indonesia.4. Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaandalam permusyawaratan / perwakilan.5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.Walaupun Pancasila dirumuskan menjelang kemerdekaan kita, padahakikatnya ia telah hidup dalam masyarakat Indonesia sejak dahulu kala dalam moral,adat istiadat, dan kebiasaan bangsa kita. " Dengan adanya kemerdekaan Indonesia,maka Pancasila itu bukanlah lahir, atau baru dijelmakan, tetapi sebe-narnya, denganadanya kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia, Pancasila itu bangkit kembali"(M. Nasroen, dalam Pantjasila Pusaka Lama , 1954 )Oleh sebab Pancasila diakui sebagai pandangan hidup bangsa, maka sudahseharusnya prinsip-prinsip itu di sampaikan kepada generasi muda melaluipendidikan dan pengajaran.
  31. 31. Dalam undang-undang tentang dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah,bab III, pasal 4, tercantum :" Pendidikan dan pengajaran berdasarkan asas-asas yang termaktub dalamPancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan atas kebudayaankebangsaan Indonesia".Asas-asas itu seyogianya diwujudkan dalam pendidikan di sekolah maupun diluar rumah. Asas-asas yang masih bersifat umum itu masih perlu diuraikan agar lebihjelas untuk dijadikan pedoman dalam pendidikan.Sila Ke-Tuhanan Yang Maha EsaAgama sering merupakan pokok persengketaan antara manusia dengansesamanya, bahkan sejak berabad-abad hingga sekarang bangsa-bangsa bersengketakarena perbedaan agama dan menimbulkan banyak penderitaan, walaupun tiap agamapada prinsipnya tidak menganjurkan penganutnya untuk menyakiti orang lain.Perbedaan agama juga terdapat di Indonesia, namun senantiasa hidup damaiberdampingan. Perang agama seperti terdapat di benua lain tidak pernah kita kenal diTanah air kita. Bahkan saling membantu mendirikan mesjid atau gereja oleh orangsekampung yang berbeda agama bisa terjadi. Agama tidak menimbulkan keretakandalam agama dan adat-istiadat.Pancasila menjamin hak setiap warga Indonesia memuja Tuhan dan memelukagamanya masing-masing. Bahwa agama dipentingkan oleh pemerintah nyata dengandiwajibkannya pelajaran agama di sekolah, dari SD sampai Perguruan Tinggi.Sekolah berkewajiban membantu anak-anak hidup menurut agamanya sambilmemupuk rasa toleransi, pengertian dan rasa hormat terhadap penganut agama lain.Ketetapan MPR No. II/MPR/1978, yang juga dinamakan "EkaprasetiaPancakarsa", memberi petunjuk nyata dan jelas tentang wujud kelima sila dalamPancasila.
  32. 32. Mengenai sila ke-Tuhanan Yang Maha Esa diberi uraian sebagai berikut :(1) Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dankepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.(2) Hormat-menghormati dan bekerja-sama antara pemeluk agama danpenganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunanhidup.(3) Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dankepercayaannya.(4) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.Sila Kemanusiaan Yang Adil dan BeradabNasionalisme yang melewati batas, yakni " chauvinisme" dapat mengandungbahaya, karena mendewakan negara sendiri sambil memandang rendah terhadapbangsa-bangsa lain. Nasionalisme yang berlebihan sering menimbulkan peperangandan karena itu harus dibatasi. Kerja sama antar bangsa menjadi syarat mutlak bila kitaingin mencegah pemusnahan umat manusia dari permukaan bumi ini. SilaKemanusiaan dalam Pancasila menghargai manusia dan menghormati setiap bangsa.Atas dasar Kemanusiaan kita turut berusaha memelihara perdamaian dunia.Soal dunia adalah soal tiap negara. Kemajuan ilmu pengetahuan danteknologi menciutkan segala jarak dan membuat dunia ini relatif kecil, sehingga apayang terjadi di suatu negara mempengaruhi bagian-bagian lain di dunia. Masalahledakan penduduk, populasi udara dan lautan, percobaan bom atom, menipisnyalapisan ozon, menjadi masalah bagi semua negara, termasuk kita di Indonesia.Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab diuraikan sebagai berikut:(1) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antarasesama manusia.(2) Saling mencintai sesama manusia.(3) Mengembangkan sikap tenggang rasa.(4) (Tak) semena-mena terhadap orang lain.
  33. 33. (5) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.(6) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.(7) Berani membela kebenaran dan keadilan.(8) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia,karena itu dikembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama denganbangsa lain.Sila Persatuan IndonesiaSila ini merupakan dorongan yang kuat dalam membebaskan Tanah Air kitadari belenggu penjajahan dan kolonialisme. Sila ini dianggap sangat penting dalammenciptakan pendidikan nasional. Kesatuan Bangsa dan Negara merupakan syaratmutlak dalam pembangunan negara kita. Telah sering kesatuan negara kita diancamoleh perpecahan, namun tetap tegak teguh dengan perkasa. Sekolah berkewajibanuntuk memupuk rasa kebangsaan, rasa kesatuan dan persatuan dalam hati sanubaritiap anak. Mereka harus dengan rasa bangga dapat mengatakan "Saya anakIndonesia" dari daerah mana pun mereka berasal.Memupuk rasa persatuan sangat mutlak diperlukan, karena keadaan geografisIndonesia, yang terdiri atas ribuan pulau, tersebar dalam jarak seperdelapankhatulistiwa, dihuni oleh penduduk yang mempunyai ratusan macam bahasa dan adatistiadat yang terbentuk selama berabad-abad dalam keadaan isolasi alamiah.Terbentuknya kesatuan dan persatuan sungguh merupakan suatu prestasi nasionalyang luar biasa, bila kita pikirkan bahwa negara lain yang kecil namun dilanda olehperpecahan yang menjerumuskan penduduk ke dalam jurang kesengsaraan. KesatuanIndonesia dibantu oleh alat komunikasi yang kian canggih dan mendekatkan apa yangsemula jauh.Kesatuan bukanlah tujuan akan tetapi suatu jalan atau alat untuk mencapaikesejahteraan dan kemakmuran bagi segenap bangsa Indonesia.Sila Persatuan Indonesia selanjutnya diuraikan sebagai berikut :
