SlideShare a Scribd company logo

kultum 16.docx

A
adiabadi1

agama

1 of 7
Download to read offline
Secara umum, umat muslim mengetahui bahwa hanya Allah Maha
pemberi rezeki dalam kehidupannya. Hanya saja, pada kondisi
tertentu seringkali manusia merasakan apa yang diperolehnya tak
cukup hingga pikirannya mencari berbagai penyebab rezeki seret.
Bahkan mereka menyalahkan Allah karena rezeki yang seret
tersebut.
Banyak orang menyalahartikan rezeki itu hanya terbatas pada harta
kekayaan saja. Lantas apa hakekat rezeki itu?
Pengertian Rezeki
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kata rezeki
memiliki dua arti yaitu, pertama rezeki adalah segala sesuatu yang
dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan)
berupa makanan (sehari-hari); nafkah. Kedua, yaitu kata kiasan dari
penghidupan, pendapatan, (uang dan sebagainya yang digunakan
memelihara kehidupan), keuntungan, kesempatan mendapatkan
makanan dan sebagainya[2].
Adapun defenisi lain, kata rezeki berasal dari bahasa Arab. Secara
etimologi, ‫رزق‬ berarti pemberian[3]. Adapun menurut istilah, Al-
Jurjani menyebutkan ar-rizq berarti segala sesuatu yang diberikan
oleh Allah s.w.t. kepada makhluk-Nya untuk mereka konsumsi,
baik halal atau haram[4].
Landasan Syariah
Adapun dalam pandangan Islam, rezeki bukanlah senata-mata
materi, harta, dan benda saja. Apalagi, yang hanya terbatas karena
hasil usaha (kerja) manusia itu sendiri. Rezeki dalam Islam
melingkupi semua apa yang ada dalam kehidupan manusia. Berupa
waktu, kesehatan, kesempatan, kecerdasan, istri, anak, orang tua,
tetangga, teman, lingkungan, hujan, tanaman, hewan piaraan dan
masih banyak sekali yang lainnya.
Sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala jelaskan di dalam Al-
Qur’an yang artinya:
َ
‫ْل‬َ‫و‬ ُ ‫ه‬
‫ّٰللا‬ ُ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ق‬َ‫ز‬َ‫ر‬ ‫ا‬َّ‫م‬ِ‫م‬ ‫ا‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ل‬ُ‫ك‬ ۗ ‫ًا‬‫ش‬‫ا‬‫ر‬َ‫ف‬َّ‫و‬ ً‫ة‬َ‫ل‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫م‬َ‫ح‬ ِ‫ام‬َ‫ع‬‫ا‬‫ن‬َ ‫ا‬
‫اْل‬ َ‫ن‬ِ‫م‬َ‫و‬
‫ه‬َّ‫ن‬ِ‫ا‬ ِۗ‫ن‬ٰ‫ط‬‫ا‬‫ي‬َّ‫ش‬‫ال‬ ِ‫ت‬ ٰ
‫و‬ُ‫ط‬ُ‫خ‬ ‫ا‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ع‬ِ‫ب‬َّ‫ت‬َ‫ت‬
ٗ
‫ا‬‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬
‫ُو‬‫د‬َ‫ع‬
‫ن‬‫ا‬‫ي‬ِ‫ب‬ُّ‫م‬
“dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk
pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. makanlah dari
rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu
mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu
musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-An’am: 142)
Kemudian itulah mengapa Allah s.w.t. mengingatkan manusia
bahwa nikmat (rezeki) Allah terhadap manusia sungguh tidak akan
pernah bisa dihitung. Sebab, Allah s.w.t. telah menyediakan untuk
umat manusia apa saja yang manusia perlukan pada segala situasi
dan kondisi.
َ
‫ْل‬ ِ ‫ه‬
‫ّٰللا‬ َ‫ت‬َ‫م‬‫ا‬‫ع‬ِ‫ن‬ ‫ا‬ ‫ا‬‫ُّو‬‫د‬ُ‫ع‬َ‫ت‬ ‫ا‬‫ِن‬‫ا‬َ‫و‬ ُۗ‫ه‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫م‬ُ‫ت‬‫ا‬‫ل‬َ‫ا‬َ‫س‬ ‫ا‬َ‫م‬ ِ‫ُل‬‫ك‬ ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬‫م‬ُ‫ك‬‫ى‬ٰ‫ت‬ٰ‫ا‬َ‫و‬
‫ار‬َّ‫ف‬َ‫ك‬ ‫م‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ل‬َ‫ظ‬َ‫ل‬ َ‫ان‬َ‫س‬‫ا‬‫ن‬ِ ‫ا‬
‫اْل‬ َّ‫ِن‬‫ا‬ ۗ‫ا‬َ‫ه‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ص‬‫ا‬‫ح‬ُ‫ت‬
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala
apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung
nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.
Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari
(nikmat Allah).” (QS: Ibrahim: 34).
Allah s.w.t. memang memberikan rezeki kepada semua makhluk-
Nya, tetapi tidak semua mendapatkan rezeki yang mulia dari-Nya.
Lantas, siapa sajakah mereka itu? Allah s.w.t. menegaskan dalam
Al-Qur’an:
ٰ‫ح‬ِ‫ل‬‫ه‬‫ص‬‫ال‬ ‫وا‬ُ‫ل‬ِ‫َم‬‫ع‬َ‫و‬ ‫ا‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ن‬َ‫م‬ٰ‫ا‬ َ‫ن‬‫ا‬‫ي‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬َ‫ف‬
‫ق‬‫ا‬‫ز‬ ِ
‫ر‬َّ‫و‬ ‫ة‬َ‫ر‬ِ‫ف‬‫ا‬‫غ‬َّ‫م‬ ‫ا‬‫م‬ُ‫ه‬َ‫ل‬ ِ‫ت‬
‫م‬‫ا‬‫ي‬ ِ
‫َر‬‫ك‬
“Maka orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi
mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. Al-Hajj: 50) .
Terhadap ayat tersebut, Ibn Katsir mengutip pernyataan
Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi. “Apabila engkau mendengar
firman Allah Ta’ala (wa rizqun karim) ‘Dan rezeki yang mulia,’
maka rezeki yang mulia itu adalah surga[5].”
Dengan demikian, maka sebaik-baik rezeki adalah surga. Jadi,
dalam kehidupan dunia ini kita harus mengutamakan dua perkara
penting, yakni iman dan amal sholeh. Karena hanya keduanyalah
yang dapat mengantarkan setiap jiwa mendapatkan rezeki yang
mulia.
Sangat tidak patut bahkan sangat tercela bila ada seorang Muslim
merasa terhina hanya karena kurang harta. Apalagi kalau sampai
berani mengambil keputusan tidak benar dalam hidupnya karena
alasan kemiskinan. Sebab, rezeki yang paling mulia adalah surga,
bukan harta atau benda. Itulah sebabnya mengapa, para Nabi dan
Rasul tidak pernah berbangga dengan rezeki yang didapatkan
berupa harta dan benda yang dimiliknya. Bahkan para Nabi dan
Rasul itu lebih memilih hidup susah demi rezeki yang mulia di sisi-
Nya. Namun demikian, Islam tidak mengharamkan umatnya kaya
raya. Karena kekayaan yang disertai iman juga bisa mengantarkan
seseorang pada derajat yang mulia di sisi-Nya[6].
Macam-macam Rezeki
Menurut Syaikh Abdur Razzaq bin Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr,
rezeki Allah s.w.t. bagi hamba-Nya ada dua macam:
1. Rezeki yang umum yang mencakup orang yang baik dan
jelek, yang mukmin dan kafir, yang pertama dan yang
terakhir, yaitu rezeki badan. Allah s.w.t. berfirman yang
artinya:
ُ‫م‬َ‫ل‬‫ا‬‫ع‬َ‫ي‬َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُ‫ق‬‫ا‬‫ز‬ ِ‫ر‬ ِ ‫ه‬
‫ّٰللا‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َّ
‫ِْل‬‫ا‬ ِ
‫ض‬‫ا‬‫ر‬َ ‫ا‬
‫اْل‬ ‫ى‬ِ‫ف‬ ٍ‫ة‬َّ‫ب‬ۤ‫َا‬‫د‬ ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬
ٍ‫ن‬‫ا‬‫ي‬ِ‫ب‬ُّ‫م‬ ٍ‫ب‬ٰ‫ت‬ِ‫ك‬ ‫ا‬‫ي‬ِ‫ف‬ ‫ُل‬‫ك‬ ۗ ‫ا‬َ‫ه‬َ‫ع‬َ‫د‬ ‫ا‬‫و‬َ‫ت‬‫ا‬‫س‬ُ‫م‬َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ه‬َّ‫ر‬َ‫ق‬َ‫ت‬‫ا‬‫س‬ُ‫م‬
“dan tidak ada suatu binatang melata[7] pun di bumi
melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia
mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat
penyimpanannya[8], semuanya tertulis dalam kitab yang
nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud: 6).
Jika Allah memberi rezeki dan anak keturunan kepada orang kafir
dan melapangkannya bukan berarti Allah ridha’ terhadapnya.
Sebagaimana yang ditegaskan dalam al-Qur’an, Allah berfirman
‫ا‬‫م‬ُ‫ه‬َ‫ب‬ِ‫ذ‬َ‫ع‬ُ‫ي‬ِ‫ل‬ ُ ‫ه‬
‫ّٰللا‬ ُ‫د‬‫ا‬‫ي‬ ِ
‫ر‬ُ‫ي‬ ‫ا‬َ‫م‬َّ‫ن‬ِ‫ا‬ۗ ‫ا‬‫م‬ُ‫ه‬ُ‫د‬ َ
‫ْل‬ ‫ا‬‫و‬َ‫ا‬ ٓ َ
‫ْل‬َ‫و‬ ‫ا‬‫م‬ُ‫ه‬ُ‫ل‬‫ا‬َ‫و‬‫ا‬‫م‬َ‫ا‬ َ‫ك‬‫ا‬‫ب‬ ِ‫ج‬‫ا‬‫ع‬ُ‫ت‬ َ
‫َل‬َ‫ف‬
‫ا‬‫ن‬ُّ‫د‬‫ال‬ ِ‫ة‬‫و‬ٰ‫ي‬َ‫ح‬‫ا‬‫ل‬‫ا‬ ‫ى‬ِ‫ف‬ ‫ا‬َ‫ه‬ِ‫ب‬
َ‫ن‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ر‬ِ‫ف‬ٰ‫ك‬ ‫ا‬‫م‬ُ‫ه‬َ‫و‬ ‫ا‬‫م‬ُ‫ه‬ُ‫س‬ُ‫ف‬‫ا‬‫ن‬َ‫ا‬ َ‫ق‬َ‫ه‬‫ا‬‫ز‬َ‫ت‬َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ي‬
Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum.
Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa
mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan
kafir.
Rezeki yang khusus, yaitu rezeki hati dan siramannya berupa ilmu,
iman, dan rezeki halal yang dapat memperbaiki agama seorang
hamba. Dan ini khusus bagi orang-orang yang beriman sesuai
dengan tingkatan mereka darinya, sesuai dengan ketentuan hikmah
dan rahmat-Nya. Dan Allah menyempurnakan kemuliaan-Nya bagi
mereka dan menganugerahkan kepada mereka surga yang penuh
dengan kenikmatan pada hari kiamat[10]. Sebagaimana firman
Allah s.w.t. dalam al-Qur’an
ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ َ‫ج‬ ِ
‫ر‬‫ا‬‫خ‬ُ‫ي‬ِ‫ل‬ ٍ‫ت‬ٰ‫ن‬ِ‫ي‬َ‫ب‬ُ‫م‬ ِ ‫ه‬
‫ّٰللا‬ ِ‫ت‬ٰ‫ي‬ٰ‫ا‬ ‫ا‬‫م‬ُ‫ك‬‫ا‬‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ‫ا‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ل‬‫ا‬‫ت‬َّ‫ي‬ ً
‫ْل‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫س‬َّ‫ر‬
‫ا‬‫ي‬
‫ا‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ن‬َ‫م‬ٰ‫ا‬ َ‫ن‬
ْۢ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬‫ا‬‫ؤ‬ُّ‫ي‬ ‫ا‬‫ن‬َ‫م‬َ‫و‬ ِۗ‫ر‬ ‫ا‬‫و‬ُّ‫ن‬‫ال‬ ‫ى‬َ‫ل‬ِ‫ا‬ ِ‫ت‬ ٰ‫م‬ُ‫ل‬ُّ‫ظ‬‫ال‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ ِ‫ت‬ ٰ‫ح‬ِ‫ل‬‫ه‬‫ص‬‫ال‬ ‫وا‬ُ‫ل‬ِ‫َم‬‫ع‬َ‫و‬
‫ا‬َ‫ه‬ِ‫ت‬‫ا‬‫ح‬َ‫ت‬ ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬‫ي‬ ِ
‫ر‬‫ا‬‫ج‬َ‫ت‬ ٍ‫ت‬‫ه‬‫ن‬َ‫ج‬ ُ‫ه‬‫ا‬‫ل‬ ِ‫اخ‬‫د‬ُّ‫ي‬ ‫ا‬ً‫ح‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫ص‬ ‫ا‬‫ل‬َ‫م‬‫ا‬‫ع‬َ‫ي‬َ‫و‬ ِ ‫ه‬
‫اّٰلل‬ِ‫ب‬
‫ه‬َ‫ل‬ ُ ‫ه‬
‫ّٰللا‬ َ‫ن‬َ‫س‬‫ا‬‫ح‬َ‫ا‬ ‫ا‬‫د‬َ‫ق‬ ۗ‫ًا‬‫د‬َ‫ب‬َ‫ا‬ ٓ‫ا‬َ‫ه‬‫ا‬‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫ن‬‫ا‬‫ي‬ِ‫د‬ِ‫ل‬ ٰ‫خ‬ ُ‫ر‬ ٰ‫ه‬‫ا‬‫ن‬َ ‫ا‬
‫اْل‬
ٗ
‫ا‬ً‫ق‬‫ا‬‫ز‬ ِ
‫ر‬
“(dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-
ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya
Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh
dari kegelapan kepada cahaya. dan Barangsiapa beriman kepada
Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan
memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.” (QS.
Ath-Thalaq: 11)
Batasan Rezeki
Batasan rezeki dalam kehidupan manusia harus diperluas agar
setiap saat kita tetap bersyukur kepada Allah s.w.t. atas nikmat yang
telah Allah s.w.t. berikan tidak hanya sebatas harta kekayaan
semata melaikan semua aspek yang berkitan dengan kehidupan baik
di dunia maupun di akhirat.
Konteks rezeki bisa bermacam-macam wujudnya, contohnya;
penciptaan kita sebagai manusia makhluk yang mempunyai banyak
kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah
yang lainnya, penciptaan langit dan bumi dari sanalah Allah
menghampar rezeki-rezekinya untuk manusia yang mau terus
berusaha, berfungsinya akal yang kita miliki dengan baik dan
normal, keimanan dan keislaman adalah rezeki, sehat, hujan,
kemarau, kehidupan, ilmu yang bermanfaat, saudara seiman
merupakan sebagian kecil rezeki yang Allah berikan.
Jika konteks rezeki demikian luas, mengapa kita mempersempit
makna rezeki itu sendiri hanya dalam batas kekayaan semata? Kita
sebagai manusia kadang sangat lupa karunia yang Allah berikan
kepada kita sebagai manusia, bila saja kita diciptakan sebagai
hewan apakah kita akan menikmati rezeki yang Allah berikan
layaknya kita sebagai manusia? Manusia adalah makhluk yang
terkadang melupkan rasa syukur terhadap rezeki yang Allah
berikan. Selayaknya sebagai manusia yang memiliki iman kita tetap
berusahan memperoleh rezeki yang telah Allah janjikan kepada
hamba-hamba-Nya dan terus berusaha di jalan Allah dengan cara
halal dan baik[11].
Berusaha mencari rezeki
Ummat manusia telah dijadikan sebagai ummat yang lebih mulia
dibanding kebanyakan makhluk-Nya. Sehingga merupakan suatu
kehinaan bagi mereka bila mereka merendahkan dirinya dengan
mengagungkan dan mengibadahi sesama makhluk, misalnya sapi,
ular, kerbau, jin, wali, Nabi, atau senjata dan lainnya[12]. Padahal
kedudukannya sama atau bahkan lebih rendah dibanding mereka,
bahkan kebanyakan mereka diciptakan di dunia ini untuk
kepentingan manusia[13].
Qatadah rahimahullahu ta’ala berkata yang artinya: “Tidaklah
ada suatu perangai baik yang pernah diyakini dan diamalkan kaum
Jahiliyyah zaman dahulu melainkan telah Allah perintahkan. Dan
tiada perangai buruk yang dahulu mereka jadikan bahan celaan
kecuali telah Allah larang. Dan sesungguhnya yang Allah larang
hanyalah perangai-perangai yang rendah dan tercela”.[14]
Diantara bentuk akhlak dan kepribadian mulia yang diajarkan oleh
Islam kepada ummatnya adalah sifat mandiri dan tidak
menggantungkan diri kepada orang lain dalam setiap keperluan
hidupnya. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w. bersabda
ِ‫ل‬‫و‬ُ‫س‬َ‫ر‬ ‫ا‬‫َن‬‫ع‬ ‫ه‬‫ا‬‫ن‬َ‫ع‬ ‫هم‬َّ‫ل‬‫ال‬ ‫ي‬ ِ
‫ض‬َ‫ر‬ ِ‫َام‬‫د‬‫ا‬‫ق‬ِ‫م‬‫ا‬‫ل‬‫ا‬
‫هم‬َّ‫ل‬‫ال‬ ‫ى‬َّ‫ل‬َ‫ص‬ ِ َّ
‫ّٰللا‬
‫ا‬‫ن‬َ‫أ‬ ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬ً‫ر‬‫ا‬‫ي‬َ‫خ‬ ُّ‫ط‬َ‫ق‬ ‫ا‬ً‫م‬‫ا‬َ‫ع‬َ‫ط‬ ‫د‬َ‫ح‬َ‫أ‬ َ‫ل‬َ‫ك‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫م‬(( :َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ه‬‫ا‬‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬
َ‫َان‬‫ك‬ ‫م‬ َ
‫َل‬َّ‫س‬‫ال‬ ِ‫ه‬‫ا‬‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َ‫د‬ُ‫َاو‬‫د‬ ِ َّ
‫ّٰللا‬ َّ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫ن‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ِ‫د‬َ‫ي‬ ِ‫ل‬َ‫م‬َ‫ع‬ ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ل‬ُ‫ك‬‫ا‬‫أ‬َ‫ي‬
‫البخاري‬ ‫رواه‬ ))ِ‫ه‬ِ‫د‬َ‫ي‬ ِ‫ل‬َ‫م‬َ‫ع‬ ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬ ُ‫ل‬ُ‫ك‬‫ا‬‫أ‬َ‫ي‬
.
Dari al-Miqdam Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang (hamba) memakan
makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan
sungguh Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil usaha
tangannya (sendiri)” HR. Al-Bukhari
Dalam hadits ini, Rasulullah s.a.w. secara khusus menyebutkan
bahwa Nabi Dawud a.s. makan dari hasil pekerjaan tangannya
sendiri, ini dikarenakan beliau adalah seorang Nabi yang diberi
kekayaan dan kekuasaan, akan tetapi walau demikian adanya,
beliau tidak mau memakan kecuali dari hasil pekerjaannya
sendiri[16].
Pada hadits yang lain, Rasulullah s.a.w. bersabda “Sungguh
seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu dia mencari seikat
kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya kemudian dia
menjualnya lalu Allah mencukupkannya dengan kayu itu lebih baik
baginya daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik
manusia itu memberinya atau menolaknya”. (HR. Bukhari)
Dan juga dalam hadits lain yang berkaitan dengan hadits di atas
adalah sabda Rasulullah s.a.w. yang artinya: “Tangan yang di atas
lebih baik dibanding tangan yang di bawah, tangan yang di atas
adalah tangan yang memberi, sedangkan tangan yang di bawah
adalah tangan peminta.”[17]
Oleh karena itu, dahulu para sahabat dan ulama salaf bekerja guna
mencukupi kebutuhannya sendiri atau mencari rezeki, ada yang
berdagang, ada yang bercocok tanam, dan ada yang menjadi pekerja
tanpa ada rasa sungkan atau gengsi.
Dalam Hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim diceritakan
bahwa bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu ketika berdiri
memberikan khuthbah pada hari Jum’at, tiba-tiba ada seorang
laki-laki masuk (Masjid). ‘Umar lalu bertanya, “Kenapa anda
terlambat shalat?” Laki-laki itu menjawab: “Aku tidak tahu hingga
aku mendengar adzan, maka aku pun hanya berwudhu.” Maka
“Umar berkata, “Bukankah kamu sudah mendengar bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jika salah seorang dari
kalian berangkat shalat jum’at hendaklah mandi, Sahabat ‘Umar
bin Khaththab r.a. tidak mencela sahabat ini karena ia bekerja
mencari rezeki, akan tetapi mencelanya karena ia terlambat hadir
shalat jum’at dan melupakan kewajiban mandi sebelum menghadiri
shalat jum’at [18]”.
Rezeki vs bekerja.
Dan yang perlu di pahami adalah rezeki dan kerja merupakan dua
hal yang berbeda. Menggantungkan rezeki semata-mata pada
pekerjaan yang kita lakukan adalah kesalahan, sebagai mana
Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi telah memperingatkan dalam
bukunya “Rezeki” (Gema Insani Press, 1995), Allah maha luas
rezeki-Nya.
Mengantungkan rezeki semata-mata pada pekerjaan yang kita
lakukan sama dengan mempersempit pintu rezeki, padahal Allah
membukanya lebar-lebar untuk kita. Akan tetapi mengharapkan

