Makalah metodologi

1,078 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,078
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
42
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah metodologi

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN1.1 latar belakang masalah Telah kita ketahui islam di zaman modern ini mendapatkan perhatian yang lebih, baik dari umat islam itu sendiri maupun dari masyarakat dunia umumnya. Perkembangan islam sekarang cukup menggembirakan , islam banyak dikaji dan diteliti oleh banyak orang, hal ini muncul mungkin karena bertumpu pada keyakinan bahwa dengan memahami islam secara kualitatif dan kuantitatif, seseorang dapat menghadapi berbagai problema-problema kehidupan yang semakin komplek. Karena kita ketahui juga islam adalah satu-satunya agama yang memberikan jawaban atas berbagai macam problema-problema kehidupan manusia. Salah satu hal yang juga menyebabkan orang-orang mulai berpaling pada islam adalah, mulai rontoknya paham atau ideologi komunis di eropa timur, dan juga karena mulai terlihatnya tanda-tanda kegagalan sistim kehidupan kapitalisme yang dulu sempat di agung-agungkan. Hal-hal di atas semakin menggiring perhatian orang-orang terhadap islam, sebagai satu-satunya alternatif kehidupan yang menawarkan penyelesaiaan bagi problema-problema yang tidak dapat diselesaikan dengan paham atau ideologi-ideologi yang mereka yakini sebelumnya. Islam juga satu-satunya alternatif yang menawarkan kedamaian, keharmonisan, dan kesejahteraan secara total untuk umat manusia. Penyelesaian dari problema diatas dapat diperoleh melalui pengkajian terhadap islam secara benar, yaitu pengkajian secara sistematik dan komperehensif. Pemahaman diatas hanya akan muncul jika kita memilki pemahaman yang tepat terhadap dua pokok sumber kajian islam yaitu al-qur‟an dan hadits. Pada penjelasan inilah kami akan memfokuskan tulisan kami, yaitu pada alqur‟an sebagai studi keislaman. 1
  2. 2. Sekian latar belakang penulisan makalah ini, dengan segala kekurangan yang mungkin akan dijumpai dalam makalah ini, kami masih berharap kiranya makalah ini dapat member sedikit manfaat bagi kita semua.1.2 Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diutarakan sebelumnya, kiranya dapatdiambil beberapa rumusan masalah sebagai berikut : 1.2.1 Apa itu tafsir dan takwil ? 1.2.2 Model model penafsiran al qur‟an ?1.3 Tujuan penulisan Pertama-tama tentunya tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas matakuliah metodologi studi islam, namun selain itu kami menulis makalah ini dikarenakan betapa pentingnya bagi kita untuk mengetahui bagaimana teori-teori untuk mempelajari Al qur‟an, karena alqur‟an sebagai sumber rujukan utama untuk berbagai macam permasalahan dalam kehidupan1.4 Manfaat penulisan Adapun manfaat yang sekiranya akan didapatkan dari karya ilmiah ini adalah sebagai berikut : 1.4.1 Mengetahui teori studi al qur‟an 1.4.2 Mengetahui macam-macam model penafsiran al qur‟an 2
  3. 3. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Teori studi Al qur‟an 2.1.1 Pengertian Tafsir Dan Takwil Pada mulanya tafsir dan takwil dipahami sebagai dua kata yang memilikimakna sinonim, kemudian keduanya dibedakan seiring dengan perkembangan ilmu-ilmu Al-Quran pada kurun waktu awal hijriah. Kedua istilah ini dipahami sebuahkegiatan dalam rangka menggali dan menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Quran.Pada masa Rasulullah, tafsir dan takwil dianggap sama (mutaradif), karena memangmemiliki otoritas penuh dalam menjelaskan isi Al-Quran adalah Rasulullah. 2.1.2 Pengertian Tafsir Tafsir secara etimologi adalah penjelasan terhadap satu kalimat ( eksplanasidan klarifikasi ) yang juga mengandung pengertian penyingkapan, penunjukan danketerangan dari maksud satu ucapan atau kalimat.1 Tafsir secara terminologi, banyak pendapat-pendapat para ulama mengenaidefinisi tafsir antara lain : 1. Menjelaskan kalam allah, dengan kata lain berfungsi sebagai penjelas bagi lafal-lafal al qur‟an dan maksud-maksudnya. 2. Mengungkapkan makna-makna al qur‟an dan menjelaskan maksudnya.2 3. Imam az Zarkasyi berpendapat bahwa tafsir adalah :1 Agama, Kementrian RI.2010.Al-Quran dan Tafsirnya., h. 172 Muhammad bin sulaiman al khafiji, At Taisir Fi Qawa‟id „Ilm Tafsir ( Beirut: Darul-Qalam, 1990),Cet ke 1, h. 124 3
