Pendidikan aqidah dalam perspektif

1,962 views

Published on

  • Be the first to comment

Pendidikan aqidah dalam perspektif

  1. 1. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN AQIDAHMENURUT Al-QUR‟AN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I ) Oleh JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL-AQIDAH AL-HASYIMIYYAH JAKARTA TH 2012 / 2013
  2. 2. MOTTO Artinya:” Dan bahwa ( yang Kami perintahkan ini ) adalah Jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan ja- ngan kamu mengikuti jalan - jalan ( yang lain ), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya yang diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa. ( Ali Imron: 153 ).*___________________________*Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, ( Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur‟an, 1982 ) ha.215. Iv
  3. 3. PERSEMBAHANSkripsi ini saya persembahkan kepada;1. Kedua orang tuaku yang senantiasa memberikan do‟a restu serta dukungan baik secara moral dan material terhadap keberhasilan penulisan skripsi ini.2. Teman-teman seperjuangan yang senantiasa mendo- rong terselesainya penulisan skripsi ini. v KATA PENGANTAR
  4. 4. Segala puji penulis panjatkan kehadirat Allah SWT Yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Sholawat salam semoga senantiasa tetap terlimpahkan ke pangkuan beliau Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, dan sahabat- sahabatnya. Dengan kerendahan hati bahwa penulis merasa bahwa skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya dukungan dan bantuan dari semua phak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis mengucapkan terima kasih sebanyak- banyaknya kepada semua pihak yang telah membantu. Ucapan terima kasih secara khusus penulis sampaikan kepada: 1.Bapak DR.Sahrul A‟dam MA selaku rektor STIA Al-Aqidah Jakarta 2.Bapak dekan Fakultas Tarbiyah STIA Al-Aqidah Jakarta. 3.Para dosen Fakultas Tarbiyah STIA Al- A-QidahJakarta. 4.Bpk pembimbing yang telah berkenan memberikan bimbingan kepada penu- lis dalam penulisan skripsi ini. Kepada semuaanya,penulis mengucapkan banyak terima kasih disertaido‟a mudah-mudahan amal baiknya diterima oleh Alla Penyusun mengakui banyak kekurangan skripsi ini,maka kritik dan saran dari pembaca selalu saya harapkan. Akhirnya semoga skripsi ini bermanfaat, amiin. Jakarta, Februari 2013 Penulis Vii 1
  5. 5. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Al-qr‟an disamping sebagai sumber hukum Islam yang harus ditaati dan diamalkan juga sebagai sumber inspirasi sastra dan akhlak. Setiap mus- lim diperintahkan untuk berpegang teguh kepada prinsip-prinsip Al-qur‟an, dengan demikian mereka akan memperoleh kebahagiaan dan petunjuk yang akan menghantarkan mereka di dalam memperoleh keberuntungan di hadap an Allah kelak nanti ( di akhirat ). Memahami isi kandungan Al-qur‟an , tentunya diharapkan dapat menggugah hati untuk mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya.1 Kita selaku manusia beriman, meyakini akan kebenaran al-Qur‟an sebagai petunjuk dan pedoman hidup , namun masih banyak diantara kita yang be - lum memahami isi kandugannya, sehingga kita lihat pengalaman al- Qur.an dalam kehidupan sehari-hari belum nampak. Al-qur‟an sebagai landasan pendidikan Islam menurut DR.Zakiyah Darajat mengatakan: “Di Dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan Untuk keperluan seluruh aspek kehdupan melalui ijtihad.Ajaran yg terkandung dalam al-quran itu sendiri dari prinsip besar, yaituyang berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut dengan aqi - dah dan berhubungan dengan amal yang disebut syariah.”2 ___________________________________ 1 M. Quraisy Shihab , Membumikan al-qur‟an, ( Bandung: Mizan,1992), hal, 33. 2 Zakiah Darajat ,dkk, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi aksara,1992),Cet Dua,hal,19 2
  6. 6. Dari sekian anyak makhluk- makhluk Allah , manusialah yang merupakan makhluk paling sempurna,dalam bentuk kejadian yang sebaik-baiknya,sehing- ga kita dapat melihat di dalam al-Qur‟an bagaimana manusia dapat mencapai pedikat makhluk terbaik sangat dimuliakan Allah .3 Namun dibalik kemuliaan manusia, ia mempunyai nafsu yang dapat mengembalikannya ke tempat yang hina serta rendah. Itulah hawa nafsu,deng- an nafsu manusia menjadi lupa akan nilai-nilai kebenaran, mengabaikan apa – apa yang menjadi titah Rabb, merosotnya kadar aqidah keimanan, serta masih banyak lagi sifat-sifat negatif lainnya. Oleh karena itu sebagai makhluk yang telah dikaruniai akal, hendaknya Senantiasa berpegang teguh pada aturan dan agama Allah yakni aqidah , ka - rena aqidah itu berpegang teguh pada pada konsep-konsep shuwar baik yang berlandaskan ilmu maupun asumsi (zhanni ) yang terkait dalam kalbu ten- tang keberadaan ( wujud ) hal-hal yang kasat mata. Di sinilah agama merupa- kan keyakinan yang seharusnya, ajaran-ajarannya dipelajari secara kritis, se- hingga dengan demikian agama yang telah kita anut ini benar-benar dapat di- pertanggung jawabkan kebenarannya pada saat kita menghadapi Allah kelak nanti di hari kiamat.4 ____________________3 Imas Rosyanti, Esensi Al-qur’an , ( Bandung: Pustaka setia,2002),hal,19 4Lukman Hakim, Raudhah Taman Jiwa Kaum sufi, ( Surabaya: Risalah Gusti,2005 ),hal,127 3
  7. 7. Dengan berpeang teguh kepada allah yakni aqidah,diharapkan kitasenantiasa bersih lahir batin dan perbuatan kita sesuai dengan fitrah ala- miah. Berangkat dari sinilah penulis ingin mengkaji lebih jauh tentang ajaran da didikan terhadap aqidah manusia yang digali melalui al-Qur‟- an al karim. B. Penegasan Istilah Untuk menghindari kesalahan persepsi dalam menangkap arti dan Pengertian judul di atas, perlu disajikan batasan pengertiannnya. Adapun yang dimaksud adalah: 1. Implementasi Implementasi dari bahasa Inggris implement yang berarti per- kakas,5 kemudian diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi imple- mentasi yang artinya pelaksanaan ,penerapan, mengimplementasikan artinya melaksanakan.6 2. Pendidikan aqidah Pendidikan aqidah merupakan dua kata yang apabila dipisahmenjadi “ pendidikan “ dan “ aqidah”. Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk meng- embankan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar seko - lah dan berlangsung selama hidup, serta mempersiapkan peserta di- dik agar dapat mempermainkan peranan dalam berbagai lingkungan secara tepat dimasa yang akan datang.7 _______________________ 5 S.Wojowasito, Kamus Lengkap Inggris Indonesia,Hasta Bandung,,hal,81 6 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka ,Ja- Karta,hal,327. 7.Rejo Mudyarjo,Pengantar Pendidikan,( Jakarta; Raja wali Press,2002),hal,11 4
  8. 8. Sedangkan kata aqidah berasal dari bahasa arab yaitu bentuk mufrad dari aqa‟id, 8 yang berarti simpulan atau yang dipercayai hati.9 Jadi pendidikan aqidah ialah suatu aktifitas untuk merobah dan membentuk individu menjadi kepribadian, yaitu berkepribadian keima- nan terhadap ke Esaan Allah SWT. 3. Pengertian menurut Kata menurut dari akar kata turut, menurut artinya mengikuti, meniru , ( jalan, jejak ,garis yang telah ditentukan ). 4. Pengertian Al-Qur,an Al-qur‟an adalah wahyu Allahi yang telah diturunkan kepada Muhammad SAW, yang telah disampaikan kepada kita umatnya deng - An jalan mutawatir, yang dihukum kafir orang yang mengingkarinya.10 C. Rumusan masalah Bertolak dari uraian dan batasan serta definisi operasional yang tel- lah ditulis di atas maka ada beberapa permasalahan yang harus dijawab dan dibahas melalui penelitian ini. Adapun permasalahan yang dimaksud adalah: 1. Bagaimana ketegasan Islam tentang pendidikan aqidah. 2. Sejauh mana pelaksanaan pendidikan menurut al-qur‟an. D. Tujuan Penulisan Di dalam penelitian ini, penuls mempunyai tujuan : 1. Untuk mengetahui ketegasan Islam tentang pendidikan aqidah. _________________________8 Muhammad Idris, Abdu al Rauf al Marbawy, ( Bandng;alMaarif(,II,hal,36. 9 Mahmud Yunus,Kamus arab Indnesia,(Jakarta:Yayasan Penyelenggara Penerjamah Penafsir al-Qur‟an 1973,),hal, 275. 10 Hasbi ash-Shiddiqy,Sejarah dan Pengantar Ilmu al-qur‟an/Tafsir,(Jakarta:Bulan Bin-tang,1980 ), hal,17 5
