BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pegagan (Centella asiatica) merupakan tanaman liar yang banyak
tumbuh di perk...
2

mencapai 100 ton/th, namun sampai saat ini baru dapat dipasok 4 ton/th dengan
kualitas bahan baku yang bervariasi serta...
3

dipelihara oleh masyarakat, seperti kotoran kambing, sapi, domba, dan ayam.
Selain berbentuk padat, pupuk kandang juga ...
4

c) Air dan usnsur hara sangat diperlukan tanaman.
d) Sangat sedikit informasi diperoleh bagaimana pengaruh pupuk terhad...
5

a) Pengaruh frekuensi pemberian air yang berbeda terhadap pertumbuhan
tanaman Centella asiatica.
b) Pengaruh

pemberian...
6

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Kajian Teoritis
2.1.1 Botani, Taksonomi dan Manfaat Pegagan
Pegagan (Centella asiatica) a...
7

seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Diduga glikosida
triterpenoida yang disebut asiaticoside merupaka...
8

sedangkan pada tempat yang kurang cahaya helaian daun akan menipis dan
berwarna pucat. Selain itu untuk memperoleh daun...
9

d. Pemeliharaan
Pupuk yang digunakan dalam budidaya pegagan adalah pupuk organik,
dapat berupa kompos atau pupuk kandan...
10

digunakan dalam bentuk serbuk atau serbuk teh yang diminum airnya.
Pegagan juga dapat digunakan dalam bentuk krem, sal...
11

menipis, warna memucat. Selain itu juga pada tanah yang kurang subur dapat
diberikan pupuk organik atau kompos.

2.2. ...
12

a. Pupuk kandang ayam
Pukan ini banyak diberikan oleh para petani karena banyak mengandung P
yang berasal dari konsent...
13

Babi
Ayam
Merpati

82
56
52

3,75
6,27
5,68

3,13
5,92
5,74

2,50
3,27
3,23

2.3. Air dan Tananman
Air mempunyai fungs...
14

mengimbangi kecepatan penguapan air dari tanaman. Jika proses tranpirasi ini
cukup besar dan penyerapan air tidak dapa...
15

2. Ekstrak pegagan dengan fraksi petroleum eter tidak menghambat
pertumbuhan bakteri, sedangkan fraksi kloroform dan f...
16

Pemakaian : Pegagan dicuci bersih direbus dengan air selama 5 menit. Air
rebusan diminum 2 kali sehari selama beberapa...
17

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian kadar air dan
macam pupuk terhadap pertumbuhan tanaman pegag...
18

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian akan dilakukan bulan september sampai dengan bulan oktober
2...
19

3.3 VariablePenelitian
Variabel Bebas

: Frekuensi pemberian air dan jenis pupuk kandang.

Variabel Terikat

: Pertumb...
20

Media tanam yang dipakai adalah tanah humus, tiga jenis pupuk kandang,
yaitu pukan sapi, pukan kambing, pukan ayam dan...
21

3.6.1. Komponen Pertumbuhan
a. Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang sampai ujung daun
(...
22

- Berat Segar Tajuk (gr)
Berat segartajuk diperoleh dengan menyuci bersih tajuk lalu ditimbang
dengan menggunakan timb...
23

kekeringan air pada tanaman.Perhitungan rasio tajuk dan akar tanaman
dilakukan pada 20 HST, 40 HST, dan 60 HST .
h. La...
24

Keterangan:
LPT = Laju Pertumbuhan Tanaman
GA = Luas tanah (cm2)

j. Kandungan Klorofil Daun
Daun yang digunakan untuk...
25

REFERENSI
Arisandi, Yohana., 2006, Khasiat Berbagai Tanaman untuk Pengobatan, Eska
Media, Jakarta.
Astawan,
Made.,
201...
26

Widowati, L., Pudjiastuti, D. Indrari dan D. Sundari, 1992. Beberapa Informasi
Khasiat Keamanan dan Fitokimia Tanaman ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Isi

874 views

Published on

mini riset

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
874
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
11
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Isi

