Jokowi vs prabowo (1)

1,656 views

Published on

Berisi kumpulan artikel mengenai JOKOWI dan PRABOWO yang kami kumpulkan dari berbabagai sumber link dan web di dunia maya.

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,656
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
29
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Jokowi vs prabowo (1)

  1. 1. [Jokowi Vs Prabowo] [Dari Dua Kampium Yang Berbeda] ARSIP PRIBADI-[ Yanto Abdullah, S.Si ] BAGIAN 1
  2. 2. 1 PUISI UNTUK JOKOWI Sengkuni Baru Katanya Walikota banyak prestasi Tapi Mobil ESEMKA kok hanya ilusi Jadi Gubernur sudah banyak cuti Dikritisi malah balas maki-maki Jakarta macet bilangnya urus sendiri Jakarta banjir nasib rakyat Betawi Pengadaan Transjakarta malah korupsi Dipanggil Kejagung eh gak mau pergi Katanya 5 tahun ndak mau direpoti Ah mau fokus di Jakarta ndak akan pergi Eeit .. ‪ #‎ akurapopo‬ sing kui itu janji Yang penting saiki gimana bisa dadi Sungguh beruntung engkau sang anak negeri Raut wajahmu nampak seperti suci Pantas pendukungmu menyebutmu nabi Padahal fakta, semoga kau tau diri Jujur, andai saja dirimu percaya diri Mengapa rela jadi boneka bu Mudahwati Jika sukses membawa Jakarta penuh arti Kutitipkan satu suara agar kau memimpin negeri Namun fakta, kau tak mampu membuat ibukota berseri Tapi mengapa kau ingin dipanggil peri Sadarlah! Kesempatan itu belum pergi Sukseskan Jakarta, baru Indonesia kau benahi Titip salam tak perlu kau cari foto ibadah haji Karena, katanya agama tak perlu dipolitisasi Tolong panggilan Kejagung engkau penuhi Itu pun jika dirimu memang antikorupsi *by Nandang Burhanuddin
  3. 3. 2 Prabowo dan Jokowi, Catatan Kecil Wartawan Nanik S Deyang (Seorang wartawan peliput deklarasi Prabowo Hatta dan Jokowi JK) Senin, 19 mei 2014 MINUS MORAL. Kebetulan Allah SWT selalu menempatkan saya di saat-saat terakhir bagaimana seorang akan dinaikkan derajatnya oleh SWT menjadi pemimpin. Dua tahun lalu, saya sakit perut karena hanya kurang dari 2 x24 jam Jokowi belum dapat restu dari Bu Mega. Bukan hanya Jokowi yg senewen, Prabowo sebagai orang yg ngotot Jokowi jadi Gubernur DKI juga senewen. Untuk keempat kalinya Prabowo menghadap Bu Mega, hingga akhirnya Bu Mega mau merestui Jokowi sebagai Cagub. Kenapa alot karena Bu Mega sudah memberi persetujuan bahawa PDIP mendukung Foke. Saat bertemu terakhir antara Prabowo dan Bu Mega, Prabowo sudah nekat kalau Bu Mega tdk mengijinkan Jokowi, maka Prabowo akan “meminjam” Jokowi saja (tidak mencabut dari PDIP), dan Prabowo akan mengumpulkan partai kecil agar bisa mendaftarkan Jokowi ke KPU . Namun Bu Mega akhirnya trenyuh pada kegigihan Prabowo yg menghendaki Jokowi jadi pemimpin di Jakarta. Namun BU Mega bilang PDIP tdk memiliki dana untuk membiayai Jokowi, maka Prabowo pun menyatakan sanggup untuk membiayai . Ketika restu datang, persoalan muncul, yakni siapa wakil Jokowi yg tepat?. Maka Prabowo yg sudah mengagumi Ahok, lantas membajak Ahok dari Golkar (karena Golkar mendukung Foke waktu itu). Prabowo sangat yakin Ahok orang bersih dan mau bekerja keras. Saat disodorkan Ahok, Jokowi kurang sreg , bahkan dia lebih memilih Deddy Miswar. Tengah malah sebelum esok hari mendaftar di KPU, Jokowi menilpun saya soal Ahok ini. Waktu itu sy bilang…”Sudah lah terima saja dulu, dari pada milih2 ini-itu besok malah gak jadi daftar. Lagi pula Ahok ini akan bisa mendulang suara di Jakarta yg selama ini golput ,” pokoknya aku yakinkan Jokowi sampai hampir satu jam, bahwa Ahok pilihan terbaik dari nama lainnya. Hari ini saya melihat “manusia-manusia ” baik ini terbelah menjadi berhadapan atau satu sama lain menjadi lawan. Saat saya melihat Prabowo menonton TV di pendopo rumah SBY, dimana di sebuah stasiun TV tengah di putar ulang liputan deklarasi Jokowi_JK ….entah kenapa air mata saya hampir jatuh..” dari samping saya lihat Prabowo menatap gambar di TV itu tanpa bicara sepatah kata pun, meski di sampingnya mulai dari Hatta Rajasa, Menteri Jero Wacik, Cicip Syarif Sutardja, Djan Faris dll berkomentar …Prabowo memilih diam…dan perlahan dia mundur di kerumunan itu..dan memilih tdk mendongakkan lagi waajhnya untuk melihat TV. Saya membayangkan betapa campur aduknya rasa di hatinya saat “anak” yg dibantu naikkan derajatnya itu kini menjadi “lawannya”. Prabowo pernah berkata, kalau toh Jokowi yg “dibesarkannya” akhirnya jadi lawan , ia pernah bilang tdk masalah. Namun yg mengecewakannya adalah sejak dilantik hingga
  4. 4. 3 Jokowi nyapres, ternyata Jokowi itu mengucapkan terimakasih saja tidak pada Prabowo. (saya sebetulnya pernah mengingtkan Jokowi utk bertemu Prabowo , tapi kyaknya dia cuek, dan malah mengatakan yg membuat dia jadi Gubernur itu orang banyak, bukan Prabowo saja). Sebagai orang jawa dimana saya menjujung tinggi toto kromo mikul duwur mendem jero , saya melihat apa yg saat ini saya saksikan sungguh menyayat batin saya. Bagimana tidak? Terhadap guru saya yg menjadikan saya dan teman-teman wartawan, yaitu Alm Om Valens Doi, bukan saja saya dan kawan saya Budi , bertanggung jawab terhadap keluarganya setelah Om Valens wafat, tapi kami tiap tahun juga memberingati wafatnya beliau , sebagai ungkapan rasa terimaksih kami , bahwa kami bisa seperti sekarang karena Om Valens. Kami juga selalu mengajarkan pada anak-anak wartawan, dimana ada sebagian sempat mengenal dan sebagain tdk mengenal Om Valens untuk selalu hormat, karena beliaulah kami semua bisa membangun perusahaan di mana kami bisa mencari makan dan berkarier. Kami pasang foto Om VAlens di ruang tamu kantor kami, dan kami selalu membuat kaos bergambar alm Om, sebagai rasa cinta dan hormat kami. Hari ini saya menyaksikan seorang calon Pemimpin Negara yang dalam pandangan saya sebagai orang Jawa atau orang Indonesia MINUS MORAL, karena jangankan dia paham dengan konsep kesantunan mikul duwur mendem jero, mengucapakan terimaksih pun ternyata tdk dilakukan terhadap orang yg sudah menjadikannya dia hebat dan populer. Ini bisa tdk penting , tapi buat saya pribadi menjadi penting, karena buat saya seorang pemimpin itu harus memiliki keteladanan moral yg baik, dan juga memiliki hati nurani yg baik . Bila tidak ? Maka yg akan dilakukan hanya mengumbar nafsu-nafsu yg ada di kepalanya dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Jujur salah satu yg membuat keputusan saya mendukung Prabowo , karena sy melihat Prabowo lebih punya kwalitas moral yg baik. Misalnya sebiji jarak saja orang pernah melakukan kebaikan padanya itu akan diingatnya. Sebagai contoh ada sopir pribadinya yg sudah 13 tahun pensiun , karena usia, Prabowo masih menggaji sang sopir ..bukan hanya para sopir, para judannya mulai dia jadi komandan grup sampai jdi Pangkostrad masih diperhatikan hidupnya. Alasannya, karena Prabowo sering dibantu oleh sopir dan ajudannya. Itulah sebabnya, sy tdk pernah habis pikir kalau ada orang yg tdk mengenal Prabowo dengan seenak perutnya menyebut Prabowo sebagi manusia fasis, kejam, maniak , kasar dll….Padahal orang yg dikatakan jahat itu, memiliki hati yg jauh lebih mulia, bahkan jauuuuuuuh sekali mulianya dibandingkan yg secara fisik disebut santun, ramah, dan merakyat itu…..SAYA MENYAKSIKAN KEDUANYA BUKAN MEMBACA BERITA!
  5. 5. 4 Jokowi Belum Jadi Presiden Sudah Tidak Jujur? Revolusi Mental. Tulisan Romo Benny di Sindo (kiri). Tulisan Jokowi di Kompas (kanan), Sabtu, 10/5/2014, judul Revolusi Mental juga. Jokowi plagiat ? Isi tulisan antara Jokowi dan Romo Benny itu, memiliki kesamaan, secara esensi. Seperti dituturkan oleh seorang wartawan, Nanik S Deyang. Menurut dia, kedua tulisan itu sama. JAKARTA – Jokowi yang di capreskan oleh Mega dan PDIP itu, sudah menampakkan ‘aslinya’, bahwa dia itu tokoh ‘abal-abal’, dan hanya menjadi boneka ‘Asing dan A Seng’, dan sebagai ‘think-thank’nya kalangan Katolik, seperti Romo Benny, Sekretaris Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Wali Gereja Indonesia (KWI). Jokowi hanyalah ‘boneka’ yang dipaksakan, dan rakyat Indonesia dipaksa menerima calon presiden yang ‘abal-abal’ itu. ‘Topeng’ Jokowi yang masih misteri itu, seperti tentang ‘nasab’nya yang sekarang ramai di media sosial, dan terus menjadi kontroversi. Siapa sejatinya sang tokoh ‘Jokowi’ itu? Sekarang, secara tiba-tiba rakyat Indonesia begitu sangat terperangah dengan konsep ‘REVOLUSI MENTAL’ yang dipasarkan kepada rakyat. Semuanya itu, gara-gara ide ‘Revolusi Mental’, yang dipublikasikan oleh media katolik Kompas, Sabtu, 10/5/2014. Di mana dalam harian Kompas, Sabtu (10/5), yang lalu dua tulisan berjudul sama ‘Revolusi Mental’ terpampang di dua media cetak. Tentu, hanya karena mereka sudah kebelet alias ‘ngebet’ ingin segera Jokowi dilantik menjadi presiden. Betapa, kalangan Katolik sangat berkepentingan dengan Jokowi, itu terbukti saat pertemuan di rumah konglomerat Cina, Jacob Soetojo, selain duta besar Amerika, Inggris, juga hadir duta besar Vatikan!
