Tutor  Immunologi<br />Anti HIV<br />sebagai uji penapisan dan konfirmasi<br /> dr. Adriyani amin/dr. Siswanto Darmadi SpP...
Pendahuluan <br />Human Immunodeficiency Virus (HIV)<br /> Acquired Immunodeficiency <br />Syndrome (AIDS)<br />Dibutuhka...
HIV<br /><ul><li>Genus Lentivirinae virus
Family Retroviridae
Berbentuksferis
Diameter 100-120 nm.</li></ul>Gambar 1<br />StrukturHuman Immunodeficiency Virus (HIV)<br />3<br />(Steven ,C, 2010)<br />...
1<br />2<br />3<br />4<br />Jumlah CD4<br />Deteksi  antibodi<br />Deteksi antigen<br />Tes asam nukleat virus<br />Tes la...
Tes <br />antibodi HIV<br />UjiKonfirmasi<br />membedakantrue positive denganfalse positive.<br />Contoh:<br />Western blo...
Uji penapisan<br />ELISA<br />United States  (1985) , <br />untukmenyaringdarah donor mengurangipenyebaraninfeksi.<br />M...
sensitifitasdanspesifisitastinggi.</li></ul>6<br />(Steven ,C, 2010)<br />
7<br />(Steven ,C, 2010)<br />
Virolisa anti HIV 1+2 <br /><ul><li>Direct sandwich enzyme immunoassay
Menggunakan antigen rekombinan HIV-1 dan HIV-2 untuk mendeteksiantibodi HIV-1 & HIV-2 dalam serum atau plasma
Antigen rDNA bereaksi dengan antibodi predominan  HIV-1 dan HIV-2,
Serum/plasma ditambahkan pada sumuran, </li></ul> kompleks antigen HIV1/2 dan anti HIV1/2<br />8<br />
<ul><li>Setelah dicuci, sumuran ditambahkan konjugat antigen HIV -1/2 rDNA dan horseradish peroxidase (HRPO), kompleks (H...
Setelah dicuci konjugat, ditambahkan TMB (3,3’,5,5’-tetramethylbenzidine) warna.
 Absorben warna yang terbentuk merupakan kadar anti HIV 1 dan/atau HIV 2 yang terdapat dalam sampel.</li></ul>9<br />(Inde...
Prosedur pemeriksaan<br />10<br />Tambahkan 100 µl kontrol (2xNC, 2x anti-HIV 1 PC, 2x anti-HIV 2 PC) dan 100 µl spesimenk...
Interpretasi hasil<br />11<br />Sensitifitas 99,4%, 100%spesifisitas <br />(Indec Diagnostic)<br />
Rapid test (immunochromatographic)<br /> Kriteria Rapid HIV test yang disetujui FDA:<br />Sensitivitas ≥ 99%, <br />Spesif...
Bahan uji yang tidak perlu diproses lebih dahulu atau memerlukan proses minimal<br />Reagen siap pakai dan tidak memerluka...
HIV-1/2 antibodi rapid test (4th generation) IR-100c <br /><ul><li>Metode immunochromatographic
Mendeteksi antibodi virus HIV tipe 1, tipe 2 dan subtipe O dalam darah utuh, serum, plasma.
Garis tes T1 dilapisi dengan antigen HIV-1 dan subtipe O,
Garis tes T2 dilapisi dengan antigen HIV-2. </li></ul>14<br />
<ul><li>Antigen pengikatnya adalah protein rekombinan </li></ul>	dari  HIV-1 pada region gp-120, gp-41, p24.<br />	Pada HI...
Antibodi positif  terbentuknya garis merah keunguan pada membran (daerah T).
Garis kontrol terdapat di daerah C untuk  menguji reaktifitas kit.</li></ul>15<br />(OncoprobeUtama)<br />
Prosedur:<br /><ul><li>Letakkan test card pada permukaan datar,
Teteskan 1 tetes serum/plasma (±25µl) ke lubang sampel (S),
Kemudian teteskan 1 tetes buffer (± 40µl) dan hidupkan timer,
Baca hasil 10-30 menit kemudian.</li></ul>16<br />(OncoprobeUtama)<br />
Interpretasi hasil<br />17<br />Sensitifitas 100%, spesifisitas 100%<br />(OncoprobeUtama)<br />
False negative:      <br /><ul><li>Kadar antibodi yang rendah dibawah nilai yang dapat dideteksi oleh tes.
