SlideShare a Scribd company logo
1 of 11
Download to read offline
Revolusi Ketergantungan Internasional



Model ketergantungan Neokolonial

Aliran pemikiran yang pertama, yang kita sebut sebagai model ketegantungan

neokolonian (neokolonian dependence model), secara tidak langsung mengembangkan

pemikiran kaum Marxis. Model ini menghubungkan keberadaan dan kelanggengan

negara-negara terbelakang terhadap evolusi sejarah hubungan internasional yang

sama sekali tidak seimbang antara negara-negara kaya dengan negara-negara miskin

dalam suatu sistem kapitalis internasional. Terlepas dari sengaja atau tidaknya sikap
dan praktik eksploitatif negara-negara kaya terhadap negara-negara berkembang,

koeksistensi itu digambarkan sebagai hubungan kekuasaan yang sangat tidak

berimbang antara pusat (center, core) yang terdiri dari negara-negara maju, serta

pinggiran (periphery), yakni kelompok yang sedang berkembang. Sampai batas tertentu

pemikiran radikal ini telah mendorong negara-negara miskin untuk mencoba lebih

mandiri dan independen dalam upaya-upaya pembangunannya.



Pendeknya, pandangan Neo-Marxis atau dalam hal ini pandangan terbelakang

neokolonian, mencoba menghubungkan kemiskinan yang terus berlanjut dan semakin
parah disebagian besar negara-negara Dunia ketiga dengan keberadaan dan kebijakan

kelompok negara-negara industri kapitalis dari belahan bumi Utara yang dapat

menyebar luas melalui kelompok-kelompok domestik kecil elit dunia yang berkuasa,

yang mereka sebut kelompok comprador (comprador group), di semua negara

berkembang.



Model Paradigma Palsu

Cabang atau aliran yang kedua dari teori ketergantungan internasional terhadap topik
pembangunan ini relatif tidak begitu radikal. Aliran ini biasa disebut sebagai model
paradigma palsu (false- paradigm model), yang mencoba menghubungkan

keterbelakangan negara-negara Dunia Ketiga dengan kesalahan dan ketidak tepatan

saran yang diberikan oleh para pengamat atau "pakar" internasional.



Faktor-faktor kelembagaan di negara-negara Dunia Ketiga, seperti masih pentingnya

struktur sosiol tradisional (yakni, kesukuan, kasta, kelas, dan sebagaina); sangat tidak

meratanya hak kepemilikan tanah dan kekayaan lainnya. Karena hanya melayani

kepentingan sepihak kelompok-kelompok domestik maupun internasional yang sedang

berkuasa. Disamping itu, para cendikiawan di berbagai universitas terkemuka, para
pemimpin serikat-serikat pekerja, pas ekonom di lembaga pemerintahan dan pejabat

negara-negara berkembang pada umumnya, mendapat didikan dan latihan dari

lembaga-lembaga di negara-negara maju. Akibat ketiadaan atau terbatasnya

pengetahuan yang tepat guna untuk mengatasi masalah-masalah pembangunan, maka

kalangan elit tersebut justru cenderung menjadi pembela keyakinan asing yang

melakukan atau mengabaikan adanya sistem kebijakan elitis serta struktur

kelembagaan yang khas negara-negara berkembang. Sebagai contoh, dalam kuliah-

kuliah ilmu ekonomi di berbagai universitas, yang paling banyak diajarkan adalah

konsep-konsep dan model-model barat yang sepenuhnya asing, atau sekurang-
kurangnya tidak relevan untuk di terapkan di negara-negara berkembang.




Tesis Pembangunan-Dualistik

Unsur pemikiran pokok yang secara implisit terkandung di dalam teori-teori perubahan

struktural dan secara eksplisit telah dinyatakan dalam teori ketergantungan inter-

nasional adalah gagasan akan adanya sebuah dunia bermasyarakat ganda (a world of

dual societies). Dualisme (dualism) adalah konsep yang menunjukkan adanya jurang
pemisah yang kian lama terus melebar antara negara-negara kaya dan miskin, serta di
antara orang-orang kaya dan miskin pada berbagai tingkatan di setiap negara. Pada

dasarnya, konsep dualisme ini terdiri dari empat elemen kunci sebagai berikut:

1. Beberapa kondisi yang berneda, yang terdiri dari elemen "superior" dan "inferior",

hadir secara bersamaan dalam waktu dan tempat yang sama.



2. Koeksistensi ini bukan merupakan fenomena sesaat yang akan mengikis

kesenjangan antara elemen superior dan inferior seiring dengan berlalunya waktu.



3. Kadar superioritas serta inferioritas dari masing-masing elemen tersebut bukan
hanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berkurang, melainkan cenderung

meningkat.



4. Hubungan saling-keterkaitan antara elemen-elemen yang superior dengan elemen-

elemen inferior tersebut terbentuk dan berlangsung sedemikian rupa sehingga

keberadaan elemen-elemen superior sangat sedikit atau sama sekali tidak membawa

manfaat untuk meningkatkan kedudukan elemen-elemen inferior.




Kontrarevolusi Neoklasik: Fundamentalisme Pasar


Tantangan bagi Model Statis: pendekatan Pasar Bebas, Pilihan Publik, dan Pendekatan

Ramah-Pasar



Memasuki dekade 1980-an, pengaruh politik dari pemerintah konservatif di Amerika

Serikat, Kanada, Inggris, dan Jerman Barat menghadirkan kembali Kontrarevolusi

Neoklasik (neoclassical counterrevolution) dalam teori dan kebijakan ekonomi. Bagi
negara-negara maju, kontrarevolusi merupakan aliran kebijakan makroekonomi yang
lebih mementingkan sisi penawaran (supply-side macroeconomics), teori ekspektasi

rasional, dan gelombang swastanisasi perusahaan-perusahaan milik negara,

Sedangkan bagi negara-negara berkembang, kontrarevolusi berarti pasar yang lebih

bebas dan ditinggalkannya berbagai bentuk campur tangan pemerintah dalam

perekonomian nasional, yang berupa kepemilikan perusahaan-perusahaan oleh pihak

pemerintah, perencanaan statis atas perekonomian nasional dan regulasi pemerintah

terhadap aneka kegiatan ekonomi. Ini antara lain dikarenakan para pendukung teori

neoklasik memiliki pengaruh besar dalam dua lembaga keuangan internasional yang

paling penting, serta merosotnya pamor berbagai organisasi internasional lainnya yang
seringkali lebih lantang dalam menyuarakan kepentingan negara-negara Dunia Ketiga,

seperti Labor Organization (ILO), United Nations Development Program (UNDP), serta

United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD). Lemahnya peranan

riil dari organisasi-organisasi tersebut turut membuka jalan bagi naiknya kontrarevolusi

neoklasik.



