Bab 1

2,169 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,169
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
31
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab 1

  1. 1. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak runtuhnya kerajaan Umayyah di Damaskus dan Abbasyiah di Bagdad, perkembangan umat Islam semakin lama semakin mengalami kemunduran dalam berbagai aspek. Gerakan pemikiran intelektual dan terjemahan tidak berkembang seperti pada masa kedua bani tersebut. Perbedaan paham antara Sunni dan Syi’ah telah melahirkan orientasi yang saling bertentangan. Bahkan, yang mengerikan lagi adalah tumbuh-suburnya sebagian aliran mistik/sufisme dikalangan umat Islam. Mereka menganggap bahwa kehidupan dunia tidaklah mungkin mampu memberikan kepuasan dan keselamatan hidup bagi manusia, sementara kehidupan akhirat dalam pandangan mereka adalah tujuan murni yang tidak dapat dicampuri oleh urusan-urusan dunia (profan). Kemunduran dan keterbelakangan umat Islam berakibat pada kemajuan yang hampir fatal, atau bahkan mendekati sekularisme -dalam istilah barat- yakni memisahkan antara urusan dunia di satu pihak dan urusan akhirat dipihak lain, atau antara urusan negara dan agama berjalan sendiri-sendiri. Kemunduran peradaban umat Islam semakin dirasakan, ketika barat (Eropa), terutama di Prancis, sebagai negara terkemuka waktu itu telah mulai bangkit dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuannya. Selanjutnya, sikap umat Islam semakin tertinggal dalam mengahadapi kemajuan yang sangat pesat. Terlebih lagi, bangsa Eropa mulai melancarkan ekspansi ke daerah-daerah kekuasaan Islam. Namun kemajuan mereka, ada untungnya dan ruginya bagi umat Islam. Memasuki periode pertengahan ini ditandai dengan tampilnya tiga kerajaan. Tiga kerajaan yang dimaksud adalah kerajaan Usmani di Turki, kerajaan Safawi di Persia/Iran dan kerajaan Mughal di India. Oleh para penulis sejarah, ketiga kerajaan tersebut memiliki kejayaan masing-masing terutama dalam bidang arsitek dan bentuk literatur.1 1 Munir Amin Samsul. Sejarah Peradaban Islam. Amzah.Jakarta : 2010. hlm. 187.
  2. 2. A. Rumusan Masalah Agar tidak terjadi kesimpang siuran dalam penyusunan makalah ini, maka saya merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana perkembangan dan kemajuan dinasti Usmaniyah di Turki ?? 2. Bagaimana perkembangan dan kemajuan dinasti Safawi di Persia ?? 3. Bagaimana perkembangan dan kemajuan dinasti Mughal di India ?? 4. Sumbangsih ketiga dinasti terhadap Peradaban Islam ?? B. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari makalah ini yaitu: 1. Mahasiswa mampu menjelaskan perkembangan dan kemunduran dinasti Usmaniyah di Turki. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan perkembangan dan kemajuan dinasti Safawi di Persia. 3. Mahasiswa mampu menjelaskan perkembangan dan kemajuan dinasti Mughal di India 4. Mahasiswa mampu menjelaskan berbagai macam Sumbangsih ketiga dinasti terhadap Peradaban Islam.
  3. 3. BAB II PEMBAHASAN A. Dinasti Usmani di Turki Setelah Khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar, diantaranya Usmani di Turki, Mughal di India dan Safawi di Persia. Kerajaan Usmani ini adalah yang pertama berdiri juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya. Untuk mengetahui lebih jelasnya maka dalam makalah ini akan diterangkan lebih lanjut mengenai Turki Usmani. 1. Asal mula berdirinya dinasti usmani Nama dinasti Usmani berasal dari nama Usman putra Ertughul. Kerajaan Turki usmani didirikan oleh bangsa pengembara Turki dari kabilah Orguz yang mendiami daerah Asia tengah atau daerah utara Cina. Mereka masuk Islam sekitar abad ke-9 atau ke-10. Pada abad ke-13, di karenakan adanya tekanan bangsa Mongol, atas perintah kepala kabilah Sulaiman Syah, kira-kira 400 kepala keluarga yang dipimpin oleh putranya Ertughul mengungsi ke saudara mereka Turki Saljuk yang berpusat di Konya Anatolia daerah dataran tinggi Asia Kecil, dan mereka pun mengabdikan diri kepada Sultan Turki Saljuk Alauddin II yang kebetulan sedang berperang melawan kemaharajaan Romawi Timur Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin II dapat meraih kemenangan dan Sultan menghadiahkan untuk mereka sebidang tanah di Asia Kecil, yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak saat itu mereka pun membangun daerahnya dan menjadikan Syukud sebagai ibu kota2 . 2 Yatim Badri . Sejarah Peradaban Islam (Cet. II; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008). Hlm. 129.