  9. 9. 2. Untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan aqidh menurut Al-qur‟an Sedang manfaat yang hendak diperoleh penulis adalah : - Dapat diperoleh pemahaman aqidah yang benar sesuai yang dike- mukakan al-Qur‟an. - Dapat melakukan dan melaksanakan aqidah yang benar yang se - suai dengan isi kandungan Al-qur‟an.E. Metode Penulisan 1. Metode Pengumpulan Data Metode yang penulis gunakan dalam pengumpulan data adalah metode kuantitatif atau library researach, yaiu “ suatu riset kepustaka- kaan “.9 Metode ini dipergunakan untuk memperoleh informasi dalam penyusunan teori sebagai landasan ilmiah dalam penelitian skripsi ini. Dan yang lebih khusus lagi metode riset kepustakaan ini dimaksudkan menyajikan dengan cara membaca, menelaah dan memahami ayat-ayat serta hadits-hadits yang relevan dengan permasalahan yang sedang di - teliti . 2. Metode Pembahasan Pendekatan dalam rangka mencari jawaban dari permasalahan- permasalahan yang telah dirumuskan penulis menggunakan metode penafsiran tematik, dimana metode ini terbagi atas dua macam,yaitu: a. Penafsiran sau surat dalam Al-Qur‟an dengan menelaskan tujuan - tujuannya secara umum dan khusus atau ema sentral surah terse- but. Kemudian menghubungkan ayat-ayat yang beraneka ragam utau satu dengan lain tema sentral tersebut. _____________________ 9 sutrisno Hadi , Metodologi Research, ( Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.1987 ), Jilid I,hal,9 6
  10. 10. b. Menghimpun ayat-ayat al-qur‟an yang membahas masalah tertentu dari berbagai surah al-Qur‟an ( sedapat mungkin diurutkan sesuai dengan masa turunnya apalagi jika yang dibahas adalah masalah hukum ) sambil memperhatikan sebab nuzul, munasabah masing- masing ayat, kemudian menjelaskan pengertian ayat-ayat tersebut yang mempunyai kaitan dengan tema atau pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh penafsiran dalam satu kesatuan pembahasan sampai ditemukan jawaban-jawaban al-Qur‟an menyangkut tema ( persoalan ) yang dibahas. 10 3. Analisis Data Data yang telah diperoleh dari pembahasan di atas kemudian dianalisis dengan cara melakukan generalisasi, yaitu “ kasus-kasus” manusia yang kongkrit dan individual dalam jumlah terbatas diana- lisis dan pemahaman yang ditemukan di dalamnya dirumuskan da- lam ucapan umum”, 11 atau dalam istilah yang lebih umum dikenal dengan induksi dan deduksi . dengan demikian maka akan diperoleh rumusan tentang pendidikan aqidah, sebagai serapan nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur‟an. F. Sistematika Penulisan Untuk memudahkan pembahasan dan pemahaman serta analisa permasalahan yang hendak dikaji, maka akan disusun sistematika seba- gai berikut: 1. Bagian awal Pada bagian awal dibahas tentang Halaman Judul, Nota Pembim - bing, Motto, Kata Pengantar, serta Daftar Isi. ____________________________10 M. Queaisy Shihab, Membumikan Al-Qur’an ( Bandung,Mizan,1992),hal,156 7
  11. 11. 2. Bagian isiBAB I : Pendahuluan, meliputi, latar belakang, penegasan istilah, rumu-san masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, serta sistema- tika penulisan.BAB II : Pendidikan Aqidah meliputi pengertian aqidah dan tujuan aqi - dah konsep para rasul dalam beraqidah.BAB III : Pendidikan Aqidah dalam al-Qur‟an dan problematika aqidah meliputi tentang ayat-ayat al-qur‟anmengenai aqidah sifat - sifat aqidah yang benar, hal-hal yang merusak aqidah,meles - tarkan aqidah dari noda syirik.BAB IV : Analisis Pelaksanaan Pendidikan Aqidah menurut Al-Qur‟an yang meliputi tentang Pendidikan Aqidah Pada Remaja, Ke- tegasan Islam Tentang Pendidikan Aqidah, Pembebanan Ke- wajiban Agama, Cara Menetapkan Aqidah serta Implemen - tasi Pendidikan Aqidah Menurut Al-Qur‟an. BAB V : Kata Penutup. 9
  12. 12. BAB II AL-AQIDAHII.I Pengertian Aqidah II.I.I Tinjauan Etimologi Aqidah menurut bahasa ( etimologi ) artinya “ yang dipercaya hati,1 atau “ simpulan iman”,2 Kata Aqidah ber- asal dari bahasa arab dan merupakan bentuk mufrad ( tu- nggal, singular ) dari kata aqaid.Adapun kata-kata yang ada kaitannya dengan aqidah ini diantaranya adalah kata mu‟taqid yang artnya orang yang beri‟tiqad ( yang mem- percayai ) atau i‟tiqad yang artinya epercayaan hati. Jadi ditinjau dari sudut bahasa atau etimologi, aqi- dah berarti sesuatu yang menjadi kepercayaan hati. II.I.2 Tinjauan Terminlogi Sedangkan menurut istilah atau yang lebih dikenal dengan terminologi , para ahli ( pendidikan ) memberi- kan difinisi yang sangat hati-hati mengenai aqidah ini. Misalnya Zakiah Darajat beliau menyoroti aqidah seba- gai keimanan. Menurutnya´Aqidah ialah ajaran tentang keimanan terhadap ke-Esaan Allah SWT. Pengertian iman secara luas diartikan keyakinan yang penuh dibenarkan oleh hati diucapkan oleh lidah dan diwujudkan oleh amal perbuatan ._______________________1 Mahmud Yunus, Kamus arab Indonesia. ( Jakata: Yayasan Penyelenggara Penerjamah Penafsir Al-qur‟an 1973,hal,2752 Muhammad Idris. Abdul Rauf al Marbawy.Kamus Idris al Marbawi,( Bandung: al Ma- if , Juz II, hal,36 10
  13. 13. Adapun pengertian iman secara khusus ialah sebagai- mana terdapat dalam eukun iman . 3 sedangkan menurut Sayid Sabiq mengungkapkan bah- wa Aqidah adalah sesuat yang tersusun dari enam perkara diantaranya iman kepada Allah, maaikat, nabi, kitab, hari akhir, qodhoo dan qodar. 4 Dari pengertian-pengertian sebagaimana yang telah di kemukakan oleh para ahli diatas, Aqidah adalah sesuatu yang pertama an utama untuk diiman oleh manusia tanpa sedikitpun keraguan. II,2 Dasar dan Tujuab AqidahII.2.1 Pandangan Al Qur‟an Al- qur‟an sebagai kalam yang Allah telah memberikan petunjuk kepada manusia kepada ma – nusia bahwa dalam rangka menumbuhkan serta me- nanamkan keimanan kepad keesaan Allah maka ma- nusia itu hendaklah secara seksama mau memperha- tikan serta mencermati alam jagat raya ini . Langit yang begitu tinggi tanpa tiang siapakah yang telah menciptakan, juga adanya pergantian siang dan ma- lam siapakah yang telah mengaturnya. Allah telahmenganugerahkan akal kepada manusia, akal inilahyang membedakan manusia dengan mahluk-mahluk lain dengan akal ini manjsia dikatakan sebagai mah- luk yang paling mulia melebihi mahluk Allah yang _____________________________________3 Zakiah Darajat, Dasar-dasar Agama Islam, ( Jakarta:Bulan Bintang:19484), hal,23 4 Sayid Sabiq, Aqidah Islam, Pola Hidup Manusia Beriman, ( Bandung: Dipnegoro,1986), hal,1711
  14. 14. lain , hanya manusia yang berakallah yang mau seca- ra seksama merenungkan rahasia dibalik semua iu. Allah berfirman dalam al-Qur‟an : Artinya: “ sesungguhnya -dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan ma- lam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, ( yaitu ) orang - orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi ( seraya berkata ): “ Ya Tuhan kami tidaklah engkau menciptakan ini dengan sia-sia,maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.5( QS.Ali Imran: 190-191 ). ________________________5 Sunarjo, Al-Qur‟an dan Terjemahannya ( semarang : Toha Putra.1989),hal, 109-110 ). 12 Disamping itu sebagaimana manusia berakal hen- daklah senantiasa dzikir kepada Allah untuk mende-
  15. 15. katkan diri kepada-Nya dan agar selalu dalam bimbi - ngan dan petunjuknya. Dzikir kepada Allah dapat dila- kukan dalam keadaan yang bagaimanapun baik dalam keadaan berdiri,duduk maupun berbaring.Manusiaberakal juga senantiasa memohon perlindungan kepa- da Allah dari pedihnya adzab neraka. Demikian yang dapat ditangkap dari kandungan ayat tersebut. Di dalam ayat yang lain Allah menjelaskan bah- wa diantara hamba-hamba-Nya hanya taqwa kepada Allah-lah yang membedakan mana diantara mereka Yang paling mulia disisi Allah.Firman Allah: Artinya:”Wahai manusia sesungguhnyaSesungguhnya orang yang paling mulia di- Antara kamu disisi Allah ialah orang yang Paling bertaqwa diantara kamu” ( QS. Al- hujurat: 13 ). 6 Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa ber- aneka ragamnya bentuk rupa,warna kulit 27 segala tindak tanduknya bertentangan dengan isi kandungan al-Qur‟an seperti perutnya sendiri kenyang, sementara tetangga disekitarnya ke - laparan demikian seterusnya.