Para tokoh kontra-revolusi neoklasik, seperti Lord Peter Bauer, Deepak Lal, Ian Little,

Harry Johnson, Bela Balassa, Jagdish Bhagwati, dan Anne Krueger, menyatakan

bahwa campur tangan pemerintah yang berlebihan dalam kegiatan ekonomi, tidak
diragukan lagi, merupakan sumber utama terjadinya penurunan laju pertumbuhan di

banyak negara berkembang. Menurut tokoh-tokoh neoliberal tersebut, dengan

membiarkan pasar bebas (free markets) hadir dan beroperasi secara penuh,

melaksanakan swastanisasi perusahaan milik pemerintah, mempromosikan

perdagangan bebas dan pengembangan ekspor, menarik investasi asing (misalnya,

investor dari negara maju), serta menghapuskan regulasi pemerintah yang berlebihan

dan distorsi harga pada pasar input, pasar output maupun pasar keuangan, maka

efisiensi pertumbuhan ekonomi akan terpacu lebih optimal. Selain itu, bertentangan
dengan argumen para teoretasi ketergantungan, para penganjur kontrarevolusi
neoklasik menyatakan bahwa negara-negara Dunia Ketiga berada dalam kondisi

keterbelakangan bukan dikarenakan oleh sifat predator negara-negara Dunia Pertama

maupun badan-badan Internasional yang memang dikuasai oleh negara-negara Dunia

Pertama tersebut, melainkan karena korupsi dan campur tangan pemerintah yang

kelewat batas, inefisiensi di berbagai sektor, serta terbatasnya insentif ekonomi yang

berpengaruh secara meluas di dalam perekonomian negara-negara berkembang itu

sendiri.



Tantangan neoklasik terhadap pembangunan yang ortodoks dapat dipilah menjadi tiga
komponen, yakni: pendekatan pasar-bebas; pendekatan pilihan publik (atau "ekonomi

politik baru"), serta pendekatan "ramah terhadap pasar".



Teori Pertumbuhan Neoklasik Tradisional

Pijakan berikutnya bagi argumen pasar-bebas neoklasik adalah keyakinan bahwasanya

liberalisasi (pembukaan) pasar-pasar nasional akan merangsang investasi, baik itu

investasi domestik maupun luar negeri, sehingga dengan sendirinya akan memacu

tingkat akumulasi modal.

Model pertumbuhan neoklasik Solow (Solow neoclassical growth model) merupakan
pilar yang sangat memberi kontribusi terhadap teori pertumbuhan neoklasik. Pada

intinya, model ini merupakan pengembangan dari formulasi Harrod-Domar dengan

menambahkan faktor kedua, yakni tenaga kerja, serta memperkenalkan variabel

independen ketiga, yakni teknologi kedalam persamaan pertumbuhan (growth

equation). Namun, berbeda dengan Harrod-Domar yang mengasumsikan skala hasil

tetap (constant return to scale) dengan koefisien baku, model pertumbuhan neoklasik

Solow berpegang pada konsep skala hasil yang terus berkurang (diminishing returns)

dari input tenaga kerja dan modal jika keduanya dianalisis secara terpisah; jika
keduanya dianalisis secara bersamaan atau sekaligus, Solow juga memakai asumsi
skala hasil tetap tersebut.



Menurut teori pertumbuhan neoklasik tradisional (traditional neoclassical growth theory),

pertumbuhan output selalu bersumber dari satu atau lebih dari tiga faktor: kenaikan

kuantitas dan kualitas tenaga kerja (melalui pertumbuhan jumlah penduduk dan

perbaikan pendidikan), penambahan modal (melalui tabungan dan investasi), serta

penyempurnaan tekhnologi.

Di lain pihak, perekonomian terbuka (open economy), yakni yang mengadakan

hubungan perdagangan, investasi, dan sebagainya dengan negara atau pihak-pihak
luar, pasti akan mengalami suatu konvergensi peningkatan pendapatan perkapita,

karena arus permodalan akan mengalir deras dari negara-negara kaya ke negara-

negara miskin dimana rasio modal-tenaga kerjanya masih rendah sehingga

pengembalian atas investasi (returns on investments) lebih tinggi. Itulah sebabnya, di

dalam konteks ini pemerintah dikatakan sebagai penghambat pertumbuhan yang

selanjutnya menciptakan kemacetan atau stagnasi ekonomi nasional secara

keseluruhan.




Teori-teori Pembanguna Klasik: Usaha Mempertemukan Berbagai Perbedaan.



Dari model perubahan struktural dua sektor rumusan Lewis, kita bisa mengetahui

betapa pentingnya upaya-upaya untuk menganalisis keterkaitan tertentu yang terdapat

di antara sektor pertanian tradisional dengan sektor industri modern. Pemikiran para

teoretisi ketergantungan internasional juga bermanfaat karena telah berhasil

menonjolkan pentingnya struktur dan fungsi perekonomian dunia, dan keputusan yang

diambil oleh negara maju ternyata sedemikian rupa sehingga selalu memberi pengaruh
terhadap kehidupan jutaan penduduk di negara berkembang.
Studi kasus

Beberapa Aliran Pemikiran dan Penerapannya: Korea Selatan dan Argentina



Pengamatan yang seksama terhadap dua negara ini menghasilkan kesimpulan bahwa

masing-masing dari empat pendekatan utama dalam pembangunan- yaitu tahapan

pertumbuhan, pola struktural pembangunan, ketergantungan, dan neoklasik-

memberikan wawasan yang penting mengenai proses dan kebijakan pembangunan.

Kedua negara tersebut termasuk negara berpendudukan sedang (38 juta di Argentina

dan 48 juta di Korea selatan pada tahun 2002), dan hingga tahun 2007 keduanya di

golongkan sebagai negara berpendapatan menengah. Namun sekarang korea selatan

digolongkan oleh Bank dunia sebagai negara berpendapatan tinggi, dimana

pendapatan perkapitanya dua kali Argentina, yang 30 tahun silam yang terjadi malah

kebalikannya.




Korea Selatan

-tahapan pertumbuhan Korea Selatan menegaskan beberapa pandangan mengenai

tahapan linear, meskipun dengan cara yang terbatas. Dalam beberapa tahun terkhir ini,

beberapa investasi dalam pendapatan nasionalnya adalah yang tertinggi di dunia.

Korea Selatan kini masih dipandang dalam teori Rostow sebagai negara yang

ekonominya tengah "menuju kematangan," tetapi dengan tingkat penguasaan

teknologinya yang seperti sekarang, pada tahun 2000-an nampaknya Korea Selatan

akan memasuki tahap "age of mass consumption" atau era konsumsi massal. Rostow
berpendapat bahwa kematangan (maturity) dapat dicapai kira-kira 60 tahun setelah era
tinggal landas (take off) dimulai, tetapi ia tidak menyangkal pengalaman unik dari setiap

negara, dan bahwa kesenjangan antara teknomogi tradisional dan modern dapat

dengan lebih cepat diatasi pada tahapan pembangunan selanjutnya. Korea Selatan

hampir pasti memenuhi kriteria "kematangan" setelah terintegrasi dengan

perekonomian dunia melalui jenis ekspor dan impor yang baru.



-pola struktural

Kasus korea selatan juga menunjukkan beberapa pola dari model perubahan struktural

pembangunan. Secara khusus, pertumbuhan Korea Selatan selama beberapa generasi
yang silam ditandai dengan peningkatan produktivitas sektor pertanian secara cepat,

pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri, pertumbuhan stok

modal dan pendidikan serta ketrampilan yang stabil, dan transisi demografi dari tingkat

fertilitas yang tinggi menjadi rendah. Pada akhir tahun 1940-an dan 1950-an, Korea

Selatan mencanangkan land reform secara menyeluruh, sehingga sektor pertanian

tidak terabaikan; namun sebaliknya pertumbuhan presentase angkatan kerja di bidang

industri yang cepat dan terus-menerus ini sesuai dengan model pembangunan Lewis.