  34. 34. (1) Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dannegara di atas kepentingan pribadi atau golongan.(2) Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.(3) Cinta Tanah Air dan Bangsa.(4) Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia.(5) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-BhinekaTunggal Ika.Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaandalam Permusyawaratan/ Perwakilan.Kerakyatan atau demokrasi sering ditafsirkan sebagai hak setiap warganegara untuk memilih pemerintahan sendiri. Dasar ini mengakui, bahwa manusiamempunyai hak yang sama untuk menentukan politik negara. Negara itu bukan untukdinikmati oleh hanya segelintir manusia yang berkuasa politis atau ekono-mis,melainkan untuk kepentingan seluruh rakyat. Keputusan diambil berdasarkanmusyawarah, dengan jalan perundingan oleh wakil-wakil yang dipilih rakyat dantidak didiktekan oleh pihak atasan. Agar rakyat dapat mengeluarkan pendapat secarabertanggung jawab, perlulah pendidikan.Demokrasi dikatakan mempunyai tiga prinsip utama, yakni:(1) Rasa hormat terhadap pribadi dan harkat manusia.(2) Kepercayaan, bahwa setiap manusia biasa mempunyai pikiran yang sehat dandapat berpikir inteligen.(3) Kerelaan berbakti kepada kesejahteraan bersama.Demokrasi menjamin hak setiap warga negara, tanpa menghiraukankesukuan, agama, jenis kelamin, atau kedudukan. Hal ini antara lain dinyatakandalam Undang-Undang Dasar yang menyatakan, bahwa "Tidak seorang pun bolehdiperbudak, diperulur, atau diperhamba"Asas ini mempunyai pengaruh penting dalam pendidikan, antara lain dalamhuhungan orang tua atau guru terhadap anak. Anak pun manusia penuh dan harusdihormati pendapatnya, harus diberi kesempatan mengeluarkan pendapatnya secarabebas, diturutsertakan dalam diskusi dalam hal-hal yang menyangkut
  35. 35. dirinya. Sikap demokrasi menghapuskan sisa-sisa sikap feodalisme dan kolonialismeyang bertindak otokratis dan otoriter. Dalam metode mengajar pun lebih banyakdiadakan diskusi dalam suasana bebas namun berdisiplin. Anak wanita diberikesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan apa pun sampai tingkat yangsetinggi-tingginya.Sila ini selanjutnya diuraikan sebagai berikut:(1) Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.(2) Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentinganbersama.(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.(5) Dengan itikad baik dan tanggung-jawab menerima dan melaksanakan.(6) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yangluhur.(7) Keputusan yang diambil hams dapat dipertanggungjawabkan secara moralkepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusiaserta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat IndonesiaMempunyai hak yang sama dalam memilih wakil rakyat belum cukup. Setiaporang ingin agar kebutuhannya sehari-hari dipenuhi, seperti makan yang cukup,pakaian, kesempatan berekreasi, memiliki rumah sendiri, menyekolahkan anaksampai tingkat yang setinggi-tingginya, mendapatkan pekerjaan, dan menikmati haritua yang tenang.Rakyat.kita masih banyak tergolong miskin, walaupun negara kita terkenalsebagai negara yang kaya raya. Kekayaan melimpah, ekspor kita meningkat secaradrastis, namun pembagiannya belum merata, sehingga jurang kaya-miskin kianmelebar. Sila keadilan sosial menuntut agar kekayaan dan kemakmuran itu
  36. 36. merata bagi segenap rakyat kita. Akan tetapi di samping itu kita tidak boleh engganmenyingsing lengan dan bekerja keras. Anak-anak dididik agar menghormati setiappekerjaan yang jujur dan tidak memandang rendah terhadap pekerjaan dengan tangan.Anak juga hams diajar hidup hemat dengan menabung untukharidepan.Akhirnya sila diuraikan lagi sebagai berikut:(1) Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikapdan suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan.(2) Bersikap adil.(3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.(4) Menghormati hak-hak orang lain.(5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain.(6) Menjauhkan sikap pemerasan terhadap orang lain.(7) Tidak bersikap boros.(8) Tidak bergaya hidup mewah.(9) Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.(10) Suka bekerja keras.(11) Menghargai hasil karya orang lain.(12) Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang meratadanberkeadilan sosial.Agar Pancasila daya yang dinamis yang mewarnai seluruh tindakan kita, kitamasing-masing harus merenungkan, memahami, menghayatinya dengan berpegangpada "Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila" atau " Eka PrasetiaPancakarsa".TUJUAN PENDIDIKAN DI INDONESIADalam Tap. MPR No.II / MPR / 1988 tentang GBHN tercantum : Pendidikannasional berdasarkan Pancasila bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusiaIndonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
  37. 37. Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras,bertanggungjawab, mandiri, cerdas, danterampil serta sehat jasmani danrohani.Pendidikan nasional harus juga mampu menumbuhkan dan memperdalamrasa cinta kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu dikembangkan iklim belajar danmengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya pada diri sendiri serta sikap sertaperilaku yang inovatif. Dengan demikian pendidikan nasional akan mampumewujudkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun diri sendiriserta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa.Dalam Undang-undang No. 2 Tahun 1989 Tentang Sistem PendidikanNasional (pasal 4), tertera :Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa danmengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman danbertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan yang berbudi luhur, memilikipengetahuan dan keterampilan, kesehatan rohani dan jasmani, berkepribadian yangmantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.Sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara, dasar pendidikan Nasionaladalah Falsafah Negara Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945.Pasal 3 mengatakan:(1) Tujuan pendidikan Nasional adalah membentuk manusia pembangunan yangberpancasila dan membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya,memiliki pengetahuan dan keterthripilan, dapat mengembangkan kreativitas dantanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasadapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yangluhur, mencintai bangsanya, dan sesama manusia sesuai dengan ketentuan yangtermaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945.(2) Seluruh program pendidikan terutama Pendidikan Umum dan bidang studi IlmuPengetahuan Sosial, harus berisikan Pendidikan Moral Pancasila danunsur-unsur yang cukup untuk meneruskan jiwa nilai-nilai 1945 kepadaGenerasi Muda.