Recommended

Harta dari perspektif islam 2
Harta dari perspektif islam 2Harta dari perspektif islam 2
Harta dari perspektif islam 2Abdul Ghani
 
Konsep harta dalam isalm
Konsep harta dalam isalmKonsep harta dalam isalm
Konsep harta dalam isalmQila Aqila
 
Panduan islam dalam mencari rejeki
Panduan islam dalam mencari rejekiPanduan islam dalam mencari rejeki
Panduan islam dalam mencari rejekiBahRum Subagia
 
Harta dari perspektif islam
Harta dari perspektif islamHarta dari perspektif islam
Harta dari perspektif islamAbdul Ghani
 
Mutammam Perilaku terpuji
Mutammam Perilaku terpujiMutammam Perilaku terpuji
Mutammam Perilaku terpujiAan Editing
 

More Related Content

Similar to kultum 16.docx

Fakta dan fenomena kebenaran sifat sifat asmaul husna 9
Fakta dan fenomena kebenaran sifat sifat asmaul husna 9Fakta dan fenomena kebenaran sifat sifat asmaul husna 9
Fakta dan fenomena kebenaran sifat sifat asmaul husna 9Naila N. K
 
13 sistem khalifah alya ameera azizul
13 sistem khalifah alya ameera azizul13 sistem khalifah alya ameera azizul
13 sistem khalifah alya ameera azizulDania Azmy
 
Sistem Khalifah
Sistem Khalifah Sistem Khalifah
Sistem Khalifah m10ehebat
 
2. akidah teras pembangunan muslim
2. akidah teras pembangunan muslim2. akidah teras pembangunan muslim
2. akidah teras pembangunan muslimShahirah Said
 
43. rizki berkah
43. rizki berkah43. rizki berkah
43. rizki berkahTiara Fida
 
Bab III ( asmaul khusna )
Bab III ( asmaul khusna )Bab III ( asmaul khusna )
Bab III ( asmaul khusna )Maghfiroh Firoh
 
Bab iii ( asmaul khusna )
Bab iii ( asmaul khusna )Bab iii ( asmaul khusna )
Bab iii ( asmaul khusna )Maghfiroh Firoh
 
Memahami jalan rezeki bagi manusia
Memahami jalan rezeki bagi manusiaMemahami jalan rezeki bagi manusia
Memahami jalan rezeki bagi manusiaIyeh Solichin
 
4 golongan manusia yang dirindukan syurga
4 golongan manusia yang dirindukan syurga4 golongan manusia yang dirindukan syurga
4 golongan manusia yang dirindukan syurgaJajat Sudrajat
 
E proposal pondok tahfidzul qur'an bakhutma
E proposal pondok tahfidzul qur'an bakhutmaE proposal pondok tahfidzul qur'an bakhutma
E proposal pondok tahfidzul qur'an bakhutmaFori Suwargono
 
Amalan murah rezeki
Amalan murah rezekiAmalan murah rezeki
Amalan murah rezekikayuhoki75
 
Ppt presentasi ekonomi islam pengertian harta dalam islam
Ppt presentasi ekonomi islam pengertian harta dalam islamPpt presentasi ekonomi islam pengertian harta dalam islam
Ppt presentasi ekonomi islam pengertian harta dalam islamppt education
 
Nurin Handayani, Agama Islam, Sosiologi, Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos.
Nurin Handayani, Agama Islam, Sosiologi, Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos.Nurin Handayani, Agama Islam, Sosiologi, Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos.
Nurin Handayani, Agama Islam, Sosiologi, Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos.NurinHandayani
 
KELOMPOK 1_MANUSIA DAN AGAMA.pptx
KELOMPOK 1_MANUSIA DAN AGAMA.pptxKELOMPOK 1_MANUSIA DAN AGAMA.pptx
KELOMPOK 1_MANUSIA DAN AGAMA.pptxAdhiWahyudi3
 

Similar to kultum 16.docx (20)

Agama
AgamaAgama
Agama
 
Fakta dan fenomena kebenaran sifat sifat asmaul husna 9
Fakta dan fenomena kebenaran sifat sifat asmaul husna 9Fakta dan fenomena kebenaran sifat sifat asmaul husna 9
Fakta dan fenomena kebenaran sifat sifat asmaul husna 9
 
