Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
Lentera news -edJanuari2016|1
Lentera newss m a r t | b e r i m a n | i n s p i r a t i f
LGBT?
Lentera news -edJanuari2016|2
DAFTARISI
Lentera news
Edisi#22Maret2016
SapaanRedaksi 3
TelisikPemred
LenteraUtama
4
7
Lent...
3|Lentera news -edJanuari2016
Salam sejahtera!
Sahabat pembaca majalah Lentera
news, beberapa saat lalu dunia maya
sungguh...
Lentera news -edJanuari2016|4
TelisikPemred
H
omo Homoni Lupus,
manusia ­menjadi
serigala bagi ­manusia
yang lain. Serigal...
5|Lentera news -edJanuari2016
menguasai orang goblok, bung-
kuslah perkara-perkara busuk
dengan baju agama.” Lahirianya
so...
Lentera news -edJanuari2016|6
Jeda
7|Lentera news -edJanuari2016
A
khir-akhir ini kontro-
versi di negara kita tentang
masalah homoseksualitas
dan isu seputa...
Lentera news -edJanuari2016|8
seseorang dihormati selama ia
tidak melanggar hukum. Moralitas
pribadi bukan wewenang aparat...
9|Lentera news -edJanuari2016
tinggi dapat diharapkan bahwa
ia bisa membedakan antara
­wawasan tingkat taman kanak-
kanak ...
Lentera news -edJanuari2016|10
KENAPADILAMBANGKAN
DENGANPINTUSUCI?
S
ekilas memang tidak ada
yang spesial dari Pintu
Suci....
11|Lentera news -edJanuari2016
Dia turun ke Dunia dan mengambil
rupa manusia, yang kita kenal ­dengan
nama Yesus Kristus. ...
Lentera news -edJanuari2016|12
P
erserikatan Bangsa-
Bangsa (PBB) ­merayakan
tahun 1986 ­sebagai
­“Tahun Perdamaian”. Sant...
13|Lentera news -edJanuari2016
doa: berdoa merupakan satu
­bentuk aktivitas untuk memenuhi
­kebutuhan rohani.
• Sebagai ma...
Lentera news -edJanuari2016|14
Sekali waktu ada ‘kerikil kecil’
­menjungkir balikkan kita. Terutama
tentang pemikiran terh...
15|Lentera news -edJanuari2016
“Rina…! Rina, bangun ! Sudah siang
ini loh.. Ayo bangun Nak, nanti kamu
telat ke kampus .” ...
Lentera news -edJanuari2016|16
Mama Rina adalah single parent ka-
rena papanya telah meninggal dalam
suatu kecelakaan seta...
17|Lentera news -edJanuari2016
SARASEHAN NASIONAL
SIGNIS INDONESIA
PPS Cinta Alam - Medan | 13 - 18 Februari 2016
mengucap...
Lentera news -edJanuari2016|18
LapoAksara
Ananta Bangun
Redaktur Tulis
P
ernahkah Yesus menulis?
Demikian menggelayut tany...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Lentera news ed. #22 Maret 2016

majalah online Lentera News adalah media di bawah naungan Komisi Komsos KAM.

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Lentera news ed. #22 Maret 2016

  1. 1. Lentera news -edJanuari2016|1 Lentera newss m a r t | b e r i m a n | i n s p i r a t i f LGBT?
  2. 2. Lentera news -edJanuari2016|2 DAFTARISI Lentera news Edisi#22Maret2016 SapaanRedaksi 3 TelisikPemred LenteraUtama 4 7 LenteraIman LenteraRefleksi ResensiBuku Sastra LapoAksara 10 12 14 15 18 Credit ilustrasi cover : ­ http://www.warrenphotographic.co.uk/39551-white-japanese- spitz-dog-hiding-face-in-shame
  3. 3. 3|Lentera news -edJanuari2016 Salam sejahtera! Sahabat pembaca majalah Lentera news, beberapa saat lalu dunia maya sungguhbisingmengenai­argumentasi LGBT. Mengapa bising? Sebab banyaknya adu pendapat mengenai kelompok insan di bawah komunitas bersimbol pelangi tersebut. Sungguh memprihatinkan, debat berlarut-larut tersebut banyak dije- jali tanggapan yang kurang bernas. Terutama lemahnya kajian mendalam untuk memahami konteks permasala- han. SapaanRedaksi Wadah diskusi pun bagai ruang ­pemantul gaung argumentasi masing- masing pihak. Semua menulis. Bersu- ara. Tanpa ada mendengar. Tantangan mendasar dalam ­kegaduhan ini adalah mudahnya kita diseret membahas LGBT ke dalam ranah kebencian. Dengan mengelom- pokkan, bahkan menyisihkan insan dipandang berbeda. Meskipun demikian, jangan lah ter- lupa memiliki pijakan. Bagai mem- bangun rumah di atas dasar batu, bukannya pasir. Hendaknya pilihan hidupsebagaisiapakita,bukankarena ikut atau malu menentang arus besar (main stream). Siapakah sejatinya saya, kita? Umat Kristiani tentu mendapat ­pijakannya dari Alkitab. Bahwanya Allah menciptakan manusia seturut rupa-Nya. Semenjaklahir,kitatelah­ditetapkan Sang Pencipta. Masihkah ada ruang gemas dalam relung hati bahwa diri ini belum menemukan sisi sejati-nya? Sahabat pembaca Lentera news, Edisi Lentera news bulan ini, mengetengahkan isu tersebut. Sila lirik tulisan Romo Magnis perihal LGBT, dan bagaimana hendaknya kita memandang. Kami senang pula bahwa ­majalah kesayangan kita ini dapat hadir ­kembali ke tengah anda. ­Melahirkan gagasan yang smart, beriman & ­inspiratif! Shalom, Redaksi
