Jtptiain gdl-mohamadsho-5520-1-m.shokh-1

2,442 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,442
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
27
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Jtptiain gdl-mohamadsho-5520-1-m.shokh-1

  1. 1. IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUANPENDIDIKAN (KTSP) PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DI MA MA’AHID KUDUS TAHUN AJARAN 2010/2011 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam Oleh MOHAMAD SHOKEH NIM 093111371 FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011 i
  2. 2. PERNYATAAN KEASLIANYang bertanda tangan di bawah ini:Nama : Mohamad ShokehNIM : 093111371Jurusan/Progam Studi : Pendidikan Agama Islammenyatakan bahwa skripsi ini keseluruhan adalah hasil penelitian/karya sayasendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya. Semarang, 01 Juni 2011 Saya yang menyatakan Mohamad Shokeh NIM: 093111371 ii
  3. 3. KEMENTERIAN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS TARBIYAH Jl. Pro f.Dr. Hamka ( Kampus II) Ngaliyan Semarang Telp. 024-7601295 Fax 7615387 PENGESAHANNaskah skripsi dengan:Judul : IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) PADA MATA PELAJARAN AL- QUR’AN HADITS DI MA MA’AHID KUDUS TAHUN AJARAN 2010/2011Nama : Mohamad ShokehNIM : 093111371Jurusan : Pendidikan Agama IslamProgam Studi : Pendidikan Agama Islamtelah diujuikan dalam sidang munaqasyah oleh Dewan Penguji Fakultas TarbiyahIAIN Walisingo dan dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelarsarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam. Semarang, 11 Juni 2011 DEWAN PENGUJI Ketua, Sekretaris, Ismail, M.Ag. Dra. Siti Mariam, M.Pd. NIP : 197110211997031002 NIP :196507271992030002 Penguji I, Penguji II, Drs. Karnadi, M.Pd. Dr. H. Saefuddin Zuhri, M.Ag. NIP :196803171994031003 NIP :1958080519870301002 Pembimbing Tuti Qurrotul Aini, M.SI NIP : 197210161997032001 iii
  4. 4. NOTA PEMBIMBING Semarang 01 Juni 2011KepadaYth. Dekan Fakultas TarbiyahIAIN Walisongodi SemarangAssalamu’alaikum Wr. Wb.Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan, dankoreksi naskah skripsi dengan:Judul : IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) PADA MATA PELAJARAN AL- QUR’AN - HADITS DI MA MA’AHID KUDUS TAHUN AJARAN 2010/2011Nama : Mohamad ShokehNIM : 093111371Jurusan : Pendidikan Agama IslamProgam Studi : Pendidikan Agama IslamSaya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepdaFakultas Tarbiyah IAIN Walisingo untuk dijadikan dalam sid ang Munaqasyah.Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Pembimbing I, Tuti Qurrotul Aini, M.SI NIP : 197210161997032001 iv
  5. 5. ABSTRAK Judul : Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Mata Pelajaran Al- Qur’an - Hadits di MA Ma’ahid Kudus Tahun Ajaran 2010/2011 Penulis : Mohamad Shokeh NIM : 093111371 Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan: (1) Bagaimanaimplementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahidKudus? (2) Apakah faktor pendukung dan faktor penghambat dalamimplementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahidKudus? Permasalahan tersebut dibahas melalui studi lapangan atau penelitiankualitatif lapangan yang dilaksanakan di MA Ma’ahid Krapyak Kudus. Datanyadiperoleh dengan cara wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Semua datadianalisis dengan menggunakan metode analisis diskriptif kualitatif denganlangkah-langkah pengumpulan data (data collection), reduksi data (datareduction), penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan atauverification. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Implementasi KTSP PadaMata Pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus tahun ajaran 2010/2011sudah menerapkan sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditekankan dalam KTSP.(2) Faktor Pendukung Implementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Haditsadalah Sarana prasarana sudah cukup memadai, adanya sosialisasi mengenaikonsep-konsep dasar KTSP, Pembentukan kepanitiaan KTSP, Adanya timpengembang dan penyusun KTSP, Adanya pelajaran lain yang berhubungandengan pelajaran Al-Qur’an Hadits, serta dukungan yang kuat dari para alumniMA Ma’ahid Kudus. Sedangkan faktor penghamabat Implementasi KTSP padamata pelajaran Al-Qur’an Hadits adalah kemampuan guru dalam melakukanpenilaian secara mandiri atau berkelanjutan yang masih kurang, terbatasnya (dana,waktu, serta tenaga) dalam penggunaan metode pembelajaran, kurangnyakesiapan siswa untuk belajar mandiri. v
  6. 6. TRANSLITERASI ARAB-LATINPenulisan transliterasi huruf- huruf Arab Latin dalam skripsi ini berpedoman padaSKB Menteri dan Menteri Pendidikan Kebudayaan R.I. Nomor: 158/1987 danNomor 0543b/U/1987. Penyimpangan penulisan kata sandang [al-] disengajasecara konsisten supaya sesuai tek Arabnya. a ţ b z· t ٬ ś g j f ĥ q kh k D l ż m r n z w S h sy ٫ ş y ďBacaan Madd Bacaan Diftongā = a panjang = auĩ = i panjang =aū = u panjang vi
  7. 7. KATA PENGANTAR ‫بسم اهلل الرحمن الرحيم‬ Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq danhidayah-Nya, sehingga pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan skripsiini. Skripsi yang berjudul “ IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKATSATUAN PENDIDIKAN PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITSDI MA MA’AHID KUDUS TAHUN AJARAN 2010/2011 ”, ini disusun gunamemenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata 1 (satu) dalam IlmuPendidikan Islam pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang. Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dansaran-saran dari berbagai pihak, sehingga penyusunan skripsi ini dapatterealisasikan. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada :1. Dr. Suja’i, M.Ag., selaku Dekan fakultas tarbiyah IAIN Walisongo Semarang yang telah memberikan arahan tentang penyusunan skripsi ini.2. Hj.Tuti Qurrotul Aini, M.SI selaku dosen pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan, pengarahan dalam penyusunan skripsi ini..3. Zumam Efendi, selaku kepala Madrasah Aliyah Maahid Kudus beserta dewan guru dan karyawan, yang telah memberikan izin, bantuan dan dukungan kepada penulis untuk melakukan penelitian di MA Maahid Kudus.4. Ali Mahmudi,Lc dan Ahmad Ahid, Lc selaku guru Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus yang bersedia membantu dan mendukung penulis untuk melakukan penelitian di MA Ma’ahid Kudus.5. Para dosen dan staf pengajar di lingkungan IAIN Walisongo Semarang yang membekali berbagai pengetahuan, sehingga penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi ini.6. Seluruh keluarga yang senantiasa memotivasi baik materiil maupun spirituil dengan tanpa lelah dan bosan untuk membantu proses diri menjadi sosok vii
  8. 8. manusia pembelajar yang selalu didambakan keberhasilannya.7. Semua pihak dan teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu persatu, sedikit maupun banyak telah membantu proses dalam penulisan skripsi ini. Semoga amal baik beliau tersebut di atas dan juga semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan mendapatkan balasan pahala yang berlipat ganda di sisi Allah SWT. Amien. Akhirnya penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh mencapai kesempurnaan dalam arti sebenarnya, namun penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan para pembaca pada umumnya. Kudus, 01 Juni 2011 Penulis, Mohamad Shokeh NIM : 093111371 viii
  9. 9. DAFTAR ISI HalamanHALAMAN JUDUL…………………………………………… iPERNYATAAN KEASLIAN ….………………………....…... iiPENGESAHAN……………………………………..…………. iiiNOTA PEMBIMBING ………………………………………… ivABSTRAK …………………….………………………………. vTRANSLITERASI ………………....…………………………… viKATA PENGANTAR …………………………………………... viiDAFTAR ISI…………………………………………………….. ixBAB I : PENDAHULUAN………………………………...…… 1 A. Latar Belakang Masalah…………………..…............ 1 B. Rumusan Masalah………………………...…………. 4 C. Manfaat Penelitian ………………….......................... 4BAB II : LANDASAN TEORI ………….……..………………. 6 A. Kajian Pustaka ……………………...……................. 6 B. Kerangka Teoritik ………….…..…………………… 7 1. Implementasi…….………..…….……................. 7 a. Pengertian Implementasi……………………… 7 b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi 8 c. Kekuatan Pokok Implementasi ……..………… 8 2. Pengertian Kurikulum ….………………………… 9 3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 13 a. Pengertian KTSP………………………. ……… 13 b. Komponen-komponen KTSP…………………… 13 4. Landasan Yuridis KTSP ……………….…………. 15 5. Pembelajaran Berdasarkan KTSP ………..……….. 19 6. Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis ix
