Karya ilmiah4

3,382 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,382
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
119
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Karya ilmiah4

  1. 1. Paradigma Sekolah dan Pendekatan Manajemen Komprehensif Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Pada SMA Negeri 1 Purwareja Klampok Banjarnegara - Jawa Tengah Disusun Oleh Nama : Supriyadi N I P : 13165024 SMA NEGERI 1 PURWAREJA-KLAMPOK KABUPATEN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH JL RAYA PURWAREJA-KLAMPOK Telp. (0286) 479092 BANJARNEGARA 53474
  2. 2. Paradigma Sekolah dan Pendekatan Manajemen Komprehensif Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Pada SMA Negeri 1 Purwareja Klampok Banjarnegara - Jawa Tengah Supriyadi1 Abstrak : Pemahaman Kepala Sekolah terhadap konsep tentang sekolah membawa pengaruh besar terhadap pendekatan pengelolaan sekolah. Agar tidak terjebak pada tradisi dan konvensi pada status quo yang membosankan diperlukan adanya penyegaran pemikiran tentang paradigma sekolah dan pendekatan pengelolaan sekolah sebagai filosofi kinerja sekolah. Untuk menjadikan sekolah itu dinamis dan kreatif, hendaknya sekolah dipandang sebagai pusat layanan pembelajaran, dimana pengelola harus selalu mencari bentuk-bentuk layanan baru yang mendukung pada pengembangan potensi siswa. Melalui proses kreatif dalam usaha penciptaan layanan baru yang kontinyu memungkinkan sekolah mampu menjadi wadah pengembangan beraneka ragam potensi siswa. Bertitik tolak dari paradigma sekolah yang demikian, sekolah tidak bisa dipahami secara parsial untuk itu jawaban yang tepat dengan paradigma tersebut adalah pengelolaan sekolah dengan model pendekatan komprehensif. Sekolah bukan lagi dipandang secara “fisik” belaka namun juga mempunyai “ruh”, sehingga sekolah itu hidup, dinamis dan mempunyai kreativitas. Kata Kunci : paradigma sekolah, pendekatan pengelolaan sekolah, potensi siswa, penciptaan layanan baru, sekolah dinamis dan kreatif, pendekatan komprehensif.Pendahuluan Era globalisasi menyebabkan akselerasi persaingan antar bangsa menjadisangat kompetitif. Maknanya bila bangsa Indonesia mau aktif berperan danmensejajarkan dengan bangsa-bangsa lain maka persyaratan utama adalah harusmempunyai sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Sejak awal berdirinyaRepublik ini, antisipasi terhadap kualitas SDM Indonesia sudah digagas oleh parapemimpin bangsa secara baik sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD1945 yang menyatakan “Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenapbangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan1 Supriyadi, Kepala Sekolah pada SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah
  3. 3. kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakanketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilansosial.” (Biro Hukum dan Organisasi. 2003 : 3) Namun implementasi pada pengembangan SDM masih jauh dariharapan, hal ini terbukti dari rendahnya anggaran pendidikan pada APBN daridulu sampai sekarang. Dan dampaknya sekarang SDM Indonesia terpuruk.Menurut laporan terakhir (2003) yang dikeluarkan oleh United NationsDevelopment Program (UNDP), Human Development Index Indonesia ada diurutan bawah, yaitu 112 dari total 175 Negara. Urutan tersebut jauh di bawahMalaysia dan Thailand, yang masing-masing menempati urutan 58 dan 74.(Kompas. 26/06/04 h.4) Data tersebut menunjukkan bahwa pengembangansumber daya manusia Indonesia. perlu mendapat penanganan mendesak danserius. Sudah barang tentu, salah satu biang dari rendahnya SDM Indonesiaadalah rendahnya kualitas pendidikan. Dan sekolah sebagai ujung tombak dalamurusan pengembangan SDM harus mendapatkan prioritas pemikiran. Sekolahtidak bisa hanya dipandang sebagai wahana pendidikan bersifat statis tetapi lebihdari itu ia mempunyai “ruh” sehingga sekolah itu hidup, dinamis dan kreatif. Dan konsep pengembangan sekolah selayaknya seirama dengan konseppendidikan sehingga arahnya menyatu harmonis. Pendidikan adalah usaha sadardan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agarpeserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilikikekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlakmulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.(Biro Hukum dan Organisasi. 2003: 5) Konsep pendidikan yang begitu kompleks, konsekuensi logisnya adalahsekolah sebagai institusi harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampumemberikan pelayanan yang maksimal sebagaimana yang dituntut dalam konseppendidikan tersebut di atas. Namun kenyataannya banyak sekolah yang dikem-bangkan tidak sesuai dengan konsep tersebut. Faktanya masih banyak orang yangmemandang kualitas sekolah dari segi fisiknya belaka.