Infeksi virus tertentu yang kurang dapat terdeteksi oleh konfigurasi Oncoprobe HIV antibody rapid test,
Antibodi HIV yang diproduksi oleh tubuh pasien tidak bereaksi spesifik dengan antigen spesifik yang ada pada konfigurasi tes,
Kondisi penanganan sampel  yang menyebabkan hilangnya aktifitas antibodi HIV. </li></ul>18<br />(OncoprobeUtama)<br />
Uji Konfiirmasi<br />Western blot (Immunoblot)<br /><ul><li>Tahun 1984, diperkenalkanuntukpemeriksaanantibodi HIV
Tahun 1985, untukkonfirmasiterhadaphasil ELISA positif.
Tehnikinimenuntutketerampilan
Bersifatlebihspesifik</li></ul>19<br />(Steven C, 2010)<br />
<ul><li>Carik nitroselulosa dilekatkan dengan protein  antigen HIV-1 yang sudah dimurnikan dan peptida sintetis HIV-2 spes...
Antigen protein diperoleh dari virus HIV yang ditumbuhkan pada kultur sel.
Kemudian,strip tes direaksikan dengan serum pasien. </li></ul>20<br />(Steven C, 2010)<br />
<ul><li>Saat inkubasi, tiap antibodi HIV yang  ada akan berikatan dengan antigen yang sesuai pada membran tes,
Antibodi yang tidak terikat dibuang dengan cara dicuci.
Tambahkan suatu antihuman immunoglobulin yang berlabel enzim (contohnya: konjugat) pada strip tes
Konjugat yang tidak terikat dicuci, </li></ul>21<br />(Steven C, 2010)<br />
<ul><li>Konjugat yang terikat dideteksi setelah penambahan substrat yang sesuai,  reaksi kromogen.
Pita berwarna muncul pada tempat dimana terdapat antigen-antibodi HIV spesifik. </li></ul>22<br />(Steven C, 2010)<br />
<ul><li>Pita yang terbentuk diperiksa secara visual nomer dan tipe antibodi yang muncul.
Densitometri mengkuantitasi intensitas pita </li></ul>	(yang merefleksikan jumlah tiap antibodi yang dihasilkan). <br />2...
Interpretasi hasil Western blot<br />24<br />(Steven C, 2010)<br />
25<br />Western blot menunjukkangambaranhasilnegatif, indeterminate, danpositif<br />(Steven C, 2010)<br />
RIBA<br /><ul><li>RIBA merupakanujikonfirmasiuntukmengetahuiadanyaantibodi HIV dalamsampel yang dilakukanbilaujipenapisanm...
Dapatmendeteksireaktifitasantibodi HIV tipe 1 dan 2.
Sensitifitas : 99,7% danspesifisitas: 100%.</li></ul>26<br />(Orgenics)<br />
ImmunoComb®II HIV 1 &2 CombFirm<br /><ul><li>Indirect enzym immunoassay yang menggunakan fase solid (kartu dengan 12 tonjo...
Tooth kiri : titik atasnya disensitisasi dengan human immunoglobulin (kontrol internal), dan dua petanda protein p24 (gag)...
Tooth kanan: mempunyai tiga titik protein derivate env, yaitu: gp41, gp120 dan gp36. </li></ul>27<br />(Orgenics)<br />
28<br />(Orgenics)<br />
29<br />Step 1<br />HIV antigen — antibody<br />complex formation<br />30 minutes<br />antibody<br />Binding of  anti-huma...
30<br />Prosedur<br />Masukkan 50 µl spesimen dan kontrol pada sumuran di baris A<br />(Orgenics)<br />
31<br />Hasiltes<br />Validasi:<br />Harusmempunyai 3 syarat<br />(Orgenics)<br />
32<br />Interpretasihasil<br />(Orgenics)<br />
<ul><li>IFA (indirect immunofluorescene assay)</li></ul>Prinsip:<br /><ul><li>Sel yang telahdiinfeksikandengan HIV dilekat...
Serum penderitadiinkubasidengannya,
Antibodi yang melekatdideteksidenganmenambahkanantiimunoglobulinmanusia yang bertandazatfluoresensi.
