Para Penanti

9,719 views

Published on

Published in: Education, Technology
1 Comment
5 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
9,719
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
114
Actions
Shares
0
Downloads
373
Comments
1
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Para Penanti

  1. 1. Para Penanti Kumpulan [ miri ] Cerpen p
  2. 2. PARA PENANTI KUMPULAN [MIRIP] CERPEN Diterbitkan oleh: Mentiko Publisher, Juni 2009 Komplek Taman Setia Budi Indah Blok N 47 http://www.mentiko.com email : mentiko.com@gmail.com Penyunting dan editor naskah: Aulia Andri, M.Si. Design cover : Ferry Alhabib Tata letak : Lasak Communication ISBN: 978-602-95059-01 ------------------------------------------------------------------- Buku ini diterbitkan atas partisipasi para mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unimed yang mengikuti mata kuliah Penyuntingan Naskah. Hak cipta masing-masing cerpen dalam buku ini menjadi hak milik pribadi. Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin dari penerbit. -------------------------------------------------------------------
  3. 3. Daftar Isi : Daftar Isi Kata Pengantar Geletar Nasib Dini Hari ~ 7 Sedalam Cinta Ayah ~ 15 Duka Malam Lebaran ~ 28 Episode Kehidupan ~ 32 Para Penanti ~ 37 Dia Bukan Dirinya ~ 44 Antara Saya Dan Lelaki Itu ~ 51 Catatan-Catatan Situ ~ 61 Sara, Kau Dimana? ~ 65 Sampah* ~ 70 Amuk Gelombang ~ 78 Badai Di Pinggir Jalan Bulan Di Tepi Jurang ~ 83 Salahkah Aku Bila Selingkuh? ~ 88 Seonggok Kejujuran ~ 94 Biarkan Itu Putih ~ 102 Sebuah Keputusan ~ 110 Pak Tua Itu Ayahku ~ 116 Ketika Pahit Menjadi Senyuman ~ 120 Barisan Haporik Yang Menjengkelkan ~ 127 Si Kolerik Ambisius ~ 134 Kupu-Kupu Keadilan ~ 141 Senja Di Atas Kebun ~ 146 Nuri Telah Mati ~ 151 Ketika Takdir Harus Berkata ~ 155 Hopeless ~ 159 Rumah Kardus ~ 165 Deritaku Hidupku ~ 171
  4. 4. Ini Aku, Bukan Dia Atau Mereka ~ 191 Deadline Cerpen *Hari Senin Pukul Tiga ~ 195 Biodata Penulis Nama-nama Mahasiswa Yang Berpartisipasi
  5. 5. Kata Pengantar Buku Kumpulan [Mirip] Cerpen berjudul Para Penanti ini merupakan sekumpulan tulisan para mahasiswa di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan (Unimed). Buku ini sebenarnya merupakan “buku kelas” usai mempelajari mata kuliah Menyunting Naskah. Buku ini juga sangat jauh dari sempurna. Para mahasiswa yang menulis buku ini tentunya masih harus banyak belajar. Buku ini tak akan terbit tanpa bantuan banyak pihak. Kawan-kawan mahasiswa yang mengambil mata kuliah Menyunting Naskah harus tek-tek-an untuk menerbitkan buku ini. Niat membuat buku yang dilandasi munculnya semangat baca-tulis yang tinggi menjadikan buku ini menarik dari sisi penggarapannya. Soal isinya, tentu seperti yang disebut diatas, masih perlu mendapat banyak perbaikan. Sebagai pengantar, para penulis dan penyunting buku ini ingin mengucapkan terimakasih kepada Dekan FBS Unimed, Bapak Chairil Anshari serta jajarannya. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Ibunda Rosmawaty serta Ketua Prodi Dik dan Non Dik Bahasa dan Sastra Indonesia, Ibu Mursini dan Pak Basyaruddin. Dukungan dan partisipasi mereka sangat besar untuk menerbitkan buku ini. Akhir kata, kami ingin mempersembahkan buku ini bagi kemajuan sastra Indonesia. Selamat membaca.
  6. 6. GELETAR NASIB DINI HARI Laila Siregar Keadilan. Kata yang sering dikambinghitamkan oleh orang- orang individualis dan materialis. Sebuah kata yang diagung- agungkan di mana-mana. Sebuah kata yang banyak membuat hati orang terluka dan tersakiti. Namun keadilan juga bermakna indah jika diletakkan pada tempatnya. Tapi masih adakah orang-orang yang adil di dunia ini, di tengah arus globalisasi yang kian dahsyat? Entahlah aku tak tahu. Aku sendiri saja heran begitu banyak di luar sana orang yang memperjuangkan keadilan tapi malah mereka yang merampas hak orang lain. Aku heran begitu banyak orang yang mengumbar janji tapi malah dia yang mengingkarinya. Aku heran begitu banyak orang yang ingin mensejahterakan rakyat tapi dia malah mensejahterakan dirinya sendiri. Aku juga heran terhadap orang-orang yang memperebutkan kursi jabatan tapi setelah mereka mendapatkannya mereka malah basen dari kursinya. Bahkan tertidur di tengah-tengah rapat Padahal tunjangan kesejahteraan mereka sangat banyak. Puluhan juta rupiah setiap bulannya masuk ke kantong-kantong mereka. Apakah ini tujuan awal mereka? Wajar saja kalau begitu banyak orang yang kurang akalnya dan bunuh diri gara-gara tidak mendapatkan kursi. Huh... aku sudah bosan dengan cara berpikir mereka yang kotor dan haus akan keduniaan. Tanpa mereka pikirkan penderitaan rakyat. Mereka juga tidak berpikir bagaimana nasibku dan nasib- nasib kaum yang lebih menderita lagi. Mungkin mereka akan mengeluh. Mungkin juga mereka akan mengkambinghitamkan kami jika terjadi sesuatu. Yah...itulah yang sering kami alami.
  7. 7. *** Hujan masih mengguyur kampungku sejak tadi malam. Hawa dingin masuk melalui sela-sela gubuk reotku. Rembesan- rembesan air hujan masuk melalui atap gubukku yang bocor. Tapi kami tak perlu khawatir ‘tuk menampungnya. Toh... gubukku berlantaikan tanah. Terkadang jika hujan lebih deras lagi dapat membuat gubuk kami seperti kolam mini. Lucu sekali. Allahu Akbar...Allahu Akbar... Azan shubuh menggema di seantero kampung. Menembus bilik demi bilik rumah-rumah penduduk. Menyapa orang-orang yang masih terlelap dalam buaian malam. Namun tampaknya sebagian mereka masih terus melanjutkan tidurnya tanpa mereka pikirkan makna di balik ibadah itu. Azan terus menggema. Samar- samar terdengar olehku suara langkah kaki ayahku. Suara yang khas yang telah kukenal belasan tahun. Walaupun jalannya tak normal lagi dan sudah termakan usia namun tak surut niatnya dalam menjalankan pengabdian pada-Nya. Dalam hitungan menit tubuh kurus itu sudah menghilang di balik hujan. Waktu terus berlalu. Hujan sudah mereda. Namun masih terlihat sisa-sisa air hujan menempel di dedaunan. Pagi menyapa penduduk bumi dengan senyumnya yang merekah. Burung- burung kembali menyanyikan senandungnya seperti para biduan. Di luar sana sudah tampak tanda-tanda kehidupan. Hari ini tidak seperti hari-hari biasanya bagiku. Ini adalah hari yang istimewa. Hari pertama akau masuk SMA. Hari pertama aku mengenakan seragam putih abu-abu serta jilbab putih yang senantiasa menutupi auratku. Kembali kutatap wajahku di cermin yang kian kusam. Kutatap diriku lekat-lekat. Sungguh beruntung aku. Tidak semua orang yang senasib denganku mendapatkan pendidikan yang memadai dan kasih sayang dari orang yang bukan orang tuamu.
  8. 8. Sedang orang tua kandungku? Entahlah. Aku tak tahu mereka di mana. Mereka mencampakkanku. Mereka tak menginginkan kehadiranku. Mungkin bagi mereka aku adalah aib. Tapi seenaknya saja mereka membuangku. Meletakkanku di depan ruimah orang lain. Tapi syukurlah si pemilik rumah bersedia membesarkannku layaknya anak kandungnya sendiri. Merekalah yang merawatku sejak aku bayi lebih tepatnya sejak aku dibuang.. Bagi mereka aku adalah rezeki yang telah mereka harapkan sejak belasan tahun. Makanya tak heran meraka tampak bukan seperti orang tuaku tapi nenek dan kakekku. Bagiku merekalah orang tuaku. Sungguh ku tak mengenal orang tua lain selain mereka. Kembali kulemparkansenyumku pada cermin yang kian kusam. Di luar tampak ibuku yang sedang menyiapkan sarapan sambil terbatuk-batuk. Kasihan Ibu. Ibu sering sakit-sakitan sekarang. Wajahnya kian menua oleh penyakit yang telah lama di deritanya. Ibu juga tidak bisa membantu ayah mencari nafkah gara-gara penyakitnya itu. Sebelumnya Ibu adalah seorang pembantu rumah tangga. Sekarang hanya ayahlah tulang punggung keluarga kami. Terkadang ada rasa sesak di dada melihat penderitaan orang tuaku. Ibu yang sakit-sakitan dan ayah yang sudah tua harus tetap menjadi tukang penjahit sepatu di emperan jalan. Seharusnya mereka sudah pensiun. Seharusnya aku turut membantu meringankan penderitaan mereka Namun setiap kali kuutarakan niatku meraka selalu tidak mengizinkanku. Mereka hanya ingin melihatku lebih fokus pada sekolah. Namun rasa sesak itu tetap melanda ruang hatiku jia melihat kondisi mereka. Hingga suatu saat.... “Ayah, Ibu, boleh Tiara membantu mencari uang?” Keduanya saling pandang. “Tidak perlu Tiara. Ayah saja yang bekerja. Ayah masih
  9. 9. sanggup kok. Kau belajar saja yang tekun. Kau harus berhasil. Jangan seperti kami yang buta ilmu.” “Benar kata Ayahmu. Kau harus lebih baik dari kami.” “ Tapi Bu… Tiara tulus dan sungguh-sungguh ungin membantu Ayah. Tiara janji tidak akan menggangu pelajaran dan lebih giat lagi belajar.” Keduanya kembali saling pandang. Mata mereka bertemu dan seakan berbicara. Kemudian menatapku. Sepi. Sayup- sayup terdengar suara atap gubukku yang terdengar nyaring oleh hembusan angin malam. Sedang di atas sana tampak sang rembulan dengan malu-malu melamparkan pendar cahayanya pada penduduk bumi. Aku masih terpaku menanti jawaban mereka. Berharap mendapatkan kesempatan dari mereka. Ayah melemparkan pandangannya ke luar. Sorot matanya jauh memandang. Tapi pikirannya jauh mengembara yang entah sudah sampai dimana rimbanya. Sedang ibuku diam membisu sambil sesekali menatapku. Aku tahu keduanya sedang berpikir keras. Tampaknya mereka sulit meluluskan niatku dan membiarkanku ikut menangggung beban hidup. Wajar saja saat itu usiaku baru 14 tahun. Tapi aku juga heran mengapa di luar sana banyak orang tua yang menjadikan anaknya tumbal hanya untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah. Mereka jadikan buah hatinya sebagai media untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Sungguh berbeda dengan kedua orang tuaku. Akhirnya Ayah membuka suara. “Tiara, kami bangga padamu. Kau anak yang mandiri dan tekun. Sebenarnya kami tidak ingin memasukkanmu dalam menanggung beban keluarga. Kau masih terlalu belia untuk itu. Tapi… jika kamu memang sungguh-sungguh buktikanlah kesungguhanmu itu. Tapi ada syaratnya.” 10
  10. 10. “Apa itu Yah? Tiara akan berusaha menyanggupinya.” “Jangan sampai gara-gara kesibukanmu kau melalaikan ibadah dan sekolahmu. Pekerjaan yang akan kau lakukan nanti harus sesuai denganmu dan hasil yang kau peroleh simpanlah untukmu. Bagaimana sanggup?” Sebenarnya uang yang akan ku peroleh nanti akan kuberikan pada Ibu. Untuk biaya pengobatannya. Kasihan Ibu. Tapi taka apa. Akan kutabung untuk masa depanku kelak dan jika suatu saat nanti mereka membutuhkannya maka tak kan sayang kuberikan simpananku pada mereka. Walaupun kemungkinan itu sangat kecil. Karena kutahu Ayah adalah sosok yang tegas dan memegang prinsip dan Ibu bukanlah sosok yang suka meminta- minta dan mengeluh. “Bagaimana Tiara kau sanggup?” “Ya Yah Tiara sanggup.” Maka sejak saat itu setelah pulang sekolah, aku berjualan minuman ringan di persimpangan lampu merah. Awalnya aku malu bila bertemu dengan teman-teman sekolahku. Mereka sering mengejekku. Namun kubuang jauh-jauh semua rasa gengsi itu. Demi Orang tuaku. Demi masa depanku. Sesekali sambil berjualan kubuka buku pelajaranku. Kuulangi semampuku. Sesekali kuajak si bola raksasa itu bercerita. Dialah yang selalu setia menemaniku. Sehingga aku sudah terbiasa bermain-main dengan sinarnya. “Tiara cepat sarapan nanti kau terlambat. Ini hari pertamamu masuk sekolah kan?” Aku tersentak. Suara Ayah mengagetkanku dari lamunanku. “Ya Yah Tiara sudah siap.” 11