  4. 4. Pengetahuan untuk memeahami kitabullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, dengan menjelaskan makna maknanya, mengeluarkan/menggali hukum-hukum dan hikmah- hikmahnya. 2.1.3 Pengertian takwil Lafadz takwil timbul beriringan dengan lafadz tafsir dalam pembahasantentang al-qur‟an dikalangan para ahli tafsir, mereka menggangap takwil pada intinyasama dengan tafsir dari segi makna masing-masing, kedua kata tersebut menjelaskantentang makna suatu lafadz tertentu dan berusaha mengungkap dibalik maknatersebut. Penulis kitab Al-Qomus mengatakan “Seseorang menakwilkan suatu ucapanartinya ia merenungkannnya, mengira-ngira, dan menafsirkannya”. Apabila kiitamemperhatikan kata takwil dan juga pemakaiannya dalam Al-Qur‟an, maka kita akanmendapatknya memiliki makna lain yang tidak sama dengan makna terminologis darikata „Tafsir‟. Al-qur‟an tidak membedakan antara keduanya kecuali dalam batasan danperincian-perincian tertentu. Agar kita memahami makna kata „Takwil‟ maka kitaharus memahami makan Terminologisnya dallam Al-Qur‟an. Kata takwil dalam Al-qur‟an sebanyak tujuh kali tapi tidak disebutkan dalammakalah ini: 1. Pada surat An-nnisa Firman Allah Swt : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosulnya dan ulil amri diantaa kamu”. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikannlah ia kepada Allah dan Rosul, jika kam benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian dan itu lebih utama (Bagi mu) dan lebih baik akibatnya. 2. Pada Surat Yusuf Firman Allah Swt : “Dan demikianlah tuhan mu, memilih kamu (untuk menjadi nabi) dan diajarkanya kepada mu sebagian dari tabir mimpi-mimpi dan disempurnakannya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Yakub, sebagaimana dia telah menyempurnakan umat-Nya kepada 4
  5. 5. kedua orang bapak mu sebelum itu, yaitu Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhan mu lebih mengetahui lagi maha bijaksana. 3. Pada Surat Al-isra‟ Allah Swt : “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya (Ahsanu ta’wila). 4. Pada surat Al-kahfi Allah Swt : “Hidir berkata “ inilah perpisahan antara aku dengan kamu, aku akan memberitahukan kepada mu tujuan (Takwil) perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. Dengan mempelajari ayat-ayat diatas, maka kita kan mengetahui bahwa kata„Takwil‟ bukan hanya bermakna „Tafsir‟ dan penjelasan tentang makna suatu lafadztetapi makan seperti itu hanya terdapat pada ayat yang pertama saja, hal itu karenatakwil pada ayat yang pertama berkaitan dengan ayat-ayat samar (Muttashabih). Olehkarena itu para ahli tafsir dari ayat ini mengatakan bahwa takwil dari ayatmutasyabihat berarti adalah tafsir dan penjelasan makna ayat tersebut. Ayat itusendiri menunjukan ketidakbolehan menafsirkan ayat-ayat samar. Ada beberapa ayat dalam Al-qur‟an yang untuk memahaminya sangat sulitsekali dan tidak ada yang mampu memahami dengan benar kecuali Allah dan orang-orang yang diberikan kemampuan ilmu dan pemahaman yang tinggi apalagi untukmenentukan dua kemungkinaan, apakah suatu ayat itu berhenti pada lafadz tertentuatau berlanjut ke kalimat setelahnya, bagian al-qur‟an yang mudah untuk dipahamiuntuk orang awam, maka ayat tersebut adalah ayat yang sedah jelas, makna yangsesuai dengan ayat-ayat tersebut adalah bahwa yang dimaksud dengan penakwilansesuatu adalah sesuatu yang dapat ditakwil dan akan berrakhit kepadanya secaraeksternal dan hakiki. Sebagaimana hal itu juga telah dapat kita ketahui dari lafadz itusendiri. Oleh karen itu, lafadz „takwil‟ terkadang dinisbatkan kepada Allah danRosulnnya, kepada kitab suci yang lain, kepada mimpi, dan kepada timbangan danneraca yang seimbang. Maka takwil dari ayat-ayat yang samar bukanlah bermakna penjelasannmengenai maksud ayat tersebut dan bukan juga penafsiran maknanya secaraetimologis. Akan tetapi, makanaya adalah apa yang makna-makna tersebutditakwilkan kepadanya karena setiap makna tersebut masih umum kemudian akalmanusia memberikan batasan dan memberikan gambaran khusus. Maka gambaraninilah yang disebut dengan takwil yang umum tersebut. Atas dasar penjelasan diatas, pengertian kata „Takwil‟ dalam ayat tersebutadalah sama dengan yang kami sebut sebagai „Tafsir semantik‟. Itu karena orang- 5
