Jurnal pendidikan matematika

37,572 views

Published on

1 Comment
11 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
37,572
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
24
Actions
Shares
0
Downloads
1,600
Comments
1
Likes
11
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Jurnal pendidikan matematika

  1. 1. PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN STRATEGI KONFLIK KOGNITIF TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS DAN SIKAP SISWA SMP Dasa Ismaimuza Abstrak: Kemampuan berpikir kritis matematis, dan sikap positif siswa terhadap matematika merupakan komponen penting yang harus dimiliki oleh seorang siswa, sehingga dengan memiliki kemampuan ini akan membantu siswa dalam memecahkan masalah matematika, maupun masalah sehari-hari. Salah satu cara mengembangkan kemampuan ini adalah dengan pembelajaran berbasis masalah dengan strategi konflik kognitif (PBLKK). PBLKK merupakan pembelajaran yang berdasarkan masalah, dimana pada masalah yang dikemukakan terdapat fakta, keadaan, situasi yang mempertentangkan struktur kognisi siswa. Dalam situasi ini terjadi konflik antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan situasi yang sengaja disediakan. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana kemampuan berpikir kritis matematis dan sikap siswa SMP kelas VIII Palu berdasarkan model pembelajaran, PAM siswa, dan level sekolah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP kelas VIII di kota Palu. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tes kemampuan matematika, nilai rapor, tes kemampuan berpikir kritis matematis, skala sikap siswa terhadap matematika. Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan adalah: mengkaji dan menganalisis perbedaan kemampuan berpikir kritis matematis, sikap siswa siswa yang menerima pembelajaran berbasis masalah dengan strategi konflik kognitif (PBLKK) dan pembelajaran konvensional (KV) ditinjau dari: a) keseluruhan, pengetahuan awal siswa (tinggi, sedang, dan rendah), dan level sekolah. Kata Kunci: PBL, konflik kognitif, berpikir kritis matematis, sikap, PAM, level sekolah Dari berbagai studi, baik yang 107 dari 177 negara yang diukur.berskala internasional maupun nasional Cermin dari pengusaan materimenunjukan bahwa kualitas pendidikan di matematika siswa SMP di Indonesia terlihatIndonesia masih memprihatinkan. Hal ini dari hasil laporan The Trends Internationaldapat dilihat dari Human Development in Mathematics and Science StudyIndex (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP. (TIMSS) 1999, 2003, dan 2007. Dari hasilSalah satu indikator dalam menentukan kajian TIMSS menunjukkan bahwaHDI adalah kualitas pendidikan pada suatu peringkat Indonesia masih dari yangnegara dari tingkat sekolah dasar sampai diharapkan. Sejalan dengan hasil TIMSS,menengah. HDI Indonesia hanya sebesar hasil tes Programme for International0,728 dari nilai ideal sebesar satu dan Student Assesment (PISA) 2003 dan 2006menempatkan Indonesia pada peringkat ke- yang dikoordinir oleh Organization forDosen Pendidikan Matematika FKIP Untad Palu