  11. 11. Segera ku menuju ruang makan yang sekaligus juga ruang tamu. Dengan lahapnya kusantap masakan Ibuku. Pagi itu si bola raksasa sangat berseri. Sinarnya yang kemerah-merahan menambah pesona keanggunannya. *** Malam semakin pekat. Penguasa malam telah membentangkan jubah hitamnya. Bintang-bintang saling bermain bak bocah-bocah cilik. Sedangkan sang ratu dengan keanggunannya melemparkan pendar cahayanya pada penduduk bumi. Angin malam bertiup sepoi-sepoi. Malam itu tidak seperti malam-malam sebelumnya. Malam ini kampungku cukup ramai. Sedari tadi banyak orang berlalu lalang. Mereka tampaknya gusar dan marah. Kecewa bercampur takut. Bukan hanya para tetua saja bahkan remaja seperti aku pun ikut ambil bagian. Meraka membentuk kelompok. Berdiskusi satu sama lain tentang nasib mereka. Tidak terkecuali kedua orang tuaku yang sudah renta. Sedangkan aku masih terpaku dan khusuk mengerjakan tugas sekolahku di ruang tamu. Aku harus serius belajar. Itu tekadku. Tak lama Ayah dan Ibu pulang. Wajah meraka cemas tapi mengandung amarah. Mereka saling pandang. Kemudian membisu. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana sehingga membuat orang tuaku menjadi murung. Ayah menutup pintu rapat-rapat. Menguncinya. Tidak seperti biasanya ayah mengunci pintu. Terlalu cepat dari biasanya. Sedang Ibu langsung masuk ke kamar. Kemudian Ayah duduk didekatku. Menatapku dengan pandangan kosong. Tapi angannya jauh mengembara. Aku tak tahu apa yang sedang dipikurkan lelaki usia 60 tahunan ini. Aku yakin Beliau sedang berada dalam masalah yang rumit. Tak lama Beliau tersenyum padaku. Senyum khas ayahku. Senyum yang selalu membuatku termotivasi. Ah... betapa berharganya senyummu bagiku Ayah. 12
  12. 12. Bagiku ayah adalah sosok inspirasiku. Walaupun tak banyak yang diajarkannya padaku dan Beliau adalah seorang yang buta ilmu namun perjuangan hidup yang tak kenal putus asa dan prinsip hidupnya membuatku banyak belajar darinya. Serta senyum itu, senyum yang selalu hadir dalam suka dan duka. Seperti saat ini. Ah... Ayah terlalu banyak jasamu padaku. Sesaat tangan kasarnya menyentuh ubun-ubun kepalaku. Sentuhan kasih sayang. Tampaknya malam semakin meredup. Seperti kertas yang terbakar. Di atas sang ratu menyembunyikan sebagian wajahnya. *** Waktu terus berjalan. Meninggalkan sisa-sisa yang kian menipis. Bumi berputar menurut porosnya menjalankan satu amanah besar dari Tuannya. Seperti juga aku yang saat ini sedang menjalankan satu amanah besar di sekolah. Setelah pelajaran usai, aku langsung bergegas pulang. Entah mengapa peraasaanku sedari tadi tidak tenang. Pikiranku terus tertuju kepada kedua orang tuaku. Seperti ada sesuatu yang sedang terjadi pada mereka. Belum sampai aku memasuki kampung. Aku sudah dikejutkan dengan kerusuhan di depan kampungku. Kulihat warga kampung marah-marah, banyak orang-orang dari kota. Mereka seperti para pejabat dan penjahat. Kulihat juga ada alat-alat berat. Aku bingung apa yang sedang terjadi. Namun kudengar-dengar kampung kami akan digusur. Aku tersentak. Bagaimana mungkin kampung kami akan digusur? Para bejabat itu berdalih kalau tanah yang kami diami selama ini adalah milik seorang penguasaha ternama padahal kami punya bukti-bukti dan surat tanah yang sah. Kata mereka keterangan kami tidak berlaku. Pengusaha itu katanya memiliki surat-surat yang lebih dipercaya lagi. Aku benar-benar tidak percaya. Namun kuacuhkan itu semua. Aku langsung menuju gubukku. Mencari orang tuaku. Sesampainya didepan gubukku kulihat orang tuaku sedang beradu mulut dengan orang-orang kota itu. 13
  13. 13. Kudekati keduanya. Ibu mendekapku. Seperti takut kehilanganku. Warga-warga kampung yang lain pun ikut membantu Ayah. Tapi orang-orang kota itu tidak bergeming. Ayah juga tetap mempertahankan haknya walaupun hanya sebuah gubuk reot. Tapi itulah harta kami. Mungkin bagi orang-orang kota itu gubuk kami tak ada harganya tapi bagi keluargaku gubuk kami sangat berarti. Kemana lagi kami harus tinggal. Aku heran mengapa semuanya jadi seperti ini. Dimana letak keadilan yang digembor-gemborkan para pengumbar janji? Suasana semakin memanas sepanas cahayanya pada sing ini. Tampaknya sahabatku itu dapat merasakan apa yang sedang kami rasakan hari ini. Aparat kepolisian bertindak cepat dan mengamankan warga kampung. Tak lama... dengan kejamnya alat- lalat berat itu langsung meluluhlantakkan kampung kami. Warga- warga menjerit histeris. Tidak terima dengan apa yang mereka lakukan. Namun jeritan mereka sia-sia sudah. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Tak lama kampung kami sudah rata dengan tanah. Aku bingung harus melapor pada siapa untuk membela hakku. Di sampingku berjejer warga kampung yang hanya bisa menatap puing-puing rumahnya dengan lelehan air mata. Bulan seperti tak bercahaya bagiku. Hitam dan kelam. Matahariku telah redup. Reranting hidupku telah patah. Jatuh berserakan meningggalkan sisa-sisa yang kian kering. Aku baru teringat. Aku lupa mengambil buku pr matematikaku tadi. Ya Tuhan bagaimana akau harus mengerjakannya nanti? Titipapan, 17 April 2009 14
  14. 14. SEDALAM CINT AY A AH Putri Yanti Aku melihat ayah berada di sebuah puncak gunung tinggi. Dia melambai-lambaikan tangannya padaku sambil menangis. Aku tak tahu sedang berada di tempat apa. Aku merasakan panas yang teramat. Sebuah tempat yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku menangis memanggil-manggil namanya, namun ayah hanya diam. Dan tiba-tiba kak Ida datang memanggilku, aku tidak menghiraukannya. Aku masih menangis meminta ayah kembali. Tapi ayah seolah tak mendengar permintaanku. Lalu ia pergi menghilang... *** “Nisa! Bangun, bangunlah... sebentar lagi sholat jenazahnya akan segera dimulai. Kamu gak ikut sholat?” Terdengar suara sengau membangunkan aku. Suara wanita itu seperti suara kakakku. Kucoba perlahan untuk membuka mataku yang terasa amat berat. Ketika aku terbangun dari ketidaksadaranku, kulihat sekilas wajah sendu duduk di sampingku. Kepalaku terasa amat nyeri. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Aku merasa ingin muntah, badanku seolah tak punya tenaga untuk mengingat apa yang terjadi. Kak Ida menatapku dengan mata berkaca sambil mengelus-elus kepalaku. “Kamu gak ikut sholat Nis?” tanyanya dengan nada sedih. “Sholat?” tanyaku bingung. Aku berusaha untuk mengingat apa yang telah terjadi. 15
  15. 15. “Ya sudah! Kakak rasa kamu memang belum sehat benar. Istirahatlah dulu, tenangkan pikiranmu dan berdoalah kepada Allah agar ayah diterima disisiNya. Kakak yakin walaupun kamu tidak ikut dalam barisan sholat jenazah, tetapi doamu akan mengiringi kepergian ayah. Tidurlah…, kakak keluar dulu ya.” kata kak Ida sembari mengambil mukenanya, lalu ia beranjak keluar kamar. Mendengar ucapan kak Ida, aku baru sadar bahwa ayah... ayah... telah meninggal! Aku menangis sejadinya mengingat kejadian semalam saat ayah tahu bahwa aku telah melakukan perbuatan nista. Aku telah mencoreng nama baik keluarga. Perbuatan yang akhirnya menuai bencana dan akan menyisakan penderitaan yang tiada habisnya. *** Tujuh bulan yang lalu… Temanku Aci mengenalkanku pada seorang pria tampan dan sederhana. Tak pernah kubayangkan bahwa kehadirannya dihidiupku adalah awal dari penderitaanku. Entah mengapa saat pertama kali aku melihatnya jantungku berdebar kencang dan perasaanku bergejolak. Tatapan matanya yang tajam sungguh telah merobek hatiku. “Mau berkenalan denganku gadis manis?” tanya pemuda itu dengan senyum manisnya. Dia mengulurkan tangannya, tanpa ragu akupun menyambutnya. Saat tangannya menyentuh jariku, kurasakan kehangatan yang berbeda. Saat itu aku benar-benar terpesona olehnya. Aci yang dari tadi berdiri disampingku, bingung melihat tingkah kami berdua. Lama kami saling menatap dan akhirnya 1
  16. 16. tersadar saat Aci menggoda kami dengan pura-pura batuk. Aku malu tersipu. “Namanya siapa?” tanya pemuda itu. “Oh ya! namaku Nisa” jawabku “Aku Jefri, kalian mau berangkat kuliah?” “Iya” jawabku yang tak tahu harus berbuat apa di depan pemuda tampan ini. “Kenapa Jef? Ada niat mau mengantarkan kami berdua ?” kata Aci menggoda. “Ya, kalau diizinkan” jawab Jefri sedikit malu. “Oh, gak usah Jef, kita naik angkot aja. Ya udah kami berangkat dulu ya” kataku sambil menarik tangan Aci berlalu dari Jefri. Aci bingung, melihat sikapku karena menolak ajakan Jefri. Kujelaskan saja padanya, kalau tidak baik menerima ajakan laki-laki yang baru dikenal. Walaupun sebenarnya dalam hati, aku ingin sekali diantar Jefri. Di perjalanan menuju kampus, aku masih saja teringat wajahnya. Rasanya aku mulai jatuh hati padanya. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Jefri, tapi aku malu menanyakan hal itu pada Aci. *** Dua minggu sejak aku berkenalan dengan Jefri, entah mengapa aku selalu teringat wajahnya. Ada keinginan untuk bertemu lagi dengannya. Tapi aku tidak tahu kapan. Tiba-tiba saja lamunanku terusik oleh dering handphoneku. Tulisan ‘satu pesan diterima’ tampak di layar handphoneku. Kulihat nomor yang tak kukenal menuliskan pesan, “Hai gadis manis. Apa kabar ?” 1
  17. 17. Pesan singkat itu membuatku penasaran. Aku tak tahu siapa pengirimnya, lalu aku mencoba membalas pesan itu, dengan harapan dia akan memberi tahu siapa dirinya. “ini siapa?” Pesan singkat itu segera kukirimkan. Tidak lama kemudian balasannya pun datang, karena penasaran aku segera membacanya “Jefri ! masih ingat khan? Besok Nisa ada acara gak, aku mau ketemu” Aku terkejut, namun hatiku senang saat tahu yang mengirim pesan itu adalah Jefri. Baru saja aku memikirkan dia, tiba-tiba saja dia hadir melalui pesan singkat. Tanpa pikir panjang lagi segera kubalas pesannya. “aku mau, besok jam sepuluh di taman kota” Tai..., aku takut pada ayah. Kalau aku beritahu aku akan pergi dengan laki-laki, ayah pasti tidak mengijinkan karena ayah tidak mau kalau aku pacaran sebelum selesai kuliah. Ah ! aku tidak mau pusing memikirkannya. Bohong sekali-kali pada ayah aku rasa bukan suatu dosa besar. Toh selama ini aku sudah menjadi anak yang baik di rumah. *** “Mau kemana Nisa? Bukannya hari ini kamu tidak kuliah?” tanya ayah mengagetkan. Aku baru saja akan pergi ke luar rumah dan kini aku bingung harus jawab apa. “Nisa mau pergi ke rumah Aci yah. Hari ini Aci ulang tahun.” jawabku. “Tapi hari ini ayah, Ida, dan anak-anaknya akan pergi ziarah ke 1
  18. 18. makam ibu. Kamu tidak mau ikut?” tawar ayah padaku. “Mmm…, gimana ya? Nisa sudah janji pada Aci, Nisa kepingin sih, tapi…” “Ya sudah kalau kamu sudah janji pada Aci. Pergilah, tapi ingat jangan terlalu lama pulangnya” kata ayah mengijinkanku pergi. “Iya ayah” jawabku. Setelah mencium tangan ayah lalu aku beranjak pergi. Ada rasa menyesal karena telah berbohong pada ayah, tapi wajah Jefri yang tampan menghapus semuanya. Pertemuanku dengan Jefri amat berkesan, dia benar-benar telah mengambil hatiku. Dari pertemuan kedua ini hubungan kami terus berlanjut. Jefri sering sekali mengajakku bertemu, terkadang dia menyempatkan waktu untuk menjemputku di kampus. Hingga akhirnya di tempat yang indah Jefri menyatakan perasaannya padaku. Ia mencintaiku sejak pertama kali bertemu. Aku pun merasakan hal yang sama dan kami sepakat untuk menjalin hubungan lebih dari teman. Hari-hariku pun semakin indah. Walaupun sebenarmya aku tahu kalau ayah tidak akan setuju dengan hubungan kami. Dan aku akan berusaha membuat ayah setuju. Tidak terasa hubunganku sudah berjalan selama tiga bulan dan sampai saat ini ayah belum juga tahu kalau aku sudah punya pacar. Jefri juga tahu tentang masalah ini, namun kami tetap yakin, suatu saat ayah akan memberi restunya kepada kami berdua. Aku baru pulang menjelang malam. Hari ini Jefri mengajakku ke rumahnya. Keadaan rumah tampak sepi, lampu ruang tamu redup. Dan aku yakin kalau ayah pasti sudah tidur. Aku menelusup masuk ke dalam rumah, tapi tiba-tiba saja lampu ruang tamu menyala dan kulihat ayah sudah berada di depan kamarnya. Aku terkejut dan bingung, “Dari mana Nisa?” tanya ayah 1
