Community-Based Approach For Prevention And
Control of Dengue Hemorrhagic Fever in
Kanchanaburi Province, Thailand
Anggota PBL 8
• Jessica Theo
(2012060040)
• Jesslyn Nathasya
(2012060042)
• Elen Angela
(2012060043)
• Denish Gunawan
(201...
Pendahuluan

• Wabah besar DHF di Thailand terjadi
pertama kali tahun 1958, terutama di
Bangkok dan sekitarnya
• Jumlah ka...
Pendahuluan

• Wabah DHF perlu dipelajari lebih lanjut karena
tidak hanya terjadi saat musim hujan, tetapi
sepanjang tahun...
Pendahuluan

• Komunitas perlu melakukan
tindakan-tindakan yang
bertujuan untuk mengurangi
sumber penyebaran penyakit :
– ...
Latar Belakang
• Angka morbiditas DHF di propinsi
Kanchanaburi : 86,5 per 100.000 populasi
(melebihi target nasional < 60 ...
• Lokasi studi: 1 desa di sub distrik Vang Yen & 1 desa
di sub distrik Ban Kao
• Tokoh masyarakat di desa Vang Yen yang di...
• Setiap tokoh masyarakat merencanakan aktivitas kontrol
DHF dengan wakil anggota rumah tangga di daerah
mereka
• Untuk me...
• Instrumen penelitian berupa kuesioner dan
formulir survei larva
• Kuesioner terdiri dari 4 bagian: variabel sosiodemogra...
• Analisis univariat dilakukan untuk variable
demografik
• Student’s t-test dilakukan untuk menilai perbedaan
pengetahuan,...
Sampel dalam Penelitian (Rata2 Kedua Kelompok)
Sampel studi terdiri dari :
• 53 tokoh masyarakat (18,5%) dan 234
perwakila...
Perbandingan Kedua Populasi Sampel
• Chi-square (χ2) test
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara
eksperimen dan kontro...
Uji Signifikansi
• Uji signifikansi antara nilai mean dari
variabel output dalam kelompok
percobaan dan kelompok pembandin...
Skor tentang Pengetahuan mengenai DBD
• Skor minimum dan maksimum : 0-12 (untuk
pengetahuan tentang DBD)
Sebelum percobaan...
Perbedaan CI, HI dan BI
• Selama survei pertama, sebelum percobaan,
kedua kelompok penelitian memiliki CI, HI,dan
BI lebih...
Indeks Daerah Perkembangbiakan
• Tabel 4 menunjukkan Indeks untuk daerah
tempat perkembangbiakan utama Aedes
aegypti selam...
Hasil Survei
Survei pertama :
• 5 besar tempat perkembangbiakann nyamuk
Aedes aegypti (eksperimental) :
1. Sampah (botol b...
Nilai CI
• Nilai CI pada tempat perkembang biakan
nyamuk Aedes aegypti ini pada daerah
pembanding tidak terlihat seperti a...
• Multiple Classification Analysis (MCA)
• Model aditif, variabel yang siginifikan dan
mempunyai nilai β (β value) yang le...
• DHF telah menjadi masalah dalam kesehatan
masyarakat selama kurang lebih 30 tahun.
• Usaha untuk mengontrol pertumbuhan ...
• Usaha yang efektif yang seharusnya dilakukan
adalah dengan memusnahkan habitat dari
larva Aedes aegypti.
• 2 desa dari d...
• Hasil dari usaha ini meningkat secara signifikan.
Hal ini dikarenakan program dari pemberdayaan
berbasis komunitas mampu...
• Dari hasil yang didapat terlihat jelas
bahwa cara ini sangat efektif dalam
membasmi DHF.
• Hasilnya insiden DHF menurun ...
• Setelah melakukan eksperimen ini, dinyatakan
bahwa daerah studi merupakan prediktor
terbaik.
• Dalam studi ini dengan se...
Conclusion
• Program studi ini terbukti efektif dan telah
dibuktikan dengan unvariate, bivariate, dan
multivariate data an...
Adapted from :
Therawiwat M, Fungladda W, Kaewkungwal J, Imamee N,
Steckler A. Community-based approach for prevention
and...
dengue fever management
dengue fever management
dengue fever management
dengue fever management
dengue fever management
dengue fever management
dengue fever management
dengue fever management
dengue fever management
dengue fever management
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

