Potensi tekanan ketersediaan air sebagai dampak perubahan iklim pada kawasan budidaya lele kec

1,614 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Potensi tekanan ketersediaan air sebagai dampak perubahan iklim pada kawasan budidaya lele kec

  1. 1. TUGAS MATA KULIAH KLIMATOLOGI MAKALAH POTENSI TEKANAN KETERSEDIAAN AIR SEBAGAI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA KAWASAN BUDIDAYA LELE DESA TAMBAKSARI, KEC. ROWOSARI KAB. KENDAL JAWA TENGAH Disusun Oleh: Nama : Anggoro Prihutomo NIM : 30000213410041 Dosen Pengampu : Ir. Sutarno, MS. Dr. Widada Sulistya, DEA MAGISTER ILMU LINGKUNGAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2014
  2. 2. POTENSI TEKANAN KETERSEDIAAN AIR SEBAGAI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA KAWASAN BUDIDAYA LELE DESA TAMBAKSARI, KEC. ROWOSARI KAB. KENDAL JAWA TENGAH Anggoro Prihutomo* *Magister Ilmu Lingkungan – 39 Universitas Diponegoro, Semarang ABSTRAK Perubahan iklim diproyeksikan akan berdampak secara luas terhadap ekosistem, sosial ekonomi, meningkatkan tekanan terhadap pekerjaan dan suplai pangan, termasuk di dalamnya sektor perikanan dan akuakulture. Komponen perubahan iklim utama yang dapat secara potensial berdampak terhadap kegiatan produksi akuakultur salah satunya adalah tekanan terhadap ketersediaan air untuk budidaya. Perubahan dalam jumlah dan pola curah hujan dapat menyebabkan banjir dan kekeringan(Mohanty, Mohanty, Sahoo, & Sharma, 2007). Mengingat ketersediaan air yang cukup merupakan syarat mutlak bagi kelansungan kegiatan akuakultur. Makalah ini mencoba menggambarkan potensi terjadinya kekeringan (tekanan ketersediaan air) bagi kegiatan akuakultur tawar di kawasan minapolitan Kec. Rowosari, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Sebagai bagian dari masyarakat global, Indonesia dan pulau jawa pada khususnya tidak bisa lepas dari fenomena terjadinya perubahan iklim global. Terjadinya kekurangan ketersediaan air pada musim kemarau pada kawasan minapolitan budidaya air tawar di desa Tambaksari Kec. Rowosari, belum dapat dikatakan sebagai akibat semakin berkurangnya ketersediaan air pada daerah irigasi yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Akan tetapi lebih kepada faktor rusaknya saluran irigasi dan dilakukanya pengeringan rutin saluran irigasi. Akan tetapi potensi terjadinya tekanan ketersediaan air ke depan tetap akan terjadi apabila semakin kondisi semakin rusaknya DAS Lampir yang menopang sistem air di bendung Kedung Asem tidak segera dilakukan konservasi. Kata Kunci: Perubahan Iklim, Ketersediaan air, minapolitan PENDAHULUAN Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang dalam distribusi pola cuaca secara statistik sepanjang periode waktu mulai dasawarsa hingga jutaan tahun. Istilah ini bisa juga berarti perubahan keadaan cuaca rata-rata atau perubahan distribusi peristiwa cuaca rata-rata (wikipedia). Meskipun sebenarnya perubahan iklim merupakan
  3. 3. sesuatu yang alami dan terjadi secara pelan (WWF Indonesia, 2013), namun perubahan iklim sekarang disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia seperti ekstraksi bahan bakar fosil skala besar (batubara, minyak bumi dan gas alam), perubahan pemanfaatan lahan (pembukaan lahan untuk penebangan kayu, peternakan dan pertanian) serta konsumerisme. Saat pengambilan dan penggunaan sumberdaya oleh aktivitas manusia, gas rumah kaca dilepas secara besar-besaran ke atmosfir. Gaya hidup yang berkembang selama 