  10. 10. Kelas Dalam KTSP..................................….….. 26 7. Pelaporan KTSP ...………………………..……. 33 8. Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits…….…..….......... 35 a. Pengertian Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits….. 35 b. Karakteristik Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits… 35 c. Standar Kompetensi Kelulusan Al-Qur’an Hadits MA 38BAB III : METODE PENELITIAN …………….……………….. 39 A. Jenis Penelitian ……………………………………. 39 B. Tempat dan Waktu Penelitian ……………….……... 40 C. Sumber Penelitian …………………..…………….. 40 D. Fokus Penelitan ……………….………………….. 41 E. Teknik Pengumpulan Data ………………………… 41 F. Teknik Analisis Data ……..……………………….. 43BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS IMPLEMENTASI KTSP PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DI MA MA’AHID KUDUS ………………………….…… 46 A. Deskripsi Data Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di MA Ma’ahid Kudus…………………………. 46 1. Implementasi KTSP Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus…………… 46 2. Faktor Pendukung dan faktor Penghambat Dalam Implementasi KTSP Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits …..……………………............ 56 B. Analisis Pelaksanaan KTSP di MA Ma’ahid Kudus….… 60 1. Implementasi KTSP Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus…………… 60 2. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Dalam Implementasi KTSP Pada Mata Pelajaran x
  11. 11. Al-Qur’an Hadits …..……………………............ 73BAB V :PENUTUP……………………………………………… 76 A. Simpulan…………………………………………… 76 B. Saran….…………………………………………… 77DAFTAR PUSTAKADAFTAR TABELDAFTAR GAMBARDAFTAR SINGKATANDAFTAR LAMPIRANRIWAYAT HIDUP xi
  12. 12. DAFTAR GAMBARGambar 1 Tiga kemungkinan hasil penelitian, 24Gamabr 2 Menejemen kegiatan pembelajaran tuntas, 25Gambar 3 Peta Laporan guru, 33Gambar 4 Laporan Wali Kelas, 34Gamabr 5 Laporan Kepala Sekolah, 35 DAFTAR SINGKATANKTSP : Kurikulum Tingkat Satuan PendidkanRPP : Rencana PelaksanaanKBM : Kegiatan Belajar MengajarKKM : Kriteria Ketuntasan Minimal DAFTAR LAMPIRANLampiran 1 : Pedoman wawancara, observasi dan dokumentasiLampiran 2 : Penunjukan pembimbing skripsiLampiran 3 : Nilai ujian komprehensifLampiran 4 : Piagam Kuliah Kerja NyataLampiran 4 : Surat izin rizet kepada MA Ma’ahid KudusLampiran 5 : Surat keterangan sudah melakukan izin rizet di MA Ma’ahid KudusLampiran 6 : Foto copy contoh Silabus RPP MA Ma’ahid Tahun Pelajaran 2010/2011 dan sistem penilaian/evaluasinya xii
  13. 13. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidika (KTSP) adalah kurikulum yang disusun dan dilaksanakan dimasing- masing satuan pendidikan. 1 KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip – prinsip sebagai berikut: a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan potensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap serta tanggung jawab. b. Beragam dan terpadu.Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis. d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk didalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. e. Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran direncanakan dan disajikan secara berksinambungan antar semua jenjang pendidikan. 1 Khaeruddin dan Mahfud Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan (Konsep danImplementsainya di Madrasah), (Jogjakarta: Pilar Media, 2007), hlm. 79. 1
  14. 14. f. Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 2 Prinsip-prinsip tersebut perlu diterapkan oleh sekolah atau madrasahyang menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tanpaterkecuali, dengan harapan sekolah akan lebih baik dalam standarkelulusannya,Madrasah Aliyah Maahid, adalah sebuah pendidikan Islamyang berlandaskan Al-Qur’an Hadits, yang berdiri sejak tahun 1937 , telahmengalami pula beberapa pergantian kurikulum, mulai dari kurikulum tahun1950, kurikulum 1964, kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984,kurikulum 1994 dan kurikulum 2004 atau yang lebih kita kenal sebagaikurikulum KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi ). Sedangkan modelkurikulum terakhir adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)sebagai respon terhadap kondisi yang senantiasa berkembang setiap saat. Sejak pemerintah meresmikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP) pada tanggal 7 Juli 2006 Madrash Aliyah Ma’ahid juga meresponKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk diterapkan. Namun,dalam pelaksanaann dan penerapannya apakah ada hambatan? MengingatMA Ma’ahid Kudus adalah lembaga pendidikan Islam yang sudah tua, hal iniyang menarik untuk diadakan penelitian. Sarana prasarana pendukung yangkurang maksimal, kesiapan siswa yang kurang dan minimnya informasi yangdiperoleh oleh guru mengenai KTSP, akan menghambat dalam implementasiKurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP), hal ini pulalah yang membuatpeniliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits adalah salah satu mata pelajaran yangada dalam kurikulum Madrasah baik itu Madrasah Aliyah (MA), Madrasah 2 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 80 – 81. 2
  15. 15. Tsanawiyah (MTs), maupun Madrasah Ibtidaiyah (MI). Ini sesuai denganstruktur KTSP dasar dan menengah yang tertuang dalam standar isi (SI).Diantara satu dari kelompok standar isi tersebut adalah mata pelajaran Al-Qur’an Hadits. Di MA Ma’ahid Kudus mata pelajaran Al-Qur’an Hadits merupakansalah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan dengan harapan lulusan MAMa’ahid Kudus mampu membaca dan memahami Al-Qur’an Hadits denganbaik , dan pelajaran ini tidak berdiri sendiri tetapi didukung oleh beberapamata pelajaran lokal MA Ma’ahid Kudus antara lain adalah Ilmu Nahwu,Shorof, Lhugot Qur’an dan Al-Qur’an Hadits (Ilmu Mushtolah Hadits), yangtentunya medukung sekali dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadits. Akantetapi dalam penerapan KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MAMa’ahid Kudus, apakah sudah sesuai? Baik masalah kesesuain denganprinsip-prinsip KTSP, maupun delapan standar pendidikan yang harusdipenuhi. Kedelapan standar pendidikan meliputi standar isi (SI), standarproses, standar kompetensi kelulusan (SKL), standar tenega kependidikan,standar sarana prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan danstandar penilaian pendidikan. Kesesuaian dengan prinsip-prinsip KTSP maupun delapan standarpendidikan yang harus dipenuhi oleh sekolah/madrasah, sangat menentukanberhasil tidaknya sebuah lembaga pendidikan di mata pemerintah saat ini, halinilah yang membuat penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang“IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN(KTSP) PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DI MAMA’AHID KUDUS TAHUN AJARAN 2010/2011“. 3
  16. 16. B. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut : 1. Bagaimana implementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus ? 2. Apakah faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus?C. Manfaat Penelitian Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber referensi untuk penelitian lebih lanjut mengenai kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) serta dapat menambah pemahaman dan wawasan mengenai kurikulum baru yang menyempurnakan kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di sekolah menengah atas. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru : Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi untuk dapat : 1. Meningkatkan kualitas guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadits. 2. Membantu dalam pencapaian tujuan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). 3. Mengidentifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat di dalam pelaksanaan KTSP. 4
  17. 17. 4. Menganalisis sejauh mana optimalisasi KTSP pada mata pelajaran Al- Qur’an Hadits. 5. Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman dalam ruang lingkup yang lebih luas guna menunjang profesinya sebagai guru.b. Bagi Siswa 1. Menambah wawasan dan pemahaman mengenai KTSP. 2. Meningkatkan minat belajar Al-Qur’an Hadits. 3. Meningkatkan kepekaan siswa terhadap perkembangan IPTEK dan kaitannya dengan pelajaran Al-Qur’an Haditsc. Bagi MA Ma’ahid Kudus 1. Sebagai studi banding pelaksanaan KTSP pada mata pelajaran Al- Qur’an Hadits. 2. Pengembangan jaringan dan kerjasama strategis antara sekolah dengan pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengembangan sekolah.d. Bagi Peneliti Memperoleh wawasan dan pemahaman baru mengenai salah satu aspek yang penting dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan demikian, diharapkan peneliti sebagai calon guru agama Islam siap melaksanakan tugas sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman. 5
