Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Lentera News edisi #16 Juli 2015

378 views

Published on

Maj

Published in: Self Improvement
  • Be the first to comment

Lentera News edisi #16 Juli 2015

  1. 1. 1 EDISI #16 JULI 2015 Sumber gambar: http://mungkopas.blogspot.com/ MUDIK
  2. 2. 2 DUKUNG MAJALAH LENTERA NEWS DENGAN DOA DAN DANA Kunjungi kami di sini: Bank Nasional Indonesia Rek.No. 0307532799 a.n. Hubertus Agustus Lidy /LENTERA-NEWS MAJALAHLENTERA.COM daftarisi Tajuk Redaksi3 Telisik 4 6 Lentera khusus 10 Embun katekese 14 Opini 22 Ilham sehat Mudik ke Pohon Zaitun 19 Rumah Joss 16 Sastra RP Hubertus Lidi, OSC [Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi], Ananta Bangun [Redaktur Tulis], ­Jansudin Saragih [Redaktur Foto], Rina Malem Barus [Keuangan] Penerbit: Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Medan (KOMSOS-KAM) ­Jalan S.Parman No. 107 Telp. +62614572457 , mp. 085361618545| www.majalahlentera.com | ­redaksi@majalahlentera.com , beritalentera@gmail.com | Facebook Fan Page: facebook.com/lentera-news REDAKSI Korupsi Kini Menjadi Mode Pelanggaran Liturgi Dalam Perayaan ­Ekaristi (bag. II) Kepada Yang Terhormat, Calon Medan 1 Serangan Semut Sinta (bag. II) 24 Pollung Gereja & Global Warming (bag. II) 29 Lapo Aksara Kapak Penebang Pohon
  3. 3. 3 Redaksi 3 TAJUK REDAKSI Satu peristiwa besar dalam bulan ini ialah ­perayaan Hari Raya Idul Fitri 1436 H. Tidak ­hanya bagi sahabat umat Muslim, ­Redaksi Lentera News juga tergerak menyerap ­inspirasi dalam ­momentum ini. Diantaranya ialah semangat mudik yang lazim­berlang- sung semenjak ­moyang kita dahulu­. Redaksi Lentera News sungguh berterima kasih pada bapak Ahmad Kusaeni yang berkenan ­memberi sumbangsih gagasannya perihal mudik ini. Tentang bagaimana kita bisa ­menyelami ­ihwal dan semangat mudik dari kacamata eks ­Pemimpin Redaksi Lembaga Kantor Berita ­Nasional (LKBN) ANTARA tersebut. Lebih dari ­sekedar sebuah tindak mengepak pakaian dan oleh-oleh saat hendak pulang ke kampung ­halaman. Berbicara tentang kampung halaman, tentu tak ada salahnya mengerjapkan pandang pada kota Medan. Tempat di mana sebagian besar awak redaksi dan para pembaca bercokol. Meskipun jarak waktu masih cukup lama, Vinsensius ­Sitepu telah menguak isi hatinya kepada para insan yang hendak mencalon di Pilkada Kota Medan. Harapan Vinsensius untuk menemukan calon Pemimpinyangmumpunibersih,seirama­dengan keprihatinan Pemimpin Redaksi RP Hubertus Lidi, OSC. Tanpa tanggung, Romo Hubert ­mengupas isu korupsi di Medan dan Sumatera Utara. Isu yang kini menghangat seiring penangkapan ­Gubernur Sumut oleh KPK. Sahabat pembaca Lentera News, dalam edisi Juli 2015 ini, kami kembali mengetengahkan dua­ ­karya tulis Dian Purba. Baik dalam essay ­tentang permasalahan global warming, dan ­karya ­sastra-nya yang terbalut dalam cerpen berjudul ‘Sinta’. Jangan lupa sempatkan waktu melirik ­perenungan Bung Joss dalam artikelnya tentang serangan semut. Akhirul kata, kami Redaksi Lentera News juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H bagi sahabat pembaca dan umat Muslim yang merayakannya.
  4. 4. 4 RP Hubertus Lidi, OSC hubertuslidiosc@gmail.com KORUPSI KINI MENJADI MODE TELISIK | KORUPSI U ngkapan Korupsi ­<Perbuatannya> dan ­Koruptor <Pelakukannya> sudah ­sangat bersahabat dengan kita. Hampir setiap hari media- media sosial, baik cetak maupun ­elektronik menulis, ­memberitakan, dan ­mempertontonkannya. ­Bahkan ­korupsi itu telah menghantar ­koruptornya, bak selebritis. Ia dinanti dan dikerumuni oleh para kuli tinta dari dalam dan luar negeri. Sorotan lampu kamera serta kilapan blitz membuat aura‘sang subyek’ ­menjadi makin indah saja. Seragam yang ­membalut raganya,yang seharusnya menjadi symbol aib malah menjadi atribut yang membuat bahu orang yang mengenakannya‘terangkat.’Laki ­maupun perumpuan sama saja. Hal yang ­paling mengejutkan masyarakat ­Indonesia adalah beberapa orang yang bekerja di bagian rana hukum justru menjadi ­subyek dan aktor utama ­korupsip. Beberapa saudara yang berkerja di ­Depertemen yang berurusan dengan ‘hal-hal Suci’justru memanfaatkan ­pekerjaan yang ilahi itu untuk ­korupsi. Berkenaan dengan gencarnya korupsi di Indonesia, suatu waktu temanku ­berseloroh,“Wan sari-sari korupsi di negaramu, kayanya udah meresap ke ­semua orang dan semua lini ­kehidupan ini, termasuk kepadamu.”“Ohya?” “Yalah….siapa tahu sumbangan, ­kolekte, dan ucapan-ucapapan ­terimakasih yang kamu dapat, adalah dari hasil dari korupsi.”“Ah .. bisa-bisa saja kamu. ­Bagaimanapun masih ada orang baik di tanah Indonesia ini, wan, ”aku ­membantah kata-katanya, yang senang mengeneralisasikan hal itu.
  5. 5. 5 Harian kota Medan,‘Analisa’, Jumat 10 Januari 2014, memberitakan di halaman depan;“Hasil Iktisar Badan Pemeriksaan Keuangan 2013. ­Sumatera Utara Provinsi Terkorup di Indonesia. Potensi kerugiannya Rp. 400.100.810. 000,-, dengan jumlah kasus 278”. Wah….. luar biasa menjadi sebuah prestasi gemilang. Tentu kita bedecak dalam ketidak mengertian… ..’koh bisa ya!’Gradasi paling atas. ­Koran yang sama, pada hari sama pula di rubrik kota, hal 6, ­menulis bah- wa korupsi sudah ­menjadi masalah utama bangsa, bahkan sudah pada tahap darurat. Luar biasa seakan kita sedang hidup di dunia angkara murka yang buram durjana. Pertanyaan di balik ini semua adalah: apakah pemberitaan, seremoni Pra Penahanan, uniform, dan hukuman penjara, dll itu mendatangkan efek jera? Kita tetap berharap upaya-upaya dari penegak hukum secara khusus dari KPK, bisa membantu mengurangi dan tidak menambah subyek yang baru, lebih jauh dari itu menyiapkan sebuah generasi yang bermental“say no to corruption” Secukupnya Vs Berlebihan Ada sebuah Doa Katolik‘Bapa Kami’yang selalu didoakan oleh orang-orang Katolik pada setiap ­kesempatan. Dari sekian ­permohonan yang termaktub dalam rumusan doa itu, ada satu permohonan yang berkaitan dengan Rezeki atau Nafkah. Menarik kalau kita ­refleksikan ­bersama, berkaitan dengan topik ­Korupsi. Para Jemaat Katolik ­bermohon:“Berilah Kami rezeki secukupnya pada hari ini.” ­Secukupnya dalam konteks ini adalah yang wajar dan pas, sesuai den- gan kebutuhan. Dengan kata lain ­menghindari mentalitas yang menim- bun rezeki. Para jemaat, berasumsi dalam iman, bahwa mentalitas ­menimbun rezeki yang berlebihan lawan dari ­secukupnya membuat sang ­penimbun menjadi rakus alias tamak dan tidak segan-segan mencaplok hak orang lain demi ­memenuhi hasrat serakahnya. ­Korupsi yang ­dipertontonkan ­sekarang ini ­adalah mode penimbunan harta yang ­berlebihan dengan cara ­mencaplok hak orang lain sehingga ­menimbulkan kerugian pada pihak lain. Mentalitas yang dipertotonkan kepada kita adalah orang menjadi tidak mau tahu dan tidak perduli ­dengan orang lain, yang penting diri dan kroninya menikmati. Aspek lain membuat sang ­penimbun itu menjadi licik dan ­lihai. Licik dalam konteks ini ialah ­memanfaatkan kuasa dan wewenang yang ­dipercayakan kepadanya demi ­kepentingannya. Lihai dalam konteks ini ialah­‘mengotak-ngatik’aturan dan ­kebijakan demi membenarkan dan memuluskan akal bulus alias akal gundulnya. Yang menarik para ­tersangka korupsi dan koruptor selalu berteriak hak azazi manusia, kala mereka ditangkap oleh pihak-pihak yang berwajib. Tanpa sadar mereka sedang ­mempromosikan diri sebagai Pejuang hak azazi yang merusak hak azazi itu sendiri. Lagi-lagi temanku ­berkomentar:“Wan, kalau kepandaian ­berbohong, kelicikan dan ­kelihaian para koruptor itu diformulasikan ­untuk sebuah kebaikan, pasti bangsa ini maju dan rakyaknya sejahtera. Benar juga sih!” (bersambung) Copyright ilustrasi: HarianTerbit.com Pertanyaan di balik ini semua adalah: apakah pemberitaan, seremoni pra Pena- hanan, uniform, dan hukuman penjara, dll itu mendatangkan efek jera? “
