IDENTITAS, OTORITAS, RELASI
KEKUASAAN
Oleh Anna Marsiana
Young Queer Faith & Sexuality Camp
Identitas
• Tidak bebas dari kepentingan: Setiap identitas yang kita
bawa memiliki muatan dan kepentingan baik yang
dileka...
Identitas ...
Contoh bahwa identitas adalah cair: Seorang perempuan
di tempat kerjanya memakai identitasnya sebagai
direkt...
Identitas...
• Orang secara selektif memperkenalkan diri
dengan satu atau dua identitas tertentu karena
ada tujuan & kepen...
Identitas & multikulturalisme-
pluralisme
• Kenyataan bahwa dalam diri seseorang tidak
membawa identitas tunggal, melainka...
Identitas & politik identitas
• Karena identitas tidak pernah bebas dari
kepentingan, identitas sangat rentan untuk
dipoli...
Otoritas & kekuasaan
• Otoritas, legitimasi kewenangan untuk membuat keputusan dan bertindak
atas sesuatu, seseorang dan a...
Otoritas & kekuasaan
• Kekuasaan, dalam presentasi ini, didefinisikan sebagai
otoritas yang diberikan dari luar: anggota o...
Bentuk-bentuk kekuasaan
• Coercive power/Kuasa paksaan: Penekanan kepada
hukuman bagi mereka yang tidak melakukan instruks...
Paradigma & praktek kekuasaan
• Power over: paradigma yang melihat dan
memakai kekuasaan untuk menguasai orang lain.
• Par...
Paradigma & praktek kekuasaan..
• Power within: kekuasaan dipahami sebagai
adanya timbal balik seimbang antara
kewenangan/...
Paradigma & praktek kekuasaan...
• Power sharing: suatu praktek kekuasaan dimana pemilik
kekuasaan percaya bahwa semakin a...
Identitas & Relasi Kekuasaan
• Kenyataan bahwa dalam diri seseorang tidak membawa identitas
tunggal, melainkan multi, dan ...
Power is Exercised
• Power is exercised: artinya kekuasaan itu tidak datang dari langit,
melainkan melalui proses yang ber...
Power is exercised: bias perspektif
pemenang
Karena:
 Hanya mereka yang punya akses ke kekuasaan bisa memberikan
suaranya...
Power is exercised: bias perspektif
pemenang (lanjutan)
• Setiap individu/kelompok memiliki
kepentingannya sendirisetiap ...
Pembentukan diskursus sebagai bagian
dari pengasahan kekuasaan
• Kata kuncinya adalah: proses selektif
• Ada 3 langkah:
1....
Kata kunci: SELEKTIF- Pemilihan
materi
- di sekitar kita ada banyak sekali isu & persoalan, seorang
penguasa akan secara s...
Kata kunci: SELEKTIF-interpretasi
• Tidak ada subyek atau teks yang memiliki interpretasi
tunggal.
• Teks  tidak mati
• D...
Kata kunci: SELEKTIF-distribusi
• Dari banyak media untuk distribusi, maka
penguasa akan memilih saluran distribusi, media...
Kita dalam peta relasi kekuasaan..
• Kita berada dalam ketegangan berbagai bentuk dan level relasi kekuasaan
yang bias gen...
SELAMAT MEMETAKAN &
MEMERDEKAKAN DIRI!!!
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Identitas, otoritas, & relasi kekuasaan by anna marsiana

1,575 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,575
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
18
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Identitas, otoritas, & relasi kekuasaan by anna marsiana

  1. 1. IDENTITAS, OTORITAS, RELASI KEKUASAAN Oleh Anna Marsiana Young Queer Faith & Sexuality Camp
  2. 2. Identitas • Tidak bebas dari kepentingan: Setiap identitas yang kita bawa memiliki muatan dan kepentingan baik yang dilekatkan dari luar maupun yang dibawa oleh si pemilik identitas • Tidak tunggal: Setiap orang membawa identitas lebih dari satu, baik yang bersifat bawaan lahir (etnis, ras, jenis kelamin) maupun yang pilihan dan atau bentukan sosial (agama, budaya, aliansi politik, pendidikan, status sosial- ekonomi, status dalam keluarga, dst) • Identitas sangat cair: Setiap hari kita berpindah dari identitas yang satu ke identitas yang lain secara sadar, maupun tidak sadar demi agar fitting untuk kondisi tertentu, posisi tertentu, kepentingan tertentu.