  6. 6. orang yang didalam hatinya terdapat kejelekan yang berusaha memberikan batasandan gambaran tertentu terhadapa makna-makna dari ayat samar itu. Itu sebagai usahauntuk menghembusakan fitnah karena sebagian ayat mutasyabih berkaitan denganalam ghaib, usaha untuk memberikan batasan makna secara logis dan khusus baikyang konkrit maupun yang bersandarkan atas hawa nafsu sangatlah rentan denganbahaya dan fitnah. Kita dapat menyimpulkan penjelasan diatas sebagai berikut: Pertama,bahwasanya lafadz takwil terdapat dalam Al-qur‟an dengan makna segala sesuatuyang ditakwilkan kepadanya, dan bukan bermakna tafsir. Makna seperti inidigunakan untuk menunjukan makna tafsir semantik dan bukan tafsir etimologis,dengan kata lain makna itu dipergunakan dalam makna yang umum dalam gambaranlogis dan khas. Kedua, bahwasanya kekhususan untuk menakwilkan ayat mutasyabih hanyabagi Allah dan orang-orang yang diberikan pemahaman ilmu yang baik bukanlahberarti bahwa ayat-ayat mutasyabih tidak memiliki makna yang dapat dipahami danjuga tidak berarti bahwa hanya Allah yang mengetahui maksud lafadz ayat tersebutdan penafsiranya. Oleh karena itu selama dapat diikuti atau dipahami maka ayatmutasyyabih tentulah mamilik makna yang dapat dipahami, bagaimana mungkinbagian dari ayat Al-qur‟an tidak dapat dipahami sedangkan Al-quran adalah petunjukpada umat manusia yang memberikan keterangan atas segala sesuatu. Jika membedakan anatar atafsir terminologis dann tafsir semantik maka kitaakan mengetahui bahwa yang khusus bagi Allah adalah menakwilkan ayat-ayatmutasyabih dalam arti penafsiran semantik bukan penafsiran terminologis,demikianlah dari penjelasan diatas bahwa takwil adalah penafsiran maknaterminologis dan pembahasan tentang apa-apa yang ditakwilkan kepadanya daripemahaman-pemahaman yang masih umum. 2.1.4 Persamaaan dan Perbedaan Antara Tafsir dan Takwil Mengenai persamaaan dan perbedaan antara tafsir dan takwil ini, adaperbedaaan pendapat di sebagian kalangan ulama.: Pendapat pertama menyatakan bahwa tafsir dan takwil itu memiliki satu arti,karena keduanya merupanakan sinonim (muradif) sehingga jika yang satu dan yang 6
  7. 7. lainnya digunakan untuk pengertian yang sama. Jika disebut kata tafsir berarti jugatakwil dan jika disebut takwil maka berarti juga tafsir. Pendapat kedua, menyatakan beberapa pandangan dari sebagian ahli tafsir yangmenentang pengindentikan, apalagi penyamaan antara tafsir dan takwil, seperti yangdikemukakan abu ubaidah, mereka berpendapat bahwa tafsir itu tidak sama dengantakwil, namun demikian mereka juga berbeda pendapat dalam mengedepankan sisiperbedaaanya. Ar-raghib misalnya berpendirianbahwa makana tafsir lebih umum daripadatakwil, atau sebaliknya, makna takwil lebih khusus daripada tafsir. Istilah tafsirmenurut ar-raghib lebih banyak digunakan dalam konteks lafal dan makna mufradat,sedang takwil lebih banyak dihubungkan dengan persoalan makna isi dari rangkaianpembicaraan secara keseluruhan (utuh).3 Abu thalib al-tsa‟labi berpendapat bahwa, tafsir itu menerangkan objeklafal(redaksi teks) dari sisi pandang hakiki atau majazi. Sedangkan takwil itubermaksud menerangkan substansi teks (bathin al lafzh). Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa tafsir lebih banyak berhubungandengan hal-hal yang bersifat pendengaran atau periwayatan, sedangkan takwil lebihbanyak dikorelasikan dengan hal-hal yang bersifat penalaran. Seperti pendapatt abunashr al-qusyairi yang menyatakan bahwa tafsir hanya terbatas pada ayat al-qur‟anyang lebih mengandalkan sumber-sumber penglihatan dan pendengaranberbeda dengan takwil yang pemahamannya lebih banyak bergantung pada hal-halyang bersifat ijtihad. Dengan kata lain, tafsir lebih banyak mengacu padariwayah(pendengaran), sedangkan takwil pada dirayah (analisis). 2.1.5 Sejarah Tafsir Al-qur‟an Penafsiran al-qur‟an sudah berlangsung sejak zaman nabi Muhammad Saw danmasih tetap berlangsung hingga sekarang bahkan pada masa yang mendatang,penafsiran al-qur‟an telah menghabiskan waktu yang sangat penjang dan melahirkan3 H. Ahmad Izzan, M.Ag Metodologi Ilmu Tafsir 7
  8. 8. sejarah yang sangat panjang pula, namun disini kami hanya akan menjelaskna secarasingkat saja tentang sejarah tafsir al-qur‟an. Sejarah tafsir qur‟an secara garis besar, terdapat 3 periode, periode pertamaadalah periode tafsir di masa Rasulullah Saw, kedua tafsir di masa sahabat, ketigatafsir di masa tabi‟in. A. Periode tafsir di masa Rasulullah Tugas utama nubuwwah nabi Muhammad adalah menyampaikan muatan al-qur‟an. Berbarengan dengan hal itu pula yang juga didasarkan pada al-qur‟an, nabiMuhammad diberi otoritas untuk menerangkan atau menafsirkan al-qur‟ankarenatidak seluruh ayat yang diturunkan kepada rasulullah dapat dipahami dengan mudaholeh para sahabat. Maka dari itu rasul yang menerangkanya berdasarkan padaketerangan-keterangan yang diperoleh dari Allah yang kemudian dijelaskan kembalidengan bahasa beliau sendiri Atas dasar itu pula para ahli tafsir dan ilmu al‟qur‟an seperti, qari‟, hafizh danpara muffassir pertama dalam sejarah ilmu tafsir al‟qur‟an, menobatkan nabiMuhammad Saw sebagai mufassir pertama. Pembahasan diatas membawa kita pada penjelasan yang tegas yaitu bahwa,pertama, setiap penafsiran al-qur‟an hendaknya lebih dahulu memperhatikanketerangan yang