  18. 18. BAB II LANDASAN TEORIA. Kajian Pustaka 1. Penelitian Muhammad Sakdullah (NIM 3104128) yang berjudul : Konsepsi Ibnu Khaldun Tentang Belajar dan Relevansinya terhdap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ) : dalam penelitian ini dijelaskan konsep belajar Ibnu Khaldun dan Relevansinya terhadap KTSP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belajar menurut Ibnu Khaldun harus diarahkan pada pencapaian malakah semaksimal mungkin. Malakah tidak hanya intelektualitas tetapi juga skill dan sikap. Jadi wawasan malakah memberi kemungkinan pembentuan pribadi yang utuh. Menurut Ibnu Khaldun, pelajar sendirilah yang bertanggung jawab atas belajarnya. Murid sendiri yang membuat penalaran atas apa yang dipelajarinya dengan cara mencari makna, membandingkan dengan apa yang telah ia ketahui, serta menyelesaikan ketegangan antara apa yang telah ia ketahui dengan apa yang ia perlukan dalam pengalaman yang baru. Pelajar harus membentuk pengetahuan mereka sendiri dan guru membantu seba gai mediator dan fasilitator dalam proses pembentukan itu. Hal ini serupa dengan apa yang telah dicanangkan oleh pemerintah melalui kuriulum terbaru yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP lebih sederhana dari kurikulum sebelumnya dan memberikan keluasaan guru untuk berimprovisasi dalam praktik kegiatan belajar mengajar. Visi KTSP masih mengedepankan kompetensi siswa yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah atau sekolah. Jadi antara pemikiran Ibnu Khaldun dengan visi kurikulum KTSP berjalan searah yakni mengedepankan kompetensi peserta didik, namun komptensi dalam istilah Ibnu Khaldun sendiri disebut malakah.1 2. Penelitian Noor Rohman (NIM 3102328) yang berujudul : Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada mata pelajaran Pendidikan 1 Muhammd Sakdullah, “Konsepsi Ibnu Khaldun Tentang Belajar dan Relevansinyaterhdap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan )”, skripsi (Semarang: Fakultas TarbiyahIAIN Walisongo, 2009), hlm. 60. 6
  19. 19. Agama Islam di SMP N 18 Semarang: Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa, kurikulum yang diterapkan sudah sesuai. Indikasi kesesuai dapat dilihat dari beberapa hal, diantaranya: 1. Standar isi/kurikulum 2. Kegiatan Belajar Mengajar 3. Kompetensi kelulusan 4. Tenaga kependidikan 5. Sarana prasarana 6. Evaluasi hasil belajar. 2 Dari beberapa hasil penelitian yang ada terlihat bahwa ada kemiripan judul penelitian yang akan peneliti lakukan. Letak perbedaan terletak pada apakah MA Ma’ahid Kudus dalam menerapkan (mengimplementasikan) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada pembelajaran Al-Qur’an Hadits suadah sesuai dengan prinsip –prinsip KTSP? Peneliti menitik beratkan pada implementasi KTSP, serta faktor pendukung dan faktor penghambat implementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus.B. Kerangka Teoritik 1. Implementasi a. Pengertian Implementasi Implementasi merupakan suatu penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai, dan sikap. Dalam Oxford Advance Learner Dictionary dikemukakan bahwa implementasi adalah “put something 3 into effect” (penerapan sesuatu yang memberikan efek atau dampak). Berdasarkan definisi implementasi tersebut, implementasi kurikulum didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan kurikulum (kurikulum potensial) dalam suatu aktivitas mata pelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. 2 Noor Roh man, “Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada matapelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP N 18 Semarang”, skripsi (Semarang: Faku ltasTarbiyah IAIN Walisongo, 2009), h lm. 61-65. 3 Muhamad Joko Susilo , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Menjemen Pelaksanaandan Kesiapan sekoLah Menyongsongnya), ) Yogyakarta: Pustaka Pelajar , 2006), hlm. 174. 7
  20. 20. b. Fakto-faktor yang me mpengaruhi Implementasi Dalam hal ini Hasan yang dikutip Mulyasa (2002) mengungkapkan bahwa implementasi kurikulum adalah hasil terjemahan guru terhadap kurikulum sebagai rencana tertulis yang sedikitnya dipengaruhi oleh tiga foktor berikut: 1) Karakteristik kurikulum; yang mencakup ruang lingkup ide baru sauatu kurikulum dan kejelasan bagi pengguna dilapangan. 2) Strategi implementasi yaitu strategi yang digunakan dalam implementasi, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, lokakarya, penyediaan buku kurikulum, dan kegaiatan-kegiatan yang dapat mendorong penggunaan kurikulum di lapangan. 3) Karakteristik penggunaan kurikulum, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap guru terhadap kurikulum, serta kemampuannya untuk merealisasikan kurikulum (curriculum planning) dalam pembelajaran. 4 c. Kekuatan pokok Imple mentasi Secara garis besarnya implementasi kurikulum mencakup tiga kekuatan pokok, yaitu pengembangan program, pelaksanaaan pembelajaran, dan evaluasi. a. Pengembangan program. Pengembangan kurikulum mencakup pengembangan progam tahunan, progam semester, progam modul (pokok bahasan) program mingguan dan harian, progam pengayaan dan remedial, serta progam bimbingan dan konseling. b. Pelaksnaan pembelajaran. Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari dalam diri individu, maupun faktor eksternal yang datang 4 E Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Kemandirian Guru dan KepalaSekolah) , ) Jakarta: Bu mi A kasara , 2008), hlm. 180. 8
  21. 21. dari lingkungan. Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. c. Evaluasi Hasil Belajar. Evaluasi hasil belajar dam implementasi kurikulum dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi , bench marking dan penilaian program. 5 Berdasarkan uraian tersebut, implementasi mata pelajaran berbasis KTSP dapat didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan KTSP dalam suatu aktivitas mata pelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Implementasi KTSP juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum operasional dalam bentuk mata pelajaran. 2. Pengertian Kurikulum Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni “Curricule”, artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan memperoleh ijazah. 6 Menurut Harold Alberty curriculum is is all activities that are provided for students.7 (semua aktifitas yang disediakan untuk siswa)Menurut susan Feez dan Helen Joyce curriculum is a general statement of goals and outcomes , learning arrangements, evalution, and documentions relating to the management of programs with in educational institution.8 5 Joko Susilo , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 177. 6 Joko susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 77. 7 Harsono Tjokrosujoso”Curricu lu m and Material Develop men”, (Jakarta: DepartemenPendidikan Nasional,2003), hlm. 13 8 Susan Feez dan Helen Joyce, “Text -Based Syllabus Design”. (Sydney:MacquireUniversity, 1998), hlm. 9. 9
  22. 22. Pengertian kurikulum berdasarkan pemahamannya dapat dipandang sebagai kurikulum tradisional dan kurikulum secara modern. a. Pengertian kurikulum menurut pandangan tradisional Dalam kamus Webster’s New international Dictionary (1953) kurikulum diartikan sebagai : “ 1. A course of study, 2. All the courses of study given in an educationl institution” ( Lewis M. Adam, 1965 :247). Menurut Oemar Hamalik kurikulum menurut pandangan lama adalah: Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah. Pengertian ini mempunyai implikasi bahwa mata pelajaran pada hakekatnya pengalaman masa lampau, tujuannya untuk memperoleh ijazah (Hamalik,1993:8). Menurut S. Nasution kurikulum diartikan sebagai mata pelajaran yang diajarakan disekolah. Pengertian kurikulum yang dianggap tradisonal ini masih banyak dianut sampai sekarang termasuk juga di Indonesia. Pada pertengahan abad ke XX kurikulum diartikan sebagai “ sejumlah pelajaran yang harus ditempuholeh siswa untuk kenaikan kelas atau ijazah” (Hendayat, 1993:12). Dari definisi kurikulum secara tradisional masih tampak adanya kecendrungan penekanan pada rencana pelajaran untuk menyampaikan mata pelajaran yang masih banyak mengandung kebudayaan nenek moyang dan pengertian tersebut masih mengacu pada masa lampau. Kurikulum juga diartikan secara sempit hanya pada penyampaian mata pelajaran kepada anak didik. 9 b. Pengertian kurikulum menurut pandangan modern Dewasa ini kurikulum tidak hanya sebatas sebagai hal yang berhubungan dengan pendidikan, tetapi hendaknya kurikulum bisa lebih mengacu pada kemajuan teknologi dan pengetahuan. Jelaslah bahwa kurikulum bukan sekedar seperangakat mata pelajaran atau bidang9 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 25. 10