  2. 2. Ismaimuza, Pengaruh Pembelajaran Berbasis MasalahEconomic Co-operation and Development skema yang masuk tidak sama dengan(OECD) menunjukkkan hasil yang serupa. struktur (skema) kognitif yang dimilikinya.Hasil TIMSS dan PISA mengungkapkan Ketika seorang berada pada keadaanbahwa kemampuan matematis siswa disequilibrium, dia akan merespon keadaanIndonesia untuk soal-soal tidak rutin dan ini, dan berupaya mengingat,pemahaman konsep masih sangat lemah, memberdayakan konsep yang dimilikinyanamun relatif baik dalam menyelesaikan untuk mencari equilibrium baru dengansoal-soal fakta dan prosedur (Mullis dkk, lingkungannya. Melalui metakognisi,2000, 2004, 2008). bertanya pada teman yang tidak mengalami Bila dilihat nilai rata-rata Ujian konflik, atau scaffolding yang diberikanNasional (UN) Matematika siswa sekolah guru maka siswa dapat keluar dari konflik.menengah di propinsi Sulawesi Tengah Jadi, konflik kognitif merupakan syaratsecara nasional dapat dikatakan masih awal atau stimulus dalam memperolehrendah, yaitu 6,11 pada tahun ajaran keseimbangan (equilibrium) baru. Tingkat2006/2007 dan 5,58 pada tahun ajaran keseimbangan (equilibrium) baru ini lebih2007/2008. Bila ditinjau dari segi peringkat tinggi tingkatannya dari keseimbanganpropinsi Sulawesi Tengah berada pada (equilibrium) sebelumnya. Ennis (1996, xx)peringkat 30 pada tahun ajaran 2006/2007 mengemukakan bahwa berpikir kritisdan peringkat 29 pada tahun ajaran merupakan suatu proses berpikir yang2007/2008 dari 33 propinsi di Indonesia. bertujuan agar kita dapat membuat Rendahnya hasil belajar matematika keputusan-keputusan yang masuk akal,mengindikasikan ada sesuatu yang salah sehingga apa yang kita anggap terbaikdan belum optimal dalam pembelajaran tentang suatu kebenaran dapat kita lakukanmatematika di sekolah. Hal ini sejalan dengan benar.dengan hasil penelitian yang dilakukan Pembelajaran berbasis masalah(Sullivan,1992, IMSTEP-JICA, 1999, merupakan pembelajaran yang menitikSutiarso, 2000, Armanto, 2002 dan Dahlan, beratkan pada kegiatan pemecahan2004). Hasil penelitian mereka masalah, dan masalah yang harusmengungkapkan bahwa dalam diselesaikan merupakan masalah yangpembelajaran matematika di sekolah siswa belum jadi atau tidak terstruktur dengancendrung pasif, mengutamakan drill dan baik (ill-structured problem), sehingga halmekanistik, berpusat pada guru (teacher ini dapat menantang siswa untuk berpikiroriented), chalk and talk. Guru sebagai dan melakukan diskusi secarasalah satu pusat dalam proses pembelajaran berkelompok. Siswa dihadapkan padadi kelas masih memandang bahwa belajar masalah nyata atau masalah yangadalah suatu proses transfer ilmu disimulasikan, siswa bekerjasama secarapengetahuan (transfer of knowledge) dari berkelompok untuk mengembangkanpengajar kepada peserta didik. ketrampilan memecahkan masalah Menurut teori Piaget, tentang proses (problem solving), kemudian siswaperkembangan kognitif mengatakan mendiskusikan apa yang harus dilakukansturktur kognitif yang kita miliki selalu dan bernegoisasi untuk membaberinteraksi dengan lingkungannya dengan Berdasarkan uraian latar belakangcara asimilasi dan akomodasi. Jika asimilasi yang dikemukakan, maka masalah yangdan akomodasi terjadi secara bebas atau dikaji dalam penelitian ini adalah: Apakahtanpa konflik, maka struktur kognitif terdapat perbedaan kemampuan berpikirdikatakan berada pada keadaan seimbang kritis matematis dan sikap siswa, antara(equilibrium) dengan lingkungannya. siswa yang menerima pembelajaranNamun, jika terjadi konflik maka seseorang berbasis masalah dengan strategi konflikberada pada keadaan tidak seimbang kognitif (PBLKK) dan siswa yang belajar(disequilibrium). Hal ini terjadi karena secara konvensional (KV) ditinjau dari:2
