Fidel undp dishubkomintel1

1,113 views

Published on

Proses alam di pesisir

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Fidel undp dishubkomintel1

  1. 1. TOT GURU KABUPATEN SIKKA PENGEMBANGAN MULOK KELAUTAN HOTEL NARA, MAUMERE, 20-21 OKTOBER 2006 PROSES ALAM DI PESISIR FIDEL A. BUSTAMI EDUKASI DAN KOMUNIKASI MASYARAKAT CRITC – LIPI JAKARTA
  2. 3. ANATOMI BUMI
  3. 6. Bagian kulit Bumi Lempeng terapung Bahan batuan panas, semi plastis (Lempeng) (kerak)
  4. 7. Arus konveksi menggerakkan lempeng Bumi
  5. 9. TRENCH ASTHENOSPHERE Pyrolite L I T H O S P H E R E OCEANIC CRUST OUTER-ARC RIDGE OUTER-ARC BASIN VOLCANIC ARC BACK-ARC BASIN CRATON CONTINENTAL CRUST P A R T I A L M E L T I N G 0 km --- 100 km --- 200 km ---
  6. 11. Punggung Tengah Samudra, disini material mantel yang amat panas naik ke atas dan selalu berganti baru [Ath-Thuur :6] Punggung Tengah Samudra, memisahkan benua Amerika dan Afrika. Semula keduanya bersatu
  7. 12. Banda Aceh and East part of the islands SINKS
  8. 13. (Tsunami Research Group Marine Research Center ITB) Tsunami source base on the Altimetry Data ANIMATION of The 2004 Aceh tsunami Vertical displacement of seafloor estimated by Hirata et al. [2005] from satellite altimetry data.
  9. 14. KONDISI GEOLOGIS INDONESIA
  10. 15. Jalur gunung api di Indonesia yang juga merupakan jalur gempa bumi
  11. 16. Gambar : Peta memperlihatkan wilayah-wilayah gempabumi merusak Indonesia
  12. 17. <ul><li>Rawan bencana alam: </li></ul><ul><li>Gempa bumi, </li></ul><ul><li>Letusan gunung api, </li></ul><ul><li>Longsor, </li></ul><ul><li>Banjir, </li></ul><ul><li>Putting beliung </li></ul>geografis Indonesia
  13. 18. JENIS - JENIS BENCANA
  14. 19. KEJADIAN BENCANA MENURUT SIFATNYA <ul><li>Terjadi secara tiba-tiba, tidak ada pertanda awal & tidak ada waktu untuk menghadapinya, misalnya : Gempa Bumi, Longsor </li></ul><ul><li>Terjadi secara perlahan/bertahap, terdapat pertanda awal, menjadi situasi darurat dan terakhir menjadi bencana, misalnya : Banjir, Kekeringan </li></ul>
  15. 20. Gempa Bumi <ul><li>Kerusakan yang ditimbulkan gempabumi sangat tergantung pada beberapa parameter berikut: </li></ul><ul><ul><li>Lama getaran, </li></ul></ul><ul><ul><li>Keadaan tanah/geologi setempat, </li></ul></ul><ul><ul><li>Kedalaman gempa, </li></ul></ul><ul><ul><li>Jarak pusat gempa, </li></ul></ul><ul><ul><li>Besaran gempa, </li></ul></ul><ul><ul><li>Kekuatan, daktilitas, dan kesatuan bangunan. </li></ul></ul>
  16. 21. Gempa Bumi <ul><li>Selain itu korban akibat gempabumi bergantung pada beberapa faktor berikut: </li></ul><ul><ul><li>Kepadatan penduduk, </li></ul></ul><ul><ul><li>Jam pada saat gempabumi terjadi, </li></ul></ul><ul><ul><li>Kesiapan penduduk. </li></ul></ul>