-Revolusi ketergantungan
Namun Korea Selatan adalah sebuah tantangan yang serius bagi model revolusi

ketergantungan (depence revolution). Karena Korea Selatan adalah sebuah negara

miskin yang tergantung pada perekonomian internasional. Korea dahulu adalah koloni

jepang hingga tahun 1945 dan setelah itu sangan tergantung hubungan baik dengan

Amerika Serikat demi mempertahankan wilayahnya terhadap invasi dari Korea Utara.

Namun Korea Selatan sekarang ini telah dipandang sebagai salah satu kandidat untuk

memperoleh status negara maju (tingkat pendapatannya saat ini sudah sebanding

dengan Yunani dan Portugal). Selain itu, pemerintah Korea juga mengeluarkan
beberapa kebijakan khusus yang disambut gembira oleh para penganut aliran teori
ketergantungan, seperti kebijakan yang sangat aktif mendukung peningkatan sektor

industri. Korea Selatan juga merupakan salah satu negara yang menerapkan program

land reform yang paling ambisius di antara negara-negara berkembang, dan sangat

menekankan pada pendidikan dasar daripada universitas, yaitu dua kebijakan yang

penting.



-Kontrarevolusi Neoklasik

Korea Selatan merupakan sebuah tantangan yang serius bagi model kontrarevolusi

neoklasik. Hingga sekarang, sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa negara
ini sangat mendukung intervensi baik di pasar dalam negeri maupun dalam

perdagangan internasionalnya, dimana pemerintahannya aktif membuat perencanaan

pembangunan yang ekstensif, menggunakan instrumen seperti pengurangan pajak dan

pemberian intensif untuk mendorong perusahaan-perusahaan menerima intervensi dan

arahan dari pemerintah, menetapkan target ekspor peruhasaan individu, mengatur

usaha dari berbagai industi untuk menaikkan tingkat rata-rata penguasaan

teknologinya.




Argentina
Sebaliknya dalam kasus Argentina, teori tahapan dan pola pembangunan hanya

menjelaskan sebagian kecil dari sejarah perekonomian, sementara teori revolusi

ketergantungan dan kontrarevolusi neoklasik sama-sama menawarkan wawasan yang

penting.




Tahapan Pertumbuhan
Sejarah Aegentina menjadi tantangan yang berat bagi pendekatan tahapan linear.
Rostow mendefinisikan tinggal landas sebagai "interval ketika hambatan-hambatan

lama dan resistensi terhadap pertumbuhan yang stabil akhirnya bisa diatasi. . .

Pertumbuhan menjadi hal yang wajar baginya"

Pada tahun 1870, Argentina menduduki peringkat ke-11 di dunia dari segi pendapatan

perkapita (melebihi Jerman); sekarang Argentina bahkan tidak termasuk dalam 50

besar.

Namun sekarang mari kita lihat apa yang terjadi di Argentina semenjak Rostow

mengedepankan negara tersebut sebagai contoh teorinya. Menurut data Bank Dunia,

Argentina mengalami tingkat pertumbuhan yang negatif selama periode 1965-1990, dan
pada tahun 1980-an, investasi menyusut hingga -8,3%, sehingga investasi juga turun

hingga tepat di bawah tingkat yang diasumsikan Rostwo untuk tinggal landas.



Pola Struktural

Argentina memiliki banyak pola-pola struktural pembangunan yang umum seperti

kenaikan produktivitas sektor pertanian, tumbuhnya kesempatan kerja di sektor industri

(meskipun lambat), terjadinya urbanisasi, turunnya tingkat fertilitas, dan sebagainya.



Revolusi ketergantungan
Berlawanan dengan Korea Selatan, Kasus Argentina menawarkan beberapa

pembuktian bagi teori ketergantungan bahwa negara tersebut sangat tergantung pada

ekspor barang-barang primer, Perusahan-perusahan multinasional memainkan peranan

yang besar, dan Argentina tidak mampu menciptakan industri manufaktir berorientasi

ekspor sendiri yang mampu bersaing.



Kontrarevolusi Neoklasik

Namun Argentina juga menawarkan beberapa pembelaan bagi teori kontrarevolusi
neoklasik bahwa intervensi dan pembatasan yang salah oleh pemerintah, perusahaan
yang tidak efisien, biar terhadap produksi untuk ekspor, dan "pita merah" yang tidak

dibutuhkan akan menyengsarakan industri dan kewirausahaan. Kebijakan pemerintah

secara konsisten nampaknya lebih mengakomodasi kepentingan beberapa kelompok

daripada tujuan pembangunan yang lebih luas, dan kegagalan pemerintah biasanya

lebih buruk dampaknya dari pada kegagalan pasar di dalam negeri.

More Related Content

What's hot

Ilmu Ekonomi, Institusi-institusi dan Pembangunan: Sebuah Perspektif Global
Ilmu Ekonomi, Institusi-institusi dan Pembangunan: Sebuah Perspektif GlobalIlmu Ekonomi, Institusi-institusi dan Pembangunan: Sebuah Perspektif Global
Ilmu Ekonomi, Institusi-institusi dan Pembangunan: Sebuah Perspektif GlobalDadang Solihin
 
Strategi pembangunan & pertumbuhan ekonomi
Strategi pembangunan & pertumbuhan ekonomiStrategi pembangunan & pertumbuhan ekonomi
Strategi pembangunan & pertumbuhan ekonomiNamirah Namirah
 
Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut
Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan AbsolutKetimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut
Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan AbsolutDadang Solihin
 
Urbanisasi dan migrasi desa kota
Urbanisasi dan migrasi desa kotaUrbanisasi dan migrasi desa kota
Urbanisasi dan migrasi desa kotaReza Ardyan
 
Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan Ekonomi
Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan EkonomiPertumbuhan Penduduk dan Pembangunan Ekonomi
Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan EkonomiDadang Solihin
 
Revolusi ketergantungan internasional-Ekonomi Pembangunan
Revolusi ketergantungan internasional-Ekonomi PembangunanRevolusi ketergantungan internasional-Ekonomi Pembangunan
Revolusi ketergantungan internasional-Ekonomi PembangunanFalanni Firyal Fawwaz
 
Teori klasik pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
Teori klasik pertumbuhan ekonomi dan pembangunanTeori klasik pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
Teori klasik pertumbuhan ekonomi dan pembangunanRenardi Ariowibowo
 
Keragaman dan Kemiripan Struktur serta Karakteristik Negara-negara Berkembang
Keragaman dan Kemiripan Struktur serta Karakteristik Negara-negara BerkembangKeragaman dan Kemiripan Struktur serta Karakteristik Negara-negara Berkembang
Keragaman dan Kemiripan Struktur serta Karakteristik Negara-negara BerkembangDadang Solihin
 
