Selenium Sperma Pada Pria Perokok

1,517 views

Published on

Hubungan antara Kadar Selenium dan Kualitas Semen Pada Pria Perokok

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,517
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Selenium Sperma Pada Pria Perokok

  1. 1. RINGKASAN<br /><ul><li>Merokok tembakau telah menjadi masalah kesehatan global yang serius. Asap rokok merupakan oksidan bagi tubuh yang menyebabkan berbagai kelainan pada beberapa sistem tubuh (Zahraie, 2005). Dengan adanya kecenderungan jumlah perokok Indonesia yang bertambah maka angka kejadian infertilitas di Indonesia diperkirakan akan meningkat di tahun – tahun mendatang. Namun, data mengenai kadar Selenium semen pada perokok di Indonesia sampai saat ini belum ada.</li></ul>Kandungan asap rokok tembakau merupakan oksidan dan pro oksidan yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan radikal bebas dan meningkatkan oksidatif stress. Selenium (Se) merupakan komponen dari sebuah asam amino, selenocystein, tipikal selenoprotein dan terlibat dalam pengaturan biologikal yang spesifik. Enzim tergantung pada kinerja Selenium di dalam pengaturan sel seperti melindungi kerusakan akibat oksidatif, melawan infeksi, dan modulasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan. <br /><ul><li>Tujuan penelitian ini untuk menentukan perbedaan kadar Selenium semen pria perokok dengan non perokok dan untuk menentukan hubungan kadar Selenium semen pada pria perokok dengan motilitas, konsentrasi dan bentuk normal spermatozoa.
  2. 2. Manfaat hasil penelitian ini memberikan kontribusi mengenai kadar Selenium semen pria perokok dan dapat dilanjutkan untuk menentukan komponen Selenium dalam enzim glutathione peroksidase (GSH-Px) pada pria perokok. Dengan mengetahui kadar Selenium semen pria perokok maupun non perokok diharapkan dapat memberikan evidence base dibidang infertilitas pria dan dapat dipakai sebagai rujukan dalam meningkatkan kesehatan lingkungan.
  3. 3. Bentuk – bentuk dan penggunaan tembakau sangat bervariasi. Produk – produk tembakau yang dipergunakan secara luas di masyarakat dan produksi komersial mengacu pada 3 jenis sediaan tembakau, yaitu : gulungan tembakau (rolls of tobacco) yang dibakar dan dihisap (rokok), pipa (pipes), dan sediaan oral (oral preparations). Pada penelitian ini hanya meneliti gulungan tembakau yang dibakar dan dihisap (rokok).</li></ul>Rancangan penelitian analitik observasional cross sectional, laboratorik dengan rancangan penelitian ex-post facto design. Sampel penelitian diambil berdasarkan purposive sampling menurut ciri-ciri yang penting yaitu perokok, non perokok. Besar sampel total 69 orang yang terbagi atas dua kelompok, yaitu : pria perokok sebanyak 36 sampel dan pria non perokok sebanyak 33 sampel. Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah kadar Selenium (Se) semen pria perokok, sedangkan variabel terikat (Y) adalah konsentrasi, motilitas dan bentuk normal spermatozoa pria perokok. Analisis data dengan menggunakan SPSS versi 13.0. Tahapan yang dilakukan : deskripsi data yang diolah dari data primer, untuk analisis beda mean antar kelompok dipergunakan uji t test, analisis korelasi dipakai analisis Pearson bila uji normalitas normal, sedang bila uji kenormalan data didapatkan hasil tidak normal maka dipakai analisis Spearman.<br /><ul><li>Penelitian ini dilaksanakan di klinik Andrologi RSUD Dr. Soetomo – Surabaya dan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Daerah Surabaya, Selenium diperiksa dengan atomic absorption spectrophotometry (AAS). Dimulai pada tanggal 8 Juni sampai 15 Oktober 2009.