13 sistem khalifah alya ameera azizul
13 sistem khalifah alya ameera azizul13 sistem khalifah alya ameera azizul
13 sistem khalifah alya ameera azizul
 
Sistem Khalifah
Sistem Khalifah Sistem Khalifah
Sistem Khalifah
 
2. akidah teras pembangunan muslim
2. akidah teras pembangunan muslim2. akidah teras pembangunan muslim
2. akidah teras pembangunan muslim
 
43. rizki berkah
43. rizki berkah43. rizki berkah
43. rizki berkah
 
Tauhid ppt
Tauhid pptTauhid ppt
Tauhid ppt
 
9. Macam2 Akhlak.pptx
9. Macam2 Akhlak.pptx9. Macam2 Akhlak.pptx
9. Macam2 Akhlak.pptx
 
Bab III ( asmaul khusna )
Bab III ( asmaul khusna )Bab III ( asmaul khusna )
Bab III ( asmaul khusna )
 
Bab iii ( asmaul khusna )
Bab iii ( asmaul khusna )Bab iii ( asmaul khusna )
Bab iii ( asmaul khusna )
 
Memahami jalan rezeki bagi manusia
Memahami jalan rezeki bagi manusiaMemahami jalan rezeki bagi manusia
Memahami jalan rezeki bagi manusia
 
4 golongan manusia yang dirindukan syurga
4 golongan manusia yang dirindukan syurga4 golongan manusia yang dirindukan syurga
4 golongan manusia yang dirindukan syurga
 
Uas pai
Uas paiUas pai
Uas pai
 
E proposal pondok tahfidzul qur'an bakhutma
E proposal pondok tahfidzul qur'an bakhutmaE proposal pondok tahfidzul qur'an bakhutma
E proposal pondok tahfidzul qur'an bakhutma
 
Amalan murah rezeki
Amalan murah rezekiAmalan murah rezeki
Amalan murah rezeki
 
Ppt presentasi ekonomi islam pengertian harta dalam islam
Ppt presentasi ekonomi islam pengertian harta dalam islamPpt presentasi ekonomi islam pengertian harta dalam islam
Ppt presentasi ekonomi islam pengertian harta dalam islam
 
Ma’rifatul insan
Ma’rifatul insan Ma’rifatul insan
Ma’rifatul insan
 
Nurin Handayani, Agama Islam, Sosiologi, Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos.
Nurin Handayani, Agama Islam, Sosiologi, Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos.Nurin Handayani, Agama Islam, Sosiologi, Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos.
Nurin Handayani, Agama Islam, Sosiologi, Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos.
 
KELOMPOK 1_MANUSIA DAN AGAMA.pptx
KELOMPOK 1_MANUSIA DAN AGAMA.pptxKELOMPOK 1_MANUSIA DAN AGAMA.pptx
KELOMPOK 1_MANUSIA DAN AGAMA.pptx
 
Qona'ah
Qona'ahQona'ah
Qona'ah
 

More from adiabadi1

kultum 15.docx
kultum 15.docxkultum 15.docx
kultum 15.docxadiabadi1
 
kultum 13.docx
kultum 13.docxkultum 13.docx
kultum 13.docxadiabadi1
 
Kultum 8.docx
Kultum 8.docxKultum 8.docx
Kultum 8.docxadiabadi1
 
kultum8.docx
kultum8.docxkultum8.docx
kultum8.docxadiabadi1
 
Gaya Kepemimpinan.ppt
Gaya Kepemimpinan.pptGaya Kepemimpinan.ppt
Gaya Kepemimpinan.pptadiabadi1
 
teori antrian.ppt
teori antrian.pptteori antrian.ppt
teori antrian.pptadiabadi1
 
1.MANAJEMEN_OPERASIONAL.ppt.ppt
1.MANAJEMEN_OPERASIONAL.ppt.ppt1.MANAJEMEN_OPERASIONAL.ppt.ppt
1.MANAJEMEN_OPERASIONAL.ppt.pptadiabadi1
 
PENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docx
PENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docxPENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docx
PENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docxadiabadi1
 
PENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docx
PENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docxPENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docx
PENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docxadiabadi1
 
Puasa (Kelompok 2).pptx
Puasa (Kelompok 2).pptxPuasa (Kelompok 2).pptx
Puasa (Kelompok 2).pptxadiabadi1
 
keempat.pptx
keempat.pptxkeempat.pptx
keempat.pptxadiabadi1
 
islamisasi ilmu.pdf
islamisasi ilmu.pdfislamisasi ilmu.pdf
islamisasi ilmu.pdfadiabadi1
 
RPS AIK4.docx
RPS AIK4.docxRPS AIK4.docx
RPS AIK4.docxadiabadi1
 
pertemuan 2.pptx
pertemuan 2.pptxpertemuan 2.pptx
pertemuan 2.pptxadiabadi1
 
islamisasi ilmu1.pptx
islamisasi ilmu1.pptxislamisasi ilmu1.pptx
islamisasi ilmu1.pptxadiabadi1
 
pertemuan 1.pptx
pertemuan 1.pptxpertemuan 1.pptx
pertemuan 1.pptxadiabadi1
 
Manajemen Pemasaran Bank.pptx
Manajemen Pemasaran Bank.pptxManajemen Pemasaran Bank.pptx
Manajemen Pemasaran Bank.pptxadiabadi1
 
SAP DAN SILABUS KKNI 24 SEPT .docx
SAP DAN SILABUS KKNI 24 SEPT .docxSAP DAN SILABUS KKNI 24 SEPT .docx
SAP DAN SILABUS KKNI 24 SEPT .docxadiabadi1
 

More from adiabadi1 (20)

kultum 15.docx
kultum 15.docxkultum 15.docx
kultum 15.docx
 
kultum 13.docx
kultum 13.docxkultum 13.docx
kultum 13.docx
 
YATIMAN.pdf
YATIMAN.pdfYATIMAN.pdf
YATIMAN.pdf
 
Kultum 8.docx
Kultum 8.docxKultum 8.docx
Kultum 8.docx
 
kultum8.docx
kultum8.docxkultum8.docx
kultum8.docx
 
Gaya Kepemimpinan.ppt
Gaya Kepemimpinan.pptGaya Kepemimpinan.ppt
Gaya Kepemimpinan.ppt
 
teori antrian.ppt
teori antrian.pptteori antrian.ppt
teori antrian.ppt
 
1.MANAJEMEN_OPERASIONAL.ppt.ppt
1.MANAJEMEN_OPERASIONAL.ppt.ppt1.MANAJEMEN_OPERASIONAL.ppt.ppt
1.MANAJEMEN_OPERASIONAL.ppt.ppt
 
PENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docx
PENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docxPENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docx
PENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docx
 
PENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docx
PENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docxPENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docx
PENILAIAN ARTIKEL MASTAMA21.docx
 
kelima.pptx
kelima.pptxkelima.pptx
kelima.pptx
 
Puasa (Kelompok 2).pptx
Puasa (Kelompok 2).pptxPuasa (Kelompok 2).pptx
Puasa (Kelompok 2).pptx
 
keempat.pptx
keempat.pptxkeempat.pptx
keempat.pptx
 
islamisasi ilmu.pdf
islamisasi ilmu.pdfislamisasi ilmu.pdf
islamisasi ilmu.pdf
 
RPS AIK4.docx
RPS AIK4.docxRPS AIK4.docx
RPS AIK4.docx
 
pertemuan 2.pptx
pertemuan 2.pptxpertemuan 2.pptx
pertemuan 2.pptx
 
islamisasi ilmu1.pptx
islamisasi ilmu1.pptxislamisasi ilmu1.pptx
islamisasi ilmu1.pptx
 
pertemuan 1.pptx
pertemuan 1.pptxpertemuan 1.pptx
pertemuan 1.pptx
 
Manajemen Pemasaran Bank.pptx
Manajemen Pemasaran Bank.pptxManajemen Pemasaran Bank.pptx
Manajemen Pemasaran Bank.pptx
 
SAP DAN SILABUS KKNI 24 SEPT .docx
SAP DAN SILABUS KKNI 24 SEPT .docxSAP DAN SILABUS KKNI 24 SEPT .docx
SAP DAN SILABUS KKNI 24 SEPT .docx
 

Recently uploaded

INSTRUMEN ASESMEN MADRASAH KEMENTERIAN AGAMA.pptx
INSTRUMEN ASESMEN MADRASAH KEMENTERIAN AGAMA.pptxINSTRUMEN ASESMEN MADRASAH KEMENTERIAN AGAMA.pptx
INSTRUMEN ASESMEN MADRASAH KEMENTERIAN AGAMA.pptxnurhayatisyarifi
 