  17. 22. Gempa Bumi <ul><li>Dampak yang ditimbulkan gempabumi pada umumya terdiri dari: </li></ul><ul><ul><li>Goncangan tanah &quot; ground-shaking &quot;, </li></ul></ul><ul><ul><li>Geseran tanah &quot; ground-faulting &quot;, </li></ul></ul><ul><ul><li>Tsunami. </li></ul></ul>
  18. 23. Konstelasi Kegiatan Sebelum; Saat & Setelah
  19. 24. RESPON TANGGAP DARURAT GEMPA TSUNAMI LOKAL
  20. 25. kebakaran hutan <ul><li>Penyebab kebakaran hutan menurut studi ADB pada tahun 1997/1998 disebabkan 99% oleh perbuatan manusia dan 1% oleh faktor alam. </li></ul><ul><li>Sedangkan yang disebabkan oleh perbuatan manusia dapat di kelompokkan sebagai berikut : </li></ul><ul><ul><li>Puntung rokok (35%), </li></ul></ul><ul><ul><li>Kecerobohan (25%), </li></ul></ul><ul><ul><li>Konversi lahan (13%), </li></ul></ul><ul><ul><li>perladangan (10%), </li></ul></ul><ul><ul><li>pertanian (7%), </li></ul></ul><ul><ul><li>kecemburuan sosial (6%), dan </li></ul></ul><ul><ul><li>kegiatan transmigrasi (3%). </li></ul></ul>
  21. 26. Banjir <ul><li>Faktor-faktor penyebab banjir yaitu : </li></ul><ul><li>hujan, </li></ul><ul><li>Curah hujan yang jatuh di suatu wilayah pada suatu waktu tertentu akan berpengaruh kepada terjadinya banjir </li></ul><ul><li>topografi atau geomorfologi dan </li></ul><ul><li>apabila lebar wilayah tangkapan air, gradien sungai, ketinggian tebing, debit run-off, daya dukung alam tidak lagi dapat menahan jumlah air yang mengalir dari dataran tinggi ketempat yang relatif datar atau cekung di daerah hilir </li></ul><ul><li>geologi., </li></ul><ul><li>daya serap tanah yang bersifat permeable, </li></ul>
  22. 27. TINJAUAN BANJIR <ul><li>Geomorfologis </li></ul><ul><li>berada di dataran rendah, bahkan lebih rendah dari permukaan laut </li></ul><ul><li>Anak sungai (Tataguna lahan yang tidak berpihak pada lingkungan. </li></ul><ul><li>Sistem Drainase yang tidak di monitor secara berkala </li></ul>
  23. 28. TINJAUAN BANJIR <ul><li>Faktor tingginya curah hujan juga memberi sumbangan terjadinya banjir di kawasan sekitarnya </li></ul><ul><li>diperparah dengan ketidakdisiplinan pemerintah dan masyarakat memelihara lingkungan Mentalitas hidup untuk hidup bersih sudah hilang seiring matinya kepedulian dan kecintaan mereka kepada lingkungan </li></ul>
  24. 29. LONGSOR <ul><li>perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. </li></ul><ul><li>air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng. </li></ul>
  25. 30. GEJALA UMUM TANAH LONGSOR <ul><li>Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing. </li></ul><ul><li>Biasanya terjadi setelah hujan. </li></ul><ul><li>Munculnya mata air baru secara tiba-tiba. </li></ul><ul><li>Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan. </li></ul>PENYEBAB TERJADINYA TANAH LONGSOR Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan.
