Rkk23

3,015 views

Published on

1 Comment
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
3,015
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
1
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Rkk23

  1. 1. Faizah Yunianti, dr<br />Dr. Sidarti Soehita SFHS, MS, dr, Sp.PK(K)<br />9 April 2010<br />1<br />TinjauanPustaka PARAMETER PENENTU RESISTENSI INSULIN<br />
  2. 2. I. PENDAHULUAN<br />9 April 2010<br />2<br />Resistensi insulin :<br />suatu keadaan terganggunya respon biologis terhadap insulin  penurunansensitivitas insulin. <br />Sensitivitas insulin :<br />efektivitas insulin untuk menurunkan glukosa darah dengan cara :<br /> - memacu uptake glukosa pada otot dan sel lemak,<br /> - meningkatkan simpanan glikogen hepar, serta<br /> - mengurangi produksi glukosa hepatik. <br />
  3. 3. 9 April 2010<br />3<br />Penurunan yang bermakna dari sensitivitas insulin <br />resistensi insulin <br />respon sel terhadap pengaruh insulin kurang <br />dibutuhkan kadar insulin lebih besar agar tercapai euglycemic dengan pemberian beban glukosa<br />
  4. 4. Sindroma metabolik atau sindrom X resistensi insulin<br />www.themegallery.com<br />4<br />National Cholesterol Education Program (NCEP),<br />sedikitnya 3 dari kriteria berikut ini : <br /><ul><li> GDP ≥ 110 mg/dL,
  5. 5. obesitas abdomen (lingkar perut: ♂ 102 cm,♀ 88 cm)
  6. 6. TG serum ≥ 150 mg/dL,
  7. 7. HDL serum ♂ < 40 mg/dL dan ♀ < 50 mg/dL,
  8. 8. TD ≥ 130/85 mmHg</li></ul>American association of Clinical Endocrinologists (AACE) :<br /><ul><li> BMI ≥ 25,
  9. 9. TG ≥ 150 mg/dL,
  10. 10. HDL : ♂ < 40 mg/dL , ♀ < 50 mg/dL,
  11. 11. TD ≥ 130/85 mmHg,
  12. 12. glukosa 2 jam setelah pemberian glukosa 75 gram ≥ 140 mg/dL,
  13. 13. glukosa puasa 110-126mg/dL </li></li></ul><li>Faktor risiko resistensi insulin :<br />9 April 2010<br />5<br /><ul><li> riwayat keluarga DM tipe 2 (+),
  14. 14. hipertensi,
  15. 15. penyakit jantung koroner,
  16. 16. polycystic ovary syndrome (PCOS),
  17. 17. aktivitas fisik yang kurang,
  18. 18. usia lanjut,
  19. 19. etnis tertentu yg berisiko tinggi DM tipe 2 &</li></ul> penyakit jantung koroner <br />
  20. 20. Beberapa metode untuk menentukan resistensi insulin<br />www.themegallery.com<br />6<br /><ul><li>kadar insulin plasma puasa
  21. 21. homeostasis model assessment (HOMA)
  22. 22. tes toleransi insulin,
  23. 23. tes supresi insulin,
  24. 24. metode glukosa plasma steady state,
  25. 25. euglycemic hyperinsulinemic clamp,
  26. 26. tehnik model minimal & frequently sampled intravenous </li></ul> glucose tolerance test (FSIVGTT/FISGT),<br /><ul><li> perhitungan indeks sensitivitas menggunakan insulin & </li></ul> glukosa setelah pemberian beban glukosa oral <br />Euglycemic-hyperinsulinemic clamp<br /><ul><li> baku emas : resistensi insulin
  27. 27. akurat, tetapi kompleks,tidak praktis,sangat mahal & tidak </li></ul> cocok untuk penelitian epidemiologis. <br />
  28. 28. 9 April 2010<br />7<br />Mattews dkk:<br /><ul><li> HOMA IR mempunyai korelasi kuat dgn indeks </li></ul> resistensi insulin yg ditentukan dgn<br />euglycemic hyperinsulinemic clamp (clamp IR).<br />Anderson dkk :<br /><ul><li> HOMA tidak menunjukkan korelasi yg signifikan & </li></ul> konsisten dgn Clamp IR pd DM tipe 2. <br />Dalam tinjauan pustaka ini akan dibahas tentang resistensi insulin dan beberapa parameter yang digunakan untuk menentukan resistensi insulin<br />
  29. 29. II. MEKANISME KERJA INSULIN<br />9 April 2010<br />8<br /><ul><li> Insulin dihasilkan </li></ul> oleh sel β pankreas. <br /><ul><li> Preproinsulin </li></ul> berasal dari <br /> retikulum <br /> endoplasma &<br /> dipecah oleh enzim <br /> mikrosomal  <br /> proinsulin<br /><ul><li>Proinsulin disimpan </li></ul> dlm granula <br /> sekretori,<br /><ul><li> selanjutnya dipecah </li></ul> oleh enzim <br /> insulin & C-peptide<br /> yg ekuimolar<br /><ul><li> Meskipun tidak </li></ul> diketahui fungsi <br /> fisiologis C-peptide¸ <br /><ul><li> seperti proinsulin </li></ul> pengukurannya <br /> dlm plasma <br /> digunakan sebagai <br /> petanda sekresi <br /> insulin endogen<br />
  30. 30. 9 April 2010<br />9<br /><ul><li> Kerja insulin dimulai dgn terikatnya insulin pd reseptor di permukaan membran sel target.
