Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Kelompok borobudur

957 views

Published on

bahasa indonesia

Published in: Education

Kelompok borobudur

  1. 1. BOROBUDUR Afidya Pramesti Brigitta Gitalia Ratri Nabila Ayu Afifah Tanamal Natalia Safura Ngeo Bupu Raihan Irfansyah XI IPA 1
  2. 2. Aku adalah seorang gadis yang tidak memiliki kehidupan bahagia seperti anak-anak lainnya. Orangtuaku tidak harmonis, dan keadaan ekonomi yang tidak berkecukupan sering membuat mereka bertengkar. Suatu hari pihak bank datang kerumahku untuk menagih hutang dan Ibuku lah yang cemas jika tak bisa membayar, maka rumah kami akan disita. Hal itu membuat Ibuku kecewa dan marah pada Ayahku, ia memutuskan untuk bercerai dengan Ayahku dan ingin pergi ke Surabaya untuk bekerja disana menjadi pebantu rumah tangga. Aku merasa hidup sebatang kara setelah ditinggal orangtuaku. Namun aku juga merasa keputusan Ibu adalah keputusan yang terbaik bagi keluargaku, terutama Ibu. Semenjak kejadian itu aku dan kakakku dapat hidup mandiri. Kami merubah gaya hidup kami menjadi lebih baik, dan aku belajar lebih giat untuk menggapai cita-citaku nanti dan untuk membahagiakan ibuku.
  3. 3. Struktur Teks Cerpen 1. Abstraksi: Pada suatu ketika Bapak dan Ibuku bertengkar, entah apa yang dipermasalahkannya. Pada saat itu aku bertanya kepada ibu. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibu hanya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita Nak”. “Aku tak mengerti”. Ibuku hanya tersenyum dan memelukku erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti…” Kemudian, aku bertanya kepada Bapakku. “Pak mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?” Bapakku menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan Bapak. 2. Orientasi: Ibuku hanyalah seorang penjahit yang kemudian pergi ke surabaya menjadi pembantu rumah tangga disana, sedangkan Bapakku berstatus pengangguran. Terkadang kerja terkadang tidak.
  4. 4. 3. Komplikasi: Ketika Bapak pulang larut malam Ibuku bertanya kepada Bapakku “Dari mana saja kamu, jam segini kok baru pulang?”, bukannya dijawab, ibu malah dimarahin sama Bapakku. Pada saat itulah terjadi pertengkaran yang begitu dahsyat. Keesokan harinya Bapakku pun pergi lagi, entah kemana. Dalam hati Ibu tak ada kebahagiaan yang dirasakannya, akan tetapi kesedihanlah yang selalu Ibuku rasakan selama ini. Ibu selalu memikirkan apa yang akan dimakan sehari-hari untuk anaknya, belum lagi biaya sekolah ku yang begitu besar yang harus ditanggungnya disaat melihat Bapak yang pengangguran. Pada saat itu ibuku berpesan kepadaku dan kakak-kakakku “Nak, kamu jangan mencontoh perilaku Bapakakmu. Seperti itu telah membuat hati ibu sakit”.
  5. 5. Dan suatu ketika ada seorang laki-laki yang bertamu ke rumah, yang ternyata laki-laki itu adalah pihak bank yang ingin menagih hutang ke rumah. Padahal Ibuku tidak tau akan hal itu, Ibuku bingung buat apa Bapak hutang sebanyak itu. Ibuku tidak pernah menerima sepeser pun uang yang dihutangi bapak. Setelah Ibuku tahu hutang Bapak yang begitu besar, Ibuku sangat terpukul dan sering menangis karena takut rumahnya disita dan takut akan tinggal dimana anak-anaknya nanti. Jika Rumanya disita pihak Bank. Belum lagi nasib sekolah ku yang selama ini biaya SPP ku sudah tiga bulan belum dilunasi, Ibuku takut aku akan berhenti sekolah jika tidak ada biaya. Pada saat itu yang aku pikirkan adalah kesabaran Ibuku yang begitu besar. Walaupun apa yang terjadi, Ibuku selalu memikirkan masa depan anak-anaknya, dan mengapa Bapak begitu tega menyakiti ibu, menghianati ibu. Dalam seyumanya Ibu selalu menyembunyikan keletihannya. Derita siang dan malam yang menimpanya, tak sedikitpun menghentikan langkah ibu untuk bisa memberi harapan baru bagiku.