  6. 6. 5 Selanjunya, dalam tulisan pertama atas nama Jokowi dan dimuat di halaman opini Kompas, sementara tulisan lainnya beratasnamakan Romo Benny, sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), dimuat koran Sindo pada rubrik yang sama (opini). Barangkali tidak ada masalah, seandainya kedua tulisan itu memaparkan soal yang secara esensi berbeda. Tetapi, isi tulisan antara Jokowi dan Romo Benny itu, memiliki kesamaan, secara esensi. Seperti dituturkan oleh seorang wartawan, Nanik S Deyang. Menurut dia, kedua tulisan itu sama. “Saat membaca opini di koran Sindo yang ditulis Romo Benny, saya kembali kaget, karena bertajuk dan beresensi sama, kendati ada perbedaan dalam struktur kalimat”, kata Nanik. Lebih lanjut, menurut kalangan wartawan , bahwa Romo Benny Susetyo adalah anggota Tim Sukses Jokowi. “Saya iseng telepon kawan yang masih ada di seputar Jokowi, dan dapat kabar, ternyata Romo Benny Susetyo itu Tim Sukses Jokowi”, tambah Nanik di laman facebook nya. Menjelang pemilihan presiden Juli mendatang, tokoh yang ‘misterius’ ini, nampaknya ingin menjadi tokoh Indonesia yang sempurna di depan rakyat dan bangsa Indonesia. Kemudian, Jokowi itu, mengeluarkan ide yang sudah ‘usang’ tentang ‘Revolusi Mental’. Ini yang dipasarkan oleh Jokowi. Tetapi, tokoh yang dititah oleh Mega menjadi calon presiden itu, hanya bisa membuat ‘kosa kata’ yaitu ‘Revolusi Mental’. Sebaliknya, Jokowi tidak mengerti dan faham apa yang diucapkannya. Maka, substansi ‘Revolusi Mental’ Jokowi dijabarkan oleh Romo Benny. Seakan-akan Jokowi itu, tokoh yang sangat ‘HEBAT’ memiliki ide akan melakukan revolusi mental bangsa Indonesia. Hanya karena semua itu ‘topeng’ Jokowi menjadi terbuka. Dia tidak sehebat seperti yang digembar-gemborkan oleh para ‘buzzer’nya. Dan, siapa yang menjadi plagiat, Jokowi atau Romo Benny? Kalau yang menjadi plagiat tulisan itu, Jokowi, sungguh sangat tidak layak menjadi pemimpin. Karena sudah nampak sifat atau karakternya yang tidak jujur. Bagaimana kalau menjadi presiden dan pemimpin Indonesia? Anggito Abimanyu pejabat Kementerian Agama, menulis artikel di Kompas, kemudian terbukti dia melakukan plagiat, langsung dia mengundurkan diri dari UGM. Karena, sudah menyangkut hal yang mendasar yaitu, integritas. Bagaimana integritas atau kejujuran Jokowi yang sudah kebelet ingin menjadi presiden? Dia tinggalkan rakyat DKI Jakarta yang sudah memilihnya, dan mengejar jabatan baru sebagai presiden. Jujurkah Jokowi? Wallahu a’lam/ voaislam.com, Selasa, 13 Rajab 1435 H / 13 Mei 2014 07:14 wib
  7. 7. 6 “Antara Jesus dan Jokowi” Oleh: Dr. Adian Husaini DUKUNGAN kalangan Kristen (Protestan dan Katolik) terhadap Jokowi untuk menjadi Presiden Indonesia 2014-2019 dilakukan secara terbuka, bahkan sangat menggebu-gebu, sehingga terkesan melampaui batas kepatutan. Pada 29 April 2014, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) yang merupakan induk gereja Protestan di Indonesia, bersama sejumlah LSM pengusung isu HAM, membuat pernyataan yang menolak pencapresan Prabowo Subianto. Dengan mengatasnamakan “Gerakan Kebhinekaan untuk Pemilu Berkualitas (GKPB)”, mereka mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak memilih Prabowo. Dari kalangan Katolik, sebuah dukungan terbuka terhadap Jokowi disuarakan oleh pastor Aloysius Budi Purnomo, melalui artikel berjudul “Jesus, Jokowi, dan Keselamatan Rakyat” di Harian Sinar Harapan (http://sinarharapan.co/news/read/140417053/Jesus-Jokowi-dan-Keselamatan-Rakyat, 17/4/2014). Artikel Aloysius ini segera memicu kontroversi yang luas. Itu karena Aloysius membenarkan adanya sejumlah persamaan antara Jokowi dan Jesus, dengan menggunakan perspektif teologi Kristen. Disebutkan, bahwa diantara persamaan antara Jesus dan Jokowi adalah: (1) keduanya sama-sama berinisial huruf J, (2) baik Jesus maupun Jokowi sama-sama anak tukang kayu, (3) keduanya sama-sama mencintai rakyat kecil, tersingkir, dan difabel, (4) sama seperti Jesus, Jokowi suka blusukan, menjumpai rakyat kecil, (5) konon keduanya sama-sama berasal dari Jawa Tengah, yang dalam hal ini terdapat perbedaan; Jokowi adalah orang Solo, sedangkan Jesus orang “Kudus”. Meskipun persamaan itu bersumberkan pada “guyonan”, Aloysius menjelaskan: “Guyonan itu hemat saya merupakan harapan. Kami umat Kristiani, terutama saya sebagai orang Katolik yang notabene juga seorang pastor, tidak merasa tersinggung dengan guyonan itu. Tidak masalah Jokowi disandingkan dengan Jesus. Itu bukan pelecehan, juga bukan penghinaan! Pastinya, Jesus akan tersenyum simpul membaca atau mendengar guyonan tersebut. Dipastikan pula Ia tidak marah.” Lebih jauh ditulis oleh Aloysius: “Jangankan disamakan dengan Jokowi yang menjadi tokoh fenomenal dan kerinduan masyarakat kecil menjadikannya pemimpin masa depan, Jesus bahkan menyamakan diri dengan mereka yang lapar, haus, yang telanjang, terpenjara, sakit, dan orang asing (Matius 25:30). Jesus berkata, “Apa pun yang kamu lakukan untuk salah satu dari saudaraku yang paling hina itu, kamu lakukan untuk Aku!” Sebagai seorang muslim, saya berasumsi, bahwa yang ditulis oleh teolog Katolik itu adalah hal yang sebenarnya, seperti yang ia pahami.; bukan untuk tujuan pencitraan Jokowi. Aloysius tentu memahami, bahwa munculnya Jokowi sebagai tokoh fenomenal sangat didukung oleh pencitraan media. Tanpa menafikan prestasi dan pribadinya yang sederhana, masyarakat Indonesia tidak akan mengenal Jokowi jika sejumlah media massa tidak mengangkat Jokowi begitu dahsyatnya, sehingga dicitrakan sebagai sosok “juru selamat”, termasuk apa yang dilakukan oleh Aloysius melalui artikelnya.
  8. 8. 7 Dalam hal keberpihakan terhadap rakyat kecil ini, menyamakan antara Jesus dengan Jokowi juga perlu dipertanyakan. Dalam Bibel sendiri dijelaskan, bahwa Jesus justru melawan penguasa global dan penguasa agama (Yahudi) ketika itu. Fakta dan sejumlah manuver Jokowi justru menunjukkan, bagaimana kuatnya dukungan kaum berduit dan penguasa global saat ini. Dalam Matius 25:30 disebutkan: “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (Alkitab, versi LAI, tahun 2007). Tentang Teologi “Blusukan” Aloysius menulis bahwa ribuan tahun silam – sebelum Jokowi — Jesus memang punya hobi blusukan. Kehadiran-Nya di dunia sebagai “Sang Sabda yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita” (Yohanes 1:14) sudah merupakan blusukan perdana. Blusukan itulah yang disebut penjelmaan Sang Sabda menjadi manusia. Itulah teologi inkarnasi. Masih menurut Aloysius, dalam perspektif iman Kristiani, Jesus disebut “Putra Allah yang Mahatinggi”, yang sejak awal mula bersama-sama dengan Allah dalam kesatuan kasih mesra. Namun karena begitu besar kasih Allah terhadap dunia, Allah berkenan mengutus Putra yang tunggal ke dunia agar setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup kekal (bandingkan Yohanes 3:16). Percaya kepada-Nya tentu saja tidak boleh dipahami saklek harus menjadi Kristiani dan dibaptis formal. “Karl Rahner berterminologi yang disebut baptis batin, yakni semua orang yang menerima keberadaan-Nya dan percaya Dialah Sang Juruselamat, mewujudkan sikap itu dalam setiap tindakan baik, benar, dan suci. Konsili Vatikan II, melalui dokumen Lumen Gentium (LG) dan Nostra Aetate (NA) menegaskan, Katolik tidak menolak apa pun yang serba benar, baik, dan suci, yang ada dalam setiap agama dan kebudayaan sebagai hal yang tidak berlawanan dengan Jesus Kristus (bandingkan LG 16 dan NA 2),” tulis Aloysius. Begitulah opini yang dikembangkan Aloysius. Menarik membaca tulisan Aloysius itu, bahwa pengertian percaya kepada Yesus sebagai Putra yang tunggal itu tidak harus menjadi Kristiani dan dibaptis secara formal. Ia mengenalkan istilah “baptis batin” yang katanya disebutkan oleh teolog Jerman Karl Rahner. Tidak jelas benar apa yang dimaksudkan oleh Aloysius dengan “babtis batin”. Sebab, Karl Rahner sendiri dikenal dengan gagasannya tentang “anonymous Christianity” (Kristen tanpa nama). Bahwa, orang-orang yang belum mengenal Jesus dapat dikategorikan sebagai “Kristen” tapi “tanpa nama”, meskipun mereka sudah memeluk agama tertentu. Hanya saja, Rahner berpendapat, bahwa agama orang-orang itu tidak sah lagi jika misi Kristen sudah sampai pada mereka dan Bibel diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. “Once a religion really confronts the gospel – once the gospel is translated into the new culture and embodied in community – than that religion loses its validity,” tulis Karl Rahner seperti dikutip Paul F. Knitter dalam bukunya, No Other Name? A Critical Survey of Christian Attitudes toward the World Religion (London: SCM Press Ltd., 1985). Jadi, dalam perspektif teologi inklusif model Karl Rahner, setelah agama Kristen disebarkan ke Indonesia, maka agama-agama selain Kristen sudah tidak sah lagi. Dalam artikelnya, Aloysius juga menyebut, bahwa tokoh Hindu Mahatma Gandhi sangat
  9. 9. 8 mengagumi Jesus dan mengasihi-Nya. Ditulis oleh Aloysius: “Jesus Kristus itu unik sekaligus universal. Tak heran tokoh Hindu dan pemimpin India bernama Mahatma Gandhi sangat mengagumi Jesus dan mengasihi-Nya, terutama dengan ajaran ahimsa, mengasihi musuh. Tokoh politis India tersebut sangat menghayati sabda bahagia yang menjadi bagian dari khotbah di bukit yang disampaikan Jesus dan dicatat dalam Injil.” Benarkah Mahatma Gandhi bersikap simpatik terhadap Jesus seperti yang ditulis Aloysius itu? Tahun 2012, penerbit Media Hindu, menerbitkan buku berjudul “Dialog Gandhi dengan Missionaris tentang Kristen dan Konversi”. Buku ini aslinya berjudul “Gandhi on Christianity” (Maryknoll New York: Orbis Books, 1991). Buku ini memaparkan sikap kritis Gandhi terhadap kepercayaan kaum Kristen pada Jesus: “Saya menganggap Yesus sebagai seorang guru besar kemanusiaan, tapi saya tidak menganggap dia sebagai satu-satunya anak yang dilahirkan Tuhan. Julukan itu dalam penafsiran materialnya tidak dapat diterima. Secara kiasan kita semua adalah anak-anak yang dilahirkan Tuhan, tapi untuk masing-masing kita mungkin ada anak-anak lain yang dilahirkan Tuhan dalam pengertian khusus… Saya percaya dengan kesempurnaan untuk menjadi sempurna dari hakikat manusia. Yesus telah menjadi sedekat mungkin pada kesempurnaan itu. Mengatakan bahwa dia sempurna sama dengan menolak superioritas Tuhan atas manusia… Saya juga tidak memerlukan ramalan-ramalan dan keajaiban-keajaiban untuk mengakui kebenaran Yesus sebagai seorang guru. Tidak ada yang lebih ajaib dari tiga tahun kependetaannya, “Tidak ada keajaiban dalam sejarah manusia yang dihidupi dengan segenggam roti. Seorang tukang sulap dapat membuat ilusi (tipuan pandang) semacam itu. Tapi terkutuklah hari ketika seorang pesulap dihormati sebagai penyelamat kemanusiaan.” (hal. 124-125). Tentang keselamatan universal – baik bagi yang percaya atau yang tidak percaya kepada Ketuhanan Jesus – Aloysius menulis: “Blusukan-Nya mendatangkan keselamatan universal bagi semua orang, yang mengimani Dia, maupun yang tidak mengimani-Nya, bahkan yang memusuhi-Nya. Itu karena Ia pun berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya agar diampuni Allah, yang disebut-Nya Bapa, sebab mereka tidak tahu yang mereka perbuat (Lukas 23:34 dan paralelnya).” Membaca tulisan Aloysius tersebut, kita dapat bertanya, benarkah orang yang tidak mengimani Yesus juga mendapatkan keselamatan, sebagaimana digambarkan oleh Pastor Aloysius? Masalah keselamatan universal ini telah menyita perdebatan panjang dalam internal Kristen. Benarkah ada keselamatan di luar gereja Katolik? Jika memang ada, untuk apa Gereja Katolik memerintahkan kaum Katolik untuk menjalankan misinya agar percaya kepada Yesus. Dalam artikelnya, Aloysius mengenalkan diri sebagai “rohaniwan”, budayawan interreligius, dan Wakil Ketua FKUB Jawa Tengah. Sebagai rohaniwan Katolik, Aloysius tetunya sangat paham tentang perdebatan seputar wacana “keselamatan di luar gereja Katolik”. Sebelumnya, Gereja berpegang pada doktrin “extra ecclesiam nulla salus” (di luar Gereja tidak ada keselamatan). Kemudian, Konsili Vatikan II (1962-1965), menetapkan satu dokumen Nostra Aetate yang bersifat cukup simpatik terhadap agama lain, termasuk Islam. Tetapi, sejumlah dokumen Konsili Vatikan II juga mempertahankan sikap eksklusifitasnya dalam soal keselamatan. Dekrit ‘ad gentes’ mewajibkan aktivitas misi Katolik ke seluruh umat manusia:
  10. 10. 9 “Therefore, all must be converted to Him, made known by the Church’s preaching, and all must be incorporated into Him by baptism and into the Church which is His body… And hence missionary activity today as always retains its power and necessity.” (Karena itu, haruslah semua orang dikonversikan kepada Dia, Yang dikenal lewat misi Gereja; semua manusia harus menjadi anggota Dia dan Anggota Gereja dengan pembaptisan, yang adalah Tubuhnya… Oleh sebab itu, aktivitas misi Kristen dewasa ini senantiasa tetap mempunyai kekuatannya dan tetap dibutuhkan). Tahun 1990, induk Gereja Katolik di Indonesia, yaitu KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) menerjemahkan dan menerbitkan naskah imbauan apostolik Paus Paulus VI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern (Evangelii Nuntiandi), yang disampaikan 8 Desember 1975, yang menyebutkan: “Pewartaan pertama juga ditujukan kepada bagian besar umat manusia yang memeluk agama-agama bukan Kristen….Agama-agama bukan kristen semuanya penuh dengan “benih-benih Sabda” yang tak terbilang jumlahnya dan dapat merupakan suatu “persiapan bagi Injil” yang benar… Kami mau menunjukkan, lebih-lebih pada zaman sekarang ini, bahwa baik penghormatan maupun penghargaan terhadap agama-agama tadi, demikian pula kompleksnya masalah-masalah yang muncul, bukan sebagai suatu alasan bagi Gereja untuk tidak mewartakan Yesus Kristus kepada orang-orang bukan Kristen. Sebaliknya Gereja berpendapat bahwa orang-orang tadi berhak mengetahui kekayaan misteri Kristus.” Dalam pidatonya pada 7 Desember 1990, yang bertajuk Redemptoris Missio (Tugas Perutusan Sang Penebus), yang diterbitan KWI tahun 2003, Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Tugas perutusan Kristus Sang Penebus, yang dipercayakan kepada Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaian. Tatkala Masa Seribu Tahun Kedua sesudah kedatangan Kristus hampir berakhir, satu pandangan menyeluruh atas umat manusia memperlihatkan bahwa tugas perutusan ini masih saja di tahap awal, dan bahwa kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati…Kegiatan misioner yang secara khusus ditujukan “kepada para bangsa” (ad gentes) tampak sedang menyurut, dan kecenderungan ini tentu saja tidak sejalan dengan petunjuk-petunjuk Konsili dan dengan pernyataan-pernyataan Magisterium sesudahnya.” Menyimak sejumlah dokumen Gereja Katolik tentang kewajiban menjalankan misi Kristen untuk membaptis seluruh manusia, maka patut ditanyakan, apakah dukungan kaum Kristen kepada Jokowi merupakan bagian dari aktivitas misi tersebut? Bisanya, agak berbeda dengan kaum Kristen evangelis yang menyampaikan misi dengan “vulgar”, Geraja Katolik menjalankan misinya dengan halus melalui program akulturasi atau kemanusiaan. Jadi, apa sebenarnya misi kaum Kristen yang secara menggebu-gebu mendorong Jokowi sebagai calon Presiden RI? Wallahu a’lam. Jokowi akan dikorbankan? Aloysius menulis: “Jesus menjadi tokoh ideal yang berpraksis bela rasa dan solider kepada korban, bukan kepada penguasa dan pemilik modal. Itulah buah teologi blusukan dan praksis dari pastoral blusukan Jesus. Akibatnya, Jesus dijatuhi hukuman mati, bahkan dianggap pemberontak. Tanda-tanda mukjizat dan buah-buah pastoral blusukan-Nya tidak dianggap. Dia justru dituduh menggunakan ilmu sihir dan menyesatkan rakyat. Begitulah, para pemuka agama dan politikus busuk yang memusuhi-Nya kemudian bersekongkol dengan prokurator Romawi bernama Pontius Pilatus. Jesus dijatuhi hukuman
  11. 11. 10 mati.” Bagi kaum Kristen, babak terpenting dari episode kehidupan Jesus adalah penyaliban dan kebangkitan Jesus. Itulah inti agama Kristen (Christianity). Tidak ada agama Kristen tanpa adanya konsep penyaliban dan kebangkitan (crucifixion and resurrection) Jesus. Maka, kita patut bertanya, jika Jokowi disamakan dengan Jesus dalam perspektif Kristen, apakah pada akhirnya Jokowi juga akan “disalib” dan “dikorbankan” demi “menebus dosa kaum tertentu”? Kaum Katolik Indonesia mengaku memiliki “syahadat” versi Katolik yang bunyinya: “Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa, melalui dia segala sesuatu menjadi ada…” (Lihat buku, Konsili-konsili Gereja karya Norman P. Tanner, hal. 36-37). Jokowi adalah muslim. Bahkan, sudah menunaikan ibada haji. Sebagai Muslim, ia sudah bersaksi, bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.” Jokowi pasti yakin, Allah tidak punya anak dan tidak diperanakkan. Ia juga yakin akan kebenaran al-Quran, yang menjelaskan bahwa Jesus (Isa a.s.) adalah manusia, seorang Nabi. Jesus bukan Tuhan atau anak Tuhan. Bahkan al-Quran dengan tegas menyatakan: “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, bahwa Allah itu sama dengan Isa Ibnu Maryam. Padahal, al-Masih Isa Ibnu Maryam berkata, wahai Bani Israil sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Sesungguhnya siapa yang menserikatkan Allah maka Allah akan mengharamkan sorga baginya, dan tempatnya di neraka. Dan orang-orang zalim itu tidak akan mendapatkan pertolongan.” (QS 5:72). Juga, disebutkan dalam al-Quran, sungguh kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Isa adalah salah satu dari yang tiga (QS 5:73). Allah juga murka karena dituduh punya anak. Orang yang menuduh Allah punya anak, sungguh telah melakukan kejahatan besar di mata Allah (QS 19:88-91). Al-Quran pun membantah bahwa Nabi Isa a.s. telah mati di tiang salib. Tidak ada bukti yang meyakinkan tentang itu. (QS 4:157, QS 18:4-5). Menuduh Allah punya anak atau punya sekutu adalah tindakan syirik, dosa terbesar dalam pandangan Islam. Karena itu syirik disebut sebagai “kezaliman besar”. (QS 31:13). Nabi Muhammad saw ditugaskan oleh Allah untuk mengajak kaum Kristen agar mereka kembali kepada “satu kata” yang sama, yaitu hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan apa pun juga (misi Tauhid) (QS 3:64). Dalam perspektif Islam, menyamakan antara Jesus dengan Jokowi bisa dikatakan “sangat keliru” dan “sangat berlebihan”. Kaum Muslim Indonesia tentu berharap, Haji Jokowi tidak mau “disalib” dan “dikorbankan” untuk dinobatkan sebagai juru selamat kaum tertentu di Indonesia. Tapi, itu terpulang kepada Pak Haji Jokowi, karena beliau sendiri yang akan bertanggung jawab kepada Allah: apakah ikut berjuang memperkuat misi seluruh Nabi dalam menegakkan Tauhid dan Rahmatan lil-alamin atau mendukung dan memperkuat kesesatan dan kemusyrikan di negeri tercinta ini. Sebagai rakyat, kita hanya menyampaikan taushiyah, hanya sekedar mengingatkan. Wallahu a’lam bish-shawab.*/Depok, 17 Mei 2014 Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor.
  12. 12. 11 "Sang Jenderal Terbuang" Kamis, 22 Mei 2014 Jum’at 14 Maret 2014, Kompas TV menayangkan Prabowo Subianto dalam acara Aiman Dan Prabowo. Prabowo adalah salah satu nama yang maju dalam pemilihan presiden Republik Indonesia. Karena posisi presiden di RI, sesungguhnya lebih berkuasa daripada presiden Amerika Serikat maupun Rusia, presiden RI haruslah yang terbaik dari yang ikut bertarung. Tulisan ini bukan sebagai kampanye, karena saya bukan kader Partai Gerindra, namun hanya untuk mengulas mengenai sosok Prabowo Subianto yang kontroversial dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Tujuannya adalah agar masyarakat mendapatkan informasi yang lengkap dan berimbang tentang calon pemimpin yang akan dipilihnya termasuk Prabowo. Mengingat begitu krontroversial dan banyaknya disinformasi mengenai tokoh yang satu ini. Prabowo lahir di Jakarta 17 Oktober 1951. Beliau adalah mantan Danjen Kopasus (Komandan Jenderal Komando Pasukan Kuhusus), pengusaha sukses, politisi, dan calon presiden 2014. Prabowo adalah putra dari begawan ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo. Beliau juga cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo yang merupakan anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan juga merupakan pendiri Bank Nasional Indonesia (BNI). Dari silsilahnya tampak bahwa Prabowo memiliki “darah biru” elit pemimpin Indonesia. Bahkan jauh sebelum republik ini lahir. Prabowo menikahi Titiek, putri Presiden Soeharto. Saat ini, Titiek sendiri menjadi calon anggota legislatif dari Partai Golongan Karya (Golkar). Keputusan yang tampak prospektif saat itu namun menjadi blunder dalam hidupnya dikemudian hari. Dengan latar belakang keluarga intelektual, Prabowo mewarisi kecerdasan ayahnya. Beliau dikenal sangat cerdas di sekolah maupun di AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Meski beliau adalah alumnus AKABRI (1974), namun tidak banyak
  13. 13. 12 yang tahu bahwa setelah lulus SMA, Prabowo juga diterima di American School In London, Britania Raya. Karirnya dibidang militer terbilang sangat cemerlang dan membanggakan. Karir militer Prabowo termasuk yang tercepat dalam sejarah ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Prabowo bahkan sempat disebut sebagai “The Brightest Star”. Dialah jenderal termuda yang meraih 3 bintang pada usia 46 tahun. Sebagai sesama orang militer, Prabowo bisa dianggap sebagai “antitesa” dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mungkin karena karir beliau yang banyak diisi dengan penugasan di satuan tempur. Meski sama-sama merupakan “The Rising Star” di tubuh ABRI saat itu, SBY lebih dikenal sebagai perwira intelektualnya ABRI. Berbeda dengan SBY yang cenderung analitis dan berhati-hati dalam mengambil keputusan, sebagai perwira lapangan Prabowo cenderung cepat, take action. Saat keputusan sudah dibuat Prabowo akan menjalankannya dengan penuh “determinasi”. Beliau siap menanggung segala konsekuensinya. Salah satu contohnya adalah perihal peristiwa penculikan aktivis yang telah mencoreng nama baik dan menjadi penyebab kehancuran karir militernya. DKP (Dewan Kehormatan Perwira) yang menyelidiki kasus ini tidak pernah mngungkapkan hasil pemeriksaannya kepada publik. Tidak juga kepada Prabowo yang notabene menjadi tertuduhnya. Tampaknya Wiranto sengaja mengambil manfaat agar prasangka publik menghukum Prabowo lebih berat daripada “dosanya”. Meski Prabowo berikeras mengatakan tak pernah perintahkan penculikan. Namun beliau mengambil alih tanggung jawab anak buahnya. “Saya ambil alih tanggung jawabnya.” Begitu kata beliau saat itu. Sikap yang harus dibayar mahal dengan hancurnya karir militer yang gilang gemilang, namun juga menunjukkan kualitas kepemimpinan Prabowo. Jika Prabowo benar bersalah, mengapa justru korban-korban penculikan seperti Pius L Lanang dan Desmond J Mahesa justru menjadi pengurus Partai Gerindra? Meski begitu, kualitas kepemimpinan Prabowo justru sudah teruji di saat-saat paling kritis yang pernah dialami negeri ini. Bagi mereka yang lelah dengan kepemimpinan yang lemah, lama mengambil keputusan, selalu terkesan ragu-ragu tampaknya Prabowo adalah jawabannya. Bagi mereka yang muak dengan pemimpin yang sibuk selamatkan diri sendiri saat ada masalah maka Prabowo adalah pilihan yang patut dipertimbangkan. Dibanding memilih mengorbankan anak buahnya, Prabowo memilih untuk ambil alih tanggung jawab dan menanggung sendiri resikonya. Seorang kapten kapal yang baik bukanlah yang pertama selamatkan diri saat kapal tenggelam, tetapi justru yang terakhir. Seperti terlihat dalam film Titanic, ketika kapal sudah mulai tenggelam, kapten kapal memastikan semua penumpang selamat, dan akhirnya dirinya sendiri gagal selamat. Sayang, karir militer Prabowo yang gilang gemilang itu berakhir dengan cara yang kurang mengenakkan. Bahkan bisa dikatakan memilukan. Prabowo bisa dikatakan pihak yang dikalahkan dalam proses perebutan kekuasaan dan pengaruh di tubuh militer pada masa-masa kritis tahun 1998. Berbicara tentang Prabowo kita tidak bisa lepas dari peristiwa kelam Mei 1998 yang mencoreng nama bangsa Indonesia selamanya. Sebagai pihak yang kalah Prabowo menjadi “kambing hitam” dari semua kejadian tersebut. Seperti kata pepatah, tinta sejarah adalah milik pemenang. Ini tentu saja berpotensi menjadi pengganjal pencapresannya. Stigma sebagai “penjahat kemanusiaan” pasti akan dimanfaatkan sebagai senjata lawan-lawan politiknya untuk menjatuhkan Prabowo. Jika memang benar Prabowo adalah tokoh