  31. 31. Beberapa sel tubuh : permukaan sel yg spesifik sebagai reseptor insulin.
  32. 32. Pada lemak, hepar, otot, terikatnya insulin pd reseptor berhubungan dgn respon biologi dari jaringan terhadap hormon.
  33. 33. Terikatnya insulin pd reseptor terjadi sangat cepat dgn spesifisitas & afinitas yg tinggi </li></ul>Kerja insulin yang utama adalah pengambilan (uptake) glukosa yang cepat pada otot dan sel lemak<br />Kerja tambahan insulin menurunkan glukosa dalam hepar.<br />
  34. 34. 9 April 2010<br />10<br />- Glukosa  sel β dgn bantuan <br /> transporter GLUT 2,<br /> - diikuti fosforilase glukosa oleh <br /> enzim glukokinase  Glukosa 6<br />fosfat<br />- Glukosa 6 fosfat :<br /> dimetabolisis melalui jalur <br /> glikolisis & siklus Krebs <br />meningkatkanATP sel β<br /> - Peningkatan rasio ATP/ADP <br /> intraseluler merupakan signal utk <br />menutup membrane potassium <br /> channel depolarisasi potensial<br /> membran sel <br /> - Depolarisasi sel β:<br />calcium channel yg tergantung <br /> voltage membuka kalsium <br /> masuk ke dlm sel eksositosis <br /> dari granula sekretori & <br /> pelepasan insulin.<br /> - Ketika insulin dilepaskan & <br /> mencapai sel target <br /> berikatan dgn reseptor <br /> glikoprotein spesifik pada <br /> membran sel.<br /> - Pd otot & sel lemak, terikatnya<br /> insulin pada reseptor distimulasi <br /> oleh mobilisasi transporter <br /> glukosa yaitu GLUT 4. <br />
  35. 35. 9 April 2010<br />11<br />Gambar 1. Kerja Insulin pada keadaan postprandial<br />
  36. 36. III. PATOGENESIS RESISTENSI INSULIN DAN DIABETES TIPE 2<br />9 April 2010<br />12<br />Pd DM tipe 2 :<br /><ul><li> sel β pankreas </li></ul> tidak dpt <br /> mengkompensasi <br /> kebutuhan insulin<br /> yg meningkat<br />gagal untuk <br /> memproduksi <br /> insulin yg cukup <br /> utk meningkatkan <br /> uptake glukosa yg <br /> adekuat ke dlm sel.<br />hiperglikemia yang <br /> berlangsung lama<br />
  37. 37. 9 April 2010<br />13<br />Gambar.2 Penyebab timbulnya diabetes melitus tipe 2 (Courtney, 2005)<br /> Keterangan : IGT : Impaired Glucose Tolerance<br /> T2DM : Tipe 2 Diabetes Melitus<br /> HGO : Hepatic Glucose Uptake<br />
  38. 38. IV. PENYEBAB RESISTENSI INSULINTabel 1. Penyebab Resistensi Insulin<br />www.themegallery.com<br />14<br />
  39. 39. V. PARAMETER PENENTU RESISTENSI INSULIN<br />9 April 2010<br />15<br />1. Euglycemic Hyperinsulinemic Clamp<br /> 2. Analisis Minimal Model Frequently Sampled <br /> Intravenous Glucose Tolerance Test (FISGT)<br />3. Tes Toleransi Glukosa Oral(TTGO)<br /> 4. Homeostatic Model Assessment (HOMA)<br />5. Quantitative Insulin Sensitivity Check Index (QUICKI)<br />6. Metode Lainnya<br />
  40. 40. 1. Euglycemic Hyperinsulinemic Clamp<br />9 April 2010<br />16<br />Prinsip Pemeriksaan :<br /><ul><li> kuantitatif : - sensitivitas sel β terhadap glukosa &</li></ul> - sensitivitas insulin pd jar. Tubuh<br /> (otot, lemak & hepar).<br />Cara Kerja :<br /><ul><li> pagi hari, sesudah puasa 12 jam.