100 tahun ini bergantung pada bahan baku dari sumberdaya alam. Selama 100 tahun terakhir, negara industri maju seperti Amerika Serikat, Inggris dan Jepang bertanggung jawab atas sebagian besar emisi penyebab perubahan iklim. Sekarang, penggunaan energi besar- besaran, gaya hidup tinggi, ditiru oleh negara negara berkembang seperti Cina, India dan Indonesia (Rumah Iklim, 2009). Oleh karena itu untuk saat ini bahwa Perubahan iklim adalah suatu fenomena yang tidak bisa dihindari lagi. Pemanasan yang terjadi pada sistem iklim bumi merupakan hal yang jelas terasa, seiring dengan banyaknya bukti dari pengamatan kenaikan temperatur udara dan laut, pencairan salju dan es di berbagai tempat di dunia, dan naiknya permukaan laut global. Banyak sistem alam , pada semua benua dan di beberapa lautan, terpengaruh oleh perubahan iklim regional, terutama adanya kenaikan temperatur (Nature, 2014). Perubahan iklim diproyeksikan akan berdampak secara luas terhadap ekosistem, sosial ekonomi, meningkatkan tekanan terhadap pekerjaan dan suplai pangan, termasuk di dalamnya sektor perikanan dan akuakulture (Cochrane, De Young, Soto, & Bahri, 2009). Komponen perubahan iklim utama yang dapat secara potensial berdampak terhadap kegiatan produksi akuakultur adalah – kenaikan muka air laut dan kenaikan temperatur, perubahan pola hujan monsoon dan peristiwa iklim yang ekstrem dan tekanan terhadap ketersediaan air untuk budidaya (perlu digarisbawahi dan menjadi alasan dampak dampak tersebut perlu untuk dievaluasi) (Silva & Soto, 2009). Perubahan dalam jumlah dan pola curah hujan dapat menyebabkan banjir dan kekeringan (Mohanty et al., 2007). Mengingat ketersediaan air yang cukup merupakan syarat mutlak bagi kelansungan kegiatan akuakultur (Bank Indonesia, 2010). Oleh karena itu, makalah ini mencoba menggambarkan potensi terjadinya kekeringan (tekanan ketersediaan air) bagi kegiatan akuakultur tawar di kawasan minapolitan Kec. Rowosari, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
  4. 4. PERUBAHAN IKLIM DI JAWA Sebagai bagian dari ekosistem global yang telah mengalami fenomena perubahan iklim, tentunya Indonesia dan pulau Jawa juga mengalami fenomena perubahan iklim global. Fakta fakta berikut menunjukkan fenomena perubahan iklim di Indonesia dan pulau Jawa pada khususnya. Secara umum, proyeksi temperatur untuk Indonesia menunjukkan adanya kenaikan, walaupun masih dibawah proyeksi kenaikan temperatur secara global. Kenaikan temperature di Indonesia sendiri diprediksikan akan berkisar antara 0.1 sampai dengan 0.3°C per dekade sampai tahun 2100. Proyeksi untuk Jawa dan Bali menunjukkan bahwa kenaikan temperature permukaan rata-rata selama periode 2020-2050 akan menunjukkan tren kenaikan sampai 1°C. Kontras dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia, wilayah selatan pulau Jawa diprediksi akan mengalami penurunan presipitasi sampai dengan 15%. Musim-musim presipitasi tahunan diprediksi akan berubah; sebagian dari wilayah Sumatera dan Kalimantan diproyeksikan akan menjadi lebih basah sampai dengan 30% antara bulan Desember dan Februari tahun 2080. Untuk Jawa (wilayah Jakarta), musim selama Juni dan Agustus diproyeksikan menjadi lebih kering dari 5% sampai dengan 15%. Menurut ICCSR, rata-rata kenaikan muka air laut berkisar antara 0.6-0.8 cm/tahun untuk seluruh wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami kenaikan hingga 50 cm sampai dengan 2100. Kenaikan temperatur muka air laut di