Fluoresensi yang tampakdenganmikroskopfluresensmenandakanadanya HIV.</li></ul>33<br />(Latu, J. 1989)<br />
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Ti3

1,414 views

Published on

Published in: Health & Medicine
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,414
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Ti3

  1. 1. Tutor Immunologi<br />Anti HIV<br />sebagai uji penapisan dan konfirmasi<br /> dr. Adriyani amin/dr. Siswanto Darmadi SpPK(K)<br />1<br />
  2. 2. Pendahuluan <br />Human Immunodeficiency Virus (HIV)<br /> Acquired Immunodeficiency <br />Syndrome (AIDS)<br />Dibutuhkan diagnosis yang akurat<br />WHO ,2007,<br /> - 33,2 juta orang terinfeksi HIV,<br />- 2,5 juta orang baru terinfeksi<br /><ul><li> 2,1 juta orang meninggal karena AIDS</li></ul>Indonesia, Maret 2007,<br />HIV/AIDS: 14.628 orang. <br />2<br />(Steven ,C, 2010)<br />
  3. 3. HIV<br /><ul><li>Genus Lentivirinae virus
  4. 4. Family Retroviridae
  5. 5. Berbentuksferis
  6. 6. Diameter 100-120 nm.</li></ul>Gambar 1<br />StrukturHuman Immunodeficiency Virus (HIV)<br />3<br />(Steven ,C, 2010)<br />(Abbas, A.K, 2011)<br />
  7. 7. 1<br />2<br />3<br />4<br />Jumlah CD4<br />Deteksi antibodi<br />Deteksi antigen<br />Tes asam nukleat virus<br />Tes laboratorium untuk mendeteksi infeksi HIV<br />4<br />(Steven ,C, 2010)<br />
  8. 8. Tes <br />antibodi HIV<br />UjiKonfirmasi<br />membedakantrue positive denganfalse positive.<br />Contoh:<br />Western blot<br />RIBA<br />IFA<br />RIPA<br />Line immunoassay<br />UjiPenapisan<br />mendeteksisemuaorang yang terinfeksi HIV.<br />Contoh:<br />ELISA<br />Rapid test<br />5<br />(Steven ,C, 2010)<br />
  9. 9. Uji penapisan<br />ELISA<br />United States (1985) , <br />untukmenyaringdarah donor mengurangipenyebaraninfeksi.<br />Menjadidasarprosedurpenapisan HIV, karena :<br /><ul><li>mudahdilakukanpadajumlahsampel yang banyak,
  10. 10. sensitifitasdanspesifisitastinggi.</li></ul>6<br />(Steven ,C, 2010)<br />
  11. 11. 7<br />(Steven ,C, 2010)<br />
  12. 12. Virolisa anti HIV 1+2 <br /><ul><li>Direct sandwich enzyme immunoassay
  13. 13. Menggunakan antigen rekombinan HIV-1 dan HIV-2 untuk mendeteksiantibodi HIV-1 & HIV-2 dalam serum atau plasma
  14. 14. Antigen rDNA bereaksi dengan antibodi predominan HIV-1 dan HIV-2,
  15. 15. Serum/plasma ditambahkan pada sumuran, </li></ul> kompleks antigen HIV1/2 dan anti HIV1/2<br />8<br />
  16. 16. <ul><li>Setelah dicuci, sumuran ditambahkan konjugat antigen HIV -1/2 rDNA dan horseradish peroxidase (HRPO), kompleks (HIV -1/2).(anti HIV-1/2).(HIV -1/2.HRPO).
  17. 17. Setelah dicuci konjugat, ditambahkan TMB (3,3’,5,5’-tetramethylbenzidine) warna.