  41. 41. dipasang 2 jalur intravena :</li></ul> 1. pd vena antecubital (infus glukosa & insulin). <br /> 2. di vena tangan retrograde, lengan bawah ditempatkan pd penghangat<br /> tujuan : membuka anastomosis intravena yg kapilarisasinya<br /> buruk, agar dapat memasukan kateter pd arah<br />retrograde & mengambil darah vena<br /> Jalur ini : mengambil sampel (glukosa). <br />
  42. 42. 9 April 2010<br />17<br />Tujuan : <br /><ul><li> kadar insulin plasma yg stabil ± 100 μU/ml, </li></ul> (lebih tinggi dari kadar insulin basal, sampai <br /> mencapai kadar postprandial yang stabil<br /> untuk waktu 2-4 jam)<br />regular insulin dalam NaCl isotonis + 2 ml<br /> darah subyek atau 5 ml albumin 25%<br /> (mencegah absorpsi insulin oleh kantong <br /> i.v plastik) <br />Infus <br />Insulin<br />De Fronzo, Tobin & Andres (1979)<br /><ul><li> infus awal (insulin) dapat disesuaikan dgn</li></ul> menaikan atau menurunkan infusnya<br /> (mencapai kadar insulin yg diinginkan)<br />
  43. 43. 9 April 2010<br />18<br />Mempertahankan agar seseorang<br /> tetap euglicemic (90 ± 2 mg/dL) <br />Jumlah : tergantung sensitivitas<br /> insulin seseorang<br />Infus <br />Glukosa<br />mengontrol kecepatan infus :<br /><ul><li> manual (pengalaman operator)- gambar 3</li></li></ul><li>9 April 2010<br />19<br /> (Gd – Gi) x 10 (0,19 x Berat badan dalam Kg)<br />Si = x PF + [(SMi-2) x Gb/Gi) x FMi-1]<br /> Ginf x 15<br />Keterangan :<br />Si : kadar glukosa pada berbagai waktu tertentu i<br />Gd : Kadar glukosa yang diinginkan<br />Gi : Kadar glukosa pada berbagai waktu yang diinginkan<br />Ginf : glukosa yang diberikan melalui infus (mg/ml)<br />PF : Infusion Pump Factor<br />Gb : Kadar glukosa basal<br />FMi : Faktor koreksi kompensasi dari deviasi (pengukuran) kadar glukosa plasma dari <br /> kadar glukosa yang diharapkan <br />Catatan :<br />FMi : Untuk inisial 10 menit kadar glukosa plasma diperkirakan 1,00, setelah waktu dihitung dengan menggunakan FMi-1<br />Gambar 3. Formula infus glukosa untuk tes euglycemic clamp<br />
  44. 44. 9 April 2010<br />20<br /><ul><li>Kadar glukosa : ditentukan setiap 5 – 15 menit
  45. 45. Kadar insulin ditentukan setiap 30-60 menit
  46. 46. Hasil tes kemudian dianalisis dengan menghitung nilai M untuk tiap interval 20 menit
  47. 47. Nilai M menunjukkan jumlah metabolisis glukosa dan nilai dilaporkan mg/(kg x menit)</li></li></ul><li>9 April 2010<br />21<br />Untuk menentukan sensitivitas insulin dihitung rasio M/I,<br />I adalah respon insulin plasma. <br />Rasio M/I :<br /> perhitungan metabolisme glukosa per unit secara kuantitatif dari kadar insulin dan indeks dianggap sebagai sensitivitas jaringan terhadap insulin.<br />
  48. 48. 9 April 2010<br />22<br />M dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :<br /> M = INF – UC - SC<br />Keterangan :<br /> INF : kecepatan infus glukosa<br /> UC : perkiraan jumlah glukosa yang hilang lewat <br /> urin<br /> SC : koreksi distribusi glukosa<br />
  49. 49. www.themegallery.com<br />23<br />Kesimpulan :<br /> - relatif sensitif insulin : <br /> dibutuhkan infus glukosa dalam jumlah besar <br /> ( 6-12 mg/kgBB/menit) agar jumlah insulin yang <br /> diberikan dapat menjaga glukosa darah <br /> seseorang tetap dalam keadaaan euglycemic.<br /> - relatif resistensi insulin : <br /> glukosa yang dibutuhkan lebih sedikit, agar <br /> mencapai euglycemic.<br />