Peran tabungan dan investasi dalam mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ek...
Peran tabungan dan investasi dalam mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ek...Peran tabungan dan investasi dalam mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ek...
Peran tabungan dan investasi dalam mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ek...Nur Anisa Rachmawati
 
Teori-teori Pembangunan: Sebuah Analisis Komparatif
Teori-teori Pembangunan: Sebuah Analisis KomparatifTeori-teori Pembangunan: Sebuah Analisis Komparatif
Teori-teori Pembangunan: Sebuah Analisis KomparatifDadang Solihin
 
evolusi teori pembangunan dan tujuan pembangunan
evolusi teori pembangunan dan tujuan pembangunanevolusi teori pembangunan dan tujuan pembangunan
evolusi teori pembangunan dan tujuan pembangunanAprilia putri
 
Hubungan teori rostow dengan pelaksanaan pembangunan indonesia masa orde baru
Hubungan teori rostow dengan pelaksanaan pembangunan indonesia masa orde baruHubungan teori rostow dengan pelaksanaan pembangunan indonesia masa orde baru
Hubungan teori rostow dengan pelaksanaan pembangunan indonesia masa orde baruIndri Indrutt
 
syarat-syarat umum untuk perkembangan ekonomi
syarat-syarat umum untuk perkembangan ekonomisyarat-syarat umum untuk perkembangan ekonomi
syarat-syarat umum untuk perkembangan ekonomiyuniar putri
 
Bab II pembangunan ekonomi komparatif
Bab II pembangunan ekonomi komparatifBab II pembangunan ekonomi komparatif
Bab II pembangunan ekonomi komparatifBambang Deswantoro
 
M2. sejarah perekonomian indonesia
M2. sejarah perekonomian indonesiaM2. sejarah perekonomian indonesia
M2. sejarah perekonomian indonesiaerlina na
 
pengaruh kebijakan moneter dan fiskal terhadap permintaan agregat
pengaruh kebijakan moneter dan fiskal terhadap permintaan agregatpengaruh kebijakan moneter dan fiskal terhadap permintaan agregat
pengaruh kebijakan moneter dan fiskal terhadap permintaan agregatHasnah Rhiriesad
 
Perbandingan Pembangunan : Pakistan dan Bangladesh
Perbandingan Pembangunan : Pakistan dan BangladeshPerbandingan Pembangunan : Pakistan dan Bangladesh
Perbandingan Pembangunan : Pakistan dan BangladeshCut Endang Kurniasih
 

What's hot (20)

Ilmu Ekonomi, Institusi-institusi dan Pembangunan: Sebuah Perspektif Global
Ilmu Ekonomi, Institusi-institusi dan Pembangunan: Sebuah Perspektif GlobalIlmu Ekonomi, Institusi-institusi dan Pembangunan: Sebuah Perspektif Global
Ilmu Ekonomi, Institusi-institusi dan Pembangunan: Sebuah Perspektif Global
 
Strategi pembangunan & pertumbuhan ekonomi
Strategi pembangunan & pertumbuhan ekonomiStrategi pembangunan & pertumbuhan ekonomi
Strategi pembangunan & pertumbuhan ekonomi
 
Model mundell flemming dan Rezim Kurs
Model mundell flemming dan Rezim KursModel mundell flemming dan Rezim Kurs
Model mundell flemming dan Rezim Kurs
 
Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut
Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan AbsolutKetimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut
Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut
 
Urbanisasi dan migrasi desa kota
Urbanisasi dan migrasi desa kotaUrbanisasi dan migrasi desa kota
Urbanisasi dan migrasi desa kota
 
Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan Ekonomi
Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan EkonomiPertumbuhan Penduduk dan Pembangunan Ekonomi
Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan Ekonomi
 
Revolusi ketergantungan internasional-Ekonomi Pembangunan
Revolusi ketergantungan internasional-Ekonomi PembangunanRevolusi ketergantungan internasional-Ekonomi Pembangunan
Revolusi ketergantungan internasional-Ekonomi Pembangunan
 
Teori klasik pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
Teori klasik pertumbuhan ekonomi dan pembangunanTeori klasik pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
Teori klasik pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
 
Keragaman dan Kemiripan Struktur serta Karakteristik Negara-negara Berkembang
Keragaman dan Kemiripan Struktur serta Karakteristik Negara-negara BerkembangKeragaman dan Kemiripan Struktur serta Karakteristik Negara-negara Berkembang
Keragaman dan Kemiripan Struktur serta Karakteristik Negara-negara Berkembang
 
Peran tabungan dan investasi dalam mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ek...
Peran tabungan dan investasi dalam mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ek...Peran tabungan dan investasi dalam mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ek...
Peran tabungan dan investasi dalam mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ek...
 
Teori-teori Pembangunan: Sebuah Analisis Komparatif
Teori-teori Pembangunan: Sebuah Analisis KomparatifTeori-teori Pembangunan: Sebuah Analisis Komparatif
Teori-teori Pembangunan: Sebuah Analisis Komparatif
 
evolusi teori pembangunan dan tujuan pembangunan
evolusi teori pembangunan dan tujuan pembangunanevolusi teori pembangunan dan tujuan pembangunan
evolusi teori pembangunan dan tujuan pembangunan
 
Hubungan teori rostow dengan pelaksanaan pembangunan indonesia masa orde baru
Hubungan teori rostow dengan pelaksanaan pembangunan indonesia masa orde baruHubungan teori rostow dengan pelaksanaan pembangunan indonesia masa orde baru
Hubungan teori rostow dengan pelaksanaan pembangunan indonesia masa orde baru
 
syarat-syarat umum untuk perkembangan ekonomi
syarat-syarat umum untuk perkembangan ekonomisyarat-syarat umum untuk perkembangan ekonomi
syarat-syarat umum untuk perkembangan ekonomi
 
Perekonomian Terbuka
Perekonomian TerbukaPerekonomian Terbuka
Perekonomian Terbuka
 
Bab II pembangunan ekonomi komparatif
Bab II pembangunan ekonomi komparatifBab II pembangunan ekonomi komparatif
Bab II pembangunan ekonomi komparatif
 
M2. sejarah perekonomian indonesia
M2. sejarah perekonomian indonesiaM2. sejarah perekonomian indonesia
M2. sejarah perekonomian indonesia
 
pengaruh kebijakan moneter dan fiskal terhadap permintaan agregat
pengaruh kebijakan moneter dan fiskal terhadap permintaan agregatpengaruh kebijakan moneter dan fiskal terhadap permintaan agregat
pengaruh kebijakan moneter dan fiskal terhadap permintaan agregat
 
Resume makro ekonomi bab 1-19 mankiw
Resume makro ekonomi bab 1-19 mankiwResume makro ekonomi bab 1-19 mankiw
Resume makro ekonomi bab 1-19 mankiw
 
Perbandingan Pembangunan : Pakistan dan Bangladesh
Perbandingan Pembangunan : Pakistan dan BangladeshPerbandingan Pembangunan : Pakistan dan Bangladesh
Perbandingan Pembangunan : Pakistan dan Bangladesh
 

Similar to Revolusi Ketergantungan Internasional

Revolusi Ketergantungan Internasional
Revolusi Ketergantungan InternasionalRevolusi Ketergantungan Internasional
Revolusi Ketergantungan InternasionalLeite Bayukaka
 