beliau berikan, kemudian baru diterangkann dengan logika danrasio. Kedua, Nabi Saw merupakan pemegang otoritas tunggal sebagai penafsir danpenjelas al qur‟an pada masa kersulan. B. Periode tafsir di masa Sahabat Sepeninggal nabi Muhammad Saw selaku mufassir pertama dan tunggaldizamanya, penafsiran al-qur‟an dilakukan oleh para sahabat. Banyak sahabat yangdibekali rasulullah dengan ilmu al-qur‟an dan ada pula yang memang akrab bergauldengan rasulullah, sehingga banyak dari mereka menjadi mufassir di kalangansahabat, beberapa sahabat yang paling banyak memberikan kontribusinya padapenafsiran tentang ayat-ayat al-qur‟an, ada sepuluh yang paling utama, yaitu : 1. Abu bakar as-Siddiq 2. Umar bin al-Khattab 8
  9. 9. 3. Usman bin Affan 4. Ali bin abi Thalib 5. Abdullah bin Mas‟ud 6. Abdullah bin Abbas 7. Ubay bin Ka‟ab 8. Zaid bin Sabit 9. Abu Musa al-Asyari 10. Abdullah Bin Zubair Dari beberapa orang yang disebutkan diatas empat diantaranya adalahKhulafa‟ur Rasyidin, dan dari keempat orang tersebut ali bin abi thalib lah yangdikenal paling banyak menafsirkan al-qur‟an. Namun bila diantara kesepuluhsahabat diatas, ibnu abba adalah sahabat yang paling banyak dan paling dalampengetahuanya mengenai tafsir al-qur‟an dan pernah disebutkan bahwaAbdullah bin abbas pernah mendapatkan doa khusus dari Rasulullah Saw agardia memahami al-qur‟an dan ternyata hal itu terbukti. Pada masa ini tafsir memiliki empat sumber sebagai rujukan utama, yaitu: 1. Al qur‟an al karim, atau biasa disebut tafsir al qur‟an bil qur‟an. 2. Nabi saw yang dalam implementasinya disebut tafsir al-qur‟an bis sunnah. 3. Tafsir alqur‟an dengan pendapat sahabat. 4. Ahli kitab dari umat yahudi dan nasrani, hal ini karena al-qur‟an sejalan dengan taurat dalam beberapa masalahnya. C. Periode Tafsir di masa tabi‟in Pada masa ini ekspansi yang dilakukan secara agresif dan mobilitas yang sangat tinggi ke berbagai daerah jazirah arab dan luar jan memperluas dan mengembangkan wilayah islam. Hal tersebut turut mempengaruhi kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh umat islam. Seiring dengan semakin meluasnya daerah yang dipengaruhi oleh islam, peradaban dan kebudayaan islam pun mengalami kemajuan, termasuk ilmu tafsir. Para mufassir tidak lagi merasa cukup dengan hanya mengutip atau menghafal seperti yang dilakukan selama ini, tetapi mereka mulai berorientasi pada penafsiran al-qur‟an berdasarkan pendekatan ilmu bahasa 9
  10. 10. dan penalaran ilmiah. Dengan kata lain tidak lagi mengandalkan kekuatan tafsir bil al ma’tsur tetapi juga berupaya mengembangkan tafsir bil al dirayah dengan segala macam implikasinya. Pada masa ini tafsir al-qur‟an mengalami perkembangan sedemikiam rupa dengan penitikberatan pada pembahasan aspek tertentu sesuai dengan tendensi dan kecenderungan mufassir itu sendiri. Pada masa ini tafsir memiliki lima sumber rujukan utama, yaitu : 1. Al qur‟an al karim, atau biasa disebut tafsir al qur‟an bil qur‟an. 2. Nabi saw yang dalam implementasinya disebut tafsir al-qur‟an bis sunnah. 3. Tafsir alqur‟an dengan pendapat sahabat. 4. Ahli kitab dari umat yahudi dan nasrani, hal ini karena al-qur‟an sejalan dengan taurat dalam beberapa masalahnya. 5. Ijtihad para tabi‟in2.2 Model-model penafsiran 2.2.1 Model Quraish Shihab H.M Quraish Shihab (lahir tahun 1944) pakar di bidang Tafsir dan Hadis se-Asia Tenggara,telah banyak melakukan penelitian terhadap berbagai karya ulamaterdahulu di bidang tafsir. Ia telah meneliti tafsir karangan Muhammad Abduh danRasyid Ridha, dengan judul Studi Kritis Tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduhdan Rasyid Ridha yang telah di terbitkan dalam bentuk buku oleh Pustaka Hidayahpada tahun 1994. Model penelitian tafsir yang dikembangkan oleh H.M QuraishShihab lebih banyak bersifat eksploratif, deskriptif, analitis, dan perbandingan. Yaitumodel penelitian yang berupaya menggali sejauh mungkin produk tafsir yangdilakukan ulama-ulama tafsir terdahulu berdasarkan berbagai literatur tafsir baik yangbersifat primer, yakni yang ditulis oleh ulama tafsir yang bersangkutan, maupunulama lainnya. Data-data yang dihasilkan dari berbagai literatur trsebut kemudian dideskripsikan secara lengkap serta dianalisis dengan menggunakan pendekatankategoris dan perbandingan. Hasil penelitian H.M Quraish Shihab terhadap Tafsir al-Manar MuhammadAbduh, misalnya menyatakan bahwa Syaikh Muhammad Abduh (1849-1909) adalahsalah seorang ahli tafsir yang banyak mengandalkan akal, menganut prinsip tidak 10