  3. 3. JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA VOLUME 4.NO.1 JUNI 2010keseluruhan, pengetahuan awal matematika Tengah. Sampel penelitian ini sebanyaksiswa (PAM), dan level sekolah? 200 orang siswa, terdiri dari 102 siswa yang memperoleh pembelajaran PBLKK (kelasMETODE PENELITAN eksperimen) dan 98 siswa yang memperoleh pembelajaran KV (kelas Penelitian ini merupakan penelitian kontrol).eksperimen karena peneliti bermaksudmemberikan perlakuan kepada subjek Instrumen Penelitianpenelitian untuk selanjutnya ingin Untuk memperoleh data dalammengetahui pengaruh dari perlakuan penelitian ini digunakan instrumen tes yangtersebut. Perlakuan tersebut adalah terdiri dari seperangkat soal untukpembelajaran berbasis masalah dengan mengukur dan mengetahui kemampuanstrategi konflik kognitif di kelas awal matematika siswa, tes kemampuaneksperimen dan pembelajaran konvensional berpikir kritis matematis, skala sikap dandi kelas kontrol. Variabel bebas dalam rapor siswa kelas VII.penelitian ini adalah pendekatanpembelajaran berbasis masalah dengan Teknik Analisis Datastrategi konflik kognitif (PBLKK) dan Dari penelitian yang dilakukanpembelajaran konvensional (KV). Kelas maka diperoleh data kuantitatif. Datayang diajar dengan PBLKK merupakan kuantitatif didapat melalui tes kemampuankelas eksperimen, sedangkan kelas yang berpikir kritis dan skala sikap siswa.diajar dengan pembelajaran konvensional Setelah data diperoleh, kemudian dianalisis(KV) merupakan kelas kontrol. untuk didiskripsikan dan diberikan tafsiran- Variabel terikat dalam penelitian ini tafsiran. Pengolahan data kuantitatifadalah kemampuan berpikir kritis dilakukan melalui dua tahapan utama.matematis.. Variabel kontrol dalam 1. Tahap pertama: menguji persyaratanpenelitian ini adalah pengetahuan awal statistik yang diperlukan sebagai dasar(student prior knowledge) matematika dalam pengujian hipotesis, yaitu ujisiswa (PAM). PAM siswa adalah normalitas sebaran data subyek sampelpengetahuan matematika yang telah dan uji homogenitas varians.dimiliki siswa sebelum penelitian ini 2. Tahap kedua: menguji ada atau tidakdilaksanakan. PAM siswa ditentukan oleh adanya perbedaan dari masing-masingtes kemampuan awal matematika dan nilai kelompok dengan menggunakan Uji-t,rapor matematika siswa ketika duduk di ANAVA satu jalur dengan bantuankelas VII. perangkat lunak SPSS-17 for Windows. Disain eksperimen yang digunakanadalah only postets group disign yang Hasil dan Temuandigabung dengan disain 3 × 3 × 2 , yaitu Pengetahuan awal matematikatiga kelompok PAM siswa (tinggi, sedang, (PAM) siswa adalah pengetahuan yangdan rendah), tiga level sekolah, dan dua dimiliki siswa sebelum proses pembelajaranmodel pembelajaran (PBLKK dan KV). berlangsung. Pengetahuan awal matematikaDisain eksperimen yang digunakan pada merupakan rata-rata dari nilai tespenelitian ini dapat dinyatakan sebagai kemampuan matematika, nilai raporberikut: matematika siswa pada semester I dan II di X O kelas VII SMP. O Untuk mengetahui kesetaraan sampel penelitian, telah dilakukan analisisSubjek Penelitian statistik uji perbedaan rata-rata dari skor Populasi penelitian ini adalah pengetahuan awal matematika. Sebelumseluruh siswa SMP di kota Palu Sulawesi dilakukan uji perbedaan rata-rata, terlebih 3