  38. 38. Tujuan Pendidikan Nasional yang sangat umum itu diuraikan lebih lanjutdalam tujuan institusional yakni tujuan yang harus dicapai oleh suatu jenis sekolahtertentu. Bagi SMA misalnya tujuan institusional umum ialah agar lulusannya:a. Menjamin warga negara yang baik sebagai manusia yang utuh sehat, kuat lahirdan batin.b. Menguasai hasil-hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan daripendidikan di Sekolah Menengah Umum tingkat Pertama.c. Memiliki bekal untuk melanjutkan studinya ke lembaga pendidikan yang lebihtinggi dengan menempuh :1. program umum yang sama bagi semua siswa.2. program pilihan bagi mereka yang mempersiapkan dirinya untuk studi dilembaga pendidikan yang lebih tinggi.d. memiliki bekal untuk terjun ke masyarakat dengan mengambil keterampilanuntuk bekerja yang dapat dipilih oleh siswa sesuai dengan minatnya dankebutuhan masyarakat.Tujuan khusus pendidikan SMA adalah agar lulusan :a. Dibidangpengetahuan:1. Memiliki pengetahuan tentang agama atau kepercayaan kepada Tuhan YangMaha Esa.2. Memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar kenegaraan dan Pemerintahansesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945.3. Memiliki pengetahuan yang fungsional tentang fakta dan kejadian pentingyang aktual, baik lokal, regional, nasional, maupun internasional.4. Menguasai pengetahuan dasar dalam bidang matematika, ilmu pengetahuanalam, ilmu pengetahuan sosial, dan bahasa (khususnya bahasa Indonesia danbahasa Inggris) serta menguasai pengetahuan yang cukup lanjut dalam satuatau beberapa dari bidang pengetahuan tersebut di atas.5. Memiliki pengetahuan tentang berbagai jenis dan jenjang pekerjaan yang adadi masyrakat serta syarat-syaratnya.6. Memiliki pengetahuan tentang berbagai unsur kebudayaan dan tradisi
  39. 39. nasional. 7. Memiliki pengetahuan dasar tentang kependudukan,kesejahteraan keluarga, dan kesehatan.b. Dibidangketerampilan:1. Menguasai cara belajar yang baik.2. Memiliki keterampilan memecahkan masalah dengan sistematis.3. Mampu membawa/memahami isi bacaan yang agak lanjut dalam bahasaIndonesia dan bacaan sederhana dalam bahasa Inggris yang berguna baginya.4. Memiliki keterampilan mengadakan komunikasi sosial dengan orang lain,lisan maupun tulisan dan keterampilan mengekspresi diri sendiri, lisanmaupun tertulis.5. Memiliki keterampilan olah raga dan kebiasaan olah raga.6. Memiliki keterampilan sekurang-kurangnya dalam satu cabang kesenian.7. Memiliki keterampilan dalam segi kesejahteraan keluarga dan segi kesehatan.8. Memiliki keterampilan dalam bidang administrasi dan kepemimpinan.9. menguasai sekurang-kurangnya satu jenis keterampilan untuk bekerja sesuaidengan minat dan kebutuhan lingkungan.c. Di bidang nilai dan sikap:1. Menerima dan melaksanakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.2. Menerima dan melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan terhadap TuhanYang Maha Esa yang dianutnya, serta menghormati dan kepercayaan TuhanYang Maha Esa yang dianut orang lain.3. Mencintai sesama manusia, bangsa, dan lingkungan sekitarnya.4. Memilki sikap demokratis dan tenggang rasa.5. Memiliki rasa tanggung jawab dalam pekerjaan dan masyarakat.6. Dapat mengapresiasi kebudayaan dan tradisi nasional.7. Percaya pada diri sendiri dan bersikap makarya.8. Memiliki minat dan sikap positif terhadap ilmu pengetahuan.9. Memiliki kesadaran akan disiplin dan patuh pada peraturan yang berlaku,bebas danjujur.
  40. 40. 10. Memiliki inisiatif, daya kreatif, sikap kritis, rasional dan obyektif dalammemecahkanpersoalan.11. Memiliki sikap hemat dan produktif.12. Memiliki minat dan sikap yang positif dalam konstruktif terhadap olah ragadan hidup sehat.13. Menghargai setiap jenis pekerjaan dan prestasi kerja di masyarakat tanpamemandang tinggi rendahnya nilai sosial/ekonomi masing-masing jenispekerjaan tersebut dan berjiwa pengabdian kepada masyarakat.14. Memiliki kesadaran menghargai waktu.Demikianlah secara lengkap tujuan institusional yang harus diwujudkankepada murid-murid SMA. Tujuan itu pun masih bersifat umum dan perlu diuraikanlagi menjadi tujuan yang terperinci yakni: Tujuan kurikuler yaitu tujuan yang harusdicapai oleh suatu program bidang studi, dan tujuan instruksional, yang harus dicapaioleh suatu pelajaran.Tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia pembangunan yangber-Pancasila, yang kemudian diuraikan dalam sejumlah butir-butir sebagaipenjelasan makna tiap sila, diuraikan selanjutnya dalam tujuan-tujuan yang lebihkongkrit berupa tujuan-tujuan institusional, antara lain yang harus dicapai oleh tiaptingkatan dan jenis sekolah. Tujuan-tujuan ini pun masih terlampau umum untukdapat diwujudkan dalam situasi kelas. Karena itu tiap tujuan institusional masih perludiuraikan dalam tujuan tiap bidang studi yang mempunyai tujuan yang lebih spesifik,namun masih perlu lagi diperinci dalam tujuan-tujuan yang dapat direalisasikandalam kelas, yang masih dapat bersifat umum, yang disebut Tujuan InstruksionalUmum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Di bawah ini kami berikanbeberapa contoh TIU dan TIK.Contoh 1.Bidang Studi : Ilmu pengetahuan sosialMata Pelajaran : Ekonomi dan koperasiTopik : Produksi nasional dan pendapatan NasionalKelas : I (satu)
  41. 41. Semester : 1 (pertama)Waktu : 3 x45 menitTujuan Instruksional1. Tujuan Instruksional UmumAgar siswa mengetahui serta memahami Produksi Nasional dan PendapatanNasional.2. Tujuan Instruksional Khusus1.1. Agar siswa dapat menjelaskan perbedaan dan persamaan antara ProduksiNasional dan Pendapat Nasional.1.2. Agar siswa dapat menyebutkan unsur dari Produksi Nasionaldan Pendapatan Nasional.1.3. Agar siswa dapat menghitung Pendapatan Nasional.1.4. Agar siswa dapat menyebutkan kegunaan pengetahuanbesarnya Pendapatan Nasional.1.5. Agar siswa dapat mengukur tingkat kemakmuran suatu negara.1.6. Agar siswa dapat menyebutkan akibat dari Pendapatan Nasional yangkonstan dari tahun ke tahun.(Dikutip dari: Kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA) 1975. PedomanPelaksanaan Kurikulum, uku : III. A. 2, Model Satuan Pelajaran, DepartemenPendidikan Dan Kebudayaan, PN Balai Pustaka, Jakarta, 1976, h. 156).Contoh 2.Bidang Studi : IPAMata Pelajaran : BiologiTopik : Konsep tentang hidup, teori-teori tentangasal-usuklkehidupan.