  16. 16. d.Budaya Mistik Menggoncang Kemurnian Aqidah Sejak masa pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan , buda- ya mistik rasanya sudah kental dan menyatu dengan bangsa Indonesia. Hal tersebut tidak hanya terlihat pada acara-acara spiritual saja, akan tetapi sudah merasuk kedalam beberapa lapangan kehidupan yang lain. Fenomena yang hingga saat ini terlihat dan tidak dapat dipungkiri adalah adanya para usahawan yang bergerak dalam bidang bisnis me - makai penyelesaian dengan cara mistik dengan menjalankan roda usa- hanya, seperti mendatangkan dukun agar memperoleh pesugihan. Ini sungguh sangat kontras jika diteliti, karena diantara mereka sudah ada mesin-mesin produksi atau peralatan administrasi berdimensi teknlogi canggih. Tidak ketinggalan pula sebagaian birokrat dalam memperta - hankan kekuasaan atau dalam rangka memiliki titian karir politik,juga menggunakan mistik sebagai upaya batiniah,seperti mendatangi kubu- ran untuk dimintai pertolongan bukan meminta kepada Allah tetapi meminta kepada orang mati. Budaya mistik semacam itu berkembang dengan pesatnya di negeri ini, kuburan-kuburan yang dianggap kera- mat semakin ramai, bahkan ada yang menggapai-gapai daun-daun pintu bagian atas di jalan menuju makam, dengan maksud agar terga- pai cita-citanya, masya Allah ini sudah keterlaluan, kalau dibiarkan kemusyrikan akan semakin merajalela. 28 Di era seperti ini yang masih dapat dicermati adalah berkem- bangnya bahkan sangat menjalankannya interaksi dengan bangsa jin,
  17. 17. hampir dimana mana.Dalam lembaran sejarah manusia budaya semacam itu tampaknya juga ikut andil hingga sampai sekarang, meskipun zaman sudah modern. Hal ini merupakan fitrah alamiah bila manusia dan jin itu adalah mempunyai kesamaan yaitu sebagai mahluk sosial. Kalau pada manusiaada hamba yang diebut mukmin dan ada pula yang kafir.Kesamaan yang lain adalah antara jin dan manusia sama-sama mengemban tugas untuk mengabdi kepada Allah. Bagi orang mukmin, sebenarnya iman terhadap eksistensi Jin seba- gai makhluk Allah merupakan otomatisasi keimanan kepada Allah. Bukan berarti manusia harus menempatkan jin sebagai pelindung atau penolong melebihi hak Allah, tidak sedikit kesalahan yang telah diper- buat manusia dalam menyikapi jin, seperti mempercayakan bantuan dan perlindungan kepada jin bukan kepada Allah dalam menghadapi situasi gawat atau kesulitan yang telah sampai pada titik klimaks. Allah berfirman: Artinya : “ Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara ma- nusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di - antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan “. 20 ( QS.al-Jin: 6 ). Dari ayat diatas dapatlah dipahami bahwa meminta bantuan ke - pada jin itu akan semakin membawa manusia kepada lembah dosa dan kesalahan. Dengan demikian tiada guna menyatakan jin dalam setiap __________________ 20 Ibid, hal, 981 29 usaha.
  18. 18. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi akibat melakukan inte - raksi dengan bangsa jin yaitu manusia terperosok kedalam lembah bid‟- ah. Kemungkinan terjatuhnya manusia kedalam lembah syirik adalah manakala permintaan manusia berupa perlindungan itu dikabulkan oleh jin yang mempunyai kekuatan serta kemampuan menakjubkan bagi ma- nusia, sehingga manusa menjadi terkagum-kagum karenanya dan ber - gantung kepada jin dengan melupakan Allah yang sebenarnya pemilik kekuatan tersebut. Maka menjadi syiriklah manusia tersebut, sedangkan kemungkinan jatuhnya manusia kedalam lembah bid‟ah adalah bila manusia menuruti permintaan jin agar dalam interaksi itu manusia me- lakukan praktek-praktek peribadatan menurut fersi bangsa jin. Ini me- rupakan perangkap dan bermuara akhir kepada neraka. Budaya mistik seperti diterangkan diatas tidak diragukan lagi akan bisa mengguncang Aqidah yang pada gilirannya nanti akan me- rontokkan seluruh sendi amaliah Islam. 30BAB III
  19. 19. KONSEP AL-QUR‟AN DAN PROBLEMATIKA AQIDAH A. Ayat-ayat al-qur‟an Mengenai Aqidah Al-qur‟an menyebut Allah sampai 2799 kali mulai dengan mene- rangkan dengan ke-Esaan Tuhan dan mengakhiri dengan ke esaan Tu - han pula. 1 Allah berfirman : Artinya:” Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata:” wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain- Nya.” Sesungguhnya ( kalau kamu tidak menyembah Allah ), aku takut kamu akan ditim- pa azab hari besar ( kiamat ).” 2 ( QS.Al-A‟raf: 59 ) Ayat- ayat yang bunyinya demikian terdapat pula di ayat 65,73, 85 surat al-A‟raf. Ayat-ayat yang berbunyi sama terdapat dalam surat hud ayat: 26,50, dan 64. Artinya: “ Agar kamu tidak menyembah selain Allah “. 3 ( QS: Hud : 26 ). Artinya : “ Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagi- mu Tuhan selain Dia “. 4 Masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur‟an yang mengandung ten- tang keesaan Tuhan, bahwa ajaran tentang keesaan Tuhan telah dibe- 31 rikan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. dapat dibuk-tikan dengan ayat 25 surat al-anbiya‟ : Artinya : “ Dan tidak kami utus Rasul sebelum kamu, melainkan ka-
  20. 20. Mi wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain aku, karena itu sembahlah Aku “. ( QS: Al-Ambiya:25)5 Karena Allah tidak nampak oleh manusia, maka untuk sekedar men- dapat pengertian diberikan sifat-sifat Allah SWT sekalipun pengerti- an itu jauh dari pada sempurna, karena “ tidak ada sesuatu apapun yang sempurna selain dia “. ( QS. As- Sura : 11 ) Diantara sifat-sifat Allah yang banyak disebut dalam al-Qur‟an adalah rab, rahman, ghafur, malik, sampai nratusan kali, serta sifat- sifat yang lain disebut asma‟ul husna. Keberadaan Allah bersama kemaha-Esaan-Nya bersendirinyaDalam penciptaan pengelolaan dan kebebasan bertindaknya daripersekutuan di dalam keagungan dan kekuatan, dan dari persamaan didalam zat dan sifat-sifat- Nya. 6Maka tidak ada Tuhan yang maha pencipta selain Dia, tidak ada pengelola selain Dia, tidak ada sesua- tupun bersekutu dengan-Nya di dalam kekuasaan dan keagungan- Nya dan tidak ada tunduk dan tertuju hati manusia kepada sesuatu Selain Dia. __________________________________ 5 Ibid, hal,498 6 Mahmud Syalthuth, Islam Aqidah dan Syari‟ah, ( Jakarta: Pustaka Amani, 1996 ),hal 15 32 Artinya:” Katakanlah hai ( Muhammad ) Dialah Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sega- la sesuatu dan tiada puladiperankan, dan tidak ada seo-
