GERAKAN RIAU  MERDEKA        GERAKAN RIAU MERDEKA   1
Sanksi pelanggaran pasal 44: Undang-undang No. 7 Tahun 1987 tentang             Hery Suryadi    Perubahan atas Undang-unda...
GERAKAN RIAU MERDEKAMenggugat Sentralisasi Kekuasaan yang Berlebihan                  Hery Suryadi                        ...
Pengantar Penulis                                         iau pada masa lalu memiliki sejarah yang gilang                 ...
masyarakat. Semuanya dikuras habis untuk kepentingan                 Sekali lagi, munculnya gerakan menuntut Riaupenguasa ...
an secara pasif (sekutu) sehingga gerakan ini menjadi         an pusat-daerah akan terus mengalami pasang surut selamaluas...
Kenangan & Penghargaan                                           uji syukur saya panjatkan kehadirat Allah                ...
Bogor.                                                        University Australia dengan karya monumentalnya The      Di ...
dengan “pustaka berjalan” karena koleksi bukunya sekitar      hardik kedua orang tua, terkhusus ibu. Saya percaya, sekali4...
beserta kemenakan, Ayi (Akong), Wanda (Dulkarim),             Cornelis Lay, MA yang wawasan ilmu politik sangat baik,Zirha...
Mas Anto, Nasyiwan, Mas Hisyam, Mbak Retno, Mbak              FISIP Unri dan Drs. Ishak, M. Si, Ketua Program NonSusi, Teh...
Daftar Isi                                         Pengantar Penulis ~ 5                                         Kenangan ...
Konsepsional ~ 113    C. Perluasan Gerakan: Bersatunya Kekuatan        Reformasi di Riau ~ 126Bab 5 Bendera Riau Merdeka A...
tumpang tindih mulai dari polarisasi baik secara individu               kebudayaan. 4maupun kelompok pada level pemerintah...
hambatan yang berarti karena dilakukan secara sukarela.        berusaha membangun legitimasi absolut. Developmental-Bangsa...
percepatan perubahan.8 Dari perspektif lain, perubahan                   an pusat-daerah dibangun secara tidak demokratis....
Fungsi tersebut juga menyebabkan posisi kepala                      – ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya— hingg...
taan serupa bagi daerah lainnya. Aceh misalnya, menagih               terhadap pemerintah pusat akan sumber dana, sumber-j...
masalahan ini akhirnya harus ditangani oleh pemerintahan                   Buku ini hadir untuk menelaah bagaimana dinamik...
tersebut, hingga penulis berupaya untuk memprediksiapakah akan terjadi eskalasi dari gerakan tersebut berdasar-kan kondisi...
nasional, meskipun permasalahan ini sempat mengalami                      kan” (inserting) variabel baru, sehingga nuansa ...
efisien, dan korup. Belum duduknya format politik                         Mengutip Feith, Harvey menjelaskan bahwa perbeda...
kepercayaan pada sistem parlementer.                                     dan Gorontalo. Tetapi atas nama Indonesis Timur t...
fakta karena keduanya mengalami revolusi dalam dua cara                  persaingan ini menjadi penting, bukan saja dalam ...
Studi Harvey tentang pemberontakan daerah semasa                     integrasi minimal karena masa kolonial masyarakat Ace...
pemerintah akan menghadapi para pemimpin setempat                        kesadaran akan warisan sejarah dan uniknya kebuda...
Daud Beureuh sebagai gubernur hingga hanya tersisa satu                   kuasaan Belanda.orang Aceh yang memegang jawatan...
kesatuan militer Aceh oleh kesatuan-kesatuan militer dari                      Kedua, gagalnya pembangunan ekonomi sebagai...
membangun sistem politik nasional terutama keengganan                             kepala daerah baik pada tingkat provinsi...
Ilmuwan lain Audrey Kahin dan George McTurnan                          untuk pembelian senjata.27Kahin (2001),26 memperkua...
Bab 3                                                                             JEJAK RIAU MENAPAK                      ...
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Riau merdeka
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Riau merdeka

11,350 views

Published on

4 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • LEBIH BAIK KITA MERDEKA AJA , DENGAN KEKAYAAN YANG MILIKI KITA SANGAT MAMPU MENDIRIKAN NEGARA BAHKAN MENSEJAHTERAKAN RAKYAT KITA,,,, SELAMA INI BUMI KITA HANYA DIJADIKAN WILAYAH BURUAN OLEH PENGUASA TANPA MEMIKIRKAN NASIB KITA.
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • lebih baik jangan dehhhhhhhhh
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • diintegrasi.....mengacau.
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • MERDEKA!!..

    by: www.bakulvoucher.com
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total views
11,350
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
11
Actions
Shares
0
Downloads
56
Comments
4
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Riau merdeka

  1. 1. GERAKAN RIAU MERDEKA GERAKAN RIAU MERDEKA 1
  2. 2. Sanksi pelanggaran pasal 44: Undang-undang No. 7 Tahun 1987 tentang Hery Suryadi Perubahan atas Undang-undang No. 6 Tahun 1982 tentang hak cipta. Menggugat Sentralisasi Kekuasaan yang Berlebihan 1. Barangs iapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah) 2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp GERAKAN 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) RIAU MERDEKA Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta 20082 P en g a nt a r Pe nu li s GERAKAN RIAU MERDEKA 3
  3. 3. GERAKAN RIAU MERDEKAMenggugat Sentralisasi Kekuasaan yang Berlebihan Hery Suryadi Editor ZULKARNAIN Sampul DAS_UKI “Berlaku dan bertindak adil itu dimulai sejak dalam pikiran” Perwajahan (Pramoedya Ananta Toer dalam Novel Tetraloginya) ARNAIN ’99 CETAKAN I Desember 2008 Penerbit: Pustaka Pelejara Celeban Timu UH III, Yogyakarta, Indonesia Telp. (0274) 22961 Fax. (0274) 857397 e-mail: unripress@hotmail ISBN 979-0000-09-04 P en g a nt a r Pe nu li s GERAKAN RIAU MERDEKA 5
  4. 4. Pengantar Penulis iau pada masa lalu memiliki sejarah yang gilang R gemilang. Daerah ini merupakan bagian dari kejayaan sebuah imperium Melayu yang mem- bentang dari Semenanjung Melayu (Malaysia sekarang) hingga pesisir Timur Sumatera. Namun sejarah panjang bangsa Melayu yang selalu dipecah-belah oleh kekuatan eksternal, dalam hal ini kolonialisme dan imperialisme, membuat nama Riau secara perlahan-lahan mengabur di tengah persaingan zaman. Terusirnya penjajah dari tanah air, setelah proklamasi kemerdekaan, mendatangkan harapan akan bangkitnya kembali nama Riau. Harapan itu sepertinya tidak pernah terwujud, malahan di bawah pemerintahan segelintir elite bangsa yang congkak, marwah Riau semakin diketepikan. Berbagai kebijakan sepihak dan arogan tidak hentinya diterapkan pemerintah pusat ke daerah ini. Sumberdaya alam yang melimpah tidak sedikitpun bisa dinikmati6 P en g a nt a r Pe nu li s GERAKAN RIAU MERDEKA 7
  5. 5. masyarakat. Semuanya dikuras habis untuk kepentingan Sekali lagi, munculnya gerakan menuntut Riaupenguasa semenjak merdeka hingga runtuhnya rezim Merdeka adalah akumulasi persoalan selama ini terutamaOrde Baru. pembagian rezeki yang kurang adil sebagai akibat politik Riau bisa dikatakan hanya dijadikan “ladang per- sentralisasi. Kekecewaan tersebut termanifestasi dalamburuan” oleh sekelompok elit yang mengatasnamakan bentuk perlawanan daerah. Per-lawanan ini karena daerahnegara. Sebagai daerah modal yang menyumbangkan lebih merasa kekayaan sumberdaya alamnya dirampas olehdari 60 persen pendapatan negara dari sektor migas, pusat tanpa mendapatkan hak yang layak bagi daerahkondisi Riau sangatlah ironi. Perampasan hak-hak masya- (deprivasi relatif). Seperti halnya gerakan berbasis ke-rakat Riau, tidak saja di bidang ekonomi, tetapi juga di daerahan pada masa Orde Lama, munculnya Gerakan Riaubidang politik yang dilakukan secara sistematis. Peram- Merdeka dipicu oleh kriris politik nasional sebagai akibatpasan hak-hak yang dilakukan membuat posisi masyarakat krisis ekonomi yang berke-panjangan. Meluasnya tuntutantempatan terpinggirkan. yang dimotori oleh gerakan mahasiswa untuk melakukan Akumulasi dari persoalan selama inilah, di saat perubahan di segala bidang berakhir dengan runtuhnyamomentum perubahan (reformasi) tahun 1998 berde- rezim autoritarian Orde Baru. Momentum di mana negarangung, muncul gerakan menuntut Riau Merdeka yang dalam keadaan lemah ini dimanfaatkan oleh aktor-aktordipelopori oleh kalangan intelektual kritis di Riau dengan gerakan di Riau untuk menuntut bagi hasil minyak antarabasis pendukung utamanya adalah mahasiswa. Menguat- pusat-daerah.nya perlawanan tersebut juga disebabkan lambannya Tuntutan bagi hasil minyak tersebut mendapat responpemerintah pusat merespon tuntutan masyarakat Riau positif dari Presiden Habibie dan berjanji akan dikabulkanterhadap penjualan bagi hasil minyak bumi. Kondisi di dalam masa dua bulan. Sampai dengan tenggat waktu yangmana pada saat bersamaan terjadi krisis politik nasional dijanjikan tuntutan tersebut tidak dikabulkan sehinggasehingga negara dalam keadaan lemah. membuat aktoraktor gerakan yang mengatasnamakan Gerakan ini berawal dari respon atas tuntutan bagi Gerakan Pers Kampus dan beberapa intelektual mencetus-hasil minyak dari masyarakat Riau terhadap pemerintah kan ide memerdekakan Riau. Militer sebagai representasipusat di bawah Pemerintahan Habibie. Ketika itu, Habibie negara cenderung hati-hati dalam menangani isu disinte-dianggap ingkar janji dengan mengulur-ulur waktu dalam grasi karena posisinya yang kurang menguntungkan.memutuskan diterima atau tidaknya tuntutan tersebut. Untuk konteks Riau, Kol (inf) Muhammad Gadillah, orangDalam konteks itu, gerakan selalu berasosiasi dengan Riau pertama yang menjadi Danrem, sehingga memilikitindakan yang dilakukan untuk memberikan respon atau ikatan emosional karena ia tahu keadaan Riau sebenarnyareaksi atas kondisi tertentu (realitas sosial) di masyarakat. justru selama bertugas di Riau. Ia selalu memberi dukung-8 P en g a nt a r Pe nu li s GERAKAN RIAU MERDEKA 9