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pegagan (Centella asiatica) merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, pematang sawah ataupun diladang yang agak basah. Tanaman ini berasal dari daerah Asia tropik, tersebar di Asia tenggara, termasuk Indonesia, India, Republik Rakyat Cina, Jepang dan Australia kemudian menyebar ke berbagai negara-negara lain. Nama yang biasa dikenal untuk tanaman ini selain pegagan adalah daun kaki kuda dan Antanan. Pemanfaatan pegagan sejak zaman dahulu telah digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi permasalahan kesehatan, seperti meningkatkan vitalitas dan daya ingat, mengatasi pikun, mengatasi tulang keropos pada lansia, meningkatkan kecerdasan pada anak anak, obat awet muda, obat penyakit kulit, antistres, antiradang, antikanker, untuk kosmetika, epilepsi, sakit gila dan hepatitis akut. Penelitian di Malaysia menunjukkan pegagan berpotensi sebagai bahan obat antikanker ovarium (Nur Kartinee et al., 2000). Menurut KloppenburgVersteegh, sekitar 59 ramuan obat tradisional menggunakan pegagan sebagai bahan baku (Widowati et al., 1992). Masyarakat Sunda telah lama pula memanfaatkannya sebagai lalapan (Astawan, 2011). Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam pegagan mengandung asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoiside, brahminoside, brahmic acid, madasitic acid, hydrocotyline, mesoinositol, centellose, caretenoids, garam mineral, zat pahit vellarine, dan zat samak (Arisandi, 2006). Seiring dengan perkembangan back to nature, dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat mulai kembali menggunakan bahan-bahan alami. Saat ini permintaan herbal pegagan yang bermutu dan terstandar dari industri obat dan industri pangan fungsional seperti minumam kesehatan semakin meningkat. IPB (2005) mengungkapkan kebutuhan industri akan bahan baku pegagan
  2. 2. 2 mencapai 100 ton/th, namun sampai saat ini baru dapat dipasok 4 ton/th dengan kualitas bahan baku yang bervariasi serta jumlah pasokan yang tidak menentu. Dalam memenuhi kebutuhan industri, selama ini pegagan diambil langsung dari alam, tanpa usaha pembudidayaan, sehingga pasokan bahan baku dan mutunya tidak terjamin. Meningkatnya minat masyarakat terhadap obat bahan alam, diperlukan pasokan bahan baku yang konsisten dengan mutu yang sesuai kebutuhan industri melalui usaha budidaya. Untuk mendukung upaya tersebut penyedianan bahan tanaman unggul merupakan salah satu cara untuk menghasilkan bahan baku bermutu. Selain itu, usaha pembudidayaan tanaman pegagan juga dapat dijadikan sebagai bisnis yang menjanjikan. Di daerah iklim tropis pegagan dapat tumbuh mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 2.500 m di atas permukaan laut. Ketinggian optimum untuk tanaman ini adalah 200-800 m, diatas 1000 m produksi dan mutunya lebih rendah. Pegagan dapat tumbuh di tempat yang lembab dan ternaungi, juga di tempat terbuka, seperti di padang rumput, pinggir selokan, dan pematang sawah. Di tempat lembab dengan naungan yang cukup, helaian daun pegagan berukuran lebih besar dan tebal dibanding di tempat terbuka. Namun jika kurang cahaya, helai daun akan menipis dan warna memucat (Balittro, 2012). Faktor yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman adalah ketersediaan air dan unsur hara. Kekurangan atau pun kelebihan air dan unsur hara tertentu dapat menyebabkan terganggunya biosintesis protein dan klorofil, metabolism sel, penurunan fotosintesis dan akhirnya menghambat pertumbuhan tanaman (Ernawati, 1996). Pemupukan tanaman pegagan belum banyak dilakukan, hal ini disebabkan karena belum tersedianya pengetahuan mengenai hara mineral yang optimum untuk mendukung pertumbuhan dan produksi. Penelitian untuk melihat efek pemupukan berdasar status hara tanah dan kebutuhan tanaman pegagan terhadap hara N, P dan K belum tersedia. Disisi lain kadar hara N, P dan K tanah sangat bervariasi antara satu jenis tanah dengan jenis tanah lainnya. Bahkan pada jenis tanah yang sama juga mempunyai tingkat ketersediaan hara yang berbeda. Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Hewan yang kotorannya sering digunakan untuk pupuk kandang adalah hewan yang bisa
  3. 3. 3 dipelihara oleh masyarakat, seperti kotoran kambing, sapi, domba, dan ayam. Selain berbentuk padat, pupuk kandang juga bisa berupa cair yang berasal dari air kencing (urine) hewan. Pupuk kandang sebagai salah satu bahan organik, sangat penting dalam mempertahankan dan memperbaiki kesuburan tanah, apabila dibandingkan dengan pupuk buatan, pupuk kandang lebih lambat bereaksinya, hal ini disebabkan sebagian besar zat-zat makanan harus mengalami perubahan sebelum menjadi bebas dan tersedia bagi tanaman (Sabihan, 1982). Pupuk kandang mengandung unsur hara makro dan mikro. Pupuk kandang padat (makro) banyak mengandung unsur fosfor, nitrogen, dan kalium. Unsur hara mikro yang terkandung dalam pupuk kandang di antaranya kalsium, magnesium, belerang, natrium, besi, tembaga, dan molibdenum.Kandungan nitrogen dalam urine hewan ternak tiga kali lebih besar dibandingkan dengan kandungan nitrogen dalam kotoran padat. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui frekuensi penyiraman yang sesuai dan jenis pupuk kandang yang mampu mendukung pertumbuhan tanaman pegagan secara maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji adakah interaksi antara frekuensi pemberian air dan jenis pupuk kandang serta pengaruhnya terhadadap pertumbuhan tanaman pegagan. Dari uraian latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan mini research yang berjudul “Pengaruh Pemberian Beberapa Jenis Pupuk Kandang dan Frekuensi Pemberian Air Terhadap Pertumbuhan Tanaman Pegagan (Centella asiatica)”. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut: a) Kebutuhan akan tanaman pegagan sebagai sumber obat tradisional semakin meningkat, sedangkan usaha pembudidayaannya tidak tersedia. b) Pengambilan suplai tanaman pegagan dari alam dikhawatirkan akan menghilangkan plasma nutfah pegagan.
