Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
PENGARUH KECAKAPAN MANAJERIAL TERHADAP
NILAI PERUSAHAAN DENGAN KEPEMILIKAN MANAJERIAL
SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI
Tesis
Un...
ii
iii
iv
Tesis ini penulis persembahkan kepada:
dia yang telah mengubahku, AMON
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Yesus Kristus yang telah
memberikan rahmat dan kasih-Nya sehingga te...
vi
5. Teman dan sahabat akuntansi keuangan, Mas Nur, Adit, Meliza, Mas
Ristanto, Mas Krisman, Andi, Puput, Riska, Ranti, P...
vii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL …………………………………………………… i
HALAMAN PENGESAHAN TESIS …………………………… ii
HALAMAN PERNYATAAN ………...
viii
2.5 Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis …… 18
2.5.1 Kecakapan Manajerial dan Nilai Perusahaan …… 18
2.5.2...
ix
4.4 Uji Multikolinearitas …………………………………… 39
4.5 Uji Autokorelasi …………………………………………… 40
4.6 Uji Heteroskedatisitas ………………...
x
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Pemilihan Sampel …………………………………………… 23
Tabel 2. Tabel Autokorelasi …………………………………………… 29
Tab...
xi
PENGARUH KECAKAPAN MANAJERIAL TERHADAP NILAI
PERUSAHAAN DENGAN KEPEMILIKAN MANAJERIAL SEBAGAI
VARIABEL PEMODERASI
Intis...
xii
EFFECT OF MANAGERIAL ABILITY ON FIRM VALUE WITH
MANAGERIAL OWNERSHIP AS MODERATING VARIABLE
Abstract
The firm's main o...
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada awal pendirian suatu perusahaan, biasanya pemilik perusahaan
tersebut yang aka...
2
meningkatkan kesejahteraan diri mereka sendiri. Kesejahteraan pemilik
merupakan indikator dari nilai perusahaan (Kurnia,...
3
kecakapan manajerial di bidang keuangan dengan kualitas laba. Hasil penelitian
tersebut adalah kecakapan manajerial berp...
4
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperkecil konflik
kepentingan tersebut. Salah satu cara untuk memperkecil...
5
dengan nilai perusahaan. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa kepemilikan
manajerial berpengaruh signifikan terhad...
6
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai dua tujuan, yaitu:
1. Menguji secara empiris pengaruh kecakapan manajeria...
7
1.5 Sistematika Pembahasan
Bab I, Pendahuluan, menyajikan latar belakang masalah, perumusan
masalah, tujuan penelitian, ...
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Keagenan
Teori keagenan pertama kali diperkenalkan oleh Jensen dan Meckling
(1976). Je...
9
dapat berjalan efisien, maka dibutuhkan manajer yang cakap. Manajer yang
memiliki tingkat kecakapan yang berbeda akan me...
10
konflik keagenan dapat diperkecil. Salah satu mekanisme untuk memperkecil
konlik keagenan yaitu adanya kepemilikan saha...
11
1. Manajer yang cakap merupakan manajer yang memiliki pengetahuan luas
mengenai bisnis perusahaan, sehingga mampu membu...
12
seperti penelitian dan pengembangan (Healy dan Wahlen, 1999). Dengan adanya
judgment dan estimasi yang akurat dari mana...
13
populasi. Dalam populasi tersebut, semua DMU harus memiliki set data yang
terdiri dari input dan output yang sama.
Seti...
14
dibutuhkan analisis yang tepat dalam menggunakan bobot tertentu agar
pengukuran suatu DMU lebih akurat. Penggunaan bobo...
15
penggunaan input. Perusahaan yang dikatakan kurang efisien apabila rasio
perbandingan antara output dan input kurang da...
16
yang terlalu banyak digunakan serta output yang produksinya terlalu
rendah. Hal tersebut membuat seorang manajer tidak ...
17
penawaran di bursa. Harga pasar merupakan cerminan berbagai keputusan dan
kebijakan manajemen (Meryati, 2011). Semakin ...
18
berupaya memenuhi kepentingan pemegang saham yang juga adalah dirinya
sendiri. Tindakan yang dilakukan oleh manajer seb...
19
Manajer yang memiliki kecakapan tinggi dipandang memiliki keahlian
memadai di bidangnya yang menjadi tanggung jawabnya ...
20
perusahaan. Djuitaningsih dan Rahman (2011) menyatakan bahwa kualitas laba
yang baik mencerminkan kinerja perusahaan ya...
21
membuat kepentingan antara pemegang saham dan manajer akan menjadi selaras.
Manajer sekaligus pemegang saham akan menga...
22
BAB III
RANCANGAN PENELITIAN
3.1 Sampel Penelitian
Penelitian ini mengambil sampel dari perusahaan yang terdaftar di Bu...
23
relevan karena perhitungan Tobin’s Q akan membandingkan nilai buku
dalam laporan keuangan dengan harga saham. Harga sah...
24
penutupan akhir periode. Data jenis sub sektor industri diperoleh dari Indonesian
Capital Market Directory (ICMD). Data...
25
Komponen yang dijadikan input dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor
sumber daya (total aset dan jumlah tenaga k...
26
4. Days Sales Outstanding (DSO)
DSO mengukur waktu yang diperlukan oleh perusahaan untuk
mendapatkan kas setelah melaku...
27
3.3.2 Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah nilai perusahaan. Nilai
perusahaan didefinisikan ...
28
Pandangan pertama yaitu ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan. Ukuran perusahaan yang besar d...
29
1. Nilai signifikansi ≥ 0,05 maka residual terdistribusi normal
2. Nilai signifikansi < 0,05 maka residual tidak terdis...
30
3.4.4 Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah ada ketidaksamaan
varian dari residu...
31
BAB IV
ANALISIS DATA
4.1 Hasil Perhitungan Variabel
4.1.1 Kecakapan Manajerial
Kecakapan manajerial diukur dengan Data ...
32
Tabel 3
Statistik Deskriptif
N Minimum Maksimum Rata-rata Deviasi Standar
Q
KECM
SIZE
Valid N
(listwise)
316
316
316
31...
33
Ringkasan mengenai deskripsi skor DEA untuk setiap sub sektor industri
adalah sebagai berikut.
Tabel 5
Skor DEA Kecakap...
34
Skor DEA terendah untuk sub sektor chemical and allied products pada
tahun 2008 sebesar 0,47; pada tahun 2009 sebesar 0...
35
Skor DEA terendah untuk sub sektor automotive and allied products pada
tahun 2008 sebesar 0,03; pada tahun 2009 sebesar...
36
Rata-rata skor DEA untuk sub sektor apparel and other textile products
pada tahun 2008 sebesar 0,90; pada tahun 2009 se...
37
tahun 2008 sampai 2009. Rata-rata skor DEA kembali menurun pada tahun 2010
sampai 2011.
Rata-rata skor DEA untuk sub se...
38
4.3 Uji Normalitas
Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov
dengan tingkat signifikansi 0...
39
Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai asymp.sig.(2-tailed) sebesar 0,002
(di bawah 0,05). Dari hasil tersebut dapat dis...
40
Tabel 10
Uji Multikolinearitas
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 (Constant)
LnKECM
KEPM
LnKECM_KEPM
SIZE
0,...
41
Tabel 12
Uji Heterokedastisitas
Model T Sig.
1 (Constant)
LnKECM
KEPM
LnKECM_KEPM
Size
2,283
1,523
1,364
1,728
-1,038
0...
42
Tabel di atas menyatakan bahwa nilai R2
sebesar 0,062. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa variabel kecakapan manajerial, ...
43
4.8 Pembahasan
Kecakapan manajerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini
mengindikasikan bahwa semakin cakap ...
44
menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan. Variabel interaksi antara kecaka...
45
oleh manajer akan menyelaraskan kepentingan antara manajer dengan pemegang
saham.
Ukuran perusahaan, sebagai variabel k...
46
pendek, pengeluaran biaya tersebut akan mengakibatkan profitablitas perusahaan
terlihat menurun. Menurunnya profitablit...
47
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa:
1. Kecakapan manajerial berpengaruh pos...
48
memaksimalkan kesejahteraan pemilik, sebagai indikator nilai perusahaan, dapat
tercapai.
Hasil penelitian yang menyatak...
49
lemah dibanding perusahaan besar dan adanya kepercayaan yang lebih
tinggi oleh supplier dalam melakukan bisnis dengan p...
50
menggunakan indikator lain, selain harga saham, dalam menggambarkan
nilai perusahaan agar besarnya nilai perusahaan tid...
51
DAFTAR PUSTAKA
Adner, R. dan C.E. Helfat, 2003, Corporate Effect and Dynamic Managerial
Capabilities, Strategic Managem...
52
Isnugrahadi, I. dan I.W. Kusuma, 2009, Pengaruh Kecakapan Managerial
Terhadap Managemen Laba Dengan Kualitas Auditor Se...
53
Watts, R.L. dan J.L. Zimmerman, 1986, Positive Accounting Theory, Prentice-
Hall, New Jersey.
Wei, B., 2007, Managerial...
LAMPIRAN
Lampiran 1
Daftar Sampel Perusahaan
Food and beverage:
PT akasha wira international (ades water Indonesia) ADES
PT cahaya ...
PT Trias Sentosasa TRST
PT. Yanaprima Hastapersada YPAS
Metal and Allied Products
PT. Alumunindo Light Metal Industry ALMI...
PT. darya-varia laboratoria DVLA
PT. indofarma INAF
PT. kalbe farma KLBF
PT. kimia farma KAEF
PT. merck MERK
PT. pyridam f...
Lampiran 2
Skor DEA
Skor DEA
2011 2010 2009 2008
Food and beverage:
PT akasha wira international (ades water Indonesia) AD...
PT sekawan inti pratama SIAP 0.807 0.688 0.742 0.856
PT siwani makmur SIMA 0.043 0.023 0.022 0.204
PT Trias Sentosasa TRST...
pharmaceuticals
PT. darya-varia laboratoria DVLA 0.835 0.844 0.866 0.554
PT. indofarma INAF 0.731 0.867 0.998 1.000
PT. ka...
Lampiran 3
Nilai Tobin’s Q
Nilai Tobin's Q
2011 2010 2009 2008
Food and beverage:
PT akasha wira international (ades water...
PT sekawan inti pratama SIAP 0.73 0.63 0.64 0.84
PT siwani makmur SIMA 1.69 1.02 0.86 0.61
PT Trias Sentosasa TRST 0.89 0....
PT. united tractors UNTR 2.52 3.12 2.54 1.15
pharmaceuticals
PT. darya-varia laboratoria DVLA 1.39 1.78 0.82 0.62
PT. indo...
Lampiran 4
Kepemilikan Manajerial
Data Nominal
Kepemilikan Manajerial
2011 2010 2009 2008
Food and beverage:
PT akasha wir...
PT camphion pacific Indonesia (kageo igar jaya) IGAR 0 0 1 0
PT langgeng makmur industry LMPI 1 1 1 1
PT sekawan inti prat...
PT. prima alloy steel PRAS 0 0 0 0
PT. selamat sempurna SMSM 1 1 1 0
PT. tunas ridean TURI 0 0 0 0
PT. united tractors UNT...
tesis: pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoserasi
tesis: pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoserasi
tesis: pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoserasi
tesis: pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoserasi
tesis: pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoserasi
tesis: pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoserasi
tesis: pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoserasi
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

tesis: pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoserasi

1,183 views

Published on

pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoserasi

Published in: Economy & Finance
  • Selamat siang Pak Alex, sy mahasiswa dr bali, tertarik dengan tesis bapak ini terutama mengenai DEA-nya, boleh sy bertanya kpd bapak mengenai perhitungan kecakapan manajerial/DEA-nya melalui email pak? mohon info.. terima kasih
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Be the first to like this

tesis: pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoserasi

  1. 1. PENGARUH KECAKAPAN MANAJERIAL TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN KEPEMILIKAN MANAJERIAL SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S2 Program Magister Akuntansi Diajukan oleh: Alex Johanes Simamora 12/340854/PEK/17249 Kepada: PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013
  2. 2. ii
  3. 3. iii
  4. 4. iv Tesis ini penulis persembahkan kepada: dia yang telah mengubahku, AMON
  5. 5. v KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Yesus Kristus yang telah memberikan rahmat dan kasih-Nya sehingga tesis ini dapat terselesaikan dengan baik. Adapun penyusunan tesis ini merupakan salah satu syarat untuk mencapai derajat sarjana strata 2 (S2) pada Program Magister Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa penyusunan tesis ini tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa bantuan, petunjuk, bimbingan dan saran dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak, Mamak, Bang Doris, Kak Uli dan Tara atas dukungan materiil dan moril. 2. Amon yang telah memberikan semangat, kasih sayang, doa, inspirasi dan keberanian. 3. Prof. Dr. Indra Wijaya Kusuma, M.B.A., CMA. selaku dosen pembimbing yang dengan sabar memberi bimbingan, arahan, saran dan petunjuk dalam penulisan tesis ini. 4. Pengelola, staf pengajar, staf akademik serta karyawan Program Magister Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada yang telah memberikan fasilitas dan membantu penulis selama menjalani perkuliahan dan proses penyusunan tesis.