  42. 42. Kelas : I (satu)
  43. 43. Semester : 1 (pertama)Waktu :6jamPelajaranJumlah jam pelajaran yang 6 jam itu dialokasikan sebagai berikut : 3 jamuntuk pendahuluan dan 2 jam untuk sub pokok bahasan :1. Asal kehidupan2. Ciri-cirimahlukhidup3. Pembedaan antara biotik dan abiotik; sedang I jam pelajaran untukmengadakan evaluasi pokok bahasan tersebut di atas.Tujuan Instruksional Khusus1. Dihadapkan pada sejumlah perubahan situasi, siswa dapat menyebutkansifat-sifat tertentu yang merupakan sifat khas dari mahluk hidup.2. Dihadapkan kepada sejumlah pernyataan, siswa memilih pernyataan tertentuyang dikemukakan oleh Teori Generatio Spontanea.3. Dihadapkan kepada sejumlah usaha untuk perkembangan teori tentang asal-usulkehidupan, siswa dapat memilih usaha tertentu yang dicapai oleh percobaanPasteur.4. Dihadapkan kepada sifat-sifat zat, siswa dapat memilih zat tertentu menjadialasan mengapa Stenley Miller menggunakan campuran air, amoniak,, dan metandalam eksperimennya.5. Dihadapkan kepada sejumlah perubahan teori-teori asal-usul kehidupan, siswadapat menyebutkan perubahan tertentu yang diakibatkan oleh percobaan StenleyMiller.6. Dihadapkan kepada sejumlah nama orang yang berjasa dalam asal-usulkehidupan, siswa dapat menunjukkan dengan tepat hasil penemuan tertentu dariorang tersebut.7. Dihadapkan kepada sejumlah kegiatan hidup, siswa dapat menunjukan dengantepat proses proses yang terganggu akibat kegiatan hidup tertentu.(Kurikulum SMA, pedoman Pelaksanaan, him. 184).Dalam contoh-contoh di atas kita lihat usaha untuk menguraikan tujuaninstruksional umum menjadi sejumlah tujuan instruksional khusus
  44. 44. yang
  45. 45. diharapkan dapat mencapai apa yang terkandung dalam tujuan instruksional umum,atau dalam topik bahasan. Selanjutnya diharapkan, bahwa tujuan instruksional umumini merupakan bagian dari tujuan bidang studi yang memberi sumbangan kepadatujuan yang lebih tinggi yaitu pembentukan manusia pembangunan yangber-Pancasila. Walupun jauh jarak antara tujuan instruksional khusus dengan tujuanpendidikan nasional, namun diharapkan bahwa setiap tujuan, betapapun spesifiknyaselalu merupakan bagian dan sumbangan kepada tercapainya tujuan pendidikannasional itu. Tiap tujuan kegiatan mengajar-belajar di sekolah memperoleh maknanyadalam rangka tujuan pendidikan nasional itu.Kita lihat di sini dari suatu usaha untuk memperoleh tujuan yang spesifik,yang dirumuskan sebagai tujuan instruksional khusus. Dasar pikiran ialah bahwamakin spesifik tujuan itu makin jelas diketahui metode untuk mencapainya dan makinmudah pula hasil belajar dinilai sebagai umpan-balik atau feedback untuk membantuanak memperbaiki kekurangannya.Dengan sendirinya semua tujuan yang lebih khusus bertalian erat dengantujuan yang lebih umum, bahkan merupakan analisis yang makin terinci dari tujuanyang lebih umum. Semua tujuan-tujuan yang khusus merupakan usaha kearahtercapainya tujuan umum yang akhirnya menuju kepada wujudnya tujuan pendidikannasional.MENGKHUSUSKAN TUJUANSejak semula para ahli kurikulum menyadari perlunya merinci tujuan yangbersifat umum menjadi tujuan yang lebih khusus. Tujuan pendidikan nasionaldikhususkan menjadi tujuan institusional, yaitu tujuan tiap lembaga pendidikan dariSD sampai Perguruan Tinggi. Tujuan pendidikan institusional yang masih sangatumum ini masih perlu diuraikan menjadi tujuan kurikuler dan selanjutnya dalamtujuan instruksional umum lazim dikenal sebagai TIU dan tujuan instruksionalkhusus atau TIK.Buku pedoman kurikulum yang diterbitkan Departemen Pendidikan danKebudayaan menguraikan tujuan sampai tingkat TIU, sehingga guru mendapatkesempatan untuk merumuskan TIK. Di sini kita harus hati-hati dan jangan
  46. 46. memandang TIK sebagai tujuan yang terpenting yang harus dicapai. Kita keliru bilamenganggap bahwa tujuan yang harus dikejar guru adalah TIK. Tujuan pendidikanapa yang ditentukan sebagai tujuan pendidikan nasional. Jadi TIK harus dipandangsebagai langkah untuk mencapai TIU, dan TIU suatu langkah pula guna mencapaitujuan kurikuler dan seterusnya sehingga segala usaha sekolah akhirnya bermuarapada tujuan pendidikan nasional.Tujuan Pendidikan Nasional4 tfTujuan InstitusionalIf}Tujuan KurikulerinTujuan Instruksional Umum (TIU)inTujuan Instruksional Khusus (TIK)Untuk merumuskan TIK kita dapat memperhatikan beberapa petunjuk yangdiberikan Robert F. Mager dalam buku Preparing Instructional ObjectivesPertama : Rumuskan TIK dalam bentuk kelakuan siswa. la harus dapatmemperlihatkan penguasaannya dalam kelakuan atau perbuatan yang dapat kitaamati, yang "observable" tapi juga yang "measurable" atau dapat diukurkeberhasilanya. Untuk itu kita harus menggunakan kata kerja tertentu yangmemungkinkan kita mengamati keberhasilannya belajar. Misalnya kata kerja sepertidapat mengatakan, menggambarkan, menguraikan, memperdengarkan,menunjukkan, dan sebagainya. Kata kerja seperti memahami, memikirkan, mengerti,merasakan, dan Iain-lain tak dapat dilihat sebab terjadi dalam diri siswa.Kedua : Rumuskan pula kondisi-kondisi di mana kelakuan itu akan nyata,misalnya dengan menggunakan kalkulator, mesin tulis, atlas, kamus, dan sebagainya.