Teori Pembangunan Dunia Ketiga (Teori Modernisasi, Teori Ketergantungan, dan ...
Teori Pembangunan Dunia Ketiga (Teori Modernisasi, Teori Ketergantungan, dan ...Teori Pembangunan Dunia Ketiga (Teori Modernisasi, Teori Ketergantungan, dan ...
Teori Pembangunan Dunia Ketiga (Teori Modernisasi, Teori Ketergantungan, dan ...Muhammad Bahrudin
 
(BAB III) TEORI PEMBANGUNAN I (MORDENISASI).ppt
(BAB III) TEORI PEMBANGUNAN I (MORDENISASI).ppt(BAB III) TEORI PEMBANGUNAN I (MORDENISASI).ppt
(BAB III) TEORI PEMBANGUNAN I (MORDENISASI).pptizzanhsntts
 
Neoliberalisme dan globalisasi
Neoliberalisme dan globalisasiNeoliberalisme dan globalisasi
Neoliberalisme dan globalisasivirmannsyah
 
Makalah memberikan keadian
Makalah memberikan keadianMakalah memberikan keadian
Makalah memberikan keadianmiftahul Ghofur
 
Bahan Ajar Sistem Eko.Powerpoint.03
Bahan Ajar Sistem Eko.Powerpoint.03Bahan Ajar Sistem Eko.Powerpoint.03
Bahan Ajar Sistem Eko.Powerpoint.03Daryono Soebagiyo
 
TEORI PERKEMBANGAN DUNIA KETIGA_KELOMPOK 4.pptx
TEORI PERKEMBANGAN DUNIA KETIGA_KELOMPOK 4.pptxTEORI PERKEMBANGAN DUNIA KETIGA_KELOMPOK 4.pptx
TEORI PERKEMBANGAN DUNIA KETIGA_KELOMPOK 4.pptxAndhitaRiskoFaristia1
 
Mata kuliah teori dan isu pembangunan modul 123
Mata kuliah teori dan isu pembangunan modul 123Mata kuliah teori dan isu pembangunan modul 123
Mata kuliah teori dan isu pembangunan modul 123dayattaufik21
 
88838080 ideologi-liberalisme
88838080 ideologi-liberalisme88838080 ideologi-liberalisme
88838080 ideologi-liberalismeMuhammad Junaidi
 
Pertemuan xiii, ekonomi politik neoliberal (1)
Pertemuan xiii, ekonomi politik neoliberal (1)Pertemuan xiii, ekonomi politik neoliberal (1)
Pertemuan xiii, ekonomi politik neoliberal (1)Bagus Aji
 
Teori modernisasi
Teori modernisasiTeori modernisasi
Teori modernisasiEvra46
 
Globalisasi dalam perkeonomian negara berkembang
Globalisasi dalam perkeonomian negara berkembangGlobalisasi dalam perkeonomian negara berkembang
Globalisasi dalam perkeonomian negara berkembangUtam Ejaz
 
Kuliah 7 terori pasca ketergantungan
Kuliah 7 terori pasca ketergantunganKuliah 7 terori pasca ketergantungan
Kuliah 7 terori pasca ketergantunganMukhrizal Effendi
 
Pergeseran paradigma dalam pembangunan
Pergeseran paradigma dalam pembangunanPergeseran paradigma dalam pembangunan
Pergeseran paradigma dalam pembangunanWiekewardani
 

Similar to Revolusi Ketergantungan Internasional (20)

Revolusi Ketergantungan Internasional
Revolusi Ketergantungan InternasionalRevolusi Ketergantungan Internasional
Revolusi Ketergantungan Internasional
 
Teori Pembangunan Dunia Ketiga (Teori Modernisasi, Teori Ketergantungan, dan ...
Teori Pembangunan Dunia Ketiga (Teori Modernisasi, Teori Ketergantungan, dan ...Teori Pembangunan Dunia Ketiga (Teori Modernisasi, Teori Ketergantungan, dan ...
Teori Pembangunan Dunia Ketiga (Teori Modernisasi, Teori Ketergantungan, dan ...
 
Nuban pembangunan
Nuban pembangunanNuban pembangunan
Nuban pembangunan
 
(BAB III) TEORI PEMBANGUNAN I (MORDENISASI).ppt
(BAB III) TEORI PEMBANGUNAN I (MORDENISASI).ppt(BAB III) TEORI PEMBANGUNAN I (MORDENISASI).ppt
(BAB III) TEORI PEMBANGUNAN I (MORDENISASI).ppt
 
Neoliberalisme dan globalisasi
Neoliberalisme dan globalisasiNeoliberalisme dan globalisasi
Neoliberalisme dan globalisasi
 
Makalah memberikan keadian
Makalah memberikan keadianMakalah memberikan keadian
Makalah memberikan keadian
 
Bahan Ajar Sistem Eko.Powerpoint.03
Bahan Ajar Sistem Eko.Powerpoint.03Bahan Ajar Sistem Eko.Powerpoint.03
Bahan Ajar Sistem Eko.Powerpoint.03
 
TEORI PERKEMBANGAN DUNIA KETIGA_KELOMPOK 4.pptx
TEORI PERKEMBANGAN DUNIA KETIGA_KELOMPOK 4.pptxTEORI PERKEMBANGAN DUNIA KETIGA_KELOMPOK 4.pptx
TEORI PERKEMBANGAN DUNIA KETIGA_KELOMPOK 4.pptx
 
Mata kuliah teori dan isu pembangunan modul 123
Mata kuliah teori dan isu pembangunan modul 123Mata kuliah teori dan isu pembangunan modul 123
Mata kuliah teori dan isu pembangunan modul 123
 
88838080 ideologi-liberalisme
88838080 ideologi-liberalisme88838080 ideologi-liberalisme
88838080 ideologi-liberalisme
 
Pertemuan xiii, ekonomi politik neoliberal (1)
Pertemuan xiii, ekonomi politik neoliberal (1)Pertemuan xiii, ekonomi politik neoliberal (1)
Pertemuan xiii, ekonomi politik neoliberal (1)
 
72523867 pembangunan-politik
72523867 pembangunan-politik72523867 pembangunan-politik
72523867 pembangunan-politik
 
72523867 pembangunan-politik
72523867 pembangunan-politik72523867 pembangunan-politik
72523867 pembangunan-politik
 
Postmodernisme
PostmodernismePostmodernisme
Postmodernisme
 
Teori pembangunan
Teori pembangunanTeori pembangunan
Teori pembangunan
 
Teori modernisasi
Teori modernisasiTeori modernisasi
Teori modernisasi
 
Globalisasi dalam perkeonomian negara berkembang
Globalisasi dalam perkeonomian negara berkembangGlobalisasi dalam perkeonomian negara berkembang
Globalisasi dalam perkeonomian negara berkembang
 
Memahami Globalisasi dan Neoliberalisasi
Memahami Globalisasi dan NeoliberalisasiMemahami Globalisasi dan Neoliberalisasi
Memahami Globalisasi dan Neoliberalisasi
 
Kuliah 7 terori pasca ketergantungan
Kuliah 7 terori pasca ketergantunganKuliah 7 terori pasca ketergantungan
Kuliah 7 terori pasca ketergantungan
 