  4. 4. Pada tahun 1289 M Erthoghul meninggal, digantikan oleh putranya Usman sebagai penerus kepemimpinan yang sebagaimana ayahnya Usman juga banyak berjasa kepada Sultan. Kemenangan dalam setiap pertempuran banyak diraih Usman sehingga Sultan pun semakin bersimpati dan banyak memberi hak istimewa pada Usman. Hingga pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang dan mengakibatkan Sultan Alauddin II terbunuh dengan tanpa meninggalkan putra sebagai pewaris tahta, sebab itu Usman pun memproklamirkan kemerdekaan sebagai Padisyah Al Usman dalam kesultanan Usmani. Dalam kepemimpinannya, kerajaan semakin luas dan kuat sehingga dapat menduduki benteng-benteng Bizantium dan menaklukan kota Broessa yang pada tahun 1326 M menjadi ibu kota kerajaan. 2. Perkembangan dinasti usmani  Periode Kemajuan Sepeninggal Sultan Usman pada Tahun 1326 M, kerajaan di pimpin oleh anaknya Sultan Orkhan I (1326-1359 M). Pada masanya berdiri Akademi militer sebagai pusat pelatihan dan pendidikan, sehingga mampu menciptakan kekuatan militer yang besar dan dengan mudahnya dapat menaklukan sebagian daerah benua Eropa yaitu, Azmir (Shirma) tahun 1327 M, Tawasyanli 1330 M, Uskandar 1338 M, Ankara 1354 M dan Galliopoli 1356 M. Ketika Sultan Murad I (1359-1389 M) pengganti Orkhan naik. Ia memantapkan keamanan dalam Negeri dan melakukan perluasan ke benua Eropa dengan menaklukan Adrianopel (yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan baru) Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh bagian utara Yunani. Merasa cemas dengan kesuksesan Kerajaan Usmani, negara Kristen Eropa pun bersatu yang dipimpin oleh Sijisman memerangi kerajaan, hingga terjadilah pertempuran di Kosovo tahun 1389 M, namun musuh dapat dipukul mundur dan dihancurkan .3 3 Edyar Busman , Ilda Hayati, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta, Pustaka Asatruss, 2009). hlm. 140
  5. 5. Pada tahun 1389 M, Sultan Bayazid naik tahta (1389-1403 M). Perluasan berlanjut dan dapat menguasai Salocia, Morea, Serbia, Bulgaria, dan Rumania juga pada tahun 1394 M, memperoleh kemenangan dalam perang Salib di Nicapolas. Selain menghadapi musuh–musuh Eropa, kerajaan juga dipaksa menghadapi pemberontak yang bersekutu denga Raja Islam yang bernama Timur Lenk di Samarkand. Pada tahun 1402 M pertempuran hebat pun terjadi di Ankara, yang pada akhirnya Sultan Bayazid dengan kedua putranya Musa dan Erthogrol, tertangkap dan meninggal di tahanan pada tahun 1403 M. Sebab kekalahan ini Bulgaria dan Serbia memproklamirkan kemerdekaannya. Setelah Sultan Bayazid meninggal, terjadi perebutan kekuasaan diantara putra-putranya (Muhammad, Isa dan Sulaiman) namun di antara mereka Sultan Muhammad I (1403-1421 M). Sultan Muhammad I adalah putera Bayazid yang bungsu berhasil megatasi kekacauan pada masa Bayazid dengan menyatukan daulat-daulatnya, mengembalikan kekuatan dan kekuasaan sebagaimana semula dengan waktu 10 tahun baru berhasil dan ia mengadakan perjanjian damai Byazantium dan dengan Republik Venesia. Sultan Murad II (1421-1451 M). Sultan Murad II membalas dendam terhadap Byazantium dengan mengadakan pengepungan kota konstantinopel beberapa minggu. Bangsa-bangsa Servia Bulgaria, Bosnia, Albania, Rumania, dan Hongaria bersatu dibawah pimpinan raja Hunyody dari Honngaria melawan pasukan Turki Utsmani di dekat Belgrado. Pasukan Turki mengalami kekalahan tahun 1422 M. Selanjutnya tahun 1443 M dengan menghadapi gabungan pasukan ditambah pasukan Salib. Dan sultan Murad II mundur dan meminta perjanjian di Zegedin tahun 1444M yang isinya:4 4 Ibid. Hlm 45
  6. 6. a. Servia mendapat kemerdekaan kembali. b. Rumania bergabung dengan Hongaria. c. Diadakannya gencatan senjata selama 10 tahun. Pimpinan Hunyody melanggar perjanjian, yaitu mengadakan peneyerbuan mendadak ke wilayah Turki sampai laut hitam. Murad II memanggul senjata dengan dikawal 40.000 pasukan menyerbu Hongaria. Dan akhirnya Turki menang hingga Servia dan Bosnia menjadi wilayah kekuasaannya dan Turki Utsmani kembali tegak di Balkan.  Kemajuan-Kemajuan Dinasti Usmani Akibat kegigihan dan ketangguhan yang dimiliki oleh para pemimpin dalam mempertahankan Turki Usmani membawa dampak yang baik sehingga kemajuan-kemajuan dalam perkembangan wilayah Turki Usmani dapat diraihnya dengan cepat. Dengan cara atau taktik yang dimainkan oleh beberapa penguasa Turki seperi Sultan Muhammad yang mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negerinya yang kemudian diteruskan oleh Murad II (1421-1451M). Sehingga Turki Usmani mencapai puncak kejayaan pada masa Muhammad II (1451- 1484 M). Usaha ini ditindak lanjuti oleh raja-raja berikutnya, sehingga dikembangkan oleh Sultan Sulaiman al-Qonuni. Ia tidak mengarahkan ekspansinya kesalah satu arah Timur dan Barat, tetapi seluruh wilayah yang berada disekitar Turki Usmani itu, sehingga Sulaiman berhasil menguasai wilayah Asia kecil. Kemajuan dan perkembangan wilayah kerajaan Usmani yang luas berlangsung dengan cepat dan diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang- bidang kehidupan lain yang penting, diantaranya : 1. Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan Untuk pertama kalinya Kerajaan Usmani mulai mengorganisasi taktik, strategi tempur dan kekuatan militer dengan baik dan teratur. 5 5 Syukur Fatah, Sejarah Peradaban Islam, PT. Pustaka Rizki Pustaka, 2009, hlm.90