  4. 4. Lentera news -edJanuari2016|4 TelisikPemred H omo Homoni Lupus, manusia ­menjadi serigala bagi ­manusia yang lain. Serigala, hewani, ­menerkam, menggigit, dan mencabik-cabik. Saling ­menghabiskan dan ­membunuh. Dunia hewani. Apapun ­motivasinya, kalau hal ini dilakukan manusia, tak bisa dibenarkan dengan akal dan budi yang sehat. Eksistensi manusia dan serigala berbeda. Serigala, tok animal. Manusia animal yang berratione. Apalagi motivasi membunuh sesamanya demi mencari ticket ke Surga, seperti yang lagi mode sekarang dengan bom bunuh diri. Manusia yang membunuh diri dan membunuh orang lain, aspek kemanusiaanya nihil, bahkan derajatnya lebih rendah dari pada hewan, karena Co Jito Ego Sum- nya, ga main. Dia melalakukan tanpa berpikir.....kosong, bak robot yang dikendalikan dengan ree- moot, atau wayang yang didalangi oleh Ki Dalang-nya. Dia yang berjalan itu, hanyalah seonggok daging mentah tanpa jiwa, dan kemudiaan menjadi jazad angus, yang tercabik-cabik bersama jazad manusia yang tak berdosa lainnya. Wong jiwanya ga ada ko, yang berjalan itukan hanya seongggok daging menta. Siapa yang masuk surga dengan jazadnya? Jiwanya diperalat, mengembara tak menentu, tanpa tujuan. Gentayangan bak hantu di siang bolong. Pikiran logis justru dia menghantar jiwa-jiwa manu- sia-manusia lain ke surga, karena mereka yang meninggal ulahnya adalah manusia utuh. Kekerasan sedang ­menandakan hilangnya sebuah ­peradaban, ­sehingga biadab menjadi ­dominasi. Masih berada dalam jaman jahiliah atau ­kebodohan. Ada banyak faktor yang ­menjadi pemicu, misalnya Faktor ekono- mi, sosial, kemasyarakatan, bahkan politik. Apapun alasan yang bersifat ekstern alias faktor luar, tak akan terjadi bunuh diri dan membunuh orang, kalau ada pemaknaan dan penghayatan akan hidup ini di bumi ini sebagai sebuah anugerah Allah. Agama-agama monoteisme, dan agama-agama asli sangat menghargai hidup kehidupan ini, bahkan hidup ini harus berdaya dan berarti bagi diri dan bagi orang lain. Relasi, sahabat, bermasyarakat, dialog, meru- apakan aspek-aspek sosial yang mendukung pemaknaan dan penghayatan akan hidup yang berimplikasi pada iman dan dokma(ajaran) agama. Dan hal ini ditegaskan melalui doa dan tafakur yang tak lain merupakan ungkapan berelasi dengan Allah dengan sesama. Agama selalu membuka wawasan dan perpekstif hidup ke depan yang lebih baik, baik di bumi maupun kelak beralih dari bumi ini, dalam kaitan manusia sebagai mahluk sosial Homo So- cius. Agama berurusan dengan ke- baikan di dunia nyata dan akhirat. Menarik apa yang ­diungkapkan oleh Ahmad Sahal@sahal_As dalam media sosial:“Jika mau SEONGGOK DAGINGMENTAH RP Hubertus Lidi OSC Ketua Komsos KAM
  5. 5. 5|Lentera news -edJanuari2016 menguasai orang goblok, bung- kuslah perkara-perkara busuk dengan baju agama.” Lahirianya sopan, saleh dan soleha, tapi itu sebenarnya ekspresi minder. Taat beribadah tapi sasaran puja-pu- jinya setan. Seyogianya kekerasan itu asosial. Terungkap bahwa orang- orang semacam ini, relasi sosial dengan sesamanya;kurang per- gaulan alias kuper tetangganya aja ga kenal, bahkan istri dan anak- anaknya sendiri tak kenal. Pintu rumanya selalau tertutup. Duni- anya ‘terbatas dan gelap.’ Ting- kat kecurigan terhadap sesama manusia tinggi, bahkan mencuri- gai bayang-bayangnya sendiri. Hal itu sebagai ­ungkapan ketidak tenangan atau ­ketaknyamannya atas hidup ini. Tak nyaman, maka ia mencari jalan pintas, yang men- urutnya ke Surga dengan mem- bunuh diri dan orang lain. Asosial itu musuh kehidupan, karena memang manusia pada dasarnya makluk sosial, alias homo socius atau dibahasakan dalam perspek- tif negatio: No man is a land. Surga itu kebahagiaan dan kedamaian yang telah mengalami proses sem- purna bersama jiwa-jiwa damai, jadi mustahil orang bunuh diri dengan bom, nimbrung disana. Tempatnya yang pantas buat dia sang sahabat kekerasan itu, adalah neraka jahanam, biar den- damnya terus membara bersama baranya api neraka yang tak akan kunjung padam itu. Sang sahabat kekerasan itu....bu- kanlah manusia. Harga sosialnya sangat murah, sehingga bisa di- beli, dikibuli dengan harga janjian surga. Kasihan banget ibu yang melahirkannya, dan bapaknya yang menaburkan beni sperman- ya itu. Toh hasilnya hanya seong- gok daging menta, mati sia-sia! Credit ilustrasi: ­www.myfamilylaw.net
  6. 6. Lentera news -edJanuari2016|6 Jeda