  6. 6. an secara pasif (sekutu) sehingga gerakan ini menjadi an pusat-daerah akan terus mengalami pasang surut selamaluas.Gerakan menuntut Riau Merdeka bukanlah sesuatu cara pandang antara Pusat dan Daerah terhadap formatyang muncul begitu saja, tanpa ada faktor penyebab yang politik nasional terutama menyangkut otonomi daerahpaling signifikan. memiliki perbedaan yang tajam. Tidak berbeda jauh dengan periode 1950-1960, Untuk keperluan penerbitan dari tesis ke buku,menguatnya perlawanan daerah setelah reformasi juga beberapa materi direvisi dan sistematikanya disesuaikandilingkupi oleh krisis politik nasional pasca tumbangnya dengan kaidah buku pada umumnya. Akhir kata, sayaOrde Baru. Pada tahap ini, dipahami ada sesuatu yang salah menyadari buku ini mungkin saja masih jauh dari kesem-dari hubungan pemerintah pusat dan daerah yang hanya purnaan, karena itu penulis bertanggung jawab jika adamemarjinalkan peran masyarakat lokal baik secara eko- yang memberikan masukan ataupun kritikan. Semoga ber-nomi maupun politik. Pada saat bersamaan, melemahnya manfaat adanya.negara secara resiprokal memperkuat civil society. Variabellain munculnya gerakan Riau Merdeka –sebagai akibat Pekanbaru, Desember 2008menguatnya civil society— adalah peran dari aktor-aktorsebagai crafter dalam memanfaatkan momentum ketika Hery Suryadistruktur penopang negara, yakni Golkar, militer, dan biro-krasi, mengendur. Gerakan Riau Merdeka memang agak unik. Sejakawal, oleh para penggagasnya sudah ditegaskan bahwagerakan ini adalah sebuah gerakan damai (peaceful freedom).Pada sisi lain, gerakan ini sudah pada tahap membuatsemacam teks proklamasi yang diberi judul teks “DeklarasiRiau Berdaulat”. Dari pemahaman tersebut, gerakan me-nuntut Riau Merdeka secara substansi lebih tepat dikate-gorisasikan gerakan sosial. Buku ini merupakan metamorfosis dari tesis saya padaProgram Pascasarjana Jurusan Ilmu Politik UniversitasGajah Mada (UGM) Yogyakarta yang menganalisis tentangKemunculan Gerakan Riau Merdeka (1998-2001). Fokusperhatiannya lebih memandang bahwa persoalan hubung-10 P en g a nt a r Pe nu li s GERAKAN RIAU MERDEKA 11
  7. 7. Kenangan & Penghargaan uji syukur saya panjatkan kehadirat Allah P Subhanahu Wata’ala karena berkat dan rahmat- Nya jualah akhirnya saya dapat merampungkan karya intelektual ini. Saya merasakan pekerjaan pembuat- an tesis ini cukup melelahkan, penuh tantangan, dan sekali- gus mengasah perjalanan intelektual saya. Bermula pada awal September 1999, keberangkatan saya ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu di Universitas Gadjah Mada. Semua itu ditempuh dalam suka maupun duka sebagai upaya mengarungi rimba ilmiah di tengah kegalauan dan gonjang-ganjing perpolitikan di Indonesia kala itu. Bebekal nekad—karena itulah petuah dari seorang rekan sekiranya mau melanjutkan studi—penulis berang- kat menuju Yogyakarta bersama anak pertamanya (umur enam bulan ketika itu), istri, mertua perempuan, dan kakak ipar dengan bus Lorena. Perjalanan lebih kurang memakan waktu 2 hari 3 malam karena harus transit di12 P en g a nt a r Pe nu li s GERAKAN RIAU MERDEKA 13
  8. 8. Bogor. University Australia dengan karya monumentalnya The Di katakan nekad karena surat panggilan dari UGM Decline or Constitutional Democracy ini Indonesia dan Prof.tiba tanggal 30 Agustus 1999, sementara pendaftaran ulang Dwigh Y. King dari Northen Illinos University, USA. Profberakhir 4 September 1999. Ketika itu, saya sungguh tidak King adalah teman sekelas Prof Amien Rais ketika studipunya sepersen pun persiapan biaya untuk berangkat. doktoral di Universitas Chicago. Apa yang dapat dipetikMujur, seorang sohib, yakni Bang Syarifudin mengulurkan dari mereka adalah rendah hati, mencintai pekerjaan,pinjaman lunak sebesar Rp. 1 juta. Terima kasih yang serius, menghargai pendapat orang, dan bersahabat.setulus-tulusnya, bang. Pada kesempatan ini, saya juga Teman-teman seangkatan terdiri dari pelbagai lataringin menyampaikan ucapan terima kasih kepada ibu Hj. belakang, ada yang free lance, dosen, staf kedubes JepangAzlaini Agus yang telah memberikan finansial untuk test di Jakarta, birokrat, aktivis dengan beragam latar belakangpotensi akademik dan TOEFL. disiplin ilmu, yakni ada yang sarjana hubungan inter- Tanggal 4 September 1999 dini hari pukul 04.00 WIB nasional, ilmu peme-rintahan, hukum, sejarah, sosiologi,kami tiba di terminal Tirtonadi Solo. Dari Solo, kami men- STPDN, administrasi negara, komunikasi dll. Semuacater mobil Suzuki Carry menuju Yogyakarta dengan tarif mereka menyenangkan, sepertinya masa-masa indahRp. 80.000.- Tepat di depan Candi Prambanan, mobil yang terutama tahun-tahun pertama itu sulit untuk diulang.kami tumpangi menabrak tembok pembatas jalan antara Memasuki tahun kedua, satu persatu ada yang serius meng-mobil dan becak karena sopirnya mengantuk. Syukur garap tesis, santai-santai, ada yang hilang entah kemana.Alhamdulillah tidak ada luka. Akan tetapi ban mobil ter- Saya masuk kategori yang kedua. Di luar dugaan, teman-sebut pecah. Itu pengalaman pertama. teman yang dalam persepsi saya serius dalam perkuliahan Pengalaman kedua, yakni tepat dua minggu berada ternyata ketinggalan kereta dari teman-teman yangdi Yogya, tetangga kos saya membacok pacarnya. Penye- dianggap biasa-biasa saja.babnya tak etis saya kemukakan di sini. Tak lama berselang, Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahuntersiar kabar bahwa si cowok memiliki trak record psiko- berganti tahun, tepat tanggal 9 Agustus 2001, saya ujianlogis yang kurang baik. Saya pun diminta menjadi saksi seminar proposal bersama dengan Munafrizal, Indah, danpada kasus ini. Entah bagaimana ceritanya, kasus ini tidak Nasirudin di hadapan penguji, yakni Dr. Pratikno (Pem-dilanjutkan. Artinya, saya batal bersaksi di pengadilan. bimbing), Prof. Riswandha Imawan, dan Dr. Purwo Memasuki masa-masa perkuliahan, sepertinya Santoso. Semestinya Prof. Afan Gaffar (alm) masuk dalamangkatan ’99 Program Studi Ilmu Politik termasuk ber- tim penguji tapi berhalangan hadir karena kesibukannyauntung karena diajar oleh dua orang Indonesia yang cukup menjadi staf ahli Mendagri. Dari empat orang yang telahternama, yakni Prof. Hebert Feith (alm) dari Monash mengikuti seminar, Munafrizal (saya selalu memanggilnya14 Ke na ng a n & Pe ng h a rg a a n GERAKAN RIAU MERDEKA 15
  9. 9. dengan “pustaka berjalan” karena koleksi bukunya sekitar hardik kedua orang tua, terkhusus ibu. Saya percaya, sekali4.000 buah) dan Indah menyelesaikan ujian tesisnya pada kita durhaka pada orang tua dan mereka tersinggung dariJuli 2002. sementara pasca seminar, praktis tesis saya lubuk hati yang paling dalam sehingga keluar sumpahterbengkalai. Ini karena saya terlibat dalam Proyek Penyu- seranah, niscaya hidup kita tidak akan selamat. Jadi, selamatsunan Master Plan Riau 2020 selama satu tahun enam berbakti dan pandai-pandailah menjaga hati kedua orangbulan. Ketika itu, saya agak sulit mengambil keputusan tua!apakah ikut dalam proyek ini atau mengerjakan tesis. Tak lupa pula tentunya saya persembahkan tesis iniAkhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa ini juga kepada istri tercinta, Kartini Rosadi, yang dalam sukabagian dari kerja besar buat daerah dan tentunya sekali maupun duka selalu setia mendampingi dengan penuhseumur hidup. Meskipun harus saya akui, ada rasa penye- keikhlasan. Kepada kedua ananda tercinta, buah hatisalan sediki karena pengerjaan tesis menjadi terhambat. belabuhan jantung, Alifia Dayang Maisuri dan AhmadYah, itulah hidup punya pilihan-pilihan yang harus Taqiyudin Zallum Qazvini, yang ketika memandangdiputuskan meskipun itu pahit. mereka semua kelelahan sirna seketika, pembangkit Tesis ini mulai dikerjakan dimotivasi oleh tekad untuk inspirasi. Dari merawat merekalah sejak dari kandunganmembahagiakan Ayahnda Muhammad Afis Daud (alm) hingga tumbuh besar, saya menyadari betapa pentingnyatercinta, meskipun beliau tidak sempat menyaksikannya. menghargai hak-hak asasi manusia. Menyaksikan istriPesan itu terngiang-ngiang selalu agar saya secepatnya mabuk karena hamil, mencari barang yang diinginkanmenyelesaikan studi supaya ia bisa hadir ketika wisuda (ngidam), ke bidan dan dokter, yang semuanya mem-kelak. Kalau mengingatnya, air mata ini pun menetes butuhkan biaya, proses persalinan dengan taruhan nyawa,karena ada sesuatu yang saya tidak bisa per-sembahkan masa perawatan bayi yang membuat siklus tidur dankepadanya. Sebagai anak, saya hanya bisa mendoakan istirahat kita terganggu, imunisasi, menjaga mutu nutrisisemoga arwah beliau mendapat tempat yang pantas di sisi- agar tumbuh sehat dan cerdas, masa pertumbuhan yangNya. Amin yaa rabbal ‘aalamin. butuh perhatian ekstra, masa nakal-nakalnya...ough sangat Karya ini dedikasikan untuk Ibunda tercinta, Hj. melelahkan dan pada saat bersamaan mengasyikkan.Tengku Salmiah, yang dengan keringat dan tulang depan Karenanya, saya selalu memanjatkan doa pada ilahi semogakerat (baca: tenaga) dengan gigih membantu ayah menam- anak-anakku kelak menjadi anak yang sehat, cerdas, taatbah penghasilan keluarga sehingga kami kakak beradik beragama, menemukan jodoh yang baik. Berbakti kepadadapat melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Sungguh, orang tua, serta berguna bagi agama, masyarakat, bangsa,sentuhan dan didikan seorang ibu begitu sangat berarti dan negara.dalam sebuah keluarga, karenanya jangan pernah meng- Kepada saudara-saudara: Bang Syafri dan Kak Azizah16 Ke na ng a n & Pe ng h a rg a a n GERAKAN RIAU MERDEKA 17