  19. 19. “Eh ayah… Nisa dari rumah Aci, ada tugas kuliah” jawabku gugup. “Dari rumah Aci? Mengapa sampai semalam ini kamu baru pulang? Dan ayah heran, kenapa kamu sering sekali ke rumah Aci, sedangkan Aci sendiri tidak pernah datang kerumahmu?” tanya ayah yang tampaknya mulai curiga padaku. Aku semakin gugup sampai tak tahu alasan apalagi untuk menghindari kemarahan ayah. “Tadi siang Aci kesini mencarimu dan katanya selama ini dia tidak pernah bertemu denganmu, baik itu di rumah atau di kampus, karena dia sedang cuti kuliah. Jadi kamu kemana saja selama ini? Kamu sudah berbohong!” Bagai disambar petir aku mendengar penjelasan ayah. Ia sudah mengetahui semua kebohonganku. Aku hanya diam tertunduk malu. “Atau mungkin kamu sudah punya pacar di luar sana? Sampai- sampai kamu sanggup berbohong pada ayah. Jawab Nisa!” “Benar ayah… Nisa memang sudah punya pacar, dan hubungan kami sudah berjalan selama tiga bulan. Dan Nisa… “ belum sempat kuselesaikan kalimatku, tiba-tiba saja tamparan keras mendarat di pipiku. Aku tidak menyangka kalau ayah akan semarah ini padaku. “Keterlaluan kamu Nisa! Selama tiga bulan ini kamu sudah membohongi ayah. Kenapa kamu tidak menuruti perintah ayah, kalau ayah katakan kamu tidak boleh pacaran sebelum selesai kuliah, lakukan itu! Jangan sampai kamu melanggarnya!” “Tapi ayah, Nisa sudah dewasa. Di usia Nisa saat ini, sangat normal jika Nisa mulai merasakan ketertarikan pada lelaki” kataku membela diri. “Tapi tidak dengan pacaran! Banyak cara untuk sekedar mengagumi 20
  20. 20. seseorang”. Kata-kata ayah tadi membuat hatiku sakit. Tidak ada niatku untuk menjadi anak durhaka. Tapi rasa cintaku pada Jefri terlalu besar dan apa itu salah. “Ida! Kesini kamu” ayah memanggil kak Ida. Aku tidak tahu mengapa ayah memanggilnya. Apakah ia akan memarahiku juga. Kulihat kak Ida keluar dari kamarnya. Wajahnya cemas, ia berdiri di sampingku sambil merangkulku. Sepertinya ia merasakan kesedihan yang aku rasakan. “Bawa dia ke kamar, nasehati dia. Bahwa apa yang dilakukannya itu adalah benar-benar suatu kesalahan besar. Dan beritahu juga padanya bahwa kesalahanmu yang dulu jangan sampai ia lakukan lagi. Kecuali jika dia mau ayahnya mati!” perintah ayah pada kak Ida. Dengan segera kak Ida membawaku ke kamar, ia merangkulku dan mengusap air mataku. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Air mukanya jelas menyiratkan rasa sakit yang mendalam. Mungkinkah kak Ida tersinggung dengan perkataan ayah tadi. Sebenarnya kejadian malam ini bukanlah hal yang pertama dilakukan ayah. Hal serupa juga pernah terjadi kepada kak Ida. Saat itu kak Ida dengan terang-terangan membawa pacarnya ke rumah. Ayah tidak setuju kak Ida berpacaran, karena waktu itu kak Ida masih sekolah. Wajar rasanya kalau ayah sangat marah dengan perbuatannya, karena dia belum tamat sekolah. Tapi kak Ida bersikeras untuk tetap pacaran dengan kekasihnya sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari rumah dan menikah dengan lelaki pilihannya. Saat itu ibu masih ada, dan dialah orang yang paling merasa sakit atas kepergian kak Ida. Hingga akhirnya ibu sakit-sakitan dan kemudian ia pun meninggal dunia. 21
  21. 21. Setelah tiga tahun sejak kematian ibu, kak Ida kembali bersama dua orang anaknya tanpa didampingi oleh suaminya. Ia bercerai karena keadaan ekonomi suaminya yang sulit. Awalnya ayah tidak menerima kehadiran kak Ida, namun karena kondisi kak Ida yang memprihatinkan, ayah pun membuka hatinya. Dan hal itulah yang ditakutkan ayah. Ia takut kalau aku kan mengalami hal serupa. Untuk itu ayah melarang keras aku berpacaran sampai aku menyelesaikan kuliahku. Dan kini aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bingung, apakah aku harus memutuskan hubunganku dengan Jefri, padahal aku amat mencintainya. Tapi di sisi lain aku juga kasihan pada ayah. Entahlah biar Tuhan yang memutuskan segalanya. *** Sebulan ini aku tidak bertemu dengan Jefri. Aku menghindarinya, takut kalau kejadian malam itu akan terulang kembali. Tapi sebenarnya aku sangat merindukannya. Bayangannya selalu hadir di setiap mimpiku. Lama aku merenungi nasibku, tiba- tiba aku mendengar suara ketukan pintu jendela. Lalu karena rasa penasaran aku mencoba melihat keluar, dan aku terkejut ketika kulihat Jefri ada di luar jendela. Tanpa ragu ia masuk ke kamar lewat jendela. Hatiku sebenarnya bahagia melihat kedatangan Jefri. Rasanya aku tidak ingin berpisah lagi dengannya. Kulampiaskan rasa rinduku yang selama ini terpendam. “Jefri aku takut pada ayah!” “Tenang Nisa, aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan restu ayahmu. Kamu tidak usah bersedih, kita akan cari jalan keluarnya bersama.” “Lalu bagaimana kita harus bertemu?” tanyaku manja. “Untuk saat ini biarlah kita sembunyi-sembunyi dulu, dalam 22
  22. 22. waktu dekat aku akan menemui ayahmu.” Mendengar penjelasan Jefri hatiku menjadi tenang. Akhirnya kami dapat merasakan lagi indahnya gejolak asmara yang sempat kami tinggalkan. Kami bersatu dalam ikatan cinta, dan aku merasakan rasa yang tak pernah kualami sebelumnya. Pertemuan diam-diam ini rutin kami lakukan. Ada saja akal Jefri untuk masuk ke dalam rumah. Ia sempat menyamar sebagai tukang ledeng, kebetulan waktu itu saluran air di rumah kami sedang rusak. Dan ayah tidak pernah curiga. Maafkan Nisa ayah... Nisa tidak dapat melupakan Jefri. Dia adalah cinta sejati Nisa. *** Siang ini, rasanya matahari terlalu terik menyinarkan panas cahayanya. Badanku terasa lemas, tidak bertenaga. Ubun-ubunku terasa nyeri sekali dan perutku juga mual. Kuputuskan untuk segera pulang ke rumah. Tapi kepalaku semakin nyeri, tubuhku seperti remuk. Rasa mual dalam perutku semakin terasa. Saat tiba di rumah langsung saja aku berlari ke kamar mandi. Kukeluarkan semua makanan yang ku makan tadi pagi. Namun, rasa mual itu belum juga hilang, malahan kepalaku semakin bertambah pusing. Mendengar suaraku kak Ida langsung menghampiri ke kamar mandi. Tak ada kata yang terucap darinya. Dia hanya berdiri heran sambil mengamatiku di depan pintu kamar mandi. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi cemas. “Kepalaku pusing kak, punya obat gak?” tanyaku sekedar memberitahu kondisiku saat ini. “Sebelumnya, apa kau pernah bertemu dengan kekasihmu setelah peristiwa itu Nisa?” tanya kak Ida. Aku heran mengapa ia bertanya seperti itu. Apa dia tahu kalau aku masih bertemu Jefri secara diam-diam. Aku diam tidak 23
  23. 23. menjawabnya, kupikir itu bukanlah hal yang harus kuungkap sekarang. “Sudah berapa lama kau terlambat datang bulan?” tanya kak Ida. Akupun menjadi bertambah bingung. “Kenapa kak Ida bertanya seperti itu?” “Jawab Nisa! Sudah berapa lama kamu terlambat?” kata kak Ida membentakku. “Sudah tiga bulan kak…! Tiba-tiba saja kak Ida pergi, tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah benda aneh lalu memberikannya padaku. “Cepat gunakan alat itu Nisa!, Alat itu akan mengungkapkan semua kebingunganmu” perintah kak Ida. “Tapi kak…” tak sempat kuselesaikan kalimatku, kak Ida menyuruhku melakukan perintahnya. Aku lantas bergegas masuk ke kamar mandi. Dengan gugup kuteteskan air seniku pada alat itu. Dan kini aku tahu jawabannya. Kalau aku memang sedang hamil. Melihat kenyataan ini aku menjerit histeris seakan tak percaya dengan semua yang terjadi. Kak Ida langsung masuk ke kamar mandi. Ia merampas alat itu dari tanganku. Kulihat wajahnya semakin merah, lalu dia menamparku dengan keras. “Kau telah menghancurkan semuanya Nisa! Harapan ayah, masa depanmu dan masa depan kita semua. Kau langgar perintahnya dan sekarang kau sakiti hatinya! Kau tahu apa akibat dari semua ini? Kita bisa kehilangan ayah” “Maafkan Nisa kak…” pintaku memohon. “Cepat kau cari kekasihmu sekarang! Bawa ia ke mari dan 24
  24. 24. suruh ia bertanggung jawab!” Mendengar itu, aku baru sadar bahwa orang yang harus bertanggung jawab saat ini adalah Jefri. Lalu aku berlari ke luar, kutinggalkan saja kak Ida yang berada di hadapanku. Ketika sampai di teras rumah, kulihat ayah baru saja pulang dari kantornya. Aku tak kuasa melihat kehadirannya. Air mataku semakin deras mengalir. “Ada apa Nisa? Kenapa kamu menangis?” Tanya ayah cemas. Tanpa menghiraukan pertanyaannya, aku terus saja berlari menemui Jefri untuk minta pertanggungjawaban. Ayah memanggilku, namun aku tak memperdulikannya. Aku terus berlari tanpa memikirkan bagaimana jika ayah mengetahuinya. Pikiranku kacau! Rasa sedih, cemas, bingung, dan takut bercampur padu mengalahkan rasa sakit di pipiku. Telah lama aku berjalan, akhirnya sampai juga di rumah Jefri. Tetapi keadaan rumahnya aneh, ada banyak polisi mengelilingi rumahnya, dan begitu ramai orang di hadapanku. Aku tak tahu apa yang terjadi, aku mencoba masuk dalam keramaian. Saat aku berada tepat di depan rumahnya, kulihat Jefri keluar di dampingi polisi. Tangannya di borgol dan wajahnya tertunduk malu. Segera saja kuhampiri dia. Jefri menatapku sekilas dengan mata berkaca- kaca dan dengan suara lirih dia mengucapkan sepatah kata tanpa pesan “Maafkan aku Nisa…” Dunia rasanya seperti mau runtuh, saat melihat kenyataan ini. Aku berdiri lemah, kakiku terasa lemas dan tak berdaya. Semuanya terlihat tidak jelas, aku ingin jatuh. Namun aku berusaha untuk bertahan. Aku berjalan pelan mengikuti Jefri, namun polisi melarangku ikut. Dari penjelasan polisi, aku baru tahu kalau Jefri adalah seorang pengedar narkoba. Akupun semakin tiada berdaya 25
  25. 25. mengahadapi ini semua. Setelah mobil polisi itu pergi membawa Jefri, aku putuskan untuk pergi dari tempat itu. Aku tak tahu kemana harus melangkah, aku takut untuk pulang ke rumah. Kini aku hanya bisa pasrah pada nasibku, biarlah takdir yang menentukan arah langkahku. Kucoba untuk mengingat apa yang telah kulakukan bersama Jefri. Aku tak tahu mengapa aku bisa melakukan hal itu. Keindahan cinta yang dulu kurasa, kini berubah menjadi sengsara. Jefri bahkan tak tahu bahwa aku sedang hamil. Dan ayah juga tak pernah mengenal pria yang telah menghamiliku. Sampai hari semakin gelap, aku tak tahu harus kemana lagi. Kata-kata ayah kembali terngiang di telingaku. Seandainya aku bisa memutar kembali waktu, tak akan pernah kulakukan hal ini. Kulihat jam tanganku pukul sembilan malam, tak terasa hari sudah semakin larut. Tiba-tiba handphoneku bergetar, kucoba untuk mengangkat dengan harapan itu dari ayah menyuruhku untuk pulang ke rumah. Terdengar suara kak Ida seperti sedang menangis. “Nisa…. Pulanglah segera, karena ayah…..” “Kenapa ayah kak?” tanyaku cemas. “Pulanglah cepat! kami menunggumu di rumah” kata kak Ida menutup pembicaraan. Perasaanku mulai tak enak, aku takut terjadi apa-apa pada ayah. Cepat-cepat aku pulang ke rumah. Kujauhkan pikian-pikiran yang tidak baik tentang keadaan ayah. Aku berdoa agar ayah tidak mengalami sesuatu yang buruk. Sampai di rumah, kulihat orang sudah ramai memenuhi halaman. Terdengar suara orang mengaji. Jantungku berdebar, mataku terjebak pada sebuah bendera merah yang tertancap di halaman rumahku. Kucoba untuk berjalan pelan masuk ke rumah. 2
  26. 26. Kak Ida menghampiriku dan memelukku erat. Aku melihat ayah di pembaringannya. Kak Ida mencoba menyabarkan aku. Kemudian aku tidak tahu apa yang terjadi, mataku menangkap kilatan cahaya putih. Lalu tiba-tiba semuanya gelap. 2
