Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Aksiologi p.-11

6,169 views

Published on

aksiologi

Aksiologi p.-11

  1. 1. Pertemua ke 11
  2. 2. Filsafat Nilai dan PenilaianSecara formal baru muncul pada abad ke-19, meski sejak yunani kuno sudah dibicarakan orang tapi belum bicara mengenai prinsip-prinsip aksiologi.Aksiologi mempunyai kaitan dengan axia yang berarti nilai atau yang berharga. Jadi bisa diartikan sebagai wacana filsofis yang membicarakan nilai dan penilaian.Terdapat banyak pendapat menyangkut isi aksiologi, apakah nilai dan penilaian itu? Pertanyaan ini tentusaja merupakan masalah utama filsafat ini.
  3. 3. Dalam filsafat lama, termasuk yunani kuno, tema lebih banyak bertautan dengan masalah-masalah yang konkrit, substansi material.Diperlukan kajian khusus membahas nilai ini berdasar dua hal, ialah ada (being) dan nilai (value). Pada masa lalu nilai berada dibawah masalah ada, dan menggunakan bahasan dengan tolok ukur yang sama, sehingga menjadi tidak selaras.Sebagian orang mengartikan nilai dengan menggunakan berbagai reduksi dengan hasil terdapatnya tiga sektor besar realitas, yaitu benda, esensi dan keadaan psikologis.
  4. 4. Nilai yang diberikan orang pada sesuatu akan dikaitkan antara lain dengan apa yang diinginkannya, apa yang menyenangkannya, dan apa yang membuatnya senang atau nikmat.Teori-teori lainnya, seperi pendapat Nicolai Hartmann, bahwa nilai adalah esensi dan ide platonik. Nilai selalu berhubungan dengan benda yang menjadi pendukungnya, misalnya indah dengan kain, baik untuk perilaku, artinya bahwa nilai tidak nyata.
  5. 5. Pada kenyataan banyak tingkatan dalam kualitas, yaitu kualitas primer, sekunder dan tersier. Yang primer bersangkutan dengan adanya benda itu, jika tidak ada nilai tidak mungkin terbentuk.Kualitas sekunder, adalah kualitas yang timbul sebagai suatu yang dapat ditangkap oleh indra kita, seperti warna, rasa, dan bau. Adapun kualitas tersier, terjadi ketika penilaian berbeda berdasar dua kualitas terdahulu. Jelas bahwa kualitas ini tidak nyata, tetapi suatu sifat, sui generis, ialah bahwa nilai itu tidak mandiri kata Husserl.
  6. 6. Aksiologi adalah Masalah Sehari- HariDe gustibus non disputandum, artinya selera tidak bisa diperdebatkan. Masalah ini adalah penting, karena dengan nilai orang dapat bersikap subyektif sehingga dapat menimbulkan masalah besar dan esensial.Masalah ini merupakan masalah serius yang timbul dalam penggunaan nilai dalam kehidupan sehari-hari, seolah nilai identik dengan selera.Timbul pertanyaan, seberapa jauh perbedaan dalam penilaian itu benar-benar subyektif, dan tertutup untuk pemikiran yang sifatnya kolektif? Misalnya dalam kesenian, tata boga, atau pakaian, juga dalam perilaku dan sikap pada umumnya, atau perilaku khusus dalam sebuah pesta pada kalangan tertentu.
  7. 7. Timbul lagi pertanyaan, seberapa jauh suatu penilaian menjadi obyektif, seperti nilai suatu ilmu pengetahuan atau hal-hal nyata dan konkrit, seperti selera makan asam atau pedas. Menurut biolog selera dapat dibentuk.Masalah-masalah demikian, dalam arti lebih luas boleh jadi menjadi sumber konflik antar orang atau antar ras, pertanyaan berikutnya, apakah nilai itu subyektif atau obyekyif?Masalah yang paling banyak dibicarakan antara lain mengenai kebaikan perilaku, keindahan karya seni, atau kesucian religius.
  8. 8. Pendapat LangeveldAksiologi terdiri dari dua hal utama, yaitu etika dan estetika, keduanya merupakan masalah yang paling banyak ditemukan dan dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari.Etika adalah bagian dari filsafat nilai dan penilaian yang membicarakan perilaku orang. Semua perilaku memiliki nilai dan tidak bebas nilai, perilaku bisa beretika baik dan tidak baik. Dalam banyak wacana juga digunakan istilah baik dan jahat, karena perbuatan yang jahat akan merusak, perbuatan baik berarti membangun.