  10. 10. beserta kemenakan, Ayi (Akong), Wanda (Dulkarim), Cornelis Lay, MA yang wawasan ilmu politik sangat baik,Zirham (Candil), dan Dara (budak kecik tak bisa dikasih- Sugiono, MA (alm), Prof. Sunyoto Usman, dan Dr Purwotahu) atas bantuan moril maupun materil. Kak Yanti dan Santoso, Mas Purwo—yang menurut saya adalah bibitBang Muji serta keponakan saya, Pandu (Van Damme) dan unggul muda yang dimiliki FISIP UGM, rendah hati danFarhan, yang selalu digedor ketika kesulitan likuiditas dan serius. Terima kasih juga saya ucapkan kepada Eric Hiariej,karenanya rekening BCA saya tidak ditutup karena selalu M. Phil, yang bersedia menjadi salah satu dewan pengujitidak ada saldo. Kelik yang entah mau jadi apa karena tak tesis. Kepada Mbak Rus dan Pak Suparman yang selalumau kuliah dan kerja. Kami sekeluarga pernah menya- sabar melayani urusan administrasi mahasiswa serta Bapak/rankan agar ia jadi Mbah Dukun karena senang klenik tapi Ibu/Saudara/i yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.dengan tegas ditampiknya. Serba tanggung sehingga apa Terima kasih juga kepada masyarakat Riau c.q. peme-yang dikerjakannya selalu gagal di tengah jalan. Umi, si rintah Provinsi yang uangnya ada saya nikmati selama duabungsu yang boros dan hanya puas dengan ijazah diplo- tahun untuk uang buku. Terima kasih juga kepada Drs.manya. H. Wan Abubakar MS, M. Si (Wakil Gubernur Riau) atas Tak lupa kepada Dr. Pratikno, pembimbing penulis. bantuan pribadinya secara material. Kepada masyarakatOrangnya bersahaja, rendah hati, tipikal ilmuwan yang Kabupaten Bengkalis c.q. Riza Pahlevi (mantan Wakilsenang berbagi ilmu, dan tidak merasa lebih pintar dari Bupati) yang baik hati dan friendly, rendah hati, danmahasiswa. Padahal ketika berdiskusi dengannya, saya seorang politisi handal yang sangat paham bagaimanasemakin merasa bahlul. Ia punya pemikiran yang jernih menjaga konstituen. Kepada masyarakat Kabupatendan cemerlang sehingga membuat saraf kejut saya Kepulauan Riau c.q. Andi Anhar Chalid (mantan Ketuatersentak. Sarannya selalu kontekstual hal mana tidak DPRD Kepri) yang memberi jalan bagi saya untukpernah saya pikirkan sebelumnya. Yah, saya merasa tidak mendapatkan bantuan dana. Kepada seluruh awak Pusatada apa-apa. Terima kasih atas bimbingannya Mas Tik Penelitian Industri dan Perkotaan (PPIP) Universitas Riau,(begitu kami selalu memanggilnya). Semoga Allah selalu Dr. Ashaluddin Jalil, MS, Drs. Ali Yusri, MS, Dr. Arasmemberkati anda. Amin. Mulyadi, DEA, Bang Icap, Nadhra, Simon, Meyzi, April, Kepada dosen-dosen selama saya menuntut ilmu: Prof Ismail, dan Rusli yang selalu membersihkan head printerAfan Gaffar (alm), Prof. Riswanda Imawan yang sangat yang selalu trouble, tempat dimana wadah saya untukkocak dan sangat menguasai bidang ilmunya terutama mengarungi lautan ilmiah sekaligus menambah income,sistem kepartaian dan pemilu. Mas Ris sangat berhavioralis suka duka selalu kami arungi bersama.karena senang bermain dengan angka-angka ketika Kepada teman-teman angkatan ’99 Munafrizal, Arif,menganalisis perilaku politik dan seorang insomnia sejati. Arjul, Nasiruddin, La Bilu, Edwin, Indah, Rindu, Kang Yaya,18 Ke na ng a n & Pe ng h a rg a a n GERAKAN RIAU MERDEKA 19
  11. 11. Mas Anto, Nasyiwan, Mas Hisyam, Mbak Retno, Mbak FISIP Unri dan Drs. Ishak, M. Si, Ketua Program NonSusi, Teh Ida, Tiwi, Iman, Dian, Mas Dwi, Ono san, Reguler FISIP Unri yang selalu meng-handle tugas-tugasSachiko, Izzul, Mas Saptoso, Mbak Susi, Hermie, Mbak saya ketika saya harus berangkat ke Yogyakarta untukRatna, Falzah, Puji, dan teman-teman lain yang tidak bisa bimbingan dan konsultasi tesis. Tak lupa saya ucapkanpenulis sebutkan satu persatu, semoga perjalanan mencari terima kasih kepada Drs. Muhammad Ridwan, M. Si,ilmu kita tidak sia-sia. mantan Wakil Dekan II FISIP Unri. Thanks for everything. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada Akhirul kalam, saya ucapkan terima kasih kepadaSyafa’atun binti Kariadi yang telah memberikan pelajaran para ilmuwan yang pemikirannya penulis kutip meskipunberharga kepada saya arti pentingnya sebuah perjuangan tidak dikenal orangnya, narasumber, key informan, sertadalam menggapai kehidupan. Kepada bapak kos, Pak pihak-pihak yang turut serta membantu selesainya karyaDjemiko dan keluarga yang tidak pernah menaikkan sewa ini, baik langsung maupun tidak langsung.kamar selama penulis tinggal lebih kurang dua tahun.Keluarga besar Ibu Hj. Eli Kusnaliah (orang tua angkatpenulis) di Yogya dan Reren yang selalu meminjamkanmobilnya. Kepada Jun Foster, teman setia main biliar ketikapenulis merasa jenuh dengan tugas-tugas rutin. Per-sahabatan sejati yang telah dibangun semoga selalu abadi.Ia mulai merintis usaha sendiri, semoga sukseslah,kamerad! Kepada Prof. Dr. Muchtar Ahmad, M. Sc, mantanRektor Universitas Riau, yang selalu memberi izin dan moti-vasi untuk terus menuntut ilmu. Pak Hasanudin dan Auliaseorang birakrat yang selalu risau dengan keadaan masya-rakat. Kepada Eddy Mohd. Yatim dan H. Fahrullazi, keduateman baik saya yang selalu memberi motivasi ketikamasa-masa dimana saya hampir kehilangan orientasikarena terbentur biaya untuk menyelesaikan studi ini.Meskipun terkadang tak jarang kritik mereka membuatmerah kuping agar saya menyelesaikan studi dengansegera. Kepada Drs. M. Y. Tiyas Tinov, M. Si, Wakil I Dekan20 Ke na ng a n & Pe ng h a rg a a n GERAKAN RIAU MERDEKA 21
  12. 12. Daftar Isi Pengantar Penulis ~ 5 Kenangan & Penghargaan ~ 11 Daftar Isi ~ 19 Bab 1 Pendahuluan ~ 23 Bab 2 Benih-benih Ketegangan Pusat-Daerah ~ 37 Bab 3 Jejak Riau Menapak Jalan Kebebasan ~ 57 A. Riau sebagai Entitas ~ 58 B. Perjuangan Rakyat Riau untuk Kemerdekaan ~ 67 C. Provinsi Riau Masa Orde Lama ~ 69 D. Provinsi Riau Masa Orde Baru ~ 80 E. Historiografi Keinginan Riau untuk Merdeka ~ 92 Bab 4 Bersatu dalam Gerak Perjuangan ~ 101 A. Gerakan Mahasiswa di Riau: Bola Salju Gerakan Reformasi Nasional ~ 101 B. Gerakan Moral Intelektual di Riau: Perjuangan22 Ke na ng a n & Pe ng h a rg a a n GERAKAN RIAU MERDEKA 23
  13. 13. Konsepsional ~ 113 C. Perluasan Gerakan: Bersatunya Kekuatan Reformasi di Riau ~ 126Bab 5 Bendera Riau Merdeka Akhirnya Berkibar ~ 135 A. Setting Politik Nasional pasca Orde Baru: Bermula dari Legitimasi ~ 136 Bab 1 B. Riau Merdeka: Dialektika Hubungan Pusat- Daerah ~ 140 C. Dinamika Gerakan Riau Merdeka ~ 160 PENDAHULUAN D. Kongres Rakyat Riau II: Instutisionalisasi yang Absurd ~ 172Bab 6 Penutup ~ 183 Daftar Pustaka ~ 191 Biodata Penulis ~ 198 Kegagalan membangun sistem pemerintahan yang kewenangannya terdesentralisasikan secara lebih bermakna dari waktu ke waktu, menimbulkan keyakinan baru bagi masyarakat di daerah bahwa pusat bukan hanya mengeksploitir mereka, tetapi juga mengambil hak mereka untuk mendapat pelayanan yang baik oleh sebuah pemerintahan yang baik. Kondisi ini berlangsung sangat lama, sehingga menimbulkan berbagai ketidakpuasan. Pada puncaknya, muncul gagasan untuk kembali ke bentuk pemerintahan federal, atau bahkan merdeka.1 epanjang sejarah republik sejak tahun 1945 hingga S saat ini, Indonesia telah mengalami beberapa kali pemberontakan daerah. Pada fase awal kemer- dekaan, pemberontakan daerah dapat dipahami sebagai akumulasi permasalahan yang sangat kompleks dan saling 1. Elaborasi dari Andi A. Mallarangeng dan M. Ryaas Rasyid, Otonomi dan Federalisme, dalam Adnan Buyung Nasution, Harun Alrasyid, Ichlasul Amal, dkk., 1999, Federalisme untuk Indonesia, Kompas, Jakarta, h. 21.24 Da f a r I si GERAKAN RIAU MERDEKA 25
  14. 14. tumpang tindih mulai dari polarisasi baik secara individu kebudayaan. 4maupun kelompok pada level pemerintah pusat yang Diawali oleh pemberontakan Darul Islam di Jawadipicu oleh pertentangan ideologi, friksi antarelit, militer Barat tahun 1947, telah diikuti oleh suatu gerakan pemisah-versus Partai Komunis Indonesia dalam merebut pengaruh an diri di Maluku pada akhir April 1950. Sebelum peme-kekuasaan (baca: presiden), pertarungan antara sub- rintah mampu mengakhiri perlawanan-perlawanan ter-budaya politik Jawa dan sub-budaya politik luar Jawa. sebut, gerakan Darul Islam telah diperkuat oleh suatuBerbeda dengan pemberontakan daerah saat ini di mana pemberontakan di Aceh tahun 1953. Hanya beberapa tahunpara pelakunya tidak terkait dengan struktur kekuasaan, kemudian, pada tahun 1958 meletuslah pemberontakanpemberontakan daerah periode 1950 hingga 1960-an para lainnya di Sumatera dan Sulawesi Utara yang dicetuskanpelakunya nyaris orang-orang yang terkait dengan struktur oleh beberapa pemimpin tingkat nasional yang dihormatikekuasaan baik militer maupun sipil.2 dan perwira-perwira militer daerah. Pemberontakan Soal ketidakpuasan daerah, Yusril Ihza Mahendra lainnya di Irian Jaya oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM)men-sinyalir sejak Kabinet Wilopo tentang perimbangan meletus akhir Juli 1965 yang diawali penyebaran pamfletantara pusat dan daerah sudah menjadi masalah. Oleh pada tanggal 19 April 1965 berisi tuntutan Negara PapuaSimbolon dan Kawilarang dijadikan alasan untuk menye- Merdeka. Tantangan-tantangan sentrifugal ini kemudianlundupkan kopra dan karet karena dianggap sangat Jawa diperkaya lagi pada tahun 1976 dengan munculnyacentris, yang merupakan cikal bakal pemberontakan PRRI/ Gerakan Aceh Merdeka.5Permesta.3 Sementara itu, Legge (1961), Maryanov (1958), Pemberontakan daerah pada masa itu dapat dipahamiSyamsuddin (1985), dan Harvey (1984) berusaha mema- sebagaimana periode awal masyarakat politik dalamhami latar belakang pemberontakan daerah pada masa membangun negara-bangsa. Hanya bermula dari suatuOrde Lama dari perspektif hukum politik maupun revolusi yang dilandasi nasionalisme, persamaan senasib sepenanggungan, dan patriotisme yang tinggi dalam mengusir penjajah. Dilandasi oleh beberapa persamaan ter- sebut, persoalan integrasi nasional tidak mengalami2 Ini berdasarkan orang-orang yang menggerakkan Permesta dan PRRI terutama yang berkolaborasi dengan penguasa militer di daerah. Selain itu, terdapat perbedaan cara pandang antara pusat dan daerah dalam menentukan politik pemerintahan terutama 4 Pratikno, 1999, Hubungan Pusat-Daerah Gelombang Ketiga: Sosok menyangkut hubungan antara pemerintah pusat dan daerah. Otonomi Daerah di Indonesia Pasca Soeharto, Jurnal UNISIA No. 39/3 Lihat Yusril Ihza Mahendra, Perpolitikan Konsep Federal di Indo- XXII/III/1999, UII, Yogyakarta. nesia dan Konsekuensinya, dalam Adnan Buyung Nasution dkk., 5 Nazaruddin Syamsuddin, 1989, Integrasi Politik di Indonesia, Ibid, h. 160-161. Gramedia, Jakarta, h. 1.26 Pen d a hul ua n GERAKAN RIAU MERDEKA 27