  27. 27. DUKA MALAM LEBARAN Muhammad Pical Nasution Anak bangsa menangis. Ya, mereka terluka. Terluka karena sembilu yang ditancapkan tuannya tepat di pelipis mata. Anak bangsa buta dan hanya bisa meraba. Tak ada yang bisa mereka buat, sedang perut terus mengeluh akibat tak diisi seharian penuh. Kalau kau berjalan di sepanjang torotoar, akan terlihat olehmu lantunan lagu dengan gitar berdawai dan kayu yang disisinya terdapat tutup-tutup botol. Tangan menjulur panjang, meminta belas kasihan. Mengharap recehan untuk permasalahan sejengkal. Bila hari telah menua dan senja tiba, mereka bergeser dari bundaran kota menuju mesjid-mesjid terdekat. Tapi tidak untuk menunaikan kewajiban seperti yang dilakukan kebanyakan orang sehabis bekerja seharian, mereka duduk di pinggiran parkir mobil. Serupa dengan kegiatan di bundaran kota, meminta dan terus meminta buat sarapan esok pagi. Adzan menggema menuntun burung-burung malam pulang ke pelataran rumahnya. Langit meneteskan air mata, bumi meremas jemarinya menahan perih, dan iblis lari ketakutan. Di antara gelegar itu, puluhan kepala manusia tertunduk. Ada yang memuja penciptanya, sedang sisanya memikirkan apa yang harus dilakukan hari esok. Sembahyang magrib usai, tuan-tuan direktur turun dari tangga mesjid disambut dengan kerumunan bocah-bocah lusuh dan orang tua mereka yang kian bertambah usianya, sembari menggendong bayi sebagai umpan belas kasihan. Terucap beberapa kata yang tersusun rapi dari mulut seorang bocah, 2
  28. 28. “Pak, saya belum makan seharian, kasihanilah.” Lalu si tuan yang berbusana rapi, berkaus kaki rapi, dan bersepatu hitam merk Crocodile berkata, “Mencari uang itu tidak mudah, saya harus berfikir dan menghabiskan energi yang besar untuk mendapatkannya.” Si bocah tak menggelengkan kepala. Entah karena ia benci atau ia tak mengerti ucapan si bapak. Kata-kata itu terlalu ilmiah untuk seorang anak yang bersekolah pun tidak, berkaus kaki pun tidak. Jangankan bersepatu, bersendal saja sudah syukur. Tapi ia tetap memburu bapak itu seperti anak itik mengikuti induknya mencari makan. Si bapak menutup mobil, dan akhirnya mobil itu melaju kencang. Anak bangsa menangis, sebab tak ada jatah makan hari ini. Seminggu lagi lebaran tiba, tak ada dalam pikiran mereka untuk membeli baju baru di Matahari, sendal baru di Toko Bata, sarung tenun untuk sholat, membuat opor ayam. Bantar hanya membuat ketupat, Itu pun jika terbeli, sebab jika menjelang puasa dan lebaran harga barang melambung tinggi. Kebanyakan orang bersuka ria menyambut kedatangan bulan kemenangan. Tak jauh dari tempat bocah-bocah lusuh itu mangkal, berbaris rapi mobil-mobil mewah yang parkir di depan sebuah toko pakaian anak. Pintu mobil itu terbuka, kemudian jejak lelaki kecil berwajah riang itu berhasil mencuri perhatian anak bangsa yang dirampas haknya. Anak bangsa yang termarjinalkan oleh tangan-tangan kemunafikan. Dua minggu yang ditunggu telah tiba, orang-orang berlalu lalang di sepanjang jalan menuju mesjid untuk sembahyang hari raya. Dengan tampilan yang sangat berbeda, baju baru, sendal baru yang di beli di toko, orang-orang girang menyambut 2
  29. 29. hari kemenangan. Semua serba baru, opor ayam dan ketupat santan menanti, minuman khas lebaran tersaji. Salam tanda maaf bertaburan, caci-maki dihembusakan angin fajar ke laut pembuangan. Bocah lusuh bundaran kota tak terlihat di mesjid tempat ia biasa mangkal. Tak ada yang tahu ia kemana. Mungkin saja ia terhimpit oleh kerumunan baju baru manusia-manusia yang sedang merayakan kemenangan, dan mungkin juga ia tak berada di mesjid itu. Hari begitu teriknya, mesjid sudah kosong, kecuali sang nazir yang masih menyusun rapi perlengkapan sholat, Setelah itu ia pulang dan bocah lusuh datang ke mesjid dengan maksud meminta jajanan lebaran, atau sering disebut kebanyakan orang tunjangan hari raya. Alangkah sedihnya bocah itu, karena tak ia sadari semua orang sudah pulang kerumahnya masing-masing. Menikmati opor ayam yang gurih, ketupat santan lezat, dan saling memaafkan sanak saudara. Ia duduk terjungkal, menghentakkan sebelah tangannya ke tanah yang legam sebagai tanda penyeselan yang mendalam karena ia terlambat. Lebaran kali ini bocah lusuh tak berpenghasilan, karena embun fajar menyelimuti telinganya dan akhirnya kotek ayam tak terdengar olehnya. Matahari sudah ada tepat di atas ubun-ubun. malam sebelum lebaran hujan turun dengan derasnya. Bocah lusuh menggigil kedinginan di tengah bundaran kota. Malam itu ramai sekali, ya ramai sekali. Banyak orang baru selesai belanja barang- barang untuk persiapan menyambut lebaran. Di lampu merah, si bocah berdiri seperti biasa menunggu saweran. Sementara hujan belum juga reda. Di balik bundaran kota ia berteduh, sedang tubuhnya kuyup menggigil. Malam semakin sunyi. Malam semakin hening. Pelalu- lalang kota redup dan meninggalkan seonggok tubuh lusuh milik 30
  30. 30. bocah yang kuyup menggigil. Ia mondar-mandir seperti orang kebingungan. Sambil ia kepalkan kedua tangannya, ia hembusakan nafas demi nafas di kepalan itu. Lelah akhirnya membawa seonggok tubuh itu ke pembaringan. Ia tertidur pulas sampai sinar pagi tiba. Ia tetap tidur dengan pulasnya dan tak menyadari orang-orang berlalu-lalang melayangkan salam tanda maaf, dan meletakkan kepala di sajadah baru. Ia juga tak menyadari kepulangan mereka untuk menyantap opor ayam, ketupat santan, dan rendang yang menggugah selera. Alangkah sedihnya bocah itu, karena tak ia sadari semua orang merayakan hari kemenangan dengan taburan uang. Menikmati opor ayam yang gurih, ketupat santan lezat, dan saling memaafkan sanak saudara. Ia kembali duduk terjungkal dan menghentakkan sebelah tangannya ke tanah yang legam sebagai tanda penyeselan yang mendalam karena ia terlambat. Lebaran kali ini bocah lusuh tak berpenghasilan. Bocah lusuh pulang dengan panas yang menguliti kulit hitamnya. Bocah lusuh pulang dengan tubuh yang masih menggigil sisa tadi malam. Ia tak membawa apa-apa. Ibu dan adiknya sudah menanti kepulangannya dengan harapan ia mendapatkan uang untuk membeli opor ayam dan ketupat santan. 31
  31. 31. EPISODE KEHIDUPAN Lia Winni Novelia Ical terpana menyaksikan keindahan alam saat senja menjelang. Tak lepas matanya menatap cakrawala yang kemerahan di ufuk barat. Saat seperti inilah yang membuat Ical teringat pada ayahnya. Dulu ketika ayahnya masih hidup mereka baru pulang menangkap ikan saat langit memerah seperti ini. Ical akan berlari pulang ke rumah memamerkan hasil tangkapannya pada ibunya. Ibu dan adik-adiknya pun akan menyambutnya dengan suka cita. Begitu setiap harinya sampai ayahnya mendadak sakit keras. Tiga hari lamanya Ical menyaksikan ayahnya menahan sakit yang teramat sangat, hingga kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir. Semenjak kejadian itu Ical ingin sekali menjadi dokter. Ketidakberdayaan mengatasi penyakit ayahnya, semakin membuat Ical menguatkan keinginannya itu. Namun, keinginannya itu harus ia kubur rapat-rapat dalam hati. Jangankan kuliah di kedokteran, melanjutkan ke SMP saja tidak mampu. Ibunya selalu mendorongnya untuk melanjutkan sekolah. Tapi, Ical tahu diri. Ia adalah satu-satunya tumpuan keluarga setelah ayahnya meninggal. Masih ada tiga adiknya lagi yang perlu makan dan sekolah. Ical tak tega melihat ibunya banting tulang sendirian untuk menghidupi keluarga mereka. Apalagi pekerjaan ibu Ical hanyalah berjualan kue, tentu saja tidak akan mencukupi kebutuhan mereka. Ical pun sangat senang bisa membantu ibunya untuk mencari tambahan uang, Ical mencari ikan dan sesekali ia membantu ibunya mengantarkan kue-kue ke warung-warung. Itupun belum mampu meringankan beban keluarga mereka. 32
  32. 32. “Andai saja………” pelan suara Ical Tak lama kemudian terdengarlah.. Allahu Akbar….Allahu Akbar. Ical tersentak dari lamunannya, kemudian bergegas mengambil air wudhu karena shalat magrib harus segera ia tunaikan. Jam tua di rumah Ical berdentang sepuluh kali, Ical membantu ibunya membungkus kue. Adiknya dan tidur semua, suasana hening. Hanya terdengar suara jangkrik dan plastik kue yang dikibar-kibarkan. “ Bu, saya mau bekerja di kapal saja. Sepertinya penghasilannya lumayan. Tadi, waktu sahalat isya Yudi menawarkan pekerjaan itu ke saya. Katanya ada lowongan kosong di kapal Setia Jaya,” suara Ical memecah keheningan yang sempat tercipta. Ibunya terkejut “Bekerja di kapal itu resikonya besar, Cal. Kamu di sini saja membantu ibu. Selama ini hasilnya cukup untuk kita hidup”, sepertinya ibunya tidak rela Ical bekerja di kapal. “Bu, usaha seperti ini hanya cukup untuk makan, sementara adik-adik perlu sekolah ” saya tidak ingin mereka buta huruf. Cukuplah saya saja yang lulusan SD, tetapi mereka harus bisa samapai SMA atau kalau bisa lebih….,” Suara Ical tercekat di tenggorokannya. Hatinya perih. Ibunya terdiam mendengar kata-kata Ical. Wanita itu sadar bahwa usaha seperti ini memang tidak cukup untuk membiayai sekolah adik-adiknya Ical. Apalagi sekarang saat pasang naik, ikan akan sulit didapat. Dan itu akan berpengaruh pada hasil penjualan kue mereka, karena masyarakat di sini pada umumnya nelayan. Tetapi ia tidak rela anaknya bekerja di kapal, ia takut terjadi sesuatu pada Ical. 33
  33. 33. “Soal resiko, semua pekerjaan beresiko, bu. Tinggal bagaimana orangnya saja. Saya janji untuk berhati-hati ibu tidak usah khawatir.” Ical menggenggam tangan ibunya berusaha meyakinkan. Bagaimana, bu? Iya bertanya lagi. Ibu menatap Ical, ada kekhawatiran di matanya. Tapi kemauan putra sulungnya itu tidak mungkin dibantah. Percuma saja, sebab jika Ical punya mau sulut diurungkan. ” Terserah kamu cal, ibu tidak bisa menghalangi.” Kali ini suara ibu terdengar pasrah. Ical merasa lega, walau hatinya terenyuh juga melihat kekhawatiran ibunya. Tapi harus ia lakukan demi ibu dan adik-adiknya. *** Tiga bulan sudah Ical berkutat dengan pekerjaan barunya. Berat memang, Namun wajah ibu dan adik-adiknya kembali menguatkannya untuk tetap bertahan. Malam ini Ical merasakan lelah yang teramat sangat, setelah tadi siang ia dan teman-temannya bekarja memuat barang dalam jumlah yang besar ke kapal. Walaupun lelah, Ical tetap memaksa dirinya untuk menununaikan sahalat isya. Pesan ibu kembali terngiang-ngiang di telinganya. “Ingat cal, jangan lupa shalat. Hanya Dia saja yang dapat melindungimu. Ibu hanya bisa berdoa”. Ucap ibunya dengan berurai air mata saat keberangkatannya. Setelah shalat, Ical merebahkan tubuhnya perlahan di atas tumpukan barang-barang. Seharusnya malam ini ia kebagian tugas 34
  34. 34. berjaga, tapi matanya tidak bisa kompromi sedikit pun. Perlahan tapi pasti, kelopaknya menutup, hingga ambang kesadarannya lenyap berganti mimpi. Mimpi Ical sangat indah. Ia berada dilautan luas, menjaring ikan banyak sekali. Ical girang bukan kepalang. Tiba-tiba ikan- ikan itu berubah menjadi gepokan uang. Sekejap kemudian, Ical bertemu ibu dan dan adik-adiknya di sebuah taman. Mereka kemudian bergembira, bersenda gurau dan tertawa. Di sekeliling, ada banyak bunga, ada semilir mewangi. Di antara rerumputan hijau, ada air sungai mengalir jernih, bergemerincik bagai alunan nyanyian merdu. Ada awan-awan dan kerlap-kerlip di langit biru muda. Ibu mengusap kepala Ical lembut, “ kamu adalah pahlawan keluarga anakku, kami sangat menyayangimu”. “Tak ada upaya selain dari Allah saja, ibu” senyum ikal mengembang. “Kakak hebat ! kita kaya raya sekarang!” adiknya berseru- seru riang. “Kalian mesti terus sekolah supaya pintar , biar kakak yang cari uang. Masa kecil bukan buat susah payah, yang penting belajar ”. Kata Ical sambil menciumi pipi adiknya mereka satu persatu. Terasa lembut dan hangat, sehangat semangat kanak- kanak mengahadapi dunia yang ceria dan penug warna. Ah, jalan mereka masih panjang, sudah sepantasnya aku membukakan pintu dan memuluskan langkah mereka menuju masa depan batin Ical. “Kak Ical jangan pernah pergi, ya…” Rengek mereka manja. Tentu saja tidak, Sayang, kata Ical dalam hati. Tapi entah mengapa, kata-kata itu tak kuasa terucap dari mulutnya. 35