  6. 6. Dan pada suatu ketika tepatnya sore hari Bapakku pulang, Ibuku memarahi bapak dan Ibu bertanya “Kenapa kamu hutang sebanyak itu kepada pihak Bank?”, Bapakku menjawab “Karena aku memakai uang itu untuk membuka usaha, akan tetapi usaha itu gagal sia-sia”. Ibuku tidak percaya dengan semua yang diucapkan Bapakku.Dan pada saat itulah Ibuku mengucapkan sebuah kata “PERCERAIAN” aku dan kakakku mendengar akan hal itu. Kami pun bersedih karena keluarga kami tidak akan utuh lagi, akan tetapi jika Bapak dan Ibuku tidak berpisah kami juga sedih karena kami tidak tega melihat Ibu sering disakiti oleh Bapak. Di malam harinya dengan perasaan hancur dan sesak, perlahan sang ibu paksakan diri untuk berdiri dan keluar dari kamar untuk menghampiri ku, ketika dilihatnya aku dengan kondisi penampilan yang kacau, ibu pun tersenyum. Ibuku berkata padaku kalau Ibu ingin pergi ke Surabaya untuk bekerja disana menjadi pembantu rumah tangga. Aku pun diam tanpa kata, aku hanya menangis dan takut akan ditinggalkan oleh Ibuku, karena tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika nanti aku di tinggalkan Ibuku. Namun harus bagaimana lagi jika Ibu tidak pergi untuk mencari uang, Aku pun takut berhenti sekolah dengan sia-sia karena tidak ada biaya.
  7. 7. Ibuku selalu bersedih dan meneteskan air mata nya, Ibuku selalu bilang padaku “Bersabarlah nak, Ibu tidak tahu apa yang harus ibu lakukan selain pergi kesana buat mencari uang untuk biaya sekolah kamu”. Disitu aku berpikir sungguh mulianya ibuku, dia mengorbankan seluruh jiwanya untuk hidupku. 4. Evaluasi Keesokan harinya Ibuku siap-siap akan pergi ke surabaya, disaat bapak tidak ada di rumah. Sebelum pergi Ibuku berpesan padaku dan kakak-kakakku untuk saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Walaupun apa yang terjadi pada kalian, kalian harus bersabar dan berdo’a meminta petunjuk kepada Tuhan. Disaat Bapak sudah tahu Ibu telah pergi, bapak tidak pernah pulang selama satu minggu lebih. Entah pergi kemana. Pihak Bank pun selalu mendatangi ke rumah sedangkan kami tidak tahu apa-apa akan hal itu. Kemudian di keesokan harinya ibuku menelpon dan berkata pada kami, kalau Bapak sudah menikah lagi dengan perempuan lain dan Ibuku dan Bapak akan bercerai. Kami
  8. 8. Dua minggu kemudian Ibuku pulang ke rumah, kami pun senang. Karena kami rindu akan kedatangan Ibu. Akan tetapi ibu memberitahu pada kami, kalau ibu akan bercerai dengan Bapak pada hari itu juga. 5. Resolusi Pada saat itu juga Ibuku pun bergegas pergi ke pengadilan dengan kakakku, setelah usai ke pengadilan ibu akan pergi lagi ke Surabaya. Sebelum ibuku pergi ibu berkata padaku kalau ibu sudah resmi bercerai dengan bapak. Disaat ibuku berpesan seperti itu aku jadi ingat apa yang pepatahkatakan yaitu: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan” Inilah kasih seorang ibu yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang ibu demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. Mulai sekarang, aku akan mengingat dimanapun aku berada karena: “Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu… selamanya, Terimakasih Ibu”.