  15. 15. hambatan yang berarti karena dilakukan secara sukarela. berusaha membangun legitimasi absolut. Developmental-Bangsa Indonesia ketika itu sedang dihadapkan kepada isme dan fundamentalisme ekonomi yang tangguh, yangusaha mencari format politik nasional. Persoalan integrasi didengung-dengungkan ternyata menjadi bumerang baginasional biasanya muncul pada suatu bangsa yang baru rezim otoritarian itu sendiri. Orde Baru yang selalu meng-keluar dari penjajahan ketika negara mulai melakukan atasnamakan kepentingan negara, melalui kebijakannyapembangunan (state building), yang cenderung menguta- selama ini secara tidak langsung telah mendorong per-makan pembangunan versi negara sehingga mengganggu lawanan daerah lebih menguat dan meluas ketika rezimnilai-nilai lokalitas yang telah berabad-abad berlangsung. ini ambruk. Seperti tidak belajar pada sejarah, memasuki babak Kondisi dengan serta merta akhirnya berbalik arah,baru hubungan pusat-daerah, Orde Baru menerapkan ketika penopang utama Orde Baru, yakni militer, Golkar,sistem sentralistik dan represif dalam mengatasi perlawanan birokrasi, dan Soeharto sebagai kosmos berada dalam posisidaerah seperti diberlakukannya daerah operasi militer yang sangat lemah. Tuntutan perubahan meluas seiring(DOM) di Aceh. Strategi ini terbukti asubstantif dan kontra- dengan krisis moneter dan ekonomi bermetamorfosisproduktif. Untuk jangka pendek, strategi ini sangat efektif menjadi krisis legitimasi yang berujung dengan mundur-karena gerakan perlawanan daerah berhasil dilokalisir. nya Soeharto atas desakan general will pada tanggal 21Inilah salah satu reputasi politik yang berhasil diraih Mei 1998, seiring dengan usianya yang semakin renta.7pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto, yakni keber- Selain itu, munculnya gerakan oposisi di luar strukturhasilannya meredam pemberontakan daerah yang menjadi kekuasaan terutama dari kalangan intelektual, retaknyamasalah pelik pada periode Orde Lama di bawah aliansi strategis – militer, birokrasi, dan Golkar— sebagaiSoekarno.6 Keberhasilan ini ditopang oleh birokrasi, Golkar penyokong utama Orde Baru sebagai akibat terjadinyadan militer sebagai motor penggerak dalam mengendalikan regenerasi kepemimpinan politik, juga turut mendorongdinamika politik lokal. Ianya terbungkus dalam kerangkadesentralisasi (baca: hubungan pusat-daerah) yang semu. Keberhasilan Orde Baru meredam perlawanan daerah 7 Penyebab krisis ekonomi bukannya tidak ada kontinuitas daritidak dengan serta merta mampu meredam munculnya pilihan strategi pembangunan yang diterapkan Orde Baru.kembali perlawanan daerah terhadap pemerintah pusat. Kebijakan personal Soeharto memberikan konsesi kepada keluarga dan kroninya turut menyumbang rentannya fundamen-Melalui kebijakan ekonomi maupun politiknya, Orde Baru tal ekonomi Indonesia terhadap faktor eksternal karena kapital terpusat pada segelintir orang. Tentang uraian enggannya Orde Baru mengadakan autokritik terhadap kebijakan pembangunan ekonomi lihat Zaim Saidi, 1998, Soeharto Menjaring Matahari, Mizan,6 Lihat Pratikno, Op. Cit. Bandung.28 Pen d a hul ua n GERAKAN RIAU MERDEKA 29
  16. 16. percepatan perubahan.8 Dari perspektif lain, perubahan an pusat-daerah dibangun secara tidak demokratis. Selainyang terjadi sebagai akibat proses modernisasi yang sedang itu, penggunaan asas –desentralisasi, dekonsentrasi, danberjalan, yang menyebabkan terjadinya transformasi sosial. tugas pembantuan— secara bersamaan adalah sesuatuDalam konteks itu, terciptanya kelas menengah yang relatif yang sangat tidak mendorong upaya otonomisasi di tingkatotonom terhadap kekuasaan yang berdampak pada lokal. Walaupun tidak secara tegas menyebutkan katamenguatnya civil society di Indonesia. sentralisasi, dalam implementasinya pendekatan sentralisasi Perubahan yang begitu cepat dan tiba-tiba (by yang paling menonjol.accident) salah satu eksesnya berimplikasi kepada per- Pola hubungan pusat-daerah pada masa Orde Barulawanan daerah (baca: ancaman disintegrasi) yang semakin secara teoretik tergolong integrated prefectoral system.menguat dan meluas sebagai akibat ketidakpuasan ter- Sistem ini diterapkan dengan alasan sangat bermanfaat bagihadap Pemerintah Pusat selama ini. Aceh, Papua, Riau, masyarakat yang memiliki konsensus rendah, seringdan Kalimantan Timur yang notabene merupakan daerah mengalami perpecahan, ataupun ketidakstabilan politik.modal adalah empat daerah yang menunjukkan sikap Dalam sistem ini kepala wilayah mengusahakan tercipta-melakukan perlawanan terhadap Pemerintah Pusat dengan nya ketertiban dan kestabilan politik. Selaku wakil peme-karakteristiknya masing-masing. rintah pusat, kepala wilayah sekaligus merangkap sebagai Untuk memahami pemberontakan daerah dewasa ini kepala daerah yang menjalankan fungsi mengusahakantidak terlepas dari format politik Orde Baru terutama dalam pembinaan bangsa dan menerjemahkan kebijakan nasionalkonteks hubungan pusat-daerah dengan UU No. 5 Tahun di wilayah yurisdiksinya.10 Pada perkembangannya, atas1974 sebagai konstruksi yang mendasarinya. Benyamin nama kepentingan negara, penguasa dapat bertindakHoessein mencatat bahwa istilah demokrasi hanya disebut dengan leluasa melalui interpretasi tunggal yang mencakupsekali di dalam UU No. 5 Tahun 1974.9 Ini berarti hubung- semua sektor kehidupan masyarakat.8 Uraian lebih lengkap tentang retaknya aliansi strategis harap periksa Eep Saefullah Fatah, 1998, Menimbang Masa Depan Orde Baru: Reformasi atau Mati? Laboratorium Ilmu Politik FISIP UI dan Mizan, h. 56-66. 10 Bhenyamin Hoessein, Ibid, hal. 60-61. Sistem ini didukung oleh9 Yang sangat nyata adalah tidak adanya pasal maupun peraturan sentralisasi sumber keuangan, public policy making, dan pemerintah yang mengatur hubungan keuangan antara pusat perencanaan pembangunan serta sentralisasi rekrutmen dan dan daerah dalam UU No. 5 Tahun 1974 sehingga alokasi dana ke promosi pegawai. Uraian tentang hal ini periksa juga Pratikno, daerah lebih ditentukan oleh aksessibilitas politik. Lihat Tragedi Politik Desa 1998-1999: Kelangkaan Kelembagaan Lokal Bhenyamin Hoessein, Sentralisasi dan Desentralisasi: Masalah dalam Manajemen Krisis, dalam Angger Jati Wijaya dkk. (editor), dan Prospek, dalam dalam Syamsuddin Haris dan Riza Sihbudi 2000, Reformasi Tata Pemerintahan Desa Menuju Demokrasi, YAPIKA (ed.), 1996, Menelaah Kembali Format Politik Orde Baru, Gramedia, dan FORUM LSM DIY bekerja sama dengan Pustaka Pelajar, Jakarta, h. 63. Yogyakarta, h. 112-113.30 Pen d a hul ua n GERAKAN RIAU MERDEKA 31
  17. 17. Fungsi tersebut juga menyebabkan posisi kepala – ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya— hinggadaerah sangat dilematis terutama ketika dihadapkan pada tingkat pemerintahan yang paling rendah.kepada antara kepentingan daerah dan kepentingan pusat. Pada sisi lain, sistem ini menyebabkan kepala daerahDalam praktiknya, kepala daerah lebih mengutamakan lebih berperan sebagai perantara (broker) pemerintah pusatkepentingan pusat daripada kepentingan daerah. Ada sehingga warna politik nasional sangat kental mewarnaibeban psikologis sekiranya kepala daerah lebih menyuara- politik pada tingkat lokal. Kepala daerah bertanggungkan kepentingan daerah, yakni akan berhadapan dengan jawab kepada pemerintah pusat bukan kepada masyarakatkekuasaan pemerintah pusat dan resiko kehilangan lokal. Akibatnya dinamika politik lokal menjadi tidakjabatan. Dalam kondisi demikian, kepala daerah meng- dinamis, monolitik, dan rigid.alami conflict of interest sehingga cenderung melakukan Model ini juga yang menuntut monoloyalitas danupaya menyelamatkan diri daripada membela kepentingan menyebabkan terjadi hubungan patron-client yang tunggal.daerah. 11 Implikasinya, faktor-faktor produksi secara mutlak di- Pola hubungan ini hanya menyebabkan timbulnya kuasai para kroni penguasa. Aksessibilitas kepada kekuasa-hegemoni pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah an menjadi sangat menentukan dalam segala hal. Pola inidengan kepala daerah sebagai aktor yang “wajib” meng- juga menjadi suatu budaya politik yang merambat padaikuti skenario yang telah ditentukan dalam segala dimensi struktur birokrasi di daerah sehingga memunculkan rezim feodal-aristokratik.12 Dalam konteks ini, dapat dikatakan11 Untuk kasus Riau, hal ini didukung oleh tiga gubernur sebelumnya bahwa teori otonomi memang ada tetapi pelaksanaan oto- yang bukan putra daerah. Jabatan gubernur selama Orde Lama nomi tidak pernah dilaksanakan di Indonesia hingga saat maupun Orde Baru didrop dari pusat, berlatar belakang militer ini.13 Semua itu dibangun atas dasar rekayasa regulasi yang (argumentasi Pusat karena Riau dianggap rawan, meskipun kriteria rawan tidak mempunyai parameter yang jelas) dan etnis canggih yang menempatkan Pemerintah Pusat pada posisi Jawa. Akibatnya aspirasi masyarakat Riau banyak yang tidak yang sangat menentukan. terakomodasi. Pada tanggal 2 September 1985, seorang calon pendamping, Ismail Suko, ketika itu memenangkan pemilihan Bermula dari lepasnya Timor Timur melalui referen- gubernur. Akan tetapi ia tidak dilantik. Pusat melantik Imam dum adalah merupakan pendulum munculnya permin- Munandar untuk masa jabatan kedua. Kasus hampir sama juga terjadi tahun 1993. Ketika itu, Syarwan Hamid, anak jati Riau, mendapat dukungan luas dari masyarakat untuk menduduki jabatan gubernur. Akan tetapi tidak disetujui oleh pusat. Akhirnya Soeripto, mantan Pangkostrad, menjadi gubernur untuk kedua 12 Untuk lebih jelas lihat Priyo Budi Santoso, 1993, Birokrasi Pemerintah kalinya. Tentang uraian dinamika pemilihan Gubernur Riau 1993- Orde Baru: Perspektif Kultural dan Struktural, Rajawali, Jakarta. 1998 harap periksa Zulfan Heri dan Muchid Albintani (peny.), 1998, 13 Lihat Fauzi Kadir, 1999, Seperti Bambu di Tepi Sungai, dalam Tabloid DPRD Riau Digugat: Kilas Balik Pemilihan Gubernur Riau (1993-1998), Politik WataN No. 10 Tahun I, 24-30 Desember 1999, Pekanbaru, LS2EPM, Pekanbaru. Riau.32 Pen d a hul ua n GERAKAN RIAU MERDEKA 33
