Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
Prospek Bisnis Tembakau dan Rokok LokalPemerintah baru saja mengeluarkan aturan mengenai Pengamanan Bahan yang MengandungZ...
Perdagangan Tembakau Lokal TerancamJAKARTA-- Sekjen Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Hasan Aoni Azis ...
Dinamika Industri Tembakau Indonesia Dalam PasarGlobalBAB IPENDAHULUANTembakau merupakan salah satu komoditas perdagangan ...
Tembakau merupakan bahan penyegar yang mengandung alkaloid, yaitu suatusenyawa siklik kompleks yang mengandung nitrogen. A...
Amerika SerikatChinaIndiaRusiaBrazilJepangTurkiBulgariaPakistanKanada18,5417,287,235,705,233,243,212,612,482,16ChinaAmerik...
1995199619971998199920002001200220032004200520062007140.169151.025209.626105.580135.384204.329199.103192.082200.875165.108...
Pabrik JumlahPabrikProduksi CukaiGol. Jumlah Produksi (batang) (juta batang) % (milyar Rp.) %Gol I > 2 milyar 8 173,365.50...
Perdagangan luar negeri memberikan manfaat bagi suatu negara melaluiaktivitas ekspor dan impornya. Perdagangan luar negeri...
penurunan, namun nilai ekspornya tetap naik, dari US$35,876 juta di tahun 2006 menjadiUS$36,696 juta di tahun 2007. Dan da...
penurunan, namun nilai ekspornya tetap naik, dari US$35,876 juta di tahun 2006 menjadiUS$36,696 juta di tahun 2007. Dan da...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Prospek bisnis tembakau dan rokok lokal

4,368 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Prospek bisnis tembakau dan rokok lokal

  1. 1. Prospek Bisnis Tembakau dan Rokok LokalPemerintah baru saja mengeluarkan aturan mengenai Pengamanan Bahan yang MengandungZat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah(PP) Nomor 109 Tahun 2012. Aturan tersebut, secara tidak langsung, dinilai telah dikendalikanoleh perusahaan-perusahaan rokok asing, sebab dari beberapa pasal yang ada, dijelaskanbagaimana mengharuskan industri rokok menerapkan beberapa aturan yang sulitdiimplementasikan oleh perusahaan-perusahaan lokal.Tak ayal, beberapa LSM dan Asosiasi yang memperjuangkan hak-hak industri kecil rokokmelontarkan nada-nada protes kepada pemerintah terkait aturan itu. Selain itu, jutaan orang yangmenggantungkan hidupnya dari industri rokok terancam kehilangan mata pencahariaannya.Alhasil, penggangguran yang ada akan bertambah. Padahal, Presiden SBY mengharuskankepada seluruh jajaran pemerintah untuk membuat aturan-aturan yang pro job, pro poor, progrowth dan pro environment.Berikut ini, petikan wawancara Neraca dengan Koordinator Koalisi Nasional PenyelamatanRokok (KNPK) Zulvan Kurniawan tentang bagaimana dampak dikeluarkannya PP Nomor 109Tahun 2012.Dengan adanya PP Nomor 109 Tahun 2012, sejauh mana industri rokok nasionalakan terganggu?Bagi industri rokok skala besar yang mempunyai modal besar dan teknologi canggih mungkinakan siap menghadapi aturan ini. Akan tetapi bagi industri rokok kecil akan sulit menyesuaikan.Apalagi, sebagian besar aturan yang terkandung dalam PP ini justru tertuju untuk rokok kretekyang memang mendominasi produksi rokok di Indonesia. 