Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
ANALISA KADAR AIR DENGAN METODE OVEN
I. TUJUAN
 Menentukan kadar air suatu sampel dengan metode oven
II. Dasar Teori
Air ...
penting dilakukan untuk mengetahui berat bahan kering dan menganalisis kandungan zat gizi
suatu bahan (Muchtadi TR dan Sug...
3. Air dalam keadaan terikat kuat, air ini membentuk hidrat. Ikatannya bersifat ionik sehingga
relatif sukar dihilangkan a...
demikian akan diperoleh hasil yang lebih mencerminkan kadar air yang sebenarnya (Sudarmadji
2003).
Metode Oven Biasa
Metod...
menguap. Contoh gula mengalami dekomposisi atau karamelisasi, lemak mengalami oksidasi ; c)
Bahan yang dapat mengikat air ...
Cara ini berdasarkan reaksi antara kalsium karbid dan air menghasilkan gas asetilin. Cara
ini sangat cepat dan tidak memer...
III. Alat dan Bahan
 Alat
o Erlemeyer
o Gelas piala
o Neraca
o Oven
o sudip
 Bahan
o Mie instan
bahan-bahan pelengkap mi...
V. Analisa Hasil
 Kadar air pada mie
sebelum dioven
 Berat erlemeyer kosong A : 94,0549 g (wo)
 Berat erlemeyer + 3 gra...
Sampel mie B
=
𝑤2 − 𝑤1
𝑤1 − 𝑤 𝑜
𝑥 100%
=
115,6266− 115,8200
115,8200− 112,8310
𝑥 100%
=
0,1934
2,9890
𝑥 100% = −6,47039 %
...
VI. Pembahasan
Pada praktikum pengujian kandungan air dengan metode pengovenan maka kita harus
menghaluskan sampel terlebi...
serbuk yang kering mangkanya kandungan airnya lebih sedikit. Mangkanya mie instan
tahan disimpan dalam waktu lama tampa be...
VII. Kesimpulan dan Saran
 Kesimpulan
berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa kadar air didalam mie
rendah da...
DAFTAR PUSTAKA
AOAC. 1984. Official Methods of Analysis of The Association of Official Analytical Chemistry. 14th Ed.
Virg...
Analisa kadar-air-dengan-metode-oven
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Analisa kadar-air-dengan-metode-oven

55,994 views

Published on

Published in: Automotive
  • The TRUTH... ➤➤ https://t.cn/A6Z4MmPB
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Follow the link, new dating source: ♥♥♥ http://bit.ly/39mQKz3 ♥♥♥
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Dating for everyone is here: ♥♥♥ http://bit.ly/39mQKz3 ♥♥♥
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here

Analisa kadar-air-dengan-metode-oven

  1. 1. ANALISA KADAR AIR DENGAN METODE OVEN I. TUJUAN  Menentukan kadar air suatu sampel dengan metode oven II. Dasar Teori Air merupakan zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk kehidupan.Air diperlukan untuk kelangsungan proses biokimiawi organisme hidup. Selain digunakan untuk keperluan proses biokimiawi, air terdapat pada setiap bahan, atau yang disebut dengan kadar atau kandungan air. Pengukuran kadar air dalam suatu bahan sangat diperlukan dalam berbagai bidang (Canene-Adams.2014). Kadar air adalah perbedaan antara berat bahan sebelum dan sesudah dilakukan pemanasan. Setiap bahan bila diletakan dalam udara terbuka kadar airnya akan mencapai keseimbangan dengan kelembaban udara di sekitarnya. Kadar air bahan ini disebut dengan kadar air seimbang. Penentuan kadar air dalam bahan dapat ditentukan dengan beberapa cara, yaitu: Metode pengeringan (Thermogravimetri), metode destilasi (Thermovolumetri), metode khemis, metodefisis, dan metode khusus misalnya dengan kromatografi, Nuclear Magnetic Resonance (Sudarmadji et al 1989). Metode pengeringan atau metode oven biasa merupakan suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Prinsip dari metode oven pengering adalah bahwa air yang terkandung dalam suatu bahan akan menguap bila bahan tersebut dipanaskan pada suhu 105o C selama waktu tertentu. Perbedaan antara berat sebelum dan sesudah dipanaskan adalah kadar air(Jung and Wells. 1997). Pengukuran kadar air perlu dilakukan untuk mengetahui berat kering dari suatu bahan, selain itu kandungan air dalam bahan makanan menentukan kesegaran dan daya tahan bahan itu sendiri. Sebagian besar dari perubahan-perubahan bahan makanan terjadi dalam media air yang ditambahkan atau berasal dari bahan itu sendiri. Oleh karena itu, praktikum penetapan kadar air
