Manajemen mutu dalam pendidikan

19,438 views

Published on

Published in: Education
1 Comment
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
19,438
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
576
Comments
1
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Manajemen mutu dalam pendidikan

  1. 1. MANAJEMEN MUTU DALAM PENDIDIKANA. PendahuluanUpaya peningkatan mutu pendidikan merupakan titik strategis dalamupaya menciptakan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitasmerupakan salah satu pilar pembangunan bagi suatu bangsa melaluipengembangan potensi individu. Karenanya, dapat dikatakan bahwa masadepan suatu bangsa terletak pada mutu dan kualitas pendidikan yangdilaksanakan.Untuk menjamin mutu dan kualitas pendidikan, diperlukan perhatianyang serius, baik oleh penyelenggaran pendidikan, pemerintah, maupunmasyarakat. Sebab, dalam sistem pendidikan nasional sekarang ini,konsentarasi terhadap mutu dan kualitas bukan semata-mata tanggungjawabsekolah dan pemerintah, tetapi merupakan sinergi antara berbagai komponentermasuk masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat harus sadar danberkonsentrasi terhadap peningkatan mutu pendidikan. Untuk melaksanakanpenjaminan mutu tersebut, diperlukan kegiatan yang sistematis dan terencanadalam bentuk manajemen mutu.Manajemen mutu dalam pendidikan merupakan cara dalam mengatursemua sumber daya pendidikan, yang diarahkan agar semua orang yangterlibat di dalamnya melaksanakan tugas dengan penuh semangat danberpartisipasi dalam perbaikan pelaksanaan pekerjaan sehingga menghasilkanjasa yang sesuai bahkan melebihi harapan pelanggan.B. Manajemen Mutu dalam Pendidikan1. Konsep Dasar Manajemen MutuIstilah manajemen memiliki banyak arti, tergantung orang yangmengartikannya. Menurut Moefti Wiriadihardja (1987: 30), manajemenadalah mengarahkan/memimpin sesuatu daya usaha melalui perencanaan,pengorganisasian, pengkordinasian dan pengendalian sumber daya manusia dan bahanditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukansebelumnya. Sedang Syafaruddin (2005: 42) mendefinisikan manajemensebagai suatu proses pengaturan dan pemanfaatan sumber daya yangdimiliki organisasi melalui kerjasama para anggota untuk mencapai tujuanorganisasi secara efektif dan efisien. Dari dua pengertian di atas, dapatdipahami bahwa manajemen merupakan tindakan-tindakan yangdilakukan oleh sekelompok orang dalam sebuah organisasi dalam rangkamencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.Sedangkan mutu, secara essensial digunakan untuk menujukkankepada suatu ukuran penilaian atau penghargaan yang diberikan ataudikenakan kepada barang (product) dan/atau jasa (service) tertentuberdasarkan pertimbangan obyektif atas bobot dan/atau kinerjanya (AanKomariah dan Cepi Triatna, 2005:9). Jasa/pelayanan atau produk tersebutdikatakan bermutu apabila minimal menyamai bahkan melebihi harapanpelanggan. Dengan demikian, mutu suatu jasa maupun barang selalu
  2. 2. berorientasi pada kepuasaan pelanggan. Apabila kata mutu digabungkandengan kata pendidikan, berarti menunjuk kepada kualitas product yangdihasilkan lembaga pendidikan atau sekolah. Yaitu dapat diidentifikasidari banyaknya siswa yang memiliki prestasi, baik prestasi akademikmaupun yang lain, serta lulusannya relevan dengan tujuan (Aan Komariahdan Cepi Tiratna, 2005: 8)Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemenmutu adalah suatu cara dalam mengelola suatu organisasi yang bersifatkomprehensif dan terintegrasi yang diarahkan dalam rangka memenuhikebutuhan pelanggan secara konsisten dan mencapai peningkatan secaraterus menerus dalam setiap aspek aktivitas organisasi.Sasaran yang dituju dari manajemen mutu adalah meningkatkanmutu pekerjaan, memperbaiki prodiktivitas dan efisiensi melalui perbaikankinerja dan peningkatan mutu kerja agar menghasilkan produk yangmemuaskan atau memenuhi kebutuhan pelanggan. Jadi, manajemen mutubukanlah seperangkat peraturan dan ketentuan yang kaku yang harus diikuti, melainkanseperangkat prosedur proses untuk memperbaiki kinerjadan meningkatkan mutu kerja (Mohammad Ali, 2007: 344).Dalam manajemen produksi, ada suatu mekanisme penjaminanagar produk yang dihasilkan dapat memenuhi standar mutu. Untuk itupengendalian mutu harus dilakukan sejak awal perencanaan. Apabilapengendalian mutu dilakukan setelah produk dihasilkan bisa menghadapiresiko terjadinya sejumlah produk yang tidak sesuai dengan standar yangdiharapkan. Dalam paradigma demikian, tujuan utama manajemen mutuadalah untuk mencegah dan mengurangi resiko terjadinya kesalahan