  26. 32. BENCANA PENDEFINISIAN BENCANA TERAMAT PENTING FATALISME ‘BENCANA SEBAGAI KUTUKAN TUHAN’ KEGAGALAN PENANGANAN BENCANA SIMBOL-SIMBOL AGAMA Bencana adalah proses gangguan serius ( disruption ) terhadap orang dan sistem penghidupan dari sebuah komunitas sosial yang dihasilkan dari kerentanan terhadap satu atau kombinasi beberapa ancaman ( hazards ) yang melibatkan hilangnya kehidupan dan atau harta benda pada skala yang melampaui kapasitas untuk mengatasinya
  27. 33. DIAGRAM BENCANA bencana Tanggap Darurat Rehabilitasi & Rekonstruksi P embangunan,Mitigasi Pembangunan Sarana dan prasarana umum Pembangunan Kapasitas Mengurangi Kerentanan Bantuan Darurat Pemenuhan Kebutuhan dasar Pemulihan Normalisasi Kehidupan Perbaikan Sarana Prasaran umum Kesiapsiagaan
  28. 34. BAHAYA <ul><li>Situasi yang belum terjadi yang bisa merusak atau mengancam kehidupan manusia, kehilangan harta benda, mata pencaharian atau kerusakan lingkungan </li></ul><ul><li>Misal : Bahaya Tanah longsor, Bahaya Banjir, Bahaya Gempa Bumi, Bahaya Gunung Meletus, Bahaya Kebakaran, Bahaya Puting Beliung dll. </li></ul>
  29. 35. KERENTANAN <ul><li>Kondisi yang mengurangi tingkat kemampuan masyarakat untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi ancaman bahaya bencana </li></ul>
  30. 36. KAPASITAS <ul><li>Kemampuan untuk mengurangi tingkat kerentanan serta resiko sehingga mampu mengantisipasi atau mengatasi bahaya/ancaman bencana, kapasitas bersumber dari : </li></ul><ul><li>Tingkat pengetahuan dan ketrampilan masyarakat; </li></ul><ul><li>Tingkat kesejahteraan masyarakat; </li></ul><ul><li>Tradisi dan kearifan sosial-budaya; </li></ul><ul><li>Kependudukan (populasi); </li></ul><ul><li>Organisasi dan sistim pengambilan keputusan; </li></ul><ul><li>Sumber-sumber alam yang tersedia; </li></ul><ul><li>Fasilitas umum dan sosial yang tersedia </li></ul>
  31. 37. ANALISIS RESIKO R = C V H x R = Resiko Bencana H = Hazard (Bahaya/Potensi Bencana) V = Vulnerability (Kerentanan) C = Capacity (Kapasitas)
  32. 38. LEGAL ASPEK <ul><li>UU PRB menyatakan bahwa prioritas pengurangan risiko bencana adalah sesuai dengan prioritas Kerangka Untuk Aksi Hyogo, yaitu: </li></ul><ul><li>Meletakkan PRB sebagai prioritas nasional & daerah dengan kelembagaan pelaksanaan yang kuat </li></ul><ul><li>Mengidentifikasi, mengkaji dan memantau risiko bencana & penguatan kapasitas peringatan dini </li></ul><ul><li>Pendidikan, pengetahuan, mendorong terbentuknya budaya keselamatan dan ketahanan </li></ul><ul><li>Mengurangi faktor-faktor akar risiko bencana </li></ul><ul><li>Menguatkan kesiapan untuk tanggapan yang lebih efektif di semua tataran </li></ul>KESIAPSIAGAAN/PREPAREDNESS
  33. 39. Kesiapsiagaan ( preparedness ) <ul><li>Kesiapsiagaan ( preparedness ) adalah upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana, melalui pengorganisasian langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna. </li></ul>
  34. 40. APA ITU KESIAPSIAGAAN? <ul><li>“ tindakan-tindakan yang memungkinkan pemerintahan, organisasiorganisasi, masyarakat, komunitas dan individu untuk mampu menanggapi suatu situasi bencana secara cepat dan tepat guna” meliputi : </li></ul><ul><ul><li>Penyusunan rencana penanggulangan bencana </li></ul></ul><ul><ul><li>Pemeliharaan sumberdaya </li></ul></ul><ul><ul><li>Pelatihan personil </li></ul></ul><ul><ul><li>Simulasi </li></ul></ul>
  35. 41. DASAR HUKUM UU PENANGANAN BENCANA NOMOR 24 2007
  36. 42. BAB V HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT Bagian Kesatu (Hak Masyarakat) <ul><li>Pasal 26 </li></ul><ul><li>(1) Setiap orang berhak: </li></ul><ul><ul><li>mendapatkan pelindungan sosial dan rasa aman, khususnya bagi kelompok masyarakat rentan bencana; </li></ul></ul><ul><ul><li>mendapatkan pendidikan, pelatihan, dan ketrampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. </li></ul></ul><ul><ul><li>mendapatkan informasi secara tertulis dan/atau lisan tentang kebijakan penanggulangan bencana. </li></ul></ul><ul><ul><li>berperan serta dalam perencanaan, pengoperasian, dan pemeliharaan program penyediaan bantuan pelayanan kesehatan termasuk dukungan psikososial; </li></ul></ul>