  9. 9. Disaat ibu pergi kami seperti hidup sebatang kara, tidak ada Bapak dan tidak ada Ibu. begitu juga denganku, aku benar-benar kehilangan sosok ibu yang telah pergi. “Tuhan.. itukah rasanya ditinggal orang yang amat sangat kita kasihi, tak memandang dia orang kuat atau lemah, yang ada pasti kesedihan yang berkecamuk, jika mengingat-ingat pasti butir butir airmata berjatuhan tak tertahan”. Kami sangat merindukan kedua orangtua kami. Akan tetapi kami senang karena kami bisa hidup menjadi mandiri. Pada saat itu kami merubah gaya hidup kami yang berantakan dan terkesan ugal-ugalan menjadi lebih baik. begitu juga denganku. aku bisa menjadi seorang perempuan mandiri tanpa adanya sosok ibu. kehidupan sederhana tidak menyusutkan semangat belajarku. Kini aku harus benar-benar bisa membagi waktu untuk kegiatan di rumah dan di sekolah. Aku tidak perduli walaupun aku berangkat ke sekolah akhir-akhir ini sering tidak sarapan dan tak ada uang saku. walaupun aku berangkat ke sekolah hanya menaiki sepeda mini yang aku miliki. Aku sama sekali tidak perduli, karena yang aku inginkan hanyalah membahagiakan ibuku dan membuatnya tersenyum. Dengan bisa sekolah saja aku bersyukur sekali, karena aku bisa menggapai cita-citaku nanti.
  10. 10. Di sekolahanku ada pembagian raport untuk kenaikan kelas, disaat itu aku sempat iri dengan teman-temanku, karena orangtua mereka sempat menyenyempatkan dirinya pergi ke sekolah untuk mengambil raport demi anaknya. Sedangkan aku sama sekali tidak ada yang menyempat dirinya, untuk datang ke sekolah mengambil raport ku. Aku sadar sih memang ibuku ada di Surabaya dan kakakku sibuk kerja. 6. Koda Pada saat itu Tuhan berkehendak lain kepada ku. Setelah aku buka raportku ternyata aku menjadi juara kelas di kelasku dan aku tidak menyangka akan hal ini bisa terjadi pada ku. Sejak kecil aku tidak pernah merasakan akan hal ini terjadi padaku, menjadi juara satu di kelas adalah sesuatu hal yang dulu- dulunya aku impikan dan kini telah terwujud. Dan pada saat itulah aku sadar bahwa Tuhan itu memberikan cobaan pasti
  11. 11. Pepatah mengatakan Hidup adalah tantangan. Dan orang yang tak mau bersaing dalam tantangan itu, sulit baginya untuk maju. Dan kini “Ibuku adalah orang yang mengajariku tentang arti kesabaran dan Ibu adalah Pahlawan yang Tak memiliki Sayap dan Kekuatan super, Tapi Ibu memiliki Kekuatan Hati yang Super”. Bukan hanya itu, Ibu adalah sosok wanita yang pantas mendapatkan segala bentuk kebaikan, karena sosok ibulah aku bisa terlahir dan karena sosok ibulah kita bisa merasakan indahnya kasih sayang dan kehangatan dari seorang ibu
  12. 12. UNSUR INTRINSIK CERPEN  Tema: Kasih Sayang Seorang Ibu  Latar/setting: Latar Waktu:  Larut malam Bukti: Ketika Bapak pulang larut malam Ibuku bertanya kepada Bapakku.....  Sore hari Bukti: Dan pada suatu ketika tepatnya sore hari Bapakku pulang,.....  Malam hari Bukti: Di malam harinya dengan perasaan hancur dan sesak,.....  Dua minggu kemudian Bukti: Dua minggu kemudian Ibuku pulang ke rumah, kami pun senang.
  13. 13. Latar Tempat:  Rumah Bukti: Dan suatu ketika ada seorang laki-laki yang bertamu ke rumah,.....  Di sekolah Bukti: Di sekolahanku ada pembagian raport untuk kenaikan kelas,..... Latar Suasana:  Tegang Bukti: a. Ketika Bapak pulang larut malam Ibuku bertanya kepada Bapakku “Dari mana saja kamu, jam segini kok baru pulang?”, bukannya dijawab, ibu malah dimarahin sama Bapakku. Pada saat itulah terjadi pertengkaran yang begitu dahsyat. b. Dan pada suatu ketika tepatnya sore hari Bapakku pulang, Ibuku memarahi bapak dan Ibu bertanya “Kenapa kamu hutang sebanyak itu kepada pihak Bank?”, Bapakku menjawab “Karena aku memakai uang itu untuk membuka usaha, akan tetapi usaha itu gagal sia-sia”. Ibuku tidak percaya dengan semua yang diucapkan Bapakku.Dan pada saat itulah Ibuku mengucapkan sebuah kata “PERCERAIAN”