  9. 9. Estetika juga bagian dari filsafat nilai dan penilaian yang memandang karya manusia dari sudut indah dan jelek. Keduanya pasangan dikotomis, dalam arti bahwa yang dimasalahkan secara esensial adalah pengindraan atau persepsi yang menimbulkan rasa senang dan nyaman pada suatu pihak, dan rasa tidak senang dan tidak nyaman pada pihak lain, dan ini mengisyaratkan bahwa ada baiknya bagi kita menghargai pendapat orang lain atau pepatah “ de gustibus non disputdum” mesti tidak untuk segala hal.
  10. 10. Etika atau MoralTerdapat dua perbedaan antara etika dan Moral (kesusilaan). Pertama, moralitas bersangkutan dengan apa yang seyogyanya dilakukan atau tidak dilakukan karena berkaitan dengan prinsip moralitas yang ditegakkan, sedang etika adalah wacana yang memperbincangkan landasan-landasan moralitas.Kedua, etika berkaitan dengan landasan filosofi norma dan nilai dalam kehidupan kemasyarakatan atau budaya, sedangkan kesusilaan atau moral, secara khusus berkaitan dengan nilai perbuatan yang berhubungan dengan kebaikan dan keburukan perilaku yang bersangkutan dengan agama. Kesusilaan sering berkaitan dengan norma agama berhubungan dengan dosa atau pahala.
  11. 11. Suatu perilaku dinyatakan “jahat” karena perbuatan buruk manusia memberi akibat kerusakan pada manusia lain atau umumnya.Filsafat etis merupakan usaha untuk memberi landasan terhadap penyelesaikan konflik-konflik secara rasional jika respons otomatis kita dan aturan implisit tindakan yang berbelit atau karena realitas respon dan aturan yang bertentangan.Craig (2005), dalam “The shorter routledge Encyclopedia of Phylosophy” mengemukakan tiga permasalahan utama dalam etika, yaitu masalah etika dan meta etika, masalah konsep etis dan teori etis, serta masalah etika terapan.
  12. 12. Masalah etika dan meta etikaEtika pada dasarnya meliputi empat pengertian: Pertama, sistem-sistem nilai kebiasaan yang penting dalam kehidupan kelompok khusus manusia yang disebutnya sebagai “etika kelompok”. Ini bagian tugas para antropolog.Kedua, digunakan untuk satu diantara sistem-sistem khusus tersebut, yaitu “moralitas” yang melibatkan makna kebenaran dan kesalahan, yang pertanyaan sentralnya “apa yang terbaik untuk memberikan karakter pada sistem ini? Apakah suatu moral mengemukakan fungsi tertentu, seperti apa yang memungkinkan seseorang dapat bekerja sama dengan orang lain? Haruskah dalam bekerjasama dengan orang lain melibatkan perasaan tertentu atau dengan hujatan?
  13. 13. Ketiga, dalam sistem moralitas itu sendiri mengacu pada prinsip-prinsip moral aktual, misalnya “mengapa anda mengembalikan buku pinjaman itu?” Hal seperti itu hanyalah masalah etis dalam suatu lingkungan.Keempat, etika adalah suatu daerah dalam filsafat yang memperbincangkan telaahan etika dalam pengertian-pengertian lain, dan penting diingat bahwa etika filosofis tidak bebas dari area filsafati lainnya. Jawaban terhadap masalah etika bergantung pada jawaban terhadap banyaknya pertanyaan metafisika dan area lain pemikiran manusia.
  14. 14. Konsep dan Teori EtikaMenurut Edward Craig ada beberapa etika falsafiah yang bersifat luas dan umum, serta berupaya untuk mendapatkan prinsip-prinsip umum atau keterangan dasar mengenai moralitas, yang cenderung lebih menfokuskan pada analisis atas masalah sentral pada etika itu sendiri.Misalnya masalah otonomi, perhatian terhadap pemerintahan sejajar dengan masalah-masalah yang menyangkut diri, hakekat moral, dan relasi etis masalah lain.Topik lain yang juga termasuk masalah ini adalah ideal moral, makna pahala, dan responsibilitas moral.