  4. 4. 4 c) Air dan usnsur hara sangat diperlukan tanaman. d) Sangat sedikit informasi diperoleh bagaimana pengaruh pupuk terhadap pertumbuhan tanaman pegagan. 1.3 Pembatasan Masalah Sehubungan dengan begitu luasnya masalah yang ada, maka peneliti membatasi masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: a) Subyek penelitian adalah Centella asiatica. b) Objek penelitian adalah pertumbuhan tanaman Centella asiatica. c) Tempat penelitian adalah belakang rumah kaca Universitas Negeri Medan. d) Macam pupuk kandang yang digunakan adalah kotoran sapi, kotoran kambing,dan kotoran ayam. e) Volume penyiraman divariasikan menjadi tiga treatment, dua kali penyiraman sehari, satu kali penyiraman sehari, dan satu kali penyiraman dalam dua hari. f) Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu; cangkul, cetok, penggaris, alat tulis, hand spray, timbangan, leaf area meter, termometer tanah, lux meter, oven, polybag, gelas ukur, pisau, kertas label,dan alat tulis. 1.4 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah, identifikasi masalah, maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu: a) Bagaimanakah pengaruh frekuensi pemberian air yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman Centella asiatica? b) Bagaimanakah pengaruh pemberian masing-masing pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman Centella asiatica? c) Pada frekuensi pemberian air berapakah dan pupuk apakah memberikan pengaruh terbesar bagi pertumbuhan tanaman Centella asiatica? 1.5 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari:
  5. 5. 5 a) Pengaruh frekuensi pemberian air yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman Centella asiatica. b) Pengaruh pemberian masing-masing pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman Centella asiatica. c) Frekuensi pemberian air dan pupuk apa yang memberikan pengaruh terbesar bagi pertumbuhan tanaman Centella asiatica. 1.6 Ruang Lingkup Penelitian Parameter yang diamati dalam penelitian ini terdiri dari dua bagian yaitu parameter utama dan parameter pendukung. Parameter utama yang dimonitor adalah tinggi tanaman, jumlah daun, tingkat kehijauan daun, luas daun, berat segar tajuk dan akar, berat kering tajuk dan akar, laju asimilasi bersih, indeks luas daun, laju pertumbuhan tanaman, rasio tajuk dan akar, dan kandungan klorofil. Parameter pendukung yang digunakan adalah mikroklimat dan ekologi di sekitar pegagan melalui pengamatan iklim (intensitas cahaya matahari, suhu udara, suhu tanah, dan pH tanah). 1.7. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat antara lain: 1. Bagi petani, penelitian ini bermanfaat sebagai salah satu acuan untuk membudidayakan pegagan sebagai sumber tanaman obat komersial dengan mengetahui pengaruh pupuk terhadap hasil pertumbuhan tanaman pegagan. 2. Bagi masyarakat, penelitian ini bermanfaat memberikan informasi tentang potensi dan kegunaan senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak pegagan (Centella asiatica). 3. Bagi peneliti, penelitian ini berguna sebagai sarana untuk menerapkan teori yang telah diperoleh di bangku kuliah dalam bentuk aplikasi penelitian
  6. 6. 6 BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Kajian Teoritis 2.1.1 Botani, Taksonomi dan Manfaat Pegagan Pegagan (Centella asiatica) adalah tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, serta pematang sawah. Tanaman ini berasal dari daerah Asia tropik, tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, India, Republik Rakyat Cina, Jepang dan Australia kemudian menyebar ke berbagai negara-negara lain. Nama yang biasa dikenal untuk tanaman ini selain pegagan adalah daun kaki kuda dan antanan. Sejak zaman dahulu, pegagan telah digunakan untuk obat kulit, gangguan saraf dan memperbaiki peredaran darah. Masyarakat Jawa Barat mengenal tanaman ini sebagai salah satu tanaman untuk lalapan (wikipedia). Pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dan berbunga sepanjang tahun. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan lingkungannya sesuai hingga dijadikan penutup tanah. Jenis pegagan yang banyak dijumpai adalah pegagan merah dan pegagan hijau. Pegagan merah dikenal juga dengan antanan kebun atau antanan batu karena banyak ditemukan di daerah bebatuan, kering dan terbuka. Pegagan merah tumbuh merambat dengan stolon (geragih) dan tidak mempunyai batang, tetapi mempunyai rhizoma (rimpang pendek). Sedangkan pegagan hijau sering banyak dijumpau di daerah pesawahan dan disela-sela rumput. Tempat yang disukai oleh pegagan hijau yaitu tempat agak lembap dan terbuka atau agak ternaungi. Selain itu, tanaman yang mirip pegagan atau antanan ada empat jenis yaitu antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung dan antanan air. Pegagan yang simplisianya dikenal dengan sebutan Centella Herba memiliki kandungan asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahmic acid, brahminoside, madasiatic acid, meso-inositol, centelloside, carotenoids, hydrocotylin, vellarine, tanin serta garam mineral