  6. 6. vi 5. Teman dan sahabat akuntansi keuangan, Mas Nur, Adit, Meliza, Mas Ristanto, Mas Krisman, Andi, Puput, Riska, Ranti, Pita yang telah berjuang bersama-sama. 6. Teman-teman badminton dan hang out yang bersedia bermain, berbagi waktu, bertukar pikiran dan memberi banyak pelajaran hidup. 7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu atas perhatian dan bantuan sehingga tesis ini dapat terselesaikan dengan baik. Hanya doa yang bisa penulis panjatkan semoga Tuhan membalas semua budi baik keluarga/bapak/ibu/saudara/teman-teman berikan. Semoga tulisan sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca. Terima kasih. Yogyakarta, April 2013 Penulis, Alex Johanes Simamora
  7. 7. vii DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL …………………………………………………… i HALAMAN PENGESAHAN TESIS …………………………… ii HALAMAN PERNYATAAN …………………………………… iii HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………… iv KATA PENGANTAR …………………………………………… v DAFTAR ISI ………………………………………………………….... vii DAFTAR TABEL …………………………………………………… x INTISARI …………………………………………………………… xi ABSTRACT …………………………………………………………… xii BAB I: PENDAHULUAN ................................................................... 1 1.1 Latar Belakang …………………………………............... 1 1.2 Perumusan Masalah …………………………………… 5 1.3 Tujuan Penelitian …………………………………………… 6 1.4 Manfaat Penelitian …………………………………… 6 1.5 Sistematika Pembahasan …………………………………… 7 BAB II: TINJAUAN PUSTAKA …………………………………… 8 2.1 Teori Keagenan …………………………………………… 8 2.2 Kecakapan Manajerial …………………………………… 10 2.2.1 Pengertian Kecakapan Manajerial …………… 10 2.2.2 Data Envelopment Analysis (DEA) …………… 12 2.3 Nilai Perusahaan …………………………………………… 16 2.4 Kepemilikan Manajerial …………………………………… 17
  8. 8. viii 2.5 Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis …… 18 2.5.1 Kecakapan Manajerial dan Nilai Perusahaan …… 18 2.5.2 Kepemilikan Manajerial dan Nilai Perusahaan …… 20 BAB III: RANCANGAN PENELITIAN …………………………… 22 3.1 Sampel Penelitian …………………………………………… 22 3.2 Metode Pengumpulan Data …………………………… 23 3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional …………… 23 3.3.1 Variabel Independen …………………………… 23 3.3.2 Variabel Dependen …………………………… 26 3.3.3 Variabel Pemoderasi …………………………… 27 3.3.4 Variabel Kontrol …………………………… 27 3.4 Metode Analisis …………………………………………… 27 3.4.1 Uji Normalitas …………………………………… 28 3.4.2 Uji Multikolinearitas …………………………… 28 3.4.3 Uji Autokorelasi …………………………… 28 3.4.4 Uji Heterokedastisitas …………………………… 29 3.4.5 Uji Hipotesis …………………………………… 29 BAB IV: ANALISIS DATA …………………………………………… 31 4.1 Hasil Perhitungan Variabel …………………………… 31 4.1.1 Kecakapan Manajerial …………………………… 31 4.1.2 Nilai Perusahaan …………………………… 31 4.1.3 Kepemilikan Manajerial …………………… 31 4.1.4 Ukuran Perusahaan …………………………… 31 4.2 Statistik Deskriptif …………………………………… 31 4.3 Uji Normalitas …………………………………………… 38
  9. 9. ix 4.4 Uji Multikolinearitas …………………………………… 39 4.5 Uji Autokorelasi …………………………………………… 40 4.6 Uji Heteroskedatisitas …………………………………… 40 4.7 Uji Hipotesis …………………………………………… 41 4.8 Pembahasan …………………………………………… 43 BAB V: PENUTUP …………………………………………………… 47 5.1 Kesimpulan …………………………………………… 47 5.2 Implikasi Penelitian …………………………………… 47 5.3 Keterbatasan Penelitian …………………………………… 48 5.4 Saran Penelitian Berikutnya …………………………… 49 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………… 51 LAMPIRAN
  10. 10. x DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Pemilihan Sampel …………………………………………… 23 Tabel 2. Tabel Autokorelasi …………………………………………… 29 Tabel 3. Statistik Deskriptif …………………………………………… 32 Tabel 4. Deskripsi Sampel …………………………………………… 32 Tabel 5. Skor DEA Kecakapan Manajerial …………………………… 33 Tabel 6. Rata-rata skor DEA Kecakapan Manajerial …………………… 35 Tabel 7. Uji Normalitas (N=316) …………………………………… 38 Tabel 8. Uji Normalitas (Bentuk Ln) …………………………………… 38 Tabel 9. Uji Normalitas (N=300) …………………………………… 39 Tabel 10. Uji Multikolinearitas …………………………………… 40 Tabel 11. Uji Autokorelasi …………………………………………… 40 Tabel 12. Uji Heterokedastisitas …………………………………… 41 Tabel 13. Uji Regresi …………………………………………………… 41
  11. 11. xi PENGARUH KECAKAPAN MANAJERIAL TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN KEPEMILIKAN MANAJERIAL SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI Intisari Tujuan utama perusahaan dalam bidang keuangan yaitu meningkatkan nilai perusahaan. Tercapainya tujuan tersebut tergantung kepada karakteristik manajer perusahaan sebagai pengelola perusahaan. Salah satu karakteristik seorang manajer yaitu kecakapan manajerial. Manajer yang cakap akan mampu meningkatkan nilai perusahaan. Adanya manajer yang cakap saja tidak cukup untuk meningkatkan nilai perusahaan. Tercapainya peningkatan nilai perusahaan juga tergantung seberapa besar konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham. Konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham dapat diperkecil dengan kepemilikan saham oleh manajer sehingga tujuan meningkatkan nilai perusahaan dapat tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoderasi. Sampel penelitian yang digunakan sebanyak 79 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dari tahun 2008 sampai tahun 2011. Kecakapan manajerial diukur menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA). Nilai perusahaan diukur menggunakan Tobin’s Q. Kepemilikan manajerial diukur dari adanya kepemilikan saham oleh manajer dan tidak adanya kepemilikan saham oleh manajer. Hasil penelitian ini yaitu kecakapan manajerial berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin cakap seorang manajer, maka semakin mampu manajer menjalankan bisnis yang efektif dan efisien serta mengambil keputusan yang menciptakan nilai bagi perusahaan. Interaksi antara kecakapan manajerial dengan kepemilkan manajerial berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Kepemilikan manajerial semakin memperkuat pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa manajer yang cakap akan lebih meningkatkan nilai perusahaan apabila manajer tersebut memiliki saham perusahaan dibandingkan manajer cakap yang tidak memiliki saham perusahaan. Kepemilikan manajerial dapat memperkecil konflik kepentingan antara manajer dengan pemegang saham. Kata Kunci: Kecakapan Manajerial, Data Envelopment Analysis, Tobin’s Q, Kepemilikan Manajerial
  12. 12. xii EFFECT OF MANAGERIAL ABILITY ON FIRM VALUE WITH MANAGERIAL OWNERSHIP AS MODERATING VARIABLE Abstract The firm's main objective in finance is to increase firm value. The achievement of this objective depends on the characteristics of the manager of the firm. One of the characteristics of a manager is managerial ability. Capable manager will be able to increase the firm value. The existence of capable managers is not enough to increase the firm value. The achievement of increasing value of the firm also depends on how big the conflict of interest between manager and shareholder. Conflict of interest between manager and shareholder can be minimized with stock ownership by manager so that increasing firm value can be achieved. This study aimed to examine the effect of managerial ability on firm value with managerial ownership as moderating variable. The samples of this study as many as 79 firms listed on Indonesian Stock Exchange from year 2008 to 2011. Managerial ability was measured using Data Envelopment Analysis (DEA). Firm value was measured using Tobin's Q. Managerial ownership is measured from the existence ownership of shares by manager. The results of this study is managerial ability have positive significant effect on firm value. This result indicate that the more capable a manager, the more manager run the business effectively and efficiently, and make decisions that create value for the firm. Interaction between managerial ability with managerial ownership have positive significant effect on firm value. Managerial ownership strengthen the effect of managerial ability on firm value. This result indicate that capable manager will more increase firm value if the manager have firm stock than capable manager who does not have firm stock. Managerial ownership can reduce conflict of interest between manager and shareholder. Keyword: Managerial Ability, Data Envelopment Analysis, Tobin’s Q, Managerial Ownership
  13. 13. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada awal pendirian suatu perusahaan, biasanya pemilik perusahaan tersebut yang akan menjalankan dan mengelola usahanya. Pemilik sendiri yang akan melakukan aktivitas penjualan, produksi, maupun pendanaan. Seiring berjalannya usaha tersebut, maka akan ada fase pertumbuhan. Fase pertumbuhan dapat dilihat dari peningkatan penjualan, profit, arus kas, dan aset yang lain. Fase pertumbuhan tersebut membuat usaha tersebut bertambah besar dan akan ada penambahan aktivitas yang semakin kompleks. Perusahaan akan menghadapi kondisi ekonomi yang semakin berkembang dan bisnis yang kompetitif. Perusahaan dituntut untuk mampu menganalisis situasi sekarang dan yang akan datang, agar dapat berkembang dan bertahan dalam persaingan yang ketat (Kurnia, 2010). Karena adanya aktivitas kompleks dan tuntutan lingkungan bisnis yang tinggi, maka pemilik tidak dapat lagi mengelola sendiri perusahaannya. Pemilik membutuhkan pihak lain untuk membantunya dalam menjalankan perusahaan yang didirikan tersebut. Pemilik akan menunjuk pihak lain sebagai manajer perusahaan. Pemilik akan membuat suatu kontrak dengan manajer. Pemilik akan mendelegasikan wewenang kepada manajer untuk mengelola perusahaan. Manajer akan digaji dan diberikan benefits oleh perusahaan untuk membuat keputusan sesuai dengan kepentingan pemilik (Rao,1995). Kepentingan pemilik yaitu untuk
  14. 14. 2 meningkatkan kesejahteraan diri mereka sendiri. Kesejahteraan pemilik merupakan indikator dari nilai perusahaan (Kurnia, 2010). Dalam konteks perusahaan go public, tujuan perusahaan yaitu untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham (Rao, 1995). Peningkatan nilai perusahaan biasanya diukur melalui peningkatan harga pasar saham. Semakin tinggi kesejahteraan pemegang saham, maka semakin tinggi nilai perusahaan. Penjelasan tersebut memberi makna bahwa pemilik mendelegasikan wewenang kepada manajer untuk mengelola perusahaan dengan tujuan memaksimalkan nilai perusahaan. Pemilik perusahaan membutuhkan manajer yang cakap, sehingga dapat memaksimalkan nilai perusahaan. Manajer yang memiliki kecakapan tinggi dipandang memiliki keahlian memadai di bidangnya yang menjadi tanggung jawabnya (Ruba’i, 2009). Manajer tersebut dianggap lebih mampu mengestimasi kebijakan yang diambil terhadap perusahaan. Isnugrahadi dan Kusuma (2009) juga menyatakan bahwa salah satu kunci kesuksesan sebuah perusahaan adalah adanya manajer yang berhasil mendesain proses bisnis yang efisien dan mampu membuat keputusan-keputusan yang memberi nilai tambah bagi perusahaan. Kecakapan manajerial merupakan source of resource value creation (Holcomb et al., 2008). Manajer yang cakap dianggap mampu untuk mengelola perusahaan dengan baik sehingga nilai perusahaan menjadi meningkat. Penelitian mengenai kecakapan manajerial merupakan hal yang baru. Demerjian et al. (2010) memperkenalkan metode Data Envelopment Analysis (DEA) sebagai pengukur kecakapan manajerial. Mereka menguji pengaruh antara
  15. 15. 3 kecakapan manajerial di bidang keuangan dengan kualitas laba. Hasil penelitian tersebut adalah kecakapan manajerial berpengaruh terhadap kualitas laba. Di Indonesia, penelitian kecakapan manajerial dilakukan oleh Isnugrahadi dan Kusuma (2009) dengan menghubungkan antara kecakapan manajerial dengan manajemen laba. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa kecakapan manajerial berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Djuitaningsih dan Rahman (2011) juga melakukan penelitian mengenai kecakapan manajerial. Mereka meneliti hubungan antara kecakapan manajerial dengan kinerja keuangan. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa kecakapan manajerial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan Earnings Per Share (EPS). Demerjian et al. (2010), Isnugrahadi dan Kusuma (2009), Djuitaningsih dan Rahman (2011) menyarankan bahwa kecakapan manajerial dihubungkan dengan variabel lain. Atas saran tersebut, penelitian ini menguji pengaruh kecakapan manajerial dengan variabel lain. Penelitian ini mencoba menguji apakah kecakapan manajerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Dalam menjalankan kontrak antara pemilik dengan dengan manajer, akan muncul konflik kepentingan antara dua pihak tersebut. Pemilik memiliki kepentingan untuk memaksimalkan kesejahteraannya, sedangkan manajer memiliki kepentingan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan psikologinya, antara lain dalam memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi. Konflik kepentingan meningkat terutama karena pemilik tidak dapat memonitor aktivitas manajer sehari-hari. Adanya konflik tersebut membuat peningkatan nilai perusahaan menjadi terhambat.
  16. 16. 4 Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperkecil konflik kepentingan tersebut. Salah satu cara untuk memperkecil konflik kepentingan yaitu menyelaraskan kepentingan antara pemilik dan manajer. Manajer juga harus diposisikan sebagai pemilik perusahaan. Untuk perusahaan yang kepemilikannya terdiri dari saham atau perusahaan yang go public, kepemilikan saham perusahaan oleh manajer dapat menyelaraskan kepentingan antara pemilik dan manajer. Kepentingan manajer dan pemilik yang selaras membuat tujuan perusahaan untuk memaksimalkan nilai perusahaan dapat tercapai. Manajer sekaligus pemegang saham akan mengambil keputusan bisnis yang berbeda dibandingkan dengan manajer yang tidak memiliki saham perusahaan (Christiawan dan Tarigan, 2007). Manajer sekaligus pemegang saham akan mengambil keputusan bisnis yang selaras dengan kepentingan pemilik. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai perusahaan dengan manajer yang memiliki saham perusahaan akan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai perusahaan dengan manajer yang tidak memiliki saham perusahaan. Ada beberapa penelitian yang menghubungkan antara kepemilikan mananjerial dengan nilai perusahaan. Christiawan dan Tarigan (2007) menguji kepemilikan manajerial dengan beberapa variabel. Salah satu variabel yang diuji yaitu nilai perusahaan. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa rata-rata nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial lebih baik dibanding dengan rata-rata nilai perusahaan tanpa kepemilikan manajerial. Siallagan dan Machfoedz (2006) menguji kepemilikan manajerial, melalui mekanisme corporate governance,
  17. 17. 5 dengan nilai perusahaan. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Berbeda dengan penelitian-penelitian di atas yang menempatkan variabel kepemilikan manajerial sebagai variabel independen, pada penelitian ini variabel kepemilikan manajerial ditempatkan sebagai variabel pemoderasi dalam hubungan antara kecakapan managerial dan nilai perusahaan. Penggunaan variabel kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoderasi atas dasar pertimbangan bahwa manajer yang cakap akan semakin meningkatkan nilai perusahaan apabila manajer tersebut juga memiliki saham perusahaan, dibandingkan dengan manajer yang tidak memiliki saham perusahaan. Hubungan antara kecakapan manajerial dan nilai perusahaan akan lebih kuat dengan menggunakan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoderasi. Atas dasar uraian tersebut, penelitian ini akan menguji pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoderasi. 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Apakah kecakapan manajerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan? 2. Apakah kepemilikan manajerial yang berfungsi sebagai variabel pemoderasi mempengaruhi hubungan antara kecakapan manajerial dengan nilai perusahaan?
  18. 18. 6 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini mempunyai dua tujuan, yaitu: 1. Menguji secara empiris pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan. 2. Menguji secara empiris kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoderasi dalam hubungan antara kecakapan manajerial dengan nilai perusahaan. 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini bagi: 1. Pembaca dan peneliti selanjutnya Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoderasi yang dapat digunakan sebagai bahan penelitian selanjutnya. 2. Akademisi Penelitian ini diharapakan mampu memberikan pengetahuan tambahan dalam dunia akademi, khususnya yang berkaitan dengan kecakapan manajerial dan pengaruhnya terhadap nilai perusahaan. 3. Pemegang Saham Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan mengenai faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan.