  7. 7. 7|Lentera news -edJanuari2016 A khir-akhir ini kontro- versi di negara kita tentang masalah homoseksualitas dan isu seputar LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transjender) meng- hangat. Yang mengejutkan adalah penggunaan bahasa yang keras dan ancaman tersembunyi dalam banyak pernyataan. Amat perlu kontroversi ini disikapi sesuai dengan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab. Untuk itu, sebaiknya kita mem- bedakan tiga hal: fakta, sikap ter- hadap fakta itu, dan opsi kerangka hukum. Homoseksualitas dimaksud se- bagai ketertarikan seksual kepada orang yang sama jenisnya dan bu- kan yang lawan jenis, jadi laki-laki tertarik pada laki-laki dan bukan pada perempuan, dan perempuan tertarik pada perempuan. Pada 26 tahun lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mencoret homoseksualitas dari daftar penyakit mental. Kecend- erungan homoseks (selanjutnya: homo), tidak dipilih, tetapi dialami oleh yang bersangkutan. Homoseksualitas adalah kecend- erungan alami, ditemukan juga di antara binatang, dan kalau orang-seperti penulis ini-percaya bahwa alam diciptakan, maka homoseksualitas juga tidak di luar penciptaan. Kecuali dalam orien- tasi insting seksual ada perbedaan dengan orang lain. Mereka sama baik atau buruk, sama cakap atau tidak. Karena itu, mau “menyem- buhkan” atau “membina” ke jalan yang benar mereka yang berke- cenderungan alami adalah tidak masuk akal. MENYIKAPI FAKTA Bagaimana menyikapi fakta itu? Pertama, kita harus ­berhenti ­menstigmatisasi dan ­mendiskriminasi mereka. Orientasi seksual tidak relevan dalam kebanyakan ­transaksi kehidupan. Sebaiknya kita ingat: menghina orang karena ­kecenderungan seksualnya berarti menghina Dia yang ­menciptakan kecenderungan itu. Kedua, orang berkecenderungan homo ­memiliki hak-hak kemanusiaan dan ­kewarganegaraan yang sama ­dengan orang ­heteroseksual. Sebab, negara wajib ­melindungi segenap tumpah darah ­bangsa, maka negara wajib berat ­melindungi mereka. Ketiga, hak mereka untuk ber- sama- sama membicarakan kepri- hatinan mereka harus dihormati. Hak konstitusional mereka untuk berkumpul dan menyatakan pendapat mereka wajib dilindungi negara. Amat memalukan kalau polisi kita bisa didikte kelom- pok-kelompok tertentu. Orang- orang itulah yang menyebarkan ­intoleransi dan kebencian dalam masyarakat. Keempat, tahun 1945 bangsa ­Indonesia memilih menjadi ­ negara hukum, bukan negara agama dan bukan negara adat- istiadat. Dan itu berarti otonomi PerkawinanSejenisTak Berdasar Franz Magnis-Suseno Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara LenteraUtama
  8. 8. Lentera news -edJanuari2016|8 seseorang dihormati selama ia tidak melanggar hukum. Moralitas pribadi bukan wewenang aparat, suatu prinsip yang amat penting dalam masyarakat majemuk. Apa yang dilakukan dua orang dewasa atas kemauan mereka sendiri di kamar tidur seharusnya bukan urusan negara. Namun, kelima: empat butir di atas tidak berimplikasi bahwa ­kecenderungan homo sama kedudukannya dengan ­kecenderungan hetero. Dalam masyarakat kita-sampai 50 tahun lalu di seluruh dunia-­ kecenderungan homo oleh ­kebanyakan warga dianggap tidak biasa. Dan, tidak tanpa alasan. Seksualitas ­berkembang selama evolusi demi untuk ­menjamin keturunan, tetapi untuk ­mendapatkan keturunan yang perlu bersatu (dan karena itu saling merasa tertarik) adalah laki-laki dan perempuan. Dalam arti itu heteroseksualitas bisa disebut normal. Homoseksualitas juga produk alam, tetapi produk sampingan. KERANGKA HUKUM Pertanyaan tentang kerangka hukum adalah pertanyaan apakah tuntutan legalisasi perkawinan antara dua orang sejenis-seperti sudah banyak terjadi di negara- negara Barat-sebaiknya dipenuhi? Mari kita kesampingkan per- timbangan atas dasar agama (yang tentu saja juga sah). Mari kita bertanya: mengapa semua masyarakat di dunia - sampai 20 tahun lalu - tidak ­pernah ­menyamakan kedudukan ­pasangan sejenis dengan ­kedudukan pasangan laki-laki dan perempuan? Jawabannya jelas: evolusi mengajarkan bahwa sp- Betapa pun pasangan homo mencintai anak angkat mereka, tetapi ­menjadi besar dalam “keluarga” dua ayah atau dua ibu bisa me- nyebabkan gangguan dalam perkembangan kesosialan anak ­tersebut esies yang tidak memberi ­prioritas tertinggi pada penjaminan ketu- runannya akan punah. Umat manusia sejak ribuan tahun memberikan ­perlindungan khusus terhadap persatuan intim laki-laki dan perempuan karena berkepentingan vital akan ­keturunannya. ­Tambahan pula, agar bayi bisa menjadi orang ­dewasa yang utuh, dia ­memerlukan suatu ruang ­sosial terlindung selama sekitar 20 tahun pertama hidupnya, ­dengan acuan baik pada manusia laki-laki maupun pada manusia ­perempuan. Ruang sosial itulah keluarga. Karena alasan yang sama, ­harapan banyak pasangan homo agar diizinkan mengadopsi anak sebaiknya tidak dipenuhi. Betapa pun pasangan homo mencin- tai anak angkat mereka, tetapi ­menjadi besar dalam “keluarga” dua ayah atau dua ibu bisa menyebabkan gangguan dalam perkembangan kesosialan anak tersebut. Oleh karena itu, masyarakat amat ­berkepentingan terhadap ­keluarga ­dengan ayah dan ibu, tetapi tidak ­berkepentingan terhadap persatuan dua ­manusia sejenis. Oleh karena itu pula, ­tuntutan penyamaan ­kedudukan legal pasangan sejenis ­dengan yang berbeda jenis tidak ­mempunyai dasar. Perkenankan saya mencoba ­menarik beberapa ­kesimpulan. Yang pertama, kita mesti menyepakati bahwa segala ­diskriminasi terhadap mereka yang homo harus diakhiri. ­Orientasi seksual tidak ­relevan untuk kebanyakan bidang ­kehidupan. Dari seorang pejabat “ LGBT via johnlewis.house.gov