  18. 18. taan serupa bagi daerah lainnya. Aceh misalnya, menagih terhadap pemerintah pusat akan sumber dana, sumber-janji serupa melalui referendum untuk merdeka, Irian Jaya daya manusia, dan wewenang.15menuntut Papua merdeka, Riau yang telah mendeklarasi- Persistensi sentralisasi kekuasaan dan ekonomikan Riau Berdaulat (baca: merdeka) tanggal 15 Maret 1999 berakibat pada ketidakpuasan daerah atas ketimpanganjuga memanfaatkan momentum ini, sementara tersebut. Diskursus otonomi seluas-luasnya, federalismeKalimantan Timur melalui DPRD Tingkat I pada awal dan merdeka nyaring terdengar terutama pada daerah yangDesember 1999, dalam pernyataan sikapnya mengusulkan kaya akan sumberdaya alam. Dalam konteks ini, pembe-bentuk negara federasi. Potensi disintegrasi mengemuka rontakan daerah dapat dipahami sebagai ketidakadilan atasdan inilah fase paling spektakuler munculnya perlawanan pembagian hasil keuntungan yang diperoleh pusat kepadadaerah terhadap pemerintah pusat.14 daerah selama ini. Perlawanan daerah terhadap pusat saat ini bisa Masing-masing daerah tersebut memiliki karakteristikdipahami yang menjadi penyebabnya antara lain timpang- perjuangan tersendiri dalam menyikapinya. Aceh misal-nya perimbangan keuangan antara pusat-daerah jika dilihat nya, menempuh jalan mengangkat senjata dan diplomasidari empat daerah yang melakukan perlawanan, yang sekaligus, dengan porsi melalui senjata lebih dominan dimerupakan daerah yang kaya akan sumberdaya alam. bawah kendali pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).Pembagian rezeki yang kurang adil ini menyebabkan Sementara Papua, meskipun memiliki Organisasi Papuatimpangnya struktur ekonomi dan infrastruktur antara Merdeka (OPM) tetapi perlawanan bersenjata tidak sein-Jawa dan luar Jawa, kebijakan sentralisasi kekuasaan yang tensif di Aceh. Mereka juga menempuh jalur diplomasi.ber-lebihan (over-centralized) sehingga mematikan Kongres Rakyat Papua adalah merupakan bukti akan halkreativitas sebagai akibat tingginya ketergantungan daerah ini. Kedua gerakan masing-masing di Aceh dan Papua memiliki sejarah yang panjang dan unik hingga mereka lebih terorganisir dan dikenal luas di dunia internasional.14 Menguatnya perlawanan daerah terhadap pusat juga disebabkan Sementara gerakan menuntut Riau Merdeka bergema dan karena posisi negara dalam keadaan lemah baik secara ekonomi menguat pasca tumbangnya rezim autoritarian Orde Baru. maupun politik dan pada saat bersamaan hak-hak asasi manusia menjadi isu krusial serta menjadi sorotan internasional terutama Kebijakan Habibie dalam mengatasi perlawanan dalam meloloskan bantuan finansial sehingga penanganan upaya daerah kurang membawa hasil yang memuaskan. Per- separatis tidak bisa semata-mata dilakukan dengan cara represif tetapi juga dengan cara persuasif, sesuatu yang hampir tidak pernah dilakukan oleh rezim Soeharto sebelumnya. Seiring dengan hal tersebut, peluang ini dimanfaat-kan daerah untuk memperkuat bargaining position mereka terhadap pemerintah 15 Lihat Tim PPW-LIPI, Menuju Reformasi Hubungan Pusat-Daerah, pusat. dalam Syamsuddin Haris dan Riza Sihbudi (ed.), Op.Cit., h. 183.34 Pen d a hul ua n GERAKAN RIAU MERDEKA 35
  19. 19. masalahan ini akhirnya harus ditangani oleh pemerintahan Buku ini hadir untuk menelaah bagaimana dinamikaAbdurrahman Wahid. Selain itu, Abdurrahman Wahid “pemberontakan” daerah pasca Orde Baru bisa dipahamidalam banyak hal dianggap tidak konsisten dengan per- yang menjadi penyebabnya antara lain timpangnya per-nyataan yang telah dibuatnya sendiri, “Jika Timor Timur imbangan keuangan antara pusat-daerah jika dilihat daridiberi referendum, kenapa Aceh tidak. Itu namanya tidak empat daerah yang melakukan perlawanan, yang merupa-adil.” Seperti mendapat peluang untuk mengadakan kan daerah yang kaya akan sumberdaya alam. Pembagianreferendum, ucapan presiden tersebut banyak menghiasi rezeki yang kurang adil ini menyebabkan timpangnyahampir di setiap sudut kota-kota di Aceh. struktur ekonomi dan infrastruktur antara Jawa dan luar Pernyataan tersebut akhirnya dibantah sendiri oleh Jawa, kebijakan sentralisasi kekuasaan yang berlebihanAbdurrahman Wahid sehingga membuat masyarakat Aceh (over-centralized) sehingga mematikan kreativitas daerah.semakin tidak percaya kepada pemerintah pusat. 16 Akumulasi dari persoalan hubungan pusat-daerahSementara untuk daerah Riau, persepsi yang berkembang selama ini memunculkan kekecewaan yang mendalambahwa pemerintahan Abdurrahman Wahid juga tidak jauh karena me-marjinalkan masyarakat lokal secara sistematis,berbeda dengan pemerintahan sebelumnya dalam hal baik secara sosial, ekonomi, dan politik. Dan kekecewaankeadilan. Dan lebih ekstrim lagi, sebagian mahasiswa dan tersebut akhirnya termanifestasikan dalam bentuk per-pemuda di Riau tidak percaya kepada pemerintahan orang- lawanan daerah terhadap pemerintah pusat.orang Jawa.17 Fokus pembahasannya adalah munculnya Gerakan Riau Merdeka selama kurun waktu 1998-2001. Urgensi- nya, terutama mengungkap fakta maupun peta tentang16 Kasus Aceh menonjol karena intensitas perlawanan terus Gerakan Riau Merdeka. Dengan memahami fakta dan peta meningkat dan banyak memakan korban jiwa. Perlawanan dalam kekuatan Gerakan Riau Merdeka dapat diketahui tipikal bentuk yang lain juga terjadi di Papua Barat, ada usaha sekelompok masyarakat mengibarkan bendera Papua Merdeka dari gerakan tersebut. Karena itu, dalam buku ini dikaji pada tanggal 1 Desember 1999. Meskipun aksi ini dilakukan tanpa profil dan siapa-siapa aktor di balik gerakan tersebut, faktor kekerasan, berarti eksistensi Republik Indonesia dipertanyakan. apa yang paling signifikan penyebab munculnya gerakan Sementara di Riau telah dilaksanakan Kongres Rakyat Riau II tanggal 29-31 Januari 2000. Kongres Rakyat Riau II memberikan tiga opsi, yakni otonomi luas, federal, dan merdeka. Akhirnya mayoritas peserta kongres terutama mahasiswa dan pemuda sebagai kelompok pro-merdeka memilih opsi merdeka. mahasiswa yang comitted dengan Riau Merdeka. Kalimat yang17 Pemerintahan orang-orang Jawa di sini maksudnya adalah karena selalu diucapkan adalah “aku tahu maka aku memberontak”. Tahu di Presiden Abdurrahman Wahid dan Wakil Presiden Megawati sini artinya mereka mengerti kekayaan Riau yang melimpah Soekarnoputri kala itu, keduanya berasal dari Jawa. Pendapat ini hanya untuk segelintir orang, sementara untuk masyarakat Riau berdasarkan percakapan di kalangan akademisi terutama hanya tinggal ampasnya.36 Pen d a hul ua n GERAKAN RIAU MERDEKA 37
  20. 20. tersebut, hingga penulis berupaya untuk memprediksiapakah akan terjadi eskalasi dari gerakan tersebut berdasar-kan kondisi faktual yang ada. Fokus pembahasannya berangkat dari pertanyaan;Pertama, pra-kondisi apa yang menyebabkan munculnyagerakan menuntut Riau Merdeka. Kedua, faktor apa yang Bab 2dianggap paling signifikan yang menyebabkan munculnyagerakan menuntut Riau Merdeka. Ketiga, akankah terjadieskalasi dari gerakan tersebut.{} BENIH-BENIH KETEGANGAN HUBUNGAN PUSAT-DAERAH eragamnya suku bangsa, agama, ras, antar- B golongan, dan geografis yang tersebar merupakan salah satu penyebab sulitnya membangun identitas politik bersama melalui nation building di Indonesia. Orde Lama yang lebih mem-prioritaskan pada pembangunan politik, telah menyebabkan pembangunan ekonomi cenderung terabaikan. Pengabaian terhadap pembangun- an ekonomi ini telah mengakibatkan daerah di luar Jawa sangat merasakan ketertinggalan ketika itu. Ketidakpuasan ini menimbulkan gerakan berbasis kedaerahan seperti DI/ TII di Jawa Barat, Aceh, dan Sulawesi Selatan, kemudian PRRI di Bukittinggi, dan Permesta di Sulawesi Utara. Memasuki usia kemerdekaan hampir 59 tahun, Indonesia masih dihadapkan pada persoalan integrasi38 Pen d a hul ua n GERAKAN RIAU MERDEKA 39
  21. 21. nasional, meskipun permasalahan ini sempat mengalami kan” (inserting) variabel baru, sehingga nuansa penjelasaninterupsi selama rezim Orde Baru selama 32 tahun. Selama yang sudah ada dapat diperkaya lagi. Selain itu, untukOrde baru, bukannya persoalan ini sudah dapat dikatakan menunjukkan upaya penjelasan yang telah dilakukan olehtuntas karena represivitas yang diterapkan Orde Baru orang lain, review of literature ini juga menjadi petunjukdalam menghadapi berbagai gerakan baik itu berupa penting keseriusan peneliti terhadap penelitiannya.18perlawanan terhadap perlakuan tidak adil penguasa atas Dalam konteks itu, tujuan dilakukannya tinjauanrakyat maupun gerakan separatisme, telah menyebabkan kepustakaan dalam adalah untuk memudahkan mem-hancurnya tatanan sosial dan menyimpan amarah dari bangun argumen dalam menjelaskan Gerakan Riaurakyat yang cenderung tidak terkendali karena telah Merdeka. Untuk itu, dipilih literatur yang ada relevansinya.kehilangan nalar. Uniformitas dan sentralisasi adalah salah Pemilihan literatur ini berdasarkan asumsi bahwa Gerakansatu hal yang paling menonjol dari pola pemerintahan Riau Merdeka memiliki persamaan dengan gerakanrezim Orde Baru dalam menerapkan sistem pemerintahan. berbasis kedaerahan pada masa Orde Lama, yang tidak Kasus serupa, yakni gerakan berbasis kedaerahan memiliki tradisi separatisme murni di mana tujuan darimuncul kembali pasca tumbangnya rezim Orde Baru. gerakan tersebut lebih kepada upaya agar diperhatikanGerakan berbasis kedaerahan tersebut, meskipun me- oleh pemerintah pusat dengan tuntutan otonomi luas.miliki karakteristik yang berbeda dengan pada masa Orde Dalam menganalisis penyebab munculnya Permesta,Lama, tetapi memiliki satu tujuan sebenar-nya, yakni Harvey (1989)19 mulai dari konstalasi perpolitikan nasionalupaya daerah agar lebih diperhatikan oleh pemerintah ketika itu secara komprehensif dengan mengutip dari studipusat terutama terhadap pembagian rezeki yang adil bagi para Indonesianis sebelumnya seperti Kahin, Legge,daerah modal, jika dilihat dari empat daerah yang nyaring Anderson, Maryanov, McVey, Feith, Mackie, dan Schmitt.menyuarakan federalisme hingga tuntutan merdeka pasca Pertama, kesenjangan Jawa dan luar Jawa sebagai warisantumbangnya Orde Baru. kolonial. Ketika itu, kekecewaan didasarkan atas suatu rasa Karenanya, pada bab ini dilakukan penjelasan akade- ketidaksenangan yang luas terhadap struktur negara yangmik (riset) terhadap gerakan-gerakan berbasis kedaerahan ada, yang secara luas dikritik sebagai biro-kratis, tidakdengan melakukan tinjauan kepustakaan (review ofliterature), yakni upaya mendeteksi sejauh mana masalah 18 Riswandha Imawan, tanpa tahun, “Research Design”, dalamyang kita hadapi telah diteliti oleh orang lain. Kegiatan ini Metodologi Penelitian Administrasi, diktat kuliah Program Studipenting untuk mengetahui celah atau ruang dari bangun Magister Ilmu Administrasi PPS Universitas 17 Agustus, Surabaya, unpublished.logika yang sudah dibangun untuk menjelaskan masalah 19 Lihat Barbara Sillars Harvey, 1989, Permesta: Pemberontakanitu, yang masih bisa kita manfaatkan untuk “memasuk- Setengah Hati (terj.), Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, h. 9-30.40 Be ni h-B eni h Ket eg a ng a n Hub un g a n Pu sa t - Da er a h GERAKAN RIAU MERDEKA 41