  4. 4. Dengan demikian, menurut hemat penulis, diperlukan adanyapenyegaran pemikiran tentang paradigma sekolah dan pendekatan manajemensekolah. Hal tersebut sangat penting karena perbedaan pemahaman terhadapparadigma sekolah berpengaruh terhadap arah pengembangan sekolah. Denganmengingat bahwa sekolah bukan sekedar fisik tetapi juga program yang membuatsekolah itu menjadi hidup, dinamis dan kreatif. Oleh karena itu inovasi pengem-bangan pada SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok selalu merujuk padakonsep paradigma sekolah sebagai pusat layanan pengembangan potensisiswa dan konsep pendekatan pengelolaan sekolah secara komprehensip.Dalam artikel ini penulis tertarik untuk membahas elemen-elemen yang bisamenyebabkan sekolah itu hidup, dinamis dan kreatif.. Elemen-elemen tersebutberupa program sekolah, yang diantaranya : (1) Program Kelas Non- Reguler, (2)Program Quota PSB, (3) Program Rewards (beasiswa), (4) Program InterestGroup, (5) Program sekolah berwawasan bahasa Jepang, (6) Program VocationalSkills, (7) Program Pembentukan Image sekolah (Radio Sekolah, Majalahsekolah, dan Internet), (8) Kerjasama dengan Yayasan keagamaan dalampembinaan Mental, dan (9) Program pengendalian Ulangan Harian (Komputer online), Tujuan dari penulisan artikel ini, penulis berharap bisa memberikanmasukan kepada para pengelola sekolah untuk dijadikan bahan pertimbangandalam kebijakan pengembangan sekolah. Kualitas suatu sekolah tidak hanya dipandang dari sejauh mana pengembangan fisiknya tetapi seberapa besar kemam-puan sekolah mampu melayani siswa dalam mengembangkan potensi yangdimiliki. Dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua orang yang tertarik padapengembangan sekolah.dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.Permasalahan Untuk melaksanakan amanat Pembukaan UUD 1945, maka pemerintahmerumuskan Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang Sistem PendidikanNasional pasal 3 yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agarmenjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa,
  5. 5. berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Biro Hukum & Organisasi.2003 : 8) Tampak jelas bahwa deskripsi manusia Indonesia paripurna di masamendatang yang sekaligus sebagai tantangan besar bagi pemerintah Indonesiadengan segala konsekuensinya. Manusia Indonesia paripurna tidak akan bisadiwujudkan manakala tidak ada undang-undang yang dijadikan pedoman dalampenyelenggaraan pendidikan secara nasional. Untuk tujuan tersebut makadikeluarkanlah undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional sebagai pengganti undang-undang nomor 2 Tahun 1989. Makna dari berbagai perangkat aturan tersebut diatas bahwa pem-bentukan manusia Indonesia paripurna haruslah dipandang secara utuh dan jugadengan pendekatan yang utuh pula, tidak secara parsial. Hal demikian me-negaskan juga bahwa pengelolaan sekolah, yang secara formal sebagai wadahuntuk memfasilitasi anak menjadi manusia Indonesia paripurna, harus jugadipandang secara utuh sebagai pusat layanan pembelajaran siswa. Secara sederhana sekolah yang mampu memberikan pelayanan secaramaksimal sehingga anak dapat mengembangkan potensinya secara maksimal bisadikategorikan sebagai sekolah yang efektif. Namun ada beberapa karakteristikyang menurut pendapat para ahli ditemukan pada sekolah yang efektif : 1. A school climate conducive to learning - one free of disciplanary problems and vandalism; 2. A shoolwide emphasis on basic skills instruction; teachers who hold high expectations for all students to achieve; 3. A system of clear instructional objectives for monitoring and assesing students’ performances; and 4. A school principal who has programatic leader and who sets high standards, observes classroom frequently, maintains students discipline, and create incentives for learning. ( Boyan, 1988 : 346) Memperhatikan pendapat-pendapat di atas, menjadi sangat jelas bagi kitabahwa pengelolaan sekolah yang baik, banyak faktor yang harus diperhatikansecara serentak dan menyeluruh baik mengenai iklim sekolah, pembelajaran danguru, supervisi dan kepemimpinan Kepala Sekolah.
  6. 6. Perbaikan dan Reformasi sekolah mendesak dilakukan untuk meng-hindari stagnansi pengembangan sekolah karena wawasan konsep sekolah. Untukmenjadikan sekolah efektif Boyer secara rinci mengajukan dua belas usulan, yangdelapan adalah sebagai berikut : 1. More should be done to help students make the transition to work and further education. 2. Students should participate and learn in the community. 3. Working conditions of teachers must be improved. 4. Technologi should be used to enrich curriculum. 5. More flexibility is needed in school size, the use of time, and other or organization arrangements. 6. Principals should have a greater leadership role that includes selecting and rewarding teachers. 7. More “connections” are needed with other institutions. 8. There must be a public commitment to excellence. (Orstein dan Levine. 1985 : 543) Tampak sekali bahwa arah sasaran inovasi sekolah menjadi sangat jelas.Seluruh aspek yang menjadikan sekolah berkembang lambat dibenahi. Haldemikian menunjukkan pembenahan sekolah harus secara komprehensif. Danfokus akhir yang dijadikan sasaran adalah kualitas sekolah. Hers sebagaimana dikutip oleh Orlosky (1984) megidentifikasikanbahwa ada beberapa elemen untuk meningkatkan efektivitas sekolah, yaitu : 1. Clear Academic Goals (Kejelasan Tujuan Akademik) 2. Order and Discipline ( Peraturan dan Disiplin) 3. High Expectations (Cita-cita Tinggi) 4. Teacher Efficacy ( Keefektivan Guru) 5. Pervasive Caring ( Peduli Total) 6. Public Rewards and Incentives ( Penghargaan dan insentif) 7. Community Support ( Dukungan Masyarakat) 8. Administrative Leaderships. (Kepemimpinan) (Orlesky. 1984 : 103-105) Pengelolaan sekolah menjadi sangat sulit karena memang sejak awalperencanaan pengembangan sekolah .tidak ditata dengan baik. Keadaan tersebutkemudian diperbaiki oleh pemerintah : Pertama, diterbitnya Kep. Men. No. 053/V/2001 tanggal 19 April 2001tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal PenyelengaraanPersekolahan Bidang DIKDASMEN (Direktorat Dimenum. 2003). Terbitnya SK
  7. 7. tersebut memperkuat pemikiran tentang pentingnya pengelolaan sekolah secaraterencana dan menyeluruh. Tetapi dinamika pemerintahan dari sentralisasi ke arah desentralisasimenimbulkan masalah tersendiri dalam bidang pendidikan. Karena pengelolaanpendidikan berubah sesuai dengan semangat otonomi daerah (Sinar Grafika. 2001: 9) Pergeseran pengelolaan pendidikan tersebut di atas bisa membawa dampakyang kurang baik bila mana tidak dibarengi dengan keluarnya peraturan peme-rintah sebagai landasan untuk mengatur pengelolaan pendidikan. Alasannyaadalah rendahnya Sumber Daya Manusia yang ada pada birokrasi Dinas Pen-didikan yang pada mulanya sebagai pelaksana pekerjaan (The Doers) berubahmenjadi Pengambil Kebijakan (Decision Makers). Kemungkinan resiko yangterjadi adalah lemahnya penguasaan masalah, dinamika terasa lambat danrendahnya kreativitas. Padahal dengan otonomi diharapkan kreativitas dan dina-mika itu muncul. Kedua, diperkenalkan model pengelolaan sekolah yang disebut Manaje-men Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Pengertiannya adalah suatumodel manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah danmendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsungsemua warga sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakanpendidikan nasional. (Direktorat Dikmenum. 2001 : 5). Pada dasarnya bahwapengelolaan sekolah yang mencakup beberapa aspek harus digarap secaraberbarengan. Ketiga, Adanya komitmen dari Pemerintah untuk menaikkan anggaranpendidikan dalam APBN secara bertahap menjadi 20 %. Namun sampai tahun ka-pan angka 20% bisa terwujud adalah tergantung dari kemauan politik pemerintah,sedangkan pengembangan SDM sudah sangat mendesak. Belum lagi permasa-lahan otonomi apakah daerah juga mempunyai komitmen terhadap pendidikanyang serupa? Lepas dari semua itu, iktikat baik dari pemerintah selayaknyadihargai.