  50. 50. Keterbatasan euglycemic hyperinsulinemic clamp :<br />9 April 2010<br />24<br />Cara kerjanya rumit,<br />Tehniknya sulit,<br />Mahal,<br />Sensitivitas insulin diukur hanya dalam keadaan steady state<br />Secara realistis tidak menggambarkan kondisi dinamis (setelah makan)<br />
  51. 51. 2. Analisis Minimal Model Frequently Sampled Intravenous Glucose Tolerance Test (FSIGT)<br />9 April 2010<br />25<br />mengamati nilai glukosa & insulin yg didapat dari FISGT indeks sensitivitas insulin (Si)<br />Nilai Si dari model minimal menunjukkan jumlah glukosa yg hilang per unit insulin per waktu, hasil : menit-1/µU/mL<br />nilai mean Si untuk yang nondiabetes : <br />5.1 x 10-4 menit-1/µU/mL <br />(rentang nilai : 1.8 – 9.6 x 10-4 menit-1/µU/mL) <br />
  52. 52. Persiapan pasien FSIGT: <br />www.themegallery.com<br />26<br />Sebelum tes dimulai :<br /><ul><li> Puasa 10-12 jam
  53. 53. Terapi insulin dihentikan
  54. 54. Dipasang 2 jalur intravena :</li></ul> 1 untuk sampel darah, <br /> 1 untuk infus glukosa atau glukosa dan insulin <br />Sampel awal (baseline) :<br /><ul><li> diambil sebelum infus dipasang, waktu = 0,
  55. 55. jenis infus : dekstrosa 50% selama 1-2 menit,</li></ul> dosis 300 mg/kgBB.<br />Injeksi insulin intravena :<br /><ul><li> pada menit ke 20, selama 30 detik
  56. 56. dosis 0.02 - 0.03 U/kgBB, </li></li></ul><li>Tabel 2. Lembar kerja untuk pengambilan darah untuk FSIGT<br />www.themegallery.com<br />27<br />
  57. 57. Keterbatasan FSIGT<br />9 April 2010<br />28<br />tehnik tidak sederhana dan mahal<br />terbatas utk penelitian epidemiologi yg besar.<br />Sulit dilakukan pd penderita yg <br />sensitivitas insulinnya jelas menurun<br />
  58. 58. 3. Tes Toleransi Glukosa Oral(TTGO)<br />9 April 2010<br />29<br />seseorang yg tidak hamil, kadar glukosa plasma, 2 jam setelah pemberian glukosa 75 g :<br /><ul><li> ≥200 mg/dL  diabetes
  59. 59. 140 – 199 mg/dL toleransi glukosa terganggu</li></ul>wanita hamil (masa gestasi 24 – 28 mgg) :<br /><ul><li> glukosa 50 g untuk skrining :</li></ul> < 140 mg/dL pd 1 jam setelah pemberian glukosa  Normal<br /> ≥ 140 mg/dL  glukosa 100 g  TTGO 3 jam untuk diagnosis<br />
  60. 60. 9 April 2010<br />30<br />Cara Kerja :<br /><ul><li>TTGO 3 jam
  61. 61. puasa semalam ( 8-14 jam)
  62. 62. Diet selama 3 hari sebelumnya : KH ≥150 g/hari.
  63. 63. Selama TTGO pasien duduk & tidak boleh merokok.</li></ul>Nilai normal TTGO : <br />Puasa : < 95 mg/dL<br />1 jam : < 180 mg/dL<br />2 jam : < 155 mg/dL<br />3 jam : < 140 mg/dL<br />Diabetes Gestasional :<br />Bila mencapai atau melebihi 2 nilai di atas <br />(American Diabetes Association/ADA)<br />
  64. 64. Keterbatasan TTGO<br />www.themegallery.com<br />31<br /><ul><li> Variasi pengosongan lambung & absorpsi glukosa dari saluran gastrointestinal  reproduksibilitasnya jelek pada pasien yg sama.
  65. 65. tidak memberikan informasi yg adekuat mengenai dinamika kerja </li></ul> glukosa & insulin. <br /><ul><li> pengukuran toleransi glukosa yg relatif kasar, tidak mengukur </li></ul> komponen dari sensitivitas & sekresi insulin. <br />Mengatasi keterbatasan :<br /><ul><li> dibuat indeks dari data TTGO .