  14. 14. 13 yang bertanggung jawab terhadap peristiwa itu maka dia sudah menerima segala hukumannya. Bayangkanlah perasaan Prabowo yang karir gemilangnya di dunia militer yang begitu dicintainya itu harus berhenti dengan sejuta rasa malu dan aib. Lalu bagaimana jika semua itu tidak benar? Layakkah Prabowo tersandera oleh prasangka tanpa bukti? Lantas layak pulakah bangsa Indonesia kehilangan kesempatan untuk dipimpin oleh putra terbaiknya? Jauh sebelum peristiwa Mei 98 proses penghancuran nama baik Prabowo sudah terjadi. Semua berawal dari rivalitas antara Prabowo dan Wiranto. Ketidak harmonisan Prabowo dan Wiranto memang sudah berlangsung sejak lama. Mungkin karena latar belakang keduanya yang jauh berbeda. Prabowo yang kosmopolitan cenderung memiliki pola pikir yang terbuka. Sementara Wiranto dengan latar belakang Jawa yang sangat kental lebih tertutup. Namun Prabowo yang terbiasa dengan persaingan terbuka sejak kanak-kanak menganggap rivalitas semacam itu sebagai hal biasa dan tidak dijadikan personal. Berbeda dengan Wiranto yang berlatar belakang sangat “Jawa Tradisional” itu, dia lebih mirip dengan Soeharto dalam menyikapi suatu rivalitas. Lihat saja nasib yang menimpa pesaing-pesaing Soeharto yang mengganggu karir militer atau politiknya di masa lalu. Jika tidak mati, membusuk di penjara. Salah satu contohnya adalah kawan saja, Fadjroel Rachman, yang sempat mendekam di Nusa Kambangan dan kehilangan teman-temannya. Fadjroel sendiri akhirnya bebas ketika Habibie menjadi presiden. Indikasi ketidaksukaan Wiranto terlihat dengan absennya beliau sebagai Pangab (Panglima ABRI) dalam acara serah terima Pangkostrad Letjen Soegiono kepada Prabowo. Begitu juga saat pemberhentian secara hormat Prabowo sebagai perwira militer. Beliau mencopot tanda-tanda pangkat Prabowo dengan satu tangan saja. Proses berakhir secara paksanya karir militer Prabowo memang tidak bisa dilepaskan dari rivalitas perwira muda dan perwira tua. Prabowo sebagai gambaran perwira muda tentu saja menjadi sasaran tembak utama saat itu. Posisi Prabowo saat itu benar-benar terjepit. Di satu sisi dia adalah menantu penguasa yang sedang menjadi sasaran sentimen negatif rakyat. Di sisi lain akibat manuver Wiranto dkk, Soeharto yang masih punya pengaruh justru membencinya sampai ke ubun-ubun. Sampai-sampai kepada penggantinya Habibie, beliau menyampaikan pesan khusus untuk “mengamankan” Prabowo. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Semua tidak terlepas dari peristiwa Mei yang mengerikan itu. Peristiwa yang hingga kini masih menghantui republik ini. Ada 3 tuduhan utama yang diarahkan kepada Prabowo, yaitu: Penculikan akitivis, penembakan mahasiswa Trisakti, dan dalang kerusuhan Mei 1998. Tidak satupun tuduhan tersebut yang terbukti. Seandainya Prabowo bersalah bukankah Pangab saat itu Wiranto? Bukankah sebagai panglima beliau yang seharusnya paling bertanggung jawab? Mengapa hingga saat ini Prabowo tidak pernah diberitahu tentang hasil penyelidikan DKP sehingga tidak bisa membela diri? Mengenai penembakan mahasiswa Trisakti, Wiranto juga terkesan sengaja ‘buying time’ dengan tidak mengusut kasus ini secara cepat. Akibatnya tuduhan kembali ke Prabowo, yang jadi bulan-bulanan opini publik, dicurigai sebagai orang dibalik penembakan itu. Meski banyak sekali keanehan terhadap tuduhan ini namun fitnah sudah mencapai sasaran. Dan sekali lagi Prabowo terlanjur menjadi pesakitannya. Tuduhan mengarahkan Prabowo di balik penembakan, dengan konspirasi anggota kopasus memakai seragam Polri sebagai pelaku penembakan snipper. Teori konspirasi ini tidak pernah terbukti, karena peluru snipper diatas 7 mm dan proyektil peluru tertanam di korban kaliber 5,56 mm. Sementara korban dipilih secara acak. Kalau snipper akan memilih misalnya pemimpin demo atau target pilihan. Lima hari setelah insiden Trisakti, Prabowo datang ke rumah Herry
  15. 15. 14 Hartanto. Di bawah Alquran dia bersumpah. Di depan Syaharir Mulyo Utomo orang tua korban, “Demi Allah saya tidak pernah memerintahkan pembantaian mahasiswa.” Perihal keterlibatan Prabowo atas penembakan mahasiswa Trisakti, tanggal 14 Mei terjadi pertemuan di Makostrad (Markas Komanda Staf Angkatan Darat) atas inisiatif Setiawan Djodi. Pertemuan antara Prabowo dan tokoh masyarakat, antara lain: Adnan Buyung Nasution, Setiawan Djodi, Fahmi Idris, Bambang Widjoyanto. Dalam pertemuan itu Prabowo ditanya tentang keterlibatannya. Prabowo menjawab, “Demi Allah saya tidak terlibat, saya di set-up.” Menurut Buyung terlihat jujur. Peristiwa selanjutnya semakin memperkuat ketidak terlibatan Prabowo atas peristiwa penembakan mahasiswa tersebut. Puspom ABRI Sjamsu Djalal menghadapi kesulitan memaksa Kapolri Dibyo Widodo untuk menyerahkan anggotanya yang dicurigai terlibat. Disinilah peran Wiranto terlihat. 17 hari setelah insiden itu berlalu baru Wiranto memanggil Dibyo untuk memerintahkan untuk menyerahkan anggota. Itupun anggota diserahkan ke Polda bukan ke POM ABRI. Padahal Polri saat itu masih menjadi bagian ABRI dan Pangabnya adalah Wiranto. Sementara senjata sebagai barang bukti baru diserahkan tanggal 19 Juni 98. Hampir satu bulan sejak peristiwa terjadi. Kelak tahun 2000, uji balistik di Belfast, Irlandia membuktikan bahwa peluru berasal dari anggota Polri unit gegana. Siapa sesungguhnya dibalik pristiwa itu? Siapa yang beri perintah? Jelas bukan Prabowo yang sebagai Pangkostrad tidak punya jalur komando ke Polri. Dalam militer, garis komando benar-benar diterapkan. Bagaimana dengan tuduhan Prabowo sebagai otak dibalik kerusuhan Mei 98? Benarkah dia yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut? Atau kembali lagi beliau dikorbankan akibat proses perebutan kekuasaan terselubung diantara para elit militer saat itu? Apakah benar kerusuhan tersebut terjadi karena spontanitas atau ‘crime by omission’ (kejahatan karena pembiaran) atau bahkan ‘terror by design’ (teror yang didesain)? Mari kita kembali ke zaman yang tidak mengenakkan itu. Kadang untuk mencari kebenaran sejarah kita butuh “mesin waktu”. Tampaknya kita harus memanggil Doraemon ke sini sekarang. Kita juga membutuhkan testimoni para pelakunya yang saat ini masih hidup bahkan sedang berkuasa. Sedikit dari kita yang mengetahui apa peran SBY dalam proses pergantian kekuasaan saat itu. Padahal beliau juga cukup berperan. Sudah menjadi kepercayaan umum bahwa penembakan mahasiswa Trisakti mengakibatkan terjadinya kerusuhan besar-besaran. Benarkahkah demikian? Bukti-bukti menunjukkan bahwa kerusuhan Mei 98 itu bukanlah spontanitas kemarahan warga akibat peristiwa Trisakti. Adakah rekayasa pihak tertentu atau setidaknya pembiaran sehingga peristiwa itu bisa terjadi? Mari kita lihat secara jernih bukti-bukti yang ada. Satu peristiwa yang bisa dijadikan kunci keterlibatan Wiranto pada peristiwa tersebut adalah kepergiannya ke Malang saat ibukota sedang genting-gentingnya. Sebab Wiranto sudah tahu akan ada kerusuhan di ibukota, tetapi tetap bersikukuh untuk pergi ke Malang. Acara di Malang adalah serah terima PPRC dari Divisi I ke Divisi II. Wiranto menjadi Inspektur upacara (irup) nya. Sebenarnya itu adalah acara rutin yang bisa diwakilkan. Bayangkan, untuk serah terima Pangkostrad saja dia bisa berhalangan hadir. Bagaimana mungkin dalam kondisi ibukota yang genting dia sebagai pemegang kunci komando lebih memilih jadi irup acara seremonial seperti itu? Sangat tidak bisa diterima akal sehat. Apalagi mengingat tanggal 13 Mei malam Wiranto memimpin rapat Garnisun Jakarta untuk menanyakan situasi terakhir. Lebih mencurigakan lagi bahwa Kasum TNI Fahariur Razi saat itu sudah ditunjuk Pangkostrad Prabowo menjadi irup di
  16. 16. 15 Malang. Tetapi sekonyong-konyong diambil alih oleh Wiranto. Suatu kebetulan atau kesengajaan? Mungkinkah Wiranto sebagai Pangab tidak tahu menahu kondisi Jakarta? Dalam kondisi ibukota terjadi kerusuhan Wiranto malah pergi ke Malang dengan mengajak komandan-komandan seperti Danjen kopasus, komandan Marinir, dll. Lebih mencurigakan lagi sebenarnya Prabowo sudah brulang kali menghubungi Wiranto untuk membatalkan kepergiannya. Wiranto menjawab “Show must goon”. Ini mirip dengan Soeharto tahu akan gerakan 30 September namun sengaja tidak melakukan tindakan apapun untuk mencegahnya. Sebelumnya, saat situasi makin mengarah rusuh 12 Mei 1998 Panglima TNI Wiranto tidak memerintahkan pasukan untuk berada di Jakarta. Atas permintaan Pangdam Jaya yang mendapat perintah dari Mabes ABRI, Pangkostrad Prabowo kemudian membantu pengamanan ibukota. Pangkostrad Prabowo kemudian membantu Pangdam Jaya dengan mendatangkan pasukan dari Karawang, Cilodong, Makasar, dan Malang untuk membantu Kodam. Tetapi sekali lagi Wiranto tidak mau memberi bantuan pesawat Hercules sehingga Prabowo mencarter sendiri pesawat Garuda dan Mandala. Seharusnya jika negara dalam keadaan genting seperti itu panglima wajib mengambil alih komando dan secara fisik wajib berada di lokasi. Tetapi yang terjadi justru tidak terlihat sedikitpun i’tikad baik Wiranto untuk mencegah terjadinya kekacauan yang menelan korban hingga ribuan orang tersebut. Anehnya justru belakangan kubu Wiranto yang melemparkan kesalahan kepada Prabowo yang dianggap mengakibatkan kerusuhan itu. Bukankah Wiranto sudah menggelar rapat Garnisun tanggal 13 Mei untuk menanyakan situasi terakhir? Apakah Zaki Anwar Makarim sebagai ketua Badan Intelijen ABRI tidak pernah mengingatkan Wiranto akan ada kerusuhan? Bukankah Prabowo sendiri sudah mengingatkan Wiranto akan terjadi kerusuhan dan mencegahnya pergi ke Malang? Mengapa Wiranto tidak bergeming? Lantas apa sebenarnya tujuan Wiranto membentuk Pam Swakarsa? Pam Swakarsa ini rencananya akan dipakai sebagai perlawanan kalangan sipil terhadap demo yang semakin menjadi-jadi saat itu. Untuk Pam Swakarsa sendiri, memiliki produk “unggulan” yaitu Front Pembela Islam (FPI) yang kemudian direspon oleh hadirnya Jaringan Islam Liberal (JIL). Namun belakangan dicurigai bahwa justru Pam Swakarsa inilah salah satu penyulut kerusuhan Mei tersebut. Jauh sebelum peristiwa Mei terjadi, mantan Kakostrad Kivlan Zein bersaksi bahwa dialah yang diperintahkan Wiranto untuk membentuk Pam Swaraksa. Mengapa Wiranto menolak permohonan bantuan Hercules Prabowo sehingga dia harus mencarter sendiri pesawat Garuda dan Mandala? Mengapa saat Prabowo mengerahkan pasukan untuk berusaha menghentikan penjarahan “sistematis” toko-toko, justru Panglima TNI melalui Kasum Fahariur Razi malah melarang pengerahan pasukan untuk membantu Kodam Jaya? Mengapa panser-panser dan pasukan yang sudah siap saat itu tidak bisa bergerak karena menunggu perintah yang tidak kunjung datang? Keragu-raguankah atau kesengajaan? Yang jelas akibatnya ribuan nyawa melayang sia-sia, ratusan wanita diperkosa, aset-aset pribadi dibumi hanguskan. Bukti lain semakin mengarah kepada Wiranto sebagai dalang sesungguhnya dari kerusuhan Mei 98 dari pengakuan mantan Ka Puspom ABRI Sjamsu Djalal. Melihat kondisi ibukota yang semakin tidak terkendali, beliau menyarankan untuk memberlakukan jam malam. Namun Wiranto tidak bergeming. Artinya ada lebih dari satu orang yang memberi peringatan kepada Wiranto saat itu. Jadi keputusannya berangkat ke Malang adalah bagian dari “rencana”. Makin terkuak disini bahwa Prabowo yang justru berupaya mengamankan situasi malah dijadikan kambing hitam sebagai pelaku kudeta.