  8. 8. Harapan pemerintah dengan adanya standar acuan, model manajemen,dan dana dimaksudkan agar bisa memaksimalkan pengembangan sekolah secaratepat. Sehingga keberhasilan suatu sekolah tidak dipandang hanya dari segipengembangan fisik belaka namun lebih dari itu, yaitu kemampuan sekolah untukmemberikan pelayanan kepada siswa dalam mengembangkan potensinya. Berkait dengan potensi siswa, Gardner (1993) mengemukan teoriintelegensi majemuk, yang membedakan intelegensi menjadi delapan macam,yaitu, (1) logis-matematis, (2) linguistik, (3) Musikal, (4) Visual-Spasial, (5)Kinestetik, ( 6) Interpersonal, (7) Intraperonal, dan (8) kecerdasannaturalis.(Sofyan. 2004 : 9) Dari berbagai latar tersebut di atas diperlukan adanya dasar pemikirantentang paradigma sekolah dan pendekatan pengelolaan sekolah yang menjadifilosofi kinerja sekolah. Dengan demikian sekolah itu tidak terjebak pada tradisidan konvensi yang cenderung pada status quo yang membosankan. Untuk menjadikan sekolah itu dinamis dan kreatif, pengelola sekolahhendaknya mempunyai pandangan bahwa sekolah sebagai pusat layananpembelajaran, dimana pengelola harus selalu mencari bentuk-bentuk layananbaru yang mendukung pada pengembangan potensi siswa. Melalui proses kreatifdalam usaha penciptaan layanan baru yang terus menerus memungkinkan sekolahmampu menjadi wadah pengembangan beraneka ragam potensi siswa. Bertitik tolak dari paradigma sekolah yang demikian tentu membawakonsekuensi logis terhadap model pendekatan terhadap pengelolaan sekolah.Sebagaimana disampaikan di depan bahwa sekolah tidak bisa dipahami secaraparsial untuk itu jawaban yang tepat dengan paradigma tersebut adalahpengelolaan sekolah dengan model pendekatan komprehensif. Sekolah bukan lagidipandang secara “fisik” belaka namun juga mempunyai “ruh”, sehingga sekolahitu hidup, dinamis dan mempunyai kreativitas. Pemahaman konsep tersebut di atas, kemudian digunakan untukmengevaluasi kondisi pada SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok, Banjarnegara,Jawa Tengah.
  9. 9. 1. Kondisi Kelas Pada umumnya kelas berkisar antara 40 sampai 44 siswa. Pertimbangan ju- mlah siswa yang melebihi dari 40 siswa per kelas adalah : (1) angka drop out masih relatif tinggi, dan (2) besarnya siswa berarti pemasukan dana sekolah yang berasal dari masyarakat. Secara formal system pengajarannya di- laksanakan secara klasikal dimana seorang guru melayani siswa sebanyak itu.2. Program Penerimaan siswa baru (PSB) Program PSB dilaksanakan sesuai dengan aturan dari pemerintah tanpa ada modifikasi. Seleksi penerimaan melalui perangkingan NEM SMP secara transparan. Kebanyakan siswa yang mempunyai NEM tinggi kurang berminat bersekolah di SMA Negeri Purwareja-Klampok. Tetapi upaya recruitmen lain agar tamatan siswa SLTP yang mempunyai NEM tinggi mau mendaftar pada sekolah ini tidak ada.3. Penghargaan Sekolah Penghargaan terhadap siswa berprestasi secara nyata dilakukan dalam bentuk beasiswa yang berasal dari Pemerintah. Pada hal alokasi beasiswa jumlahnya terbatas akibatnya ada anak yang berprestasi tidak memperoleh beasiswa tersebut. Kondisi demikian bisa mempengaruhi turunnya motivasi berprestasi siswa yang berdampak pada sepinya prestasi sekolah. Kita ketahui bersama bahwa produk sekolah yang bisa dibanggakan adalah prestasi, baik akademis maupun non-akademis. .4. Olympiade Mata Pelajaran Prestasi akademik yang dinilai prestice salah satunya adalah pretasi hasil lomba olimpiade mata pelajaran. Usaha ke arah itu biasanya dilakukan melalui penunjukkan terhadap siswa yang mempunyai rangking nilai tinggi di sekolah. Setelah dilakukan pembinaan secukupnya siswa mengikuti lomba, dan hasil lomba yang dicapai tidak pernah dipermasalahkan. Dengan demikian evaluasi terhadap hasil lomba olympiade dan Program pembinaan yang intens tidak dilakukan.