  66. 66. Matsuda dan De Fronzo (1999 ):</li></ul> - glukosa 75 g setelah 10-12 jam puasa semalaman. <br /> - diambil sampel darah pada menit : <br /> – 30, -15, 0, 30,60,90 & 120 setelah beban glukosa  menentukan glukosa <br /> plasma & kadar insulin. <br /><ul><li> Hasilnya :dibuat persamaan utk menentukan indeks sensitivitas insulin tubuh, </li></li></ul><li>9 April 2010<br />32<br />Indeks sensitivitas insulin tubuh<br />100.000<br /> (FPG X FPI) x (Mean kadar glukosa TTGO x mean kadar insulin TTGO)<br />Keterangan :<br />100.000 : konstanta <br /> FPG : fasting plasma glucose (mg/dL)<br /> FPI : fasting plasma insulin (μU/mL)<br /> Diperoleh r = 0.73 antara formula di atas dengan euglycemic hyperinsulinemic <br /> clamp.<br />
  67. 67. 4. Homeostasis Model Assessment (HOMA)<br />www.themegallery.com<br />33<br />Rumus HOMA : (Go x Io)/ 22,5<br /> <br /> Rumus HOMA R : glukosa puasa x insulin puasa/405<br />Keterangan :<br />Go adalah kadar glukosa plasma puasa (mmol/L), <br />Io kadar insulin plasma puasa (mU/L) dan,<br /> 22,5 adalah suatu konstanta. <br />Glukosa diukur dalam mg/dL, konversi dari mmol/L ke mg/dL menggunakan faktor 18 sehingga 405 merupakan denominator dari persamaan ini.<br />
  68. 68. 9 April 2010<br />34<br />Pengambilan Sampel <br /><ul><li> sekresi insulin fluktuatif  digunakan nilai rata-rata dari 3 sampel </li></ul> yg diambil dengan interval 5 menit, hal ini lebih baik dari <br /> sampel tunggal <br /><ul><li> Walaupun pd prakteknya sering dilakukan dgn sampel tunggal. </li></ul>Penggunaan HOMA :<br /><ul><li> Hampir 75% digunakan utk menentukan resistensi insulin salah </li></ul> satunya utk penelitian epidemiologi & genetik.<br /><ul><li> HOMA utk penentuan resistensi insulin (IR) 20 kali lebih sering </li></ul> digunakan dibanding utk perkiraan fungsi sel β (%B). <br />
  69. 69. Tabel 3. Hubungan antara HOMA dengan metode yang lain<br />www.themegallery.com<br />35<br />
  70. 70. Tabel 4. Beberapa contoh penggunaan HOMA<br />9 April 2010<br />36<br />
  71. 71. 5. Quantitative Insulin Sensitivity Check Index (QUICKI)<br />9 April 2010<br />37<br />Relatif lebih mudah untuk memperkirakan sensitivitas insulin. QUICKI dihitung menggunakan rumus sebagai berikut <br /> QUICKI : 1/log Io + log Go<br />Keterangan :<br />Io : kadar insulin plasma puasa (μU/mL) <br />Go : kadar glukosa plasma puasa (mg/dL).<br />
  72. 72. 9 april 2010<br />38<br />Nilai mean QUICKI :<br />Tidak obesitas : 0,382 ± 0,007<br />Obesitas : 0,331 ± 0,010<br />Diabetes : 0,304 ± 0,007<br />Resistensi insulin : ≤ 0,33 <br />
  73. 73. 9 April 2010<br />39<br />Kelebihan QUICKI dan HOMA :<br />tidak mahal dibanding euglycemic hyperinsuliemic clamp dan FSIGT. <br />Lebih praktis utk digunakan pd penelitian epidemiologis skala besar atau utk klinis. <br />Keterbatasan kedua metode ini : <br />tidak bisa memberikan informasi tentang stimulasi glukosa & insulin. <br />Informasi yg diberikan hanya mengenai mekanisme homeostasis pd keadaan puasa & pengaruh respon insulin yg lebih besar pd produksi glukosa hepar <br />
  74. 74. 6. Metode Lainnya<br />9 April 2010<br />40<br />Indeks Mc Auley <br />berdasarkan kadar insulin plasma puasa dan trigliserida puasa   <br /> Indeks Mc Auley : [ 2,63 – 0,28(insulin)- 0,31(trigliserida)]<br />Keterangan :<br />Insulin plasma puasa ( μU/mL), <br />Trigliserida puasa (mmol/L) <br />Resistensi insulin :≤ 5,8 <br />
  75. 75. Tabel 5.Perbandingan berbagai metode yang digunakan untuk menilai resistensi insulin. <br />9 April 2010<br />41<br />
  76. 76. RINGKASAN<br />www.themegallery.com<br />42<br />Resistensi insulin :<br />terganggunya respon biologis terhadap insulin  penurunan sensitivitas insulin. <br />Sensitivitas insulin :<br />efektivitas insulin utk menurunkan glukosa darah dgn cara memacu uptake glukosa pd otot dan sel lemak, meningkatkan simpanan glikogen hepar serta mengurangi produksi glukosa hepatik.<br />Beberapa metode utk resistensi insulin :<br /><ul><li>Euglycemic-hyperinsulinemic clamp  baku emas