  47. 47. Ketiga : Rumuskan pula secara spesifik kriteria tentang tingkat keberhasilansiswa dalam mencapai tujuan itu. Misalnya dapat menyebut 9 dari sepuluh butir,mengetik satu halaman dalam waktu tertentu dengan sebanyak-banyaknya 2 salah.Merumuskan tujuan secara spesifik sangat banyak faedahnya. Guru tahudengan jelas tujuan apa yang harus dicapainya, ia dapat menentukan bahan apa yangharus diberikannya, ia juga dapat memilih metode mengajar yang lebih tepat, dan iadapat mengetahui hasil belajar siswa. Di lain pihak siswa pun tahu apa yang harusdikuasainya. Karena penilain dapat dilakukan dengan segera, guru dapat memberibalikan guna membantu siswa mengadakan perbaikan.Namun demikian banyak pula kelemahanya. TIK sering berupa fakta,informasi, pengetahuan, yakni tujuan kognitif yang paling rendah menurut taksonomiBloom. Hasil belajar banyak merupakan hafalan, sehingga kemampuan berpikirkurang dikembangkan. Selain itu apa yang dipelajari berupa pengetahuan yang lepas.Uraian TIU menjadi TIK dapat memecah kebulatan bahan pelajaran, sehingga terjadiatomosasi pengetahuan. Selain itu hal-hal yang bersifat kognitif seperti sikap tidakobservable dan measitreable, dan karena itu akan diabaikan. TIK berupa fakta daninformasi tidak mempunyai nilai transfer artinya tidak dapat digunakan menghadapisituasi-situasi yang belum pernah dipelajari. Sistem ujian kita sangat menyuburkanTIK dan oleh sebab hasil belajar berdasarkan TIK dapat diamati dan diukur maka TIKdigunakan untuk mengetahui prestasi sekolah, kegiatan guru. Dengan ini guru dankepala sekolah dapat di minta pertanggungjawaban (accountability).PERUMUSAN TUJUAN MENURUT HILDA TABAHilda Taba dalam Curriculum Development memberikan petunjuk-petunjukyang berikut dalam merumuskan tujuan, sebagai berikut:Rumusan tujuan harus meliputi : 1. proses mental,yaitu metode untuk melakukan sesuatu
  48. 48. 2. produk, bahan yang bertalian dengan itu.Contoh : M,Memperoleh keterampilan menggunakan peta (proses) untuk mencariibukota negara-negara di Amerika Selatan (produk)". Memiliki kesanggupanuntuk membedakan (proses) fakta dan opini" (produk).Sering rumusan tujuan itu kurang lengkap dan hanya mengemukakan satu aspek,misalnya " keterampilan mengguna-kan peta", atau " kesanggupan berpikirkritis". Jadi dalam merumuskan tujuan hendaknya sekaligus kita cakup "mentalprocess" dan "product of learning". Sering dipersoalkan, yang manakah lebihpenting, proses atau produk belajar.Tujuan yang hanya berisi produk, akan mengutamakan penguasaan fakta,informasi, atau pengetahuan. Proses mental seperti kesanggupan menganalisis,menafsirkan, membandingkan, memecahkan masalah, atau berpikir logisdiabaikan. Ujian termasuk Ebtanas, sebagian besar mengenai produk dan sangatminimal mengenai proses. Membuat butir-butir ujian dalam bentuk test objektiflebih sukar dan penilaiannya juga lebih sulit.3. Tujuan yang kompleks harus lebih dispesifikkan, sehingga lebih jelas bentukkelakuan yang diharapkan. Misalnya, "mengapresiasi kesenian" yang terlampauumum dapat lebih dikhususkan menjadi" mengapresiasi tari Bali".4. Dalam merumuskan tujuan harus dinyatakan bentuk kelakuan yang diharapkandari kegiatan belajar itu. Mempelajari agama-agama lain tidak dengan sendirinyamemupuk sikap toleransi sebagai basil belajar sampingan atau apa disebut"concomitant learning". Kita harus secara khusus menye-butkan toleransi sebagaitujuan yang ingin kita capai dan memberikan kegiatan-kegiatan belajar yangserasi untuk menimbulkan sikap itu.5. Tujuan sering bersifat " development", yaitu tidak dapat dicapai sekaligus, akantetapi harus dikembangkan secara kontinu. Misalnya, " berpikir kritis" atau "kesanggupan memecahkan masalah" memerlukan waktu yang lama agar tercapai.Ada tujuan yang sangat spesifik yang dapat tercapai dalam waktu singkat. Akantetapi kita keliru bila kita anggap bahwa semua tujuan bersifat terminal dan segeraterpenuhi. Ada tujuan yang mungkin tidak tercapai selama
  49. 49. belajar di sekolah, bahkan ada pula yang tak dapat tercapai sepenuhnya selamahidup, seperti kerelaan berkorban untuk sesama manusia, menyerahkan dirisepenuhnya kepada kehendak Tuhan, demikian pula prinsip-prinsip ideal lainnya.6. Tujuan hendaknya realistis, dalam arti bahwa tujuan itu benar-benar dapat dicapaianak pada tingkat dan usia tertentu, atau selama jam pelajaran, atau selama belajardi sekolah itu. Tujuan yang sangat indah kedengaran, akan tetapi tidak mungkinterwujudkan, sebaiknya jangan dijadikan tujuan pelajaran. Karena itu kita hamstahu batas-batas kemampuan anak berdasarkan studi tentang anak danpengalaman. Adakalanya terlampau tinggi kita perk irakan kesanggupan anak,akan tetapi sering pula terlampau rendah. Adakalanya anak-anak telah pandaimembaca sebelum masuk sekolah, akan tetapi ia masih harus mengikuti pelajaranmembaca permulaan, yang sangat membosankannya.7. Tujuan harus meliputi segala aspek perkembangan anak yang menjadi tanggungjawab sekolah. Pada umumnya tujuan itu meliputi aspek kognitif, nilai dan sikapserta keterampilan psikomotoris.PENGKHUSUSAN TUJUAN MENURUT BENYAMIN BLOOMDalam perumusan tujuan, para penyusun kurikulum banyak memperoleh bantuandari buku Taxonomy of Educational Objectives (1956) oleh Benjamin Bloom, cs,.Mereka membagi tujuan-tujuan pendidikan dalam tiga ranah (domain), dan tiap ranahdirinci lagi dalam tujuan-tujuan yang lebih spesifik yang hierarkis.A. Tujuan-tujuan KognitifRanah kognitif atau cognitive domain meliputi segi intelektual dan proseskognitif, yakni :1. Mengetahui, yakni mempelajari dan mengingat fakta, kata-kata, istilah, peristiwa,konsep, prinsip, aturan, kategori, metodologi, teori, dan sebagainya.2. Memahami, yakni menafsirkan sesuatu, menterjemahkannya dalam bentuk lain,menyatakannya dengan kata-kata sendiri, mengambil kesimpulan