  2. 2. penting dilakukan untuk mengetahui berat bahan kering dan menganalisis kandungan zat gizi suatu bahan (Muchtadi TR dan Sugiono. 1992). Kadar Air Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air juga merupakan satu karakteristik yang sangat penting pada bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, dan citarasa pada bahan pangan. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut (Direktorat Gizi Departemen Kesehatan. 1972). Kandungan air dalam bahan makanan ikut menentukan kesegaran dan daya tahan bahan itu sendiri. Sebagian besar dari perubahan-perubahan bahan makanan terjadi dalam media air yang ditambahkan atau berasal dari bahan itu sendiri. Menurut derajat keterikatan air dalam bahan makanan atau bound water dibagi menjadi 4 tipe, antara lain : 1. Tipe I adalah tipe molekul air yang terikat pada molekul-molekul air melalui suatu ikatan hydrogen yang berenergi besar. Molekul air membentuk hidrat dengan molekul-molekul lain yang mengandung atom-atom O dan N seperti karbohidrat, protein atau garam. 2. Tipe II adalah tipe molekul-molekul air membentuk ikatan hydrogen dengan molekul air lain, terdapat dalam miro kapiler dan sifatnya agak berbeda dari air murni. 3. Tipe III adalah tipe air yang secara fisik terikat dalam jaringan matriks bahan seperti membran, kapiler, serat dan lain-lain. Air tipe inisering disebut dengan air bebas. 4. Tipe IV adalah tipe air yang tidak terikat dalam jaringan suatu bahan atau air murni, dengan sifat-sifat air biasa (Muchtadi TR dan Sugiono. 1992). Air dalam suatu bahan makanan terdapat dalam berbagai bentuk : 1. Air bebas, air ini terdapat dalam ruang-ruang antar sel dan inter-granular dan pori-pori yang terdapat pada bahan. 2. Air yang terikat secara lemah, air ini teradsorbsi pada pemukaan kolloid makromolekuler seperti protein, pektin pati, sellulosa. Selain itu air juga terdispersi diantara kolloid tersebut dan merupakan pelarut zat-zat yang ada dalam sel. Air yang ada dalam bentuk ini masih tetap mempunyai sifat air bebas dan dapat dikristalkan pada proses pembekuan. Ikatan antara air bebas dengan kolloid tersebut merupakan ikatan hidrogen.
  3. 3. 3. Air dalam keadaan terikat kuat, air ini membentuk hidrat. Ikatannya bersifat ionik sehingga relatif sukar dihilangkan atau diuapkan. Air ini tidak membeku meskipun pada 0º (Sudarmadji 2003). Penentuan Kadar Air Penentuan kandungan air dapat dilakukan dengan beberapa cara. Hal ini tergantung pada sifat bahannya. Pada umumnya penentuan kadar air dilakukan dengan mengeringkan bahan dalam oven pada suhu 105-110ºC selama 3 jam atau sampai didapat berat yang konstan. Selisih berat sebelum dan sesudah pengeringan adalah banyaknya air yang diuapkan. Untuk bahan- bahan yang tidak tahan panas, dilakukan pemanasan dalam oven vakum dengan suhu yang lebih rendah. (Winarno, F.G. 1993). Kadar air dalam bahan makanan dapat ditentukan dengan berbagai cara antara lain : 1. Metode pengeringan 2. Metode destilasi 3. Metode kimiawi 4. Metode fisis Dalam percobaan kali ini yang metode yang digunakan dalam melakukan proses penetapan kadar air menggunkan cara pengeringan dengan metode oven biasa. Penentuan kadar air dengan cara pengeringan prinsipnya yaitu menguapkan air yang ada dalam bahan dengan jalan pemanasan. Kemudian menimbang bahan sampai berat konstan yang berarti semua air sudah diuapkan. Cara ini relatif mudah dan murah. Kelemahan cara ini adalah : • Bahan lain disamping