perairan Indonesia diproyeksikan akan meningkat hingga 0.65°C di tahun 2030, 1.10°C di tahun 2050, 1.70°C di tahun 2080, dan 2.15°C di tahun 2100 (berdasarkan analisa tren dari data-data historis). Kejadian cuaca ekstrim yang diidentifikasi di seluruh wilayah Asia menunjukkan adanya peningkatan instensitas dan frekuensi kejadian cuaca ekstrim. Karena fakta itulah, efek dan frekuensi El Nino/ Southern Oscillation (ENSO) diprediksikan akan mengalami kenaikan. Beberapa data dari Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa hilangnya kawasan hutan dan degradasi hutan masih terus berlangsung, terutama di Kawasan Konservasi (untuk pembangunan sektor lain, seperti perkebunan dan transmigrasi), serta Hutan Lindung. Laju deforestasi diperkirakan pada kurun waktu ini adalah sebesar 1,51 juta ha per tahun. Berdasarkan laju deforestasi tersebut dengan mengabaikan pengelompokan berdasarkan fungsi kawasan, diperkirakan pada tahun 2020 hutan di Jawa akan habis, Bali-Nusa Tenggara tersisa 0,08 juta ha, Maluku 2,37 juta ha, Sulawesi 7,20 juta ha, Sumatera 7,72 juta ha, Kalimantan 21,29 juta ha, dan Papua 33,45 juta ha. Hal ini terjadi jika tidak ada upaya dan intervensi apapun untuk mencegah dan mengurangi proses
  5. 5. deforestasi tersebut (Tim Kerja Pemulihan Kawasan Dieng (TKPKD) Kab. Banjarnegara, 2012). Keterbatasan daya dukung Jawa semakin diperparah dengan tingginya angka jumlah penduduk miskin di Pulau ini. Sumber daya hutan di Jawa dipadati oleh lebih dari 30 juta jiwa pada sekitar 6.200 desa hutan— dimana sebagian besar merupakan kantong- kantong kemiskinan. Enam puluh lima prosen penduduk Jawa menghuni kawasan pesisir dimana 20 % diantaranya merupakan penduduk miskin, termasuk di dalamnya kaum perempuan dan kaum marjinal lainnya. Tekanan penduduk miskin yang sebagian besar merupakan kaum perempuan dan kaum marjinal ini semakin potensial mengancam kelestarian sumber daya alam yang telah semakin terdegradasi. Daya dukung lingkungan di Jawa telah menurun merupakan suatu fakta yang tak dapat dipungkiri. Salah satu contoh penurunan kualitas lingkungan ini adalah penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya air sudah mulai nampak dibeberapa tempat di Jawa (Tim Kerja Pemulihan Kawasan Dieng (TKPKD) Kab. Banjarnegara, 2012). Bagi Indonesia, perubahan iklim merupakan ancaman yang serius. Terjadinya Krisis pangan karena kekeringan, rusaknya infrastruktur karena banjir (Tanujaya, 2002) merupakan beberapa ancaman serius yang ditimbulkan sebagai akibat perubahan iklim dewasa ini di Indonesia maupun jawa. Dampak perubahan iklim sangat nyata dialami oleh warga Jawa Tengah. Jawa Tengah sangat rentan dan rawan terhadap dampak perubahan iklim. Dari kejadian bencana yang terjadi di wilayah Jawa Tengah, seluruh bencana adalah dampak dari perubahan iklim yakni kekeringan, banjir, angin putting beliung, dan tanah longsor. Kesemuanya adalah dampak yang dapat dilihat secara kasat mata. Namun ada yang lebih besar dan jauh lebih penting dibanding dampak alam tersebut yakni dampak social dan ekonomi. Berapa kerugian yang diakibatkan adanya perubahan iklim. Petani yang gagal panen karean banjir dan kekeringan, nalayan tambak yang kehilangan ikannya, nelayan laut yang berhenti melaut karena badai, pedagang yang terhambat mobilitasnya karena banjir, dan masih banyak lagi dampak-dampak social dan ekonmi lainnya yang lebih penting dan krusial untuk segara dicari pemecahannya(The planet, 2008) KAWASAN MINAPOLITAN BUDIDAYA DI KEC. ROWOSARI KENDAL Kawasan minapolitan budidaya ikan lele di desa Tambak sari, Kec. Rowosari, Kab. Kendal, bermula salah seorang petani mencoba memelihara lele sekitar 15.000 ekor dan