  7. 7. 7 seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Diduga glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside merupakan antilepra dan penyembuh luka yang sangat luar biasa. Zat vellarine yang ada memberikan rasa pahit. Pegagan berasa manis, bersifat mendinginkan, memiliki fungsi membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika), penurun panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haemostatika), meningkatkan syaraf memori, anti bakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensif, insektisida, antialergi dan stimulan. Saponin yang ada menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan (menghambat terjadinya keloid). Klasifikasi tanaman Pegagan : Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotiledoneae Ord : Umbillales Familia :Umbillifera (Apiaceae) Genus : Centella Spesies : Centella asiatica Gambar 2.1. Centella asiatica 2.1.2 Ekologi Pegagan Pegagan merupakan tumbuhan iklim tropik yang tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 2.500 m di atas permukaan laut (dpl). Tanaman ini dapat tumbuh di tempat-tempat terbuka, pada tanah yang lembab dan subur, misalnya di padang rumput, tegalan, tepi parit, di antara batu-batu, dan di tepi-tepi jalan (Widowati et al1992). Pegagan menghendaki kondisi tanah yang lembab dan subur, kelembaban udara yang diinginkan antara 70-90% dengan rata-rata temperatur 20-250C dan tingkat kemasaman tanah (pH) netral antara 6-7 (Winarto dan Surbakti, 2003). Januwati dan Yusron (2005) menyatakan bahwa tanaman pegagan tumbuh baik di tempat dengan naungan yang cukup. Pada tempat tersebut tanaman akan tumbuh dengan helaian daun lebih besar dan tebal dibanding di tempat terbuka,
  8. 8. 8 sedangkan pada tempat yang kurang cahaya helaian daun akan menipis dan berwarna pucat. Selain itu untuk memperoleh daun yang lebar diperlukan kelembaban dan kesuburan tanah yang cukup. 2.1.3 Budidaya Tanaman a. Penyiapan Lahan Pegagan dapat dibudidakan di lahan atau menggunakan pot/polibeg. Apabila ditanam dilahan, sebaiknya tanah dicangkul dengan kedalaman 20 cm, dibersihkan dari gulma dan batubatuan. Kemudian dibuat bedengan dengan lebar 1 m dan tinggi 20 cm – 30 cm, panjang bedengan disesuaikan dengan ukuran lahan, jarak antar bedengan 50 cm. Apabila pegagan ditanam di dalam pot/polibeg, sebaiknya pot/polibeg berdiameter 15 cm. Media tanam yang digunakan kaya akan bahan organik dan gembur, dapat berupa campuran. b. Penyiapan Bibit Bibit yang akan ditanam dapat diperoleh dengan cara memotong setiap buku-buku tanaman pegagan yang memiliki stolon. Satu buku yang mempunyai akar dapat tumbuh menjadi tanaman baru. Untuk budidaya pegagan, sebaiknya satu bibit mempunyai tiga buku untuk menjamin pertumbuhan bibit. c. Penanaman Pada bedengan yang telah disiapkan di lahan, dibuat lubang tanam dengan jarak 20 cm – 30 cm dengan menggunakan tugal. Bibit ditanam dengan hatihati kemudian disiram. Bila pegagan ditanam di dalam pot/polibeg, media terlebih dahulu dimasukkan ke dalam pot/polibeg. Dalam satu pot/polibeg dapat ditanam satu atau lebih bibit, disiram, kemudian dipindahkan ke tempat yang teduh.
  9. 9. 9 d. Pemeliharaan Pupuk yang digunakan dalam budidaya pegagan adalah pupuk organik, dapat berupa kompos atau pupuk kandang. Penggunaan pupuk kimia (anorganik) sebaiknya dihindari karena dikhawatirkan dapat menimbulkan efek negatif. Pupuk dapat disebar merata di atas bedengan atau dicampurkan pada media tanam di pot/polibeg. Pemupukan susulan dilakukan sesuai dengan kondisi kesuburan tanah. Penyiraman tanaman disesuaikan dengan kondisi kelembaban tanah. e. Hama dan Penyakit Pegagan hampir tidak pernah terserang hama dan penyakit. Terkadang daun pegagan diserang kutu, untuk mengendalikannya sebaiknya daun yang terserang dibuang. Tidak dianjurkan menggunakan pestisida kimia karena residunya dapat menimbulkan efek negatif bila pegagan dikonsumsi. Apabila serangan hama sangat mengganggu pertumbuhan pegagan, dapat digunakan pestisida nabati untuk mengendalikannya. Cara pembuatan pestisida nabati adalah dengan mencampurkan tanaman mimba (Azadiractha indica), tembakau (Nicotiana tabacum) dan akar tuba (Derris eclipta). Semua bahan ditumbuk halus, kemudian direndam air, diaduk merata, didiamkan selama satu malam. Keesokan harinya, campuran disaring, dilarutkan dalam air hangat. Penyemprotan dapat dilakukan pada pagi atau sore hari, saat tidak hujan (Mahendra, 2005). f. Panen dan Pascapanen Pegagan dapat dipanen apabila akan dikonsumsi atau digunakan. Bila akan diolah pemanenan dapat dilakukan 3 bulan setelah penanaman. Pegagan dapat digunakan dalam bentuk segar dan kering. Pengeringan dapat dilakukan dengan cara diangin-anginkan, tidak dijemur di bawah sinar matahari langsung karena akan merusak fisik dan kandungannya. Setelah kering bahan dapat dikemas dan simpan dalam kantungan plastik. Pegagan kering dapat
  10. 10. 10 digunakan dalam bentuk serbuk atau serbuk teh yang diminum airnya. Pegagan juga dapat digunakan dalam bentuk krem, salep dan body lotion. 2.1.4 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tanaman Pegagan 2.1.4.1. Syarat Tumbuh Pegagan bersifat kosmopolitan tumbuh liar di tempat-tempat yang lembab pada intensitas sinar yang rendah (ternaungi) hingga pada tempat-tempat terbuka, seperti di padang rumput, pinggir selokan, pematang sawah. Faktor lingkungan yang berperan dalam pertumbuhan dan mempengaruhi kandungan bahan aktif tanaman pegagan, antara lain : a. Tinggi tempat Tanaman pegagan banyak ditemukan dari dataran rendah hingga dataran tinggi sekitar 2500 m dpl. Namun untuk pertumbuhan optimum tanaman ini yaitu pada ketinggian 200 – 800 m dpl. b. Jenis tanah Tanaman ini dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik hampir pada semua jenis tanah lahan kering. Pada jenis tanah Latosol dengan kandungan liat sedang tanaman ini tumbuh subur dan kandungan bahan aktifnya cukup baik. Pada tanah dengan kandungan liat yang cukup kandungan klorofil daun akan tinggi. c. Iklim Pegagan tidak tahan terhadap tempat yang terlalu kering, karena sistem perakarannya yang dangkal. Oleh karena itu faktor iklim yang penting dalam pengembangan pegagan adalah curah hujan. Apabila pegagan ditanam pada musim kemarau dan tanaman mengalami kekurangan air, maka perlu dilakukan penyiraman. Tanaman ini akan tumbuh baik dengan intensitas cahaya 30 – 40 %, sehingga dapat dikembangkan sebagai tanaman sela (semusim maupun tahunan), misalnya di antara tanaman jagung, kelapa, kelapa sawit, buah-buahan yang tidak terlalu rindang. Di tempat dengan naungan yang cukup, helaian daun pegagan menjadi lebih besar dan tebal dibanding apabila tanaman tumbuh di tempat terbuka. Sedangkan pada tempat-tempat yang kurang cahaya, helaian daun akan
