Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Hari Kartini: Kebijakan Nasional Diskriminatif

986 views

Published on

Published in: News & Politics
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Hari Kartini: Kebijakan Nasional Diskriminatif

  1. 1. HARI KARTINI : KEBIJAKAN NASIONAL DISKRIMINATIF Oleh : Farid Mu’adz BasakranHari ini, 21 April 1879, merupakan hari kelahiran seorang perempuan asal Jepara yangdikemudian hari dikenal sebagai pahlawan nasional, Raden Ajeng Kartini. Ada juga yangmenyebutnya sebagai Raden Ayu Kartini. Kartini adalah putri kelima dari sebelas bersaudarapasangan Mas Adipati Ario Sosroningrat dan MA Ngasirah. Ayahnya adalah Bupati Jepara kalaitu.Menurut sejarah RA Kartini pernah mengenyam ELS (Europese Lagere School). Pada saatbersekolah di ELS itulah yang membuat Kartini kecil mampu berbahasa Belanda dan menulisdalam bahasa Belanda. Dengan modal bahasa Belanda itulah, Kartini banyak membaca buku,surat kabar dan majalah berbahasa Belanda. Hal itulah yang membuka cakrawala pemikirannyatentang emansipasi perempuan. Itu pula yang membuat Kartini terkagum-kagum dengan polapikir pemikiran Eropa yang begitu manju menurutnya.Kartini, melihat realitas pemikiranperempuan Eropa itulah yang membuatya ingin memajukan posisi perempuan pribumi.Keinginan yang kuat untuk memajukan pribumi itulah, akhirnya Kartini sering menuliskanfikiran dan berkorespondensi dengan Rose Abendanon, sehabatnya seorang perempuan Belanda.Kartini pun pernah mengirimkan beberapa kali tulisannya dan dimuat di dalam majalahperempuan berbahasa Belanda De Hollandsche Lelie.Kartini sendiri akhirnya dinikahi oleh Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, seorang MasAdipati Ario Sosroningrat karena memenuhi keinginan ayahnya, pada 12 November 1903. Pada13 September 1904, Kartini melahirkan anaknya yang pertama dan terakhir yang kemudiandiberi nama RM Soesalit. Beberapa hari kemudian, tepatnya 17 September 1904 beliaumeninggalkan dunia ini dan meninggalkan putranya yang baru berusia 4 hari itu.Kartini Tidak Istimewa.Kartini mengenyam kehidupan dunia hanya kurang lebih 25 tahun. Cukup singkat dan tidakbanyak hasil karyanya ketika itu. Karyanya hanya sekumpulan surat-surat dan buah fikirannyaselama hidupnya yang kemudian dibukukan di negeri Belanda pada tahun 1911 oleh JHAbendanon yang saat itu menjabat Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan KerajaanBelanda. Ketika diterbitkan pertama kali berjudul Door Duisternis tot Licht (Dari KegelapanMenuju Cahaya) dan sempat dicetak ulang sebanyak 5 kali.Pada tahun 1922, Penerbit Balai Pustaka menerbitkan buku surat-menyurat RA KArtini dalambahasa Melayu yang berjudul "Habis Gelap terbitlah Terang: Boeah Pikiran". Pada 1938,sastrawan Pujangga Baru Armin Pane pun mengeluarkan buku yang berjudul "Habis GelapTerbitlah Terang"