PELAKSANAAN & Link2 MATERI Workshop _Prinsip & Penerapan TATA KELOLA Perusah...
PELAKSANAAN & Link2  MATERI Workshop _Prinsip & Penerapan TATA KELOLA Perusah...PELAKSANAAN & Link2  MATERI Workshop _Prinsip & Penerapan TATA KELOLA Perusah...
PELAKSANAAN & Link2 MATERI Workshop _Prinsip & Penerapan TATA KELOLA Perusah...Kanaidi ken
 
Artikel STAD Tingkatkan Prestasi Belajar PPKn dan Keterampilan peserta didik....
Artikel STAD Tingkatkan Prestasi Belajar PPKn dan Keterampilan peserta didik....Artikel STAD Tingkatkan Prestasi Belajar PPKn dan Keterampilan peserta didik....
Artikel STAD Tingkatkan Prestasi Belajar PPKn dan Keterampilan peserta didik....BAYULAKSONOJAELANE
 
LKPD AKTIVITAS MASA HINDU-BUDDHA-IPS KELAS 7
LKPD AKTIVITAS MASA HINDU-BUDDHA-IPS KELAS 7LKPD AKTIVITAS MASA HINDU-BUDDHA-IPS KELAS 7
LKPD AKTIVITAS MASA HINDU-BUDDHA-IPS KELAS 7MuhamadNgafifi
 
LAPORAN BEST PRACTICE. PPG UNKHAIR ANGKATAN 3
LAPORAN BEST PRACTICE. PPG UNKHAIR ANGKATAN 3LAPORAN BEST PRACTICE. PPG UNKHAIR ANGKATAN 3
LAPORAN BEST PRACTICE. PPG UNKHAIR ANGKATAN 3mardia2
 
Power point matematika kelas 3 materi bangun data luas dan keliling segitiga ...
Power point matematika kelas 3 materi bangun data luas dan keliling segitiga ...Power point matematika kelas 3 materi bangun data luas dan keliling segitiga ...
Power point matematika kelas 3 materi bangun data luas dan keliling segitiga ...muhsaleh833
 
Aksi nyata Refleksi Diri dalam Menyikapi Murid.pptx
Aksi nyata Refleksi Diri dalam Menyikapi Murid.pptxAksi nyata Refleksi Diri dalam Menyikapi Murid.pptx
Aksi nyata Refleksi Diri dalam Menyikapi Murid.pptxrurdiriyanto50
 
01. Manual Book - SIPD Republik Indonesia Modul Penatausahaan Pengeluaran - P...
01. Manual Book - SIPD Republik Indonesia Modul Penatausahaan Pengeluaran - P...01. Manual Book - SIPD Republik Indonesia Modul Penatausahaan Pengeluaran - P...
01. Manual Book - SIPD Republik Indonesia Modul Penatausahaan Pengeluaran - P...ainullabib3523
 
Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdf
Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdfModul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdf
Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdfricky987142
 
RENCANA + Link2 MATERI Training _"Penyusunan HPS dan Perhitungan TKDN & BMP" ...
RENCANA + Link2 MATERI Training _"Penyusunan HPS dan Perhitungan TKDN & BMP" ...RENCANA + Link2 MATERI Training _"Penyusunan HPS dan Perhitungan TKDN & BMP" ...
RENCANA + Link2 MATERI Training _"Penyusunan HPS dan Perhitungan TKDN & BMP" ...Kanaidi ken
 
Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah -Penyelarasan RPJPN-RPJD
Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah -Penyelarasan RPJPN-RPJDEvaluasi Rencana Pembangunan Daerah -Penyelarasan RPJPN-RPJD
Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah -Penyelarasan RPJPN-RPJDDadang Solihin
 
Melakukan Asesmen Format Alternatif.pptx
Melakukan Asesmen Format Alternatif.pptxMelakukan Asesmen Format Alternatif.pptx
Melakukan Asesmen Format Alternatif.pptxMuhammadMiftahThaibi
 
Modul Ajar Fisika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Fisika Kelas 11 Fase F Kurikulum MerdekaModul Ajar Fisika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Fisika Kelas 11 Fase F Kurikulum MerdekaModul Guruku
 
Laporan Disiplin Positif Siswa Kelas 5.pptx
Laporan Disiplin Positif Siswa Kelas 5.pptxLaporan Disiplin Positif Siswa Kelas 5.pptx
Laporan Disiplin Positif Siswa Kelas 5.pptxAdiPrasetia11
 
PELAKSANAAN + Link-Link MATERI Training _"Teknik Perhitungan & Verifikasi TK...
PELAKSANAAN  + Link-Link MATERI Training _"Teknik Perhitungan & Verifikasi TK...PELAKSANAAN  + Link-Link MATERI Training _"Teknik Perhitungan & Verifikasi TK...
PELAKSANAAN + Link-Link MATERI Training _"Teknik Perhitungan & Verifikasi TK...Kanaidi ken
 
Jurnal Steivy Kartika Tuegeh : Meningkatkan Nilai Bahasa Inggris dengan Tekno...
Jurnal Steivy Kartika Tuegeh : Meningkatkan Nilai Bahasa Inggris dengan Tekno...Jurnal Steivy Kartika Tuegeh : Meningkatkan Nilai Bahasa Inggris dengan Tekno...
Jurnal Steivy Kartika Tuegeh : Meningkatkan Nilai Bahasa Inggris dengan Tekno...triwahyuniblitar1
 
Contoh Sertifikat Komunitas Belajar SMPN
Contoh Sertifikat Komunitas Belajar SMPNContoh Sertifikat Komunitas Belajar SMPN
Contoh Sertifikat Komunitas Belajar SMPNwatihirma7
 
Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal) di Sulawesi Bagian Tengah
Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal) di Sulawesi Bagian TengahBahasa Bare'e (Bare'e-Taal) di Sulawesi Bagian Tengah
Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal) di Sulawesi Bagian TengahPejuangKeadilan2
 

Recently uploaded (20)

INSTRUMEN ASESMEN MADRASAH KEMENTERIAN AGAMA.pptx
INSTRUMEN ASESMEN MADRASAH KEMENTERIAN AGAMA.pptxINSTRUMEN ASESMEN MADRASAH KEMENTERIAN AGAMA.pptx
INSTRUMEN ASESMEN MADRASAH KEMENTERIAN AGAMA.pptx
 
PELAKSANAAN & Link2 MATERI Workshop _Prinsip & Penerapan TATA KELOLA Perusah...
PELAKSANAAN & Link2  MATERI Workshop _Prinsip & Penerapan TATA KELOLA Perusah...PELAKSANAAN & Link2  MATERI Workshop _Prinsip & Penerapan TATA KELOLA Perusah...
PELAKSANAAN & Link2 MATERI Workshop _Prinsip & Penerapan TATA KELOLA Perusah...
 
Pemilihan KBLI_Badan Pusat Statistik.pptx
Pemilihan KBLI_Badan Pusat Statistik.pptxPemilihan KBLI_Badan Pusat Statistik.pptx
Pemilihan KBLI_Badan Pusat Statistik.pptx
 
Artikel STAD Tingkatkan Prestasi Belajar PPKn dan Keterampilan peserta didik....
Artikel STAD Tingkatkan Prestasi Belajar PPKn dan Keterampilan peserta didik....Artikel STAD Tingkatkan Prestasi Belajar PPKn dan Keterampilan peserta didik....
Artikel STAD Tingkatkan Prestasi Belajar PPKn dan Keterampilan peserta didik....
 
LKPD AKTIVITAS MASA HINDU-BUDDHA-IPS KELAS 7
LKPD AKTIVITAS MASA HINDU-BUDDHA-IPS KELAS 7LKPD AKTIVITAS MASA HINDU-BUDDHA-IPS KELAS 7
LKPD AKTIVITAS MASA HINDU-BUDDHA-IPS KELAS 7
 
LAPORAN BEST PRACTICE. PPG UNKHAIR ANGKATAN 3
LAPORAN BEST PRACTICE. PPG UNKHAIR ANGKATAN 3LAPORAN BEST PRACTICE. PPG UNKHAIR ANGKATAN 3
LAPORAN BEST PRACTICE. PPG UNKHAIR ANGKATAN 3
 
Power point matematika kelas 3 materi bangun data luas dan keliling segitiga ...
Power point matematika kelas 3 materi bangun data luas dan keliling segitiga ...Power point matematika kelas 3 materi bangun data luas dan keliling segitiga ...
Power point matematika kelas 3 materi bangun data luas dan keliling segitiga ...
 