dengue fever management

592 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
592
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
5
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

dengue fever management

  1. 1. Community-Based Approach For Prevention And Control of Dengue Hemorrhagic Fever in Kanchanaburi Province, Thailand
  2. 2. Anggota PBL 8 • Jessica Theo (2012060040) • Jesslyn Nathasya (2012060042) • Elen Angela (2012060043) • Denish Gunawan (2012060090) • Garry Grimaldi (2012060109) • Marcelin Suryana (2012060110) • Natasha Olivia Gunawan (2012060111) • Celine (2012060191) • Alfredo Bambang (2012060193) • Yustinus Harianto (2012060195) • Maria Gracia Devita Windharta (2012060196) • Felicia (2012060197) • Gabrielle Glenis (2012060212)
  3. 3. Pendahuluan • Wabah besar DHF di Thailand terjadi pertama kali tahun 1958, terutama di Bangkok dan sekitarnya • Jumlah kasus tahun 1999-2003 bervariasi, mulai dari 30.000 - 120.000 kasus, dengan case fatality rate = 0,12 - 0,21 % • Menyerang kelompok usia < 15 tahun dan mengalami kenaikan dari 20% menjadi 30%, dengan insidensi tertinggi pada kelompok usia 5-9 tahun
  4. 4. Pendahuluan • Wabah DHF perlu dipelajari lebih lanjut karena tidak hanya terjadi saat musim hujan, tetapi sepanjang tahun • Komunitas merupakan titik utama dalam perkembangan, pelaksanaan dan evaluasi Community-Based DHF Control Program • Di Thailand program pencegahan yang ada kurang efektif, penyebabnya karena sulitnya menyatukan semua sektor • Perlu perhatian khusus pada partisipasi masyarakat untuk mencegah & mengontrol DHF, diiringi kebiasaan hidup serta budaya setempat
  5. 5. Pendahuluan • Komunitas perlu melakukan tindakan-tindakan yang bertujuan untuk mengurangi sumber penyebaran penyakit : – Mengosongkan tempat penampungan air – Membuang barang bekas seperti ban bekas, kaleng bekas, dsb – Mencegah nyamuk berkembang biak di tambak / tempat lainnya
  6. 6. Latar Belakang • Angka morbiditas DHF di propinsi Kanchanaburi : 86,5 per 100.000 populasi (melebihi target nasional < 60 per 100.000 populasi) • Angka insidensi tertinggi pada distrik Mueang • Penelitian ini dilakukan di dua desa pada distrik Mueang untuk melihat efektivitas community-based empowerment program (CBEP) dalam mengubah pengetahuan, melihat kerentanan, mengukur keberhasilan kegiatan survei yang berkaitan dengan pencegahan DHF (melalui pengamatan CI, HI, BI) Container Index (CI): % tempat penampungan yang positif untuk jentik A. aegypti House Index (HI): % rumah yang positif terdapat jentik-jentik A. aegypti Breteau Index (BI): jumlah tempat penampungan yang positif mengandung jentik-jentik pada setiap 100 rumah
  7. 7. • Lokasi studi: 1 desa di sub distrik Vang Yen & 1 desa di sub distrik Ban Kao • Tokoh masyarakat di desa Vang Yen yang diketahui: relawan kesehatan desa, kepala desa, guru sekolah, petugas kesehatan sub distrik, dan anggota TAO (Tambon Administration Organization) • Mereka semua diberdayakan melalui CBEP (Community-based Empowerment Program) • Strategi program ini yaitu pelatihan tentang konsep dasar proses penyelesaian masalah: identifikasi masalah, klarifikasi masalah, identifikasi kemungkinan solusinya, pengembangan proyek, implementasi, dan evaluasi