  77. 77. Homeostatic model assessment (HOMA) </li></ul>  indeks matematis yg relatif sederhana <br />
  78. 78. Terima Kasih<br />
  79. 79. Prinsip Dasar Radioimmunoassay (RIA):<br />www.themegallery.com<br />44<br />Reaksi antara antibodi dlm kosentrasi terbatas dgn berbagai konsentrasi antigen<br />Bagian dari antigen yg bebas dan yg terikat yg timbul sebagai akibat dari penggunaan antibodi (dlm kadar terbatas) ditentukan dgn menggunakan antigen yg diberi radiolabel <br />Bahan yg mengandung antigen yg akan ditentukan dicampur dg antibodi spesifik (yg diketahui kadarnya dlm jumlah terbatas) terhadap antigen tersebut dan sejumlah tertentu dari antigen yg sama tetapi diberi radiolabel sehingga terjadi kompetisi antara antigen yg akan ditentukan kadarnya dan antigen yg diberi radiolabel dlm mengikat antibodi spesifik tersebut sampai terjadi keseimbangan.<br />Sisa antigen antigen yg diberi label dan tidak terikat pada antibodi dipisahkan dari campuran jumlah antigen berlabel yang terikat pd antibodi dapat ditentukan dengan suatu radiocounter atau gamma counter<br />
  80. 80. www.themegallery.com<br />45<br />
  81. 81. Immunoradiometric Assay (IRMA)<br />www.themegallery.com<br />46<br />Antibodi dilabel radioaktif<br />Pemisahan antara antibodi yg bebas dgn yg terikat dilakukan dgn cara fase padat<br />Jumlah antigen ditentukan dg antibodi berlabel yg terikat, makin besar kadar antigen dlm sampel, makin besar pula jumlah antibodi berlabel yg terikat <br />
  82. 82. IRMA yg menggunakan antigen pada fase padat<br />www.themegallery.com<br />47<br />
  83. 83. IRMA Dua Sisi (two sie IRMA)<br />www.themegallery.com<br />48<br />
  84. 84. ELISA Kompetitif<br />www.themegallery.com<br />49<br />Prinsip Dasar :<br />Antigen yg diberi label dicampur dg bahan pemeriksaan yg juga mengandung antigen yg sama dan akan ditentukan sehingga terjadi kompetisi dlm mengikat antibodi spesifik (yg terbatas) yg terikat pada fase padat <br />Antigen yg terikat kemudian dipisahkan dari yg bebas (dg pencucian) dan aktivitas enzimnya ditentukan dg penambahan substrat<br />
  85. 85. ELISA Kompetitif<br />www.themegallery.com<br />50<br />Kadar antigen dlm sampel ditentukan dgn menggunakan suatu kurva baku yg didapatkan dari sera baku yg mengandung berbagai kosentrasi antigen yg telah diketahui<br />Prinsip dasarnya sama dg RIA kompetitif, hanya pada ELISA ada tambahan satu tahap yaitu pemberian substrat<br />Aktivitas dari enzim yg terikat berbanding terbalik dgn kadar antigen yg terdapat dlm bahan pemeriksaan. <br />
  86. 86. ELISA Titrasi<br />www.themegallery.com<br />51<br />Prinsip Dasar :<br />Sama dgn ELISA kompetitif<br />Penambahan antigen yg berlabel dan antigen yg akan ditentukan (tidak berlabel) tidak dilakukan bersamaan <br />Antigen yg akan ditentukan ditambahkan dulu pd antibodi spesifik (berlebihan) yg terikat pd fase padat<br />Setelah inkubasi, bagian yg tak terikat dibuang dan dicuci lalu ditambahkan sejumlah tertentu antigen yg berlabel, tahap selanjutnya sama dg ELISA Titrasi.<br />
  87. 87. ELISA Titrasi<br />www.themegallery.com<br />52<br />
  88. 88. MetodeHeksokinase<br />www.themegallery.com<br />53<br />Prinsip :<br />Glukosa + ATP --------------> Glukosa 6-Fosfat + ADP<br />Glukosa 6-Fosfat + NAD --------------> 6 Fosfoglukonat + NADH<br />Heksokinase<br />G-6-PD<br />Diukur dengan fotometer<br />
  89. 89. MetodeGlukosaoksidase<br />www.themegallery.com<br />54<br />Prinsip :<br />β-D-Glukosa + 2H2O + O2 ------------> asam glukonat + 2H2O2<br />O-Dianisidine + H2O2 -------------> Oxidized-o- dianisidine +H2O<br />(kromogen) (kompleks warna)<br />Glukosa oksidase<br />Peroksidase<br />Diukur absorbannya<br />