  19. 19. 7 1.5 Sistematika Pembahasan Bab I, Pendahuluan, menyajikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan. Bab II, Tinjauan Pustaka, memaparkan berbagai studi kepustakaan yang menjadi dasar penulis dalam mengajukan hipotesis, termasuk di dalamnya ulasan mengenai berbagai penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini. Bab III, Rancangan Penelitian, menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini. Bagian ini terdiri dari pemilihan sampel sesuai kriteria, metode pengumpulan data, definisi operasional variabel penelitian, dan metode analisis. Bab IV, Analisis Data, menyajikan analisis akhir terhadap data yang telah dikumpulkan. Bab V, Penutup, memaparkan kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian ini. Dalam bab ini juga diungkapkan mengenai batasan penelitian, implikasi yang diharapkan dari penelitian ini dan saran penulis untuk penelitian selanjutnya.
  20. 20. 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Keagenan Teori keagenan pertama kali diperkenalkan oleh Jensen dan Meckling (1976). Jensen dan Meckling (1976) mendifinisikan hubungan keagenan sebagai kontrak antara satu atau lebih pihak (principal) yang mengikat pihak lain (agent) untuk menjalankan pengelolaan perusahaan berdasarkan kepentingan principal, termasuk pendelegasian otoritas pengambilan keputusan kepada agent. Dalam hubungan keagenan ini, pihak principal merupakan pemilik dan manajer sebagai agent. Manajer merupakan orang yang akan menambah nilai bagi pemilik (Djuitaningsih dan Rahman, 2011). Manajer akan menjalankan perusahaan sesuai dengan kepentingan pemilik, dan pemilik akan memberikan kompensasi kepada manajer. Kompensasi tersebut dapat berupa gaji, bonus, fasilitas, kompensasi bentuk lain. Kepentingan pemilik yaitu memaksimalkan kesejahteraan mereka sendiri. Peningkatan kesejahteraan pemilik akan terwujud melalui peningkatan nilai perusahaan. Dalam teori ini, Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa teori keagenan dapat menjelaskan bahwa kegagalan dalam memaksimalkan nilai perusahaan disebabkan oleh tingkat efisiensi aktivitas perusahaan. Peningkatan nilai perusahaan bergantung pada efisiensi perusahaan dalam melakukan aktivitas operasi. Efisiensi sebuah perusahaan bergantung pada pengambilan keputusan bisnis dan pengelolaan aktivitas yang dilakukan oleh manajer. Agar perusahaan
  21. 21. 9 dapat berjalan efisien, maka dibutuhkan manajer yang cakap. Manajer yang memiliki tingkat kecakapan yang berbeda akan melakukan pengambilan keputusan yang berbeda (Adner dan Helfat, 2003). Isnugrahadi dan Kusuma (2009) menjelaskan manajer yang cakap merupakan manajer yang berhasil mendesain proses bisnis yang efisien dan mampu membuat keputusan-keputusan yang memberi nilai tambah bagi perusahaan. Byrd et al. (1998) menyatakan bahwa kepentingan ekonomi perusahaan saat ini dihasilkan dari kombinasi antara modal yang diberikan kepada pemilik dengan manajer profesional yang memiliki kemampuan yang baik. Penjelasan tersebut menyatakan bahwa pemilik membutuhkan manajer yang cakap untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Teori keagenan juga menjelaskan mengenai konflik keagenan. Konflik keagenan muncul akibat adanya perbedaan kepentingan antara pemilik dan manajer. Pemilik memiliki kepentingan untuk memaksimalkan kesejahteraannya, sedangkan manajer memiliki kepentingan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan psikologinya, antara lain dalam memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi. Konflik kepentingan meningkat terutama karena pemilik tidak dapat memonitor aktivitas manajer sehari-hari. Adanya konflik keagenan ini dapat menimbulkan value losses yang signifikan bagi pemilik karena adanya ketidakefisienan kebijakan operasi, investasi dan pendanaan (Byrd et al., 1998). Konflik keagenan ini dapat menyebabkan terhambatnya pencapaian untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Kontrak antara pemilik dan manajer harus mempertimbangkan mekanisme pengelolaan dan kompensasi manajer agar
  22. 22. 10 konflik keagenan dapat diperkecil. Salah satu mekanisme untuk memperkecil konlik keagenan yaitu adanya kepemilikan saham oleh manajer. 2.2 Kecakapan Manajerial 2.2.1 Pengertian Kecakapan Manajerial Peran manajer sangat penting dan memiliki tanggung jawab atas kinerja perusahaan (Wagner, 2008). Bertrand dan Schoar (2003) menyatakan bahwa CEO dan top manager yang lain memiliki peran penting dalam menciptakan perilaku organisasi. Demerjian et al. (2008) menyatakan bahwa karakteristik manajer (kecakapan, bakat, reputasi atau gaya kepemimpinan), merupakan topik penting dalam penelitian. Francis et al. (2004) pernah meneliti salah satu karakteristik manajer. Mereka meneliti pengaruh reputasi CEO terhadap kualitas laba. Hasil dari penelitian tersebut yaitu CEO yang memiliki reputasi berhubungan dengan kualitas laba yang rendah. Manfaat dari penelitian mengenai karakteristik manajer yaitu dapat menguji besarnya kontribusi manajer kepada kinerja perusahaan dan keputusan investasi, kompensasi manajer, corporate governance, dampak ekonomis dari kepemilikan saham, dan perbedaan produktivitas antar negara (Demerjian et al., 2008). Salah satu bentuk lain dari karakteristik seorang manajer yaitu kecakapan. Sebagai seorang agent, manajer harus memiliki kecakapan agar dapat mengelola perusahaan dengan baik. Beberapa penjelasan mengenai seorang manajer yang cakap, antara lain:
  23. 23. 11 1. Manajer yang cakap merupakan manajer yang memiliki pengetahuan luas mengenai bisnis perusahaan, sehingga mampu membuat judgment dan estimasi yang lebih baik (Demerjian et al., 2010). 2. Manajer yang cakap menghasilkan return yang tinggi melalui kesempatan investasi yang menguntungkan (Wei, 2007). 3. Manajer yang cakap mampu menciptakan value dari penggunaan resource yang dikendalikan oleh perusahaan (Holcomb et al., 2008). Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa manajer yang cakap merupakan manajer yang memiliki pengetahuan bisnis yang baik, kemampuan pengambilan keputusan yang efektif dan efisien, serta ahli di bidang tanggung jawabnya. Dampak dari adanya pengetahuan bisnis yang baik, kemampuan pengambilan keputusan yang efektif dan efisien, serta keahlian yang dimiliki oleh manajer yaitu akan tercipta nilai perusahaan. Dalam penelitian ini, kecakapan manajerial yang dimaksud adalah kecakapan manajerial dalam bidang keuangan. Salah satu bentuk dari kecakapan manajerial yaitu manajer mampu untuk melakukan judgment dan estimasi dengan lebih akurat. Menurut Healy dan Wahlen (1999), contoh judgment yang dilakukan oleh manajer yaitu nilai ekonomis di masa datang seperti perkiraan umur ekonomis dan nilai sisa dari aktiva jangka panjang. Manajer juga harus memilih beberapa pilihan metode akuntansi yang diperbolehkan untuk melaporkan transaksi-transaksi ekonomis, seperti penggunaan metoda garis lurus atau metoda percepatan dalam pencatatan depresiasi, memilih LIFO atau FIFO dalam penilaian sediaan. Manajer juga harus memilih untuk membebankan atau menangguhkan pengeluaran-pengeluaran
  24. 24. 12 seperti penelitian dan pengembangan (Healy dan Wahlen, 1999). Dengan adanya judgment dan estimasi yang akurat dari manajer, maka risiko ketidakpastian di masa depan akan dapat dihindari. Penelitian mengenai kecakapan manajerial dalam bidang akuntansi keuangan merupakan hal yang baru. Kesulitan dalam mengukur kecakapan manajerial membuat penelitian tersebut belum banyak dilakukan. Demerjian et al. (2010) memperkenalkan Data Envelopment Analysis (DEA) sebagai alat untuk mengukur kecakapan manajerial dengan menggunakan data-data dari laporan keuangan. Dalam penelitiannya, Demerjian et al. (2010) menguji pengaruh kecakapan manajerial terhadap kualitas laba. Demerjian et al. (2010) menggunakan tingkat efisiensi relatif sebuah perusahaan dalam dalam mengkonversi input-input (berbagai kos dan biaya- biaya) menjadi output (penjualan). Semakin efisien sebuah perusahaan secara relatif dengan perusahaan lain dalam industri yang sejenis, maka semakin tinggi tingkat kecakapan manajerial yang dimiliki manajer perusahaan tersebut. Hasil dari penelitian Demerjian et al. (2010) membuktikan adanya pengaruh positif kecakapan manajerial terhadap kualitas laba. 2.2.2 Data Envelopment Analysis (DEA) Data Envelopment Analysis (DEA) merupakan program matematis untuk mengukur tingkat efisiensi relatif sebuah Decision Making Unit (DMU) (Mantri, 2008). Efisiensi relatif sebuah DMU adalah tingkat efisiensi suatu DMU yang dibandingkan dengan tingkat efisiensi DMU lainnya dalam satu kesatuan
  25. 25. 13 populasi. Dalam populasi tersebut, semua DMU harus memiliki set data yang terdiri dari input dan output yang sama. Setiap DMU menginginkan agar terjadi efisiensi, yaitu menghasilkan output yang maksimal dengan menggunakan input yang minimal. Pengukuran efisiensi biasanya diukur dengan sebuah rasio yang membandingkan tingkat output yang dihasilkan dengan tingkat input yang digunakan. Semakin tinggi rasio tersebut, maka semakin efisien sebuah DMU. Sebagai contoh yaitu Return on Asset (ROA) yang membandingkan tingkat laba bersih dengan total aset. Semakin tinggi ROA, maka semakin tinggi laba bersih yang dihasilkan dari penggunaan aset. Pengukuran efisiensi dengan menggunakan output dan input tunggal seperti di atas dikenal sebagai analisis efisiensi secara tradisional (Isnugrahadi dan Kusuma, 2009). Berbeda dengan metode tradisional, DEA menggunakan multiple input dan output dalam mengukur tingkat efisien. Selain itu, DEA juga menggunakan bobot dalam perhitungan efisiensi sebuah DMU. Gambaran mengenai perbedaan metode tradisional dengan DEA akan dijelaskan dalam contoh berikut. Misalnya pada contoh ROA, input (aset) terdiri atas berbagai macam komponen. Dalam metode tradisional, setiap komponen aset dianggap memiliki kontribusi yang sama sehingga memiliki bobot yang sama. Pada kenyataannya, komponen aset tetap dan aset tidak berwujud memiliki kontribusi yang berbeda dalam menghasilkan laba bersih. DEA menggunakan bobot untuk komponen input dan output dalam mengukur tingkat efisiensi suatu DMU. Oleh karena itu,
  26. 26. 14 dibutuhkan analisis yang tepat dalam menggunakan bobot tertentu agar pengukuran suatu DMU lebih akurat. Penggunaan bobot untuk satu perusahaan dapat berbeda dengan perusahaan lain. Menurut Demerjian et al. (2010), bobot suatu komponen input atau output dihasilkan dari perbandingan setiap komponen input dan output suatu DMU dengan DMU lain dalam satu kesatuan sampel. Penggunaan bobot tersebut digunakan karena adanya kombinasi input untuk menghasilkan beberapa output yang beragam. Bobot tersebut akan menentukan tingkat efisiensi maksimal sebuah perusahaan. Demerjian et al. (2010) menggunakan kombinasi input (berbagai kos dan biaya) dan output (penjualan), serta menggunakan bobot untuk setiap komponen input dan output dalam mengukur tingkat efisiensi sebuah DMU. Isnugrahadi dan Kusuma (2009) menggunakan faktor sumber daya dan operasional sebagai input serta faktor pejualan sebagai output. Dalam penelitian Demerjian et al. (2010) dan Isnugrahadi dan Kusuma (2009), suatu DMU digambarkan dengan sebuah perusahaan. Perusahaan tersebut akan diukur tingkat efisiensi relatif terhadap perusahaan lain yang berada dalam industri yang sejenis. DEA akan menentukan berapa bobot untuk setiap input dan output yang akan memaksimalkan tingkat efisiensi sebuah perusahaan. Uraian tersebut menjelaskan bahwa DEA mampu mengetahui faktor input apa saja yang dapat berpengaruh dalam menghasilkan output (Isnugrhadi dan Kusuma, 2009). Menurut DEA, perusahaan yang dikatakan efisien jika rasio perbandingan antara kombinasi output dengan kombinasi input sama dengan 1 atau 100%. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan tidak lagi melakukan pemborosan dalam
  27. 27. 15 penggunaan input. Perusahaan yang dikatakan kurang efisien apabila rasio perbandingan antara output dan input kurang dari 100%. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan masih melakukan pemborosan dalam penggunaan input atau penggunaan input belum dimanfaatkan secara optimal. Tingkat efisiensi inilah yang dinisbahkan menjadi ukuran kecakapan manajerial (Isnugrahadi dan Kusuma, 2009). Semakin efisien suatu perusahaan, maka semakin cakap seorang manajer dalam mengelola suatu perusahaan. Penelitian ini menggunakan input dan output yang digunakan oleh Isnugrahadi dan Kusuma (2009) dalam menghitung tingkat efisiensi perusahaan. Menurut Resmiyanto (2008), DEA mengandung aspek-aspek manajerial sebagai berikut: 1. Stakeholder atau analis bisa langsung mengenali DMU mana yang membutuhkan perhatian berdasarkan angka efisiensi yang ada sehingga rencana tindakan perbaikan bisa segera disiapkan bagi DMU yang kurang atau tidak efisien. 2. Informasi poin 1 juga memungkinkan seorang analis untuk membuat DMU bayangan. DMU bayangan ini diatur supaya menggunakan input yang lebih sedikit tetapi menghasilkan output yang paling tidak sama atau lebih besar dibandingkan DMU yang tidak efisien, sehingga DMU bayangan tersebut akan memiliki efisiensi sempurna jika menggunakan bobot input dan bobot output yang sama dari DMU yang tidak efisien. Pendekatan ini memberi arah strategi bagi manajer untuk meningkatkan efisiensi suatu DMU yang tidak efisien melalui pengenalan terhadap input
  28. 28. 16 yang terlalu banyak digunakan serta output yang produksinya terlalu rendah. Hal tersebut membuat seorang manajer tidak hanya mengetahui DMU yang tidak efisien, tetapi ia juga mengetahui berapa tingkat input atau output yang harus disesuaikan agar dapat memiliki efisiensi yang tinggi. 2.3 Nilai Perusahaan Pengelolaan perusahaan oleh manajer harus berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan manajer berkaitan dengan keputusan di bidang keuangan adalah memaksimalkan nilai perusahaan. Tujuan manajer tersebut merupakan salah satu tujuan perusahaan. Nilai perusahaan merupakan ukuran keberhasilan perusahaan dalam meningkatkan kesejahteraan pemilik atau pemegang saham (Suyono, 2011). Nilai perusahaan dapat dilihat dari tingkat return investasi yang diberikan kepada pemilik atau pemegang saham. Christiawan dan Tarigan (2007) menyatakan bahwa nilai yang paling merepresentasikan nilai perusahaan adalah nilai intrinsik. Nilai intrinsik menggambarkan perkiraan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan keuntungan saat ini dan masa depan. Karena sulitnya menentukan variabel yang signifikan dalam menghasilkan keuntungan setiap perusahaan, maka nilai intrinsik jarang dipakai dalam penelitian yang berkaitan dengan nilai perusahaan. Salah satu bentuk lain yang menggambarkan kesejahteraan pemilik atau pemegang saham yaitu harga saham. Nilai perusahaan dapat dilihat dari harga saham dan jumlah saham yang beredar di akhir periode. Bagi perusahaan yang sudah go public, harga saham perusahaan ditentukan mekanisme permintaan dan
  29. 29. 17 penawaran di bursa. Harga pasar merupakan cerminan berbagai keputusan dan kebijakan manajemen (Meryati, 2011). Semakin tinggi harga saham perusahaan, maka semakin tinggi nilai perusahaan. Suatu perusahaan yang memiliki pengelolaan yang baik dan selalu bertumbuh akan mempunyai jumlah saham beredar dan harga saham yang semakin tinggi (Suyono, 2011). Salah satu alat untuk mengukur nilai perusahaan adalah Tobin’s Q. Tobin’s Q merupakan perbandingan nilai capital relatif terhadap replacement cost-nya (Thavikulwat, 2004). Thavikulwat (2004) menyatakan bahwa nilai dari Tobin’s Q di dapat dari penjumlahan nilai pasar ekuitas dengan nilai buku utang yang dibagi dengan nilai buku aset. Apabila nilai Tobin’s Q = 1, maka nilai pasar perusahan sama dengan nilai bukunya. Apabila Tobin’s Q > 1, maka nilai pasar perusahaan lebih besar dari nilai bukunya. Peningkatan nilai pasar perusahaan tersebut menggambarkan kemampuan seorang manajer yang mampu meningkatkan nilai perusahaan (Thavikulwat, 2004). Semakin tinggi nilai Tobin’s Q, maka semakin tinggi nilai perusahaan (Wirastri, 2007). 2.4 Kepemilikan Manajerial Kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan saham oleh manajer perusahaan. Manajer dengan kepemilikan saham akan mempunyai peran ganda. Peran tersebut yaitu sebagai fungsi kepemilikan dan fungsi pengelolaan (Aji, 2009). Menurut Jensen dan Meckling (1976), kepemilikan manajerial merupakan isu penting dalam teori keagenan. Mereka menyatakan bahwa semakin besar proporsi kepemilikan saham oleh manajer, maka manajer terdorong untuk lebih
  30. 30. 18 berupaya memenuhi kepentingan pemegang saham yang juga adalah dirinya sendiri. Tindakan yang dilakukan oleh manajer sebagai pemegang saham akan berbeda dengan tindakan yang dilakukan oleh manajer yang bukan sebagai pemegang saham (Aji, 2009). Manajer yang memiliki saham perusahaan akan menyelaraskan kepentingan dirinya sendiri dengan kepentingan pemilik atau pemegang saham. Manajer tanpa kepemilikan saham akan cenderung bertindak untuk memenuhi kepentingan pribadinya dan mengabaikan kepentingan pemilik. Hal ini terjadi karena manajer tanpa kepemilikan saham merasa bahwa insentif yang diperoleh dari pemilik atas pengelolaan perusahaan yang harus sesuai dengan kepentingan pemilik tidak sebanding dengan return yang diperoleh atas pengelolaan perusahaan dalam pemenuhan kebutuhan pribadi manajer (Aji, 2009). Penjelasan tersebut menggambarkan bahwa kepemilikan saham oleh manajer akan semakin meningkatkan nilai perusahaan yang tercermin dari peningkatan kesejahteraan pemilik atau pemegang saham. 2.5 Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis 2.5.1 Kecakapan Manajerial dan Nilai Perusahaan Pengelolaan perusahaan oleh manajer harus berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Dalam teori keagenan, tujuan manajer yaitu untuk memaksimalkan kesejahteraan pemilik. Tujuan manajer berkaitan dengan keputusan di bidang keuangan adalah memaksimalkan kesejahteraan pemilik dengan memaksimalkan nilai perusahaan. Tujuan tersebut dapat tercapai apabila manajer memiliki kecakapan yang baik dalam bidang keuangan.