Aksi nyata Refleksi Diri dalam Menyikapi Murid.pptx
Aksi nyata Refleksi Diri dalam Menyikapi Murid.pptxAksi nyata Refleksi Diri dalam Menyikapi Murid.pptx
Aksi nyata Refleksi Diri dalam Menyikapi Murid.pptx
 
01. Manual Book - SIPD Republik Indonesia Modul Penatausahaan Pengeluaran - P...
01. Manual Book - SIPD Republik Indonesia Modul Penatausahaan Pengeluaran - P...01. Manual Book - SIPD Republik Indonesia Modul Penatausahaan Pengeluaran - P...
01. Manual Book - SIPD Republik Indonesia Modul Penatausahaan Pengeluaran - P...
 
Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdf
Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdfModul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdf
Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdf
 
RENCANA + Link2 MATERI Training _"Penyusunan HPS dan Perhitungan TKDN & BMP" ...
RENCANA + Link2 MATERI Training _"Penyusunan HPS dan Perhitungan TKDN & BMP" ...RENCANA + Link2 MATERI Training _"Penyusunan HPS dan Perhitungan TKDN & BMP" ...
RENCANA + Link2 MATERI Training _"Penyusunan HPS dan Perhitungan TKDN & BMP" ...
 
Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah -Penyelarasan RPJPN-RPJD
Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah -Penyelarasan RPJPN-RPJDEvaluasi Rencana Pembangunan Daerah -Penyelarasan RPJPN-RPJD
Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah -Penyelarasan RPJPN-RPJD
 
Melakukan Asesmen Format Alternatif.pptx
Melakukan Asesmen Format Alternatif.pptxMelakukan Asesmen Format Alternatif.pptx
Melakukan Asesmen Format Alternatif.pptx
 
Modul Ajar Fisika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Fisika Kelas 11 Fase F Kurikulum MerdekaModul Ajar Fisika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Fisika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
 
Laporan Disiplin Positif Siswa Kelas 5.pptx
Laporan Disiplin Positif Siswa Kelas 5.pptxLaporan Disiplin Positif Siswa Kelas 5.pptx
Laporan Disiplin Positif Siswa Kelas 5.pptx
 
PELAKSANAAN + Link-Link MATERI Training _"Teknik Perhitungan & Verifikasi TK...
PELAKSANAAN  + Link-Link MATERI Training _"Teknik Perhitungan & Verifikasi TK...PELAKSANAAN  + Link-Link MATERI Training _"Teknik Perhitungan & Verifikasi TK...
PELAKSANAAN + Link-Link MATERI Training _"Teknik Perhitungan & Verifikasi TK...
 
Jurnal Steivy Kartika Tuegeh : Meningkatkan Nilai Bahasa Inggris dengan Tekno...
Jurnal Steivy Kartika Tuegeh : Meningkatkan Nilai Bahasa Inggris dengan Tekno...Jurnal Steivy Kartika Tuegeh : Meningkatkan Nilai Bahasa Inggris dengan Tekno...
Jurnal Steivy Kartika Tuegeh : Meningkatkan Nilai Bahasa Inggris dengan Tekno...
 
Paparan OSS Pemilihan KBLI Kegiatan Usaha
Paparan OSS Pemilihan KBLI Kegiatan UsahaPaparan OSS Pemilihan KBLI Kegiatan Usaha
Paparan OSS Pemilihan KBLI Kegiatan Usaha
 
Contoh Sertifikat Komunitas Belajar SMPN
Contoh Sertifikat Komunitas Belajar SMPNContoh Sertifikat Komunitas Belajar SMPN
Contoh Sertifikat Komunitas Belajar SMPN
 
Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal) di Sulawesi Bagian Tengah
Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal) di Sulawesi Bagian TengahBahasa Bare'e (Bare'e-Taal) di Sulawesi Bagian Tengah
Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal) di Sulawesi Bagian Tengah
 