dalamproses produksi, dengan cara mengusahakan agar setiap langkah yangdilaksankan selama proses produksi dapat berjalan sebaik-baiknya sesuaistandar. Dengan demikian, dalam manajemen mutu bukan sekedarberupaya agar produk yang dihasilkan memenuhi standar mutu, tetapilebih difokuskan pada bagaimana proses produksi bisa terlaksana denganbaik, sesuai dengan prosedur yang seharusnya dilakukan. Dengan prosesproduksi yang baik, tentu akan dapat menghasilkan produk yang baik pula.2. Manajemen Mutu PendidikanPendidikan yang bermutu dan berkualitas merupakan harapan dandambaan bagi setiap warga negara ini. Masyarakat, baik yang terorganisirdalam suatu lembaga pendidikan, maupun orang tua/wali murid, sangatberharap agar murid dan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yangbermutu agar kelak dapat bersaing dalam menjalani kehidupan. Untukmenjawab harapan masyarakat tersebut, setiap lembaga pendidikanhendaknya selalu berupaya agar pendidikan yang dikelolanya dapatmenghasilkan produk yang berkualitas, yaitu produk yang dapatmemuaskan para pelanggan.Praktek penyelenggaraan pendidikan dapat dikiyaskan denganproses produksi dalam sebuah perusahaan (industri). Hanya saja, produkyang dihasilkan lembaga pendidikan dalam bentuk jasa. Oleh karena itu
  3. 3. lembaga pendidikan dapat dikatakan sebagai perusahaan jasa.(Mohammad Ali, 2007: 346). Dari prespektif ini, mutu dan kualitaslayanan (jasa) yang dihasilkan merupakan ukuran mutu sebuah lembagapendidikan. Yaitu sejauh mana kepuasaan pelanggan terhadap jasa yangdihasilkan.Menurut Mulyasa, sebagai industri jasa, mutu lembaga pendidikandapat diukur dari pelayanan yang diberkan oleh pengelola pendidikanbeserta seluruh karyawan kepada para pelanggan sesuai dengan standarmutu tertentu (Mulyasa, 2005: 226), bukan hanya dalam bentuk kualitaslulusannya. Pendidikan yang bermutu tidak dapat hanya dilihat darikualitas lulusannya, tetapi juga mencakup bagaimana lembaga pendidikanmampu memenuhi dan melayani kebutuhan pelanggan sesaui denganstandar mutu yang berlaku. Yang dimaksud pelanggan di sini adalahpelanggan internal, yaitu guru dan tenaga kependidikan lainya, danpelanggan eksternal yaitu peserta didik dan pihak-pihak terkait di luarlembaga pendidikan tersebut. Dengan demikian, sekolah dikatakanbermutu apabila mampu memberi layanan sesuai atau bahkan melebihiharapan guru, karyawan, peserta didik, dan pihak-pihak lain yang terkaitseperti orang tua, penyandang dana, pemerintah atau dunia kerja penggunalulusan.Untuk memberikan jaminan terahadap mutu dan kualitas, lembagapendidikan harus mengetahui dengan pasti apa yang dibutuhkan olehpelanggannya. Lembaga pendidikan hendaknya selalu berupayamensinergikan berbagai komponen untuk melaksanakan manajemen mutupendidikan yang dikelolanya agar dapat menjalankan tugas dan fungsikependidikan. Untuk itu, kerjasama dengan semua komponen sekolahdalam manajemen harus menjadi prioritas. Komponen sekolah dimaksudadalah para pendidik, karyawan, peserta didik, orang tua/wali, maupunmasyarakat.Kerjasama dengan komponen sekolah dimaksudkan untukmelibatkan dan memberdayakan mereka dalam proses organisasi baikdalam pembuatan keputusan mupun pemecahan masalah. Oleh karena itu, pada saat initelah menggejala hampir di seluruh dunia sebuah cara untukmeningkatkan mutu pendidikan yaitu school based management yang diIndonesia dikenal dengan istilah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).Pada sistem MBS, sekolah dituntut secara mandiri untuk menggali,mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan, danmempertanggungjawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepadamasyarakat maupun pemerintah (Mulyasa, 2004: 24).Hal ini merupakan salah satu bentuk pembaharuan pendidikan,yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah untukmeneyelenggarakan pendidikan agar produk yang dihasilkan sesuaidengan lingkungan. Kecuali pemberian kewenangan yang cukup besartersebut, pelaksanaan MBS juga memberikan beban pertanggungjawabanpengelolaan sumber daya yang ada kepada sekolah yang bersangkutan.Karena itu, MBS menekankan keterlibatan maksimal berbagai