  6. 6. 6 LENTERA KHUSUS | MUDIK M udik adalah kata yang paling ­sering diucapkan pada hari-hari terakhir ­menjelang Hari Raya Idul Fitri. Orang- orangmembicarakanmudikdimanasaja,dilobi, di lift, di tempat kerja, di mesjid atau ­mushola, bahkan di dapur. Sugianti, asisten rumah tangga di rumah saya, ­sejak mempersiapkan sahur untuk puasa hari ­pertama sudah sibuk merencanakan mudiknya. Ia ­membelanjakan uang THR yang diberikan isteri saya untuk membeli android dan langganan paket internet. “Biar di kampung nanti gampang upload ­facebook dan Instagram,” katanya dalam suatu obrolan ­dengan isteri saya di dapur sambil mempersiapkan kolak pembuka puasa. Sugianti yang sudah bekerja di rumah lebih 3 tahun itu cukup aktif di media sosial. Akun facebooknya dengan nama alter “AiCko BarbIe-cweett” ramai diisi postingan soal rencana mudik sesama asisten rumah tangga. “Tiap buka fb..ngliat sttus otw otw otw. ­Kampung halman muluk..... “Kok pda lbih awal ya ­pulangnya.. Ongkos.y msih murahh x..hahahaha,” ­begitu ­postingan Sugianti yang ramai di-likes dan ­dikomentari teman- temannya yang juga semangat 45 untuk pulang ke ­kampung ­halaman di Kendal, Jawa Tengah. Sugianti dan Tuyono, sopir saya, adalah bagian dari 20 juta orang yang akan mudik dari Jakarta ke ­berbagai daerah diTanah Air. Saya sendiri yang asal Lebak, daerah di Banten yang hanya sekitar 80 km dari Jakarta, selalu merasa kikuk kalau ada yang nanya apakah saya lebaran ini mudik apa tidak. MUDIK KE POHON ZAITUN oleh : Ahmad Kusaeni
  7. 7. 7 “Saya nggak mudik, cuma geser pantat ke Lebak,” begitu selalu jawaban saya. Orang Betawi tentunya lebih kikuk dari saya kalau ditanya soal mudik. Mengapa banyak orang, tak peduli ­pembantu rumah tangga, sopir atau ­direktur, selalu bersemangat untuk ­mu­dik ­lebaran? Jawabannya pasti beraneka ragam. Bisa dijawab dari berbagai macam segi baik itu agama, ekonomi, sosial dan budaya. Sudah banyak kajian dari ipoleksosbud hamkanas seperti itu. Yang akan saya sampaikan di tulisan ini adalah alasan yang dilatarbelakangi ­kajian dari bukuThomas L Friedman yang berjudul “The Lexus and the Olive Tree (Understanding Globalization)” ­terbitan Anchor Book tahun 1999. Friedman adalah kolumnis beken dari koran The New York Times. Ia menulis bahwa di zaman globalisasi sekarang ini, ­meskipun orang sudah maju dan hidup dalam teknologi tinggi, tetap saja ­memerlukan akar rumput budayanya dan asal mula dirinya. Lexus dan pohon zaitun adalah simbol yang pas untuk menggambarkan kondisi zaman globalisasi sekarang ini. Lexus yang merupakan merk mobil termahal dan tercanggih adalah simbol kemajuan. Sedangkan pohon zaitun yang banyak tumbuh di kawasan Israel dan Masjidil Aqsa adalah simbol kepurbaan atau asal muasal kemanusiaan. Modernisasi,privatisasidan­pertumbuhan ekonomi, serta ­perkembangan teknologi memungkinkan orang untuk menikmati kemajuan dan kehidupan yang tidak bisa lagi dibatasi oleh ruang dan perbatasan. Tapi, pohon zaitun tetap penting. Pohon zaitun memanifestasikan akar kita sebagai manusia, ia merupakan jangkar tempat berlabuh kita, yang bisa ­mengidentifikasi kita dan ­menempatkan titik kita di dunia ini. Pohon zaitun bisa berbentuk keluarga, komunitas, suku bangsa, atau yang paling mendasar ­adalah tempat yang kita sebut sebagai “rumah”. Kehangatan keluarga Pohon zaitun adalah apa yang bisa ­memberikan kita kehangatan ­keluarga, persahabatan, keintiman personal dan ­ritual, kedalaman hubungan antar ­pribadi, silaturahmi, dan juga keamanan dan­ketentramandiriketika­berhubungan dengan “ayah, ibu, om, tante, kakek, nenek, cucu, sepupu, kawan-kawan masa kecil”. Kitaberjuangkerasdalamkehidupankita, meniti karier, bekerja, mencari nafkah dan sesuap nasi. Sedikit demi sedikit kita mengumpulkan harta dan kekayaan. Kita berkelana, bermigrasi dan pindah kota. Di tempat baru kita menjadi sesuatu, ­memiliki pekerjaan, dan juga kekayaan. Tapi, sebagai manusia, kita tidak bisa menjadi manusia yang utuh seutuhnya sendirian. Kita tidak bisa menjadi kaya sendirian. Kita tidak bisa menjadi pintar sendirian. Kita tidak bisa menjadi orang terhormat sendirian. Kita baru merasa komplit dan kaffah ­sebagai manusia bila ada manusia lain yang mengakui dan ikut ­menikmati apa yang kita miliki. Untuk itu kita ­membutuhkan akar, rumah, kampung, yang bisa ­menjadi pohon zaitun kita. Setahun sekali pada saat lebaran orang merasa harus mudik. Ia kembali ke ­pohon zaitunnya, akar kehidupannya yang ­purba, dan menyiraminya dengan air yang mereka bawa, uang yang mereka bagikan ke sanak saudara, atau sekadar kisah suka dan duka menaklukan Jakarta. Kembali ke akar itulah makna mudik yang paling hakiki. Sejenak di kampung halaman kita isi baterai kehidupan kita yang kering kerontang untuk kembali ke tempat pengelanaan kita. Selamat mudik dan ­bersukacitalah ­kembalikeakarpurbamu,wahai­manusia. (Akhmad Kusaeni adalah mantan ­Direktur PemberitaanLKBNAntara,mendapat­Masterof Arts dari Ateneo de Manila ­University, Filipina) Copyright ilustrasi: Litbang.Depkes.go.id Kita baru ­merasa ­komplit dan ­kaffah ­sebagai ­manusia bila ada ­manusia lain yang ­mengakui dan ikut ­menikmati apa yang kita ­miliki. Untuk itu kita ­membutuhkan akar, rumah, kampung, yang bisa ­menjadi pohon zaitun kita “
  8. 8. 10 EMBUN KATAKESE | LITURGI PELANGGARAN LITURGI DALAM PERAYAAN EKARISTI OLEH: Katolisitas.org
  9. 9. 11 Selama ­Liturgi Sabda, ­sangat ­cocok ­disisipkan saat ­hening ­sejenak, ­tergantung pada ­besarnya jemaat yang ­berhimpun. Saat ­hening ini ­merupakan ­kesempatan bagi umat ­untuk ­meresapkan ­sabda ­Allah “ Pada edisi Juni lalu, telah ­dipaparkan dua pelanggaran dalam bagian-bagian Misa Kudus. Berikutnya akan kembali dilanjutkan pada tiga ­pelanggaran ­lainnya yang umum terjadi. 3. Kurangnya saat hening. Seharusnya: PUMR 45 Beberapa kali dalam Misa ­hendaknya diadakan saat ­hening. Saat hening juga ­merupakan bagian ­perayaan, tetapi arti dan ­maksudnya berbeda-beda menurut makna ­bagian yangbersangkutan.­Sebelum­pernyataan tobat umat ­mawas diri, dan sesudah aja- kan untuk doa ­pembuka umat berdoa dalam hati. Sesudah bacaan dan homili umat merenungkan sebentar amanat yang didengar.Sesudah komuni umat ­memuji Tuhan dan berdoa dalam hati. Bahkan sebelum perayaan ­Ekaristi, ­dianjurkan agar keheningan ­dilaksanakan dalam gereja, di ­sakristi, dan di area sekitar gereja, sehingga ­seluruh umat dapat ­menyiapkan diri untuk ­melaksanakan ibadat dengan cara yang khidmat dan tepat. PUMR 56 Liturgi Sabda haruslah dilak- sanakan sedemikian rupa ­sehingga men- dorong umat untuk ­merenung. Oleh ka- rena itu, setiap bentuk ketergesa-gesaan yang ­dapat mengganggu ­permenungan harus ­sungguh ­dihindari. Selama ­Liturgi Sabda, sangat cocok ­disisipkan saat ­hening sejenak, ­tergantung pada ­besarnya jemaat yang ­berhimpun. Saat ­hening ini ­merupakan ­kesempatan bagi umat untuk ­meresapkan sabda ­Allah, ­dengan dukungan Roh Kudus, dan ­untuk menyiapkan jawaban dalam ­bentuk doa. Saat hening ­sangat tepat ­dilaksanakan sesudah bacaan ­pertama, sesudah bacaan kedua, dan sesudah homili. 