kultum 16.docx

  • 1. Secara umum, umat muslim mengetahui bahwa hanya Allah Maha pemberi rezeki dalam kehidupannya. Hanya saja, pada kondisi tertentu seringkali manusia merasakan apa yang diperolehnya tak cukup hingga pikirannya mencari berbagai penyebab rezeki seret. Bahkan mereka menyalahkan Allah karena rezeki yang seret tersebut. Banyak orang menyalahartikan rezeki itu hanya terbatas pada harta kekayaan saja. Lantas apa hakekat rezeki itu? Pengertian Rezeki Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kata rezeki memiliki dua arti yaitu, pertama rezeki adalah segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan) berupa makanan (sehari-hari); nafkah. Kedua, yaitu kata kiasan dari penghidupan, pendapatan, (uang dan sebagainya yang digunakan memelihara kehidupan), keuntungan, kesempatan mendapatkan makanan dan sebagainya[2]. Adapun defenisi lain, kata rezeki berasal dari bahasa Arab. Secara etimologi, ‫رزق‬ berarti pemberian[3]. Adapun menurut istilah, Al- Jurjani menyebutkan ar-rizq berarti segala sesuatu yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada makhluk-Nya untuk mereka konsumsi, baik halal atau haram[4]. Landasan Syariah Adapun dalam pandangan Islam, rezeki bukanlah senata-mata materi, harta, dan benda saja. Apalagi, yang hanya terbatas karena hasil usaha (kerja) manusia itu sendiri. Rezeki dalam Islam melingkupi semua apa yang ada dalam kehidupan manusia. Berupa waktu, kesehatan, kesempatan, kecerdasan, istri, anak, orang tua, tetangga, teman, lingkungan, hujan, tanaman, hewan piaraan dan masih banyak sekali yang lainnya. Sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala jelaskan di dalam Al- Qur’an yang artinya: َ ‫ْل‬َ‫و‬ ُ ‫ه‬ ‫ّٰللا‬ ُ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ق‬َ‫ز‬َ‫ر‬ ‫ا‬َّ‫م‬ِ‫م‬ ‫ا‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ل‬ُ‫ك‬ ۗ ‫ًا‬‫ش‬‫ا‬‫ر‬َ‫ف‬َّ‫و‬ ً‫ة‬َ‫ل‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫م‬َ‫ح‬ ِ‫ام‬َ‫ع‬‫ا‬‫ن‬َ ‫ا‬ ‫اْل‬ َ‫ن‬ِ‫م‬َ‫و‬ ‫ه‬َّ‫ن‬ِ‫ا‬ ِۗ‫ن‬ٰ‫ط‬‫ا‬‫ي‬َّ‫ش‬‫ال‬ ِ‫ت‬ ٰ ‫و‬ُ‫ط‬ُ‫خ‬ ‫ا‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ع‬ِ‫ب‬َّ‫ت‬َ‫ت‬ ٗ ‫ا‬‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬ ‫ُو‬‫د‬َ‫ع‬ ‫ن‬‫ا‬‫ي‬ِ‫ب‬ُّ‫م‬ “dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu
  • 2. mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-An’am: 142) Kemudian itulah mengapa Allah s.w.t. mengingatkan manusia bahwa nikmat (rezeki) Allah terhadap manusia sungguh tidak akan pernah bisa dihitung. Sebab, Allah s.w.t. telah menyediakan untuk umat manusia apa saja yang manusia perlukan pada segala situasi dan kondisi. َ ‫ْل‬ ِ ‫ه‬ ‫ّٰللا‬ َ‫ت‬َ‫م‬‫ا‬‫ع‬ِ‫ن‬ ‫ا‬ ‫ا‬‫ُّو‬‫د‬ُ‫ع‬َ‫ت‬ ‫ا‬‫ِن‬‫ا‬َ‫و‬ ُۗ‫ه‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫م‬ُ‫ت‬‫ا‬‫ل‬َ‫ا‬َ‫س‬ ‫ا‬َ‫م‬ ِ‫ُل‬‫ك‬ ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬‫م‬ُ‫ك‬‫ى‬ٰ‫ت‬ٰ‫ا‬َ‫و‬ ‫ار‬َّ‫ف‬َ‫ك‬ ‫م‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ل‬َ‫ظ‬َ‫ل‬ َ‫ان‬َ‫س‬‫ا‬‫ن‬ِ ‫ا‬ ‫اْل‬ َّ‫ِن‬‫ا‬ ۗ‫ا‬َ‫ه‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ص‬‫ا‬‫ح‬ُ‫ت‬ “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS: Ibrahim: 34). Allah s.w.t. memang memberikan rezeki kepada semua makhluk- Nya, tetapi tidak semua mendapatkan rezeki yang mulia dari-Nya. Lantas, siapa sajakah mereka itu? Allah s.w.t. menegaskan dalam Al-Qur’an: ٰ‫ح‬ِ‫ل‬‫ه‬‫ص‬‫ال‬ ‫وا‬ُ‫ل‬ِ‫َم‬‫ع‬َ‫و‬ ‫ا‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ن‬َ‫م‬ٰ‫ا‬ َ‫ن‬‫ا‬‫ي‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬َ‫ف‬ ‫ق‬‫ا‬‫ز‬ ِ ‫ر‬َّ‫و‬ ‫ة‬َ‫ر‬ِ‫ف‬‫ا‬‫غ‬َّ‫م‬ ‫ا‬‫م‬ُ‫ه‬َ‫ل‬ ِ‫ت‬ ‫م‬‫ا‬‫ي‬ ِ ‫َر‬‫ك‬ “Maka orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. Al-Hajj: 50) . Terhadap ayat tersebut, Ibn Katsir mengutip pernyataan Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi. “Apabila engkau mendengar firman Allah Ta’ala (wa rizqun karim) ‘Dan rezeki yang mulia,’ maka rezeki yang mulia itu adalah surga[5].” Dengan demikian, maka sebaik-baik rezeki adalah surga. Jadi, dalam kehidupan dunia ini kita harus mengutamakan dua perkara penting, yakni iman dan amal sholeh. Karena hanya keduanyalah yang dapat mengantarkan setiap jiwa mendapatkan rezeki yang mulia. Sangat tidak patut bahkan sangat tercela bila ada seorang Muslim merasa terhina hanya karena kurang harta. Apalagi kalau sampai berani mengambil keputusan tidak benar dalam hidupnya karena alasan kemiskinan. Sebab, rezeki yang paling mulia adalah surga, bukan harta atau benda. Itulah sebabnya mengapa, para Nabi dan
  • 3. Rasul tidak pernah berbangga dengan rezeki yang didapatkan berupa harta dan benda yang dimiliknya. Bahkan para Nabi dan Rasul itu lebih memilih hidup susah demi rezeki yang mulia di sisi- Nya. Namun demikian, Islam tidak mengharamkan umatnya kaya raya. Karena kekayaan yang disertai iman juga bisa mengantarkan seseorang pada derajat yang mulia di sisi-Nya[6]. Macam-macam Rezeki Menurut Syaikh Abdur Razzaq bin Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, rezeki Allah s.w.t. bagi hamba-Nya ada dua macam: 1. Rezeki yang umum yang mencakup orang yang baik dan jelek, yang mukmin dan kafir, yang pertama dan yang terakhir, yaitu rezeki badan. Allah s.w.t. berfirman yang artinya: ُ‫م‬َ‫ل‬‫ا‬‫ع‬َ‫ي‬َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُ‫ق‬‫ا‬‫ز‬ ِ‫ر‬ ِ ‫ه‬ ‫ّٰللا‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َّ ‫ِْل‬‫ا‬ ِ ‫ض‬‫ا‬‫ر‬َ ‫ا‬ ‫اْل‬ ‫ى‬ِ‫ف‬ ٍ‫ة‬َّ‫ب‬ۤ‫َا‬‫د‬ ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬ ٍ‫ن‬‫ا‬‫ي‬ِ‫ب‬ُّ‫م‬ ٍ‫ب‬ٰ‫ت‬ِ‫ك‬ ‫ا‬‫ي‬ِ‫ف‬ ‫ُل‬‫ك‬ ۗ ‫ا‬َ‫ه‬َ‫ع‬َ‫د‬ ‫ا‬‫و‬َ‫ت‬‫ا‬‫س‬ُ‫م‬َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ه‬َّ‫ر‬َ‫ق‬َ‫ت‬‫ا‬‫س‬ُ‫م‬ “dan tidak ada suatu binatang melata[7] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[8], semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud: 6). Jika Allah memberi rezeki dan anak keturunan kepada orang kafir dan melapangkannya bukan berarti Allah ridha’ terhadapnya. Sebagaimana yang ditegaskan dalam al-Qur’an, Allah berfirman ‫ا‬‫م‬ُ‫ه‬َ‫ب‬ِ‫ذ‬َ‫ع‬ُ‫ي‬ِ‫ل‬ ُ ‫ه‬ ‫ّٰللا‬ ُ‫د‬‫ا‬‫ي‬ ِ ‫ر‬ُ‫ي‬ ‫ا‬َ‫م‬َّ‫ن‬ِ‫ا‬ۗ ‫ا‬‫م‬ُ‫ه‬ُ‫د‬ َ ‫ْل‬ ‫ا‬‫و‬َ‫ا‬ ٓ َ ‫ْل‬َ‫و‬ ‫ا‬‫م‬ُ‫ه‬ُ‫ل‬‫ا‬َ‫و‬‫ا‬‫م‬َ‫ا‬ َ‫ك‬‫ا‬‫ب‬ ِ‫ج‬‫ا‬‫ع‬ُ‫ت‬ َ ‫َل‬َ‫ف‬ ‫ا‬‫ن‬ُّ‫د‬‫ال‬ ِ‫ة‬‫و‬ٰ‫ي‬َ‫ح‬‫ا‬‫ل‬‫ا‬ ‫ى‬ِ‫ف‬ ‫ا‬َ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫ن‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ر‬ِ‫ف‬ٰ‫ك‬ ‫ا‬‫م‬ُ‫ه‬َ‫و‬ ‫ا‬‫م‬ُ‫ه‬ُ‫س‬ُ‫ف‬‫ا‬‫ن‬َ‫ا‬ َ‫ق‬َ‫ه‬‫ا‬‫ز‬َ‫ت‬َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ي‬ Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir. Rezeki yang khusus, yaitu rezeki hati dan siramannya berupa ilmu, iman, dan rezeki halal yang dapat memperbaiki agama seorang hamba. Dan ini khusus bagi orang-orang yang beriman sesuai dengan tingkatan mereka darinya, sesuai dengan ketentuan hikmah dan rahmat-Nya. Dan Allah menyempurnakan kemuliaan-Nya bagi mereka dan menganugerahkan kepada mereka surga yang penuh