93% rokok di Indonesia dikuasai olehrokok kretek sisanya sebesar 7% oleh rokok putih. Jadi bisa dibayangkan bagaimana nantinyaindustri rokok kretek Indonesia yang akan dihantam oleh PP iniLalu, bagaimana nasib para petani, apakah mereka juga terkena dampaknya?Petani memegang peran penting dalam industri rokok. Kalau tidak ada bahan baku tembakau,maka tidak ada produksi. Maka dengan adanya aturan ini, maka diperkirakan sekitar 6 juta petaniyang akan kehilangan mata pencahariaannya sebagai petani temabakau. Bisa saja, nantinyaharga tembakau Indonesia akan dibeli dengan harga murah lantaran adanya aturan ini. Takhanya itu, sebelum aturan ini dimulai, para pengusaha rokok kretek di Kudus sudah menutuppabriknya. Dari 110 pabrik rokok yang ada di Kudus, saat ini tinggal 80 pabrik yang masih tetapbertahan. Bahkan ini bisa saja menurun lagi setelah aturan ini diterapkan.Harapan terhadap PP Nomor 109 Tahun 2012?Harapan terbesar kami adalah agar PP ini dibatalkan. Karena dari awal pembuatannya sajasudah dikendalikan oleh Philip Morris yang memang produknya sudah siap dengan aturan-aturantersebut, makanya dia meminta agar pemerintah menerapkannya di Indonesia agar usahanyabisa bebas. Kami juga berharap agar pemerintah dalam membuat aturan yang berkeadilan danberkedaulatan. Jangan sampai ada campur tangan pihak asing dalam pembuatan aturan-aturantersebut. Kalau memang pemerintah pro terhadap rakyat, maka buat aturan yang bisamensejahterakan rakyat.
  2. 2. Perdagangan Tembakau Lokal TerancamJAKARTA-- Sekjen Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Hasan Aoni Azis USmempertanyakan komitmen pemerintah untuk melindungi kesehatan masyarakat. Menurut Hasan,Peraturan Pemerintah (PP) nomer 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zatadiktif produk tembakau sama sekali tidak mengurusi soal kesehatan."Yang ada adalah penyisipan agenda asing untuk menghancurkan industri tembakau di Indonesia," ucapHasan saat diskusi di Warung Daun Cikini, Jakarta, Senin (11/2).Dalam PP tersebut, Hasan menilai telah terjadi diversifikasi paksa. Dimana, petani tembakau dipaksamenanam tanaman lain selain tembakau. Aturan ini sangat pro asing. "Di satu sisi memaksa petani untuktidak menanam tembakau, di sisi lain, tembakau dari luar dibebaskan masuk ke Indonesia dengan tarif nolpersen," terang Hasan.Berdasarkan data BPS November 2012, impor tembakau mencapai 120 ribu ton, telah melampaui separuhlebih kebutuhan nasional mencapai 200 ribu ton."Kalau tembakau dianggap barang adiktif, harusnya impor juga dibatasi. PP ini tidak bicara soal itu. Jaditidak ada pemihakan pada petani. Justru malah berpeluang mematikan perdagangan tembakau lokalIndonesia," papar Hasan.Maka dengan keluarnya PP ini, tertutup peluang pengembangan ilmu pengetahuan untuk kemanfaatantembakau bagi kesehatan. "Tembakau dan produk tembakau dalam PP 109/2012 dijustifikasi sebagaibarang adiktif, dimana barang adiktif dianggap buruk," sebutnya.Jadi telah tertutup diversifikasi penggunaan tembakau untuk kepentingan kesehatan. Pengaturandiversifikasi (Pasal 58) diperuntukkan untuk eliminasi tembakau sebagai rokok."PP ini jelas-jelas tidak memberikan