  4. 4. pihak, sehingga menjamin partisipasi semua komponen pendidiikan yanglebih luas dalam perumusan-perumusan keputusan tentang pendidikan.Hal ini dimaksudkan untuk mendorong komitmen mereka terhadappenyelenggaraan pendidikan. Yang pada akhirnya akan mendukungefektivitas dalam pencapaian tujuan sekolah. (Mulyasa, 2004: 26).Keberhasilan manajemen mutu dalam dunia pendidikan (sekolah)dapat diukur tingkat kepuasaan pelanggan. Sekolah dapat dikatakanberhasil jika mampu memberikan layanan sesuai harapan pelanggan.Menurut Depdiknas (1999), sebagaimana dikutip Syafaruddin (2005:289), menyebutkan 4 (empat) hal yang merupakan cakupan keberhasilanmanajemen sekolah, yaitu :a. Siswa puas dengan layanan sekolah, yaitu dengan pelajaran yangditerima, perlakuan guru, pimpinan, puas dengan fasilitas yangdisediakan sekolah atau siswa menikmati situasi sekolah dengan baik.b. Orang tua siswa merasa puas dengan layanan terhadap anaknya,layanan yang diterimanya dengan laporan tentang perkembangankemajuan belajar anaknya dan program yang dijalankan sekolahc. Pihak pemakai lulusan puas karena menerima lulusan dengan kualitastinggi dan sesuai harapan, dand. Guru dan karyawan puas dengan layanan sekolah, dalam bentukpembagian kerja, hubungan dan komunikasi antar guru/pimpinan,karyawan, gaji/honor yang diterima dan pelayanan.3. Pentingnya Manajemen Mutu dalam PendidikanUndang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerahmembawa dampak pada pengelolaan pendidikan di daerah, dengandiberlakukannya desentralisasi pendidikan. Dengan diberlakukannyaotonomi pendidikan, diharapkan akan berpengaruh positif terhadaptumbuhnya lembaga pendidikan yang berkualitas. Setiap lembagapendidikan diharapkan mampu menggali sumber daya dan potensi daerahberbasis keunggulan lokal.Konsekuensi yang tidak bisa dihindarkan dari desentralisasipendidikan tersebut, karena budaya dan potensi daerah yang sangatberagam, adalah lulusan yang bervariasi. Oleh karena itu, upayastandarisasi mutu dan jaminan bahwa penyelenggaraan pendidikanmemenuhi standar mutu harus menjadi fokus perhatian dalam upayamemelihara dan meningkatkan mutu pendidikan secara nasional.Mohammad Ali (2007: 342) memaparkan, bahwa untuk menjaminterselenggaranya pendidikan sesuai dengan standar mutu, diperlukanpenilaian secara terus menerus dan berkesinambungan terhadap kelayakandan kinerja yang dilakukan dalam rangka melakukan pebaikan danpeningkatan mutu sekolah. Penilaian terhadap kelayakan dan kinerjasecara berkesinambungan tesebut tidak dapat dilepaskan kaitannya denganmanajemen, khususnya manajemen mutu sekolah, yang mempunyai tujuanutama mencegah dan mengurangi resiko terjadinya kesalahan dalamproses produksi, dengan cara mengusahakan agar setiap langkah yang
  5. 5. dilaksankan selama proses produksi dapat berjalan sebaik-baiknya sesuaistandar.Dari paparan di atas, dapat ditarik pemahaman bahwa untukmenjamin pelaksanaan standarisasi mutu dan kualitas pendidikan,manajemen mutu mempunyai peranan penting. Sebab, kegiatan dalammanajemen mutu bukan sekedar berupaya agar produk yang dihasilkanmemenuhi standar mutu, tetapi lebih difokuskan pada bagaimana prosesproduksi bisa terlaksana dengan baik, sesuai dengan prosedur yangseharusnya dilakukan agar dapat menghasilkan produk yang memuaskanpelanggan, khususnya masyarakat pengguna jasa pendidikan.C. KesimpulanSetelah melakuan kajian dan pembahasan tentang manajemen mutudalam pendidikan, berikut ini disampaikan kesimpulan-kesimpulan :1. Manajemen mutu dimaksudkan untuk mencegah dan mengurangi resikoterjadinya kesalahan dalam proses produksi, agar setiap langkah yangdilaksankan selama proses produksi dapat berjalan dengan baik.2. Pendidikan yang bermutu tidak dilihat hanya dari kualitas lulusannya,tetapi juga mencakup bagaimana lembaga pendidikan mampu memenuhidan melayani kebutuhan pelanggan sesaui dengan standar mutu yangberlaku.3. Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu memberilayanan sesuai atau bahkan melebihi harapan guru, karyawan, pesertadidik, dan pihak-pihak lain yang terkait seperti orang tua, penyandangdana, pemerintah atau dunia kerja pengguna lulusan.4. Untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu diperukanmanajemen mutu dalam semua layanan kependidikan yang dilaksanakan.KEPUSTAKAANSyafaruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press,2005.Komariah, Aan dan Cepi Tiratna, Visionary Leadership, Menuju Sekolah Efektif.Jakarta: Bumi Aksara, 2005.Ali, Mohammad, “Penjaminan Mutu Pendidikan” dalam Mohammad Ali,Ibrahim, R., Sukmadinata, N.S., Sudjana, D., dan Rasjidin, W.(Penyunting), Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Jilid II., Bandung:Pedagogiana Press, h. 348.Wiriadihardja, Moefti, Dimensi Kepemimpinan dalam Manajemen, Jakarta: BalaiPustaka, 1987.Mulyasa, E., Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Cet. Ke-5., Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2005.
  6. 6. ____________, Manajemen Berbasis Sekolah, Cet. Ke-7., Bandung: PT. RemajaRosdakarya, 2004.

×