  17. 17. 16 Pertanyaan selanjutnya adalah, benarkah kerusuhan Mei itu murni spontanitas warga atau karena rekayasa dalam kaitan perebutan kekuasaan saat itu? Mengenai pembentukan Pam Swakarsa, Kivlan Zein sudah memberi testimoni bahwa itu adalah bentukan Wiranto. Dia yang ditugasi perintah pembentukan Pam Swakarsa diberikan oleh Wiranto. Dia panggil Kivlan Zein untuk meminta dana dari Setiawan Djodi. Pertemuan ini diatur oleh Jimmly Asshidiqie. Dalam pertemuan tersebut Wiranto mengatakan ini perintah Habibie. Jimmly akrab dengan Habibie dalam ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Kerusuhan yang terjadi karena spontanitas biasanya meluas dengan menjalar. Tidak serempak dimulai di seluruh penjuru kota dalam waktu yang bersamaan. Satu-satunya jawaban yang bisa diterima akal sehat adalah bahwa kerusuhan itu terjadi “by design”, dimulai berdasarkan komando pihak-pihak tertentu. Mengapa pada pagi hari tanggal 14 Mei ada pasukan dari Solo diterbangkan ke Jakarta dan mendarat di Halim? Disaat yang sama kerusuhan terjadi bersamaan antara Jakarta dan Solo. Semua terjadi pada pagi hari di waktu yang persis bersamaan. Tidak ada jeda. Seolah-olah mengisyaratkan bahwa kerusuhan di kedua kota ini sudah direncanakan matang sebelumnya dan dibawah komando yang sama. Disaat massa mulai menjarah di Jakarta disaat yang sama kejadian serupa terjadi di Solo. Modusnya sama persis. Jika kerusuhan itu spontanitas, mengapa dimulai secara serempak di berbagai penjuru Jakarta sekaligus Solo? Di salah satu pertokoan, ada kesaksian seorang ibu yang mencari anaknya yang ikut masuk ke Jogja Plaza karena disuruh seseorang. Tetapi dilantai 2 ditampar dan disuruh keluar dan akhirnya keluar sebelum pintu ditutup dari luar. Kita tahu akhirnya Jogja Plaza dibakar. Mungkinkah mahasiswa atau penduduk urban sengaja memasukkan massa ke dalam gedung lalu membakarnya dari luar? Atau ada pihak tertentu yang sengaja memobilisasi massa supaya terjadi kondisi kekacauan yang memungkinkan pihak-pihak tertentu ambil peranan? Sebagaimana yang kita ketahui selanjutnya, kondisi kacau itu sendiri akhirnya mempercepat proses jatuhnya Soeharto dari tampuk kekuasaan. Lalu siapakah yang diuntungkan dari jatuhnya Soeharto? Adakah Wiranto dkk atau Prabowo? Yang jelas sesaat setelah lengsernya Soeharto, Wiranto sebagai Pangab dengan mudahnya menghancurkan karir militer Prabowo. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada aktivis mahasiswa 98, disini disampaikan bahwa sesungguhanya kejatuhan Soeharto bukan karena demo. Tetapi lebih karena pengkhianatan para elit, baik sipil maupun militer yang mana mereka sesungguhnya bagian dari kroni Soeharto sendiri. Peristiwa jatuhanya Soeharto dari kekuasaanya itu sendiri lebih tepat dikatakan hasil dari sebuah kudeta halus (soft coup) yang memanfaatkan demonstrasi mahasiswa yang merebak dimana-mana sebagai “pemicu”nya. Rupanya dalam suasana genting jatuhanya kekuasaan Soeharto itu diwarnai pula oleh rivalitas yang muncul ke permukaan diantara para perwira ABRI. Akibat lemahanya kepemimpinan Wiranto sebagai Pangab ditambah suasana yang tidak menentu. Masing-masing perwira berusaha mencari manfaat atas situasi tersebut. Para perwira berusaha “berinvestasi” pada masa depan masing-masing, setidaknya mengamankan posisi mereka masing-masing. Pada saat itu terlihat jelas di tubuh ABRI sendiri tidak solid dibawah satu komando. Masing-masing punya agenda sendiri-sendiri dan saling curiga satu sama lain. Salah satu contohnya adalah adanya siaran pers dari puspen (pusat penerangan) ABRI
  18. 18. 17 menjelang berakhirnya kekuasaan Soeharto. Siaran pers yang walau dibantah langsung oleh Wiranto namun turut mempercepat proses lengsernya Soeharto. Salah satu isi dari rilis tersebut adalah dukungan terhadap sikap PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) yang mendukung Presiden Soeharto lengser. Sebenarnya itu bukan merupakan rilis resmi ABRI karena tidak memakai kop surat dan tidak ditanda tangani. Menurut Makodongan, siaran pers dukungan terhadap sikap PBNU itu dibuat oleh Mardianto dan Kasospol saat itu, SBY. Meski tengah malam itu juga Wiranto membangunkan seluruh perwira untuk menarik rilis itu dari seluruh media massa agar tidak diterbitkan. Namun sudah terlanjur beredar dan Soeharto yang tahu tentang ini semakin kehilangan perspektif terhadap kondisi lapangan, terutama mengenai dukungan ABRI. Kejadian ini semakin memperburuk hubungan Prabowo dan Wiranto karena dia menganggap Prabowo-lah yang mengadukan ini ke Presiden. Tanggal 18 Mei Harmoko yang selalu menjilat Soeharto akhirnya menjadi “Brutus” dengan meminta beliau secara arif dan bijaksana untuk mundur. Sikap Harmoko ini cukup mengejutkan mengingat keberadaannya sebagai Ketua DPR/MPR adalah semata-mata untuk mengamankan kekuasaan Soeharto. Sebelumnya dia selalu langganan dipilih sebagai menteri oleh Soeharto. Bisa dikatakan dia memperoleh segala-galanya karena Soeharto. Namun karena desakan mahasiswa dan tokoh masyarakat akhirnya dia memilih untuk menyelamatkan diri sendiri. Namun begitu pernyataan pemimpin DPR/MPR itu, disambut gegap gempita oleh mahasiswa yang menduduki gedung DPR dan masyarakat seluruh Indonesia. Tetapi kegembiraan itu tidak berlangsung lama karena sekitar pukul 23:00 WIB Wiranto menyampaikan bahwa ABRI menolak pernyataan Harmoko itu. Melihat situasi yang semakin tidak menguntungkan kekuasaannya sebenarnya Soeharto sudah berniat mundur dari jabatannya. Namun dia ingin memastikan pasca mundurnya dia sebagai presiden tidak ada kekacauan yang membuka peluang bagi militer untuk berkuasa. Tanggal 19 Mei dibuatlah pertemuan dengan beberapa tokoh masyarakat, seperti Gus Dur, Nurcholis Madjid, Emha Ainun Nadjib, dll, minus Amien Rais. Dalam pertemuan tersebut Soeharto menyatakan akan membentuk Kabinet Reformasi yang akan menyiapkan pemilu. Sementara itu menjelang rencana Amien Rais yang akan mengumpulkan massa di Monas tanggal 19 Mei, Wiranto mengadakan rapat di Mabes. Dalam rapat yang dihadiri para perwira tinggi militer itu kembali muncul perbedaan antara Prabowo dan Wiranto. Dalam rapat itu Wiranto mengatakan bahwa perintah yang dibuat adalah mencegah masuknya pendemo dengan segala cara (at all cost). Prabowo bertanya berulang-ulang apa maksud perintah itu? Apakah akan digunakan peluru tajam? Pertanyaan tersebut tidak dijawab dengan jelas oleh Wiranto. Kivlan Zein menggelar tank dan panser dengan perintah, “Lindas saja mereka yang memaksa masuk Monas!” Kivlan Zein meminta Prabowo agar Amien Rais membatalkan rencana demo sejuta umat di Monas. “Dari pada saya dimusuhi umat Islam lebih baik saya tangkap Amien Rais” kata Kivlan. Akhirnya Amien Rais membatalkan rencana demo di Monas. Saat menghadapi Habibie, Prabowo berkata, “Pak, bapak sepuh mungkin akan lengser siapkah anda menggantikannya?” Bapak sepuh adalah sapaan Prabowo kepada Soeharto yang saat itu menjadi mertuanya. Selanjutnya Prabowo meminta Habibie untuk mempersiapkan diri. Disini terlihat bahwa Prabowo merasa tidak punya masalah dengan Habibie. Jika kita membaca ulang berita-berita media jauh sebelumnya, juga tampak jelas hubungan kedua tokoh ini sangat akrab. Berulang kali Prabowo menyampaikan kekagumannya pada Habibie, begitu juga sebaliknya. Prabowo yang berhasil meredakan situasi merasa akan mendapat pujian. Maka datanglah dia ke
  19. 19. 18 Cendana. Tapi celaka, disitu sudah ada kelompok Wiranto yang duduk bersama-sama dengan Soeharto dan putra-putrinya. Rupanya disitu Wiranto “mengadukan” tentang manuver Prabowo yang mengindikasikan dia runtang-runtung dengan Habibie dan para aktivis. Saat dia tiba, Mamiek langsung menghardik Prabowo dengan kasar sambil mengacungkan telunjuk hanya satu inci dari hidung Prabowo. Sambil berkata, “Kamu pengkhianat! Jangan injakkan kakimu di rumah saya lagi!” Prabowo keluar menunggu sambil bilang, “Saya butuh penjelasan”. Titiek –istri Prabowo- hanya bisa menangis, lalu dia pulang. Saat itu sesungguhnya Prabowo sudah dikalahkan, kalah oleh lobi dan pendekatan Wiranto yang meyakinkan. Dalam kondisi gamang seperti itu memang Soeharto sangat rentan menerima informasi yang dipelintir. Hal yang sama akan terulang kembali pada Habibie. Kali ini Wiranto sendiri mengakui ada informasi yang salah ditangkap Habibie dari dirinya. Sementara itu Habibie yang merasa terancam dengan rencana pembentukan Kabinet Reformasi mengeluarkan kartu As-nya. Dia dan 14 menteri ekuin di bawah Ginandjar Kartasasmita menyampaikan keberatannya untuk menjadi bagian dari Kabinet Reformasi. Soeharto merasa benar-benar terpukul atas kejadian terakhir ini karena merasa ditinggalkan. Apalagi diantara mereka ada yang dianggap sebagai orang-orang yang dia “selamatkan”. Malam itu Soeharto terlihat gugup dan bimbang. Suatu kejadian langka. Namun disaat-saat penuh kekecewaan itu hadir sahabat-sahabat sejati yang menunjukkan kesetiaannya. Malam itu hadir di Cendana para mantan wapres menyampaikan dukungannya; Umar Wirahadikusuma, Sudharmono, Try Sutrisno. Sekitar pukul 23:00 WIB Soeharto memanggil Yusril Ihza Mahendra, Saadilah Mursayaid, dan Wiranto. Beliau menyampaikan bahwa besok akan menyerahkan kekuasaan kepada Habibie. Esok paginya, Harmoko, Syarwan Hamid, Abdul Gafur, Fatimah Ahmad, dan Ismail Hasan Metareum menemui Soeharto di ruang Jepara. “Ada dokumen lain lagi?” Tanya Soeharto. “Tidak Pak.” jawab Harmoko. “Baik kalian tunggu saja disini, saya akan melaksanakan pasal 8 UUD 45.” Tutur Soeharto. Di Credential Room Soeharto bertemu Habibie tetapi Soeharto melengos. Soeharto sangat sakit hati dengan murid kesayangannya ini. Selesai menyampaikan pidato pengunduran dirinya, dia menyalami Habibie dan kembali ke ruang Jepara. Kepada para pimpinan DPR/MPR itu dia berkata, “Saya sudah bukan presiden lagi”. Mbak Tutut sembab matanya karena menangis. Harmoko melongo. Pagi itu adalah pertemuan terakhir Soeharto dan Habibie. Bahkan saat kritis menjelang ajalnyapun Habibie dilarang menemui Soeharto. Hubungan Soeharto dan Habibie adalah hubungan panjang dua manusia yang berhasil menjadi pemimpin negeri ini. Soeharto sudah mengenal Habibie sejak Habibie masih anak-anak. Bahkan saat ayah Habibie meninggal Soeharto-lah yang menyolatkannya. Soeharto-lah yang menutupkan mata ayah Habibie saat meninggal dunia. Bahkan dalam buku biografinya Soeharto tidak segan-segan menunjukkan kepercayaan dan rasa sayangnya terhadap Habibie. Soeharto pula yang mengirim utusan untuk menjemput Habibie di Jerman untuk kembali ke Indonesia. Kita belajar dari sini. Bagaimana demi kedudukan hubungan umat manusia yang begitu dalam mampu dikorbankan.