  3. 3. Identitas ... Contoh bahwa identitas adalah cair: Seorang perempuan di tempat kerjanya memakai identitasnya sebagai direktur perusahaan, ketika di rumah dia berpindah identitas sebagai istri dan ibu, dengan peran yang diharapkan darinya, dan jika suaminya adalah PNS, maka di kantor suami tiba-tiba menjadi assesories suami dengan label darma wanita. Dalam perpindahan identitas tsb, dia jg melakukan perpindahan peran dan perilaku seperti yang ‘diharapkan’ darinya. Misal: dikantor, peran pemimpin yang menonjol, di rumah, peran merawat yang menonjol, di kantor suami, tergantung posisi jabatan suami.
  4. 4. Identitas... • Orang secara selektif memperkenalkan diri dengan satu atau dua identitas tertentu karena ada tujuan & kepentingan tertentu. • Identitas kita dibentuk dalam konteks ketegangan relasi kekuasan antara kita dengan aspek dan elemen sosial di luar kita, dan ketegangan relasi kekuasan antar aspek sosial itu sendiri. • Seluruh aspek sosial tersebut berada dalam struktur piramida: hierarkhis, power over, ada yang mendominasi dan ada yang didominasi.
  5. 5. Identitas & multikulturalisme- pluralisme • Kenyataan bahwa dalam diri seseorang tidak membawa identitas tunggal, melainkan multi, dan bahwa identitas seseorang bersifat cair, maka pluralisme dan multikuluturalisme bukanlah sebuah pilihan melainkan konsekuensi. • Di dalam konteks Indonesia dimana ada lebih dari 100 suku dan sub-suku dengan lebih dari 300 bahasa daerah aktif, 6 agama resmi dan puluhan agama suku dan kepercayaan yang masih hidup, maka multikulturalisme dan pluralisme sekali lagi bukanlah pilihan melainkan SYARAT MUTLAK untuk kehidupan bersama, berbangsa & bernegara!
  6. 6. Identitas & politik identitas • Karena identitas tidak pernah bebas dari kepentingan, identitas sangat rentan untuk dipolitisir • Identitas sektarian & primordialisme menguat: berbasis agama, etnis, suku, afiliasi politik rentan politisir • Politik identitas: bias gender, patriarkhis, bias mayoritas & dominan (agama, suku, budaya), heteronormatif.
  7. 7. Otoritas & kekuasaan • Otoritas, legitimasi kewenangan untuk membuat keputusan dan bertindak atas sesuatu, seseorang dan atau diri sendiri. • Bisa bersifat inherent, misalnya bahwa setiap orang memiliki otoritas atas tubuh & dirinya sendiri. • Otoritas atas tubuh dan diri kita TIDAK diberikan oleh institusi tertentu yang dipahami sebagai institusi pemilik atau pemberi otoritas seperti institusi negara, institusi agama, institusi hukum, dst, melainkan kita bawa dari lahir, sifatnya hakiki. • Sebaliknya, institusi negara, institusi agama, dll itu melalui produk-produk hukum, aturan, ajaran, dogma, MERAMPAS otoritas kita atas tubuh & diri kita. • Otoritas atas tubuh dan diri—selalu dalam proses dialektika dengan berbagai otoritas di luar kita. • Proses tawar-menawar dg otoritas di luar sana hanya bisa terjadi jika kita terlebih dulu meyakini bahwa kita adalah pemiliki otoritas atas tubuh dan diri sendiri.
  8. 8. Otoritas & kekuasaan • Kekuasaan, dalam presentasi ini, didefinisikan sebagai otoritas yang diberikan dari luar: anggota organisasi kepada ketua atau sekretaris ekskutifnya, rakyat kepada anggota DPR atau kepala pemerintahnya, umat kepada pemimpinnya, atau pimpinan kepada wakilnya. • Mengandung unsur delegasi kewenangan dan pemberian hak dari si pemberi kuasa. • Karenanya, mengandung kewajiban yang harus dipenuhi oleh si penerima delegasi (baca: penguasa) • Kewenangan seorang penguasa dibatasi oleh kewajiban yang harus dipenuhinya.
  9. 9. Bentuk-bentuk kekuasaan • Coercive power/Kuasa paksaan: Penekanan kepada hukuman bagi mereka yang tidak melakukan instruksi • Reward Power: Kuasa lebih didasarkan kepada reward/hadiah/bonus yang diberikan kepada mrk yg taat. • Legitimative Power: Penguasa menuntut ketaatan dari pengikutnya utk melegitimasi kekuasaannya. • Expert Power: Penguasa yang memiliki kekuasaan karena expertise/keahlian yang dimilikinya (memakai keahliannya) • Referent Power: Ketika si penguasa memiliki karisma yang luarbiasa sehingga para pengikutnya menjadikannya role model.