  7. 7. Sejak kepemimpinan Ertoghul sampai Orkhan adalah masa pembentukan kekuatan militer. Perang dengan Bizantium merupakan awal didirikannya pusat pendidikan dan pelatihan militer, sehingga terbentuklah kesatuan militer yang disebut dengan Jenissari atau Inkisyaria . Selain itu Kerajaan Usmani membuat struktur pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi ditangan Sultan yang dibantu oleh Perdana Menteri yang membawahi Gubernur. Gubernur mengepalai daerah tingakat I. Di bawahnya terdapat beberapa bupati. Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, di masa Sultan Sulaiman I dibuatlah UU yang diberi namaMultaqa Al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Usmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasanya ini, diujung namanya di tambah gelar al-Qanuni Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya Kebudayaan Turki Usmani merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan diantaranya adalah kebudayaan Persia, Bizantium, dan Arab. Dari kebudayaan Persia mereka banyak mengambil ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak diserap dari Bizantium. Dan ajaran tentang prinsip- prinsip ekonomi, sosial dan kemasyarakatan, keilmuan dan huruf diambil dari Arab. Dalam bidang Ilmu Pengetahuan di Turki Usmani tidak begitu menonjol karena mereka lebih memfokuskan pada kegiatan militernya, sehingga dalam khasanah Intelektual Islam tidak ada Ilmuan yang terkemuka dari Turki Usmani. 6 6 Italic. Hlm 90
  8. 8. 2. Bidang Keagamaan Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Oleh karena itu, ajaran-ajaran thariqah berkembang dan juga mengalami kemajuan di Turki Usmani. Para Mufti menjadi pejabat tertinggi dalam urusan agama dan beliau mempunyai wewenang dalam memberi fatwa resmi terhadap problem keagamaan yang terjadi dalam masyarakat. Kemajuan-kemajuan yang diperoleh kerajaan Turki Usmani tersebut tidak terlepas daripada kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, antara lain:  Mereka adalah bangsa yang penuh semangat, berjiwa besar dan giat.  Mereka memiliki kekuatan militer yang besar.  Mereka menghuni tempat yang sangat strategis, yaitu Konstantinopel. Pada tititk temu antara Asia dan Eropa Disamping itu keberanian, ketangguhan dan kepandaian taktik yang dilakukan oleh para penguasa Turki Usmani sangatlah baik, serta terjalinnya hubungan yang baik dengan rakyat kecil, sehingga hal ini pun juga mendukung dalam memajukan dan mempertahankan kerajaan Turki Usmani.  Kemunduran Kerajaan Usmani Setelah Sultan Sulaiman Al-Qanuni wafat (1566) M, kerajaan Turki Usmani mulai mengalami fase kemunduranya. Akan tetapi, sebagai kerajaan yang besar dan kuat, kemunduran itu tidak langsung terlihat. Keraajaan ini mengalami masa kehancuran pada abad ke-19 M7 . 7 Thohir Ajid, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2004), hlm. 170.
  9. 9. Ada pun faktor yang menyebabkan kerajaan ini hancur, yaitu:  Wilayah kekuasaan yang sangat luas Administrasi pemerintahan bagi suatu negara yang sangat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi pemerintahan kerajaan Usmani tidak beres. Dipihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas, sehingga mereka terlibat perang terus-menerus dengan berbagai bangsa.  Heterogenitas penduduk. Sebagai kerajaan yang besar, Turki Usmani menguasai wilayah yang amat luas, dan wilayah yang luas itu dikuasai oleh penduduk yang sangat beragam baik dari segi agama, ras, etnis, adat istiadat. Untuk mengatur penduduk yang beragam dan tersebar diwilayah yang luas diperlukan suatu organisasi pemerintahan yang teratur. Tanpa didukung oleh administrasi yang baik, kerajaan Usmani hanya akan menanggung beban yang berat akibat heterogenisasi. Perbedaan bangsa dan agama sering kali melatar belakangi terjadinya pemberontakan dan peperangan.  Kelemahan para penguasa.  Budaya pungli.  Pemberontakan tentara Jenissari.  Merosotnya ekonomi.  Terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi. Hal ini dikarenakan kerajaan Usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, dan hanya mementingkan pengembangan kekuataan militer.8 8 Ibid. Hlm 171
  10. 10. B. Kerajaan Safawi di Persia Kemenangan AK Koyunlu tahun 1476 M terhadap Kara Koyunlu, membuat gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh AK Koyunlu dalam meraih kekuasaan selanjutnya. Padahal, sebagaimana telah disebutkan, Safawi adalah sekutu AK Koyunlu. AK Koyunlu berusaha melenyapkan kekuatan militer dan kekuasaan dinasti Safawi. Kepemimpinan gerakan Safawi, selanjutnya berada di tangan Ismail, yang saat itu masih berusia tujuh tahun. Selama lima tahun Ismail beserta pasukannya bermarkas di Gilan, mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan para pengikutnya di Azerbaijan, Syria dan Anatolia. Pasukan yang dipersiapkan itu dinamai Qizilbash (baret merah). Di bawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang dan mengalahkan AK Koyunlu di Sharur, dekat Nakhehivan. Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, ibu kota AK Koyunlu dan berhasil merebut serta mendudukinya. Di kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama dinasti Safawi. Ia disebut juga Ismail I. Ambisi politik mendorongnya untuk terus mengembangkan sayap menguasai daerah- daerah lainnya, seperti ke Turki Usmani. Namun Ismail bukan hanya menghadapi musuh yang sangat kuat, tetapi juga sangat membenci golongan Syi’ah. Peperangan dengan Turki Usmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran, dekat Tabriz. Karena keunggulan Organisasi militer kerajaan Usmani, dalam peperangan ini Ismail I mengalami kekalahan, malah Turki Usmani di bawah pimpinan Sultan Salim dapat menduduki Tabriz. Kerajaan Safawi terselamatkan dengan pulangnya Sultan Usmani ke Turki karena terjadi perpecahan di kalangan militer Turki di negerinya. Kekalahan tersebut meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri Ismail. Akibatnya kehidupan Ismail I berubah. Ia lebih senang menyendiri, menempuh kehidupan hura-hura dan berburu. Keadaan ini menimbulkan dampak negative bagi kerajaan Safawi. Rasa permusuhan dengan kerajaan Usmani terus berlangsung sepeninggal Ismail. 9 9 P.M. Holt, dkk, (ed), The Cambridge History of Islam, vol. I A,(London:Cambridge University Press, 1970), hlm 396.