  11. 11. menafsirkan ayat-ayat yang kandungannya tidak terjangkau oleh pikiran manusia,tidak pula ayat-ayat yang samar atau tidak terperinci dalam al-Qur‟an. Ketikamenafsirkan firman Allah dalam al-Qur‟an surat 101 ayat 6-7 tentang “timbanganamal perbuatan di hari kemudian” , Abduh menulis “Cara Tuhan dalam menimbangamal perbuatan, tiada lain kecuali atas dasar apa yang diketahui olehNya, bukan atasdasar apa yang kita ketahui, maka hendaklah kita menyerahkan permasalahannyahanya kepada Allah SWT. Atas dasar keimanan.4 Bahkan, Abduh terkadang tidakmenguraikan arti satu kosakata yang tidak jelas dan menganjurkan untuk tidak perlumembahasnya, sebagaimana sikap yang ditempuh sahabat Umar bin Khathab ketikamembaca abba dalam surat Abasa (Q.S 80:32) yang berbicara tentang aneka ragamnikmat Tuhan kepada makhluk-makhlukNya.5 Selanjutnya,dengan tidak memfokuskan pada tokoh tertentu, Quraish Shihabtelah meneliti hampir seluruh karya tafsir yang dilakukan para ulama terdahulu. Daripenelitian tersebut telah dihasilkan beberapa kesimpulan yang berkenaan dengantafsir. Antara lain: (1) periodesasi pertumbuhan dan perkembangan tafsir (2) corak-corak penafsiran (3) macam-macam metode penafsiran alqur‟an (4) syarat-syaratdalam menafsirkan alquran, dan (5) hubungan tafsir modernisasi. a. Periodesasi Pertumbuhan dan Perkembangan Tafsir Menurut hasil penelitian Quraish, jika tafsir dilihat dari segi penulisannya (kodifikasi), perkembangan tafsir dapat dibagi ke dalam tiga periode. Periode 1, yaitu masa Rasulullah, sahabat dan permulaan tabi‟in, dimana tafsir belum tertulis dan secara umum periwayatan ketika itu tersebar secara lisan. Periode 2, bermula dengan kodifikasi hadis secara resmi masa pemerintahan Umar bin Abdul Azis (99-101H) dimana tafsir ketika itu ditulis bergabung dengan penulisan hadis, dan di himpun dalam satu bab seperti bab-bab hadis walaupun tentunya penafsiran yang ditulis itu umumnya adalah tafsir bi al-Ma‟tsur. Periode 3, dimulai dengan penyusunan kitab-kitab, tafsir secara khusus dan berdiri sendiri, oleh sementara ahli menduga dimulai oleh Al-Farra (W.207 H) dengan kitabnya berjudul ma‟ani alqur‟an.64 Syekh Muhammad Abduh,Tafsir Juz Amma,(Mesir:Dar al-Hilal,1967),hlm.1895 Ibid hlm.266 H.M.Quraish Shihab,Membumikan Al-Qur’an,op.cit.,hlm.73. 11
  12. 12. Periodesasi tersebut masih bisa ditambahkan lagi dengan peiode keempat, yaitu periode munculnya para peneliti tafsir yang membukukan hasil penelitiannya itu, sehingga dapat membantu masyarakat mengenal karya-karya tafsir yang ditulis oleh para ulama sebelumnya dengan mudah. b. Corak Penafsiran Berdasarkan hasil penelitiannya, Quraish Shihab mengatakan bahwa corak-corak penafsiran yang dikenal selama ini antara lain: Corak Sastra Bahasa, timbul akibat kelemahan-kelemahan orang arab sendiri di bidang sastra Corak Filsafat dan teologi, akibat penerjemahan kitab filsafat yang mempengaruhi sementara pihak serta akibat masuknya penganut agama-agama lain ke dalam islam yang dengan sadar atau tidak, masih mempercayai beberapa hal dari kepercayaan lama mereka. Corak Penafsiran Ilmiah, akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan usaha penafsir untuk memahami ayat-ayat alqur‟an sejalan dengan perkembangan ilmu. Corak Fiqih atau Hukum, akibat perkembangan ilmu fiqih dan terbentuknya madzhab-madzhab fiqih Corak Tasawuf, akibat timbulnya gerakan-gerakan sufi sebagai reaksi terhadap kecenderungan berbagai pihak terhadap materi. Corak Sastra Budaya Kemasyarakatan, yakni suatu corak tafsir yang menjelaskan petunjuk ayat-ayat alqur‟an yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Corak ini bermula pada masa Syaikh Muhammad Abduh sehingga mengurangi perhatian pada corak-corak sebelumnya dan lebih banyak tertuju pada corak ini.7 c. Macam-macam Metode Penafsiran Alquran Metode Ma’tsur (periwayatan), metode ini memiliki banyak keistimewaan, antara lain: (a) Menekankan pentingnya bahasa dalam memahami Alquran. (b) Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan-pesannya. (c) mengikat mufasir dalam bingkai teks ayat-ayat sehingga membatasinya terjerumus dalam subyektifitas berlebihan. Sedangkan kelemahannya antara lain: (a) terjerumusnya mufassir kedalam kebahasaan dan kesusastraan yang7 Ibid,hlm.73. 12