  21. 21. rangpun yang setara dengan Dia “. (QS:Al Ikhlash:1-4)7 Artinya : “ Katakanlah, apakah akan aku jadikan pelindungselain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan. Katakanlah se - sungguhnya aku diperintahkan supaya aku menjadi orang yang pertama sekali menyerah diri ( kepada Allah ),dan jangansekali-kali kamu masuk golonganorang-orang musyrik. “ ( QS : Al-An‟am : 14 ) 8 Di dalam ayat-ayat tersebut di atas adalah diantara ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah adalah Mahayang diimani oleh B. Sifat-sifat Beraqidah yang Benar “Aqidah adalah ajaran tentang keimanan terhadap keesaan Allah SWT ( aqidah jamaknya aqaid ). Pengertian iman secara luas ialah keyakinan penuh yang dibenarkan oleh hati, diucapkan oleh lidah dan diwujudkan oleh amal perbuatan “. 9 Kompetisi iman seseorang yang sempurna diantaranya mewu- Judkan sifat-sifat : 1. Segala perilaku merasa disaksikan oleh Penciptanya. Firman Allah: _____________________________________________________________ 7 soenarjo, dkk, op cit, hal,1118 8 Ibid, ha, 188 9 Zakiah Darajat, Dasar-dasar Agama Islam, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hal,140 33 Artinya: “ Yaitu orang-orang yang khusu‟ dalam sembahyang , dan orang-orang yang menjauhkan diri ( perkataan dan per - buatan yang tidak berguna ) dan orang-orang yang me - nunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemalu-
  22. 22. annya, kecuali terhadap istri-istrin mereka atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam dalam ini tidak tercela.Barang siapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui ba- tas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat ( yang dipikulnya ) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyang “. ( QS: Al-Mukminun:2-9 ) 10 2. Memelihara shalat dan amanat serta memenuhi janji. ( QS.Al-Mu‟mi- nun : 2-9 ). 3. Berusaha menghindari maksiat, ( QS : Al-Mu‟minun: 2-9 ) 4. Atau secara umum mentaati segala perintah dan menjauhi apa yang di- larang Allah SWT , Allah berfirman : Artinya : “ Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya Allah maha menge- tahui lagi maha mengenal “. ( QS. Al-Hujurat : 13 ) 11 5. Apabila memperoleh kebahagiaan dia bersyukur. Allah berfirman : Artinya : “ Mengapa Allah menyiksamu , jika kamu bersyukur dan beriman ?dan Allah adalah maha mensyukuri lagi menge-tahui “ . ( QS. An- Nisa‟ : 147 ) 12 ____________________________________________ 10 Soenarjo, dkk, op cit, hal 526-527. 11 Ibid, hal 147 34 6. Apabila mendapatkan musibah ( penderitaan ) ia bersabar, sebagai - mana firman Allah SWT : Artinya : “ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, de- ngan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, ji -
  23. 23. wa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira ke- pada orang-orang yang sabar ( yaitu ) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : “ Inna lillahi wainna ilahi raaji‟un “. ( QS: Al-Baqarah: 155)13 7. Iman yang benar harus direalisasikan dengan amal shalih. Allah berfirman: Artinya : “ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar bera- da dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran “. ( QS. Al- Ashr : 1-3 ) 14 C. Hal-hal yang Merusak Aqidah Aqidah yang merupakan I‟tikaf dalam hati manusia. Namun ma- nusia tidak akan terlepas dari godaan-godaan yang bisa masuk aqidah seseorang, diantara yang bisa merusak aqidah seseorang adalah hawa nafsu, mkikir dan ujub. Manusia tidak terlepas dari padanya dan juga dari seluruh apa yang kami tuturkan dari keadaan hati yang tercela seperti sombong, ujub ( ka- gum terhadap dirinya sendiri ) dan lain-lainnya yang mengikuti tiga hal ___________________________13 Ibid, hal, 39 14 Ibid, hal, 1114 35 ini . Menghilangkannya adalah ferdhu „ain dan tidak mungkin meng- hilangkannya kecuali dengan mengetahui batas-batas, sebab-sebab - nya, tanda-tandanya dan pengobatannya. 15 Allah berfirman : Arinya : “ Dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang mis kin “. ( QS. Al- Maa‟un : 3 ) 16
  24. 24. Artinya:” Negeri akherat itu, kami jadikan untuk orang-orang yang ti- dak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan ( yang baik ) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa “. ( QS: al-Qashash : 83 ) 17 Artinya : “ Katakanlah ( hai Muhammad ) sesungguhnya aku adalah manusia sebagaimana kamu, aku diberi wahyu; sesungguh- nya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hen - daklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersatukan seorangpun dalam beribadat pada Tuhan - nya “. ( QS: Al Kahfi: 110 ) 18D. Melestarikan Aqidah Dari Noda Syirik Arti aqidah sebagaimana dimaklumi adalah mempercayai ke-Esaan Allah. Dengan ucapan lain dapat dikatakan aqidah itu adalah tidak akan beribadah kepada apa dan siapapun selain kepada Allah semata, dan itu- lah hakekat makna “Laailaaha illallah “. Dalam memahami kalimat aqidah tersebut tidak sedikit orang yang khilaf , karena menduga bahwa kalimat tersebut hanya menafikan adanya Tuhan seain Allah itu sendiri. ____________________________ 15 Imam Ghozali, Ihya Ulumuddin ( Terjemahan ) ( Semarang : CV. As Syifa, 1990, Jilid I, hal 51 16 soenarjo, dkk, op cit, hal, 1108 17 Ibid , hal , 624 18 Ibid, hal, 460 36 Sehingga dengan demikian seseorang sudah merasa beraqidah bila su- dah meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah walaupun dalam kenyataannya ia masih mengerjakan peribadatan kepada sesuatu selain Allah. Misalnya menggunakan benda ( keris,batu berhala, tempat yang dianggap keramat dll ) maupun terhadap makhluk lai seperti jin, syaitan, dan sebagainya. Dalam memahami pengertian ibadahpun tidak sedikit orang yang khi- laf. Kebanyakan mereka mengartikan ibadah hanya menyembah, sujud, me -
  25. 25. ngadakan pemujaan terhadap makhluk atau benda yang digunakannya se-hingga akibatnya banyak terjadi berbagai penyimpangan serta kesehatan jus-tru mengotori atau menodai aqidah itu sendiri. Inilah yang disebut syirik. Yang termasuk bentuk-bentuk ibadah sebagaimana diketahui adalahberdo‟a, berkorban, tawakkal, nusuk, yang semuanya itu hanya untuk Allahsemata, sebagaimana firman Allah :Artinya : “ Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan ma- tiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam; Tiada sekutu ba- ginya, dan demikian itulah yang diperintahkan menyerahkan diri ( kepada Allah ) “ ( QS: Al- An‟am : 162-163) 19 Oleh karena itu agar aqidah kita tetap lestari maka haruslah dibersih-kan dari segala macam noda syirik, artinya aalah sekutu, sedangkan sekutudalam konteks ini adalah menyekutukan allah dengan ungkapan lain dikata-kan bahwa syirik adalah lawan dari aqidah. Secara ringkas dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa langkahpertama yang perlu ditempuh dalam rangka membersihkan aqidah dari no-___________________19 ibid, hal, 216 37da syirik kembali ke petunjuk-petunjuk Allah yang telah diatur dalam al-qur‟an dan sunnah nrasul. Disamping itu umat Islam perlu waspada danselektif bahwa ditengah-tengah masyarakat kita telah hidup berbagai aga-ma dn aliran. Jika umat Islam tidak memahami besar tentang ajaran-ajaranIslam, maka tidak sulit akan terjadi pembaharuan, baik yang menyangkutaqidah maupun yang menyangkut peribadatan pada umumnya. Oleh kare-