  31. 31. 19 Manajer yang memiliki kecakapan tinggi dipandang memiliki keahlian memadai di bidangnya yang menjadi tanggung jawabnya (Ruba’i, 2009). Manajer yang memiliki pengetahuan bisnis yang baik, kemampuan judgment dan estimasi yang akurat serta ahli dalam bidang tanggung jawabnya akan mengambil keputusan bisnis yang berdampak pada aktivitas perusahaan yang efisien. Manajer yang berhasil mendesain proses bisnis yang efisien, mampu membuat keputusan- keputusan yang memberi nilai tambah bagi perusahaan (Isnugrahadi dan Kusuma, 2009). Penjelasan tersebut menggambarkan bahwa kecakapan manajerial berdampak pada terciptanya nilai perusahaan. Penelitian mengenai kecakapan manajerial merupakan hal yang baru. Penelitian mengenai kecakapan manajerial dilakukan oleh Isnugrahadi dan Kusuma (2009) dengan menghubungkan antara kecakapan manajerial dengan manajemen laba. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa kecakapan manajerial berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Djuitaningsih dan Rahman (2011) juga melakukan penelitian mengenai kecakapan manajerial. Mereka meneliti hubungan antara kecakapan manajerial dengan kinerja keuangan. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa kecakapan manajerial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan Earnings Per Share (EPS). Demerjian et al. (2010) meneliti pengaruh kecakapan manajerial dengan kualitas laba. Hasil penelitian tersebut yaitu kecakapan manajerial berpengaruh positif terhadap kualitas laba. Hasil penelitian Demerjian et al. (2010), yang menyatakan bahwa kecakapan manajerial berpenagruh terhadap kualitas laba, berkaitan dengan nilai
  32. 32. 20 perusahaan. Djuitaningsih dan Rahman (2011) menyatakan bahwa kualitas laba yang baik mencerminkan kinerja perusahaan yang baik. Kinerja keuangan yang baik akan meningkatkan nilai perusahaan. Siallagan dan Machfoedz (2006) juga menyatakan semakin baik kualitas laba, maka semakin tinggi nilai perusahaan. Dari penjelasan tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut: H1: Kecakapan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan 2.5.2 Kepemilikan Manajerial dan Nilai Perusahaan Meskipun perusahaan memiliki manajer yang cakap, peningkatan nilai perusahaan belum tentu dapat terpenuhi. Salah satu hambatan yaitu adanya konflik keagenan. Konflik keagenan merupakan konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham. Manajer yang cakap berusaha menggunakan kecakapannya untuk memenuhi kepentingan pribadinya sendiri dengan mengabaikan kepentingan pemegang saham. Isnugrahadi dan Kusuma (2009) menunjukkan bahwa semakin cakap seorang manajer, maka rekayasa laba yang dilakukan manajer semakin tinggi. Informasi laba yang telah direkayasa akan menyebabkan pemegang saham mengambil keputusan yang salah. Kesalahan pengambilan keputusan oleh pemegang saham membuat peningkatan kesejahteraan pemegang saham menjadi tidak terpenuhi. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa tujuan perusahaan untuk memaksimalkan nilai perusahaan menjadi terhambat apabila konflik keagenan masih tetap ada. Kepemilikan saham oleh manajer merupakan salah satu mekanisme untuk memperkecil konflik keagenan. Adanya kepemilikan saham oleh manajer
  33. 33. 21 membuat kepentingan antara pemegang saham dan manajer akan menjadi selaras. Manajer sekaligus pemegang saham akan mengambil keputusan bisnis yang berbeda dibandingkan dengan manajer yang tidak memiliki saham perusahaan (Christiawan dan Tarigan, 2007). Kepemilikan saham oleh manajer akan membuat manajer untuk bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham. Manajer akan mengelola perusahaan dengan baik untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham dan dirinya sendiri yang juga sebagai pemegang saham. Christiawan dan Tarigan (2007) menyatakan bahwa rata-rata nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial lebih baik dibanding dengan rata-rata nilai perusahaan tanpa kepemilikan manajerial. Siallagan dan Machfoedz (2006) juga menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa manajer yang cakap akan semakin meningkatkan nilai perusahaan apabila manajer tersebut memiliki saham perusahaan dibandingkan dengan dengan manajer yang tidak memiliki saham perusahaan. Dari penjelasan tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut: H2: Kepemilikan manajerial akan memperkuat pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan
  34. 34. 22 BAB III RANCANGAN PENELITIAN 3.1 Sampel Penelitian Penelitian ini mengambil sampel dari perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu pemilihan sampel yang memenuhi kriteria-kriteria tertentu. Kriteria-kriteria tersebut yaitu: 1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2008 sampai 2011. Penelitian ini menggunakan faktor sumber daya dan operasional sebagai input, faktor penjualan sebagai ouput dalam menghitung efisiensi perusahaan sesuai dengan penelitian Isnugrahadi dan Kusuma (2009). Isnugrahadi dan Kusuma (2009) menyatakan bahwa penggunaan faktor tersebut hanya dapat diterapkan dalam perhitungan tingkat efisiensi industri manufaktur. 2. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan yang lengkap yang berakhir pada tanggal 31 Desember selama periode 2008 sampai 2011. 3. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan yang tidak memiliki nilai ekuitas negatif. Adanya nilai ekuitas negatif akan membuat nilai Tobin’s Q akan bias karena nilai debt akan lebih besar dibandingkan nilai aset perusahaan. 4. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan dalam mata uang rupiah. Penggunaan laporan keuangan dalam mata uang selain rupiah tidak
  35. 35. 23 relevan karena perhitungan Tobin’s Q akan membandingkan nilai buku dalam laporan keuangan dengan harga saham. Harga saham yang ada merupakan harga saham dalam satuan rupiah. 5. Untuk pengukuran DEA, perusahaan diklasifikasikan ke dalam masing- masing sub sektor industri manufaktur dengan jumlah minimal 5 perusahaan. Penentuan jumlah ini dimaksudkan untuk memberikan variasi pada skor DEA yang dihasilkan (Ruba’i, 2009). 6. Perusahaan tidak memiliki nilai residual kurang atau lebih dari 2x deviasi standar. Perusahaan yang memiliki nilai residual antara minus 2x deviasi standar sampai plus 2x deviasi standar mengindikasikan bahwa residual berdistribusi normal. Jumlah sampel dalam penelitian ini disajikan sebagai berikut. Tabel 1 Pemilihan Sampel No Kriteria Sampel Jumlah 1. 2. 3. 4. 5. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2008-2011. Perusahaan memiliki laporan keuangan dalam mata uang asing dan bukan periode yang berakhir tanggal 31 Desember. Perusahaan yang memiliki ekuitas negatif. Data tidak lengkap. Perusahaan dalam setiap sub sektor industri kurang dari 5 145 (14) (8) (10) (34) Total Perusahaan 79 6. 7. Jumlah observasi ( 4 x 79 ) Outlier (± 2x deviasi standar) 316 (16) Total Sampel 300 3.2 Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder berupa data jenis sub sektor industri, laporan keuangan dan harga saham
  36. 36. 24 penutupan akhir periode. Data jenis sub sektor industri diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Data laporan keuangan dapat diperoleh dari website Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Data harga saham penutupan akhir periode dapat diperoleh dari website yahoo finance. 3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.3.1 Variabel Independen Variabel independen dalam penelitian ini yaitu kecakapan manajerial. Kecakapan managerial dalam penelitian ini didefinisikan sebagai tingkat efisiensi relatif sebuah perusahaan dalam mengelola input (faktor-faktor sumber daya dan operasional) untuk meningkatkan output (penjualan). Kecakapan manajerial diukur dengan Data Envelopment Anaylisis (DEA). DEA adalah sebuah program optimisasi yang digunakan untuk mengevaluasi tingkat efisiensi relatif suatu Decision Making Unit (DMU) berupa perbandingan antara output atau multi output dengan input atau multi input (Isnugrahadi dan Kusuma, 2009). Tingkat efisiensi relatif ini kemudian dinisbahkan sebagai hasil dari kecakapan manager. Input dan output yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan input dan output yang digunakan oleh Ishugrahadi dan Kusuma (2009), yaitu: Output: Output yang digunakan hanya satu yaitu penjualan. Penjualan yang dipakai sebagai output karena penjualan merepresentasikan nilai nominal dari produk perusahaan yang merupakan output mendasar dari perusahaan. Input:
  37. 37. 25 Komponen yang dijadikan input dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor sumber daya (total aset dan jumlah tenaga kerja) dan faktor operasional (Days Cost of Good Sold in Inventory dan Days Sales Outstanding). 1. Total Aset Total aset dimasukkan sebagai input karena aset merupakan faktor sumber daya yang sangat penting dalam menghasilkan penjualan (output). Seorang manager yang cakap akan mampu mengelola besaran aset yang diperlukan untuk menghasilkan penjualan yang maksimal. 2. Jumlah tenaga kerja Selain aset, faktor sumber daya lain yang berperan menghasilkan penjualan adalah tenaga kerja. Secara umum, untuk nilai penjualan yang tertentu (given), semakin kecil jumlah tenaga kerja untuk menghasilkan penjualan tersebut maka semakin efisien perusahaan tersebut. 3. Days Cost of Good Sold in Inventory (DCI) Variabel ini mengukur kecepatan perputaran sediaan perusahaan dalam satuan hari. Semakin kecil waktu (hari) yang diperlukan untuk perputaran sediaan maka semakin efisien perusahaan tersebut. Manager yang handal diharapkan mampu mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk meminimalkan besaran DCI ini. Rumus untuk menghitung besaran DCI adalah sebagai berikut: DCI = 365 / (COGS / Inventory)………………………………………(1)
  38. 38. 26 4. Days Sales Outstanding (DSO) DSO mengukur waktu yang diperlukan oleh perusahaan untuk mendapatkan kas setelah melakukan penjualan. Semakin cepat perusahaan mendapatkan kas semakin baik. Rumus untuk menghitung DSO adalah sebagai berikut: DSO = Receivables / (Sales / 365)……………………………………...(2) Model yang digunakan untuk menghitung efisiensi yaitu metode DEA yang diperkenalkan oleh Demerjian, et al. (2010). Model perhitungan DEA sebagai berikut: …………………………………………………………….(3) Keterangan: Θ : nilai efisiensi perusahaan k ui : bobot output i yang dihasilkan perusahaan k yik : jumlah output i dari perusahaan k dan dihitung dari i=1 hingga s vj : bobot input j yang digunakan perusahaan k xjk : jumlah input j dari perusahaan k dan dihitung dari j=1 hingga m Rasio efisiensi (Θ) kemudian didapatkan dengan kendala: ……………………………………………………...(4) dengan: ………………………………………………………………..(5) ………………………………………………………………..(6) Dari persamaan di atas, dapat diketahui bahwa nilai efisiensi tidak akan melebihi 1 (100%). Input dan output yang dianalisis harus positif. Penelitian ini menggunakan software MaxDEA untuk menghitung nilai efisiensi.