  50. 50. berdasarkan apa yang diketahui, menduga akibat sesuatuberdasarkan pengetahuan yang dimiliki, dan sebagainya.3. Menerapkan, yaitu menggunakan apa yang dipelajari dalam situasi baru,mentransfer.4. Menganalisis, yaitu menguraikan suatu keseluruhan dalam bagian-bagian untukmelihat hakikat bagian-bagiannya serta hubungan antara bagian-bagian itu.5. Mensintesis, yaitu menggabungkan bagian-bagian dan secara kreatif membentuksesuatu yang baru.6. Mengevaluasi, yakn menggunakan kriteria untuk menilai sesuatu.B. Tujuan-tujuan AfektifRanah afektif atau, affective domain, berkenaan dengan kesadaran akansesuatu, perasaan, dan penilaian tentang sesuatu.1. Memperhatikan, menunjukkan minat, sadar akan adanya suatu gejala, kondisi,situasi, atau masalah tertentu, misalnya keindahan dalam musik gamelan, atauarsitektur gedung lama. la menunjukkan kesediaannya untuk mendengarnya ataumelihatnya dan tidak mengelakkannya.2. Merespons atau memberi reaksi terhadap gejala, situasi, atau kegiatan itu sambilmerasa kepuasan.3. Menghargai, menerima suatu nilai, mengutamakannya, bahkan menaruhkomitmen terhadap nilai itu. la percaya akan kebaikan nilai itu dan rela untukmempertahankannya.4. Mengorganisasi nilai dengan mengkonsepsualisasi dan mensistematisasinyadalam pikirannya.5. Mengkarakterisasi nilai-nilai, menginternalisasinya, menjadikannya bagian daripribadinya dan menerimanya sebagai falsafah hidupnya.C. Tujuan-tujuan PsikomotorRanah psikomotor atau psycho-motor domain, meliputi tingkat kegiatan yangberikut:
  51. 51. 1. Melakukan gerakan fisik seperti berjalan, melompat, berlari, menarik,mendorong, dan memanipulasi.2. Menunjukan kemampuan perseptual secara visual, auditif, taktial, kinestetik,serta mengkordinasi seluruhnya.3. Memperlihatkan kemampuan fisik yang mengandung ketahanan kekutan,kelenturan, kelincahan dan kecepatan bereaksi.4. Melakukan gerakan yang terampil serta terkordinasi dalam permainan, olah raga,dan kesenian.5. Mengadakan komunikasi non-verbal, yakni dapat menyampaikan pesan melaluigerak muka, gerakan tangan, penampilan, dan ekspresi kreatif seperti tarian.Buah pikiran Bloom cs menjadi populer setelah timbul aliran dalampendidikan ke arah pengkhususan tujuan, sehingga hasil belajar dapat diamati dandiukur.Ketiga ranah itu saling berhubungan sebagai aspek kelakuan manusia.Pengetahuan selalu memerlukan keterampilan misalnya keterampilan membaca,berpikir, dan Iain-lain dan disamping itu juga minat dan penghargaan (afektif) tentangapa yang dipelajari. Demikian pula apresiasi musik tak lepas dari pengetahuan danketerampilan berkenaan dengan musik. Dalam pengajaran ketiga aspek itu perlumendapat perhatian. Selain memberi pengetahuan tentang suatu bidang studisebaiknya juga dipupuk sikap positif terhadap bidang studi itu serta keterampilanyang terkait. Sering ketiga ranah itu dipisah-pisahkan dalam merumuskan tujuaninstruksional khusus.Rincian tiap ranah mempunyai hierarki. Misalnya dalam ranah koqnitif,pemahaman lebih "tinggi" daripada pengetahuan penerapan, lebih tinggi dari padapemahaman, dan seterusnya. Demikian pula halnya dengan rincian ranah-ranahlainnya.BEBERAPA TUJUAN PENDIDIKAN LAINNYAPada tahun 1859 seorang yang bernamaa Herbert Spencer yang pada dasarnyabukan pendidik dan juga tidak mengecap pendidikan formal secara
  52. 52. teratur jadi lebih merupakan otodidak, mengajukan pertanyaan yang sangat penting,yang hingga sekarang masih harus dipertimbangkan oleh setiap pengembangankurikulum: " What knowledge is of most worth?". Pengetahuan apa yang palingberharga? Apa yang harus diajarkan yang paling berharga bagi kehidupan seseorang?la menganjurkan hal-hal yang berikut:1. Self-preservation, hal-hal yang bertalian dengan usaha melangsungkan hidup,seperti hidup sehat, mencegah penyakit, hidup teratur, melindungi diri terhadapgangguan yang datang dari alam, dari manusia lainnya, dari berbagai situasihidup, dan Iain-lain.2. Securing the necessities of life, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupdengan melakukan pekerjaan.3. Rearing a family, mengurus dan memelihara rumah tangga, bertanggung jawabatas pendidikan anak dan kesejahteraan keluarga.4. Maintaining proper social and political relationship yaitu memelihara hubunganbaik dengan masyarakat dan memenuhi kewajibannya terhadap negara.6. Enjoying leisure time yaitu memanfaatkan waktu senggang untuk menikmatinyadengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan.Hal-hal yang dikemukakan Herbert Spencer ini kira-kira satu setengah abadyang lalu, masih berlaku sampai sekarang dan sering dipertimbangkan dalampengembangan kurikulum. Di sini Herbert Spencer sangat mengutamakan relevansipendidikan. Banyak yang diajarkan di sekolah yang tidak jelas apa kaitannya dengankehidupan anak sehari-hari. Alasan memberinya ialah bahwa pelajaran itu bergunakelak bila melanjutkan pelajaran.Tujuan pendidikan yang juga cukup terkenal ialah The Seven CardinalPrinciples yaitu tujuh prinsip yang pokok, sebagai berikut:1. Health (kesehatan),2. Command of fundamental processes (penguasaan keterampilan fundamentalseperti membaca, menulis, berhitung).3. Worthy home membership (menjadi anggota keluarga yang berharga).4. Vocational efficiency (efisiensi dalam pekerjaan).