  9. 9. 9|Lentera news -edJanuari2016 tinggi dapat diharapkan bahwa ia bisa membedakan antara ­wawasan tingkat taman kanak- kanak dan wawasan universitas. Justru universitaslah tempat di mana diskursus kompeten dan terbuka terhadap imp- likasi perbedaan orientasi sek- sual harus dibicarakan. Para ­rektor ­universitas wajib berat ­menjamin kebebasan akademik. Dari mereka yang berorientasi homo ­diharapkan realisme dan ­kesediaan untuk menerima bahwa perbedaan dalam ­orientasi ­seksual membuat mereka juga ­berbeda. Mendesakkan ­penyamaan perkawinan antar-se- jenis dengan perkawinan tradi- sional hanya akan memperkuat prasangka-prasangka. Dorongan untuk coming out bisa tidak kondusif. Pengakuan sosial akan memerlukan kesabaran. Sudah waktunya kita menjadi dewasa secara etis dan intelektual. * Artikel ini terbit di Harian ­Kompas ed. 23 Februari 2016 Jeda
  10. 10. Lentera news -edJanuari2016|10 KENAPADILAMBANGKAN DENGANPINTUSUCI? S ekilas memang tidak ada yang spesial dari Pintu Suci. Sama seperti pintu- pintu gereja yang lain, Pintu Suci ­menghubungkan antara bagian luar dan dalam gereja. Secara fisik yang membedakan adalah Pintu Suci memiliki ukiran-ukiran khas yang berupa gambar-gambar ­sejarah ­keselamatan umat manusia, atau gambar Yesus, Maria, dan Para ­Kudus, ­biasanya disertai lambang keuskupan/kepausan. Kemudian apa yang membuat Pintu Suci ini ­begitu spesial? Secara simbolis, Pintu Suci ­menggambarkan Yesus Kris- tus ­sendiri. Ingatkah saat Yesus ­mengatakan ­kepada murid-murid- Nya bahwa Dialah “Sang Pintu” menuju Bapa? Dalam Yoh 10:9 Yesus bersabda, “Akulah PINTU; barang- siapa masuk melalui Aku, ia akan se- lamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput”. Padang rumput di sini digambarkan ­sebagai Surga atau sebagai Allah Bapa, sumber segala ­keselamatan. Ayat ini mengingatkan kita akan sabda Yesus dalam Yoh 14:16, yaitu, “Akulah JALAN, dan KEBENARAN, dan KEHIDUPAN. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Pintu Suci juga melambangkan ‘pintu’ Kerahiman Allah yang selalu terbuka bagi seluruh umat manusia. Kenapa demikian? Sebab kita adalah manusia yang fana, rapuh, dan mudah jatuh dalam dosa. Tanpa berkat dan bimbingan-Nya, tanpa kerahiman- Nya yang menyelamatkan, kita pasti tak berdaya melawan Iblis yang selalu mencoba menjerumuskan kita pada dosa dan maut. Sepanjang sejarah ­keselamatan umat manusia, Allah selalu ­menolong manusia untuk selamat dan ­terhindar dari segala dosa ­karena Allah ­begitu mencintai kita dan tidak mau kita ­mengalami ­penderitaan kekal di Neraka. Maka dari itu, ­melalui ­kerahiman-Nya yang tidak dapat kita selami secara nalar ­manusia, Dia ­mengutus para nabi untuk ­menunjukkan jalan keselamatan, pertama-tama kepada bangsa Israel, bangsa pilihan-Nya. Hingga kemudian Benediktus Diptyarsa Janardana Mahasiswa Psikologi di Universitas Negeri Malang LenteraIman (credit foto: http://monroenews.com)
  11. 11. 11|Lentera news -edJanuari2016 Dia turun ke Dunia dan mengambil rupa manusia, yang kita kenal ­dengan nama Yesus Kristus. Kedatangan- Nya ke Dunia menjadi penggenapan nubuat para nabi sekaligus bukti Cinta Kasih Allah yang luar biasa besar pada kita. Melalui Yesus lah, dosa-dosa kita ditebus dalam pengorbanan-Nya di Salib, dan di dalam nama Yesus lah, keselamatan umat manusia diperluas, tidak hanya bagi bangsa Israel, namun jugabagiseluruhDunia.Takheranjika Paus Fransiskus dalam Bulla Kepau- san “Misericordiae Vultus” menegas- kan Yesus sebagai wajah Kerahiman Bapa. Bukti Kerahiman Allah ini ­tergambar jelas dalam ­panel-panel logam yang terpasang di Pintu Suci Basilika St. Petrus, Vatikan, yang mana di sana ­terukir seluruh ­sejarah ­keselamatan umat manusia, ­mulai dari ­zaman Adam dan Hawa ­hingga ­kenaikan Yesus ke ­Surga. ­Selain ­sebagai ­Pintu Kerahiman, Pintu Suci juga ­digambarkan sebagai ­penghubung simbolis antara bagian luar gereja, yakni segala sesuatu yang bersifatduniawi,denganbagiandalam gereja, yakni segala sesuatu yang ber- sifat ­rohaniah dan adikodrati, tempat Allah sendiri bersemayam. Ketika Pintu Suci dibuka secara meriah, hal ini mau melambangkan rahmat dan kerahiman Allah yang terbuka dan mengalir memenuhi seluruh umat beriman. Ini lah yang mendasari pemberian INDULGENSI PENUH ­kepada semua orang yang me- lewati Pintu Suci. Melalui indulgensi, Allah mau mencurahkan kerahiman- Nya yang besar untuk menyembuh- kan luka-luka dan menghapuskan ­siksa-siksa dosa yang kita