  11. 11. Peperangan-peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M), dan Muhammad Khudabanda (1577-1587 M). Pada masa tiga raja tersebut, kerajaan Safawi dalam keadaan lemah. Berikut urutan penguasa kerajaan Safawi : a. Isma’il I (1501-1524 M) b. Tahmasp I (1524-1576 M) c. Isma’il II (1576-1577 M) d. Muhammad Khudabanda (1577-1587 M) e. Abbas I (1587-1628 M) f. Safi Mirza (1628-1642 M) g. Abbas II (1642-1667 M) h. Sulaiman (1667-1694 M) i. Husein I (1694-1722 M) j. Tahmasp II (1722-1732 M) k. Abbas III (1732-1736 M). 1. Masa Kejayaan Kerajaan Safawi Kondisi memprihatinkan ini baru bisa diatasi setelah raja Safawi kelima, Abbas I, naik tahta. Ia memerintah dari tahun 1588 sampai dengan 1628 M. Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I dalam rangka memulihkan kerajaan Safawi ialah:  Berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan Safawi.  Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani. Untuk mewujudkan perjanjian ini, Abbas I terpaksa harus menyerahkan sebagian wilayah-wilayahnya, dan perjanjian-perjanjian yang sudah disepakati.10 10 Ibid. Hlm 397
  12. 12. Usaha-usaha yang dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan Safawi kuat kembali. Setelah itu, Abbas I mulai memusatkan perhatiannya ke luar dengan berusaha merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaannya yang hilang. Pada tahun 1598 M, ia menyerang dan menaklukkan Heart. Dari sana, ia melanjutkan serangan merebut Marw dan Balkh. Setelah kekuatan terbina dengan baik, ia juga berusaha mendapatkan kembali wilayah kekuasaanya dari Turki Usmani. Rasa permusuhan antara dua kerajaan yang berbeda aliran agama ini memang tidak pernah padam sama sekali. Abbas I mengarahkan serangan-serangannya ke wilayah kekuasaan kerajaan Usmani itu. Pada tahun 1602 M, di saat Turki Usmani berada dibawah Sultan Muhammad III, pasukan Abbas I menyerang dan berhasil menguasai Tabriz, Sirwan dan Baghdad. Sedangkan kota-kota Nakhchivan, Erivan, Ganja dan Tiflis dapat dikuasai tahun 1605-1606 M. selanjutnya, pada tahun 1622 M pasukan Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gurmun menjadi pelabuhan Bandar Abbas. Secara politik, ia mampu mengatasi berbagai kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas Negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang pernah direbut oleh kerajaan lain pada masa raja-raja sebelumnya. Kemajuan yang dicapai kerajaan Safawi tidak hanya terbatas di bidang politik. Di bidang yang lain, kerajaan ini juga mengalami banyak kemajuan. Kemajuan-kemajuan itu antara lain adalah sebagai berikut: a. Bidang Ekonomi Stabilitas politik kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun di ubah menjadi Bandar Abbas.11 11 Syukur Fatah, Sejarah Peradaban Islam, PT. Pustaka Rizki Pustaka, 2009, hlm.97
  13. 13. b. Bidang Ilmu Pengetahuan Dalam sejarah Islam bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa kerajaan Safawi tradisi keilmuan ini terus berlanjut. c. Bidang Pembangunan Fisik dan Seni Para penguasa kerajaan ini telah berhasil mencipatakan Isfahan, ibu kota kerajaan, menjadi kota yang sangat indah. Di kota tersebut, berdiri bangunan-bangunan besar lagi indah seperti masjid-masjid, rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, jembatan raksasa di atas Zende Rud, dan istana Chihil Sutun, kota Isfahan juga diperindah dengan taman-taman wisata yang di tata secara apik. Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat 162 mesjid, 48 akademi, 1802 penginapan, dan 273 pemandian umum. Di bidang seni, kemajuan nampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan-bangunannya, seperti terlihat pada mesjid Shah yang dibangun tahun 1611 M dan mesjid Syaikh Lutf Allah yang dibangun tahun 1603 M. Demikianlah, puncak kemajuan yang dicapai oleh kerajaan Safawi. Setelah itu, kerajaan ini mulai mengalami gerak menurun. Kemajuan yang dicapainya membuat kerajaan ini menjadi salah satu dari tiga kerajaan besar Islam yang disegani oleh lawan-lawannya, terutama dalam bidang politik dan militer. Walaupun tidak setaraf dengan kemajuan Islam di masa klasik, kerajaan ini telah memberikan konstribusinya mengisi peradaban Islam melalui kemajuan-kemajuan dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, peninggalan seni dan gedung-gedung bersejarah.12 12 Hamka, Sejarah Umat Islam, III, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), hlm. 71.