  18. 18. Absorben warna yang terbentuk merupakan kadar anti HIV 1 dan/atau HIV 2 yang terdapat dalam sampel.</li></ul>9<br />(Indec diagnostic)<br />
  19. 19. Prosedur pemeriksaan<br />10<br />Tambahkan 100 µl kontrol (2xNC, 2x anti-HIV 1 PC, 2x anti-HIV 2 PC) dan 100 µl spesimenkedalamsumuran. Siapkan 2 sumuranuntukblanko<br />Inkubasi plate pada suhu 37±10C selama 30 menit<br />Cuciplate<br />Tambahkan 100 µl konjugat antigen HIV ketiapsumuran, kecualiblanko<br />Inkubasi plate pada suhu 37±10C selama 30 menit<br />Plate dicuci<br />Tambahkan 50µl lar. Substrat TMB A ketiapsumuran, kmdnTambahkan 50µl lar. Substrat TMB B. campur<br />Campurlarutansubstrat TMB A & B 1:1.<br />Tambahkan 100µl lar. Yang sdhdicampurketiapsumuran<br />atau<br />Inkubasipadasuhu 20-300C selama 15 menit<br />Tambahkan 100µl 2N H2SO4 kedalamtiapsumuran<br />Tentukanabsorbenpadaλ 450/650 nm<br />(Indec Diagnostic)<br />
  20. 20. Interpretasi hasil<br />11<br />Sensitifitas 99,4%, 100%spesifisitas <br />(Indec Diagnostic)<br />
  21. 21. Rapid test (immunochromatographic)<br /> Kriteria Rapid HIV test yang disetujui FDA:<br />Sensitivitas ≥ 99%, <br />Spesifisitas ≥ 98%<br />Hasil yang tidak valid < 2% total bahan uji,<br />Memiliki indikator untuk memberikan tanda jumlah bahan uji sudah cukup atau alat penguji rusak,<br />12<br />
  22. 22. Bahan uji yang tidak perlu diproses lebih dahulu atau memerlukan proses minimal<br />Reagen siap pakai dan tidak memerlukan manipulasi lebih lanjut,<br />Tidak memerlukan intervensi operator dalam memberikan hasil dan analisis,<br />Tidak memerlukan alat tambahan khusus dalam penggunaannya.<br />13<br />(Kumalawati, Y. 2008)<br />
  23. 23. HIV-1/2 antibodi rapid test (4th generation) IR-100c <br /><ul><li>Metode immunochromatographic
  24. 24. Mendeteksi antibodi virus HIV tipe 1, tipe 2 dan subtipe O dalam darah utuh, serum, plasma.
  25. 25. Garis tes T1 dilapisi dengan antigen HIV-1 dan subtipe O,
  26. 26. Garis tes T2 dilapisi dengan antigen HIV-2. </li></ul>14<br />
  27. 27. <ul><li>Antigen pengikatnya adalah protein rekombinan </li></ul> dari HIV-1 pada region gp-120, gp-41, p24.<br /> Pada HIV-2 juga termasuk rekombinan gp36. <br /><ul><li>Adanya Ig A, Ig G, Ig M HIV-1/2 dapat terlihat dengan penambahan konjugat protein A.
  28. 28. Antibodi positif  terbentuknya garis merah keunguan pada membran (daerah T).
  29. 29. Garis kontrol terdapat di daerah C untuk menguji reaktifitas kit.</li></ul>15<br />(OncoprobeUtama)<br />
  30. 30. Prosedur:<br /><ul><li>Letakkan test card pada permukaan datar,
  31. 31. Teteskan 1 tetes serum/plasma (±25µl) ke lubang sampel (S),
  32. 32. Kemudian teteskan 1 tetes buffer (± 40µl) dan hidupkan timer,
  33. 33. Baca hasil 10-30 menit kemudian.</li></ul>16<br />(OncoprobeUtama)<br />
  34. 34. Interpretasi hasil<br />17<br />Sensitifitas 100%, spesifisitas 100%<br />(OncoprobeUtama)<br />
  35. 35. False negative: <br /><ul><li>Kadar antibodi yang rendah dibawah nilai yang dapat dideteksi oleh tes.
  36. 36. Infeksi virus tertentu yang kurang dapat terdeteksi oleh konfigurasi Oncoprobe HIV antibody rapid test,
  37. 37. Antibodi HIV yang diproduksi oleh tubuh pasien tidak bereaksi spesifik dengan antigen spesifik yang ada pada konfigurasi tes,
  38. 38. Kondisi penanganan sampel yang menyebabkan hilangnya aktifitas antibodi HIV. </li></ul>18<br />(OncoprobeUtama)<br />
  39. 39. Uji Konfiirmasi<br />Western blot (Immunoblot)<br /><ul><li>Tahun 1984, diperkenalkanuntukpemeriksaanantibodi HIV
  40. 40. Tahun 1985, untukkonfirmasiterhadaphasil ELISA positif.