  39. 39. 27 3.3.2 Variabel Dependen Variabel dependen dalam penelitian ini adalah nilai perusahaan. Nilai perusahaan didefinisikan sebagai tingkat kesejahteraan pemegang saham. Indikator dari kesejahteraan pemegang saham yaitu harga saham. Dalam penelitian ini, nilai perusahaan dihitung menggunakan Tobin’s Q. Alasan penggunaan Tobin’s Q dalam penelitian ini yaitu Tobin’s Q menggambarkan kemampuan manajer perusahaan dalam meningkatkan nilai perusahaan (Thavikulwat, 2004). Tobin’s Q dapat dihitung dengan rumus (Siallagan dan Machfoedz, 2006): ……………………………………………………………………..(7) Keterangan: Q = Nilai perusahaan P = Harga saham penutupan akhir tahun n = Jumlah lembar saham beredar D = Nilai Buku utang BVA = Nilai Buku Aset 3.3.3 Variabel Pemoderasi Variabel pemoderasi dalam penelitian ini yaitu kepemilikan manajerial. Kepemilikan manajerial yaitu kepemilikan saham perusahaan oleh manajer. Kepemilikan manajerial diukur dengan variabel dummy. Apabila manajer memiliki saham perusahaan, maka akan diberi nilai 1. Apabila manajer tidak memiliki saham perusahaan, maka diberi nilai 0. 3.3.4 Variabel Kontrol Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan. Ada dua pandangan mengenai pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan.
  40. 40. 28 Pandangan pertama yaitu ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Ukuran perusahaan yang besar dapat menjadi indikasi bahwa perusahaan mempunyai komitmen yang tinggi untuk terus memperbaiki kinerjanya, sehingga pasar akan mau membayar lebih mahal untuk mendapatkan sahamnya karena percaya akan mendapatkan pengembalian yang menguntungkan dari perusahaan tersebut (Rachmawati dan Triatmoko, 2007). Pandangan kedua yaitu ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Watts dan Zimmerman (1986) menyatakan bahwa perusahaan besar harus mengeluarkan political cost. Pengeluaran political cost dapat mengurangi kesejahteraan pemegang saham. Ukuran perusahaan dihitung dengan melakukan log natural (ln) total aset. Penggunaan log natural untuk memperkecil variansi antar sampel. 3.4 Metode Analisis Setelah mendapatkan hasil dari perhitungan varibel, maka akan dilakukan uji asumsi klasik dan uji hipotesis. Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi dan uji heterokedastisitas. Uji hipotesis dalam penelitian ini akan menggunakan uji regresi berganda. 3.4.1 Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah nilai residual telah terdistribusi normal. Uji regresi yang baik baik adalah uji regresi yang memiliki nilai residual terdistribusi normal. Uji normalitas dalam penelitian ini akan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Kriteria pengambilan keputusan dalam uji Kolmogorov-Smirnov yaitu dengan melihat nilai signifikansi, dengan ketentuan (Suliyono, 2010):
  41. 41. 29 1. Nilai signifikansi ≥ 0,05 maka residual terdistribusi normal 2. Nilai signifikansi < 0,05 maka residual tidak terdistribusi normal 3.4.2 Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas untuk menguji apakah ada hubungan yang berarti antara masing-masing variabel independen. Uji regresi yang baik yaitu uji regresi yang variabel independennya tidak memiliki hubungan yang berarti dengan variabel independen yang lain. Uji multikolinearitas dilakukan dengan uji regresi, dengan nilai patokan Variance Inflation Factor (VIF) dan tolerance. Jika nilai VIF di bawah angka 10 atau memiliki tolerance di atas 0, maka tidak terdapat masalah multikolinearitas (Widarjono, 2010). 3.4.3 Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah ada korelasi antara variabel pengganggu (error term) pada periode t dengan variabel pengganggu (error term) pada periode t-1 (Suliyono, 2010). Uji regresi yang baik adalah uji regresi yang terbebas dari masalah autokorelasi. Uji autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan nilai Durbin Watson (DW). Kriteria pengambilan keputusan untuk nilai Durbin Watson (DW): Tabel 2 Tabel Autokorelasi DW Kesimpulan Kurang dari 1,08 1,08 s.d 1,66 1,66 s.d 2,34 2,34 s.d 2,92 Lebih dari 2,92 Ada Autokorelasi Tanpa Kesimpulan Tidak Ada Autokorelasi Tanpa Kesimpulan Ada Autokorelasi Sumber: Algifari, 2000
  42. 42. 30 3.4.4 Uji Heterokedastisitas Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah ada ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Uji regresi yang baik adalah uji regresi yang terbebas dari masalah heterokedastisitas. Uji heterokedastisitas dalam penelitian ini menggunakan uji Gletjser. Uji Gletjser dilakukan dengan meregresi nilai residual absolut dengan variabel independen. Kriteria pengambilan keputusan dalam uji Gletjser yaitu dengan melihat nilai signifikansi, dengan ketentuan (Ghozali, 2005): 1. Nilai signifikansi ≥ 0,05 maka tidak terjadi heterokedastisitas 2. Nilai signifikansi < 0,05 maka terjadi heterokedastisitas 3.4.5 Uji Hipotesis Untuk menguji hipotesis 1 dan 2, akan digunakan uji regresi berganda. Model regresi berganda yang digunakan sebagai berikut: Q=ɑ+β1KECM+β2KEPM+β3KECM*KEPM+β4SIZE+ε…………………..(8) Keterangan: Q =Nilai perusahaan KECM =Kecakapan Manajerial KEPM =Kepemilikan Manajerial KECM*KEPM =Interaksi antara kecakapan manajerial dengan kepemilikan manajerial SIZE =Ukuran Perusahaan ε =Error
  43. 43. 31 BAB IV ANALISIS DATA 4.1 Hasil Perhitungan Variabel 4.1.1 Kecakapan Manajerial Kecakapan manajerial diukur dengan Data Envelopment Anaylisis (DEA). Skor DEA untuk setiap sampel dapat dilihat di lampiran 2. 4.1.2 Nilai Perusahaan Nilai perusahaan diukur dengan Tobin’s Q. Nilai Q untuk setiap sampel dapat dilihat di lampiran 3. 4.1.3 Kepemilikan Manajerial Kepemilikan manajerial merupakan variabel dummy. Perusahaan yang terdapat kepemilikan manajerial akan diberi nilai 1. Perusahaan yang tidak terdapat kepemilikan manajerial akan diberi nilai 0. Kepemilikan manajerial untuk setiap sampel dapat dilihat di lampiran 4. 4.1.4 Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan diukur dengan logaritma natural (ln) total aset. Ukuran perusahaan untuk setiap sampel dapat dilihat di lampiran 5. 4.2 Statistik Deskriptif Statistik deskriptif memberikan gambaran mengenai karakteristik variabel penelitian. Statistik deskriptif seluruh variabel penelitian sebagai berikut.
  44. 44. 32 Tabel 3 Statistik Deskriptif N Minimum Maksimum Rata-rata Deviasi Standar Q KECM SIZE Valid N (listwise) 316 316 316 316 0,38 0,02 23,19 5,23 1,00 32,66 1,21 0,71 27,52 0,75 0,30 1,48 Sumber: data diolah Tabel di atas menunjukkan bahwa variabel nilai perusahaan (Q) memiliki nilai minimum 0,38; nilai maksimum 5,23; nilai mean 1,21 dan deviasi standar 0,75. Variabel kecakapan manajerial (KECM) memiliki nilai minimum 0,02; nilai maksimum 1,00; nilai mean 0,71; dan deviasi standar 0,30. Variabel ukuran perusahaan (SIZE) memiliki nilai minimum 23,19; nilai maksimum 32,66; nilai mean 27,52 dan standar deviasi 1,48. Gambaran mengenai sampel yang terdapat kepemilikan manajerial dan yang tidak terdapat kepemilikan manajerial sebagai berikut. Tabel 4 Deskripsi Sampel Klasifikasi Jumlah Sampel Persentase N Terdapat Kepemilikan Manajerial Tidak Terdapat Kepemilikan Manajerial 316 93 223 100% 29% 71% Sumber: data diolah Perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini yaitu 79 perusahaan selama 4 tahun. Tabel di atas menunjukkan bahwa sampel berjumlah 316. Jumlah sampel yang terdapat kepemilikan manajerial berjumlah 93 atau 29% dari keseluruhan sampel. Jumlah sampel yang tidak terdapat kepemilikan manajerial berjumlah 223 atau 71% dari keseluruhan sampel.
  45. 45. 33 Ringkasan mengenai deskripsi skor DEA untuk setiap sub sektor industri adalah sebagai berikut. Tabel 5 Skor DEA Kecakapan Manajerial No Sub Sektor Industri Skor DEA Tertinggi Terendah 2008-2011 2008 2009 2010 2011 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Food and Beverage Apparel and Other Textile Products Chemical and Allied Products Plastics and Glass Products Metal and Allied Product Stone, Clay, Glass and Concrete Products Cables Automotive and Allied Products Pharmaceuticals 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0,14 0,48 0,47 0,13 0,24 0,89 0,72 0,03 0,55 0,16 0,50 0,74 0,02 0,26 0,49 0,59 0,14 0,72 0,19 0,64 0,77 0,02 0,19 0,67 0,45 0,17 0,69 0,26 0,66 0,50 0,04 0,17 0,48 0,79 0,18 0,65 Sumber: data diolah Tabel di atas menunjukkan bahwa semua sub sektor industri manufaktur memiliki skor DEA tertinggi sebesar 1 dari tahun 2008 sampai 2011. Skor 1 menunjukkan bahwa tingkat efisiensi sebesar 100%. Skor DEA terendah untuk sub sektor food and beverage pada tahun 2008 sebesar 0,14; pada tahun 2009 sebesar 0,16; pada tahun 2010 sebesar 0,19 dan pada tahun 2011 sebesar 0,26. Skor DEA terendah mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai tahun 2011. Skor DEA terendah untuk sub sektor apparel and other textile products pada tahun 2008 sebesar 0,48; pada tahu 2009 sebesar 0,50; pada tahun 2010 sebesar 0,64 dan pada tahun 2011 sebesar 0,66. Skor DEA terendah mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai tahun 2011.
  46. 46. 34 Skor DEA terendah untuk sub sektor chemical and allied products pada tahun 2008 sebesar 0,47; pada tahun 2009 sebesar 0,74; pada tahun 2010 sebesar 0,77 dan pada tahun 2011 sebesar 0,50. Skor DEA terendah mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai 2010. Skor DEA terendah kembali menurun pada tahun 2011. Skor DEA terendah untuk sub sektor plastics and glass products pada tahun 2008 sebesar 0,13; pada tahun 2009 sebesar 0,02; pada tahun 2010 sebesar 0,02 dan pada tahun 2011 sebesar 0,04. Skor DEA terendah mengalami penurunan dari tahun 2008 sampai 2010. Skor DEA terendah kembali meningkat pada tahun 2011. Skor DEA terendah untuk sub sektor metal and allied products pada tahun 2008 sebesar 0,24; pada tahun 2009 sebesar 0,26; pada tahun 2010 sebesar 0,19 dan pada tahun 2011 sebesar 0,17. Skor DEA terendah mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai 2009. Skor DEA terendah kembali menurun pada tahun 2010 sampai 2011. Skor DEA terendah untuk sub sektor stone, clay, glass and concrete products pada tahun 2008 sebesar 0,89; pada tahun 2009 sebesar 0,49; pada tahun 2010 sebesar 0,67 dan pada tahun 2011 sebesar 0,48. Skor DEA terendah mengalami naik dan turun selama tahun 2008 sampai 2011. Skor DEA terendah untuk sub sektor cables pada tahun 2008 sebesar 0,72; pada tahun 2009 sebesar 0,59; pada tahun 2010 sebesar 0,45 dan pada tahun 2011 sebesar 0,79. Skor DEA terendah mengalami penurunan dari tahun 2008 sampai 2010. Skor DEA terendah kembali meningkat pada tahun 2011.
  47. 47. 35 Skor DEA terendah untuk sub sektor automotive and allied products pada tahun 2008 sebesar 0,03; pada tahun 2009 sebesar 0,14; pada tahun 2010 sebesar 0,17 dan pada tahun 2011 sebesar 0,18. Skor DEA terendah mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai 2011. Skor DEA terendah untuk sub sektor pharmaceuticals pada tahun 2008 sebesar 0,55; pada tahun 2009 sebesar 0,72; pada tahun 2010 sebesar 0,69 dan pada tahun 2011 sebesar 0,65. Skor DEA terendah mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai tahun 2009. Skor DEA terendah kembali menurun pada tahun 2010 sampai tahun 2011. Hasil yang lebih lengkap dapat dilihat di lampiran 2. Ringkasan mengenai rata-rata skor DEA per sub sektor industri sebagai berikut. Tabel 6 Rata-Rata Skor DEA Kecakapan Manajerial No Sub Sektor Industri Rata-Rata Skor DEA 2008 2009 2010 2011 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Food and Beverage Apparel and Other Textile Products Chemical and Allied Products Plastics and Glass Products Metal and Allied Product Stone, Clay, Glass and Concrete Products Cables Automotive and Allied Products Pharmaceuticals 0,64 0,90 0,82 0,76 0,54 0,96 0,90 0,26 0,83 0,76 0,88 0,91 0,72 0,57 0,79 0,88 0.63 0,93 0,72 0,92 0,91 0,67 0,50 0,87 0,89 0,53 0,88 0,71 0,94 0,68 0,73 0,46 0,83 0,87 0,57 0,86 Sumber: data diolah Rata-rata skor DEA untuk sub sektor food and beverage pada tahun 2008 sebesar 0,64; pada tahun 2009 sebesar 0,76; pada tahun 2010 sebesar 0,72; pada tahun 2011 sebesar 0,71. Rata-rata skor DEA mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai 2009. Rata-Rata skor DEA kembali menurun pada tahun 2010 sampai 2011.