Pergeseran paradigma dalam pembangunan
Pergeseran paradigma dalam pembangunanPergeseran paradigma dalam pembangunan
Pergeseran paradigma dalam pembangunan
 

More from Ayu Sefryna sari

Risetoperasi 6-metode-transportasi
Risetoperasi 6-metode-transportasiRisetoperasi 6-metode-transportasi
Risetoperasi 6-metode-transportasiAyu Sefryna sari
 
Pertemuan 9 teknik sampling
Pertemuan 9 teknik samplingPertemuan 9 teknik sampling
Pertemuan 9 teknik samplingAyu Sefryna sari
 
Cara yang benar dalam menganalisis masalah
Cara yang benar dalam menganalisis masalahCara yang benar dalam menganalisis masalah
Cara yang benar dalam menganalisis masalahAyu Sefryna sari
 
Optimasi dengan satu variabel bebas
Optimasi dengan satu variabel bebasOptimasi dengan satu variabel bebas
Optimasi dengan satu variabel bebasAyu Sefryna sari
 
UMAT ISLAM DAN KONTRIBUSI UMAT ISLAM INDONESIA
UMAT ISLAM DAN KONTRIBUSI UMAT ISLAM INDONESIAUMAT ISLAM DAN KONTRIBUSI UMAT ISLAM INDONESIA
UMAT ISLAM DAN KONTRIBUSI UMAT ISLAM INDONESIAAyu Sefryna sari
 

More from Ayu Sefryna sari (6)

Risetoperasi 6-metode-transportasi
Risetoperasi 6-metode-transportasiRisetoperasi 6-metode-transportasi
Risetoperasi 6-metode-transportasi
 
Pertemuan 9 teknik sampling
Pertemuan 9 teknik samplingPertemuan 9 teknik sampling
Pertemuan 9 teknik sampling
 
Cara yang benar dalam menganalisis masalah
Cara yang benar dalam menganalisis masalahCara yang benar dalam menganalisis masalah
Cara yang benar dalam menganalisis masalah
 
Optimasi dengan satu variabel bebas
Optimasi dengan satu variabel bebasOptimasi dengan satu variabel bebas
Optimasi dengan satu variabel bebas
 
Fungsi linear
Fungsi linearFungsi linear
Fungsi linear
 
UMAT ISLAM DAN KONTRIBUSI UMAT ISLAM INDONESIA
UMAT ISLAM DAN KONTRIBUSI UMAT ISLAM INDONESIAUMAT ISLAM DAN KONTRIBUSI UMAT ISLAM INDONESIA
UMAT ISLAM DAN KONTRIBUSI UMAT ISLAM INDONESIA
 