  22. 22. efisien, dan korup. Belum duduknya format politik Mengutip Feith, Harvey menjelaskan bahwa perbedaannasional menyangkut sistem politik terutama struktur afiliasi politik yang sangat kontras antara Jawa dan luarlembaga-lembaga pemerintah pusat dan daerah serta Jawa mencermin-kan baik perpecahan kedaerahanhubungan antara keduanya; pernyataan yang tegas tentang maupun perpecahan ideologi. Perbedaan tampak pascakontrol nasional atas ekonomi; peranan partai-partai politik Pemilu 1955 di mana PNI, NU, dan PKI menguat di Jawa,dan tentara; dan kedudukan Islam serta komunisme dalam sementara Masyumi menguat di luar Jawa. Mengerasnyanegara, termasuk perbedaan mendasar terhadap sifat-sifat pertentangan Masyumi dan PKI (baca: Islam vis a visekonomi, kultur, dan sosial Jawa dan luar Jawa. Terhadap komunis), berimplikasi didiskreditkannya Masyumi yangdimensi ekonomi, Harvey menjelaskan bahwa pada tahun dihubungankan dengan pemberontakan Darul Islam di1925 bagian terbesar ekspor Hindia Belanda berasal dari Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Aceh.luar Jawa terutama dari hasil bumi. Kondisi ini diperburuk Ketiga, kebijakan ekonomi yang Jawa-sentris. Seiringoleh resesi ekonomi dunia (depresi) pada tahun 1930, nasionalisasi perusahaan Belanda, untuk mengisi banyak-sehingga gula yang merupakan komoditi andalan Jawa nya pegawai yang berpengalaman mau tidak mau banyakuntuk diekspor mengalami penurunan permintaan. diisi birokrat dari etnis Jawa. Implikasinya, secara tidakImplikasinya, Jawa sebagai pusat pemerintahan dengan terhindarkan melibatkan kepentingan-kepentingan daerahpenduduknya yang padat menjadi konsumen pokok ke dalam kebijaksanaan ekonomi pemerintah pusatbarang-barang impor. Menurut Harvey, keunggulan Jawa khususnya persoalan alokasi devisa yang menyebabkantidak hanya sekadar geografis dan demografis, tetapi juga kepentingan konsumen dan pengusaha bertentangan.terpaut tradisi politik Jawa yang dipengaruhi konsepsi Alokasi devisa yang berlaku dari tahun 1950-1957 cende-Hindu tentang negara dan kekuasaan, yakni bahwa negeri rung mementingkan importir dan konsumen, yangditentukan oleh pusatnya. Negara dip andang sebagai suatu sebagian besar di Jawa, daripada pengusaha dan eksportir,rangkaian konsentris: kekuasaan yang sangat ketat di pusat terutama di Sumatera, di samping sebagian di Sulawesimenjadi semakin lemah di pinggiran. Dalam hal-hal dan Kalimantan. Dalam hal ini pemerintah pusat menyedottertentu, orang Jawa merasa superior dari suku-suku hasil daerah tanpa memberikan kembali suatu sumbanganlainnya di Indonesia. Dengan begitu, sebagian warisan yang pantas bagi kebutuhan keuangan daerah. Implikasi-kolonial Indonesia adalah ketidakseimbangan struktural nya, muncul tuntutan otonomi daerah untuk suatu pem-antara Jawa dan luar Jawa, yang secara politis dominan bagian penghasilan yang lebih adil, dari pendapatan eksportetapi secara ekonomi lemah, dan luar Jawa, yang secara pulau-pulau luar Jawa. Perluasan otonomi bagi daerah jugapolitis terbatas tetapi secara ekonomi kuat. dilihat sebagai suatu jalan keluar bagi dilema yang ditim- Kedua, perbedaan afiliasi politik Jawa dan luar Jawa. bulkan kelemahan pemerintahan pusat, dan kehilangan42 Be ni h-B eni h Ket eg a ng a n Hub un g a n Pu sa t - Da er a h GERAKAN RIAU MERDEKA 43
  23. 23. kepercayaan pada sistem parlementer. dan Gorontalo. Tetapi atas nama Indonesis Timur tantangan Keempat, menegangnya hubungan sipil- militer. terhadap pemerintah pusat yang dikenal dengan PermestaLemahnya pemerintahan sipil yang ditandai jatuh bangun- secara resmi dikeluarkan pada 2 Maret 1957 di Makassar.nya kabinet digunakan oleh militer plus Soekarno untuk Daerah inti Permesta di Sulawesi; di Makassar tempatmenyerang para politisi sipil, yang menimbulkan semangat perencanaan proklamasi itu, dan di Minahasa, di ujunganti demokrasi liberal. Militer merasa ditelantarkan pasca utara dari pulau, tempat rakyat dalam satu tahun mem-revolusi kemerdekaan. Pada saat bersamaan terjadi per- persiapkan diri melawan pemerintah pusat.pecahan di tubuh militer, antara perwira yang setia kepada Pertama, historiografi Sulawesi di mana kopra sebagaiSoekarno vis a vis perwira yang setia kepada Jenderal Abdul penghasil devisa. Secara ekonomi, pada masa itu SulawesiHarris Nasution, KSAD ketika itu. Faktor persaingan di ber-gantung kepada kopra. Memasuki pasca revolusi 1945,lingkungan TNI merupakan faktor yang menentukan Sulawesi dijadikan salah satu dari delapan provinsidalam mempercepat pemberontakan. Perpecahan ini Republik Indonesia dengan Makassar sebagai ibukota danbermula pada peristiwa 17 Oktober 1952, di mana gubernur dijabat Dr. G.S.S.J. (Sam) Ratulangi asalNasution memaksa Soekarno membubarkan par-lemen Minahasa. Pemerintahan tidak efektif karena larangankarena ketika itu politisi sipil dianggap mencampuri sekutu dan penangkapan terhadap gubernur oleh Belanda.kebijakan reorganisasi TNI, sehubungan dengan adanya Tahun 1946 terbentuklah Negara Indonesia Timur (13kebijakan tour of duty Nasution dalam usaha mencegah daerah) yang disponsori Belanda, berpusat di Makassar.pembangunan basis kekuatan lokal oleh para komandan Sementara Sulawesi dibagi menjadi lima daerah masingmiliter di daerah. Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sementara dari konteks lokal, menurut Harvey ketika Minahasa, dan Sangihe-Talaud. Setelah pembubaran NITitu sebenarnya Indonesia Timur (pada tahun 1956 terdiri tahun 1950, Sulawesi menjadi provinsi tunggal dengandari Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara; di samping Sudiro, seorang Jawa, sebagai gubernur hingga diganti olehIrian Barat) secara umum, dan Sulawesi khususnya telah Lanto Daeng Pasewang, seorang Makassar tahun 1954.terjadi ketegangan dan persaingan. Secara historis, Pengangkatan Sudiro oleh pemerintah pusat dengan alasanpersaingan dan ketegangan telah terjadi semasa penjajahan untuk menghindari persaingan kesukuan menjadi lebihBelanda. Distrik yang menonjol adalah Keresidenan buruk di Sulawesi.Manado dan Sangihe-Talaud di utara yang mayoritas Kedua, pemerintahan sipil dan hubungan politikKristen dengan tingkat pendidikan yang terbaik di Hindia dilingkupi disparitas utara-selatan. Secara sosial maupunBelanda pada tahun 1930. Sementara di selatan yang kultural antara Bugis dan Makassar dari selatan dan orangmayoritas Islam, distrik yang menonjol adalah Makassar Minahasa dari utara sangat berbeda adalah merupakan44 Be ni h-B eni h Ket eg a ng a n Hub un g a n Pu sa t - Da er a h GERAKAN RIAU MERDEKA 45
  24. 24. fakta karena keduanya mengalami revolusi dalam dua cara persaingan ini menjadi penting, bukan saja dalam pembe-yang amat berbeda. Banyaknya birokrat asal Minahasa rontakan Darul Islam pimpinan Kahar Muzakar, melainkanyang tetap bekerja dengan Belanda dalam NIT, dan terus juga dalam Permesta dan peristiwa-peristiwa yang men-memegang kedudukan pasca kemerdekaan, juga menjadi jurus ke proklamasinya. Dan karena Peristiwa 17 Oktobersebab kecencian dan dendam di antara orang banyak di 1952 di Jakarta, merupakan suatu pendahuluan bagi krisisselatan. Pada sisi lain, Minahasa merasa perlu memisahkan daerah dalam ketentaraan, reaksi terhadapnya di Makassarsebagai provinsi sendiri ketika orang-orang Bugis/Makassar merupakan pendahuluan bagi Permesta.mulai menuntut kedudukan dalam pemerintahan provinsi. Keempat, persoalan-persoalan daerah merupakanAkhirnya usul ini disetujui Januari 1956. Bagi pimpinan di implikasi krisis politik nasional. Pada pertengahan 1956,selatan, otonomi dilihat tidak saja sebagai pemberian suatu terjadi krisis politik nasional yang meningkat dan pada saatlambang kekuasaan setempat dan berguna dalam bersamaan tuntutan-tuntutan daerah pada Jakarta me-mengimbangi protes para pemimpin pemberontak ter- numpuk, persaingan sipil dan militer di Sulawesi membuathadap dominasi Jawa, melainkan juga dilihat sebagai hal keadaan menjadi lebih buruk. Dalam pandangan masya-yang perlu untuk menghidupkan aktivitas ekonomi dan rakat dua daerah tersebut (utara dan selatan) menafsirkanmenyediakan lapangan kerja, yang bisa menarik kaum tujuan Permesta dalam hubungan kepentingan-kepenting-pemberontak keluar dari hutan. an yang khusus, yakni di selatan mengakhiri pemberon- Ketiga, kerja sama dan persaingan dalam militer ada- takan Kahar Muzakkar, dan di utara menguasai hasillah revolusi yang belum tuntas. Pada masa revolusi, perdagangan kopra. Dalam Piagam Perjuangan Semestahubungan utara dan selatan tertempa dalam Pusat Kese- Alam, salah satu berisi tuntutan bagi hasil antara daerahlamatan Rakyat (PKR) dan Kebaktian Rakyat Indonesia dan pusat yakni 70:30. Secara umum, tuntutan PermestaSulawesi (KRIS) ketika melawan Belanda. Pada akhir dibagi menjadi dua bagian, yakni pada tingkat wilayah danrevolusi, persaingan pun tidak dapat di-hindarkan. Friksi nasional. Pada tingkat wilayah, tuntutannya adalah pem-antarelit militer di daerah adalah buah dari kebijakan berian otonomi kepada provinsi; lebih banyak perhatianpemerintah pusat dalam menempatkan para komandan pada perkembangan wilayah; suatu alokasi yang lebih adildi Sulawesi. Salah satu yang tersingkir dan kemudian dari peng-hasilan devisa; pengesahan atas perdaganganmelakukan pemberontakan pada tahun 1953 adalah Kahar barter; dan sesuai dengan program TT-VII, pembangunanMuzakkar. Pola persaingan kesukuan dalam ketentaraan, Indonesia Timur sebagai suatu daerah pertahanan territorialseperti juga dalam pemerintahan sipil meliputi persaingan dan pemberian suatu mandat –dan bantuan keuangan dandi dalam tiga kelompok besar, yakni antara orang-orang peralatan- untuk penyelesaian keamanan di daerah. SedangBugis/Makassar, Minahasa, dan Jawa. Persaingan- pada tingkat nasional, dituntut penghapusan sentralisme.46 Be ni h-B eni h Ket eg a ng a n Hub un g a n Pu sa t - Da er a h GERAKAN RIAU MERDEKA 47