  11. 11. 11 menipis, warna memucat. Selain itu juga pada tanah yang kurang subur dapat diberikan pupuk organik atau kompos. 2.2. Pupuk Kandang Pupuk kandang merupakan semua produk buangan dari binatang peliharaan yang dapat digunakan untuk menambah hara, memperbaiki sifat fisik, dan biologi tanah (Hartatik, 2008). Zat hara yang dikandung pupuk kandang tergantung dari sumber kotoran bahan bakunya. Pupuk kandang ternak besar kaya akan, dan mineral logam, seperti magnesium, kalium, dan kalsium. Pupuk kandang ayam memiliki kandungan fosfor lebih tinggi. Namun demikian, manfaat utama pupuk kandang adalah mempertahankan struktur fisik tanah sehingga akar dapat tumbuh secara baik (Wikipedia). 2.2.1. Jenis Pupuk Kandang a. Pupuk kandang padat Pukan padat yaitu kotoran ternak yang berupa padatan baik belum dikomposkan sebagai sumber hara N bagi tanaman dan dapat memperbaikisifat kimia, biologi dan fisik tanah. Penanganan pukan oleh petani hanya ditumpuk saja pada tempat yang telah disediakan atau ditambah dekomposer untuk mempercepet kematangan pukan. b. Pupuk kandang cair Pukan cair merupakan bentukancair dari kotoran hewan yang masih segar yang bercampur dengan urin hewan atau kotoran hewanyang dilarutkan dalam air dalam perbandingan tertentu. Pukan yang masih segar jika dicampur dengan air dan dijadikan pukan cair memiliki kandungan hara yang lebih baik dibanding dengan pukan padat. Unsur-unsur hara makro dan seng kadarnya mencukupi, hanya kalsium dan sejumlah kecil besi, mangan dan tembaga perlu diperoleh dari sumber lain, kadar N total pada larutan kotoran ayam sudah ideal, meskipun akan lebih baik bila terdapat bentuk nitratdaripada bentuk amonium. 2.2.2. Kualitas Pupuk Kandang
  12. 12. 12 a. Pupuk kandang ayam Pukan ini banyak diberikan oleh para petani karena banyak mengandung P yang berasal dari konsentrat yang diberika pada ayam broiler. Selain itu pukan ini memberikan respon tanaman yang terbaik pada musim pertama, hal tersebut karena pukan ayam mudah terdekomposisi dan kadar hara yang tinggi. b. Pupuk kandang sapi Pukan sapi merupakan pukan yang memiliki kadar serat paling tinggi sehingga dalam apklikasinya masih perlu proses ulang. Hal tersebut dikarenakan untuk mencagah terhambatnya petumbuhan tanaman karena mikroba dekomposer akan menggunakan N untuk mendekomposisikan bahan organik. Selin itu pada pukan sapi basah masih terdapat banyak air sehingga akan menguras tenaga ekstra. c. Pupuk kandang kambing Pukan kambing yang berbentuk butiran ini memiliki bentuk butiran, sehingga sulit untuk didekomposisikan secara langsung dan akan berdampak langsung pada penyediaan unsur haranya, sehingga dalam apklikasinya perlu dilakukan pengomposan pada pukan kambing. Pukan kambing memiliki kalium tinggi dari pukan lainnya. d. Pupuk kandang babi Pemanfaatan pukan babi sangat berbeda dengan pukan lainnya karena pukan ini diberikan sendiri maka hasil pada tanaman kurang baik oleh sebab itu banyak petani yang mencampurnya dengan pukan ayam atau kambing. Pukan ini sangat dipengaruhi oleh mur ternak, pukan ini memiliki kadar P dan rendah Mg. e. Pupuk kandang kuda Penggunaan pukan ini dilakukan dengan dekomposisi secara alami dalam lubang yang disediakan. Pukan ini sangat tergantung pada jenis pakannya yaitu dedak sehingga mengandung banyak Mg dan memiliki C/N rasio yang rendah. Tabel 2.1. Komposisi Zat Hara Pupuk Kandang Pupuk Kandang Lembu, Sapi Kuda Domba Kelembaban (%) 80 75 68 Nitrogen (%) 1,67 2,29 3,75 P2O5 (%) 1,11 1,25 1,87 K2O (%) 0,56 1,38 1,25
  13. 13. 13 Babi Ayam Merpati 82 56 52 3,75 6,27 5,68 3,13 5,92 5,74 2,50 3,27 3,23 2.3. Air dan Tananman Air mempunyai fungsi yang sangat penting bagi tanaman. Salah satu fungsi air bagi tanaman adalah untuk mengatur suhu tubuh tanaman melalui proses transpirasi. Ketika tanaman menerima sinar matahari, tanaman dapat memproduksi pangan melalui proses fotosintesis. Namun demikian, selain memberikan manfaat bagi tanaman melalui proses fotosintesis, cahaya mathari juga menyebabkan meningkatnya suhu tanaman. Agar peningkatan suhu oleh sinar matahari tidak mencapai tingkat yang membahayakan bagi tanaman, maka tanaman mengatur suhu tubuhnya melalui proses tanspirasi. Pada transpirasi, air keluar dari tubuh tanaman melalui stomata. Bersamaan dengan keluarnya air, terjadi pembuangan energi panas dari tubuh tanaman. Dengan demikian taman dapat menjaga suhu tubuhnya pada tingkat yang aman secara fisilogis. Jika pembuangan energy melalui transpirasi ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka akan terjadi penumpukan energy panas pada tubuh tanaman. Hal ini sangat berbahaya bagi tanaman karena suhu yang terlalu tinggi pada tubuh tanaman dapat menyebabka rusaknya organ sel, sel, dan jaringan tanaman. Di dalam tubuh tanaman, air bergerak melalui sebuah jaringan pengangkut. Air merupakan faktor lingkungan yang penting, semua organisme hidup memerlukan kehadiran air ini. Perlu dipahami bahwa jumlah air di sistem bumi kita ini adalah terbatas dan dapat berubah-ubah akibat proses sirkulasinya. Pengeringan bumi sulit untuk terjadi akibat adanya siklus melalui hujan, aliran air, transpirasi dan evaporasi yang berlangsung secara terus menerus. Bagi tumbuhan air adalah penting karena dapat langsung mempengaruhi kehidupannya. Bahkan air sebagai bagian dari faktor iklim yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perubahan struktur dan organ tumbuhan. Kekurangan air akan menyebabkan tanaman menjadi kerdil, perkembangannya menjadi abnormal. Kekurangan yang terjadi terus menerus selama periode pertumbuhan akan menyebabkan tanaman tersebut menderita dan kemudian mati. Sedang tanda-tanda pertama yang terlihat ialah layunya daundaun. Peristiwa kelayuan ini disebabkan karena penyerapan air tidak dapat