  23. 23. studi, tetapi sudah menjadi ajang politik, dan sudah menjadi bekal paralulusan untuk menjawab tuntutan masyarakat. Menurut Hilda Taba dalam bukunya Curriculum Development,menuliskan menuliskan “ Curriculum is, after all, a way of preparingyoung people to participate as productive members of ourculture”(Taba,1962:10). Tampaknya Hilda Taba mendefinisikankurikulum dengan lebih cenderung pada metodologi, yaitu caramempersiapkan manusia untuk berpartisipasi sebagai anggota yangproduktif dari suatu budaya. Sesuai dengan perkembangan,David Pratt dalam Curriculum,Design and Development menyatakan bahwa : A curriculum is anorganized set of formal educational and or training intentions(Pratt,1980: 4). Maksudnya kurikulum yaitu seperangakat organisasipendidikan formal atau pusat-pusat latihan. Selanjutnya ia membuatimplikasi secara lebih eksplisit tentang definisi yang dikemukakannyatersebut menjadi enam hal yaitu:1. Kurikulum adalah suatu rencana atau intentions, ia mungkin hanya berupa perencanaan (mental) saja, tetapi pada umumnya diwujudkan dalam bentuk tulisan;2. Kurikulum bukanlah kegiatan, melainkan perencanaan atau rancangan kegiatan;3. Kurikulum berisi berbagai macam hal seperti masalah apa yang harus dkembangkan pada diri siswa,evaluasi untuk menafsirkan hasil belajar, bahan dan peralatan yang dipergunakan, kua litas guru yang dituntut, dan sebagainya;4. Kurikulum melibatkan maksud atau pendidikan formal maka ia sengaja mempromosikan belajar dan menolak sifat rambang, tanpa rencana, atau kegiatan tanpa belajar;5. Sebagai perangkat organisasi pendidikan, kurikulum menyatukan berbagai komponen seperti tujuan, isi, sistem penilaian dalam satu 11
  24. 24. kesatuan yang tak terpisahkan atau dengan kata lain kurikulum adalah suatu sistem; 6. Pendidikan dan latihan dimaksudkan untuk menghindari kesalah pahaman yang terjadi jika suatu hal dilalaikan. 10 Menurut Winarno, sebagaimana dikutip oleh Burhan Nurgiyantoro, mendifinisikan kurikulum sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu (Burhan,tt: 6) Abdul Qadir yusuf dalam kitabnya At –tarbiyah wal mujtami’ mendefinisikan kurikulum sebagai berikut: “ Kurikulum adalah sejumlah pengalaman dan uji coba dalam proses belajar mengajar siswa di bawah bimbingan lembaga (sekolah)”. Berbagai pengertian atau definisi yang telah disebutkan diatas, menurut s. Nasution dapat diperoleh penggolangan sebagi berikut: a. Kurikulum dapat dilihat sebagai produk, yakni sebagai hasil karya para pengembang kurikulum, biasanya dalam suatu panitia. Hasilnya dituangkan dalam bentuk buku atau pedoman kurikulum, misalnya berisi sejumlah mata pelajaran yang harus diajarakan. b. Kurikulum dapat pula dipandang sebagai program, yakni alat yang dilakukan oleh sekolah untuk mencapai tujuaannya. Ini dapat berupa mengajarkan berbagai mata pelajaran tetapi dapat juaga meliputi segala kegiatan yang dianggap dapat mempengaruhi perkembangan siswa misalnya perkumpulan sekolah, pertandingan, pramuka, warung sekolah, dan lain- lain. c. Kurikulum dapat pula dipandang seabagai hal- hal yang diharapkan akan dipelajari siswa, yakni pengetahuan, sikap, ketrampilan tertentu. Apa yang diharapakan akan dipelajarai tidak selalu sama dengan apa yang benar-benar dipelajari.10 Junaidi, Kurikulum Tingk at Satuan Penddikan, hlm. 26. 12
  25. 25. d. Kurikulum sebagai pengalaman siswa. Ketiga pandangan di atas berkenaan dengan perencanaan kurikulum sedangakan pandangan ini mengenai apa yang secara aktual menjadi kenyataan pada tiap siswa. Pada hakikatnya kurikulum merupakan suatu cara untuk mempersiapkan anak agar berpartisipasi sebagai anggota yang berproduktif dalam masyarakatnya. Dalam kurikulum terdapat komponen-komponen tertentu yaitu pernyataan tentang tujuan dan sasaran, seleksi dan organisasi bahan dan isi pelajaran, bentuk dan kegiatan belajar mengajar dan evaluasi hasil belajar. 113. Kurikulum Tingkat Satuan Pe ndidikan (KTSP) a. Pengertian KTSP Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum yang disusun dan dilaksanakan di masing –masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus . 12 b. Komponen-komponen KTSP Komponen –Komponen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) komponen-komponen KTSP terdiri dari sebagai berikut : 1. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. 11 S Nasution. Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta: Bu mi Aksara, 2003), hlm. 7. 12 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan, hlm. 79. 13
  26. 26. a) Tujuan pendidikan dasar adalah meletakan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. b) Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. c) Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.2. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan mata pelajaran. Kedalaman muatan kurikulum setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut : 1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. 2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. 3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknlogi. 4) Kelompok mata pelajaran estetika. 5) Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan. Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan mata pelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 pasal 7. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi 14
  27. 27. muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk kedalam isi kurikulum. 3. Kalender Pendidikan Kurikulum tingkat satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Kelender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan mata pelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu mata pelajaran efektif dan hari libur. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing- masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu pada dokumen standar isi dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah 13 4. Landasan Yuridis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dilandasi oleh Undang- Undang dan Peraturan Pemerintah sebagai berikut : a. Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Dalam Undang-Undang tentang Sisdiknas dikemukakan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP) terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Selain itu juga dikemukakan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat : pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, IPA, IPS, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olah raga, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah dibawah koordinasi dan 13 E Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan Praktis. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya , 2006), h lm. 86. 15
  28. 28. supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP)14 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 adalah peraturan tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan diseluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terdapat 8 standar nasional pendidikan yang harus diacu oleh sekolah dalam penyelenggaraan kegiatannya. Ke 8 standar tersebut yaitu : 1) Standar isi 2) Standar proses 3) Standar kompetensi lulusan 4) Standar tenaga kependidikan 5) Standar sarana dan prasarana 6) Standar pengelolaan 7) Standar pembiayaan 8) Standar penilaian pendidikan Dalam peraturan tersebut dikemukakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan mata pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Selain itu, dalam peraturan tersebut juga dikemukakan bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan (SKL), dan standar isi (SI). SKL adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sedangkan standar isi adalah ruang lingkup materi dan14 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 271. 16
  29. 29. tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik. Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah diorganisasikan ke dalam lima kelompok, yaitu : 1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; 2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; 3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; 4) Kelompok mata pelajaran estetika; 5) Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan. 15 c. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 mengatur tentang standar isi yang mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Secara keseluruhan standar isi mencakup: 1) Kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan KTSP; 2) Beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah; 3) KTSP yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi; 4) Kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendid ikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. d. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 1615 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 329.16 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 365. 17