ruang bagi peneliti, scientis maupun pihak industri dan petani untukmengembangkan bagi kepentingan kesehatan masyarakat. Ini kedzaliman scientific," tegasnya.Hasan juga mempertanyakan bagaimana industri dan petani mau bersikap bertanggung jawab untukmengurangi bahaya rokok, kalau riset untuk kepentingan itu telah ditutup.Padahal, industri rokok, katanya, menyumbang pemasukan bagi negara sekitar Rp100 triliun per tahun daricukai dan pajak, kendati cukai dan pajak tersebut juga dibayar oleh konsumen. Namun, kebijakan tersebutpasti akan berdampak kepada petani tembakau."Regulasi soal rokok itu belum berhenti dengan terbitnya PP, tetapi ke depan akan lagi muncul peraturanmenteri yang semakin mempersulit industri. Jadi, industri ini sedemikian rupa ditekan," pungkasnya.(chi/jpnn)
  3. 3. Dinamika Industri Tembakau Indonesia Dalam PasarGlobalBAB IPENDAHULUANTembakau merupakan salah satu komoditas perdagangan penting negara di duniatermasuk Indonesia. Produk tembakau utama yang diperdagangkan adalah rokok (manufacturetobacco) dan daun tembakau (un manufacture tobacco). Tingginya nilai tembakau membuatbeberapa negara termasuk Indonesia dapat berperan dalam perekonomian nasional, yaitusebagai salah satu sumber devisa, sumber penerimaan pemerintah melalui pajak/cukai, sumberpendapatan petani dan lapangan kerja masyarakat.Perkembangan bisnis tembakau yang pesat beberapa dekade terakhir tak ayalmengundang kontroversi. Seiring dengan kesadaran dan kepedulian masyarakat akan kesehatandan lingkungan menyebabkan kehadiran tembakau dan rokok ditentang banyak kalangan.Penentangan ini didasarkan atas banyaknya bukti medis yang menunjukkan bahwa rokok dapatmenimbulkan berbagai penyakit mematikan. Bahkan di negara-negara maju, persoalan tersebuttelah ditanggapi dengan membuat kebijakan pembatasan tembakau yang mengakibatkanpergeseran produksi tembakau ke negara-negara berkembang. Produksi tembakau yang mulaiawal 2000-an menurun lebih cepat dari pada tingkat konsumsinya menimbulkan kesenjanganantara penawaran dan permintaan daun tembakau. Namun disisi lain, penawaran danpermintaan pasar tembakau tumbuh sejalan dengan pertumbuhan penduduk sehinggamenyebabkan harga daun tembakau di dunia meningkat. Potensi pasar ini merupakan peluangbagi negara berkembang seperti Indonesia dalam jangka pendek maupun jangka menengah.Selain berperan sebagai salah satu produsen dan eksportir produk tembakau di pasar dunia,Indonesia juga merupakan konsumen utama dunia karena menjadi negara kelima dengan jumlahperokok terbanyak di bumi ini. Pergeseran target pasar multi-nasional ini pastinya jadi ancamanbagi Indonesia, namun bila peluang pasar dapat dimanfaatkan, maka hal tersebut akan menjadiprospek pasar bagi tembakau Indonesia. Penurunan produksi tembakau di negara maju akanmenurunkan daya saingnya di pasar dunia.Kini seiring dengan pertumbuhan penduduk dan budaya merokok yang semakinluas, Indonesia menjadi pasar rokok yang potensial di dunia. Hal ini menyebabkan perusahaanrokok besar dan multi-national corporations (MNCs) memanfaatkan peluang pasar yangmenjanjikan di Indonesia. Keberadaan