  13. 13. bertele-tele sehingga pesan pokok Alquran menjadi kabur. (b) seringkali konteks turunnya ayat atau sisi kronologis turunnya ayat-ayat hukum yang dipahami dari uraian nasih mansukh hampir dapat dikatakan terabaikan sama sekali, sehingga ayat-ayat tersebut bagaikan turun bukan dalam satu masa atau berada di tengah-tengah masyarakat tanpa budaya.8 Metode penalaran: pendekatan dan corak-coraknya, Metode tahlily atau yang dinamai oleh Baqir Al-Shadr sebagai metode tajzi‟iy adalah satu metode tafsir yang mufassirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat- ayat Al-qur‟an dari berbagai seginya dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat alquran sebagaimana tercantum di dalam mushhaf. Segala segi yang dianggap perlu oleh seorang mufassir tajzi‟iy/tahlily diuraikan. Yaitu bermula dari kosakata, asbab al-nuzul, munasabat, dan lain-lain yang berkaitan dengan teks atau kandungan ayat. Kelebihan metode ini antara lain adanya potensi untuk memperkaya arti kata-kata melalui usaha penafsiran terhadap kosakata arab, syair-syair kuno, dan kaidah-kaidah ilmu nahwu. Kelemahan metode ini, walaupun dinilai luas, namun tidak menyelesaikan pokok bahasan, karena seringkali satu pokok bahasan diuraikan sisinya atau kelanjutannya pada ayat lain.9 Metode ijmali atau yang disebut juga dengan metode global adalah cara menafsirkan ayat-ayat Alquran dengan menunjukkan kandungan makna yang terdapat pada suatu ayat secara global. Metode muqarin adalah metode tafsir alquran yang dilakukan dengan cara membandingkan ayat alqur‟an yang satu dengan lainnya, yaitu ayat-ayat yang mempunyai kemiripan redaksi dalam dua atau lebih kasus yang berbeda. Adapun prosedur penafsiran dengan metode muqarin antara lain: (1) menginventarisasi ayat-ayat yang mempunyai8 Ibid,hlm.84.9 Ibid.,hlm.86. 13
  14. 14. kesamaan dan kemiripan redaksi. (2) meneliti kasus yang berkaitan dengan ayat-ayat tersebut. (3) mengadakan penafsiran. Metode Maudhu‟iy. Salah satu pesan Ali bin Abi Thalib adalah: “Ajaklah Alquran berbicara atau biarkan ia menguraikan maksudnya.” Pesan ini antara lain mengharuskan penafsir merujuk kepada Alqur‟an dalam rangka memahami kandungannya. Dari sini lahirlah metode maudhu‟iy yang mana mufassirnya berupaya menghimpun ayat-ayat alquran dari berbagai surat yang berkaitan dengan persoalan atau topik yang ditetapkan sebelumnya. Kemudian mufassir membahas dan menganalisis kandungan ayat-ayat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.10 Berdasarkan metode penafsiran alqur‟an tersebutbagi Quraish Shihab bukan hanya sekedar teori atau pengetahuan belaka sebagaimana pada umumnya yang dimiliki para pakar, tetapi telah dipraktekkannya dalam kegiatan menafsirkan alquran. Ia misalnya menulis buku “Mahkota Tuntutan Ilahi (terbitan untagma tanpa tahun)” yang isinya adalah tafsir Surat Al-Fathihah. Sementara bukunya yang lain seperti “Membumikan Al-Qur‟an dan Wawasan Al-Qur‟an”, yang diterbitkan Mizan pada tahun 90-an berisi pembahasan tentang berbagai masalah sosial kemasyarakatan dengan menggunakan metode tematik. 2.2.2 Model Ahmad al-Syarbashi Pada tahun 1985 Ahmad Al-Syarbashi melakukan penelitian tentang tafsir dengan menggunakan metode deskriptif, eksploratif dan analisis sebagaimana halnya yang dilakukan oleh Quraish Shihab. Sedangkan sumber yang digunakan adalah bahan-bahan bacaan atau kepustakaan yang ditulis para ulama tafsir, seperti Ibn Jarir Al-Tabari, Al-Zamaksyari, Jalaludin Al-Shuyuti, Al-Raghib Al-Ishfahani. Hasil penelitiannya mencakup tiga bidang.1. Mengenai sejarah penafsiran al-Quran yang dibagi ke dalam tafsir pada masa sahabat 10 Quraish Shihab,op.cit.,hlm.87. 14
  15. 15. 2. Mengenai corak tafsir, yaitu tafsir ilmiah, tafsir sufi dan tafsir politik.3. Mengenai gerakan pembaharuan di bidang tafsir. Menurutnya, tafsir pada zaman Rasulallah Saw, pada awal masa pertumbuhan Islam disusun pendek dan tampak ringkas karena pengusaan bahasa Arab yang murni pada saat itu cukup untuk memahami gaya dan susunan kaliamat Al-Quran. Pada masa-masa sesudah itu penguasaan bahasa Arab mengalami kerusakan akibat percampuran masyarakat Arab dengan bangsa-bangsa lain, yaitu ketika pemeluk Islam berkembang meluas ke berbagai negeri. Untuk memelihara keutuhan bahasanya, orang arab mulai meletakkan kaidah-kaidah bahasa Arab seperti Ilmu Nahwa (gramatika) dan balaghah (retorika). Disamping itu pula, tujuan dimulainya dilakukan penafsiran Al-Quran sebagai pedoman bagi kaum muslimin juga memudahkan memahami banyak hal yang samar dan sulit dalam pemaknaannya. Lebih lanjut, beliau mengatakan pastinya dilakukan melalui sabda Nabi Saw sebagai tolak ukur langkah awal untuk dilakukan penafsiran sebagai hal yang paling dekat relasinya dengan al-Quran. Karena, sebagaimana yang kita ketahui telah banyak pula hadits-hadits yang maudhu barulah setelah itu kita merujuk tafsir dari para sahabat. Dalam poin ke-2 mengenai corak tafsir dalam contoh pertama (tafsir ilmiah), sudah dapat dipastikan bahwa dalam al-Quran tidak terdapat satu teks induk yang bertentangan dengan bermacam kenyataan ilmiah. Ini