  4. 4. Ismaimuza, Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalahdahulu dilakukan uji normalitas dan kritis matematis siswa yang diajar denganhomogenitas varians data, dan didapat pembelajaran PBLKK lebih tinggikesimpulan bahwa sampel berasal dari dibandingkan kemampuan berpikir kritispopulasi yang berdistribusi normal. siswa yang diajar dengan pembelajaranKemampuan Berpikir Kritis Matematis konvensional. Jadi kemampuan berpikirSiswa ditinjau secara Keseluruhan kritis matematis siswa yang memperolehHipotesis yang diuji adalah: pembelajaran PBLKK lebih baik daripadaH0 : Tidak terdapat perbedaan kemampuan siswa yang memperoleh pembelajaran KV. berpikir kritis matematis siswa Kemampuan Berpikir Kritis antara yang memperoleh berdasarkan PAM pembelajaran PBLKK dan Hipotesis yang diuji adalah: pembelajaran KV H0 : Tidak terdapat perbedaanHa : Terdapat perbedaan kemampuan kemampuan berpikir kritis berpikir kritis matematis siswa matematis siswa setelah antara yang memperoleh memperoleh pembelajaran PBLKK pembelajaran PBLKK dan berdasarkan pengetahuan awal pembelajaran KV. matematika (PAM) siswa.Kriteria pengujian yang digunakan adalah Ha :Terdapat perbedaan kemampuanjika nilai sig. lebih besar dari 0,05, maka berpikir kritis matematis siswahipotesis nol (H0) diterima. setelah memperoleh pembelajaran Sebelum hipotesis diuji, diuji PBLKK berdasarkan pengetahuannormalitas dan homogenitas varians data awal matematika (PAM) siswa.dari kemampuan berpikir kritis matematis Kriteria pengujian adalah jika nilai sig.berdasarkan pada pembelajaran PBLKK lebih kecil dari 0,05, maka hipotesis noldan KV. Dari Hasil perhitungan uji diterima.normalitas kemampuan berpikir kritis Distribusi kemampuan berpikirmatematis dapat disimpulkan bahwa data kritis matematis siswa berdasarkankemampuan berpikir kritis matematis pengetahuan awal matematika (PAM) siswaberdistribusi normal. dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil perhitungan uji-t kemampuan Tabel 2. Distribusi Kemampuanberpikir kritis berdasarkan pembelajaran Berpikir Kritis Matematis berdasarkanPBLKK dan KV disajikan pada Tabel 1. PAM Siswa Tabel 1.Uji –t Kemampuan berpikir Kritis Matematis berdasarkan Pembelajaran PAM n Rata-rata Simpangan Baku sig.(2- Tinggi 4 92,5000 6,45497Kemampuan t dk H0 tailed) Sedang 65 71,6923 10,46859 Kritis 2,22 198 0,000 Rendah 33 61,5152 11,55725 Tolak 1 Untuk melihat apakah ada perbedaan Pada Tabel 1 terlihat bahwa nilai kemampuan kritis matematis berdasarkansig. kemampuan berpikir matematis lebih pengetahuan awal matematika (PAM) siswakecil dari 0,05. Ini berarti hipotesis nol pada siswa yang memperoleh PBLKKditolak. Dengan demikian, terdapat maka dilakukanlah uji ANAVA satu jalur.perbedaan yang signifikan kemampuan Kriteria pengujian adalah jika nilai sig.berpikir kritis matematis siswa antara yang lebih kecil dari α = 0,05, maka hipotesismemperoleh pembelajaran PBLKK dan nol ditolak.pembelajaran KV. Dari data nilai rata-rata Hasil perhitungan uji ANAVA satujuga terlihat bahwa kemampuan berpikir jalur kemampuan berpikir kritis matematis4
  5. 5. JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA VOLUME 4.NO.1 JUNI 2010 berdasarkan PAM pada siswa yang Sedang 37 65,1351 12,10409 memperoleh pembelajaran PBLKK Rendah 31 67,0968 10,86080 disajikan pada Tabel 3 Dari Tabel 4 terlihat bahwa rata-rata Tabel 3. Uji ANAVA Kemampuan Berpikir kemampuan berpikir kritis matematis dari Kritis Terhadap PAM Siswa siswa yang memperoleh pembelajaran Jumlah Kuadrat PBLKK pada level sekolah tinggi lebih Kuadrat dk Rata-rata F Sig. tinggi dari rata-rata siswa dari level sekolah sedang dan level sekolah rendah. Rata-rataAntar 4524,166 2 2262,083 19,6 0,000 kemampuan berpikir kritis matematis dariKlpk 22 level sekolah rendah lebih tinggi dari