perusahaan besar dan MNCs ini selain meningkatkaninvestasi juga mendatangkan kerugian bagi masyarakat dan pemerintah Indonesia dengandampak negatif yang ditimbukan serta biaya sosial yang tinggi. Dengan demikian, Indonesiasudah sewajarnya harus memprioritaskan produk industri tembakau untuk pasar ekspor. Potensiekspor Indonesia dapat ditingkatkan melalui, (a) memperkuat produk yang telah mempunyaipasar yang baik, (b) memprioritaskan tembakau bahan baku cerutu (Na Oogst) yang lebihberdaya saing, dan (c) mengalihkan produksi rokok dari rokok kretek ke rokok putih yang lebihberorientasi ekspor. Tulisan ini akan menampilkan dinamika industri tembakau Indonesia di pasardunia.BAB IIISIProfil Komoditi Tembakau
  4. 4. Tembakau merupakan bahan penyegar yang mengandung alkaloid, yaitu suatusenyawa siklik kompleks yang mengandung nitrogen. Alkaloid ini dapat memberikan dayarangsang. Di Indonesia, tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian yang memegangperanan penting bagi perekonomian negara, yaitu sebagai penghasil devisa dan cukai. Banyakdaerah di Indonesia yang memproduksi tembakau, seperti Bojonegoro, Jember, Lumajang,Kudus, Temanggung dan Deli. Industri tembakau merupakan tempat penghasil dan pengolahantembakau dan sentra-sentra industri rokok, yang dapat menyediakan lapangan usaha danpenyerapan tenaga kerja.Tembakau produksi Indonesia juga merupakan salah satu tembakauterbaik yang diperdagangkan dalam pasar global diantaranya di pasar tembakau Bremen. Pasarglobal sendiri ialah pemasaran yang berskala dunia. Ekspor tembakau Indonesia saat inimencapai negara Eropa, Jepang dan Amerika.AnalisisProduksi, Produktivitas, dan Luas Areal Tembakau DuniaProduksi daun tembakau dunia periode tahun 1967-2007 mengalami peningkatan3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton (peningkatan rata-rata 1,21% per tahun). Dalam periode yangsama, luas lahan penanaman tembakau dunia juga meningkat dari 3,39 juta ha menjadi 3,93 jutaha (meningkat 0,30% per tahun). Sementara itu produktivitas usaha tani juga mengalamipeningkatan dengan laju 0,91% per tahun, yaitu sebesar 1,26ton/ha pada tahun 1967 menjadi1,61 ton/ha tahun 2007. Tingkat produksi tembakau terbesar dunia terjadi pada tahun 1997 yangmencapai 8,99 juta ton. Akan tetapi semenjak tahun 1997, produksi tembakau dunia mengalamipenurunan sebesar 1,96% per tahun hingga tahun 2007.Negara-negara penghasil tembakau dunia juga mengalami pergeseran. Jika tahun1970-an Amerika Serikat tampil sebagai produsen terbesar tembakau di dunia, maka padaperiode berikutnya tergeser oleh China dan beberapa negara lainnya seperti Brazil dan India.Indonesia sendiri yang pada tahun 1970-an belum menjadi produsen utama tembakau dunia,pada tahun tahun 1990-an langsung masuk dalam 8 besar dan pada tahun 2007 menjadi urutanke 5 produsen tembakau terbesar dunia.Dari data di atas dapat kita simpulkan bahwa perkembangan produksi dauntembakau di negara-negara berkembang seperti Brazil, India, dan Indonesia mengalamipeningkatan, sedangkan di negara maju mengalami penurunan. Hal ini tentu saja tidak bisadipungkiri, karena