  6. 6. ternyata hasilnya menguntungkan. Selanjutnya dalam pengembangan kawasan terkait dengan upaya mengubah citra budi daya lele bukan lagi sebagai budi daya kelas comberan, masyarakat pembudidaya di desa Tambaksari yang tergabung dalam Kelompok Pembudi daya Ikan (Pokdakan) Sido Makmur Desa Tambaksari mengembangkan budi daya lele sistem klaster (pengelolaan dalam satu wilayah secara terpadu) (Suprayoga, 2012). Gambar 1. Kampung Minapolitan Desa Tambaksari Kec. Rowosari, Kab. Kendal Saat ini kawasan minapolitan budidaya air tawar di desa Tambaksari, ini mempunyai luas areal hingga 6,5 ha dengan komoditas utama adalah ikan lele dan Gurameh. Disamping itu juga dibudidayakan ikan patin dan ikan nila. Berikut adalah data produksi ikan lele dari kawasan minapolitan tersebut dari tahun ke tahun. Tabel 1. Produksi Ikan Lele Kec. Rowosari Komoditas Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Produksi Lele (ton) 264,5 264,5 270,6 242,5 390,98 253,9 274,66 48,6 Sumber: BPS Kec. Rowosari dalam angka
  7. 7. Teknologi yang digunakan dalam sistem budidayanya adalah skala semi intensif dan intensif. Pemeliharaan dengan sistem air mengalir meski masih menggunakan sistem seri. Sistem seri ini sangat tidak dianjurkan dalam kegiatan akuakultur. Pada kegiatan akuakultur lebih direkomendasikan untuk sistem pengairan yang bersifat paralel. Penggunaan sistem air mengalir berarti harus ada ketersediaan air untuk pergantian air tiap hari pada media budidaya. Hasil survei di lokasi, kebutuhan akan air yang layak bagi kawasan budidaya tersebut adalah dengan debit harian 0,17 m3 /dt pada saluran primer. Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya dewasa ini kontinutitas ketersediaan air yang cukup di saluran primer. Terutama pada musim kemarau kadang hingga berhari hari tidak ada air yang mengalir ke areal budidaya. Hal ini menyebabkan kualitas air media pemeliharaan menjadi sangat jelek untuk kelangsungan hidup ikan sedangkan pada musim hujan berlaku sebaliknya, bahkan akhir ini menjadi semakin rawan terhadap terjadinya banjir. Tingkat ketersediaan air yang sangat berkurang pada saluran primer ini menjadi dugaan sebagai akibat terjadinya perubahan iklim global. Hal ini tidak lepas dari kecurigaan semakin rusaknya vegetasi di DAS lampir, yang merupakan sumber air bagi sistem irigasi yang mengairi areal minapolitan ini. BENDUNG KEDUNG ASEM SEBAGAI SISTEM IRIGASI KAWASAN MINAPOLITAN Bendungan Kedung Asem adalah bendungan yang membendung Kali (sungai) Kuto yang merupakan sungai terbesar dan sungai utama di Kecamatan Gringsing. Bendungan Kedung Asem didirikan untuk mengatur irigasi pertanian di daerah Kecamatan Gringsing bagian bawah yang meliputi desa Mentosari, Gringsing, Kebondalem, Lebo, Krengseng, Sidorejo, Yosorejo dan sebagian kecil daerah Kecamatan Weleri bagian barat (Gaweni, 2013). Termasuk juga mengairi kawasan budidaya ikan air tawar di desa Tambaksari, Kec. Rowosari. Daerah irigasi Kedung Asem terletak di Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Batang – Kendal, dengan luas potensial 4.353 ha luas terbangun 4.353 ha dan luas fungsional 4.353 ha. Daerah irigasi ini berada pada wilayah sungai Kuto, dengan sumber airnya adalah sungai Kuto dengan debit maksimum 504,8 m³/dt.