  10. 10. 5. Program Bahasa Jepang Salah satu SMA di Kabupaten Banjarnegara yang menyelenggarakan program bahasa adalah SMAN 1 Purwareja-Klampok. Jumlah kelasnya ada satu kelas dengan siswa sekitar 35 anak. Gurunya hanya satu orang dengan basis pendidikan S1 Bimbingan dan konseling. Tetapi guru tersebut pernah mendapatkan pendidikan di Jepang selama 2 tahun. Pembelajaran bahasa Jepang untuk kelas X dan II tidak ada, sehingga anak tidak pernah mendapatkan gambaran program bahasa Jepang. Sedangkan usaha secara terencana agar siswa memilih program bahasa juga tidak ada. Keadaan demikian dikhawatirkan bisa mengurangi minat siswa mengambil program bahasa, bila dibiarkan semakin lama bisa kolep.6. Program vocational skills Seperti sekolah SMA pada umumnya adanya program karena adanya proyek. Program life skills tidak bisa jalan untuk tahun berikutnya karena rancangan awal yang tidak baik. Padahal program tersebut sangat tepat untuk SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok karena sekitar 75% tidak melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi. Program vocational skills belum sepenuhnya mengena pada sasaran karena baru sebagian kecil siwa yang terjaring. Oleh karena itu perlu ada program yang bisa dilakukan secara mudah, efisien, applicable dan keahliannya mendesak dibutuhkan pada saat ini.7. Promosi sekolah Keberhasilan apapun yang dilakukan oleh sekolah bila tidak pernah kita informasikan ke masyarakat, mereka akan tetap menganggap sekolah dengan tanpa perubahan. Masyarakat berhak mendapatkan informasi apa saja tentang sekolah, sehingga mereka bisa menilai seberapa besar kredibel dan akuntabilitasnya. Orang tua tidak merasa sanksi untuk menyekolahkan anaknya bila memang sekolah tersebut kredibel. Yang perlu dicari adalah dengan cara bagaimana masyarakat mendapatkan informasi sekolah tetapi sekaligus bisa digunakan oleh siswa untuk mengembangkan potensinya.
  11. 11. 8. Pembinaan Mental Keagamaan Kegiatan keagamaan siswa dikoordinir oleh seksi bidang keagamaan dalam OSIS sehingga kegiatan yang ditangani lebih banyak yang bersifat seremonial. Pembinaan keagamaan secara intensif di luar KBM belum dilakukan tetapi baru sebatas insidental. Adapun yang argumen yang mendasarinya adalah tidak tersedianya guru yang mencukupi untuk sejumlah 800 anak serta tidak adanya wadah tersendiri untuk ekstra keagamaan. Akibatnya fungsi sekolah sebagai pusat layanan kepada siswa dalam bidang keagamaan belum berfungsi maksimal.9. Ulangan Harian Semua guru sudah memahami bahwa setelah melakukan pembelajaran mereka harus melakukan evaluasi kemajuan belajar. Namun tidak semua guru tertib melakukan hal yang demikian. Yang sering terjadi evaluasi banyak dilakukan mendekati test akhir semester. Akibatnya siswa harus mempelajari tumpukan materi cukup banyak, serta harus merecall ingatannya atas materi yang pernah dipelajari karena tenggang waktunya yang cukup lama.Pembahasan Dari fakta-fakta yang penulis temukan di SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok, tampak bahwa kondisi demikian akan menghambat perkembangansekolah. Sekolah memerlukan perubahan yang bersifat mendasar karenamenyangkut filosofi tentang sekolah. Perubahan cara memandang terhadapsekolah tentu berpengaruh bagaimana kita bersikap dan berperilaku. Konsep paradigma sekolah sebagai pusat layanan pengembangan potensisiswa membawa perubahan prioritas. Titik focus perhatian adalah potensi siswasetelah itu baru dicarikan bentuk solusi pengembangannya. Dan dampaknyaterhadap manejemen pun berubah, yang biasanya selalu berorientasi pada fisiktetapi sekarang dilakukan secara komprehensif. Kalau kita ibaratkan komputeryang berbentuk fisik kita sebut Hardware sedangkan programnya kita sebut
  12. 12. Software. Software yang berbentuk program-program sekolah inilah yangmembuat sekolah jadi hidup, dinamis dan kreatif. Berdasarkan temuan-temuan di atas dan merujuk pada konsep sekolahsebagai pusat layanan potensi dan manajemen komprehensif, penulis membuatprogram sebagai jawaban masalah yang di hadapi sekolah. Program tersebutadalah :1. Program Kelas Non-Reguler Bermula dari sebuah pengalaman ketika penulis menjadi kepala sekolah di SMA 1 Negeri Karangkobar. Pada saat itu ada kesulitan dalam penjurusan siswa, karena jumlah masukan tidak sesuai dengan jumlah yang dikendaki. Rancangan semula untuk program IPA ditambah sedangkan Program IPS dikurangi. Namun Jumlah masukan ke IPA tidak memadai akhirnya dikurangi, resikonya program IPA ada 2 kelas gemuk ( lebih dari 40 anak per kelas). Jumlah masukan IPS jadi bertambah banyak melebihi dari 2 kelas gemuk. Akhirnya diputuskan IPS menjadi 3 kelas yang perkelasnya 35 anak. Pertimbangan lainnya adalah masukan dari guru-guru yang mengajar di kelas III IPS, bahwa jumlah siswa lebih dari 40 anak merupakan beban berat. Setelah berjalan satu tahun pelajaran barulah diketahui hasil yang diharapkan, yaitu dari sejumlah 5 kelas, hanya satu anak yang harus mengulang ujian. Berdasarkan pengalaman dimungkinkan sekali yang tidak lulus bisa lebih dari 8 anak. Menurut pemikiran penulis ada beberapa alasan mengapa kelas gemuk tidak menguntungkan dalam pembelajaran. a. Siswa tidak mendapatkan pelayanan secara maksimal Dalam pembelajaran sangat dimungkinkan bila seorang guru dengan anak yang berjumlah di atas 40, tentu ada sebagian yang tidak bisa dibantu dengan baik. Akibat selanjutnya adalah porsi bantuan yang diberikan oleh guru kepada siswa juga tidak merata, dan hasilnya kedalaman penguasaan suatu bahan pelajaran yang dipelajari sangat variatif. Dan sesuai dengan perjalanan waktu akumulasi ketidaktuntasan belajar semakin besar karena guru harus mengejar target kurikulum. Keputusan tersebut menyebabkan guru mengabaikan fungsi pelayanan terhadap sebagian besar siswa yang