  48. 48. 36 Rata-rata skor DEA untuk sub sektor apparel and other textile products pada tahun 2008 sebesar 0,90; pada tahun 2009 sebesar 0,88; pada tahun 2010 sebesar 0,92; pada tahun 2011 sebesar 0,94. Rata-rata skor DEA mengalami penurunan dari tahun 2008 sampai 2009. Rata-rata skor DEA mengalami peningkatan pada tahun 2010 sampai 2011. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa perusahaan- perusahaan pada sub sektor apparel and other textile products mengalami peningkatan rata-rata tingkat efisiensi dari tahun 2009 sampai 2011. Rata-rata skor DEA untuk sub sektor chemical and allied products pada tahun 2008 sebesar 0,82; pada tahun 2009 sebesar 0,91; pada tahun 2010 sebesar 0,91; pada tahun 2011 sebesar 0,68. Rata-rata skor DEA mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai 2010. Rata-rata skor DEA menurun kembali pada tahun 2011. Rata-rata skor DEA untuk sub sektor plastics and glass products pada tahun 2008 sebesar 0,76; pada tahun 2009 sebesar 0,72; pada tahun 2010 sebesar 0,67; pada tahun 2011 sebesar 0,73. Rata-rata skor DEA mengalami penurunan dari tahun 2008 sampai 2010. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan pada sub sektor plastics and glass products mengalami penurunan rata-rata tingkat efisiensi dari tahun 2008 sampai 2010. Rata-rata skor DEA meningkat kembali pada tahun 2011. Rata-rata skor DEA untuk sub sektor metal and allied product pada tahun 2008 sebesar 0,54; pada tahun 2009 sebesar 0,57; pada tahun 2010 sebesar 0,50; pada tahun 2011 sebesar 0,46. Rata-rata skor DEA mengalami peningkatan dari
  49. 49. 37 tahun 2008 sampai 2009. Rata-rata skor DEA kembali menurun pada tahun 2010 sampai 2011. Rata-rata skor DEA untuk sub sektor stone, clay, glass and concrete products pada tahun 2008 sebesar 0,96; pada tahun 2009 sebesar 0,79; pada tahun 2010 sebesar 0,87; pada tahun 2011 sebesar 0,83. Tren rata-rata skor DEA untuk sub sektor stone, clay, glass and concrete products mengalami peningkatan dan penurunan. Rata-rata skor DEA untuk sub sektor cables pada tahun 2008 sebesar 0,90; pada tahun 2009 sebesar 0,88; pada tahun 2010 sebesar 0,89; pada tahun 2011 sebesar 0,87. Rata-rata skor DEA relatif stabil dari tahun 2008 sampai 2011 dan tidak mengalami peningkatan dan penurunan yang terlalu besar. Rata-rata skor DEA untuk sub sektor automotive and allied products pada tahun 2008 sebesar 0,26; pada tahun 2009 sebesar 0,63; pada tahun 2010 sebesar 0,53; pada tahun 2011 sebesar 0,57. Rata-rata skor DEA pada tahun 2009 meningkat besar dari tahun 2008. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan- perusahaan sub sektor automotive and allied products mengalami peningkatan rata-rata tingkat efisiensi yang besar pada tahun 2009. Rata-rata skor DEA mengalami penurunan pada tahun 2010, kemudian kembali meningkat pada tahun 2011. Rata-rata skor DEA untuk sub sektor pharmaceuticals pada tahun 2008 sebesar 0,83; pada tahun 2009 sebesar 0,93; pada tahun 2010 sebesar 0,88; pada tahun 2011 sebesar 0,86. Rata-rata skor DEA mengalami peningkatan pada tahun 2009. Rata-rata skor DEA kembali menurun pada tahun 2010 sampai 2011.
  50. 50. 38 4.3 Uji Normalitas Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil pengujian normalitas dengan jumlah sampel 316 (sebelum menghilangkan outlier) sebagai berikut. Tabel 7 Uji Normalitas (N=316) Unstandardized Residual N Kolmogrov-Smirnov Asymp.Sig.(2-tailed) 316 3,296 0,000 Sumber: data diolah Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai asymp.sig.(2-tailed) sebesar 0,000 (di bawah 0,05). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa residual tidak terdistribusi normal. Masalah normalitas yang ada dapat diatasi dengan melakukan logaritma natural (ln) terhadap variabel independen dan atau independen. Dalam penelitian ini, variabel kecakapan manajerial (KECM) dan nilai perusahaan (Q) akan diubah dalam bentuk logaritma natural (ln). Hasil pengujian normalitas dengan variabel kecakapan manajerial dan nilai perusahaan yang telah diubah dalam bentuk logaritma natural (ln) sebagai berikut. Tabel 8 Uji Normalitas (Bentuk Ln) Unstandardized Residual N Kolmogrov-Smirnov Asymp.Sig.(2-tailed) 316 1,867 0,002 Sumber: data diolah
  51. 51. 39 Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai asymp.sig.(2-tailed) sebesar 0,002 (di bawah 0,05). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa residual tetap tidak terdistribusi normal. Cara lain untuk mengatasi normalitas yaitu dengan menghilangkan outlier. Kriteria outlier dalam penelitian ini yaitu residual yang memiliki nilai sebesar ± 2 kali deviasi standar. Penelitian ini menghilangkan outlier sebanyak 16 sampel. Hasil pengujian normalitas setelah menghilangkan outlier sebagai berikut. Tabel 9 Uji Normalitas (N=300) Unstandardized Residual N Kolmogrov-Smirnov Asymp.Sig.(2-tailed) 300 1,332 0,058 Sumber: data diolah Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai asymp.sig.(2-tailed) sebesar 0,058 (di atas 0,05). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa residual terdistribusi normal. 4.4 Uji Multikolineritas Uji multikolinearitas dilakukan dengan uji regresi, dengan nilai patokan Variance Inflation Factor (VIF) dan tolerance. Jika nilai VIF di bawah angka 10 atau memiliki tolerance di atas 0, maka tidak terdapat masalah multikolinearitas (Widarjono, 2010). Hasil dari pengujian multikolinearitas sebagai berikut.
  52. 52. 40 Tabel 10 Uji Multikolinearitas Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant) LnKECM KEPM LnKECM_KEPM SIZE 0,758 0,528 0,471 0,892 1,318 1,894 2,125 1,122 Dependent Variable Ln Q Sumber: data diolah Tabel di atas menunjukkan bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai tolerance di atas 0 dan nilai VIF di bawah 10. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah multikolinearitas dalam penelitian ini. 4.5 Uji Autokorelasi Uji autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan nilai Durbin-Watson (DW). Hasil pengujian autokorelasi sebagai berikut. Tabel 11 Uji Autokorelasi Model R Square Adjusted R Square Durbin-Watson 1 0,062 0,049 1,831 Predictors: (Constant), LnKECM_KEPM, SIZE, LnKECM, KEPM Dependent Variable:LnQ Sumber: data diolah Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 1,831 (antara nilai 1,66 dan 2,34). Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak ada masalah autokorelasi. 4.6 Uji Heterokedastisitas Uji heterokedastisitas dalam penelitian menggunakan uji Gletjser dengan nilai signifikansi 0,05. Hasil uji heterokedastisitas sebagai berikut.
  53. 53. 41 Tabel 12 Uji Heterokedastisitas Model T Sig. 1 (Constant) LnKECM KEPM LnKECM_KEPM Size 2,283 1,523 1,364 1,728 -1,038 0,023 0,129 0,174 0, 085 0,300 Dependent Variable: ABSRES Sumber: data diolah Tabel di atas menunjukkan nilai signifikansi seluruh variabel independen di atas 0,05. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini bebas dari masalah heterokedastisitas. 4.7 Uji Hipotesis Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji regresi berganda dengan nilai signifikansi 0,05. Hasil uji regresi sebagai berikut. Tabel 13 Uji Regresi Variable Coefficients t Sig (Constant) LnKECM KEPM LnKECM_KEPM SIZE 1,130 0,073 0,128 0,201 -0,039 2,059 1,974 2,494 -2,509 0,040 0,049 0,013 0,013 Dependent Variable: LnQ R2 = 0,062 Sig. F = 0,001 Sumber: data diolah Persamaan regresi berganda dalam penelitian ini sebagai berikut. Q = 1,130 + 0,073KECM + 0,128KEPM + 0,201KECM*KEPM – 0,039 SIZE Keterangan: KECM = Kecakapan Manajerial KEPM = Kepemilikan Manajerial KECM*KEPM= Interaksi Kecakapan Manajerial dengan Kepemilikan Manajerial SIZE = Ukuran Perusahaan
  54. 54. 42 Tabel di atas menyatakan bahwa nilai R2 sebesar 0,062. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variabel kecakapan manajerial, kepemilikan manajerial, interaksi kecakapan manajerial dengan kepemilikan manajerial, ukuran perusahaan dapat menjelaskan variabel nilai perusahaan sebesar 6,2%; sedangkan 93,8% dijelaskan oleh variabel lain. Variabel kecakapan manajerial memiliki koefisiensi regresi sebesar 0,073; t hitung sebesar 2,059; nilai signifikansi 0,040 (di bawah 0,05). Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis 1 terdukung. Kecakapan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Variabel kepemilikan manajerial memiliki koefisien regresi sebesar 0,128; t hitung sebesar 1,974; nilai signifikansi 0,049 (di bawah 0,05). Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Variabel interaksi kecakapan manajerial dengan kepemilikan manajerial memiliki koefisien regresi 0,201; t hitung sebesar 2,494; nilai signifikansi 0,013 (di bawah 0,05). Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis 2 terdukung. Kepemilikan manajerial memperkuat pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan. Variabel ukuran perusahaan memiliki koefisien regresi -0,039; t hitung sebesar -2,059; nilai signifikansi 0,013 (di bawah 0,05). Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.
  55. 55. 43 4.8 Pembahasan Kecakapan manajerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin cakap seorang manajer, maka semakin mampu manajer mendesain proses bisnis yang efisien dan membuat keputusan-keputusan yang memberi nilai tambah bagi perusahaan (Isnugrahadi dan Kusuma, 2009). Manajer yang memiliki pengetahuan bisnis yang baik, kemampuan judgment dan estimasi yang akurat, serta ahli dalam bidang tanggung jawabnya akan mengambil keputusan bisnis yang berdampak pada aktivitas perusahaan yang efisien. Dampak dari adanya pengetahuan bisnis yang baik, kemampuan pengambilan keputusan yang efektif dan efisien, serta keahlian yang dimiliki oleh manajer yaitu akan tercipta nilai bagi perusahaan. Contoh dari kecakapan manajerial yaitu kemampuan dalam memprediksi kecenderungan peningkatan permintaan produk di pasar. Seorang manajer yang cakap mampu memprediksi peningkatan permintaan produk dengan akurat dan mampu memaksimalkan sumber daya yang ada untuk meningkatkan penjualan perusahaan. Peningkatan penjualan perusahaan dengan menggunakan sumber daya yang ada, tanpa meningkatkan sumber daya, menggambarkan bahwa manajer yang cakap telah menciptakan nilai bagi perusahaan. Perusahaan membutuhkan manajer yang cakap agar tujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan dapat tercapai. Kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Siallagan dan Machfoedz (2006) yang
  56. 56. 44 menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Variabel interaksi antara kecakapan manajerial dan kepemilikan manajerial juga berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini membuktikan bahwa kepemilikan saham oleh manajer akan memperkecil konflik kepentingan antara manajer dengan pemegang saham. Adanya kepemilikan saham oleh manajer membuat kepentingan antara pemegang saham dan manajer akan menjadi selaras. Kepemilikan saham oleh manajer akan membuat manajer untuk bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham. Manajer akan mengelola perusahaan dengan baik untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham dan dirinya sendiri yang juga sebagai pemegang saham. Kesejahteraan pemegang saham merupakan indikator dari nilai perusahaan. Manajer cakap yang memiliki saham perusahaan akan lebih meningkatkan nilai perusahaan dibandingkan manajer cakap yang tidak memiliki saham perusahaan. Contoh dari konflik kepentingan yaitu penggunaan laba ditahan. Manajer akan menggunakan laba ditahan untuk melakukan ekspansi bisnis perusahaan dengan tujuan agar kinerja manajer terlihat baik. Kepentingan manajer yaitu mendapatkan bonus dari peningkatan kinerjanya. Kepentingan dari pemegang saham yaitu mendapatkan deviden. Pemegang saham ingin laba ditahan dibagikan dalam bentuk deviden. Kepemilikan saham oleh manajer akan memperkecil konflik tersebut. Manajer yang sekaligus pemegang saham akan bertindak sesuai kepentingan pemegang saham. Manajer akan mempertimbangkan pembagian deviden karena manajer juga akan mendapatkan deviden. Kepemilikan saham
  57. 57. 45 oleh manajer akan menyelaraskan kepentingan antara manajer dengan pemegang saham. Ukuran perusahaan, sebagai variabel kontrol, dalam penelitian ini berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Hasil tersebut sesuai dengan positive accounting theory yang dikemukakan oleh Watts dan Zimmerman (1986). Mereka menyatakan bahwa perusahaan besar harus mengeluarkan political cost. Semakin besar sebuah perusahaan, maka media akan semakin tertarik memberitakan hal-hal yang berhubungan dengan perusahaan tersebut karena aktivitas perusahaan besar menyentuh sebagian besar lapisan masyarakat. Pemberitaan tersebut mengakibatkan adanya akses bagi pemerintah, masyarakat dan karyawan dalam melakukan monitoring kepada perusahaan besar. Pihak yang melakukan monitoring akan menuntut hal-hal yang harus dilakukan perusahaan terkait dengan aktivitas perusahaan yang berdampak pada pihak tersebut. Pemenuhan tuntutan tersebut merupakan cost bagi perusahaan. Pengeluaran political cost dapat mengurangi tingkat return yang didapat pemegang saham dari perusahaan. Menurunnya tingkat return tersebut dapat mengurangi kesejahteraan pemegang saham. Menurunnya kesejahteraan pemegang saham mengindikasikan bahwa nilai perusahaan menurun. Contoh dari political cost yaitu adanya kemungkinan pengeluaran regulasi yang lebih ketat dari pemerintah. Pengeluaran regulasi yang lebih ketat disebabkan oleh aktivitas perusahaan besar yang berdampak buruk bagi sebagian besar masyarakat. Adanya regulasi tersebut mengakibatkan pengeluaran biaya oleh perusahaan, misalnya Corporate Social Responsibility (CSR). Dalam jangka
  58. 58. 46 pendek, pengeluaran biaya tersebut akan mengakibatkan profitablitas perusahaan terlihat menurun. Menurunnya profitablitas berdampak pada menurunnya nilai perusahaan.