  14. 14. 14 mengimbangi kecepatan penguapan air dari tanaman. Jika proses tranpirasi ini cukup besar dan penyerapan air tidak dapat mengimbanginya, maka tanaman tersebut akan mengalmi kelayuan sementara (transcient wilting), sedang tanaman akan mengalami kelayuan tetap, apabila keadaan air dalam tanah telah mencapai permanent wilting percentage. Tanaman dalam keadaan ini sudah sulit untuk disembuhkan karena sebagaian besar sel-selnya telah mengalami plasmolisia. 2.4. Penelitian Relevan yang Pernah Dilakukan Beberapa penelitian yang relevan dan dapat dijadikan acuan dalam penelitian ini tentang pengaruh pemberian pupuk organik terhadap pertumbuhan tanaman pegagan antara lain; “Kajian Frekuensi Pemberian Air dan Macam Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kumis Kucing” oleh Samanhudi et al menyimpulkan adanya peningkatan berat kering tanaman kumis kucing namun tidak mempengaruhi pertambahan berat simplisia. Penelitian oleh IPB (2012) mengenai “Dosis Pemupukan dan Sistem Panen Tanaman Pegagan untuk Memperoleh Produksi Senyawa Bioaktif Asiatikosida Tinggi” menyimpulkan adanya perbedaan dalam berat kering dan berat simplisia pegagan, namun dalam aplikasinya, penelitian tersebut menggunakan pupuk anorganik. Kedua penelitian di atas mendasari dilakukannya penelitian ini, yang ingin mengetahui pengaruh pemberian air dan jenis pupuk kandang terbaik bagi pertumbuhan tanaman Centella asiatica, sehingga dapat diperoleh laju pertumbuhan yang maksimal pada tanaman Centella asiatica. Penelitian ini merupakan penelitian yang berbeda dengan penelitian yang sudah ada sebelumnya. Sebagai tambahan, ada beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai efek farmakologis pegagan : 1. Ekstrak pegagan dalam sediaan jelly dapat menyembuhkan luka lebih cepat dibandingkan sediaan salep dan krim. Sediaan dalam bentuk krim dan jelly mempunyai stabilitas yang lebih baik dibandingkan salep selama 3 bulan (Suratman, 1994, JF FMIPA UNPAD).
  15. 15. 15 2. Ekstrak pegagan dengan fraksi petroleum eter tidak menghambat pertumbuhan bakteri, sedangkan fraksi kloroform dan fraksi sisa dapat menghambat pertumbuhan bakteri (Zuriyati, 1993, JF FMIPA UNAND).  Khasiat dan Cara Pemakaian 1. Infeksi saluran kencing, susah kencing Bahan : Pegagan kering 15 g, kumis kucing kering 10 g, akar alang-alang kering 7rumput mutiara kering 10 g Pemakaian : Semua bahan dicuci bersih, kemudian direbus dengan 7 gelas air hingga tersisa 3 gelas. Air rebusan diminum satu jam sebelum makan sebanyak 3 kali sehari, yaitu pagi, siang, dan sore hari (Mahendra, 2005). 2. Menambah daya ingat anak Bahan : Pegagan segar 30 g, temulawak 1 jari, madu secukupnya Pemakaian : Pegagan dicuci bersih, temulawak dipotong tipis-tipis. Masukkan dalam panci keramik dan rebus dalam 2 gelas air hingga tinggal setengahnya. Dinginkan, tambahkan madu dan minum sebelum makan. Anak-anak 2 – 5 tahun : 2 x ¼ gelas per hari Anak-anak 6 –12 tahun : 2 x ½ gelas per hari (Kurniasih, dkk., 2003). 3 Kencing darah, muntah darah, mimisan Bahan : Pegagan segar 30 g, urang-aring segar 30 g, akar alang-alang 30 g Pemakaian : Semua bahan dicuci bersih. Rebus dalam 3 gelas aired sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus. Lakukan 3kali sehari (Dalimartha, 2004). 4. Darah tinggi, jantung, stroke Bahan : Pegagan kering 15 g, sambiloto kering 10 g, pulai kering 7 g, tempuyung kering 10 g, sambung nyawa kering 10 g, daun dewa kering 10 g Pemakaian : Semua bahan dicuci bersih, kemudian direbus dengan 7 gelas air hingga tersisa 4 gelas. Air rebusan diminum satu jam sebelum makan sebanyak 3 kali sehari, yaitu pagi, siang, dan sore hari(Mahendra, 2005). 5. Wasir Bahan : Pegagan segar 4 – 5 tanaman
  16. 16. 16 Pemakaian : Pegagan dicuci bersih direbus dengan air selama 5 menit. Air rebusan diminum 2 kali sehari selama beberapa hari (Djauhariya dan Hernani. 2004) 2.5. Kerangka Berpikir Penggunaan bahan alam sebagai obat cenderung mengalami peningkatan dengan adanya isu back to nature dan krisis berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat terhadap obat-obat modern yang relatif lebih mahal harganya. Pemanfaatan pegagan sejak zaman dahulu telah digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi permasalahan kesehatan, seperti meningkatkan vitalitas dan daya ingat, mengatasi pikun, mengatasi tulang keropos pada lansia, meningkatkan kecerdasan pada anak anak, obat awet muda, obat penyakit kulit, antistres, antiradang, antikanker, untuk kosmetika, epilepsi, sakit gila dan hepatitis akut. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam pegagan mengandung asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoiside, brahminoside, brahmic acid, madasitic acid, hydrocotyline, mesoinositol, centellose, caretenoids, garam mineral, zat pahit vellarine, dan zat samak (Arisandi, 2006). Dalam memenuhi kebutuhan industri, selama ini pegagan diambil langsung dari alam, tanpa usaha pembudidayaan, sehingga pasokan bahan baku dan mutunya tidak terjamin. Meningkatnya minat masyarakat terhadap obat bahan alam, diperlukan pasokan bahan baku yang konsisten dengan mutu yang sesuai kebutuhan industri melalui usaha budidaya. Untuk mendukung upaya tersebut penyedianan bahan tanaman unggul merupakan salah satu cara untuk menghasilkan bahan baku bermutu. Selain itu, usaha pembudidayaan tanaman pegagan juga dapat dijadikan sebagai bisnis yang menjanjikan. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan budidaya yang sudah ada agar hasilnya semakin meningkat.