  8. 8. • Setiap tokoh masyarakat merencanakan aktivitas kontrol DHF dengan wakil anggota rumah tangga di daerah mereka • Untuk meningkatkan pengalaman belajar melalui pembelajaran partisipatif, maka setiap output dan outcome dilaporkan pada rapat bulanan • Keefektivan program dinilai dengan indikator: pengetahuan yang didapat mengenai DHF digunakan untuk menilai output; survei jentik nyamuk secara berkala • Eliminasi dan kontrol tempat perkembangbiakan nyamuk digunakan untuk menilai output program • Reduksi CI, HI, & BI digunakan untuk menilai outcome program
  9. 9. • Instrumen penelitian berupa kuesioner dan formulir survei larva • Kuesioner terdiri dari 4 bagian: variabel sosiodemografik, pengetahuan akan DHF, kerentanan yang diketahui dan self-efficacy, & dan kebiasaan dalam mengontrol dan mengeliminasi nyamuk, juga survei jentik yang dilakukan secara berkala • Koefisien Cronbach’s alpha digunakan untuk menilai keandalan kuesioner • Survei jentik dilakukan pada awal, tengah, dan akhir program • Data kualitatif dikumpulkan dari tokoh masyarakat serta wakil dari rumah tangga terpilih
  10. 10. • Analisis univariat dilakukan untuk variable demografik • Student’s t-test dilakukan untuk menilai perbedaan pengetahuan, persepsi, self-efficacy, dan praktek survei larva antara kelompok percobaan dan perbandingan • Variabel yang sangat terkait (Beta value) pada praktek survei larva dianggap untuk inklusi dalam model multivariat • Multiple Classification Analysis (MCA) digunakan untuk menentukan faktor penting, penyesuaian untuk semua variabel model dalam memprediksi perilaku saat survei jentik
  11. 11. Sampel dalam Penelitian (Rata2 Kedua Kelompok) Sampel studi terdiri dari : • 53 tokoh masyarakat (18,5%) dan 234 perwakilan anggota rumah tangga (81,5%). • Mayoritas adalah perempuan (55,4%), usia 30-49 tahun (53,7%). • Sekitar 69,0% sudah menikah, • Tingkat pendidikan terakhir kelas 6 Sekolah Dasar atau lebih rendah (52,3%). • Pekerjaan : petani (28,9%) dan pekerja tidak terampil (32,1%) dengan pendapatan bulanan ≤ 3.000 baht (sekitar US $ 75) (41,8%).
  12. 12. Perbandingan Kedua Populasi Sampel • Chi-square (χ2) test Tidak ada perbedaan yang signifikan antara eksperimen dan kontrol kecuali pada umur dan pekerjaan → p < 0,05 (Tabel 1) • Penting untuk analisis bivariat berikutnya • Pengetahuan tentang DBD, kerentanan terhadap DBD, pertahanan tubuh kontrol dan penghapusan tempat berkembang biak nyamuk
  13. 13. Uji Signifikansi • Uji signifikansi antara nilai mean dari variabel output dalam kelompok percobaan dan kelompok pembanding baik sebelum dan sesudah percobaan diringkas dalam Tabel 2.
  14. 14. Skor tentang Pengetahuan mengenai DBD • Skor minimum dan maksimum : 0-12 (untuk pengetahuan tentang DBD) Sebelum percobaan : • Kelompok pembanding (7,09) > Kelompok eksperimen (6,87) • p-value=0.383 Setelah percobaan : • Kelompok eksperimen (9.58) > Kelompok pembanding (7,46) • p-value < 0.01
  15. 15. Perbedaan CI, HI dan BI • Selama survei pertama, sebelum percobaan, kedua kelompok penelitian memiliki CI, HI,dan BI lebih tinggi dari target maksimum nasional untuk CI dan HI = 10, dan BI = 50. • Namun ketika CI, HI, dan BI dari survei pertama, kedua, dan ketiga dibandingkan, ditemukan bahwa hanya CI, HI, dan BI kelompok percobaan yang menurun.
  16. 16. Indeks Daerah Perkembangbiakan • Tabel 4 menunjukkan Indeks untuk daerah tempat perkembangbiakan utama Aedes aegypti selama survei pertama, kedua, dan ketiga.