air juga ikut menguap dan ikut hilang bersama dengan uap air misalnya alkohol, asam asetat, minyak atsiri dan lain-lain. • Dapat terjadi reaksi selama pemanasan yang menghasilkan air atau zat mudah menguap. Contoh gula mengalami dekomposisi atau karamelisasi, lemak mengalami oksidasi. • Bahan yang dapat mengikat air secara kuat sulit melepaskan airnya meskipun sudah dipanaskan. Dalam melakukan proses pengeringan untuk mempercepat penguapan air serta menghindari terjadinya reaksi yang menyebabkan terbentuknya air ataupun reaksi yang lain karena pemanasan, maka dapat dilakukan dengan suhu rendah dan tekanan vakum. Dengan
  4. 4. demikian akan diperoleh hasil yang lebih mencerminkan kadar air yang sebenarnya (Sudarmadji 2003). Metode Oven Biasa Metode oven biasa yang digunakan merupakan salah satu metode pemanasan langsung dalam penetapan kadar air suatu bahan pangan. Dalam metode ini bahan dipanaskan pada suhu tertentu sehingga semua air menguap yang ditunjukkan oleh berat konstan bahan setelah periode pemanasan tertentu. Kehilangan berat bahan yang terjadi menunjukkan jumlah air yang terkandung. Metode ini terutama digunakan untuk bahan-bahan yang stabil terhadap pemanasan yang agak tinggi, serta produk yang tidak atau rendah kandungan sukrosa dan glukosanya seperti tepung-tepungan dan serealia (AOAC 1984). Metode ini dilakukan dengan cara pengeringan bahan pangan dalam oven. Berat sampel yang dihitung setelah dikeluarkan dari oven harus didapatkan berat konstan, yaitu berat bahan yang tidak akan berkurang atau tetap setelah dimasukkan dalam oven. Berat sampel setelah konstan dapat diartikan bahwa air yang terdapat dalam sampel telah menguap dan yang tersisa hanya padatan dan air yang benar-benar terikat kuat dalam sampel. Setelah itu dapat dilakukan perhitungan untuk mengetahui persen kadar air dalam bahan (Winarno, F.G. 1993). Secara teknik, metode oven langsung dibagi menjadi dua yaitu, metode oven temperatur rendah dan metode oven temperatur tinggi. Metode oven temperatur rendah menggunakan suhu (103 + 2)˚C dengan periode pengeringan selama 17 ± 1 jam. Periode pengeringan dimulai pada saat oven menunjukkan temperatur yang diinginkan. Setelah pengeringan, contoh bahan beserta cawannya disimpan dalam desikator selama 30-45 menit untuk menyesuaikan suhu media yang digunakan dengan suhu lingkungan disekitarnya. Setelah itu bahan ditimbang beserta wadahnya. Selama penimbangan, kelembaban dalam ruang laboratorium harus kurang dari 70% (AOAC, 1970). Selanjutnya metode oven temperatur tinggi. Cara kerja metode ini sama dengan metode temperatur rendah, hanya saja temperatur yang digunakan pada suhu 130-133˚C dan waktu yang digunakan relatif lebih rendah (Winarno, F.G. 1993). Metode ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu ; a) Bahan lain disamping air juga ikut menguap dan ikut hilang bersama dengan uap air misalnya alkohol, asam asetat, minyak atsiri dan lain-lain ; b) Dapat terjadi reaksi selama pemanasan yang menghasilkan air atau zat mudah
  5. 5. menguap. Contoh gula mengalami dekomposisi atau karamelisasi, lemak mengalami oksidasi ; c) Bahan yang dapat mengikat air secara kuat sulit melepaskan airnya meskipun sudah dipanaskan (Winarno, F.G. 1993). 2.1.2 Metode Destilasi Penentuan kadar air dari bahan-bahan yang kadar airnya tinggi dan mengandung senyawa- senyawa yang mudah menguap ( volatile ) seperti sayuran dan susu, menggunakan cara destilasi dengan pelarut tertentu, misalnya toluen, xilol, dan heptana yang berat jenisnya lebih rendah daripada air Cara penentuannya adalah dengan memberikan zat kimia sebanyak 75-100 ml pada sampel yang diberikan mengandung air sebanyak 2-5 ml kemudian dipanaskan sampai mendidih. Uap air dan zat kimia tersebut diembunkan dan ditampung dalam tabung penampung. Karena berat jenis air lebih besar daripada zat kimia tersebut maka air akan berada dibagian bawah pada tabung penampung. Bila pada tabung penampung dilengkapi skala maka banyaknya dapat diketahui. Cara destilasi ini baik untuk menentukan kadar air dalam zat yang kandungan airnya kecil yang sulit ditentukan dengan cara gravimetri. Penetuan kadar air ini hanya memerlukan waktu ± 1 jam (Sudarmadji, 2003). 