  41. 41. Tehnikinimenuntutketerampilan
  42. 42. Bersifatlebihspesifik</li></ul>19<br />(Steven C, 2010)<br />
  43. 43. <ul><li>Carik nitroselulosa dilekatkan dengan protein antigen HIV-1 yang sudah dimurnikan dan peptida sintetis HIV-2 spesifik dengan cara electrophoretic blotting.
  44. 44. Antigen protein diperoleh dari virus HIV yang ditumbuhkan pada kultur sel.
  45. 45. Kemudian,strip tes direaksikan dengan serum pasien. </li></ul>20<br />(Steven C, 2010)<br />
  46. 46. <ul><li>Saat inkubasi, tiap antibodi HIV yang ada akan berikatan dengan antigen yang sesuai pada membran tes,
  47. 47. Antibodi yang tidak terikat dibuang dengan cara dicuci.
  48. 48. Tambahkan suatu antihuman immunoglobulin yang berlabel enzim (contohnya: konjugat) pada strip tes
  49. 49. Konjugat yang tidak terikat dicuci, </li></ul>21<br />(Steven C, 2010)<br />
  50. 50. <ul><li>Konjugat yang terikat dideteksi setelah penambahan substrat yang sesuai,  reaksi kromogen.
  51. 51. Pita berwarna muncul pada tempat dimana terdapat antigen-antibodi HIV spesifik. </li></ul>22<br />(Steven C, 2010)<br />
  52. 52. <ul><li>Pita yang terbentuk diperiksa secara visual nomer dan tipe antibodi yang muncul.
  53. 53. Densitometri mengkuantitasi intensitas pita </li></ul> (yang merefleksikan jumlah tiap antibodi yang dihasilkan). <br />23<br />(Steven C, 2010)<br />
  54. 54. Interpretasi hasil Western blot<br />24<br />(Steven C, 2010)<br />
  55. 55. 25<br />Western blot menunjukkangambaranhasilnegatif, indeterminate, danpositif<br />(Steven C, 2010)<br />
  56. 56. RIBA<br /><ul><li>RIBA merupakanujikonfirmasiuntukmengetahuiadanyaantibodi HIV dalamsampel yang dilakukanbilaujipenapisanmemberihasilpositif.
  57. 57. Dapatmendeteksireaktifitasantibodi HIV tipe 1 dan 2.
  58. 58. Sensitifitas : 99,7% danspesifisitas: 100%.</li></ul>26<br />(Orgenics)<br />
  59. 59. ImmunoComb®II HIV 1 &2 CombFirm<br /><ul><li>Indirect enzym immunoassay yang menggunakan fase solid (kartu dengan 12 tonjolan (tooth)
  60. 60. Tooth kiri : titik atasnya disensitisasi dengan human immunoglobulin (kontrol internal), dan dua petanda protein p24 (gag) dan p31(pol).
  61. 61. Tooth kanan: mempunyai tiga titik protein derivate env, yaitu: gp41, gp120 dan gp36. </li></ul>27<br />(Orgenics)<br />
  62. 62. 28<br />(Orgenics)<br />
  63. 63. 29<br />Step 1<br />HIV antigen — antibody<br />complex formation<br />30 minutes<br />antibody<br />Binding of anti-human IgG<br />Step 2<br />conjugate<br />AP<br />AP<br />20 minutes<br />AP<br />anti-human<br />IgG conjugate<br />Step 3<br />Enzymatic color<br />reaction<br />AP<br />10 minutes<br />AP<br />chromogenic<br />substrate<br />ReactionSteps<br />(Orgenics)<br />
  64. 64. 30<br />Prosedur<br />Masukkan 50 µl spesimen dan kontrol pada sumuran di baris A<br />(Orgenics)<br />
  65. 65. 31<br />Hasiltes<br />Validasi:<br />Harusmempunyai 3 syarat<br />(Orgenics)<br />
  66. 66. 32<br />Interpretasihasil<br />(Orgenics)<br />
  67. 67. <ul><li>IFA (indirect immunofluorescene assay)</li></ul>Prinsip:<br /><ul><li>Sel yang telahdiinfeksikandengan HIV dilekatkanpadakacaobjek,
  68. 68. Serum penderitadiinkubasidengannya,
  69. 69. Antibodi yang melekatdideteksidenganmenambahkanantiimunoglobulinmanusia yang bertandazatfluoresensi.