tekanan dari masyarakat di negara maju yang semakin anti tembakau.Masyarakat di negara maju semakin sadar akan bahaya merokok, dan gerakan anti rokoktersebut terus meningkat sehingga juga mempengaruhi penurunan luas areal tembakau. Lahanini dialih fungsikan menjadi lahan pertanian lain yang dianggap berpotensi dan tidak berbahayabagi kesehatan, misalnya gandum dan anggur. Penurunan produksi tembakau di negara majutelah dimanfaatkan beberapa negara berkembang dalam meningkatkan pangsa ekspornyaseperti Brazil dan India, sehingga dalam ekspor daun tembakau juga mengalami pergeseranperan.Tabel 1. Sepuluh Negara Produsen Utama Tembakau Dunia Tahun 1970,1990, dan 2007.Tahun 1970 Tahun 1990 Tahun 2007NegaraProduksi(dlm %)NegaraProduksi(dlm %)NegaraProduksi(dlm %)
  5. 5. Amerika SerikatChinaIndiaRusiaBrazilJepangTurkiBulgariaPakistanKanada18,5417,287,235,705,233,243,212,612,482,16ChinaAmerika SerikatIndiaBrazilTurkiRusiaItaliaIndonesiaYunaniZimbabwe37,5010,467,826,314,204,013,052,221,921,85ChinaBrazilIndiaAmerika SerikatIndonesiaPakistanItaliaTurkiZimbabweYunani38,8714,738,435,732,672,001,911,671,621,28Total ProduksiDaun TembakauDunia (ribu ton)4663,17 7137,44 6326,25Sumber :FAO (2009)Produksi, Produktivitas, dan Luas Area Tembakau IndonesiaTabel 2. Produksi, Produktivitas, dan Luas Area Tembakau IndonesiaTahunProduksi(ton)Luas Area(ha)Produktivitas(kg/ha)
  6. 6. 1995199619971998199920002001200220032004200520062007140.169151.025209.626105.580135.384204.329199.103192.082200.875165.108153.470146.265164.851216.148222.164219.262221.500168.500168.300262.000257.100256.926200.973198.212215.012215.000649680624621809804814827776826776867867Sumber:1. Statistik Perkebunan Indonesia (Tree Crop Estate Statistic of Indonesia 2007-2009: Tembakau/Tobacco. 20082. FAOSTAT http://faostat.fao.org/site/567/DesktopDefault.aspx?PageID=567#ancor dan http://faostat.fao.org/site/377/default.aspx#ancor (akses 11 Mei 2009)3. http://faostat,fao,org/site/567/DesktopDefault,aspx?PageID=567#ancorIndustri Hasil Tembakau di IndonesiaSampai tahun 2009 Industri Hasil Tembakau masih berperan dalam rodapergerakan ekonomi nasional terutama di daerah penghasil tembakau dan sentra-sentra industrirokok, yaitu dengan menumbuhkan industri/jasa terkait, penyediaan lapangan usaha danpenyerapan tenaga kerja.Pada tahun 2005, jumlah Industri Hasil Tembakau (rokok) di Indonesia sebanyak3217 perusahaan dan pada tahun 2006 mengalami peningkatan menjadi 3961 perusahaan,sehingga meningkat 23,12 %. Dalam periode 2005-2006 ini, produksi rokok sebesar dari 220,3milyar batang dan 218,7 milyar batang. Penyebaran Industri Hasil Tembakau di Indonesiasebagian besar berada di Jawa Timur sekitar 75%, Jawa Tengah 20%, dan sebagian lainnya diSumatera Utara, Jawa Barat, dan DIY. Produk hasil olahan tembakau terdiri dari rokok (rokokkretek dan rokok putih), cerutu, dan tembakau iris. Khusus untuk industri rokok, berikut adalahdata dari pabrik baik besar (Gol I), menengah (Gol II), dan kecil (Gol IIIA dan IIIB) tahun 2007.Tabel 3. Data Industri Rokok Skala Besar (Gol I), Menengah (Gol II) dan Kecil (Gol IIIA dan IIIB).