4. Diizinkannya seorang awam ­untuk berkhotbah/ ­memberikan kesaksian di dalam homili ­(misalnya untuk mengisi homili Minggu ­Panggilan, ­homili di misa requiem, ataupun ­kesempatan khusus lainnya). Seharusnya: RS 64 Homili yang diberikan dalam rangka perayaan Misa ­Kudus, dan yang merupakan bagian utuh dari liturgi itu “pada umumnya ­dibawakan oleh Imam perayaan. Ia dapat ­menyerahkan tugas ini kepada salah seorang imam ­konselebran, atau kadang-kadang, ter- gantung situasi, kepada diakon, tetapi tidak pernah kepada seorang awam….” RS 66 Larangan terhadap orang awam untuk berkhotbah dalam Misa, ­berlaku juga untuk para ­seminaris, ­untuk ­mahasiswa teologi dan ­untuk orang yang telah diangkat dan ­dikenal ­sebagai “asisten pastoral”; tidak boleh ada ­kekecualianuntukorangawamlain,atau kelompok, ­komunitas atau ­perkumpulan apa pun. RS 74 Jika dipandang perlu bahwa ­kepada umat yang berkumpul di dalam gereja, diberi instruksi atau ­kesaksian tentang hidup Kristiani oleh seorang awam, maka sepatutnya hal ini dibuat di luar Misa. Akan tetapi jika ada alasan kuat, maka dapat ­diizinkan bahwa suatu instruksi atau kesaksian yang ­demikian ­disampaikan setelah Doa ­sesudah ­Komuni. Namun hal ini tidak boleh ­menjadi kebiasaan. Selain itu, instruksi atau kesaksian itu tidak boleh bercorak seperti sebuah homili, dan tidak boleh homili dibatalkan ­karena ada acara ­dimaksud. RS67Perlulahdiperhatikan­secara­khusus, agar homili itu ­sungguh ­berdasarkan misteri-misteri ­penebusan, dengan menguraikan misteri-misteri iman serta ­patokanhidupKristiani,­bertitiktolakdari bacaan-bacaan Kitab Suci serta teks-teks liturgi ­sepanjang ­tahun liturgi, dan juga memberi ­penjelasan tentang ­bagian umum ­(Ordinarium) maupun ­bagian khusus (Proprium) dala Misa ataupun suatu perayaan gerejawi lain….. 5. Pemberian Salam Damai yang ­dilakukanterlalumeriahdan­panjang, sampai imam turun dari panti imam. Seharusnya: RS 71 Perlu mempertahankan ­kebiasaan seturut Ritus Romawi, ­untuk
  10. 10. 12 saling menyampaikan salam damai men- jelang Komuni. Sesuai ­dengan tradisi Ritus Romawi, ­kebiasaan ini ­bukanlah dimak- sudkan ­sebagai ­rekonsiliasi atau pengam- punan dosa, melainkan mau menyatakan damai, persekutuan dan cinta sebelum ­menyambut Ekaristi Mahakudus. Segi re- konsiliasi antara umat yang hadir ­lebih diungkapkan dalam ­upacara ­tobat pada awal Misa, ­khususnya dalam rumus per- tama. RS 72 “Salamdamaihendaknyadiberikan oleh setiap orang hanya kepada mereka yang terdekat dan dengan suatu cara yang pantas.” “Imam boleh memberikan salam damai kepada para pelayan, namun tidak meninggalkan panti imam agar jalannya perayaan jangan terganggu….” Salam Damai perlu dipertahankan, han- ya hal dinyanyikan atau tidak, itu tidak secara eksplisit dinyatakan di dalam dokumen Gereja. Bagi yang memilih untuk ­menyanyikannya, dasarnya ka- rena menganggap ­bahwa nyanyian itu merupakan cara ­menyampaikan damai. ­Sedangkan yang tidak menyanyikannya, ­kemungkinan menganggap bahwa hal dinyanyikannya Salam Damai tidak ek- splisit disyaratkan dalam dokumen Ger- eja, dan karena jika dinyanyikan malah dapat mengganggu pusat perhatian saat itu yang seharusnya difokuskan kepada Kristus. Jika kelak ingin diseragamkan, maka pihak KWI-lah yang berwenang un- tuk menentukan apakah Salam Damai ini akan dinyanyikan atau tidak dinyanyikan. Pelanggaran dalam hal penerimaan Komuni: 1. Umat mencelupkan sendiri Hosti ke dalam piala anggur. Seharusnya: RS 94 Umat tidak diizinkan mengambil sendiri–apalagimeneruskankepadaorang lain- Hosti Kudus atau Piala kudus. RS 104 Umat yang menyambut, tidak ­diberi izin untuk mencelupkan sendiri hosti ke dalam piala; tidak boleh juga ia ­menerima hosti yang sudah dicelupkan itu pada tangannya….. PUMR 160 Umat tidak diperkenankan mengambil sendiri roti kudus atau piala, apalagi saling memberikannya antar mereka. Umat menyambut entah sambil berlutut atau sambil berdiri, sesuai dengan ketentuan Konferensi Uskup… Pada hakekatnya Komuni adalah ­sesuatu yang “diberikan” oleh Kristus: ­“Terimalah dan makanlah inilah Tubuh-Ku yang ­diserahkan bagi-Mu…. Terimalah dan minumlah, inilah darah-Ku yang ­ditumpahkan bagimu….”. Jadi bukan sesuatu yang dapat diambil sendiri. 2. Pengantin saling menerimakan ­Komuni. Seharusnya, tidak boleh: RS 94 Umat tidak diizinkan ­mengambil sendiri- apalagi meneruskan kepada orang lain- Hosti Kudus atau Piala kudus. Dalam konteks ini harus ditinggalkan juga ­penyimpangan di mana kedua mempelai saling menerimakan Komuni dalam misa perkawinan. Ekaristi kudus adalah kurban Kristus, dan diberikan oleh Kristus (melalui imam ­ataupun petugas pembagi Komuni tak ­lazim yang diberi tugas tersebut), ­sehingga bukan untuk saling diterimakan oleh umat sendiri. (bersambung...)
  11. 11. 13
  12. 12. 14 KOLOM “RUMAH JOSS” | SEMUT Yoseph Tien Wakil Ketua ­KomIsi Kepemudaan di ­Keuskupan Agung Medan 14 Pkl. 03.00 WIB, ketika saya baru saja ­tidur, tiba-tiba bagian punggung ­terasa nyeri, seperti disengat listrik. ­Terbangunlah saya secara spontan, ­rupanya ada banyak semut diatas ­tempat tidur, tepatnya dibawah ­bantal. Serangan semut yang serupa, pada malamminggukemarinjuga­membuat istri saya harus terbangun tengah malam, bahkan mengungsi ke kamar anak-anak. Pagi ini semut menyerang lagi. Dan kali ini, titik serangan dan targetnya adalah saya. Jitu! Hehehe... Memang beberapa bulan terakhir ini, semut sepertinya sedang ramai- ramainya mengunjungi rumah kami. Semut selalu ada pada hampir ­semua penjuru rumah. Mungkin karena ­penghuni rumah kami manis-manis dan segala isi rumahnya juga manis- manis. Hahaha... Setelah melakukan prosedur­‘pulbaket’ atau pengumpulan bahan dan ­keterangan, saya melihat sendiri ­bahwa rupanya satu-satunya jalan masuk semut-semut tersebut adalah melalu lubang angin pada dinding ­belakang dapur kami. Setelah mengetahui locus tersebut, berbagai cara kami lakukan ­untuk menghadang pasukan merah mungil ini. Mulai dari penggunaan baygon, jeruk, kapur barus, dan entah ­apalagi. Setelah operasi kami ­lakukan, ­mereka hilang dan tak muncul, ­namun ­beberapajamkemudianatau­besoknya mereka muncul lagi. Akhirnya kami jadi terbiasa, bahkan sepertinya kami mulai mengakrabi mereka. Haha..! Kami tak pernah lagi melakukan operasi penghadangan atau operasi militer alias perang. Tapi dua hari ini, tampaknya mereka mulai menyerang ring satu, pusat ken- dali nuklir, markas komando alias tem- pat tidur pemilik rumah. Gawat! Perang total tampaknya harus ­dimainkan! Semoga ada bantuan dari para sahabat tentang strategi perang, apakah perang gerilya atau strategi ala Sun Tzu. *** Belajar dari semut Pagi ini setelah terbangun, saya ­membaca status facebook seorang sahabat, tentang bagaimana caranya seekor yang gajah mati dapat ­dimakan semut dan jawaban tersuratnya ­semut makan secara ­perlahan-lahan jawaban tersiratnya semut makan ­bersama-sama. Pesan dari status kawan saya tersebut, bahwa sebesar apapun ­masalahnya, ­selesaikan sedikit demi sedikit atau ­tahap demi tahap alias tak bisa ­sekaligus. Saya kemudian teringat dengan ­semut yang masuk ke rumah kami, bahwa ternyata mereka melewati sebuah tembok yang sangat tinggi, mungkin ribuan kali panjang tubuhnya sendiri. Tiada jalan mundur dalam diri semut. Ketika mereka menghadapi masalah, SERANGAN SEMUT