  70. 70. Fluoresensi yang tampakdenganmikroskopfluresensmenandakanadanya HIV.</li></ul>33<br />(Latu, J. 1989)<br />
  71. 71. <ul><li>Kelebihan: mampu mendeteksi antibodi dari beberapa antigen HIV
  72. 72. Kelemahan:
  73. 73. membutuhkan perawatan mikroskop flurosen yang baik
  74. 74. memberikan interpretasi yang subjektif.</li></ul>34<br />(Steven, C. 2010)<br />
  75. 75. <ul><li>RIPA (radioimmunoprecipitation assay)</li></ul>Prinsip:<br /><ul><li>Protein HIV bertandaradioaktifdiinkubasidengan serum penderita,
  76. 76. Selanjutnyadipresipitasidenganpenambahan anti immunoglobulin atau protein Staph-A.
  77. 77. Radioaktifitas yang tinggipadapresipitatmenandakanadanya anti HIV.</li></ul>Penggunaanpemeriksaaniniterbataspadalaboratoriumpenelitian yang dapatmempertahankan HIV dalamkultur sel.<br />35<br />(Latu, J. 1989)<br />(Steven, C. 2010)<br />
  78. 78. <ul><li>Line immunoassay
  79. 79. Metodeinimiripdengan Western blot,
  80. 80. Perbedaannya: protein HIV sintetisataurekombinan yang diletakkanpadates strip,
  81. 81. Elektroforesisnyaberasaldarikultur virus.
  82. 82. Pemeriksaaninilebihmudahdiinterpretasikarenamenghasilkan pita yang lebihsedikitdanhasil false positifrendah.</li></ul>36<br />(Steven, C. 2010)<br />
  83. 83. Selaincaratradisional (penapisan: ELISA/ konfirmasi : Western Blot), dapatjuga:<br />ELISA yang disertaipemeriksaan rapid test, atau<br />Diujidenganduametode ELISA yang berbeda, atau<br />Dua rapid test yang berbeda.<br />37<br />(Steven, C. 2010)<br />
  84. 84. 38<br />Terimakasih<br />
  85. 85. 39<br />www.themegallery.com<br />
  86. 86. 40<br />www.themegallery.com<br />Protein pada HIV-1 dan HIV-2<br />
  87. 87. 41<br />www.themegallery.com<br />Pemeriksaan Laboratorium <br />Tujuan :<br /> 1. untuk diagnosis individuterinfeksi<br /> HIV<br /> 2. pengamanandarahtransfusiatau<br />pencangkokan organ<br /> 3. untukkeperluansurveilans<br /> 4. pengobatan (ART).<br />
  88. 88. 42<br />www.themegallery.com<br />
  89. 89. 43<br />www.themegallery.com<br />
  90. 90. 44<br />www.themegallery.com<br />
  91. 91. 45<br />www.themegallery.com<br />
  92. 92. 46<br />www.themegallery.com<br />
  93. 93. 47<br />www.themegallery.com<br />
  94. 94. 48<br />www.themegallery.com<br />
  95. 95. 49<br />Lahir<br />9 bln<br />12 bln<br />18 bln<br />1 bln<br />2 bln<br />Mazami Enterprise© 2009<br />IgG AntiHIV ibu<br />Serologis<br />Serologis<br />Pemeriksaan status HIV anak<br />Pemeriksaan serologis anti HIV tidak dapat dipakai sebagai perasat diagnosis pada anak < 18 bulan, karena masih terdapat sisa IgG ibu yang ditransfer selama kehamilan<br />Bila Serologis Positif pada usia > 18 bulan, dianggap anak terinfeksi HIV<br />Modul 6, <br />Halaman 49<br />
  96. 96. 50<br />Pemeriksaan status HIV bayi<br />Uji diagnosis virus HIV<br />Pemeriksaan DNA HIV (PCR)<br />Pemeriksaan RNA HIV (PCR)<br />Biakan HIV (belum tersedia)<br />Pemeriksaan Antigen p24 (belum tersedia)<br />Uji diagnosis antibodi terhadap HIV <br />Pemeriksaan Ig G Anti HIV<br />Modul 6, <br />Halaman 50<br />Mazami Enterprise© 2009<br />
  97. 97. 51<br />Lahir<br />9 bln<br />12 bln<br />18 bln<br />1 bln<br />2 bln<br />6 bln<br />Mazami Enterprise© 2009<br />IgG AntiHIV ibu<br />Pemeriksaan bayi di RSCM<br />48 jam<br />14 hari<br />2 bln<br />4-6 mgg<br />4-6 bln<br />18 bln<br />Serologis<br />Virologis (PCR)<br />Prosedur diagnostik bayi dari ibu dengan HIV yang dianjurkan CDC, AS <br />Modifikasi yang menjadi Standar SMF Kesehatan Anak, RSCM <br />Sumber: RSCM, 2008<br />Modul 6, <br />Halaman 51<br />Mazami Enterprise© 2009<br />