  7. 7. Pabrik JumlahPabrikProduksi CukaiGol. Jumlah Produksi (batang) (juta batang) % (milyar Rp.) %Gol I > 2 milyar 8 173,365.50 75,05 37,614.15 86,38Gol II > 500 juta – 2 milyar 15 23,585.01 10,21 2,978.81 6,84Gol IIIA > 6 juta – 500 juta 354 27,073.20 11,72 2,870.51 6,59Gol IIIB 0 – 6 juta 4416 6,976.20 3,02 78.13 0,18Total 4793 231,000.00 43,541.50Keterangan :1. Data produksi tidak termasuk cerutu, KLM/KLB, TIS.2. Sumber Dirjen Bea dan Cukai, Departemen Keuangan.Dengan tidak mengesampingkan dampak faktor kesehatan, prioritas yangdiberikan kepada Industri Hasil Tembakau untuk tetap berkembang masih didasari oleh aspekekonomi, di mana industri ini mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar (± 10 juta orang)dan sumbangannya terhadap penerimaan negara (cukai). Pada tahun 2006 cukai rokok sebesar42,03 trilyun dan 2007 mencapai 43,54 trilyun.Namun saat ini, Industri Hasil Tembakau dihadapkan dengan banyakpermasalahan yang muncul, yaitu dampak buruk merokok bagi kesehatan baik di tingkat globalmaupun nasional. Badan tertinggi dunia PBB melalui WHO telah mendirikan konvensi FTCT(Framework Convention on Tobacco Control) yang bertujuan untuk mengendalikan produktembakau. Tapi hingga saat ini pemerintah belum juga meneken kesepakatan tersebut.Sedangkan di tingkat nasional tertuang dalam PP No.19 Tahun 2003 tentang PengamananRokok Bagi Kesehatan. Selain itu, kebijakan cukai yang tidak terencana dengan baik, tidaktransparan, dan semakin maraknya produksi dan peredaran rokok ilegal juga menjadi masalahbagi Industri Hasil Tembakau. Untuk itu Industri Hasil Tembakau meningkatkan hubungan dankerja sama dengan stakeholder guna meningkatkan daya saing diantara pelaku usaha. Dengandemikian industri ini diharapkan tetap mampu menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkanpenerimaan negara melalui cukai dan pajak, dan menumbuhkan industri terkait dengan tidakmengesampingkan faktor penting kesehatan.Kecenderungan Global Industri Hasil TembakauKecenderungan yang telah terjadi antara lain adalah, dulu sebelum tahun 1990-anpermintaan rokok dunia meningkat konstan dan sepuluh tahun kemudian berhenti. Di negaramaju, seperti AS dan Eropa terjadi penurunan penjualan rokok karena kesadaran akanpentingnya kesehatan dan gencarnya kampanye anti rokok mulai dilakukan. Selanjutnya WHOmenetapkan FTCT (Framework Convention on Tobacco Control) pada tanggal 28 Mei 2003 diGenewa, Swiss dan mulai diberlakukan 27 Februari 2005.Selain kecenderungan yang telah terjadi di atas, kecenderungan yang akan terjadijuga patut kita bahas di sini. Pertama adalah penerapan pajak yang tinggi terhadap produktembakau sebagaimana tercantum dalam FTCT, akan mengurangi produksi dan konsumsitembakau dan menimbulkan semakin banyaknya rokok-rokok ilegal. Yang kedua, dengansemakin maraknya gerakan anti rokok, maka akan menghentikan industri rokok itu sendiri. Jika diAmerika dan Eropa Barat penjualan rokok menurun, tidak demikian yang terjadi di Eropa Timurdan Asia. Di kawasan ini volume penjualan rokok cenderung naik. Hal ini disebabkan karenapangsa pasar di negara berkembang masih tinggi di mana pupulasinya masih banyak yang aktifmerokok.Ekspor dan Impor Olahan Tembakau Indonesia
  8. 8. Perdagangan luar negeri memberikan manfaat bagi suatu negara melaluiaktivitas ekspor dan impornya. Perdagangan luar negeri ini juga akan membawa dampakterhadap kegiatan ekonomi suatu negara, tak terkecuali Indonesia. Aktivitas ekspor dan imporIndonesia diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Berikut ini adalahdata Ekspor dan Impor Tembakau Indonesia tahun 1990-2007.Tabel 4. Proporsi Ekspor Dan Impor Daun Tembakau Terhadap Total Produksi Indonesiatahun 1990-2007TahunImpor(ton)Ekspor(ton)Produksi(ton)Konsumsi(ton)% Importhd konsumsi% Importhd produksi% Eksporthd produksi% Importhd ekspor1990 26,546 17,401 156,432 147,287 18,0 17,0 11,1 152,61991 28,542 22,403 140,283 134,144 21,3 20,4 16,0 127,41992 25,108 32,365 111,655 118,912 21,1 22,5 29,0 77,61993 30,226 37,259 121,370 128,403 23,5 24,9 30,7 81,11994 40,321 30,926 130,134 120,739 33,4 31,0 23,8 130,41995 47,953 21,989 140,169 114,205 42,0 34,2 15,7 218,11996 45,060 33,240 151,025 139,205 32,4 29,8 22,0 135,61997 47,108 42,281 209,626 204,799 23,0 22,5 