lakukan. Tentu saja supaya memperoleh indul- gensi (terutama indulgensi penuh), kita harus menerima Sakramen Tobat dan menyambut Sakramen Ekaristi, sebab indulgensi menghapus siksa- siksa dosa, bukan dosa nya sendiri. Selain itu, kita juga harus mendoakan intensi/ujud permohonan Bapa Suci yang tertera pada bulan kita akan ­menerima indulgensi. Nah,setiapkaliparapeziarahmasuk ke dalam basilika melalui Pintu Suci, mereka selalu diingatkan akan sabda Yesus, bahwa melalui Yesus lah kita dapat memperoleh Kerahiman-Nya yang terbuka setiap saat, sama sep- erti Pintu Suci yang dibiarkan terbuka selama 24 jam. Maka setiap mereka mau memasuki basilika melalui Pintu Suci, mereka berlutut di depan Pintu dan berdoa dalam iman dan syukur seraya memohon kerahiman, rahmat, dan berkat Allah yang melimpah bagi dirinya sendiri, keluarga, dan orang- orang di sekitar mereka. Sehabis itu, biasanya para peziarah akan mencium palang Pintu Suci yang telah diberi ukiran Salib ataupun ukiran yang ter- teradiPintuSucisebagaiwujuddevosi mereka yang mendalam pada Kerahi- man Allah, sekaligus sebuah harapan penuh iman bahwa kelak mereka akan diselamatkan dalam nama Kristus. (bersambung di edisi berikutnya)
  12. 12. Lentera news -edJanuari2016|12 P erserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) ­merayakan tahun 1986 ­sebagai ­“Tahun Perdamaian”. Santo ­Yohanes Paulus II (saat masih menjadi Paus) mengundang 150 wakil dari 12 agama ­besar didu- nia pada tanggal 27 ­Oktober 1986 untuk berkumpul di Kota Assisi, Italydanberdoabagi­perdamaian dunia. Mereka ­berdoa bagi ­terwujudnya “satu dunia damai tanpa perang”. Bunda Teresa dari Calcuta, ­India, setiap hari ­selalu berdoa begini: “Tuhan yang maha baik! ­Semoga aku melihat ­Engkauhariini,dalamdiriorang- orang-Muyangsakit.Semogaaku dapat ­melayani Engkau ketika aku ­melayani mereka”. Dua ilustrasi di atas sek- edar ditampilkan untuk mene- kankan betapa pentingnya doa dalam hidup manusia. Prof. J. Hu- izinga dalam bukunya berjudul: “Homo Ludens”, menjelaskan bahwa ­disamping sebagai homo ludens, manusia juga adalah homo ­laborans dan homo orans. Memang dari kodratnya, ­manusia adalah homo orans (dari kata ­orare), makhluk berdoa. Doa dan Kerja: Saling ­Melengkapi Manusia adalah ciptaan ­Tuhan yang telah terbingkai ­secara teratur sebagai makhluk yang ­paling menarik. Karena itu, hidup keseharian manusia ­adalah hidup untuk dan bersama ­dengan kegiatan atau ­aktivitas (kerja). Kegiatan atau aktivitas yang ­ dilakukan ­selalu ­menuntut kita untuk melaksanakan ­dengan penuh kesadaran dan ­penuh ­tanggung jawab. Dan kekuatan lainyang­memampukankita­untuk ­beraktivitas atau ­bekerja. Sebelum dan sesudah ­melaksanakan suatu kegiatan, harus dibingkai dengan aktus doa. Ora et Labora adalah ­pepatah klasikyangmasihmerdu­terdengar memotivasi kita agar kita perlu menempatkan doa dankerjaseba- gaibagianpokokuntukmenghidu- pi hidupnya. Di mana orang harus memasukidasar­kedalamansendi- ri dan ­kedalaman Allah ­supaya Al- lah benar-benar menampakkan diri kepada kita dalam segala ak- tivitas kita. Orang harus menggali dalam-dalam ­untuk menemukan ­sumber yang cukup melimpah un- tuk ­mengairi seluruh eksistensin- ya. Kedua ­dimensi ini: doa dan kerja ­selalu saling ­melengkapi. Semua ­tindakan manusia ­mencerminkan sebuah doa. Setiap orang menyandang dua sebutan akrab, antara lain: •Sebagai homo orans ­(manusia pendoa) dan homo laborans (manusia pekerja). • Sebagai makhluk pen- Margaretha Ayu Bawaulu Peminat Sajak, umat di Paroki Helvetia - Medan HOMOORAns: MAKHLUK (MAnUsIA)BERDOA LenteraRefleksi
  13. 13. 13|Lentera news -edJanuari2016 doa: berdoa merupakan satu ­bentuk aktivitas untuk memenuhi ­kebutuhan rohani. • Sebagai makhluk ­pekerja: bekerja merupakan satu ­bentuk aktivitas untuk memenuhi ­kebutuhan jasmaniah. Dari kedua bentuk aktivitas ini, kita pasti mempunyai target ­tertentu untuk mencapai ­sesuatu dan itu idealitas setiap orang. Doa dan kerja memang tampak ­sebagai dua hal yang berbeda, tetapi keduanya merupakan ­unsur yang tak terpisahkan, ­sehingga muncul semboyan: ora et ­labora (Latin), bete und ­arbeite ­(Jerman), berdoa dan bekerja. ­Bekerja tanpa berdoa adalah suatu kesombongan dan berdoa tanpa bekerja juga sia-sia. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang sukses dalam kerja danberhasilmengumpulkanharta di dunia, kaya raya tanpa didasari dengan hidup doa. Namun, perlu dipertanyakan apakah kekayaan itu didapatkan dengan cara yang halal? Atau dengan menghalalkan segala cara? Tidak mengherankan jika di zaman ini kita menyaksikan dari berbagai media bahwa orang sukses atau pejabat negara yang setiap harinya hidup dalam keme- wahan serba lux terpaksa meng- habiskan sisa hidupnya di balik jeruji penjara. Hal ini benar-benar menunjukkan bahwa kerja tanpa didasari dengan doa sehingga kes- erakahan membawanya ke situasi maut. Suatukebiasaanyangsalahjika berdoa saja untuk ­mengharapkan berkat turun ­dicurahkan dari ­langit lewat serangkaian mukjizat ­spektakuler setiap saat, tan- pa melakukan apa pun untuk mendapatkan berkat itu, selain hanya berdoa siang dan malam. Atau, ­sebaliknya, hanya beker- ja terus dari pagi sampai larut malam tanpa ­memperhatikan hidup ­rohaninya. Hanya fokus dalam bekerja atau meniti karier tanpa menjaga sisi rohani akan ­mengarahkan orang ke dalam keangkuhan,cintaharta,­mengejar takhta, dan berbagai hal buruk lainnya. Itulah sebabnya perlu menjagakeseimbanganantaradoa dan kerja sehingga tidak terjadi ketimpangan. Doa dan kerja harus balance, fifty fifty. Sebagai ilustrasi: bisakah Anda mengendarai sepeda motor ­sebelum melatih keseimbangan? Bisa dijamin Anda akan terjatuh jika tidak tahu bagaimana agar bisa berada seimbang di atasnya. Doa dan kerja juga merupakan ­sebuah keseimbangan yang dalam banyak hal sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Sebagai homo orans ­(manusia pendoa) dan homo laborans ­(manusia pekerja), kita perlu menyeimbangkan kedua hal ­tersebut sehingga tidak ­terjadi ketimpangan. Banyak orang yang selama masa jayanya dan masa keemasannya di dunia, tidak menghiraukan Tuhan, tidak ­beribadah,tidakbersyukur­kepada Tuhannya, tidak berdoa mohon berkat dalam karya serta mohon pengampunan atas dosa, tetapi ketika berada dalam masa-masa sulit, masa kritis, masa ketakber- dayaan, baru ingat Tuhannya dan berdoa. Apakah ini bukan sikap orang-orang munafik? Tentunya ini adalah urusan privat setiap manusia dengan penciptanya, tetapi bahwa mengabaikan doa atau ibadah ­kepada Tuhan, ­berarti manusia telah mengingkari diri sebagai makhluk rohani dan makhluk berdoa? (bersambung di edisi berikutnya) Ingin membaca artikel inspiratif di atas secara lengkap? Sila beli dari Tokopedia!!! Ketikkan judul buku: “manusia mahluk beratribut” di kotak ­pencarian. Lalu, klik tombol ‘beli’.
  14. 14. Lentera news -edJanuari2016|14 Sekali waktu ada ‘kerikil kecil’ ­menjungkir balikkan kita. Terutama tentang pemikiran terhadap satu hal yang lama dianggap lazim. Malcolm Gladwell, jurnalis The New Yorker, menggelindingkan ‘kerikil’ tersebut dalam satu buku. Setelah What the Dog Saw dan Out- liers, Gladwell seperti tak kehabisan isu menarik untuk diselidiki dan ditulis ke dalam buku. Jurnalis yang dijuluki ‘detektif akan hal-hal tak lazim’ tersebut, mengakui sendiri awalnya tergelincir tentang ihwal lazim -- yang kemudian menjadi judul utama buku tersebut: David and Goliath. Adagium dua tokoh besar tersebut memang telah lama menjadi perump- aaman guna membanding situasi jomplang. Lemah vs Kuat. Kecil vs Besar. Temuan Gladwell dari sisi historis hingga kalangan medis, ternyata mendapati sebaliknya. Betapa si Daud merupakan sosok lebih digdaya dari si Goliath. Gladwell kemudian mencari ­inspirasi-inspirasi dari insan lain. Sebagaimana Daud vs Goliath. Bagaimana mungkin? Apa saja yang dipaparkan sehingga Gladwell menentang kelaziman yang lama mengurat ini? Temukan dan bersiaplah terjungkir oleh ‘kerikil’ dalam buku bersampul putih dan coklat ini. [Ananta Bangun] ResensiBuku Terjungkirbalik olehtemuanGladwell
  15. 15. 15|Lentera news -edJanuari2016 “Rina…! Rina, bangun ! Sudah siang ini loh.. Ayo bangun Nak, nanti kamu telat ke kampus .” Bagai suara peluit kereta api yang mendengung ke se- luruh stasiun. Mimpi manis di dalam khayal Rina buyar seketika menden- gar suara Mama. Dengan kelopak mata yang masih redup, dari sudut tempat tidur Rina melihat mama merapikan bajunya yang berantakan di samping lemari. “Santai ajalah ma.. hari ini kuliahnya Pak James. Pak James kan jarang mas- uk. Jadi enggak usah deh buru-buru kalau enggak jelas”, ketus Rina. “Iya, tapi kamu sebagai anak gadis harus terbiasa bangun pagi. Setelah itu membersihkan rumah. Mama sudah mulai tua, kamu harus belajar mem- bantu mama.”, pinta Mama. “Iya-iya”. Sekoyong-koyongnya dengan mata tertutup, Rina bangkit meninggalkan singgasana peristirahatannya.