  8. 8. Berikut data spesifik tentang bendung Kedung Asem: Tabel 2. Spesifikasi Bendung Kedung Asem Spesifikasi lokasi bendungan Ukuran Panjang badan bendung + 66 m Tinggi mercu pada elevasi + 25,19 m Jumlah Pintu Intake 4 buah (2 bh Bd. Kedung Asem + 2 bh Bd. Timbang Saluran Primer luas areal 4.353 ha Panjang saluran primer 5.828 m Panjang saluran sekunder 51.157 m (Bbwspemali.pdsda Jateng, 2010) Gambar 2. Peta bendung Kedung Asem Gambar 3. Bendung Kedung Asem, Gringsing Batang Kali Kuto termasuk dalam daerah aliran sungai (DAS) Lampir (Suara merdeka, 1996). Das Lampir adalah bagian dari Satuan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai SWP DAS Banger Blukar . Luas wilayah Das Lampir seluas 69.266,58 ha atau sebesar 2,0403 % dari luas seluruh wilayah BPDAS Pemali Jratun. Das Lampir memiliki keliling Das WILAYAH SUNGAI BODRI - KUTO DI. Glapan 18.740 Ha DI. Bodri 8.862 HaDI. Kedung Asem 4.353 Ha DI. Jragung 4.053 Ha DI. Kedung Asem 4.353 Ha WILAYAH SUNGAI JRATUN SELUNA
  9. 9. sepanjang 101,21 Km. Letak geografis Das Lampir terletak di bagian utara Jawa Tengah yang melintasi 5 kabupaten yaitu mulai dari yang terluas Kabupaten Batang (50.081,82 ha), Kendal (18.911,32 ha), Banjarnegara (272,40 ha), Temanggung (1,04 ha), dan Kabupaten Wonosobo (0,00 ha). Tepatnya terletak pada posisi koordinat antara 109° 50' 31" - 110° 03' 38" Bujur Timur dan antara 6° 54' 14'' - 7° 12' 02'' Lintang Selatan. Type iklim Das Lampir menurut Smitch dan Ferguson termasuk kedalam iklim Tipe A dan Tipe B. Dengan curah hujan terendah 3000 mm dan tertinggi mencapai 4000 mm pertahun dan jumlah bulan kering 0 - 7 bulan dan bulan basah antara 2 - 12 bulan. Suhu udara di Das Lampir terendah berada pada 13 ° C dan suhu tertinggi mencapai 32 ° C. Suatu Daerah Aliran Sungai berdasarkan UU Kehutanan No.41 Tahun 1999 harus memiliki kawasan hutan yang harus dipertahankan minimal seluas 30% secara proporsional dari luas keseluruhan . Luas kawasan hutan di wilayah Das Lampir sudah memenuhi luas minimal yaitu memiliki luas kawasan hutan 62,39 % dari luas wilayah. Hasil skoring kekritisan lahan, untuk wilayah Das Lampir memiliki lahan kritis sebesar 17,32 % dari luas wilayah yang terbagi dalam tingkatan sebagai berikut Agak Kritis (4,57%), Kritis (1,54%), Potensial Kritis (11,19%), dan Sangat Kritis (0,02%).Sedangkan lahan yang tidak kritis sebesar 82,68% dari luas keseluruhan (Bpdas Pemali Jratun, 2000). POTENSI TEKANAN KETERSEDIAAN AIR DI KAWASAN MINAPOLITAN Fakta telah menunjukkan bahwa indonesia termasuk pulau jawa telah mengalami perubahan iklim dengan fenomena yang terjadi di sekitar kita akhir akhir ini (Kementerian PPN/Bappenas, 2013; the planet, 2008; stream indonesia, 2013; Tanujaya, 2002). Seperti yang dikatakan Tanujaya (2002), bahwa salah satu akibat dari perubahan iklim adalah terjadinya kerawanan pangan yang disebabkan oleh banjir dan kekeringan. Hal inilah yang menjadi dasar hipotesis adanya potensi tekanan akan ketersediaan air pada kawasan minapolitan budidaya air tawar di desa Tambaksari Kec. Rowosari, Kab. Kendal. Sering terjadinya. Sebagaimana yang telah dikatakan, bahwa sumber air dari bendung Kedung asem. Oleh karena itu untuk melihat potensi tekanan ketersediaan air pada kawasan minapolitan perlu untuk didasarkan dari jumlah debit yang dialirkan pada intake saluran irigasi. Berikut adalah jumlah debit bulanan yang dialirkan ke areal pertanian dan kawasan minapolitan Kec. Rowosari.