  90. 90. www.themegallery.com<br />55<br />
  91. 91. Sensitivitas dan spesivisitas insulin puasa sebagai metode diagnostik insulin pada Mc Auley, HOMA dan QUICKI<br />www.themegallery.com<br />56<br />Correlation coefficient Fasting Insulin dgn HOMA, QUICKI, Mc Auley :<br /> Mc A : CI 95%, r= 0,85, p = < 0,01<br />HOMA : CI 95%, r= 0,91, p = < 0,01<br />QUICKI : CI 95%, r= 0,82, p = < 0,01<br />
  92. 92. www.themegallery.com<br />57<br /> = <br />mg/dL x 10<br />mmol/L<br />BM<br /> mEq = mmol/L x Valensi <br />mg/dL x 10<br />mEq = <br /> x Valensi<br />BM<br />
  93. 93. 58<br />METODE PEMERIKSAAN TRIGLISERIDA<br />METODE RUJUKAN <br />METODE KOLORIMETRI<br />METODE ENZIMATIK<br />METODE ENZIMATIK<br />GLYCEROL BLANK<br />
  94. 94. 59<br />METODE RUJUKAN<br /> PRINSIP REAKSI<br /> 1. Lipid serum di ekstraksi dengan klorofrom tambah silicic acid<br /> menghilangkan fosfolipid dan gliserol bebas<br /> 2. Aliquot hasil ekstraksi disafonikasi untuk melepaskan gliserol.<br />3. Gliserol dioksidasi dengan sodium periodate menghasilkan formaldehid.<br />4. Formaldehid direaksikan dengan chromotropic acid dan menghasilkan suatu bahan kromogen<br />5. dibaca absorbansnya pada panjang gelombang 570 nm<br />
  95. 95. 60<br />METODE KOLORIMETRI<br />PRINSIP REAKSI <br />I. Ekstraksi<br />Serum + isopropanol Ekstrak trigliserida<br />II. Safonikasi<br />Trigliserida + sodium methylate gliserol + asam lemak<br />III. Pembentukan warna<br />Gliserol + sodium periodate formaldehid<br />Formaldehid + asetilaseton + NH4 diasetyl dihydrotuluidine<br />Baca absorban pada λ 420 nm<br />
  96. 96. 61<br />REAGEN<br />Heptane<br />Isopropanol<br />Asam sulfat<br />Reagen periodate<br />Reagen asetilaseton . <br />Trigliserida standar (200 mg/dL)<br />
  97. 97. 62<br />CARA PEMERIKSAAN <br />Langkah I Langkah II Langkah III<br />Ekstraksi Safonikasi Pembentukan warna<br />10 menit ambil supernatan<br />Sodium methylat 3 ml<br />tes<br />standar<br />blanko<br />vortex mixer inkubasi 60 C 10 menit -> dinginkan<br />Reagen periodate 0,1 ml kocok Reagen asetilaseton 0, 1 ml kocok<br />isopropanol<br />3 ml<br />3,5ml<br />TG standar<br />3,5ml<br />As.sulfat<br />1 ml<br />1 ml<br />1 ml<br />heptan<br />2 ml<br />2 ml<br />2 ml<br />serum<br />0,5 ml<br />0,5 ml<br />0,5 ml<br />aquades<br />Vortex mixer 30 detik<br />Inkubasi 60 C 10”Dingin suhu kamar<br />kalkulasi<br />Sentrifus, ambil supernatan<br />Baca absorban pada <br />ketiga superrnatan <br />pada λ 420 nm<br />
  98. 98. 63<br />KALKULASI<br />Serum trigliserida = -------- x kadar trigliserida standar<br /> (200 mg/dl)<br />Serum trigliserida (mmol/L) = 0,0113 x mg/dl<br />Kelemahan :<br /> metode ini hasilnya masih dipengaruhi oleh adanya gliserol yang berasal dari fosfolipid sehingga pada pemeriksaan hasilnya akan lebih tinggi<br />Abs. Tes<br />Abs. Std<br />
  99. 99. 64<br />METODE ENZIMATIK<br />Trigliserida + 3 H2O<br />Lipoprotein lipase<br />Gliserol + asam lemak<br />ATP<br />piruvat kinase<br />gliserol kinase<br />ATP + Piruvat <br />gliserol-3-fosfat<br />ADP + fosfoenol <br />Gliserol -3-fosfat<br />NADH + H+ <br />O2<br />NAD <br />Gliseril-3-fosfat <br />dehidrogenase<br />Laktat dehidrogenase<br />Gliseril-3-fosfat <br />oksidase<br />NAD <br />NADH + Tetrazolium<br />H2O2 + 4-aminoamtipirin + Phenol <br />A.1 NADH di baca dengan spektrofotometer λ 340 nm<br />Laktat<br />Dihidroksiaseton fosfat<br />dihidroksiaseton<br />diaporase<br />peroksidase<br />B.Penurunan NADH di baca dengan spektrofotometer λ 340 nm<br />Quinomemonoimine dye + 2 H2O<br />Kompleks warna + NAD+<br />C.Komplek warna di baca dg fotometer λ 500 nm<br />A.2 Kompleks warna di baca pada λ 500 nm<br />