  10. 10. Paradigma & praktek kekuasaan • Power over: paradigma yang melihat dan memakai kekuasaan untuk menguasai orang lain. • Paradigma ini merupakan paradigma yang paling umum –disadari atau tidak– dipakai dalam praktek kekuasaan di dunia ini. Karenanya kekuasaan menjadi perebutan. • Paradigma ini rentan memunculkan praktek otoritarianisme (otoriter), bersifat menjajah, menindas, memarjinalisasikan bahkan mendiskriminasikan kelompok tertentu.
  11. 11. Paradigma & praktek kekuasaan.. • Power within: kekuasaan dipahami sebagai adanya timbal balik seimbang antara kewenangan/hak dan kewajiban atas pemenuhan hak yang didelegasikan kepadanya. • Kekuasaan dipahami sebagai pengaruh yang dimiliki agar si pemiliki kuasa itu mampu membuat yang lain juga memiliki kuasa; • Power to empower • Merupakan perlawanan atas paradigma power over. upaya mengembalikan kekuasaan sebagai kendaraan untuk melakukan transformasi sosial.
  12. 12. Paradigma & praktek kekuasaan... • Power sharing: suatu praktek kekuasaan dimana pemilik kekuasaan percaya bahwa semakin absolut suatu kekuasaan, maka semakin rentan dia terhadap penyalahgunaan (abuse of power). • Untuk meminimalkan kesempatan power abuse/penyalahgunaan kekuasaan, maka dipraktekkanlah kepemimpinan secara kolektif, dimana kekuasaan didistribusikan. • Contoh: sistem pemerintahan demokrasi, dimana kekuasaan didistribusikan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif. • Contoh: dalam organisasi, dimana sistem kepemimpinan secara kolektif dengan struktur yang flat .
  13. 13. Identitas & Relasi Kekuasaan • Kenyataan bahwa dalam diri seseorang tidak membawa identitas tunggal, melainkan multi, dan bahwa identitas itu dibentuk dalam ketegangan relasi-relasi kekuasaan maka untuk bisa menjadi identitas yang merdeka sekaligus memerdekan, dituntut kesadaran kritis yang bersifat konstan atas relasi-relasi kekuasaan yang ada, dan posisi kita masing di dalam setiap piramida kekukasaan tsb. • Dengan kesadaran bahwa setiap individu memiliki posisinya masing- masing yang berbeda-beda di setiap piramida, maka sesungguhnya tidak ada orang yang sama sekali powerless. • Menuntut kesadaran bahwa koalisi untuk transformasi relasi kekuasaan bersifat kompleks, karena setiap orang memiliki lebih dari 1 posisi, dan karenanya pasti lebih dari 1 kepentingan.
  14. 14. Power is Exercised • Power is exercised: artinya kekuasaan itu tidak datang dari langit, melainkan melalui proses yang bersifat relasional, antara si pemberi kekuasaan dan si penerima kekuasaan. Seseorang tdk bisa mengklaim berkuasa kalau masyarakat di sekitarnya/anggita organisasi tdk mengakui kekuasaannya. • Kekuasaan terakumulasi pd seseorang atau kelompok tertentu karena ada proses timbal balik, tidak akan terjadi jika pihak “pemberi” kuasa tidak mengijinkan hal itu terjadi. • Namun pada saat yang sama, kekuasaan terakumulasi karena dalam proses exercising atau pengasahan kekuasaan tsb, selalu bersifat bias akses (hanya yang memiliki akses terhadap kekuasaan yang mampu memberikan pengaruh dan kontribusi). • Pengasahan kekuasaan melalui pembentukan dan pengembangan diskursus (pemilihan material, penerjemahan & intepretasi, distribusi) yang bersifat selektif dan tidak bebas kepentingan.