  13. 13. kurang berpotensi karena target kurikulum. Dampaknya terhadap prestasi akademik daya serapnya menjadi rendah, dan terjadilah manajemen nilai. b. Permasalahan yang timbul dari kelas padat lebih besar Sangat dimungkinkan bahwa dalam satu kelas terdapat beberapa anak yang sangat aktif (untuk tidak menyebut anak nakal). Meskipun tidak banyak bila mereka berkumpul dan berinteraksi tentu suasana kelas menjadi gaduh dan bising. Bila kondisi ini tidak bisa diatasi dengan baik tentu akan mengganggu proses pembelajaran di kelas. Concern guru lebih banyak terganggu untuk mengelola anak yang aktif tersebut dari pada memfasilitasi penguasaan materi pelajaran, dan akibatnya pembelajaran berjalan sangat lambat. Dampaknya terhadap guru menjadi cepat capai karena menangani lebih banyak masalah yang timbul di kelas. Berdasarkan pengalaman dan masukan-masukan tentang kelemahankelas gemuk, kemudian kami menawarkan kepada guru-guru untuk membentukkelas Non-Reguler. Pemilihan nama tersebut lebih pada pertimbangan untukmenghindari kesan eksklusif. Pembentukan kelas Non-Reguler diharapkan agarsiswa bisa mendapatkan layanan maksimal dalam mengembangkan potensinya.Dengan demikian konsep kelas Non-Reguler harus dibuat sebagai berikut : 1. Siswa dalam kelas tidak boleh lebih dari 30 anak. 2. Batas tuntas lebih tinggi dari pada kelas Reguler. 3. Penerimaan siswa berdasarkan pilihan siswa pada waktu pendaftaran. 4. Dari jumlah pendaftar dirangking sampai rangking 30. Rangking 30 ke bawah dimasukkan kelas reguler. 5. Guru yang mengajar pada kelas Non-Reguler merupakan guru pilihan. 6. Rangking pada kelas Non-Reguler tidak berdiri sendiri tetapi disebar dimasukan pada kelas reguler. Hal ini untuk mensiasati masuk ke PTN melalui jalur PMDK. 7. Di kelas Non-Reguler diberikan layanan konsultasi pembelajaran. 8. Media pembelajaran yang digunakan juga lebih terpenuhi 9. Karena dalam satu kelas hanya terdiri dari 30 anak, pembayaran dana komite sekolah juga lebih besar. 10. Menempati ruang kelas yang representatif.
  14. 14. 2. Program Quota Penerimaan Siswa Baru (PSB) Letak SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok sebetulnya sangat strategis berada ditengah segitiga kabupaten, yaitu Banjarnegara, Purbalingga dan Banyumas. Tetapi letak yang demikian, sekolah kurang diuntungkan dalam penjaringan bibit unggul. Masyarakat mampu Purwareja-Klampok, bila anaknya mempunyai potensi besar, lebih cenderung mengirimkan anaknya bersekolah di SMA lain di luar kecamatan Purwareja-Klampok. Dampaknya terhadap SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok, jumlah input berpotensi yang masuk sangat sedikit. Kondisi demikian menyebabkan sekolah kesulitan keluar dari stigma sebagai subordinate sekolah lain di sekitarnya. Upaya apapun yang ditempuh dalam meningkatkan prestasinya akan terasa berat untuk mengungguli SMA 1 Purbalingga, Banyumas dan Banjarnegara. Dengan demikian harus ada cara lain untuk mengangkat nama SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok yang selanjutnya bisa digunakan untuk membuat opini publik. Dari dasar pemikiran itu maka muncullah wacana adanya Quota PSB. Maksudnya SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok memberikan Quota yang berbeda kepada SLTP sesuai dengan peringkat image sekolah tersebut di masyarakat. Quota tersebut diperuntukkan bagi siswa yang berprestasi agar mau masuk ke SMA. Jumlah Quota berkisar antara 10 sampai dengan 15 anak berhak mendapat keringanan keuangan sekolah selama satu semester. Dan bahkan apa bila salah satu diantara mereka menempati ranking tertinggi dalam pendaftaran ia berhak mendapatkan keringanan keuangan operasional sekolah selama satu tahun. Meskipun demikian tawaran inipun belum direspond dengan baik oleh masyarakat, bahkan mereka mengira sekolah lain melakukan hal yang sama.3. Program Rewards
  15. 15. Agar SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok memperoleh banyak prestasi maka sekolah harus kreatif membuat wadah-wadah kegiatan yang diantaranya dengan memperbanyak jenis kegiatan ekstra kurikuler. Selain itu untuk meningkatkan motivasi berprestasi baik bidang akademik maupun non- akademik, sekolah menyediakan hadiah bagi siswa dan guru yang berprestasi. Pengaturan besarnya dana tersebut ditetapkan dengan keputusan Kepala Sekolah. Dengan demikian Beasiswa Prestasi yang ada di sekolah bukan saja berasal dari Pemerintah tetapi juga berasal dari dana operasional sekolah sumbangan orang tua murid. Dampaknya sungguh di luar dugaan, karena yang tadinya tidak pernah diperhitungkan dalam berbagai perlombaan sekarang hasilnya menjadi Juara Umum II PORSENI Kabupaten dan Juara Umum II Olimpiade Sain dan Astronomi Kabupaten. Berikut ini saya sajikan tabel beasiswa prestasi yang dijadikan acuan selama ini. Meskipun tampak kecil namun secara kumulatif pengeluarannya besar. UraianNo. Beasiswa Tingkat Individu Individu Kelompok Keterangan Kompetisi Seleksi Kompetisi 1 OP = Rp 1 Juara I Nasional Bebas OP Bebas OP Bebas OP 50,000 2 Juara II Nasional 12 OP 12 OP 12 OP 3 Juara III Nasional 7 OP 7 OP 6 OP 4 Juara I Propinsi 6 OP 2 OP 3 OP 5 Juara II Propinsi 5 OP 1 OP 2.5 OP 6 Juara III Propinsi 2 OP 4/5 OP 2 OP 7 Juara I Kabupaten 2 OP 1 OP 8 Juara II Kabupaten 1 OP 4/5 OP 9 Juara III Kabupaten 4/5 OP 3/5 OP Pendaftar10 Tertinggi 12 OP Program11 Kuota 6 OP Juara12 Paralel 6 OP