  13. 13. 1515 tembok tinggi, mereka memanjatnya, naik ke atas. Mereka maju terus, tidak meratapi ­tingginya ­tembok, apalagi balik kanan dan pulang. Bagi ­mereka pulang harus membawa hasil. Perjuangan pasukan semut mengais atau ­mencari makan, selalu dilakukan bersama-sama. Dan bila panen tiba, mereka panen bersama-sama, lalu menikmatinya juga bersama-sama. Siapapun diantara pasukan semut tersebut, yang pertama kali menemukan makanan, dia akan ­memanggil teman-temannya, para saudaranya dan memberitahu bahkan mengantar teman atau ­saudaranya menuju ke sumber makanan itu, lalu bersama-sama mereka menikmati bahkan ­membawa pulang makanan tersebut. Pada daerah-daerah dekat sumber makanan, ­semut membangun sarang atau rumah mereka. Di sana, mereka tinggal dan hidup bersama, bekerja dan makan bersama. Semut tahu, bahwa mereka tak bisa hidup sendiri, mereka harus hidup ­bersama dan bekerja sama. Semut tahu, bahwa mereka harus ‘dekat sumber makanan’! Dalam kehidupan sehari-hari, sedang dalam ­perjalanan apapun mereka, para semut akan ­selalu ­berhenti dan saling ‘berciuman’, saling menegur sapasatusamalain.Semutjugatahuarti­pentingnya komunikasi secara langsung! Kata demi kata, wajah berhadapan wajah! Jadi, kita bisa belajar tentang kehidupan dari ­perilaku semut: 1) Ketika menghadapi masalah, tetaplah maju ­terus menghadapi masalah tersebut dan per- cayalah ­bahwa selalu ada jalan ke atas. Tembok ­tantangan adalah jalan naik mencapai puncak. Pantang ­menyerah dan selalu berusaha mencari ‘lubang’ penyelesaian, itu penting. Setiap masalah sebesar apapun, hendaknya diselesaikan tahap- demi ­tahap secara cermat dan pasti. 2) Dalam hidup bersama, kerjasama dan ­sama-sama kerja sungguh merupakan sesuatu yang mutlak dan mampu membuat kita melakukan banyak hal besar. 3) Dalam hal rejeki, apapun bentuk dan warnanya, semangatberbagihendaknyaselalu­diperjuangkan terus menerus. Berapa banyakpun yang kita ­peroleh, selalu ada bagian orang lain di dalamnya. 4) Hidup bersama yang harmonis hanya ­terbangun dari komunikasi efektif dan penuh cinta, yang ­terdorong dari semangat membuka diri dan ­menerima kelebihan-kekurangan sesama apa ­adanya. Dalam bekerja, semut selalu berbaris ­dengan rapi dan tertib. 5) Ketika menghadapi ‘musuh’, dan tak cukup ­bertahan saja, terpaksa harus menyerang, seranglah mereka secara bertahap, mulai dari pinggir-pinggir kemudian masuk ke tengah pada ‘pusat kendali nuklir’. Para Sahabat Joss Terkasih,Semoga 5 pelajaran dari semut ini bermanfaat mengawali Senin Ceria kita masing-masing. SERANGAN SEMUT....Serangkai Ancaman dan Tan- tangan....Selalu Engkau Mampu Untuk Teruji! Per- cayalah..! Salam Joss..!
  14. 14. 16 Vinsensius G.K. Sitepu Founder Komunitas Mahapala be_web2001@yahoo.com OPINII | POLITIK KEPADA YANG TERHORMAT, CALON MEDAN 1 Saya lahir di Bandung pada tahun 1982. Sekadar“menumpang lahir”, dari kota itu, setahun kemudian, saya dibesarkan di Medan, kota besar sarat hiruk pikuk. Hingga 32 tahun kemudian, saya adalah salah satu dari warga Medan lainnya seba- gai saksi hidup pembangunan yang penuh dinamika. Maka, kepada para calon pemimpin Medan, ­tulisanku ini adalah lukisan luka di hati. Engkau jangan menghempasnya, jikalau tidak ingin kau sentuh. Saya tahu pasti hatimu tahu, walau tidak membacanya. Tiga kalimat terakhir itu adalah plesetan atas syair lagu apik yang dibawakan oleh Hedi Yunus pada tahun 1990-an, tentang curahan isi hati seorang anak manusia yang sedang jatuh cinta. Ia in- gin ­diperhatikan dan ingin kasih sayang. Sebagai sebuah pesan ­komunikasi, tiga kalimat itu paling layak ­dikumandangkan ­menjelang ­perhelatan pemilihan Walikota ­Medan alias Medan 1, tentang ­beragam kegundahan banyak anak Medan hebat mengenai kota yang kian tidak ramah ini. Mengharapkan Medan berubah seperti yang tergambar dalam benak kita, mestilah dimulai dari ­mendorong calon pemimpin yang benar-benar memahami hasrat ­paling hakiki orang Medan, serta tentu saja setiap individu warga yang harus kerap tertunduk ­bercermin, tidak berharap seratus persen kepada pemimpin. Mimpi idealnya adalah sifat kerjasama dan komunikasi yang efektif di antara
  15. 15. 17 Kami berharap hidup hari ini di Medan ­adalah mimpi ­buruk, ­tetapi ­kenyataannya tidak. Sekuat apapun kami ­mencubit, ia tetap nyata. Tanpa kejujuran, ketulusan, serta kerja nyata dan tegas, calon Medan 1 akan tampak kerdil dan rendah di hadapan warga “ pemimpin dan warga kota. Sekali peristiwa dan setiap pertemuan sebelumnya, termasuk beragam artikel di halaman ini, kalau ­membincangkan kota Medan, wacana yang selalu mengemuka adalah, pertama jalan kota yang rusak tidak terawat. Kedua, orang Medan masih bisa hidup tanpa walikota. Ketiga, orang Medan itu ­individualistis. Keempat, angkutan kota terlalu banyak dan tidak digantikan mass rapid transportation. Kelima,kok sok kali menyebut Medan Kota ­Metropolitan? Keenam, di atas semua itu, sebagian dari jajaran pemimpin kota ini tidak ­memiliki kepedulian yang tinggi, karena ­moralnya ­bobrok. Dan ketujuh, masalah itu semakin ­bertambah. ­Ketujuh masalah itu ­berlangsung selama lebih dari dua dekade. Bayangkan, 20 tahun! Tentu saja kita iri dengan Kota Bogor dan Bandung yang memiliki pemimpin yang berhasil membuat gebrakan ­signifikan, walaupun permasalahan mendasar kurang dalam tersentuh. Medan, seperti Bogor dan Bandung masih pening kepalanyamengurus kemacetan lalu lintas. Padahal kalau mau jujur, kalau pajak mobil ­sebagai kendaraan mewah ­dinaikkan tiga kali lipat, serta pembatasan ­kepemilikan kendaraan bermotor roda dua ­dilakukan, kemacetan tidak akan muncul. ­Kenyamanan bertransportasi ­digantikan dengan bus dalam kota yang nyaman. Kepadatan tinggi lalu lintas Medan membawa preseden buruk dan ­berdampak negatif. Ambulans yang seharusnya lekas membawa pasien ke ­rumah sakit, harus pasrah ­“terjepit”di tengah jalan. Bunyi sirene yang ­meraung lebih terasa seperti ­suara orang bodoh yang memelas. ­Sebelum terjepit meraung, ambulans tentu saja sudah masuk ke lubang ­jalanan. Kalau saja pasiennya adalah ­seorang ­perempuan hamil, ia berisiko ­melahirkan di ­ambulan. Tetapi jujur, saya berharap ada sapi di jalan yang berkubang itu. Di masa depan, Medan harus ber- solek kemuliaan dan kesejahteraan- nya dan saya yakin ini, bagi sebagian orang ­adalah absurd. Di Medan kelak tidak ada lagi kemacetan kendaraan ­bermotor yang menambah polusi udara. Ia digantikan dengan budaya bersepeda atau pilihan kendaraan ramah lingkungan. Moda transportasi publik lebih banyak, termasuk kereta bawah tanah. Para pengusaha kecil menjadi lebih tertib, karena pindah dari trotoar ke tempat yang lebih layak, rapi dan bersih. Pusat bisnis ini tentu saja harus memiliki lahan parkir yang luas, tidak seperti kondisi di pasar-pasar tradisional saat ini. Dengan demikian pelebaran atas jalan kota yang ­sempit seperti sekarang ini dapat dapat ­dilakukan. Wacana kedua dan ketiga ­berkorelasi erat, bahwa seseorang akan ­menilai dirinya berdikari, tatkala ­muncul ­pemimpin kota yang tidak ­ berkompeten menata ­pembangunan yang merata dan berkeadilan. ­Perkataan,“Kami bisa hidup tanpa ­pemimpin.”adalah pseudo-entity, ­tampak nyata, tetapi rapuh dalam perjalanan. Benar orang Medan dapat hidup tanpa walikota, karena ­walikota tidak bekerja keras menghidupi kota. Walikota yang bekerja layaknya ­kapitalis-manajerial dan bukan kapitalis sejati menghasilkan Medan yang penuh tikus yang rakus uang. Kapitalis-manajerial mencari uang untuk dirinya, sedangkan kapitalis sejati mencetak uang sendiri bagi dirinya termasuk orang lain, karena tipe ini mengajak orang bekerja bersamanya, lalu menularkan semangat bekerja itu membentuk perusahaan lain. Itulah semangat menjadi kupu-kupu, bukan sekadar kepompong. Anggapan karakter individualistis ­adalah resultan kepemimpinan kota yang tidak akur dengan warganya. Alhasil secara konkret dalam ­membuka perusahaan rintisan ­misalnya, ­sulit mencari rekan yang bisa diajak ­kerjasamanya. Yang membuat miris, ide kita dicaplok lalu mendirikan ­perusahaan rintisan dengan karakter yang serupa bersama rekanan lain yang dipikirnya bisa dengan cepat ­mendulang laba. Mengapa tidak