  14. 14. 2. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi Sepeninggal Abbas I kerajaan Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman (1667-1694 M), Husain (1694-1722), Tahmsap II (1722-1732 M), dan Abbas III (1733-1736 M). pada masa raja-raja tersebut, kondisi kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa kepada kehancuran. Safi Mirza cucu Abbas I, adalah seorang pemimpin yang lemah. Ia sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan karena sifat pencemburunya. Kemajuan yang pernah dicapai oleh Abbas I segera menurun. Kota Qandahar (sekarang termasuk wilayah Afghanistan) lepas dari kekuasaan kerajaan Safawi, diduduki oleh kerajaan Mughal yang ketika itu diperintah oleh Sultan Syah Jehan, sementara Baghdad direbut oleh kerajaan Usmani. Abbas II adalah raja yang suka minum-minuman keras sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Meskipun demikian, dengan bantuan wazir-wazirnya, pada masa kota Qandahar dapat direbut kembali. Sebagaimana Abbas II, sulaiman juga seorang pemabuk. Ia bertidak kejam terhadap para pembesar yang dicurigainya. Akibatnya, rakyat bersikap masa bodoh terhadap pemerintah. Ia diganti oleh Shah Husein yang alim. Pengganti sulaiman ini memberi kekuasaan yang besar kepada para ulama Syi’ah yang sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afghanistan, sehingga mereka berontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan Dinasti Safawi. Salah seorang putra Husein, bernama Tahmsap II, dengan dukungan penuh suku Qazar dan Rusia, memproklamasikan dirinya sebagai raja yang sah dan berkuasa atas Persia dengan pusat kekuasaannya di kota Astarabad. Pada tahun 1726 M Tahmsap II bekerja sama dengan Nadir Khan dari suku Afshar untuk memerangi dan mengusir bangsa Afghan yang menduduki Isfahan. Asyraf, pengganti Mir Mahmud, yang berkuasa di Isfahan digempur dan dikalahkan oleh pasukan Nadir Khan tahun 1729 M.13 13 Ibid. Hlm 72
  15. 15. Asyraf sendiri terbunuh dalam peperangan itu. Dengan demikian, dinasti Safawi kembali berkuasa. Namun, pada bulan Agustus 1732 M Tahmsap II dipecat oleh Nadir Khan dan digantikan oleh Abbas III (anak Tahmsap II) yang ketika itu masih sangat kecil. Empat tahun setelah itu, tepatnya, 8 Maret 1736, Nadir Khan mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Abbas III. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan dinasti Safawi di Persia. Diantara sebab-sebab kemunduran kehancuran kerajaan Safawi ialah: a. Konflik berkepanjangan dengan kerajaan Usmani. Bagi kerajaan Usmani, berdirinya kerajaan Safawi yang beraliran Syi’ah merupakan ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaannya. b. Dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan Safawi. Ini turut mempercepat proses kehancuran kerajaan tersebut. c. Karena pasukan ghulam (budak-budak) yang dibentuk oleh Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash. d. Seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana. C. Kerajaan Mughal Di India 1. Asal Usul Kerajaan Mughal Kerajaan Mughal berdiri seperempat abad sesudah berdirinya kerajaan safawi. Di antara kerajaan besar islam tersebut, kerajaan munghal adalah kerajaan yang termuda. Penaklukan wilayah India dilakukan oleh pasukan Umayyah yang di pimpin oleh panglima Muhammad ibn Qasim. Kerajaan Mughal didirikan oleh Zainuddin Muhammad Babur (1482-1530 M). Seorang keturunan Timur Lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza adalah penguasa Farghana, sedangkan ibunya keturunan Jenghis Khan. Ia berhasil munguasai Punjab dan berhasil menundukkan Delhi, sejak saat itu ia memproklamirkan berdirinya kerajaan Mughal14 . 14 Syukur Fatah , Sejarah Peradaban islam, (Semarang : PT Pustaka Rizki Putra, 2009), hal 143.