  17. 17. 17 Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian kadar air dan macam pupuk terhadap pertumbuhan tanaman pegagan (Centella asiatica). Melalui penelitian ini diharapkan produksi tumbuhan Centella asiatica dapat meningkat. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu melakukan penelitian dengan memberikan pupuk kandang dan air sehingga akan diketahui pengaruh dari penelitian. Pupuk kandang sebagai salah satu bahan organik, sangat penting dalam mempertahankan dan memperbaiki kesuburan tanah, apabila dibandingkan dengan pupuk buatan. Air berfungsi sebagai pelarut dari garam-garam, gas-gas dan material-material yang bergerak kedalam tubuh tumbuhan,melalui dinding sel dan jaringan esensial. Pemupukan dan Pengairan yang tepat akan memberikan produksi pertumbuhan yang lebih baik bagi tanaman. 2.6. Hipotesis Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka berfikir di atas, maka dapat ditentukan hipotesis penelitian yaitu sebagai berikut: 1). Terdapat pengaruh pemberian pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman Centella asiatica yang lebih baik dibandingkan tanpa pupuk. 2). Terdapat pengaruh pemberian masing-masing jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman Centella asiatica 3). Terdapat pengaruh pemberian kadar air terhadap pertumbuhan Centella asiatica. tanaman
  18. 18. 18 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian akan dilakukan bulan september sampai dengan bulan oktober 2013 bertempat di belakang rumah kaca kampus UNIMED di jalan Willem Iskandar, Sumatera Utara dengan ketinggian tempat 750 m di atas permukaan laut (dpl) dan jenis tanah humus alluvial. Beriklim Tropis dengan kisaran suhu udara 23ºC - 40ºC. Kelembaban udara di wilayah ini rata-rata 78-82%. Dan kecepatan angin rata-rata sebesar 0,42 m/sec sedangkan rata-rata total laju penguapan tiap bulannya 100,6 mm. 3.2 Bahan dan Alat 3.2.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah bibit ruas tanaman pegagan (Centella asiatica), tanah, pupuk kandang (sapi, kambing, ayam), dan air. 3.2.2 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cetok, gembor, penggaris, alat tulis, hand spray, timbangan, termometer maksimum-minimum, termometer tanah, lux meter, dan oven. Polybag sebanyak 60 buah dengan ukuran 25cm x 25cm dan volume 100ml, cetok, sprayer, gelas ukur, spektrofotometer, labu erlenmeyer, mortal, pH meter dan cuvet. 3.2.3 Kalibrasi Instrumen Alat yang digunakan dalam penelitian ini dianggap sudah terkalibrasi.Oleh karena itu tidak perlu dilakukan kalibrasi terhadap instrument.
  19. 19. 19 3.3 VariablePenelitian Variabel Bebas : Frekuensi pemberian air dan jenis pupuk kandang. Variabel Terikat : Pertumbuhan tanaman pegagan (Centella asiatica) 3.4 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap faktorial dengan dengan 2 faktor perlakuan. Faktor pertama adalah frekuensi pemberian air terdiri atas 3 taraf yaitu :2 kali sehari ,1 hari sekali, dan 2 hari sekali. Faktor kedua adalah macam pupuk kandang yang terdiri atas 3 macam yaitu pupuk kotoran sapi, pupuk kotoran kambing, pupuk kotoran ayam, dan satu kontrol . Sehingga didapatkan 12 kombinasi perlakuan yang diulang empat kali. Tabel 3.1. Rancangan Penelitian Control Pukan Sapi Pukan Kambing Pukan Ayam 2 x sehari 1 x sehari 2 hari, 1 x T1.C T2.C T3.C T1.P1 T2.P1 T3.P1 T1.P2 T2.P2 T3.P2 T1.P3 T2.P3 T3.P3 Keterangan: 2 x sehari 1 x sehari 2 hari 1 x Pupuk Sapi Pupuk Kambing Pupuk Ayam : : : : : : 3.5 Pelaksanaan Penelitian Tata laksana percobaan meliputi: pengamatan kondisi lingkungan, persiapan media tanam, penanaman, pemberian air, pemeliharaan dan panen. a. Pengamatan kondisi lingkungan area penanaman pengamatan dilakukan dengan mengukur intensitas cahaya matahari, suhu udara, suhu tanah, dan pH tanah. b. Persiapan media tanam.
  20. 20. 20 Media tanam yang dipakai adalah tanah humus, tiga jenis pupuk kandang, yaitu pukan sapi, pukan kambing, pukan ayam dan tanpa pukan dengan perbandingan 1:1. Media tanam dengan volume yang sama dimasukkan ke masing-masing polybag berukuran 25 cm x 25 cm. c. Penanaman Penanaman bibit dilakukan kedalam media tanam setelah tanah dibiarkan selama satu minggu setelah dicampur dengan pupuk. Hal ini bertujuan agar proses fermentasi oleh bakteri terhadap kotoran telah selesai, sehingga tanah tidak bersifat panas bagi bibit tanaman pegagan. Penanaman dilakukan dengan memasukkan 3 ruas umbi tanaman pegagan kedalam masing-masing media tanam. d. Pemeliharaan Pemeliharaan dilakukan dengan cara menyiram pegagan (Centella asiatica) dengan tiga macam perlakuan pemberian air yang berbeda, yaitu dua kali sehari, satu kali sehari dan dua hari satu kali volume air yang telah ditentukan. e. Pengamatan dan Pemanenan Pengamatan terhadap faktor-faktor yang di ukur dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu 20 HST, 40 HST, dan 60 HST. Pemanenan dilakukan ketika tanaman berusia 60 HST. 3.6 Pengamatan Pengamatan dilakukan pada tanaman yang dipilih secara acak dari masingmasing ulangan. Pengamatan tanaman meliputi beberapa parameter yaitu pengamatan terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, tingkat kehijauan daun, luas daun, berat segar tajuk dan akar, berat kering tajuk dan akar, laju asimilasi bersih, indeks luas daun, laju pertumbuhan tanaman, rasio tajuk dan akar, dan kandungan klorofil.