  16. 16. Saya katakan bahwa rewards ini juga berlaku untuk guru dan staf TU yang berprestasi, dan tabelnya adalah sebagai berikut :No. Reward Guru Tingkat Individu Kelompok Keterangan Kompetisi Kompetisi 1 Juara I Nasional 900,000 900,000 Setiyadi S.Pd 2 Juara II Nasional 800,000 800,000 3 Juara III Nasional 700,000 700,000 Untuk Kelom- 4 Juara I Propinsi 600,000 600,000 pok dibagi 5 Juara II Propinsi 500,000 500,000 jml anggotanya 6 Juara III Propinsi 400,000 400,000 7 Juara I Kabupaten 300,000 300,000 8 Juara II Kabupaten 200,000 200,000 9 Juara III Kabupaten 100,000 100,000 10 Teacher 300,000 of the Year4. Program Interest Groups Konsep pembinaan interest groups bermula dari pengalaman dalam lomba Olimpiade mata pelajaran dimana SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok kurang mendapatkan posisi yang menguntungkan. Salah satu penyebab yang bisa dipertanggungjawabkan adalah pembinaan yang lemah di sekolah. Keadaan demikian tentu secepatnya harus dibenahi dengan pola pembinaan berbeda dari yang selama ini digunakan. Kemudian Pola Interest Groups diketengahkan. Dalam Interest Group guru diberi kebebasan mencari dan membina siswa-siswa yang berprestasi dari kelas X dan II, yang berjumlah berkisar 10 anak untuk setiap mata pelajaran. Rancangannya pembinaan kelas II untuk lomba tahun sekarang sedangkan kelas X untuk tahun berikutnya. Bila rencana ini berjalan baik tentu tidak ada alasan untuk tidak menjadi yang terbaik. Terbukti untuk tahun ini mampu menempati Juara Umum II Kabupaten. Namun kendalanya sebagian guru tidak mudah berubah dari kebiasaan yang sebelumnya dijalankan. Pembinaan rutin secara kontinyu menjadi tersendat. Berikutnya yang diperlukan adalah system pengendalian kegiatan yang bisa menjamin pembinaan itu lancar.
  17. 17. 5. Program sekolah berwawasan bahasa Jepang Di SMA lain mungkin juga ada pembelajaran bahasa Jepang namun jelas SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok mempunyai arah yang berbeda. Pelajaran bahasa Jepang diperkenalkan sejak kelas X dikandung maksud untuk mendukung penjurusan program Bahasa pada kelas XI, sedangkan pembelajaran pada kelas II untuk mendukung program bahasa pada kelas III. Dengan demikian pembelajaran Bahasa Jepang ditangani serius bukan sekedar semacam lip services di mata masyarakat. Dasar pemikiran praktis ditetapkannya bahasa Jepang sebagai wawasan khusus sekolah selain logika di atas yaitu adanya kecenderungan masyarakat menjadikan Jepang sebagai tempat tujuan kerja. Last but not least sekolah selalu concern mewadahi keinginan anak yang ingin mengembangkan potensinya di bidang bahasa untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi.6. Program vocational skills Mayoritas tingkat penghidupan orang tua/wali murid SMA Negeri Purwareja Klampok berekonomi lemah. Sangat bisa dipahami bila siswa yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi juga sedikit ( 25%). Agar siswa yang telah lulus nantinya berketrampilan dan bisa mandiri, sekolah menerapkan program vocational skills. Dan ketrampilan yang dikembangkan adalah Komputer dan Elektronika. Sepintas kilas mungkin tidak berbeda dengan sekolah lain dalam menerapkan vocational skills, tetapi sebetulnya ada perbedaan yang mendasar. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Program vocational skills di SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok dimasukkan ke dalam intra kurikuler. 2. Program komputer diberikan untuk seluruh kelas, dari kelas X, II dan III. Pada akhir kelas X dan II diharapkan siswa sudah mahir MS Word dan Excel, sedangkan siwa kelas III terampil pada Komputer Akuntansi. 3. Program Elektronika sedang dikembangkan pada seluruh kelas X. Pilihan Elektronika diambil karena pertama, bidang ini bisa dikuasai
  18. 18. baik oleh anak putra maupun putri sehingga guru mudah mengelola kelas. Kedua, Guru sudah tersedia. Ketiga, Tenaga kerja bidang elektronika pada masa ini banyak dibutuhkan. 4. Program Elektronika dirancang berkelanjutan sampai kelas XII.7. Program Pembentukan Image sekolah (Radio Sekolah, Majalah sekolah, Internet dan Web site ) Sekolah mungkin sudah berusaha banyak hal dan memperoleh banyak kesuksesan namun image masyarakat terhadap SMA Negeri 1 Purwareja- Klampok sebagai sekolah alternatif belum berubah. Keadaan demikian tentu menyulitkan bagi sekolah untuk berkembang dan mendapatkan kepercayaan yang lebih besar. Agar image mayarakat terhadap sekolah berubah, sekolah harus produktif dan aktif memberikan informasi tentang inovasi, prestasi, dan aktivitas sekolah terhadap masyarakat. Untuk itulah diperlukan adanya sarana sebagai pusat informasi dan sekaligus sebagai sarana pengembangan potensi siswa. Sarana tersebut adalah Majalah sekolah, Radio Sekolah, dan Internet. Majalah Sekolah dikembangkan dari majalah dinding. Terbit 2 kali setahun pada akhir semeter gasal dan genap. Melalui majalah ini masyarakat mendapatkan banyak informasi perkembangan sekolah dalam kurun waktu satu semester. Sedangkan bakat siswa dalam tulis menulis mendapat tempat pengembangan. Efektifitas majalah dirasa kurang, maka muncullah Radio Sekolah yang setiap sore melakukan siaran. Radio Sekolah mengudara dengan Frequensi FM 89,7 dan daya jangkau sampai 5 km di sekitar sekolah. Dengan banyaknya informasi dari sekolah diharapkan masyarakat lebih rasional dalam memandang SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok. Tetapi melalui radio sekolah informasi lebih cenderung satu arah yaitu dari sekolah ke masyarakat. Supaya sekolah juga memperoleh akses dari luar, sekarang sekolah sedang merancang web site untuk di launching. Meskipun demikian untuk memenuhi kebutuhan informasi penting saat ini sudah bia diatasi dengan internet sekolah.