  26. 26. na itu sangat dibutuhkan peranan para alim ulama, juru da‟wah, para guru agama Islam maupun pemuka Islam lainnya untuk melestarikan ajaran aqidah tersebut di sampng dibutuhkan kepekaan dalam menanggulanginya.E. Kalimat “ Laailaaha illahllah “ dan implikasinya. E.I. Falsafah aqidah Aqidah adalah ( aqdah Islam ) merupakan kebulatan nilai yang telah menjadi suatu ikatan yang kokoh dari nilai-nilai iman yang jum- lahnya mencapai lebih dari 70, yang paling sederhana dari nilai-nilai iman itu adalah membuang duri dari tengah jalan, dan esensial adalah kalimat “ Laailaaha illallah “ seperti dikatakan oleh Al-Imam Zainud- din bin Ali bin Asy-yafi‟i Al Kusairi al Malibary dalam kitabnya Qo- mi‟ Tughyan „ala mandhumati suabil iman sebagai berikut : Artinya:” Sesungguhnya cabang iman itu ada 77 cabang “.20 Begitu pentingnya falsafah aqidah yang barangkali dari kalimat “ Laailaaha illallah “ tersebut sehingga dari Rasulullah saw. dalam ha- __________________________ 20 Zainuddin al Malibary , At Tughyan. ( Semarang: Pustaka al Alawiyah. 1408 H.), hal, 3 38 disnya yang ditawarkan oleh Abu Dawud r.a. bahwa Rasulullah saw. menerangkan tiga pilar mengenai dasar-dasar iman atau diantaranya adalah menahan diri ( dari pembunuhan ) terhadap orang yang mengu- capkan kalimat “ laailaaha illahllah “.F. Implikasi Kalimat “ Laailaaha illallah “
  27. 27. Apabila kalimat “ Lailaaha illallah “ dianalisa sesuai dengan arti kata “ illaha “ ( pelindung, yang menguasai aturan hukum alam , penguasa tung- gal, yang diagungkan, yang ditaati ), 21 maka implikasi selanjutnya akanmenimbulkan statemen ( pernyataan ) antara lain sebagai beriut: 1. Tiada pelindung selain Allah ( Lwaliyya llallah ) Allah berfirman : Artinya : “ Dan Allah adalah pelindung semua orag mukmin “ . 22 ( QS: Ali Imran: 68 ). 2. Tiada yang adil kecuali Allah ( Laahaakima illallah ) Artinya: “ Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hu- kum ) siapakah yang lebih baik daripada ( hukum ) Allah ba- gi orang-orang yang yakin ? “ ( QS: Al-Maidah:50 ) 23 _________________________ 21 Majalah Al-Muslimun Nomor: 266, 22 Soenarjo,dkk, op,cit, hal,86 23 Ibid, hal,68 39 3. Tiada penguasa tunggal selain Allah Artinya : “ Dan Dia yang berkuasa di atas hamba-hamba- Nya dan Dialah yang Maha bijaksana lagi maha mengetahui “. ( QS. Al An‟am : 18 ) 24 Aqidah ( tauhid ) merupakan satu-satunya pandangan hidup yang be-nar dan senantiasa menolak semua bentuk yang bertentangan dengannya
  28. 28. yaitu syirik. Contoh syirik sebagaimana dimaklumi adalah penuhanan terhadap nafsu, pemimpn negara semisal Fir‟aun , pemujaan terhadap benda-benda mani sperti planet, bintang, batu, sungai, matahari, dan lain-lain, maupun penuhanan terhadap manusia seperti Yesus, „Uzair, Rahip ( pendita ) dan mengagingkan harta serta wanita. Demikian itulah implikasi yang dapat di pahami dari kalimat “ La- ailaha illallah “ maka kalimat aqidah tersebut apabila benar-benar sesuai dengan implikasinya disertai hati yang tulus dan ikhlas dari orang mukmin, maka ia berhak masuk surga. Wallahu a‟lam. 40 BAB IV ANALISIS PELAKSANAAN PENDIDIKAN AQIDAH MENURUT AL-QUR‟AN A. Pendidikan Aqidah Pada Anak RemajaPendidikan aqidah sangat penting pada anak remaja, sehingga be-
  29. 29. kal menuju kehidupan, agar remaja Islam siap menjadi generasi pene - rus yang bisa meneladani segala kebaikan serta mampu mempertahan- dan mengembangkan semua keberhasilan genrasi terdahulu. Kecuali itu dengan pendidikan aqidah bagi remaja dapat menjadi pedoman da- lam interaksi kehidupannya. Sedangkan alasan yang menyadari tentang pentingnya pendidi- kan aqidah pada anak remaja adalah sebagaimana telah diketahui bah- wa secara psikhologis. Manusia udah mempunyaifitrah( bawaan ) keimanan dan keyakinan terhadap Tuhan, sedangkan secara Antropo-logis manusia membutuhkan perlindungan dan jaminan keamanan da- ri kekuatan gaib, dari sudut pandang sosiologis manusia adalah makh- luk sosial yang harus berinteraksi terhadap sesamanya yang dilandasi tata nilai. Dengan ketiga dasar tersebut, maka pendidikan aqidah pada anak remaja harus berusaha memberikan pedoman serta mengembang - kan fitrah bawahannya sesuai dengan petunjuk Al-Qur‟an dan Sunnah Rasul, agar remaja dalam berinteraksi dengan sesamanya selalu bera - da dalam tata nilai keagamaan . 41 Mengenai tiga dasar tentang pentingnya pendidikan aqidah pada anak remaja tersebut, telah dijelaskan secara luas dalam bab II, sub po- kok bahasan dasar pendidikan aqidah. Bertolak dari alasan tersebut , maka dalam bab ini penulis berusaha menuangkan pemikirannya me- ngenai pendidikan aqidah pada anak remaja, agar bisa tercapai cita-ci- ta setiap orang tua untuk menjadikan anak yang salih. 1. Materi Pendidikan Aqidah
  30. 30. Sebagaimana telah dikatakan oleh para psikholog, bahwamasa remaja merupakan masa yang sangat penting. Karena masaremaja merupakan masa transisi untuk menuju kedewasaan, makamasa tersebut sangat menentukan pada masa dewasa, dalam masaini pendidikan aqidah sangat penting. Apakah aqidah/keimananmereka tergolong taklid, yaqin, ainul yaqin atau haqqul yaqin ?Pada masa remaja semuanya akan mulai tampak bentuk/pola ke-yakinannya. Bertolak dari alasan tersebut serta melihat perkembanganIntelektual dan kemampuan kognitifafektif remaja, maka padaKonteks pendidikan aqidah pada anak remaja materi yang diberi-kan antara lain rukun man itu sendiri. Apabila arkanul iman yangenam tersebut sudah tertanam kuat dalam sanubari remaja, makakeimanan mereka dimasa dewasa nanti bukan sekedar taklid atauwarisan dari orang tua atau lingkungannya. Berdasarkan aliran 42psikologis asosiasi dalam hal ini adalah teori Lewin yang telahdikutip oleh Sumadi Suryabrata bahwa, “ belajar adalah mengu -lang-ulang “. Dengan pengulangan tersebut, maka akan terjadi perubahanpada pengetahuan kognitif seseorang. Dengan demikian apabilaremaja sejak awalnya sudah terbiasa meyakini dan memahami ru