  10. 10. Berdasarkan data padat Tabel 1 di bawah ini, terlihat bahwa tekanan ketersediaan air tidak terlihat ada, justru rerata debit tahunan untuk daerah irigasi tersebut cenderung meningkat. Akan tetapi peningkatan debit ini tidak berkorelasi dengan peningkatan ketersediaan air pada kawasan minapolitan budidaya air tawar. Sedangkan data statistik justru menunjukkan bahwa lahan pertanian di kawasan tersebut tetap atau justru telah beralih fungsi sebagai perumahan. Tabel 3. Data debit bendung kedung asem yang masuk ke intake irigasi Bulan Tengah bulan Debit ke Arah areal kawasan minapolitan (m3/dt) Ket. Tahun 2011 2012 2013 2014 januari I 2,944 4,373 4,373 4,373 ii 2,944 4,372 4,372 0,547 februari I 2,944 4,372 4,372 - th 2014 pintu ditutup krn banjir II 2,944 4,372 4,036 4,372 maret I 2,944 4,372 4,372 4,372 II 2,944 4,372 4,372 4,372 April I 2,944 4,372 4,372 II 3,017 4,372 4,372 Mei I 3,017 4,372 4,372 II 3,017 4,372 4,372 juni I 3,017 4,372 4,372 II 3,017 4,372 4,372 Juli I 3,017 4,372 4,081 II 3,017 4,372 4,372 Agustus I 3,017 4,372 4,372 II 3,017 4,372 4,372 September I - - 4,372 2011&2012 pengeringan II 1,006 1,006 4,372 Oktober I 3,017 3,017 4,372 II 3,017 3,017 4,372 Nopember I 3,017 3,017 4,372 II 4,372 4,372 4,372 Desember I 4,372 4,372 4,372 II 4,372 4,372 4,372 Rerata debit tahunan 2,956 3,880 4,346 3,006 Sumber: DPSDA Jateng Peningkatan rerata debit yang dialirkan diduga sebagai akibat air yang masuk ke saluran irigasi hilang ditengah jalan karena rusaknya saluran irigasi dan sedimentasi. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Budi, (2013), bahwa area irigasi seluas 55% yang tersebar di kabupaten/kota, kondisi jaringan irigasi jarang terurus, sehingga sebenarnya
  11. 11. dibutuhkan pengelolaan dan perbaikan yang mendesak dari pemerintah kabupaten/kota menopang pengairan bagi petani di Jawa Tengah. Selanjutnya menurut Buntoro (2008), meski pada musim kemarau beberapa bendungan ketersediaan air tinggal 10% pada musim kemarau, namun sebenarnya debit air masih mencukupi untuk kebutuhan. Sedangkan seringnya air yang tidak mengalir selama beberapa hari pada musim kemarau lebih sebagai akibat dari kebijakan pemerintah kabupaten yang melakukan pengeringan di seluruh bendungan dan saluran irigasi selama satu bulan untuk perbaikan irigasi dan memutus mata rantai hama tanaman (Buntoro, 2008; Prayitno, 2013; Priyatin, 2012). Meski sebenarnya petani dan pembudidaya ikan masih membutuhkan air tersebut. Sedangkan potensi tekanan ketersediaan air pada bendung kedung asem sebagai hasil