  25. 25. Studi Harvey tentang pemberontakan daerah semasa integrasi minimal karena masa kolonial masyarakat AcehOrde Lama masih cukup relevan untuk digunakan sebagai hampir-hampir tidak berhubungan dengan organisasialat analisis dalam mengkaji gerakan berbasis kedaerahan nasionalis yang ada di nusantara. Aceh juga memberikansaat ini terutama dari perspektif hubungan pusat-daerah dukungan finansial bagi pemerintah RI sehingga mem-menyangkut kesenjangan struktural Jawa- luar Jawa. perkuat posisi tawar yang tinggi terhadap pemerintahPerbedaannya adalah tentang aktor-aktor yang melakukan nasional. Untuk itu, pemerintah pusat memberi jabatangerakan perlawanan terhadap pusat. Jika pada masa Orde tinggi kepada masyarakat Aceh terutama kepada kaumLama adalah gerakan dimotori oleh orang-orang yang ulama. Implikasinya, kaum bangsawan (ulebalang) yangterkait dengan struktur kekuasaan sementara saat ini aktor- pada masa pendudukan mempunyai peran yang besaraktornya berada di luar struktur kekuasaan. merasa tersingkir. Masalah kemudian muncul ketika Nazaruddin Sjamsuddin (1990)20 mengkritik pen- revolusi berakhir, tatkala konsolidasi kekuasaan oleh paradekatan utama yang digunakan oleh para ilmuwan, yang pemimpin pemerintah pusat. Implikasinya, masalah Acehlebih menitik-beratkan memahami perlawanan daerah terlupakan sehingga menimbulkan dendam di kalangandari perspektif nasional. Dalam menganalisis kasus Darul masyarakat dan memuncak ketika status provinsi merekaIslam, Sjamsuddin memulai dari sejarah politik dan latar dibatalkan serta dilecehkannya nilai-nilai agama yangbelakang pergolakan dengan menjelaskan banyak hal sangat kuat dianut masyarakat Aceh oleh pemimpinseperti faktor-faktor regional dan religius, cita-cita men- nasional.dirikan negara Islam, pertentangan kepentingan internal Kedua, perkembangan politik di Aceh merupakanpemberontak sendiri serta hubungan gerakan ini dengan kelanjutan dari kehidupan politik masa lalu yang didomi-Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan dan Kartosuwiryo di nasi pertikaian kaum ulama dan ulebalang. Ulebalang yangJawa Barat. tersingkir selama revolusi nasional, merasa di atas angin Pertama, adanya saling ketergantungan antara peme- ketika pengaruh ulama dipanggung politik melemah tahunrintah pusat dengan Aceh. Ketika itu, perjuangan Aceh 1950 seiring dengan upaya pengisian jabatan politik formal.paling menonjol ketika daerah lain di nusantara sudah Para ulama mencoba mencari dukungan pemerintah pusatberada dalam cengkeraman Belanda semasa revolusi dengan tuntutan otonomi sehingga dominasi ulama dapatnasional periode 1945-1949. Selain itu, Aceh mengalami dipertahankan. Akan tetapi pemerintah pusat menolak memberikan dukungan dan membiarkan konflik itu terus berlangsung. Mengutip Feith, Sjamsuddin mengajukan20 Lihat Nazaruddin Sjamsuddin, 1990, Pemberontakan Kaum Republik: argumen lain, yakni penyingkiran Masyumi pada tingkat Kasus Darul Islam Aceh, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, terutama h. 1-67. nasional dianggap para ulama sebagai pertanda bahwa48 Be ni h-B eni h Ket eg a ng a n Hub un g a n Pu sa t - Da er a h GERAKAN RIAU MERDEKA 49
  26. 26. pemerintah akan menghadapi para pemimpin setempat kesadaran akan warisan sejarah dan uniknya kebudayaan,dengan cara lebih keras. Karena khawatir hal yang sama, pendirian psikologis yang diperkuat oleh kepentinganmereka mendahuluinya dengan melakukan pem- ekonomi dan politik. Pada awal Agustus, pemerintah pusatberontakan. telah membubarkan Provinsi Aceh dan menggabungkan- Ketiga, perbedaan kepentingan antara Aceh dan peme- nya ke dalam Provinsi Sumatera Utara. Ini merupakanrintah pusat. Kebijakan sentralisasi pemerintah pusat konsekwensi dari kembalinya Indonesia menjadi negaramelalui birokrasi vis a vis perjuangan masyarakat Aceh kesatuan. Hal ini mendapat perlawanan keras dari DPRDmenuntut otonomi. Tuntutan otonomi merupakan ke- dengan alasan sosial ekonomi rakyat Aceh tertinggal dariinginan para pemimpin Aceh agar dapat dilaksanakannya daerah lainnya dalam Provinsi Sumatera Utara. Perbedaanpembangunan sosial maupun ekonomi yang tertunda sejak kepentingan pusat dengan Aceh, mendapat dukungan dari1920. Keinginan ini semakin menguat dan mendapat para pemimpin Sumatera Utara.dukungan dari segenap masyarakat Aceh termasuk ulama Kedua, kebijakan Jakarta dan pertarungan kekuasaanseiring dengan datangnya kemerdekaan. lokal. Pembubaran provinsi berjalin dengan aneka macam Selanjutnya, Sjamsuddin menjelaskan kondisi lokal kepentingan yang terbentuk berdasarkan pembelahanAceh sebagai faktor penyebab munculnya pemberontakan yang ada dalam masyarakat Aceh. Sementara kaum ulamasebagai berikut; pertama, pembubaran provinsi Aceh pada khususnya yang tergabung dalam Persatuan UlamaJanuari 1951. Aceh diberi status provinsi bersamaan dengan Seluruh Aceh (PUSA) menyimpan dendam terhadap pe-Tapanuli/Sumatera Timur Desember 1949 semasa Kabinet merintah pusat, kaum ulebalang, dan pemimpin ulamaHatta dan mengangkat gubernur militer kedua daerah non-PUSA memandang Jakarta sebagai sekutu. Keadaantersebut menjadi gubernur. Penolakan muncul dari peme- ini dipandang perlu oleh pemerintah pusat dalam rangkarintah republik yang baru di Yogyakarta semasa PM Abdul memelihara kekuasaan atas Aceh, yang oleh SjamsuddinHalim dengan alasan inkonstitusional. Kondisi ini diman- dianggap meniru taktik kolonial Belanda di Jawa. Bedanyafaatkan oleh para pemimpin Sumatera Utara dengan alasan kekuasaan kemudian tidak diberikan kepada kaumsejarah di mana Sumatera hanya dibagi tiga bagian, yakni ulebalang tetapi dijalankan oleh pemerintah pusat sendiriutara, tengah, dan selatan. Konflik antara pemerintah pusat dengan mengangkat pejabat dari Jawa atau non-Acehdan Aceh diperkuat oleh konflik intraregional. Dari dimensi dalam kedudukan yang tidak berhubungan langsungpolitik, lepasnya Aceh membawa implikasi pada hilangnya dengan masyarakat setempat. Kebijakan ini berlangsungkursi di DPRD. Sedang dari dimensi ekonomi akan mengu- selama Kabinet Sukiman melalui Mendagri Iskakrangi pendapatan Sumatera Utara. Sementara bagi orang Tjokrodisurjo (PNI) yang mengambil sikap garis keras dariAceh sendiri pemisahan ini lebih karena kuatnya sebelumnya. Kebijakan ini disertai dengan pemberhentian50 Be ni h-B eni h Ket eg a ng a n Hub un g a n Pu sa t - Da er a h GERAKAN RIAU MERDEKA 51
  27. 27. Daud Beureuh sebagai gubernur hingga hanya tersisa satu kuasaan Belanda.orang Aceh yang memegang jawatan teknis ketika itu, Tesis Sjamsuddin tentang pergolakan di Aceh kurangyakni dinas industri. Program rasionalisasi kemiliteran relevan dalam menjelaskan konteks Riau. Ada beberapasemasa Kabinet Hatta dengan membubarkan Divisi X hal yang dapat digarisbawahi dari dimensi ekonomi danbukan hanya memukul elit militer tetapi juga menelan- politik, apa yang dialami Aceh pada masa awal kemerdeka-tarkan para bawahannya. an memiliki persamaan dengan kondisi di Riau, yakni Ketiga, meluasnya dampak sosial ekonomis pem- intervensi pusat dalam mengamankan kepentingan eko-bubaran propinsi melahirkan frustasi dan alienasi di tengah nomi politiknya. Justru di Riau mengalami masa intervensimasyarakat umumnya, baik elit sipil maupun militer, tidak pusat yang amat panjang, akan tetapi kurang mendapatterkecuali melanda rakyat. Kebijakan ini mendorong perlawanan signifikan terutama dari aktor-aktor negara.sentimen kedaerahan di kalangan masyarakat non-elit Sementara itu, Hardi (1993)21 mencoba melihat faktorsehingga menimbulkan simpati kepada para pemimpin lain dalam pemberontakan Darul Islam pimpinan Daudyang disingkirkan oleh Jakarta. Banyaknya pejabat non- Beureuh dari perspektif pelaku utama pemberontak.Aceh dianggap telah mengganggu nilai-nilai Islami yang Pertama, terjadinya perbedaan pendirian antara Daudsangat dipegang teguh oleh masyarakat Aceh sehingga Beureuh dan pemerintah pusat terutama ketika tuntutanmereka cenderung tidak mematuhi para birokrat yang para ulama ditolak. Kedua, persepsi Daud Beureuh ter-dianggap sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat. hadap pemerintah pusat antara lain kurang mem-Akibat lainnya dari pembubaran provinsi Aceh, menye- perhatikan kepentingan rakyat Aceh, menghalangibabkan tidak ada pejabat Aceh yang dilibatkan dalam pelaksanaan ajaran Islam. Selain itu, Daud Beureuhpengambilan keputusan sehingga dirasakan timpangnya menghendaki pelaksanaan piagam Jakarta terutama padapem-bangunan terutama di bidang pendidikan yang di- tujuh kata, “kewajiban menjalankan syariat Islam bagitandai dengan dibatalkannya subsidi bagi sekolah me- pemeluk-pemeluknya”, menginginkan status otonomi luasnengah Islam di seluruh daerah tahun 1951, memburuk- di mana sebelumnya dibubarkan provinsi Aceh yang secaranya kesehatan masyarakat karena keterbatasan fasilitas, otomatis Daud Beureuh diberhentikan sebagai gubernur.gagalnya perbaikan sistem irigasi, infrastruktur yang buruk, Sedangkan faktor lainnya yang mendorongdan dikeluarkannya prosedur perdagangan umum dan meningkatnya keresahan adalah; pertama, pembubaranpenghapusan sistem barter yang mematikan aktivitas divisi dan teritorium Aceh dan menggantikan kesatuan-ekonomi masyarakat Aceh. Menghadapi kenyataan ini,rakyat Aceh menyadari bahwa situasi sesudah kemerde- 21 Lihat Hardi, 1993, Daerah Istimewa Aceh: Latar Belakang Politik dankaan malah lebih buruk daripada pada masa akhir ke- Masa Depannya, Cita Panca Serangkai, Jakarta, h. 109-129.52 Be ni h-B eni h Ket eg a ng a n Hub un g a n Pu sa t - Da er a h GERAKAN RIAU MERDEKA 53