“Ma, ambilin handuk dong!”, teriak Rina. “Lho kok gak disiapin sebelum man- di sih?” kata mamanya, masih dengan sabar. “Lupa!” bentaknya. Mama segera menuruti permintaan puterinya. Tak pernah tampak di wa- jahnyaguratanlelah.Iamelayanikebu- tuhan puterinya dengan tulus. Handuk sudah ada di tangannya, sepertinya dalam genggaman handuk itu ia ber- harapdiusiaRinayangsudahberanjak dewasa, ia mampu mengurus dirinya sendiri. “Ini nak, handuknya”, sambil me- nyerahkan handuk merah jambu ber- gambar Winnie the pooh. Tanpa peduli, Rina masuk kamar mandi lalu bermain air dan sabun. “Kenapa sih mama selalu membuatku benci. Ia selalu mengaturku ini dan itu, padahal aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan”, gumamnya dalam hati. Seusaimandidansalinpakaian,Rina menuju ruang tengah keluarga untuk bercermin, ia memoles wajahnya yang tirusdenganbedak,danmenggoreskan gincu merah jambu di bibirnya yang tipis. Rina sungguh tampak manis. Se- manis Mamanya, di kala mama muda dulu.Memangtampakjelaskecantikan mama diwarisikan pada Rina. Di atas meja makan telah tersedia nasi goreng telur favorit Rina lengkap dengan sege- las susu. Dilahapnya sarapan itu tanpa jeda. “Emm.. masakan mama memang is the best”. Puji Rina dalam hati. Setelah sarapan Rina meninggal- kan piring dan gelasnya yang kosong di atas meja begitu saja. Tak terbesit sedikitpun terbesit niatnya untuk membereskan piring dan gelas ko- tornya sendiri. Sambil bernyanyi ke- cil dan mengibaskan rambutnya Rina segera mengeluarkan motor merahnya dari garasi. Tampak mamanya duduk di kursi teras ditemani secangkir teh hangat. Dari sorot matanya, sepertinya mama berharap kalau Rina berpami- tan mencium tangannya sebelum per- gi ke kampus. “Aku pergi ya ma..”, teriak Rina sam- bil menggas sepeda motornya. “Nanti jangan pulang terlalu malam ya nak…”. Tanpa menoleh ataupun menjawab perkataan Mama, dengan segera Rina melaju dari rumah. Rina merasa lega sesampainya di kampus. Ia senang bisa bertemu den- gan teman-temannya. “Ya, inilah yang aku cari, kesenangan dan kebebasan yang tidak bisa kudapatkan di rumah karena ada mama”, cetusnya dalam hati. *** HanyapunyaMama Sry Lestari Sa- mosir Cerpenis Sastra
  16. 16. Lentera news -edJanuari2016|16 Mama Rina adalah single parent ka- rena papanya telah meninggal dalam suatu kecelakaan setahun yang lalu. Mungkin karena peran sebagai single parent itu, mama jadi sangat menye- balkan. Walaupun maksudnya bukan begitu. Sesungguhnya mama ingin Rina tumbuhmenjadigadisyangbaikwalau tanpa kasih sayang seorang Ayah. Na- mun ternyata Rina tidak mengerti maksud mama. Rina merasa bahwa mamanya membuat peraturan-pera- turan yang menurutnya tidak penting. *** Dua temannya yang bernama Della dan Susi adalah sahabat baik yang se- lalu ada buat Rina. Ketika Rina merasa tertekan di rumah, mereka bersedia memberikan Rina tumpangan di ru- mah mereka. Rina merasa sangat senang ketika bersama-sama dengan mereka. Krriiiiinngg. Perkuliahan berakhir. “Hei girls, sebelum pulang kita nong- krong yok”, ajak Della. Rina menjawab,”Ayok.. aku juga sun- tuk di rumah berdua sama mamaku melulu”. “Oke deh, kita ke café biasa yok.. Cuss..”, kata Susi. *** Pukul delapan malam. ­Rumah tam- pak kosong ketika Rina ­sampai. Un- tung Rina punya kunci rumah cadan- gan. Tidak ada siapa-siapa di rumah. Dibukanya tudung saji di meja makan. Juga tak ada makanan satupun di sana. Kekesalan Rina pada mama muncul lagi. “Rina.. Mama pulang”, Mama meng- hampiri Rina. Rina langsung marah-marah. “Mamakalaugabisajadiibujanganbe- gini donk! Apa gunanya punya mama kalau aku mau makan aja tersiksa.” Mama terkejut mendengar ucapan itu dan naik pitam. Sebungkus sop di genggamannya terjatuh dan tumpah. Kemudian terdengar’..’plak”.. Sebuah tamparan mendarat di pipi Rina. Sam- bil menangis mama pergi ke kamar meninggalkan Rina puterinya sendi- rian. Rina pun pergi ke kamarnya sam- bil mengelus pipinya seraya terisak lirih. Mama menyudut di kamarnya yang gelap. Seakan kehabisan daya sebagai orang tua. Sementara masih di satu atap yang sama Rina melelehkan bulir- bulir airmata.. *** Dua hari sudah Rina minggat ke rumah Della. Di rumah Della ia ting- gal dan sangat diperhatikan orang tua Della. “Rina, apa kamu tidak rindu pada ibumu?, kata Ibu Della lembut, pada satu sore. “Ah.. untuk apa rindu, Ibu juga tidak rindu padaku. Buktinya ia tidak men- cari aku.,” ketus Rina. Ibu Della menggeleng dan berkata,”Tidak Rina, jangan pernah berpikir seperti itu. Bagaimanapun juga ia ibumu. Bayangkanlah dari lahir kamu sudah diasuh oleh ibumu. Saya bisa merasakan kesedihan yang dira- sakan ibumu, karena saya juga seorang ibu.Semuayangterjadidiantarakalian pasti ada maksudnya. Tuhan memberi- kan masalah kepada kalian berdua, bukan untuk semakin menjauhkan, tetapi medekatkan. Ibu dan anak tak kan bisa terpisah.” Rina mulai meneteskan airmata. Ia merindukan masa-masa kecilnya ke- tika dirawat dan dibesarkan oleh ibu- nya. Ibu yang sabar menghadapi keras kepalanya. Ibu yang senantiasa beru- saha membuatnya bahagia. “Aku salah, iya yang tante katakan benar. Aku sudah menjadi anak yang durhaka. Seharusnya aku berbakti pada ibuku. Apalagi ibu saat ini tidak bersama papa lagi. Ibu maaf aku…”, Rina terisak. Akhirnya Rina Pulang ke rumah dengan perasaan menyesal. Ketika masuk