  15. 15. Power is exercised: bias perspektif pemenang Karena:  Hanya mereka yang punya akses ke kekuasaan bisa memberikan suaranya. Semakin di bawah kecenderungan posisi seseorang dalam multiple piramida, semakin dia tidak punya akses dalam mempengaruhi kekuasaan  Contoh: seorang transgender, miskin, berpendidikan rendah, dari kampung terpencil akan berada di dasar piramida dari minimal 4 piramida sosial, yang berarti dia termarginalkan secara 4 lapis. Kondisi tsb membuat dia nyaris tdk mungkin punya akses untuk ikut mempengaruhi kekuasaan; ada ketimpangan besar dalam relasi kekuasaan dia dengan si penguasa. Catatan: dalam masyarakat yang bias gender, maka seorang transgender tdk diterima dlm masyarakat drop out sekolah tdk ada lapangan kerja miskin di jalanan  makin tdk punya akses
  16. 16. Power is exercised: bias perspektif pemenang (lanjutan) • Setiap individu/kelompok memiliki kepentingannya sendirisetiap suara yang disuarakan mewakili kepentingan individu/kelompok tsb. • Jika hanya mereka yang memiliki akses ke kekuasaan punya suara, mk hanya kepentingan para pemilik akses inilah yang terwakili. • “Power tends to corrupt” • Definisi, deksripsi, isu sosial yang dibentuk bias Cenderung menjaga status quo
  17. 17. Pembentukan diskursus sebagai bagian dari pengasahan kekuasaan • Kata kuncinya adalah: proses selektif • Ada 3 langkah: 1. Pemilihan materi 2. Interpretasi/tafsir & pembentukan definisi 3. Distribusi Semuanya bersifat selektif.
  18. 18. Kata kunci: SELEKTIF- Pemilihan materi - di sekitar kita ada banyak sekali isu & persoalan, seorang penguasa akan secara selektif memilih isu mana yang akan dilempar ke publik. - Ingat!!!!Seleksi isu tidak pernah bebas dari kepentingan Misal: dalam konteks Indonesia, ada isu mega korupsi oleh tokoh politik dari partai berkuasa, kasus bayi mati karena ditolak RS, ada kasus pembunuhan mutilasi di jalan tol. Maka humas pemerintah akan memilih untuk mengangkat kasus mutilasi dan blow up besar-besaran sehingga atensi masyarakat terfokus pada kasus ini dan melupakan kasus mega korupsi atau pun matinya bayi krn ditolak RS.
  19. 19. Kata kunci: SELEKTIF-interpretasi • Tidak ada subyek atau teks yang memiliki interpretasi tunggal. • Teks  tidak mati • Dari banyak interpretasi, maka seorang penguasa akan menentukan (Selektif) interpretasi yang mana yang akan diambil atau akan membentuk interpretasinya sendiri yang menguntungkan posisinya. • Misal: Jika blow up kasus mutilasi tdk berhasil, maka mereka akan menyiapkan versi kasus korupsi dan memberikan interpretasi mereka yang bias pembenaran di sana-sini.
  20. 20. Kata kunci: SELEKTIF-distribusi • Dari banyak media untuk distribusi, maka penguasa akan memilih saluran distribusi, media massa, yang dianggap bisa diajak berkolaborasi, atau memiliki kepentingan yang sama. • Bayangkan jika semua saluran distribusi ternyata ada di bawah hegemoni penguasa, atau jika hanya ada satu saluran distribusi, atau jika pemilik saluran distribusi ternyata adalah juga bagian dari struktur & lingkarang penguasa.
  21. 21. Kita dalam peta relasi kekuasaan.. • Kita berada dalam ketegangan berbagai bentuk dan level relasi kekuasaan yang bias gender, heteronormatif, hierarkhis, patriarkhis. • Dituntut selalu dalam kesadaran kritis akan identitas & posisi multi kita. • Dituntut untuk selalu dalam kesadaran kritis akan proses selektif yang mengitari kekuasaan dengan selalu bertanya: • - Apakah relasi kekuasaan tsb bersifat membebaskan atau sebaliknya memenjarakan & meminggirkan buat saya dan masyarakat di luar saya. • - Kalau tidak, siapa yang diuntungkan? • - Kira-kira proses selektif seperti apa uang sudah terjadi dalam membentuk relasi kekuasaan yang ada itu? • - Bagaimana caranya untuk bisa mengubah peta relasi agar bersifat lebih membebaskan/memerdakan, pertama-tama untuk saya, dan kemudian untuk lingkungan yang lebih luas. Posisi “SAYA” sbg subyek di sini sangat penting, karena tidak proses perubahan sosial (pembebasan, pemerdekaan) tanpa adanya pembebasan dan pemerdekaan diri sendiri.
  22. 22. SELAMAT MEMETAKAN & MEMERDEKAKAN DIRI!!!

×