  37. 43. BAB V HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT Bagian Kesatu (Hak Masyarakat) <ul><ul><li>berpartisipasi dalam pengambilan keputusan terhadap kegiatan penanggulangan bencana, khususnya yang berkaitan dengan diri dan komunitasnya; dan </li></ul></ul><ul><ul><li>melakukan pengawasan sesuai dengan mekanisme yang diatur atas pelaksanaan penanggulangan bencana. </li></ul></ul><ul><li>(2) Setiap orang yang terkena bencana berhak mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. </li></ul><ul><li>(3) Setiap orang berhak untuk memperoleh ganti kerugian karena terkena bencana yang disebabkan oleh kegagalan konstruksi. </li></ul>
  38. 44. BAB V HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT Bagian Kedua (Kewajiban Masyarakat) <ul><li>Pasal 27 </li></ul><ul><li>Setiap orang berkewajiban: </li></ul><ul><ul><li>menjaga kehidupan sosial masyarakat yang harmonis, memelihara keseimbangan, keserasian, keselarasan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup; </li></ul></ul><ul><ul><li>melakukan kegiatan penanggulangan bencana; dan </li></ul></ul><ul><ul><li>memberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana. </li></ul></ul>
  39. 45. PENYADARAN MASYARAKAT TERHADAP PRB MARI KITA LIHAT HASIL PENELITIAN SOSIAL LIPI 2007
  40. 46. MEMBANGUN KESADARAN MASYARAKAT TERHADAP PRB <ul><li>Tingkatkan pemahaman tentang: </li></ul><ul><ul><li>Potensi bencana; </li></ul></ul><ul><ul><li>Lingkungan (posisi, kondisi rumah) </li></ul></ul><ul><ul><li>Keadaan masyarakat (jumlah; laki/perempuan; balita/manula; pendapatan) </li></ul></ul><ul><li>Kemampuan dan ketrampilan </li></ul><ul><ul><ul><li>Membantu diri sendiri/orang lain </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Peringatan dini keluarga/warga sekitar </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Peta evakuasi keluarga/warga sekitar </li></ul></ul></ul><ul><li>berdoa </li></ul><ul><li>Latihan dan latihan </li></ul>
  41. 47. Apa itu “PENYADARAN MASYARAKAT” <ul><li>Penyadaran Masyarakat dapat didefinisikan sebagai suatu proses untuk meningkatkan kemampuan seorang individu, kelompok, organisasi, masyarakat untuk </li></ul><ul><ul><li>menilai lingkungan mereka, </li></ul></ul><ul><ul><li>mengidentifikasikan masalah, kebutuhan, dan kesempatan/peluang, </li></ul></ul><ul><ul><li>merumuskan strategi untuk memecahkan masalah, memenuhi kebutuhan, dan menangkap peluang yang cocok, </li></ul></ul><ul><ul><li>merancang rencana aksi/tindak, </li></ul></ul><ul><ul><li>mengumpulkan dan memanfaatkan sumberdaya secara efektif dan berkesinambungan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan rencana aksi, dan </li></ul></ul><ul><ul><li>memanfaatkan umpan balik untuk mengambil pelajaran. </li></ul></ul>
  42. 48. PENYADARAN MASYARAKAT” <ul><li>merupakan kebutuhan yang diperlukan terus menerus oleh masyarakat, maka seharusnya tidak dilihat sebagai kegiatan jangka pendek yang akan selesai manakala tindakan pengembangan kemampuan sudah dilakukan dan diselesaikan. Pengembangan kemampuan bukanlah merupakan “proyek” melainkan merupakan “proses”! Yang harus secara terus menerus dilakukan </li></ul>
  43. 49. Membangun Kesadaran masyarakat… Melihat dan mengkaji secara berkala kemajuan, tantangan, hambatan dan peluang ke depan (kerjasama dengan lembaga donor, swadaya masyarakat, dukungan sumber daya Pemda secara integratif maupun teralokasi khusus) Laporan rutin Kajian Monitoring dan Evaluasi 4 <ul><li>Sosialisasi dan pelibatan media massa setempat </li></ul><ul><li>Koordinasi dan penyusunan skenario </li></ul><ul><li>Pelaksanaan </li></ul><ul><li>Evaluasi </li></ul>Latihan/Simulasi Rutin/Tahunan Evaluasi yang didokumentasi baik Simulasi Siaga Bencana (Uji Protap) 3 <ul><li>Lokakarya tokoh adat, agama, tokoh perempuan, remaja </li></ul><ul><li>Pemberian peran bermakna bagi tokoh-tokoh ini dalam aktivitas kesiapsiagaan </li></ul>Integrasi Kearifan dan Pengetahuan Lokal Sehari-hari Pemantapan Peran Tokoh Masyarakat / Tokoh Agama 2 <ul><li>Pelatihan Diseminasi Informasi Efektif </li></ul><ul><li>Penguatan unit komunikasi masyarakat dan tim kreatif tingkat daerah </li></ul>Billboards, signboard, peta evakuasi utk masyarakat, program radio, pameran daerah, dll Diseminasi Informasi yang Efektif 1 Caranya BentukLuaran Aktivitas No.