  35. 35. Ahh, dalam mimpi itu Ical sangat bahagia, teramat sangat hingga ahirnya kebahagian itu berubah jadi terasa aneh. Aneh sekali….tak bisa telukiskan seakan-akan, ada sesuatu. Jaring..., tali.., Ah. Tali...! Ical mendadak terbangun. Alam bawah sadarnya memberi tahu bahwa kapal akan segera merapat. Suaranya terdengar sayup- sayup. Terkatuk-katuk Ical melapas tali kapal dan mengikatnya. Seorang lelaki turun. Kapal hendak bergerak pergi lagi. Cepat-cepat Ical melapas tali kapal. Ical bermaksud melompat kebagian belakang kapal. Tapi sayang, entah karena mengantuk atau kelelahan. Ical tak mampu melompatinya, tubuhnya tercebur ke sungai. Kepalanya terbentur ke bebatuan. Ical mulai kehilangan kesadaran sementara tangannya menggapai-gapai permukaan, namun tidak ada yang melihat dan mendengarkannya, karena kapal semakin jauh meninggalkan dirinya yang semakin lemah dan tidak berdaya. Tangan remaja yang berusia tujuh belas tahun itu pun tak terlihat lagi ditelan kegelapan malam. Sementara itu itu di rumah, Ibu Ical sedang menasehati anak-anaknya. “Kalian harus sekolah yang rajin. Kakak kalian banting tulang supaya bisa menyekolahkan kalian semua”. malam-malam begini, entah tidur dimana dia….”. Mata Ibu Ical menerawang jauh. Ada kegalauan luar biasa saat ia melontarkan nasehat itu. 3
  36. 36. PARA PENANTI Dani Sukma Agus Setiawan Menanti. Sendiri. Sunyi. Sepi pun berserak. Kesendirian pun memuncak. Rindu pun bergolak. Marah, marah, dan marah, tetapi pada siapa? *** Sekiranya penantian ini bukan pengharapan, maka aku tak akan pernah menanti. Mungkin, sudah sejak kemarin, bahkan kemarin lalu aku akan berpaling, tetapi tersadarku. Ya, tersadar akulah yang memilih jalan ini. Memilih suratan nasibku sendiri, memilih untuk tetap menanti suamiku kembali. Ini semua kulakukan bukan saja demi aku, tetapi juga demi anak-anakku. Sekiranya penantian ini bukan kewajiban, maka aku tak akan pernah menanti. Mungkin hari ini, esok atau lusa, aku pasti mengingkarinya, tetapi terpikirku. Ya, terpikir akulah yang menyurati takdirku sendiri. Akulah yang mengabarkan pada ilahi; Sebagai istri sudah tugaskulah mengabdi pada seorang suami. Ini semua kulakukan bukan saja demi rumah tanggaku, tetapi juga demi syahadat yang meluncur saat ijab kabulku sewaktu dulu. *** Menanti. Aku masih saja menanti. Sendiri. Aku masih tetap sendiri. Sunyi. Aku tetap saja terbalut sunyi. Sepi masih berserak. Kesendirian masih tetap memuncak. Marah, marah, dan kian marah, tetapi harus bagaimana? *** 3
  37. 37. Kadang terpikir olehku, lari dari kenyataan, mengejar pertemuan untuk menepis penantian. Bukan hanya sekali, bahkan terlalu sering aku berpikir; Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau memungkinkan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tetapi, kembali tersadarku. Tersadar aku, jangankan untuk berlari, sekedar melangkah saja aku tak berani. Sebenarnya ketakutanku beralasan. Aku takut meninggalkan anak-anakku demi mengejar ambisi; Merengkuh dekap hangat pelukan seorang suami. Orang pikir aku bodoh dan mau dibodoh-bodohi. Bodoh karena masih tetap setia menanti dan mau dibodoh-bodohi penantian itu sendiri. Mereka bilang, bagaimana tidak bodoh, karena sudah bertahun suamiku tidak kembali, tetapi aku masih tetap setia menanti. Padahal sudah jelas-jelas penantian itu membodoh-bodohiku sendiri, membodohi kesepianku dengan sebuah harapan, seratus angan, dan sejuta impian. Tetapi biarlah. Orang bilang aku bodoh, aku bilang biarin. Orang bilang aku naif, aku bilang biarin. Orang bilang aku aneh, aku bilang biarin1 . Biarin sajalah, karena nyatanya aku pintar. Setidaknya aku pintar merajut sejuta impian menjadi seratus angan hingga menjadi sebuah harapan; Penantianku berakhir dengan kebahagiaan. *** Menanti. Selalu saja menanti. Sendiri. Entah sampai kapan kusendiri. Sunyi. Masih tetapku menghamba sunyi. Sepi masih berserak. Kesendirian terasa jauh kian memuncak. Marah, marah dan semakin marah, tetapi untuk apa? *** Demi kebahagiaan. Atas nama kesetiaan. Ya, inilah adanya, dan aku sama sekali tidak mengada-ada, karena memang beginilah . Terinspirasi dari puisi “Biarin”, karya Yudhistira 3
  38. 38. keadaannya. Keadaanlah yang mengharuskan aku menanti. Keadaan pula yang membuatku bertahan hingga saat ini, dan keadaan inilah yang memberiku kekuatan untuk menata penantian demi penantian; Demi kebahagiaan dengan mengatasnamakan kesetiaan. Aku yakin, dengan segenap-genapnya keyakinan. Kesetiaanku tidak akan sia-sia, sebab lelakiku; Suami sekaligus ayah bagi anak-anakku, pasti akan kembali. Terserah orang mau berpikir aku ini bagaimana. Terserah orang mau berkata penantianku ini untuk apa. Terserah orang mau mengira tanggung jawab suamiku itu di mana. Toh, pikiran, perkataan, dan perkiraan mereka tak akan pernah mengapa. Karena, mereka itu memang bukan siapa-siapa. Aku memang patut dikasihani. Tetapi, aku tidak butuh belas kasihan, sama sekali tidak! Bagiku, menangis untuk sekedar dikasihani bukanlah sebuah pilihan, bahkan bisa dikatakan perbuatan yang teramat sangat memalukan. Karena, itu aku tak akan pernah menangis. Walaupun kerinduanku pada suamiku, seperti air mata yang merindukan tangis, tetapi sekali lagi kukatakan; Aku tak akan pernah menangis. Dan aku akan selalu tegar, semangatku harus tetap berkobar, gairah hidup dan kehidupanku harus tetap tebakar. Karena, jika sampai aku rapuh, maka segala asa yang kusemai akan ikut luruh, terjatuh, maka aku tak akan mampu menjadi ibu yang terbaik bagi anak-anakku. Sepeninggal ayahnya, mereka butuh panutan, dan untuk itulah aku ada. Untuk sementara, aku akan berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi mereka, sampai tiba saatnya nanti, lelakiku; Suami sekaligus ayah bagi anak-anakku kembali di sisiku, mengubah penantian menjadi pertemuan, saat itulah kami akan larut dalam kebahagiaan. *** Menanti. Aku masih saja menanti. Tetapi penantianku bukan lagi sekedar penantian, karena telah dikaburkan keyakinan. 3
  39. 39. Sendiri. Aku memang masih sendiri. Tetapi kesendirianku bukan lagi kesendirian, karena telah dibarengi kemandirian. Sunyi. Aku memang didera sunyi. Tetapi sunyiku tak bisa lagi dikatakan sunyi, karena di balik kesunyianku terdengarnya riuhnya senmangat untuk menjadi panutan. Sepi memang berserak, dan tetap akan kubiarkan berserak, agar dapat kujadikan bercak agar kesetiaanku tidak pernah terkoyak. *** Suamiku, di manapun dirimu berada, yakin dan percaya, di sini aku akan tetap menjandakan diri2 demi menantimu kembali menjadi lelakiku; Suami sekaligus ayah bagi anak-anakku. Karena, aku mencintaimu bukan hanya untuk hari kemarin, hari ini atau hari-hari yang akan datang, tetapi aku mencintaimu sebelum hari- hari dilahirkan dan sebelum waktu belajar merangkak merangkak di atas jaman. Anak-anakku, di manapun ayahmu berada, yatim-kan dirimu untuk sementara, dan ingatlah, jangan pernah menganak sungaikan mata air airmata, kecuali untuk bermunajat pada-Nya, karena Allah tak akan memberi cobaan di luar kuasa hamba-hamba- Nya. *** Anak-anakku, tetaplah menatap masa depan. Jangan takut menghadapi hidup dan kehidupan, yakinilah peradaban tak sepenuhnya dibangun di atas kebiadaban, sejujurnya kita hidup miskin bukan semata-mata karena ayahmu, tetapi juga karena bangsa kita telah di nina bobokan dengan pengangguran, dengan kemiskinan, dengan minimnya lapangan pekerjaan, hingga ayahmu harus merantau ke ranah seberang untuk mencari penghidupan. Biarkan saja untuk saat ini kita mengkristalkan air mata hingga . Kalimat “Menjandakan Diri”saya petik dari buah pemikiran Drs. Antilan Purba, M.Pd. 40
  40. 40. ayahmu tiba, agar kemilaunya dapat mencercahkan semburat kebangkitan. Ya anakku, orang boleh bilang kita tak punya masa depan, tetapi buktikanlah kemiskinan bukanlah penghalang untuk meraih masa depan. Dan ingat pesan ibu, jangan pernah belajar dari kegagalan, karena gagal bukan untuk dipelajari tetapi untuk dihindari. Yang terbaik belajarlah dari mencontoh keberhasilan, karena itu akan memberikan semangat hidup yang lebih bagimu. Anak-anakku, kita harus belajar memaknai hidup. Bukan dengan sekedar aritmatika yang sederhana, karena hidup tak sesederhana yang kita pikirkan, tetapi juga tak sesulit yang kita bayangkan. Belajarlah memaknai hidup dengan jarimatika, karena hidup serupa lima jari kita sendiri. Kelingkingmu adalah binar asa yang mewujud dalam gita cita-cita, jari manismu serupa dengan mimpi- mimpi yang mesti tertunda dan masih membayang di pelupuk mata, jari tengahmu adalah keniscayaan untuk menggapai mimpi- mimpimu dengan terpaan dan tempaan ujian yang sesungguhnya, jari telunjukmu adalah penuntunmu untuk mengisyaratkan keniscayaan yakinmu akan segenap makrifat-Nya, dan ibu jarimu adalah penantian yang telah menemu keberhasilannya. *** Menanti. Aku masih saja menanti. Tetapi penantianku bukan lagi sekedar penantian, sama sekali bukan! karena berkat penantian ini aku hidup dengan keyakinan yang maha yakin, dengan sabar yang kian mengakar. Sendiri. Aku memang masih sendiri. Tetapi kesendirianku bukan lagi kesendirian, sama sekali bukan! Karena berkat kesendirian ini aku merasakan nikmatnya kemandirian, sebuah kebangkitan untuk berdiri sendiri dengan memapah anak- anakku menjalani terjalnya perjalanan kehidupan. Sunyi. Aku memang didera sunyi. Tetapi sunyiku tak bisa lagi dikatakan sunyi, sama sekali tidak! Karena di balik kesunyianku terdengarnya gelegar semangat untuk selalu dan akan selalu menjadi panutan bagi anak- anakku.. Sepi memang berserak, dan tetap akan kubiarkan berserak, 41
  41. 41. agar dapat kujadikan bercak agar kesetiaanku tidak pernah terkoyak, walau uji nasib seakan tak pemah terselesaikan, namun aku akan mencoba dan akan terus mencoba menyelesaikan setiap ujian dengan rumus kesetiaan di relung hati yang paling dalam. *** Hidupku telah kuzakatkan pada risalah keyakinan, telah kuinfakkan di atas sajadah kesetiaan, telah kusedekahkan untuk penantian. Ya, penantian yang hingga kini masih mengeja dzikir- dzikir kerinduanku, kerinduan anak-anakku, pada imam kami. Ya, pada lelakiku; Suami sekaligus ayah bagi anak-anakku. Tak ada lagi kemungkinan pada penantian ini, karena kemungkinan hanya menahbiskan penderitaan, hanya menajwidkan penyesalan. Jangan berpikir aku tak pernah memikirkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam penantian ini, karena telah berpuluh, beratus, bahkan beribu kali aku memikirkan apa yang seharusnya aku pikirkan, tetapi sekali lagi pikiranku hanya dibayangi penantian itu sendiri. Maka dari itu, aku telah mengambil jalan pintas, untuk menjadikan penantian ini sebagai jalan penghidupan, kelak jika lelakiku; Suami sekaligus ayah bagi anak-anakku telah kembali maka jalan penghidupan ini akan kami susuri jauh semakin jauh, agar jejak-jejak pertemuan di antara kami mengalahkan jumlah jejak penantian yang sempat kujalani. Aku tak pernah meragu, jika penantian ini akan bermuara pada pertemuaan, suatu ketika nantinya. Tetapi, untuk saat ini, aku mesti menjalani kehidupan dengan ringkih kaki penantian. Suka atau tidak, aku harus menyukainya. Karena rasa suka tidak harus diawali rasa cinta, sebab aku menyukai perjalanan yang kujalani saat ini karena awalnya aku membencinya. Ya, semula aku membenci penantian, tetapi pada akhirnya aku mulai mencintai penantian ini, bahkan teramat mencintainya. Karena penantian telah mengajarkan makna cinta. Benar adanya, cinta tak harus dikatakan tetapi mesti dibuktikan, dan lelakiku; Suami sekaligus ayah bagi anak-anakku, 42