20,2 111,41998 23,219 49,960 105,580 132,321 17,5 22,0 47,3 46,51999 40,914 37,096 135,384 131,566 31,1 30,2 27,4 110,32000 34,248 35,957 204,329 206,038 16,6 16,8 17,6 95,32001 44,346 43,030 199,103 197,787 22,4 22,3 21,6 103,12002 33,289 42,686 192,082 201,479 16,5 17,3 22,2 78,02003 29,579 40,638 200,875 211,934 14,0 14,7 20,2 72,82004 35,171 46,463 165,108 176,400 19,9 21,3 28,1 75,72005 48,142 53,729 153,470 159,057 30,3 31,4 35,0 89,62006 54,514 53,729 146,265 145,480 37,5 37,3 36,7 101,52007 69,742 46,834 164,851 141,943 49,1 42,3 28,4 148,9Sumber: Statistik Perkebunan Indonesia (Tree Crop Estate Statistic of Indonesia) 2007-2009:Tembakau/Tobacco, Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan, 2008.Dari data tersebut dapat kita simpulkan bahwa dalam periode tersebut, Indonesiamasih banyak dalam mengimpor yaitu 10 tahun dan sisanya 8 tahun lebih banyak mengekspor.Indonesia mengekspor daun tembakau berkisar antara 11%-37% dari total produksi, tapi jugamengimpor daun tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok dalam negeri sebesar 17-42% dari total produksi.Sementara itu, data dari Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia DepartemenPerindustrian tahun 2009 menyebutkan bahwa dalam periode tahun 2004-2008, eksporcerutu berkembang rata-rata 18,94% per tahun. Yaitu dari USD 11,30 Juta pada tahun2004 menjadi USD 22,00 juta pada tahun 2008. Dalam periode yang sama ekspor rokokberkembang rata-rata 25,4% dari USD 157,61 juta menjadi USD 357,78 juta. Selain itu,jika melihat nilai ekspor tembakau dari tahun 2006 sampai 2009, terjadi peningkatan harga,meskipun pada tahun 2007 volume ekspor tembakau Indonesia yang mencapai 8.951 ton pertahun, mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 9.202 ton. Meski terjadi
  9. 9. penurunan, namun nilai ekspornya tetap naik, dari US$35,876 juta di tahun 2006 menjadiUS$36,696 juta di tahun 2007. Dan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru inimenyebutkan bahwa ekspor tembakau Indonesia mengalami kenaikan untuk periode Januari-November 2011 mencapai US$ 652,2 juta naik 4,59% dibandingkan tahun 2010 yang hanya US$623,5 juta. Sementara itu, selain mengekspor hasil olahan tembakau, Indonesia juga mengimportembakau dari luar yang nilainya juga tergolong besar. Seperti data impor cerutu pada periode2004-2008 yang naik luar biasa yaitu sebesar 197,5% per tahun. Hal yang sama terjadi padaimpor rokok, pada periode yang sama terjadi penaikan dari USD 0,863 juta menjadi 4,357 jutaatau naik rata-rata 86,87% per tahun.BAB IIIPENUTUPKesimpulanBerdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan, produksi tembakau Indonesiabeberapa dekade terakhir terutama di era reformasi mengalami fluktuasi. Namun demikian,hingga saat ini Indonesia masih menjadi negara produsen tembakau peringkat lima dunia. Hal inidikarenakan produksi tembakau di negara maju mengalami penurunan dan pangsa pasar beralihke negara berkembang. Keadaan ini dipicu dengan sikap kepedulian dan kesadaran masyarakatdi negara maju akan kesehatan dan kelestarian lingkungan. Sementara itu, di negaraberkembang terjadi pertumbuhan penduduk yang relatif cepat diikuti dengan budaya merokokyang masih tinggi pula. Di Indonesia sendiri yang disebut-sebut sebagai negara berkembang,tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian yang memegang peranan penting bagiperekonomian negara, yaitu sebagai penghasil devisa dan cukai serta penyedia lapangan kerja.Namun, pemerintah kini seakan mengalami dilema dengan adanya konvensi FTCT dari WHOtentang pengendalian produksi tembakau. Hal ini dibuktikan dengan Indonesia sampai saat inibelum menandatangani dan meratifikasi FTCT tersebut.Sementara itu, dilihat dari ekspor dan impor produk tembakau, Indonesia masihcenderung lebih banyak mengimpor daripada mengekspor tembakau. Tingkat konsumsi yangtinggi di dalam negeri menjadi salah satu faktor pemicunya. Dengan demikian, pemerintahharusnya lebih mengkaji lagi bagaimana caranya agar impor ini dapat lebih kecil dari ekspor ataubahkan tidak perlu lagi ada acaramengimpor-imporan segala. Memaksimalkan produksi dalamnegeri serta menyadarkan masyarakat akan kerugian mengkonsumsi rokok mungkin kiranyadapat meningkatkan ekspor tembakau di pasar global.