  21. 21. 21 3.6.1. Komponen Pertumbuhan a. Tinggi Tanaman (cm) Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang sampai ujung daun (pucuk).Pengukuran dilakukan pada 20 HST, 40 HST, dan 60 HST. b. Jumlah Daun Jumlah daun dihitung dengan menghitung jumlah daun tanaman. Daun yang dihitung yaitu daun yang sudah terbentuk dengan sempurna..Perhitungan dilakukan pada 20 HST, 40 HST, dan 60 HST. c. Luas Daun (cm2) Luas daun dihitung dengan menggunakan metode gravimetri. Perhitungan luas daun dilakukan pada 20 HST, 40 HST, dan 60 HST. Metode pengukuran luas daun dilakukan dengan menggunakan kertas yang seragam. Daun yang akan diukur luasnya digambar pada kertas, digunting kemudian ditimbang. Luas daun dapat ditentukan dengan membandingkan berat potongan kertas dengan berat kertas yang sudah diketahui luasnya.Rumus yang digunakan untuk mengukur luas daun adalah: LD = (a/b) x 100 cm2 (Sumber : Sitompul dan Guritno, 1995) Keterangan: LD a b = luas daun = berat pola = berat kertas konversi (gr) d. Berat Segar Akar dan Tajuk - Berat Segar Akar (gr) Berat segar akar diperoleh dengan menyuci bersih akar lalu ditimbang dengan menggunakan timbangan.
  22. 22. 22 - Berat Segar Tajuk (gr) Berat segartajuk diperoleh dengan menyuci bersih tajuk lalu ditimbang dengan menggunakan timbangan. Berat segar tajuk pegagan terdiri atas batang dan daun. Semakin banyak jumlah daun maka berat segar tajuk tanaman juga akan meningkat.Perhitungan berat segar akar dan tajuk dilakukan pada 20 HST, 40 HST, dan 60 HST. e. Berat Kering Akar dan Tajuk - Berat Kering Akar (gr) Penimbangan bobot kering akar tanaman setelah pengeringan pada suhu 800 C selama 24 jam di dalam oven. - Berat KeringTajuk (gr) Penimbangan bobot kering tajuk tanaman setelah pengeringan pada suhu 800C selama 24 jam di dalam oven. Biomassa tajuk merupakan akumulasi fotosintat yang berada dibatang dan daun Perhitungan berat segar akar dan tajuk dilakukan pada 20 HST, 40 HST, dan 60 HST. f. Indeks Luas Daun (cm-2m-2) Indeks Luas Daun (ILD), yaitu nisbah antara luas daun komunitas (L) dengan satuan luas area tanah yang ditutupi komunitas (A), yang merupakan karakteristik kemampuan tanaman menyerap radiasi matahari untuk proses fotosintesis dalam tegakan tanaman. Perhitungan indeks luas daun dilakukan pada 20 HST, 40 HST, dan 60 HST. Rumus untuk indeks luas daun adalah: ILD = Keterangan: ILD = luas daun, L = luas daun komunitas, A = luas area tanah g. Rasio Tajuk dan Akar Perbandingan berat kering tajuk dan berat kering akar tanaman Centella asiatica. Parameter ini digunakan sebagai petunjuk ada atau tidaknya peristiwa
  23. 23. 23 kekeringan air pada tanaman.Perhitungan rasio tajuk dan akar tanaman dilakukan pada 20 HST, 40 HST, dan 60 HST . h. Laju Asimilasi Bersih ( g/cm2/minggu ) Laju asimilasi bersih yaitu hasil bersih asimilasi persatuan luas dan waktu diperoleh melalui rumus sebagai berikut: LAB = X (Sumber :Gardner et.al, 1991) Keterangan: LAB = Laju Asimilasi Bersih L1 = Luas daun pada pengamatan awal (cm2) L2 = Luas daun pada pengamatan akhir (cm2) W1 = Bobot kering tanaman pada pengamatan awal ( gr ) W2 = Bobot kering tanaman pada pengamatan akhir ( gr) T1 = waktuawal pengamatan( minggu ) W2 = waktu akhir pengamatan( minggu ) Perhitungan laju asimilasi bersih dilakukan pada 20 HST, 40 HST, dan 60 HST i. Laju Pertumbuhan Tanaman ( g/cm2/minggu ) Lajupertumbuhan tanaman yaitu pertumbuhan berat dalam komunitas tanaman Persatuan luastanah dalam satu satuan waktu.Perhitunganlaju pertumbuhan tanaman dilakukan pada 20 HST, 40 HST, dan 60 HST melalui rumus sebagai berikut: LPT = X (Sumber :Gardner et.al, 1991)
  24. 24. 24 Keterangan: LPT = Laju Pertumbuhan Tanaman GA = Luas tanah (cm2) j. Kandungan Klorofil Daun Daun yang digunakan untuk menghitung kandungan klorofil adalah daun nomor 4 dari atas.Daun diekstrak dengan aseton 70%.Ekstrak daun kemudian dimasukkan dalam kuvet dan diukur kandungan klorofilnya dengan spektrofotometer.Pengukuran dilakukan pada minggu ke-4 setelah masa tanam. Perhitungan kandungan klorofil dilakukan dengan rumus sebagai berikut: Klorofil a = 1.07 (OD 663) – 0.094 (OD644) Klorofil b = 1.77 (OD 644) – 0.28 (OD 663) Klorofil Total = 0.79 (OD 663) – 1.076 (OD 644) (Sumber : Sitompul dan Guritno, 1995) 3.7. Analisis Data Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan uji Anova dua jalur pada tingkat kepercayaan 95%.Apabila uji Anova menunjukkan adanya pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji Duncan.
  25. 25. 25 REFERENSI Arisandi, Yohana., 2006, Khasiat Berbagai Tanaman untuk Pengobatan, Eska Media, Jakarta. Astawan, Made., 2011, Pegagan Meremajakan Otak & Hati http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Natural+Heali ng&y=cybermed|2|0|3|265 (Diakses 2 Mei 2012). Balittro, 2012, Budidaya dan PascaPanen Pegagan (Centella asiatica) http://pkpp.ristek.go.id/_assets/upload/docs/786_doc_8.pdf (diakses 30 Agustus 2013) Grander, Pearce dan R.L. Mithell, 1991, Fisiologi Tanaman Budidaya, Universitas Indonesia, Jakarta. http://id.wikipedia.org/wiki/Pegagan diakses 28 Agustus 2013 http://id.wikipedia.org/wiki/Pupuk_kandang diakses 28 Agustus 2013 Institut Pertanian Bogor. 2005. Pasar Domestik dan Ekspor Produk Tanaman Obat (Biofarmaka). Januwati M, H Muhammad. 1992. Cara Budidaya Pegagan (Centella asiatica L. (Urban)). Warta Tumbuhan Obat Indonesia 1 (2):42-44. Nur Kartinee K, A. Hawariah L.P. and Azizol A, K., 2000. Perliminary sraaning of antiproliferative activity of selected extracts of Centella asiatica. Proceedings of the Seminar on Medicinal and Aromatic Plants. FRIM, 1213 September 2000. Kuala Lum-pur, Malaysia. Suratman, 1994, Ekstrak pegagan dalam sediaan jelly dapat menyembuhkan luka lebih cepat dibandingkan sediaan salep dan krim. FMIPA UNPAD
  26. 26. 26 Widowati, L., Pudjiastuti, D. Indrari dan D. Sundari, 1992. Beberapa Informasi Khasiat Keamanan dan Fitokimia Tanaman Pegagan (Centella asiatica L. Urban.). Warta Tumbuhan Obat Indonesia. I (2) : 39-42. Winarto WP, Surbakti M. 2005. Khasiat & Manfaat Pegagan: Tanaman Penambah Daya Ingat. Jakarta: Agromedia Pustaka. Zuriyati, 1993, Ekstrak pegagan dengan fraksi petroleum eter tidak menghambat pertumbuhan bakteri. FMIPA UNAND

×