  19. 19. 8. Kerjasama dengan Yayasan keagamaan dalam pembinaan Mental Tenaga guru agama terbatas hanya ada 3 orang dengan siswa lebih dari 800. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada bulan puasa pembinaan agama tidak bisa dilakukan dengan intensif mendalam. Untuk mengatasi permasalahan tersebut sekolah melakukan kerja sama dengan lembaga keagamaan untuk pembinaan. Dalam kerja sama ini sekolah hanya sekedar memberikan sumbangan ala kadarnya. Sedangkan pihak Yayasan bertanggung jawab pada pembinaan program yang sudah disetujui oleh pihak sekolah. Dalam kegiatan keagamaan ini, guru agama sekolah bertindak sebagai koordinator. Tindak lanjut pembinaan keagamaan ini kemudian diteruskan tidak hanya pada bulan puasa, namun dalam bentuk kegiatan yang berbeda. Dengan demikian anak mendapatkan layanan kegiatan ekstra keagamaan dalam wadah Rohani Islam (Rohis).9. Program pengendalian Ulangan Harian (Komputer on line) Karena berbagai alasan yang tidak rasional, keteraturan ulangan harian sering tidak dilakukan dan yang terjadi penumpukan ulangan harian. Untuk mempermudah pengendalian ulangan harian, sekolah mengaplikasikan manajemen on line. Dalam program ini guru disediakan beberapa komputer untuk mengimput hasil ulangan harian.dengan password yang dimiliki. Selanjutnya Kepala Sekolah dan Bagian Biro bisa mengetahui siapa- siapa guru yang belum melakukan ulangan harian sesuai jadwal yang ditentukan. Dan melalui pembinaan briefing Kepala Sekolah dapat menyampaikan program ulangan harian untuk dilaksanakan secara teratur. Sebetulnya Komputer on line ini bukan sekedar dimaksudkan untuk pengendalian ulangan harian saja tetapi untuk kepentingan yang lebih luas karena komputer on line menyangkut masalah manajemen. Pada saat ini yang sudah bisa diakses melalui on line adalah Komputer Kurikulum, Biro Akademik, Kepala Sekolah¸Tata Usaha Sekolah, Guru, Piket dan BP/BK.
  20. 20. Kesimpulan, Implikasi, dan Saran Kesimpulan. Kondisi awal pada saat penulis bertugas di SMA Negri 1Purwareja-Klampok menunjukkan bahwa sekolah miskin layanan baik dalambentuk fisik maupun non-fisik. Untuk fisik bisa ditelusuri dari minimnya saranalayanan misalnya tidak representatifnya WC, Kantin, ruang-ruang kegiatansiswa. Sedangkan untuk Non-Fisik ditunjukkan oleh sedikitnya program layananyang berupa ekstra kurikuler, program peningkatan mutu sekolah, programvocational skills, program pembinaan mental dan program hubungan masyarakat. Permasalahan sarana layanan sangat mudah dipecahkan karena asalsekolah punya dana, perbaikan dan pengadaan sarana langsung bisa dilakukanoleh siapa saja. Tetapi permasalahan program layanan adalah permasalahankreativitas dan kredibilitas wawasan Kepala Sekolah. Dan keragaman programlayanan karena menyangkut masalah pemahaman Kepala Sekolah terhadapParadigma Sekolah. Pemahaman pengelola sekolah terhadap paradigma sekolah berpengaruhbesar terhadap model pendekatan pengelolaan sekolah. Konsekuensi paradigmasekolah sebagai pusat layanan siswa dalam mengembangkan potensinya secaramaksimal maka orientasi pengembangan sekolah harus merujuk pada kebutuhansiswa. Oleh karena itu pengelolaan sekolah harus dilakukan secara berkese-imbangan antara pembenahan fisik dan Non-Fisik. Sekolah bukan lagi dipandang secara fisik belaka namun sesuatu halhidup yang mampu memberikan layanan. Karena beragam kebutuhan siswa perlumendapatkan layanan maka sekolah berkewajiban mengembangkan berbagaimacam program Layanan tersebut berupa program yang applicable dan efisien.Sekolah dikatakan efektif bilamana semua siswa bisa mendapatkan layananpenuh. Melalui program-program tersebut sekolah menjadi hidup dinamis penuhdengan kreativitas dan semangat, sehingga bersekolah itu menyenangkan,mengasyikkan dan mencerdaskan. Implikasi. Paradigma Sekolah dan Konsep pengelolaan Sekolah SecaraKomprehensif menuntut Kepala Sekolah kreatif membuat produk-produk layanandalam bentuk wadah kegiatan siswa. Dan konsisten terhadap komitmen sekolahsebagai pusat layanan, konsekuensinya sekolah harus mengadakan banyak
  21. 21. program layanan dengan dana yang tidak sedikit. Berbagai masukan dari guru,karyawan atau murid sepanjang menyangkut pelayanan siswa demi kemajuansekolah sedapat mungkin diusahakan. Pembentukkan banyak program layanan memerlukan banyak SDM yangkredibel, akibatnya sekolah harus mencari SDM tersebut untuk menutupikekurangannya. Untuk memastikan semua kegiatan berjalan dengan baik makapengendalian program segera dilakukan. Saran-saran. Wawasan Kepala Sekolah tentang paradigma sekolahmembawa pengaruh pada pola pikir dalam pengembangan sekolah. Pemikiraninovasi sekolah agar bisa diaplikasikan memerlukan dukungan warga sekolah.Kepala sekolah harus mampu meyakinkan bahwa konsep yang ditawarkan bisadilaksanakan dengan efektif dan efisien. Inovasi dalam banyak hal berarti perubahan dengan banyak pekerjaan.Ada kecenderungan manusia untuk menghindari pekerjaan baru karena ia harusmengkonsentrasikan pikiran dan tenaga untuk mempelajari pekerjaan barutersebut. Kendala yang bakal muncul adalah kurangnya dukungan yang berakibattidak lancarnya kegiatan sehingga hasilnya tidak maksimal. Agar program layananberjalan baik maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya : 1. Ada argumen yang kuat mengapa suatu program layanan perlu diadakan. 2. Program layanan yang ditawarkan sebelumnya disosialisasikan kepada guru sebelum ada kesepakatan. 3. Setelah mendapatkan dukungan, tim program layanan bisa dibentuk. 4. Ada aturan dan prosedur kerja sehingga tim bekerja sesuai dengan jobnya. 5. Dana kegiatan disediakan. 6. Bila mana kegiatan sudah berjalan maka monitoring sebagai sarana pengendalian harus dilakukan dengan baik. 7. Evaluasi program dilakukan untuk perbaikan program. 8. Hasil program layanan harus segera diinformasikan kepada masyarakat.