Revolusi Ketergantungan Internasional

  • 1. Revolusi Ketergantungan Internasional Model ketergantungan Neokolonial Aliran pemikiran yang pertama, yang kita sebut sebagai model ketegantungan neokolonian (neokolonian dependence model), secara tidak langsung mengembangkan pemikiran kaum Marxis. Model ini menghubungkan keberadaan dan kelanggengan negara-negara terbelakang terhadap evolusi sejarah hubungan internasional yang sama sekali tidak seimbang antara negara-negara kaya dengan negara-negara miskin dalam suatu sistem kapitalis internasional. Terlepas dari sengaja atau tidaknya sikap dan praktik eksploitatif negara-negara kaya terhadap negara-negara berkembang, koeksistensi itu digambarkan sebagai hubungan kekuasaan yang sangat tidak berimbang antara pusat (center, core) yang terdiri dari negara-negara maju, serta pinggiran (periphery), yakni kelompok yang sedang berkembang. Sampai batas tertentu pemikiran radikal ini telah mendorong negara-negara miskin untuk mencoba lebih mandiri dan independen dalam upaya-upaya pembangunannya. Pendeknya, pandangan Neo-Marxis atau dalam hal ini pandangan terbelakang neokolonian, mencoba menghubungkan kemiskinan yang terus berlanjut dan semakin parah disebagian besar negara-negara Dunia ketiga dengan keberadaan dan kebijakan kelompok negara-negara industri kapitalis dari belahan bumi Utara yang dapat menyebar luas melalui kelompok-kelompok domestik kecil elit dunia yang berkuasa, yang mereka sebut kelompok comprador (comprador group), di semua negara berkembang. Model Paradigma Palsu Cabang atau aliran yang kedua dari teori ketergantungan internasional terhadap topik pembangunan ini relatif tidak begitu radikal. Aliran ini biasa disebut sebagai model
  • 2. paradigma palsu (false- paradigm model), yang mencoba menghubungkan keterbelakangan negara-negara Dunia Ketiga dengan kesalahan dan ketidak tepatan saran yang diberikan oleh para pengamat atau "pakar" internasional. Faktor-faktor kelembagaan di negara-negara Dunia Ketiga, seperti masih pentingnya struktur sosiol tradisional (yakni, kesukuan, kasta, kelas, dan sebagaina); sangat tidak meratanya hak kepemilikan tanah dan kekayaan lainnya. Karena hanya melayani kepentingan sepihak kelompok-kelompok domestik maupun internasional yang sedang berkuasa. Disamping itu, para cendikiawan di berbagai universitas terkemuka, para pemimpin serikat-serikat pekerja, pas ekonom di lembaga pemerintahan dan pejabat negara-negara berkembang pada umumnya, mendapat didikan dan latihan dari lembaga-lembaga di negara-negara maju. Akibat ketiadaan atau terbatasnya pengetahuan yang tepat guna untuk mengatasi masalah-masalah pembangunan, maka kalangan elit tersebut justru cenderung menjadi pembela keyakinan asing yang melakukan atau mengabaikan adanya sistem kebijakan elitis serta struktur kelembagaan yang khas negara-negara berkembang. Sebagai contoh, dalam kuliah- kuliah ilmu ekonomi di berbagai universitas, yang paling banyak diajarkan adalah konsep-konsep dan model-model barat yang sepenuhnya asing, atau sekurang- kurangnya tidak relevan untuk di terapkan di negara-negara berkembang. Tesis Pembangunan-Dualistik Unsur pemikiran pokok yang secara implisit terkandung di dalam teori-teori perubahan struktural dan secara eksplisit telah dinyatakan dalam teori ketergantungan inter- nasional adalah gagasan akan adanya sebuah dunia bermasyarakat ganda (a world of dual societies). Dualisme (dualism) adalah konsep yang menunjukkan adanya jurang pemisah yang kian lama terus melebar antara negara-negara kaya dan miskin, serta di
  • 3. antara orang-orang kaya dan miskin pada berbagai tingkatan di setiap negara. Pada dasarnya, konsep dualisme ini terdiri dari empat elemen kunci sebagai berikut: 1. Beberapa kondisi yang berneda, yang terdiri dari elemen "superior" dan "inferior", hadir secara bersamaan dalam waktu dan tempat yang sama. 2. Koeksistensi ini bukan merupakan fenomena sesaat yang akan mengikis kesenjangan antara elemen superior dan inferior seiring dengan berlalunya waktu. 3. Kadar superioritas serta inferioritas dari masing-masing elemen tersebut bukan hanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berkurang, melainkan cenderung meningkat. 4. Hubungan saling-keterkaitan antara elemen-elemen yang superior dengan elemen- elemen inferior tersebut terbentuk dan berlangsung sedemikian rupa sehingga keberadaan elemen-elemen superior sangat sedikit atau sama sekali tidak membawa manfaat untuk meningkatkan kedudukan elemen-elemen inferior. Kontrarevolusi Neoklasik: Fundamentalisme Pasar Tantangan bagi Model Statis: pendekatan Pasar Bebas, Pilihan Publik, dan Pendekatan Ramah-Pasar Memasuki dekade 1980-an, pengaruh politik dari pemerintah konservatif di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Jerman Barat menghadirkan kembali Kontrarevolusi Neoklasik (neoclassical counterrevolution) dalam teori dan kebijakan ekonomi. Bagi negara-negara maju, kontrarevolusi merupakan aliran kebijakan makroekonomi yang
  • 4. lebih mementingkan sisi penawaran (supply-side macroeconomics), teori ekspektasi rasional, dan gelombang swastanisasi perusahaan-perusahaan milik negara, Sedangkan bagi negara-negara berkembang, kontrarevolusi berarti pasar yang lebih bebas dan ditinggalkannya berbagai bentuk campur tangan pemerintah dalam perekonomian nasional, yang berupa kepemilikan perusahaan-perusahaan oleh pihak pemerintah, perencanaan statis atas perekonomian nasional dan regulasi pemerintah terhadap aneka kegiatan ekonomi. Ini antara lain dikarenakan para pendukung teori neoklasik memiliki pengaruh besar dalam dua lembaga keuangan internasional yang paling penting, serta merosotnya pamor berbagai organisasi internasional lainnya yang seringkali lebih lantang dalam menyuarakan kepentingan negara-negara Dunia Ketiga, seperti Labor Organization (ILO), United Nations Development Program (UNDP), serta United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD). Lemahnya peranan riil dari organisasi-organisasi tersebut turut membuka jalan bagi naiknya kontrarevolusi neoklasik. Para tokoh kontra-revolusi neoklasik, seperti Lord Peter Bauer, Deepak Lal, Ian Little, Harry Johnson, Bela Balassa, Jagdish Bhagwati, dan Anne Krueger, menyatakan bahwa campur tangan pemerintah yang berlebihan dalam kegiatan ekonomi, tidak diragukan lagi, merupakan sumber utama terjadinya penurunan laju pertumbuhan di banyak negara berkembang. Menurut tokoh-tokoh neoliberal tersebut, dengan membiarkan pasar bebas (free markets) hadir dan beroperasi secara penuh, melaksanakan swastanisasi perusahaan milik pemerintah, mempromosikan perdagangan bebas dan pengembangan ekspor, menarik investasi asing (misalnya, investor dari negara maju), serta menghapuskan regulasi pemerintah yang berlebihan dan distorsi harga pada pasar input, pasar output maupun pasar keuangan, maka efisiensi pertumbuhan ekonomi akan terpacu lebih optimal. Selain itu, bertentangan dengan argumen para teoretasi ketergantungan, para penganjur kontrarevolusi
  • 5. neoklasik menyatakan bahwa negara-negara Dunia Ketiga berada dalam kondisi keterbelakangan bukan dikarenakan oleh sifat predator negara-negara Dunia Pertama maupun badan-badan Internasional yang memang dikuasai oleh negara-negara Dunia Pertama tersebut, melainkan karena korupsi dan campur tangan pemerintah yang kelewat batas, inefisiensi di berbagai sektor, serta terbatasnya insentif ekonomi yang berpengaruh secara meluas di dalam perekonomian negara-negara berkembang itu sendiri. Tantangan neoklasik terhadap pembangunan yang ortodoks dapat dipilah menjadi tiga komponen, yakni: pendekatan pasar-bebas; pendekatan pilihan publik (atau "ekonomi politik baru"), serta pendekatan "ramah terhadap pasar". Teori Pertumbuhan Neoklasik Tradisional Pijakan berikutnya bagi argumen pasar-bebas neoklasik adalah keyakinan bahwasanya liberalisasi (pembukaan) pasar-pasar nasional akan merangsang investasi, baik itu investasi domestik maupun luar negeri, sehingga dengan sendirinya akan memacu tingkat akumulasi modal. Model pertumbuhan neoklasik Solow (Solow neoclassical growth model) merupakan pilar yang sangat memberi kontribusi terhadap teori pertumbuhan neoklasik. Pada intinya, model ini merupakan pengembangan dari formulasi Harrod-Domar dengan menambahkan faktor kedua, yakni tenaga kerja, serta memperkenalkan variabel independen ketiga, yakni teknologi kedalam persamaan pertumbuhan (growth equation). Namun, berbeda dengan Harrod-Domar yang mengasumsikan skala hasil tetap (constant return to scale) dengan koefisien baku, model pertumbuhan neoklasik Solow berpegang pada konsep skala hasil yang terus berkurang (diminishing returns) dari input tenaga kerja dan modal jika keduanya dianalisis secara terpisah; jika keduanya dianalisis secara bersamaan atau sekaligus, Solow juga memakai asumsi