  44. 50. “ APA YANG DILAKUKAN MASYARAKAT PADA SAAT BENCANA”
  45. 51. PEMBELAJARAN <ul><li>MASYARAKAT PANIK </li></ul><ul><li>Tidak tau apa yang harus dilakukan dan bagaimana menyelamatkan diri </li></ul><ul><li>Kurangnya pengetahuan </li></ul><ul><li>Kurangnya informasi </li></ul><ul><li>Kurangnya keterampilan untuk mengurangi resiko </li></ul>
  46. 52. FAKTA PEMBELAJARAN <ul><li>Pemerintah Daerah – collapsed </li></ul><ul><ul><li>Sebagian aparat menjadi korban </li></ul></ul><ul><ul><li>Aparat lainnya menjadi individu – sibuk – mencari dan menyelamatkan anggota keluarga dan kerabat </li></ul></ul><ul><li>Bantuan dari luar – datang terlambat karena rusaknya infrastruktur </li></ul><ul><li>Masyarakat - rentan – resiko tinggi </li></ul><ul><li>Kebutuhan mendesak untuk kesiapsiagaan </li></ul>
  47. 53. <ul><li>Menyelamatkan diri ! </li></ul><ul><ul><li>Bagaimana caranya ? </li></ul></ul><ul><ul><li>Kemana arahnya ? </li></ul></ul><ul><ul><li>Apa saja yang dibawa ? </li></ul></ul>Skenario terburuk
  48. 54. BAGAIMANA MELAKUKAN <ul><li>Kesiapsiagaan bencana dilakukan sebagai bagian dari mitigation yang otomatis juga merupakan bagian dari PENYADARAN DIRI TERHADAP PRB . </li></ul><ul><ul><li>PENDIDIKAN FORMAL  KURIKULUM (S ekolah dasar, menengah, hingga tinggi ) . </li></ul></ul><ul><ul><li>PENDIDIKAN INFORMAL  pelatihan, pengajian, arisan dan lain-lain </li></ul></ul><ul><ul><li>SOSIALISASI </li></ul></ul><ul><ul><li>KAMPANYE </li></ul></ul>
  49. 55. MATERI <ul><li>B erupa </li></ul><ul><li>peningkatan ketrampilan menghadapi bencana (emergency response skill) </li></ul><ul><li>P erencanaan menghadapi bencana (disaster preparedness planning). </li></ul><ul><li>Bagi masyarakat umum, ragam pendidikan dapat berupa penyuluhan interaktif yang dilakukan secara reguler ataupun melaksanakan latihan pencegahan bencana (disaster drill) secara rutin yang melibatkan unsur masyarakat umum, LSM, pemerintah, lembaga kesehatan-pemadam kebakaran, palang merah, angkatan bersenjata hingga pekerja kantor dan para profesional. </li></ul>
  50. 56. Pendidikan, pengetahuan, mendorong terbentuknya ” Penyadaran masyarakat ”membentuk budaya keselamatan dan ketahanan Upaya Kesiapsiagaan Bencana
  51. 57. Kajian kerentanan Kajian kesiapsiagaan masyarakat Kenapa kita harus menyelamatkan diri? (palaeotsunami studies, liquefactions studies, social economy & geophysics vulnerability studies, community preparedness assessments) Catatan sejarah & Palaeotsunami Broad area assessment Priority area assessment
  52. 58. Kemana kita harus menyelamatkan diri? (earthquake and run-up models, critical facilities studies, emergency responses preparations evacuation signs, routes, maps, national & local SOP’s)