  42. 42. bertahun ini tak pernah lagi mengatakan cinta pada kami, tetapi dia telah membuktikan cintanya dengan berjuang untuk mencari penghidupan bagi kami. Jika memang cinta yang memisahkan kami, maka cinta pulalah yang akan menyatukan kami, karena itulah aku tak lagi menyesali kehidupan ini, tak lagi menyesali penantian ini, karena penantian ini aku menemukan cinta yang maha cinta, karena penantian ini aku menemukan perasaan lain yang mungkin, tak pernah terpikirkan. Ya, perasaan “Cinta itu sejati”, karena setelah penantian ini mejamah setiap sendi hari-hariku, baru aku mengerti kesejatian cinta bukanlah bersumber dari apa yang kita pikirkan tetapi bersumber dari apa yang kita rasakan dan kita dapatkan dari pembuktian. Dan, lelakiku; Suami sekaligus ayah bagi anak- anakku, telah menanamkan perasaan itu sebelum dan sesudah dia pergi meninggalkanku, sebelum dia pegi telah dibuktikan persaan cintanya dengan meneteskan benih-benih kerahimku dan mewujud dalam anak-anak kami, buah cinta kami, dan setelah dia pergi, masih tetap kurasakan cintanya lewat penantian ini. Penantian yang membuktikan bahwa kepergiannya adalah pembuktian atas segala perasaan cintanya pada kami, karena dia pergi demi penghidupan kami. Sungguh aku bangga memiliki suami yang mampu mengajarkan makna lain dari penantian. *** Menanti. Sendiri. Sunyi. Sepi pun berserak. Kesendirian pun memuncak. Rindu pun bergolak. Marah, marah, dan marah, tetapi untuk apa lagi? Serambi KOMPAK, 05 Juni 2009 Kepada para penanti.... 43
  43. 43. DIA BUKAN DIRINYA Tri Andini Ayuningtyas Cukup lelah aku menangis hari itu, tak sanggup ku menatap tubuhnya terbujur kaku, dingin dan bisu. Ardi Prasetyo, sosok idola di sekolahku, telah meninggal karena kecelakaan. Aku benar-benar tak kuasa menahan pilu, terlalu cepat dia meninggalkanku. “Sabar ya die”, Rhein coba menenangkanku. Diah Handina, itu nama panjangku, tetapi teman-teman lebih sering memanggilku dengan singkat, ‘Die’. Ardi pacarku. Kami berpacaran sejak masuk SMA kelas 1, dan saat ini kami tinggal menunggu pengumuman kelulusan. “Die, kita pulang ya…” “Kau harus istirahat, tubuhmu sudah cukup lelah “, Rhein kembali merangkul pundakku. Rhein Puspita, teman karibku sejak taman kanak-kanak, dia cukup mengerti siapa aku. “Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama di sini, menemani Ardi Rhein “, Jawabku tanpa memandang mata Rhein. “Die, sudahlah, ikhlaskan kepergian Ardi… Jangan bersedih terus, biarkan Ardi tenang di sana, ayolah Die, hari semakin gelap “, Rhein mencoba membantuku untuk berdiri. Aku hanya bisa menangis tunduk memandangi gundukan tanah kuburnya. *** “Die…kita lulus. Yeee…akhirnya aku bisa jadi anak kuliahan 44
  44. 44. die…” Rhein berteriak kegirangan saat mengetahui kami lulus ujian nasional. “Tenang Rhein Puspita, tingkahmu seperti anak kecil, mana pantas anak kecil kuliah” Aku coba meledek Rhein yang selalu tak bisa mengontrol tingkahnya didepan umum. “Ahhh…biarin,, aku nggak peduli, seluruh dunia wajib merayakan kelulusan kita” Hahahaha… Rhein tertawa lepas, aku pun ikut tertawa, dan tawa kami memecah suasana basi sekolah. Tiba-tiba…! “Die..” suara lembut memanggilku, aku tersentak, tiba-tiba aku teringat ardi. Aku berbalik badan dan …! Oouu… “Selamat ya, Ardi lulus terbaik, sayang dia tidak sempat merasakan kebahagiaan itu” Dia mengulurkan tangan hendak berjabat denganku, Dimas Nugraha, pria yang sama-sama tampan seperti Ardi, Suaranya pun hampir sama, sempat aku berfikir menggantikan sosok Ardi dengannya, tapi buatku Ardi tak tergantikan. Salah satu idola juga, tetapi pamornya terkalahkan oleh Ardi, karena Dimas cenderung lebih suka sendiri dan pendiam. “Eehmm…ku rasa tak perlu kau memberikan selamat itu, Ardi takkan mendengarnya!” “Eh, ada angin apa kau mau berbicara denganku? Bukannya kau selalu berbicara hanya dengan penjaga sekolah saja? 45
  45. 45. Aku mengalihkan pembicaraan dengan mulai meledeknya sambil tersenyum. “Ahh, tidak juga. Nggak lucu juga kan aku udah tiga tahun disini cuma pernah bicara dengan pak kusman, penjaga sekolah kita. Sebenarnya sudah lama aku ingin berbincang denganmu, tetapi aku sungkan dengan Ardi”, dia tersenyum malu. “Mmmm…kabarnya kau lulus bebas testing kan, dimana?” “Ia, Alhamdulillah..aku lulus di UI, jurusan Psikologi’, bagaimana denganmu Die?” Lama kami berbincang, sampai kamipun pulang bareng, tetap besama Rhein, asisten pribadiku. *** Satu Tahun berlalu, aku meneruskan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, aku tidak lagi satu kampus dengan Rhein, dia memilih ke Jakarta untuk meneruskan kuliah. Dimas, malaikat cute kepunyaan Rhein juga di Jakarta, ada kemungkinan Rhein sengaja mengikutinya, karena diam-diam Rhein mengagumi sosok Dimas. Sejak kepergian Ardi, aku tidak berani menjalin hubungan special dengan laki-laki lain, aku takut ditinggal lagi, dan sosok Ardi masih belum tergantikan. Sejak awal kuliah, aku bertemu dengan teman baru, Rhirie namanya, sosoknya cukup bisa menggantikan Rhein yang selalu membuatku merasa tak sendiri, tetapi ada perasaan aneh yang kurasakan dengan Rhirie, aku berusaha menepisnya, namun semakin hari kami semakin dekat, dan rasa itu semakin besar. Tingkah laku, gaya abicara, sifatnya, dan semua-semuanya persis dengan Ardi. Sampai aku sempat berfikir kalau dia adalah Ardi dan aku ingin kembali memilikinya, tapi ini gila ! 4
  46. 46. “Die..!” “Ayo cepat makannya, 20 menit lagi kita ada kuliah, Professor itu terkenal cukup kiler lho, ayo cepat Die!” Rhirie memanggilku dengan keadaan mulutnya penuh dengan makannya, persis seperti Ardi. Oh Ardi, benarkah itu kamu ? “Rhie, ada yang ingin aku katakana kepadamu,,” “Ya sudah, katakan saja, kita tidak punya banyak waktu,” “Aku serius Rhie?!” Nada suaraku meninggi, aku kesal Rhie sibuk dengan makan siangnya. “Aku juga serius Die, katakan saja, kan bisa kau bicara sambil makan,” Ahh..payah ! Aku meninggalkan Rhie dan makan siangku, aku pergi menuju kelas. Rhirie masih sibuk dengan makan siangnya. Sampai di kelas, dia memarahiku, karena aku pergi begitu saja, tanpa membayar makanan yang kai pesan, padahal aku sudah janji kalau aku yang traktir. Hehehe...Rhie, aku menyangimu, sama seperti aku menyayangi Ardi, tahu kah kau tentang itu? *** “Die, aku akan pindah kuliah, aku harus ikut ayahku ke Jepang, jadi temani aku ke Biro Rektor ya untuk mengurus administrasinya.” “Kau serius Rhie,” aku benar-benar kaget, rasanya seperti nafasku berhenti. Aku harus mengatakan apa yang kurasakan sebelum Rhie pergi, tapi tidak mungkin kami menjalani hubungan itu, Rhie juga perempuan. “Oia, kemarin kau mau bilang apa? Ayo katakan sekarang, 4
  47. 47. sebelum aku pergi lho, ha..ha” “Rhie…!” “Hmmm…” “Rhie…!” Suaraku semakin keras, “Ia, ada apa Die, nggak usah teriak begitu, aku dengar kok,” “Rhie, aku mau ngomong serius, bisa kau hentikan mobilnya sekarang!” “Huuhh…ia, aku berhenti, mau ngomong apa?” Rhie memandangku, sesaat mata kami bertemu. “Hei…katanya mau ngomong, kok malah melamun sih ?” Rhie mengguncang tubuhku, aku tak bisa berkata saat memandangi dalam wajah rhie, yang semua kelakuannya mengingatkanku kepada Ardi. “Aku menyayangimu Rhie” Aku memeluk tubuhnya erat, erat sekali, sama seperti aku memeluk tubuh Ardi sesaat sebelum dia pergi. “Hahahaha….” “Aku tahu Die, aku juga menyayangimu sebagai sahabat terbaikku sejak kuliah, tetapi aku harus pergi, aku juga sebenarnya tidak ingin pergi, tetapi ayahku memintaku untuk ikut dengannya, dia tidak mau aku tingal sendiri di sini.” Aku menangis… “Bukan itu Rhie, sayangku lebih dari sahabat, “ “Aku menyayangimu seperti aku menyayangi Ardi, kau ingatkan, kekasihku yang telah meninggal, kelakuan dan tingkah lakumu selalu memaksaku untuk mengingatkanku dengan Ardi, aku mau kau tetap disini rhie, menggantikan Ardi…” tangisku semakin menjadi. “Die, kau gila ya….!” “Kita ini perempuan, kau terlalu memikirkan Ardi, sampai- sampai kau menganggapku sama seperti dia.” “Ya..aku gila, karena kau hadir dengan keadaanmu yang sama seperti Ardi, mengapa aku harus mengenalmu Rhie, aku 4
  48. 48. benar-benar menyayangimu….” “kau Ardi kan ?” “Kau Ardi kan Rhie?” Tangisku memecah. Rhie bingung, dengan ragu dia memelukku. Pelukan itu, sama hangatnya dengan pelukan Ardi. ohh... Ardi. Tahukah kau aku tersiksa sejak kau tinggalkan, Aku benar- benar merasakan Rhie adalah Ardi. Rhie coba menenangkanku.. “Hei, dengar…!” “Aku bukan Ardi, aku Rhie, aku juga menyayangimu, tapi tidak bisa lebih dari seorang sahabat, berfikirlah rasional, Ardi tidak mungkin hidup kembali, kau terlalu memikirkannya” “Kita tetap sahabat Die. Lusa aku pergi, jaga dirimu baik- baik ya, lupakan aku sebagai sosok Ardi, dan ingat aku hanya seorang Rhie, Rhirie Puspita, ya…!” *** Gila….! Ini benar-benar gila, rasa sedihku sama seperti saat aku mendengar kematian Ardi, mengapa aku menjadi seperti ini? Benarkah aku menyayangi Rhie sebagai Ardi, atau Rhie yang asli, sebagai sahabatku? Ardi…..aku hampir gila memikirkan ini! *** Krringgg…krringgg…. ”Halo..” 4
  49. 49. “Halo die, ne aku rhie,” “Kau baik-baik saja kan, ?“ “Aku sudah dibandara, 20 menit lagi pesawat ku take off, maaf aku sengaja tak memberitahukan pada mu pukul berapa aku pergi, aku tak ingin melihat kau sedih, Die, lupakan aku sebagai Ardi ya, karena aku bukan dia, aku Rhie sahabatmu, nanti setelah aku sampai aku akan mengabarimu lagi, jaga dirimu ya. Die, aku menyayangimu sebagai sahabat terbaikku…” Tit…tit….tit… Teleponnya terputus sebelum aku sempat mengatakan apapun kepadanya, aku menelpon kembali, “Ya…ada apa die, ada yang ingin kau sampaikan?” “Hati-hati ya Rhie, aku juga menyayangimu, sebagai sahabat terbaikku,” “Ya, pasti..” “aku akan merindukanmu Rhie…” “aku juga die, tapi kau harus merindukan aku sebagai Rhie ya, bukan sebagai Ardi” Kututup teleponku. Kutatap tajam dan dalam wajah ku di depan cermin, Inikah Die yang dulu? *** Penghujung Mei, 2009 Ayuningtyas 50
  50. 50. ANTARA SAY DAN LELAKI ITU A Aulia Andri Saya benar-benar marah sekarang! Saya tak dapat menahan emosi yang datang bergulung-gulung seperti ombak yang menerpa dada saya. Saya benci lelaki ini. Lelaki pengecut. Saya memang unik. Saya tergantung begitu saja di luar tubuh lelaki ini. Saya dulunya berpikir bahwa saya tak punya kemauan sendiri. Tetapi semakin dewasa, saya kemudian menyadari bahwa saya mempunyai kemauan sendiri. Dan jelas, itu otoritas saya. Tak seorang pun termasuk lelaki ini yang bisa mengutak-atiknya. Saya sudah sering membicarakan kemarahan saya pada lelaki ini. Sudah sering pula saya memberi peringatan padanya. Saya tidak suka diperlakukan seperti ini. Namun, dia tetap saja tak mau mendengar kata saya. Dia acuhkan semua permintaan saya. Keterlaluan sekali dia. Kalau sekarang saya menceritakan ini pada Saudara dan Saudari, itu karena saya sudah tidak tahan lagi dengan perangainya. Sebenarnya saya tak enak hati jika menceritakan persoalan kami ini pada Saudara-Saudari. Ini kan urusan kami berdua: antara saya dan dia. Dan saya yakin, dia juga tidak akan senang jika mengetahui saya menceritakan masalah ini pada Saudara-Saudari. Pasti nanti dia akan menuduh bahwa Saudara-Saudari sebagai pihak ketiga. Saudara-Saudari pasti dituduh telah mencampuri urusan orang lain. Melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Saudara-Saudari akan dituntutnya di muka pengadilan. Mengerikan sekali. Tapi jangan takut. Saya akan menyembunyikan cerita ini hanya untuk Saudara-Saudari. Tetapi tolonglah saya juga, jangan 51