  53. 53. 5. Citizenshop (kewarganegaraan).6. Worthy use of leisure (penggunaan waktu senggang secara bermanfaat),7. Satisfaction of relegious needs (pemuasan kebutuhan keagamaan) (1918).Kita lihat banyak persamaannya dengan apa yang dianjurkan oleh HerbertSpencer sebelumnya.Selanjutnya akan kami berikan tujuan-tujuan pendidikan menurutEducational Policies Commission (1938), yaitu :1. Self-realization, perwujudan pribadi.2. Human relationship, hubungan antar-manusia3. Economic efficciency, efisiensi ekonomi.4. Civic responsibility, tanggung jawab warga negara.Setiap tujuan masih diuraikan lebih lanjut. Misalnya "economic efficiency"dirinci sebagai berikut. Produsen yang terdidik merasakann kepuasan atas pekerjaanyang baik, mengetahui syarat-syarat dan kesempatan kerja, memilih jabatan yangtepat, mencapai kemajuan dalam jabatan yang dipilih, memelihara dan mempertinggitingkat efisiensi kerja, menghargai nilai sosial pekerjaan. Sebagai konsumen yangterdidik is merencanakan ekonomi hidupnya sendiri, membentuk norma-norma gunamengatur pengeluarannya, merupakan pembeli yang tahu dan cakap, mengambiltindakan yang tepat untuk menjaga kepentingannya.Tujuan-tujuan yang dikemukakan di atas hanya sekadar bahan perbandingandengan kurikulum kita.RANGKUMAN1. Filsafat ialah ilmu yang mencari kebenaran sampai akar- akarnya, jadi suatukegiatan intelektual. Dalam pengembangan kurikulum biasanya dipandangsebagai sistem nilai-nilai.2. Tujuan pendidikan ditentukan oleh filsafat suatu bangsa.3. Walapun setiap orang mengenal nilai-nilai, agar dapat dikatakan ismempunyai filsafat nilai-nilainya itu harus merupakan suatu sistem, jadi
  54. 54. konsisten dan saling berhubungan.4. Dalam kurikulum sering tercantum tujuan-tujuan yang muluk-muluk tetapibelum tentu dapat direalisasikan. Jadi keadaan sekolah tidak memberi gambarantentang keadaan yang sebenarnya.5. Filsafat bangsa dan negara dengan sendirinya menjadi tujuan pendidikannasional serta harus pula menjadi filsafat para pengembang kurikulum dan jugaguru dalam pelaksanaannya.6. Filsafat pendidikan harus menjadi "way of life" yang diterapkan dalamlingkungan sekolah.7. Tujuan pendidikan nasional sangat umum dan masih perlu diuraikan menjaditujuan institusional, kurikuler, tujuan instruksional umum dan khusus.8. Tujuan pendidikan kita didasarkan atas Pancasila, UUD 1945, dan GBHN.Setiap guru harus mempunyai gambaran yang jelas tentang dasar-dasarpendidikan nasional itu, agar semua pelajaran diarahkan guna membentukmanusia yang dicita-citakan.9. Untuk membentuk manusia seutuhnya harus diperhatikan aspek kognitif, afektif,dan psikomotor dalam segala tingkatannya.10. Benjamin Bloom membantu dalam merumuskan tujuan yang lebih spesifikdalam ketiga ranah.11. Hilda Taba mempersyaratkan agar dalam rumusan tujuan tercakup proses danproduk.12. Herbert Spencer menganjurkan tujuan-tujuan yang relevan dengan kehidupanmanusia sehari-hari. Buah pikirannya itu masih berpengaruh sampai sekarang.PERTANYAAN DAN TUGAS1. Apakah pengertian Saudara tentang filsafat?2. Apakah menurut Saudara setiap orang mempunyai filsafat?Coba
  55. 55. selidiki pada orang-orang di sekitar Saudara apakah mereka dapatdikatakan mempunyai suatu filsafat?3. Norma-norma biasanya diperoleh dari berbagai sumber, seperti agama, falsafahnegara, adat-istiadat, pengalaman pribadi, dan Iain-lain. Coba tuliskannorma-norma yang Saudara junjung tinggi. Diskusikan dengan teman.4. Apakah guna filsafat bagi pendidikan. Tunjukkan bagaimana filsafat ituditerapkan dalam kurikulum kita.5. Tunjukkan perbedaan kurikulum berhubungan dengan peredaan filsafatpendidikan sebelum dan sesudah kemerdekaan.6. Bagaimana gambaran Saudara tentang manusia yang demokratis? Apakahsifat-sifat itu telah nyata di sekolah? Masih adakah pengaruh feodalisme dalammasyarakat kita?7. Bagaimana pendapat Saudara tentang tujuan-tujuan yang dikemukakan HerbertSpencer, the Seven Cardinal Principles, dan Educational Policies Commission?Adakah yang dapat atau tidak dapat Saudara terima? Apa alasan Saudara.8. Bagaimanakah pandangan Saudara tentang manusia Pancasila? Apakah telahmelihatnya dalam kenyataan?9. Diskusikan tujuan pendidikan nasional dalam Kurikulum SMA.lO.Bandingkan tujuan institusional bagi SD, SMP, dan SMA. Perhatikanpersamaan dan perbedaannya. Selidiki hingga mana tujuan-tujuan itu telah di liputioleh bidang studi yang diberikan di berbagai tingkatan sekolah. 11. Hingga manakahTIK harus dikhususkan, misalnya " agar anak dapat mengatakan beberapa tugas wallkota, agar anak dapat menyebut nama wall kota, agar anak mengenal gambar walikota, agar anak dapat men gatakan usia wali kota, agar anak dapat mengatakan alamatwall kota. Apakah pengkhu-susan TIK tidak dapat berlebihan?
  56. 56. 12.Apakah kebaikan dan kelemahan TIK? Manakah lebih pen- ting, TIK atau TIU?Bagaimana hubungan timbal balik antara TIK dan TIU?13. Berikan sejumlah petunjuk tentang perumusan TIK.14.Bagaimana syarat yang diajukan Hilda Taba dalam merumuskan tujuan pelajaran.Beri pendapat Saudara.15. Pilih satu TIU, lalu rumuskan TIK-nya. Minta teman lain juga melakukannya.Diskusikan.16. Selidiki tujuan-tujuan pelajaran, lalu tinjau dari segi taksonomi Bloom, baikmengenai ranahnya maupun tentang tingkatannya.17.Bagaimanakah dapat Saudara ketahui ada tidaknya kesamaan antara tujuan gurudan tujuan siswa. Diskusikan bila ada persamaan dan perbedaannya.