  98. 98. 52<br />ASI dalam 6-12 minggu terakhir<br />ASI dalam 6-12 minggu terakhir<br />Uji Virologi HIV ke 1<br />Uji Virologi HIV ke 2<br />Periksa Gejala & Tanda HIV pada kunjungan berikutnya (follow up)<br />Uji serologi Antibodi HIV pada usia 9-12 bulan<br />Uji serologi Antibodi HIV pada usia > 18 bulan<br />Uji serologi Antibodi HIV ulang<br />HIV Negatif<br />Stop ASI > 6 minggu<br />HIV Positif<br />Proses penilaian tindak lanjut dan tatalaksana setelah konfirmasi diagnosis HIV<br />Panduan diagnosis bayi < 18 bulan<br />Sakit berat<br />Tanda & Gejala sesuai HIV<br />Paparan HIV tidak diketahui<br />Modul 6, <br />Halaman 52<br />Sumber: IDAI, 2008<br />Mazami Enterprise© 2009<br />
  99. 99. Perjalanan Penyakit HIV 1 (Schochetman, 1994)<br />53<br />
  100. 100. 54<br />HIV Confirmation Assays<br />
  101. 101. 55<br />www.themegallery.com<br />PERBEDAAN WB dan RIBA<br />
  102. 102. 56<br />www.themegallery.com<br />Western Blot<br />First Stage: Electrophoresis on Gel<br />Separation by<br />Molecular sieve :<br />Migration according <br />to the size<br />HIV Virus<br />
  103. 103. 57<br />www.themegallery.com<br />Western Blot<br />Electrophoretic migration<br />Each HIV components<br />moves from top to bottom until it stops at a specific<br />level<br />
  104. 104. 58<br />Western Blot<br />Second Stage:Electrical Transfer<br />The HIV components<br />are transferred onto<br />the surface of <br />a nitrocellulose sheet<br />Nitrocellulose sheet<br />Gel<br />
  105. 105. 59<br />Container<br />WB strip<br />WesternBlot<br />Third Stage:Strips are incubated with serum,second antibody, chromogen and washed<br />
  106. 106. 60<br />Western Blot<br />HIV Western blot bands<br />Genes<br />Gene products<br />gp 160<br />env<br />gp120<br />p 66<br />p 55<br />pol<br />p 51<br />gp 41<br />p 31<br />p 24<br />gag<br />p 17<br />
  107. 107. Recombigen latex agglutination test<br />Tes Recombingen HIV-1 Latex Agglutination (LA) dilisensi US Food and Drug Administration sebagai suatu pemeriksaan yang cepat untuk uji penapisan antibodi human immunodeficiency virus (HIV) tipe 1.7<br />Tes ini digunakan untuk tes penapisan oleh tenaga terlatih pada laboratorium rumah sakit, klinik medis, bank darah atau saat pemeriksaan enzim immunoassay dirasa tidak praktis atau tidak tersedia.8<br />Prinsip pemeriksaan berdasarkan aglutinasi latex.7<br />Kit tes Recombigen LA terdiri dari suspensi koloid yang mengandung bead latex yang dilapisi oleh envelop polipeptida gp41 dan gp120 rekombinan yang sudah dimurnikan, vial yang mengandung kontrol positif dan negatif, reagen prediluted dan dalam botol tetes plastik. Spesimen diencerkan langsung diatas kartu agglutinasi yang memiliki enam sumuran bulat dengan latarbelakang gelap. Kartu agglutinasi dan panduan interpretasi terdapat dalam kit juga.<br />61<br />