  59. 59. 47 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa: 1. Kecakapan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin cakap seorang manajer, maka semakin mampu manajer menjalankan bisnis yang efektif dan efisien serta mengambil keputusan yang menciptakan nilai bagi perusahaan. 2. Kepemilikan manajerial memperkuat pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa kepemilikan manajerial dapat memperkecil konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham. Manajer akan mengelola perusahaan dengan baik untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham dan dirinya sendiri yang juga sebagai pemegang saham. Manajer cakap yang memiliki saham perusahaan akan lebih meningkatkan nilai perusahaan dibandingkan manajer cakap yang tidak memiliki saham perusahaan. 5.2 Implikasi Penelitian Dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa kecakapan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, pemilik perusahaan harus selektif dalam memilih manajer sebagai agent agar dapat meningkatkan nilai perusahaan. Pemilik seharusnya memilih manajer yang cakap agar tujuan perusahaan dalam
  60. 60. 48 memaksimalkan kesejahteraan pemilik, sebagai indikator nilai perusahaan, dapat tercapai. Hasil penelitian yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial memperkuat pengaruh kecakapan manajerial terhadap nilai perusahaan juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan perusahaan. Kompensasi berbasis saham kepada manajer dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan agar konflik kepentingan dapat diperkecil, sehingga tujuan perusahaan untuk memaksimalkan nilai perusahaan dapat tercapai. 5.3 Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan, antara lain: 1. Penggunaan faktor input dan output dalam perhitungan skor DEA hanya dapat digunakan pada perusahaan industri manufaktur. Faktor input dan output dalam penelitian ini tidak dapat diterapkan dalam menghitung skor DEA perusahaan industri lainnya. Penelitian ini tidak memasukkan perusahaan dari indsutri lain sebagai sampel penelitian. 2. Penelitian ini tidak memisahkan perusahaan besar dan perusahaan kecil. Perusahaan besar cenderung memiliki accesiblity yang lebih besar, contohnya kepada supplier, dibandingkan perusahaan kecil. Manajer yang kurang cakap di perusahaan besar mampu bernegosiasi lebih baik kepada supplier dibandingkan manajer cakap yang berada di perusahaan kecil (Demerjian et al., 2010). Hal ini terjadi karena supplier cenderung lebih memilih perusahaan besar dalam melakukan kerjasama. Alasan supplier lebih memilih perusahaan besar yaitu supplier’s bargain power yang lebih
  61. 61. 49 lemah dibanding perusahaan besar dan adanya kepercayaan yang lebih tinggi oleh supplier dalam melakukan bisnis dengan perusahaan besar dibandingkan dengan perusahaan kecil. 3. Penelitian ini menggunakan harga saham dalam menggambarkan kesejahteraan pemegang saham sebagai indikator nilai perusahaan. Pasar modal di Indonesia merupakan pasar modal berkembang yang perdagangan sahamnya kurang aktif sehingga informasi harga sahamnya cenderung bias. Penggunaan harga saham yang bias akan menghasilkan nilai Tobin’s Q yang bias sehingga nilai perusahaan akan cenderung bias. 5.4 Saran Penelitian Berikutnya Saran untuk penelitian berikutnya yang sejenis yaitu: 1. Penelitian ini menggunakan faktor input dan output yang hanya dapat diterapkan di industri manufaktur dalam menghitung skor DEA. Apabila telah ditemukan faktor input dan output yang dapat digunakan untuk menghitung skor DEA seluruh industri, maka penelitian berikutnya dapat menggunakan sampel dari industri lain selain industri manufaktur. Penggunaan sampel dari industri lain bermanfaat agar hasil penelilitian dapat digeneralisasi ke seluruh populasi. 2. Penelitian ini menggunakan Tobin’s Q dalam menentukan nilai perusahaan. Perhitungan Tobin’s Q menggunakan harga saham dalam menentukan nilai perusahaan. Harga saham di Indonesia cenderung bias karena pasar modal Indonesia merupakan pasar modal berkembang yang perdagangan sahamnya kurang aktif. Penelitian berikutnya diharapkan
  62. 62. 50 menggunakan indikator lain, selain harga saham, dalam menggambarkan nilai perusahaan agar besarnya nilai perusahaan tidak bias. 3. Penelitian kecakapan manajerial menggunakan DEA merupakan topik yang cukup baru. Penelitian kecakapan manajerial dapat dikembangkan lagi dalam penelitian berikutnya. Penelitian berikutnya dapat menghubungkan kecakapan manajerial dengan variabel lain, seperti kualitas laba, return saham dan variabel lainnya.
  63. 63. 51 DAFTAR PUSTAKA Adner, R. dan C.E. Helfat, 2003, Corporate Effect and Dynamic Managerial Capabilities, Strategic Management Journal. Aji, A.W., 2009, Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Moderasi Board Diversity, Tesis S2 UGM. Algifari, 2000, Analisis Regresi, Teori, Kasus dan Solusi, BPFE Yogyakarta. Bertrand, M. dan A. Schoar, 2003, Managing With Style: The Effect of Managers on Firm Policies, The Quarterly Journal of Economics, Oxford. Byrd, J., R. Parrino dan G. Pritsch, 1998, Stockholder-Manager Conflicts and Firm Value, Financial Analyst Journal. Christiawan, Y.J. dan J. Tarigan, 2007, Kepemilikan Manajeral: Kebijakan Hutang, Kinerja dan Nilai Perusahaan, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Volume 9, No.1. Demerjian, P., B. Lev dan S. MacVay, 2008, Quantifying Managerial Ability: A New Measure and Validity Tests, Management Science. Demerjian, P., B. Lev, S. McVay dan M. Lewis, 2010, Managerial Ability and Earnings Quality, Accounting Review. Djuitaningsih, T. dan A. Rahman, 2011, Pengaruh Kecakapan Manajerial Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan, Media Riset Akuntansi Volume 1, No. 2. Francis, J., A. Huang, S. Rajgopal dan A.Y. Zang, 2004, CEO Reputation and Earnings Quality, Contemporary Accounting Research. Ghozali, I., 2005, Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. Healy, P.M. dan J.M. Wahlen, 1999, A Review of The Earnings Management Literature and Its Implications for Standard Setting, Accounting Horizons Volume 13, No.14. Holcomb, T.R., R.M. Holmes Jr dan B.R. Connelly, 2008, Making The Most of What You Have: Managerial Ability as A Source of Resource Value Creation, Strategic Management Journal.
  64. 64. 52 Isnugrahadi, I. dan I.W. Kusuma, 2009, Pengaruh Kecakapan Managerial Terhadap Managemen Laba Dengan Kualitas Auditor Sebagai Variabel Pemoderasi, SNA XII, Palembang. Jensen, M.C. dan W.H. Meckling, 1976, Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Cost and Ownership Structure, Journal of Financial Economics, Volume 3, No. 4. Kurnia, D., 2010, Pengaruh Dividen, Utang, Struktur Kepemilikan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Struktur Dewan Komisaris Sebagai Variabel Pemoderasi, Tesis S2 UGM. Mantri, J.K, 2008, Research Methodology on Data Envelopment Analysist (DEA), Universal-Publisher, Florida. Meryaty, 2011, Analisis Pengaruh Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Perbankan BEI, Skripsi S1 Universitas Sumatera Utara. Rachmawati, A. dan H. Triatmoko, 2007, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan, SNA X, Makassar. Rao, R.K.S., 1995, Financial Management: Concepts and Applications 3th edition, South-Western College Publishing, Ohio. Resmiyanto, R., 2008, Mengukur Efisiensi Organisasi dengan DEA (Data Envelopment Analisis), Jurnal Ekonofisika. Ruba’i, A., 2009, Pengaruh Kecakapan Manajerial Dan Set Kesempatan Investasi (IOS) Terhadap Tarif Pajak Efektif, Tesis S2 UGM. Siallagan, H. dan M. Machfoedz, 2006, Mekanisme Corporate Governance, Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan, SNA IX, Padang. Suliyono, J., 2010, Enam Hari Jago SPSS 17, Cakrawala, Yogyakarta. Suyono, R.A., 2011, Pengaruh Manajemen Likuiditas dan Kinerja Keuangan Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia), Tesis S2 UGM. Thavikulwat, P., 2004, Determining The Value of A Firm, Developments in Business Simulation and Experiential Learning, Volume 31. Wagner, S., 2008, Managerial Succesion and Organizational Performance, Munich School of Management. http://ssrn.com/abstract=1099338 diakses tanggal 10 Januari 2013.
  65. 65. 53 Watts, R.L. dan J.L. Zimmerman, 1986, Positive Accounting Theory, Prentice- Hall, New Jersey. Wei, B., 2007, Managerial Ability, Open-End Fund Flows, and Closed-End Fund Discounts, Job Market Paper, Duke University. http://ssrn.com/abstract=1029507 diakses tanggal 11 Januari 2013. Widarjono, A., 2010, Analisis Statistika Multivariat Terapan, Unit Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN, Yogyakarta. Wirastri, S.L.I., 2007, Good Corporate Governance: Analisis Pengaruh Struktur Kepemilikan dan Struktur Dewan Terhadap Nilai Perusahaan (Firm Value), Tesis S2 UGM.
  66. 66. LAMPIRAN
  67. 67. Lampiran 1 Daftar Sampel Perusahaan Food and beverage: PT akasha wira international (ades water Indonesia) ADES PT cahaya kalbar CEKA PT delta Djakarta DLTA PT fast food Indonesia FAST PT Indofood sukses makmur INDF PT mayora indah MYOR PT multi bintang Indonesia MLBI PT pioneerindo gourmet international (putra sejahtera pioneerindo (cfc)) PTSP PT prasidha aneka niaga PSDN PT sekar laut SKLT PT siantar top STTP PT sinar mas agro resources technology (smart) SMAR PT tiga pilar sejahtera food AISA PT tunas baru lampung TBLA PT ultra jaya milk ULTJ Apparel and other textile products PT apac citra centertex MYTX PT ever shine textile industry ESTI PT indo acidatama (sarasa nugraha) SRSN PT pan brothers tex PBRX PT ricky putra globalindo RICY PT sepatu bata BATA Chemical and allied products PT akr corporindo AKRA PT budi acid jaya BUDI PT colorpak Indonesia CLPI PT eterindo wahanatama ETWA PT lautan luas LTLS Plastics and glass products PT alam karya unggul (aneka kemasindo utama) AKKU PT argha karya prima industry AKPI PT asahimas flat glass AMFG PT asiaplast industries APLI PT berlina BRNA PT camphion pacific Indonesia (kageo igar jaya) IGAR PT langgeng makmur industry LMPI PT sekawan inti pratama SIAP PT siwani makmur SIMA
  68. 68. PT Trias Sentosasa TRST PT. Yanaprima Hastapersada YPAS Metal and Allied Products PT. Alumunindo Light Metal Industry ALMI PT. Betonjaya Manunggal BTON PT. Indal Alumunium Industry INAI PT. Jaya Pari Steel JPRS PT. Lion Mesh Prima LMSH PT. Lion Metal Works LION PT. Pelangi Indah Canindo PICO PT. Tembaga Mulia Semanan TBMS PT. Tira Austenite TIRA stone, clay, glass and concrete products PT. arwana citramulia ARNA PT. intikeramik alamasri industry IKAI PT. keramika Indonesia assosiasi KIAS PT. mitra investindo (siwani trimtra) MITI PT. surya toto Indonesia TOTO cables PT. jembo cable company JECC PT. kabelindo murni KBLM PT. KMI Wire and Cable (GT Kabel Indonesia) KBLI PT. supreme cable manufacturing & commerce (sucaco) SCCO PT. voksel electric VOKS Automotive and allied products PT. astra internasional ASII PT. astra otoparts AUTO PT. gajah tunggal GJTL PT. indo kordsa (branta mulia ) BRAM PT. indomobil sukses internasional IMAS PT. indospring INDS PT. intraco penta INTA PT. multi prima sejahtera LPIN PT. multristrada arah sarana MASA PT. nipress NIPS PT. polychem Indonesia (GT Petrochem industries) ADMG PT. prima alloy steel PRAS PT. selamat sempurna SMSM PT. tunas ridean TURI PT. united tractors UNTR pharmaceuticals
  69. 69. PT. darya-varia laboratoria DVLA PT. indofarma INAF PT. kalbe farma KLBF PT. kimia farma KAEF PT. merck MERK PT. pyridam farma PYFA PT. schering plough Indonesia SCPI PT. tempo scan pacific TSPC