  51. 51. ceritakan urusan ini pada orang lain lagi. Itu pun kalau Saudara- Saudari menyadari akibat yang telah saya tuliskan di atas. Kalau pun nanti ketahuan bahwa saya membeberkan urusan kami pada Saudara-Saudari, saya akan berusaha menyangkalnya. Saya akan melindungi Saudara-Saudari. Percayalah.Yakinlah. Urusan kami ini memang pelik. Rumit. Sebenarnya dia yang mengawali keretakan hubungan kami. Dasar lelaki tidak tahu diri. Saya sudah merelakan diri saya untuknya sepanjang hidup. Mengabdikan raga saya kepadanya. Mendampinginya kemanapun dia pergi. Tapi ya itu, dasar lelaki hidung belang. Dia telah mengkhianati saya. Betapa sakitnya hati ini, dinistakan sepanjang hidup saya. Saya benar-benar menderita dibuatnya. Saya sebenarnya telah mencoba untuk membicarakan masalah kami. Saya ajak dia bicara baik-baik. Saya ajak dia berdiskusi untuk mencari pemecah ketegangan hubungan kami. Hasilnya, dia memang tak mau mendengar saya. Dia menganggap enteng diri saya. Dia tidak menghargai saya. “Sudahlah, kamu tak usah ikut campur urusan saya. Aku mau pergi dan tidur dengan perempuan manapun, kamu tak berhak melarangku,” begitu katanya ketika saya mempersoalkan tabiatnya. “Tapi saya juga punya perasaan. Kamu tak bisa berbuat begitu. Kamu harusnya memikirkan perasaan saya,” saya mencoba membantahnya. Lalu dia menjawab, “Heh....kamu itu jangan banyak bicara. Aku yang berhak mengatur hidupku dan hidupmu.” “Saya tak membantah bahwa saya adalah milikmu. Tapi tolong hargai saya. Sudah saya katakan tadi, saya juga punya perasaan. Jadi, tolong jaga perasaan saya ini,” saya membalas dan 52
  52. 52. hampir saja menangis. Dia malah tertawa. Keras sekali. Hingga saya malu dengan tawanya ini. Semua orang melihat kami ketika itu. Itu karena suara tawanya yang bisa mengalahkan dentum house music yang mengurung kami. Kami memang sedang berada di sebuah ruangan yang hingar bingar. Dia kemudian menenggak anggur merah dari gelas tinggi yang dipesannya. Saya diam saja. Sambil tergeletak dalam malu. Saudara-Saudari, dunia memang sudah gila. Malam ini, kami membicarakan persoalan yang pelik ini di sebuah pesta telanjang. Dia yang memaksa saya ikut. Mulanya dia cuma mengatakan teman- temannya akan mengadakan sebuah pesta yang heboh. Saya tak paham maksudnya. Ketika sampai ke tempat remang-remang ini, barulah saya tahu apa yang dimaksudnya heboh itu. Disini semua orang tanpa busana. Dia bugil. Saya apalagi. Tak bisa terkatakan malunya saya. Mulanya saya sudah mengatakan tak mau. Tapi dia memaksa. Dia kemudian melorotkan semua yang membalut tubuh saya. Jadi sejak itu semua orang bisa melihat saya dengan jelas. Ih.... mengerikan sekali. Saya benar-benar tersiksa, Saudara-Saudari. Tolonglah, saya benar-benar sudah muak dengan dia. Lelaki yang memiliki saya. Lalu kami melanjutkan percakapan kami yang terputus karena tawanya tadi. Disela-sela itu di depan kami berseliweran lelaki dan perempuan tanpa busana. “Kamu senang dengan pesta ini?” dia bertanya. Sambil menatap saya. “Apa sih enaknya pesta ini?” saya balik bertanya. “Saya sudah bosan dengan gaya hidup kayak kamu ini,” sambung saya. “Bosan. Hahahahah.....kamu boleh saja bosan. Tapi apa daya kamu?” “Oh ya! Kamu menganggap saya tak punya daya?” 53
  53. 53. “Ya! Kamu memang makhluk yang lemah.” “Apa maksudmu lemah?” “Kamu kan gak mungkin hidup tanpa aku.” “Itu kan katamu!” “Lihat saja.” “Mungkin kamu yang tidak bisa hidup tanpa saya.” “Mana mungkin.” “Mungkin saja.” “Nggak mungkin!” “Mungkin!” “Lantas, kalau aku tak bisa hidup tanpa kamu, maunya apa?” “Entahlah.” “Kamu mau meninggalkan aku?” “Itu baru tidak mungkin.” “Nah, berarti kamu kan yang tidak bisa hidup tanpa saya.” Dia tertawa lagi. Kali ini mungkin terbahak. Atau keduanya. Tertawa sambil terbahak-bahak. “Kamu akan tahu nanti. Saya akan melakukan pembalasan.” “Kamu mengancam ya?” “Tidak.” “Lho, itu tadi, kamu mengancam saya.” “Kamu yang merendahkan saya.” “Siapa yang bilang?” “Ucapanmu tadi yang mengatakannya.” “Jangan begitu. Aku tidak bermaksud seperti itu lho.” “Kamu memang gombal.” “Siapa yang gombal?” “Kamu.” “Aku?” “Ya.” “Memangnya kenapa kalau aku gombal?” 54
  54. 54. “Aku tidak suka.” “Kenapa?” “Karena kau melakukan itu pada semua perempuan.” “Mereka yang mau itu.” “Mereka terpaksa menerimanya, tahu kamu!” Aku menekan suara pada suku kata terakhir. “Ah, sudahlah. Kita kan saling membutuhkan. Aku akui itu. Lupakan saja perkataanku tadi.” “Mana bisa.” “Kok begitu.” “Ya, saya bilang mana bisa. Kamu sudah menyakiti saya.” “Aku kok nggak merasa menyakiti kamu?” “Huh....” “Lalu.” “Lihat saja, nanti saya akan melakukan pembalasan.” “Hah.....pembalasan. Kamu ingin mendendam padaku. Keterlaluan kamu!” Lelaki itu hampir saja membanting gelas tinggi yang berisi anggur merah yang menggantung di jarinya. Matanya mendelik. Mulutnya hendak mengucapkan banyak lagi kata. Tapi tak ada yang keluar. “Kamu yang keterlaluan!” Saya seperti mendapatkan peluang untuk menyudutkannya. “Apa kamu bilang?” Lelaki itu mendelik. Biji matanya seolah mau melompat keluar. Mungkin kalau saja tak dibungkus kelopak yang dalam hingga menjadikan sosok matanya sendu dan indah, biji itu akan terlepas. Dia lalu melanjutkan, “Kamu yang tak tahu diuntung. Sudah aku beri kamu makan. Sudah aku beri kamu pakaian. Sudah aku jaga kamu. Tapi kamu tak mau menurut kataku. Dasar.” 55
  55. 55. “Siapa yang tak tahu diuntung? Kamu yang tak tahu diri. Seenaknya saja kamu pakai saya. Tak peduli siang atau malam. Saya selalu setia melayani kamu. Dimana pun kamu mau, saya selama ini tidak pernah protes. Dengan perempuan manapun saya tidak pernah protes. Dengan gaya apapun, saya tak pernah protes. Mau masuk dari depan atau dari belakang, saya tidak pernah protes. Jadi siapa yang tak tahu diuntung, kamu atau saya?” Berondongan kata-kata itu mengalir. Saya hampir-hampir menangis. Saya tak mampu lagi berkata-kata. Semua tumpahkan kekesalan saya pada dia dengan menangis. Saya lihat dia terdiam. Tampaknya dia seperti merenungi semua perkataan saya. Wajahnya tampak sedikit berubah ketika menatap saya. Saya biarkan saja dia begitu. Maksudnya agar dia sadar. Tapi perempuan itu memang bangsat. Ia muncul ketika kami sedang melakukan pembicaraan yang maha serius ini. Dengan senyum nakal. Dengan tubuh molek dan kulit putih mulus. Dengan kerlingan mata yang menggoda semua lelaki, termasuk dia. “Kok dari tadi duduk sendiri?” perempuan itu berkata. Ia kemudian meletakkan pantatnya di kursi sebelah dia. Tubuhnya tak dibalut busana. Alat-alat tubuhnya yang merangsang itu berjuntai- juntai. Dia menatap wanita ini dengan pandangan yang sudah sangat berbeda ketika menatap saya tadi. Perempuan ini memang perempuan bangsat. Mungkin ia bangsanya pelacur. Mana ada sih perempuan yang mau bugil di tempat seramai ini kalau bukan pelacur. Dasar pelacur! Ia juga tidak menganggap saya ada. Ia tadi bertanya bahwa lelaki ini cuma sendirian. Jadi saya ini dianggapnya apa? Saya benar-benar ditiadakan. Keberadaan saya dialpakan. Mereka kemudian terlihat berbicara sambil tertawa-tawa. Seperti 5
  56. 56. tadi, tawa lelaki ini memang besar. Semua orang selalu menatap ke arah kami saat dia tertawa. Sedang perempuan itu, tawanya kayak kuntilanak. Cekikikan hingga bahunya terangkat-angkat. Hingga buah dadanya terayun-ayun. Jadi mereka tertawa-tawa. Kadang mereka juga berciuman. Lama sekali. Saya cuma berusaha tidak menatap mereka. Saya memang telah ditiadakan. Jadi lebih baik saya membuang muka. Mereka masih tertawa-tawa dengan lebih mesra. Saya jelas tak enak dengan suasana ini. Lalu setelah malam semakin larut. Dan hawa dingin di dalam ruangan ini makin dingin. Mereka memutuskan untuk tidur. Tentunya tidurnya bersama. Kalau tidur seorang-seorang, tak perlulah bertemu disini. Saya diajak lelaki itu. Kami berada dalam sebuah ruangan 3X3 meter. Disini lebih hangat ketimbang diluar sana. Perempuan itu merebahkan tubuhnya di ranjang yang ada di tengah ruangan. Terlentang. Pasrah. Dia sudah tak sabar. Diterkamnya perempuan itu dengan kebuasan birahi. Mereka kembali tertawa. Lelaki itu tertawa kencang-kencang. Perempuan itu tertawa cekikikan. Persis mak Lampir. Mereka bergulingan. Kadang lelaki itu di atas. Kadang di bawah. Kadang mereka juga terjatuh dari ranjang. Kemudian bergulingan lagi di atas karpet. Berdekapan dengan bibir saling terpagut. Ketawa lagi. Merintih-rintih lagi. Mengerang-ngerang lagi. “Kamu memang lelaki perkasa. Kami mampu merangsang saya dengan kesempurnaan birahi,” perempuan itu berbisik di telinga dia. Sambil terengah-engah karena terangsang. “Kamu juga menggairahkan. Akan kumakan kamu malam ini. Akan kulumat seluruh tubuhmu malam ini,” lelaki itu berteriak 5
  57. 57. seperti membaca puisi. Saya diam saja memperhatikan mereka. Sebenarnya saya bisa saja mulai beraksi. Tapi itu tak saya lakukan. Saya hanya diam. Tanpa ekspresi. Saya tahu apa yang akan saya lakukan malam ini. Saya sudah menyusun rencana ketika dia mengajak saya masuk ke ruangan ini. Sebenarnya saya sudah tahu apa yang diinginkannya. Saya sudah bisa menebak debar jantungnya yang berdetak kencang. Saya dapat merasakan sorot matanya yang merah dengan nafsu birahi. Saya sudah tahu ketika pori-porinya semakin melebar. Saya sudah sadar ketika lidahnya melet-melet di bibir. Saudara-Saudari saya memang terpaksa menuruti kemauannya selama ini. Saya ikuti semua keinginannya selama ini. Saya tak menolak dia mau dengan perempuan macam apapun. Mau dengan gaya apapun. Saya tak bermaksud membela diri ataupun munafik bahwa saya menikmati petualangannya selama ini. Terus terang saya menikmati perempuan-perempuan yang disajikannya pada saya. “Hei kawan, apalagi yang kamu tunggu. Laksanakan tugasmu. Aku membutuhkan kamu malam ini, kawan. Lihat saja, perempuan itu sedang menunggu kamu dan aku. Ayolah kawan,” lelaki itu berkata padaku. Dengan kata-kata membujuk. Aku diam saja. Tak kugubris bujukannya. “Ehmmm....kenapa sih. Kok kamu cuma berdiri saja disitu. Ayo dong, aku sudah tidak tahan,” perempuan itu merayu dia. “Ayolah kawan. Bangunlah. Jangan buat aku malu malam ini. Kita kan sahabat. Jangan kecewakan ia malam ini,” lelaki itu terus membujukku. 5
  58. 58. “Saya tidak mau. Saya sudah bosan,” saya menjawabnya. Lelaki itu terkejut. Dia pasti tak menyangka saya sanggup melawannya. Dan dia hampir saja marah. Tapi bara di dadanya tak mau menjadi api karena ada api birahi yang telah lebih dulu menguasai disana. “Kawan, aku sudah cukup sabar mendengar semua ocehanmu malam ini. Jangan sampai aku kehilangan sabar.” “Silahkan. Saya tidak akan menurutimu malam ini. Silahkan.” Saya menantangnya tanpa menunjukkan perlawanan. “Ah, kamu memang bodoh. Lihat, perempuan itu sudah menyerah untuk kita. Apalagi yang kamu tunggu. Bangunlah!” Saya tak bergeming. “Kamu mau melawanku ya?” Saya terdiam. Mulai terasa ada rasa jeri dan takut. Dia kelihatan mulai marah. Warna merah di matanya tadi yang saya lihat disaput kabut birahi, kini berganti dengan merah api amarah. “Kalau kamu melawanku! Terpaksa aku akan menghukummu,” suaranya menggelegar seperti halilintar. “Sudah saya bilang tadi, silahkan saja. Saya tidak takut.” “Bangsat! Kupotong kamu. Kupotong kamu. Akan kuiris kamu sampai berdarah-darah.” Saya bergidik. Dia pasti sungguh-sungguh. Dia pasti tidak main-main. Lelaki itu kemudian menyambar pisau yang tergeletak di 5