  16. 16. Proklamasi 1526 M yang dikumandangkan Babur mendapat tantangan dari Rajput dan Rana Sanga didukung oleh para kepala suku India tengah dan umat Islam setempat yang belum tunduk pada penguasa yang baru itu, sehingga ia harus berhadapan langsung dengan dua kekuatan sekaligus. Tantangan tersebut dihadapi Babur pada tanggal 16 Maret 1527 M di Khanus dekat Agra. Babur memperoleh kemenangan dan Rajput jatuh ke dalam kekuasaannya. Penguasa Mughal setelah Babur adalah Nashiruddin Humayun atau lebih dikenal dengan Humayun (1530-1540 dan 1555-1556 M), puteranya sendiri. Sepanjang pemerintahanya tidak stabil, karna banyak terjadi perlawanan dari musuh-musuhnya.Pada tahun 1540 M terjadi pertempuran dengan Sher Khan di Kanauj. Dalam pentempuran ini Humayun mengalami kekalahan. Humayun melarikan diri ke Kandahar dan selanjutnyake Persia. Di persia ia menyusun kembali tentaranya. Kemudian, ia menyerang musuh-musuhnya dengan bantuan raja Persia, Tahmasp. Hamayun dapat mengalahkan Sher Khan Shah setelah hampir 15 tahun berkelana meninggalkan Delhi. Pada tahun 1555 M, ia kembali ke India dan menduduki tahta mughal. Pada 1556 M ia Humayun meninggal dunia. 2. Kemajuan yang dicapai Kerajaan Mughal  Bidang Politik dan Administrasi Pemerintahan  Perluasan wilayah. Ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Dan konsolidasi kekuatan. Usaha ini berlangsung hingga masa pemerintahan Aurangzeb.  Menjalankan roda pemerintahan secara militeristik.  Pemerintahan daerah dipegang oleh seorang Sipah Salar (kepala komandan), sedang sub-distrik dipegang oleh Faujdar (komandan). Jabatan-jabatan sipil juga diberi jenjang kepangkatan yang bercorak kemiliteran. Pejabat-pejabat itu memang diharuskan mengikuti latihan kemiliteran15 15 Badri Yatim, Sejarah Peradaban islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo Pesada, 2011), hlm 149
  17. 17.  Akbar menerapkan politik toleransi universal (sulakhul). Dengan politik ini, semua rakyat India dipandang sama. Mereka tidak dibedakan karena perbedaan etnis dan agama. Politik ini dinilai sebagai model toleransi yang pernah dipraktekkan oleh penguasa Islam.  Pada Masa Akbar terbentuk landasan institusional dan geografis bagi kekuatan imperiumnya yang dijalankan oleh elit militer dan politik yang pada umumnya terdiri dari pembesar-pembesar Afghan, Iran, Turki, dan Muslim Asli India. Peran penguasa di samping sebagai seorang panglima tentara juga sebagai pemimpin jihad.  Para pejabat dipindahkan dari sebuah jagir kepada jagir lainnya untuk menghindarkan mereka mencapai interes yang besar dalam sebuah wilayah tertentu. Jagir adalah sebidang tanah yang diperuntukkan bagi pejabat yang sedang berkuasa. Dengan demikian tanah yang diperuntukkan tersebut jarang sekali menjadi hak milik pejabat, kecuali hanya hak pakai.  Wilayah imperium juga dibagi menjadi sejumlah propinsi dan distrik yang dikelola oleh seorang yang dipimpin oleh pejabat pemerintahan pusat untuk mengamankan pengumpulan pajak dan untuk mencegah penyalahgunaan oleh kaum petani.  Bidang Ekonomi  Terbentuknya sistem pemberian pinjaman bagi usaha pertanian.  Adanya sistem pemerintahan lokal yang digunakan untuk mengumpulkan hasil pertanian dan melindungi petani. Setiap perkampungan petani dikepalai oleh seorang pejabat lokal, yang dinamakan muqaddam atau patel, yang mana kedudukan yang dimilikinya dapat diwariskan, bertanggungjawab kepada atasannya untuk menyetorkan penghasilan dan menghindarkan tindak kejahatan. 16 16 Ibid. Hlm 149
  18. 18. Kaum petani dilindungi hak pemilikan atas tanah dan hak mewariskannya, tetapi mereka juga terikat terhadapnya.  Sistem pengumpulan pajak yang diberlakukan pada beberapa propinsi utama pada imperium ini. Perpajakan dikelola sesuai dengan system zabt. Sejumlah pembayaran tertentu dibebankan pada tiap unit tanah dan harus dibayar secara tunai. Besarnya beban tersebut didasarkan pada nilai rata-rata hasil pertanian dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil pajak yang terkumpul dipercayakan kepada jagirdar, tetapi para pejabat lokal yang mewakili pemerintahan pusat mempunyai peran penting dalam pengumpulan pajak. Di tingkat subdistrik administrasi lokal dipercayakan kepada seorang qanungo, yang menjaga jumlah pajak lokal dan yang melakukan pengawasan terhadap agen-agen jagirdar, dan seorang chaudhuri, yang mengumpulkan dana (uang pajak) dari zamindar.  Perdagangan dan pengolahan industri pertanian mulai berkembang. Pada asa Akbar konsesi perdagangan diberikan kepada The British East India Company (EIC) Perusahaan Inggris-India Timur untuk menjalankan usaha perdagangan di India sejak tahun 1600. Mereka mengekspor katun dan busa sutera India, bahan baku sutera, sendawa, nila dan rempah dan mengimpor perak dan jenis logam lainnya dalam jumlah yang besar.  Bidang Agama  Pada masa Akbar, perkembangan agama Islam di Kerajaan Mughal mencapai suatu fase yang menarik, di mana pada masa itu Akbar memproklamasikan sebuah cara baru dalam beragama, yaitu konsep Din-i-Ilahi. Karena aliran ini Akbar mendapat kritik dari berbagai lapisan umat Islam. 17 17 Italic. Hlm 150