  30. 30. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 mengatur tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Standar Kompetensi Lulusan meliputi : 1) Standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah; 2) Standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajarn; dan 3) Standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. e. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 17 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 24 tahun 2006 mengatur tentang pelaksanaan peraturan menteri pendidikan nasional nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah serta peraturan menteri pendidikan nasional nomor 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Selain itu, dalam Permendiknas tersebut dikemukakan pula bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan panduan penyusunan KTSP pada satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Sementara bagi satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum atau tidak mampu mengembangkan kurikulum sendiri dapat mengadopsi atau mengadaptasi model kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP, ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah / madrasah.17 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 375 18
  31. 31. 5. Pembelajaran berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Implementasi KTSP akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran, yakni bagaimana agar isi atau pesan-pesan kurikulum (SK- KD) dapat dicerna oleh peserta didik secara tepat dan optimal. Guru harus berupaya agar peserta didik dapat membentuk kompetensi dirinya sesuai dengan apa yang digariskan dalam kurikulum (SK-KD), sebagaimana dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dalam hal ini akan terjadi interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam hal ini tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku tersebut. Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga kegiatan, yakni pembukaan, pembentukan kompetensi dan penutup. a. Pembukaan Pembukaan adalah kegiatan awal yang harus dilakukan guru untuk memulai atau membuka pembelajaran. Membuka pembelajaran merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan kesiapan mental dan menarik perhatian peserta didik secara optimal, agar mereka memusatkan diri sepenuhnya untuk belajar. Untuk kepentingan tersebut, guru dapat melakukan upaya-upaya sebagai berikut: 1. Menghubungkan kompetensi yang telah dimiliki peserta didik dengan materi yang akan disajikan. 2. Menyampaikan tujuan yang akan dicapai dan garis besar materi yang akan dipelajari (dalam hal tertentu,tujuan bisa dirumuskan bersama peserta didik). 3. Menyampaikan langkah – langkah kegiatan pembelajaran dan tugas- tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. 4. Mendayagunakan media dan sumber belajar yang bervariasi sesuai dengan materi yang disajikan. 19
  32. 32. 5. Mengajukan pertanyaan, baik untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap pembelajaran yang telah lalu maupun untuk menjajagi kemampuan awal berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari. Disamping upaya – upaya di atas, dalam implementasi KTSP banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk memulai atau membuka pembelajaran, antara lain melalui pembinaan keakraban dan pretes. 1. Pembinaan keakraban Pembinaan keakraban merupakan upaya yang harus dilakukan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mempersiapkan peserta didik memasuki proses pembelajaran. Suasana yang akrab akan menumbuhkan hubungan yang harmonis antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik. Pembinaan kekraban ini dapat dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut : a) Pada awal pertemuan pertama, guru memperkenalkan diri kepada peserta didik dengan memberi salam, menyebut nama, alamat, pendidikan terakhir, dan tugas pokoknya di sekolah. b) Guru melakukan pengecekan kehadiran peserta didik dengan cara memanggil nama-nama mereka berdasarkan buku daftar hadir. c) Berdasrkan urutan dalam daftar hadir, seluruh peserta didik diminta memperkenalkan diri dengan memberi salam, menyebut nama, alamat, pengalaman dalam kehidupan sehari- hari, alasan memilih belajar disekolah ini, dan harapan-harapan mereka terhadap sekolah. 18 2. Pretes (tes awal) Setelah pembinaan keakraban, kegiatan dilanjutkan dengan pretes. Pretes adalah tes yang dilaksanakan sebelum sebelum kegiatan inti pembelajaran dan pembentukan kompetensi dimualai, sebagai 18 E Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Kemandirian Guru dan KepalaSekolah), hlm. 183 20
  33. 33. penjajagan terhadap kemampuan peserta didik terhadap pembelajaran yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu pretes memegang peranan yang cukup penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Fungsi pretes antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut : 1) Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses be lajar, karena dengan pretes maka pikiran mereka akan terfokus pada soal-soal yang harus mereka kerjakan. 2) Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membandingkan hasil pretes dengan post tes. 3) Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai kompetensi dasar yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran. 4) Untuk mengetahui dari mana seharusnya proses pembelajaran dimulai, kompetensi dasar mana yang telah dikuasai peserta didik, serta kompetensi dasar mana yang perlu mendapat penekanan dan perhatian khusus. b. Pembentukan Kompetensi19 Pembentukan kompetensi peserta didik merupakan kegiatan inti pembelajaran, antara lain mencakup penyampaian informasi tentang materi pokok atau materi standar, membahas materi standar untuk membentuk kompetensi peserta didik, serta melakukan tukar pengalaman dan pendapat dalam membahas materi standar atau memecahkan masalah yang dihadapi bersama. Dalam pembelajaran, peserta didik dibantu oleh guru untuk membentuk kompetensi serta mengembangkan dan memodifikasi kegiatan pembelajaran, apabila19 Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 183 21
  34. 34. kegiatan itu menuntut adanya pengembangan atau modifikasi. Pembentukan kompetensi peserta didik perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan. Hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Pembentukan kompetensi dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya. Pembentukan kompentsi ini ditandai dengan keikutsertaa peserta didik dalam pengelolaan pembelajaran (participative instruction) berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab mereka dalam menyelanggarakan progam pembelajaran. Tugas peserta didik adalah belajar, sedangkan tanggung jawabnya mencakup keterlibatan mereka dalam membina dan mengembangkan kegiatan belajar yang telah disepakati dan ditetapkan bersama pada saat penyusunan program. Pembentukan kompetensi mencakup berbagai langkah yang perlu ditempuh oleh peserta didik dan guru sebagai fasilitator untuk mewujudkan standar kompetensi dan komptensi dasar. Hal ini ditempuh melalui berbagai cara, bergantung pada situasi, kondisi, kebutuhan, sertakemampuan peseta didik. Prosedur yang ditempuh dalam pembentukan kompetensi adalah sebagai berikut : 20 1) Berdasarkan kompetensi dasar dan materi standar yang telah dituangkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), guru menjelaskan stnadar kompetensi minimal (SKM) yang harus dicapai peserta didik dan cara belajar untuk mencapai kompetensi tersebut. 2) Guru menjelaskan materi standar secara logis dan sistematis, materi pokok dikemukakan dengan jelas atau ditulis dipapan tulis. Memberi kesempatan peserta didik untuk bertanya sampai materi standar tersebut benar-benar dapat dikuasai.20 Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 184 22
  35. 35. 3) Membagikan materi standar atau sumber belajar berupa hand out dan fotokopi beberapa bahan yang akan dipelajari. Materi standar tersebut sebagian terdapat diperpustakaan. Jika materi standar yang diperlukan tidak tersedia diperpustkaan maka guru memfotokopi dari sumber lain seperti majalah, surat kabar, atau men-down load dari internet. 4) Membagikan lembaran kegiatan untuk setiap peserta didik. Lembaran kegiatan berisi tugas tentang materi standar yang telah dijelaskan oleh guru dan dipelajari oleh pesrta didik. 5) Guru memantau dan memeriksa kegiatan peserta didik dalam mengerjakan lembaran kegiatan, sekaligus memberikan bantuan dan arahan bagi mereka yang menghadapi kesulitan belajar. 6) Setelah selesai diperiksa bersama-sama dengan cara menukar pekerjaan dengan teman lain, lalu guru menjelaskan setiap jawabannya. 7) Kekeliruan dn kesalahan jawaban diperbiki oleh peserta didik. Jika ada yang kurang jelas, guru memberikan kesempatan bertanya, tugas, atau kegiatan mana yang perlu penjelasan lebih lanjut. Dalam pembentukan kompetensi perlu diusahakan untuk melibatkan peserta didik seoptimal mungkin, dengan memberikan kesempatan dan mengikutsertakan mereka turut ambil bagian dalam proses pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk saling bertukar informasi antara peserta didik dengan guru mengenai materi yang dibahas, untuk mencapai kesepakatan, kesamaan, kecocokan dan keselarasan pikiran. Hal ini penting untuk menentukan persetujuan atau kesimpulan tentang gagasan yang bisa diambil atau tindakan yang akan dilakukan 21 berkenaan dengan topik yang dibicarakan. Pada pembelajaran tuntas, kriteria pencapaian kompetensi yang ditetapkan adalah minimal 75 % oleh karena itu setiap kegiatan21 Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 185 23