  22. 22. Daftar PustakaBiro Hukum dan Organisas Depdiknas. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia : Sistem Pendidikan Nasional. JakartaBoyan, Norman J. (ed). 1988. Handbook of Research on Educational Administration. New York : Longman Inc.Direktorat Dikmenum Depdiknas. 2003. Pedoman Penyusunan StandarPelayanan minimal Penyelenggaraan Persekolahan Bidang Dikdasmen. JakartaDirektorat Dikmenum Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Ed. 3. JakartaHasibuan, Bara. 2004. 26 Juni. Human development : Siapa Peduli? Kompas, h. 4.Sofyan, Herminanto. 2004. Pedoman Khusus : Penelusuran Potensi Siswa. Jakarta : DepdiknasOrstein, Allan C. and Levine, Danile U. 1985. An Introduction to the Foundations of Education. Boston : Houghton Miffin Company.Orlosky, Donald E .et al. 1984. Educational Administration Today. Ohio : Charles E. Merill Publising CompanySinar Grafika. 2001. Undang-Undang Otonomi Daerah 1999. Jakarta
  23. 23. SMA NEGERI 1 PURWAREJA-KLAMPOK KABUPATEN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH JL RAYA PURWAREJA-KLAMPOK Telp. (0286) 479092 BANJARNEGARA 53474 BIO DATANama : SupriyadiNI P : 131650243Tempat/ Tgl Lahir : Wonogiri 4 Mei 1960Jenis Kelamin : Laki-LakiPendidikan Terakhir : S2Jurusan : Administrasi PendidikanNama Sekolah : SMA Negeri 1 Purwareja-Klampok, BanjarnegaraAlamat Sekolah : Jl. Raya Purwareja-Klampok, Banjarnegara 53474Jabatan sekarang : Kepala Sekolah.Mengajar Mata Pelajaran : Bahasa InggrisPrestasi Sebagai Guru SMA : Mewakili Jawa Tengah sebagai Exchange Teacher Jawa Tengah-Quensland, AustraliaPrestasi sebagai Kepala SMA : --- Banjarnegara, 1 juli 2005 SUPRIYADI NIP 131650243
  24. 24. DAFTAR RIWAYAT HIDUPSupriyadi. lahir di Wonogiri, 4 Mei 1960. Pendidikan Dasar di selesaikan di DesaNgarjosari Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri pada tahun 1972.Kemudian melanjutkan sekolah ke SMP Sultan Agung Tirtomoyo, selesai tahun1975. Dan pada tahun 1979 menyelesaikan sekolah di SPG Negeri Wonogiri. Pada tahun 1980 bekerja sebagai guru SD Arjosari 2, sambil kuliah diUnuiversitas Muhammadiyah Surakarta jurusan Bahasa Inggris, dan gelar sarjanamudanya diperoleh pada tahun 1983. Gelar sarjana pendidikan Bahasa Inggrisdiraih pada tahun 1986 pada universitas yang sama. Pada akhir tahun 1986diangkat sebagai guru SMU Negeri 1 Banjarnegara. Selama mengajar di SMU Negeri 1 Banjarnegara ikut juga mengajar di SMUMuhammadiyah 1 Banjarnegara dan SMU Negeri Wanadadi. Terakhir mengajardi kedua sekolah tersebut saat diangkat sebagai Guru Inti bidang studi BahasaInggris di Banjarnegara. Pada tahun1996 dipilih sebagai Exchange Teachermewakili Jawa Tengah bertugas di Queensland, Australia selama 1 tahun.Kemudian pada tahun 1999 diangkat sebagai Kepala Sekolah di SMU Negeri 1Karangkobar sampai dengan Juli 2002, kemudian dimutasikan di SMU NegeriWanadadi untuk 1,5 tahun, dan sekarang sebagai Kepala Sekolah di SMA Negeri1 Purwareja Klampok , Banjarnegara. Menikah dengan Sri Handayani, S.Pd. pada tahun1991 dan saat ini dikaruniai 2 anak, yaitu Diyan Luqman Nur Fatoni Banjaransari dan MeutiaSetyowati Mahanani Lestari. Pada tahun 2001 mendapat izin belajar meneruskanpendidikan pada program pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr.HAMKA, Program Studi Administrasi Pendidikan.

×