  59. 59. meja di dalam ruangan ini. Pisau itu biasanya untuk memotong buah apel. “Apakah kamu masih keras kepala?” Dia meletakkan pisau itu dekat dengan leher saya. Gayanya benar-benar mengancam saya. Setelah itu ternyata dia benar-benar mengiris saya. Jadi bukan langsung memotongnya. Begitu cairan merah muncrat membasahi karpet yang juga berwarna merah, perempuan yang tergeletak di ranjang itu menjerit histeris. Wajahnya ditutup rapat-rapat untuk menahan pandangan matanya yang tak tahan menyaksikan saya diiris. Sungguh kejam lelaki ini. Dia tega berbuat seperti ini pada saya. Tapi sudahlah saya juga sudah muak bersamanya. Saudara-Saudari, untuk pertama kali sepanjang hidup lelaki itu, saya menolak keinginannya malam ini. Saya telah tunjukkan bahwa saya punya otoritas sendiri. Saya telah buktikan bahwa saya bisa menolak penistaan yang dilakukannya malam ini. Saya tak ingin lagi ada perzinahan. Cukuplah yang kemarin-kemarin itu. Saya tak mau lagi mulai malam ini. Telah saya katakan diatas. Saya ini memang unik. Saya tergantung begitu saja, di luar tubuh semua lelaki. Dan kalau saya sedang marah seperti ini, saya akan enggan berdiri tegak bak tiang bendera. Saya akan cuek bebek. Saudara-Saudari, pasti mahfum, kemarahan saya kali ini telah menimbulkan kepanikan yang luar biasa dari lelaki itu: sang pemilik saya. Karena saya adalah Mr Happy. Pancoran, Agustus 2004 0
  60. 60. CAT AN-CAT AN SITU AT AT “ Kepada korban Situ Gintung ‘kesabaran akan membawa kebahagiaan’ ” Y. Artika Purba Mataku hilang. Jari-jariku pun berhamburan, seperti puntung-puntung rokok yang bertebaran di jalan-jalan. Banyak luka memar di sekujur tubuh. Lukanya menusuk-nusuk pembuluh darah dan merobek-robek pori-pori sampai ke saraf-saraf otak. Tak bisa dikatakan bagaimana prosesnya dan bagaimana kejadiannya. Tiba-tiba semuanya jadi gelap. Semuanya bersetubuh dengan air bercampur lumpur. Semuanya tertimpa-timpa papan dan besi. Semuanya hilang dan kehilangan. Seperti biasa, selesai makan malam bersama keluarga. Istriku selalu saja memintaku memanjakannya. Kami duduk di beranda rumah. Ia mulai bercerita tentang putra pertama kami yang makin lucu. Tetes-tetes hening terasa kian berirama saat ia tertawa. Aku menjadi orang yang paling bahagia di atas dunia. Tapi, kebahagiaan yang sebentar datang itu terperosok ke dalam kesendirian yang gelap menjadi seonggok bangkai camar yang membeku di dasar lautan terpekat. Hempasan ketakutan itu berkali- kali muncul saat tangisan hujan menderu dalam teropong angin laut meneriakkan panggilan-panggilan pada nyanyian angkasa yang bergema histeris. Masih kuingat saat halilintar itu menjerit-jerit di telingaku. Air- air langit mulai jatuh berkejar-kejaran di tanah merah ini. Gemuruh demi gemuruh mendobrak jantung sampai memandikanku dengan air asin yang bernama peluh. Saat itu, aku terbangun. Kulihat anak dan istriku tertidur pulas di sampingku. Ada rasa takut kehilangan menyergapku, membawaku masuk ke dalam sel tak berongga. Aku sesak. 1
  61. 61. “Tolong…tolong!” Aku tersekat. Hujan lebat itu terus saja mengguyur atap-atap rumah kami, memandikannya terus-menerus tanpa henti. Tiba-tiba terselip kekhawatiran tentang Situ. Waduk di atas permukaan perumahan kami. *** Memang, beberapa hari ini, warga melihat banyak rembesan air yang yang keluar dari pori-pori tanggul. Struktur tanah pun jadi gambut. Baru saja kemarin aku melihat langsung ke sana. Namun, entah mengapa rembesan-rembesan itu perlahan- lahan berubah jadi titik-titik air mata istri dan anakku. Cepat-cepat kuurung kekhawatiran itu. “Itu hanya perasaanku saja. Lagi pula, mana mungkin waduk itu jebol. Wong wes puluhan tahun koq.” Pikirku Situ, lengkapnya Waduk Situ Gintung memang sudah dibuat sejak zaman penjajahan Belanda. Tanggul pada waduk itu difungsikan untuk menahan air yang meluap sampai 2 meter tingginya. Tetapi selama ini, keadaan waduk baik-baik saja. Warga kelurahan Cirendeu di dekat waduk itu juga aman-aman saja, karena memang belum pernah terjadi kebocoran tanggul. Selain difungsikan sebagai penahan air, waduk Situ juga dijadikan obyek wisata. Banyak remaja-remaja yang datang ke Situ menikmati keindahan danaunya. Tapi, isu-isu dari warga setempat mengatakan banyak remaja melakukan tindakan amoral di sana. Tapi, aku pura-pura tidak tahu saja. Aku dan keluargaku memang bukan orang asli Situ. Kami pendatang. Baru satu tahun lebih kami memutuskan untuk tinggal di sana. Bisa dikatakan aku dan istriku adalah pengantin baru 2
  62. 62. yang sedang menikmati keindahan berumah tangga. Aku sangat bahagia mempunyai istri yang cantik dan sangat baik. Kebahagiaan itu tambah terasa ketika istriku berhasil memberiku seorang putra. Ya, aku sangat bangga karena putraku sangat mirip denganku “Ah, kesempurnaan apalagi yang aku harapkan dari seorang istri yang cantik dan putra yang lucu.” Aku sangat menikmati hari-hariku bersama keluargaku, dari memandikan Muhsin putra kecilku, menyuapinya, menimangnya hingga ia bisa berlabuh dalam kepulasan. Tapi, entah mengapa malam ini, pekik tangis menguncinya, menyuruhnya mengunyah- ngunyah keterpisahan. Berkali-kali ia terjaga. Berkali-kali pula kucoba menimangnya di atas hembusan angin berharap membawanya ke dermaga yang pernah kami cipta bersama. Tapi, sebelum kami sampai ke dermaga itu, gemuruh demi gemuruh mengajak air mata mengoyak jantung kami. Teriakan Muhsin semakin menjadi-jadi. Ada ketakutan mengerayangi seluruh pembuluh nadiku, karena aku merasa bahwa bumi sedang sakit jantung, sesekali penyakitnya akan kambuh, maka tamatlah kehidupan. Belum sempat aku berpikir. Bah itu merobohkan dinding- dinding rumah kami. Tingginya hampir 5 meter. Ada longsor. Ya, waduk Situ jebol. Aku dan istriku terseret air bercampur lumpur. Kami terpisah dalam benteng hidup dan kematian. Bayanganku gelap. Aku lumpuh. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Paragraf-paragraf doa pun tidak sempat aku lantunkan. Aku hilang. Tiba-tiba, ah istriku... Muhsin! Di manakah mereka? Apakah ada ruang lain? Apakah mereka di sana? Tiba-tiba ada godam raksasa menimpa kepalaku. Aku tersungkur jatuh menimpa bebatuan sungai. Sepertinya, ada yang aneh di tubuhkku. Rongga tenggorokanku seakan tersekat. Kesadaran memanggilku. Sekarang aku tahu. Mataku hilang. Jari- jariku pun berhamburan, seperti puntung-puntung rokok yang 3
  63. 63. bertebaran di jalan-jalan. Banyak luka memar di sekujur tubuh. Lukanya menusuk-nusuk pembuluh darah dan merobek-robek pori-pori sampai ke saraf-saraf otak. Tak bisa dikatakan bagaimana prosesnya dan bagaimana kejadiannya. Tiba-tiba semuanya jadi gelap. Semuanya bersetubuh dengan air bercampur lumpur. Semuanya tertimpa-timpa papan dan besi. Semuanya hilang dan kehilangan. Saat itu, kumasuki ladang lapar dan dahaga. Tetapi, azan bekumandang memanjakan subuh. Kulihat, ada mesjid di situ. Aku sempatkan sholat. Rupanya, istriku sudah duduk di sisiku sedang menggendong Muhsin sambil membawakan sesaji surga untuk menepis dahaga dan rasa laparku. Ia membawakan jari-jari dan mataku. Memasangnya satu per satu. Setelah itu ia menyuruhku pulang. 4
  64. 64. SARA, KAU DIMANA? Widya Syahputri Butarbutar Aaakh…! Terdengar jeritan dari rumah Sara yang telah dibakar warga kampung. Makian yang terlontar dari mulut warga semakin memanaskan suasana siang itu. Seorang lelaki tua terlihat berusaha menyelamatkan diri dari rumah naas itu. Namun malang, sebuah broti ambruk dan menimpa kepalanya. Seketika ia pun rubuh dan semuanya menjadi gelap. Semenjak itu Sara menghilang entah kemana. Sara..! Sara..! Dimana kau? *** Hmm..minggu yang cerah. Hari ini aku bangun lebih pagi karena telah berjanji pada Sara untuk lari pagi ke taman. Sara, gadis berkulit putih dan bermata sipit, pindahan dari kota Pekanbaru. Sehari-hari sepulang sekolah ia membantu ayahnya berjualan di pasar. Gadis manis yang ramah pada siapapun dan tak pernah memilih dan membeda-bedakan teman. Sara adalah satu-satunya orang yang mau bersahabat denganku. Selama ini aku selalu dijauhi karena kondisi fisikku yang kurang sempurna. Kaki kiriku mengalami gangguan sejak kecil sehingga aku berjalan pincang. Namun hal itu tidak menjadikan Sara menjauhiku. Bahkan dia selalu ceria jika bertemu denganku, begitu juga pagi ini. “Hai cengeng!” Begitu dia selalu menyapaku. “Hai juga Amoy! Jawabku nakal sambil menggodanya. 5
  65. 65. Sara hanya memanyunkan mulutnya. Dia paling tidak suka dipanggil Amoy, karena menurutnya nama itu menjadi satu hal yang menunjukkan perbedaan diantara mereka. Ya, Sara memang keturunan Tionghoa namun ia sudah lahir di Indonesia, dan ia merasa ia adalah orang Indonesia seutuhnya. Jadi ia tidak suka jika dipanggil Amoy. “Jangan manyun gitu dong!” kataku sambil tertawa. “Jangan panggil nama itu lagi! katanya. “Iya, maaf! “Jadi gak nih lari paginya? Kok jadi ngobrol sih?” Sara mulai kesal. “Iya..iya..ni da siap kok. Berangkaaat…!! Aku menarik tangannya. Kami mulai menyusuri jalan-jalan desa kami yang masih lengang. Kegiatan pagi belum begitu ramai. Hanya beberapa ibu- ibu yang mulai membersihkan halaman rumahnya. “Selamat pagi, Bu Sarni! Waah, pagi-pagi sudah mulai beres-beres nih?” sapa Sara ramah. “Pagi neng Sara! Iya nih mumpung anak-anak belum pada bangun, jadi bisa menyelesaikan pekerjaan rumah. Mari, mampir neng! “Makasih, Bu! Sara mau lari pagi dulu sama Tya. “Oh ya sudah. Hati-hati ya neng! “Iya, Bu. Marii..! Kami melanjutkan lari pagi sampai ke taman. Di taman orang-orang sudah ramai dengan kegiatan masing-masing. Kami pun mulai mengitari taman sambil bersenda gurau tanpa peduli orang-orang sekitar sering memandang kearah kakiku sambil tersenyum mengejek. Aku mulai menunduk. Sara juga memperhatikan hal itu, namun ia langsung menguatkan aku. Aku pun kembali mendongakkan kepala dan merasa sok kuat.
  66. 66. Setelah lebih setengah jam berlari aku mulai kelelahan. Sara mengajak beristirahat, kemudian ia membelikan aku minuman. Di samping kami juga duduk seorang kakek tua yang sedang membaca koran lokal. Dan berita utama hari ini adalah tentang pembakaran rumah-rumah warga keturunan Tionghoa di sejumlah daerah di Indonesia. Sara yang tadinya ceria tiba-tiba muram. “Sara, kamu gak papa?” tanyaku. “Gak papa Tya, aku Cuma merasa takut kalau berita di koran itu terjadi di desa kita. Aku sudah capek harus berpindah- pindah terus hanya karena hal yang sama. “Maksudmu?’ “Kenapa orang-orang tidak pernah menganggap kami saudara? Apa karena kami keturunan Tionghoa? Kami sudah lahir di Indonesia Tya, bahkan kakek nenek kami pun sudah lahir di sini.” Sara mulai menangis. “Tenanglah, Sara! Itu tidak akan terjadi di desa kita. Itu hanyalah perbuatan segelintir orang yang belum paham indahnya kedamaian, nikmatnya persaudaraan. Toh di sini masih banyak orang-orang yang mementingkan persaudaran Sara”. “Tapi mana buktinya? Ketika seseorang mulai merusak rumah-rumah kami maka semua warga akan ikut merusakinya. Mana orang-orang Indonesia yang katanya tidak membeda-bedakan SARA dalam kehidupannya. Mana Tya?” emosi Sara kembali naik. Aku tak bisa menjawab pertanyaan Sara. Aku hanya diam, membiarkan Sara menurunkan emosinya sendiri. Setelah beberapa saat terdiam, tiba-tiba Sara berbicara. “Maafkan aku, Tya. Aku tidak bisa menahan emosiku jika membicarakan hal ini. Aku hanya tidak terima dengan perlakuan orang-orang pada kami. Aku cuma ingin orang-orang memandang kami tidak sebagi musuh. Kami juga orang Indonesia Tya, hanya saja kami keturunan Tionghoa. Tapi kami juga butuh kedamaian.” “Aku mengerti Sara. Mungkin juga orangtuamu sengaja

×