dari fenomena perubahan iklim dan kerusakan pada daerah DAS lampir masih berpotensi untuk terjadi. Hal ini sesuai dengan kondisi pada DAS lampir yang mengalami degradasi lingkungan dengan terjadinya deforestasi yang masif (BPDAS Pemali Jratun, 2000; Hisjam, 1996; Tim Kerja Pemulihan Kawasan Dieng (TKPKD) Kab. Banjarnegara, 2012) sebagai penopang ketersediaan air pada bendung kedung asem. Grafik berikut menggambarkan kondisi debit air yang mengalir ke bendung kedung asem Gambar 4. Debit air yang mengalir pada bendung Kedung asem beberapa tahun terakhir Memang dari data yang ada belum dapat dikatakan terjadi penurunan debit air yang mengalir ke bendung kedung asem terutama pada musim kemarau. Sedangkan pada tahun 2014 terjadi peningkatan debit yang sangat drastis pada musim hujan. Hal ini senada dengan proyeksi Hisjam (1996), yang mengatakan bahwa pada musim penghujan muncul
  12. 12. kecenderungan debit air di sungai tersebut semakin tidak terkontrol. Hal itu semata-mata disebabkan rusaknya daerah resapan air di daerah hulu DAS Lampir. "Hutan lindung di daerah hulu, yaitu wilayah lereng utara Gunung Perahu sejak beberapa tahun terakhir mengalami kerusakan yang sangat parah akibat penjarahan dan penebangan liar. Curah hujan bersama gerusan tanah mengalir deras ke DAS Lampir. KESIMPULAN Fenomena global perubahan iklim tidak dapat dihindari terjadinya. Perubahan iklim secara alami memang akan terjadi, akan tetapi aktivitas manusia yang berorientasi ekonomi lah yang mengakibatkan perubahan iklim menjadikan perubahan iklim terjadi menuju kondisi yang semakin tidak sesuai dengan kelayakan lingkungan untuk manusia di bumi hidup. Sebagai bagian dari masyarakat global, Indonesia dan pulau jawa pada khususnya tidak bisa lepas dari fenomena terjadinya perubahan iklim global. Kejadian bencana yang terjadi di wilayah Jawa Tengah, kekeringan, banjir, angin putting beliung, dan tanah longsor, semua adalah dampak dari perubahan iklim. Terjadinya kekurangan ketersediaan air pada musim kemarau pada kawasan minapolitan budidaya air tawar di desa Tambaksari Kec. Rowosari, belum dapat dikatakan sebagai akibat semakin berkurangnya ketersediaan air pada daerah irigasi yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Akan tetapi lebih kepada faktor rusaknya saluran irigasi dan dilakukanya pengeringan rutin saluran irigasi. Akan tetapi potensi terjadinya tekanan ketersediaan air ke depan tetap akan terjadi apabila semakin rusaknya kondisi DAS Lampir yang menopang sistem air di bendung Kedung Asem tidak segera dilakukan konservasi. Semakin tidak terkontrolnya debit air yang mengalir pada musim hujan ke bendung Kedung Asem, menjadi bukti kerusakan yang terjadi pada DAS Lampir disamping kemungkinan terjadinya perubahan pola curah hujan di daerah DAS sebagai akibat perubahan iklim. REFERENSI Bank Indonesia. (2010). Pola Pembiayaan Usaha Kecil Syariah (PPUK) Budidaya pembesaran ikan lele (p. 86). Jakarta: Bank Indoesia. BBWSPemali.pdsda Jateng. (2010). Laporan Pendukung Audit Teknis Infrasruktur Sumberdaya Air. Semarang. Retrieved from bbwspemali.pdsda.net BPDAS Pemali Jratun. (2000). Gambaran Umum DAS Lampir. Retrieved April 28, 2014, from http://www.bpdas-pemalijratun.net/