  20. 20. 19 Sekitar pukul 23:00 WIB Prabowo dan Muhdi bertemu dengan Habibie di kediamannya untuk memberi dukungan pada presiden baru. Namun keesokannya pada tanggal 22 Mei, selesai Sholat Jumat Prabowo mendapat kabar mengejutkan. Bagai petir di siang bolong, Prabowo di Makostrad ditelepon Mabes AD, diminta menanggalkan benderanya. Perintah itu tak lain artinya bahwa jabatannya dicopot. Prabowo mengingat perkataan Habibie jauh sebelumnya, “Prabowo, kapan pun kamu ragu temui saya, jugan pikirkan protokoler!” Maka Prabowo menemui Habibie yang sudah menjadi presiden dan berkata, “Ini penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya.” Habibie menjelaskan kalau dia mendapatkan laporan dari Pangab bahwa ada gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan istana. Prabowo minta setidaknya 3 bulan di Kostrad. Habibie menolak. “Tidak, sampai matahari terbenam anda harus menyerahkan semua pasukan!” Dari sini kembali terlihat, untuk kedua kalinya Prabowo dikalahkan oleh lobi dan pendekatan Wiranto. Kelak, Wiranto sendiri mengakui bahwa ada kemungkinan informasi yang diberikan diterima secara salah oleh Habibie. Namun kesalahpahaman apapun itu, Prabowo sudah terlanjur menjadi pihak yang dirugikan. Hancurlah karir militer yang begitu gilang gemilang. Kita tidak pernah tahu apakah baik Soeharto maupun Habibie sama-sama salah mengartikan informasi yang disampaikan Wiranto, atau memang ada kesengajaan melakukan miss-informasi terhadap Prabowo mengingat persaingan internal ABRI saat itu. Demikian akhir tulisan singkat mengenai Sang Jenderal Terbuang. Semoga menambah wawasan dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Semoga artikel diatas bisa menambah wawasan Anda semua. *sumber: http://adainfounik.blogspot.com/2014/04/inilah-fakta-sebenarnya-tentang-prabowo.ht ml?m=1 " Dalang Kerusuhan Mei 1998 Menurut Robert Strong " (by Ali Mochtar) Obsesi saya selama 16 tahun terakhir adalah menemukan pihak yang menjadi dalang kerusuhan Mei 1998 sebab siapapun pihak yang berada di belakang serangkaian peristiwa di bulan-bulan terakhir Orde Baru yang berujung pada kerusuhan Mei 1998 itu sungguh sangat keji dan tidak berprikemanusiaan, membunuh ribuan manusia tidak berdosa hanya sekedar untuk menjatuhkan seorang presiden yang satu-satu kesalahan paling besar adalah berkuasa terlalu lama. Sebagaimana kebanyakan rakyat Indonesia maka saya juga menghubungkan Kerusuhan Mei 1998 dengan persaingan antara dua jenderal yaitu Wiranto dan Prabowo. Semua bukti yang dipaparkan media massa selama ini memang mengerucut pada dua nama tersebut, masing-masing melakukan berbagai tindakan yang dapat diartikan sebagai usaha untuk mendukung Kerusuhan Mei 1998, seperti kepergian Wiranto ke Malang pada hari kerusuhan dengan membawa seluruh panglima angkatan perang; atau bercandaan Prabowo kepada Lee Kuan Yew menjelang Pemilu 1997 bahwa dia mungkin akan memberontak. Namun demikian, hasil penelitian saya selama 16 tahun justru menemukan fakta yang
  21. 21. 20 berbeda, bahwa dalang sesungguhnya dari Kerusuhan Mei 1998 bukan Wiranto maupun Prabowo, melainkan para barisan sakit hati orde baru, dan berikut ini adalah hasil penelusuran saya tersebut. Yang harus kita telusuri pertama kali adalah motivasi Kerusuhan Mei 1998, dan berdasarkan temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mei 1998 ditemukan fakta bahwa pelaku utama kerusuhan adalah bukan rakyat setempat, melainkan orang-orang berbadan tegap berambut cepak yang secara terkoordinir memprovokasi rakyat dan menyiram gedung-gedung dengan bensin yang sudah mereka bawa kemudian membakar. Setelah rakyat terprovokasi orang-orang ini kemudian menghilang. Semua petunjuk menunjukan bahwa provokator di lapangan adalah militer, namun pertanyaannya militer di bawah komando siapa? Ini adalah pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah terungkap, akan tetapi dari keahlian para provokator itu dapat dipastikan mereka adalah intelijen dan bukan orang lapangan. Akhirnya selama bertahun-tahun saya hanya bisa menduga-duga pelakunya antara Prabowo atau Wiranto, sampai suatu saat saya menemukan dua buku otobiografi yang melengkapi semua puzzle yang ada, yaitu buku Salim Said, dan Bill Tarrant, mantan kontributor asing the Jakarta Post, keduanya saya beli di Indonesia, yang pertama di Gramedia, yang kedua di Kinokuniya Plaza Senayan. Banyak informasi penting dalam buku Salim Said, tapi yang paling penting adalah Benny Moerdani pernah mengatakan kepada dia dan angkatan 66 lain, bahwa cara menjatuhkan Pak Harto adalah melalui berbagai kerusuhan untuk mendestabilisasi keadaan yang akan membuat kursi Pak Harto goyah, dan saat itu Pak Harto akan mudah didongkel. Itu dia, ini jawabannya, dan semua masuk akal, siapa lagi yang bisa mengeksekusi pekerjaan intelijen serapi Kerusuhan Mei 1998 bila bukan raja intelijen, Benny Moerdani? Jalinan cerita dari Salim Said tersebut kemudian menyambung dengan cerita Bill Tarrant bahwa The Jakarta Post yang tadinya diciptakan pendiri CSIS Jusuf Wanandi dan Ali Moertopo sebagai mesin propaganda Orde Baru ke dunia luar sejak tahun 1990 tiba-tiba ikut menyerang Orde Baru dengan isu HAM, demokrasi, bertepatan dengan tersingkirnya CSIS dari Orde Baru. Selain itu The Jakarta Post juga adalah kekuatan di belakang layar yang membangkitkan para LSM yang sudah menjelang mati suri untuk melawan Orde Baru, dan yang lebih penting lagi, The Jakarta Post adalah donatur utama dari gerakan mahasiswa 1997-1998, dan bahkan markas besar mahasiswa saat itu adalah kantor The Jakarta Post!! Siapa menyangka bahwa provokator Kerusuhan Mei 1998 adalah kantor redaksi salah satu koran yang paling dihormati di Indonesia?? Tapi semua masuk akal sebab Benny Moerdani adalah bagian dari CSIS dan mewarisi jaringan opsus yang sudah dibangun oleh Ali Moertopo beserta strategi penggunaannya. Sedangkan CSIS maupun Benny Moerdani, sebagaimana ditulis Jusuf Wanandi dalam The Shades of Grey/Membuka Tabir Orde Baru sangat dendam sebab Soeharto menyingkirkan mereka dan melupakan jasa Ali Moertopo maupun Hoemardani, patron CSIS. Semua bertambah masuk akal bila kita mengingat strategi favorit Ali Moertopo dalam menjatuhkan lawan adalah mendestabilisasi keadaan. Dengan menggunakan cara ini dia
  22. 22. 21 berhasil memaksa Soekarno memberikan supersemar kepada Soeharto; dan dengan menempatkan kuda troya bernama Hariman Siregar, Ali Moertopo berhasil memancing mahasiswa Universitas Indonesia untuk terlibat dalam kerusuhan Malari yang pada akhirnya menjatuhkan saingan Ali Moertopo, Jenderal Soemitro. Adapun keterangan bahwa Hariman Siregar adalah anak buah Ali Moertopo dan mendapat posisi di senat Universitas Indonesia adalah keterangan Jenderal Soemitro di pembelaan dirinya mengenai Malari. Semua bertambah masuk akal bila kita juga mengingat bahwa Benny Moerdani ada di belakang Megawati ketika kerusuhan 27 Juli 1996 pecah; dan menjelaskan mengapa jenderal-jenderal seperti Agum Gumelar; SBY; Sutiyoso; Hendropriyono berani bersekongkol dengan Megawati mencetuskan Kerusuhan 27 Juli 1996, sebab mereka mendapat dukungan dari Benny Moerdani. Soeharto sendiri tampaknya sudah tahu bahwa Benny Moerdani ada di belakang kejatuhan dirinya, sebab sesaat setelah dia lengser keprabon, Soeharto segera merajut hubungan kembali dengan Benny, termasuk pertemuan bertiga antara dirinya, Gus Dur dan Benny di luar kota Jakarta. Berdasarkan semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa CSIS dan Benny Moerdani adalah aktor utama Kerusuhan Mei 1998 dan bukan Wiranto maupun Prabowo.... Wallaahu a'lam SERBA SERBI PRABOWO KISAH PRABOWO MENAMPAR PERWIRA DELTA FORCE US Ketika Rencana Operasi Pembebasan Sandera di Mapenduma, Amerika menawarkan Bantuan ke Kopassus untuk ikut dalam Oprasi Pembebasan Sandera Tim Lorrent di Mapenduma Papua, Amerika mengirim seorang Perwira menengah bernama Letkol Green. Ketika Pada saat Briefing dengan beberapa Perwira Kopassus, tiba - tiba Letkol Green mengatakan "Hanya James Bond yang bisa membebaskan Sandera-sandera itu"... setelah selesai Briefing, salah seorang Perwira melaporkanya kepada Prabowo dan Prabowo mendatangi Perwira Delta Force tersebut dan Langsung menggamparnya hingga tersungkur... Green hanya terheran - heran, tidak menyangka dia akan digampar, Prabowo pun membentaknya "Jika Kamu meremehkan Negara dan pasukan saya, saya bisa langsung menembak kepalamu" Kami mengusir penjajah hanya dengan Bambu Runcing, kami adalah bangsa yang besar, jika kamu tidak suka, sekarang juga kamu angkat kaki dari negara saya".... karena sakit hati... Letkol Green inilah yang melatih Densus 88.
  23. 23. 22 Prabowo dan Jokowi, Dua Kekuatan dari Kampiun yang Berbeda Kamis, 22 Mei 2014 Jokowi dan Prabowo, dua kekuatan dari kampiun yang berbeda. Laju kedua sosok ini berkibar kencang laksana angin badai taufan dunia. Yang satu mantan Jenderal, yang satunya mantan tukang kayu dari Solo. Masing-masing punya kekuatan, masing-masing punya senjata pemusnah massal yang mematikan dan tak tertandingi oleh siapapun saat ini. Siapa yang tak kenal Jokowi, sosok yang melenting ke permukaan melesak dasyat bagaikan meteor sejak isu mobil Asemka muncul ke permukaan. Derap laju langkah kakinya pun tak tertahankan, dari Solo menuju Jakarta. Kini dari Kebon Sirih menuju Istana Negara. Sosok yang dekat dengan wong cilik, murah senyum, suka mlaku-mlaku merono merene alias blusukan, senyum sumringah dan punya sense of humor yang tinggi, tapi jangan ditanya dasyatnya kekuatan ketegasannya yang terbalut dalam keramahannya dalam kultur Jawa yang santun. Angle-nya unik. Cara bicaranya bertaburan pleonasme, membangun klimaks dari alinea pertama ke alinea berikutnya dibalut filosofi dalam alunan kalimat per kalimat setajam belati sebagai lambang bangkitnya wong cilik dalam tarikan nafas sejanak sebelum mengambil ancang-ancang dan bergerak semakin kencang sesuai dengan kadar intelektual, pengalaman hidup dan kaidah yang diperjuangkannya dengan jujur dan tanpa pamrih. Walaupun Jokowi enggak seganteng Prabowo, ibaratnya wajah ndeso tapi dompet kota (minjem istilah Tukul Lele Arwana itu). Inilah daya pikat Jokowi yang membius hampir jutaan orang yang tersebar di seluruh pelosok negeri. *** Lantas bagaimana dengan Prabowo? Jangan ditanya lagi sosok ini. Seorang mantan Jenderal yang paling ditakuti Australia, dan paling disegani oleh Amerika. Satu-satunya mantan Jenderal di negeri ini yang diberi penghargaan sebagai pelatih perang terbaik dan warga negara istimewa di Yordania. Orang bilang pengalaman hidup lebih berharga dari emas dan permata, lebih bernilai dari nilai mata uang. Sepak terjang sosok seorang Prabowo telah membius alam bawah sadar jutaan rakyat di negeri ini dengan sosoknya yang menunggani Kuda seharga 3 milyar dan baju perang putih ala Soekarno dan Pablo Escobar. Prabowo, mantan Jenderal yang pernah sukses membungkam sejumlah petinggi militer di negeri ini termasuk Jenderal LB Moerdani itu, pernah hampir baku hantam dengan Komandan Korem Timor Timur, Kolonel Inf Kiki Sjahnakrie, di kantor Pangdam IX Udayana. Prabowo, satu-satunya mantan Jenderal yang paling berani melengserkan Benny Moerdani dari empuknya kursi Panglima ABRI. Prabowo pula yang menggembleng Kopassus di Fort Benning, Amerika Serikat, sehingga menjadi pasukan yang paling solid dan paling ditakuti di dunia Internasional.