rata-Dalam 11413,089 99 115,284 rata siswa dari level sekolah sedang.Klpk Hipotesis yang diuji adalah:Total 15937,255 101 H0 : Tidak terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang Pada Tabel 3 terlihat bahwa nilai memperoleh PBLKK berdasarkan sig. kemampuan berpikir kritis matematis level sekolah. berdasarkan pengetahuan awal matematika Ha : Terdapat perbedaan kemampuan (PAM) siswa lebih kecil dari 0,05. Ini berpikir kritis matematis siswa yang berarti hipotesis nol ditolak. Dengan memperoleh PBLKK berdasarkan demikian, terdapat perbedaan kemampuan level sekolah. berpikir kritis matematis siswa berdasarkan Kriteria pengujian adalah jika nilai sig. pengetahuan awal matematika (PAM) siswa lebih kecil dari α = 0,05, maka hipotesis pada siswa yang memperoleh pembelajaran nol diterima. PBLKK. Untuk melihat pada PAM siswa Dari hasil uji Levene dapat mana saja yang berbeda maka dilakukan uji disimpulkan bahwa varians data Scheffe. kemampuan berpikir kritis matematis Berdasarkan hasil uji Scheffe, berdasarkan level sekolah adalah homogen. perbedaan kemampuan berpikir kritis Untuk melihat ada tidaknya matematis siswa terjadi untuk PAM siswa perbedaan kemampuan kritis matematis sedang dengan PAM siswa sedang sebesar pada siswa yang memperoleh pembelajaran 20,81, PAM siswa tinggi dan rendah PBLKK berdasarkan level sekolah sebesar 30,95, dan PAM sedang dengan digunakan uji ANAVA satu jalur. Hasil PAM rendah sebesar 10,17 perhitungan uji ANAVAsatu jalur Kemampuan Berpikir Kritis kemampuan berpikir kritis matematis berdasarkan Level Sekolah disajikan pada Distribusi kemampuan berpikir Tabel 5. Uji ANAVA Kemampuan Berpikir Kritis kritis matematis siswa yang memperoleh berdasarkan Level Sekolah pembelajaran PBLKK berdasarkan level sekolah dapat dilihat pada Tabel 4. Jumlah Kuadrat Kuadrat dk rata-rata F Sig. Antar 2135,986 2 1067,993 7,661 0,001 Tabel 4.Distribusi Kemampuan Berpikir Klpk Kritis Matematis berdasarkan Level Sekolah Dalam 13801,269 99 139,407 Klpk Total 15937,255 101 Level Rata- Simpangan Pada Tabel 5. terlihat bahwa nilai n Sekolah rata Baku sig. kemampuan berpikir kritis matematis Tinggi 34 75,5882 12,29466 siswa yang memperoleh pembelajaran 5
  6. 6. Ismaimuza, Pengaruh Pembelajaran Berbasis MasalahPBLKK berdasarkan level sekolah lebih demikian, dapat disimpulkan bahwakecil dari 0,05. Ini berarti hipotesis nol terdapat perbedaan sikap siswa antara yangditolak. Dengan demikian, terdapat memperoleh pembelajaran PBLKK danperbedaan kemampuan berpikir kritis pembelajaran KV. Artinya, sikap siswamatematis siswa yang memperoleh yang diajar dengan pembelajaran PBLKKpembelajaran PBLKK berdasarkan level lebih positif dibandingkan dengan sikapsekolah. Untuk melihat pada level sekolah siswa yang diajar dengan pembelajaranmana saja yang berbeda maka dilakukan uji konvensional.Scheffe. Hasil uji Scheffe menunjukkan Distribusi sikap siswa berdasarkanbahwa kemampuan berpikir kritis level sekolah dapat dilihat pada Tabel 7.matematis berbeda berdasarkan levelsekolah. Kemampuan berpikir kritis Tabel 7.Distribusi Sikap Siswamatematis yang berbeda adalah untuk level berdasarkan Level Sekolahsekolah tinggi dengan level sekolah sedangsebesar 10,45, dan level sekolah tinggi Level Simpangan n Rata-ratadengan level sekolah rendah sebesar 8,49, Skolah Bakusedangkan untuk level sekolah sedang Tinggi 34 105,9706 10,91700dengan level sekolah rendah tidak berbeda. Sedang 37 109,2432 7,93167 Rendah 31 109,9677 11,77705Sikap