2.1.3 Metode Kimiawi Ada beberapa cara penentuan kadar air dalam bahan secara kimiawi yaitu antara lain : a. Cara Titrasi Karl Fischer Karl fischer pada tahun 1935 mengunakan cara pengeringan berdasarkan reaksi kimia air dengan titrasi langsung dari bahan basah dengan larutan iodin, sulfur dioksida, dan piridina dalam metanol. Perubahan warna menunjukan titik akhir titrasi (Winarno ,1992 ). Prinsip metode ini adalah melakukan titrasi sampel dengan larutan iodin dalam methanol dan piridin. Jika masih ada air dalam bahan maka iodine akan bereaksi, tetapi bila air habis maka iodine akan bebas. Untuk zat-zat yang melepaskan air secara perlahan-lahan, maka pada umumnya dilakukan titrasi tidak langsung. Kecuali dinyatakan lain dalam monografi maka penetapan kadar air dilakukan dengan titrasi langsung . b. Cara Kalsium Karbid
  6. 6. Cara ini berdasarkan reaksi antara kalsium karbid dan air menghasilkan gas asetilin. Cara ini sangat cepat dan tidak memerlukan alat yang rumit. Jumlah asetilin yang terbentuk dapat diukur dengan berbagai cara (Sudarmadji,2003). c. Cara Asetil Khlorida Penentuan kadar air cara ini berdasarkan reaksi asetil khlorida dan air menghasilkan asam yang dapat dititrasi menggunakan basa. Asetil khlorida yang digunakan dilarutkan dalam toluol dan bahan didispersikan dalam piridin. 2.1.4 Metode Fisis Ada beberapa cara penentuan kadar air cara secara fisis ini antara lain : - Berdasarkan tetapan dieletrikum - Berdasarkan konduktivitas listrik (daya hantar listrik) atau resistensi Berdasarkan resonansi nuklir magnetic (NMR = Nuclear Magneti resonance). (Sudarmadji,2003).
  7. 7. III. Alat dan Bahan  Alat o Erlemeyer o Gelas piala o Neraca o Oven o sudip  Bahan o Mie instan bahan-bahan pelengkap mie intan Bumbu Chili Minyak Solid dan ingredient Blok mie IV. Prosedur kerja 1. Mie ditumbuk sampai halus 2. Gelas piala kosong ditimbang (wo) 3. Mie yang telah dihaluskan ditimbang sebanyak 3g lalu dimasukkn ke dalam oven selama 3 jam, pada suhu 105oC lalu didinginkan selama 30 menit 4. Sampel setelah pengeringan ditimbang 5. Dihitung jumlah air yang diuapkan selama pengeringan 6. Metode 1 sampai 5 dilakukan juga pada bumbu mie instan
  8. 8. V. Analisa Hasil  Kadar air pada mie sebelum dioven  Berat erlemeyer kosong A : 94,0549 g (wo)  Berat erlemeyer + 3 gram mie A : 97,0610 g (w1)  Berat erlemeyer kosong B : 115,8200 g (wo)  Berat erlemeyer + 3 gram mie B : 115,8200 g (w1) Setelah di oven  Berat erlemeyer A dengan sampel : 96,8563 g (w2)  Berat erlemeyer B dengan sampel : 115,666 g (w2)  Kadar air pada bumbu sebelum dioven  Berat erlemeyer kosong A : 94,0582 g (wo)  Berat erlemeyer + 3 gram bunbu : 97,0591 g  Berat erlemeyer kosong B : 112,8362 g  Berat erlemeyer + 3 gram bumbu : 115,8489 g sesudah dioven  Berat erlemeyer A dengan sampel : 97,0424 g  Berat erlemeyer B dengan sampel : 115,8326 g Pada mie A 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝐴 = 𝑤2 − 𝑤 𝑜 𝑤1 − 𝑤 𝑜 𝑥 100% = 96,8563 − 97,0610 97,0610 − 94,0549 𝑥 100% = −0,2047 3,0061 𝑥 100% = −6,80949 %
  9. 9. Sampel mie B = 𝑤2 − 𝑤1 𝑤1 − 𝑤 𝑜 𝑥 100% = 115,6266− 115,8200 115,8200− 112,8310 𝑥 100% = 0,1934 2,9890 𝑥 100% = −6,47039 % Pada bumbu Sampel A = 𝑤2 − 𝑤1 𝑤1 − 𝑤 𝑜 𝑥 100% = 97,0424 − 97,0591 97,0591 − 94,0582 𝑥 100% = −0,0167 3,0009 𝑥 100% = −0,5565 % Sampel B = 𝑤2 − 𝑤1 𝑤1 − 𝑤 𝑜 𝑥 100% = 115,8365− 115,8489 115,8489− 112,8365 𝑥 100% = −0,0163 3,0009 𝑥 100% = −0,54317 %