  31. 31. kun iman serta diwujudkan dalam perbuatan, maka dengan sendirinya akan menuntun remaja menuju pada keimanan yang yaqin atau ainul yaqin bahkan bisa mencapai taraf haqqul yaqin. Sebagaimana definisi aqidah yang telah diuraikan dalam bab II, maka aqidah merupakan suatu kesatuan keyakinan yang utuh dan murni dalam hati dan perbuatan yang tersusun mulai yakin akan ke Esaan Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, ra- sul-rasul-Nya, hari pembalasan dan taqdir baik dan buruk-Nya.2. Strategi dan Pendekatan Strategi merupakan langkah untuk mencapai tujuan.Dalam konteks ini secara spesifik adalah tertanamnya aqidah pada re- maja. Sedangkan secara universal adalah ingin membentuk re- maja yang beraqidah dan keyakinan kuat dalam sanubarinya, bahwa tada Tuhan selain Allah, serta dapat mengaktualisasikan keimanan dan keyakinannya dalam tutur kata dan perbuatannya, sehingga gercermin dalam akhlaqul karimah, dan pada akhirnya dapat menjadi muttaqin ( orang yang bertaqwa ) sehubungan de- 43 ngan hal tersebut, maka strategi yang digunakan adalah dengan cara memahami kondisi psikis remaja. Pola perilakunya, karak - ternya, pola kehidupannya, serta pola pemahamannya terhadap agama. Sebagaimana telah dijelaskan dalam bab III ( pola kehi - dupan remaja dan perkembangan keagamaan-nya ). Adapun pendekatan yang digunakan dalam melaksanakan
  32. 32. pendidikan aqidah pada anak remaja adalah pendekatan psikolo-gis yang meliputi :1. Pendekatan Emosional adalah usaha untuk menggugah pera- saan dan emosi remaja dalam meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah.2. Pendekatan Pembiasaan memberikan kesempatan kepada remaja untuk senantiasa merenungkan dan menghayati tentang tanda-tandakekuasaan Allah dalam kehidupan seha- ri-hari.3. Pendekatan Pengalaman adalah memberikan pengalaman me- ngenai keadilan , kekuasaan , dan kebijaksanaan serta sifat- sifat Allah yang lain.4. Pendekatan Rasional adalah usaha untuk memberikan keima- nan kepada rasio ( akal ) remaja dalam memahami dan mene- rima kebenaran akan adanya wujud Allah melalui berbagai macam dalil dan pembuktian yang ada di alam semesta ini sesuai dengn kemampuan kognitifnya. 44 Menurut Jean Piaget , anak remaja sudah bisa berpikirsecara sistematik,bisa memikirkan kemungkinan secara sistematikuntuk memecahkan suatu persoalan. Dalam arti bisa mengambilkesimpulan dalam pikiran remaja. Hal ini dikarenakan fungsi kog-nitif dan afektif remaja sudah mulai mendekati kesempurnaan se-
  33. 33. perti orang dewasa. Karena remaja secara afektif- kognitif sudah bisa memahami sesuatu secara abstrak, maka dalam rangka mena- namkan dan memperkuat keimanan dalam sanubari remaja, pen- dekatan yang digunakan adalah menyesuaikan kondisi kejiwaan, kemauan serta kemampuan kognitif- afektifnya.3. Metodologi Pendidikan Aqidah Berdasarkan kemampuankognitif – afektif remaja yang sudah bisa berfikir secara abstrak, maka metode yangdigunakan dalam pelaksanaan pendidikan aqidah pada anak remaja adalah sebagai berikut : 1. Metode Ceramah Metode ceramahmerupakansuatu sarana untuk menyampaikan materi pendidikan dengan cara menguraikan atau menjelaskan suatu masalah atau pokok bahasan dengan bahasa lisan. Dalam hal ini peserta didik hanya diberikan ber- bagai macam penjelasan untuk kemudian memahami serta mengikuti apa yang disampaikan oleh pendidik. 2. Metode Latihan Metode latihan suatu sarana untuk menanamkan dan 45 penguasaan suatu ilmu pengetahuan serta keahlian tertentu terhadap anak didik dengan latihan dan pembinaan terus me- nerus.Sebagaimana aliran psikologi asosiasi berdasarkan teori Lewin yang telah dikutip oleh Sumadi Suryabrata, bahwa be-
  34. 34. lajar adalah mengulang-ulang. Dengan perulangan tersebut, maka akan terjadi perubahan yang pada pengetahuan kognitif seseorang.3. Metode Karyawisata Dalam rangka menanamkan keimanan terhadap remaja mengenai Ribubiyah dan Uluhiyah Allah disamping menggu- nakan metode karyawisata. Metode karyawisata merupakan sarana dalam menyaji- kan materi pelajaran dengan membawa peserta didik melihat dan menyaksikan secara langsung terhadap obyek pelajaran yang akan dipelajari secara langsung dan pendidik membe- rikan penjelasan tentang obyek sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Dalam konteks paedagogis dimaksudkan adalah anak remaja diajak langsung untuk memahami, memperlihatkan, menelaah, dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah agar remaja bisa yakin dan percaya dengan Rububuyah dan Uluhi- yah Allah. Sedangkan aplikasi metode karyawisata dalam usaha 46 menanamkan keimann terhadap Rububiyah dan Uluhiyah Allah bagi remaja adalah pada saat remaja akan mengadakan Karyawisata bisa berupa mendaki gunung, berlayar di laut, mengadakan penelitian alam semesta, melihat panorama pan-
  35. 35. tai dan lain sebagainya, maka pendidik perlu memberikan pe- san dan nasehat terhadap remaja agar saat karyawisatamau menyempatkan diri untuk berfikir dengan menggnakan pen- dekatan rasional serta kemampuan kognitif- afektif dan keil- muan yang dimiliki remaja. B. Ketegasan Islam Tentang Pendidikan Aqidah Seruan Allah kepada setiap manusia beriman adalah merupakanlegalisasi yang tidak dapat dibantah lagi. Ajaran untuk berperilaku Islam merupakan fondasi yang kokoh serta tidak tergoyahkan. Secara tegas Islam telah menerangkan adanya fitrah keimanan. Sebagai potensi dasar yang harus dikembangkan. Yang kesemuanya itu diupayakan dalam rangka mencapai kebahagiaan serta ketentraman hidup. Islam memandang bahwa manusia mempunyai tanggung jawab yang sama dalam urusan keagamaan, karena Islam tidak membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya. Semua manusia dituntut ke - bersamaannya tanpa memandang perbedaan pribadi yang ada diantara mereka seperti pria dan wanita berkulit putih atau hitam dan sebagai- nya. Islam juga tidak memandang perbedaan status sosial seperti ata- san dan bawahan, pejabat atau rakyat, kaya dan miskin. Hanya taqwa 47 terhadap Allahlah yang membedakan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Firman Allah :