  57. 57. BAB 3ASAS PSIKOLOGIS KURIKULUMDAN PSIKOLOGIS BELAJARPENDAHULUANDalam mengambil keputusan tentang kurikulum pengetahuan tentangpsikologi anak dan bagaimana anakbelajar, sangat diperlukan, antara lain dalam1. seleksi dan organisasi bahan pelajaran,2. menentukan kegiatan belajar yang paling serasi,3. merencanakan kondisi belajar yang optimal agar tujuan belajar tercapai.Apa yang akan dipelajari memerlukan pengenalan perkembangan anak, akantetapi bagaimana anak belajar membutuhkan pengetahuan tentang berbagai teoribelajar. Walaupun telah banyak diketahui tentang belajar, namun masih banyak yangbelum diketahui, masih belum jelas betul secara terinci apa yang harus dilakukan agaranak belajar. Hal ini antara lain disebabkan penelitian dan eksperimen tentang belajaryang dilakukan dalam laboratorium yang terbatas jumlah variabelnya, yang seringdilakukan terhadap binatang, jadi jauh berbeda dengan situasi belajar di dalam kelas.Selain itu yang diselidiki kebanyakan ialah belajar pada tingkatan mental rendah,sedangkan belajar pada tingkatan mental tinggi masih memerlukan penelitian yanglebih banyak.Belajar itu ternyata sangat kompleks. Apa yang dipelajari bermacam-macam.Ada bedanya belajar fakta atau informasi, lain belajar memecahkan masalah, lain pulamempelajari nilai-nilai. Tak ada satu teori belajar yang dapat mencakup segalamacam jenis belajar. Banyak macam teori belajar seperti teori ilmu jiwa atau dayaatau mental disiplin, teori S-R yang behavioristik, teori Gestalt atau teori lapangan,dan Iain-lain dan belum ada teori belajar yang dapat mempertemukannya.Guru-guru sering tidak menyadari asas teori belajar yang digunakannya. PPSImenggunakan teori belajar yang berbeda dengan pendekatan proses. Guru
  58. 58. mengajar menurut apa yang diperkirakannya akan memberi hasil yang baik dan inisering dilakukan dengan menggunakan berbagai teori belajar.Dalam bab ini akan kita bicarakan teori belajar menurut ilmu jiwa daya(mental disipline), teori asosiasi (S-R), conditioning, teori Gestalt, teori lapangan, danpendapat berbagai tokoh psikologi seperti Gagne, Bandura, dan Bruner.APA YANG DIMAKSUD DENGAN BELAJARApakah sebenarnya belajar itu, belum diketahui sepenuhnya, sama denganproses psikis lainnya. Bermacam-macam teori mencoba menjelaskannya ditinjau darisegi tertentu, dengan dasar filosofis yang berbeda tentang hakikat manusia. Suatuteori belajar ialah suatu pandangan terpadu yang sistematis tentang cara manusiaberinteraksi dengan lingkungan sehingga terjadi suatu perubahan kelakuan. Tiap gurumengajar dapat diketahui teori yang mendasarinya, walaupun guru itu sendiri kurangatau tidak menyadarinya. Mengenal teori kiranya dapat membantu guru memahamiatas dasar apa ia melakukannya.Sejak ada manusia di dunia ini ia belajar dan ada yang mengajarnya. Tiaporang tua mendidik anaknya, mengajarnya berbagai pengetahuan, keterampilan,norma-norma, dan sebagainya. Rasanya semua lancar walaupun tak seorang punmemikirkan atau menghiraukan ada tidaknya dasar teorinya belajar dan mengajar dansemua belajar secara wajar. Namun orang mendirikan sekolah belajar itu dijadikanmasalah, dan ternyata sangat kompleks dan pelik. Apa yang dipelajari di sekolahberbeda sekali di rumah atau di ladang.Defmisi belajar berbeda menurut teori yang dianut. Secara tradisional belajardianggap sebagai menambah pengetahuan. Yang diutamakan ialah aspek intelektual.Anak-anak disuruh mempelajari berbagai macam mata pelajaran yang memberinyaberbagai pengetahuan yang menjadi miliknya, kebanyakan dengan menghafalnya.Pendapat lain yang lebih populer ialah memandang belajar sebagai perubahankelakuan, suatu "change of behavior". Suatu defmisi yang sering dikutip ialah yangdiberikan oleh Ernest R. Hilgard, sebagai berikut:
  59. 59. Learning is the process, by which an activity originates or is changed throughtraining procedures (Whether in the laboratory on in the natural environment) asdistinguishe from changes by factors not atributable to training.Seorang belajar bila ia ingin melakukan suatu kegiatan sehingga kelakuannyaberubah. Ia dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukannya. Iamenghadapi situasi dengan cara lain. Kelakuan harus kita pandang dalam arti yangluas yang meliputi pengamatan, pengenalan, perbuatan, keterampilan, minat,penghargaan, sikap, dan Iain-lain. Jadi belajar tidak hanya mengenai bidangintelektual saja, akan tetapi seluruh pribadi anak, kognitif, efektif, maupunpsikomotor. Bila* guru mengajar matematika, sejarah, biologi, dan Iain-lain. Iahendaknya jangan merasa puas bila pengetahuan anak bertambah, akan tetapi jugaagar anak mempunyai sikap anak yang positif dan menyukai mata pelajaran itu.Perubahan karena mabuk atau keletihan bukan hasil belajar karena tidak diperolehmelalui kegiatan belajar. Demikian pula kemampuan binatang karena pertumbuhaninstink, seperti membuat sarang, bukan hasil belajar.Bila kita terima belajar sebagai perubahan kelakuan, maka pendidikmenghadapi tiga soal:1. Ia harus mengetahui kelakuan apa yang diharapkan dari anak. Hal iniberkenaan dengan tujuan yang akhirnya ditentukan oleh falsafah pendidikan.2. Ia mengetahui hingga manakah taraf perkembangan anak, agarbahan pelajaran dapat dikuasai anak.3. Ia harus tahu bagaimana anak belajar, bagaimana guru mengajarkannya, kondisiapa yang harus dipenuhi agar terjacti proses belajar yang berlfasil.Seperti yang telah dikemukakan di atas, kita akan lebih lanjut membicarakanbeberapa teori belajar yang banyak diterapkan dalam proses belajar-mengajar.TEORI ILMU JIWA DAYA ATAU MENTAL DISIPLINTeori pelajar yang paling tua ini beranggapan, bahwa "otak" atau mentalmanusia terdiri atas sejumlah "faculties" atau daya- day a. Tiap daya mempunyaifungsi tertentu, maka ada daya-ingat, daya-pikir, daya tanggap, daya-fantasi, dan

×