  36. 36. belajar mengajar diakhiri dengan penilaian pencapaian kompetensi siswa dan diikuti rencana tindak lanjutnya. Hasil penilaian ada tiga kemungkinan, yaitu kompetensi 75-85% dalam waktu terjadwal, kompetensi lebih dari 85 % dalam waktu kurang dari alokasi atau kompetensi dalam waktu terjadwal, sebagaimana yang tergambar berikut : Gambar 1 : Tiga Kemungkinan Hasil Penelitian 22 Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka tindak lanjutnya ada tiga kemungkinan, yaitu pemberian remedi, pemberian pengayaan, dan atau akselerasi. Perbedaan tindak lanjut tersebut berdasarkan variasi pencapaian kompetensi siswa sebagai berikut : 1) Melanjutkan ke KBM berikutnya secara klasikal bila dalam waktu terjadwal sebagian besar siswa mencapai kompetensi minimal 85 %. 2) Pemberian remedi secara individual / kelompok kepada siswa yang dalam waktu terjadwal belum mencapai kompetensi minimal 75 %, sehingga siswa tersebut belum diizinkan melanjutkan ke KBM berikutnya.22 Susilo , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 160 24
  37. 37. 3) Pemberian pengayaan kepada siswa yang sudah mencapai kompetensi antara 75-85 % sedangkan waktu terjadwal masih tersisa. 4) Pemberian izin akselerasi (percepatan) ke pembelajaran Kompetensi Dasar (KD) berikutnya secara individual kepada siswa yang sudah kompeten lebih dari 85 % sedangkan waktu terjadwal belum habis. Ilustrasi kegiatan tersebut di atas dapat diperjelas dengan gambar berikut: Gambar 2 : Manajemen kegiatan pembelajaran tuntas. 23 c. Pentup Penutup merupakan kegiatan akhir yang dilakukan guru untuk mengakhiri pembelajaran. Dalam kegiaatan penutup ini guru harus berupaya untuk mengetahui pembentukan kompetensi dan pencapaian tujuan pembelajaran, serta pemahaman peseta didik terhadap materi yang telah dipelajari, sekaligus mengakhiri kegaiatan pembelajaran. Untuk kepentingan tersebut guru dapat melak ukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :23 Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 161 25
  38. 38. 1) Menarik kesimpulan mengenai materi yang telah dipelajari (kesimpulan bisa dilakukan oleh guru, oleh peserta didik atas permintaan guru, atau oleh peserta didik bersama guru) 2) Mengjaukan beberapa pertanyaan untuk mengukur tingkat tingkat pencapaian tujuan dan keefektifan pembelajaran yang telah dilaksanakan 3) Menyampaikan bahan-bahan pendalaman yang harus dipelajari dan tugas-tugas yang harus dikerjakan (baik tugas individual maupun tugas kelompok) sesuai dengan pokok bahasan yang telah dipelajari. 4) Memberikan protes baik secara lisan, tulisan, maupun perbuatan. 246. Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kelas Dalam KTSP a. Pengertian Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan kegiatan penilaian yang dilakukan oleh guru secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar. Ada pula yang menyebut dengan Penilaian Berbasis Kemampuan Dasar (PBKD) karena penilaian yang dilakukan oleh guru dikembangkan berdasarkan kemampuan dasar yang harus dikuasai peserta didik. PBK/PBKD dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain pengumpulan hasil kerja peserta didik (portofolio); hasil karya (produk); penugasan (proyek); kinerja (performance) dan tes tertulis (paper and pencil test). Dalam hal ini guru menilai kompetensi dan hasil belajar peserta didik berdasarkan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), yang dijabarkan lebih lanjut menjadi indicator- indikator pencapaian (IP). 25 24 Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 186 25 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 223. 26
  39. 39. b. Prinsip-prinsip PBK Pada saat guru melaksanakan penilaian berbasis kelas ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yiatu : 1) Valid, artinya menilai yang seharusnya dinilai. 2) Mendidik, ada sumbangan positif terhadap pencapaian belajar peserta didik. 3) Berorientasi pada kompetensi, artinya menilai kompetensi yang ada pada kurikulum. 4) Adil, artinya tidak membedakan latar belakang peserta didik. 5) Terbuka, artinya kriteria dan acuannya jelas dan diinformasikan 6) Berkesinambungan, artinya dilakukan terencan, bertahap dan kontinu. 7) Menyeluruh, artinya meliputi teknik, prosedur, materi maupun aspeknya. 26 8) Bermakna, ditindak lanjuti oleh semua fihak. c. Karakteristik Sistem Pengujian 1) Sistem penilaian Berkelanjutan Untuk mengetahui seberapa jauh peserta didik telah memiliki kompetensi dilakukan ujian. Sistem ujian yang dilakukan harus mencakup semua kompetensi dasar dengan menggunakan indikator yang ditetapkan oleh guru. Sistem ujian berbasis kompetensi yang direncanakan adalah sistem ujian berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua komponen indikator dibuat soalnya, hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi yang telah dimiliki dan yang belum serta kesulitan peserta didik. Untuk itu digunakan berbagai bentuk tes, yaitu pertanyaan lisan dikelas, kuis ulangan harian, tugas rumah, ulangan semester.26 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 375. 27
  40. 40. Hasil Ujian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan, atau berupa progam remidi. Pendidikan berbasis kompetensi yang menekankan pada pencapaian kemampuan dasar, menggunakan berbagai teknik ujian dalam usaha untuk mengetahui tingkat pencapaian kemampuan dasar dan mentukan progam perbaikan. Oleh karena itu dalam sistem ujian berkelanjutan, guru harus membuat kisi-kisi ujian secara menyeluruh untuk satu semester dengan memilih teknik ujian yang tepat. Pengembangan sistem pengujian berbasis kemampuan dasar mencakup masalah: a) Standar Kompetensi (SK) b) Kemapuan Dasar (KD) c) Rencana Penilaian. Dikembangkan bersamaan dengan pengembangan silabus. d) Proses Pengujian. e) Proses Implementasi f) Pencatatan dan pelaporan 2) Teknik Penilaian Teknik penilaian adalah berbagai bentuk ulangan atau tugas untuk menunjukkan tingkat kemampuan peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. Tingkat berpikir yang digunakan dalam mengerjakan soal ujian harus mencakup mulai yang rendah sampai yang tinggi, dengan proporsi yang sebanding sesuai dengan jenjang pendidikan. Pada jenjang pendidikan menengah tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya terbanyak pada tingkat pemahaman, aplikasi, dan aanalisis. Teknik penilaian yang dapat digunakan adalah : 2727 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 224. 28
  41. 41. a) Kuis: Waktu ujian singkat kurang lebih 15 menit dan hanya menanyakan hal-hal yang prinsip saja dan bentuknya berupa isian singkat. b) Pertanyaan lisan dikelas c) Ulangan Harian: Ulangan harian dilakukan secara periodik misalnya empat minggu sekali. d) Tugas individu: Tugas ini dapat diberikan setiap minggu dengan bentuk soal uraian objektif atau non objektif. e) Tugas Kelompok: Tugas ini digunakan untuk menilai kemampuan kerja kelompok f) Ulangan Blok: Cakupan materi terdiri dari satu atu lebih kemapuan dasar. 3) Bentuk Tes Ada beberapa bentuk soal pengujian berbasis kemampuan dasar. Bentuk soal yang dapat digunakan adalah: a) Pertanyaan lisan dikelas. b) Pilihan ganda c) Urian objektif d) Jawab singkat atau isian singkat e) Menjodohkan f) Unjuk kerja g) Portofolio d. Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 28 1) Pengertian Kriteria Ketuntasan Minimal adalah tingkat pencapaian kompetensi dasar mata pelajaran oleh peserta didik per mata pelajaran. 2) Rambu-rambu28 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 233. 29
  42. 42. a) Nilai KKM dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat dengan rentang 0-100 b) Nilai KKM maksimum adalah 100 c) Madrasah dapat menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal di bawah 100, namun madrasah harus merencanakan target dalam waktu tertentu untuk mencapai nilai maksimum. d) Nilai KKM ditetapkan pada awal tahun pelajaran untuk setiap mata pelajaran dan dievaluasi ketercapaiannya pada setiap semester. e) Penetapan KKM dilakukan oleh forum guru baik yang berada dilingkungan madrasah yang bersangkutan maupun dengan madrasah/sekolah lain yang terdekat (yang telah melaksanakan KTSP) atu forum KKG?MGMP setempat. f) Penetapan nilai KKM dilakukan melalui analisis ketuntasan belajar minimum pada setiap Kompetensi Dasar (KD). g) Penetapan nilai KKM setiap KD dimaksud, dilakukan melalui analisis Indikator Pencapaian (IP) pada KD yang terkait. h) Nilai KKM setiap KD merupakan rata-rata nilai setiap indikator3) Kriteria Penetapan KKM a) Esensial  Sangat Esensial, karena berfungsi sebagai indikator kunci.  Cukup Esensial, karena berfunsi sebagai Indikator pendukung yang dapt melengkapi. b) Kompleksitas Indikator c) Daya Pendukung Yaitu tenaga, sarana prasarana pendidikan, biaya, menajemen, komite madrasah dan stakeholders madrsah. d) Intake peserta didik Intake merupakan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik yang meliputi Hasil seleksi Penerimaan Siswa Baru (PSB), 30