  • 6. skala hasil tetap tersebut. Menurut teori pertumbuhan neoklasik tradisional (traditional neoclassical growth theory), pertumbuhan output selalu bersumber dari satu atau lebih dari tiga faktor: kenaikan kuantitas dan kualitas tenaga kerja (melalui pertumbuhan jumlah penduduk dan perbaikan pendidikan), penambahan modal (melalui tabungan dan investasi), serta penyempurnaan tekhnologi. Di lain pihak, perekonomian terbuka (open economy), yakni yang mengadakan hubungan perdagangan, investasi, dan sebagainya dengan negara atau pihak-pihak luar, pasti akan mengalami suatu konvergensi peningkatan pendapatan perkapita, karena arus permodalan akan mengalir deras dari negara-negara kaya ke negara- negara miskin dimana rasio modal-tenaga kerjanya masih rendah sehingga pengembalian atas investasi (returns on investments) lebih tinggi. Itulah sebabnya, di dalam konteks ini pemerintah dikatakan sebagai penghambat pertumbuhan yang selanjutnya menciptakan kemacetan atau stagnasi ekonomi nasional secara keseluruhan. Teori-teori Pembanguna Klasik: Usaha Mempertemukan Berbagai Perbedaan. Dari model perubahan struktural dua sektor rumusan Lewis, kita bisa mengetahui betapa pentingnya upaya-upaya untuk menganalisis keterkaitan tertentu yang terdapat di antara sektor pertanian tradisional dengan sektor industri modern. Pemikiran para teoretisi ketergantungan internasional juga bermanfaat karena telah berhasil menonjolkan pentingnya struktur dan fungsi perekonomian dunia, dan keputusan yang diambil oleh negara maju ternyata sedemikian rupa sehingga selalu memberi pengaruh terhadap kehidupan jutaan penduduk di negara berkembang.
  • 7. Studi kasus Beberapa Aliran Pemikiran dan Penerapannya: Korea Selatan dan Argentina Pengamatan yang seksama terhadap dua negara ini menghasilkan kesimpulan bahwa masing-masing dari empat pendekatan utama dalam pembangunan- yaitu tahapan pertumbuhan, pola struktural pembangunan, ketergantungan, dan neoklasik- memberikan wawasan yang penting mengenai proses dan kebijakan pembangunan. Kedua negara tersebut termasuk negara berpendudukan sedang (38 juta di Argentina dan 48 juta di Korea selatan pada tahun 2002), dan hingga tahun 2007 keduanya di golongkan sebagai negara berpendapatan menengah. Namun sekarang korea selatan digolongkan oleh Bank dunia sebagai negara berpendapatan tinggi, dimana pendapatan perkapitanya dua kali Argentina, yang 30 tahun silam yang terjadi malah kebalikannya. Korea Selatan -tahapan pertumbuhan Korea Selatan menegaskan beberapa pandangan mengenai tahapan linear, meskipun dengan cara yang terbatas. Dalam beberapa tahun terkhir ini, beberapa investasi dalam pendapatan nasionalnya adalah yang tertinggi di dunia. Korea Selatan kini masih dipandang dalam teori Rostow sebagai negara yang ekonominya tengah "menuju kematangan," tetapi dengan tingkat penguasaan teknologinya yang seperti sekarang, pada tahun 2000-an nampaknya Korea Selatan akan memasuki tahap "age of mass consumption" atau era konsumsi massal. Rostow berpendapat bahwa kematangan (maturity) dapat dicapai kira-kira 60 tahun setelah era
  • 8. tinggal landas (take off) dimulai, tetapi ia tidak menyangkal pengalaman unik dari setiap negara, dan bahwa kesenjangan antara teknomogi tradisional dan modern dapat dengan lebih cepat diatasi pada tahapan pembangunan selanjutnya. Korea Selatan hampir pasti memenuhi kriteria "kematangan" setelah terintegrasi dengan perekonomian dunia melalui jenis ekspor dan impor yang baru. -pola struktural Kasus korea selatan juga menunjukkan beberapa pola dari model perubahan struktural pembangunan. Secara khusus, pertumbuhan Korea Selatan selama beberapa generasi yang silam ditandai dengan peningkatan produktivitas sektor pertanian secara cepat, pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri, pertumbuhan stok modal dan pendidikan serta ketrampilan yang stabil, dan transisi demografi dari tingkat fertilitas yang tinggi menjadi rendah. Pada akhir tahun 1940-an dan 1950-an, Korea Selatan mencanangkan land reform secara menyeluruh, sehingga sektor pertanian tidak terabaikan; namun sebaliknya pertumbuhan presentase angkatan kerja di bidang industri yang cepat dan terus-menerus ini sesuai dengan model pembangunan Lewis. -Revolusi ketergantungan Namun Korea Selatan adalah sebuah tantangan yang serius bagi model revolusi ketergantungan (depence revolution). Karena Korea Selatan adalah sebuah negara miskin yang tergantung pada perekonomian internasional. Korea dahulu adalah koloni jepang hingga tahun 1945 dan setelah itu sangan tergantung hubungan baik dengan Amerika Serikat demi mempertahankan wilayahnya terhadap invasi dari Korea Utara. Namun Korea Selatan sekarang ini telah dipandang sebagai salah satu kandidat untuk memperoleh status negara maju (tingkat pendapatannya saat ini sudah sebanding dengan Yunani dan Portugal). Selain itu, pemerintah Korea juga mengeluarkan beberapa kebijakan khusus yang disambut gembira oleh para penganut aliran teori
  • 9. ketergantungan, seperti kebijakan yang sangat aktif mendukung peningkatan sektor industri. Korea Selatan juga merupakan salah satu negara yang menerapkan program land reform yang paling ambisius di antara negara-negara berkembang, dan sangat menekankan pada pendidikan dasar daripada universitas, yaitu dua kebijakan yang penting. -Kontrarevolusi Neoklasik Korea Selatan merupakan sebuah tantangan yang serius bagi model kontrarevolusi neoklasik. Hingga sekarang, sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa negara ini sangat mendukung intervensi baik di pasar dalam negeri maupun dalam perdagangan internasionalnya, dimana pemerintahannya aktif membuat perencanaan pembangunan yang ekstensif, menggunakan instrumen seperti pengurangan pajak dan pemberian intensif untuk mendorong perusahaan-perusahaan menerima intervensi dan arahan dari pemerintah, menetapkan target ekspor peruhasaan individu, mengatur usaha dari berbagai industi untuk menaikkan tingkat rata-rata penguasaan teknologinya. Argentina Sebaliknya dalam kasus Argentina, teori tahapan dan pola pembangunan hanya menjelaskan sebagian kecil dari sejarah perekonomian, sementara teori revolusi ketergantungan dan kontrarevolusi neoklasik sama-sama menawarkan wawasan yang penting. Tahapan Pertumbuhan Sejarah Aegentina menjadi tantangan yang berat bagi pendekatan tahapan linear.
  • 10. Rostow mendefinisikan tinggal landas sebagai "interval ketika hambatan-hambatan lama dan resistensi terhadap pertumbuhan yang stabil akhirnya bisa diatasi. . . Pertumbuhan menjadi hal yang wajar baginya" Pada tahun 1870, Argentina menduduki peringkat ke-11 di dunia dari segi pendapatan perkapita (melebihi Jerman); sekarang Argentina bahkan tidak termasuk dalam 50 besar. Namun sekarang mari kita lihat apa yang terjadi di Argentina semenjak Rostow mengedepankan negara tersebut sebagai contoh teorinya. Menurut data Bank Dunia, Argentina mengalami tingkat pertumbuhan yang negatif selama periode 1965-1990, dan pada tahun 1980-an, investasi menyusut hingga -8,3%, sehingga investasi juga turun hingga tepat di bawah tingkat yang diasumsikan Rostwo untuk tinggal landas. Pola Struktural Argentina memiliki banyak pola-pola struktural pembangunan yang umum seperti kenaikan produktivitas sektor pertanian, tumbuhnya kesempatan kerja di sektor industri (meskipun lambat), terjadinya urbanisasi, turunnya tingkat fertilitas, dan sebagainya. Revolusi ketergantungan Berlawanan dengan Korea Selatan, Kasus Argentina menawarkan beberapa pembuktian bagi teori ketergantungan bahwa negara tersebut sangat tergantung pada ekspor barang-barang primer, Perusahan-perusahan multinasional memainkan peranan yang besar, dan Argentina tidak mampu menciptakan industri manufaktir berorientasi ekspor sendiri yang mampu bersaing. Kontrarevolusi Neoklasik Namun Argentina juga menawarkan beberapa pembelaan bagi teori kontrarevolusi neoklasik bahwa intervensi dan pembatasan yang salah oleh pemerintah, perusahaan
  • 11. yang tidak efisien, biar terhadap produksi untuk ekspor, dan "pita merah" yang tidak dibutuhkan akan menyengsarakan industri dan kewirausahaan. Kebijakan pemerintah secara konsisten nampaknya lebih mengakomodasi kepentingan beberapa kelompok daripada tujuan pembangunan yang lebih luas, dan kegagalan pemerintah biasanya lebih buruk dampaknya dari pada kegagalan pasar di dalam negeri.