ke rumah, dilihatnya rumah kosong. Dia memanggil ibunya, namun tak jua ada suara. Terdengar ada suara motor datang. Rusman sepupu Rina masuk rumah dengan terburu-buru, “Rin, Tante kecelakaan! Tante ke- celakaan saat dia mencari kamu. Ia sekarang di rumah sakit!” Rusman bergegas masuk kamar mama dan mengemasibaju-bajumamayangakan dibawakerumahsakit,sementaraRina hanyabisaterdiammendengarnya.Ka- get. Terpukul. Rasanya tidak percaya. Sesampainya di rumah sakit Rina hanya bisa duduk dan termenung, se- mentara Rusman berbicara pada dok- ter. Rina tak mampu berpikir. Terden- gar sekilas bahwa mama mengalami banyak pendarahan. Air mata Rina mengalir deras. Rina merasa sangat takut, takut kalau pada akhirnya nasib mama akan berakhir seperti papa. “Aku kecewa, tak mengerti apa mak- sud Tuhan membiarkan tragedi men- impa keluarga kami. Namun sekarang, tak ada lagi yang bisa kulakukan selain berdoa”, seru batin Rina “Tuhan Yesus, aku datang pada-Mu. Aku mohon supaya Engkau jangan mengambil mama. Sembuhkanlah mama, ya Tuhan. Aku berjanji untuk menuruti setiap perkataan mama. Aku mohon, ya Tuhan. Amin” Satu bulan setelah kecelakaan. Rina baru saja selesai bersaat teduh di teras rumah. Mama menghampirinya den- gan kursi rodanya. Rina membuatkannya segelas teh hangat. Mama tersenyum. Hati Rina ikut terasa hangat. Rina mulai menger- ti maksud dari semua yang Tuhan perkenankan terjadi dalam hidupnya. “Tuhan mau membentuk aku untuk menjadi anak yang lebih taat dan men- yayangi mamaku. Dan yang lebih pent- ing, Tuhan menarik aku kembali untuk membangun relasi yang erat dengan- Nya”, suara hati Rina menggema. Lalu ke dua ibu dan anak itu berpelukan. Rina berbisik,”Aku sayang Mama”.
  17. 17. 17|Lentera news -edJanuari2016 SARASEHAN NASIONAL SIGNIS INDONESIA PPS Cinta Alam - Medan | 13 - 18 Februari 2016 mengucapkan: TERIMA KASIH UNTUK KERJASAMA BERUPA BANTUAN MATERIL & MORIL DALAM RANGKA MENSUKSESKAN kepada: PANITIA PELAKSANA | PASTOR PAROKI & UMAT ­PAROKI ST. ­PERAWAN MARIA YANG DIKANDUNG TAK BERNODA ASAL, ­KATEDRAL MEDAN | PASTOR & UMAT PAROKI MEDAN ­KRISTUS RAJA | ­PASTOR & UMAT PAROKI ST. ANTONIUS HAYAM ­WURUK MEDAN| PASTOR & UMAT PAROKI ST. MARIA RATU ROSARI, ­TANJUNG SELAMAT | ­PASTOR & UMAT STASI ST. STEFANUS ­BELAWAN (PAROKI ST. KONRAD, MARTUBUNG) | PASTOR & UMAT STASI ST. THERESIA DARI KANAK-KANAK YESUS, SIMALINGKAR (PAROKI PADANG BULAN MEDAN) | DAN SELURUH DONATUR
  18. 18. Lentera news -edJanuari2016|18 LapoAksara Ananta Bangun Redaktur Tulis P ernahkah Yesus menulis? Demikian menggelayut tanya di hatiku. Sebab Sang Putra Allah, kerap menyampaikan warta gembira melalui khotbah dan perumpamaan. Tak dinyana, aku menemukan dalam Kitab Yohanes (Yohanes 7:53, 8:11), bahwa Yesus pernah menulis di atas pasir, ketika dicobai untuk menghukum seorang insan yang berzinah. Menulis di atas pasir? Kalimat tersebut membalik kembali halaman kenangan sebuah cerita. Tulisan seorang Imam. “Dua perantau melintasi gurun gersang selama beberapa hari. Hari yang terik dan angin kering bagai mencabik keakraban mereka. Karena perasaan kesal atas kelala- ian dan cekcok, seorang memukul teman merantaunya. Orang yang dipukul terperangah tak percaya. Perlahan dia beringsut, lalu berjong- kok. Dan menulis di atas pasir: ‘Hari ini, sahabatku memukul aku hingga terjatuh.’ Selang beberapa lama, mereka pun lanjut berjalan dengan berdiam- diam. Perjalanan berlanjut hingga mereka mendapati wilayah teduh sarat pepohonan. Ternyata, tak jauh di depan mereka ada sungai yang mengalir tenang. Begitu senangnya perantau – yang sebelumnya sedih oleh sikap kasar temannya – sehingga tanpa fikir panjang melompat masuk ke arus sungai. Tanpa menyadari sungai tersebut teramat dalam. Kaget. Perantau yang kedua kemudian bergegas menangkap kaki temannya, dan menyelamatkan nyawanya. Si perantau yang malang tadi pun terperangah tak percaya. Dengan pelan, ia beringsut mencari batu. Kemudian berlutut sembari menulis di batu tersebut: ‘Hari ini, sahabatku menyelamatkan nyawaku.’ “Mengapa kamu tadi menulis di atas pasir, dan kini menulis di atas batu?” tanya sang sahabat ke- heranan. “Karena aku tak ingin ­meninggalkan perasaan sedih dan amarah dalam diriku. Biarlah per- asaan yang kutulis itu lenyap seiring ditiup angin. Sementara rasa baha- gia karena diselamatkan seorang sahabat, hendaklah berdiam lama bagai tulisan yang kutoreh di batu ini,” katanya. *** Lamat-lamat tertambat pemaha- manku akan makna cerita tersebut dengan perbincangan Yesus dengan insan yang dituduh berzinah terse- but: Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka se- orang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadan- ya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Menulisdiataspasir

×