  16. 16. 18 ­misalnya, dengan satu ide serupa dipadu- kan dengan tujuan ­menghasilkan profit besar, ketimbang ­terpecah-pecah bentuk usaha yang kurang solid ­berencana. Gambaran Medan tidak punya ­pemimpin adalah gambaran ketidaktegasan ­pemimpin, seperti misalnya menertibkan pedagang kaki lima dengan cara santun atau misalnya mendidik pengendara ­kendaraan bermotor agar disiplin berhenti di belakang garis zebra cross tatkala lampu merah menyala. Ketidaktegasan pemimpin adalah entitas nyata gagalnya pemimpin berkomunikasi dengan warga. Pemimpin gagal mengakomodir keinginan warga untuk maju lebih baik, hingga dengan soknyamemamerkan sebutan Medan Kota Metropolitan. Bukankah itu sangat ­menjijikkan? Tren dan pola pemimpin muda Mengambil contoh menggembirakan dari pemimpin kota Bima Arya Sugiarto dan Ridwan Kamil adalah gambaran tren dan pola kepemimpin publik yang paling ­mencolok di tengah perubahan dunia. ­Untuk menyebut yang lebih hebat adalah si muda kaya raya seperti Mark Zucker- berg, Sergey Brin dan Larry Page, dan Merry Riana. Pemimpin muda ternama dan kaya bukan tidak mungkin diusung oleh ­kemajuan teknologi informasi, di mana komunikasi berlangsung cair dan relatif terbuka. Percepatan era itu lebih cepat, sekitar 15 tahun perubahannya. Bandingkan dengan Era Revolusi Industri yang perlu waktu beberapa dekade untuk mencapai kebulatannya. Tren anak muda sebagai pemimpin adalah cerminan bahwa orang-orang kini lebih rasional memilih, bahwa orang-orang lama yang didominasi orang-orang tua yang lebih senior diasosiakan tak lagi ­berkompeten memimpin. Bahwa kondisi ini didorong pula oleh faktor bonus ­demografi, di mana orang-orang ­Indonesia berusia produktif sudah ­berjumlah 140 juta orang yang memiliki harapan lebih baik tentang masa depannya. Ini ­artinya orang-orang muda lebih kreatif ­menelurkan beragam gagasan segar dan punya tekad mewujudkannya. Namun demikian, mengusung para ­pemimpin muda naik menjadi ­pemimpin Kota Medan masih menyimpan ­halangan. Sebut saja misalnya, anggapan bahwa orang muda Medan tidak ­memiliki ­pengalaman memimpin serumit ­memimpin kota yang sarat birokratik. ­Pemimpin muda kota Medan selanjutnya harus lahir dari kepemimpinan ­organisasi kepemudaan yang juga kompleks dan memiliki jam terbang tinggi pada ­program-program berkarakter penguatan yang pernah dijalankannya. Pengalaman memimpin organisasi di kampus, tentu saja menjadi nilai tambah. Harus diakui beragam organisasi ­kepemudaan di Medan, tetapi sepak terjangnya tidak terlalu dirasakan oleh masyarakat luas. Kalau mau ­jujur ­organisasi kepemudaan di Medan masih banyak yang pragmatis dan hanya ­mengunggulkan kepentingan pribadi ­untuk naik ke ­tingkat berikutnya yang ­lebih tinggi. Ya, ­pokoknya geraknya di ­situ-situ saja. Saya tidak ­mengatakan mereka jahat atau ­memiliki motif jangka ­pendek, namun karena didera bisikan ­anggota lain, alhasil ­program organisasi tidak menjadi besar. Ia sehausnya mengarah ke lembah, di mana masyarakat merasakannya demi tujuan jangka panjang. Contoh misalnya, belum ada program kerja organisasi kepemudaan yang mendorong secara total perihal pengembangan ekonomi kreatif di Medan. Orang-orang Medan yang kreatif, seperti penyanyi justru berangkat ke Jakarta untuk mengail rejeki, tidak mengembangkan bersama kawan- kawan di Medan untuk bersaing dengan kota lain. Padahal kalau mau ditelisik lebih jauh, potensi ekonomi kreatif tidak kalah dengan anak muda di kota lainnya di Indonesia. Organisasi kepemudaan ataupun ­komunitas lain harus mengembangkan program kerja mereka dalam wujud nyata yang memiliki nilai kewirausahaan, ada nilai tambah ekonomi. Jikalau seorang anak Medan memiliki bakat membuat ­komik strip misalnya, mereka jangan berhenti memamerkannya di media sosial. Organisasi kepemudaan bersama ­perusahaan swasta mendorong mereka menambah nilainya dalam bentuk visual lainnya, seperti film animasi dalam format iklan produk lokal atau dengan durasi yang
  17. 17. 19 lebih panjang, tetapi berkonten budaya Medan yang beragam. Hal yang sama dapat diterapkan pada bakat membuat peranti lunak mobile, pembuat film dan lain-lain. Semuanya dipadukan pada lembaga inkubator yang menjembatani mereka dengan para calon investor dalam ­membuat startup company(perusahaan ­rintisan). Tanpa pemanfaatan konsep itu ­potensi kreatif akan menjadi sia-sia dan hanya berakhir di lemari. Pada pokoknya, ­mesti ada entitas kota ini yang ­mempunyai nyali besar untuk menyusun kerangka besar masa depan, tempat anak muda ini berkreasi dan memiliki sikap berwirausaha. Sekolah Wirausaha Satu lagi pekerjaan rumah ­organisasi kepemudaan dan komunitas di ­Medan, dan tentu saja ini didorong oleh ­pemimpin-pemimpin senior lainnya adalah menggagas sekolah ­wirausaha secara serius. Sekolah dalam hal ini ada kajian kurikulum yang tepat, bukan sekadar workshop sehari-dua hari yang ecek-ecek atau seminar yang terkadang lebih mirip kuliah daripada ­mendekatkan mereka kepada dunia nyata. Sekolah wirausaha ­bertujuan mendidik perihal uang, utang, aset, ­liabilitas dan investasi. Rentang ­waktunya bisa 6 bulan ataupun 2 tahun. Kelak jikalau sekolah ini berhasil, maka bisa diterapkan dalam muatan lokal di sekolah-sekolah. Peserta didik ­bukanlah kaum mahasiswa, tetapi ibu rumah tangga bahwa anak SD sekalipun. Saya mengungkapkan ini, sebab karak- ter bangsa kita ini masih ­bernyali pega- wai, bukan pengusaha yang tidak bera- ni mengambil resiko, yang tidak berani berutang untuk sejahtera. Mental orang Indonesia masih dihiasi pemikiran, bahwa dengan bersekolah setinggi- tingginya, maka mendapatkan gaji, tunjangan dan bonus sebesar-besarnya. Ketika gaji sudah tinggi pada perusa- haan besar, ia merasa sudah menjadi kapitalis, padahal ia tidak lebih adalah kapitalis manajerial, bukan ­kapitalis sejati yang bersandarkan diri pada cara mengatasi resiko dan ­menghadapi rasa takut dengan memiliki bisnis sendiri dan berinvestasi di perusahaan lain. Maaf pula kalau saya katakan masyarakat kita masih terlalu ­bergantung pada pemerintah, berharap menyediakan lapangan pekerjaan, mendapatkan insentif dan mendorong pemimpin kota menghadirkan investor asing masuk. Padahal sesungguhnya dengan menjadi pengusaha di negeri sendiri, nilai tambahnya lebih besar daripada mengajak perusahan asing di tanah sendiri. Kita kurang terdorong mengimbangi kinerja pemerintah yang sebenarnya sudah cukup kompleks. Mengapa tidak memulai membuang sampah pada tempatnya, misalnya. Bukankah perubahan sikap itu ­efektif menghindari banjir di rumah kita, daripada sekadar memaki-maki petu- gas kebersihan yang enggan menyapu pinggiran jalan kita? Akhir kata ini yang harus saya ­sampaikan kepada calon Medan 1. Saya dan segenap anak Medan ­memiliki harapan besar kepada pemimpin kota ini nantinya. Kami berharap hidup hari ini di Medan adalah mimpi ­buruk, tetapi kenyataannya tidak. Sekuat apapun kami mencubit, ia tetap nyata. Tanpa kejujuran, ketulusan, serta kerja nyata dan tegas, calon Medan 1 akan tampak kerdil dan rendah di hadapan warga serta pasti akan tampak“sebelas dua belas”dengan para pemimpin kota ini sebelumnya yang berakhir dalam ­keterpurukan, membawa kota ini ke jalan yang tidak jelas.