  24. 24. 23 Prabowo, satu-satunya mantan Jenderal yang paling ditakuti para pengusaha hitam di negeri ini. Mereka pernah merasakan kerasnya tamparan tangan Prabowo yang membekas di pipi mereka yang putih bersih itu selama berhari-hari. Kini dengan barang dagangan Prabowo melalui konsep mengangkat harkat dan martabat ekonomi kerakyatan telah membius jutaan rakyat sampai ke pelosok negeri. Bagi mereka yang sudah muak dengan ketidakpastian hankamnas di negeri ini, bagi mereka yang sudah muak dengan kondisi bangsa yang penuh rekayasa oleh kaum feodal, komprador, imperialisme dan ahli manipulasi tanpa essensi, mereka meletakan asa yang membuncah dalam dada ke pundak Prabowo. Mungkin benar bahwa bangsa yang pluralisme ini memang belum saatnya diberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya. Kalau orang Jawa bilang dikasi hati, njalu rempelo, diberikan kebebasan dalam atmosphir demokrasi, malah tambah angkat ekor. Mungkin saja bangsa ini butuh sosok seperti Prabowo untuk menghajar para munafiqun di negeri ini. Bahkan prajurit tebaiknya, Basuki Tjahaja Purnama, telah terdidik dengan aura militernya ala Prabowo Subianto, bangsa ini enggak bisa diajak baik-baik, harus diajak berantem dulu baru bisa baik, begitu kata Ahok, bukan kata Mawalu. Jika Prabowo jadi Presiden, maka Australia akan berpikir seribu kali bilamana ingin mempermalukan bangsa ini dengan aksi-aksi penyadapan. Jika Prabowo jadi Presiden, setidaknya Malaysia akan berpikir seribu kali sebelum mencaplok budaya dan pulau-pulau di negeri zamrud khatulistiwa ini. Jika Prabowo jadi Presiden, setidaknya Singapura akan berpikir seribu kali kalau mau cari perkara dengan mengungkit-ngungkit masa lalu. Jika Prabowo jadi Presiden, setidaknya para buruh yang jumawa akan berpikir seribu kali kalau demo mau blokir jalan Tol dan blokir Bandara Soetta. Jika Prabowo jadi Presiden, setidaknya para Koruptorsaurus akan berpikir seribu kali kalau mau merampok negara ini. Jika Prabowo jadi Presiden, setidaknya para teroris akan berpikir seribu kali untuk menteror negara ini karena akan diburu Prabowo sekalipun bersembunyi di lobang tikus. Disinikah letak kekuatan Prabowo? Silahkan Anda yang menilai sendiri. Sejatinya manusia yang berakal hikmat dapat mengukur kekuatan gelombang otak alam bawah sadarnya, yaitu Gamma, Beta, Alpha, Tetha, dan Delta. Yang membedakan antara keyakinan dan kenyataan hanyalah pembuktian. Semuanya kembali kepada hati nurani Anda. Kesadaran ada pada diri Anda sendiri, bukan karena latah, apalagi karena terpaksa. Hidup ini memang diberikan kebebasan merdeka, hidup ini memang diberikan kebebasan untuk berpikir dengan kesadaran yang tak terbatas dan tak akan pernah mati. Oleh karena itu wahai saudara-saudariku setanah air, berhentilah mimpi di siang bolong. Pilihlah calon pemimpin bangsa sesuai hati nurani Anda. Prabowo atau Jokowi, it’s your own choice! *Kompasiana
  25. 25. 24 "Menjawab Tuduhan; Investigasi Rekam Jejak Prabowo" Barangkali ada beberapa teman-teman yang belum baca "Investigasi Prabowo" oleh Pak Bondan Winanrno, jurnalis penggemar kuliner Nusantara yang dikenal dengan "Maknyus"nya. Berikut Rekam Jejak Prabowo Subianto yang dituturkan oleh Pak Bondan via akun twitternya @PakBondan: 1. Manteman tentu mengetahui, saya adalah seorang jurnalis dan kolumnis. Artikel opini saya dimuat Kompas, Tempo, Wall Street Journal, dll. 2. Saya juga pernah mjd pemimpin redaksi di 3 media nasional, serta diakui sebagai wartawan investigatif andal. 3. Sebelum saya gabung dan berjuang dengan @Gerindra, tentu saya teliti dulu rekam jejak @Gerindra dan @Prabowo08. 4. Pada akhir tahun 1998 saya juga pernah mendampingi pejabat dari Washington DC mewawancarai @Prabowo08 selama 3 jam. 5. Berbagai tuduhan dan fitnah ke @Prabowo08 saya teliti satu per satu. Mulai dari tuduhan penculikan, kerusuhan 1998, sampai keluarga. 6. Saya mulai twitseri ini dari awal: Saat @Prabowo08 memilih untuk jadi tentara walau beliau bisa kuliah di universitas terbaik AS. 7. @Prabowo08 masuk AKABRI, karena terinspirasi oleh kisah kedua pamannya yang gugur tahun 1946 bersama Mayor Daan Mogot. 8. @Prabowo08 juga ingin melanjutkan perjuangan ayahnya dan kakeknya: jiwa dan raga 100% untuk Merah-Putih. 9. Saat memimpin Kopassus, kualitas kepemimpinan @Prabowo08 legendaris. Sampai sekarang anak buahnya masih loyal. 10. @Prabowo08 pastikan kesejahteraan semua prajuritnya. Di medan perang, @Prabowo08 selalu pimpin dari garis terdepan. 11. Bahkan, ada tiga momen di Timor Timur ketika @Prabowo08 diduga gugur karena putus kontak radio. Beliau sangat berani. 12. Keberanian dan dedikasi @Prabowo08 menjadikan Kopassus salah satu pasukan elit terbaik dunia. Dihormati dan disegani. 13. Prestasi @Prabowo08 sebagai Danjen Kopassus, a.l.: pembebasan sandera di Pegunungan Mapenduma, Papua. 14. @Prabowo08 juga memimpin pendakian tim Indonesia ke puncak gunung Everest. Ia tidak mau kita dikalahkan Malaysia.
  26. 26. 25 15. Sekarang kita bicara 1998. Saat itu, keberpihakan @Prabowo08 pada proses demokrasi dan reformasi mengagetkan. 16. Mungkin karena @Prabowo08 pernah sekolah di luar negeri, kala itu beliau termasuk perwira yang mendukung reformasi. 17. Tuduhan pertama: @Prabowo08 cerai karena tidak becus mengurus keluarga. Sebenarnya: Beliau diusir keluarga Cendana. 18. @Prabowo08 dianggap mengkhianati keluarga Cendana karena dua hal: Berani menganjurkan Presiden Suharto untuk mundur. 19. Dan hal kedua: @Prabowo08 tidak gunakan senjata dan malah membiarkan demonstran masuk ke kompleks DPR/MPR. 20. Tuduhan kedua: @Prabowo08 menculik & membunuh aktivis demokrasi. Sebenarnya: Tim Mawar bergerak cegah terorisme. 21. Sebelum Tim Mawar dapat perintah mengamankan terduga teroris, terjadi peledakan bom di Jakarta Januari 1998. 22. Peledakan bom ini, salah satunya di Tanah Tinggi ditujukan untuk ganggu Sidang Umum MPR bulan Maret 1998. 23. Pada saat itu, perintah “mengamankan” bisa diartikan “menghabisi”. Tim Mawar tidak menghabisi mereka yang diamankan. 24. Malahan, mereka yang diamankan dan dilepas oleh Tim Mawar, sebagian sekarang bergabung di @Gerindra. 25. Apakah mereka mau bergabung dengan @Gerindra jika @Prabowo08 benar kejam seperti dituduhkan? 26. Nah, bagaimana dengan mereka yang masih hilang? Silakan manteman cek hasil investigasi TEMPO edisi Widji Thukul. 27. Hasil investigasi TEMPO menyimpulkan, ada tim lain yang bergerak! Bukan hanya Tim Mawar @Prabowo08. 28. Apakah @Prabowo08 tahu siapa mengamankan mereka? Kalaupun ia tahu, Prabowo terikat sumpah prajurit. 29. @Prabowo08 adalah prajurit sejati. Baginya sumpah prajurit adalah harga mati. Nama baik TNI harus ia jaga. 30. Bagi @Prabowo08, lebih baik ia jadi tertuduh selamanya daripada nama baik TNI tercoreng karena ia buka mulut. 31. Tuduhan ketiga: @Prabowo08 dalang kerusuhan Mei 1998. Sebenarnya: Prabowo adalah kambing hitam.
  27. 27. 26 32. Kerusuhan Mei 1998 dipicu oleh naiknya harga BBM tanggal 4 Mei karena tekanan IMF untuk cabut subsidi. 33. Sudah menjadi rahasia publik, bagaimana @Prabowo08 membujuk Panglima ABRI untuk turun tangan kendalikan situasi. 34. Namun pada saat-saat genting, Panglima ABRI malah tinggalkan Jakarta untuk upacara seremonial di Malang. 35. Tuduhan keempat: @Prabowo08 dicopot karena mau kudeta Habibie. Sebenarnya: Prabowo justru bergerak utk amankan Habibie. 36. Sebagai Pangkostrad, @Prabowo08 mengikuti protap untuk mengamankan Ring-1 saat ibukota kembali memanas. 37. Prosedur tetap ini dijalankan @Prabowo08 tanpa sepengetahuan Panglima ABRI. Panglima ABRI keliru analisa situasi. 38. Panglima ABRI berasumsi, pergerakan pasukan ke Ring-1 harus atas perintah beliau. Beliau lapor ke Presiden Habibie. 39. Karena informasi ini, Presiden Habibie berasumsi @Prabowo08 ingin kudeta. Prabowo dipanggil menghadap. 40. Jika @Prabowo08 benar ingin kudeta, apakah ia akan datang ke Istana dan datang sendirian tanpa pasukan? 41. Mendengar perintah Presiden Habibie untuk melepas jabatan sebagai Pangkostrad, @Prabowo08 kaget. 42. Namun sebagai prajurit yang taat, ia ikuti perintah Presiden Habibie, lepaskan jabatan Pangkostrad dan jadi Dansesko ABRI. 43. Lanjut lagi. Tuduhan kelima: @Prabowo08 ke Yordania untuk menghindari hukuman. Kenyataaan: Menghindari fitnah. 44. @Prabowo08 adalah mantan Danjen Kopassus. Beliau terlatih di bidang intelijen dan kontra-inteligen. 45. Kondisinya saat itu: ada pihak-pihak yang membutuhkan kambing hitam. Kalau bisa semua dituduhkan ke @Prabowo08. 46. @Prabowo08 sadar, risikonya terlalu besar jika ia tetap di Jakarta. Rumahnya bisa “diisi” senjata, dan sebagainya. 47. Oleh karena itu beliau memilih untuk pergi ke luar negeri. Ke Yordania dan Malaysia. Menghindari fitnah.
  28. 28. 27 PANDANGAN AA GYM TERHADAP PRABOWO INILAHCOM, Jakarta - Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tahid Bandung KH Abdullah Gymnastiar menyambut gembira duet Prabowo Subianto-Hatta Rajasa sebagai calon presiden-wakil presiden yang akan berkompetisi menuju RI-1 dan RI-2 pada pemilihan umum presiden Juli 2014. "Saya menyambut baik dideklarasikannya pasangan Prabowo-Hatta. Dan, secara pribadi saya mendukung pasangan ini. Mereka adalah orang-orang baik,’’ ujar Aa Gym, sapaan akrab KH Abdullah Gymnastiar di depan sekitar 700 santri mandiri dan para ustadz di Markas Besar Daarut Tauhid Gegerkalong, Kota Bandung, Senin (19/5/14). Selama ini, Aa Gym mengaku selalu netral, tidak pernah memberikan dukungan secara terbuka kepada para calon presiden-wakil presiden. Namun kali ini, kata Aa Gym, saya mendukung pasangan Prabowo-Hatta. Lantas Aa Gym menceritakan beberapa alasan mendasar yang mebuat dirinya harus berpihak kepada Prabowo-Hatta. "Pasangan ini kan mirip dengan Soekarno-Hatta,’’ kata Aa Gym setengah berkelakar mengawali cerita tentang perkenalannya dengan Prabowo. Menurut Aa Gym dirinya sudah mengenal Prabowo pada tahun 1990-an, saat Prabowo menyandang jabatan Danjen Kopassus. Pada saat itu, ada seorang jenderal petinggi TNI yang amat disegani dan selalu menjadikan umat Islam sebagai target kebenciannya. "Setahu saya, pada waktu itu hanya Prabowo yang terang-terangan membela umat Islam. Ini kenangan luar biasa saya tentang sosok Prabowo yang sulit dilupakan. Ia perwira militer yang tak rela melihat umat Islam dipinggirkan. Karena alasan ini, saya mendukung Prabowo," ujarnya. Aa Gym menyebutkan bahwa Hatta merupakan pasangan yang cocok untuk mendampingi Prabowo. Kekurangan pemahaman Prabowo terhadap Islam, menurut Aa Gym, bisa dilengkapi oleh Hatta. ‘’Selain itu, Pak Hatta memiliki catatan yang positif selama berkiprah di pemerintahan,’’ ujarnya. Hal lain yang menjadi alasan Aa Gym mendukung Prabowo-Hatta adalah komposisi koalisi partainya dinilai menarik. Gerindra yang nasionalis, kata Aa Gym, menggandeng PAN, PPP, dan PKS yang ketiganya merupakan partai yang berbasis massa Islam. "Tetapi ini sikap saya pribadi. Silakan para santri dan ustadz menentukan sikap politik sendiri. Masa iya tidak ikut saya," ujar Aa Gym berseloroh yang disambut tawa para santri dan ustadz Daarut Tauhid.