  • 4. dengan kenikmatan pada hari kiamat[10]. Sebagaimana firman Allah s.w.t. dalam al-Qur’an ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ َ‫ج‬ ِ ‫ر‬‫ا‬‫خ‬ُ‫ي‬ِ‫ل‬ ٍ‫ت‬ٰ‫ن‬ِ‫ي‬َ‫ب‬ُ‫م‬ ِ ‫ه‬ ‫ّٰللا‬ ِ‫ت‬ٰ‫ي‬ٰ‫ا‬ ‫ا‬‫م‬ُ‫ك‬‫ا‬‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ‫ا‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ل‬‫ا‬‫ت‬َّ‫ي‬ ً ‫ْل‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫س‬َّ‫ر‬ ‫ا‬‫ي‬ ‫ا‬ ‫ا‬‫و‬ُ‫ن‬َ‫م‬ٰ‫ا‬ َ‫ن‬ ْۢ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬‫ا‬‫ؤ‬ُّ‫ي‬ ‫ا‬‫ن‬َ‫م‬َ‫و‬ ِۗ‫ر‬ ‫ا‬‫و‬ُّ‫ن‬‫ال‬ ‫ى‬َ‫ل‬ِ‫ا‬ ِ‫ت‬ ٰ‫م‬ُ‫ل‬ُّ‫ظ‬‫ال‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ ِ‫ت‬ ٰ‫ح‬ِ‫ل‬‫ه‬‫ص‬‫ال‬ ‫وا‬ُ‫ل‬ِ‫َم‬‫ع‬َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ه‬ِ‫ت‬‫ا‬‫ح‬َ‫ت‬ ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬‫ي‬ ِ ‫ر‬‫ا‬‫ج‬َ‫ت‬ ٍ‫ت‬‫ه‬‫ن‬َ‫ج‬ ُ‫ه‬‫ا‬‫ل‬ ِ‫اخ‬‫د‬ُّ‫ي‬ ‫ا‬ً‫ح‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫ص‬ ‫ا‬‫ل‬َ‫م‬‫ا‬‫ع‬َ‫ي‬َ‫و‬ ِ ‫ه‬ ‫اّٰلل‬ِ‫ب‬ ‫ه‬َ‫ل‬ ُ ‫ه‬ ‫ّٰللا‬ َ‫ن‬َ‫س‬‫ا‬‫ح‬َ‫ا‬ ‫ا‬‫د‬َ‫ق‬ ۗ‫ًا‬‫د‬َ‫ب‬َ‫ا‬ ٓ‫ا‬َ‫ه‬‫ا‬‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫ن‬‫ا‬‫ي‬ِ‫د‬ِ‫ل‬ ٰ‫خ‬ ُ‫ر‬ ٰ‫ه‬‫ا‬‫ن‬َ ‫ا‬ ‫اْل‬ ٗ ‫ا‬ً‫ق‬‫ا‬‫ز‬ ِ ‫ر‬ “(dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat- ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. dan Barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 11) Batasan Rezeki Batasan rezeki dalam kehidupan manusia harus diperluas agar setiap saat kita tetap bersyukur kepada Allah s.w.t. atas nikmat yang telah Allah s.w.t. berikan tidak hanya sebatas harta kekayaan semata melaikan semua aspek yang berkitan dengan kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Konteks rezeki bisa bermacam-macam wujudnya, contohnya; penciptaan kita sebagai manusia makhluk yang mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lainnya, penciptaan langit dan bumi dari sanalah Allah menghampar rezeki-rezekinya untuk manusia yang mau terus berusaha, berfungsinya akal yang kita miliki dengan baik dan normal, keimanan dan keislaman adalah rezeki, sehat, hujan, kemarau, kehidupan, ilmu yang bermanfaat, saudara seiman merupakan sebagian kecil rezeki yang Allah berikan. Jika konteks rezeki demikian luas, mengapa kita mempersempit makna rezeki itu sendiri hanya dalam batas kekayaan semata? Kita sebagai manusia kadang sangat lupa karunia yang Allah berikan kepada kita sebagai manusia, bila saja kita diciptakan sebagai hewan apakah kita akan menikmati rezeki yang Allah berikan layaknya kita sebagai manusia? Manusia adalah makhluk yang terkadang melupkan rasa syukur terhadap rezeki yang Allah
  • 5. berikan. Selayaknya sebagai manusia yang memiliki iman kita tetap berusahan memperoleh rezeki yang telah Allah janjikan kepada hamba-hamba-Nya dan terus berusaha di jalan Allah dengan cara halal dan baik[11]. Berusaha mencari rezeki Ummat manusia telah dijadikan sebagai ummat yang lebih mulia dibanding kebanyakan makhluk-Nya. Sehingga merupakan suatu kehinaan bagi mereka bila mereka merendahkan dirinya dengan mengagungkan dan mengibadahi sesama makhluk, misalnya sapi, ular, kerbau, jin, wali, Nabi, atau senjata dan lainnya[12]. Padahal kedudukannya sama atau bahkan lebih rendah dibanding mereka, bahkan kebanyakan mereka diciptakan di dunia ini untuk kepentingan manusia[13]. Qatadah rahimahullahu ta’ala berkata yang artinya: “Tidaklah ada suatu perangai baik yang pernah diyakini dan diamalkan kaum Jahiliyyah zaman dahulu melainkan telah Allah perintahkan. Dan tiada perangai buruk yang dahulu mereka jadikan bahan celaan kecuali telah Allah larang. Dan sesungguhnya yang Allah larang hanyalah perangai-perangai yang rendah dan tercela”.[14] Diantara bentuk akhlak dan kepribadian mulia yang diajarkan oleh Islam kepada ummatnya adalah sifat mandiri dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain dalam setiap keperluan hidupnya. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w. bersabda ِ‫ل‬‫و‬ُ‫س‬َ‫ر‬ ‫ا‬‫َن‬‫ع‬ ‫ه‬‫ا‬‫ن‬َ‫ع‬ ‫هم‬َّ‫ل‬‫ال‬ ‫ي‬ ِ ‫ض‬َ‫ر‬ ِ‫َام‬‫د‬‫ا‬‫ق‬ِ‫م‬‫ا‬‫ل‬‫ا‬ ‫هم‬َّ‫ل‬‫ال‬ ‫ى‬َّ‫ل‬َ‫ص‬ ِ َّ ‫ّٰللا‬ ‫ا‬‫ن‬َ‫أ‬ ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬ً‫ر‬‫ا‬‫ي‬َ‫خ‬ ُّ‫ط‬َ‫ق‬ ‫ا‬ً‫م‬‫ا‬َ‫ع‬َ‫ط‬ ‫د‬َ‫ح‬َ‫أ‬ َ‫ل‬َ‫ك‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫م‬(( :َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ه‬‫ا‬‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َ‫َان‬‫ك‬ ‫م‬ َ ‫َل‬َّ‫س‬‫ال‬ ِ‫ه‬‫ا‬‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َ‫د‬ُ‫َاو‬‫د‬ ِ َّ ‫ّٰللا‬ َّ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫ن‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ِ‫د‬َ‫ي‬ ِ‫ل‬َ‫م‬َ‫ع‬ ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ل‬ُ‫ك‬‫ا‬‫أ‬َ‫ي‬ ‫البخاري‬ ‫رواه‬ ))ِ‫ه‬ِ‫د‬َ‫ي‬ ِ‫ل‬َ‫م‬َ‫ع‬ ‫ا‬‫ن‬ِ‫م‬ ُ‫ل‬ُ‫ك‬‫ا‬‫أ‬َ‫ي‬ . Dari al-Miqdam Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil usaha tangannya (sendiri)” HR. Al-Bukhari Dalam hadits ini, Rasulullah s.a.w. secara khusus menyebutkan bahwa Nabi Dawud a.s. makan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri, ini dikarenakan beliau adalah seorang Nabi yang diberi kekayaan dan kekuasaan, akan tetapi walau demikian adanya,
  • 6. beliau tidak mau memakan kecuali dari hasil pekerjaannya sendiri[16]. Pada hadits yang lain, Rasulullah s.a.w. bersabda “Sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu dia mencari seikat kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya kemudian dia menjualnya lalu Allah mencukupkannya dengan kayu itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik manusia itu memberinya atau menolaknya”. (HR. Bukhari) Dan juga dalam hadits lain yang berkaitan dengan hadits di atas adalah sabda Rasulullah s.a.w. yang artinya: “Tangan yang di atas lebih baik dibanding tangan yang di bawah, tangan yang di atas adalah tangan yang memberi, sedangkan tangan yang di bawah adalah tangan peminta.”[17] Oleh karena itu, dahulu para sahabat dan ulama salaf bekerja guna mencukupi kebutuhannya sendiri atau mencari rezeki, ada yang berdagang, ada yang bercocok tanam, dan ada yang menjadi pekerja tanpa ada rasa sungkan atau gengsi. Dalam Hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu ketika berdiri memberikan khuthbah pada hari Jum’at, tiba-tiba ada seorang laki-laki masuk (Masjid). ‘Umar lalu bertanya, “Kenapa anda terlambat shalat?” Laki-laki itu menjawab: “Aku tidak tahu hingga aku mendengar adzan, maka aku pun hanya berwudhu.” Maka “Umar berkata, “Bukankah kamu sudah mendengar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jika salah seorang dari kalian berangkat shalat jum’at hendaklah mandi, Sahabat ‘Umar bin Khaththab r.a. tidak mencela sahabat ini karena ia bekerja mencari rezeki, akan tetapi mencelanya karena ia terlambat hadir shalat jum’at dan melupakan kewajiban mandi sebelum menghadiri shalat jum’at [18]”. Rezeki vs bekerja. Dan yang perlu di pahami adalah rezeki dan kerja merupakan dua hal yang berbeda. Menggantungkan rezeki semata-mata pada pekerjaan yang kita lakukan adalah kesalahan, sebagai mana Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi telah memperingatkan dalam bukunya “Rezeki” (Gema Insani Press, 1995), Allah maha luas rezeki-Nya. Mengantungkan rezeki semata-mata pada pekerjaan yang kita lakukan sama dengan mempersempit pintu rezeki, padahal Allah membukanya lebar-lebar untuk kita. Akan tetapi mengharapkan
  • 7. rezeki dari Allah tanpa mau memeras keringat dengan kerja yang meletihkan, sama halnya dengan mengangap sepi nasihat Nabi s.a.w. yang artinya: “Sesungguhnya, bekerja mencari rezeki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah-ibadah fardu” (HR At-tabrabi dan Baihaqi). Barang kali, hadits diataslah yang menginspirasi rakyat Pakistan sehingga mencantumkan makna hadits ini disetiap uang kertas mereka “Husule rizq halal ibadat hay”. Kesulitasn rezeki vs agama Kesulitan demi kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat dalam masalah mencari rezeki menjadikan mereka mengkambinghitamkan agama dan hal ini sangat berbahaya sekali karena pada akhirnya nanti masyarakat akan anti pada agama. Pemahaman ini harus disampaikan kepada masyarakat luas. Tanpa itu maka jangan heran kalau orang Islam sendiri akan anti kepada Islam karena gara-gara mereka berangapan “Aturan agama menyulitkan untuk memperoleh rezeki”. Para da’i harus andil dalam hal ini, karena dakwah adalah pekerjaan mempengaruhi, sementara dalam “kacamata” masyarakat orang kaya lebih mudah berpengaruh jika dibandingkan dengan orang miskin. Maka sebagai seorang calon da’i kita harus pandai untuk mencari jalan dan solusi dalam memudahkan mereka dalam mencari rezeki. Setelah kita memenuhi kebutuhan mereka barulah mereka akan mendengar nasehat-nasehat agama yang kita sampaikan. Praktik-praktik semacam ini adalah cara-cara yang paling berhasil yang pernah dilakukan oleh para misionaris Kristen dalam memurtadkan umat islam ditanah air.