  28. 28. kesatuan militer Aceh oleh kesatuan-kesatuan militer dari Kedua, gagalnya pembangunan ekonomi sebagai aki-daerah lain. Kedua, penangkapan terhadap para pemimpin bat dari kondisi politik pada tingkat nasional yang tidakAceh karena ada laporan bahwa akan terjadi aksi kondusif. Akibatnya dirasakan oleh masyarakat luas ter-menentang pemerintah di Aceh dimanfaatkan oleh perwira utama para prajurit akibat program rasionalisasi. Kondisiinfiltran komunis, Mayor Nasir. Ketiga, adanya ajakan ini dimanfaatkan oleh perwira militer daerah mengambilKartosuwiryo agar Daud Beureuh mendirikan Negara inisiatif dengan melakukan penjualan komoditi perke-Islam. bunan secara ilegal. Fokus kajian Hardi tentang pelaku utama pemberon- Ketiga, ancaman komunisme di Indonesia semakintakan sangat bertolak belakang dengan pelaku utama menguat berawal dari kebijakan ekonomi. Sikap Hattagerakan menuntut Riau Merdeka. Tokoh-tokoh utamanya yang akomodatif terhadap Belanda dan modal asing me-adalah orang-orang yang terlibat perjuangan kemerdekaan nimbulkan kemarahan PKI dengan menuduhnya sebagaiIndonesia dan masa revolusi. Namun karena kekecewaan komprador (orang yang bekerja sama dengan modaldengan kebijakan Pusat, mereka melakukan perlawanan. asing). Strategi PKI sangat ampuh ketika berhasil merang-Sementara konteks Riau, yakni bangkitnya kesadaran kul Soekarno dengan menyokong setiap tindakan politik-masyarakat Riau yang dimotori oleh intelektual kritis dan nya termasuk diterapkannya demokrasi terpimpin. Meski-mahasiswa dengan memanfaatkan kondisi negara yang pun Soekarno bukan anggota PKI, akan tetapi kebijakan-lemah. nya ketika itu yang lebih condong ke negara-negara Ilmuwan lainnya R.Z. Leiressa (1991), 22 mencoba komunis. Perkembangan ini menyebabkan Hatta mengun-menjelaskan kondisional munculnya pergolakan daerah durkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956adalah sebagai akibat; pertama, gagalnya pemerintah dan membuat resah kalangan militer. Fase ini, menurutnasional membangun sistem politik. Ditandai polarisasi Leiressa sangat mempengaruhi daerah-daerah sepertisecara ideologi politik karena beragamnya suku yang secara Sumatera dan Indonesia Timur.nyata tercermin pada Pemilu 1955. Sentralisme dan Keempat, guncangan dalam tubuh angkatan darat.diterapkan sistem spoil sistem berdampak pada banyaknya Friksi antarelit militer berawal dari perbedaan latar bela-jabatan dipegang oleh etnis Jawa. Tuntutan otonomi luas kang keprajuritan. Nasution vis a vis Bambang Supeno yangdari daerah dijawab dengan uniformitas. merembet ke partai politik, masing-masing didukung oleh PSI dan PNI. Penjelasan Leiressa tentang hubungan pusat-daerah22 Uraian lebih lengkap periksa R.Z. Leirissa, 1991, PRRI/Permesta: Strategi Pembangunan Indonesia tanpa Komunis, Pustaka Utama selama Orde Lama dapat digunakan sebagai bahan dalam Grafiti, Jakarta, h. 7-30. menjelaskan kondisi pasca Orde Baru, yakni kegagalan54 Be ni h-B eni h Ket eg a ng a n Hub un g a n Pu sa t - Da er a h GERAKAN RIAU MERDEKA 55
  29. 29. membangun sistem politik nasional terutama keengganan kepala daerah baik pada tingkat provinsi maupun kabu-Pusat menerapkan otonomi daerah. Sementara friksi elit paten di luar Jawa. Menyiasati hal ini, pemerintah pusatyang terjadi pasca Orde Baru tidak memiliki keterkaitan bukannya melakukan upaya persuasif, malah melakukansecara langsung untuk menjelaskan Gerakan Riau upaya represif terhadap daerah. Alasan pusat diperkuatMerdeka. dengan dikeluarkannya pengumuman negara dalam Sementara itu Ichlasul Amal,23 menjelaskan ada empat keadaan darurat pada bulan Maret 1957 yang berarti pe-penyebab terjadinya perlawanan daerah terhadap peme- mimpin militer senior di tiap daerah menjadi lebih ber-rintah pusat selama periode antara 1950-1960. Pertama, kuasa daripada kepala daerah.kesenjangan (baca: dikotomi) ekonomi antara Jawa dan Ketiga, semakin memburuknya hubungan sipil-luar Jawa berbanding lurus dengan dikotomi afiliasi politik militer bersamaan dengan semakin menguatnya polarisasiyang sangat kontras antara dua partai besar, di mana PNI baik secara politik maupun budaya. Militer kesulitanmenguat di Jawa sementara Masyumi menguat di luar dalam memainkan peran politik mereka terhadap politisiJawa. Ini ditandai jatuh bangunnya kabinet sebagai akibat sipil. Hal ini karena antara tahun 1945 pasca revolusi kemer-dari inflasi yang tidak terkendali karena Kabinet Ali dekaan hingga tahun 1950, militer masih belum memilikiSastroamijoyo I mempertahankan sistem nilai tukar tetap satu komando yang harus ditaati. Ketika itu, tiap-tiap unit(the system of fixed exchange rate). Implikasinya adalah me- tempur yang terbentuk selama revolusi lebih patuh kepadanimbulkan kesenjangan antardaerah, 24 baik secara komandan, daerah, dan kelompok etnik mereka masing-ekonomi maupun politik. masing. Dalam kondisi demikian, militer sangat rentan Kedua, kegagalan pemerintah pusat mewujudkan terhadap intervensi politisi sipil dan pada saat bersamaandesentralisasi system pemerintahan lokal dan otonomi telah terjadi penolakan terhadap program reorganisasi daridaerah secara luas. Kondisi ini diikuti menguatnya perasaan pemerintah. Ini ditandai keterlibatan beberapa pemimpinmenentang dominasi Jawa terutama berkaitan dengan militer daerah dalam pemberontakan PRRI/Permesta.penempatan pegawai pamongpraja dari etnis Jawa sebagai Keempat, perseteruan antara kubu Islam dengan kubu nasionalis dalam merumuskan dasar negara, apakah23 Ichlasul Amal, 1992, Regional and Central Government in Indonesian Politics: berdasarkan Islam atau sekuler. Mengerasnya pertentang- West Sumatera and South Sulawesi 1949-1979, Gadjah Mada University Press, an dua kubu ini ditandai dengan pemberontakan Darul Yogyakarta, h. 1-10.24 Dari dimensi politik, kesenjangan di sini sebenarnya lebih tepat Islam di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Aceh.25 disebut kesenjangan antarelit di pusat menyangkut ideologi, sebagai representasi daerah dan termanifestasikan dalam bentuk sentiment etnis yang akibat lebih jauhnya adalah menyeret pada 25 Sebenarnya dari empat alasan yang dikemukakan di atas, alasan konflik pusat dan daerah. pertama dan kedua saat ini juga merupakan penyebab perlawanan56 Be ni h-B eni h Ket eg a ng a n Hub un g a n Pu sa t - Da er a h GERAKAN RIAU MERDEKA 57
  30. 30. Ilmuwan lain Audrey Kahin dan George McTurnan untuk pembelian senjata.27Kahin (2001),26 memperkuat analisis terjadinya pergolakan Dari penjelasan akademik di atas, pergolakan daerahdaerah dengan menghubungkan faktor eksternal – tidak bisa dilepaskan dari konteks politik tingkat nasionalpertentangan blok Timur dan Barat— di mana ketika itu ketika itu dan kondisi lokal yang turut mendorongAmerika Serikat berkepentingan untuk mencegah meluasnya gerakan sebagai akibat revolusi nasional. Darikomunisme berkembang di Indonesia. Menurut mereka, pelakunya, pemberontakan daerah pada tahun 1950-1960kesimpulan ini berdasarkan laporan Duta Besar John nyaris melibatkan elit militer maupun sipil di pusat danAllison kepada Departemen Luar Negeri Amerika Serikat daerah, sementara pemberontakan daerah setelahpada pertengahan Mei 1957, yakni; pertama, konsepsi reformasi dapat dikatakan tidak melibatkan orang-orangpresiden untuk menambahkan “kaki keempat”, yaitu PKI, yang terkait langsung dengan struktur kekuasaan. Selaindalam kabinet. Dibentuknya Dewan Nasional yang itu, perbedaan cara pandang pemerintah pusat dan daerahdilukiskan “agak cenderung ke kiri”. Kedua, hasil pemilu dalam hal otonomi juga menjadi persoalan yang rumit danlokal di Jawa antara Juni dan Agustus 1957, PKI muncul tidak terpecahkan.{}sebagai partai satu-satunya yang berhasil meningkatsuaranya secara signifikan. Dukungan finansial pundiberikan kepada para perwira militer yang memberontak daerah terhadap pusat terutama kesenjangan ekonomi antara Jawa dan luar Jawa serta keengganan pemerintah pusat dalam melaksanakan otonomi daerah dalam arti sesungguhnya. Sementara alasan ketiga, kondisinya berbanding terbalik dengan saat ini di mana militer relatif solid, politisi sipil terpecah dan keempat, untuk dasar negara relatif sudah hampir dapat diterima meskipun dalam beberapa kasus masih dipersoalkan. Pada kasus lain, Makassar Merdeka misalnya, lebih pada persoalan sentimen etnis semata, di mana figur Presiden Habibie ketika itu mendapat tantangan meluas terutama di Jawa. Fenomena ini menyadarkan kita bahwa ternyata representasi elit (baca: sentiment etnis) juga bisa memicu disintegrasi. 27 Studi Kahin dan Kahin ini tidak relevan dalam menjelaskan26 Lihat Audrey Kahin dan George McTurnan Kahin (2001), Subversi pergolakan daerah di Indonesia pasca runtuhnya Orde Baru Sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia, menyangkut pertentangan ideologi dan campur tangan pihak Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, terutama h. 85-87, 151, dan 154. asing.58 Be ni h-B eni h Ket eg a ng a n Hub un g a n Pu sa t - Da er a h GERAKAN RIAU MERDEKA 59
  31. 31. Bab 3 JEJAK RIAU MENAPAK JALAN KEMERDEKAAN ab ini memaparkan sejarah politik kontemporer B Riau sejak dari munculnya kerajaan-kerajaan besar maupun kecil yang tersebar hampir merata dalam wilayah administratif Provinsi Riau.28 Pemaparan ini men- jadi penting ketika sebagian alasan bagi terbentuknya Negara Riau Merdeka yang di-dengungkan selalu berdasar- kan setting sejarah apa yang dikenal dengan kejayaan Melayu Raya sebagai sebuah entitas. Melayu Raya dimak- sud adalah sebuah Kemaharajaan (baca: imperium) Melayu yang membentang dari Semenanjung Melayu (Malaysia sekarang) hingga pesisir Timur Sumatera mulai dari wilayah Kuantan di sebelah barat dan Siantan di 28 Studi ini dibatasi 1998-2001 di mana Provinsi Riau belum mengalami pemekaran.60 Be ni h-B eni h Ket eg a ng a n Hub un g a n Pu sa t - Da er a h GERAKAN RIAU MERDEKA 61

×