  15. 15. Yang baik adalah yang membahagiakan manusia atau yang memberi kenikmatan adalah jawaban pertanyaan mengenai apa yang baik dilakukan manusia pribadi dalam kehidupannya?Filsafat moral atau etika sedikitnya membicarakan advokasi cara-cara khusus hidup dan bertindak. Bagaimana seharusnya cara orang hidup? Saah satu tradisi modern adalah konsekuensialisme. Pandangan ini mensyaratkan moralitas untuk membawa kebaikan menyeluruh yang terbaik.
  16. 16. Yang baik adalah yang membahagiakan dan yang mensejahterakan manusia, pandangan ini lebih mementingkan kebaikan daripada kebenaran.Teori-teori yang berdasar kebenaran dapat diperikan sebagai deontologis. Puncaknya terjadi pada abad ke- 18 dalam filsafat jerman yaitu pendapat Immanuel Kant.Pada abad ke-20 terdapat reaksi perlawanan terhadap ekses yang dipersepsi dari etika kaum konsekuensionalis dan deontologis dengan kembali pada pegangan masa kuno.
  17. 17. Masalah Etika TerapanEtika filsafati selalu dikaitkan dengan taraf penerapan tertentu pada kehidupan nyata sehari-hari. Bidang kedokteran, karena menyangkut hidup mati manusia merupakan bidang paling bersentuhan dengan masalah etika dalam penerapannya. Bidang yang lain adalah bidang ilmu dan teknologi, juga maslah-masalah kesenian yang berhubungan dengan agama dan norma-norma, serta nilai sosial, misalnya masalah pornograsi dan pornoaksi.Juga dalam dunia politik menyangkut rebutan kekuasaan juga merupakan sisi yang bersentuhan dengan etika terkait dengan pemberian kesejahteraan dan keadilan pada masyarakat.
  18. 18. ESTETIKAEstetika merupakan bagian aksiologi yang membicarakan permasalahan, pertanyaan dan issue mengenai keindahan, menyangkut ruang lingkup: nilai, pangalaman, perilaku dan pemikiran seniman, seni serta persoalan estetika dan seni dalam kehidupan manusia.Marcia Eaton menyatakan bahwa estetika merupakan konsep yang berkaitan dengan deskripsi dan evaluasi obyek serta kejadian artistik dan estetika.Immanuel Kant menyatakan bahwa konsep estetika itu subyektif, tapi pada tarap dasar manusia secara universal memiliki perasaan yang sma terhadap apa yang membuat mereka nyaman dan senang atau menyakitkan dan tidak nyaman.
  19. 19. Estetika FilsafatiEstetika filsafati atau filsafat seni adalan kajian ilmiyah yang mencari landasan dan asumsi tentang keindahan atau uapaya membahas fenomena atau wujud kesenian dari pada dasar-dasar wacana seni.Adapun yang dimaksud teori lima seni (theory og five art) adalah teori seni yang menyangkut permasalahan seni lukis, seni pahat, arsitektur, sajak dan musik yang dianggap pilar dari kesenian umumnya.Kedudukan dan peran dalam sejarah pemikiran masa lalu, menurut Bernard Bosanquet bahwa seni sajak dan seni formatif hellenik merupakan panggung pertemuan antara religi praktis populer dab refleksi kritis atau filosofis.
  20. 20. Prinsip EstetikaBahwa pada antikuitas hellenistik telah ditemukan peinsip estetika sebagai bahan pertimbangan, dalam arti bahwa keindahan mengandung ekspresi imajinatif dan sensuous mengenai kesatuan dalam kemajemukan.Prinsip yang membangun kerangka kerja spikulasi hellenistik mengenai alam dan nilai keindalahan adalah prinsip kondisi ekspresi yang abstrak.Obyek persepsi, umumnya dianggap sebagai standar seni. Didalamnya terdapat suatu baris yang tidak mungkin diatasi dalam menghadapi identifikasi keindahan dengan ekspresi spiritual yang hanya dapat ditangkap oleh persepsi tingkat tiggi.

×