  13. 13. Budi, P. (2013, February 20). Dinas PSDA Jateng Desak Pemerintah Lakukan Perbaikan Irigasi. Semarang. Retrieved from http://www.lensaindonesia.com/2013/02/20/dinas-psda-jateng-desak-pemerintah- lakukan-perbaikan-irigasi.html Buntoro, T. P. (2008). September, Ketersediaan Air Tinggal 10%Tak Pengaruhi Pertanian. Retrieved April 26, 2014, from www.suaramerdeka.com Cochrane, K., De Young, C., Soto, D., & Bahri, T. (2009). Climate change implications for fisheries and aquaculture (No. 530). Gaweni, M. (2013). Bendungan Kedung Asem. Retrieved April 27, 2014, from http://4batang.blogspot.com/2013_03_01_archive.html Hisjam, I. (1996, February 14). Tanggul Kali Kuto Kurang Optimal. Kendal. Retrieved from www.suaramerdeka.com Kementerian PPN/Bappenas. (2013). Perubahan Iklim dan Dampaknya di Indonesia: Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API). Mohanty, B. P., Mohanty, S., Sahoo, J. K., & Sharma, A. P. (2007). Climate change : impacts on fisheries and aquaculture. Nature. (2014). Global Warming and Climate Change Threats and Impacts. Retrieved from http://www.nature.org/ourinitiatives/urgentissues/global-warming-climate- change/threats-impacts/ The planet. (2008). Dampak Perubahan Iklim di Jawa Tengah. Retrieved April 28, 2014, from http://theordinary.wordpress.com/2008/04/20/dampak-perubahan-iklim-di- jawa-tengah/ Prayitno, E. (2013). Kekeringan, petani minta Pemkab Kendal tak keringkan bendungan. Retrieved April 27, 2014, from sindonews.com Priyatin, S. (2012, August 30). Semua Bendungan di Kendal Akan Dikeringkan. kendal. Retrieved from http://regional.kompas.com/read/2012/08/30/20044921/Semua.Bendungan.di.Kend al.Akan.Dikeringkan Rumah Iklim. (2009). Apa itu Perubahan Iklim. Retrieved April 27, 2014, from http://rumahiklim.org/masyarakat-adat-dan-perubahan-iklim/apa-itu-perubahan- iklim/#more-105 Silva, S. S. De, & Soto, D. (2009). Climate change and aquaculture : potential impacts , adaptation and mitigation. In K. Cochrane, C. De Young, D. Soto, & T. Bahri (Eds.), Climate change implications for fisheries and aquaculture:overview of current scientific knowledge (FAO Fisher., pp. 151–213). Rome: FAO. Stream Indonesia. (2013). Proyeksi perubahan iklim untuk Jawa dan Indonesia. Retrieved April 27, 2014, from www.sreamindonesia.org Suprayoga, J. (2012). Tidak Lagi Berkelas Comberan Budi Daya Lele Semakin Meraja. Retrieved April 26, 2014, from suaramerdeka.com Tanujaya, O. (2002). Menghadapi Perubahan Iklim di Indonesia. Retrieved April 27, 2014, from http://www.pelangi.or.id/article-15-.html Tim Kerja Pemulihan Kawasan Dieng (TKPKD) Kab. Banjarnegara. (2012). Road Map Pemulihan Kawasan Dieng Tahun 2011-2016. WWF Indonesia. (2013). Seputar Perubahan Iklim. Retrieved April 27, 2014, from www.wwf.or.id

×