  70. 70. Lampiran 2 Skor DEA Skor DEA 2011 2010 2009 2008 Food and beverage: PT akasha wira international (ades water Indonesia) ADES 0.320 0.386 0.356 0.216 PT cahaya kalbar CEKA 1.000 0.534 1.000 1.000 PT delta Djakarta DLTA 0.427 0.477 0.889 0.298 PT fast food Indonesia FAST 1.000 1.000 1.000 1.000 PT Indofood sukses makmur INDF 1.000 1.000 1.000 1.000 PT mayora indah MYOR 0.653 0.991 0.876 0.562 PT multi bintang Indonesia MLBI 1.000 1.000 1.000 0.637 PT pioneerindo gourmet international (putra sejahtera pioneerindo (cfc)) PTSP 0.874 0.787 0.867 0.806 PT prasidha aneka niaga PSDN 1.000 1.000 0.791 0.842 PT sekar laut SKLT 0.544 0.648 0.648 0.480 PT siantar top STTP 0.420 0.515 0.507 0.307 PT sinar mas agro resources technology (smart) SMAR 1.000 1.000 1.000 1.000 PT tiga pilar sejahtera food AISA 0.264 0.199 0.161 0.148 PT tunas baru lampung TBLA 0.641 0.745 0.863 1.000 PT ultra jaya milk ULTJ 0.554 0.652 0.525 0.353 Apparel and other textile products PT apac citra centertex MYTX 1.000 1.000 1.000 1.000 PT ever shine textile industry ESTI 1.000 0.889 0.834 0.952 PT indo acidatama (sarasa nugraha) SRSN 1.000 1.000 1.000 1.000 PT pan brothers tex PBRX 1.000 1.000 1.000 1.000 PT ricky putra globalindo RICY 0.664 0.644 0.505 0.484 PT sepatu bata BATA 1.000 1.000 1.000 1.000 Chemical and allied products PT akr corporindo AKRA 1.000 1.000 1.000 1.000 PT budi acid jaya BUDI 0.504 0.778 0.741 0.470 PT colorpak Indonesia CLPI 0.714 1.000 1.000 1.000 PT eterindo wahanatama ETWA 0.623 1.000 1.000 1.000 PT lautan luas LTLS 0.585 0.790 0.815 0.656 Plastics and glass products PT alam karya unggul (aneka kemasindo utama) AKKU 0.131 0.060 0.050 0.135 PT argha karya prima industry AKPI 0.990 0.806 1.000 1.000 PT asahimas flat glass AMFG 1.000 1.000 1.000 1.000 PT asiaplast industries APLI 0.710 0.691 0.816 0.969 PT berlina BRNA 0.867 0.710 0.836 0.894 PT camphion pacific Indonesia (kageo igar jaya) IGAR 1.000 1.000 1.000 1.000 PT langgeng makmur industry LMPI 0.498 0.401 0.487 0.379
  71. 71. PT sekawan inti pratama SIAP 0.807 0.688 0.742 0.856 PT siwani makmur SIMA 0.043 0.023 0.022 0.204 PT Trias Sentosasa TRST 1.000 1.000 1.000 1.000 PT. Yanaprima Hastapersada YPAS 1.000 1.000 1.000 1.000 Metal and Allied Products PT. Alumunindo Light Metal Industry ALMI 1.000 1.000 1.000 1.000 PT. Betonjaya Manunggal BTON 0.313 0.413 0.700 0.651 PT. Indal Alumunium Industry INAI 0.247 0.344 0.367 0.275 PT. Jaya Pari Steel JPRS 0.354 0.301 0.314 0.489 PT. Lion Mesh Prima LMSH 0.511 0.597 0.629 0.702 PT. Lion Metal Works LION 0.177 0.198 0.267 0.242 PT. Pelangi Indah Canindo PICO 0.267 0.298 0.430 0.272 PT. Tembaga Mulia Semanan TBMS 1.000 1.000 1.000 1.000 PT. Tira Austenite TIRA 0.320 0.358 0.433 0.297 stone, clay, glass and concrete products PT. arwana citramulia ARNA 1.000 1.000 1.000 0.900 PT. intikeramik alamasri industry IKAI 0.485 0.673 0.742 0.945 PT. keramika Indonesia assosiasi KIAS 0.694 0.717 0.494 0.988 PT. mitra investindo (siwani trimtra) MITI 1.000 0.978 0.732 1.000 PT. surya toto Indonesia TOTO 1.000 1.000 1.000 1.000 cables PT. jembo cable company JECC 0.875 0.455 0.831 0.727 PT. kabelindo murni KBLM 0.796 1.000 0.591 0.844 PT. KMI Wire and Cable (GT Kabel Indonesia) KBLI 0.825 1.000 1.000 1.000 PT. supreme cable manufacturing & commerce (sucaco) SCCO 1.000 1.000 1.000 0.947 PT. voksel electric VOKS 0.892 1.000 1.000 1.000 Automotive and allied products PT. astra internasional ASII 1.000 1.000 1.000 1.000 PT. astra otoparts AUTO 0.403 0.425 0.583 0.129 PT. gajah tunggal GJTL 0.505 0.496 0.559 0.117 PT. indo kordsa (branta mulia ) BRAM 0.398 0.372 0.429 0.094 PT. indomobil sukses internasional IMAS 1.000 0.730 1.000 0.269 PT. indospring INDS 0.332 0.411 0.447 0.101 PT. intraco penta INTA 0.409 0.345 0.532 0.095 PT. multi prima sejahtera LPIN 0.182 0.175 0.293 0.031 PT. multristrada arah sarana MASA 0.557 0.446 0.668 0.054 PT. nipress NIPS 0.398 0.365 0.343 0.142 PT. polychem Indonesia (GT Petrochem industries) ADMG 0.810 0.684 0.890 1.000 PT. prima alloy steel PRAS 0.210 0.191 0.148 0.071 PT. selamat sempurna SMSM 0.488 0.450 0.563 0.140 PT. tunas ridean TURI 1.000 1.000 1.000 0.360 PT. united tractors UNTR 1.000 0.980 1.000 0.366
  72. 72. pharmaceuticals PT. darya-varia laboratoria DVLA 0.835 0.844 0.866 0.554 PT. indofarma INAF 0.731 0.867 0.998 1.000 PT. kalbe farma KLBF 1.000 1.000 1.000 1.000 PT. kimia farma KAEF 1.000 1.000 1.000 1.000 PT. merck MERK 1.000 1.000 1.000 1.000 PT. pyridam farma PYFA 0.660 0.729 0.725 0.648 PT. schering plough Indonesia SCPI 0.657 0.690 0.908 0.626 PT. tempo scan pacific TSPC 1.000 0.963 1.000 0.882
  73. 73. Lampiran 3 Nilai Tobin’s Q Nilai Tobin's Q 2011 2010 2009 2008 Food and beverage: PT akasha wira international (ades water Indonesia) ADES 2.49 3.64 2.73 1.44 PT cahaya kalbar CEKA 0.85 1.02 1.12 0.90 PT delta Djakarta DLTA 2.74 2.87 1.52 0.69 PT fast food Indonesia FAST 3.42 3.57 2.28 2.04 PT Indofood sukses makmur INDF 1.16 1.38 1.39 0.87 PT mayora indah MYOR 2.29 2.41 1.56 0.86 PT multi bintang Indonesia MLBI 0.57 1.02 4.65 1.74 PT pioneerindo gourmet international (putra sejahtera pioneerindo (cfc)) PTSP 1.62 1.02 1.45 1.87 PT prasidha aneka niaga PSDN 1.57 0.81 1.11 1.13 PT sekar laut SKLT 0.88 0.83 0.95 0.81 PT siantar top STTP 1.44 1.09 0.79 0.72 PT sinar mas agro resources technology (smart) SMAR 1.75 1.67 1.23 1.03 PT tiga pilar sejahtera food AISA 0.89 1.37 0.97 1.05 PT tunas baru lampung TBLA 1.31 1.19 1.18 0.96 PT ultra jaya milk ULTJ 1.51 1.86 1.16 1.67 Apparel and other textile products PT apac citra centertex MYTX 1.14 0.95 1.00 0.97 PT ever shine textile industry ESTI 1.10 0.83 0.71 0.68 PT indo acidatama (sarasa nugraha) SRSN 1.20 1.37 1.45 1.90 PT pan brothers tex PBRX 1.44 1.01 0.85 0.91 PT ricky putra globalindo RICY 0.64 0.64 0.57 0.74 PT sepatu bata BATA 1.70 1.79 1.61 0.97 Chemical and allied products PT akr corporindo AKRA 2.03 1.48 1.24 1.06 PT budi acid jaya BUDI 1.05 1.01 1.03 0.91 PT colorpak Indonesia CLPI 1.69 0.90 2.78 2.90 PT eterindo wahanatama ETWA 1.07 0.85 0.88 0.63 PT lautan luas LTLS 0.92 0.89 0.88 0.85 Plastics and glass products PT alam karya unggul (aneka kemasindo utama) AKKU 3.53 1.52 1.46 0.65 PT argha karya prima industry AKPI 0.97 0.83 0.72 0.70 PT asahimas flat glass AMFG 1.26 1.22 0.63 0.51 PT asiaplast industries APLI 0.67 0.72 0.75 0.78 PT berlina BRNA 0.61 0.59 0.64 0.55 PT camphion pacific Indonesia (kageo igar jaya) IGAR 1.59 0.79 0.61 0.44 PT langgeng makmur industry LMPI 0.71 0.79 0.66 0.43
  74. 74. PT sekawan inti pratama SIAP 0.73 0.63 0.64 0.84 PT siwani makmur SIMA 1.69 1.02 0.86 0.61 PT Trias Sentosasa TRST 0.89 0.76 0.73 0.68 PT. Yanaprima Hastapersada YPAS 2.37 2.61 2.31 1.10 Metal and Allied Products PT. Alumunindo Light Metal Industry ALMI 0.87 0.84 0.81 0.90 PT. Betonjaya Manunggal BTON 0.73 0.87 0.78 1.06 PT. Indal Alumunium Industry INAI 0.96 0.94 0.94 0.91 PT. Jaya Pari Steel JPRS 1.06 1.33 0.79 0.64 PT. Lion Mesh Prima LMSH 0.91 0.99 0.80 5.03 PT. Lion Metal Works LION 0.92 0.80 0.55 0.84 PT. Pelangi Indah Canindo PICO 0.86 0.88 0.93 1.18 PT. Tembaga Mulia Semanan TBMS 0.98 1.04 0.93 1.01 PT. Tira Austenite TIRA 1.00 1.03 1.10 1.06 stone, clay, glass and concrete products 98. PT. arwana citramulia ARNA 1.22 1.13 1.27 1.19 99. PT. intikeramik alamasri industry IKAI 0.68 0.65 1.53 1.97 PT. keramika Indonesia assosiasi KIAS 0.79 1.38 1.67 3.24 PT. mitra investindo (siwani trimtra) MITI 1.58 1.90 2.03 1.86 PT. surya toto Indonesia TOTO 0.62 0.60 0.52 1.03 cables PT. jembo cable company JECC 0.94 1.47 0.95 0.93 PT. kabelindo murni KBLM 0.82 0.90 0.73 0.80 PT. KMI Wire and Cable (GT Kabel Indonesia) KBLI 0.72 0.56 0.99 0.78 PT. supreme cable manufacturing & commerce (sucaco) SCCO 1.08 2.47 0.90 0.95 PT. voksel electric VOKS 1.12 0.60 0.98 0.94 Automotive and allied products PT. astra internasional ASII 0.70 0.68 0.61 0.55 PT. astra otoparts AUTO 2.20 0.65 0.46 0.43 PT. gajah tunggal GJTL 1.52 1.43 0.87 1.46 PT. indo kordsa (branta mulia ) BRAM 0.86 0.96 0.65 0.77 PT. indomobil sukses internasional IMAS 1.29 1.29 1.00 1.02 PT. indospring INDS 0.94 1.22 0.81 0.92 PT. intraco penta INTA 1.20 0.86 0.73 0.73 PT. multi prima sejahtera LPIN 0.55 0.73 0.50 0.70 PT. multristrada arah sarana MASA 1.27 1.13 0.92 0.82 PT. nipress NIPS 0.81 0.80 0.69 0.73 PT. polychem Indonesia (GT Petrochem industries) ADMG 0.94 0.71 0.85 0.81 PT. prima alloy steel PRAS 0.87 0.83 0.98 0.93 PT. selamat sempurna SMSM 2.13 1.91 1.57 1.42 PT. tunas ridean TURI 1.74 1.96 0.78 0.79
  75. 75. PT. united tractors UNTR 2.52 3.12 2.54 1.15 pharmaceuticals PT. darya-varia laboratoria DVLA 1.39 1.78 0.82 0.62 PT. indofarma INAF 0.91 0.91 0.94 0.85 PT. kalbe farma KLBF 1.05 1.12 0.67 0.38 PT. kimia farma KAEF 1.35 0.86 0.81 0.64 PT. merck MERK 5.23 5.14 4.31 2.22 PT. pyridam farma PYFA 1.10 0.91 0.86 0.57 PT. schering plough Indonesia SCPI 1.22 1.53 1.16 1.14 PT. tempo scan pacific TSPC 2.98 2.41 1.23 0.83
  76. 76. Lampiran 4 Kepemilikan Manajerial Data Nominal Kepemilikan Manajerial 2011 2010 2009 2008 Food and beverage: PT akasha wira international (ades water Indonesia) ADES 0 0 0 0 PT cahaya kalbar CEKA 0 0 0 0 PT delta Djakarta DLTA 0 0 0 0 PT fast food Indonesia FAST 0 0 0 0 PT Indofood sukses makmur INDF 1 1 1 0 PT mayora indah MYOR 0 0 0 0 PT multi bintang Indonesia MLBI 0 0 0 0 PT pioneerindo gourmet international (putra sejahtera pioneerindo (cfc)) PTSP 0 0 0 0 PT prasidha aneka niaga PSDN 1 1 1 0 PT sekar laut SKLT 1 1 1 0 PT siantar top STTP 1 1 1 0 PT sinar mas agro resources technology (smart) SMAR 0 0 0 0 PT tiga pilar sejahtera food AISA 0 0 0 0 PT tunas baru lampung TBLA 1 1 1 1 PT ultra jaya milk ULTJ 1 1 1 1 Apparel and other textile products PT apac citra centertex MYTX 0 0 0 0 PT ever shine textile industry ESTI 0 0 0 0 PT indo acidatama (sarasa nugraha) SRSN 0 0 0 0 PT pan brothers tex PBRX 0 0 0 0 PT ricky putra globalindo RICY 0 0 0 0 PT sepatu bata BATA 0 0 0 0 Chemical and allied products PT akr corporindo AKRA 1 1 1 1 PT budi acid jaya BUDI 0 0 0 0 PT colorpak Indonesia CLPI 0 0 0 0 PT eterindo wahanatama ETWA 0 0 0 0 PT lautan luas LTLS 1 1 1 1 Plastics and glass products PT alam karya unggul (aneka kemasindo utama) AKKU 0 0 0 0 PT argha karya prima industry AKPI 0 0 0 0 PT asahimas flat glass AMFG 0 0 0 0 PT asiaplast industries APLI 0 0 0 0 PT berlina BRNA 0 0 0 0
  77. 77. PT camphion pacific Indonesia (kageo igar jaya) IGAR 0 0 1 0 PT langgeng makmur industry LMPI 1 1 1 1 PT sekawan inti pratama SIAP 0 0 0 0 PT siwani makmur SIMA 0 0 0 0 PT Trias Sentosasa TRST 0 0 0 0 PT. Yanaprima Hastapersada YPAS 1 1 1 1 Metal and Allied Products PT. Alumunindo Light Metal Industry ALMI 1 1 1 1 PT. Betonjaya Manunggal BTON 1 1 1 1 PT. Indal Alumunium Industry INAI 0 0 0 0 PT. Jaya Pari Steel JPRS 1 1 1 0 PT. Lion Mesh Prima LMSH 1 1 1 1 PT. Lion Metal Works LION 1 1 1 0 PT. Pelangi Indah Canindo PICO 1 1 1 0 PT. Tembaga Mulia Semanan TBMS 0 0 0 0 PT. Tira Austenite TIRA 0 0 0 0 stone, clay, glass and concrete products PT. arwana citramulia ARNA 0 0 0 0 PT. intikeramik alamasri industry IKAI 1 1 1 1 PT. keramika Indonesia assosiasi KIAS 0 0 0 0 PT. mitra investindo (siwani trimtra) MITI 0 0 0 0 PT. surya toto Indonesia TOTO 0 0 0 0 cables PT. jembo cable company JECC 0 0 0 0 PT. kabelindo murni KBLM 1 0 0 0 PT. KMI Wire and Cable (GT Kabel Indonesia) KBLI 0 1 0 0 PT. supreme cable manufacturing & commerce (sucaco) SCCO 0 0 0 0 PT. voksel electric VOKS 0 1 1 0 Automotive and allied products PT. astra internasional ASII 0 0 0 0 PT. astra otoparts AUTO 1 1 1 0 PT. gajah tunggal GJTL 1 1 1 0 PT. indo kordsa (branta mulia ) BRAM 1 1 1 1 PT. indomobil sukses internasional IMAS 0 0 0 0 PT. indospring INDS 0 0 0 0 PT. intraco penta INTA 1 1 1 1 PT. multi prima sejahtera LPIN 0 0 0 0 PT. multristrada arah sarana MASA 0 0 0 0 PT. nipress NIPS 1 1 1 1 PT. polychem Indonesia (GT Petrochem industries) ADMG 0 0 0 0
  78. 78. PT. prima alloy steel PRAS 0 0 0 0 PT. selamat sempurna SMSM 1 1 1 0 PT. tunas ridean TURI 0 0 0 0 PT. united tractors UNTR 1 0 1 0 pharmaceuticals PT. darya-varia laboratoria DVLA 0 0 0 0 PT. indofarma INAF 0 0 1 0 PT. kalbe farma KLBF 0 0 0 0 PT. kimia farma KAEF 1 1 1 0 PT. merck MERK 0 0 0 0 PT. pyridam farma PYFA 0 0 0 0 PT. schering plough Indonesia SCPI 0 0 0 0 PT. tempo scan pacific TSPC 0 0 0 0

×