  17. 17. Hasil Survei Survei pertama : • 5 besar tempat perkembangbiakann nyamuk Aedes aegypti (eksperimental) : 1. Sampah (botol bekas, kaleng bekas, plastik, batok kelapa dan botol rusak) 2. Air toilet 3. Diluar dan didalam barang rumah tangga 4. Air semen 5. Tempat penyimpanan
  18. 18. Nilai CI • Nilai CI pada tempat perkembang biakan nyamuk Aedes aegypti ini pada daerah pembanding tidak terlihat seperti adanya penurunan, namun meningkat pada survei kedua dan ketiga
  19. 19. • Multiple Classification Analysis (MCA) • Model aditif, variabel yang siginifikan dan mempunyai nilai β (β value) yang lebih tinggi • Laki-laki, tokoh masyarakat, lansia memiliki tingkat pengetahuan, persepsi dan pertahanan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.
  20. 20. • DHF telah menjadi masalah dalam kesehatan masyarakat selama kurang lebih 30 tahun. • Usaha untuk mengontrol pertumbuhan dari nyamuk Aedes juga sudah diterapkan dari provinsi hingga community-based dengan menggunakan volunteer kesehatan. • Akan tetapi, semua usaha ini masih kurang efektif terhadap pembasmian DHF, dikarenakan DHF tetap menjadi masalah kesehatan hampir diseluruh negara.
  21. 21. • Usaha yang efektif yang seharusnya dilakukan adalah dengan memusnahkan habitat dari larva Aedes aegypti. • 2 desa dari distrik Mueang dari Kanchanaburi memiliki tingkat insiden tertinggi untuk DHF • 2 desa ini dipakai untuk menjadi patokan dalam melihat efektivitas dari pendekatan komunitas untuk usaha preventif terhadap DHF
  22. 22. • Hasil dari usaha ini meningkat secara signifikan. Hal ini dikarenakan program dari pemberdayaan berbasis komunitas mampu membuat pemimpin masyarakat tersebut menjadi aktif berpartisipasi. • Setiap perwakilan dari tiap daerah mempunyai tanggung jawab dalam mengontrol pemusnahan habitat nyamuk Aedes aegypti. • Setelah itu semua yang didapat dari perwakilan daerah ini akan didiskusikan dengan perwakilan daerah lainnya setiap bulannya. • Hal ini dilakukan untuk memonitor program kerja dan re-planning jika dibutuhkan
  23. 23. • Dari hasil yang didapat terlihat jelas bahwa cara ini sangat efektif dalam membasmi DHF. • Hasilnya insiden DHF menurun secara drastis hingga mencapai lebih rendah dari target nasional. • Hal ini dibuktikan pada hasil survei yang dilakukan setiap minggu saat program ini berlangsung.
  24. 24. • Setelah melakukan eksperimen ini, dinyatakan bahwa daerah studi merupakan prediktor terbaik. • Dalam studi ini dengan semakin banyaknya survei yang dilakukan, maka tingkat kesuksesan program ini akan meningkat secara signifikan. • Hal ini disebabkan dengan bertambahnya survei maka akan berdampak langsung kepada tindakan pemimpin masyarakat setempat.
  25. 25. Conclusion • Program studi ini terbukti efektif dan telah dibuktikan dengan unvariate, bivariate, dan multivariate data analysis. • Kerjasama dalam usaha mencegah DHF pada tingkat primer, sekunder, dan tersier dengan pemimpin masyarakat merupakan salah satu titik paling penting dalam studi program ini. • Untuk mengontrol insidensi penyakit DHF dan beberapa penyakit lainnya, harus dimonitor secara rutin.
  26. 26. Adapted from : Therawiwat M, Fungladda W, Kaewkungwal J, Imamee N, Steckler A. Community-based approach for prevention and control of dengue hemorrhagic fever in Kanchanaburi Province, Thailand. 2005 Thank You for Your Attention!

×