  18. 18. 20 SASTRA | SINTA 19 Sinta Toh setelah ­mencari-cari alasan yang ­membuatnya ­menyukainya, dia hanya menemukan ­kegantengan sematalah penyebabnya. “Tidak takut sendiri?”tanya Ganup. “Sudah biasa.” “Tadi sudah ke sopo yang itu,” ­sambung Ganup sembari menunjuk ke sebelah kanannya,“atapnya bocor.” Sinta mencoba memperhatikan lebih dalam tamu tiba-tibanya itu. Sedari tadi mereka nyaris tidak ­bertatapan. Ganup menghadap ke sebelah sungai. Sinta menghadap Ganup. Dengan begitu dia leluasa menata diri. Terbersit sekilas ­angan. ­Sesungguhnya bukan angan. ­Semester silam tertera beberapa nilai di rapornya yang mendatangkan amarah ibunya. Dia merasa sudah mengerahkan semua tenaga untuk belajar. Di titik inilah dia menemukan satu jalan terang.“Ganup,”bisiknya dalam hati. Tiba-tiba Ganup berpaling sempurna.“Semester depan kita akan satu sekolah.” Lama Sinta terdiam. Dia perhati- kan lagi pria, yang entah kenapa, dia rasai telah mencubit satu sisi kecil hatinya. Cubitan kecil yang mendatangkan asa. Dia kemudian membayangkan bangku sekolah. Lalu teringat guru-gurunya. Melintas- lintas pula ­beberapa teman-teman sekelas. ­Sekarang dia baru saja ­menambahkan satu teman baru di daftar teman-temannya: Ganup. “Aku akan dapat saingan baru.”Sinta mencoba mencairkan kebekuan. Ganup tidak membalas. “Maksudku, aku akan sangat berun- tung berteman denganmu.” “Kita bahkan belum kenalan,”jawab Ganup sembari mengumbar senyum. Sinta mengulurkan tangan. Dia tidak menyadari senyum simpulnya ­membuat teman barunya itu tak segera menyambut tangannya. “Kenapa?”tanya Sinta. Agak-agaknya Ganup grogi. Sinta memang ayu. ­Semua ungkapan puja-puji ke ­bidadari kerap dialamatkan teman- temannya kepadanya. Meski hidung tidak bisa disebut mancung, kedua mata itu sangat bening. Rambutnya menyapu-nyapu keningnya. Warna kulitnya yang tak begitu cerah ­berpadu dengan senyum renyah ditambah pula tutur kata yang ­anggun membuat siapa saja yang bersua dengannya serasa diawasi bidadari-bidadari sorgawi karena satu orang temannya sedang terdampar di bumi. Ganup tidak berencana sedikit pun untuk menyerangnya dengan rayuan. (bagian II) Dian Purba purbadian@gmail.com
  19. 19. 21 Sesuatu yang sering dilakukan tiap kali bertemu gadis cantik. Bukan karena dia menggigil kedinginan, namun lebih-lebih karena sesuatu alasan yang dia sendiri pun tidak tahu. “Padi-padi itu sudah menguning,”Ganup mengalihkan suasana.“Belum bisa ­dipanen?” “Semestinya sudah. Tapi anak tulangku menikah hari ini.” “Besok aku bisa ke mari lagi?” “Besok hujan tidak akan turun lagi.” Ganup tertawa.“Tidak untuk hujan, tapi untuk padi itu,”seru Ganup. Sebelum Sinta berhasil menyimpulkan, Ganup kembali berujar,“Bapak sering cerita tentang hauma. Aku rela tak digaji mem- bantu Sinta manggotil [v].” Sesingkat itu sesungguhnya ­perkenalan mereka. Sore itu mereka berjalan ­beriringan di jalan sempit ke kampung. Tentu saja hujan masih turun. Dua helai daun pisang mereka tebas dan ­dijadikan pengganti payung. Hampir-hampir mereka tidak bercakap sepanjang jalan. Pastilah Sinta terpeleset di jalan yang sesekali licin. Dan pasti pulalah Ganup bertindak semestinya melihat Sinta nyaris terjatuh. Setelah itu ­kemudian mereka tertawa bersama. Mereka ­kemudian mengambil ranting kayu dan ­memasukkan sandal mereka berdua ke sana. Memilih bertelanjang kaki di jalan licin sepertinya cukup ampuh. Parit di dekat desa mereka manfaatkan mencuci kaki dan membersihkan sandal mereka yang kotor. “Kalaupun besok tak mendapat ijin dari orangtuamu ikut manggotil, harapan ­terakhirku hanyalah pada hujan,”ujar Ganup sebelum jalan memisahkan ­mereka. Sebelum Sinta berpaling, tam- pak jelas wajahnya memerah. *** Masa panen sudah usai. Emak-emak bahkan sudah menggiling gabah mereka dan menjualnya untuk keperluan- keperluan sekolah anak-anak. Banyak orang kota yang berkunjung ke desa ini berpendapat warga desa sesungguhnya tidak mendapat untung apa-apa dari menanam padi. Terlebih-lebih, menurut mereka, pola bertani yang sekarang ini sudah sangat tradisional, tidak mengikuti jaman. Namun, warga desa tidak ambil pusing dengan pendapat mereka. Bagi mereka padi, sawah, dan hauma tidak semata- mata perkara untung-rugi. Bagi mereka padi adalah bagian dari penghuni rumah. Kita akan menjumpai rumah-rumah warga tidak akan pernah kering dari padi. Mereka selalu meninggalkan ­paling tidak satu karung padi meski mereka mesti membeli beras untuk ditanak di dapur. Kepercayaan ini lebih-lebih ­untuk ­menggambarkan kesiapsiagaan untuk menangkal sesuatu yang tidak ­diharapkan terjadi. Inilah yang diterangkan Sinta ke Gan- up suatu siang saat mereka pulang dari sekolah. Mereka cukup banyak waktu untuk berganti kisah tentang diri ­mereka ­masing-masing. Jarak dari desa ke ­sekolah enam kilometer. Saban pagi, pukul enam, mereka sudah mesti ­berjalan kaki. Demikian juga di selepas sekolah. Waktu sejam untuk ­menempuh yang enam kilometer itu terpakai ­sempurna. Sinta merasakan kakinya ­semakin ringan saja melangkah. Sinta selalu bertanya-tanya kenapa ­Ganup menganggurkan motornya di rumah oppungnya dan memilih ­berjalan kaki 12 kilometer setiap hari. Tapi dia ­selalu berusaha ­menutupinya dengan senyum sumringah. Dia tahu Ganup melakukan itu demi dia. Setiap kali ­memikirkan itu Sinta selalu ­mengakhirinya dengan senyuman. (bersambung ...) 20
  20. 20. 22 ILHAM SEHAT | TIDUR SIANG 22 S emasa kecil dahulu, kita ­tentu ingat, orangtua kita kerap ­mengingatkan untuk tidur siang. Anjuran ­tersebut tidak sekedar kiat ‘mengheningkan’ ­suasana rumah ­sejenak.Namun,ada­sejumlah­manfaat penting dalam jeda ­sementara bagi ­tubuh kita. Kebanyakan orang menggunakan waktu malam hari untuk tidur dan siang hari ­untuk bekerja.Olehkarenaitubagibeberapaorang yang sibuk bekerja mungkin tidak memiliki waktu untuk tidur siang. Tidur ­merupakan aktivitas penting, karena dapat ­membantu memulikan tenaga ­setelah kelelahan ­beraktivitas. Disamping juga ­bermanfaat bagi kesehatan otak dan tubuh kita. Sila lirik lima manfaat penting Tidur Siang, yang kami rangkum dalam edisi ini. 5 MANFAAT TIDUR SIANG
  21. 21. 23 Manfaat Tidur Siang bagi Kesehatan Meningkatkan daya ingat Sebuah penelitian tahun 2008 menemukan ­bahwa tidur siang selama 45 menit bisa membantu ­meningkatkan daya ingat. Peningkatan ini terjadi dalam fase slow-wave sleep atau tidur gelombang pendek sebagaimana biasa terjadi saat tidur siang. Meningkatkan produktivitas Tidur siang dapat melindungi otak dari pengolahan informasi yang terjadi secara berlebihan dan membantu mengkonsolidasikan informasi yang baru dipelajari. Mengobati insomnia Penelitian telah menemukan bahwa orang yang tidur siang selama 15 menit merasa lebih waspada dan kurang mengantuk, bahkan ketika malam hari sebel- umnya kurang tidur. Menurunkan stres Ingin memotong hormon stres kortisol sebanyak separuh? Penelitian menunjukkan bahwa hormon stres secara dramatis mengalami penurunan setelah tidur siang, terutama jika semalam tidurnya kurang begitu nyenyak. Mencegah penyakit jantung Tidur siang yang pendek selama 20-40 menit bisa mengurangi risiko penyakit kardiovaskular seperti jantung dan stroke.