  36. 36. Artinya : “ Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Me- ngetahui lagi maha mengenal “. (QS: Al-Hujurat:13 )1 Sebagai orang tua hendaknya memperhatikan diri dan keluar- ganya khususnya anak-anaknya tentang masalah yang sangat pentingyaitu pendidikan aqidah sedini mungkin baik yang berhubungan de- ngan kondisi di dalam keluarga maupun diluar rumah. Kalau saja pen- didikan aqidah di dalam rumah ditekankan sedemikian rupa, apalagi di luar rumah yang mana karena jauh lebih luas, tentulah harapan hi- dup bahagia sejahtera lahir dan batin akan diperoleh. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan ilmu penge- tahuan dan teknologi sedikit banyak memberikan kemudahan kepada manusia. Namun disisi Allah harus disadari bahwa dampak negativ dari IPTEK tersebut justru menyebabkan manusia-manusia itu lemah imannya yang bisa terjerumus ke dalam lembah serba keduniawian belaka tanpa memperhatikan aqidah keimanan. Adanya IPTEK bagi mereka yang dzalim terhadap gemerlapan dunia ini akan memperbu- _____________________1 Soenarjo,dkk, Al-Qur‟an dan Terjemahannya ( Semarang: Toha Putra,1989),hal,874 48 dak mereka untuk saling berlomba-lomba demi mengumpulkan harta benda sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan tanggung jawabnya terhadap yang Maha Kuasa yaitu Allah Ta‟ala. Islam tidak melarang umatnya bekerja untuk mencari harta, akan tetapi pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani hendaknya seimbang
  37. 37. yakni tidak mengesampaikan salah satu antara kepentingan dunia dan kepentingan akherat. Padahal kalau disadari, sebenarnya manusia itu ibarat sedang berjalan kesuatu tempat dan kelak pasti akan kembali kepada Allah untuk mempertanggung jawabkan segala aktifitas kita ketika hidup di dunia. Firman Allah Artinya : “ Pada hari ini kami tutup mereka, dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan “. ( QS: Yaa- siin : 65 ) 2 Proyeksi dari keberhasilan teknologi manusia dalamhal pe- ngaruh negatif lainnya adalah seringnya kita mendengar krisis iden- titas, dekadensi moral serta adanya krisis kebudayaan. Adanya ke - berhasilan teknlogi yang banyak mempengaruhi pola hidup dan po- la pikir manusia sudah bisa diramalkan bahwa kehidupan masyara- kat di dunia mendatang sudah bergeser kepada kehidupan yang me- nuju kearah penyatuan dunia atau globalisasi dunia, dimana perso- alan ketertutupan diri, lokalis maupun yang lain bukan lagi zaman- ______________________________ 2 Ibid, hal, 713 49 nya.Lebih jauh lagi hasil dari tekologi tersebut adalah adanya sikaphidup yang kurang peduli terhadap persoalan di luar dirinya, manusia modern lebih bersikap praktis, prakmatis,suka jalan pintas, tidak am- bil pusing, bahkan nilai-nilai ketuhanan aqidah sudah mereka tinggal- kan. Bagi orang yang sering berpandangan hidup demikian, agama
  38. 38. bukanlah bagian dari hidup ini. Bagi mereka persoalan dunia adalahbagaimana mereka bisa mencari dan menguasai harta sebanyak-ba-nyaknya. Pola hidup yang seperti demikian berawal dari konsep danmatrealisme ( serba benda ).Dengan melihat berbagai catatan yang negatif serta kecenderu-ngan- kecenderungan hidup di dunia masa depan sebagai akibat darihasil teknologi yang berpengaruh dalam membentuk sikap hidup ma-nusia sebagai umat Islam setidaknya kita dapat memproyeksikan ba-gaimana aktifitas yang tepat untuk menanggulangi masalah ini. Iniberarti umat Islam harus mampu menembus dinding teknologi, yangmana globalisasi hidup sementara ini bisa dikatakan sebagai imateria-lisme. Oleh karena itu dalam kondisi yang seperti ini pendidikan ha-Ruslah mendapatkan perhatian atau perubahan, dimana pendidikantersebut harus mengarah kepada penanaman kepercayaan dan keya-kinan ( pendidikan aqidah ) yang menjadi pangkal tolak pada saatmereka menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. 50 Jauh sebelumkekhawatiran mengenai negatif alih teknologiSeperti sekarang ini, kita sering mendengar ucapan “ ilmu penge-Tahuan tanpa agama, buta “ lebih jauh lagi kita sebenarnya Na-Bi kita Muhammad saw sendiri pernah menyatakan kepada umat-nya bahwa agama itu bukan untuk orang yang punya akal. Secaraimplisit pernyataan beliau mengandung arti bahwa walau bagaima-
  39. 39. napun agama dan akal itu adalahalat untuk mencari pengetahuan.Oleh karena itu antara akal dan agama harus berjalan seiring, satusama lain saling terkait. Agama menjadi landasan utama bagi akaluntuk mencari pengetahuan serta menghasilkan teknologi. Sebagai gambaran tentang perlunya pemanfaatan akal seba-gaimana dikehendaki oleh tuntutan agama, maka di bawah ini pe-nulis mengambil sepercik gubahan dari seorang penulis bernamaKahlil Gibran seperti berikut : Akal mempertmbangan dan perasaan hati diibaratkan kemudilayer jiwa yang mengarungi lautan kehidupan.Jikalau patah salah satu, layer atau kemudi itu, kalau masih mengem-bang, namun terombang-ambing gelombang.Atau terhenti lumpuh tanpa daya ditengah samudra. Sebab akal fiki-ran yang sendiri mengemudi, laksana tenaga yang menjebak diri; ka-rena kita ajaklah perasaan menjunjung tinggi akal budi, meraih pun-cak-puncak getaran kebenaran sejati, keduanya mewujudkan sebuah 51simfoni. Dan turutilah jiwamu membimbing perasaan, dengan meng-gunakan akal pertimbangan, sehingga perasaan itu tetap hidup deng-an setiap kebangkitannya, dan laksana burung phoniex membum-bung tinggi dari tengah abu kebinasaan. 3 Gubahan tersebut menariksekali untuk direnungi dengan tidak mengesampingkan kedalamanmakna gubahan tersebut. Namun secara singkat dapatlah dipahami
  40. 40. bahwa yang dimaksud perasaan dalam gubahan tersebut adalah bi- sikan nurani, yaitu hati sanubari, dan inilah fitrah atau potensi dasar yang dimiliki oleh manusia sebagai anugerah yang sangat besar da- ri Allah SWT. Sedangkan yang dimaksud fitrah dalam konteks ini adalah fitrah agama, yaitu aqidah. Oleh karena itulah Islam secara tegas menganjurkan tentang pentingnya pendidikan aqidah. C. Pembebasan Kewajiban Agama Di dalam surat at-Tahrim ayat 6 Allah berfirman : Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu “. ( QS: At- Tahrim : 6 ) 4 Berangkat dari ayat tersebut, maka kewajiban selaku seorang mus- lim adalah agar ia menjaga dirinya jangan sampai tenggelam ke kan- cah neraka, kewajiban tersebut berlanjut setelah diri pribadinya ialah keluarganya, secara mikro anak dan istri serta orang-orang yang be- ______________________4 soenarjo,dkk, op, cit, hal, 951 52berada dibawah tanggung jawabnya. Adapun secara makro adalah selu- ruh kerabat yang ada pertalian darah hingga peralian famili. Erat hubungannya dengan surat at-Tahrim tersebut antara lain Adalah tentang pribadi Umar bin Khatab dimana ia pernah bertanya ke- pada Rasulullah saw : Ya Rasul Allah, secara pribadi kami dapat menja- ga kami jangan sampai masuk neraka, akan tetapi bagaimana menjaga keluarga, apakah selalu di awasi terus menerus kemana ia pergi ?”