  43. 43. Rapor kelas terakhir dari tahun sebelumny, tes seleksi masuk atau psikotes dan nilai ujian Nasional bagi jenjang MTs dan MA.4) Menafsirkan KKM a) Dengan memberikan point pada setiap kriteria yang ditetapkan a. Esensial - Tinggi :3 - Sedang :2 - Rendah :1 b. Kompleksitas - Tinggi :3 - Sedang :2 - Rendah :1 c. Daya Dukung - Tinggi :3 - Sedang :2 - Rendah :1 d. Intake - Tinggi :3 - Sedang :2 - Rendah :1 Jika indikator memilki kriteria : Esensial tinggi, kompleksitas tinggi, daya dukung tinggi dan intake sedang maka KKM menjadi: (3 + 3 + 3 + 2) x 100 = 91, 67 12 b) Dengan menggunakan rentang nilai pada setiap kriteria: a. Esensial - Tinggi : 81-100 - Sedang : 65-80 31
  44. 44. - Rendah : 50-64 e. Kompleksitas - Tinggi : 81-100 - Sedang : 65-80 - Rendah : 50-64 f. Daya Dukung - Tinggi : 81-100 - Sedang : 65-80 - Rendah : 50-64 g. Intake - Tinggi : 81-100 - Sedang : 65-80 - Rendah : 50-64 Jika indikator memiliki kriteria Esensial tinggi ((90), kompleksitas sedang (70), daya dukung tinggi (90) dan intake sedang (70) maka KKM adalah rata-rata setiap unsur dari kriteria yang kita tentukan.5) Analisis pencapaian kriteria ketuntasan belajar peserta didik a) Kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan analisis rata-rata hasil pencapaian peserta didik terhadap Kriteria Ketuntasan Minimal yang telah ditetapkan pada setiap mata pelajaran. b) Melalui analisis dimaksud, diharapkan akan diperoleh data antara lain tentang: a. KD, yang dapat dcapai oleh 75% -100% dari jumlah peserta didik. b. KD, yang dapat dcapai oleh 50% -74% dari jumlah peserta didik. c. KD, yang dapat dcapai oleh £ 49% dari jumlah peserta didik. 32
  45. 45. c) Mnafaat hasil analisis: sebagai dasar untuk meningkatkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada setia semester atau tahun berikutnya dalam rangka mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal. d) Mekanisme Pelaksanaan analisa pencapaian standar ketuntasan belajar. a. Analisa Pencapaian Standar Ketuntasan Belajar dilakukan berdasarkan hasil pengolahan data perolehan nilai setiap peserta didik. Per mata pelajaran yang saat bersangkutan mengkuti pelajaran. b. Hasil pengkajian dimaksud, selanjutnya dianalisis dan direkap.7. Pelaporan KTSP Pelaporan mencakup laporan guru, laporan wali kelas, dan laporan kepala sekolah. Untuk lebih jelasnya dijelaskan sebagai berikut : a. Laporan guru Memuat hasil pembelajaran (mencapai kompetensi siswa) dan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Laporan guru disampaikan kepada wali kelas. Guru bisa melengkapi laporannya dengan informasi tentang hambatan yang dihadapi, upaya yang telah ditempuh, dan atau kegagalan yang terjadi karena adanya hambatan yang tidak bisa diatasi. Informasi tersebut merupakan bahan laporan wali kelas kepada kepala sekolah dan sebagai bahan menyusun program kerja tahun berikutnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut : 33
  46. 46. Gambar 3 : Laporan Guru29 b. Laporan wali kelas Memuat pretasi (pencapaian kompetensi) dari kelas binaannya untuk disampaikan kepada orang tua siswa dan siswa yang bersangkutan. Wali kelas juga membuat laporan tentang profil kompetensi siswa dan pembinaan yang pernah dilakukan atau kasus yang terjadi dari kelas binaannya untuk disampaikan kepada kepala sekolah. Laporan tersebut sebagai bahan kepala sekolah membuat laporan sekolah. Gambar 4 : Laporan wali kelas. 30 c. Laporan Kepala Sekolah Memuat hasil evaluasi kinerja sekolah secara keseluruhan, profil kompetensi siswa di sekolah yang dipimpinnya, serta pertanggungjawaban keuangan sekolah. Laporan kinerja sekolah secara keseluruhan, yang diharapkan dalam pedoman ini, lebih menekankan pada laporan akuntabilitas, yaitu laporan pertanggungjawaban berdasarkan kebenaran esensial dan faktual disamping berdasarkan dokumen tertulis. Laporan dibuat berdasarkan hasil evaluasi, akreditasi, dan hasil analisis faktual. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut :29 Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 16630 Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 167 34
  47. 47. Gambar 5 : Pola laporan Kepala Sekolah. 31 8. Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits a. Pengertian Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Mapel Al-Qur’an Hadits di Madrasah Aliyah adalah salah satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang merupakan peningkatan dari Al-Qur’an Hadits yang telah dipelajari leh peserta didik di MTs/SMP. 32 Sebagaimana yang tertera Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan (KTSP) MA Ma’ahid, mata pelajaran Al-Qur’an Hadits bertujuan agar peserta didik gemar untuk membaca Al-Qur’an dan Hadits dengan benar, serta mempelajarinya, memahami, meyakini, kebenarannya, dan mengamalkan ajaran-ajaran dan nilai- nilai yaang terkandung didalamnya sebagai petunjuk dan pedoman dalam seluruh aspek kehidupannya. b. Karakteristik Mata pelajaran Al-Qur’an-Hadits Mata pelajaran Al-Qur’an Hadits merupakan unsur mata pelajaran PAI pada madrasah yang memberikan pendidikan kepada peserta didik. Untuk memahami dan mencintai Al-Qur’an Hadits sebagai sumber ajaran Islam dan mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari- hari. 1) Tujuan 31 Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan, hlm. 168 32 Peratauran Menteri Agama RI No. 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusandan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah , hlm. 82 35
  48. 48. Mata pelajaran Al-Qur’an Hadits bertujuan agar peserta didik gemar untuk membaca Al-Qur’an dengan benar serta mempelajarinya, memahami, meyakini kebenarannya dan mengamalkan ajaran nilai- nilai yang terkandung didalmnya sebagai petunjuk dan pedoman seluruh aspek kehidupannya. Tujuan Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits di Madrasah Aliyah adalah sebagai berikut: a. Meningkatkan kecintaan peserta didik terhadap Al-Qur’an Hadits. b. Membekali peserta didik dengan dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an Hadits sebagai pedoman dalam menyikapi dan mengahadapi kehidupan. c. Meningkatkan pemahaman dan pengalaman isi kandungan al- Qur’an dan hadits yang dilandasi oleh dasar-dasar keilmuan tentang al-Qur’an dan hadits. 33 2) Fungsi Mata pelajaran Al-Qur’an Hadits pada Madrasah Aliyah memiliki fungsi sebagai berikut a. Pemahaman, yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan cara membaca dan menulis Al-Qur’an serta kandungan Al-Qur’an. b. Sumber nilai, yaitu memberikan pedoman hidup untuk mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat. c. Sumber motivasi, yaitu memberikan dorongan untuk meningkatkan kualitas hidup beragama, bermasyarakat, dan bernegara. d. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik dalam meyakini kebenaran agama Islam. e. Perbaikan, yaitu memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam keyakinan, pemahaman, dan pengalaman ajararan Islam peserta didik dalam keyakinan. 33 Peratauran Menteri Agama RI No. 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusandan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah , hlm. 83 36
  49. 49. f. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal- hal negatif dari lingkungan atau budaya lain yang dapat membahayakan diri peserta didik dan menghambat perkembangan menuju manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. g. Pembiasaan, yaitu menyampaikan pengetahuan dan pemahaman nilai- nilai Al-Qur’an Hadits pada peseta didik sebagai petunjuk dan pedoman.3) Ruang Lingkup Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits a. Masalah dasar –dasar ilmu al-Qur’an dan al-Hadits, melipti : 1. Pengetahuan Al Qur’an menurut para ahli 2. Pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi 3. Bukti keotentikan al-Qur’an ditinjau dari segi keunikan redaksinya, kemukjizatan, dan sejarahnya 4. Isi pokok ajaran al-Qur’an dan pemahaman kandungan ayat- ayat yang terkait dengan isi pokok ajaran al-Qur’an 5. Funsi al-Qur’an dalam kehidupan 6. Fungsi hadits terhadap al-Qur’an 7. Pengenalan kitab-kitab yang berhubungan dengan cara-cara mencari surat dan ayat dalam al-Qur’an 8. Pembagian hadits dari segi kuantitas dan kualitasnya. b. Tema-tema yang ditinjau dari perspektif al-Qur’an dan al-Hadits, yaitu : 1. Manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi 2. Demokrasi. 3. Keikhlasan dalam beribadah. 4. Nikmat Allah dan cara mensyukurinya. 5. Perintah menjaga kelistarian lingkungan hidup. 6. Pola hidup sederhana dan perintah menyantuni para dhuafa. 7. Berkompetensi dalam kebaikan 8. Amar ma’ruf nahi mungkar 9. Ujian dan cobaan manusia 37