  53. 60. Kesiapsiagaan berbasis Masyarakat dan sekolah, Terintegrasi dengan Kesiapsiagaan Aparat …!! Bagaimana kita menyelamatkan diri? (school and community based disaster preparedness, incorporated with DM agencies and government at all levels)
  54. 61. Keterampilan hidup !! Pengetahuan… … Pemahaman
  55. 62. sekolah Siswa/anak masyarakat Guru Pemerintahan daerah Aparat PB BMG Tsunami Warning System drill Community preparedness simulation Emergency response drill National agencies
  56. 63. Materials and Activities LIPI, 2006 TOT Marine Education & School Based Disaster Preparedness Courtesy calls & networking
  57. 64. PENYADARAN PUBLIK BERBASIS SEKOLAH Sumber: LIPI, 2007
  58. 65. Sumber: LIPI, 2007
  59. 66. Children Science Support di SMPN 1 Kuta Bali, 8 November 2006 Sumber: LIPI, 2006
  60. 67. Pelatihan Motivator Siaga Bencana – Kecamatan Anyer 28 Siswa-siswi SMA /SMK terlatih 16-17 Juli 2007, SMA Negeri 1 Anyer
  61. 68. Persiapan & Briefing para Motivator Siaga Bencana…. Pertama kali terjun ke sekolah untuk memberikan materi Siaga Bencana Dalam Children Science Support selama 6 hari , ke 18 sekolah (SD, SMP & SMA)
  62. 69. Children Science Support (dukungan Ilmu Pengetahuan bagi Siswa) oleh Para Motivator Siaga Bencana Anyer – 16 – 24 Juli 2007
  63. 70. <ul><li>Pengetahuan, pemahaman & keterampilan </li></ul><ul><li>Proses Alam </li></ul><ul><li>Ekosistem Pesisir & Laut </li></ul><ul><li>Siaga Bencana di Sekolah </li></ul><ul><li>Duck, hold & cover </li></ul><ul><li>Trauma Healing </li></ul><ul><li>Simulasi evakuasi </li></ul>
  64. 71. INOVASI
  65. 72. PRODUK
  66. 73. Contoh-contoh Produk
  67. 74. ® LIPI 2007, Rights Reserved
  68. 75. ® LIPI 2007, Rights Reserved
  69. 76. ® LIPI 2007, Rights Reserved
  70. 77. ® LIPI 2007, Rights Reserved
  71. 78. Kesiapsiagaan adalah investasi daerah yang paling ekonomis dan tak ternilai harganya… SEMOGA ALLAH MENJAUHKAN KITA DARI BENCANA
  72. 79. POTENSI BENCANA GEMPA & TSUNAMI DI WILAYAH “INDIAN OCEAN”
  73. 80. <ul><li>Perlu difikirkan di masa depan bahwa potensi sumber gempa lainnya, seperti di Nicobar atau Andaman yang pernah terjadi pada tahun 1881. </li></ul><ul><li>Sumber gempa ini sudah cukup matang untuk terulang. </li></ul><ul><li>Kapan? </li></ul><ul><li>Periode ulang? </li></ul>Brain Atwater, 2009
  74. 81. Potensi sumber gempa: Nicobar Isl? 1847 @34 th Andaman Isl? 1881 @60 th Andaman 1941 @61 th Andaman/Simeulue 2002 36th 28th
  75. 82. Gempa Nicobar 1847
  76. 83. IO Waves 2009 Sumber Gempa: Kepulauan Nicobar Perulangan 1847?
  77. 85. IO-waves Sumber bencana : Memodelkan gempa 1847 di Nicobar Mencoba memahami potensi bencana dengan sumber yang mungkin terjadi di masa depan (KESIAPSIAGAAN)
  78. 87. T E R I M A K A S I H
  79. 88. TAHAPAN RESPON PSIKOLOGI BENCANA One to Three Days One to Three Years Level of impact depend on preparedness activities

×