  19. 19. Bahkan Akbar dituduh membuat agama baru. Pada prakteknya, Din-i-Ilahi bukan sebuah ajaran tentang agama Islam. Namun konsepsi itu merupakan upaya mempersatukan umat-umat beragama di India. Sayangnya, konsepsi tersebut mengesankan kegilaan Akbar terhadap kekuasaan dengan simbol-simbol agama yang di kedepankan. Umar Asasuddin Sokah, seorang peneliti dan Guru Besar di Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyamakan konsepsi Din- i-Ilahi dengan Pancasila di Indonesia. Penelitiannya menyimpulkan, “Din-i-llahi itu merupakan (semacam Ideologi/dasar pemerintahan Akbar) dan Pancasilanya bagi bangsa Indonesia.  Perbedaan kasta di India membawa keuntungan terhadap pengembangan Islam, seperti pada daerah Benggal, Islam langsung disambut dengan tangan terbuka oleh penduduk terutama dari kasta rendah yang merasa disia-siakan dan dikutuk oleh golongan Arya Hindu yang angkuh. Pengaruh Parsi sangat kuat, hal itu terlihat dengan digunakanya bahasa Persia menjadi bahasa resmi Mughal dan bahasa dakwah, oleh sebab itu percampuran budaya Persia dengan budaya India dan Islam melahirkan budaya Islam India yang dikembangkan oleh Dinasti Mughal.  Berkembangnya aliran keagamaan Islam di India. Sebelum dinasti Mughal, muslim India adalah penganut Sunni fanatik. Tetapi penguasa Mughal memberi tempat bagi Syi’ah untuk mengembangkan pengaruhnya.  Pada masa ini juga dibentuk sejumlah badan keagamaan berdasarkan persekutuan terhadap mazhab hukum, tariqat Sufi, persekutuan terhadap ajaran Syaikh, ulama, dan wali individual. Mereka terdiri dari warga Sunni dan Syi’i.18 18 Munir Amin Samsul. Sejarah Peradaban Islam. Amzah.Jakarta : 2010. hlm. 190
  20. 20.  Pada masa Aurangzeb berhasil disusun sebuah risalah hukum Islam atau upaya kodifikasi hukum Islam yang dinamakan fatwa Alamgiri. Kodifikasi ini menurut hemat penulis ditujukan untuk meluruskan dan menjaga syari’at Islam yang nyaris kacau akibat politik Sulakhul dan Din-i- Ilahi.  Bidang Seni dan Budaya  Munculnya beberapa karya sastra tinggi seperti Padmavat yang mengandung pesan kebajikan manusia gubahan Muhammad Jayazi, seorang penyair istana. Abu Fadhl menulis Akbar Nameh dan Aini Akbari yang berisi sejarah Mughal dan pemimpinnya.  Kerajaan Mughal termasuk sukses dalam bidang arsitektur. Taj mahal di Agra merupakan puncak karya arsitektur pada masanya, diikuti oleh Istana Fatpur Sikri peninggalan Akbar dan Masjid Raya Delhi di Lahore. Di kota Delhi Lama (Old Delhi), lokasi bekas pusat Kerajaan Mughal, terdapat menara Qutub Minar (1199), Masjid Jami Quwwatul Islam (1197), makam Iltutmish (1235), benteng Alai Darwaza (1305), Masjid Khirki (1375), makam Nashirudin Humayun, raja Mughal ke-2 (1530-1555). Di kota Hyderabad, terdapat empat menara benteng Char Minar (1591). Di kota Jaunpur, berdiri tegak Masjid Jami Atala (1405).  Taman-taman kreasi Moghul menonjolkan gaya campuran yang harmonis antara Asia Tengah, Persia, Timur Tengah, dan lokal. 3. Kemunduran dan Keruntuhan Kerajaan Mughal Raja-raja pengganti Aurangzeb merupakan penguasa yang lemah sehingga tidak mampu mengatasi kemerosotan politik dalam negeri.Tanda- tanda kemunduran sudah terlihat dengan indikator sebagaimana berikut a) Internal; Tampilnya sejumlah penguasa lemah, terjadinya perebutan kekuasaan, dan lemahnya kontrol pemerintahan pusat.19 19 Ibid. Hlm 191
  21. 21. b) Eksternal; Terjadinya pemberontakan di mana-mana, seperti pemberontakan kaum Sikh di Utara, gerakan separatis Hindu di India tengah, kaum muslimin sendiri di Timur, dan yang terberat adalah invasi Inggris melalui EIC. c) Dominasi Inggris diduga sebagai faktor pendorong kehancuran Mughal. Pada waktu itu EIC mengalami kerugian. Untuk menutupi kerugian dan sekaligus memenuhi kebutuhan istana, EIC mengadakan pungutan yang tinggi terhadap rakyat secara ketat dan cenderung kasar. Karena rakyat merasa ditekan, maka mereka, baik yang beragama Hindu maupun Islam bangkit mengadakan pemberontakan. d) Mereka meminta kepada Bahadur Syah untuk menjadi lambang perlawanan itu dalam rangka mengembalikan kekuasaan kerajaan. Dengan demikian, terjadilah perlawanan rakyat India terhadap kekuatan Inggris pada bulan Mei 1857 M. Perlawanan mereka dapat dipatahkan dengan mudah. Inggris kemudian menjatuhkan hukuman yang kejam terhadap para pemberontak. Mereka diusir dari kota Delhi, rumah-rumah ibadah banyak yang dihancurkan, dan Bahadur Syah, raja Mughal terakhir, diusir dari istana (1858 M). Dengan demikian berakhirlah sejarah kekuasaan dinasti Mughal di daratan India. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti Mughal mundur dan membawa kepada kehancurannya pada tahun 1858 M yaitu: a) Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal. b) Kemerosotan moral dan hidup mewah dikalangan elite politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara. c) Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.20 20 Syukur Fatah , Sejarah Peradaban islam, (Semarang : PT Pustaka Rizki Putra, 2009), hal 147