  100. 100. 65<br />METODE ENZIMATIK DGN GLYCEROL BLANK<br />Gliserol bebas<br />Kadar dalam darah 0,163 mmol/dL<br />Setara 14 mg/dL <br />DM tdk terkontrol, obat, latihan berlebihan, kelainan genetik <br />Endogen<br />Tutup tabung berlapis gliserol, detergen, kontaminasi dari filter strelisasi, produk perawatan kulit<br />Eksogen<br />
  101. 101. 66<br />PRINSIP KERJA<br />TAHAP I TAHAP II<br />lpl<br />Gliserol <br />Trigliserida <br />+ 3 H2O<br />Gliserol + asam lemak<br />ATP<br />ATP<br />gliserol kinase<br />ATP<br />gliserol kinase<br />ADP<br />ADP<br />gliserol-3-fosfat <br />gliserol-3-fosfat <br />O2<br />Gliseril-3-fosfat <br />oksidase<br />O2<br />Gliseril-3-fosfat <br />oksidase<br />H2O2<br />H2O2 + 4-aminoantipirin + ESBmT <br />dihidroksiaseton fosfat<br />dihidroksiaseton fosfat<br />katalase<br />H20 + O2<br />Komponen warna merah keunguan<br />
  102. 102. 67<br />REAGEN <br /> Reagen 1<br />Gliserol kinase <br /> Gliserol-3-fosfat oksidase <br /> ATP<br /> N-Ethyl-N-Solfobutyl-m-toluidine disodium salt (ESBmT) Larutan Buffer pH 7,0<br />
  103. 103. 68<br />Lanjutan …<br />Reagen 2<br />4-aminoantipyrine <br />Lipoprotein lipase<br />Peroksidase<br />Larutan buffer pH 6,5 <br />
  104. 104. 69<br />PROSEDUR PEMERIKSAAN<br />Serum 3 µm<br />Reagen 1 260 µm<br />Baca Abs I <br />Inkubasi 37 C5 menit <br />Kalkulasi dgn komputer<br />Reagen 2 130 µm<br />Baca Abs II<br />Inkubasi 37 C5 menit <br />Hasil <br />
  105. 105. Human Transporter Glucose<br />www.themegallery.com<br />70<br />Km represents the levels of blood glucose at which the transporter has reached one half of its maximum capacity to tranport glucose. It is inversely propotionate to the affinity<br />Km, <br />
  106. 106. Kadar Insulin <br />www.themegallery.com<br />71<br />Sekresi insulin oleh pankreas : 40-50 Unit/hari<br />Kadar insulin basal : 10μU/mL ( 0,4 ng/ml atau 69 pmol/L)<br />Kadar insulin (pada orang normal) sesudah makan : meningkat diatas 100 μU/mL (690 pmol/L)<br />
  107. 107. www.themegallery.com<br />72<br />
  108. 108. www.themegallery.com<br />73<br />
  109. 109. Gbr. eksositosis<br />www.themegallery.com<br />74<br />
  110. 110. www.themegallery.com<br />75<br />
  111. 111. www.themegallery.com<br />76<br />
  112. 112. www.themegallery.com<br />77<br />
  113. 113. www.themegallery.com<br />78<br />
  114. 114. www.themegallery.com<br />79<br />
  115. 115. www.themegallery.com<br />80<br />
  116. 116. Tolbutamide<br />www.themegallery.com<br />81<br />first generation potassium channel blocker, sulfonylureaoral hypoglycemicdrug<br />Tolbutamide stimulates the secretion of insulin by the pancreas.<br />Tolbutamide is used to help control blood sugar levels in people with type 2 diabetes. <br />it is not effective in the management of type I diabetes<br />
  117. 117. HOMA %B<br />www.themegallery.com<br />82<br />Keterangan :<br /> Insulin Plasma Puasa (mU/L)<br /> Glukosa Plasma Puasa ( mmol/L)<br />20 x Insulin Plasma Puasa<br />HOMA %B = <br />Glukosa plasma Puasa – 3,5<br />
  118. 118. www.themegallery.com<br />83<br />
  119. 119. www.themegallery.com<br />84<br />
  120. 120. www.themegallery.com<br />85<br />
  121. 121. www.themegallery.com<br />86<br />Glikogen<br />Glukosa 6 Fosfat<br />Triosa Fosfat<br />Fosfoenol piruvat<br />Piruvat<br />Oksaloasetat<br />Siklus asam sitrat<br />α- ketoglutarat<br />Asam Amino<br />Glukosa<br />(Hiperglikemia)<br />Glukosuria<br />
  122. 122. www.themegallery.com<br />87<br />
  123. 123. Kadar Insulin <br />www.themegallery.com<br />88<br />Sekresi insulin oleh pankreas : 40-50 Unit/hari<br />Kadar insulin basal : 10μU/mL ( 0,4 ng/ml atau 69 pmol/L)<br />Kadar insulin (pada orang normal) sesudah makan : meningkat diatas 100 μU/mL (690 pmol/L)<br />
  124. 124. www.themegallery.com<br />89<br />
  125. 125. www.themegallery.com<br />90<br />

×