  41. 41. Menanggapi pernyataan tersebut, Rasulullah saw, memberi jawabanyang padat : “ Engkau tunjukkan kepada mereka amal perbuatan yangdiperintahkan Allah,kemudian engkau terangkan, sedangkan yangdilarang- Nya ditinggalkan. Dari dialog yang terjadi antara Rasul saw, dengan Umar binKhattab r.a tersebut dapat dipahami bahwa setiap orangyang berimandibebani atau memperoleh kewajiban agama, baik yang menyangkutsegala perintah Allah maupun yang dilarang-Nya. Baik mukmin, yangdiakui oleh Allah ialah mukmin yang masuk kedalam Islam secarakeseluruhan, yakni cara berbuat harus Islam, cara berfikir harus Islam,mengatur rumah tanggaharus Islam, mengatur masyarakat harusmemakai hukum Islam, cara mencara rizki harus Islam atau singkatnyaseluruh gerak langkah mukmin harus sesuai dengan Islam. Tidaklah dianggap sebagai orang yang beriman manakala iaberkata : “ kepalaku sujut kepada Allah, tetapi tangan dan kakiku serbamaling, mulutku Islam tetapi hatiku penuh dengan hasrat, iri dengki, 53buruk sangka, riya‟, pada waktu makan aku selalu membaca asma Allahtetapi rizki yang masuk kedalam perutku berasal dari hasil haram, akupunya perinsip aji mumpung, perkara halal atau haram urusan belakangyang penting kenyang, yang penting kaya serta pnya segalanya. Disinilah fungsi agama : ia akan menyinari akan menjadi ukuran
  42. 42. dalam segala aspek kehidupan, artinya tidak boleh setengah-setengah. Janganlah sebagai seorang mukmin meniru sikap-sikap munafik dan fasik dalam kehidupannya, yaitu mengikuti sebagian ajaran Islam ka- rena dirasa cocok dengan selera dan tuntunan nafsunya akan tetapi ia mengingkari sebagian besar ajaran Islam. Hal ini disetir oleh Allah sebagaimana firman-Nya: Artinya : “ Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (al-Qur‟an) dan ingkar terhadap sebagian yang lain ? Tiadalah balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian dari padamu, mela- inkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kia- mat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat “. ( QS: Al- baqarah : 85 )5 __________________________ 5 Ibid, hal, 24 54D. Cara Menetapkan Aqidah Telah disepakati para ulama, bahwa dalil akal yang benar penda- huluannya serta sempurna hukum terhadap perasaan maupun kepenting- an, akan dapat melahirkan keimanan yang dibutuhkan. Dalil-dalil naqli ( yang diambil dari al-Qur‟an dan sunnah Rasul ) tidak bisa menghasil-
  43. 43. Kan keyakinan yang dibuuhkan. Dalil-dalil naqli tersebut baru bisa menciptakan aqidah ( keyakinan ) manakala dalil itu mempunyai per- syaratan, yaitu qath‟i ( pasti ) baik mengenai cara datangnya, maupun dalam hal pembuktian-pembuktiannya. Qath‟i menurut cara datangnya dalam konteks ini ialah bahwa ketetapan datangnya dari Nabi saw, ti- dak diragukan sedikitpun ( tidak mungkin menerima ta‟wil maupun interpretasi ).Jika dalil naqli tersebut benar-benar dalam kondisi demikian, maka ia bisa menghasilkan keyakinan yang dapat dijadikan penetapan aqidah. Misalnya ialah sesuatu yang diterangkan oleh ayat- ayat al-Qur‟an mengenai aqidah, risalah, hari akhir serta yang lainnya yang bertalian dengan ushuluddin ( pokok-pokok agama ), maka dalil- dalil naqli tersebut qath‟i keterangan-keterangannya seperti halnya qath‟i kedatangannya. Sekedar contoh dalil naqli adalah seperti berikut: Artinya:” Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat disisi Tuhannya Dan ampunan serta rizki ( nikmat ) yang mulia “. ( QS: Al-anfal : 4 ) 6 _________________________6 Ibid, hal, 62 55 Artinya : “ Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, dan nasehat-nasehat supaya mentaati kebe- naran “. ( QS: Al-Ash‟r : 1-3 ) 7
  44. 44. Artinya:” Sesungguhnya allah telah memberi karunia terhadap orang-orang yang beriman ketika Allah memutus diantaramereka seorang Rasul dari golongan mereka, yang membacakan ke- pada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah”. ( QS: Ali Imran : 164 ) 8Artinya : “ Dan bagi yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada Dua surga : . ( QS: Ar Rahman : 46 ) 9 Demikianlah kondisi aqidah serta cara menetapkan kepadamanusia , dimana pengetahuan tentang aqidah harus merata kepadaseluruh umat manusia, tanpa pandang bulu. Mengapa ? karena ia tidakditetapkan secara khusus bagi satu golongan saja tanpa yang lainnya .Disamping itu pendidikan Aqidah dapat dilihat dari berbagai aspekyaitu:______________________7 Ibid, hal, 10998 Ibid, hal, 1019 Ibid, hal, 888 56 1. Aspek syari‟ah, yaitu adanya beberapa dalil al-Qur‟an maupun Hadits Nabi yangbersinggungan dengan permasalahan aqidah. 2. Aspek fitrah, yaitu pengakuan Al-Qur‟an terhadap fitrah aqidah, membawa konsekuensi logis bahwa fitrah tersebut haruslah didi- dik dan diarahkan sesuai dengan aturan dan ajaran Islam. Karena sebaik apapun fitrah manusia , ia memerlukan campur tangan pendidikan. Sebagaimana Rasulullah berfirman:
  45. 45. Artinya : “ Tidaklah anak yang dilahirkan itu kecuali telah mem- bawa fitrah, maka kedua orangtualah yang menjadi - kan anakmtersebut beragama Yahudi,Nasroni, atau - pun Majusi “. ( H.R. Muslim ) 11 3. Aspek Sosialis, yaitu adanya kenyataan pelecehan dan beberapa penyimpangan aqidah yang terjadi sebagai akibat dari kelongga- ran, baik nilai agama, moral maupun adat kebiasaan, yang baik dijauhi serta ditinggalkan untuk beralih ke-hal-hal yang negatif seperti kebudayaan-kebudayaan barat yang cenderung sekuler serta bebas nilai. b. Pelaksanaan Pendidikan Aqidah Dalam Keluarga Setelah kita berupaya untuk memahami apa itu aqidah. Serta pemahaman terhadap pendekatan-pendekatan yang terkan- dung di dalam al- Qur‟an sebagaimana yang telah diterangkan di atas, maka selanjutnya adalah bagaimana melaksanakannya (pen- didikan aqidah ) di dalam keluarga. 57 Maka beberapa hal yang perlu dilakukan adalah : 1. Menanamkan pengertian bahwa “ kapan saja, baik pada saat tidur ataupun jaga, baik pada saat hidup maupun mati, maka selalu mendapat perhatian dari Allah swt. 2. Menanamkan pengertian bahwa kelak manusia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT atas apa yang diperbu- atnya semasa hidupnya di dunia.
  46. 46. 3. Menanamkan pengertian bahwa pengakuan iman itu tidak cu- kup hanya di bibir saja. Akan tetapi dibuktikan dalam perbua- tan nyata sehari-hari. 4. Menanamkan pengertian bahwa tujuan hidupnya adalah se- mata-mata untuk mengabd kepada Allah SWT. Itulah langkah-langkah yang penulis utarakan disamping masih banyak langkah yang lain. 58 BAB V PENUTUPA. Kesimpulan Berdasarkan uraian di bab-bab terdahulu, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
  47. 47. 1. Ketegasan Islam tenyang pendidikan aqidah adalah pendidikan yang berpotensi dasar ataunfitrah alamiah yang dikaruniakan oleh Allah ke- pada manusia. Meskipun pada akhirnya kadar masing-masingmanusia tentang aqidah ini tidaklah sama. Sebagai suatu potensi, maka ia mem- punyai peran dan fungsi dalam hidup dan kehidupan. Orang yang akan memperoleh kebahagiaan disebabkan oleh aspek yang satu ini (aqidah) demikian juga seliknyaorang mungkin menjadi sengsara untuk selamanya sebagi akibat penyimpangan aqidah ini. Dengan demikian setiap manusia memerlukan bimbingan dan arahan tentang aspek yang satu ini. 2. Pelaksanaan Pendidikan Aqidah menurut Al-Qur‟an haruslah tetap Mengacu kepada keimanan dan akhlak, sehingga dengan demikian, tendensi akhir dari seluruh proses pendidikan aqidah yang berusaha untuk mencetak generasi qur‟ani akan terwujud, yaitu insan taqwa dan mampu bertindak sebagai pemimpin ( khalifah ) di bumi.B. Saran-saran Setelah penulismengadakan pengkajian terhadap permasalahan 59 Pendidikan aqidah yang bertolak dari nilai-nilai yang terkandng dalamal- Qur‟an maka selanjutnya ingin mengajukan beberapa saran antara lain: 1. Pada orang tua, pendidik dan siapa saja yang mempunyai tanggung jawab kepada anak untuk mendidiknya agar senantiasa memperhatikan sungguh-sungguh terhadap aqidah. Karena adanya alih teknologi seperti sekarang ini memungkinkan manusia mudah terbawa arus materialistik, serba benda, sehingga mudah terlena dan terjerumus dalam lembah ke-
  48. 48. hinaan.2. Kepada remaja untuk lebih berhati-hati dan menjaga diri, karena di era globalisasi dan informasi ini tengah menawrkan berbagai kemewahan dan kesenangan, sehingga mereka yang lemah iman mudah tergoda oleh gemerlapnya dunia, dan selanjutnya mengagungkan harta benda.3. Kepada para pemikir bahwa masalah aqidah merupakan masalah yang sentral dan esensial bagi pembangunan umat, bahwa ia merupakan pondasi yang menentukan kokoh kuatnya serta rapuhnya pembangunan umat. Oleh karena itu hendaklah diupayakan secara optimal agar orang Islam siap menghadapi segala macam tantangan dan hambatan yang dapat merongrong nilai ketuhanan ( aqidah ) di zaman yang sudah di- penuhi oleh keserakahan dan kedholiman.

×