  22. 22. d) Semua pewaris tahta kerajaan pada paro terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan. 21 D. Sumbangsih Tiga Dinasti Terhadap Peradaban Islam Ketiga dinasti ini telah memberikan sumbangan yang besar dalam perkembangan peradapan Islam. Dalam setiap kebudayaan memiliki empat tahapan yaitu lahir, tumbuh,runtuh dan silam, tiga Dinasti tersebut telah melewati konsepsi itu, Layaknya dinasti besar lainnya, ketiga Dinasti ini mempunyai ciri khusus penting dan sumbangan khusus bagi peradaban Islam. Dinasti Turki Usmani terkenal dengan kekuatan militer dan sumbangan qanunnya terhadap hukum islam. Dinasti Mughal terkenal dengan ajaran agama Ilahinya yang terus terlihat hingga sekarang di India.Sedangkan Safawi terkenal dengan tarketnya yang berhasil menjelma menjadi kekuatan politik. 21 Ibid. Hlm 148
  23. 23. BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Setelah kemunduran Islam pada masa khalifah Bani Umayyah dan Kahifah pada masa Bani Abbasiyyah, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran yang sangat drastis. Kemudian, muncullah tiga kerajaan besar islam, yang mampu mengembalikan kembali kejayaan islam yang semula runtuh. Ketiga kerajaan yang terkenal itu adalah Dinasti Usmani di Turki, Dinasti Safawi di Persia dan Dinasti Mughal di India. Jika dibandingkan dengan masa Islam klasik, kemajuan tiga kerajaan tersebut tidak spektakuler seperti yang pernah terjadi pada masa formasi Islam. Baik itu menyangkut dalam bidang intelektual maupun dalam bidang-bidang yang lain. Bahkan dalam beberapa hal, bangunan keilmuan yang pernah terbangun pada masa sebelumnya dianggap bid’ah, misalnya filsafat. Faktor penyebab kemunduran atau keruntuhan 3 Dinasti Besar. Keruntuhan tiga kerajaan islam ini umumnya ditandai oleh konflik dalam kalangan keluarga kerajaan yang saling berebut kekuasaan. Hal ini mengakibatkan sistem pemerintahan dan keluasan wilayah yang telah berhasil dibangun pada masa sebelumnya menjadi tidak berarti lagi karena para penerusnya lebih sibuk untuk saling merebut kekuasaan dari tangan keluarganya sendiri. Lalu masalah ekonomi juga sangat berperan, seperti misalnya kedatangan Inggris di Mughal sangat memepengaruhi kehidupan ekonomi sitana yang apada ujungnya malab bergantung kepada Inggris. Demikian pula di Turki Usmani, sikap boros dan hidup kemewahan berbanding lurus dengan kekalahan demi kekalahan yang dialami pasukan yenisari sehingga membuat kas negara berwarna merah karena tak mendapatkan ghanimah maupun wilayah baru. Sistem politik juga sangat mempengaruhi, di Safawi misalnya kebijakan memaksakan madzhab syi’ah membuat secara politik orang-orang sunni tidak senang dan akhirnya justru memberontak melepaskan diri dari kekuasaan
  24. 24. Safawi dan bahkan Sunni melalui suku Afgan berhasil menguasai wilayah safawi. Ambisi perluasan wilayah juga mengakibatkan kehancuran turki itu sendiri karena tenyata semangat juang Yenisari tidak lagi sekuat dulu. Demikian juga Ghulam di Safawi tidak memiliki semangat seperti Qizilbash, demikian pula generasi Qizilbash selanjutnya tidak seperti generasi Qizilbash terdahulu. Semenatara aliasi Islam Hindu di Mughal tidak mampu memukul mundur inggris. Kelemahan teknologi yang sangat mencolok membuat perlawanan di Mughal maupun usaha mempertahankan diri oleh Turki Usmani mengalami kegagalan karena bangsa eropa pada saat itu telah memiliki perangkat perang yang selangkah lebih maju dibandingkan dengan yang dimiliki oleh dua kerajaan tersebut. 2. Saran Dari makalah kami yang singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua umumnya kami pribadi. Yang baik datangnya dari Allah, dan yang buruk datangnya dari kami. Dan kami sadar bahwa makalah kami ini jauh dari kata sempurna, masih banyak kesalahan dari berbagai sisi, jadi kami harafkan saran dan kritik nya yang bersifat membangun, untuk perbaikan makalah-makalah selanjutnya.
  25. 25. DAFTAR PUSTAKA Ajid, Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2004), hlm. 170. Amin Samsul Munir. Sejarah Peradaban Islam. Amzah.Jakarta : 2010. hlm. 187, 190. Badri yatim. Sejarah Peradaban Islam (Cet. II; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008). Hlm. 129, 149. Busman Edyar, Ilda Hayati, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta, Pustaka Asatruss, 2009). hlm. 140. Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, PT. Pustaka Rizki Pustaka, 2009, hlm.90,97, 147. Hamka, Sejarah Umat Islam, III, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), hlm. 71. P.M. Holt, dkk, (ed), The Cambridge History of Islam, vol. I A,(London:Cambridge University Press, 1970), hlm 396.

×