  10. 10. penurunan, namun nilai ekspornya tetap naik, dari US$35,876 juta di tahun 2006 menjadiUS$36,696 juta di tahun 2007. Dan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru inimenyebutkan bahwa ekspor tembakau Indonesia mengalami kenaikan untuk periode Januari-November 2011 mencapai US$ 652,2 juta naik 4,59% dibandingkan tahun 2010 yang hanya US$623,5 juta. Sementara itu, selain mengekspor hasil olahan tembakau, Indonesia juga mengimportembakau dari luar yang nilainya juga tergolong besar. Seperti data impor cerutu pada periode2004-2008 yang naik luar biasa yaitu sebesar 197,5% per tahun. Hal yang sama terjadi padaimpor rokok, pada periode yang sama terjadi penaikan dari USD 0,863 juta menjadi 4,357 jutaatau naik rata-rata 86,87% per tahun.BAB IIIPENUTUPKesimpulanBerdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan, produksi tembakau Indonesiabeberapa dekade terakhir terutama di era reformasi mengalami fluktuasi. Namun demikian,hingga saat ini Indonesia masih menjadi negara produsen tembakau peringkat lima dunia. Hal inidikarenakan produksi tembakau di negara maju mengalami penurunan dan pangsa pasar beralihke negara berkembang. Keadaan ini dipicu dengan sikap kepedulian dan kesadaran masyarakatdi negara maju akan kesehatan dan kelestarian lingkungan. Sementara itu, di negaraberkembang terjadi pertumbuhan penduduk yang relatif cepat diikuti dengan budaya merokokyang masih tinggi pula. Di Indonesia sendiri yang disebut-sebut sebagai negara berkembang,tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian yang memegang peranan penting bagiperekonomian negara, yaitu sebagai penghasil devisa dan cukai serta penyedia lapangan kerja.Namun, pemerintah kini seakan mengalami dilema dengan adanya konvensi FTCT dari WHOtentang pengendalian produksi tembakau. Hal ini dibuktikan dengan Indonesia sampai saat inibelum menandatangani dan meratifikasi FTCT tersebut.Sementara itu, dilihat dari ekspor dan impor produk tembakau, Indonesia masihcenderung lebih banyak mengimpor daripada mengekspor tembakau. Tingkat konsumsi yangtinggi di dalam negeri menjadi salah satu faktor pemicunya. Dengan demikian, pemerintahharusnya lebih mengkaji lagi bagaimana caranya agar impor ini dapat lebih kecil dari ekspor ataubahkan tidak perlu lagi ada acaramengimpor-imporan segala. Memaksimalkan produksi dalamnegeri serta menyadarkan masyarakat akan kerugian mengkonsumsi rokok mungkin kiranyadapat meningkatkan ekspor tembakau di pasar global.

×