  108. 108. Prosedur:7<br />satu tetes(25µl) serum kontrol negatif dan serum kontrol positif yang belum diencerkan diletakkan pada sumuran yang berbeda dan disebarkan sampai pinggir sumuran menggunakan transfer loop,<br />satu tetes pelarut sampel, diletakkam pada empat sumuran lain, dan digunakan transfer loop yang berbeda untuk mengambil dan membawa masing-masing spesimen pasien ke sumuran, sehingga pengencerannya 1:10<br />spesimen dicampur dengan pelarut dan disebarkan keseluruh permukaan sumuran dengan menggunakan transfer loop,<br />selanjutnya satu tetes (±15µl) suspensi bead latex ditambahkan pada tiap sumuran sampel dan kontrol, dan kartu diputar dengan rotator orbital dengan kecepatan 30-60 rpm selama 3 menit pada suhu ruang,<br />penutup diletakkan diatas kartu pada saat pemutaran untuk mencegah pembekuan reagen,<br />bentukan agglutinasi langsung dibaca (dalam 30-60 detik) dengan memakai kaca pembesar dan lampu dengan intensitas tinggi,<br />spesimen dinyatakan positif bila membentuk reaksi aglutinasi yang terentang 1+sampai 4+., sedangkan aglutinasi kontrol positif terentang antara 1+ sampai 3+. Skala 0 sampai 4+<br />62<br />
  109. 109. Interpretasi hasil:7<br />Negatif : putih susu tanpa terlihat ada aglutinasi<br />1+ : ditandai dengan gumpalan sangat halus dalam latarbelakang putih susu<br />4+ : ditandai dengan gumpalan bead yang lebih besar tanpa latar belakang putih susu<br />63<br />
  110. 110. Sensitifitas tes rekombigen LA 99,4% dan spesifisitas 99,5%<br />Keunggulan: Cepat, perlengkapannya sedikit dan secara tehnis mudah dilakukan.<br />Kelemahan: penilaian bentukan aglutinasi sangat subjektif, sehingga dapat memberikan interpretasi hasil yang berbeda antar operator.<br />64<br />
  111. 111. 65<br />www.themegallery.com<br />
  112. 112. Anteroviral drugs:<br />1. Reverse trancriptase inhibitors – they inhibit the enzyme called reverse transcriptase which is needed to “copy” information for the virus to replicate. These drugs are:<br /> a. Zedovudine (ZDV) – Retirvir<br /> b. Zalcitabine – Havid<br /> c. Stavudine – Zerit<br /> d. Lamivudine – Epivir<br /> e. Nevirapine – Viramune<br /> f. Didanosine – Videx<br />2. Protease inhibitors. They work by inhibiting the enzyme protease which are needed for the assembly of viral particles. These drugs are:<br /> a. Saquinavir – Invarase<br /> b. Ritonavir – Norvir<br /> c. Indinavir – Crixivan<br />66<br />
  113. 113. Minor Signs: <br />Persistent Cough for one month<br />Generalized pruritic dermatitis<br />Recurrent herpes zoster<br />Oropharyngeal candidiasis<br />Chronic disseminated herpes simplex<br />Generalized lymphadenopathy<br />Major Signs: <br />Loss of weight – 10 percent of body weight<br />Chronic diarrhea for more than one month<br />Prolonged fever for one month<br />67<br />
  114. 114. Common Opportunistic Infections <br />Pneumocystis carinii pneumonia<br />Oral candidiasis<br />Toxoplasmosis of the CNS<br />Chronic diarrhea/wasting syndrome<br />Pulmonary/extra-pulmonary tuberculosis<br />Cancers <br />Kaposi’s sarcoma – affects small blood vessels and internal organs<br />Cervical dysplasia and cancer. Researchers found out that women with HIV have higher rates of this type of cancer. Cervial carcinoma is associated with Human Papilloma Virus (HPV).<br />Non-Hodgkin’s lymphoma – cancerous tumor of the lymph nodes. This is usually a late manifestation of HIV infection.<br />68<br />
  115. 115. IFA<br />Cell smear preparation on 12 well Teflon coated slides<br />Fixation of the smear in cold acetone<br />Reaction with specimens<br />Washing three times with PBS<br />Reaction with FITC-conjugated anti-human<br />immunoglobulin G (Ig G)<br />Washing three times with PBS<br />Mounting with glyceral<br />Observation under fluorescent microscope<br />69<br />
  116. 116. 70<br />

×