  22. 22. 24 Dian Purba purbadian@gmail.com Mahasiswa ­Pascasarjana Ilmu Sejarah UGM POLLUNG | GLOBAL WARMING
  23. 23. 25 Gereja dan Pemanasan Global I nilah yang kita namai dengan ­kamuflase hijau. Perubahan ­bentuk ­perusahaan-perusahaan perusak ­lingkungan menjadi laiknya ­penyelamat bumi ­dengan ­mengenakan topeng ­“hijau”. Salah satu topeng itu adalah ­dengan ­menggunakan media-media ­besar ­berpromosi. Iklan-iklan itu akan sangat berbahaya saat anak-anak tumbuh ­dengan pikiran bahwa perusahaan-perusahaan tersebut jagoan pelestari ­lingkungan. Dan tidak ada yang lebih menyedihkan selain pemerintah dan organisasi antarpemerintah ­dapat diyakinkan agar lebih banyak mengalah dalam menuntut penuaian kewajiban dan pertanggung- jawaban mereka karena telah merusak alam. Food Estate di tanah Papua membuat kesedihan itu terjadi. Di bawah panji “Menjaga ketahanan pangan Indonesia”, pemerintah lewat ­Departemen ­Pertanian menggulirkan megaproyek ­penggunaan lahan 1,6 juta hektar tanah Merauke untuk lahan pertanian. Tidak kita temukan masalah cukup ­berarti andai lahan yang luasnya sama dengan setengah luas Jawa tengah itu diperuntukkan bagi rakyat Papua. Kekuatiran kita memuncak saat pemerintah memastikan proyek ini diserahkan 100 persen ke swasta. Yang kita saksikan ­kemudian ­adalah berbondongnya para konglomerat ­Indonesia membagi-bagi jatah bererbut kue baru (bagian II)Gereja dan Pemanasan Global (bagian II)
  24. 24. 26 Gereja tidak terpisah dari semua proses itu. Proses ­penghancuran terjadi kasat mata. Gereja melihat. Gereja mendengar. Gereja ­mengalami sendiri bagaimana kekuatan- kekuatan itu menjajah ­kehidupan di bumi. Orang Kristen tidak hidup dalam komunitasnya sendiri. “ di bumi Papua. Sebut saja beberapa: Arifin ­Panigoro di bawah bendera Medco ­Foundation & Conservation ­Internasional mendapat jatah 35.000 hektar; Siswono Yudo Husodo di bawah bendera PT Bangun Tjipta Sarana mendapat ­jatah 8.000 hektar; Hashim Djojohadikusumo, PT ­Cemexindo Internasional, mendapat ­jatah 200 hektar; Tomy Winata, bos Grup Artha ­Graha, mendapat jatah 2.500 hektar. Pemerintah memanjakan pengusaha kakap itu dengan insentif semenarik mungkin. Bank Mandiri menggelar acara khusus yang ­mereka namai “Papua Invesment Day”. Pertemuan ini untuk menyinergikan korporasi sebagai ­investor dengan pemerintah dan perbankan. Pemerintah juga menjamin, melalui Bupati Merauke John Gluba Gebze, para investor ­takkan mendapat gangguan dari masyarakat adat di sana. Selain itu, dana awal Rp 3 triliun telah disiapkan guna membangun jalan dan pembangunan pelabuhan. Tujuan food estate sangatlah mulia: menjaga perut penduduk Indonesia tidak ­kekurangan makanan. Kita lantas bertanya, kenapa urusan teramat penting ini diserahkan ­sepenuhnya kepada swasta? Di kemanakan rakyat Papua? Kenapa pemerintah tidak pernah ­memberdayakan mereka? Para ­konglomerat itu mendapat tanah gratis, insentif pajak, ­serta upah buruh murah. Petani ­Merauke akan ­semakin terpinggirka karena lahan ­semakin sempit. Cara pandang ­pemerintah dengan cara pandang rakyat ­Papua dengan tanah itu ­bertolak belakang. Rakyat Papua ­memperlakukan tanah itu sebagai tanah adat, pemerintah memandangnya sebagai lahan produksi. Sekali lagi, rakyat Papua yang petani kecil akan diposisikan sebagai penonton di pinggiran saja. Dampak lain penggunaan lahan seluas itu tentu saja menunjukkan ketidakkonsistenan pemerintah menjalankan apa yang sudah disepakatinya sendiri saat KTT Perubahan Iklim berlangsung di Kopenhagen, Denmark, be- berapa waktu lalu. Pemerintah RI berjanji akan mereduksi emisi gas rumah kaca hingga 26 persen pada 2020.Target itu hanya akan terjadi apabila pemerintah mengurangi alih fungsi lahan sebesar 14 persen, manajemen sampah yang benar 6 persen, dan efisiensi energi 6 persen. Selanjutnya kita akan menyaksikan ­penebangan besar-besaran pohon hutan ­tropis dan ­menggantinya dengan tana- man satu jenis. Kekayaan alam berupa fauna dan hayati akan terancam keberadaannya. ­Pemerintah ­memandangnya berbeda: “Itu ­lahan kosong dan tidak terpakai. Jadi, per- gilah ke sana, lihatlah betapa luasnya lahan kosong itu,” kata Wakil Menteri Pertanian RI Bayu ­Krisnamurti. Gejala kebijakan seperti ini ­dinamai ­pemerintah ­sebagai perwujudan “iklim bisnis yang ­kondusif”. Iklim di mana:“kini pejabat negara bertindak sebagai “pengusaha” yang menjual kota, wilayah, dan apa (pun) yang bisa ­ditawarkan kepada investor ­global. Policy ­disebut sukses apabila ­pengusaha ­berdatangan melakukan investasi, dalam ­supermarket dan malls, sekolah dan rumah sakit internasional (dan juga hutan)”. Dan sampailah kita ke penyumbang terbesar karbon dioksida: pembakaran bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil terdiri dari minyak bumi, gas alam, dan batubara. Untuk keperluan pembahasan topik ini, kita mesti melebarkan diskusi kita betapa perusahaan-perusahaan besar lintasnegara (perusahaan transnasional: selanjutnya disingkat PTN) memainkan peran maksimal memanaskan suhu bumi. Lantas, kampanye-kampanye raksasa mereka yang “memaksa” kita betapa mereka seolah-olah bertindak sebagai penyelamat bumi harus kita artikansebagaipenggunaantopeng­kamuflase hijau semata. Penggunaan bahan bakar fosil melonjak naik saat revolusi industri abad ke-18 ­meletus. Saat itu batubara menjadi sumber energi ­dominan. Pertengahan abad ke-19 minyak bumi ­menggeser posisi batubara. Abad ke- 20 ­penggunaan gas diperkenalkan. Pasca ­penemuan mesin uap, industri ­berkembang laiknya jamur di musim hujan. Dan kini, ­kegiatan-kegiatan PTN menghasilkan 50 persen ­lebih dari semua gas rumah kaca yang ­dikeluarkan oleh seluruh sektor industri. “Kita”menggalilebihdarienammiliarton­bahan bakar fosil yang menghasilkan gas ­rumah kaca terbanyak dari bumi setiap ­tahunnya. Dari ketiga bahan bakar fosil itu, batubara ­berbiaya paling rendah, harganya murah, berjumlah banyak, dan yang paling kotor dibandingkan koleganya. Kabar buruk kita terima dari negeri Tiongkok. Cina berencana membangun 762 pembangkit listrik tenaga batu bara. Efek yang dihasilkan bagi ­lingkungan dari ­pembakaran 2,5 miliar ton batubara setiap tahun sangat ­serius dan luas cakupannya. Kualitas udara yang buruk mengakibatkan sekitar 400.000 ­kematian premature setiap tahun di Cina. Dan kemungkinan besar negeri Tirai Bambu ini telah mengalahkan Amerika Serikat sebagai penghasil CO2 terbesar di dunia. Di perkotaan, kendaraan motor bertanggung jawab atas 90 persen polusi udara. Tahun 1970, jumlah kendaraan bermotor sekurangnya 200 juta kendaraan. Tahun 2006 lebih dari 860 juta. Dan di Amerika Serikat saja, 1,4 miliar bensin dikonsumsi setiap hari tahun 2004. Inilah akibat dari penggunaan bahan bakar