Siswa terhadap Matematika Dari Tabel 7 terlihat bahwa rata-rataHipotesis yang diuji adalah: sikap siswa level sekolah tinggi lebihH0 : Tidak terdapat perbedaan sikap siswa rendah dari rata-rata sikap siswa level terhadap matematika antara yang sekolah sedang dan rata-rata sikap level memperoleh pembelajaran PBLKK sekolah rendah. Rata-rata sikap siswa level dan pembelajaran KV sekolah rendah relatif lebih baik dari rata-Ha : Terdapat perbedaan sikap siswa rata sikap siswa level sekolah sedang. terhadap matematika antara yang Untuk melihat ada tidaknya perbedaan memperoleh pembelajaran PBLKK skala sikap siswa yang memperoleh dan pembelajaran KV. PBLKK berdasarkan level sekolahKriteria pengujian adalah jika nilai sig. digunakan uji ANAVA satu jalur. Hasillebih besar dari 0,05, maka hipotesis nol perhitungan uji ANAVA satu jalur skaladiterima. sikap siswa yang memperoleh PBLKK Untuk melihat apakah ada menunjukkan bahwa nilai sig.adalah 0,240perbedaan sikap siswa berdasarkan lebih besar dari 0,05. Ini berarti hipotesispembelajaran maka digunakan uji-t. nol diterima. Dengan demikian, tidak Hasil perhitungan uji-t sikap siswa terdapat perbedaan sikap siswa terhadapberdasarkan pembelajaran PBLKK, dan KV matematika yang memperolehdisajikan pada Tabel 6. pembelajaran PBLKK berdasarkan level sekolah. Hal ini juga didukung oleh ujiTabel 6. Uji –t Sikap Siswa Berdasarkan Scheffe yang menunjukkan bahwa semua Pembelajaran nilai sig. untuk setiap level sekolah lebih besar dari 0,05. Sehingga dapat sig.(2- disimpulkan sikap siswa yang memperoleh t dk H0 tailed) PBLKK tidak berbeda berdasarkan levelSikap 3,740 198 0,000 Tolak sekolah. Jadi pada setiap level sekolah sikap siswa adalah sama. Pada Tabel 6 terlihat bahwa nilai Perbandingan rata-rata kemampuansig. sikap siswa lebih kecil dari 0,05, ini berpikir kritis matematis berdasarkan levelberarti hipotesis nol ditolak. Dengan sekolah disajikan pada Diagram 1.6
  7. 7. JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA VOLUME 4.NO.1 JUNI 2010 100 90 Kemampuan Berpikir Kritis 80 75,59 67,1 69,22 70 65,48 65,14 61,15 60,92 60 55,54 50 PBLKK 40 KV 30 20 10 0 Tinggi Sedang Rendah Total Diagram.1 Rata-rata Kemampuan Berpikir Kritis Matematis berdasarkan Level Sekolah Rata-rata kemampuan berpikir kritis memperoleh pembelajaran konvensional.matematis siswa pada level sekolah tinggi = Perbandingan kemampuan berpikir75,59, sedang = 65,14, dan rendah = 67,10 kritis matematis berdasarkan PAM siswayang memperoleh pembelajaran PBLKK dapat dilihat pada Diagram 2. Darimasih lebih tinggi dari rata-rata Diagram 2 terlihat bahwa berdasarkankemampuan berpikir kritis matematis siswa PAM siswa, maka kemampuan berpikirpada level sekolah tinggi = 65,48, sedang kritis siswa yang memperoleh pembelajaran= 61,152, dan rendah = 55,54 dengan PBLKK masih lebih baik dari siswa yangpembelajaran KV. Jadi pada setiap level memperoleh pembelajaran konvensional.sekolah rata-rata kemampuan berpikir kritis Perbandingan rata-rata kemampuansiswa yang memperoleh pembelajaran berpikir kritis matematis berdasarkan PAMPBLKK lebih tinggi daripada siswa yang siswa disajikan pada diagram 2. 100 92,5 87,5 90 80 71,69 70 64,64 61,52 60 48,85 50 PBLKK 40 KV 30 20 10 0 PAM Tinggi PAM Sedang PAM Rendah Diagram 2 Rata-rata Kemampuan Berpikir Kritis Matematis berdasarkan PAM Dari Diagram 2 terlihat rata-rata 7