  2. 2. Buah fikiran dan surat-menyurat Kartini mengungkap cara pandang Kartini untuk meningkatkanemansipasi perempuan pribumi. Hal itulah yang kemudian menginspirasi WR Supratmanmembuat lagu "Ibu Kita Kartini".Menurut penulis, tidak ada yang istimewa dari seorang Kartini. Pertama, Kartini hanya seorangperempuan pingitan yang mudah menyerah dan tidak mempunyai kemerdekaan diri. Hal inidibuktikan dengan "menyerah"nya Kartini, ketika hendak dinikahkan oleh Bupati Rembang.Dengan menyerahnya Kartini, memperlihatkan mental terjajah seorang Kartini, dengan mentalseperti itu apakah mampu dia membangkitan peran dan posisi kaum perempuan pribumi.Kedua, Kartini terinspirasi oleh pola pikir perempuan penjajah yang ada di Belanda maupunEropa. Dalam hal ini Kartini, terjajah oleh fikiran-fikiran kaum penjajah. Tidak ada hal-hal yangbaru dari hasil pemikiran Kartini.Ada beberapa kalangan yang berusaha memahami surat-menyurat Kartini dengan memberikanbahwa perlawanan Kartini sebenarnya ketika itu ditujukan kepada kebijakan ekonomi-politikBelanda yang menindas. Jadi, bukan kepada laki-laki Jawa dari bangsanya sendiri. Kartinisendiri tidak melakukan "perlawanan" terhadap perlakuan feodal kalangan bangsawan Jawa dantradisi Jawa yang menomorduakan peran kaum perempuannya. Bahkan ditengarai, Kartini jugadipengaruhi oleh pemikiran-pemikira Yahudi dan Theosofi.Hal ini berbeda dengan tokoh perempuan luar Jawa yang sangat heroik dan bermentalmendobrak. Sebut saja Tjoet Nya Dien, Rohana Kudus, Rangkayo Rasuna Said, MarthaChristina Tiahahu, dan lain-lain.Kebijakan Nasional DiskriminatifPeringatan Hari Kartini, diambil dari hari kelahirannya, dimulai saat Presiden Soekarnomengeluarkan Keputusan Presiden No. 108 Tahun 1964 yang menetapkan Kartini sebagaiPahlawan Nasional dan sekaligus menetapkan hari lahirnya pada tanggal 21 April sebagai HariKartini.Keputusan Presiden No. 108 tahun 1964 itu dikeluarkan oleh Presiden Soekarno, 3 tahunmenjelang kejatuhannya sebagai Penguasa Orde lama. Saat itu Presiden Soekarno sedang terbuaidengan kekuasaanya dan sempat dikukuhkan oleh MPR ketika itu sebagai Presiden seumur hidupdan banyak dilingkari oleh politisi-politisi yang berusaha mencari muka di hadapannya.Dalam kondisi sosio-politis saat itu, sulit untuk merumuskan landasan filosofis yang obyektif,untuk menetapkan hari lahir Kartini pada 21 April sebagai Hari Kartini. Penetapan RA Kartinisebagai pahlawan nasional dalam Keppres tersebut, mungkin tidak ada salahnya dan hak beliauuntuk mendapatkan gelar tersebut.
  3. 3. Namun penetapan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini itulah yang tidak dapat diterima secarasosologis, filosofis dan yuridis. Materi muatan Keppres No. 108 tahun 1964, terutamamenyangkut penetapannya tanggal 21 April sebagai Hari Kartini, adalah sangat diskriminatif.Kalau tidak ada diskriminatif seharusnya tidak ada Hari Kartini. Untuk mempersamakannya,seharusnya ada Hari Soekarno, Hari Hatta, Hari Dewi Sartika, Hari Tjut Nya’ Dien, Hari RohanaKudus, dan lain sebagainya. Keppres itu secara sosio-politis menandakan ada pemikiran Jawasentries dalam lingkaran kekuasaan Soekarno, dan membedakan peran dan posisi kaumperempuan kaum Jawa.Seharusnya Keppres No. 108 tahun 1964 ini di tinjau ulang, baik dengan keinginan sendiri daripemerintahan saat ini, atau ada daerah-daerah luar Jawa mengajukan judicial review keMahkamah Agung RI untuk mengubah penetapan tanggal 21 April setiap tahunnya, tanpamengubah penetapan Kartini sebagai pahlawan nasional.Penulis melihat ada potensi disintegrasi, bila ini tidak disikapi sejak awal. Kemungkinan adakecemburuan dan jurang sosiologis dan politis yang menganga di kemudian hari.

×