merupakan satu segi dari kedudukannya sebagai mukjizat. Ahmad Al- Syarbashi mengatakan berdasarkan data yang didapat dari kitab tafsir Ar-Razi yakni banyak bagiannya yang dapat dianggap ilmiah. Sebagaimana pula dalam judul panjang dari kitab tasir Muhammad bin Ahmad Al-Iskandrani yakni Kasyful Asrar Al-Nuraniyah al-Quraniyah fi Ma Yataallaqu bi Al-Arwah As-Samawiyah wa Al-Ardhiyah. Selanjutnya, mengenai tafsir sufi beliau menuturkan ada kaum sufi sibuk menafsirkan huruf-huruf al-Quran dan berusaha menjelaskan relasi dengan huruf lainnya. Ahmad al-Syarbashi membuktikan adanya tafsir sufi lewat kutipannya dari pendapat Al-Thusi yakni segala yang dapat dipahami dan segala sesuatu yang dapat diungkapkan serta diketahui oleh manusia, semuanya itu berasal dari dua huruf yang terdapat pada permulaan Kitabullah, yaitu Bismillah dan Alhamdulillah karena keduanya bermakna Billah (karena Allah) dan lillah (bagi Allah). Jadi segala sesuatu dapat dimengerti karena Allah dan bagi Allah. 15
  16. 16. Menurutnya, dalam penjelasan mengenai tafsir politik berdasarkan pendapatkaum Khawarij yang terlibat dalam politik dan memahami ayat-ayat al-Quran.Sebagaimana dalam surat Al-Hujurat ayat 9 yang artinya : Jika ada dua golonganorang-orang yang beriman berperang, damaikanlah antara keduanya. Dalampemahaman kaum ini (khawarij) Allah menurunkannya berkaitan dengan terjadinyapeperangan antara golongan Ali bin Abi Thalib dan golongan Muawiyah bin AbiSufyan. Selain itu, juga terdapat gerakan pembaharu dalam bidang tafsir, beliaumendasarkan pada beberapa karya ulama yang muncul pada awal abad ke-20. Iamenyebutkan Sayyid Rasyid Ridha –murid Syekh Muhammad Abduh yang telahbanyak menuangkan kuliah-kuliah gurunya dalam majalah Al-Manar lalu beliau buatdalam sebuah kitab tafsir yang disebut sebagai kitab tafsir Al-Manar yaknimengandung pembaharuan dan perkembangan zaman. Dalam kitab tersebut SyekhMuhammad Abduh berusaha untuk menghubungkan ajaran-ajaran Al-Quran dengankehidupan masyarakat disamping membuktikan bahwa islam adalah Universal,umum, abadi. Metode ini dinamakan menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran dantetap berpegang pada hadits-hadits shahih. 2.2.3 Model Syaikh Muhammad Al-Ghazali Syaikh Muhammad Al-Ghazali dikenal sebagai pemikir islam abad modernyang produktif, ia menempuh cara penelitian tafsir yang bercorak eksploratif,deskriptif dan analitik dengan berdasar pada rujukan kitab-kitab tafsir yang ditulisulama terdahulu. Hasil penelitian Al-Ghazali salah satunya berjudul BerdialogDengan Qur’an yang di dalamnya terkandung macam-macam metode memahamiAl-Qur‟an, ayat-ayat kauniyah tentang Al-Qur‟an, bagaiman memahami Al-Qur‟an,peran ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan dalam Al-Qur‟an. Lebih spesifiknya lagitentang macam-macam metode memahami Al-Qur‟an , Al-Ghazali membaginyamenjadi dua yaitu metode klasik dan metode modern . Berbagai macam metode yang disampaikan oleh Al-Ghazali tersebut olehulama lainnya disebut sebagai pendekatan, dan bukan metode. Muhammad Al-Ghazali mengemukakan metode modern timbul sebagai akibat dari adanya kelemahandalam berbagai metode yang telah ia kemukakan di atas. Salah satu contoh datangdari pendekatan atsariyah atau tafsir bil ma‟tsur. Kritik dari metode ini adalah ayat- 16
  17. 17. ayat yang sering dikaitkan dengan hadits dhaif, sehingga apa yang diharapkan darisebuha tafsir Al-Qur‟an dengan pemikiran Qur‟ani tampaknya belum begitu terlihat.Kasus lainnya yang Al-Ghazali temukan ada pada kitab Fi Dzilalil Qur’an karyaSayyid Quthub yang ia nilai hanya mengutip nash-nash saja dari tafsir Ibnu Katsir,sedangkan hadits-haditsnya tidak dikutip selengkap ia mengutip nash-nash yang ada.Padahal Al-Ghazali menginginkan pikiran-pikiran baru yang orisinal yang dapat iatemukan dari karya Sayyid Quthub tersebut. Contoh lainnya yang ia kemukakan daritafsir yang bercorak dialogis, seperti yang pernah dilakukan Al-Razi dalam tafsirnyaAl-Tafsir Al-Kabir. Menurutnya buku ini banyak menyuguhkan tema-tema menariktetapi sebagaian dari tema tersebut sudah keluar dari batasan itu sendiri, yang menjadiacuan penafsir Qur‟an. Berangkat dari kekurangan itulah Al-Ghazali berusaha memberikan jalankeluar dimana kita dapat memberikan jawaban terhadap berbagai masalahkontemporer dan modern, ia pun memberikan saran antara lain: “Kita inginkan saatini adalah karya-karya keislaman yang menambah tajamnya pandangan islam danbertolak dari pandangan islam yang benar dan berdiri di atas argument yang memilikihubungan dengan Al-Qur‟an. Kita hendaknya berpandangan bahwa hasil pikiranadalah relative dan spekulatif, bisa benar juga bisa salah. Keduanya memiliki bobotyang sama dalam sebuah kegiatan pemikiran. Di sisi lain, kita juga tidak menutupmata terhadap adanya manfaat atau fungsi serta sumbangan pemikiran keagamaanlainnya, bila itu semua menggunakan metode yang tepat.”