  50. 50. 10. Tanggung jawab manusia terhadap keluarga dan masyarakat 11. Berlaku adil dan jujur 12. Toleransi dan etika pergaulan 13. Etos kerja 14. Makanan yang halal dan baik 15. Ilmu Pengetahuan dan teknologi. 34 c. Standar Kompetensi Kelulusan Al-Qur’an Hadits Madrasah Aliyah Memahami isi pokok Al-Qur’an, fungsi, dan bukti-bukti kemurniaannya, istilah- istilah hadits terhadap Al-Qur’an, pembagian hadits ditinjau dari segi kuantitas dan kualitasny, serta memahami dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits tentang manusia dan tanggung jawabnya di muka bumi, demokrasi serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 35 34 Peratauran Menteri Agama RI No. 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusandan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah , hlm. 87-88 35 Peratauran Menteri Agama RI No. 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusandan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah , hlm. 5. 38
  51. 51. 39
  52. 52. BAB III METODE PENELITIANA. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan untuk mengkaji mengenai Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti sebagai instrumen kunci. Pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. 1 Penelitian kualitatif sering disebut penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting). Disebut sebagai penelitian kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. Filsafat postpositivisme sering juga disebut sebagai paradigma interpretatif dan konstruktif, yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif (reciprocal). Penelitian dilakukan pada obyek yang alamiah, obyek yang alamiah adalah obyek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak begitu 2 mempengaruhi dinamika pada obyek tersebut. Penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini karena pada umumnya permasalahannya belum jelas, holistik, dinamis, dan penuh makna sehingga tidak mungkin data pada situasi sosial tersebut diperoleh dengan 1 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung:Alfabeta, 2006), h lm.15 2 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, hlm.14 39
  53. 53. penelitian kuantitatif dengan instrumen seperti test, kuesioner, pedoman wawancara. Selain itu peneliti bermaksud memahami situasi sosial secara mendalam, menemukan pola, hipotesis dan teori. 3 Terkait dengan jenis penelitian tersebut, maka penelitian bertumpu pada penelitian fenomenologis, yakni usaha untuk memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu. 4 Dalam hal ini, peneliti berusaha untuk masuk ke dalam dunia konseptual para subyek yang diteliti sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka disekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari- hari. Dengan penelitian inilah diharapkan bahwa Implementasi Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus tahun ajaran 2010/2011 dapat dideskripsikan secara lebih teliti dan mendalam.B. Tempat dan Waktu Penelitian Dalam penelitian ini yang dijadikan lokasi atau tempat penelitian adalah MA Ma’ahid Krapayak Kudus, Jl. K.H Muhammad Arwani Krapyak Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus. Adapun waktu penelitian adalah tanggal 1 Mei sampai dengan 30 Mei tahun 2011.C. Sumber Penelitian Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. 5 Sedangkan menurut Lofland dan Lofland menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain- lain. 6 3 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, hlm.399 4 Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif; Edisi Revisi. PT Remaja ( Bandung:Rosdakarya, 2004), h lm.9 5 Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendeketan Praktek, Edisis Revisi VI. (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), Hlm.129 6 J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, hlm. 157 40
  54. 54. Dengan demikian, sumber data penelitian yang bersifat kualitatif dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Sumber data primer Yaitu sebagai sumber data yang bersifat utama dan langsung berkaitan dengan objek yang diteliti, 7 yaitu Kepala Sekolah, dua guru Al- Qur’an - Hadits, dan lima siswa MA Ma’ahid kudus sebagai sumber data. Pengambilan data dilakuakan dengan wawancara (interview). Sampel sumber data dalam penelitian ini bersifat purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek yang diteliti. 8 b. Sumber data sekunder Yaitu sumber data yang bersifat kedua. Sumber data ini di peroleh dari literatur, yaitu berupa buku Al-Qur’an Hadits yang digunakan dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadits, foto-foto yang terkait seperti foto Kegiatan Belajar Mengar (KBM), RPP, maupun silabus mata pelajaran Al- Qur’an Hadits.D. Fokus Penelitian Penelitian ini difokuskan untuk meneliti tentang Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Mata Pelajaran Al- Qur’an Hadits di Ma Ma’ahid Kudus Tahun Ajaran 2010/2011.E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Dalam 7 Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Pendidikan , (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1996), h lm. 83 8 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: CV A LFA BETA, 2005), hlm.53-54 41
  55. 55. penelitian kualitatif lapangan, data yang dikumpulkan dalam penelitian iniberupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapatdiamati, maka metode yang digunakan untuk proses pengumpulan data dalampenelitian ini adalah :a. Observasi Dengan observasi, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak. Susan Stainback menyatakan “in observation the researcher observes what people do, listent to what they say, and participates in their activities” maksudnya dalam observasi, peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka 9 ucapkan, dan berpartisipasi dalam aktivitas mereka.b. Wawancara (Interview) Wawancara/interview yaitu cara mengumpulkan data dengan tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematis dan berlandaskan kepada tujuan penelitian. 10 Penulis akan melakukan tanya jawab kepada pihak- pihak yang terkait. Adapun pihak –pihak yang di wawancarai adalah sebagai berikut : 1. Waka Kurikulum, materi wawancara seputar kurikulum sebelumnya, kurikulum yang sekarang diterapkan di sana, dan pelaksanaan KTSP, apa saja faktor penghambat dan faktor pendukung yang dihadapi dalam mengimplementasikan KTSP. 2. Guru Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits, materi wawancara seputar materi pelajaran Al-Qur’an Hadits, respon terhadap pelaksanaan KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits, sumber belajar, media yang digunakan, serta bagaimana penyusunan perenca naan mata pelajaran Al-Qur’an Hadits.c. Meteode Dokumentasi 9 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, hlm. 331 10 Hadi, Metodologi Research , hlm. 151 42
  56. 56. Studi dokumentasi adalah mencari data mengenai hal- hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya. 11 Studi dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu, dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya- karya monumental dari seseorang. 12 Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto- foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah lalu. Akan tetapi perlu dicermati bahwa tidak semua dokumen memiliki kredibilitas yang tinggi. Informasi atau data yang dikumpulkan melalui dokumentasi antara lain : 1. Data tentang kurikulum mata pelajaran Al-Qur’an Hadits 2. Data tentang kondisi lingkungan sekolah, data guru, staf tata usaha, siswa dan organisasi sekolah 3. Data tentang (RPP) dan silabus tetulis milik guru, progam tahunan, semesteran, atau ulangan harian dan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Qur’an dan Hadits. 4. Buku mata pelajaran Al-Qur’an Hadits, yang digunakan dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadits.F. Teknik Analisis Data Dalam kaitannya dengan penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan langkah- langkah yang ditempuh yaitu sebagai berikut : a. Pengumpulan data (data collection) Dilaksanakan dengan cara pencarian data yang diperlukan terhadap berbagai jenis data dan bentuk data yang ada di lapangan, 11 Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendeketan, hlm. 231. 12 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, hlm. 329. 43

×