  10. 10. VI. Pembahasan Pada praktikum pengujian kandungan air dengan metode pengovenan maka kita harus menghaluskan sampel terlebih dahulu kemudian menimbang berat sampel susuai dengan yang di inginkan. Penimbangannya pun tidak dilakukang dengan begitu saja melainkan dengan menimbangnya dengan erlemeyer kosong terlebih dahulu dari berat erlemeyer kosong ditambahkan dengan berat sampel yang diinginkan baru kita menimbang berapa berat erlemeyer dengan berat sampel yang kita inginkan. Di dalam praktikum kali ini kita kelompok III menggunakan dua sampel yang berbeda yaitu suatu mie instan dan bumbunya dimana di setiap sampel kita jadikan dia bagian masing-masing 3 gram. Yaitu berat sampel mie A berat mie dengan erlemeyer sebelum pengovenan diperoleh 97,0610 g , berat sampel mie setelah pengovenan yaitu 96,8563 g dimana kita bila ingin mencari berapa banyak air yang diuapkan selama pengovenan dengan mengurangkan berat sampel sesudah di oven di kurangi dengan berat sampel sebelum dioven maka diperoleh -0,247 g. hasil yang diperoleh minus ini menandakan berarti airnya di keluarkan dengan di uapkan. Untuk mencari persentasenya maka kita harus membangi jumlah air yang diuapkan di bagi dengan berat sampel awal sebelum diuapkan dan dikalikan dengan 100% dan untuk presentase mie yang A diperoleh -6,80949. Disini kandungan air didalam suatu mie tidak terlalu besar karena memang kita ketahuhi bentuk mie intans kering jadi tidak mungkin juga seandainya kandungan air di dalamnya lebih dari 50% karena bila kandungan air dalam sampel lebih dari 50% tidak mungkin sampelnya dalam bentuk kering. Hal ini pun juga terjadi pada sampel mie yang B dan pada bumbu yang A dan B.dmana pada sampel mie yang B diperoleh persen kandungan air yaitu -6,47039% dan pada bumbu memiliki persen kandungan air yaitu -0,5565% untuk yang sampel yang A dan untuk sampel yang B diperoleh hasil -0,54% disini kita ketahui kandungan air pada ie instan ternyata lebih besar dibandingkan dengan kandungan air pada bumbunya. Hal ini dapat diketahui dari hasil perhitungan bahwa persen air pada me lebih besar. Menurut saya hasil dari praktikum ini masuk di akal. Karena memang bentuk bumbu berupa
  11. 11. serbuk yang kering mangkanya kandungan airnya lebih sedikit. Mangkanya mie instan tahan disimpan dalam waktu lama tampa berjamur atau rusak.
  12. 12. VII. Kesimpulan dan Saran  Kesimpulan berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa kadar air didalam mie rendah dan pada bumbu kadar airnya lebih rendah daripada pada mienya  Saran
  13. 13. DAFTAR PUSTAKA AOAC. 1984. Official Methods of Analysis of The Association of Official Analytical Chemistry. 14th Ed. Virginia : AOC, Inc. Canene-Adams K., Clinton, S.K., King, J. L., Lindshield, B. L., Wharton C., Jeffery, E. & Erdman, J. W. Jr. 2004. The growth of the Dunning R-3327-H transplantable prostate adenocarcinoma in rats fed diets containing tomato, broccoli, lycopene, or receiving finasteride treatment. FASEB J. 18: A886 (591.4). Direktorat Gizi Departemen Kesehatan. 1972. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Bharat. Jakarta. 57pp Jung, H.C. and Wells, W.W. 1997. Spontaneous Conversion of L-Dehydroascorbic Acid to L-Ascorbic Acid and L-Erythroascorbic Acid. Biochemistry & Biophysic Article. 355:9-14. Muchtadi TR dan Sugiono. 1992. Ilmu Oengetahuan Bahan Pangan. Bogor : PAU Pangan dan Gizi IPB Onwueme, I.C. 1994. The Tropical Tubers Crops, Yams, Cassava, Sweet Potato, and Cocoyams. John Wiley and Chisester, New York Winarno, F.G. 1993. Pangan Gizi, Teknologi dan Konsumen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

×