.Metode Penelitian Lainnya Metode-metode lainnya yang perlu mendapatkan perhatian adalah metodeyang berdasarkan aspek-aspek tertentu dari Al-Qur‟an. Di antaranya ada yangmemfokuskan penelitiannya terhadap kemu‟jizatan Al-Qur‟an , metode-metode ,kaidah-kaidah dalam menafsirkan Al-Qur‟an, kunci-kunci untuk memahami Al-Qur‟an serta ada pula yang khusus meneliti mengenai corak dan arah penafsiran Al-Qur‟an yang khusus terjadi pada abad keempat. Amin Abdullah dalam bukunya berjudul Studi Agama juga telah melakukanpenelitian deskriptif secara sederhana terhadap perkembangan tafsir. Menurutnyajika dilihat secara garis besar perjalanan sejarah abad pertengahan, agaknya tidakterlalu meleset jika dikatakan bahwa dominasi tafsir Al-Qur‟an secara leksiografis(lughawi) tampak lebih menonjol. Tafsir karya Shihab Al-Din Al-Khaffaji (1659) 17
  18. 18. memusatkan perhatian pada analisis gramatika dan analisis sintaksis atas ayat-ayatAl-Qur‟an. Juga karya Al-Baydawi (1286), yang hingga sekarang masih digunakan dipesantren-pesantren, yang memusatkan penafsiran Al-Qur‟an secara lugahwi. Karyaleksiografis lainnya ada pada karya „Aisyah Abd Rahman binti Al-Syati‟ dalam Al-Tafsir Al-Bayan Li Al-Qur‟an Al-Karim. Karya tafsir mutakhir ini kaya denganmetode komparatif di dalam memahami dann menafsirkan arti suatu kosa kata Al-Qur‟an. Tanpa harus mengecilkan jasa besar tafsir yang bercorak leksiografis, corakseperti itu dapat membuat kita memandang bahwa Al-Qur‟an kurang utuh karenabelum menampilkan suatu pemahaman yang utuh dari pemahaman Al-Qur‟an yangfundamental. Karya tafsir yang menampilkan I’jaz akan membuat kita terpesonadengan bahasa Al-Qur‟an yang sangat indah itu, tetapi kurang bisa menguak nilai-nilai spiritual dan sosio moral Al-Qur‟an untuk kehidupan sehari-hari manusia. Contoh lain pada penonjolan tafsir Al-Qur‟an lewat Asbabun Nuzul bilaterlepas dari nilai-nilai fundamental universal yang ingin ditonjolkan. Ia mengandungminus keterkaitan dan keterpaduan antara ajaran Al-Qur‟an yang bersifat universaldan transcendental bagi kehidupan manusia di manapun mereka berada. 18
  19. 19. BAB III PENUTUP 3.1 KesimpulanSebagai penutup makalah ini, kami ingin menyatakan bahwa al-qur‟an merupakansumber tunggal bagi umat islam, karena hanya dengan pengkajianya lah kita dapatmenghasilkan pemahaman yang sistematik. Dan kebahagian mereka bergantung padapemahaman maknanya, pengetahuan rahasia-rahasianya dan pengalaman apa yangterkandung di dalamnya. Namun telah kita ketahui juga sebelumnya bahwa tidak semua orang dapatmemahami al-qur‟an dengan mudah. Kemampuan setiap orang dalam memahamilafal-lafal dalam al-qur‟an itu berbeda-beda. Maka dari itulah kita membutuhkanmufassir untuk memberikan penafsiran yang lebih tepat dan tentunya mereka tidaksembarangan dalam menafsirkanya.Oleh karena itu dibutuhkan ilmu yang tepat untuk dapat memahaminya yang selamaini kita kenal dengan ilmu tafsir qur‟an. Tafsir adalah ilmu syari‟at yang agung danpaling tinggi kedudukannya. Ia merupakan ilmu yang paling mulia obyekpembahasannya adalah kallamullah yang merupakan segala hikmah dan “tambang”segala keutamaan. Tujuan utamanya untuk dapat berpegang pada tali yang kokoh danmencapai kebahagian hakiki. Dan kebutuhan terhadapnya sangat mendesak karenasegala kesempurnaan agamawi dan duniawi haruslah sejalan dengan syara‟ sedangkesejalanan ini sangat bergantung pada pengetahuan tentang kitab Allah.11 3.2 Saran Manusia berkembang dikala mereka mengadakan perubahan dan selaluiteropeksi terhadap dirinya. Berangakat dari sebuah kenyataan yang menyelimutilangit dandan bumii kini terbayang dalam setiap jiwa manusia. Kami punmengharapkan kesempurnaan itu. Maka dari itu kami butuh kritikan yangmembangun dan pastinya kami sangat mengapresiasi orang yang mau melakukannya11 Al-Itqan, jilid 2, halaman 173 19
  20. 20. untuk kami karena kami tahu kalau makalah kami tentunya masih sangat jauh darikata baik. Dengan pengenalan singkat tentang teori studi al-qur‟an dan modelpenafsiranya, semoga menjadi gerakan awal dalam merevolusi diri kita masing-masing agar menjadi lebih baik dalam mengkaji ilmu-ilmu keislaman. Agar bisasampai kepada cahaya Ilahi. Siapakah gerangan yang tidak ingin sampai di hadapanyang Maha Kaya dan Maha Sempurna sembari mencicipi kenikmatan dari sangpemberi nikmat, yaitu Allah SWT. 20

×