</li></ul>Hasil Penelitian kadar rata – rata Selenium pada kelompok pria perokok adalah sebesar 158.50 ± 77.351. Dan kadar rata- rata Selenium pada kelompok pria non perokok adalah sebesar 195.32 ± 73.330. <br />Kadar Selenium rata - rata pada penelitian Jurasovic et al, 2004 pada 123 orang Kroasia didapatkan hasil sebesar 72.7 ug/L (51.9 – 106.9), penelitian Saaranen et al 1987 dengan sampel 142 didapatkan hasil 28.8 ± 9.5 ug/L. Kadar Selenium semen yang lebih rendah pada perokok dibandingkan dengan non perokok sesuai dengan hasil penelitian Omu et al (1998) tapi kadar selenium yang lebih rendah yaitu dengan mean 43.4 - 43.9 pg/ml maupun penelitian dari Bleau et al (1984) yang berkisar pada 71.3 ng / ml. Bila berdasarkan rasio kadar Selenium darah / semen pada penelitian Omu et al (1998) sebesar 0.44 pada pria perokok dan 3.7 pada pria non perokok maka hasil kadar Selenium pada penelitian ini dalam range sebagaimana pada orang sehat di negara China dan Amerika Serikat (Reilly, 2006). <br />Dari hasil perhitungan diperoleh nilai signifikansi uji Levene yaitu 0.635, maka dilakukan Independent t-Test dengan ragam sama, dimana didapatkan nilai signifikansi untuk uji independent t-test adalah sebesar 0.047, maka keputusannya adalah H0 ditolak dan H alternatif diterima yaitu bahwa terdapat perbedaan kadar Selenium pada kelompok pria perokok dan non perokok. <br />Berdasarkan pada hasil analisa korelasi pearson diketahui bahwa antara kadar Selenium pada pria perokok dengan semua variabel berhubungan negatif. Kadar Selenium dengan motilitas dan bentuk normal spermatozoa menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan karena nilai signifikansi berada di atas taraf 0.05, sedangkan konsentrasi spermatozoa diketahui menunjukkan hubungan yang signifikan negatif karena nilai signifikansi berada dibawah taraf 0.05. Hasil dalam penelitian ini berbeda dengan penelitian De, Xiang-Xu et al 2002 yang mendapatkan adanya hubungan antara Selenium dengan konsentrasi spermatozoa (r = 0.49, P <0.01), Selenium dengan motilitas spermatozoa (r = 0.40, P <0.01). Bleau et al, 1984 juga mendapatkan hubungan korelasi positif signifikan antara konsentrasi sperma dengan kadar Selenium. Namun hasil diatas sesuai dengan penelitian Saaranen et al (1987), Roy et al (1990) yang mendapatkan hasil tidak ada korelasi antara kadar Selenium dengan konsentrasi dan motilitas spermatozoa. <br />Kesimpulan : ada perbedaan kadar Selenium pada pria perokok lebih rendah dibandingkan dengan bukan perokok (p < 0.05 ) dan ada korelasi negatif antara kadar Selenium dengan konsentrasi spermatozoa (p < 0.05) dan tidak ada hubungan signifikan antara kadar Selenium dengan motilitas dan bentuk normal spermatozoa. <br />Saran : Perlunya dilakukan usaha – usaha menghentikan kebiasaan merokok berupa kampanye “stop merokok”, perluasan kawasan area “bebas asap rokok”, sosialisasi klinik ketergantungan rokok. Penggunaan supplementasi Selenium agar dapat dipergunakan secara hati-hati karena sifat antioksidan selenium akan berubah menjadi oksidan (toksik) pada dosis yang berlebihan. Keterbatasan penelitian pada penelitian ini adalah bersifat cross sectional, perlu adanya penelitian yang bersifat longitudinal untuk melihat hubungan kadar Selenium dengan hasil analisis semen, serta peranan komponen zat-zat toksik pada asap rokok seperti mercury dan arsenic.<br />

×