  25. 25. 27 fosil: emisi partikel, SO2, NOx, dan CO2. Emisi ­partikel, SO2, dan NOx adalah bahan polutan yang berhubungan langsung dengan ­kesehatan ­manusia. SO2 menyebabkan problem ­saluran ­pernapasan; radang paru-paru menahun; ­hujan asam yang ­dapat merusak lingkungan danau, ­sungai, dan hutan; mengurangi jarak ­pandang. NOx ­menyebabkan sakit pada ­saluran ­pernapasan; ­hujan asam; dan ozon ­menipis yang ­mengakibatkan kerusakan ­hutan. Par- tikel/debu mengakibatkakn iritasi pada mata dan ­tenggorokan; bronkitis dan ­kerusakan ­saluran pernapasan; dan mengganggu jarak ­pandang. Emisi CO2 merupakan sumber ­terbesar yang ­bertanggung jawab terhadap terjadinya ­pemanasan global dan kerusakan ekosistem. Emisi CO2 tidak berhubungan langsung dengan kesehatan. Pada tahun 1995 total emisi CO2 sebesar 156 juta 6 ton per tahun dan meningkat menjadi 1.077 juta ton per tahun pada tahun 2025 atau ­meningkat rata-rata sebesar 6,6 % per tahun dalam kurun waktu 30 tahun. BerdasarkanWorld Development Report 1998/99 dari Bank Dunia, total emisi CO2 dunia pada tahun 1995, baik berasal dari peng- gunaan energi maupun dari sumber lain sebesar 22.700 juta ton. Negara yang mempunyai emisi CO2 terbesar adalah Amerika Serikat yaitu sebesar 5.468 juta ton atau sebesar 24,1 % dari total emisi CO2 dunia, sedangkan Indonesia ­mempunyai emisi sebesar 296 juta ton atau ­sebesar 1,3 % dari total emisi CO2 dunia. Pertobatan ekologis Lantas, setelah begini, langkah kita jejakkan ke sebelah mana? Di mana gereja ­menempatkan posisinya? Atau pertanyaannya ­barangkali boleh diubah: bagaimana kesiapan gereja ­menghadapi arus deras perusakan lingkungan tersebut? ­Deretan pertanyaan itu mengingatkan kita ­dengan kelahiran teologi pembebasan di Amerika Latin yang gaungnya juga kedengaran di ­Indonesia. Amerika Serikat dan Eropa Barat ­teramat kuatir paham ­komunisme menjamur di ­dunia ketiga. ­Berbagai cara yang ­mereka lakukan ­menghempang ­penyebaran ­paham yang ­bersebarangan ­dengan ­paham ­kapitalisme itu kita kenal ­dengan Perang ­Dingin. Amerika dan ­sekutunya ­menelurkan istilah ­“pembangunan” ­(developmentalism). Penerapan ­paham ini di lapangan: aliran kenikmatan luar biasa dirasakan rezim-rezim korup dengan ­bantuan persenjataan dan dana-dana segar. Tentulah rakyat tidak men- dapat apa-apa selain “menikmati” asiknya negara memperkaya diri sembari memiskinkan rakyat. Dan senjata-senjata itu terarah langsung ke wajah rakyat saat ­mereka ­mencoba berdiri berseberan- gan. Penolakan ­dengan kondisi inilah yang mel- ahirkan istilah “pembebasan” itu. Demikianlah, gereja ­bangkit menggaungkan suara kenabian menentang ­kezoliman ini. Teologi pembebasan diracik dari perpaduan apik iman Kristen dengan Marxisme. Di Indonesia kita mengenal Romo ­Mangunwijaya yang dengan istilah berbeda, teologi pemerdekaan, mengaktualisasikan nalar dan pikiran selaku instrumen pertanggungjawaban sikap manusia beriman terhadap diri sendiri, ­sesama manusia, dan Tuhan. Mengacu ke teologi pembebasan di Ameri- ka Latin, Romo Mangun mengartikan teologi pemerdekaan ke dalam dua hal. Pertama, pen- emuan bahwa, teologi, apalagi gereja, pada haki- katnya bukanlah kumpulan dogma-dogma yang abstrak, tetapi sistematisasi sikap serta peristiwa konkret, kontekstual. Karena itu ia harus selalu diuji dan ditinjau kembali di dalam dan oleh pen- galaman serta penghayatan peristiwa-peristiwa dunia, bangsa, maupun perorangan. Kedua, bah- wa teologi pemerdekaan pun bukan segugusan tesis-tesis abstrak yang tugas pertamanya harus dikuliahkan, melainkan sesuatu yang dikerjakan, dalam suatu perjalanan praktis konkret dalam ­dialog dan proses meremajakan diri dengan fakta dan data-data; sekaligus suatu sumbangan hidup demi sejarah pemerdekaan manusia yang ­tertindas dan terbelenggu. Gereja-gereja ditantang. Ijinkan saya ­menghaturkan ini: terima tantangan itu. Semua data-data di atas, dan semua data-data yang ­belum tercatum tentang betapa planet yang kita tempati ini sudah begitu rusak, mestilah ­menjadi pengetahuan wajib setiap anggota jemaat. ­Tantangan ini ditujukan bukan hanya semata ke geraja secara institusional, melainkan wujud mendasar dari pertanggungjawaban iman. Gereja tidak terpisah dari semua proses itu. Proses penghancuran terjadi kasat mata. Gereja melihat. Gereja mendengar. Gereja mengalami sendiri bagaimana kekuatan-kekuatan itu menjajah kehidupan di bumi. Orang Kristen tidak hidup dalam komunitasnya sendiri. Juga tidak hidup hanya untuk kepentingan komunitasnya sendiri, tetapi hidup bersama dan punya kepentingan dengan yang lain. Mata air di lembah sudah lama kering. Gunung- gunung tak lagi dikitari aliran air kehidupan. ­Binatang-binatang di padang sudah lama punah. Siulan burung merdu di pepohonan di antara daun-daun sudah lama tidak bersenandung bersahut-sahutan. Dengan demikian, diskusi ini menemukan kembali awal baru memulai sebuah pembicaraan serius dan kemudian melanjutkan perjalanannya: tindakan apa semestinya dilakoni menyelamatkan bumi?
  26. 26. 28
  27. 27. 29 LAPO AKSARA Ananta Bangun anantabangun.com Redaktur Tulis di ­Lentera News 29 KAPAK PENEBANG POHON S eorang pria bertenaga kuat, pada satu hari, melamar pekerjaan di Usaha Perkayuan. Kepada si Pemilik usaha itu, ia memohon diterima sebagai penebang kayu. Menilik postur tubuh dan ototnya yang besar si pemilik usaha itu pun coba menguji pria tersebut. Sesuai posisinya, ia diuji berapa banyak pohon yang mampu ditebangnya dalam satu hari itu. Hasilnya memuaskan. Pria tersebut dapat menebang sebanyak 20 pohon dalam satu hari itu. Pemilik Usaha ­Perkayuan pun menerimanya, dan dapat mulai bekerja mulai esok hari. Pada lima hari pertama bekerja, tak ada yang berubah dari hasil kerja pria tersebut. Dengan bersemangat, ia kerap mampu menebang 20 pohon dalam satu hari. Keanehan terjadi di hari ke-6, hanya 19 pohon yang mampu ia tebas. ­VHatinya pun sedikit gusar. Perasaan heran dan gelisahnya semakin hari semakin ­membubung. Tatkala cuma 15 pohon yang dapat ditebangnya pada hari ­ke-10.“Ada apa dengan diriku?”Ia ­bertanya dalam hati. Pada akhirnya sang penebang ­tersebut tak kuasa menahan jengkel di hari ­ke-20. Musababnya, pada satu hari itu ia cuma menebang 2 pohon saja. Sembari ­menahan malu, ia kemudian ­mengadukan permasalahannya itu ­kepada si Pemilik Usaha Perkayuan. Perihal penurunan kinerjanya selama 20 hari tersebut. Sang Pemilik usaha pun menjawab anak buahnya dengan bertanya:“Apakah selama 20 hari tersebut, kamu pernah mengasah kapakmu?” “Tidak, Pak. Karena saya sungguh sibuk untuk bekerja memenuhi target, ­menebang banyak pohon,”aku pria itu. “Nah. Ini lah yang menjadi akar masalahmu. Kegigihan dalam bek- erja tak dibarengi perhatian pada alat yang menopang pekerjaanmu,” terang si ­Pemilik.“Tentu mustahil engkau ­mencapai targetmu, jika hanya ­mengandalkan tenaga fisikmu saja.” Kisah di atas bukanlah ihwal baru dalam perjalanan hidup kita. Namun, kerap saja kita terlupa bahwa setiap profesi yang kita tekuni membutuhkan ‘perkakas khusus’. Bila penebang pohon ­mengandalkan pohon, maka petani juga memberdayakan cangkul. Pun nelayan, polisi dan rupa profesi lainnya. Bagaimana dengan profesi yang ­mengandalkan kecerdasan semata. ­Terlebih bagi sosok pemimpin bagi banyak insan. Dengan apakah kita mengasahnya? Boleh jadi fikiran kita lalu mencuat pada kisah silam di Alkitab. Yakni ketika Raja Salomo memohon hikmat kebijaksanaan dari Allah; ­alih­-alih meminta kekayaan berlimpah. Maka Allah pun menjawab permohonan putra Daud itu:“Oleh karena itu yang kauingini dan engkau tidak meminta kekayaan, harta benda, kemuliaan atau nyawa pembencimu, dan juga tidak mem- inta umur panjang, tetapi sebaliknya eng- kau meminta kebijaksanaan dan penger- tian untuk dapat menghakimi umat-Ku yang atasnya Aku telah ­merajakan engkau, maka kebijaksanaan dan penger- tian itu diberikan kepadamu ; selain itu Aku berikan kepadamu ­kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sebagaimana belum pernah ada pada raja-raja sebelum engkau dan tidak akan ada t pada raja- raja sesudah engkau.”(2 Tawarikh 1:8-12). Marilah kita tetap‘mengasah’hati dan ‘perkakas’kita dengan tekun, rendah hati dan penuh syukur yang selalu ­ditengadahkan bagi-Nya.

×