  14. 14.  Mengharukan Bukti: a. Pada saat itu ibuku berpesan kepadaku dan kakak- kakakku “Nak, kamu jangan mencontoh perilaku Bapakakmu. Seperti itu telah membuat hati ibu sakit”. Kami pun menjawab, “Ya ibu, aku akan berbakti kepada ibu dan Bapak, walau bagaimanapun juga dia Bapakku” b. Ibuku selalu bilang padaku “Bersabarlah nak, Ibu tidak tahu apa yang harus ibu lakukan selain pergi kesana buat mencari uang untuk biaya sekolah kamu”. Disitu aku berpikir sungguh mulianya ibuku, dia mengorbankan seluruh jiwanya untuk hidupku.  Sedih Bukti: a. Ibuku sangat terpukul dan sering menangis karena takut rumahnya disita dan takut akan tinggal dimana anak- anaknya nanti. b. Kami pun bersedih karena keluarga kami tidak akan utuh lagi, akan tetapi jika Bapak dan Ibuku tidak berpisah kami juga sedih karena kami tidak tega melihat Ibu sering disakiti oleh Bapak.
  15. 15.  Senang Bukti: a. Dua minggu kemudian Ibuku pulang ke rumah, kami pun senang. b. Akan tetapi kami senang karena kami bisa hidup menjadi mandiri. c. Setelah aku buka raportku ternyata aku menjadi juara kelas di kelasku dan aku tidak menyangka akan hal ini bisa terjadi pada ku. Sejak kecil aku tidak pernah merasakan akan hal ini terjadi padaku, menjadi juara satu di kelas adalah sesuatu hal yang dulu - dulunya aku impikan dan kini telah terwujud.  Alur atau plot: Alur maju Bukti: Terdiri atas tiga tahap yaitu tahap perkenalan, tahap pertikaian dan tahap penyelesaian.
  16. 16.  Sudut pandang: Sudut pandang orang pertama pelaku utama Bukti: Pengarang memakai istilah aku dalam bercerita.  Penokohan dan karakteristik: No Tokoh Karakteristik 1 Aku (Protagonis) Pengertian dan tabah 2 Ibu (Protagonis) Sabar, penyayang, dan pekerja 3 Ayah (Antagonis) Tidak bertanggung jawab dan kasar 4 Kakak (Tritagonis) Pekerja keras  Gaya bahasa: keras  Majas metafora: Majas yang berupa kiasan persamaan antara benda yang diganti namanya dengan benda yang menggantinya. Disaat ibu pergi kami seperti hidup sebatang kara
  17. 17.  Majas personifikasi: Majas perbandingan yang menuliskan benda-benda mati menjadi seolah-olah hidup, dapat berbuat, atau bergerak.  Di malam harinya dengan perasaan hancur dan sesak  Majas hiperbola: majas yang menyatakan sesuatu dengan berlebih-lebihan.  Pada saat itulah terjadi pertengkaran yang begitu dahsyat  Tapi Ibu memiliki Kekuatan Hati yang Super  Yang ada pasti kesedihan yang berkecamuk  Majas aptronim: pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.  Ibu adalah Pahlawan yang Tak memiliki Sayap dan Kekuatan super
  18. 18. Unsur Ekstrinsik Cerpen 1. Nilai agama: Kita harus selalu ingat kepada Tuhan dalam suka maupun duka. Kita harus bersyukur apa yang telah diberikan oleh Tuhan. 2. Nilai moral: Sebagai anak, kita harus selalu menghormati orang tua. Contohnya sosok aku yang tetap menghormati bapaknya meskipun bapaknya mempunyai sifat / perilaku yang buruk. 3. Nilai pendidikan: Sebagai seorang pelajar, kita harus selalu mengutamakan pendidikan. Contohnya sosok aku yang meskipun keluarganya berantakan, ia menjadi juara satu di kelasnya.
  19. 19. Amanat   Setiap cobaan pasti ada hikmahnya.  Hidup adalah tantangan dan orang yang tak mau bersaing dalam tantangan itu, akan sulit untuk maju.  Kita harus menghormati ibu, karena ibulah kita bisa terlahir dan merasakan indahnya kasih sayang dan kehangatan dari seorang ibu.  Jika kita menghadapi suatu masalah, kita harus bertanggung jawab atas masalah tersebut.

×