  8. 8. Ismaimuza, Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalahkemampuan kritis matematis siswa yang di UNESA Surabaya.memperoleh pembelajaran PBLKK dengan Baron, J. B and Sternberg, R. J. (1987).PAM tinggi = 92,50, sedang = 71,69 dan Teaching Thinking Skills : Theoryrendah = 61,52. Rata-rata ini masih lebih and Practice, New York : W. H.tinggi dari rata-rata kemampuan kritis Freeman and Company.matematis siswa yang memperoleh Dahlan, J.A.(2004). Meningkatkanpembelajaran KV dengan PAM tinggi = Kemampuan penalaran dan87,500, sedang = 64,64 dan rendah = 48,85. Pemahaman Siswa SLTP MelaluiJadi siswa yang memperoleh pembelajaran Pendekatan Pembelajaran Open-PBLKK lebih tinggi dari siswa yang Ended. Bandung: Disertasi SPSmemperoleh pembelajaran konvensional UPI tidak diterbitkan.berdasarkan PAM siswa. Delishe, R. (1997). How to Use Problem-Kesimpulan Based Learning in The1. Kemampuan berpikir kritis matematis Classroom. New York. ASCD. siswa yang memperoleh pembelajaran Ennis, R. H, (1996). Critical Thinking, PBLKK lebih baik daripada siswa yang United States of America: memperoleh pembelajaran KV. Prentice-Hall Inc.2. Kemampuan berpikir kritis matematis Fisher, R. (1995). Thinking Children to siswa yang memperoleh pembelajaran Think, Cheltenham, United BPLKK berbeda berdasarkan Kingdom : Stanley Thornes Ltd pengetahuan awal matematika (PAM) Fogarty, R. (1997). Problem-Based siswa, yaitu untuk PAM siswa tinggi Learning and the Other dengan PAM siswa sedang, PAM siswa Curriculum Models for Multiple tinggi dengan PAM siswa rendah, dan Intelegences Classroom. Hawker untuk PAM siswa sedang dengan PAM Brownlow Education. siswa rendah. Gijselaers, W.H.(1996). Connecting3. Kemampuan berpikir kritis matematis Problem-Based Practice with yang memperoleh pembelajaran Educational Theory. Dalam PBLKK berbeda menurut level sekolah. Wilkerson, L.(Ed). New Direction Perbedaan kemampuan berpikir kritis for Theaching and Learning. adalah untuk level sekolah tinggi No.68. Josey-Bass Publisher. dengan level sekolah sedang, dan level IMSTEP-JICA (1999). Permasalahan sekolah tinggi dengan level sekolah Pembelajaran Matematika SD, rendah, sedangkan untuk level sekolah SLTP, dan SMU di Kota sedang dengan level sekolah rendah Bandung: Bandung: FMIPA UPI. tidak berbeda. Krulik, S. (1980), Problem Solving in4. Sikap siswa yang diajar dengan School Mathematics. NCTM. pembelajaran PBLKK lebih positif Marzano, R. J et.al. (1989). Dimention of dibandingkan dengan sikap siswa yang Thingking : A Framework for diajar dengan pembelajaran Curricullum and Instruction. konvensional Alexanderia US : Association for Supervision and Curriculum DevelopmentDAFTAR PUSTAKA Mullis, I.V.S dkk. (2000, 2004, 2008). TIMSS 2007: Trends inArmanto, D. (2001) Upaya Peningkatan Mathematics and Science Study: Pembelajaran Matematika SD Assessment Frameworks and Melalui Pendidikan Matematika Specifications International Realistik (PMR). Seminar Report. Boston: The International Nasional Pendidikan Matematika Study Center8
  9. 9. JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA VOLUME 4.NO.1 JUNI 2010Ngeow, K.K. dan San, Y. (1997). Learning to learn: Preparing Teachers and Student for Problem-Based Learning . [On-Line}, Tersedia : http//www. Eric Indiana.edu.Panduan Lengkap KTSP (2007), Jakarta. Pustaka Yustisia.Sutiarso, S. (2000). Problem Posing, Strategi Efektif Meningkatkan Aktifitas Siswa dalam Pembelajaran Matematika. Makalah pada Seminar di Bandung: tidak diterbitkan. 9
  10. 10. Ismaimuza, Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah10

×