  29. 29. 28 JENDERAL KELOMPOK NAGA vs JENDERAL KELOMPOK KA'BAH | by @bang_dw 1. faksi merah vs faksi hijau | anda pilih yang mana? 2. faksi merah memiliki prinsip anti Islamis dan mengedepankan operasi militer serta cenderung keras didalam bersikap. 3. faksi hijau lebih mengedepankan persuasif dalam pemberian pemahaman dan Islamis. 4. LB Moerdani adalah sebuah contoh tokoh faksi merah. 5. M. Jusuf adalah sebuah contoh tokoh faksi hijau 6. masa nya berubah | masuk era AM Hendropriyono sebagai tokoh faksi merah. 7. masa berubah | masuk era prabowo subianto sebagai tokoh faksi hijau 8. faksi merah | LB Moerdani | hendropriyono | LB Panjaitan | gorries merre | kumpulan jenderal dekat dengan operasi anti Islam. 9. faksi hijau | M.Jusuf | prabowo subianto | sjafrie sjamsoedin | ZA Maulani | kivlan zein | para jenderal dengan persuasif ke Islam an 10. tweps mungkin ingat peristiwa priok, talangsari hingga peristiwa anti terorisme | itulah buah karya faksi merah 11. kedekatan para jenderal faksi merah dengan pengusaha tomy winata | biasa di dudukkan sebagai komisaris perusahaan AG 12. ingat ketika gorries merre pendiri dan yg membidani terbentuknya densus 88 | tidak hadir rapat di DPR krn lebih memilih ikut TW dan hendropriyono. 13. ingat peralatan alat sadap milik KPK yang di impor dari israel atas nama perusahaan TW dengan dasar rekomendasi hendropriyono. 14. ingat pertemuan tiga jenderal | nugroho djayusman, ryamizard ryacudu dan hendropriyono | di bali sehari sebelum peristiwa bom bali??? 15. mengapa saya beri slide peristiwa faksi merah | karena semua ibarat sebuah benang merah untuk suksesi 2014 ini | #jokowi-jk 16. semua nama jenderal faksi merah era saat ini menjadi bagian tim sukses seorang jokowi 17. ibarat mmbangun sebuah kesatuan kubu | mereka berkumpul dalam satu | dibalik suksesi seorang jokowi 18. ada apa? | mereka para jenderal faksi merah dan pengusaha kelompok naga | bersatu di balik suksesi jokowi??? 19. semua bermula pada tahun 2001 era pasca 9 september | 9/11 | amerika
  30. 30. 29 mengkampanyekan perang dibalut aksi anti terorisme 20. hendropriyono adalah kepala BIN yg dpilih pemerintah megawati | 2001-2004 | awal operasi anti kaum islamis dbalut operasi anti terorisme 21. solo adalah kota dimana pesantren al mukmin ngruki milik abu bakar ba'asyir berada | #jokowi adalah walikota solo 22. analogi kejadian bom bali 1 mirip kejadian peristiwa penculikan tahun 98 | ada tim lain yang bekerja | taktik strategik faksi merah 23. ada team lain yang bekerja | yang membuat bom berdaya ledak tinggi | diluar imam samudera cs | menumpang agenda | #jebakan 24. ciri khas kerja operasional faksi merah | selalu ada team sapu bersih dan memastikan semuanya sesuai skenario | #settingan 25. dan jenderal yang biasa menduduki sebagai komandan operasi sapu bersih adalah | #hendropriyono | faksi merah 26. ada team lain yang bekerja | cek kasus apa saja? | peristiwa 27 juli, peristiwa priok, penculikan aktivis, bom bali, antasari azhar 27. team lain yang bekerja | made in faksi merah | ciri khas | karakteristik 28. tweps data tentang pesantren al mukmin ngruki solo itu adalah sejarah berdirinya | jalan Gading Kidul No 72 A Solo 29. silahkan dicek link berikut ini | http://t.co/fFCaMlD3ex 30. dan pada saat suksesi 2014 ini para jenderal faksi merah berada dibelakang suksesi seorang jokowi 31. dari AM hendropriyono, RR, DB, hingga LB Panjaitan | berada dibelakang sosok jokowi 32. sejarah memang yg mngantarkan sosok jokowi tak bisa lepas dari | solo - karen brooker (CIA) dan abu bakar ba'asyir | anti terorisme 33. amerika pula lah yang mgistimewakan kota solo | dalam klasifikasi | dan bharap tidak ada tokoh muslim konservatif menduduki kota solo. 34. dan amerika lebih 'memperhatikan' solo dibandingkan kota lainnya di indonesia | karena faktor abu bakar ba'asyir 35. bahkan amerika menanam agen nya CIA di solo khusus untuk abu bakar ba'asyir | salah satu nya karen brooker 36. amerika dan jokowi terkait abu bakar ba'asyir | sebuah relasi melahirkan suksesi nasional | silahkan disimak | http://t.co/pUiql5Isuv 37. dari hubungn seorang walikota sbuah kota yg diistimewakn tkait operasi anti
  31. 31. 30 terorisme | dbina dari posisi walikota tuk suksesi nasional 38. jokowi bisa menapak suksesi nasional berkat jasa seorang abu bakar ba'asyir yang di dzalimi dgn label teroris 39. hendropriyono yg memang kpala BIN pd saat itu | juga dtunjuk sbagai ketua bappilu PDIP 2004 | aktor dibalik terpilihnya jokowi 2005 40. semua berawal dari solo | amerika | abu bakar ba'asyir | terorisme | walikota solo | pembinaan relasi BIN | suksesi nasional 41. dua kali periode jokowi terpilih jadi walikota solo demi lancarnya settingan amerika dalam operasi anti terorisme kepada sosok ba'asyir 42. dan dua kali itu pula | sosok hendropriyono selalu berada di belakang jokowi | hingga saat ini 43. sejak dari solo | jokowi sdh menjadi boneka | dan sdh menjalani dgn baik | amerika senang | abu bakar ba'asyir menjadi settingan 44. ustadz abu bakar ba'asyir hanya korban permainan terorisme ala amerika | settingan ponpes ngruki yang dibuat opini basis pelaku teroris 45. dari hal tersebut | jokowi bhasil mjadi walikota terbaik nomor tiga di dunia | settingan amerika | atas kesetian jokowi menjadi boneka 46. publik indonesia tidak ada yang melihat keanehan hal tersebut | lebih melihat sosok jokowi sang boneka yang buatan team sukses luar. 47. jokowi sdh dsiapkan sejak 2005 | drekrut dan dbina hendropriyono (ketua bappilu PDIP 2004/BIN) mjadi walikota solo | pesanan amerika 48. jokowi di ibaratkan menjadi bancakan semua pihak | amerika conection | jenderal faksi merah | pengusaha kelompok naga 49. jokowi dengan james T Riyadi ada sejak koneksi hillary clinton sebagai menteri luar negeri | rekomendasi partai demokrat amerika 50. dulu menlu amerika lah yang punya kepentingan terhadap operasi anti terorisme di luar amerika | #ba'asyir. 51. dan di tangan menlu amerika lah | kebijakan agen CIA bisa di tanam di sebuah kota di sebuah negara | karen brooke di solo | #jokowi 52. tagline jokowi presiden RI resmi sejak priode kedua jokowi menjadi walikota solo | lukminto-james T Riyadi-tomy winata 53. suksesi dengan hanya bermodal strategik semata tanpa pengusaha besar yang memodali | adalah hal sia sia | hendropriyono tahu itu 54. hendropriyono sudah sejak lama menjadi bagian bisnis besar artha graha | tomy
  32. 32. 31 winata | dan duduk sbg komisaris | #pemodal 55. strategik dan pemodal sdh diperoleh | jalan instan dibutuhkan | suksesi gubernur DKI jawabannya | TW koordinir kelompok naga 56. publik tidak paham | bukti adanya kongkalikong pemodal terkait suksesi jokowi | terletak pada peristiwa djan farid dan tana abang 57. jasa TW lah yg membuat djan farid membatalkan niatnya menjadi calon gubernur DKI | sehingga melancarkan suara jokowi 58. jenderal faksi merah (hendropriyono, theo sjafie koneksi, LB panjaitan, RR dan DB) ditambah kekuatan pemodal (TW, JTR, kelompok naga) 59. semua kini berada dibalik suksesi #jokowi | jenderal faksi merah kelompok naga 60. suksesi panjang | diawali dgn sejarah operasi anti terorisme | solo tuk indonesia | akhrnya mjadi bancakn klompok naga | boneka amerika 61. faksi merah lah pelanggar HAM | yang berlindung atas nama HAM | kubu dibelakang jokowi | #suksesi 62. smentara faksi hijau adalah kubu yang melawan hegemoni faksi merah di TNI | #suksesi 63. contoh pada 1983 | seorang jenderal bernama LB moerdani di lawan seorang kapten bernama prabowo subianto | atas issu kudeta yg ada 64. sejak saat itu lah prabowo subianto menjadi musuh bersama para jenderal faksi merah pendukung LB Moerdani 65. hingga akhirnya issu pasukan mawar penculikan aktivis | yg myeret nama prabowo sbg pelakunya | padahal itu semua settingan faksi merah 66. seperti issu kudeta yg akan dilakukan prabowo | itu adalah settingan balasan faksi merah | atas peristiwa kudeta moerdani tahun 83 67. standar operasi SOP dalam operasi militer | akan ada team lain yang bekerja memastikan sesuai settingan | penculikkan aktivis 68. bkn prabowo subianto pelaku pculikkan 13 aktivis yg hilang sampai saat ini | ada team operasi lain (yg tdk dikenal) yg lakukan | ujar Syafrie Syamsudien 69. dan operate team yang lain itu kini berada di kubu timses #jokowi | bravo faksi merah kata jenderal SS
  33. 33. 32 Akhirnya............. "PILIH MANA? PRABOWO - JOKOWI?" BIARKAN FAKTA BICARA Prabowo vs Jokowi keren mana? Jangan kebalik!!! prabowo yg sebelah kiri, Twips. #PilihMana? Prabowo top leader partai, jokowi petugas partai yg didoktrin untuk bisa dipengaruhi top leader dari partainya. #PilihMana? Prabowo berasal dari partai yg relatif bersih, jokowi datang dari partai paling korup #PilihMana? Intelektualitas Prabowo lebih bagus tercermin dari penjelasannya yg lugas & komprehensif. Jokowi jarang komprehensif. ramikir/rapopo #PilihMana? Leadership Prabowo terbentuk melalui perjalanan waktu. Leadership Jokowi dikarbit secara instan oleh media #PilihMana? Dalam membentuk koalisi Prabowo mengedepankan keterbukaan bersama anggota koalisi, Jokowi gimana Emak. #PilihMana? Visi misi Prabowo telah dia rancang dan dipikirkan sejak lama, Jokowi mengemukakan saja belum. Kesiapannya terlihat dari sini. #PilihMana? Media belum mencetak kebohongan Prabowo, Kebohongan jokowi telah banyak tercecer terlihat di banyak media. #PilihMana? Prabowo berkarakter kuat dengan ketegasan yg dia miliki, Jokowi mencla mencle, di koran banyak. #PilihMana? Prabowo percaya diri, Jokowi terlalu percaya diri terlihat dari banyaknya omongan yg menganggap enteng sebuah masalah. #PilihMana? Prabowo tersandera perkara HAM yg tak terbukti berdasar Mahmil (Mahkamah Militer), Jokowi tersandera bus karat yg pembuktiannya baru akan dimulai. #PilihMana?
  34. 34. 33 Prabowo Fasih ngomong enggres, Jokowi broken enggres #PilihMana? Prabowo gagah, tegap dan persis seorang leader. Jokowi mental mandor terbukti dia kerjanya blusukan kontrol ini itu. #PilihMana? Prabowo memiliki family tree (silsilah keluarga) yang jelas, Jokowi silsilahnya belum terkonfirmasi secara resmi hayoooo #PilihMana? Ya iyalah saya milih prabowo. Masa milih jokowi tukang bohong, ingkar janji, dibackup cukong dan boneka megawati? Hehehe Harus dipahami bahwa memilih prabowo bukan tanpa mudhorot dan resiko. Ukur aja resiko terkecil dlm memilih diliat dr berbagai aspek. jgn 1 aja. Dalam fiqh dikenal kaidah “akhhaffu dhororoin” (lesser evil methode, memilih yg terkecil mudhorotnya). *sumber: https://twitter.com/addeLeandro

×